Tampilkan postingan dengan label Cerpen Sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Sahabat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Desember 2011

Cerpen Remaja : Dilema ( Antara Sahabat dan Cinta )

Cerpen Remaja : Dilema (Antara Sahabat dan Cinta) - Setelah kemaren kita posting Cerpen Cinta : Ketegaran Cinta Bertasbih dan Kumpulan Cerpen Remaja Sekarang saya akan share Cerpen Remaja yang berjudul Dilema (Awal Sebuah Pilihan : Sahabat dan Cinta), Cerpen Kiriman dari sahabat Aisyah Wulansari. dari judul diatas aja kita bisa lihat Dilema dan bisa menggambarkan sosok seseorang yang sedang kebinggungan antara sahabat atau memilih Cinta, Okelah supaya anda tidak penasaran silahkan saja Baca Cerpen Remaja : Dilema (Antara Sahabat dan Cinta) dibawah ini : 

DILEMA
(Awal Sebuah Pilihan : Sahabat dan Cinta)
Cerpen _Aiira

Aku masih terpaku menatap lekat-lekat sosoknya.Seorang gadis yang sebaya denganku, yang telah cukup lama menjadi teman akrabku.Aku pun hampir tidak mengingat, bagaimana kami bisa saling mengenal dan berlanjut menjadi seorang sahabat.Ya, sahabat. Sesuatu yang spesial bagi tidak sedikit orang.Sosok yang selalu ada saat kau jatuh hingga kau telah berada di atas angin.

Keisya.Merupakan panggilan akrab untuknya.Dikatakan dewasa, dia sungguh kekanak-kanakan.Disebut penyabar, tidak selalu seperti itu keadaannya. Namun entah karena hal apa aku sanggup berlama-lama di dekatnya. Waktu satu jam bukan lagi waktu yang cukup memuaskan bagi kami untuk saling bercerita dan berkeluh kesah. Mulai dari segala hal yang sedih, aneh, lucu, keren menurut versi kami, dan banyak lagi hal-hal tak penting yang kami bahas.
‘Sahabat Selamanya’

Sekiranya itu adalah ikrar setia kami untuk terus bersama hingga tangan Tuhanlah yang memisahkan. Jika kalian pernah membaca sebuah novel Firefly Lane karya Kristin Hannah, kalian pasti akan menemukan dua tokoh yang telah membuktikan kesetiaan janji mereka. Janji untuk bersahabat selamanya.Terlalu berlebihan memang, jika kami harus disejajarkan dengan kedua tokoh istimewa itu, Tully dan Kate. Namun, dalam segala situasi yang penuh dengan kecambuk akan kelabilan ego kami masing-masing, kami mencoba untuk bisa memenuhi janji kami sabagai sahabat selamanya.

Hingga semua itu berubah keadaannya.Terjadi begitu saja.Dan berhasil menghancurkan semuanya dalam sekejap.Tepat di pertengahan Oktober lalu, semua itu kepahitan berawal dan sebuah hubungan yang erat pun berakhir.Penghianatan.Sebuah kata kunci yang terasa pantas untuk disandang.
*******

“Sya,…….”. tiba-tibaKeisya datang padaku dengan berderai air mata. Seperti biasa, ia meletakkan kepalanya di pundakku.
“Ada apa, Kei? Cerita aja, nggak usah kaya begini lah”.
“Kak,….”. ucapnya menggantung. Tampak keraguan darinya untuk bicara.
“Iya, Dik… Ada apa?”
“Dia jahat, Kak… -hikshikshiks L-“, ucapnya terisak.
“Maksudmu?”
“Farhan mutusin aku, Kak”.
“Apa?Bagaimana bisa?Awas aja kalau aku ketemu ama dia. Huh!” seruku geram penuh umpat pada Farhan.“Memang apa yang sudah terjadi?Kalian bertengkar?”
Keisya hanya terdiam.Isaknya terdengar makin dalam.Makin perih menusuk relung batinnya.“Baiklah, kalau kamu nggak bisa cerita nggak apa-apa.Tapi ingat ya, aku selalu ada buat kamu”, ucapku berusaha menghiburnya.
“…. J….”. ia hanya tersenyum dan menatapku mendalam. “Terimakasih Rasya. Terimakasih”, ucapnya diiringi dengan jatuhnya bulir-bulir bening pada pipinya.
“Yang penting kau bahagia, Dik. Bukankah kita akan menjadi sahabat selamanya?”.
“Untuk sahabat sejati selamanya”, sahut Keisya sambil mengaitkan kelingkingnya pada kelingkingku.Tampak sebuah senyum tersungging di wajahnya.Ia tampak manis, meski aku tahu ia tengah membohongi dirinya sendiri dengan senyumnya yang penuh kegamangan saat ini.
******

Hari-hari muram buat Keisya telah berlalu.Dapat terlihat lagi auranya yang periang dan senyumnya yang menggoda. Dengan centilnya ia menghidupkan suasana di kelas kami. Mungkin, itu salah satu alasan mengapa aku rela menjadi sahabatnya.
“Wah, lagi seneng ni ye…”, godaku padanya.
“Maksud kak Rasya apa sih?Dateng-dateng langsung nyeplos begitu? Plis deh,…”, timpalnya padaku.
“Sepertinya ada sesuatu nih. Makanya si putri ini lagi doyan nyegar-nyegir nggak jelas”.
“Emang menurut kakak begitu ya?” ujarnya tanpa menatap aku, sambil nyegar-nyegir tak jelas.
“Inggih, Sayang…. Emang ada apa toh? Cerita dong”.
“Rasya tahu Bramasta kan?”
“Emang kenapa?”
“Orangnya perhatian ya, Kak. Baaaiiikkk banget”

Aku sangat terkejut akan apa yang baru saja dikatakan Keisya. Entah aku merasa ada sesuatu mengganjal di hatiku.Ada serpihan rasa tak rela yang menghujam dada.Seketika lidahku kelu. Tanpa ingin membuatnya kecewa akan responku yang tidak cukup baik, ku lemparkan senyum padanya. Berharap ia tak menyadari akan adanya kegamangan dalam hatiku.
*****

Mulai saat itu, Keisya tak lepas dari topic yang membahas tentang Bramasta.Anak laki-laki di sekolah kami yang bisa dikatakan tenar. Berperawakan tinggi, putih, bermata sedang, dan jika tersenyum maka akan timbul sebuah cekungan di sudut pipinya. Dan semenjak hari itu pula, waktu malamku terasa panjang dan melelahkan.Bramasta adalah kawanku saat kelas 4 SD dahulu. Kedua orangtua kami pun sudah cukup mengenal.Tak jarang Ibu mengundang mereka –Bramasta dan keluarga- dalam setiap acara penting keluarga kami, begitu juga sebaliknya.Kami tergolong dekat, walau kini pada nyatanya hubungan kami semakin merenggang. Bahkan jika aku menceritakan hal ini pada teman-teman di sekolah ku kini, sungguh mereka akan benar-benar tidak percaya. Mustahil untuk dapat dipercaya oleh mereka.Tak apalah, sempat mengenal bahkan mejadi kawannya pun jadi hal istimewa buatku.Dan semua yang telah terjadi  antara aku dan Bramasta seakan sudah cukup memberikan alasan untuk menumbuhkan rasa kagum dari ku untuknya.

Dengan terus melajunya sang waktu, rasa kagum itu kian menjalar, merambat dan bersarang ke dalam ruang-ruang kosong di benakku.Semakin lama, semua rasa itu kian mendalam. Dan kini, . . . .tepat dihadapanku. Seorang gadis yang telah kuanggap bak saudara, menceritakan sosok Bramasta dengan binar-binar kekaguman yang tampak di matanya.
“Apa kamu mengagumi, Bramasta?” tanyaku tiba-tiba pada Keisya.Semua terasa terlontar begitu saja dari mulutku.

Keisya diam., tersenyum dan melempar pandangannya pada goresan putih yang menggantung di langit biru yang gagah. “Menurutmu Rasya? Apakah seperti itu adanya?” ucapnya kemudian. Tergores sebuah senyum dari bibirnya.
*****

Entah untuk yang ke-berapa kalinya aku membolak-balikkan tubuhku di atas ranjang.Nyanyian jangkrik terdengar makin lantang, seiring dengan terhentinya suara riuh manusia yang rutin terdengar di pagi hari. Dari balik jendela, cahaya bulan telah memberi warna perak pada pepohonan di luar sana. Lambaian tirai-tirai di kamarku seakan mengabarkan bahwa sang angin darat telah menjaga nelayan-nelayan yang tengah memulai harinya demi sepincuk nasi. Ku lempar pandangan pada jam dinding yang menggantung di seberang ranjangku. Pukul 02.00.Hingga saat ini kedua mataku enggan terpejam, walau perihnya mata ku rasa sudah.Kata-kata Keisya pagi tadi masih terngiang jelas dalam anganku.“Ah, aku tak boleh seperti ini. Pun tak ada guna aku mementingkan hatiku sendiri.Toh, Bramasta tak memiliki perasaan apapun padaku. Bukankah cinta tak harus memiliki?” batinku lirih.Cinta.Inikah rasanya?Sesuatu yang selalu terdengar indah, magis, dan luar biasa, telah menjangkit diriku.Sesuatu yang selalu dibuat istimewa oleh para pengarang maupun penyair. Tapi,… mengapa semua seperti ini? Terasa sakit, berat, dan memilukan.Makin meracuni alam pikiranku yang kalut.Sungguh buruk kenyataan cinta yang sesungguhnya.Namun semua kembali pada satu pertanyaan singkat, “Pantaskah aku merasakan cinta saat ini?”
*****

“Sya,…Rasya!” panggil Nadine tergopoh-gopoh.
“Ada apa?Santai aja lagi, nggak usah lebay sampai mengos-mengos begitu”.Ucapku sekenanya.
“hosh.. hosh..  Itu…hosh hosh… emmm, i..ttu lho…” ucapnya tak jelas sembari mengatur napasnya yang tersengal-sengal.
“Hadeh, ngomong apa to, Mbak yu… atur napas dulu dah, tenang”.
Dalam waktu sepersekian detik, Nadine kembali bernapas normal. “Kei,….Kei,.. Kei, Rasya..”
“Kei? Ada apa? Kenapa Keisya?” responku panik seketika.
“Dia lagi berantem di kantin. Anak-anak malah pada nyorakin mereka, ngomporin gitu-….”
“Oke, makasih”.Responku singkat dan segera berlari ke arah kantin.Walau aku tahu bahwa Nadine belum selesai bicara tadi. Aku harap ia tidak marah dan bisa mengerti.
Gerombolan anak laki-laki dan perempuan riuh, membentuk formasi lingkaran tak beraturan. Mereka meneriakkan nama Kei dan Teressa. Segera ku berlari menuju kerumunan dan beradu badan dengan yang lainnya agar aku dapat menempati posisi terdepan. Begitu sampai di barisan depan, dapat ku lihat Kei dan Tere yang saling menjambak. Wajah mereka berdua merah padam, sama-sama terbakar emosi menggebu.Tak membuang waktu aku menuju ke tengah-tengah berharap dapat melerainya.
“Hei, hentikan!Hentikan semua ini!” teriakku cukup keras.Sialnya suaraku kalah terdengar daripada teriakan masal yang tengah mendukung jagoan mereka yang tengah bertanding.
‘Bruak!!!’

