Jumat, 17 Juni 2011

Naskah Drama Dr. Anda Karya Wisran Hadi

Dialog Naskah Drama Dr. Anda Karya Wisran Hadi
DR.ANDA
Saudara-saudara peserta ceramah yang saya hormati.
Tidak satupun teori yang dapat membantah bahwa manusia itu (menunjuk slide) mempunyai kepala, kaki dan tangan.

TRANSPARANSI  I
(Gambar sebuah kepala, lalu diganti dengan gambar sebuah kelapa, lalu diganti lagi dengan gambar seekor kera)

DR.ANDA
Tugas kepala

(menunjuk transparansi)

hanya untuk mengangguk dan menggeleng, mengiyakan atau menidakkan. Kepala apapun, tidak punya apa-apa untuk menerjang dan menampar.
Sebagai sebuah kepala, tempatnya lebih tinggi dari yang lain. Bahkan dapat lebih tinggi dari pohon kelapa, tergantung pada Eska atau Surat Ketetapan yang diberikan kepada kepala itu.
Oleh karena kepala tidak punya anggota tubuh, seperti tangan dan kaki, kepala tetap akan diam saja walau dipelintir seekor kera sekalipun.

TRANSPARANSI  II
(Gambar sebuah tangan, sebuah kaki dan sebuah kepala)

DR.ANDA
Sedangkan yang ini

(menunjuk gambar pada transparansi)

adalah tangan. Tangan bertugas mengantarkan makanan ke kepala. Tanganlah yang menyuapkan segala sesuatunya. Jadi, kepala akan marah kalau tidak menerima suap. Selain itu, tangan ditugaskan pula menuding ke sana ke mari untuk mencegah orang lain agar jangan menerima suap.

File Naskah Drama Dr. Anda :
 - File Tipe : Ms. Word

Semoga Naskah Drama Dr. Anda Karya Wisran Hadi ini bisa membantu anda dalam menyelesaikan tugas atau garapan dan kami ucapkan selamat berproses semoga dalam Proses kretif tidak ada kendala apapun dan jangan lupa Baca juga Naskah Drama yang lainnya.

Naskah Drama Remaja Malin (The End Secene) Karya M.S Nugroho

Cuplikan Dialog Naskah Remaja Malin
DALANG     
Duh, derita mana bisa kalahkan derita bunda
Derita bunda karena kasih kepada putranya
Dipalingkan dan dicampakkan putranya sendiri
Putra yang tak menganggap bundanya lagi

DALAM LINDAP SENJA, MALIN BERGERAK-GERAK SEPERTI BAYI BARU LAHIR. MATANYA PENUH AIR. AWALNYA GAGAP DAN SUARANYA BERUPA BISIK.

MALIN     
Bunda. Bunda. Jangan lakukan!

BUNDA     
Malin? (Tersenyum) Engkaukah itu?

MALIN     
Ini Malin, Bunda. Anakmu.

BUNDA     
Malin!

DALANG     
Tarian kerinduan membuncah menjadi pertemuan. Tiada lain yang dilakukan kecuali pelukan yang dieratkan. Pelukan demi pelukan yang sukar terpuaskan.

Bunda tertawa kegirangan. Sejenak kemudian merona kemarahan dilimbur tangisan.

BUNDA   
Kau jahat. Kau jahat. Mengapa kau lakukan ini. Batulah kau. Batulah kau. 

MALIN   
Bukankah ini yang Bunda inginkan? Ini Malin sudah menjadi batu, Bunda.

BUNDA   
Apa? Kau tak paham juga. Lihatlah mata Bunda. Dua puluh tiga matahari  telah memeluk aku dan kau, tapi kau tak kenal juga wajah Bunda. Ayolah,  bangun. Peluk Bunda.

MALIN   
Tidak, Bunda. Biarlah Malin tetap menjadi batu. Menjadi batu dan tidak akan berubah.

