Minggu, 03 Juli 2011

Naskah Monolog Trik Karya Putu Wijaya

Cuplikan Naskah Monolog Trik Karya Putu Wijaya Sebagai Berikut :
Maaf. Bukan aku yang ketawa, tapi wartawan itu. Dia memotretku lalu memberikan aku kartu nama sambil minta alamatku. Terpaksa aku menjelaskan di mana aku tinggal. Kalau ditulis alamatku panjang sekali, lebih merupakan petunjuk belok kanan dan belok kiri di gang-gang yang berbelit seperti cacing.Itulah yang kemudian jadi perkara besar. Pak RT dan Pak RW datang ke rumahku. Semula kukira kedatangan mereka untuk mengusut perkara gossip yang sudah santer tersebar, bahwa aku pernah mengintip anak Pak RW mandi.Aku sudah siap dengan penjelasan bahwa itu bukan kesengajaan tapi kecelakaan. Maksudku aku tidak sengaja membuka jendela ketika diundang ke rumah seorang teman yang rumahnya berlantai tiga di samping kediaman Pak RW. Karena AC di kamar freonnya habis, aku kegerahan dan membuka jendela. Tidak tahu anak Pak RW sedang mandi di kamar mandinya yang terbuka karena atapnya sedang direhab.

Terus-terang aku sempat tertegun sampai 10 menit. Tapi apa salahnya? Bukan hanya laki-laki suka mengintip, perempuan juga. Aku hanya mau blak-blakan saja. Ada orang tertegun sampai satu jam. Dalam keadaan terkejut, ketika kita tertegun, waktu berjalan relatif tidak menghitung, bahkan waktu bisa tidak bergerak. Tapi baiklah, kalau itu memang dianggap sebagai kesalahan, aku bersedia minta ampun. Atau apa pun. Tapi yang jelas, tidak mungkin untuk membatalkan apa yang sudah kulihat. Manusia bukan komputer yang ingatannya bisa dihapus.

Sabtu, 02 Juli 2011

Cerpen Ibu, Baron dan Kupu-kupu Karya Dyah Indra Mertawirana

Karya  Dyah Indra Mertawirana

Kupanggil ia ibu. Perempuan yang menyimpan kesunyian benih-benih padi, membajak petak-petak sawah, dan menyiangi lini-lini rumput di tiap ruas. Selalu riang ia dengan lagu-lagu ketika kaki-kakinya menapak pematang. Angin bahkan menebarkan suaranya mengisi seluruh petak sawah yang menghampar. Di dalam bakul yang ia gendong, ada nasi dengan lauk teri dan sambal pedas yang akan meruapkan liur jika siang datang. Ia membungkusnya sendiri ketika embun masih menggumpal di ujung daun. Lalu sesampai di sawah, ia akan jinjingkan jariknya kemudian mencelupkan kedua kakinya ke dalam lumpur yang kelak akan mengikat kehidupan anak dan cucunya.

Ia membajak sendiri. Baron, kerbau dungu, selalu ia menyebut-nyebut nama hewan itu jika kesal. Kerbau yang diantar oleh seorang tukang angon, si bocah lelaki kecil. Ia mengikat leher Baron pada luku dan membunyikan cambuknya. Maka mulailah ia membajak dan bercakap-cakap dengan Baron seolah ia bercakap-cakap dengan suaminya sampai tanah-tanah itu tersingkap kemudian ditebarnya kompos beserta tahi Baron ke situ. Hingga setiap sawah di kampung ini, suatu hari, dipenuhi oleh perempuan, sebab setiap lelaki turun gunung membangun kota dengan tangan-tangan mereka dan pulang menjelang larut atau kadang sampai berbulan-bulan. Ia, perempuan yang kupanggil ibu itu adalah perempuan yang membunuh birahinya terhadap Rahwana juga Rama. Kelak itu yang aku tahu ketika aku tumbuh dewasa.

Senja, ibu akan pulang bersama Baron ke rumah. Lalu aku akan menurunkan tumpukan jerami untuk santap malam Baron. Kemudian ibu akan segera membakar sebagian tahi Baron untuk menghangatkan tubuh kami dan mengusir nyamuk-nyamuk. Baron tidur di kandangnya yang terletak di samping kiri rumah kami. Dan jika kenyang ia akan melenguh lalu tertidur. Suatu hari aku tak akan lagi jumpai semua itu, dan itu ternyata yang paling aku rindu.

