Rabu, 22 Juni 2011

Naskah Drama Penjual Bendera Karya Hermana HMT

Cuplikan Dialog Naskah Drama Penjual Bendera Karya Hermana
SOMPENG
Tapi kain apapun cepat lapuknya dan lama-lama juga habis dimakan rayap. Karenanya orang-orang mencari bahan lain supaya bendera tahan lama.
GARENG
Bendera apapun dapat saja lapuk dan habis. Tapi pohon kapas terus tumbuh. Yang lapuk diganti. Nah, kita akan berdosa apabila kapas masih ada tapi tidak berusaha mengganti bendera yang telah lapuk.
Hal ini sudah kukatakan berkali-kali pada kawan-kawan seperjuangan di Gedung Kebangsaan, tapi malah mereka mencurigaiku. Aku harus terus berjuang mempertahankan bendera ini dari kain. Kain terbuat dari kapas.
SOMPENG
Apa gunanya bertahan saat ini, bang. Bertahan atau tidak, melawan atau tidak, setuju atau tidak, semuanya akan tetap berjalan seperti yang telah mereka gariskan.
GARENG
Tidak. Pak Sekjen di Gedung Kebangsaan adalah satu-satunya orang yang memahami maksudku. Karena itulah dia memesan bendera ini kepada kita.
SOMPENG
Apa ruginya kalau bendera dibuat dari bahan selain kapas. Ah, abang selalu saja bertahan pada persoalan-persoalan sepele.
GARENG
Sepele katamu? Sepele? Uh, Sompeng. Sompeng. Kalau aku masih jadi intel sudah aku isukan kau anti revolusi, anti perjuangan! Biar kau rasakan akibatnya! Untung aku sudah pensiun.

File Naskah Drama Penjual Bendera :
 - File Tipe : Ms. Word

Semoga Naskah Drama Penjual Bendera Karya Hermana HMT ini bisa membantu anda dalam menyelesaikan tugas atau garapan dan kami ucapkan selamat berproses semoga dalam Proses kretif tidak ada kendala apapun dan jangan lupa Baca juga Naskah Drama yang lainnya.

Selasa, 21 Juni 2011

Cerpen Biarkan Anakku Menjadi Karna atau Musa Karya Tjahjono Widijanto

Biarkan Anakku Menjadi Karna atau Musa
Karya Tjahjono Widijanto

Semenjak kelahiran anak kembarnya, perempuan itu tak pernah dapat tidur dengan nyenyak. Laki-laki dan perempuan, dampit! kata orang. Sebuah kelahiran yang langka. Di desanya memang ada juga yang melahirkan bayi kembar. Tapi semuanya laki-laki atau semua perempuan. Sedangkan bayinya laki dan perempuan. Yang lahir duluan laki-laki, selang tujuh menit kemudian baru yang perempuan. Kata orang-orang tua bayi kembar yang lahir duluan justru yang muda karena yang tua keluar belakangan mengiringi adiknya.

Ia tak begitu peduli siapa yang lebih tua dari keduanya. Yang jelas kelahiran itu membuat jiwanya berubah drastis. Tak lagi dirasakan sempit rumah gedeknya, juga air hujan yang menetes persis di samping dipan tempatnya tidur dan di pojok-pojok dinding kamar. Tubuhnya ringan, wajahnya sumringah, tak ada sisa sakit sedikit pun. Rasa nyeri dan pegal-pegal saat mengejan mengeluarkan dua orok itu dari rahimnya hilang begitu saja.

"Wahyu ini akhirnya datang juga," bisiknya sambil mengelus dua bayi kembar itu. Ia ingat betul bagaimana melewati masa-masa nyidam dulu. Semenjak kandungan perutnya berusia dua bulan tak pernah sekalipun perutnya mual dan muntah-muntah. Tak juga diingininya buah mangga atau rujak yang asam seperti biasa dialami perempuan hamil. Tak juga merasa pusing-pusing atau lesu. Hanya ia menjadi sangat gemar berjalan-jalan. Bukan berjalan-jalan di sawah atau di jalan-jalan desanya, tapi di sungai. Ia betah duduk berjam-jam di pinggir sungai. Memandangi warna sungai yang kini kecoklatan tak lagi jernih sepeti masa kecilnya dulu. Diperhatikan pula riak-riak sungai sambil berpikir tentang makhluk dan benda-benda di dalamnya. Mengusap-usap pasir dan tanah pinggir sungai dengan lembut sambil membayangkan masa kecil bersama kawan-kawannya membuat rumah-rumahan atau betengan ketika air sungai surut.

Hampir tiap malam ia bermimpi. Bapaknya yang sudah lama mati menanggap wayang untuk menyambut kelahiran bayi yang dikandungnya dengan lakon Karna Lahir. Tokoh yang menjadi idolanya sejak kecil. Satriya tampan putra matahari dengan wajah bersinar, prajurit pilih tanding sakti luar biasa. Putra yang disusui air sungai, dibesarkan arus dan lumut-lumut serta berkawan batu sungai hitam diam perkasa. Mimpi itu diselingi dengan mimpi yang lain. Bapaknya datang dan mendongengi dia tentang bayi Musa yang dihanyutkan dalam sungai kemudian menjadi nabi bersenjata tongkat, pahlawan pembelah laut yang menenggelamkan seorang raja yang lalim.