BUNDA   
Kau memang batu dan tidak akan berubah!

MALIN   
Ini sudah menjadi garis nasib Malin, Bunda. Langit keramat tidak akan mengabulkan kutukan Bunda kalau  kata-kata hanya permainan. Kemarahan Bunda yang paling dalam telah menggetarkan darah dan  lengan  langit.

BUNDA (Menangis)
Tidak, Malin. Tidak. Bunda tidak marah.  (Tersenyum) Apa yang paling  terang dalam hidup ini adalah misterinya. Ketika bapak kau ditelan gelombang dulu kukira memang benar-benar meninggalkan aku. Ternyata tidak. Bapak kau menyisakan cintanya dalam perutku, yaitu kau Malin. Kaulah cahaya dalam hidupku. Kaulah sumber kebahagiaan aku, Malin. Kau ingat lagu yang kita nyanyikan bersama dalam sinar bulan? (Menyanyi) Ketika matahari terang, kita sering bekejar-kejaran di ladang jagung milik kita. Kau sering bersembunyi di balik gundukan tanah.
File Naskah Drama Malin (The End Secene) :
 - File Tipe : Ms. Word

Semoga Naskah Drama Remaja Malin (The End Secene) Karya M.S Nugroho ini bisa membantu anda dalam menyelesaikan tugas atau garapan dan kami ucapkan selamat berproses semoga dalam Proses kretif tidak ada kendala apapun.

Naskah Monolog Kunci Kontak Karya Yusef Muldiyana

Cuplikan Naskah Monolog Kunci Kontak
Anda jangan dulu menuduh bahwa Umi itu perempuan hitam, manusia negative. Dia menjadi pelacur selain karena kesulitan biaya campur hobi, tapi dia juga menolong para wanita dari ketakutan akan pemer**sa. Kalau pelacur tidak ada, para lelaki tak beristri atau bosan menyantap suguhan istrinya, mereka tak punya pelampiasan nafsu selain onani.  Maka dari itu frekwensi pemerkosaan akan kian bertambah. Seseorang mengatakan bahwa pelacuran itu ibarat selokan yang menyalurkan air yang busuk dari kota demi menjaga kesehatan warga kotanya. (BEAT) Bagi sebagian penduduk kota, dunia kepelacuran itu adalah sebuah momok atau virus ganas yang harus segera dibasmi. Malah disuatu kota dibuat PERDA tentang Undang-Undang anti pelacur. Beberapa kali media massa memberitakan tentang sejumlah perempuan yang ditangkap polisi karena diduga sebagai pelacur dengan ancaman sanksi yang telah diatur dalam Perda. Hukuman kurungan paling lama tiga bulan atau denda setingi-tingginya lima belas juta rupaih (BEAT). Gerah aku di dalam kardus terus. Aku ingin minum.

DIA KELUAR DARI KARDUS MENCARI DANAU

Aku teringat dia. “Di taman hatiku, sayap-sayap kerinduan menyambut bayanganmu. Lalu kita melangkah bersama menyusuri kebun kita sambil tak henti meluruskan titian-titian jalan yang bengkok.”

DARI ATAS LANGIT TURUNLAH SEPASANG BAJU PENGANTIN YANG LANTAS BERGELANTUNGAN DI DEPAN KARUNG-KARUNG YANG SUDAH BERGELANTUNGAN LEBIH DULU. MUSIK MELANTUNKAN GENDING.  TERDENGAR SUASANA PESTA.

Aku teringat hari perkawinanku. Lima tahun yang lalu. Kebahagian hanya berlangsung satu tahun. Tepat di hari ulang tahun perkawinan yang pertama, Mas Ganu suamiku tewas dibunuh oleh temannya yang sedang mabuk, hanya karena Mas Ganu sering menagih hutang padanya, Jurman si pemabuk itu menebas leher Mas Ganu dengan sebilah samurai. (BEAT) Waktu mendengar berita itu aku kaget dan kalap sehingga bayi yang masih berusia dua bulan itu jatuh dari pangkuanku, Mastia bayi itu meninggal hari itu juga. Aku menjerit sambil memeluk Nastia lalu aku tak sadarkan diri.