Lelaki di kampung ini telah pergi. Ayahku juga. Tapi ayahku sungguh baik hati. Pernah ketika libur datang, ayah membawa oleh-oleh pupuk dari kota, katanya, supaya ibu tak terlalu sibuk di sawah. Juga bibit-bibit yang cantik. Lalu pernah lagi ketika pulang ayahku membawa televisi. Benda bertabung yang bisa menyala itu, aih lucu sekali menurutku. Bagaimana orang bisa muat berada di dalam tabung sekecil itu. Tak perlu lagi pergi ke sawah, tontonlah telenovela dan berdandanlah seperti bintang film, begitu katanya pada ibu. Lalu aku diberinya jadwal khusus untuk melihat sinetron, siapa tahu rezekimu datang dan kau bisa jadi bintang hingga tak perlu lagi tinggal di kampung, begitu ayahku bilang. Tapi, ah!

Kota masih sesuatu yang asing yang mendengung-dengung di telingaku dari antena radio dan televisi yang pertama kali singgah bertamu di rumah kami. Ke mana ibu yang selalu terbangun oleh kluruk ayam jantan Lik Bawuk dan langsung menyalakan tungku kemudian menjerang air. Ke mana ibu yang mencuci beras di pancuran dekat bilik belakang rumah. Ke mana ibu yang mengenakan jarik dijinjing dan dengan sigap menyiangi rumput-rumput yang mengejar padi. Ke mana ibu yang selalu ajarkan alif ba ta jika selepas magrib. Ke mana ibu yang membenahi selimutku sebelum akhirnya ia juga lelap.

Pagi dini aku sudah mulai membaca. Dan koran-koran mulai berdatangan ke rumahku menebar apa saja. Televisi di rumah kami juga tak berhenti menyiarkan iklan. Maka kebiasaan ibuku mulai berubah. Maka ibuku mulai suka pergi berbelanja ke pasar-pasar. Tapi barang-barang itu tak ditemuinya di pasar. Hingga suatu hari tumbuh mall dan jalan-jalan besar di kampung kami, menepikan sawah, padang tempat domba-domba kami merumput, juga rumah-rumah. Sementara pasar-pasar menjadi semakin kumuh dan tenggelam di sudut rumah. Maka pergilah ibuku ke mall dan berbelanja di sana sampai berjam-jam. Ia jadi lupa jika padi kami harus disiangi. Juga lupa tentang nasi yang ditinggalkannya telah mengerak. Ah, ibu, keluhku. Lalu setiap ibu akan pergi selalu ia berpesan padaku, jangan lupa tebarkan pupuk-pupuk yang dibawa ayahmu. Ingat takarannya. Angkat jemuran dan tanakan nasi. Jangan lupa buat sambal terasi untuk ayahmu jika ia pulang.

Kami tak lagi sibuk menyiangi padi. Padi kami tumbuh lebih setia, tak rewel seperti ibu yang semakin hari semakin asyik memadukan warna lipstik dan baju juga sepatunya buat kondangan ke tetangga seberang rumah. Tapi entah, kenapa lama-kelamaan pupuk itu harus selalu kami beli. Juga ibu yang semakin jarang di rumah. Ibu yang tak lagi memiliki cerita dan dongeng masa lalu untukku, ah kuno, cobalah gaya hidup yang lebih modern, begitu katanya padaku. Ayah membelikan aku koleksi play stasion, sementara ibu membelikanku boneka barbie. Aku tak lagi main engklek atau dakocan. Tak ada kawan. Kami sibuk memperlihatkan apa yang kami miliki, memamerkan satu dengan yang lain dan jika tak memiliki apa yang dimiliki yang lain maka ketika pulang akan merengek lagi.

Zaman telah berubah, jangan ketinggalan. Kau harus lebih sering menonton televisi dan mengikuti perkembangan. Jangan kita dibilang kampungan. Itu memalukan, kata ibu padaku ketika kami makan malam.