Aku jatuh tersungkur saat aku berusaha menengahi mereka berdua. Tangan Tere mendorong tubuhku keras secara tidak sengaja –mungkin memang tak sengaja, aku tak tahu-. Keisya menatapku yang merintih lekat-lekat.Ia melepaskan diri dari rengkuhan tangan Tere, dan bergegas menghampiriku. Masih dengan wajah yang merah padam, Tere mentap aku dan Keisya bergantian.Tatapan yang seakan bermakna, aku-akan-memberikan-pelajaran-yang-lebih-dari-ini-anak-bau-kencur. Ia berlalu dengan senyum puas karena merasa telah menang atas Keisya.
“Kamu nggak apa-apa, Rasya?”
“Yang seharusnya Tanya itu aku, Bodoh. Kamu nggak apa-apa?”
“Sial, semua gara-gara cewek jelek dan bawel itu.Awas aja dia. Berani banget dia macem-macem sama kamu, Sya”, umpatnya kesal bukan main.
Kei berdiri dan berjalan menghampiri Tere yang melangkah belum jauh dari TKP sebelumya. “Tere! “ teriak Kei. Tere berbalik, “Apa lagi anak bawang?”
‘Plak!’

Pukulan keras melayang dari tangan Kei ke pipi Tere. Saat tangan Tere hampir meyentuh permukaan pipi Kei, sebuah tangan menghentikannya.
“Bramasta”, ucap Tere dan Kei hampir bersamaan.
“Udahlah, kalian jangan kayak anak kecil sepeti ini.Apa kalian nggak mikir kalau perbuatan kalian mencoreng nama baik kalian sendiri?” ujar Bramasta sok bijak.
Tanpa berkata sepatah katapun, Tere berlalu.Terbesit kilatan amarah yang kian berkobar di matanya.Bramasta menatap wajah Keisya teliti.“Panampilanmu acak adul banget.Sumpah. Kamu juga luka, di obtain ke UKS gih,…….”

Bulir-bulir bening mengalir mulus di pipiku.Aku tak kuasa lagi untuk menahan genangannya. Hatiku benar-benar terasa terguncang melihat apa yang terjadi pada Rasta dan Kei. Mereka kini tengah berdiri di hadapanku, berjarak sangat dekat. Tampak rasa cemas dari air muka Rasta. Aku berlari.Menjauh dari pemandangan yang memekakkan luka di hatiku.Aku berlari megikuti kemana pun langkah kaki terarah.
*****

“Kak Rasya, tunggu..”, Kei memanggilku yang sedari kemarin berusaha menghindrinya. “Sya, kamu marah sama aku?Apa karena aku berantem waktu itu ya? Aku minta maaf”.
Ku tatap mata bulatnya mendalam. Mata yang membuat setiap orang akan menaruh simpati padanya. “Iya aku maafin kok.Lain kali jangan kamu ulangi, inget orangtuamu nggak pernah ngajarin kamu untuk berantem kaya ayam bodoh.Apalagi ini Cuma hal sepele”.
“Maaf, Sya. Aku….” Air mata menggenang di kedua pelupuk matanya, selang beberapa detik bulir-bulir bening itu tumpah ruah. “Maafkan aku, Sya,,,”
Ku raih tubuhnya dan ku dekap ia. Aku beruaha untuk menentramkan hatinya.“Iya, kei aku maafin kamu. Dan aku juga minta maaf ya, Kei….”
Kei menarik dirinya dari tubuhku.Ia menatapku, “Maaf? Untuk apa?”
“Untuk,….segalanya, Kei. Segalanya”, jawabku mnggantung.Aku terus terhanyut dalam tatapan matanya. “Kei maafkan aku yang belum seutuhnya rela melepaskan perasaanku pada Rasta untukmu”, batnku dalam hati.
“Oke, daripada larut dalam kesedihan yang super nggak jelas gimana kalau nanti kita hang out. Makan bakso atau mi ayam?” tawar Kei padaku, sambil menyeka jalur yang membekas atas air matanya.
“Aku kenyang. Mungkin lain kali. Aku minta maaf”.
“Sayang sekali. Tapi, tak apalah”
|”Emm, kalau boleh tahu ada masalah apa, antara kamu sama Tere?”
“O, jadi gini ceritanya-..”.
*****

Matahari kian meninggi.Panasnya sungguh menyegat, serasa membakar hangat ubun-ubun kepala.Ku kayuh sepeda menuju perpustakaan umum.Dalam kondisi kalut seperti ini, ku luangkan sedikit waktu untuk sekedar mambaca buku, berharap semua masalah dapat terlupakan walau hanya sekejap.
Begitu sampai di dalam. Ribuan buku yang tertata rapi dalam rak-rak yang saling berjajar. Ku perintahkan langkah kakiku menuju kumpulan buku yang berlabel “Sastra dan Karya Fiksi”.
“Rasya!” tiba-tiba sebuah suara yang tak asing bagiku terdengar keras memanggil.
“Hei, Kei! Tumben ke sini.Sama…?” belum genap aku menyelesaikan kalimat tanyaku, sosok Rasta menyusul di belakang Kei.“Sepertinya aku sudah tahu jawaban atas pertanyaanku sendiri”. ujarku kemudian.
“Ku akui kau memang cerdas, Rasya”.
“Hei, Rasya! Udah lama banget nggak ketemu.Ngilang kemana aja kamu?”Rasta tiba-tiba datang dan menyapa ku.
“Bukankah yang selama ini sering ngilang itu kamu ya?Secara anak tenar gitu?”
“Bisa aja kamu, Sya.Kamu belum berubah ya.Masih pinter ngeles kaya dulu”.
“Oh ya?” jawabku singkat.“Aku emang nggak berubah, Rasta.Begitu juga perasaanku ke kamu. Mungkin selamanya akan tetap sama”, benakku kemudian. Jujur saja, seketika jantungku berdebar kencang, aliran darahku mengalir begitu cepat.Tubuhku gemetar.Tangan dan kakiku terasa kesemutan.
“Ehem..ehem… ada yang dikacangin di sini nih”, Kei berkomentar atas suasana yang terjdi.
“Wah, ada yang marah ni ye”, godaku.
“Oke.Kei, bisa kamu cerita gimana kamu bisa kenal dan bersahabat sama cewe bawel, cerewet, dan cengeng kayak dia?”
“Oh, gitu? Awas kamu ya”.
“Kamu ngancem ceritanya nih?” goda Rasta padaku.

Mulai detik itu, ku rasakan kembali kedekatanku dengan Rasta. Dan dapat ditebak, aku semakin sukar menghapusnya dari hatiku. Seakan ada harapan untukku. Jujur saja, aku merasa dia sangat perhatian kepadaku. Aku nyaman berada di dekatnya. Aku sering menghindari kontak mata dengannya, aku tak kuasa menatapnya lama. Tak jarang Rasta tersenyum geli dengan tingkahku yang serba salah. Namun, kami tidak hanya berdua saja dalam melewati hari. Ada Keisya. Sahabatku yang juga saingan hatiku akan Rasta.*****
‘Drrrrtt,,,ddrrrrtt,,’

Handphone ku bergetar.Ada sebuah pesan dari Rasta. Jujur, aku telah menantikannya sejak semalam. “. . . Happy Birthday, Friend. Moga tambah suskses aja dan selalu berada dalam naunagn rahmat-Nya.Amiin. O ya, Sya hari ini aku mau ngundang kamu untuk makan bareng keluarga aku.Toh, udah lama juga kita nggak makan bareng.Jangan lupa kenakan gaun ungu itu. Aku harap kau menyukainya. . . .”, sms panjang lebar dari Rasta membuatku gembira dan bingung. Gembira tas undangannya dan bingung perkara gaun ungu yang ia sebutkan dalam pesannya. Gaun apa yang ia maksudkan?
“Kei, kamu nerima titipan nggak? Kiriman pos gitu, ada nggak?” tanyaku pada Keisya yang kini tinggal seatap denganku. Kini lagi-lagi kami kuliah di tempat yang sama. Dan ujung-ujungnya, kami memutuskan untuk tinggal di rumah kos satu atap.
“Hah, ng..ng kiriman… tt .. ttittipan? Ng..ng.. ng… aku nggak tahu tuh. Emang kenapa?” jawabnya dengan air muka yang aneh seketika.
“Nggak, aku butuh banget barang itu.Ada hal penting untukku.Terimakasih”.
“Yap, aku pasti akan memberimu kabar seputar kiriman yang datang, Rasya. Itu pasti.”
“Aku percaya padamu, Kei”.
“Ngng, Rasya,…”
“Iya, Kei?”
“Selamat ulang tahunJ”
“Terimakasih, Sobat.  Kau yang terbaik”.
*****

Hatiku masih terbalut gelisah dan bersalah. Gaun pemberian Rasta tak berjejak, hilang. Aku pun tak menghadiri undangan makan malam dari keluarga Rasta. Aku tak tahu harus berkata apa pada mereka perkara gaun yang hilang itu. Aku malu. Rasta maafkan aku.
‘Bruak!!’
Sebuah kotak bersampul hitam jatuh dari lokerku. Penasaran, ku buka bungkusan kotak itu.Dan ku lihat isinya, sebuah kaset rekaman dan sebuah buku harian yang persis dengan milik Keisya. Apa maksudnya ini. Tak betah didekap penasaran, ku setel rekaman itu. Dan ternyata……
******

“Apa maksudmu melakukan ini semua, Keisya? Apa salahku padamu?” makiku pad Keisya setibanya aku di rumah. Awalnya aku tak percaya akan apa yang ku lihat dalam rekaman itu, tapi pernyataan Keisya pada buku hariannya cukup menjadi bukti.