Download Naskah Monolog Kunci Kontak : Disini

Kamis, 16 Juni 2011

Naskah Drama Demang Lehman Karya Adjim Arijadi

Cuplikan Dialog Naskah Drama Demang Lehman
WANITA DUA
Uuui. Siapa yang akan digantung ? Uuui ……..

WANITA TIGA MUNCUL DENGAN BURU-BURU

WANITA DUA
Hei, mau kemana buru-buru?

WANITA TIGA
Maaf. Mau cepat. Nanti keburu senja.

WANITA DUA
Sebentar. Kau mendengar pengumuman kemarin sore

WANITA TIGA
Justeru itu, Saya harus berangkat secepatnya.

WANITA DUA
Nanti dulu. Siapa yang akan digantung?

WANITA TIGA
Bubuhan kita di banua.

WANITA DUA
Siapa?

WANITA TIGA
Itu, Demang Lehman.

WANITA DUA
Demang Lehman?

WANITA TIGA
Sudahlah. Tidak perlu tahu.

WANITA DUA
Apakah dia keluargamu?

WANITA TIGA
Bukan.

WANITA DUA
Lantas kamu akan melihatnya.

WANITA TIGA
Semua kita harus melihatnya.

File Naskah Drama Demang Lehman :
 - File Tipe : Ms. Word

Semoga Naskah Drama Demang Lehman Karya Adjim Arijadi ini bisa membantu anda dalam menyelesaikan tugas atau garapan dan kami ucapkan selamat berproses semoga dalam Proses kretif tidak ada kendala apapun dan jangan lupa Baca juga Naskah Drama yang lainnya.

Rabu, 15 Juni 2011

Naskah Drama Makam Dipertuan Karya Wisran Hadi

Para Pemain Naskah Drama Makam Dipertuan
1. Seorang laki-laki, MALIN berpakaian penganten pria
2. Seorang laki-laki, USTAD berpakaian penghulu
3. Seorang laki-laki, KATIK  berpakaian Melayu
4. Seorang laki-laki, PAKIH  berpakaian Raja
5. Seorang perempuan, GADIH berpakaian tradisi
6. Seorang perempuan, SITI berpakaian penganten tradisi
7. Seorang perempuan, PUTI panggilannya. Berpakaian tradisi
Cuplikan Dialog Naskah Drama Makam Dipertuan
PUTI
Mmhh… dunia. Dunia!

USTAD
Bagaimana dunia? Ada perobahan?

PUTI
Dunia lain selalu maju dan berkembang. Hanya di dunia kita ini, kita beringsut ke belakang.

USTAD
Kita juga mengalami kemajuan, Puti.

PUTI
Kemajuan, kata Ustad? Lihat kertas ini. Kita selalu ditinggal dengan ini? Apa ini? Piagam? Sijil? Penghargaan dan sedikit uang. Kita bangga, tapi kita tak tahu mengapa mereka datang ke sini.

USTAD
Mereka berkunjung ke sini melihat kita karena kita bertahan hidup dalam adat dan budaya nenek moyang. Lihat, sehari-hari, semua orang di Koto Tingga ini selalu berpakaian adat. Mengolah sawah dan ladang masih memakai cangkul dan bajak. Menumbuk padi bersama-sama di lesung batu. Gadis-gadis berdendang pulang mandi dari tepian. Laki-laki di warung minum kopi dengan gelas tempurung, merokok daun enau. Semuanya asli budaya nenek moyang! Hanya mereka yang iri hati tidak mau menghargai!

PUTI
Setiap ada kunjungan kita melaksanakan upacara adat. Menari mengeliling kuburan.

USTAD
Semua wajar-wajar saja, bukan?