Tapi aku lebih suka menatap sawah. Hingga pupuk semakin mahal dan rumah kami tergenang oleh genangan got yang mampat dari sampah pasar yang meruapkan bau tak karuan. Aku lebih suka desau ilalang dan bau tanah yang terguyur hujan. Juga kerlip bintang pari yang kadang timbul tenggelam.

Sampai suatu malam, ibu tak pulang dan ayah tak menceritakan ke mana ibu pergi. Pun aku tak tahu di mana ibu sekarang. Aku hanya berpikir ibu akan baik-baik saja. Hingga semakin hari sawah kami tumbuh semakin menyempit. Entah apa sebab. Ketika ibu menyuruh menjualnya, aku protes. Satu-satunya yang bisa aku nikmati di sini hanya sawah itu. Sebab itu, ibu tak pulang berhari-hari. Tapi aku masih berpikir ibu akan baik-baik saja. Hingga Baron pergi dari kandangnya dan digantikan motor baru. Tapi motor ini tak bisa membajak sawah, pikirku. Dan aku cuma bisa diam selama kami masih baik-baik saja. Ya, kami tetap baik-baik saja.

Musim bediding datang hampir merontokkan gigiku, kembang-kembang mangga banyak yang rontok dan yang tersisa akan menjadi buah masak. Dingin yang menusuk sumsum nyaris tak bisa membuatku tidur. Sebab tahi Baron tak lagi menghangatkan rumah kami. Ayah lupa membeli penghangat ruangan, besok katanya. Aku beranjak ke kamar ibu untuk mengambil jarik, barangkali bisa sedikit memberi hangat untuk selimut, menurutku.

Aku membuka lemari ibu, memilah-milah lipatan tumpukan baju, tapi aku hanya menemukan lembaran kutang dan celana dalam. Akhirnya aku membongkar hingga ke laci-lacinya, tetap tak ada. Aku mencoba mencari di pelosok kamar ibu barangkali ia menyimpan jarik dan kebayanya di tempat lain selain di lemari. Tapi tak juga ada. Beberapa majalah tergeletak sembarangan, sedang di depan cermin berderak kosmetik ibu. Barangkali ibu menjualnya ke tukang loak entah kapan, ketika kutanya ke Lik Kaseno tukang loak yang biasa lewat di depan rumah kami dan sesekali menjajakan barang rongsokan yang masih sedikit bisa dipakai dari rumah ke rumah-- esok harinya, lelaki itu tak tahu-menahu dan bilang ibu tak pernah menjual loakan apa pun kepadanya. Lalu barangkali ibu memberikannya ke kerabat, sebab aku rasa benda itu keramat, maka kutanya ke beberapa nama dan alamat tanpa rasa malu, tapi tak juga kutemu. Karena kesal aku malam itu tak pulang dan berjalan mengelilingi kota yang mulai tumbuh di kampungku. Lampu-lampu nyaris menubruk bola mataku. Kunang-kunang yang tadinya selalu kutangkap dan kuintip di tangkupan kedua tanganku seolah lenyap tertimbun lampu-lampu yang tak bisa kutangkup. Sesampainya di simpang, di sebuah warung abang kulihat ayah tengah menenggak bir bintang dan memegang kartu as. Aku biarkan saja, barang sekali dua tak apalah untuk mengaso. Di mana ibu, malam-malam begini. Meski aku masih berpikir bahwa ibuku akan baik-baik saja. Sampailah aku di dekat sebuah hotel dan kulihat ibu berdiri di samping pintu gerbangnya. Tersenyum ke setiap lelaki yang lewat di depannya sambil sesekali memegang tangan mereka. Lipstik ibu sungguh tebal seperti ketika sedang menghadiri kondangan di kampung, waktu dulu dan terakhir tiga hari yang silam di tempat Mr John yang kata ibu adalah teman dekatnya. Entah kapan kenal dengannya, sebab sejak dulu di kampungku tak ada yang dipanggil Mister. Aku melihatnya, ibu digandeng seorang lelaki ke dalam hotel itu. Dan aku masih meyakini ibuku akan baik-baik saja.