. . . Tuhan, sungguh aku tak rela ini semua terjadi.Ternyata selama ini Kak Rasta lebih menaruh kagum pada Rasya.Bukan padaku! Tadi pagi, aku menemukan sebuah bingkisan bersampul ungu di depan pintu. Dibawa penasaran, kemudin ku buka isinya. Ternyata itu adalah kado ulang tahun dari Rasta untuk Rasya .Sungguh hati ini terbakar. Hatiku berkecamuk. Haruskah aku utamakan sahabatku atau perasaanku? Tak berselang lama, ada seorang gadis kecil melintas di hadapanku. Ku panggil ia, dan ku berikan gaun ungu itu padanya. Aku berkata padanya, bahwa ia harus memakai gaun ini jika tiba waktunya nanti. Ia tersenyum bahagia dan berlalu. Kembali aku menitihkan air mata. Rasya, maafkan aku.Sungguh aku tak kuasa menerima semua ini..  Rabu, 20 Oktober. . . .
“Rasya, aku… ak akk,..akkuuuu….”
“Sudah cukup, Kei.Aku lelah denganmu. Benar apa yang Tere katakan padaku. Kau memang tak punya hati. Kamu lebih mementingkan urusan dan kebutuhanmu sendiri.”.
“Tere? Apa yang telah ia katakan?”
“Tak penting. Yang terpenting adalah, aku telah menyadari bahwa kau adalah seorang penghianat besar. Aku kecewa padamu”.
“Aku bukan penghianat. Aku sahabatmu, Sya’.
“Sahabat? Tidak lagi untuk sekarang dan seterusnya”. Usai bicara aku lekas berlalu.
“Rasya,…”

Langkahku terhenti. Hatiku berontak untuk mencabut semua yang telah ku ucapkan. Namun, emosiku tak dapat teredam lagi. “Oh ya, Kei. Mulai siang ini aku tidak lagi seatap denganmu. Semoga kau segera tenang atas kepergianku. Dan,… terimakasih”, ucapku tanpa berbalik.
******

‘drrrrtttt…. Dddrrrtttt…’
Handphoneku bergetar untuk yang ke-sekian kalinya. Terpampang nama Keisya di layar handphoneku. Sudah hampir dua minggu aku tak menjawab sms atau menerima panggilan darinya.Hatiku masih nyeri saat mengingat semuanya. Aku juga menghindari Rasta. Jika Keisya memang benar-benar menginginkannya, akan ku relakan dia. Mungkin Rasta benar-benar bukan untukku.

Ku tatap lekat-lekat  foto yang tengah ke dekap. Bergamabar 3 remaja, satu laki-laki dan dua wanita. Mereka tersenyum riang menatap kamera.Di bawahnya tertera tulisan SAHABAT SEJATI SELAMANYA.
Air mata mengucur deras.Menusuk luka hati yang seakan terlanjur bernanah.Luka hati yang tak pernah aku inginkan.Luka hati yang telah mengorbankan sesuatu berharaga dalam duniaku, persahabatanku..

Baca Juga Cerpen Remaja yang lainnya dan saya Ucapkn Banyak Terimakasih    

Jumat, 25 November 2011

Cerpen Sedih : Wrong Choice

Berikut ini adalah Cerpen Sedih Kiriman sahabat Liya yang bisa anda baca maupun dicopas untuk dibaca sambil offline dan semoga bermanfaat Cerpen Sedih dengan judul Wrong Choice ini.

WRONG CHOICE
Cerpen Awaliya Nur Ramadhana

Gerimis hujan membasahi tubuh  gadis mungil di Stasiun Tugu. Pakaiannya yang tebal tak membuatnya kedinginan. Namun, apakah yang sedang ditunggunya di Stasiun itu.

Dari kejauhan terdengar teriakan seseorang, “Vella….!!”.

Gadis mungil yang bernama Vella itu pun memalingkan mukanya. Setelah ia melihat sosok yang memanggilnya , ia tiba-tiba terkejut dan langsung lari pergi dari stasiun itu.  Apakah yang sedang dipikirkan Vella sehingga ia panik melihat seorang wanita yang penuh dengan perhiasan itu menghampirinya.

Vella lari sekencang kilat untuk menghindari wanita itu. Sampai di persimpangan jalan, ia berhenti sejenak.

“Huuhh.. Hampir saja. Kalau tidak pasti aku sudah dicincangnya kayak sate.” Batinnya.

Vella merupakan anak tunggal dari seorang konglomerat yang menikah 2 kali. Vella merupakan anak pertama dari istri pertama yang telah bercerai 5 tahun silam. Ibu Vella pergi dari rumah karena tidak mau dimadu. Sementara ayahnya Vella tidak punya pilihan selain menikahi wanita yang kini menjadi istri keduanya itu karena perusahaannya sedang dilanda kebankrutan. Berkat Pengadilan, akhirnya Vella di asuh oleh ayahnya. Namun tak disangka, kehidupan Vella yang semula penuh dengan canda tawa bersama ibu kandungnya, kini berubah menjadi penjara bersama dengan ibu tirinya. Bagaimana tidak, Vella selalu dilarang ibu tirinya pergi ke luar rumah hanya untuk jalan-jalan bersama temannya. Jangankan untuk jalan-jalan, sekedar untuk bertemu dengan sahabat di samping rumahnya saja tidak boleh. Vella merasa sangat kesepian dan tidak betah lagi di rumah itu, sehingga diam-diam ia kabur dan pergi ke stasiun untuk  menemui ibunya. Vella pernah mengatakan semua perlakuan ibu tirinya itu kepada ayahnya. Ayahnya pun percaya dengan semua itu. Namun, ayahnya tidak dapat berbuat apa-apa, karena nasib perusahaan ada ditangan ibu tirinya itu.

Di persimpangan jalan, Vella merenungkan kehidupannya yang dulu. Bersama dengan ibunya tercinta. Ingin rasanya Vella cepat-cepat pergi dari kota ini dan bahagia bersama ibunya. Di tengah lamunannya, ia mendengar teriakan seseorang dari belakang. Orang itu kemudian menepuk bahunya. Ternyata ia adalah Winda sahabatnya Vella .

“ Vella..”
“ Eh, Winda”
“Kok bengong.. Ada masalah lagi ,ya?? Pasti sama nenek sihir itu lagi,kan?!”
“Ya iyalah. Sama siapa lagi gue punya masalah selain sama dia..”
“ Hahaha.. Emm,, tentang apalagi, nih?”
“ Lho kok ketawa. Bantuin,kek.. Biar  gue gak stress.”
“Iya...iya.. Tapi tentang apa, nih?”

“ Itu, lho. Nenek sihir itu tau kalau gue tadi di stasiun. Padahalkan gue mau pergi nemuin ibu gue. Eh.. tau-tau dia datang dan langsung ngejar gue. Ia gue langsung lari secepat kilat ke sini. Eh.. Tunggu. Tapi lo tumben jalan.

“ Gue sih ogah juga jalan. Tapi papah gue ada urusan tuh sama rekannya. Ngebicarain tentang tujuan sekolah gue nanti kalau lulus SMP. Katanya sih mau di sekolahin di Singapur.”
“ Apa…?? Lo mau sekolah di Singapur.. Terus..terus.. Lo mau ?”
“ Ya, gue sih terserah aja. Yang penting, gak ngitemin kulit gue yang putih ini.”
“ Win..Win.. yang ada dipikiran lo itu cuma ngurusin kecantikaan aja, ya. Tapi gue mau minta bantuan lo, nih. Gue mau ketemu sama mamah gue. Ia tinggal di Singapur juga. Kalo Boleh, gue mau sekolah di Singapur juga. Sekalian buat melarikan diri dari nenek sihir itu. Alasan sekolah itu, kan oke juga. Biar dia gak curiga.”
“Wahh.. Bagus juga, tuh. Sekalian buat nemenin gue di Singapur. Wahh.. Simbiosis mutualisme, nih”
“Jadi,,, ?”
“Ya.. Nanti gue urusin sama papa gue.”
“Makasih banget, ya, Win. Lo memang sahabat terbaik gue.”
“Santai, aja, Vell.”