PUTI
Kita lakukan upacara itu dengan khusyuk, tapi kita yakin pula kuburan ini bukanlah kuburan.

USTAD
Ini hanya sebuah persembahan, sebuah tontonan, untuk menghibur pengunjung.

PUTI
Ya. sebuah tontonan. Tapi bukan upacara adat, bukan?

USTAD
Dalam keadaan sulit seperti sekarang, apapun boleh kita pertontonkan, asalkan dapat uang. Uang. Untuk meringankan beban hidup.

PUTI
Jadi, kita bukan sedang melestarikan kebudayaan?

USTAD
Ingat Puti. Semua orang sudah merasa aman dan kehidupan sehari-hari mulai membaik. Semua itu karena kita selalu mempertontonkan budaya kita.

PUTI
Dan kita dibayar murah sekali.

File Naskah Drama Makam Dipertuan :
 - File Tipe : Ms. Word

Semoga Naskah Drama Makam Dipertuan Karya Wisran Hadi ini bisa membantu anda dalam menyelesaikan tugas atau garapan dan kami ucapkan selamat berproses semoga dalam Proses kretif tidak ada kendala apapun dan jangan lupa Baca juga Naskah Drama yang lainnya.

Selasa, 14 Juni 2011

Cerpen Buya Karya Damhuri Muhammad

Buya Cerpen Damhuri Muhammad
 
Setitik cahaya menyembul dari balik semak-semak di kaki bukit. Mungkin suluh orang yang mencari belut sawah atau menjaring ikan di sungai Batang Mungo sepanjang lereng bukit itu. Tapi, makin mendekat, makin jelas terlihat. Makin terang terasa. Lalu, cahaya itu menggulung seperti dihempas angin limbubu. Menggumpal, membulat, membesar seperti bola api. Melayang dan melaju kencang ke arah Surau Tuo. Lama sekali bola api itu berputar-putar di atas permukaan tanah kosong, tepat di sisi kanan mihrab Surau Tuo, hingga sekeliling surau itu terang benderang seperti tersiram sinar bulan purnama keempat belas. Padahal, malam itu bukan malam terang bulan.

’’Pertanda apa ini, Bilal?’’ tanya Katik, gemetar dan tergagap-gagap.
’’Ini petunjuk yang kita tunggu-tunggu selama ini.’’
’’Petunjuk?’’ tanya Katik lagi, ’’Maksudnya apa?’’
’’Kita sudah beroleh jawaban tentang raibnya jasad buya,’’ jawab Bilal, sambil tersenyum lega.
’’Jadi….jadi….Ini petunjuk tentang buya Ibrahim Mufti yang menghilang beberapa tahun lalu?’’

Hanya dalam hitungan hari sejak Katik, Bilal, segenap ninik mamak, alim ulama bermufakat dan memutuskan bahwa peristiwa munculnya cahaya pada malam gelap bulan itu benar-benar pertanda yang tak diragukan kebenarannya, masyarakat Taram dari enam jorong: Tanjung Ateh, Tanjung Kubang, Tanjung Balai Cubadak, Parak Baru, Sipatai, dan Subarang, berbondong-bondong ke Surau Tuo. Saling bahu-membahu, menggali tanah pekuburan, mendirikan makam bagi almarhum buya Ibrahim Mufti. Hari itu, kali pertama mereka menggali kubur, tapi tak ada mayat yang bakal ditimbun di liang lahat. Keempat sisinya ditembok semen setinggi dua meter, sementara bagian atasnya diatap seng. Seperti makam para wali, kuburan orang-orang keramat.

Dulu, negeri Taram tanahnya gersang. Musim kering berkepanjangan. Tak ada sumber air untuk mengairi sawah. Kalaupun ada sawah yang ditanami, itu hanya mengharapkan curah hujan. Sementara, musim panas lebih lama ketimbang musim hujan. Gabah dari sawah tadah hujan hanya cukup untuk menghadang ancaman kelaparan. Sekadar bertahan hidup. Tak bersisa untuk ditabung dalam lumbung. Tapi, sejak kedatangan buya Ibrahim Mufti, perlahan-lahan alam mulai bersahabat. Keadaan berubah menjadi lebih baik.