Besok malamnya aku kembali mengikuti ke mana ibu pergi. Jelang pagi kulihat ibu kenakan jarik dan kemben itu. Ah, lega rasanya. Ternyata ibu masih menyimpannya dan membawa kemana pun ia pergi, aku sedikit riang. Tapi baju keramat itu tak lagi dipakainya menyiangi rumput di sawah kami. Di situ, di antara para lelaki dan sedikit perempuan ibuku menari hingga akhirnya tel****ng dan menjelma sawah yang bisa dibajak dan disiangi siapa saja. Dan ibu tak lagi meluku. Juga ayahku tak ada di situ. Bahkan aku yang ada di situ di salah satu sudut ruang yang temaram dari sebuah pub hanya diam. Barangkali juga ayahku. Sebab tak pernah ada pertengkaran di rumah kami. Hingga aku yakin ibuku baik-baik saja. Esok pagi kami masih bersitatap di rumah meski kulihat kemudian ia tertidur dan aku yang membereskan semua pekerjaan di dapur. Pernah aku masih berpikir untuk mencuri jarik dan kebaya itu dari ibu. Sebab aku ingin sekali memakainya, nanti, ketika menikah dengan sedikit harap masih bisa menemukan sepetak sawah dan menganai padi-padinya. Tapi tak ada lagi yang kumiliki. Hanya kenangan tentang ayah, ibu, sawah hijauku, akar-akar juga Baron, kerbauku.

Sebab keesokan harinya ketika aku bangun tak ada lagi pupuk, sebab ayah telah menjual sawah itu. Juga Baron yang telah pergi lebih dulu, dijual ibu. Dan akhirnya, kami bermetamorfosa seperti kupu-kupu.
Bandar Lampung, 2004

Cerpen Burung Terbang dari Kuburmu Karya Hamdy Salad

Burung Terbang dari Kuburmu
Karya Hamdy Salad

BURUNG-BURUNG terbang meninggalkan musim dingin menuju tempat yang lain. Melintasi laut dan hutan. Menggaris cakrawala di langit keabadian. Sebagian pergi menaikkan derajatnya menuju tingkat yang lebih tinggi. Sebagian dilepas dan diberi angka pada sayapnya, agar mudah dikenali kemana pun mereka pergi. Sebagian lagi hanya bisa menghabiskan waktu untuk bernyanyi dalam sangkar tirani.

Seperti juga tetangganya, orang itu tak pernah bosan untuk bersiul. Mengajari burung bernyanyi dengan irama yang tidak pasti. Setiap sore dan pagi hari, ia berdiri di depan rumah. Memberi makan dan minum melebihi anaknya sendiri. Ketan hitam, buah pisang dan gabah, juga air yang telah direbus dengan daun jambu, selalu ada di kepalanya. Tapi burung tak juga pandai bernyanyi, kecuali beriak dengan suara serak. Memaki-maki pita suara dalam tenggorokan lalu amarah merasuk di dada pemiliknya. Mengajak anggota badan untuk bertindak. Menggerakkan kedua lengannya yang kokoh untuk membanting sangkar sampai roboh ke tanah. Dan burung pun terbang, tergopoh-gopoh, mencari kebebasan yang telah lama dirindukan.

Pada saat yang kurang tepat, tetangga itu datang ke rumahnya. Mengumbar basa-basi dalam dunia burung. Di dekat mereka mengobrol, seekor beo masih bertengger dengan rantai di kaki kanan. Matanya melotot, menatap tetangganya tanpa ragu. Sepertinya beo itu hendak bicara, mengabarkan luka yang diderita oleh majikannya.

"Aku tetanggamu. Tak mungkin bisa menutup telinga."
"Ya. Pada minggu terakhir sebelum kepergiannya, burung itu telah membuat sarang dalam sangkar. Dan ketika sangkar telah rusak, sarang itu berpindah tempat ke dalam tubuh majikannya. Hingga tubuh sang majikan terasa sesak. Penuh jerami yang berserak."

"Lalu, pergi ke mana?"
"Mencari musim di tempat yang lain. Sebab burung yang tinggal dalam sarang tertentu, dengan mudah akan ditangkap orang, setiap musim setiap waktu."

