Tampilkan postingan dengan label Cerpen Horor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Horor. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 September 2012

Kontrakanku, Ihhhhh - Cerpen Horor


KONTRAKANKU, IHHHHHHH
Karya Indha

Secara tiba tiba dinding di ruang tengah bertingkat dua inii bergeter sehingga semua yang ada di dalamnya ikut merasakannya, dan  secara tiba-tiba pula bau kemenyan dan bunga kamboja kini mulai tersa menyengat membuat bulu kuduk kami pun merinding.

Memang jika dilihat dari luar, rumah yng memiliki 2 lantai ini dengan pekarangan yang luas, taman yang tertata rapi,dilengkapi pula dengan fasilitas kolam renang yang terletak di samping rumah ini, sehingga tampak begitu megah dan merupakan sebuah rumah idaman bagi siapapun yang melihatnya.


Namun dibalik kemegahan itu tersimpan misteri, rumah ini memang indah dan keindahan itupun menutupi kekurangan rumah ini. Begitupula dengan kami berlima, Dijaman serba susah begini apalagi di Jakarta sebuah kota metropolitan yang semuanya serba mahal dan tiba-tiba ditawari sebuah kontrakan yang mewah tapi murah membuat kami tanpa bepikir panjang lagi langsung setuju untuk menandatangani kontrak dengan pemilik rumah.apalagi kami hanya mahasiswa yang berasal dari daerah yang masih bergantung paa orang tua, otomatis kami mencari sesuatu yang murah namun layak. Untuk mundurpun dari semuanya ini rasanya itupun tak mungkin, karna uang kontrakan itu rasanya sayag untuk disia-siakan.

Awalnya, aku tidak setuju atas usulan Mirna untuk memanggil dukun kerumah ini, namun teman teman yang lain menyetujuinya tanpa menyadari akan akibat dari perbuatan mereka, jadi apa boleh buat akupun menyetujuinya.

Embah dukun itu duduk bersilah menghadap ke salah satu sudut ruangan, sekali-kali terdengar semburan dari mulutnya menyemprotkan air ke sudut ruangan itu. Keempat temanku tampak begitu serius mengikuti perintah dukun tersebut terlihat dari raut wajah mereka kelihatan begitu tegang. Mbah dukun itupun tiada henti-hentinya membaca mantra, entah apa yang di bacanya akupun tidak tahu karna memang aku tidak berniat untuk mendekat padanya. Aku hanya melihatnya dari jauh, di tangga menuju lantai dua sebab aku tidak tahan dengan bau kemenyan itu, rasa-rasanya aku ingin muntah.
Namun tidak berapa lama ritual itupun selesai, mbah dukun itu pulang dengan peluh yang bercucuran di wajahnya dan keempat temanku pun tersenyum puas.
 “kita akan hidup dengan tenang tanpa gangguan itu lagi” kata Lia.

Akupun hanya bisa tersenyum pasrah mendengarnya sambil berlalu ke dapur untuk mengambil makanan karna dari tadi sebenarnya aku lapar namun mbah dukun itu melarangku jauh-jauh dari tempat itu, takut kalau-kalau terjadi apa-apa padaku, katanya.
kini kami semua duduk di meja makan siap untuk makan setelah beberapa menit selesai shalat magrib. Sementara jam masih menunjukkan pukul 19:15, tapi entah dari mana datangnya tiba tiba terdengar  lolongan anjing , kami merasakan kembali kecaman itu dan semuanya terdiam membisu. Tiba-tiba adzan terdengar tandanya shalat isya pun akan segera dilaksanakan, dan secara tiba-tiba pula lolongan anjing itupun menghilang, membuat kami merasa lega. Malam ini tidak terjadi apa apa dan itu membuat temanku  berfikir  bahwa dukun itu telah berhasil mengusir para penghuni rumah ini. Namun, malam berikutnya mereka kembali membuat kami semua ketakutan dan parahnya lagi mereka kini memampakkan wujud mereka padahal selama ini mereka hanya mengganggu kami tanpa wujud. Dan malam itu adalah puncaknya.

Malam itu seperti biasa, kami pun tidur di kamar masing masing. Ekitar pukul 12:00 malam tiba tiba terdengar suara jeritan seorang wanita di lantai bawah tepatnya di kamar mandi. Aku fikir itu salah satu dari keempat temanku, maka akupun langsung keluar dari kamar dan berlari ke bawah, dan keempat temanku sudah berkumpul di dekat tangga, dan suara itu masih saja terus menjerit lalu kami pun saling pandang. Aku berfikir, kalau bukan diantara keempat temanku lalu itu suara siapa?. Dengan hati hati pun kami berjalan menuju kamar mandi, tapi tak seorang pun dari kami yang membuka pintu kamar mandi tersebut sampai akhirnya pintu itu terbuka dengan sendirinya.. Dan di dalam kamar mandi, seorang wanita berambut pirang tanpa busana bersandar pada tembok dengan pisau tertancap di dadanya dan tembus ke jantung dengan mata melotot, sementara dari hidung dan matanya mengalir darah segar, sambil tersenyum menyeringai kepada kami berlima. Tanpa fikir panjang lagi, kami semua menjerit. Bahkan Anis sampai pingsan, dan kami membawanya agak menjauh dari tempat itu. Tapi saat kami melihat kearah kamar mandi, tidak terjadi apa apa di sana. Air yang semula merah darah kini menjadi bening kembali.

Dan, entah kenapa tiba tiba lampu di rumah itu mati membuat kami semua ketakutan. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba bermunculan kepala kepala yang begitu banyak menyerang kami, semuanya memperlihatkan taring  tiba tiba mereka se akan akan kami adalah makanan lezat. Tiba tiba Mirna dan Susi ikut pingsan, aku dan Lia berusaha keluar dari kepala kepala tersebut. Saat mereka akan menyerang kami, kepela kepala tersebut berbalik arah menyerang Anis, Mirna dan Susi yang pingsan. Di depan mata ketiga teman kami dibunuh, tanpa kami bisa berbuat apa-apa.

Tanpa menunggu lagi aku dan Lia berlari meninggalkan tempat itu, namun kami dicegat oleh mahklukh yang sangat menyeramkan , tingginya melebihi tinggi manusia pada umumnyadan di sudut bibirnya tersembul sebuah taring yang runcing. Aku masih berusaha lari saat mahklukh tersebut menangkap Lia, namun langkahku terasa berat sekali sehingga mahlukh tersebut berhasi menangkapku setelah Lia ia bunuh. Aku sudah tak tahu apa yang terjadi saat mahlukh tersebut menancapkan taringnya ke leherku. Saat itupun aku tidak merasakan apa apa lagi. Tiba-tiba aku terbangun….

Ternyata aku hanya mimpi.
Kulihat di sekelilingku semuanya tampak serba putih dan di sampingku kulihat mama tidur disisi ranjang, mungkin karna ia kelelahan menjagaku.merasakan aku bergerak mamapun terbangun.
“Syukurlah, kamu udah sadar saying”! Tanya mama.
“Apa yang terjadi ma, kenapa aku ada di rumah sakit”? tanyaku pada mama.
“Entahlah, mama sendiri tidak tahu saying, tapi Lia menelfon mama dari Bandung dan bilang kalau mereka kamu temukan pingsan di dapur saat kalian melihat-lihat tempat kontrakan” jawab mama.
“Tempat kontrakan……..!” aku berfikir.
“Oh ya ma, sudah berapa lama aku pingsan”! Tanyaku.
“2 hari, emangnya kenapa sayang” jawab mama.
“Trus dimana Lia dan yang lainnya sekarang, dan apakah perjanjian kontrak tersebut sudah ditandatangani” Tanyaku tanpa menjawab pertanyaan mama.
“Ya, perjanjiannya udah ditandatangani dan mereka sudah menempati rumah kontrakan kalian sejak kemarin, besok kamu juga akan mulai tinggal di sana jika dokter sudah mengijinkan kamu pulang” kata mama.
Tiba tiba aku merasakan sakit pada leherku dan saat kuraba ada dua lubang di sana seperti bekas gigitan!.........

PROFIL PENULIS
Nama : Indha
Facebook : Indhanya ady
Twitter : indha_an
Alamat : Pinrang, Sulawesi Selatan

Baca juga Cerpen Horor yang lainnya.

Senin, 03 September 2012

Cerpen Horor - Kos Berhantu

KOS BERHANTU
Karya Karina Puspa Sari

Aku menempati kamar kosku yang baru di kawasan sekitar kota dekat kampusku. Biaya perbulanya agak sedikit mahal ya tentu saja karena dekat dengan Kampus. Ruangannya nyaman untuk di tempati untuk mahasiswa sepertiku. Ruangan itu di cat hijau lembut. Kamar itu berukuran 3x3 meter persegi. Ada satu tempat tidur beserta bantal dan gulingnya, satu lemari plastik, satu set meja belajar, dan juga tentu saja ada kamar mandi.

Aku segera menata baju-bajuku, perlengkapanku, memasang seprai untuk tempat tidur, meletakan buku-bukuku di rak meja belajar. Setelah selesai aku istirahat sebentar sambil membuka laptopku dan menyalakan musik kesukaanku. Tidak lama kemudian aku tertidur. Sesaat setelah aku tertidur aku melihat ada orang yang berjalan masuk ke kamarku menuju kamar mandi. Aku tidak melihat wajahnya. Dia memakai baju berwarna serba merah. Kulitnya putih sekali. Saat aku terjaga kemudian aku bangun, aku kemudian menuju kamar mandi untuk melihat orang tadi.
“Hei siapa yang di dalam?” Kataku sedikit berteriak
Tidak ada jawaban.
“Heii!! Siapa yang di dalam?” kataku agak sedikit marah karena ada orang yang tanpa ijin memasuki kamarku.
Tidak ada jawaban lagi. Kali ini terdengar suara keran menyala
“Aku akan mendobrak pintu ini! Jika kau tidak menjawab” kataku sambil berusaha membuka pintu yang terkunci itu
Kali ini aku benar-benar akan mendobrak pintu ini. Entah yang di dalam laki-laki atau perempuan aku tak peduli. Urusan nanti dimarahi ibu kos karena merusak pintu kamar mandi itu masa bodoh. Aku sudah merasa jengkel sekarang. Dan, BRAAKKK! Pintu kamar mandi berhasil aku buka. Tapi aneh, tidak ada siapa-siapa di dalam. Kemana orang tadi pergi? Di sini tidak ada jalan keluar selain pintu ini. Apa aku yang salah terhadap pandanganku tadi? Ah ngga salah kok. Keran juga menyala seperti habis di pakai oleh seseorang. Lalu siapa orang tadi? Kemana orang itu pergi? Sesaat angin berhembus pelan menyapu bulu kudukku hingga berdiri. Aku merasa takut. Apa yang terjadi di sini?
***

“Eh mbak lihat orang masuk ke sini ga? Pake barju serba merah. Kulitnya putih banget” Tanyaku pada penghuni kamar kos yang lain
“Engga kok. Semuanya tadi pada tidur siang. Ga ada yang keluar kamar atau berjalan di sekitar sini apalagi masuk kamarmu”
“Haah? Beneran mbak?” rasa takut mulai menyelimutiku
“Iya beneran lah. Tadi yang di luar Cuma kita bertiga. Kita ga lagi bengong. Ada apa sih?”
“Ngga apa-apa kok mbak” kataku sekarang benar-benar takut
***

Aku menyeruput kopi panasku, sambil berusaha melupakan kejadian tadi. Kuputuskan Ruri, sahabatku untuk datang menemaniku sekarang.
“Dit, lo kenapa sih kok murung gitu?” Tanya Ruri
“Gue mau cerita sesuatu ma lo” kataku sambil duduk di tempat tidur
“Lo mau cerita apa?” jawab Ruri

Kemudian aku menceritakan semua kejadian tadi. Setelah selesai. Wajah Ruri tampak seperti sedang memikirkan sesuatu. Kemudian dia tertawa ringan dan mencubit pipiku.
“Haha. Dita, dita! Lo tu ada-ada aja. Mungkin lo lagi kecapekan kali makanya jadi kaya gini” kata ruri
“ah, tapi keranya beneran nyala kok, kayak habis di pakai” Jawabku yang tidak setuju dengan pendapat Ruri
“Udah lah dit. Lo tenang aja. Masa ada setan di siang bolong”
Aku tersenyum kecut. Perkataan Ruri memang ada benarnya. Aku merasa sedikit lebih tenang dan lega. Setelah itu aku dan Ruri memutuskan untuk berjalan-jalan di pusat kota. Benar-benar membuatku melupakan kejadian di kos itu.
Malam harinya, badanku terasa capek sekali. Aku kemudian mandi untuk menyegarkan badanku. Kemudian aku menyalakan laptopku sebentar dan mengirimkan e-mail kepada saudaraku. Menanyakan kabarnya di sana. Karena lelah, aku putuskan untuk tidur. Aku mengunci pintu kamarku supaya tidak ada orang yang masuk. Jendela di kamarku kubiarkan terbuka, Karena udara malam itu sedikit panas.
Malam itu kejadian tadi terulang. Antara masih bermimpi atau sudah terbangun aku kembali melihat orang yang berpakaian serba merah memasuki kamar mandiku. Dan bedanya sekarang orang itu berlumuran darah. Aku takut sangat takut. Aku tidak berani membuka mata. Aku putuskan tetap terpejam sambil berdoa.
***

Pagi harinya aku berniat akan menanyakan hal ini kepada ibu kos. Aku sudah tidak tahan terhadap semua ini. Ketakutanku tidak dapat di sembunyikan. Atau jika perlu aku akan pindah kos yang lebih baik. Jauh dari kesan menyeramkan.
Aku juga bertanya-tanya dari mana orang yang berpakaian serba merah kemarin masuk. Pintu kan sudah aku kunci? Masa lewat jendela? jelas tidak mungkin, karena tidak akan cukup jika di lewati orang. Atau jangan-jangan dia bukan orang melainkan..? ketakutanku makin bertambah
Aku bergegas menuju tempat ibu kos berada. Sesampai disana aku di sambut ramah oleh ibu kos.
“Ada apa dit, kamu mau bayar kos?” kata ibu Kos sedikit bercanda
“Bu, saya mau menceritakan sesuatu” kataku serius
“Cerita apa? Jika tentang hal-hal bodoh ibu tidak ada waktu. Kau lihat kan ibu lagi sibuk?”
“Tapi aku minta waktu sebentar bu. Ini akan sangat membantuku”
“Baiklah apa yang ingin kau ceritakan?”
Aku kemudian menceritakan semua kejadian menyeramkan yang aku alami kemarin. Setelah selesai. Raut wajah ibu kos berubah. Rautnya menunjukan keseriusan. Tidak seperti dugaanku dia akan tertawa.