Waktu itu, buya menancapkan ujung tongkatnya ke dalam tanah, lalu dihelanya tongkat itu sambil berjalan ke arah timur. Tanah kering yang tergerus tongkat buya seketika lembab, basah dan dialiri air yang datang entah dari mana. Sesampai di ujung paling timur, buya berhenti. Dibiarkannya tongkat itu tertancap. Lebih dalam dari tancapan yang pertama. Kelak, titik tempat beliau berhenti dinamai: Kepala Bandar. Itulah mata air pertama di Taram. Airnya mengalir deras ke bandar yang semula hanya parit kecil akibat tergerus tongkat buya. Tak lama berselang, bandar pun melebar, membesar dan akhirnya berubah menjadi Sungai Batang Mungo yang menyimpan persediaan air berlimpah. Sejak itu, orang-orang Taram tak lagi tergantung pada sawah tadah hujan. Mereka telah beroleh sumber air. Sawah-sawah pun membuahkan hasil berlebih-lebih. Lumbung-lumbung padi penuh terisi.

Di tengah perkampungan, (dengan bantuan warga) buya membangun sebuah surau. Di sanalah buya tinggal, di sebuah bilik kecil di samping surau. Anak-anak berhamburan datang hendak belajar mengaji. Begitu pun orang dewasa dan orang tua-tua berduyun-duyun untuk salat berjamaah, mendengarkan wirid dan pengajian. Buya memberi nama surau itu: Surau Tuo. Surau pertama yang pernah ada di sana. Surau tertua.

Selain sebagai guru mengaji, guru wirid dan guru tasawuf, buya dikenal memilki banyak keistimewaan. Di bulan Ramadan, setiap keluarga di Taram menggelar acara buka bersama, dan mengundang buya untuk mendoakan keberkahan bagi tuan rumah. Suatu kali, keluarga Nuraya, keluarga Syamsida, dan keluarga Wastiah menyelenggarakan buka bersama di hari yang sama. Secara bersamaan pula mengundang buya. Mereka bersitegang urat leher mempertahankan kesaksian masing-masing. Nuraya tidak percaya, kalau buya datang memenuhi undangan ke rumah Syamsida dan Wastiah. Sebab, hari itu buya ada di rumahnya. Begitu pun Syamsida dan Wastiah, keduanya berani bersumpah bahwa buya juga hadir di rumah mereka masing-masing. Mereka tidak salah. Buya benar-benar memenuhi undangan ketiga keluarga itu. Meski ada yang bersaksi, hari itu buya tidak ke mana-mana. Beliau berzikir dan i’tikaf di Surau Tuo, berbuka bersama dengan jamaah Maghrib. Di manakah jasad asli buya saat itu? Berapa banyakkah bayang-bayang buya? Ada yang menyebut, buya punya ilmu ’’bayang-bayang tujuh’’. Jangankan undangan dari tiga keluarga, dari tujuh keluarga pun buya akan menyanggupinya. Itu belum seberapa, ada yang pernah melihat buya berjalan di atas air saat menyelamatkan orang hanyut di Sungai Batang Mungo. Karena itu, beliau sering disebut: buya keramat.

Hari itu, Jumat 12 Sya’ban. Wan Tobat bergegas datang ke Surau Tuo. Memenuhi janjinya, mencukur rambut buya. Kecuali jenggot, buya tidak suka pada bulu. Begitu rambut penuh uban itu mulai tumbuh, beliau akan memanggil Wan Tobat. Meminta tukang cukur itu menggundulinya, hingga culun, licin, dan mengkilat.
’’Tolong agak cepat! Gunakan pisau cukur paling tajam! Sebentar lagi waktu Jumat akan masuk,’’ suruh buya pada Wan Tobat.