Tetangga itu bangkit. Lalu pamit dan kembali ke dalam rumah sendiri. Sunyi tanpa kata-kata. Memahami bahasa burung dengan lidah manusia. Menerbangkan khayalan menuju kenyataan. Membawa mimpi ke dalam kehidupan. Burung pelatuk mencari makanan; mematuki pohon yang keras sebanyak 20 kali dalam 2 detik tanpa cedera; pendarahan otak atau sakit kepala. Burung ababil membawa kerikil dan batu api tanpa terbakar tubuhnya; juga sayap dan bulu-bulunya.

Burung-burung selalu dipuja karena suara indah yang keluar dari tenggorokannya. Perkutut jantan yang terkenal itu, mendapat sertifikat yang lebih mahal dari kemerdekaan. Kutilang berjengger biru ditukar orang dengan mobil terbaru. Cucakrawa berbulu putih dikeramatkan sebagai bangsa burung yang terpilih. Sementara elang, makhluk pemakan daging itu, tetap setia menggaris laut. Menunggu mangsa yang luput.

Elang bermata merah mengepakkan sayapnya menuju tempat fajar merekah. Kemudaian berdandan, menjelma makhluk paling serakah; meminum nanah; memakan daging-daging busuk sampai muntah. Sedang elang bermata hitam, terbang ke arah matahari tenggelam. Lalu bernyanyi, mabuk dan gila sampai mati. Sayap-sayapnya yang patah jatuh ke bumi. Menjadi pena. Menuliskan sejarah sendiri tanpa tinta.

"Bukankah bumi juga memiliki mata pena?"
"Ya. Tapi langit yang menyimpan tintanya."

"Jadi?"
"Jadi bumi tak bisa menulis sejarah sendiri. Kecuali langit mengirimkan tinta yang lebih murni."

"Ah!!"
"Lelaki juga punya burung. Tapi perempuan yang menyimpan sayapnya. Jadi lelaki tak bisa terbang sendirian, kecuali perempuan mengepakkan sayapnya."

Dan ini juga burung. Walau hari sudah sore dan petang, walau angin ribut selalu datang, sekelompok merpati itu tak mau pergi dari tempat kebebasannya. Mereka habiskan waktu untuk bersendau-gurau sembari mengais sisa-sisa makanan orang. Hingga sayap-sayapnya menjadi malas terbang dan kembali ke dalam sarang. Makhluk-makhluk bertelinga kecil itu lebih suka tertidur dan menunggu pagi di taman-taman kota. Para pemburu yang kebetulan lewat dan melihatnya, tanpa perintah atau komando, langsung menembaki mereka tanpa aturan. Merpati-merpati kelimpungan. Lalu roboh ke tanah. Tak bisa lagi terbang, berkicau atau berdendang, kecuali menangis dan merintih dalam perut si-gendut. Perut pemakan daging yang sedang ribut di balik dinding.

Kalau saja Daud dan Sulaiman masih hidup, tangisan itu dapat digubah sebagai nyanyian dalam telingamu. Dan engkau pun menjadi bebas merdeka untuk terbang menemui diri di atas langit yang tinggi. Sebab burung telah menjadi amsal ruhani untuk membawa pesan-pesan rahasia ke dalam bahasa manusia.

"Maka, pujilah nama Tuhanmu yang telah menerbangkan burung-burung semesta dari sangkar derita. Dan burung-burung pun menjadi bahagia dalam istana yang sesungguhnya."

Seperti juga tetangganya, orang itu tak pernah peduli pada kenyataan di luar angkasa. Pada burung-burung cahaya yang menerbangkan manusia sempurna menuju surga. Serupa sayap-sayap jibril, mereka berkepak membawa bahtera, mengangkat ruh para nabi menuju singgasana yang abadi. Sementara wali dan orang-orang terpilih yang teraniaya atau disiksa para penguasa, memperoleh sayap dua-dua, tiga-tiga atau empat-empat dari burung-burung putih untuk terbang dan kembali ke dalam istana sejati.

Simurgh, burung merak dengan sayap-sayapnya yang indah, telah dinobatkan sebagai mahkota yang mesti dicinta. Sedang bul-bul menggantikan sayap-sayap manusia sebagai anugerah para pecinta. Lalu hud-hud, burung yang paling beruntung di dunia, menurunkan rahasia Tuhan kepada Sulaiman. Hingga Balqis, perempuan ratu yang terkenal itu, menjadi tunduk dan berserah diri di hadapan raja Yang Maha Suci. Lalu duduk dan berdiri; membaca syahadat sampai kembali ke dasar bumi.