Hari demi hari telah berlalu, hingga masa kelulusan Vella tiba.
“Vella… Gue lulus…!!! Teriak Winda yang kegirangannya setinggi langit. Vella yang sedang mencari namanya di majalah dinding kelulusan terkejut dibuatnya.
“ Ya Ampun…Winda!! Jantung gue hampir meledak tau.”
“ Ya,,Sorry. Abisnya gue seneng banget tau. Akhirnya gue jadi murid putih abu-abu. Hahaha…”
“ Biasa aja, kale!”
“ Gimana..? Lo lulus gak??”
“Iya,nih. Gak ada nama gue”
“ Yang bener?! Jangan-jangan lo gak lulus?!”
“Jangan sampe. Lo nakutin aja. Mending bantuin gue nyari.”
“Okey..Okey..Gue bantuin.”
“Vella Aprilia…kok gak ada.” Rintih Vella.
“ Yang ada Cuma Velia Aprilia..”
 “ Mana.. Mana..?!”
“Tuh…!” Ucap Winda sambil menunjukkan ke selembar kertas”
“ Wah.. Pasti orangnya salah tulis,nih! “
“Iya. Ini nama lo kali !”
“ Kalau bener ini nama gue, berarti gue lulus.. Yeee!”
“ Yahh.. Kegirangan juga kan dia! “
“ Akhirnya gue bisa jauuuuuhhhh…jauuuuhhh dari nenek sihir dan pergi ke Singapur.”
“ Horeeee!! Merdeka!!!”
“ Win,, nanti kabarin gue,ya, kalau gue diterima!”
“Siipp…Boss!!!”
“Horeee… Merdekaaa!” Ucap mereka serentak

Hari libur merupakan hari yang paling disenengi semua orang. Terkecuali Vella. Baginya hari libur merupakan hari dimana ia ditahan di penjara yang amat menyeramkan di dunia. Hari-harinya dilalui dengan penuh kebosanan. Sampai di suatu hari ada sms dari Winda yang berformat “PENTING”.

Vella bergegas membuka sms itu.

Vell…

Gw puxa kbr b”ik .

Lo d’trima di SMA Singapur..

Setelah membaca sms itu, Vella langsung meloncat-loncat di atas kasurnya yang empuk dan berteriak-teriak kegirangan. Sehingga membuat ibu tirinya merasa geram.

“ Vellaaaa… Berhenti…!!!” Teriak ibu tiri Vella. Vella langsung terdiam.
“Kamu tau, nggak?! Kasur itu mahal harganya. Terus kamu ingin merusaknya dengan kelakuanmu yang nggak jelas itu…?!!!” Ibu tiri mulai mengomel.
“Sorry,deh,,!!!” Kata Vella acuh tak acuh.
“ Nggak sopan banget sih kamu. Sudah… sekarang kamu saya hukum. Kamar ini akan saya kunci sampai papamu pulang. Kamu dilarang makan ataupun minum. Jangan coba-coba melarikan diri. Dua satpam akan menjagamu di muka sana. Ingat kamu…?!!!” Bentak Ibu tiri.
“Orang Jahat…!!” Balas Vella dengan muka merah. Ibu tiri pun berlalu dan mengunci kamar itu.

Vella yang semula senang menjadi marah. Namun kini ia dapat menahan emosinya karena ia merasa ia akan bebas dari semua ini.
        
Keesokan harinya di rumah Vella..
“Non Vella, disuruh bapak makan bersama, Non.” Panggil Bi Nah.

Namun Vella tak menjawab sedikitpun. Bi Nah mencoba memanggilnya beberapa kali, namun tetap tak ada jawaban. Akhirnya Bi Nah membuka pintu kamarnya Vella. Ternyata pintu kamarnya tidak dikunci. Bi Nah mencari-cari Vella di dalam kamr itu, namun tetap tak ada. Bi Nah pun berteriak histeris.

“Tuan.. Nyonya… !!!” papa dan ibu tirinya Vella pun bergegas mendatanginya.
“Ada apa,Bi?” Tanya papahnya Vella.
“Non Vella tidak ada di kamarnya.”
“Apaa..!!?” Bentak ibu tiri.
“Kamu sudah cari ??”
“Sudah, Tuan. Tapi tetep tidak ada.”
“Ya, Ampun. Ngerepotin aja,sih pake kabur-kabur segala.” Desah ibu tiri. Tak selang beberapa lama Handphone papanya Vella berbunyi. Ternyata ada sms dari Vella. Pah, Vella prgi k” rmh Winda.

Pah, Mf. Vella sdh dftarin diri sekolah d”singapur sm Winda.

N lusa Vella akan b’rngkt k’singapur.

Papah gk ush khwatir.. Vella bisa jg diri.  Vella ingn k’tmu mamah.

Miss You, Dad

Setelah mendengar semua itu, sang ayah syok berat dan langsung pingsan. Ia merasa selama ini telah melakukan hal yang salah terhadap anak semata wayangnya itu. Hanya demi keselamatan perusahaannya, ia tega mengorbankan kebahagiaan anaknya. Ayah Vella pun dibawa ke rumah sakit.

Di rumah sakit sang ayah sedang kritis melawan penyakit jantung yang sudah 3 tahun menggerogotinya, ibu tiri tidak mempedulikannya sedikitpun. Sampai di saat-saat papa Vella siuman. Ia memohon kepada anak buahnya untuk membuatkan surat cerainya dengan istrinya. Ia sudah tak peduli lagi dengan perusahaan dan kekayaannya. Yang ia pikirkan sekarang adalah keadaan anak gadisnya itu. Disaat sang ayah sedang kritisnya, Vella yang sekarang sudah bebas dari ibu tirinya merasa sangat gembira. Ia tak tau keadaan ayahnya yang lagi sekarat. Bersama dengan Winda, ia merayakan kemerdekaannya di sebuah asrama putri di Singapur. Kini ia merasa dapat sesuka hati melakukan apa saja tanpa harus dilarang oleh ibu tirinya. Ketika sedang asyiknya berpesta, ada panggilan masuk dari handphone Vella.

“Kenapa, Vel??” Tanya Winda.
“Papah gue nelpon.” Jawabnya. Ketika diangkat teleponnya, ternyata yang mengangkat bukan ayahnya, tapi orang kepercayaan ayahnya .
“Hallo..” terdengar suara tegas di sana.
“Iya, Hallo.” Jawab Vella.
“Vella.. Ini Om Anton.”
“Iya,Om. Ada apa?”
“Papamu,Vell. Papamu masuk rumah sakit. Karena serangan jantung.” Ucap laki-laki itu
.”Apaaaa, Om…! …!”Teriaknya bersama dengan isak tangisnya. Melihat sahabatnya menangis, Winda mencoba menenangkan Vella.
“Vella.. Kenapa, Vell?” Tanya Winda.
“Hiks..Hiks.. Papahku.. Papahku masuk rumah sakit, kena serangan jantung.” Jawab Vella tersedu-sedu. Mendengar semua itu, Winda terdiam. Ia merasa tidak berani berkata apa-apa kepada Vella. Ia takut, sahabatnya itu nanti jadi semakin sedih. Ia tau,pasti semua ini ada hubungannya dengan kepergian Vella ke sini.

Keesokan harinya…

Vella merasa bingung.. Ia harus memilih mencari ibunya di Singapur atau pulang ke Indonesia untuk menemui ayahnya.

Mungkin kali ini, Vella tidak bisa berpikir jernih. Ia lebih memilih ibunya yang belum tentu ia ketahui alamatnya dibanding ayahnya yang sedang sakit. Karena selama ini, ia berpikir ayahnya tidak  mempedulikannya. Menurutnya ayahnya lebih memilih perusahaan daripada dirinya. Padahal anggapannya itu adalah salah besar.

Sudah tiga hari Vella mencari alamat tempat ibunya tinggal. Namun hasilnya tetap nol. Tidak seorang pun yang tahu alamat itu. Ibunya memang sering pindah-pindah tempat. Memang,sih. Ia sering diberitahu alamat ibunya tinggal melalui Telepon. Namun semenjak ibu pindah ke Singapur ia tidak pernah memberitahu alamat jelasnya. Yang diberitahu Cuma ia berada di Singapur. Itu pun rekan dekatnya yang menginformasikan.

Setelah lama kelamaan, ia mulai merasa putus asa. Selama ini ia sudah mengambil keputusan yang salah. Seharusnya saat itu, ia pulang ke Indonesia untuk merawat ayahnya yang sedang sakit. Sepanjang jalan, ia menyesali semua yang ia lakukan. Hingga sampai di sebuah stasiun. Pikirannya di buyarkan oleh sebuah teriakan seseorang yang tidak asing dengannya. Ia pun membalikkan wajahnya. Yang ia lihat adalah seorang wanita yang pakaiannya compang-camping dengan rambut acak-acakan seperti orang gila. Ia pun memberanikan diri mendekati wanita itu. Wanita itu terkejut melihat Vella. Sepertinya wanita itu mengenali Vella.

Vella pun mencoba mengenali wanita itu. Dan betapa terkejutnya ia. Ternyata wanita gila itu adalah ibunya sendiri.
“Mamah…” Ucapnya dengan tangis yang mulai timbul. Mendengar panggilan itu, wanita yang ternyata ibunya Vella itu pun tersenyum-senyum sambil mengeluarkan air mata.
“Mamah… Ini Vella. Anak mamah… Ini Vella, Mah… Ini Vella…” Rintihnya mencoba mengingatkan ibunya tentang dirinya.
“ Vella… Anakku??” Jawab wanita itu. Seakan-akan percaya dan tidak.
“Iya, Mah. Ini anak Mamah..”
“Anakku… ! Vella sayang..” Akhirnya wanita itu ingat tentang dirinya.
“Mah,, kenapa mamah jadi begini..??”
“Sayang.. Mamah kangen kamu!! “ Mendengar semua itu, Vella berhenti bertanya. Ia tau, ibunya belum bisa menjelaskan semua itu. Tapi sekarang ia berhasil bertemu ibunya. Dan yang ia harus ia lakukan sekarang adalah membawa pulang ibunya ke Indonesia untuk berobat lalu bertemu dengan ayahnya untuk meminta maaf.

Sesampainya di Indonesia..

Vella dan ibunya pergi ke rumah sakit untuk menjenguk ayahnya. Sesampainya di rumah sakit, betapa terkejutnya mereka, ketika melihat ayahnya sedang terbaring lemah di ruang ICU.