Baru separuh rambut buya tergunduli, Wan Tobat tersentak kaget. Karena tiba-tiba buya bangkit, berdiri dari duduknya. Seolah ada yang mengejutkan beliau. Tampak ganjil bentuk kepala buya. Culun sebelah. Sebelah kiri gundul, sebelah kanan masih ada rambut.

’’Wah, saya harus buru-buru pergi.’’
’’Tapi, rambut buya belum selesai dicukur bukan?’’
’’Ndak apa-apa. Saya tidak bisa menunggu lagi.’’
’’Ada apa buya?’’

’’Ka’bah kebakaran. Saya harus segera memadamkannya.’’
Buya berkepala culun itu tergesa-gesa lari ke biliknya, berkemas dan memakai sorban. Masih tampak aneh, meski kepalanya sudah terlilit sorban. Sejenak beliau duduk bersila, menunduk berzikir di depan mihrab Surau Tuo, setelah itu Wan Tobat tak melihat apa-apa lagi. Seketika saja, jasad buya menghilang. Seperti menguap dan raib entah ke mana.

Wan Tobat, satu-satunya orang yang melepas kepergian buya. Tukang pangkas itu sudah berkali-kali meyakinkan orang-orang bahwa buya Ibrahim Mufti pergi berjihad, memadamkan api yang hendak meluluhlantakkan Baitullah di Mekah. Tapi, mereka masih sukar mempercayai kebenaran cerita Wan Tobat, antara percaya dan tidak. Malah ada yang menganggap kesaksian itu mengada-ada, tak masuk akal, omong kosong yang dibuat-buat.

’’Buya itu wali. Dalam sekali kerdipan mata, beliau bisa tiba di Mekah.’’
’’Andai bumi yang bulat ini ada tangkainya serupa buah Manggis, buya akan menjinjingnya ke mana-mana.’’
’’Apa lagi yang kalian sangsikan?’’

Berbulan-bulan, peristiwa menghilangnya buya masih menjadi duri dalam daging bagi orang-orang Taram. Mereka sulit menerima kenyataan. Apa mau dikata, Buya sungguh-sungguh telah tiada. Kesangsian mereka pada keterangan Wan Tobat terjawab setelah mendengar cerita dari Wan Tongkin. Warga kampung sebelah, yang pulang setelah berpuluh tahun hidup dan tinggal di tanah suci. Semula Wan Tongkin mendalami ilmu-ilmu agama di Mekah. Setelah pendidikannya tamat, ia tidak kembali pulang ke kampung. Tapi memilih menjadi pedagang lukisan kaligrafi dan kopiah haji di wilayah sekitar Masjid al-Haram. Meluap-meluap lelaki ringkih itu berkisah tentang peristiwa kebakaran Ka’bah, beberapa hari sebelum kepulangannya.

’’Baitullah nyaris hangus jadi abu.’’
’’Siapa yang memadamkan api itu?’’ tanya orang-orang.
’’Untunglah ada seorang lelaki tua. Secepat kilat, ia meloncat ke puncak Ka’bah. Dari ujung tongkatnya mengucur air. Deras, seperti air yang muncrat dari selang pemadam kebakaran. Sekejap, api yang menjalar-jalar itu padam.’’
’’Masih ingat ciri-ciri orang itu?’’
’’Agak ganjil. Kepalanya culun sebelah. Sebelah kiri gundul, sebelah kanan masih ada rambut.’’

Sepeninggal buya, pengajian tasawuf dilanjutkan oleh tiga orang murid kesayangan buya Ibrahim Mufti. Haji Malih, Haji Amak dan Haji Djamil. Mereka juga memiliki banyak keistimewaan seperti buya. Dari Haji Djamil, orang-orang Taram menjawab wasiat tentang buya. Ia pernah bermimpi bertemu arwah buya. Ternyata, tak lama setelah peristiwa kebakaran Ka’bah, buya meninggal. Dalam mimpi itu, Haji Djamil bermohon agar buya memberitahukan di mana beliau dikuburkan. Agar kelak orang-orang Taram dapat berziarah ke makam beliau.