“Mungkin yang kamu lihat adalah Alessana” ujar Ibu kos
“Siapa itu Alessana ?”
Ibu kos menghembuskan nafas panjang.
“8 tahun yang lalu alessana mati di kos-kosan ini diduga dia bunuh diri karena depresi karena ditinggal kekasihnya yang telah meninggal. Dia anak yang cantik. Dia melukai dirinya dengan pisau. Dia mengalami pendarahan hebat. Hingga dia kemudian di temukan mati menggenaskan di kamar mandi. Hingga sampai sekarang orang yang menempati kamar itu selalu diperlihatkan sosok alessana sedang berjalan di kamar mandi. Hingga belum 2 hari menempati kamar itu orang yang menempati sudah angkat kaki dari kamar itu. Tidak tahan. Pernah juga ada orang yang di perlihatkan sosok Alessa yang berlumuran darah dan menyeramkan…”
Setelah ibu kos selesai bercerita aku benar-benar kaget sekaligus shock. Aku berjanji akan pindah kos-kosan besok paginya. Aku sudah tidak tahan.
***

Malam harinya aku masih tidur di kos itu. Rasanya tidak bisa memejamkan mata mengingat kejadian tadi. Jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Sepi sekali suasana di luar. Mungkin penghuni kos yang lainnya sudah tertidur. Hawa dingin tiba-tiba menyergapku. Hembusan angin dari jendela membuatku mengigil. Kututup jendela itu dan kutarik selimutku supaya membuatku hangat. Aku berusaha memejamkan mataku.
Tetapi, aneh. Kenapa suasana di sini menjadi berubah. Tiba-tiba desiran angin berhembus di belakang tengkakku. Membuatku jadi merinding. Tiba-tiba lampu mati. Suasana benar gelap dan aku sendirian. Aku menggenggam selimutku semakin kencang. Aku tidak berani bergerak.
“PYAARR!!” tiba-tiba ada sebuah benda terjatuh. Bunyinya mengagetkanku. Lalu terdengar bunyi derap kaki. “Tap..Tap..Tap” bunyi itu sepertinya makin mendekat ke arahku. Aku tidak bisa melihat siapa itu karena benar-benar gelap. Jantungku benar-benar berdegup kencang sekali. Keringatku mengalir deras di sekitar tubuhku. Aku mulai melafalkan doa-doa memungkinkan kejadian yang tidak enak yang akan terjadi nanti. Ada yang menaiki kakiku. Seperti sebuah beban berat. Aku tidak berani menggerakan kakikku sedikitpun. Kurasakan ada tangan yang mengelus kakikku. Permukaan kulitnya halus aku bisa merasakanya.
Tiba-tiba lampu menyala. Terlihat seorang wanita sedang menatap kosong ke arahku. Mulutnya berlumuran darah. Matanya terlihat seperti sedang menangis. Dan.. wanita itu berjalan semakin mendekati ke arahku. Badanku serasa beku. Aku ingin berteriak tapi tidak ada suara yang keluar.
“Jangan takuut….” Kata wanita itu lembut
“Aku tidak akan menyakitimu..”
“Aku Alessana, aku hanya ingin menyampaikan pesan buatmu. Tolong aku, aku terperangkap di sini. Bebaskan aku, agar nyawaku bisa tenang di sana. Bakar kalung yang ada didekat lemari. Kalung berliontin huruf ‘A’. tidak ada orang yang tau. Sepi,kotor. tolong akuu… aku mohon..” sosok itu tiba-tiba perlahan menghilang. Dan sekarang yang terlihat hanya gelap. Aku begitu shock.
***

Aku tidak sadar, dan tahu-tahu sudah berada di pagi hari. Rupanya aku pingsan tadi malam. Nyawaku rasanya belum terkumpul semuanya. Aku masih kebingungan. Badanku terasa capek sekali. Aku kemudian bangun melihat jam berapa sekarang. Jam sudah menunjukan pukul 10! Ya ampun.. kali ini aku benar-benar kesiangan. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Aku bertanya pada diriku sendiri. “Ya tuhan.. apa yang terjadi padaku? Mengapa semua ini terjadi?” aku menghembuskan nafas panjang.
Kemudian aku memikirkan kejadian tadi malam. Wanita yang aku lihat kemarin malam adalah Alessana. Wanita itu membicarakan tentang nyawanya. Nyawanya yang terperangkap di dunia nyata. Dia ingin aku membebaskanya. Dan dia juga membicarakan tentang kalung.. dia menyuruhku untuk mencari kalung dan kemudian membakarnya. Aku bertanya-tanya. Ada apa dengan kalung itu? Kenapa dia ingin aku membakarnya untuk membuat nyawanya bebas? Ahh, tapi aku tidak peduli. Yang terpenting sekarang adalah mencarinya supaya dia dan juga tenang hidupnya. Dia akan terbebas nyawanya menuju alam sana. Dan aku? Tentu saja supaya hidupku tidak diganggu lagi oleh mahluk halus itu.
***

Sudah berjam-jam aku mencari kalung yang di maksud Alessana. Lemari pakaian sudah aku geledah. isinya aku keluarkan semua. Aku cari-cari di sekitar lemari juga tidak ada. Aku bingung. Lemari mana yang di sebut Alessana? Susah sekali mencarinya. Aku memikirkan pesan Alessana lagi. “…Bakar kalung yang ada didekat lemari. Kalung berliontin huruf ‘A’. tidak ada orang yang tau. Sepi,kotor. tolong akuu… aku mohon..”. Kalung yang ada di dekat lemari. Berliontin huruf ‘A’. sepi dan kotor. Tiba-tiba sesuatu terlintas di pikiranku. Kurasa aku sudah menemukan jawabannya. Apa mungkin benar? Jantungku berdegup kencang.
***

Aku sudah sampai di gudang di kos itu. Semoga firasatku benar. Aku mencari barang yang di maksud Alessana. Aku mulai bekerja di sekitar gudang. Banyak debu dan sangat kotor. Aku mulai terbatuk-batuk. Saat aku sedang membuka beberapa bangku yang sudah usang ada tikus yang melewati kakiku. Aku menjerit. Betapa menjijikanya tempat ini. Apa tempat ini tidak pernah di sentuh oleh manusia? Benar-benar menjijikan. Sesaat setelah itu aku melihat lemari besar, cokelat dan tua. Kayu-kayunya sudah lapuk di makan rayap. Firasatku mengatakan agar mendekati lemari itu. Aku segera menggeledah isi lemari itu. Tapi aku tidak menemukan apa-apa. Hanya ada kertas Koran yang sudah lama. Tiba-tiba ada sebuah bola terjatuh dan menggelinding kearah bawah lemari itu. Aku membungkukkan badan untuk mengambilnya. Tapi ketika sampai di bawah, aku tidak lagi menghiraukan bola tadi. Perhatianku tertuju pada kotak cokelat yang terlihat bersih. Aku memungutnya. Perasaanku mengatakan inilah jawabanya. Hatiku berdegup kencang.
Kubuka perlahan kotak itu. Di dalamnya berisi surat. Aku membaca surat itu yang isinya adalah..
“Kepada : Alessana yang kusayangi
Dari : Kekasihmu

Alessana aku benar-benar merindukanmu. Di hari ulang tahunmu yang ke 17 ini maaf aku tidak bisa datang ke tempatmu. Aku hanya bisa memberikan kalung ini. Penyakit leukimiaku sudah mencapai tahap akut. Aku tidak mampu untuk berjalan lagi. Badanku sudah terasa tidak berdaya lagi. Maaf jika sudah mengecewakanmu. Kurasa ini yang terakhir dariku. Akuu….uu mencintttaiymuu..”

Pada akhir kata terlihat bahwa tulisanya berubah menjadi tidak karuan. Aku mendiskripsikan bahwa kekasih Alessana saat menulis kata terakhir itu penyakitnya kambuh. Sehingga kesusahan untuk menulis. Jadi begitu jawabanya. Alessana merasa tidak bebas karena surat dan kalung yang di beri kekasihnya ini. Di kotak itu terdapat kotak kecil lagi berwarna biru tua. Aku membukanya. Ada sebuah kalung berliontin huruf ‘A’ berwarna perak dan mengkilat. Benar-benar cantik.
Tapi aku harus segera membakarnya. Dengan cepat aku melumuri kalung itu dengan minyak tanah. Kemudian membakarnya.
***

Setelah 3 minggu kejadian itu, hidupku terasa tenang. Tidak ada gangguan dari mahluk halus lagi. Aku sudah melupakan kejadian itu. Mungkin Alessana sudah tenang. Tetapi suatu ketika pada malam hari saat aku sedang tertidur, Aku terjaga lagi. Aku melihat bayangan Alessana tersenyum ke arahku. Dia tampak seperti sedang mengatakan sesuatu padaku.
“Terima kasih..Sampai jumpa..” ucapnya
Alessana melambaikan tangan bersamaan dengan itu bayangan Alessana menghilang. Aku tahu Alessana benar-benar tenang sekarang

TAMAT

PROFIL PENULIS
Nama lengkap : Karina Puspa Sari
Facebook : Karina Puspa Sari
twitter : @Karina_puspaa

Baca juga Cerpen Horor yang lainnya.

Minggu, 15 Juli 2012

Cerpen Horor - Massal

THE SIGNS OF THE DREAMS #5 : MASSAL
Karya Avans Cross Lines

 Malam itu mayat-mayat bergelimpangan. Secara massal keluar dari dalam perut bumi. Apakah ini tanda hari kiamat? Bumi tak mau lagi menerima jasad mereka. Petinggi-petinggi negri, ilmuan-ilmuan pintar masa lalu dan tokoh-tokoh dunia yang telah mati, keluar dari bumi dalam keadaan utuh.

Berawal dari sebuah desa bernama Mekar Jaya. Malam itu aku dan saudaraku telah pulang dari Bandung. Membawa oleh-oleh sekantong kresek buah-buahan untuk keluarga kami. Mobil angkutan umum yang kami tumpangi malam itu mogok dan terpaksa kami harus jalan kaki di tengah malam yang mencekam.

Tanjakan Cidarangdan. Adalah jalan yang sangat menakutkan. Banyak rumor mengerikan dalam villa di samping tanjakan itu. Kami harus menyusurinya untuk mencapai rumah kami yang masih jauh dari sana.
“Man, tunggu! Aku mau kencing dulu!” kataku padanya.
“Cepatlah! Apa kau sadar kita berada dimana?” tanyanya dengan nada ketakutan.

Ada wc di sebuah kolam ikan di samping sebuah rumah gedong yang megah itu. Ketika aku sedang kencing tiba-tiba semuanya bergetar. Pelan, pelan dan kemudian tanah bergoncang hebat.
“Man! Man!” panggilku. Namun dia tidak ada disana. Dia berlari tunggang langgang meninggalkanku dengan meninggalkan kantung kreseknya.
“Man, tunggu aku!” sahutku berlari mengejarnya.

Gempa itu cukup dahsyat. Dalam sekejap ratusan rumah rusak berat. Namun ada sebuah rumah seorang nenek tua di Cidarangdan yang rumahnya tidak rusak terlalu parah. Tapi ada hal aneh yang terjadi di rumah itu. Lapisan tembok pasirnya berjatuhan beraturan dan membentuk sebuah sketsa-sketsa aneh di dinding rumahnya.
Gambar wajah alien, mayat, mata, dan gambar-gambar menakutkan lainnya. Aku dan saudaraku memperhatikan gambar-gambar itu. Apakah ini tanda-tanda? Hari kiamat? Ataukah hal yang sangat buruk akan terjadi di dunia ini?

Tanpa berlama-lama kami segera pergi dari sana. Menyusuri jalan raya untuk mencapai rumah kami yang masih jauh. Ada beberapa orang di hadapan kami yang mengerumuni sesuatu. Aku sangat terkejut ketika tahu apa yang dikerumuni mereka. Yaitu sepotong tubuh yang terbungkus kain kafan kumal yang tiba-tiba muncul dari dalam retakan jalan raya saat terjadi gempa tadi. Dan yang membuatku lebih terkejut lagi bahwa itu adalah jasad seorang tokoh negeri yang sangat terkenal belasan tahun lalu.
Aku tahu semasa hidupnya orang ini adalah koruptor. Tapi terakhir aku dengar sebelum dia meninggal dia sempat diberi penghargaan, karena usahanya, negeri ini semakin maju dan dia sempat dijuluki sebagai tokoh negeri antikorupsi nasional.

Beberapa lama kemudian kami tiba di rumah kami masing-masing. Dan kami heran karena rumah di daerah kami tidak hancur bahkan rusak ringanpun tidak. Gempa itu hanya terjadi di Cidarangdan.
Keesokan paginya aku melihat berita di televisi. Di Mesir, sebuah mumi tiba-tiba muncul dari dalam pasir. Mumi dengan panjang 10 meter itu diduga adalah manusia purbakala puluhan ribu tahun yang lalu. Di daratan Meksiko juga muncul ratusan peti mati berisikan jasad tokoh-tokoh penting negeri tersebut.
Sementara di dalam negeri mayat-mayat keluar dari dalam perut bumi namun bukan di tempat dimana mereka dimakamkan dulu. Tapi mereka semua keluar di tempat-tempat goncangan yang terjadi dititik-titik tertentu di negeri ini. Aku heran kenapa gempa itu seperti memperlihatkan sebuah jalur-Line. Seakan-akan memberikan pertanda-pertanda bagi umat manusia.