Ia benar-benar merasa bahagia dengan mimpi itu. Itu pasti wangsit, demikian pikirnya. Ada kebanggaaan yang diam-diam menggunung dalam dadanya. Ia merasa menjadi perempuan pilihan yang rahimnya dititipi Tuhan bayi yang kelak menjadi orang yang terpilih, seperti Kunti yang dititipi Karna, atau Maria yang dititipi Isa. Satu dari sekian juta perempuan di seluruh jagat.

Kebanggaan itu membuatnya lupa pada pandangan sinis tetangga-tetangga yang mencibir dan menggunjing tentang bapak dari bayi itu. Juga membuatnya melupakan laki-laki dengan alis tebal dan mata sedikit juling yang kali terakhir merayu lalu menidurinya. Keinginannya untuk mencari laki-laki itu amblas begitu saja ketika memandang bayi dampitnya. Tapi ia tak menyesalinya. Lelaki memang ditakdirkan untuk menjadi pengecut! Pikirnya dalam hati.

Sebenarnya ia sedikit bingung. Kenapa wahyu bayi itu tidak satu tapi dua dan satunya perempuan? Bukankah Karna, Musa, atau Isa, semua tokoh-tokoh itu laki-laki? Tapi mengapa pasangan bayinya perempuan? Kenapa dua-duanya tidak laki-laki? Ia berpikir keras. Tiba-tiba ia teringat Srikandi, tokoh ksatriya wanita titisan Amba yang mampu mengalahkan Bisma, panglima besar Kurawa yang sakti mandraguna. Akankah kelak bayi perempuannya itu menjadi tokoh besar juga? Tapi mengapa dalam mimpi bapaknya hanya bercerita tentang Karna dan Musa? Bukan Srikandi, Sembadra, atau Dewi Durga, misalnya?

Bayi perempuannya itu diperhatikannya memang lebih lincah dan agresif dibanding saudara laki-lakinya. Lebih sering rewel, tidak bisa tenang, dan rakusnya bukan main. Kalau menyusu lidah kecilnya mengecap-ngecap dan menghisap amat kuat. Putingnya jadi sakit. Tidak cukup puting sebelah saja tapi berpindah-pindah puting kiri ke puting kanan berganti-ganti. Kalau melihat saudara laki-lakinya sedang menyusu ia menjerit keras-keras dan kakinya menyepak-nyepak saudara kembarnya itu. Ini membuat kesal karena ksatriya mudanya jadi ikut menjerit dan menangis. Kesalnya makin bertumpuk ketika menyadari alis, hidung dan bibir bayi perempuan itu mengingatkan pada alis, hidung dan bibir laki-laki yang sangat dikenalnya.

Pagi itu ia hanya mengangguk ketika seorang wanita menyambangi di pembaringan dan mengutarakan niatnya mengambil bayi perempuannya. Katanya ia punya tujuh anak yang semuanya laki-laki dan pingin punya anak perempuan satu saja. Ia jadi teringat kata orang-orang bahwa bayi dampit harus dipisah karena kelak mereka akan bertemu dan berjodoh sendiri. Cuma mengangguk pula ketika wanita itu pamit sambil menyelipkan sebuah amplop di balik bantalnya.

Ketika wanita itu sudah meninggalkan rumah, dielus-elusnya kepala bayi laki-lakinya dan tersenyum lebar, "Anakku, ternyata takdir telah menjalankan tugasnya dengan sempurna. Kini tinggal kau santriya mungilku. Karena memang harus hanya kau yang terpilih bukan yang lain. Juga tidak saudara kembarmu. Biarlah dia berjalan atas takdirnya sendiri. Siapa tahu kelak dia benar-benar jodohmu." Perempuan itu makin lebar senyumnya. Dibayangkannya betapa menakjubkan bila Karna menikah dengan Srikandi. Itu tentu tak pernah terbayangkan oleh dalang yang paling usil sekalipun.

Saat matahari tepat di puncak menerobos atap genting yang bolong-bolong perempuan itu bangkit dan berkemas. Dibungkusnya bayinya dengan sobekan kain sarung, satu-satunya peninggalan lelaki yang dulu pernah menidurinya. Ditimang-timang sebentar dan pada telinganya dibisikkannya sebuah kalimat pendek: "Anakku, tiba saatnya kau menjalani laku ini. Akulah Kunti yang menyerahkan nasibmu pada asuhan semesta…."

Tengah hari. Pertengahan bulan November. Sebuah stasiun tv swasta dalam acara tayangan kriminal menayangkan seorang perempuan di sebuah tempat di Jawa Tengah ditangkap karena membuang bayi yang baru dilahirkannya ke dalam sungai. Menurut penuturannya, bayi itu dibuang karena ia melarat dan tak punya penghasilan tetap, sedangkan laki-laki bapak dari bayi itu tak bertanggung jawab.