’’Bila muncul cahaya di malam bukan terang bulan, di sanalah saya.’’
’’Bagaimana cara kami mengenali cahaya itu?’’
’’Menggumpal, membulat, dan membesar seperti bola api. Melayang-layang dan berputar seperti gasing. Galilah kuburan persis di setentang cahaya itu! Di sanalah makam saya.’’

Bilal dan Katik sudah tiada. Begitu pun orang-orang yang dulu setia menjaga Surau Tuo dan makam buya. Satu per satu meninggal, hingga tak ada lagi yang tahu sejarah surau dan makam keramat itu. Surau lengang. Tak ada hiruk suara anak-anak mengeja alif-ba-ta. Tak ada salat berjamaah, pengajian, apalagi wirid. Surau kotor, kumuh dan berdebu. Sama seperti makam buya yang tak terawat, penuh rumput dan berlumut.

Tapi, Kepala Bandar makin ramai. Mungkin karena suasananya tenang dan sejuk. Airnya jernih, ikannya jinak. Setiap hari berpuluh-puluh pasang muda-mudi (laki-laki dan perempuan) berboncengan sepeda motor beriring-iringan menuju lokasi mata air tertua itu. Di balik semak-semak sepanjang pinggir sungai, tersedia pondok-pondok bambu yang disewakan bagi setiap pasangan. Mereka leluasa berbuat apa saja. Tanpa ada yang mengusik dan menganggu. Tak ada yang tahu, Kepala Bandar yang sudah mesum dan penuh maksiat itu, dulu tempat suci yang dihormati. Konon, buya Ibrahim Mufti pernah menancapkan tongkat keramatnya untuk memperoleh mata air. Di sana pula buya kerap berdoa, memohon keberkahan dan kelimpahan rezeki bagi orang-orang Taram.
 
Kelapa Dua, 2005

Naskah Drama Komedi Jeng Menul Karya Puthut Buchori

Cuplikan Dialog Naskah Komedi Jeng Menul
CEMPLUK
Kang kamu jangan ikut-ikutan mbubur di tempat si menul lho?

DAL GAPLEK
Memang kenapa ?

CEMPLUK
Pokoknya jangan.

DAL GAPLEK
kamu nglarang-nglarang begini pluk, yang malah bikin aku penasaran. Sebenarnya ada apa sih dengan Menul, kok buburnya laris banget, kok yang antri sampai berjubel, uyuk-uyukan, umpuk-umpukan. Aku bukannya pingin buburnya, hanya pingin lihat unteg-unteganya itu lho.

CEMPLUK
Sama saja !

DUL GEPLAK
Sudah, sudah.

NINI SUNYI
Ho oh, mbok sudah.

DUL GEPLAK
sekarang lebih baik, kita semua saja bareng- bareng menginjen di warung buburnya menul.

CEMPLUK
Lho kok malah begitu kang geplak ?

DUL GEPLAK
Lha ya begitu saja, yang aman, dari pada gaplek penasaran tapi kamu larang, atau dari pada saya berangkat juga menginjen, tapi istri saya nini sunyi ini curiga? Lebih baik kita bersama-sama saja. Supaya tidak ada syak wasangka.

NINI SUNYI
Ayo siapa takut.

File Naskah Drama Komedi Jeng Menul :
 - File Tipe : Ms. Word

Semoga Naskah Drama Komedi Jeng Menul Karya Puthut Buchori ini bisa membantu anda dalam menyelesaikan tugas atau garapan dan kami ucapkan selamat berproses semoga dalam Proses kretif tidak ada kendala apapun.