Tampilkan postingan dengan label Cerpen Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Agustus 2012

Cerpen Cinta - Takdir Didalam Takbir

TAKDIR DIDALAM TAKBIR
Karya Arif 'Ngky' Anwar

Don't ever want to be a demon
Which follows you around.
Don't ever want to be some evil thing
Leading you astray,
For you to know me, and so love me well,
There's something you must know
And that's to show me your love is real
And take me as I am, now-and forever more

I'm nothing like a raging fire,
Consuming your heart.
Never want to be like a bed of nails,
Piercing and wounding you.
But I want to be open with you
Not to hurt you...
And though the truth hurts
I must speak honestly
'Cause that's the way I am, now-and forever more.

Or I'll become like a virus
Which only brings you down

(Virus - SLANK, Anthem for the broken hearted).
 
Hidup bukan pilihan. Pilihan-pilihan hanyalah anak-anak tangga sebuah proses dalam hidup. Hidup yang memilih kita. Bukan sebaliknya. Dan setelah itu, perjuangkanlah apapun peranmu. Itu yang benar. Kita tak pernah bisa memilih hidup kita sendiri. Jangankan hidup, lahir di rahim wanita manapun saja kita tak pernah bisa memilih. Tak boleh. Kita ditentukan. Ditakdirkan Tuhan. Tapi kalau pun kita mengeluh dengan yang kita dapatkan, itu juga tak sepenuhnya salah. Tapi ingat, siapa yang akan membela kita kalau kita mengeluh dan mempertanyakan keadilan yang seperti itu? Tidak ada, bukan? Tak seorang pun, tentu. Karena memang tak perlu.

Terserah, kalian mau setuju aku atau tidak? Melihat atau menilainya dari sisi siapa, bagaimana, dimana atau apa? Tapi kalau nanti kalian berkesempatan terpilih mengalami yang seperti aku alami sekarang ini, ingatlah opini murahan aku itu.
Dan sekali lagi, saranku : jangan sampai pernah mengeluh. Apalagi berulah. Berontak berarti menambah masalah. Kalian pasti setuju-lah? Kalau pun tak mau atau tak kuat, hindari sajalah. Mengalah. Tak usah malu disebut pecundang. Akui saja kalau kalah berjuang. Kalau perlu, menghilang. Dan itulah yang aku lakukan sekarang. Mau ikut?

Seperti ajakan yang tolol, memang. Seperti tololnya aku sendiri yang tak mengerti, bagaimana bisa aku sampai di tempat ini. Tempat yang tak asing sebenarnya. Dulu waktu masih aktif nge-band, 'ngamen' cafe to cafe, sebenarnya aku cukup sering kesini. Apalagi kalau bulan Ramadhan, seperti yang baru lewat beberapa jam saja barusan. Sebulan kemarin saja, aku pun bisa dibilang cukup sering juga kesini. Bedanya, di waktu yang aku punya sekarang, kebanyakannya aku datang justru bukan di waktu berbuka puasa seperti biasanya, tapi menjelang sahur. Tapi juga jujur, kalau aku bisa menyambangi tempat ini bersamaan dengan suara takbir Idul Fitri seperti sekarang, aku bener-benar tak pernah menyangka. Terbayang saja, rasanya tidak. Apalagi berharap. Karena mind set-ku hanya satu, Idul Fitri adalah waktu berkumpul dengan keluarga. Titik !!!

Tapi juga sungguh, aku lupa. Tuhan memang selalu memberi yang kita butuhkan. Bukan selalu yang kita mau. Mauku jelas, seperti orang lain. Seperti tahun-tahun biasanya. Mudik. Berkumpul dengan seluruh keluarga di malam takbir. Apalagi masih banyak tradisi juga, yang masih dilestarikan di kampung halaman mama-papa yang memang satu desa di Purwakarta itu.
Oh, ini waktunya malam 'Adu Bedug' kalau di sana? Tadi sore, mama pasti sangat sibuk 'kirim-kiriman rantang'? Hmm...Mama pasti sibuk sendirian. Kehadiran wanita itu pun, aku yakin hanya bisa membuat mama lebih senang saja. Tak lebih. Kurangnya, malah membuat repot saja. Lidahnya tak akan pernah bersahabat dengan makanan-makanan kampung.

Dan tempat ini, untukku sekarang ini sudah berubah menjadi sebuah surga. The real heaven of world. Thank's God.
Ya, surga yang aku dapatkan tanpa harus meninggal dahulu. Tanpa harus mengumpulkan amalan-amalan. Surga yang hanya berbayar teranaktirikan kemarin dulu. Surga yang hanya bertiket maha sabar. Mengalah. Ikhlas. Surga yang berpenghuni puluhan anak-anak kecil yang biasa memanggilku kakak. Tulus. Sangat-sangat tulus, meski tanpa ada ikatan darah sekalipun...

...


***
Purwakarta, Juni 2011,
"Ya Alloh, kalau memang ini takdirku, aku ikhlas...!!!" do'aku di ba'da ashar, atau belum genap 24 jam dari sejak mama mewanti-wanti aku yang bisa saja terlangkahi adikku, katanya. Dan doaku hanya itu. Tak lebih. Di mesjid, diatas tanah wakaf almarhumah nenek buyutku yang tepat di belakang rumah nenek, dimana setahunan lebih ini mama-papa bersama adik bungsuku juga tinggal sekarang.

Tapi kenapa juga, mereka semua sampai harus memakai alasan kesehatan nenek untuk membuat aku datang dan di-'vonis' seperti ini? Kenapa tak jujur? Tak terbuka?


***
Purwakarta, Juli 2011,
"Ya Alloh, ada apa sebenarnya? Beri tahu aku apa-apa yang aku tak tahu. Beri tahu aku tentang maunya mereka? Tentang Widya yang kembali? Aku mohon ketenangan untuk menghadapinya. Amin !!!" do'aku, di magrib terakhir di Ramadhan 1432 Hijriyah, di tempat yang sama.


***
Bandung, Oktober 2011,
"Apa? Bener orang tuanya ngomong gitu?" tegasku ke mama.
Aku kaget. Pikiranku langsung melayang. Aku tak bisa membayangkan, bagaimana adikku yang belum pernah berpacaran sekalipun sebelumnya itu, dan harus dikagetkan dengan omongan yang bernada ancaman ?
"Sialan..." gerutuku, sangat pelan dan tanggung.
Dari kemarin, aku sudah bilang, malah berulang-ulang, kalau aku cukup mengerti perasaan mempunyai anak perempuan yang sedang dikejar-kejar usianya untuk menikah. Egois tentu, kalau aku tak memberi jalan ke adikku untuk lebih dulu menikahi wanita yang umurnya empat tahun lebih tua darinya itu. Apalagi, tiga bulan yang lalu, Widya telah kembali ke pelukan aku. Aku sudah cukup tenang-lah. Apa harus aku bilang terus-menerus?
Lagian, aku juga masih punya iman. Punya Tuhan. Aku sangat percaya takdir. Aku juga punya hati. Tak perlu mengancam adikku dengan batasan waktu. Kalau perlu, tak perlu pedulikan aku. Tapi juga jangan seenak-udelnya dengan uang kalian. Not for Sale untuk harga diri !!!
Mama masih belum bicara lagi.
"Ya udah lah, kita lihat aja sampe akhir taun...? Kita liat arahnya mereka kemana dulu? " ajakku ke mama. "Kalo bisa sih, mereka Arif undang kesini. Kita bareng-bareng omongin baik-baik..."