“ Om, bagaimana keadaan papah ??” Tanya Vella ke seorang laki-laki kepercayaan ayahnya.
“ Ayahmu koma, sudah empat hari ia tidak sadarkan diri.” Jawab laki-laki itu. Mendengar semua itu, Vella sangat menyesal telah meninggalkan papahnya. Sekarang, ia hanya bisa berdo’a agar ayahnya bisa sembuh dan dapat bersamanya kembali.
“ Om, kok ibu tiri gak ada??” Tanya Vella.
“ Ibu tiri sama Papahmu sudah bercerai. “ Jawab Om itu. Mendengar itu, Vella jadi semakin menyesal. Selama ini ia tidak bisa mengerti keadaan papahnya yang serba salah. Bahkan ia telah membuat papahnya sekarat. Vella pun tidak bisa menahan air matanya yang mulai berjatuhan. Diiringi oleh tangisan Ibunya.
“ Mah.. mamah gak apa-apa, kan??” Vella memulai pembicaraan dengan ibunya. Ia masih bingung, kenapa ibunya jadi stress begini.
“ Mamah menyesal telah meninggalkan kamu dan Papah.” Ucap Ibunya Vella. Kayaknya Ibu Vella mulai terbuka.
“ Tapi, Mah. Kenapa mamah nggak bilang ke aku kalau mamah pindah ke Singapur.”

“ Saat itu, mamah dipecat dari pekerjaan mamah. Selain itu, ketika  mamah pindah ke Singapur, Mamah di tipu seseorang, ia menjanjikan mamah bekerja di sebuah perusahaan besar di Singapur dengan syarat uang muka sekitar 20 juta. Karena saat itu Mamah tidak bisa berpikir jernih, Mamah pun mengikuti syarat itu. Ternyata orang itu menipu mamah. Perusahaan itu ternyata sudah bankrut,  sehingga semua uang mamah habis. Saat itu, Mamah pun menjadi depresi karena tidak punya uang lagi untuk menemuimu ke Indonesia. Akhirnya mamah menjadi stress berat, dan …” Mamah Vella tidak bisa melanjutkan ceritanya. Ia menangis sejadi-jadinya. Pada saat itu, keajaiban datang. Mendengar tangisan mamahnya Vella, ayahnya pun mulai sadar. Vella dan mamahnya pun bergegas masuk ke ruang ICU tempat ayahnya dirawat.

“ Papah…Maafin Vella!!” Ucap Vella sambil memegang tangan ayahnya.
“ Vella… “ Ucap ayahnya lemah.
“ Pah,, Mamah kangen Papah, jadi Mamah ke sini menjenguk papah.” Ucap Vella
“Mamah..” Kata Papahnya tersenyum kecil.
“ Iya, Pah. Maafin Mamah, ya! Selama ini Mamah sudah membiarkan Papah berjuang sendirian menjaga Vella.” Papah Vella pun terlihat bahagia.

Keluarga itu pun kembali bersatu . Tak beberapa lama, ayah Vella kemudian sembuh. Dan yang paling membuat mereka gembira adalah kabar baik tentang Perusahaan Papahnya Vella yang kemudian bisa berdiri lagi berkat bantuan Papahnya Winda yang mengajak Perusahaan papahnya Vella berkerjasama dengan perusahaannya. Ternyata Winda lah yang menyuruh semua itu kepada ayahnya.

Akhirnya keluarga Vella kembali bahagia seperti dulu lagi tanpa kehadiran  nenek sihir. Vella pun kini dapat sesuka hati berteman dengan teman-temannya terutama dengan Winda. Kehidupan Vella menjadi indah kembali.

THE END

Semoga Bermanfaat Cerpen Sedih diatas Share Cerpen ini bila menurut anda bagus dan Baca juga Cerpen Sedih lainnya.