Ngawi, 2003/2004
Catatan: Tjahjono Widijanto adalah sastrawan asal Ngawi. Dia punya saudara kembar yang juga sastrawan bernama Tjahjono Widarmanto.

Senin, 20 Juni 2011

Naskah Monolog Mayat Terhormat Karya Agus Noor dan Indra Tranggono

Cuplikan Monolog Mayat Terhormat
Penjara… Kuburan…apakah yang membedakan keduanya? Barangkali tak ada. Setiap orang tak ada yang ingin memikirkan keduanya. Berusaha sedapat mungkin tak bersentuhan dengannya. Orang tak ingin berhubungan dengan kuburan, karena selalu mengingatkan pada kematian. Dan orang tak mau berurusan dengan penjara, karena juga sering kali berujung kematian…

Dengan payah, ia berusaha bangkit, kembali menerawang keluar jeruji, memukul-mukul piring seng, kemudian bergerak pelan ke arah bibir panggung, dan suara musik yang sayup perlahan menghilang, bagai angin yang bergerak menjauh…Kepada penonton
Anda pasti membayangkan, kalau saya ini tokoh besar. Tokoh oposisi yang ditangkap kemudian dipenjarakan. Ya, setidaknya seorang demonstran militan. Wouw…betapa gagah dan mulianya prasangkaan saudara itu. Semestinya, saya ini harus merawat kesalahpahaman itu sebaik mungkin, agar saya bisa sedikit terhibur. Sehingga diam-diam saya ini bisa merasa bahwa diri saya ini memang orang penting, orang besar yang selalu ditakuti penguasa.

Tapi, sebentar…(Mencermati sosoknya sendiri) Saya kok ya curiga, jangan-jangan saya ini memang orang besar,…. Setidak-tidaknya ada yang besar di dalam diri saya…. Iya lho, jangan-jangan saya ini benar-benar pemberani, militan dan cerdas. (Siwi meminta konfirmasi pada pring yang tergolek di lantai, lalu mematut diri seperti orang bercermin) Iya kan ? Coba lihat, setidaknya saya ini punya potongan sebagai pembangkang.. (Bertanya kepada piring) Pantas kan saya jadi pembangkang ? Soalnya, jadi pembangkang itu ternyata ada enaknya: kalau nasib baik, bisa terpelanting naik jadi penguasa atau setidak-tidaknya jadi petinggi negara. Perkara sesudah jadi penguasa lalu lupa berjuang, itu bukan soal pengkhianatan. Bukan. Itu justru menunjukkan sikap Konsisten untuk selalu tidak konsisten….(Pause)

Tapi celakanya, saya ini cuma seorang juru kunci. Kekuasaan saya cuma sebatas kuburan dan tulang-tulang berserakan. Itupun cuma juru kunci kuburan umum. Tentu, nasib saya akan jauh lebih baik, misalnya, kalau saya ini juru kunci Taman Makam Pahlawan. Sebab, menjadi juru kunci Taman Makam Pahlawan tentu lebih prestisius dan memiliki banyak privilige. Lha ya jelas, lha wong yang diurusi itu jazad para pahlawan.Ingat…p a h a l a w a n (sambil menggelembungkan mulut). Meskipun yang disebut pahlawan itu lebih pada orang-orang yang memegang senapan. Istilah yang digunakan saja beda. Kalau orang bersenapan yang mati maka ia disebut gugur dalam tugas: Gugur satu tum uh seribu, tunai sudah janji bhakti…. Lho mati saja ada lagunya. Coba kalau orang biasa yang mati, paling banter disebut meninggal. Apalagi kalau hanya kere yang mati, maka dengan semena-mena ia disebut tewas atau koit atau bahkan modar. Kok nggak ada ya kere mati disebut gugur dalam tugas. Padahal seorang kere pun pada galibnya juga punya tugas mulia…, karena kemuliaan itu ada ukurannya sendiri-sendiri, tergantung bagaimana kita memaknai kemuliaan itu,…..meskipun ya kebangetan jika tiba-tiba ada kere yang merasa benar-benar mulia. Gila masyarakat kita ini, ternyata masyarakat mayat pun disekat-sekat oleh kelas, tergantung dari status sosialnya. Dan sejarah yang ditulis para pendekar, cenderung menganggap senapan sebagai ukuran kepahlawanan. Bukan pada kecemerlangan otak, ketulusan pengabdian, dan ketegaran integritas dirinya.

Tapi, saya tidak ambil peduli. Meskipun mayat-mayat yang saya urusi tidak dikategorikan sebagai pahlawan, saya toh bangga. Bangga sekaligus terharu, karena mayat-mayat yang saya urus tak pernah mengeluh, meskipun tempat persemayamannya…panas, gerah, sumuk,….Mereka tidak minta AC untuk ruang kuburnya. Sangat berbeda dengan mayat-mayat di kuburan Senayan, baru sekali saja jadi mayat, sudah macem-macem menuntut ini-itu, minta kenaikan gaji…

Download Monolog Mayat Terhormat : Disini

Naskah Monolog Aku Sang Presiden Karya Hermana HMT

Cuplikan Naskah Monolog Aku Sang Presiden Karya Hermana HMT
Abaikan! Itu hanya sepercik masa lalu. Aku enggan membicarakan lebih panjang lagi. Masa lalu bagiku tidak berarti apa-apa, jadi tidak pinting untuk di bicarakan kembali. Semuanya sudah kukubur dalam-dalam pada lubang-lubang yang gelap dan tak berdasar. Sekarang aku lebih suka memikirkan hari ini, besok dan yang akan datang. Aku Gus Sar yang selalu siap menerima tantangan. Gus Sar yang selalu menjadi buah bibir di kalangan pengusaha skala nasional. Gus Sar yang terkenal pemilik pondok pesantren. Gus Sar yang selalu memberikan sedekah pada ribuan pakir miskin disetiap ahir pekan. Dan terakhir adalah Gus Sar sang presiden.