***
Bandung, Desember 2011,
"Hhehe...emang ngawinin kambing-apa?" sanggahku ke mama.
Aneh. Aku sangat tahu betul siapa mama. Aku sangat dekat dengan mama. Dari empat anak mama yang ada, yang semuanya laki-laki, aku berani disurvey kalau aku-lah yang paling dekat dengan mama. Saking dekatnya, aku akan sangat bisa protes hal-hal kecil ke mama. Baju undangan mama yang tak matching, misalnya. Atau kita akan berselisih kecil, hanya gara-gara mama yang ingin di cat rambutnya saja yang mulai ditumbuhi rambut-rambut senjanya itu. Begitu juga mama, yang dulu sempat terang-terangan mencibir hanya karena aku suka SLANK.
"Iya sih, Arif sama si neng udah sepakat gak usah dipestain. Tapi tetep kan harus di-planning. Masa ngelamar sekarang, nikahnya harus besok..."
Dan setahu aku, mama adalah orang yang super sangat hati-hati. Apalagi, untuk masalah besar seperti ini. Walaupun dengan niat bercanda, mama tak akan pernah tidak hati-hati.
"Ada apa sih, Ma?"
...


***
Bandung, Januari 2012,
"Kebijakan?..."
Ada harapan yang dinantinya di mata papa.
"Bukannya mereka yang maunya sampe akhir taun? Undangan Arif kan ikut batasan waktu mereka..." cerocosku. "Arif udah bilang, kalo mereka gak nyuruh mundur berarti mereka munafik. Kalo ngomongnya sama tingkahnya sejalan berarti ngajak ribut..."
Sepertinya, dari tadi, papa memang terlalu berhati-hati bicara karena terlalu banyak menyimpan sesuatu.
Aku hisap dalam-dalam rokokku.
"Jadi kalo misalnya mereka datang sekarang..."
"Gak !!! Telat !!!" sergapku.
Sebentar, situasi hening.
"Tapi adikmu kan laki-laki, di belakang dia bisa saja kan...?"
Sekilkas, aku seperti dapat sesuatu dari mata papa. Tapi entah itu apa?
Sebentar lagi, kembali hening.
"Kalo pun sampe nekat gitu, ya silakan..." akhirnya, kataku. "Berarti sekarang Arif tau-lah, kalo Arif ternyata punya adik banci...!!!" tambahku, meninggi. "Dan Arif minta, pa... Mama-papa jangan sampe kasih tau Arif hari 'H'-nya. Itu aja."
Aku langsung mencoba menghubung-hubungkan semuanya dengan cepat. Mama yang mendadak berubah? Adikku yang menghilang dua bulanan ini tanpa ada kabar? Kabar-kabar dari teman-teman aku di Purwakarta? Selentingan-selentingan teman-teman adikku disini? dan bla bla bla...


***
Bandung, Februari 2012,
Akhirnya, yang aku tidak maui itu terjadi juga. Adikku married di belakangku, kakaknya. Mama-papa bahkan kakakku satu-satunya yang sekarang serumah itu pun benar-benar tidak memberitahu aku, sesuai pintaku ke papa. Tak ada yang salah. Ini takdirku. Untuk tidak memberitahuku pun, itu mauku. Tapi apa sih yang ada di hati orang-orang terdekat aku itu? Aku benar-benar tak bisa membayangkan mereka yang akan sembunyi-sembunyi Purwakarta-Bandung menikahkan adikku dari aku? Apa juga yang ada di hati-hatinya keluarga si perawan tua itu??? Ah, dasar keluarga iblis !!!

"Ya Alloh, Demi nama-MU, dari kemarin hamba sudah menerima takdir-MU ini dan hamba akan terus menerimanya... tapi maafkan hamba, hamba benar-benar tak mampu menerima cara-cara dzalim mereka semua... Ya Alloh, tunjukkan dengan nyata kebesaran-MU... kemahaadilan-MU... Amin." aduku di sajadah tahajud biruku.


...

12 Pesan baru.
16 Panggilan tak terjawab.
Ya, dari beberapa nomor, memang. Hanya dari sejam-man terakhir. Dan pastinya, panggilan dan pesan dari nomor 'Rock N Roll Mom' dan 'Neng Wid'-lah yang paling banyak. Tapi untuk apa? Untuk menyuruh aku lebih bersabar lagi? Merayu untuk lebih mengalah lagi? Lebih ikhlas lagi? Atau mungkin hanya ingin berbasa-basi bertanya, "Kamu dimana?", "Kok gak ke Purwakarta?" atau bla bla bla. Basi !!! Atau malah mau menyalahkan aku lagi dengan alasan keluarga, keluarga dan keluarga?

"...Masa sih sama saudara mau musuhan?..." kalimat saktinya mama.
"...Masa sih sama saudara mau culas?..." punyanya aku.

Dan sungguh, untuk sekarang ini, aku harap jangan ganggu aku dulu. Aku seperti sedang disuruh Tuhan untuk berdzikir bersama mereka malam ini? Bersama Ahmad yang konon terlahir antah-berantah dan ditemukan si pejalan kaki di depan gerbang panti yang putih itu dalam kardus bekas mie instan. Bersama si jagoan kecilku Bayu, yang sempat semalaman bermalam di teras rumah penduduk sebelum ditemukan Ibu Mia, si pemilik panti yang mau ke pasar. Bersama adik-adik cantikku Mela, Medina dan Nurul yang dulu ditinggalkan di rumah sakit, ketika baru beberapa jam saja keluar dari vagina mahasiswi-mahasiswi bejat. Bersama si anak ajaib Heru yang ditemukan di pinggiran sungai yang dangkal di kaki bukit pinggir kanan panti asuhan ini tanpa menangis. Dan banyak-banyak lagi. Adikku ada puluhan jumlahnya di sini.

Aku tak bilang, aku senasib. Aku juga tak bilang, aku sama dengan mereka. Aku jelas beda. Aku jelas masih sangat-sangat beruntung. Dan aku percaya, kemarin mama-papaku hanya sedang khilaf saja. Walaupun sekarang, semuanya tak ada lagi yang tak mungkin terjadi ke aku. Bukan sebuah kemustahilan, kalau aku ke depan bisa saja terusir menjadi bagian dari keluarga aku sendiri. Bukan tak mungkin. Sekali lagi, bi-sa sa-ja ter-ja-di !!!

Ah, aku mungkin tak pintar mendramatisir cerita dengan tulisan. Tak pandai bermajas. Terlalu polos. Slenge'an. Begitu pun ketika aku akhirnya membalas juga SMS dari mama, menuruti saran adik cantikku, Lestari:
"Ma, Pa... Ini bukan satu-satunya masalah kan?
Bukan di masalah ini saja Arif sempet sangat-sangat sabar kan?
Ma, tau kan kenapa Arif gak mau lebaran di sana?
Masih inget sumpah Arif kan?
Kabari Arif, kalo si anjing Yanti itu udah pulang?
Baru Arif akan mudik ke Purwakarta.
Ini mengalah Arif yang terakhir, Ma.
Kalo taun depan mereka gak mau ngalah, Arif janjiin, kalo gak di sana berarti di bandung bakal ada kriminal dari Arif !!!
Maafin Arif, Ma, Pa.
Ini hanya protes Arif !!!
Wassalamu'alaikum"

"Alloh tidak menyukai perkataan buruk, (yang diucapkan) secara terus terang kecuali oleh orang yang di dzalimi.
Dan Alloh Maha Mendengar, Maha Mengetahui."
(An-nisa : 148)

Dago, Bandung, 18 Agustus 2012

PROFIL PENULIS
Nama KTP : Arif Anwar
Call Name : Ngky (koq jauh banget? Hhehe)
Blog : arifngkyanwar.blogspot.com
Facebook : www.facebook.com/arif.ngky.anwar
Twitter : twitter.com/iamNGKY
"Let's to Friendship, guys !!!"

Baca juga Cerpen Cinta yang lainnya.