Minggu, 13 November 2011

Cerpen : Mawar Terakhir

MAWAR TERAKHIR
Karya Annisa Maulidya

Jam masih menunjukan pukul enam tepat, tapi rumah niken sudan terlihat sepi. Hanya Niken dan Bi minah yang tengah menyiapkan sarapan pagi untuk satu-satunya penghuni rumah─yang biasanya terbuang percuma.
    Niken tengah terdiam disudut tempat tidurnya sejak lima belas menit yang lalu. Tanganya tidak berhenti memekan-nekan pundaknya yang benar-benar terasa kaku. Diliriknya jam disudut kamar, pukul enam lewat lima menit. Dengan malas diambilnya tas selempang yang hanya berisi dua buku tulis. Langkahnya cepat menuruni anak tangga. Dilewatinya ruang makan tanpa melirik sarapan yang disiapkan Bi Minah, menuju garase.
”Non tidak sarapan dulu?” ucap Bi minah yang tengah menyapu halaman depan
”Nggak bi. Kalau bibi mau, makan aja. Saya nggak laper bi” ucap Niken lemas.
    Bi Minah hanya bisa terdiam dan melanjutkan pekerjaanya. Sudah hal yang biasa bila Niken tidak melirik apalagi menyentuh sarapan paginya. Ia tau niken tidak memiliki selera makan bila dirumah.
    Dipacunya motor hitam itu melewati jalanan yang masih sepi.
☼ ☼ ☼
    Riko terdiam kaget ketika melihat salah satu motor yang terparkir di area parkir gedung B SMA Triutama. Bagaimanapun terasa janggal bagi Riko jika motor itu sudah terparkir disana sepagi ini.
    Ia tau persis siapa pemilik motor itu. Niken Satria Andriani. Salah satu murid yang selalu datang tepat waktu—dalam artian yang ”benar-benar” tepat— dan sesuai jadwal, yaitu beberapa detik sebelum gerbang utama ditutup. Biasanya mereka yang tepat waktu inilah yang akan mendapatkan sumpah serapah paling banyak dari siswa lain. Selain karena motor mereka yang masuk dalam salah satu motor yang paling diincar polisi—karena pake knalpot yang bising banget— dan sering bikin kesal siswa lain karena dengan terpaksa mereka harus menghindar dari jalan utama supaya nggak kena tabrak sama mereka-mereka yang biasanya sering ugal-ugalan, ditambah lagi biasanya gerbang akan langsung ditutup sesudah mereka masuk.
     Riko berjalan santai menuju kelasnya dilantai dua gedung B. Dilewatinya anak tangga itu satu persatu. Mencoba menikmati udara segar yang masih tersisa pagi ini.
☼ ☼ ☼
    Niken duduk terdiam disudut kelasnya. Fokus matanya lemah menatap keluar jendela. Badanya sakit dan pikiranya benar-benar terasa kacau. Lapar diperutnya sama sekali tak dihiraukanya.
    Niken masih terdiam saat Riko memasuki ruangan kelas 11 IPA 2 itu. Diletakanya tas selempang yang hanya berisi dua buah buku itu dan langsung dihampirinya sahabat karibnya yang tengah terdiam seperti mayat hidup
”Pagi ken” ucapnya sambil menarik salah satu bangku terdekat dan diletakanya disamping Niken yang masih terdiam tanpa suara. Sepertinya pikiranya sedang tidak ditempat.
”Aw!!” teriaknya kesakitan ”sakit begok!” gerutunya lagi
”Mentang-mentang dapat nilai bagus terus walaupun cabut hampir tiap hari. Gue dibilang begok. Tega banget” Riko cemberut.
”Eeeeh. Elo rik. Gue kira siapa. Sorry-sorry. Jangan ngambek yaaa. Pleasee” niken yang tadi diam kini berubah menjadi lebih bersuara.
“Tau ah. Gue ngambek” riko memalingkan muka dengan senyum geli.
“Ih. Kayak gitu banget lo sama gue? Maaf dong rik. Lo itu yang salah. Badan gue pada sakit semua gara-gara balapan semalam ” gerutunya
”Kok jadi elo yang ngambek? Gue Cuma bercanda aja kok ken. Perasaan biasanya kalau habis balapan lo baik-baik aja deh ken”. Nada heran terdengar dan tergambar jelas diwajah riko. Niklen sudah biasa mengikuti balapan liar, tapi baru kali ini ia mendengar sahabatnya ini sakit hanya karena balapan.
Niken menarik nafas panjang dan menghelanya secara perlahan.
”Semalem gue nggak konsen. Kepeleset, terus jatuh ” jawab niken pelan.
”Nggak konsen? Kok bisa? Biasanya lo semangat banget kalau balapan? Apa lo lagi ada masalah? Jangan bilang kalau lo ribut lagi sama rendra?” Riko melontarkan beberapa pertanyaan dan mencoba menerka jawabanya sendiri. Rasa heran dalam pikiranya semakin tinggi. Bagi Niken, balapan adalah salah satu hobi, bukan tempat pelampiasan rasa frustasi yang selalu menghantui. Penghapus rasa sunyi dan pedih yang selalu menghantui dengan pisau es yang dingin.
”Kok lo tau?” pertanyaan aneh itu terlontar dari mulut Niken.
”Jelaslah.” ucap Riko tandas. ”Nggak mungkin banget kalau masalah lo bersumber dari bokap lo. Kalian berduakan kayak orang yang nggak kenal satu sama lain. Buktinya, lko balapan aja dia nggak peduli. Yang ngejemputin lapor lo pas akhir tahun ajaran aja juga bukan dia.”
”Haha, bener banget. Itu orang nggak pernah peduliin gue” Niken hanya tertawa geli mendengar pernyataan Riko tersebut. Bagaimanapun Niken dan ayahnya memang tidak terlalu dekat—seperti yang dibilang Riko— mereka seperti orang yang tidak kenal satu sama lain. Hal ini sangat berbeda dengan suasana keluarga mereka waktu masih utuh. Ayah Niken sibuk dengan pekerjaanya sebagai direktur salah satu perusahaan swasta ternama di daerah Jakarta Pusat. Sedangkan Niken, dia lebih banyak meghabiskan waktu dengan teman-temanya sesama bomber—sebutan untuk pembuat Grafiti— dan team balapnya.
”Mau cerita masalahnya apa?” tanya Riko santai. Bagaimanapun ia tidak ingin memaksa sahabatnya ini untuk menceritakan semuanya sekarang.
Niken melirik jam ditangan kirinya seiring dengan makin banyak teman sekelasnya yang datang.
”Hmm, kayaknya ntar aja deh rik. Udah rame banget nih” ucap niken lemah.
”Ya udah deh. Terserah lo aja. Gue nggak maksa kok. Betewe nih, lo udah makan belum?”
”Belum sih. Lo gimana?” ucap Niken sembari memegang perutnya yang mulai keroncongan.
”Kok keras banget bunyinya ken?” riko tersenyum geli, membuat wajah Niken menjadi cemberut. ”Semalam lo pasti nggak makan ya? Masih ada lima menit lagi. Makan yuk. Gue yang bayarin.”
”Tumben lo traktir gue? Biasanya gue terus yang traktir lo?” Niken tertawa.
”Sekali-sekali gue yang bayarin kan nggak apa-apa. Ayolah. Lebih cepat, lebih baik. Gue udah laper banget nih.”Riko berjalan meninggalkan Niken menuju kantin.
”Riko... Tungguin gue napa? Jangan main ninggalin gitu deh. Gue juga laper nih” Niken berteriak lengking. Hampir semua murid lain dikelas menutup telinga mereka yang paling dekat dengan sumber suara. Riko tetap berjalan tanpa menoleh kebelakang. Bahkan kini langkahnya lebih cepat dari pada yang tadi. Akhirnya dengan tangan memegang perut, Niken berlari mengejar Riko yang sudah melai menuruni anak tangga.
☼ ☼ ☼
    Hari ini kelas 11 IPA 2 benar-benar berbeda dari biasanya. Kelas itu lebih hening dan tentram karena murid yang biasanya membuat kelas itu hingar-bingar, mendadak menjadi diam tanpa suara.
    Jam pelajaran pertama dilalui Niken dengan pikiran yang benar-benar kacau. Gelisah dan rasa sesak akan kekecewaan membuat dadanya terasa sakit. Hampir tiap sepuluh menit Niken mengubah pandangannya, dari keluar jendela, kemudian kedepan, keluar jendela lagi, dan begitu seterusnya.
    Riko memperhatikan gerak-gerik Niken yang semakin lama semakin aneh dan membuatnya kawatir. Diraihnya ponsel disakunya dan langsung diketiknya sebuah pesan singkat.
Gelisah bngt ken?
Lo baik2 aja kan?
Gue kwatir...
    Dikirimnya sms itu keorang yang tidak begitu jauh darinya. Semenit kemudian, sms balasan dari Niken masuk ke ponsel Riko
Gue fine2 aja kok
Nggak ada yg perlu lo kwatirin
    Niken menoleh kearah Riko dan tersenyum tipis. Senyum yang mengandung banyak makna.
    Sepeluh menit sebelum jam pelajaran kedua berakhir. Wajah Niken masih terlihat kosong. Pikirannya masih melayang entah kemana. Tidak ada setitikpun pelajaran yang ditangkapnya pagi ini. Buku catatannya pun masih sama seperti kemarin, tidak ada tambahan dari materi yang sudah dijelaskan ibu fika yang dicatatnya. Diliriknya jam tangan hitamnya. Kemudian diraihnya ponsel yang berada dilaci meja. Dengan cepat diketiknya sebuah sms.
Riko.. gue mau cabut ni
Lo ikut kagak?
Gue harap sih iya
Ada hal penting yg pengen gue omongin ma elo.
    Sms itu mendarat tepat pada ponsel Riko. Niken menoleh kearah riko dengan wajah yang memelas sendu. Rasa segan dan sedih bercampur dihatinya. Dengan berat dianggukanya kepalanya dua kali tanda setuju.
Kita cabut waktu jam istirahat pertama aja
Biasanya jam segitu satpamnya lagi makan
Pagar juga nggak kekunci
Jadi bisa lebih mudah
    Riko kembali menganggukan kepalanya dua kali tanda setuju. Walaupun hari ini ia ingin sekali  mengikuti pelajaran full sampai sore. Tapi ia sama sekali tak habis hati jika harus membiarkan sahabatnya dalam keterpurukan yang mengerikan seperti saat ini. Yaitu keterpurukan yang telah membuat Niken berubah seratus delapan puluh derajat.
☼ ☼ ☼
    Bel istirahat pertama berbunyi nyaring. Membuat puluhan murid mulai berlari meninggalkan kelas dan meuju kantin. Hanya Niken dan Riko yang berjalan menuju area parkir gedung B.
”Mau cabut kemana?” Tanya Riko penasaran.
”Lo ikutin gue aja. Susah kalau neranginya sekarang. Lo nggak bakalan tau.” ucap Niken tandas.
”Oke, terserah lo aja”
    Keduanya memacu motor mereka keluar area sekolah dengan hati-hati. Satpam yang biasa berjaga sedang istirahat dikantornya. Niken mengarahkan motornya kearah puncak, diikuti dengan Riko dibelakangnya. Jalanan yang tidak begitu ramai membuat Riko lebih mudah menyesuaikan kecepatan motornya dengan Niken. Walaupun begitu, ada banyak pertanyaan dalam benak Riko yang akan terjawab ketika mereka sampai.
☼ ☼ ☼
    Kurang dari waktu tempuh sewajarnya, Niken dan Riko sampai ditempat tujuan mereka. Riko melepas helm yang melindungi kepalanya. Dingin udara gunung segera memeluk tubunhnya.
    Dengan bingung Riko mengikuti Niken yang sudah berjalan terlebih dahulu melewati sebuah gapura yang ditutupi tumbuhan merambat. Dirinya benar-benar kaget dengan penataan bentuk dan tata ruang bangunan dibalik gapura itu. Hanya saja tempat ini jelas tidak terawat karena telah lama tidak didatangi pemiliknya.
    Niken duduk bersila diatas sebuah pondok dengan fokus mata menatap kearah kolam ikan. Hening. Hanya gemerecik air dan kicau burung yang terdengar mengisi sunyi.
    Riko hendak melontarkan pertanyaan kepada Niken, namun langsung diurungkanya niat itu ketika dilihatnya niken pucat pasi. Tubuhnya seperti tidak dialiri darah sama sekali. Fokus matanya pun terlihat begitu kosong dan hampa. Diputuskanya untuk juga diam dan bersila disamping sahabatnya itu.
”Riko. Kalau andai kata selama ini ada hal yang gue tutupin ke elo. Lo marah nggak sama gue?” setelah beberapa menit diam, akhirnya Niken membuka mulutnya.
”Nggak. Gue nggak bakalan marah kok sama lo” jawabnya sambil tersenyum.
”Janji?”
”Janji! Emangnya ada apaan sih ken?” tanya Riko penasaran.
”Gue kanker darah ko” ucap niken lemah. Ada nada perih bercampu ragu terdengar didalamnya. Ada penyesalan dan keinginan agar itu tak pernah terjadi.
”Hah? Kanker darah?“ Riko benar-benar kaget dengan kenyataan itu. ”bercanda lo nggak lucu ken” Riko murung.
”Gue serius banget ko. Gue, Niken Satria Andriani. Menderita Leukimia—Kanker darah— stadium empat.” Ucapnya dengan intonasi yang ditekankan pada bagian tertentu.
    Riko terdiam hening. Matanya menatap lekat dan kasihan kepaa sahabatnya ini. Niken bukanlah cewek yang berfisik lemah. Jenis olahraga banyak diikutinya dengan telaten. Nilainyapun termasuk dalam kategori sangat baik. Rengking empat walupun cabut hampir tiap hari dalam seminggu.
”Bokap lo tau?” tanya Riko datar.
    Niken tak menjawab. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya petanda tidak. Riko merasa bodoh telah melontarkan pertanyaan yang seharusnya ia tau jawabanya apa.
”Yang tabah ya ken” dirangkulnya tubuh Niken. Rasa dingin terasa dibagian tangan yang tersentuh oleh jemari Riko. Niken tersenyum getir. ”Hmm... Ada masalah apa lagi lo sama Rendra?”
Niken menarik nafas panjang. Kemudian dengan mata tetap terfokus pada kolam, dihempuskanya kembali dengan berat dan pelan. Ia berusaha untuk sebisa mungkin rileks.
”Nggak ada, Gue Cuma lagi break aja sama tu anak”
”Kok bisa? Siapa yang mintak?”
”Gue yang mintak rik. Habisnya akhir-akhir ini dia mulai berubah drastis. SMS gue udah jarang dia bales. Kalau telponan pun palingan cuma lima menit. Padahal biasanya bisa sejam. Dua hari yang lalu, gue minjam ponselnya dia, juga nggak dapet sama dia.” jelas Niken dengan nafas yang terdengar berat.
    Pertahananya mulai runtuh. Topeng yang selama ini melindunginya tidak mampu menutup retakan kecil yang sudah ada semenjak tadi pagi. Alhasil pertahanan Niken runtuh dan satu air mata mulai jatuh dan menetes kedalam. Riko sadar dengan keadaan temanya dan akhirnya memilih untuk diam.
    Lama terdiam didalam pikiran dan emosi masing-masing. Akhirnya Niken memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Riko hanya ikut dengan ajakan Niken, walaupun dirinya kawatir dengan keadaan Niken. Emosional dan pikiranya terlalu kacau untuk bisa membawa motor dijalanan yang mulai padat. Pucat diwajahnya masih belum hilang sedikitpun.
☼ ☼ ☼
    Rendra dan Tiva memilih untuk makan siang disebuah cafe dijalan lintas Jakarta-Bogor. Mereka terlihat benar-benar dekat. Bahkan sepertinya lebih dari teman. Mereka PACARAN!!!.
    Rendra memilih kursi didepan cafe dibawah pohon peneduh cafe tersebut. Senyum sumringah tercetak diwajah Rendra dan Tiva. Mereka memang sudah saling menyukai semenjak awal bertemu di pesta ulang tahun Rakha. Tapi bagaimanapun, saat itu Rendra adalah pacar Niken—sampai sekarangpun masih— yang notabene adalah temanya.
☼ ☼ ☼
    Masih setengah jalan dari Bogor menuju Jakarta, Perut Niken dan Riko sudah merasa keroncongan. Maklum, sudah masuk jam makan siang dan ditambah lagi salah satu hal yang tidak pernah diam jika jadwalnya telambat adalah perut.
    Akhirnya mereka berhenti disebuah cafe, yang ternyata bersebrangan dengan cafe temnpat Rendra dan Tiva berada sekarang. Sekilas Riko melihat kalau itu adalah Rendra. Tapi ia masih ragu. Akhirya keraguan itu terhapus ketika Niken melihat mereka berdua tengah asyik bemesraan diseberang sana.
    Dengan cepat niken memencet nomor-nomor diponselnya. Membentuk deretan angka yang berjumlah dua belas. Langsung di tekanya tombol call.
    ☼ ☼ ☼
    Ponsel Rendra tiba-tiba berbunyi. Niken Memanggil. Dengan cepat diangkatnya panggilan itu agar Niken tidak curiga. Sungguh itu semua sia-sia.
”Halo ken” ucap Rendra tenang.
”Halo ren. Lo lagi dimana sekarang? Bisa ketemu nggak?” Niken bertanya seolah-olah ia sama sekali tidak berada diseberang jalan itu.
”Lagi dirumah temen gue ken. Kayaknya gue nggak bisa deh. Sibuk” Rendra berbohong.
”Ya udah deh. Bye” telpon itu terputus. Wajah Niken berubah menjadi merah padam. Emosinya benar-benar bergejolak.
”Ternyata kalian berdua benar-benar hebat. Pacar yang paling gue percaya, selingkuh sama teman gue sendiri. Biadab” desis nya kesal. Riko hanya diam dan tak ingin ikut campur.
“Riko, kita pulang aja. Selera makan gue hilang. Gue kenyang ngeliat mereka” Niken berdiri dan langsung menghidupkan motornya.
“Iya-iya. Tunggu bentar.”
☼ ☼ ☼
    Malam semakin larut. Keriuhan kota Jakarta kini berubah menjadi suara-suara kecil dibawah remang-remang lampu jalanan. Niken duduk terdiam ditengah hutan kota itu semenjak satu jam yang lalu. Sesekali diambilnya batu kecil dan dilemparkanya ketengah danau yang memantulkan cahaya bulan. Perih dihatinya benar-benar tidak dapat terobati. Rasa sesak semakin menghimpit hulu hatinya. Menciptakan rasa teramat sakit.
    Lama duduk terdiam ditengah taman itu, Niken sama sekali tidak menyadari jika jam telah menunjukan waktu pertukaran hari. Dengan lemah Niken berjalan menuju motornya yang terparkir tidak jauh dari sisi danau. Tanganya beruasaha menekan tengkuk kepalanya yang terasa benar-benar sakit. Darah segar mengalir dari hidungnya dan jatuh ketanah.
”Sial. Kenapa harus sekarang?!” desisnya pelan.
    Ditinggalkanya taman sunyi itu sendiri ditengah remang-remang cahaya lampu taman. Dipacunya motornya secepat mungkin dengan salah satu tangan dihidungnya. Ia berusaha menghentikan darah yang terus mengalir.
    Fokus mata Niken mulai memudar. Jalan didepanya menjadi memudar dan berubah gelap. Tanpa mampu ditahanya, badan itu kini jatuh kepelukan bumi. Motornya jatuh kesisi yang berlawanan.wajah Niken benar-benar pucat. Darah dari hidungnya mulai berhenti. Hal terakhir yang diketahuinya hanya bulan yang sinarnya ditutupi awan. Setelah itu tidak ada hal yang ia ketahui. Niken kehilangan kesadaranya
☼ ☼ ☼