"Telah kuingat semua nama yang indah. Dan kulepaskan semua burung yang mati dari sangkar resah." Seekor gagak menggali tanah; mengajarkan cara pada anak adam dan hawa untuk mengubur dan menutup aib saudara.

"Oh. Celakalah aku. Mengapa aku tidak bisa berpikir seperti burung gagak itu, sehingga saudaraku Habil dapat dikubur di bumi ini." Qabil menyesal. Lalu bergerak dan mengantar kepergian saudaranya dengan cara burung gagak. Menutup jasadnya dengan tanah, melepaskan jiwanya dengan penuh rahmah.

Tangan doa menengadah ke angkasa. Mendedah sebutir pasir di tengah mutiara. Seperti juga tetangganya, orang itu bersusah-payah untuk menjadi diri sendiri. Setiap hari, dari pagi sampai petang, dari petang sampai pagi lagi, tak pernah lupa untuk mengaji. Memahami bahasa burung dengan kalimat-kalimat suci yang lebih abadi. Kecuali tertidur dan mati.

Tapi hidup telah membawa jiwanya untuk menolak rasa kantuk, tertidur atau mati dengan sia-sia. Selain rindu yang luar biasa untuk bertemu dan terbang bersama burung-burung bersayap sutra. Burung-burung kesaksian yang mengangkat ruh alam menuju langit keabadian. Sampai selaput yang tipis di cekung matanya menjadi terkikis. Dan cahaya berkilau, memancarkan sinar dunia ke wajah bumi yang hijau.

Jumat, 01 Juli 2011

Naskah Monolog Sepi Karya Putu Wijaya

Cuplikan Naskah Monolog Sepi Karya Putu Wijaya sebagai beikut.
Aku hampir saja tertawa ngakak karena bangga, tapi dokter menggelengkan kepala.  Tidak mungkin, katanya tegas, secara ethis ini akan menimbulkan skandal, secara praktis pasti akan mengakibatkan krisis moral dan dari segi hukum bisa diancam sebagai mengkampanyekan Oedipus Kompleks, karena termasuk barang impor yang tidak sesuai dengan politik kepribadian kita. Dus resikonya sangat berat.
  
Lho tidak apa, Dokter. Itu malah bagus, ini kan eksperimen, makin banyak tantangannya, akan makin tinggi nilainya sebagai pencarian.  Ini adalah sebuah revolusi yang tak berdarah dan murah.  Sebuah kebangkitan nasional tanpa pembunuhan, kecuali memanfaatkan orang yang sudah dibunuh oleh Tuhan.
  
Dokter tetap menggeleng.  Tidak, katanya, aku tidak berambisi bikin revolusi, tidak mau ikut menanggung resikonya.  Meskipun aku edan, aku belum gendeng.  Jadi aku tidak bisa selalu mengatakan bisa, bisa, meskipun memang bisa, karena masih ada factor-faktor X yang selalu aku perhitungkan di dalam pengembaraanku mencari kebahagiaan di dunia fana ini.
  
Ahhh sudah, sudah, dokter kok jadi sentimentil sekarang.  Sudah kerjakan saja, biar nanti saya yang menanggung akibatnya. Dokter tinggal menyumbangkan ketrampilan, tanggungjawabnya urusan saya, Anda harus bisa berpikir praktis.  Cobalah sedikit revolusioner Dokter.
  
Saya revolusioner, jiwa saya cukup revolusioner.
  
Tetapi dalam hati tok.  Itu tidak cukup.  Ayo pasang saja alat vital itu, kan mubazir kalau dibusukkan di tanah.  Coba apalagi yang bisa kita manfaakan.  Matanya?  Jantungnya?  Buah pinggangnya?  Atau giginya?
  
Dokter menggeleng.
  