Minggu, 08 Juli 2012

Cerpen Kehidupan - S I L A

S I L A
Karya Eko Amriyono

Sila turun dari motorku, berdiri sejenak. Memandang purnama yang bertengger di langit, sambil menggenggam tanganku. Sila melebur dengan samar cahaya bulan di sela-sela tubuh burung-burung gereja yang terbang berbaris, lalu hinggap di atap pertokoan. Bangunan pertokoan itu sudah tua, gelap, dan seolah-olah tak berpenghuni. Aku pun tak membuang pandang.
Masih seperti dulu, pusat kota ini hanya hidup hingga petang, namun mati di malam hari. Beberapa wanita berdandan menor tampak menggoda setiap lelaki yang lewat. Pedagang-pedagang kaki lima di sudut pertokoan, berbaring di dalam gerobak miliknya menanti pembeli. Bau comberan di parit-parit depan pertokoan itu, berhamburan keluar, menyengat.

Wanita-wanita di sini, dengan aroma parfum yang harum menyengat, memang tampil menawan. Tapi Sila, tetaplah gadis yang menjadi pusat perhatian di mataku, karena pancaran wajahnya. Ia bagai peti yang menyimpan cahaya. Beribu-ribu cahaya yang pernah singgah di lingkungan pertokoan ini, tak pernah lagi kembali, karena menyatu menyelubungi wajahnya. “Seharusnya aku bernyanyi di cafe malam ini.” Kata Sila. Wajahnya memancarkan keteduhan. Kulitnya putih bening, dengan rambut lurus sebahu, terlihat kesempurnaan wajahnya. Seolah membuktikan bahwa ia memang lahir pada malam bulan purnama.

Aku tak sanggup untuk menghiburnya. “Padahal aku sudah berlatih keras untuk dapat menyanyikan lagu yang rencananya akan kubawakan malam ini.” Kata Sila. Matanya kini menatap jalanan tempatnya berpijak. “Seandainya saja bos tidak termakan hasutan perempuan itu...”
“Barangkali ini ujian untukmu. Aku yakin kelak, kau akan menjadi penyanyi terkenal.” Cepat aku memotong kalimat yang diucapkannya. Sila berusaha menyembunyikan kegundahan di balik wajah lembutnya, wajah yang bersinar, disiram cahaya bulan.

Kami berjalan ke arah salah satu pelataran toko. Cahaya lampu jalan serupa pancaran sinar purnama, menerangi langkah kami. Seorang laki-laki berambut panjang dengan jaket kulit hitam melintas, memetik senar gitar, menyanyikan lagu balada. Sila tampak sinis menatap, namun matanya lekat mengikuti jejak si musisi jalanan. Laki-laki itu berangsur-angsur mengecil, lalu hilang ditelan jarak.
“Lebih enak menjadi pengamen, meskipun bersaing satu sama lain, tapi tetap berteman.” Ucap Sila. Matanya memang memandang ke depan, tapi aku yakin tatapannya kosong. Aku hanya diam, mencoba memaklumi perasaannya.

Cahaya yang menerangi pelataran toko tempat kami berdiri, meredup. Lampu di atasnya telah dipadamkan oleh sang pemilik. Tinggal lampu jalanan, bias sinar rembulan dan tusukan cahaya bintang yang kini menerangi kami. Dengan mata terpejam, Sila merenungkan kembali apa peristiwa pedih satu jam yang lalu, saat ia harus terpaksa meninggalkan pekerjaannya, dipecat oleh pemilik cafe secara sepihak. Sila membayangkan peristiwa itu dengan tubuh tertahan. Lama-kelamaan, raut penderitaan muncul. Aku menyaksikan air mata bergulir di wajahnya yang lembut.

Masih dengan keadaan jiwa yang terpecah belah, Sila berjalan meninggalkanku begitu saja, menyusuri trotoar dengan cepat, sambil menundukkan wajah. Aku dengan sigap langsung mengejar dan mencoba menghentikan langkahnya, berharap ia akan mengadukan kesedihan hatinya. Tapi ia tetap melangkah. “Kau pulang saja, jangan ganggu aku!” Pintanya. “Apa kau memang tak memerlukanku?” Aku masih mencoba mengejarnya. “Kau bukan siapa-siapa. Sekalipun kau kekasihku. Aku tetap tak mau diganggu oleh siapa pun.” Ujarnya, semakin mempercepat langkah.
“Jadi, untuk apa kau memintaku menjemput lebih awal?”
Tersentak, ia mendengar ucapanku. Aku tahu, ia mulai menyadari ada sesuatu yang salah dilakukannya. Apalagi ia tahu aku tadi terpaksa meninggalkan teman-temanku di warung kopi, karena harus menjemputnya. Tapi, kesadaran itu tak cukup mampu menghentikan langkah kakinya yang terus meninggalkanku.
Aku tahu, aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanyalah tukang ojek pribadinya yang harus siap sedia mengantar dan menjemputnya bekerja. Seiring berjalannya waktu, kebersamaan kami berubah menjadi kedekatan. Aku yang pada awalnya diupah sebesar dua ratus ribu per bulan, mulai merasa enggan menerima pemberiannya.
Melihat perubahan sikapku, ia mencoba mencari tahu, dan bertanya, “Kenapa sih, belakangan ini, tiap kali aku memberi uang, kau selalu menolak?” Aku tak pernah menjawab pertanyaan itu, hingga sekarang. Entah karena pertanyaannya tak pernah kujawab, atau karena aku yang selalu siap membawanya kemana saja, meskipun bukan untuk bekerja. Ia akhirnya luluh, “Ya, sudahlah, kalau begitu maumu, aku sih oke-oke saja. Siapa yang tidak mau dapat ojek gratisan?”

Saat Sila mengatakan hal itu, Aku sebenarnya sedikit tersinggung. Aku merasa bukan tukang ojeknya lagi. Sekalipun aku bersedia mengantar dan menjemputnya, hal itu kulakukan, semata-mata untuk menunjukkan bahwa aku adalah seorang teman yang baik dan mau menolong tanpa pamrih. Aku ingin ia menyadari hal itu. Tapi, tak sampai hatiku untuk mengatakannya, karena takut ia merasa tak enak hati, lalu menghindar dariku.
Hati dan pikiran seseorang tak pernah tetap. Sila yang tadinya masih menganggap aku tukang ojek pribadinya, malah seolah tak mampu hidup tanpa diriku. Satu hari saja aku tak ada di sisinya, entah itu karena sakit atau karena aku sedang ke luar kota, ia seperti kehilangan pegangan, setiap dua jam sekali menelpon untuk sekadar bertanya kabar atau menceritakan segala sesuatu yang dialaminya saat menjalani hari-hari tanpa diriku.

Saat ini pun demikian, ia yang tadinya memintaku menjemputnya dan mengajakku pergi ke tempat yang sunyi ini. Sekarang, malah meninggalkanku begitu saja. Kemana dia? Kendaraan apa yang ditumpanginya? Bagaimana keadaannya sekarang? Semuanya. Aku tak tahu sama sekali. Dalam pikiranku sedang berpadu bimbang dan cemas.

Cahaya bulan mulai memudar saat tengah malam, ketika ruas jalan di depan pertokoan menyepi. Hiruk pikuk nyanyian burung gereja satu persatu meninggalkanku. Yang tersisa hanya beberapa ekor kelelawar, terbang hilir mudik memotong siulan angin. Beberapa pedagang kaki lima, meninggalkan gerobaknya dan pulang. Ada yang ceria karena banyak barang dagangannya yang laku, adapula yang menggerutu karena tak banyak barang dagangannya terjual dan adapula yang menunjukkan raut wajah datar, seolah tak memikirkan apapun.