Tunggu, tunggu! Aku sang presiden? Siapa  bilang aku sang presiden? Aku sendiri atau c Oh, ya. Mereka memanggilku Gus Sar sang presiden. Betul. Presiden bagi para bajingan. Jangan terkejut! Memang itulah jabatan terakhirku saat ini. Aku sang presiden bagi para penjahat. Perlu kujelaskan semuannya? Kayanya harus. Jangan bilang siapa-siapa! Aku sebagai sang presiden lebih penting dibicarakan daripada membicarakan kampanye capres dan cawapres atau pilgub. Tentu bukan berarti aku tidak peduli pada negara atau pemeritahannya. Aku cukup punya perhatian besar, karena bagaimanapun aku diuntungkan oleh negara dan pemerintah republik ini. Aku tutup dulu masalah presiden di kenegaraan, sekarang aku buka masalah kepresidenanku. Yang setuju tetep diam di sini, yang tidak setuju silangkan angkat kaki dan kita berjumpa lagi pada kesempatan yang lain, dalam tema dan pembicaraan yang lain pula.

Nah! Kembali kepersoalan aku sebagai sang presiden Eh.. kira-kira menginjak umur 12-18 tahun aku sudah ikut ayah menjadi buruh tani, dan nasibku tetap begitu-begitu saja, bahkan lebih buruk dari sebulumnya. Waktu itu jangankan keluarga kami, juragan-juragan sawah pun hampir senasib semuanya. Selain karena kemarau panjang, kondisi perekonomian negara sudah berada di puncak keterpurukan. Uang rupiah mengalami pemutongan nilai hingga 50%, ditambah oleh gerakan pengacau keamanan muncul di mana-mana. Amit-amit. Sebuah negeri yang menakutkan. Negeri hantu atau neraka jahanam? Sulit dijelaskan. Satu sama lain saling curuga, satu sama lain saling hujat, satu sama lain saling bunuh. Tak ada pegangan, tak ada kepercayaan, semua tenggelam dalam multi krisis.
O, ow ! Sebetar. Kayanya aku terjebak lagi untuk membicarakan masa lalu. Maaf, ini sedikit kekeliruan ! Kenapa pikiranku selalu mengarah ke sana ? Tapi tidak apa-apa, kan? Aduh, kacau juga. Bagaimana, ya? Oke ! Aku harus akui. Kita terlahir begini adalah buah dari sejarah perjalanan hidup. Jadi, sejarah itu memang penting. Ya, sangat penting. Dan sebelum berlanjut aku ralat dulu pernyatanku tadi. Mulai hari ini aku tidak akan melupakan masa laluku. Walau sepahit empedu, masa lalu adalah peningalan yang sangat berharga, cermin bagi kehidupan yang akan kita jelang.

Download Naskah Monolog Aku Sang Presiden : Disini

Minggu, 19 Juni 2011

Naskah Drama Orang Malam Karya Soni Farid Maulana

Cuplikan Dialog Naskah Drama Orang Malam Karya Soni Farid Maulana
KIMUNG
O, malam yang mengental oleh luka. Kini aku ingat semua kejadian itu. Pada suatu tempat yang kulupa, aku bertemu dengan dirinya.
Saat itu, sehabis kerusuhan, pada sebuah jalan yang sarat dengan pecahan kaca aku melihat pelipisnya berdarah, dihajar sebutir batu. Sejak itu, pertemuan demi pertemuan beranak-pinak.
Tapi perpisahan mengapa harus terjadi?! O malam yang dingin bagai uap es yang mengepul dalam kulkas, O bintang jatuh yang berkilauan dilangit jauh, nyala api yang menghanguskan perkampungan kumuh, O kau yang timbul tenggelam dalam ingatan, mengapa hidup harus berlembah dan berjurang kata-kata?!

DIRAH
Tidakkah kau bosan berkata demikian?! Betapa sering aku mendengar kau berkata-kata seperti itu. Seakan-akan tidak ada lagi yang pantas kau kerjakan. Alangkah cengengnyaengkau seperti orang yang baru putus cinta.

KIMUNG
Kau siapa?! Rasanya baru pertama kali aku didatangi oleh seorang wanita. Biasanya pada malam-malam seperti ini hanya bangku-bangku taman yang bisu menemaniku dengan seluruh kesepian dan kesunyian alam raya.