Aku dan saudaraku hendak pergi sekolah pagi itu. Saat kami melewati daerah Cidarangdan, hal yang mengerikan terjadi disana. Ada sebuah rumah yang berdiri di atas daratan yang lebih tinggi dari rumah-rumah di sekitarnya. Gempa kemarin malam membuat daratan itu retak dan akhirnya longsor tadi pagi. Mereka bergelimpangan dimana-mana. Mayat-mayat berbungkus kain kafan kumal itu bermunculan. Berguling-guling ke jalanan saat longsor terjadi. Jumlahnya puluhan dan aku tahu siapa mereka semua.
Polisi, hakim, jaksa, pengacara, menteri, anggota DPR, gubernur, kepala desa, ketua Rt Rw, itulah profesi mereka saat hidup. Benar-benar yang membuatku tercengang adalah bahwa mereka semua tidak bekerja di kota kami dan mereka telah meninggal beberapa tahun yang lalu.
Seantero tanah air membicarakan hal ini dan bertanya-tanya apakah benar hari kiamat hampir tiba? Tak akan ada orang yang tahu itu. Namun yang jelas, ini adalah suatu pertanda. Pertanda sesuatu saat bumi tak mau menerima jasad mereka lagi...

Inspirated by mydream. Minggu, 27 Desember 2009

PROFIL PENULIS
Avans Cross Lines lahir di Bandung, 31 Maret 1992. Bagiku mimpi adalah inspirasi terbesarku. Mimpi adalah jembatan yang menghubungkan antara khayalan dan kenyataan dimana aku dapat dengan leluasa menyebrangi garis antara kedua dunia tersebut. Untuk sejenak ikutlah bersamaku dan lihatlah seberapa indah, seram, romantis, lucu, bahagia, maupun menegangkannya jembatan itu.
Fb: Avans ‘Dani Cross Lines
Blog: avanscrosslines.blogspot.com
Baca juga Cerpen Horor yang lainnya.

Cerpen Horor - Tragedi Daun Bintang

THE SIGNS OF THE DREAMS #4 : TRAGEDI DAUN BINTANG
Karya Avans Cross Lines

 Di tengah zaman dimana dunia sedang gencar-gencarnya membicarakan hari kiamat, seluruh rakyat Indo malah membicarakan tentang tayangan video misterius yang menghebohkan seantero tanah air baru-baru ini.
Aku pindah ke sebuah perkotaan bernama Routant Hill di Java Island bagian barat sebulan yang lalu sebelum video itu beredar. Saat itu kami sekeluarga memutuskan untuk pindah ke perkotaan terpencil itu karena masalah ekonomi. Ayahku tak sanggup lagi membiayai aku sekolah. Bahkan untuk menghidupi kami sekeluarga saja sangat sulit. Ayah memutuskan pindah ke tempat itu karena biaya hidup disana sangat murah.
Dibilang kota rasanya tidak pas karena tempat itu berada di atas bukit dan masih banyak lahan-lahan kosong seperti hutan dan ladang. Tapi dibilang desapun tidak pas karena suasana disana seperti kota. Semua bangunan dari tembok batu bata, terdapat mini market, stasiun televisi dan radio dibangun disana karena sinyal tv nasional tak sampai kesana. Mungkin sebutan perkotaan pas untuk tempat itu.
Suatu hari, ketika aku menonton salah satu berita televisi lokal disana aku terkejut tentang berita beredarnya sebuah video misterius yang diberi nama video “Hoshi” yang menggegerkan seisi kota.

Dalam rekaman video itu, ditayangkan ada sebuah perkebunan ganja yang sangat luas, dan disampingnya terdapat tentara-tentara jepang berseragam hitam yang dibantai dan mayatnya diikat pada rumpunan bambu kering lalu ditancapkan diatas lahan pertanian. Kemudian ada seorang wanita muda, wajahnya dipenuhi oleh bintik-bintik hitam dan kelihatan setengah keriput seperti terkena penyakit. Dia memakai gaun hitam dan memakai topi wanita bangsawan. Kalau dilihat dari postur tubuhnya seperti umur 20 tahun. Rambutnya hitam kecoklatan bergelombang. Dia tersenyum saat dirinya direkam dalam kamera video. Dia berjalan ke perkebunan ganja tersebut, memetik sehelai daun ganja, menciumnya dan melemparkannya ke udara.
Ladang ganja itu sangat luas. Tampak seperti surga bagi para penikmatnya. Aku sangat terkejut saat melihat video itu dan mungkin seluruh wargapun terkejut. Bagaimana mungkin di Indo ada ladang ganja seluas lebih dari sepuluh lapangan sepak bola seperti itu.
Dalam tayangan video berdurasi 10 menit tersebut, aku merasakan kengerian yang amat sangat. Terasa aura yang sangat ganas dan mencekam dari video itu.

Pembawa acara berita tersebut menuturkan bahwa video itu bukanlah direkam di Indo. Karena di Indo tidak ada tempat seperti itu. Bila ada ladang ganja seluas itu pasti pemerintah telah mengetahuinya. Lagi pula setelah ditelusuri ternyata wanita dalam video itu adalah seorang warga Malaysia. Namanya Pnom Venom. Dia telah meninggal sebelas tahun yang lalu akibat kanker kulit yang menyerang wajahnya.
Aku dan orang tuaku tinggal di sebuah rumah yang berada di persimpangan jalan ujung dari Routant Hill. Siang yang teduh itu aku putuskan untuk berjalan-jalan. Satu-satunya barang berhargaku adalah ponsel Nokia 6600 yang sedang aku genggam ini. Aku mempertahankannya agar tidak dijual ayahku. Aku berjalan menyusuri jalanan lengang tanpa kendaraan. Aku potret bangunan-bangunan tua disana dengan ponselku tersebut.
Tak terasa aku sudah berjalan cukup jauh dari rumahku. Aku melihat sebuah jalan yang menikung ke bawah bukit. Menurut seorang pria yang sedang menggendong anaknya mengatakan jalan tersebut menuju ke sebuah gereja tua yang berada jauh di kaki bukit.

Aku yang penasaran berjalan kesana untuk melihat gereja tersebut. Semakin berjalan kebawah, jalanan beraspal itu kini berganti menjadi jalanan tanah berbatu yang sempit. Aku berjalan di bawah tanaman merambat yang meneduhi jalanan tersebut. Di samping kanan jalan itu aku melihat sebuah rumah bercat putih kecoklatan bergaya Belanda. Dengan cerobong asap berlumut dan jendela yang berdebu dan halaman yang penuh dengan dedaunan, sepertinya rumah itu telah lama ditinggalkan.
Aku potret rumah itu. Dan disanalah semua kejanggalan ini berawal. Foto rumah dalam ponselku itu sangat bagus. Catnya berwarna putih bersih dan rumah itu tampak terawat.

Aku ubah ponselku ke kamera video. Aku rekam rumah itu dan ternyata sama dengan yang ada pada fotoku. Dalam ponselku, rumah itu tampak bersih, rapi dan indah, tetapi pada kenyataannya rumah itu sudah seperti sarang hantu. Di sebelah rumah itu ada sebuah ayunan yang tergantung pada sebuah pohon. Aku rekam ayunan tersebut. Tapi bukanlah ayunan yang muncul dalam rekaman video di ponselku itu tetapi sekelompok orang.
Lebih tepatnya tentara. Dan aku sepertinya pernah melihat mereka semua dalam video Hoshi tersebut. Aku lihat baik-baik layar ponselku. Tentara-tentara berwajah jepang tersebut memakai seragam dan topi hitam. Mereka berbaris rapi di sebuah lahan kosong.

Tiba-tiba lima orang wanita datang mengampiri mereka dengan mengenakan gaun dan kerudung hitam kecuali seorang wanita yang berjalan paling depan yang mengenakan topi miring bangsawan Eropa yang lebar. Aku kenal wajahnya. “Pnom Venom...” ucapku pelan. Tiba-tiba wanita itu memandang kearahku. Segera aku tekan tombol ’Pause’ dalam ponselku yang sedang merekam. Tak sengaja aku jatuhkan ponselku itu ke tanah.
Sebenarnya aku sangat takut dan ingin segera kabur dari tempat itu. Tapi aku berpikir satu hal. Bila aku menjual rekaman video penampakan ini ke stasiun tv, keluarga kami pasti tidak akan kekurangan lagi. Aku ambil ponselku dan aku tekan tombol ‘lanjut’ dan kembali merekam kearah ayunan tersebut.

Dalam layar ponselku aku lihat tentara-tentara itu sedang duduk di tengah api unggun yang mereka buat. Kemudian wanita berwajah buruk itu menghampiri mereka satu persatu dengan membawa sebilah samurai. Dan tiba-tiba dia menusukkan samurainya ke tubuh tentara-tentara itu. Mereka tidak melawan. Bahkan seorang tentara menusuk tubuhnya dengan tangannya sendiri. Mereka semua mati.
Para wanita itu mengikat para tentara tersebut pada rumpunan bambu kering. Kemudian bambu itu ditancapkan ke tanah mengelilingi api unggun. Mereka semua dibuat seperti orang-orangan pengusir burung. Wanita bernama Pnom Venom itu berjalan ke belakang rumah putih tersebut. Aku segera mengikutinya dengan terus menerus memperhatikan layar ponselku yang sedang merekam.

Di belakang rumah putih itu terdapat perkebunan singkong yang sangat luas. Namun yang terlihat dilayar ponselku adalah pepohonan ganja sejauh mata memandang. Aku rekam semuanya tanpa terlewat sedikitpun.
Wanita itu berjalan ke pedalaman ladang ganja tersebut. Aku berlari ke halaman depan rumah itu. Segera menjauh tak ingin mengikuti wanita itu karena hatiku sudah tidak tenang. Aku tak sanggup berlama-lama disana. Aku rekam untuk terakhir kali bagian depan rumah putih itu. Aku segera berlari ke kaki bukit. Merekam setiap jalan, pepohonan dan ladang-ladang yang akan membuktikan bahwa benar tempat itu berada disini, Routant Hill.

Aku kembali berjalan menuju pusat kota. Merekam setiap rumah, orang-orang dan kendaraan yang lalu lalang. Aku akhiri video itu di persimpangan jalan rumahku.
Rencananya nanti malam video berdurasi 1 jam itu akan aku perlihatkan pada ayah kemudian akan aku jual ke stasiun televisi.
Sekarang ayahku bekerja di pabrik kecil di sudut kota. Dia biasa pulang jam 7 malam. Sementara menunggunya pulang. Aku tonton rekaman video itu di kamarku. Ada hal yang membuatku sangat ketakutan. Ada suara musik aneh di sepanjang video. Padahal saat aku merekamnya semuanya begitu hening.
Aku matikan video itu saat wanita itu terekam dan memandang kearahku karena aku sangat takut. Dia membuatku merinding. Aku baru sadar bahwa suasana di kamarku itu begitu sunyi. Segera aku keluar dari kamar dan berlari menghampiri ibu di dapur.

Beberapa jam kemudian ayahku pulang dan aku segera memperlihatkan video itu setelah selesai makan malam. Dia terlihat sangat terkejut. Namun dia mengatakan untuk tidak menyebarluaskan video itu. Saat aku bertanya kenapa, dia hanya menjawab ’itu berbahaya.’ Aku tidak tahu apa maksud ayahku itu.
Disaat aku sedang tertidur suara musik itu terdengar lagi. Ponselku tiba-tiba memutar video itu dengan sendirinya. Aku matikan hp-ku. Namun dia tetap menyala dan memutar video itu terus menerus dan itu semakin membuatku ketakutan. Segera aku melepas baterainya dan aku masukan ponselku itu kedalam laci di samping tempat tidurku.
Aku tidak mengerti kenapa ayah melarangku mempublikasikan video ini. Tadinya aku berharap dengan menjual video ini aku bisa mendapatkan uang yang banyak dan segera pindah dari tempat yang sudah mati ini.

Keesokan harinya. Aku diam-diam pergi dari rumah. Dengan membawa ponselku itu aku pergi menuju stasiun televisi lokal yang jaraknya 1 kilometer dari rumahku.
Dengan menaiki sebuah bus tua aku berangkat kesana. Sejak bangun tadi pagi aku belum memasangkan baterainya pada ponselnya karena aku merasa tidak nyaman setiap kali mendengar suara musik aneh itu.
Aku heran kenapa langit menjadi mendung dan berwarna gelap seperti ini. Bus itu berhenti di persimpangan jalan. Menurunkan satu-satunya penumpang bus tersebut.

Aku berjalan menyusuri trotoar. Semakin lama langit itu semakin berwarna hitam dan tiba-tiba saja semuanya gelap. Walaupun aku tahu tempat ini selalu mendung tapi aku belum pernah melihat yang seperti ini. Seluruh kota gelap layaknya ruangan dengan lampu mati. Kegelapan sepertinya telah menyelimuti tempat ini.
Aku sendirian berdiri di atas jalanan lengang ini. Aku terpaksa menghidupkan ponselku karena semuanya gelap disini. Aku beranjak dari tempat itu. Kembali ke persimpangan jalan tempat bus tadi menurunkanku.
Tiba-tiba ponselku itu memutar video itu. Aku segera berlari sambil mengarahkan cahaya dari layar hp itu kejalan agar aku bisa melihat.