Masalahnya begini,  Saudara Merdeka, jawabnya. Organ-organ tubuh ini memang kelihatannya baik, tetapi dia sudah terlatih untuk melakukan sesuatu dengan pola tertentu, pola berpikir almarhum. Ideologinya, filsafat hidupnya, gayanya, aksinya dan kebiasaan-kebiasaannya sudah terbina.  Sulit untuk mengubahnya lagi.  Saya bisa mencangkokkan ini di tubuh saudara, saudara Merdeka, tetapi saya tidak bisa menjamin bahwa dia akan bersedia tunduk di bawah perintah saudara.  Bayangkan kalau terjadi sebaliknya, kalau seandainya kemudian Anda sendiri yang diperintahnya.  Bayangkan,buat apa anda bernama Merdeka kalau pada akhirnya tidak merdeka? Ini baru satu resiko saja, yang lain ....?
Download : Naskah Monolog Sepi

Monolog Minum Pagi di Kuburan Karya Dharminta. S

Jangan tersinggung karena saya tertawa, semuanya lumrah saja. Ada yang suka minum kopi, minum teh, ataupun tidak minum apa-apa, semuanya lumrah.

Bicara mengenai minum pagi, kita harus benar-benar memperhitungkan tempat dimana kita minum kopi,  apakah di ruang tamu, di ruang makan, atau di teras rumah. Masalah tempat minum pagi ini sangat penting, coba kalau kita punya kebiasaan minum pagi di kamar tidur atau di WC misalnya, kan berabe. Jelas kedua tempat tersebut tidak lazim dan sangat tidak nyaman. Tempat tidur ya......untuk tidur, apalagi kalau WC, walaupun sebahagian seniman pada ngaku kalau WC merupakan tempat paling nyaman untuk mendapatkan inspirasi, tapikan kasusnya berbeda.

Kalau saya lebih suka minum kopinya disini, ya...di sini. Disini terkadang bisa terasa lebih nikmat, karena suasana yang tenang dan damai...Percayalah, saudara-saudara se-sekali boleh mencoba minum kopi disini, dikompleks perkuburan ini. Benar...dimana lagi tempat yang paling tenang kalau bukan disini.

Ketenangan sangat diperlukan setelah kita bangun pagi, Saudara-saudara, sebahagian orang mungkin minum kopi pagi ditemani juga oleh koran pagi, atau sambil mendengarkan berita-berita terkini, baik berita di TV maupun di Radio. Kalau pengusaha biasanya minum kopi atau teh sembari membaca koran bisnis, kalau politikus biasanya membaca koran....

(BERPIKIR)
koran apa ya..........tapi kalau saya............jarang baca koran, jangankan setiap pagi, sekali sebulan saja jarang.

Menurut Mantri Johan di desa saya. Ini bukan menurut saya lho...............Katanya sehabis bangun tidur, kita janganlah memaksakan diri untuk mendengarkan apalagi membaca berita-berita, atau isu-isu di koran-koran atau menonton gosip-gosip, ataupun berita-berita kriminal di TV, karena tidak baik terhadap keseimbangan jiwa kita, menurut Mantri Johan sih, agar hidup tidak melelahkan dan pagi anda lebih indah. 

Orang yang mati dikuburan ini misalnya, umurnya masih muda ketika meninggalkan dunia ini. Orang ini mati ketika sedang minum kopi dipagi hari, Ooo orang ini mati bukan karena minum kopi, tapi meninggal setelah mendengar berita pagi di TV mengenai keuangan negara Amerika yang jatuh, ini benar, saya tidak bohong. Kabarnya orang ini dulunya orang kaya, banyak usahanya, menurut cerita orang-orang kampung, orang ini tiba-tiba saja jatuh dari kursinya dan meninggal setelah mendengar kejatuhan keuangan Amerika di TV. Aneh ya, masalah keuangan Amerika yang jatuh  kok orang ini yang semaput. Makanya saya sarankan kepada saudara-saudara agar kalau minum kopi, ya dinikmati aja kopinya senikmat-nikmatnya, jangan minum kopi sambil baca koran atau nonton TV, entar semaput deh seperti orang ini. Bangun tidur kok langsung dihadapkan pada masalah-masalah, mana ada otak yang kuat.
Download : Monolog Minum Pagi di Kuburan