DIRAH
Aku bukan siapa-siapa.Boleh jadi aku pikiran buruk yang datang dari dasar kegelapan. Boleh jadi pula, aku bukan siapa-siapa bagimu.

KIMUNG
Apa urusanmu datang kemari?! Apakah disini, ditempat ini, ada sesuatu yang menarik perhatianmu?!

DIRAH
Aku datang ke sini untuk melepas lelah. Sungguh tak ada sesuatu apa pun yang menarik ditempat ini, termasuk dirimu.

KIMUNG
Memang aku tertarik padamu?! O, jangan mimpi. Ah, ah, ah. Aku tahu kini, kau pasri wanita kesepian, bukan?! Sudahlah, siapa pun kau, ada baiknya kau mendekat ke mari. Kau tidak akan marah bukan, jika aku bertanya padamu, apa yang menyebabkan engkau malam-malam sepeti ini datang ketempat ini sendirian?! Apakah suamimu tidak akan mencarimu?! Aku tahu jawabannya, kau pasti melarikan diri karena suamimu kawin lagi dengan orang lain?!

DIRAH
Buruk betul prasangkamu itu. Punya suami atau tidak, itu bukan urusanmu. Ini taman punyaku. Sering pada malam-malam seperti ini, aku duduk dibangku yang ini.
Disini, ditempat yang kau duduki ini, aku teringat masa laluku, akan api yang menghanguskan perkampungan kumuh.
Kau tahu, gedung-gedung megah itu berdiri diatas kuburan?! Dalam danau buatan yang indah itu, bila aku menyelam ke dasarnya segera kau dapatkan bangkai ribuan rumah kumuh seluas 4 desa.
Aku kesini bukan karena cengeng oleh masa lalu yang muram. Aku ke sini teringat oleh sebuah peristiwa kelam yang tidak bisa aku hapuskan begitu saja dari dasar ingatanku.

KIMUNG
Peristiwa kelam?! Tak ku sangaka seberat itu berton-ton nasib hitam menimpa pundakmu. Aku sering datang ke taman ini, tak pernah sekali pun aku bertemu denganmu. Apa engkau sedang tidak bersandiwara?!  Jangan-jangan kau intel yang gagal?!

File Naskah Drama Orang Malam :
 - File Tipe : Ms. Word

Semoga Naskah Drama Orang Malam Karya Soni Farid Maulana ini bisa membantu anda dalam menyelesaikan tugas atau garapan dan kami ucapkan selamat berproses semoga dalam Proses kretif tidak ada kendala apapun dan jangan lupa Baca juga Naskah Drama yang lainnya.

Naskah Monolog Anzing Karya Rachman Sabur

Cuplikan Naskah Monolog Anzing Karya Rachman Sabur
Maaf, saya mohon maaf… Gambar-gambar tak senonoh itu harusnya saya edit, demi menjaga martabat bangsa manusia dan anjing. Tap kalau kita kembali lagi bertitik tolak pada kepentingan penelitian, tentang pesamaan dan perbedaan antara manusia dan anjing khususntya, dan binatang pada umumnya. Adegan-adegan yang saudara-saudara saksikan tadi sebenarnya cukup senonoh dibandingkan dengan adegan-adegan atau peristiwa-peristiwa riil yang terjadi di masyarakat  kita dewas ini. Saya harap penjelasan ceramah saya tidak menyesatkan, karena saya bulan orang yang sesat.

Baik, untuk lebih jelasnya akan saya perkenalkan pada aktornya

PENCERAMAH MEMIJIT KEMBALI REMOTE CONTROL. TAYANGAN FIGURE ANJING-NJING MUNCUL SAMBIL MENGGONGGONG. LALU REMOTE CONTROL DI MATIKAN KEMBALI

dari uraian tentang perasaan

Nyonya-nyonya…
Dari uraian tentang persamaan dan perbedaan, antara anjing dan manusia… Dan manusia dan anjing, maka muncul pertanyaan-pertanyaan penelitian sebagai berikut : apakah anjing? Siapakah manusia? Apakah manusia? Siapakah anjing? Apakah jantan itu? Dan siapakah berita itu? Kaukah itu ibu? Siapakah bapakku? Anjingkah? Manusiakah? Manusia menyalak. Anjing menagis. Anjing bersetubuh. Manusia berselingkuh. Manusia maling,. Anjing mengejar. Anjing tentara : “anjing siah!”….. kata manusia. Lalu kata anjing : ”manusia sial !”….”rakus siah!”…. “korup siah!”… “biadap siah”…”pembunuh siah!”… lalu kata manusia : “rabbies siah!”…. “kudisan siah!”….”Jorok siah!”….  “anjing siah!”… lalu kata anjing : “mentang-mntang siah!”….”jagah siah!”….”sesat siah!”…. “kanibal siah!”….lalu kata manusia : “tai siah!”….”tai anjingh siah!”…. lalu kata anjing : “Tuhan …. Kenapa ciptakan daku sehina ini?”…. “apakah manusia itu Tuhan?”…. “siapakah manusia itu Tuhan?”….