Keesokan harinya...
    Pagi ini Riko tidak melihat motor Niken terparkir di area biasanya cewek itu memarkirkan motor hitamnya. Benar. Hingga jam pelajaran pertama usai, niken sama sekali belum melihatkan batang hidungnya. Riko kawatir apakah temanya itu baik-baik saja.
    Pertukaran jam pelajaran pertama dimanfaatkan Riko untuk menelpon Niken.
”Halo, selamat pagi. Ini siapa?” yang menjawab sama sekali bukan niken.
”Nikenya ada bi? Kok hari ini dia nggak masuk ya bi?” tanya Riko kawatir.
”Non Niken sakit mas. Dia dirawat dirumah sakit Harapan Bunda mas.” ucap bi minah datar
”Kalau gitu terima kasih bi” telpon itu kemudian terputus. Satu-satunya yang terpikirkan dalam otak Riko adalah penyakit Niken.
    Akhirnya Riko tidak bisa konsentrasi belajar. Hingga jam pelajaran kelima dirinya meminta izin untuk pulang kepada guru piket. Dipacunya motornya menuju Rumah sakit Harapan Bunda yang letaknya tidak jauh dari SMA Triutama.
    Niken terbaring lemah disina. Ayahnya berdiri disampingnmya sambil mengelus kening putri bungsunya yang selama ini tidka peernah ia pedulikan. Rasa bersalah terlihat jelas diwajah sang ayah.
    Riko membuka pintu kamar itu dan melihat Niken yang dalam keadaan terbaring lemah. Niken terbangun sesaat setelah Riko datang. Dimintanya sang ayah untuk meninggalkan mereka berdua disana.
”Riko, Ada yang mau gue titipin ke elo. Tapi sebelumnya lo bisa sms Rendra bentar? Bilang kalau gue lagi dirumah sakit” ucap Niken lirih.
”Oke-oke. Emang lo mau nitip apa?”
”Diloker gue ada kotak. Dalamnya da mawar merah sama surat kecil. Nanti selepas gue pergi. Lo kasihin kotak itu ke Rendra ya rik. ” suara Niken mulai terbata-bata.
”Iya nanti gue kasihin ke dia. Sekarang lo istirahat dulu aja ya ken.”
☼ ☼ ☼
    Rendra datang lima belas menit kemudian. Dia berlari menyusuri koridor menuju ruangan tempat Niken dirawat. Tepat didepan pintu langkahnya dicegat oleh Riko.
”Niken mana?” tanya Rendra tandas.
”Buat apa lo masih datang kesini? Lo Cuma bikin dia sakit!” rendra kesal.
”Maksud lo?” Rendra sama sekali tidak memahami apa yang dibicarakan Riko.
”Niken kecelakaan gara-gara elo begok!” nada suara Rendra meninggi.
”Loh? Kok gue sih?” Rendra masih merasa tidak memiliki kesalahan yang mampu membuat Niken menjadi seperti ini.
”Lo nggak sadar sama kesalahan lo? Lo nggak sadar kalau kemaren Niken ngeliat lo jalan berdua sama Tiva?” Nada Riko meninggi.
”Suka-suka gue dong. Ngapain lo yang sewot? Udah minggir sana” Rendra tidak ambil pusing dengan penjelasan Riko. Dicobanya menerobos pembatas hidup itu. Mustahil. Dia gagal.
”Apa?” Riko memegang kerah baju Rendra. ”Lo masih bisa bilang kayak gitu? Emangnya lo kira Niken itu apa? Permen karet? Habis lo bikin dia cinta mati sama lo, lo duain dia kayak gitu? Kejam banget tau nggak!” dengan emosi tertahan, Riko menggenggam kerah baju Rendra. Membuat badan cowok itu sedikit terangkat.
”Coba lo pikir. Berapa banyak pengorbanan dia buat elo hah? Tapi lo Cuma bisa ngebalesnya dengan cara kayak gini? Gue kecewa!” Desis Riko geram.
    Rendra hanya terdiam. Hening. Rasa bersalah terlihat dari raut wajah dan matanya. Ia menyesal. Namun penyesalan itu tak akan berguna. Niken telah pergi tepat sesudah penyesalan itu datang merasuki jiwa Rendra.
    Riko berlari memasuki ruangan itu ketika ayah Niken berteriak memanggil nama anaknya. Niken telah pergi. Ia pergi dengan membawa tangisan kedalam alam sana. Pedih hatinya tidak terobati sampai detik terakhirnya. Bahkan orang yang benar-benar diharapkanya sama sekali tidak sadar dengan kesalahanya. Begitu malang nasib cewek tomboy yang selalu berusaha tegar.
☼ ☼ ☼
   
    Uapara pemakaman Niken diiringi dengan tangisan dan rasa kehilangan di hati teman-temanya. Bagaimanapun Niken adalah pribadi yang unik. Meskipun ia termasuk anak yang memiliki tingkat kasus terparah. Tapi jauh dari itu semua Niken adalah sosok yang baik. Sosok yang selalu tegar dengan segala masalah. Sosok yang selalu membuat orang tersenyum. Sosok yang dapat diandalkan dalam segala bidang.
    Riko menyerahkan kotak yang dititipkan Niken kepada Rendra setelah acara pemakaman selesai. Rendra menerimanya dengan perasaan bersalah dan beribu tanda tanya.
”Niken nitip itu ke gue. Katanya itu buat lo. Gue nggak tau apa isinya. Yang jelas satu pesan gue. Lo ngebacanya pake hati. Jangan pake lidah” ucap Riko datar.
    Rendra menerima kotak itu dengan suara tecekat ditenggorokan. Ia sama sekali tidak tau apa yang harus ia ucapkan saat ini. Bagaimanapun rasa bersalah telah membunuh rasa bahagianya. Hanya senyum tipis yang getir yang dapat diperlihatkanya pada Riko.
    Riko beranjak pergi, sama seperti pelayat lain yang juga telah mulai meninggalkan rumah duka. Kini hanya ada sang ayah yang juga tercekal rasa penyesalan dan bersalah.
☼ ☼ ☼
    Rendra bersila diatas tempat tidurnya. Fokus matanya tertuju kepada kotak yang terbungkus kertas berwarna merah muda. Rasa perih dan bersalah begitu menekan dadanya hingga sesak. Semua bayangan akan kenangan saat masih bersama Niken─yang selama ini telah ”mati suri” ─ hidup kembali. Menyarang sistem pertahanan yang dengan susah payah dibangunya kembali.
    Perlahan tapi pasti, dibukanya kertas yang menutupi apa yang ada didalam kotak itu. Tiga tangkai bunga mawar merah, beberapa lembar foto paparazi dirinya dan tentunya sepucuk surat dari sang kekasih yang kini telah pergi untuk selamanya.
    Dengan pertahanan dan kesadaran yang masih tersisa setengah, Rendra membuka surat yang terdapat ddidalam kotak tadi. Ada keraguan dan sesak yang langsung menghujam jantungnya ketika dibukanya amplop surat itu.
Untuk yang pernah ku cintai dan menyakitiku
Rendra Wijaya Putra.
 