Aku memutuskan untuk pulang, namun aku tetap akan menyisir jalanan, berharap menemukan Sila dan mengajaknya pulang. Tiba-tiba, sebuah mobil sedan mewah, berhenti tepat di depanku. Rupanya sang pemilik cafe. Dia lantas, menghampiriku. Raut wajahnya berbeda. Sepertinya, ada kegundahan dalam dirinya, “Kamu lihat Sila?” Tanyanya, ketika menghampiriku. “Dia pergi berjalan kaki ke arah sana.” Jawabku, sambil menunjuk ke arah tikungan.
“Mestinya kau tak membiarkannya pergi sendiri. Bagaimana jika terjadi apa-apa pada dirinya? Bagaimana kau ini?” Kata pemilik cafe. Ditinggalkannya aku begitu saja. Seharusnya kau berdiri dulu di depan kaca, sebelum memarahiku, gumamku dalam hati.

Menyisir setiap ruas jalanan dengan perlahan, dari kejauhan aku melihat sosok Sila sedang berjalan kaki, melangkah pelan, sambil menjinjing tas merah kesayangannya. Meskipun beberapa pengendara menggodanya, tapi untunglah, tak ada satupun yang berniat kurang ajar. Ia terus berjalan. Aku tahu, hatinya pilu. Seandainya saja dia mendengarkan nasehatku, perihal perangai Yumi, penyanyi saingannya itu, tentu kejadian malam ini tak akan terjadi. Ketenangan memang dibutuhkannya malam ini. Dalam sedih ia memang senang menyendiri. Aku tahu itu. Ketika beberapa bulan lalu ia tak sudi berbicara dengan siapapun, setelah memergoki pacarnya tengah berduaan mesra dengan wanita lain, ia pun demikian. Apakah kali ini ia juga merasakan kesedihan yang sama?

Aku tak tahu, apakah ia akan terus melangkah, berhenti atau memakiku. Denyut jantungku kencang berdetak hingga terasa di permukaan kulit. Suara motorku perlahan tenang, namun gemetar. Tetap saja sosok itu terus berjalan. Sila tak berkenan untuk dihampiri. Tetap menyusur pelan di belakangnya, aku memandangi setiap ruas trotoar yang beberapa diantaranya sudah mulai retak, dan tampak pula bekas-bekas bungkus rokok, dilindas begitu saja oleh Sila.

Dinginnya angin mengabarkan kedatangan dini hari, ia seperti menyerahkan peristiwa menyakitkan itu termakan alam. Aku memberanikan diri untuk mendekati. Ia justru semakin melenyapkan diri dalam balutan kediaman, seperti tak mendengar ada kepedulian bersuara di sampingnya. Ia terus melukis kepedihan, lewat langkah kaki yang perlahan.

Aku sedikit mendahuluinya, memandangi wajahnya. Ia hanya memandang ke bawah, menahan derai-derai air mata. Kecantikannya tak lantas luntur. Ia justru menjelma menjadi seorang putri, penuh pengorbanan, sekalipun menangis, tetap merawat dengan setia sang pangeran pujaan hati, yang terluka karena berperang. “Aku tak memintamu mencariku.” Kata Silas ketus. “Aku tak mencarimu. Aku hanya kebetulan lewat dan melihatmu.” Kataku, sambil menjaga keseimbangan motor yang kukendarai.

Memang tak ada keinginan Sila untuk memintaku mencarinya. Ia membiarkanku tetap mengiring di sampingnya. Aku terus memandanginya sesekali melihat ke depan, agar tak celaka. Ia terus berjalan dan tak mau ambil peduli dengan kehadiranku. “Apa kau cukup mampu menghiburku?” Tanya Sila, setengah menantang. “Aku ditusuk dari belakang. Telah lama sebenarnya aku ditepikan, telah lama pula aku merasa diasingkan, dan sepertinya, telah lama pula bos ingin memecatku.” Lanjutnya.

Suara Sila berat, menusuk, dan tak tersekat. Ia seolah kehilangan kemampuan untuk menyembunyikan kesakitan yang menyerang di bilik hati. Lewat kata-katanya, aku memahami betapa sakit dikhianati Yumi, seorang sahabat, yang tak lain adalah sepupunya sendiri, anak dari adik ayahnya, yang dulu terseok-seok hidup di kota, tanpa pegangan hidup. Sebelum akhirnya Sila, membawanya ikut bekerja di cafe, menjadi penyanyi, untuk menghibur para pengunjung yang sedang asyik menyantap hidangan.

Menjelang dini hari, rembulan memudar, udara menelurkan embun. Aku mengajak Sila pulang. Kali ini ia tak menolak. Namun, aku tak ingin menoleh ke bawah, menyalah artikan dekapan kedua tangannya yang erat di pinggangku. Lain kali barangkali, aku akan mengabarkan pada Sila, bahwa aku sudah memiliki sebuah restoran, dan memintanya mendampingiku mengelola restoran itu, hingga pada akhirnya kami menghasilkan keturunan, yang dapat meneruskan usaha kedua orang tuanya.

September, 2007

PROFIL PENULIS
Nama Lengkap : Eko Amriyono
Nama Panggilan : Eko
Asal : Pontianak
Tempat dan tanggal lahir : Pontianak, 24 April 1984
Alamat : Jalan Gusti Hamzah, Gang. Pancasila 5, Pontianak, Kalimantan Barat.
Aktivitas Seni : Dewan Penasehat Komunitas Seni Jalan Lain (KSJL) STKIP PGRI Pontianak.
Karya Seni yang Pernah Dipublikasikan :
Puisi dan Cerpen di Surat Kabar Lokal Kota Pontianak
Naskah teater berjudul "Tutup?" yang dimainkan di Aula STKIP PGRI Pontianak
Naskah komed "Bantal Ember" Adaptasi dari ide cerita seorang sahabat yang juga seorang cerpenis di Kota Pontianak (Kalimantan Barat)
Facebook : Eko Amriyono
Email : zpublisher@ymail.com
Twitter : @ekokasjel

Jumat, 22 Juni 2012

Cerpen Kehidupan - Harapan Jenius

HARAPAN JENIUS
Karya Agnes Oktavia Inggar Damayanti

Awal kehidupan dari bawah tentunya juga akan mempunyai ilmu yang masih bawah. Keinginan menjadi Bintang belum terfikirkan dalam otakku. Karena masa kecilku aku masih hanya mengetahui hal-hal yang kecil ya seperti main, belajar. Dan dalam belajar saja aku masih dalam tahap meraih pintu ilmu dunia.

Guru yang paling setia mengajariku tak lain adalah ibuku sendiri saat TK meskipun aku sekolah aku jarang masuk otak karena biasalah guru killer. Dirumah akuu diajari ibuku menulis, membaca huruf demi huruf hingga aku bisa mencapai kalimat dan tentu bisa mmbaca cerita.

Saat aku memasuki SD kelas 1 awal aku beradaptasi di sekolah itu, selama 1 tahun aku tidak mencapai tingkat baik nilaku jelek pokoknya tidak memuaskanlah dilihat tapi syukurnya aku naik kelas tentu ke kelas 2 ya. Di kelas 2 aku bisa mengerti hal-hal banyak tentu keinginan ya harapan disitulah dan saat itulah harapan muncul dari relung hatiku.

Aku belajar naun aku dari dulu aku tidak pernah belajar ngetril seperti tidak lihat tv aku selalu lihat tv dengan belajar namun aku selalu mudeng dan bisa. Di tingkatan kelas 2, peningkatan tampak saat itu yaitu aku mendapat ranking 4 hal yang tak disangka datang. Yang mulanya kelas 1 membaca saja masih kurang di kelas 2 aku bisa meraih peningkatan drastis.

Pergantian jenjang membuatku semakin dewasa tentunya dalam berfikir. Aku mempunyai harapan menjadi pintar. Dannnnn untuk jadi pintar di SD ku, saat itu sulit karena persaingan antar murid sungguh menantang karena teman-temanku anak yang pintar-pintar. Namun harapanku tak pernah pupus akan apa realita yang ada aku selalu bisa masuk 5 besar/ 3 besar. Dan dari dulu angka keberuntunganku selalu 4 saat SD aku sering ranking 4 naun ranking 3 aja 1 kali 6 tahun.