PENCERAMAH MENGENDALIKAN EMOSINYA

Nona-nona………
Maaf, saya jadi ngelantur begini, Ini disebabkan karena subjectivitas emosional saya yang labil, kadang saya mnjadi manusia, kadang pula saya menjadi anjing….. maafkan saya….

PENCERAMAH MEMIJIT LAGI REMOTE CONTROLNYA, GAMBAR ANJING-ANJING BERINGAS MUNCUL
Saudara-saudara……
Kalau kita membaca tentang teori-teori modern manusia…… Dan anjing…… Dan anjing dan manusia…… Dan seterusnya………

Download Naskah Monolog Anzing : Disini

Sabtu, 18 Juni 2011

Cerpen Agoni Pengantin Karya Dina Oktaviani

Karya Dina Oktaviani

Baiklah. Aku akan menikahimu. Meski alasan yang kita dapatkan hanya makin membikin engkau dan aku ragu.

Dalam ruang berbentuk lingkaran, orang-orang segera mengambil bagiannya dalam pesta. Menyantap semua yang selayaknya dihidangkan dalam perayaan. Di tengah-tengah mereka, pengantin perempuan memucat. Ia memandang pengantin lelaki dan berkata pada dirinya sendiri: inilah yang kauinginkan. Pengantin lelaki berdiri tegak tanpa kehilangan sedikit pun garis puas di wajahnya. Perempuan itu merasakan mual yang berlebihan meski tahu dirinya mandul.

Inilah yang kauinginkan. Mengapa rasa takut itu jadi milikmu sekarang? Berhari-hari sebelum hari kemarin engkau masih bisa berkata tidak pada siapa pun. Engkau menulis apa pun yang kauinginkan. Semua yang kauanggap benar adalah sungguh benar. Orang-orang memanjakanmu dengan larangannya dan engkau menghindar. Engkau bantah semua perkataan yang tak baik bagi kegelisahanmu. Engkau pun sendiri.

Tinggal di sebuah kamar di sebuah rumah di sebuah kota. Engkau memasak makanan yang baru bagimu. Makan siang mengganti sarapan yang selalu tertunda. Mendengar lagu-lagu dari penyanyi lama yang baru kausukai. Ada delapan baris rak penuh buku di kamarmu dan engkau mampu menyerap hanya dengan memandang punggung judulnya. Lantas engkau duduk saja di hadapan rak itu, meletakkan cermin ukuran wajah di mukamu. Memandangi bayangan sendiri sambil berulang-ulang menghisap rokok dan menuang air ke cangkir. Memikirkan sumber penghasilan baru. Membuat catatan-catatan berisi hutang-hutang kecil. Bosan, lantas kau mencoba menuliskan sesuatu yang belum pernah kautuliskan sebelumnya.

Waktu adzan kau tak melakukan apa-apa tapi mematung menatap cermin. Kadang kaukencangkan suara tape karena tahu tak ingin sembahyang atau menangis. Jika melintas bayangan penghuni rumah yang lain di jendela kamarmu engkau mengambil sebuah buku besar dan berpura-pura telah membacanya sejak lama.

Kalau datang semangat kau segera mandi sore-sore, menyiapkan isi tas dan pergi mengunjungi tempat-tempat yang kau kenal. Melihat orang-orang berlatih apa saja. Menonton pertunjukan yang gratisan. Duduk-duduk di kafe bersama beberapa kenalan sampai giliran makan. Jika kecewa dengan mereka kau pergi ke tempat yang tak dikunjungi kawan-kawanmu. Toko buku atau swalayan.

Engkau akan pulang larut malam. Melangkah menuju rumah sambil mendengar kasak-kusuk beberapa tetangga yang sedang main kartu di lapangan depan rumah. Kalau pulang lebih awal kau mendengarkan lagu-lagu kesukaanmu lagi sambil terganggu oleh para lelaki di luar yang bercakap soal politik dan kejahatan-kejahatan kecil di kampung. Makan makanan sisa siang atau keluar mencari cemilan.

Memegangi handphone, mengetik beberapa pesan, memilih nama-nama dan nomor-nomor dan lebih sering tak jadi mengirimkannya pada siapa pun. Saat putus asa atas pesan-pesan itu, kau menyimpan nomormu sendiri dengan nama "God" dan mengirimkan pesan-pesan itu ke nomormu sendiri. Sekejap saja pesan-pesan itu tiba di handphone-mu dan kau membukanya dengan dada berdebar: Tuhan mencoba mendekatiku!

Setelah bermain-main dengan pesan-pesan konyol itu engkau pun tertidur dengan sedikit paksaan fisik. Mulai lelap saat subuh datang dan berakibat bangun siang.

Sebulan sekali kau masih selalu bisa merasakan puncak kegelisahan itu. Ketika seseorang menyapamu lewat pesan-pesannya dan mengundangmu datang. Engkau pun menyiapkan kebohongan-kebohongan kecil bagi pemilik rumah untuk mendapat izin keluar tengah malam. Dengan rasa cemas buatan yang menjelma jadi nyata engkau menuju jalan raya dan menyetop taksi. Membuka pakaian luarmu dan memasukkannya ke dalam tas. Kedinginan. Tiba di sebuah hotel. Bertemu seseorang dari masa depan dan memasuki lift.