Semakin berlari dari sana sepertinya aku semakin menuju ke tempat yang tidak aku kenal sebelumnya. Namun aku merasa aku pernah kesini.
Terdengar seseorang membuka pintu dari rumah di sampingku. Aku mengarahkan cahaya dari ponselku itu kesana. Terlihat disana sesosok wanita memakai gaun hitam. Pnom Venom…
Dia berjalan kearahku. Melenggang bagai ratu dari masa lalu. Dia bersama empat orang wanita dibelakangnya yang memakai kerudung itu mendekatiku.
Aku segera melarikan diri dari sana berharap semua ini hanya mimpi. Ponselku sudah tak kuat lagi tuk menerangi jalanan. Dia padam. Dan semuanyapun padam. Aku tersungkur di jalanan. Tak tahu harus melangkah kemana. Kemudian aku memejamkan mata

Aku tak sadarkan diri cukup lama. Saat aku membuka mataku semuanya menjadi terang kembali. Seorang bapak yang sedang menggendong anaknya terheran melihatku tidur di trotoar.
Apa yang terjadi? Tanyaku dalam hati. Aku melihat ke sebuah tv yang dipajang di depan toko elektronik. Gerhana matahari baru saja terjadi sekitar sepuluh menit. Namun bagiku gerhana itu terasa lama sekali.
Aku nyalakan ponselku. Aku lihat video itu masih ada disana. Namun semuanya hilang. Yang terekam di ponselku hanyalah rumah tua dengan ayunan di samping halamannya sementara di belakangnya hanya terdapat perkebunan singkong.
Aku tidak mengerti apa yang telah terjadi. Jangan-jangan ini semua hanya ilusiku semata. Apa benar tempat itu ada?

Inspirated by mydream. Senin, 30 November 2009

PROFIL PENULIS
Avans Cross Lines lahir di Bandung, 31 Maret 1992. Bagiku mimpi adalah inspirasi terbesarku. Mimpi adalah jembatan yang menghubungkan antara khayalan dan kenyataan dimana aku dapat dengan leluasa menyebrangi garis antara kedua dunia tersebut. Untuk sejenak ikutlah bersamaku dan lihatlah seberapa indah, seram, romantis, lucu, bahagia, maupun menegangkannya jembatan itu.
Fb: Avans ‘Dani Cross Lines
Blog: avanscrosslines.blogspot.com

Baca juga Cerpen Horor yang lainnya.

Cerpen Horor - Firasat Mimpi Seorang Anak

THE SIGNS OF THE DREAMS #3 : FIRASAT MIMPI SEORANG ANAK
Karya Avans Cross Lines

Malam itu, aku dan ibuku akan pergi ke pasar Banjaran. Entah apa alasan ibuku pergi ke pasar tradisional itu malam-malam begini. Waktu menunjukkan pukul 19.00 dan gerimis membasahi jalanan utama yang gelap. Hanya ada sebuah lampu pijar tergantung pada sebilah bambu di sudut pertigaan jalan.

Seharusnya semua angkutan umum tak ada yang beroperasi. Tak ada mobil yang turun kembali ke kota. Apalagi rumahku itu terletak di kampung. Yang membuatku heran kenapa ibuku menunggu angkot, ratusan meter dari rumahku. Tepatnya di daerah Cidarangdan. Sementara rumah kami berada di Pasir Kadu. Harus melewati satu kampung lain agar mencapai Cidarangdan.

Tiba-tiba sebuah angkutan umum muncul dari arah menuju Banjaran. Sepertinya mau pulang dan itu adalah mobil terakhir.
“Bang, mau ke Banjaran lagi?” tanya ibuku.
“Tidak, Bu. Ini sudah malam. Tidak ada angkot lagi yang beroperasi.” jawab supir itu kemudian pergi meninggalkan kami. Seharusnya kami pulang naik mobil itu, tapi ibuku dan aku tetap diam di pinggir jalan.
Gerimis mulai membesar dan berubah menjadi hujan yang lebat. Tiba-tiba sekelompok pemuda seumuran denganku keluar dari sebuah rumah di belakang kami, mendekati dan menghalangi kami yang ingin berteduh. Ada empat orang laki-laki dan seorang pria yang seperti perempuan. Dilihat dari manapun memang wajahnya seperti lelaki namun rambutnya yang menutupi telinga itu seperti wanita. Mereka semua memakai jas hitam seperti orang kantor yang telah selesai Meeting. Sepertinya mereka adalah orang kaya.

Mereka bukan orang baik-baik. Seorang dari mereka membawa sebotol minuman keras dan nampak dari gerak-geriknya, mereka sedang mabuk. Aku dan ibuku ketakutan. Aku coba bicara baik-baik agar mereka membiarkan kami lewat. Hujan mulai membesar dan membasahi kami semua.
“Hey! Tenang saja. Mau kemana kau?!” sahut pria yang seperti perempuan itu.
“Sudah Vanz, hajar saja dia!” sahut temannya. Kemudian orang yang bernama Avanz itu membawaku jauh dari ibuku dan teman-temannya. Aku lihat ibuku sangat ketakutan dan orang-orang itu terus menggodanya.
“Hey! Tante mau kemana?” tanya seorang dari mereka sambil tertawa.
“Ibu! Apa yang akan kalian lakukan pada ibuku?! Lepaskan Ibuku! Jangan ganggu dia!” teriakku.
“Hey! Mau kemana kau?! Urusan kita belum selesai!” sahut Avanz menahanku sambil tersenyum. Kemudian dengan keras dia memukul perutku. Rasa sakit yang teramat sangat membuatku roboh dan tergeletak di jalanan.

Samar-samar dari balik tirai hujan yang menutupi pandangan, kulihat ibuku diperlakukan tidak pantas.
“Bajingan kalian!!!” aku menangis dan sangat marah. Aku mulai bangkit karena kemarahanku sudah mulai memuncak tak terkendali. Bayangkan saja itu adalah Ibuku sendiri. Aku tak sudi mereka memperlakukannya seperti itu.
“Sialan kau!!!” teriakku langsung menghajar pipi putih mulus lelaki itu dengan sekuat tenaga. Tapi dia balik membalas. Aku tidak peduli apa yang akan terjadi padaku yang terpenting itu tidak terjadi pada ibuku.

Kami saling hajar di bawah langit gelap malam itu. Dan disaat terakhir aku berhasil membuatnya roboh, segera, aku berlari mendekati mereka yang menahan ibuku.
“Lepaskan ibuku, Setan!!”
“Hey! Sialan anak ini! Ayo kita hajar dia!” mereka melepaskan ibuku.
“Ibu! Cepat lari! Cepat cari pertolongan, bu!” tanpa berkata apapun ibu langsung berlari menyusuri jalan raya itu menuju rumah kami yang masih jauh.

Mereka sedang mabuk. Seharusnya itu memberiku kesempatan yang besar untuk mengalahkan mereka. Sebelum kemarahanku mulai mereda, aku langsung menghajar mereka tanpa ampun. Aku berhasil menjatuhkan mereka semua dan segera menyusul ibuku yang baru menyampai sebuah Mesjid tak jauh dari tempat itu.
“Ibu tunggu!” sahutku. Tapi kemudian terdengar sesuatu melesat dari belakang dan mendorongku. Terdengar suara ’Dug!’ dipunggungku. Awalnya aku baik-baik saja, tapi kemudian suara itu kembali terdengar “Dug! Dug! Dug!” perlahan langkahku mulai terhenti dan aku pun jatuh tak berdaya. Sesaat sebelum aku mati aku tahu bahwa ada empat buah peluru menembus tulang belakangku dan aku tidak tahu kenapa aku tahu bahwa yang menembakku adalah lelaki bernama Avanz itu.
“Dani!!” teriak Ibuku menghampiriku. Suara tembakan itu terdengar lagi namun aku tidak tahu siapa kali ini yang ditembaknya karena aku telah menutup mataku. Mungkinkah ibuku?
“Dani! Dani! Bangun sudah siang!” kata ibuku membangunkanku dari tidurku. Aku membuka mataku. Aku lihat ibuku berada disamping tempat tidurku. Untunglah itu semua hanya mimpi. Aku langsung mengambil Hp disamping tempat tidurku dan melihat jam di dalamnya. Tapi ada yang aneh dengan Hp Nokia 6600-ku ini. Kaca di Casing bagian kamera Hp-ku itu menghilang dan ada lubang di sana.

Ketika aku akan menanyakan hal itu pada ibuku dan menegakkan tubuhku, rasanya sakit tulang belakangku. Seperti patah.
“Agghhh!!” geramku.
“Dani, kau tidak apa-apa?”
Aku menyentuh tulang belakangku dan akusangat terkejut. Ada lubang di tulang punggungku. Saat aku tekan kulit yang membungkus tulangku itu dengan jari tengahku, seperempat jari tengahku dapat masuk kedalamnya. Lubang itu sebesar peluru. Apakah ini tanda-tanda hal buruk akan terjadi? Seperti dalam mimpi itu? Aku sangat ketakutan. Bukannya aku takut mati tapi aku takut kalau ibuku yang mati. Aku tidak mau itu. 

Aku menangis dan memeluk Ibuku.
Aku langsung menceritakan semua mimpiku dan lubang pada tulang punggungku itu pada ibuku. Dia sangat terkejut. Aku menyuruhnya tidak keluar rumah hari ini apalagi setelah sore dan terutama ke tempat bernama Cidarangdan itu. Ibuku hanya berkata iya. Iya. Iya. Aku tidak tahu apa dia mempercayaiku atau tidak?
Sepanjang hari aku hanya memikirkan hal itu dan terus mengawasi ibuku agar tidak keluar dari rumah di sore dan malam hari. Aku takut bila mimpi itu menjadi kenyataan. Tapi aku kecolongan. Ibuku tidak ada di rumah.

Sore itu pukul 17.00. Jika benar mimpi itu adalah suatu pertanda, hanya tinggal dua jam lagi kejadian dalam mimpiku itu akan menimpa ibuku.
“Ibu kemana?” tanyaku pada ayah tiriku.
“Katanya mau ngambil pakaian di Cidarangdan.”
Tanpa bertanya lagi aku langsung berlari menuju tempat itu menyusuri jalan raya tanpa alas kaki. “Ibu, kenapa ibu tidak percaya padaku?” tanyaku sendiri sambil menucurkan air mata sembari berlari kencang.

Langit tampak mendung. Aku takut mimpi itu menjadi kenyataan. Aku lihat ibuku berdiri di pinggir jalan. Sama seperti mimpiku. Namun ini masih sore dan gerimis belum turun dan ibuku membawa setumpuk pakaian dalam keranjang di tangannya.
“Ibu! Ibu kenapa sih tidak percaya padaku?! Aku sudah bilang jangan ke tempat ini! Aku sangat khawatir, bu!” kataku langsung memeluk ibuku.
“Maafkan ibu, Dan. ibu hanya mau mengambil pakaian di rumah teman ibu.” katanya.
“Lalu kenapa ibu masih berdiri disini? Ayo kita pulang, bu!”
“Iya, ibu juga mau pulang. Ibu lagi nunggu angkot.”

Tak lama kemudian datang angkutan umum.
“Cepat, bu!” desahku menyuruhnya segera menaiki mobil itu. Namun tiba-tiba mesin mobil itu mendadak mati. Pas lagi, beberapa meter di depan rumah para pemuda dalam mimpiku.

Aku lihat jam di depan setir pukul 18.00. Gerimis mulai turun tapi langit belum cukup gelap. Di dalam angkutan umum itu hanya ada aku, ibuku dan seorang bapak memakai seragam coklat dengan tanda nama di saku dadanya ’Anan.’
“Bu, kita jalan kaki saja?” sahutku mulai takut seseorang muncul dari balik pintu rumah orang yang akan membunuhku dan ibuku.
“Tapi kan jauh, Dan. Lagi pula ini sudah Maghrib. Jalanan sudah gelap. Dan lagi kamu tidak memakai alas kaki,” kata ibuku.
“Maaf bu, anaknya kenapa ya kok kayaknya ketakutan?” tanya bapak itu. Aku lihat baik-baik bapak itu. Di lehernya tergantung sebuah pisau lipat.
Saat melihat bapak itu aku sadar, bila aku harus mati malam ini, tidak ada yang bisa mengubahnya. Mimpi itu mungkin hanya pertanda bahwa aku akan mati malam ini. Dengan cara apapun. Mungkin saja bapak inilah yang akan membunuhku.

Sebelum ibuku menjawab pertanyaan bapak itu aku langsung menarik tangannya keluar dari angkot itu. Aku lihat pintu rumah pembunuh itu terbuka. Ada seseorang yang akan keluar dari sana. Aku terus memegangi erat-erat lengan ibuku dan berjalan secepat mungkin. Hampir berlari menyusuri jalanan. Aku tak ingin kejadian seperti dalam film Final Destination menimpa ibuku dan diriku. Gerimispun turun dan mulai membesar.
“Ayo, bu! Cepat! Sebelum orang itu melihat kita!” sahutku ketakutan.
“Tunggu, Dan! Ibu sudah lelah!”
“Aku takut, bu! Aku takut ibu mati!” sergahku sambil menangis. Setengah jam telah berlalu. Tinggal beberapa puluh meter lagi kami tiba di rumah.
“Tunggu, Dan! Pakaian-pakaian ibu terjatuh. Ibu akan mengambilnya!”
“Sudah, bu! Jangan, bu! Biar aku saja! Sekarang ibu masuk ke rumah! Aku akan merasa tenang bila ibu sudah ada di rumah!” sahutku.
“Dani, hati-hati!” sahutnya pergi menuju rumah membawa keranjang dengan pakaian yang tersisa.

Aku kembali ke jalan raya dan memunguti pakaian-pakaian ibuku yang tercecer. Aku lakukan dengan cepat sebelum hal yang tidak kuinginkan terjadi. Ibuku telah selamat dan sekarang aku harus memikirkan nyawaku.
Dari kejauhan aku dengar suara deruan mobil. Aku takut hal itulah yang akan membunuhku. Mobil itu melaju kencang seperti ingin menabrakku. Setelah selesai memunguti pakaian aku langsung berlari secepat mungkin masuk ke dalam rumah. Ku lihat jam dinding menunjukkan pukul 19.10. Akhirnya, bahaya itu bisa kami lewati. Aku tergeletak di lantai rumah sebelum akhirnya tertidur.

Malam itu aku bermimpi kembali. Dalam mimpiku, seseorang bernama Avanz itu bukanlah lelaki. Melainkan seorang gadis. Aku lihat gadis itu datang ke rumahku dengan memakai sebuah gaun pink dan mengenalkan padaku bahwa namanya Dira. Dan... dia akan membunuhku.