Masa SD usai saatnya aku masuk jejang lebh tinggi SMP. Aku bisa masuk di SMPN 02 Batu. Disitu harapan besarrrrku bangkit. Aku selaaaaaluuu berharapan besar dan itu aku imbangi dengan belajar giat. Di masa SMP aku selau belajar belajar belajar saja aku jarang main keluar karena aku selalu dikamar terus. Setelah aku analisa persainganku di SMP lebih berat karena temanku semua pintar sekali jadi aku kayaknya harus bisa jadi no.1 nih di SMPN 02 Batu. Dari dulu impanku itu dan harapan terbesarku aku ingin ikut lomba hingga tingakat nasional/internasional.

Aku ingin seperti di tv-tv mereka bisa jadi terkenal karena kepintaran mereka dan katanya karena usaha giat belajar giat dan brdoa. Aku selalu mencobanya sampai-sampai 1 hari aku belajar 9 jam sambil nonton tv. Usahaku dan niatku besar untuk jadi terbaik terpintar menjadi bintang. Aku mempunyai harapan yang sangat besar untuk menjadi jenius.

Namun kenapa aku masih saja tidak jadi no.1 padahal aku orang yang punya semagat tinggi untuk menggapai cita-cita karena aku ingin mempunyai masa depa yang cerah yag baik. Aku tidak ingin menjadi anak yang ikut pergaulan bebas dan akhirnya masa depan cerahku tak bisa kudambakan lagi aku tidak ingin menjadi seperti itu.

Setiap hari aku selau berdoa kapan usahaku ini akan Tuhan hargai dan ia bisa memberikan hasil yang apa kuinginkan untukku. Hanya doalah yang bisa kucurahkan untuk Tuhan surat-surat kecil aku tujuka untuk Tuhan karena aku selalu menunggu jawaban darinya aku tidak pernah menterah sebelum cita-citaku menjadi jenius no.1 di Indonesia bisa tercapai aku yakin ini bukanlah khayalan yang tidak bisa tercapai , karena keinginan itu tergantung dalam diri kita.

Usahaku, niatku, harapaku begitu besar aku tidak menyerah untuk menggapai semua ini aku ingin menjadi terbaik namun rasanya hasilnya akan begitu lama karena aku seperti diuji oleh Tuhan. Namun akankah dia mengabulkan haraanku ???. katanya Tuhan suka oleh hambanya yang pantang menyerah dan aku ingin buktikan aku adalah salah satu dari ucapannya.

Aku tidak akan menyerah menggapai apa yang terbaik untuk hidupku karena aku ingin hidup bahagia dan aku akan buktikan kepada seluruh dunia bahwa aku Agnes adalah seorang gadis yang akan bisa menjadi terbaik di Indonesia. Karena akulah berlian, emas Indonesia.

Namun kenapa orang lain selalu beraggap negatiif. Apalgi murid sekolah , harapa emas mereka selalu mengatakan yang inilah sensasi inilah khayalan tinggi yang fatamorgana deh. Aku selalu heran pada orang seperti itu apa dalam hati mereka , mereka tidak ingin punya masa depan cerah apa mereka tidak ingin jadi terbaik jadi pintar. Keapa mereka hanyya memfikirkan kesenangan semata yang saat itu. Andai saja dunia dipenuhi manusia yang punya harapan tinggi dan pantang menyerah pasti dunia ini akan menjai bumi indah .

Minggu, 22 April 2012

Kehidupan Keluargaku Dan Aku - Cerpen Kehidupan

KEHIDUPAN KELUARGAKU DAN AKU
Cerpen Harris Christian Hose

Ya, inilah aku orang yang mempunyai keuangan atau perekonomian yang standar, ayahku
Yang bekerja dan ibu yang menjaga rumah dan toko.Aku mempunyai saudara yang satu perempuan dan yang satu laki-laki.Saudaraku yang perempuan yang setelah lulus SMA dia tidak mau kuliah dan akhirnya iabekerja dengan teman ibuku di Jakarta. Yang laki-laki diasangat nakal, akibatnya aku sangat tidak suka dengannya, akibatnya pasti aku yang disalahkan dengan orang tua-Ku karena aku kakaknya.Pada saat aku SD, aku tidak naik kelas akibat aku yang tidak dapat melihat dengan jelas.Setelah itu, aku tetap berada di kelas itu atau tinggal kelas dan akhirnya aku sekelas dengan adikku yang sangat nakal itu.Setelah aku lulus SD, aku melanjutkan sekolah ke SMP.

Aku yang jelas lebih dewasa setelah memasuki SMP aku lebih tahu tentang orang tua-Ku atau aku lebih mengerti tentang yang dikerjakan oleh orang tu-Ku.Aku menjalani hidupku dengan teman-temanku yang aku cintai.Setelah aku SMP kelas 7 atau kelas 1 SMP aku naik kelas 2, ayahku di PHK oleh pihak yang memperkerjakan ayahku.Setelah itu aku sangat sedih dan bingung bagaimana aku dapat makan bila kepala keluargaku yang tidak lagi bekerja?Dan ibuku yang diwarung atau toko bagaimana dengan mudahnya?

Setelah ayahku di PHK dia sering bertengkar dengan ibuku.Akibatnya, ayahku berpikir bila anak-anak-Ku tidak sekolah apakah dapat bekerja? Pada saat itu ayahku meminta bantuan dengan saudaranya untuk membiayai aku dan saudaraku untuk tetap bersekolah.Ternyata saudaraku ingin membantu ayahku untuk menyekolahkan aku dan adikku.

Ayahku akhirnya juga ikut menjaga took tetapi setelah ayahku menjaga di toko.Ia menjadi sangat stress dengan ibuku yang sangat membuatnya sangt marah.Karena ibuku yang biasanya di took sekarang-sekarang ini ia sering pergi-pergi dan selalu bermain dengan teman-temanya setelah ayah yang. Menjaga tookku menjadi lebih banyak barang dan di jualnya untuk kehidupan keluargaku dan aku.

Sekarang dengan datangnya kakeku ke toko yang sebenarnya took itu adalah took kakeku yang kami tinggali.Dan sekarang yang biasanya yang membayar rekening listrik,pajak,dan rekening air meminta ayahku tambah pusing dan ya beban dengan membayar rekening listrik,pajak,dan rekening air.Dan lagi pula masih membiayai aku dan adiku untuk bersekolah.

Saudaraku yang perempuan pun pulang dari pekerjaannya dari luar kota.Lalu dia tidak ingin bekerja lagi,saudaraku yang perempuan yang telah pulang sekarang dia ingin kuliah di kebidanan.Sekarang dengan adanya saudaraku perempuan pulang dari pekerjaannya dan ingin kuliah lagi itu telah menambah beban lagi bagi ayahku.Setelah itu aku dan adiku pun lulus dari SMP dan ingin melanjutkan ke SMA.Aku dan adiku sekarang yang ingin bersekolah di SMA sekarang membutuhkan biaya uang untuk yang lumayan banyak untuk biaya adiku dan aku.
Saat aku berada di toko aku diberitahu oleh ayahku bahwa ayah sedang kekurangan uang untuk membeli bahan seragam aku dan adiku untuk seragam SMA-Ku nanti.

Dalam diriku berfikir bagaimana aku mendapatkan uang untuk membeli bahan untuk seragam aku dan adiku nanti?Aku pun berfikir bagaimana bila aku menjual handphoneku yang aku miliki sekarang ini.Ternyata ibuku berbicara kepadaku bila sampai mau masuk sekolah belum membeli seragam ibuku akan meminjam uang dari temannya yang juga anaknya yang juga temanku.Akhirnya sebentar lagi masuk sekolah ayahku pun belum memiliki uang untuk membeli seragam untuk aku dan adiku lalu ibuku pun meminjam uang dari temanya senilai 1 jutaan.