Engkau melakukannya. Mengulang-ulang sedikit adegan yang kau ketahui. Hampir setiap pukul dua pagi, usai menusukkan puncak kegelisahanmu ke dalam puncak kegelisahannya, engkau merengek lapar. Lelaki di sampingmu memesan makanan dan menggendongmu di punggungnya menuju meja makan. Kalian makan. Engkau memancingnya bercakap soal politik dan kebudayaan agar lelaki itu tak lupa bahwa engkau tak cuma datang membawa tubuh. Lelaki itu mengagumi kecerdasanmu lalu kelelahan dan tidur. Engkau bersikeras melelapkan diri di ketiaknya.

Begitulah engkau menikmati usia tujuh belasmu. Beberapa hari sebelum hari kemarin. Tetapi mulai hari kemarin engkau mulai terganggu dengan hidupmu sendiri. Engkau melihat anak-anak seusia yang bukan kawanmu menata masa depan yang lebih terang meski tak cemerlang. Engkau merasa mual ketika melewati kampus-kampus mereka. Engkau mengalami migrain melihat festival-festival band. Jantungmu berdegup tidak normal mendengar mereka tertawa di mana saja.

Engkau ingin merasa bahwa engkau memang bukan bagian dari mereka. Engkau ingin meyakinkan bahwa engkau telah jauh lebih lama hidup dan mengalami segala jenis kesepian dan masalah. Engkau ingin orang-orang melihatmu sebagai gadis tua yang angkuh saja. Agar mereka segan dan tak kasihan. Tetapi tidak bisa. Mereka semua tahu kau baru mengakhiri usia tujuh belasmu dan mereka tahu engkau terbuang. Engkau tak bekerja dan tak sekolah. Engkau tak bersuami dan tak bersama keluarga. Maka sebagian dari mereka memandangmu kasihan. Sementara orang-orang yang sadar bahwa engkaulah yang memisahkan diri, mengacuhkanmu.

Mulai hari kemarin engkau tak berharap ke hotel itu lagi. Pesan-pesanmu tak terbalaskan. Engkau menemukan kelaminmu mulai menebarkan bau busuk. Engkau pun sibuk menambalnya dengan bedak-bedak dan pembalut yang wangi. Lalu engkau mengingat ibu, mamas, mbak yu dan adik-adikmu yang jauh. Lalu engkau teringat bapak yang bertahun kauanggap bejat.

Lalu engkau mencari-cari nomor telepon teman-teman SD. Mendapatkan beberapa dan mengabarkan bahwa dirimu hidup sendirian dengan maksud agar mereka tahu bahwa dirimu sukses tanpa siapa pun. Tetapi engkau teringat ibu, mamas, mbak yu, adik-adik dan bapak yang bejat itu lagi. Tiba-tiba engkau merasa takut kalau-kalau suatu hari mereka menagih masa depan kepadamu. Apa yang dapat kaubawa pulang? Tetapi aku tak mau pulang, katamu. Tetapi tidak bisa begitu. Engkau pasti pulang. Mereka akan menuntutmu pulang sebelum engkau punya tempat pulang yang lain. Aku akan mengelak. Tapi mereka akan mengejarmu. Ke mana pun. Bagaimana pun.

Maka engkau teringat seorang lelaki yang mengenalmu sejak kecil. Lelaki yang pernah kauanggap sebagai bapak-bapakan. Yang tak pernah menimbulkan nafsu dalam tubuh dan pikiranmu. Yang hanya kepadamu bisa seperti pendeta dan mengasihimu sebagai putra Tuhan. Engkau memintanya menikahimu. Dia tercengang. Dia mengajakmu merundingkan alasan atas pernikahan kalian. Di antara banyak alasan yang mungkin ada, kalian hanya menemukan satu alasan yang membuat engkau dan, terlebih, dirinya ketakutan.

Engkau mengatakan dirimu takut menjadi sia-sia. Takut menjadi bukan siapa-siapa yang tak melakukan apa-apa bagi siapa-siapa. Pernikahanlah yang mampu menyelamatkanku dari situasi ini. Dengan menikah aku memiliki tempat pulang yang baru selain masa lalu.
***
Tapi hari itu pengantin perempuanlah yang memucat. Sementara orang-orang yang tak ada bedanya berkali-kali menyalami dan menyantap makanan, dunia pengantin perempuan dirampas masa lalu dan masa depan.

Setelah hari pesta pernikahan itu. Pengantin perempuan dan pengantin laki-laki menjadi tempat pulang bagi masing-masing keduanya. Perempuan itu selalu menceritakan kesedihan-kesedihannya di masa lampau dan ketakutan-ketakutannya akan masa depan. Ia tetap tak percaya diri atas hidup yang dilakoninya. Ia makin tak tahu harus berbuat apa. Ia tak perlu melamun lagi. Ia tak punya kegelisahan untuk dituliskan. Ia tak perlu memikirkan hutang-hutang kecil dan masalah keuangan. Segalanya baik-baik saja. Suaminya bukan macam orang baik yang nyaris tanpa dosa dan membosankan. Ia lelaki yang mempunyai pemikiran dan cabang kehidupan yang luas dan mencengangkan.