Inspirated by mydream. Kamis, 10 September 2009

PROFIL PENULIS
Avans Cross Lines lahir di Bandung, 31 Maret 1992. Bagiku mimpi adalah inspirasi terbesarku. Mimpi adalah jembatan yang menghubungkan antara khayalan dan kenyataan dimana aku dapat dengan leluasa menyebrangi garis antara kedua dunia tersebut. Untuk sejenak ikutlah bersamaku dan lihatlah seberapa indah, seram, romantis, lucu, bahagia, maupun menegangkannya jembatan itu.
Fb: Avans ‘Dani Cross Lines
Blog: avanscrosslines.blogspot.com

Baca juga Cerpen Horor yang lainnya.

Selasa, 22 Mei 2012

Cerpen Motivasi Persahabatan - Sahabat Dari Dunia Lain

SAHABAT DARI DUNIA LAIN...
Oleh Rhenata Francisca
 
Mempunyai hidup yang berkecukupan bukanlah alasan utama seseorang ataupun suatu keluarga untuk meraih kebahagiaan. Kebahagiaan itu diraih bukan karena harta yang melimpah, tetapi keharmonisan didalam keluarga. Kesibukan orangtua kadangkala menyebabkan anak-anaknya kurang mendapat kasih sayang. Begitu pula dengan kehidupanku, karena kesibukan orangtuaku , kini semua kekayaan orangtuaku tidak akan berarti apa-apa bagiku.

Angin bertiup semilir. Tampak matahari yang memancarkan cahaya oranye nya, kicauan burung masih terdengar, mereka terbang sesuka hatinya, merasakan keindahan alam semesta ini, kini mereka mengepakkan sayap-sayap mereka dan terbangmenuju peraduan. Dan bersamaan dengan itu, diruangan yang cukup besar, berhiaskan dinding yang berwarna hijau, tepat diatas tempat tidur , aku masih membaringkan tubuhku. Aku bingung entah apa yang harus kulakuan saat ini. Aku ingin merasakan kebahagiaan seperti anak-anak burung yang diberi kasih sayang oleh kedua induknya. Sedangkan aku ? Bagaimana dengan kehidupaku? Entahlah, aku hidup seperti tidak mempunyai orangtua. Mereka terlalu sibuk dengan urusan mereka. Bisnis sana, Bisnis sini.
“ Huhhh,, pasti mereka tidak akan pulang malam ini “ bisikku.
“ Lebih baik aku keluar saja malam ini, mencari udara segarr,, “

Jam terus berputar . Dan kini jarum pendek sudah menunjukkan angka 7, kini senja itu pun mulai hilang.

Kulangkahkan kaki menuju garasi rumahku, jaket hitam dan helm merah sudah terpasang di tempatnya. Tanpa berlama-lama ku nyalakan mesin, dan melajukan motorku dengan kecepatan yang cukup tinggi.

Tak sadar, dipersimpangan jalan tetap dengan kecepatan yang tinggi, motor ku melaju, dan dari arah berlawanan, sebuah truk besar juga dengan kecepatan tinggi melaju.

Dann, peristiwa naas itu terjadi. Sedikit terdengar olehku teriakan orang-orang sekitar yang melihat peristiwa itu. Kurasakan aroma yang sangat amis bagiku, cairan merah itu mengalir dikepalaku. Beruntung nyawaku masih bias terselamatkan.

Perlahan-lahan kucoba membuka mataku. Tercium olehku aroma khas rumah sakit. Saat kubuka mata, hanya seorang lelaki yang tampak disampingku. Aku merasa tak pernah mengenalnya. “apa mungkin dia yang mencelakakan aku “ ucapku dalam hati.

Kucoba melihat lebih luas lagi. Mereka tidak ada. Dimana mereka ? Disaat aku seperti ini, masihkah merek sibuk dengan urusan mereka sendiri ? “ KETERLALUAN “ batinku tersiksa.
“ Kau sudah sadar ? “ tanyanya.
“ yaa,,yya, ssii,,aa,,paa kau ? “ jawabku dengan suara yang agak terbata-bata.
“ Aku Ilham. Siapa namamu ?”
“ nna,,mmaa,, ku Lena”
“ Oh, ya sudahlah, sebaiknya kau istirahat terlebih dahulu. Sepertinya keadaanmu belum terlalu baik. “usulnya.
“ Tidak apa-apa. Aku sudah mulai baikan kok. Oh ya, apakah kau melihat orangtuaku ?” tanyaku penasaran.
“ Eum, sepertinya tidak ada seorangpun yang datang menjengukmu sejak tadi. “ Ia mengernyitkan dahinya dan mencoba mengingat.

Aku kecewa dengan mereka.
“ Sepertinya aku ingin istirahat sebentar “ pintaku.
“ Baiklah, kalau seperti itu maumu, sebaiknya aku keluar saja, agar tidak mengganggumu” ucap Ilham

Kulihat Ilham begitu cepat menghilang dari hadapanku. Aku masih bingung siapa sebnarnya dia ? Apakah aku lupa ingatan ? Ahh, tidak mungkin, kalau aku lupa ingatan tidak mungkin aku ingat dengan kedua orangtuaku. Tapi, siapa dia ? Dan, dimana semua teman-temanku ? Tak ada satupun diantara mereka yang menjengukku. Apa aku tidak berguna lagi bagi mereka ? Apa salahku? Bukankah aku selalu hadir disaat mereka susah ? Ini balasan merreka ? kekecewaanku kini semakin dalam.
***

Malampun tiba, kembali kubuka mataku. Masih tampak Ilham yang setia menemaniku.
“ CCKKLLEEKK” pintu kamarku terbuka, diikuti oleh masuknya seorang suster membawa sajian malamku.
“ Hai nona Lena, bagaimana keadaannya ?” Tanya suster itu ramah.

Hey, pertanyaan basa-basi yang terlalu basi menurutku. Udah pasti keadaanku masih sakit.
“ Hmmm, ya seperti ini lah sus,, “ jawabku .
“ Dimana keluarga nona ? sepertinya sedari tadi tidak ada yang menjenguk.. ?”

Hhhaahh ? Aku sangat terkejut mendengar pertanyaan nya.

Hey suster, tidakkah kau lihat, seorang pria disana ?
“ Hmmmm,, mungkin mereka sibuk sus..”
“ Oh, ya sudahlah, Janganlupa dimakan yah makanannya, dan ini obatnya. “ sambil memberika sebungkus plastic yang berisi beberapa butir obat.

Suster itupun berlalu pergi. Tetapi aku masih bingung , mengapa suster itu mengatakan bahwa tidak ada orang yang menjengukku ? Ahh,, mungkin dia tidak memperhatikan Ilham
“ Hey Lenna, jangan melamun.. Ntar kesambet loh ?” candanya.
“ Ahh, tidak, aku tidak melamun.. “
“ Ya sudah, ayo kau harus makan “ sambungnya, sambil mengambil piring yang terletak diatas lemari kecil .
“ Tidak, aku tidak selera makan. “ tolakku.
“ Heey, ayolahh, supaya kau cepat keluar dari sini. Apakah kau mau tinggal berlama-lama disini ? “Tanya Chiko.
“ Ya tidak lah, tempat ini sangat aku benci. Tapi, aku juga tidak mau tinggal dirumah.. “
“ Mengapa begitu ?“ ucapnyapenuh tanya
“ Aku merasa bosan tinggal dirumah. Dirumah aku tidak mempunyai teman, bahkan kasihsayang orangtuaku , tidak pernah kurasakan. Mereka hanya sibuk dengan urusan kantor mereka. “ aku mulai curhat dengannya.
“ Kau sebaiknya jangan melihat dari sisi negatifnya saja, lihat jugalah sisi positifnya. Bukankah mereka melakukan itu demi kepentingan hidupmu juga ?” respon Ilham.
“ Ya, memang benar, tapi harta itu tidak menjamin kebahagiaanku.. “ sambungku.
“ ya, benar juga apa yang kau katakana. Ya sudah, sebaiknya sekarang kau habiskan terlebih dahulu makananmu ini.. “ saran Ilham.

Hatiku merasa lega, setelah aku menceritakn kehidupanku kepada Ilham. Tak pernah ada seorangpun yang bias menjadi tempat aku mencurahkan isi hati. Kini kutemukan dia, aku menganggapnya SAHABAT.
“ Oh ya, kau tidak pulang ? “ tanyaku kepada Ilham.
“ Iya, sebentar lagi aku pulang, aku akan pulang setelah kau tidur.. “ ucapnya.
“ Baiklah, sekarang aku akan tidur, kelihatannya kau sudah lelah “ Kucoba memejamkan mataku, dan akhirnya akupun tertidur.
***

Kini malam berganti pagi, cahaya matahari pagi membangunkanku. Kucoba membuka mataku. Dan aku kembali kecewa. Tapi kekecewaanku tidaklah begitu besar, karena kehadiran sahabat baruku Ilham. Tetap saja mereka tidak menjengukku.
“ Selamat pagi Lenna.. J” sapa Ilham sambil memancarkan senyum indahnya.
“ Pagi juga Ilham.. “ jawabku membalas senyumnya.
“ Gimana ? sudah lebih baik ?”
“ Yaa, sudah lumayan… “
“ Oh iya, sepertinya aku harus keluar sebentar, dan nanti aku akan kembali lagi. Tidak apa-apa kan? “ tanyanya.” Iya, tidak apa-apa kok… “

Ilham pun beranjak keluar. Dan,, ehh pintu itu dapat ditembusnya ?

Ahh,, mungkin hanya halusinasiku saja.
Kini aku sendiri lagi, tidak ada yang menemaniku sekarang. Tapi aku juga tidak boleh memaksakan kehendakku.

Kembali kuingat kekesalanku kepada orangtua dan teman-temanku. Sudah 2 hari aku menetap ditempat ini. Dan tak pernah sekalipun mereka menjengukku ? Mungkinka aku tidak berguna lagi ? Apakah lebih baik aku pergi ?

Saat itu entah makhluk apa yang merasuk tubuhku, hingga aku mencoba untuk menghilangkan nyawaku.
“ Lebih baik aku mati .. “ batinku tersiksa

Kulangkahkan kaki ku menuju lantai rumah sakit yang paling atas.

Kuberdiri dipinggiran sisi lantai loteng itu. Kini tangisku mulai meledak, tetesan bulir bening itu mulai berjatuhan membasahi pipiku. Kuingat semua kehidupanku , dimana tak ada kebahagiaan. Tak ada sedikitpun tersirat kenangan indah dihidupku.

Kini tinggal beberpa langkah lagi jarak antara aku dengan lantai dasar.
" Selamat Tinggal Semuaaa…. “ isak tangisku kembali terdengar.
“ TTTUUUNNGGGUUUU……. “ suara teriakkan terdengar dari belakangku, dan mengentikan langkahku.

Ku balikkan tubuhku dan ku berlari kearahnya, memeluk tubuh nya.
“ Ham, aku tidak tahan lagi hidup di dunia ini. Tidak ada satu orangpun yang peduli denganku. Lebih baik aku mati. “ ucapku sambil terisak.
“ Mati bukanlah jalan terbaik. Masih banyak orang yang menyayangimu disana, Mati itu tidaklah menyenangkan. Kau akan merasakan apa yang kurasakan. Tidak dapat menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan .. “ ucap Ilham.
“ Maksudmu ? merasakan apa yang kau rasakan ? “ tanyaku heran dan melepaskan pelukanku, lalu menatap matanya. Kulihat kesedihan yang mendalam disana, dan wajahnya yang pucat.
“ Yah, aku akan memberitahumu sesuatu. Sebenarnya aku ini adalah arwah yang telah meninggal. Dan aku meninggal dengan cara terbodoh yang pernah ada. Yaitu menjatuhkan tubuhku disini. Tepat dimana kau ingin menghilangkan nyawamu. Dan aku sangat menyesali perbuatanku itu. “ jawabnya sedih.
“ Jadi, maksudmu , kau ini adalah Hantu ? Lantas, bagaimana aku bisa melihatmu ? “ tanyaku heran.
“ Ya, seperti itulah. Aku ditugaskan untuk memperingatkan mu. Jadi, kau dapat melihat wujudku. . . “ Jelasnya.
“ Oh, pantas saja suster itu tidak dapat melihatmu. Dan kau juga dapat melewati pintu , kamar itu,, “
“ Ya begitulah, sebaiknya, kau hapus air matamu itu, dan kita sekarang kembali ke kamar, tenangkan dirimu.. “ bujuknya.
“ Baiklah.. “

Kami berjalan menuju kamar, tak kusangka, sahabat pertamaku itu adalah sesosok makhluk dari dunia yang berbeda denganku. Terngiang dipikiranku ucapan-ucapan yang terlontar dari bibirnya.

Kini kami sampai didepan kamarku. Kubuka pintu, dan ada sesuatu hal yang dapat membuatku sangat terkejut. Mereka datang ? Ada angin apa gerangan? Bukankah mereka sibuk dengan urusan mereka ?

Kusimpan didalam hati kebahagiaan kecil itu . Dengan wajah murung kulangkahkan kakiku kedalam.
“ Sayang, kamu dari mana saja ? Maafkan mama dan papa sayang, kami terlalu sibuk dengan urusan kami, sehingga kamu jadi begini. Maafkan mama.. L “ tangisan penuh penyesalan tampak dari wajahnya sambil memelukku, terasa dipundakku seperti ada sesuatu. Cairan bening dari matanya mulai membasahi pundakku.

Mereka memelukku, penuh kasih sayang, baru kali ini , kurasakan kebahagiaan itu.
“ Sudahlah ma, aku sudah memaafkan mama dan papa , lupakan masa lalu, kita mulai lembaran baru. “ ucapku.
“ Baiklah sayang.. J” ucap mamaku.
Disisi lain kulihat Ilham tersenyum kearahku.
Kubalas senyumannya itu.
Kini aku merasa bahagia, akhirnya aku merasakan kebahagiaan itu….
Keesokan harinya, hari dimana aku telah diijinkan untuk meninggalkan tempat membosankan ini..
Disampingku telah ada kedua orangtuaku yang membantuku untuk mengemas barang-barangku.
Tapi, ada yang aneh, dimana Ilham ? Kenapa dia tidak kelihatan hari ini ?
Tak sengaja, aku melihat diatas meja secarik amplop terletak disana. Perlahan kubuka isi amplop itu..