Setelah meminjam uang dari teman ibuku ,ayahku ternyata mendapatkan rejeki untuk membeli bahan seragam sekolah untuk aku dan adiku,tetapi ayahku belum mempunyai uang untuk menjahitkan bahan seragamku.Sebelumnya ibuku meminjam uang dari temannya dan uang itu belum dikembalikan kepada temannya.Lalu uang itu digunakan dulu untuk membuat seragam sekolah adiku dan aku.

Setelah aku masuk ke SMA selama ini orang tuaku masih tetap bermusuhan.Aku pun tidak mengetahui sebab dari permusuhan antara ibuku dan ayahku.Dan berfikir mengapa ibuku meminjamkan uang yang banyak kepada temanya yang kira-kira jumlahnya cukup banyak sekitar 40 jutaan sampai sekarang belum dikembali-balikan.Teman ibuku yang meminjam uang hanya bias berkata belum mempunyai uang untuk mengembalikan hutangnya kepada ibuku.Setelah itu ayah ku memberikan aku uang sebesar 1 juta untuk mengembalikan uang yang dipinjam ibuku kepada temannya yang digunakan untuk menjahitkan seragam sekolahku.

Setelah beberapa hari kemudian ada pertengkaran lagi ibuku dengan ayahku.Hampir saja ibuku mengusir ayahku dari rumah karena ibuku benci dengan ayahku,tetapi juga salah dan keras kepala karena yang membiayai aku sekolah adalah ayahku.Bila tidak ada ayahku apakah aku bias dapat bersekolah lagi.Pada saat pertengkaran orang tuaku itu di situ pun ada pula saudara ayahku dan tetangga yang dekat dengan ibuku.Mereka bilang untuk berdamai lagi karena masih ada aku dan adikku.Lalu ibuku tidak jadi mengusir ayahku dari rumah.

Sekarang ada persoalan lagi akibat kakeku yang sudah pikun atau sering lupa sering menghidupkan air hingga lupa dimatikan dan membuat pembayaran rekening air selalu naik.Tetapi ayahku tetap tabah menghadapinya.Setelah itu aku sudah lebih dewasa,di SMA aku juga berkeinginan untuk membeli motor untuk aku pergi kesekolahan karena sudah tidak ada yang membawa sepeda.Sesudah itu teman-teman ibuku yang berhutang mendapatkan rejeki dan mengembalikan hutangnya semua kepada ibuku.Lalu ibuku pun membelikanaku motor untukku.Aku pun berjanji tidak akan mengganti-ganti aksesoris motor dan tidak akan berpacaran dahulu sebelum aku bekerja.

Setelah aku kelas 3 SMA aku pun akan menghadapi Ujian Sekolah pada saat ujian pun aku mengalami kesusahan untukmengerjakan soal-soal ujian itu,tetapi aku tetap tidak akan menyerah untuk masa depanku.Setelah Ujian Sekolah selesai aku tinggal menunggu hasil nilai Ujian-Ku.Saat aku ingin mengambil nilai Ujian-Ku aku merasa jantungku berdebar-debar.Ibuku pun masuk kedalam untuk mengambil nilai Ujian.Setelah itu ibuku pun keluar dia terlihat senang dan gembira ternyata aku Lulus dengan nilai yang bagus dan ibuku mengambil milik adiku dan dia pun juga lulus dengan nilai yang bagus juga meski rata-ratanya di bawahku.

Setelah itu aku kuliah,aku diterima di Universitas Gajah Mada (UGM) aku pun bertemu dengan seoranng gadis yang sangat cantik tetapi aku telah berjanji agar tidak berpacaran sebelum aku bekerja.Setelah aku selesai kuliah di UGM gadis yang aku sukai dia berkata akan menungguku,ternyata dia suka padaku .Setelah itu aku bekerja di rumah sakit menjadi dokter karena saat aku kuliah di UGM mengambil kejurusan kedokteran.pada saat tes untuk menjadi dokter itu ternyata sangat sulit tetapi aku tidak menyerah.aku pun akhirnya di terima di rumah sakit yang berada di Jakarta.Setelah itu aku pun telah di perbolehkan untuk membuka praktik di rumahku.Dan pada saat itu aku dapat mencari uang sendiri dan jeri payahku mendapatkan uang,bila aku mendapatkan rejeki aku biasanya mengirimkan uang untuk orang tuaku untuk menambah modal di toko.

Saat aku menerima pasin di rumah aku ternyata mengocati ayah dari gadis yang aku kenal saat kuliah di UGM.Setelah itu gadis itu sering mampir mengajak orang tuanya untuk mengenalkanku.Setelah itu aku mulai berpacaran dengannya.akhirnya aku mengajak gadis itu makan dan akupun melamarnya,dia pun mau.Akhirnya aku melamar kerumahnya.Orang tuanya ppun setuju jika kami saling mencintai.Setelah itu aku mengajak orang tuanya menemui orang tuaku melamar.Orang tuaku pun setuju alas anya juga sama bila kami saling mencintai.akhirnya kami menikah dan mempunyai seorang anak,walau pun orang tuaku masih bertengkar meski melihat aku bahagia.

Baca juga Cerpen Kehidupan yang lainnya.

Sabtu, 21 April 2012

Cerpen Kehidupan "Kehidupanku"

KEHIDUPANKU
Cerpen Danin Christianto

Akulah anak dari keluarga yang memiliki kondisi keuangan yang cukup untuk menghidupiku, dan kedua orang tuaku bekerja sebagai wiraswasta toko pertanian di Purworejo. Aku adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Ayah,Ibu, Kakak, dan adikku adalah orang yang selalu dekat denganku dan setia menemaniku. Dulu, sewaktu saya masih bayi, aku dirawat oleh kedua orang tuaku dengan penuh kasih sayang. Ia selalu menemaniku kemanapun aku pergi, menyuapiku waktu makan, dan memandikan aku.

Saat aku masuk TK, aku bersekolah di TK Maria Purworejo. Di sana benar-benar menyenangkan karena banyak teman bermain, guru-guru yang baik dan mengajar saya dan teman-teman dengan penuh kasih sayang. Kami bermain bersama, belajar, dan bergembira bersama. Dulu aku pernah menjadi pengibar bendera, sewaktu menaikkan bendera, saya malah terlalu cepat menaikkan bendera sampai atas padahal lagu upacara benderanya belum selesai, saya hampir tertawa. Lalu sewaktu belajar penjumlahan dan pengurangan, saya sering tidak bisa mengerjakan dan hal itu membuat saya merasa malu. Saya berada di TK selama 3 tahun karena supaya saya bisa lebih mengerti dalam pelajaran dasar.

Saat masuk SD, aku merasa duniaku terasa lebih luas lagi dan lebih banyak teman-teman bermain. Aku mendapat pelajaran dengan tingkat lebih dan secara perlahan-lahan aku menyesuaikan. Guru-gurunya juga mengajar aku dan teman-teman dengan penuh semangat dan pantang menyerah.

Di kelas 2, aku makin besar dan dulu saya senang bermain dengan teman-teman. Dulu sewaktu ulangan, karena saya tidak bisa mengerjakan dan akhirnya mendapat nilai jelek, biasanya setelah nilai ulangan dibagikan, semua murid disuruh meminta tanda tangan orang tua. Karena aku tidak berani meminta tanda tangan ke orang tua, saya pernah memalsu tanda tangan dengan cara menyamakan tanda tangan orang tua saya. Orang tua saya pun tidak tahu, dan saya sering berbohong kalau saya mendapat nilai bagus seperti 7, 8, dan 9, padahal aku bohong. Guru saya menyadari kalau itu tanda tangan palsu dan bertanya “tanda tangan siapa ini?” aku menjawab “ini tanda tangan orang tua saya, bu”. Kemudian guru saya mengatakan “kamu berbohong, katakan dengan jujur” sayapun ragu untuk mengatakannya. Lalu guru itu meminta saya untuk memanggil orang tua untuk menanyakan tanda tangan siapa sebenarnya. Orang tua pun datang dan mengatakan bahwa itu bukan tanda tangan miliknya. Saya pun agak dimarahi dan meminta agar saya tidak mengulangi lagi.