Ia membiarkan istrinya melakukan apa saja. Ia tak melarangnya bergaul dengan siapa saja. Ia tak berkeberatan atas bau busuk kelamin istrinya. Ia tak mengharamkan apa pun untuk disentuh perempuan itu. Rokok, alkohol atau tempat hiburan. Tetapi ia tetap menjaganya. Menikmati kesedihan-kesedihan dan ketakutan-ketakutannya sambil bersikeras menikmati bau busuk kelaminnya. Ia bukan macam orang baik yang nyaris tanpa dosa. Ia ingin sekali menyetubuhi istrinya. Atau bermain saja dengan perempuan lain di luar.

Tetapi istrinya pun bukan macam perempuan yang patuh dan mengharukan, yang dengan sendu merawat dan membiarkannya bermain apa saja. Perempuan itu tetap hidup dengan pikiran-pikirannya, kecerdasan-kecerdasannya dan keliaran-keliarannya. Hampir selalu bangun siang dan hanya kadang-kadang memasak untuk keluarga. Selalu mengingatkannya untuk tak melakukan keduanya dan makin hari bau busuk itu membuat dirinya tak berselera pada kelamin perempuan atau persetubuhan. Jadi ia nikmati saja kesengsaraan itu bersama anak-anakannya di masa lalu itu.

Pengantin laki-laki itu mulai tahu perkawinannya tanpa nafsu, bahkan mulai beranjak pada tahap tanpa cinta. Perkawinan itu menjadi pertemanan yang dingin dan abadi. Pertemanan, yang tak mungkin dipisahkan karena ungkitan pemuasan atau memudarnya cinta.

Mereka bercakap di tempat tidur setiap malam. Mereka memberi makan anjing-anjing mereka seperti mengurus anak-anak mereka. Anjing-anjing yang saban hari menyalak bernafsu atas amis daging perempuan. Mereka makan bersama dan menghadiri undangan-undangan berdua. Mereka tertawa-tawa bersama setiap menyadari orang-orang di sekitar mereka mulai terganggu bau busuk.

Pengantin laki-laki itu berusaha keras melupakan kebiasaannya menghirup bau busuk dari kelamin pengantin perempuan. Tetapi kesedihan-kesedihan dan ketakutan-ketakutan yang selalu diceritakan kepadanya membuatnya cemas bertahun-tahun.

Ia pergi bekerja setiap hari. Makan siang di luar. Kadang-kadang memasak sendiri. Ada puluhan bingkai foto tergantung di kamarnya dan ia mampu mengalami kesedihan hanya dengan meliriknya. Maka ia berbaring saja di tempat tidur pada malam-malam hari. Ia tak lagi harus berjaga dini hari untuk membukakan pintu depan dan menahan diri untuk tidak bertanya "dari mana?" karena alasan privasi. Anjing-anjingnya mati kekurangan bau busuk dan ia tak ingin mengenangnya.

Kalau datang semangat ia mandi sore-sore sepulang kerja. Pergi ke rumah-rumah pelacuran. Ia mendapatkan kelamin perempuan dan persetubuhan. Jika muak dengan mereka ia mengunjungi tempat-tempat yang tak dikunjungi perempuan. Gay party atau bilyard.

Begitulah ia menikmati lajangnya. Bertahun-tahun sebelum hari kemarin. Mulai hari kemarin ia mulai terganggu dengan hidupnya sendiri. Ia melihat kawan-kawannya beristri dan berkeluarga. Ia menjadi berkeringat melewati jalan-jalan utama di hari Minggu. Sakit perut menerima undangan-undangan pesta dan makan malam.

Ia ingin merasa dirinya memang tak diciptakan untuk kehidupan yang biasa. Ia ingin orang-orang melihatnya sebagai pria yang mengagungkan kelajangan agar mereka kagum dan tak kasihan. Tetapi tidak bisa. Semua orang tahu bahwa ia punya seorang istri yang jauh-jauh hari telah meninggalkannya. Maka sebagian dari mereka memandangnya kasihan. Sementara orang-orang yang sadar bahwa ialah yang telah sejak mula mengambil keputusan konyol, mencibirnya.

Mulai hari kemarin ia tak ingin lagi pergi ke rumah-rumah pelacuran itu. Ia menemukan dirinya merindukan bau busuk kelamin istrinya. Ia kehilangan kebiasaan-kebiasaan yang tak mampu didapatkan atau dikembalikannya lagi. Ia turun ke jalan-jalan utama pada Minggu pagi dan bergabung dengan para pejalan kaki. Ia menyadari dirinya telah menjadi bukan siapa-siapa yang tak melakukan apa-apa bagi siapa-siapa, ketika sebuah pesan memaksa masuk: Apa kamu merindukanku?

Dina Oktaviani, lahir di Tanjungkarang, Bandar Lampung, 11 Oktober 1985. Saat ini menjadi editor BlockNotPoetry untuk BlockNotInstitute Jogjakarta. Kumpulan cerpennya, Como Un SueƱo (penerbit orakel, 2005). Manuskrip puisinya, songs for dog!