Dan kubaca..
Dear Lenna,,
Hai cantik, sudah sembuhkan ?Bagus kalau begitu..
Nah, dengan sembuhnya kau, tugasku pun kini telah selesai,,,
Kau telah mendapatkan kebahagiaanmu , dan kasih sayang dari kedua orang tuamu..
Sekian yah, surat perpisahan dariku.

Selamat tinggal Lenna.. J
I will miss You..
Ilham

Dengan sigap kulangkahkan kaki ku dengan kecepatan yang cukup tinggi, menuju loteng rumah sakit.

Dan sesampainya disana , kudapati sosok seseorang yang tersenyum kearahku..
“ ILHHHAAAMM… “ teriakku dan berlari memeluknya.
“ Sudahlah, kau tidak usah bersedih, bukanah kebahagiaan sudah ada ditanganmu ? Kini aku harus pergi, tugasku sudah selesai. .. “ pamitnya, dan melepaskan pelukan itu.
“ SELAMAT TINGGAL LENNA.. J “ ucapnya dan melangkah menjauhiku,, semakin lama ia hilang dari pandanganku,,,
“ SELAMAT TINGGAL ILHAM ,,,

Kau adalah sahabat terbaikku, SAHABAT DARI DUNIA LAIN .. J “

Sekian karya darii sayaa..
Semogaa kalian sukaaaa…

Writer : Rhenata Fransiska Yovanca
@RheCa_YoShe

PROFIL PENULIS
Nama : Rhenata Francisca Pardede
Umur : 15 tahun
Kota asal : Medan
Facebook : Rhenata Francisca Pardede
Twitter : @rhenata_fysp
Ini karyaku, terima kritik dan saran :)
Respect guys :)

Baca juga Cerpen Persahabatan, Cerpen Horor dan Cerpen Motivasi yang lainnya.

Kamis, 17 Mei 2012

Cerpen Horor - PO. Sinar Pantura

PO. SINAR PANTURA
Oleh Bahri Ahmad

Ketika aku merogo sakuku untuk mengambil buku nadloman alfiyah yang berada disakuku, aku tidak menemukan buku nadloman miniku itu melainkan aku menemukan karcis bus yang sudah lusuh, yang masih berada disaku bajuku yang memang belum pernah aku cuci semenjak aku masuk ke pesantren ini. Baru sebulan aku menginjak pesantren yang besar ini, sebuah pondok pesantren salafi yang bertempat dipesisir pantai utara, dan pengasuhnya sangatlah alim dan masyhur.

Saat aku melihat karcis lusuhku itu, aku jadi teringat dengan rumah dan keluargaku, sehingga aku pun sempat meneteskan air mata yang tak bisa aku bendung. Hal seperti itu sudah sangat lumrah dikalangan santri-santri baru dimana saja, karena rasa haru masih menyelimutiku sebagai orang yang baru pertama kali meninggalkan rumah dan keluarga demi menuntut ilmu agama. Dikarenakan kebiasaanku dirumah yang dimanja, serba ada, dan selalu kumpul dengan keluarga dan teman-teman yang telah aku kenal sejak kecil. Lain halnya dipesantren aku harus bisa betul-betul merawat diri dengan uang saku pas-pasan dari rumah dan di tuntut hidup super mandiri, hidup dipesantren bagaikan mengawali hidup baru, dengan lingkungan yang baru, teman baru dan situasi baru, jadi itu semua itulah yang menjadikanku tidak betah dan ingin kembali kerumah.

Ketika aku membuang karcis lusuh itu ke lantai pojok kamar, yang memang menurutku karcis itu memang sudah tidak berguna lagi, tiba-tiba seorang laki-laki berbadan besar dengan memakai songkok hitam sambil membawa beberapa kitab kuning yang ia rangkul, ia mendekatiku dan menyodorkan tangan kanannya kepadaku,“santri baru ya?” tanyanya.
“iya kang, aku santri baru, baru sebulan yang lalu aku tiba disni.” Jawabku sambil tersenyum dan menjabat tangannya yang ia sodorkan kepada diriku.
“Ooo, ya aku maklumi, besok lagi kalau kamu mau membuang sampah, sekecil apapun itu buanglah pada tempatnya jangan dibuang sembarangan seperti ini, nanti kamu bisa terkena hukuman membuang sampah sembarangan lho.” Tuturnya sambil mengambil karcis lusuh yang telah aku buang kelantai tadi.

Setelah ia mengambil karcis yang aku buang kelantai tadi, ia pun membacanya, dan setelah ia agak lama terpanah melihat karcis yang aku buang tadi, lalu ia memandangku dengan cukup lama, seolah-olah ia memendam banyak pertanyaan dan rasa penasaran. Aku pun mencoba menyapanya tapi ia seakan-akan tidak mendengarkanku dan terus memandangiku dengan histeris, setelah ia sadar lalu ia melipat karcis lusuhku itu dan ia masukan ke kantongnya, tiba-tiba saja ia pergi tanpa ada kata perpisahan atau kata-kata lain, ia seperti halnya orang yang habis melihat sesuatu yang mengerihkan dan ketakutan.

Aku pun cuek aja, mungkin saja ia kaget kalau aku berasal dari daerah yang cukup jauh dari sini, pikirku saat itu, aku pun melanjutkan kegiatanku seperti biasa. Setelah aku tanya keteaman-teman sekamarku tentang siapa orang itu, ternyata dia adalah pengurus kebersihan dipondok ini, dan ia merupakan santri terlama dipesantren ini. Keesokan harinya setelah aku menjemur pakaianku yang telah aku cuci, tiba-tiba orang yang menegurku kemarin mendekatiku dengan membawa dua orang temanya yang sebaya dengan dirinya.
“Waduh, mampus aku kali ini, aku tidak bisa kabur dari takziran kebersihan gara-gara kecerobohanku kemarin.” Pikirku ketakutan ketika orang kemarin dan dua orang temannya itu mengajakku ke tempat teduh, dilokasi penjemuran baju yang berada dilantai lima koplek asramahku.
“Lho, sampean ini dari lamongan ya kang?” Tanya salah satu dari mereka.
“Iya, betul aku berasal dari lamongan.” Jawabku sambil meletakkan ember dilantai.
“Maaf lho kang, aku cuman mau tanya-tanya saja, gak bermaksud yang lain. Sampean pas dari rumah kemaren hari apa? Terus jam berapa? Dan betul sampean naik bus Sinar Pantura sesuai dengan karcis yang aku pegang ini?” tanyanya lagi padaku sambil menunjukkan karcis yang aku buang kemarin. Akhirnya aku pun menceritakan perjalananku ke pesantren sebulan yang lalu.

Aku kemari lalu hari kamis malam, sekitar jam Tujuh malam dari rumah diantar kakaku naik motor dari rumah ke tuban, terus aku ditinggal di terminal lama tuban, dan kakaku pun kembali pulang dengan berpesan supaya aku menunggu bus yang melewati jalur pantura yakni bus jurusan surabaya semarang. Setelah lama aku menunggu ada dua bus yang sangat kencang sekali, ketika aku melambaikan tanganku mereka tak memperdulikanku, mereka tetap saja kencang seakan-akan tak melihatku. Aku pun menunggu cukup lama lagi, hingga aku melihat arah jarum jam tanganku menunjukkan waktu tengah malam yang menunjuk ke arah angka sebelas.

Waktu pun terus berlalu suasana semakin sepi dan sunyi, tak satu pun orang yang berada di jalan raya ini, kecuali truck-truck besar yang mengangkut barang-barang berat, dan rasa dingin mulai mencekam tubuhku yang hanya tertutupi baju koko lengan pendek tanpa adanya jaket tebal yang melindungi tubuhku, angin laut terus berhembus semakin kencang ditambah tetesan air hujan yang mulai berjatuhan, sedikit demi sedikit untuk membasahi jalan raya dihadapanku.

Ketika aku hendak mencari tempat berteduh, dari kejauhan aku melihat sebuah bus yang sedang berjalan dengan amat pelan, aku pun dengan sabar mencoba menunggu bus yang aku lihat tadi dengan berharap semoga saja menghampiriku. Setelah bus itu pas berada dihadapanku tanpa aku melambaikan tangan, bus tersebut berhenti dan membukakan pintunya buat diriku, aku pun masuk dengan membawa dua kardusku yang amat berat itu. Pas aku menginjak kakiku dipintu masuk bus, seorang kernet yang sedang duduk di bangku paling belakang menyapaku dari kegelapan.
“Monggo mas, silahkan duduk didepan sana kebetulan dua bangku didepan sana lagi kosong belum ada orang yang menempatinya.” Tawarnya sambil menunjuk bangku yang memang betul belum ditempati orang.
Aku pun menuju bangku yang telah ditunjukkan oleh pak kernet tadi, sambil berjalan menuju bangku depan dan mengangkat kardus-kardusku aku melihat semua penumpang sudah pada terlelap oleh mimpinya masing-masing, tak satu pun penumpang yang membuka matanya.

Suasana bus kali ini sangatlah ramai, tak satu pun bangku yang tersisa kecuali bangku yang telah diwarkan kepadaku, setelah aku duduk beberapa menit dibangku itu semua lampu yang berada di dalam bus itu langsung mati seketika, dan bus pun berjalan dengan amat kencang, entah mengapa pikiranku terasa amat kacau saat itu, bulu kudukku mulai bangun satu persatu. Ketika aku melihat jalanan melalui cendala bangkuku, tak satupun kendaraan yang sedang berjalan, seolah-olah bus yang aku tumpangi ini berjalan sendirian menguasai jalanan.
Diriku pun termenung sendiri sambil menunggu petugas yang meminta uang jasa untuk ditukarkan dengan karcis bus, tak lama setelah aku duduk dibangkuku itu, tiba-tiba bus berhenti dan lampu menyala kembali, sang kernet pun menyerukan “pondok pondok, ayo mas dah sampai pondok tu, silahkan turun.”

Akhirnya aku pun bergegas mengambil barangku untuk aku bawa turun, aku pun mendekati kondektur yang ada dibelakang dan bertanya padanya, “Pak, aku tadi belum bayar ongkos bus, mang berapa harganya pak?”.
“Dah gak usah dik, gratis saja buat kamu, itung-itung shadaqahlah buat kang santri yang baru akan mondok, sudah salamku saja buat Mbah Yai dan jangan lupa belajar yang sungguh-sungguh disana, selalu ingat akan orang tuamu yang bersusah payah untuk membiayaimu.” Tegas pak kondektur itu.
Aku sangat sangat terheran-heran, “kok orang ini tahu kalau aku ini santri baru ya?” pikirku dalam hati.“Kalau begitu terima kasih banyak ya pak. Oia pak, nanti kalau aku sampaikan salam Bapak ke Mbah Yai, apa yang harus aku haturkan? Dari siapa?” tanyaku.
Dia pun dengan segera langsung menyobek karcis yang ia bawa tadi, “Dah begini saja, kau kasihkan karcis ini ke Mbah Yai, insyaallah nanti dia tau sendiri kok.”
Setelah aku menerima karcis yang diberikannya padaku, aku pun langsung turun, dengan rasa penuh pertanyaan dalam pikiranku tentang bus yang aku tumpangi barusan, “ kok cepet banget ya? Prasaan belum ada setengah jam aku naik bus barusan, padahal kata kakaku perjalanan dari tuban kemari membutuhkan waktu tiga jam, tapi kok kayaknya cuman lima belas menit saja.” Pikirku saat itu.

Ketika aku melihat suasana disekelilingku sangatlah ramai oleh para santri yang sedang berjalan-jalan dan juga ada yang nongkrong diwarung, aku pun tersenyum dengan lega telah sampai pada tujuan dengan selamat, aku pun kagum dengan suasana disini, ini kan sudah jam satu lewat tapi masih saja ramai, padahal dituban tadi jam sebelas sudah tidak ada orang lewat sama sekali.

Akhirnya aku pun berjalan masuk ke pesantren, ketika aku melewati sebuah warung makan aku melirik pada jam dinding yang ada diwarung itu, aku pun di kejutkan dengan arah jarum jam dinding tersebut yang masih menunjukkan angka sembilan, aku pun segera melihat jam tanganku yang baru saja dibelikan ayahku dua hari yang lalu, saat kulihat arah jarum jam pun sama dengan yang ada di jam dinding yang berada diwarung makan itu. Diriku pun semakin kebingungan, dengan apa yang aku lihat barusan. “Prasaan aku menunggu bus sangatlah lama, bahkan saat aku melihat jam tanganku sudah menunjukkan angka dua belas lebih, tapi mengapa sekarang kok masih jam sembilan.” Pikirku yang kebingungan dengan waktu yang menyelimutiku dari tadi. Aku pun mengakhiri ceritaku, dan salah satu dari tiga orang yang menemuiku itu bertanya padaku.
“Yakin sampean kalau ini karcis dari bus yang sampean naiki lalu? Setahuku kang, tidak ada bus yang bernama Sinar Pantura yang melintasi jalur pantura ini, yang ada itu Sinar Mandiri, Restu, PO. Indonesia, Widji atau bus-bus patas lainya. Terus karcis ini sudah sampean haturkan ke Mbah Yai?”
“Sudah kok kang, waktu aku sowan pertama kali itu.” Jawabku.
“Terus apa respon dari Mbah Yai?” Tanyanya lagi.

Saat aku menyampaikan salam Pak Kondektur, terus aku memberikan karcis itu ke Mbah Yai, lalu Mbah Yai sempat terdiam sesaat, kemudian beliau melihat wajahku dan bertanya padaku tentang kejadianku saat naik bus dan bertemu Kondektur itu, setelah aku menceritakan semua, beliau tersenyum dan berpesan padaku. “Tolong kamu ingat pesan Pak Kondektur yang telah berpesan dengan kamu itu, dan Alhamdulillah lah nak kamu selamat, bus yang kamu naiki itu terus orang-orang yang kamu jumpai itu dan kondektur yang berpesan dengan kamu itu bukanlah sama dengan apa yang kamu pikirkan, mereka semua bukanlah golongan dari kita melainkan mereka itu golongan jin yang kebetulan melintas dijalur manusia.”