Lima tahun berlalu, saat kelas 6, sudah banyak perubahan pada diriku, aku bertambah sedikit dewasa dan hampir naik ke tingkat pendidikan SMP (Sekolah Menengah Pertama). Di kelas 6, aku masuk kelas 6b, teman sekelasku berjumlah kira-kira 32 anak. Mulai dari semester 1 aku sudah harus mulai untuk belajar giat karena pada semester 2 nanti aku akan menghadapi UN atau Ujian Nasional. Aku memiliki banyak kegiatan seperti les dan pelajaran tambahan, aku juga harus mengurangi kegiatan bermainku. Kemudian, begitu menjelang Ujian Nasional aku merasa gugup dan bertanya-tanya apakah lulus atau tidak. Tetapi aku berusaha untuk tidak takut dan percaya diri untuk menghadapi. Ternyata hasilnya saya lulus dan aku merasa sangat lega karena dapat melampaui Ujian Nasional dengan nilai yang cukup memuaskan. Dengan begitu, masa belajarku di SD dan aku dapat meneruskan ke SMP.

Saat SMP, aku masuk di SMP Bruderan, karena disekolah itu terkenal akan kedisiplinannya dan saya ingin menjadi anak yang disiplin. Aku bertambah dewasa dan mulai mengenal keadaan disekitar. Awalnya, aku masuk ke kelas 7B dan mendapat banyak teman-teman baru. Guru-guru di SMP juga berdisiplin tinggi, senang bergurau, dan penuh semangat. Di SMP, kami semua belajar dengan giat dan semangat. Aku mengikuti kegiatan ekstrakurikuler basket dan benar-benar menyenangkan karena dapat belajar dan bermain bersama. Selama dua semester di kelas 7 aku benar-benar menikmatinya.

Ketika kelas 8, awalnya aku masuk ke kelas 8B, tetapi setelah beberapa hari aku dipindah ke kelas 8A, dan hal itu membuatku bingung entah kenapa bisa dipindah ke kelas tersebut. Tapi saya merasa senang. Ada seorang guru yang benar-benar lucu dan jail yang selalu membuatku tertawa karena humornya, beliau mengajar IPS. Tetapi, walaupun begitu, beliau adalah orang pandai dan bersungguh-sungguh dalam membimbing pelajaran.

Saat kelas 9, mulai dari semester 1, aku harus belajar lebih giat lagi karena aku akan menghadapi kembali Ujian Nasional dan para guru juga ikut membantu dan mendukung para murid untuk belajar lebih giat lagi agar semuanya lulus. Guru-guru juga mulai mengadakan les tambahan setelah jam sekolah mulai dari jam 1 sampai jam 2.

Ketika mendekati ujian nasional, mulai diadakan doa bersama untuk memohon kepada Tuhan supaya kami semua lulus. Sebelum ujian nasional, sekolah melaksanakan ujian praktek, ulangan akhir semester, dan juga TUC (Tes Uji Coba). Semuanya betul-betul melelahkan sampai ke ujian nasional. Ketika ujian nasional tinggal seminggu, semua murid bersalaman dengan para guru memohon restu supaya berhasil dalam mengerjakan UN tersebut. Di saat Ujian Nasional dilaksanakan, aku juga merasa agak terbayang-bayang bagaimana jika tidak lulus? Tetapi aku tetap percaya diri bahwa aku harus bisa mengerjakan semaksimal mungkin. Beberapa hari kemudian saat penerimaan hasil UN, aku merasa lega karena dapat lulus dengan nilai-nilai yang memuaskan, hanya sayangnya ada dua orang anak yang tidak lulus. Masa-masa SMP ku telah berakhir dan aku melanjutkan ke tahap selanjutnya, yaitu SMA.

Aku mendaftar di SMA Bruderan, pertama kali aku masuk terasa menyenangkan karena sewaktu kegiatan MOS (Masa Orientasi Siswa) kami bermain dengan teman-teman baru dan saling berkenalan satu sama lain. Mulai dari semester I sampai semester 2 ini aku merasa senang dapat bersekolah disini karena suasananya yang nyaman dan aman untuk kegiatan belajar dan mengajar.

Baca juga Cerpen Kehidupan yang lainnya.

Selasa, 10 April 2012

Cerpen Kehidupan - Mei ‘98

MEI '98
Cerpen You Lie

Disaat aku telah terpaku akan semuanya . . . . aku mencoba untuk bertahan hadapi ini semua, karina itu lah namaku semula hidupku sangat lah bahagia dapatkan sahabat yang baik hatinya , tapi kini sahabatku itu menghilang. Tempat ku mengadu segala gundah.. mengertikanku luar dalam, nindya itulah nama sahabat terbaikku. Kini iya menghilang entah dimana. Semuanya berubah saat tragedy mei ’98. Sahabatku menghilang karna tragedy mei ’98 saat semua berdemo karna krisis ekonomi mendera pada tahun kesialan itu. Rumah sahabatku dihancurkannya oleh para para demonstran yang anarkis..

Hati ku sangat tak tenang pada saat itu, karna seminggu sebelum kejadiaan itu aku sempat berdiam diri dengan nindya karena perbedaan pendapat mengenai masalah keluargaku yang tiap hari makin menggila. Keluargaku tak seharmonis keluarga nindya, ayahnya yang penyayang walau nindya tak pernah rasakan kasih sayang dari ibunya karena ibunya telah meninggal saat melahirkannya dan iyalah anak semata wayang dikeluarganya maka dari itu ayah nya selalu berikan kasih sayang yang lebih lebih untuknya. Berbeda dengan kehidupan di keluargaku. Tak pernah ku dapatkan kasih sayang yang sempurna. Aku terlahir di keluarga yang benar benar berantakan sangat berantakan. Ibuku adalah seorang pekerja seks komersial [ PSK ]. Aku sangat gerah dalam kehidupanku ini. Sedangkan ayah ku adalah seorang ayah yang sangat bejat moralnya. Ibuku saja pernah dijual nya. Dulu sempat aku memiliki seoang adik ingin aku merawatnya dan berharap bisa menjadi seorang kakak yang baik,tapi musnah sudah itu semua. Adikku yang terlahir dari benih siapakah itu dijualnya oleh ayahku. Sangat mengecewakan. Belum lagi ibu ku setiap hari harus berdebat kekerasaan. Mereka sebenarnya sudah syah untuk bercerai tapi entahlah ayahku masih saja datang untuk menagih uang kepada ibu ku dengan jumlah yang sangat cukup banyak. Pernah suatu ketika ayahku berkenan ingin menjualku, tak pernah habis pikir iya mempunyai pikiran yang seperti itu. Sangat teganya dia kepada anaknya ini . pada saat itu lah aku sudah tidak ada niatan untuk hidup, mati itu lah jalan terbaik yang ada dipikiranku saat itu, saat mencoba untuk bunuh diri dibelakang kampus, sahabatku nindya yang pertama menjerit histeris,demi persahabatan lah aku urungkan niatan ku itu. Tapi semenjak saat itu lah aku menjadi jaga jarak dan komunikasi kepada nindya.