Naskah Drama Sijantuk di Negeri Kukuruyuk Karya Arthur S. Nallan

Dramatic Personae Naskah Drama Sijantuk di Negeri Kukuruyuk
SI JANTUK
Anak Betawi
PAK JANTUK
Bapaknya Si Jantuk
MAK JANTUK
Ibunya Si Jantuk
SI JAGO
Ayam Sahabatnya Si Jantuk
PUTRI CEMANI
Pelindung negeri Kukuruyuk
RAJA CEKAK CEKAKAK
Raja Penyakit Ayam
KUTU
Prajurit Raja Cekak Cekakak
KUMAN
Prajurit Raja Cekak Cekakak
PARA HANTU TETELO
PARA ANAK AYAM
PARA BEBEK

Cuplikan Dialog Naskah Drama Sijantuk di Negeri Kukuruyuk
MAK JANTUK
Amit-amit jadi debu, mendingan jadi manusia

PAK JANTUK
Inikan cumin ibarat, kita ini orang kecil. Di ibukota nyang besar, jadi ibarat debu  begitu

MAK JANTUK
Kicir-kicir ini lagunya, mikir-mikir ini namanya

PAK JANTUK
Kita nih musti banting setir kalau ayam kena tetelo. Maksud abang ganti kerjaan

MAK JANTUK
Apa musti nopeng lagi? Kulit peot enyot-enyot begini?

PAK JANTUK
Sapa mau kulit peot, paling laku bahan beduk

MAK JANTUK
Kagak. Jangan balik lagi. Nopeng sudah jadi nostalgia. Mendingan tetep dagang, tapi bukan ayam kampong. Bagaimana kalau bebek?

PAK JANTUK
Ayam, bebek sama saja. Namanya binatang peliharaan. Lagian banyak orang lebih suka ayam. Daging bebek agak anyir campur manis

MAK JANTUK
Ayam dan bebek tentu beda, beda nama beda rupa, beda juga suaranya. Nyang atu kokok kokok, nyang atu wekwekwek

File Naskah Drama Sijantuk di Negeri Kukuruyuk :
 - File Tipe : Ms. Word

Semoga Naskah Drama Sijantuk di Negeri Kukuruyuk Karya Arthur S. Nallan ini bisa membantu anda dalam menyelesaikan tugas atau garapan dan kami ucapkan selamat berproses semoga dalam Proses kretif tidak ada kendala apapun dan jangan lupa Baca juga Naskah Drama yang lainnya.

Naskah Drama Aljabar Karya Zak Sorga

Cuplikan Dialog Naskah Drama Aljabar Karya Zak Sorga Sebagai Berikut :
ORANG I  
Kita tidak pernah punya tahun.
ORANG II  
Makanya harus kita rebut.
ORANG I  
Tidak! Selamat malam untukmu.
ORANG II
  
Semua ini harus menjadi pemikiran kita.
ORANG I  
Justru  itu. Dengan mengucapkan  selamat malam  berarti aku telah berpikir.
ORANG II  
Telah?
ORANG I  
Terus  berpikir.  Aku  berpikir  bagaimana  caranya melupakan semuanya dan diam.
ORANG II
  
Kau tak mungkin bisa lupa.
ORANG I  
Kenapa tidak? Aku toh bukan Tuhan.
ORANG II  
Bagaimanapun  juga  kau  tidak  akan  pernah  bisa melupakan tugasmu.
ORANG I  
Tugas? Apa maksudmu?
ORANG II  
Tugas pelukis adalah melukis.
ORANG I  
Aku bukan pelukis, aku terpaksa.
ORANG II  
Tapi itukan yang membuatmu hidup.
ORANG I  
Ya, karena aku  tidak bisa melakukan apa-apa,  tidak ada pilihan  lain.  Begitu  aku  lahir  aku  sudah  dihadapkan kanvas-kanvas dan cat.

File Naskah Drama Aljabar :
 - File Tipe : Ms. Word

Semoga Naskah Drama Aljabar Karya Zak Sorga ini bisa membantu anda dalam menyelesaikan tugas atau garapan dan kami ucapkan selamat berproses semoga dalam Proses kretif tidak ada kendala apapun dan jangan lupa Baca juga Naskah Drama yang lainnya.