Rembang, 03 Mei 2012

Baca juga Cerpen Horor yang lainnya.

Sabtu, 05 Mei 2012

Adolescentula M.A.T.I - Cerpen Horor

ADOLESCENTULA M.A.T.I
Cerpen Momo Angelina

Aku menatap tulisan di jendela yang kutulis dari uap panas mulutku. Titik-titik hujan di luar yang menetes ke jendela seolah memberi latar yang suram untuk tulisan itu. Menambah suram suasana hatiku.

Aku menatap ruang putih yang mengurungku selama seminggu terakhir ini. Dinding-dindingnya pucat, hanya berhias jam besar dari besi yang mengeluarkan satu-satunya bunyi di ruangan ini dan TV yang jarang kunyalakan. Beberapa sofa di simpan di dekat pintu masuk, yang berukuran sedang cukup besar untuk seorang dewasa tidur.

Aku menoleh, dan menatap tirai berwarna hijau muda yang mengelilingiku, kadang ditutup kalau sudah malam dan dibuka pada pagi hari. Tak terlalu berpengaruh menurutku, karena toh tak ada yang ingin kulihat, atau kudengar. Di hadapanku berdiri tegak sebuah pintu menuju kamar mandi. Untuk alasan yang aku sendiri tak mengerti, aku tak menyukai keberadaan pintu itu. Apalagi letaknya tepat di depan tempat tidurku. Kurasa kau mengerti maksudku.

Intinya tempat ini hanyalah sebuah ruang kosong yang bersih, terlalu bersih sampai nyaris tak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Kecuali aku, kalau aku masih hidup beberapa hari lagi.

Suara pintu diketuk membuyarkan lamunanku. Dengan cepat kuhapus tulisan suram di jendela tadi, dan dengan enggan menatap wanita berbaju putih yang kini memasuki kamarku sambil tersenyum.
“Selamat pagi Yuki. Bagaimana keadaanmu hari ini?”tanyanya sambil meletakkan baki abu-abu kecil yang sedari tadi ia bawa

Aku memaksakan diriku untuk tersenyum, “Baik” jawabku singkat.

Sebenarnya aku tidak baik-baik saja. Napasku agak sesak ketika bangun tadi, dan kepalaku pening sekali. Tapi aku tahu, kalau aku mengakui itu, mungkin hari ini akan aku habiskan dengan selang-selang dan sekian tes lagi.

Pandanganku beralih ke piring putih mini yang berisi pil dan tablet berwarna- warni di atas baki abu-abu tadi. “Masih belum berkurang ya?”tanyaku sambil mengernyit.

Suster itu tersenyum pahit. “Kan biar cepat sembuh”.

Setelah sarapan pagi yang luar biasa hambar tadi, rasanya sepasukan obat-obatan ini bisa kuanggap sebagai pencuci mulut. Setidaknya obat yang berwarna merah itu rasanya mirip-mirip stroberi. Atau aku ingin menganggapnya begitu.

Aku adalah seorang pengidap jantung koroner. Sejak kecil aku memang sudah terbiasa bolak balik rumah sakit untuk perawatan, dan sampai sekarang aku belum menemukan donor yang tepat. Jadi beginilah nasibku, istirahat di rumah kalau aku berbohong tentang sesak yang semakin sering aku rasakan, dan kembali masuk rumah sakit kalau aku bahkan sudah tak sanggup lagi berbicara.

Setelah memastikan aku menegak semua obat yang diberikan, suster itu membuka tirai hijauku lalu membuka jendela. Katanya cuaca sedang bagus, dan aku perlu menghirup udara segar. Sebenarnya aku lebih suka menghirup udara rumah sakit yang bau alkohol. Tapi setelah udara berbau pinus dan air hujan itu menghambur masuk kamarku, kurasa aku akan membiarkannya sebentar lagi.

Tak lama kemudian suster itu memeriksa temperaturku, dan akhirnya keluar dari kamar setelah untuk keseribu kalinya mengingatkanku untuk menekan tombol darurat kalau aku merasa ada yang salah. Iya, ada yang salah dengan TV-nya. Tidak ada saluran TV kabel. Dan koki rumah sakit ini jelas bermasalah dengan indra pengecapnya. Apa mereka mau membereskan itu?

Aku menegakkan sandaran dudukku dan mengambil novel fantasi yang kemarin diberikan oleh temanku yang sudah keluar dari rumah sakit. Dengan bosan kuperhatikan sampul plastiknya yang masih mengkilap dan judulnya yang dicetak besar dengan huruf menonjol: Eventyr.

Aku menarik napas dan mulai membuka halaman pertama ketika sesuatu menggelinding masuk ke dalam kamarku, bergulir ke dekat tempat tidur.

Benda itu adalah sebuah bola pastik berukuran sedang berwarna kuning cerah dan bergambar matahari yang tersenyum.

Aku melihat ke arah pintu kamarku yang ternyata terbuka sedikit, menunggu seseorang untuk masuk dan mengambil bola itu.

Benar saja. Ujung sepatu berwarna putih muncul di sudut pintu yang tertutup tak lama kemudian. Dilihat dari modelnya, itu sepatu milik anak perempuan.

Sepertinya anak ini anak yang pemalu. Aku menunduk sedikit untuk mengambil bola itu dan memanggilnya.
“Ini bolamu kan?” panggilku. Tak ada jawaban. “Ambillah, nanti kau tak punya mainan lagi”.

Sepatu itu masih tetap berada di tempatnya, di sudut bawah pintu yang tertutup. Aku memutar bola mataku. Sungguh aku sedang malas beramah tamah dan meladeni siapapun untuk bermain apapun.

Dengan tidak sabar ku lempar bola itu ke luar ruangan, dan seketika itu pula sepatu itu menghilang.

Aku mendengus kesal dan kembali membaca novelku. Lain kali akan kuminta susternya untuk menutup pintu rapat-rapat.
***

Aku membuka mataku perlahan dan berusaha melihat jarum jam di hadapanku yang kini masih berbayang. Aku menyipitkan mataku agar bisa lebih fokus, dan akhirnya berhasil melihat waktu saat ini: jam 11 lewat 15 menit. Aku membuka tirai jendelaku dan melihat langit yang sudah gelap. Aku baru tersadar kalau aku sudah tertidur selama 7 jam. Nanti malam mungkin aku akan terjaga sampai lewat tengah malam.

Aku menguap lebar dan tiba-tiba merasa lapar. Kuambil biskuit yang tadi sore dibawakan Ibu. Ia begitu terburu-buru sehingga hanya sempat setengah jam menjengukku dan membawakan beberapa kantong makanan. Aku sih sudah terbiasa, tapi mau tak mau aku merasa kasihan juga padanya. Sejak bercerai dengan Ayah, ia harus berjuang habis-habisan untuk menghidupi keluarga. Aku tahu persis itu, karenanya aku tak pernah protes kalau waktu beliau untukku harus dibatasi porsinya.

Remah-remah biskuit bertaburan di bajuku. Kutepuk-tepuk pelan agar remah-remah itu jatuh dengan sendirinya, ketika lagi-lagi sesuatu menggelinding ke dekat tempat tidurku.

Bola kuning cerah yang sama dengan yang tadi siang kulihat.

Jengkel, kulihat ke arah pintu, dan kudapati pintu itu tertutup dengan rapat. Dahiku mengerut. Darimana datangnya bola itu kalau begitu?

Dengan mengerahkan sisa energi yang bisa kukumpulkan, aku berusaha memanjangkan lenganku untuk mengambil bola kuning cerah yang kini berhenti menggelinding tepat di sebelah kananku.

Tanganku akhirnya berhasil menggapai bola itu (walau dengan sedikit gemetar). Rasanya dingin dan lentur, tekstur khas bola plastik.

Tiba-tiba aku melihat sekelebat bayangan, dan sesosok tangan mungil putih pucat keluar dari bawah tempat tidur dan mengenggam pergelangan tanganku.

Aku menjerit keras dan menarik tanganku secepatnya.

Lalu kembali membuka mataku.
Mimpi.
Mimpi?
Mimpimimpimimpi.

Mataku masih terbelalak lebar, dan aku buru-buru melihat tanganku. Tak ada bekas apapun disana. Kuedarkan pandanganku ke sekelilingku, dan aku tak menemukan bola itu di manapun.

Aku tak boleh panik. Aku tak boleh panik. Aku tak boleh panik. Itu tadi hanya mimpi. Bunga tidur.

Aku mencoba menarik napas pelan-pelan. Bisa gawat kalau tiba-tiba aku mendapat serangan saat ini. Kuminum air putih yang disimpan di meja sampingku dengan sedikit terburu-buru. Setelah itu kupejamkan mataku, berusaha keras untuk tidur tanpa berani melirik bagiah bawah tempat tidurku.
***

Aku meminta suster jaga untuk selalu menutup kamarku setiap ada yang keluar ataupun masuk, keesokan harinya. Entah bagaimana, aku merasa kalau penyebab mimpi burukku kemarin adalah anak iseng yang melemparkan bola plastiknya. Padahal aku tak punya phobia apapun yang berhubungan dengan bola, plastik ataupun warna kuning.

Menurut dokter yang memeriksaku hari ini, dalam beberapa hari seharusnya aku sudah boleh pulang. Asalkan aku terus meminum obatku, terangnya. Yang betul saja. Kalau aku harus meminum obat-obat itu seminggu lagi, aku curiga dokter itu pembunuh bayaran yang disewa seseorang yang membenciku. Jumlah obat-obat itu tidak manusiawi!

Kusenderkan bahuku seperti biasa, dan kulihat pemandangan di luar. Aku beruntung mendapatkan kamar dengan pemandangan taman belakang rumah sakit. Setidaknya, aku bisa melihat kegiatan menyenangkan yang dilakukan orang-orang dengan keluarga atau teman-teman mereka. Kalau kamarku yang dulu, aku mendapat pemandangan bagian depan rumah sakit, dimana aku bisa melihat orang-orang putus asa yang harus menghadapi vonis penyakit mereka, atau karena harus membayar biasa operasi yang mahal.

Mungkin itu sebabnya aku harus dirawat sampai 2 bulan lamanya.

Selagi memperhatikan orang yang sedang latihan berjalan, perhatianku tiba-tiba teralihkan oleh seorang gadis kecil manis yang memandangku dari bawah pohon rindang tepat di sebelah kamarku. Matanya menatapku sedih. Tangannya disimpan ke belakang punggung dan ia menggigit bibirnya, seolah tak berani mengatakan sesuatu padaku.

Lalu aku memperhatikan sepatu yang ia pakai. Persis dengan sepatu yang kemarin kulihat di depan pintu kamarku; berwana putih dengan ujung bulat. Dan itu dia, aku bisa melihat dia menggenggam bola kuning yang menciptakan mimpi buruk bagiku itu.

Dialah pemilik si bola kuning.

Tanpa sadar tubuhku condong ke depan, dan aku merasa beberapa helai rambutku tertarik ke belakang, entah tersangkut apa.

Sayup-sayup aku mendengar suara nyanyian yang sangat pelan, nyaris seperti berbisik. Agak samar dan tak jelas, seperti jenis suara yang kau dengar dari kaset lama yang diputar di radio kuno. Tapi aku mengenal nada ini. Aku sering mendengarnya.
...star.
How I...
what...are

Bulu kudukku mendadak berdiri. Rambutku tertarik lagi, tapi kali ini aku dalam posisi diam, dan rambutku ditarik oleh sesuatu di belakangku. Sesuatu di dinding yang kusenderi.
Above
...high..
.diamond...

Suara nyanyian itu kini terdengar jelas berbisik di telingaku. Kurasakan hawa dingin mengaliri punggungku.
“Yuki, kau sudah bangun?”

Suara Ibuku yang baru masuk ke kamarku membuatku tersentak kaget. Aku segera membalik dan tak melihat apapun di dinding. Dinding itu putih pucat seperti biasa, dengan bekas jamur samar.

Dengan cepat aku mencari gadis kecil pemilik bola tadi. Ia sudah tak berada di bawah pohon. Juga tak ada di bangku taman. Ia tak ada dimana-mana. Ia sudah menghilang.

Aku ingin pindah kamar sekarang juga.
***

Dan ternyata aku tak bisa pindah kamar. Ada bencana alam terjadi di dekat sini, dan rumah sakit sedang penuh sekali. Beberapa dari mereka bahkan dengan terpaksa harus dirawat di bangsal untuk sementara.

Aku bisa saja bersikeras untuk pindah dan memaksa salah satu pasien yang tidak punya penyakit jantung untuk bertukar kamar denganku. Tapi apa yang harus kukatakan sebagai alasannya? Ada hantu gadis kecil dengan bola plastik kuning yang suka menggangguku?

Beruntung, malam ini Ibu akan menginap untuk menjagaku. Sebenarnya aku malu untuk mengakui ini, karena aku tak mau disangka penakut. Tapi aku lega karena setidaknya ada orang lain bersamaku malam ini.

Jarum jam menunjukkan pukul 10 malam. Ibu dengan kacamata bertengger di wajahnya, menatap layar laptop-nya dengan mimik serius. Sepuluh jarinya berkletak-kletik tanpa henti seolah ingin menghancurkan keyboard malang itu dalam hitungan menit.

Rupanya Ibu sadar kalau aku memperhatikannya. Ia mendongakkan wajahnya, dan tersenyum lelah.
“Belum tidur?” tanyanya dengan suara merdu yang kurindukan.
“Belum ngantuk” jawabku.
“Mau Ibu belikan apa? Makanan? Buku lagi?”
“Gak usah, Bu. Ibu lanjutin aja kerjaan Ibu. Aku cuma mau ngeliat Ibu.”