Kira – kira pada saat tanggal 8 mei tahun’98. Aku berniat menghampiri rumah nindya dan mengakhiri kesalah pahaman ini semua. Betapa tragisnya hati dan perasaanku itu melihat langsung hancurnya rumah nindya, rumahnya terbakar menjadi salah satu korban amukan pendemo yang sangat anarkis. Ku Tanya para tetangga disana tak ada sepatah jawaban yang ku dapat, aku hanya bisa menangis melihat ini semua terjadi, aku tak tahu kemana menghilangnya sanak keluarga ini..karna syok, aku sempat menenangkan pikiranku hingga beberapa bulan. Disaat itu pula masih kosong informasi yang ku dapat, lalu ku berfikir mengapa tak ku Tanya kepada kekasih dari si nindya yaitu ganan, iya adalah laki laki yang tak pernah tau etika terhadap perempuan, belum saja menjadi suami syah dari nindya , iya sudah seenaknya bermain kasar. Aku terluka saat nindya diperlakukan seenaknya oleh ganan tapi tak mungkin aku memisahkan 1 insan yang sangat menyayangi ganan, apalagi nindya dan ganan sudah sering melakukan hubungan seks. Tak mungkin aku harus memisahkan mereka berdua. Entahlah apa ganan mempunyai perasaan yang sama atau tidak, atau mungkin hanya perasaan nafsu saja ???

Tapi hanya dialah petunjuk satu satu nya yang mungkin mengetahui dimana keberadaan nindya sekarang.
Tapi apa yang ku temukakan, ganan terpuruk tak berdaya dirumah sakit karena penyakit kankernya. Lantas petunjuk apa yang sekiranya mungkin ku dapat kan ????

10 tahun berlalu semua, sebenarnya aku sudah ingin menutup buku dalam bayang-bayang masa lalu ku yang kelam itu,tapi entah saat aku mencoba untuk melupakan bayang-bayang nindya makin menghantui ku, mejadi bunga tidurku yang indah, diingatkannya perjalanan persahabatan ku dengannya.
Hingga suatu hari ku bertemu dengan oma mayang,itu adalah nenek dari nindya, tak disangka aku bisa bertemu di super market. Tak ku siakan kesempatan ini untuk bertanya. Banyak macam pertanyaan yang sudah terlontar, tak sia-sia akhirnya ku dapatkan hasil . ku diajak nya kerumahnya, hanya pertokoan kecil yang ada disana, sepi tiada siapa siapa..kemana nindya dan juga ayahnya ?? itu yang menjadi pertanyaan dalam hatiku . tak lama kemudian terjwab sudah pertanyaan itu..
“ ayahnya nindya sudah meninggal karena syok harus menerima, korban dari kekerasan tragedy mei 98 itu, “ jelas oma.
“ Apa ???(ucapku tersentak kaget) lalu kemana, kemana nindya, oma ??? 10 tahun lebih karina mencari keberadaan nindya. Karina hanya ingin minta maaf, terhadap nindya.. dimana nindya, oma sekarang ?? “ tanyaku menangis sedih.
“ nindya ada, dia masih ada..tapi keadaan dan waktu yang membuat nindya sekarang berubah .. “ ucap oma yang tak dapat ku mengerti.
“ maksud oma apa ?? nindya dimana , oma ?? “tanyaku sedikit gelisah..
“ nindya terkena gangguan jiwa.dia sekarang dirawat di  panti rehabilitasi pelita kasih .. “ jelas oma yang membuatku sangat syok.
“ kenapa bisa sampai kayak gitu oma ?? “ tanyaku beruraiaan air mata.
“ kerusuhan mei 98 yang membuat semuanya telah berubah,rumah nindya yang dibintaro itu hancur, usaha usaha nya disana hangus terbakar, ayahnya terserang penyakit jantung karena syok menerima kenyataan ini semua, dan meninggal. Nindya pun kehilangan akal sehatnya, dan jiwa nya terganggu..kasihan dia. ”  jelas oma.

Keesokan harinya aku ditemani oma menuju tempat dimana nindya sahabat terbaikku dirawat.
Saat melihat nindya dari kejauhan aku tersentak haru, perasaanku kacau, ku berlari dan bersujud dihadapannya, sambil terus berucap ini aku karina sahabat mu dulu..
Tapi apa ???
Tak dapat iya sadari itu semua. Bahkan iya tak dapat mengenaliku , hal yang wajar karena semua butuh waktu untuk mengubahnya.
Apa sebagian manusia di negri ini tau sedikit kekacauan yang dibuat bisa menjadi bomerang dalam keluarga.

Jujur ku katakan, sampai saat ini pun.. hidupku masih dalam kependeritaan. Setahun yang lalu ibuku meninggal karena kasus aborsi. Lalu ayahku, dengan sangat mudahnya datang dan pergi begitu saja, mengambil semua harta yang ada.. aku pun termasuk diambil alihnya. Ayah ku sendiri tega, memper**sa ku.. sangat sering iya lakukan ini padaku..

Sakit itu yang ku rasa, aku tak bisa berkutik sedikitpun mencoba melawan tapi aku hanyalah wanita yang sangat lemah, siapalah aku ??? diatas ini semua ..

Sejak remaja ku tak pernah rasakan cinta sedikit pun..baik dari orang tua maupun kekasih, mencoba untuk berpacaran saja aku tak pernah,.saat dibangku kuliah ini lah aku baru bisa dapatkan kasih sayang dari seorang sahabat yang membawaku dalam dunia cinta. Tanpa berpikir panjang aku telah menyukai sesama jenis, aku menyukai nindya diam diam tanpa sepengetahuannya, ku pendam rasa itu sampai sekarang. Tak ada yang tau kalau aku adalah penyuka sesama jenis, aku sangat menyayangi nindya sepenuh hati ku, entah apa ini semua karena kurang nya kasih sayang dan perhatian selama hidupku, atau aku juga mengalami gangguan jiwa ?? aku sangat bingung . dengan keadaan ku ini.

3 tahun berlalu, tampak sekarang nindya sudah dapat mengingat siapa jati dirinya..
Aku sangat bahagia..nindya tampakan senyumannya lagi, kini ku dapat kembali berbagi cerita dengannya baik suka maupun duka.

Ku ajak dia tinggal bersamaku, kesejukan hati ku bisa bersamanya, saat aku ingin memasaki makanan untuknya karena iya mengeluh lapar.. terdengar jeritan nindya dari kamar, segera ku menuju kamar itu, ku dapati nindya hampir disetubuhi oleh ayah ku yang bejat.. tanpa segan aku menususukkan pisau masak yang ku pegang ini keperut ayahku, banyak darah yang terserak dilantai. Aku menangis dan tertawa sendiri, ohw my God aku telah membunuh ayahku sendiri. Nindya memelukku saat itu, aku tak kuasa menahan rasa salahku, ku harus pertanggung jawabkan ini semua, aku menyerahkan diriku kekantor polisi.

Aku terpenjara untuk selamanya,. Sesali semua yang telah ku perbuat. 5 tahun setelah kejadian ini, nindya memberi kabar pada ku, kalau iya akan segera menikah, ya harus ku terima itu dan aku harus berbahagia walau diatas kependeritaanku ini yang sangat sakit ku jalani, tapi ku ikhlas menerima nya.

Betapa sakit kependeritaan dalam hidupku ini, kekerasaan keluarga, penganiayaan , bahkan aku telah menjadi pembunuh ayah kandungku sendiri, ku harap semuanya berlalu. Tuhan dengarkan kata hatiku, kabulkan doa yang ku panjatkan setiap detik.

Inilah hidup, tak banyak kebahagiaan yang ku dapat. Tapi hanya rintihan , kepedihan , yang harus ku terima.

*** TAMAT ***

PROFIL PENULIS
Nama Asli Saya : Ida ayu Sri Yuli mahayani
Nama beken : Yui
Nama Facebook : @Yui Cattivo ( email Fb : yuita26@yahoo.co.id )
Nama Twitter : @yui_Desrosiers
Nama Email ( Aktif ) : yuigomes@yahoo.com
Nomer Hp : +6281934313307
Saya asli Bali