Ibu tersenyum kembali, kali ini ada rasa bersalah di raut wajahnya. Untungnya dia cukup mengenalku, tahu persis bahwa aku akan marah kalau ia minta maaf dan mengelus-elus kepalaku seperti anak kecil. Jemarinya kembali mengahajar tuts keyboard tanpa ampun dan pandangannya fokus ke layar.

Penyakitku ini turunan dari keluarga Ibu, bukan karena aku suka merokok atau karena aku kebanyakan makan makanan siap saji. Makanya ia suka merasa bersalah, karena anak laki-laki normal seumurku seharusnya belum pulang ke rumah jam segini, sedang bermain di game centre dengan teman-temannya, atau sedang kencan dengan gadis yang diincarnya di klub pemandu sorak.

Tapi tidak, aku harus terbaring di rumah sakit karena ada yang menyumbat pembuluh darah koronerku.

Seharusnya anak lelaki seumurku bahkan tidak tahu apa itu koroner.

Pelan-pelan, mataku terasa berat. Memperhatikan ibu bekerja memang bukan kegiatan yang paling menyenangkan di seluruh dunia. Maka tak heran kalau tak lama kemudian aku menyerah pada kantuk dan aku pun larut dalam tidur.
***

TIK TAK TIK TAK

Aku selalu menganggap bunyi jam itu sangat berisik, terutama kalau tak ada bunyi lain di sekelilingmu.

Dengan pandangan kabur, aku membuka mataku. Jam menunjukkan pukul 2 pagi. Aku mengerjapkan mataku, berusaha membuatnya fokus.

Pintu kamar mandi terbuka, dan seseorang keluar dari dalamnya. Seseorang berupa sesosok bayangan hitam kabur yang berjalan mendekatiku.
“Ibu?” tanyaku dengan suara parau.

Alih alih menjawab, sosok itu berhenti tepat di depanku dan mendesis pelan berusaha menenangkan.

“Ssst”

Ibu aneh. Kalau memang ingin menenangkanku kan tak perlu mendesis seperti pencuri begitu. Tinggal jawab pertanyaanku saja apa susahnya.

Aku tak habis pikir, dan mencoba kembali tidur ketika kurasakan beban seseorang menaiki tempat tidurku, dan menimpaku. Ibu mau ngapain sih? Membetulkan lampu?
“Ibu? Ibu ngap...”

Kata-kataku terhenti ketika kudengar dengkuran halus di sebelahku. Dengan ngeri kutatap Ibu yang tertidur di sofa dekat pintu masuk, masih dengan kacamata menempel di wajahnya.

Jantungku berdetak keras, sampai sakit rasanya. Orang – atau mungkin sekarang lebih tepat kusebut sebagai sesuatu – itu masih menimpaku, aku bisa merasakan bebannya dia kakiku.

Kemudian, suara samar tadi kembali terdengar. Suara bisikan yang terdengar dari kaset tua itu menyenandungkan lagu yang sama dengan tadi siang.
Little...wonder...
are...

Kurasakan beban itu merangkak, bergerak di atas tubuhku, mendekat ke wajahku. Suara nyanyian itu terdengar semakin dekat.
“AAAAHHH!”

Dengan panik kusibakkan selimut itu dan kuhempaskan ke lantai. Sambil terengah-engah, kuberanikan diri untuk melihat entah apa yang menimpaku tadi.

Selimut yang kulempar teronggok begitu saja di lantai. Tak ada tanda-tanda sesuatu yang bergerak di dalamnya, entah itu cicak atau sesuatu yang lebih besar.

Kurasakan sesak mulai menyerang dadaku. Setengah megap-megap, aku mengambil pil kecil putih yang selalu kuminum kalau tiba-tiba jantungku kumat. Kusandarkan diriku ke dinding sambil menutup mata. Kuambil napas pelan-pelan sambil mencoba mengaturnya.

Ada yang salah di sini. Tak mungkin gadis kecil itu terus menggangguku kalau tidak ada maksudnya. Entah karena aku mengusiknya (walau pada kenyataannya aku nyaris tak pernah meninggalkan tempat tidurku), atau karena...

Lamunanku buyar ketika aku mendengar suara pintu yang terbuka perlahan. Mengerahkan semua keberanian yang kupunya sambil tetap mengatur napas, kubuka kedua mataku perlahan.

Pintu kamarku terbuka pelan. Dan sebuah bola plastik kuning memantul masuk.

Keringat dingin menetes dari dahiku. Setiap lambungan bola rasanya setara dengan satu detak jantungku. Akhirnya bola itu berhenti memantul dan berhenti di dekat kolong tempat tidurku. Aku menelan ludah, menunggu pemilik bola itu muncul.

Dan itu dia, kaki bersepatu putih itu kembali muncul di sudut pintu. Namun kali ini, jemari mungil pucat ikut menemaninya, memegang daun pintu seolah pemiliknya akan mengintip ke dalam.

Tanpa pikir panjang aku bergegas menuju pintu untuk melihat gadis kecil misterius itu dan yang kudapatkan di ambang pintu adalah rasa sakit yang luar biasa di kepalaku. Rasanya ada yang menusuk-nusuk mata dan tengkukku dengan jarum-jarum besar.

Aku meremas kerah piyamaku dengan keras, seolah-olah dengan cara itu rasa sakit kepala keparat ini bisa lenyap. Aku nyaris muntah, ketika aku berhasil membuka mata dan melihat pemandangan yang aku yakin bukan pemandangan yang seharusnya aku lihat.

Bagaikan menonton film dengan layar raksasa, bangsal rumah sakit yang biasanya bernuansa hijau, kini berwarna hitam putih. Kadang bangsal itu berkerak dan berkeretak, persis seperti ketika menonton film tahun 1920’an.

Bangsal itu sangat sepi, kuperkirakan adegan hitam putih ini terjadi di malam hari. Suasananya begitu hening. Namun tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara jeritan di dalam kamarku – yang kini sudah berwarna hitam putih juga.

Seorang gadis kecil berpiyama bergerak dengan gerakan aneh di tempat tidurnya, berkelojotan dengan mata membelalak lebar dan mulutnya mengeluarkan busa. Seorang suster berusaha mati-matian menahan tubuh gadis itu agar tidak terlempar dari tempat tidur.

Sebagian tubuh gadis itu kuperhatikan lebih hitam dari bagian tubuh lainnya. Dokter yang menanganinya tampak panik.
“Sepertinya *carbamazepine-nya. *SJS, bagaimana ini Dok?”tanya suster dengan nada yang tak kalah panik.

Gadis kecil itu tak berhenti kejang-kejang, dan walau mukanya membengkak dan menghitam, aku tahu persis bahwa itu gadis yang pernah melihatku dari bawah pohon. Bola kuning yang selalu ia mainkan pun ada di kamar itu.
“Ambilkan *hidrokortison!”seru dokter itu cepat.

Suster itu berlari keluar melewatiku. Aku meringis ngeri melihat keadaan gadis mungil itu. Kejangnya perlahan reda, hanya kepala-nya yang sesekali tersentak kuat. Tapi tak lama kemudian lengannya yang sedari tapi mengepal kuat, kini terkulai lemah di pinggir tempat tidur.

Suster itu kembali dengan cepat sambil membawa nampan, namun ia berhenti ketika ia melihat dokter menutup wajah gadis kecil itu dengan selimut.

Semacam sengatan listrik terjadi lagi, dan pemandangan yang kulihat kembali berubah. Kasur tempat gadis kecil tadi tertidur kini sudah kosong dan bersih. Namun aku melihat sosok si dokter bersama seorang pria (yang tidak nampak seperti orang medis) sedang mendorong sebuah *blangkar keluar rumah sakit.

Dengan kepala pening seperti dibelah dua, aku berusaha mengejar kedua orang itu. Aku berjalan sempoyongan, berusaha mengatur napasku sambil terus meremas kerah piyamaku. Aku akhirnya bersandar di dinding rumah sakit, kehabisan tenaga dan napas. Mimpi tidak seharusnya senyata dan sesakit ini kan?

Lalu kurasakan sentuhan lembut di telapak tanganku. Gadis kecil pemilik bola kuning itu menempelkan pipinya ke punggung tanganku. Ia kemudian menengadah, melihatku dengan pandangan memelas.

Aku tahu. Aku tahu.

Kupaksakan dan kuseret kedua kakiku ke halaman rumah sakit. Pandanganku mulai mengabur, namun aku masih bisa melihat kedua orang itu menggali sesuatu di bawah pohon. Kuangkat tanganku seolah ingin meraih mereka, dan...

DEG!

Sebuah sentakan keras bertalu di dadaku. Aku hanya sempat mengambil sehela napas dan aku pun ambruk ke tanah.
***

Tetes-tetes dingin embun membasahi pipiku.

Kubuka mataku perlahan, dan segera kututup kembali karena mataku kelilipan ujung rumput yang basah.

Bau embun dan rumput segera memenuhi rongga hidungku. Sinar matahari memang belum sepenuhnya muncul, tapi suara burung yang berkicau sudah mulai terdengar. Hari sudah pagi, aku tersadar.

Dengan tenaga sepenuhnya pulih (yang aku juga bingung kok bisa. Aku begitu habis-habisan tadi malam dan seharusnya aku bahkan tak punya tenaga untuk mengunyah sekarang) dan bertopang dengan kedua tangan, aku berusaha untuk bangkit.

Lalu kurasakan kakiku tersangkut sesuatu, dan aku berbalik untuk melepaskan apapun yang tersangkut di kakiku.

Dan aku melihat jemari putih kurus yang sudah menjadi tulang belulang keluar dari dalam tanah, menggengam pergelangan kakiku dengan erat.

Tanpa sadar aku tersenyum dan mengelusnya.
“Ternyata kau di situ ya. Jangan khawatir, aku sudah menemukanmu. Istirahatlah dengan tenang.”
***

Polisi segera mengamankan mayat Emi – nama gadis itu – dan memasang garis pengaman di sekitar pohon taman belakang. Aku lega bahwa dokter yang menangani Emi dulu sudah ditangkap dan kini sedang diperiksa. Ia mungkin akan dijadikan terdakwa dengan tuduhan malpraktek. Entahlah, aku tidak begitu mengerti hukum. Pokoknya selama dokter itu harus membayar apa yang ia lakukan, aku cukup puas.

Kini aku kembali berbaring dengan nyaman di tempat tidurku dengan perasaan lebih enak. Kejadian beberapa hari yang lalu serasa berlangsung berminggu-minggu dan menguras habis tenaga dan pikiranku.

Kabar bagusnya, dokter menyatakan bahwa kondisiku sudah lebih baik dan bisa meninggalkan rumah sakit dalam beberapa hari lagi. Ibu juga sudah mengambil cuti dan akan menghabiskan liburan denganku. Keadaan tak bisa lebih bagus lagi.

Aku mendengar suara pintu diketuk dan seorang suster bertumbuh agak gempal masuk ke dalam.
“Siang Yuki. Saya Suster Ana, yang dulu pernah menangani Emi.”

Ah, aku akhirnya mengingatnya sebagai suster yang kulihat di memori hitam putih Emi. Tapi aku tidak akan menceritakannya pada suster ini bahwa aku pernah melihatnya, bisa-bisa aku ditahan lagi di rumah sakit untuk kasus yang berbeda.
“Siang. Ada apa ya?”tanyaku tanpa basa basi.

Suster Ana tersenyum dan menyeret kursi untuk duduk di sampingku.
“Saya cuma mau mengucapkan terima kasih karena sudah menemukan Emi. Anak itu baik sekali. Waktu dia meninggal saya sedih. Dokter Henry bilang kalau mayatnya sudah dikembalikan dan dimakamkan oleh panti asuhannya, dan saya disuruh tutup mulut tentang kesalahan pengobatan yang dia perbuat. Kalau saya berani macam-macam, saya diancam akan diberhentikan dari sini, padahal saya sedang butuh uang waktu itu. Tapi saya mengaku salah juga. Saya terima kalau harus dihukum”

Aku mulai tertarik pada cerita Suster Ana. “Suster, Emi dari panti asuhan?”

Suster Ana mengangguk antusias. “Emi itu anak yatim piatu yang dirawat di sini karena epilepsinya sudah parah. Anaknya baik sekali, dia suka bermain dengan pasien sini.”

Aku mengangguk.
“Syukurlah” lanjut Suster Ana “kalau sudah ketemu begini, Ema juga mungkin akan tenang ya.”

Dahiku mengernyit. “Ema, Sus?”
“Ema itu kakak kembar Emi. Dia meninggal duluan karena penyakit yang sama namun terlambat ditangani. Dia juga anak baik, dia suka menyanyi Twinkle Twinkle Little Star, membuat kami tertawa karena dia begitu manis. Rasanya aku punya foto mereka berdua. Mana ya?”

Aku tak mendengar perkataan Suster Ana. Ataupun tertarik untuk melihat foto si kembar.

Yang kurasakan hanya punggungku mendingin. Dan kurasakan rambutku ditarik lagi dari belakang.

Samar, kudengar suara berbisik yang sudah kukenal di telingaku, menyanyikan lagu yang kini sudah bisa kutebak judulnya.
Twinkle twinkle little star...
How I wonder what you are...

Aku tak berani menengok ke belakang.
***
________________________________________________________________________
Keterangan:

*Carbamazepine: Salah satu jenis obat untuk menangani epilepsi
*SJS (Sindrom Stevens-Johnson): Kelainan serius pada kulit dan selaput lendir akibat reaksi dari obat atau adanya infeksi. Tanda dan gejala dari SJS biasanya meliputi pembengkakan di muka, lidah membengkak, sakit pada kulit, ruam kulit berwarna merah atau ungu yang menyebar dalam hitungan jam atau hari, melepuh pada kulit dan selaput lendir terutama di mulut, hidung dan mata serta kulit yang mengelupas. Bisa menyebabkan kematian jika terlambat ditangani
*Hidrokortison: Salah satu jenis obat untuk anti alergi. Digunakan untuk kasus alergi akut.
*Blangkar: Tempat tidur dorong di rumah sakit (biasa kan momo suka bgt baca ilmu kedokteran :D)

Baca juga Cerpen Horor yang lainnya.