Semoga kamu hidup bahagia sekarang. Tentu saja kamu bahagia tanpa aku yang selalu merepotkan kamu. Aku yang selalu cerewet. Aku yang selalu mengatur mu dengan semua aturan-aturan itu.

Rendra, andaikan kau tau. Betapa hatiku merasa sakit ketika melihat kau bersama tiva. Entahlah. Mungkin dia memang lebih baik dari diri ini. Aku tau itu. Rendra, aku sayang sama kamu. Aku berharap kita bisa selalu bersama. Namun harapan itu hilang ketika kamu pergi dengan  Tiva. Aku bersyukur pada tuhan karena mencabut nyawaku sekarang. Dengan begitu aku tak akan menahan sakit yang lebih lama lagi. Tapi bagaimanapun aku tidak akan pernah balas dendam akan apa yang telah kau lakukan padaku. Aku akan menganggap itu sebuah kenangan.

Rendra, ada mawar yang kusimpan dalam kotak ini. Mungkin ini adalah mawar pertama dan mawar terakhir ku untukmu. Aku minta maaf atas semua kesalahan ku. Dan aku juga sudah memaafkamu terlebih dahulu..

                            Salam hangat dan sayang
                                Niken
Tanpa disadarinya air mata Rendra jatuh mengalir dipipinya. Penyesalan semakin membuatnya terpuruk dan menyesakan dadanya yang memang sudah terasa sesak. Kekecewaan yang dibawa mati oleh Niken menjadi beban yang teramat berat baginya. Bagimanapun Niken telah pergi, bersama kenangan yang juga dibawanya pergi.

Untuk dia yang telah berusaha dengan semua senyuman. Untuk dia yang telah berusaha tegar. Untuk dia yang selalu menerima dengan ketulusan hati. Untuk dia yang kini dipeluk bumi. Untuk dia yang kini terdiam dalam tidurnya. Selamat jalan..

Cerpen : Bapak Bukanlah Ombak

BAPAK BUKANLAH OMBAK
Karya : Kartika N. Nugrahini

Untaian ombak berlari ke daratan. Mendesir-desir dan terkadang terdengar dentuman air yang bertabrakan. Burung-burung berterbangan menyambar ikan yang muncul di permukaan. Tanpa menunggu datangnya panggilan, sosok lelaki bertubuh hitam menghampiri pikiranku. Lelaki yang mengajariku dengan tidak banyak bicara melainkan bertindak. Lelaki itu kini tengah berbaring di ranjang yang semakin lama semakin reyot. Kemudian datang pula bayangan dinding yang masih berupa tempelan bata merah. Di kotak-kotak itu terdapat belasan, bahkan mungkin puluhan kata tertulis menggunakan kapur putih. Setiap malam bapak mengajariku bagaimana cara menulis huruf yang aneh dan kata apa yang terbentuk olehnya. SAPI, BAPAK, MACAN, IBU, SAPU, BUKU dan deretan kata lain. Ada tulisan yang tersusun rapi, tetapi ada juga yang tidak. Dan pastilah itu coretan jemari mungilku. Aku belum tidur jika belum menengok kotak-kotak itu. Karena bagiku kotak-kotak itu  adalah pintu utama untuk menemui mimpi yang indah.
Suatu ketika, aku dan kakak  tidur hingga larut malam. Mungkin sekitar  jam sebelas. Kami tidak tidur karena tidak ada yang menemani. Bapak sedang ronda. Biasanya bapak meminta tolong  kepada saudara untuk  menemani tidur kami. Tetapi entah kenapa dia tidak datang malam  ini. Rumah kami tidak berjauhan, mungkin hanya sebelas meter. Tetapi kami tidak memiliki keberanian untuk menyusul. Aku dan Kak Dita hanya mengerjap-kerjapkan mata. Guling sana guling sini ditemani rengekan jangkrik dan binatang malam lain. Aku ikut merengek karena takut.
Kak Dita, yang pada waktu itu masih berumur delapan tahun mencoba menenangkanku. Dia menceritakan kegiatan yang dilakukan seharian itu. Setelah habis menceritakan dirinya, dia melempar pertanyaan kepadaku tentang apa yang aku lakukan seharian itu. Aku bercerita dengan terbata-bata. Maklum, aku masih berusia enam tahun. Lambat laun, kurasakan juga kantuk itu. Aku dibawa terbang oleh dewi mimpi. Kulepaskan segala kelelahan yang kudapat dari jalan, kebun dan halaman tetangga.
Ketika kelelahan belum kulepaskan secara tuntas, …”Aaa!”. Kakakku menjerit! Seketika itu aku terjaga dari tidur.  Kudapati ia menangis sambil melotot ke arah jendela. Aku mengikuti arah pandang matanya. Ada makhluk besar yang mengintai dari balik jendela, kemudian menerobos masuk kamar. Kami menjerit bersamaan. Rasa takut tidak dapat kami hadapi. Mungkin secara tidak sadar, saat itu kami  sudah panas-dingin dan gemetaran. Entahlah, sosok itu lebih menyeramkan dari bapak. Kueratkan pelukan ke tubuh Kak Dita, begitupun dia. Kami bersembunyi di balik selimut berwarna hitam. Semua air mata kami tumpahkan sehingga membuat bantal menjadi basah. Naluriku sebagai anak yang baru saja lepas dari balita, sangat ingin mendapatkan perlindungan orang tua. Tetapi bapak belum juga menolong kerena biasanya setelah meronda, dia langsung menjemput ibu. Iya, ibuku bekerja sampai larut  jika mendapat giliran jaga malam. Bapaklah yang selalu menjemput di tempat ibu bekerja.
Pada waktu itu gaji guru tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, apalagi bapak harus membayar cicilan motor. Menderitanya hidupku ini. Kami menangis hingga akhirnya terdengar suara kunci pintu. Pastilah itu suara tangan ibu yang membuka kunci. Tetapi kami tidak mendengar suara motornya. Mungkin sudah dimatikan sebelum masuk kampung karena takut suara motor yang seperti mesin gergaji itu menganggu para tetangga yang sudah lelap.
Mendengar kedua anaknya menangis, ibu berjalan cepat untuk mengetahui penyebabnya. Pintu yang tadinya hanya memperlihatkan sebagian dari kamarku, kini terbuka lebar sehingga membuat udara dingin masuk diantar nyamuk-nyamuk. Malam itu mulut kami masih kaku seperti ada es yang memenuhinya.  Hanya tangis yang lambat laun berhenti ditemani belaian seorang ibu yang sangat lemah lembut. Aku duduk di pangkuan. Tangan kirinya mengelus kepalaku, sedangkan yang kanan untuk memijit kaki Kak Dita. Seharusnya kami yang memijit ibu. Beliau pasti sangat lelah. Bekerja banting tulang demi kata cukup. Meskipun usianya termakan waktu, wajahnya selalu bening, sebening embun pagi yang ditangkap matahari.
Malam itu semuanya terlihat berbeda. Wajah ibu lebih pucat dan kusam. Rambutnya yang dipotong pendek tidak dapat menutupi telinga yang tanpa anting. Emas itu dijual ketika kenaikan kelas Kak Dita. SPP menunggak hingga enam bulan. Memang, pada masa itu SPP hanya sepuluh ribu setiap bulan. Tetapi apalah artinya sepasang anting yang dijual itu? Uangnya tidak cukup untuk memenuhi semua kekurangan. Hutang sana-sini sudah ibu lakukan meskipun sebenarnya ibu tidak ingin memiliki hutang yang menumpuk karena takut tidak dapat mengembalikan. Sebenarnya, bukan belaian ibu yang meredakan tangsiku. Tetapi karena bapak mengambil sapu lidi  yang siap dilayangkan ke arah kami, aku dan kakakku. 
Bapak tidak pernah melukai ibu. Saat aku memandang ibu, yang kulihat hanya tatapan iba. Kami tahu, ibu sangat ingin membela kedua putrinya.Tetapi gambaran seorang kepala rumah tangga yang ganas mengalahkan rasa ibanya. Dia buang jauh-jauh perasaan itu agar kami tidak berharap. Andai saja waktu itu ada bidadari cantik yang akan mengubah bapak menjadi badut, tentu aku akan bergelak tawa. Atau paling tidak, ada seorang peri yang mengubah bapak menjadi lelaki berwajah tampan dan berhati tampan pula. Tetapi semua itu tidak terjadi. Aku hanya terlalu banyak bermimpi dan berharap mimpi itu suatu saat akan menjadi bagian dari cerita nyata di hidupku.
Malam itu sangat kelam. Cahaya-cahaya lampu membuat hati semakin menciut karena buram, bahkan hampir mati. Pelan-pelan, Kak Dita menceritakan apa yang baru saja terjadi .  Kak Dita terpejam, entah mengapa. Tidak lama kemudian, “Aaa!! Ibu, takut!!”. Terciptalah  tangisan yang meledak-ledak karena listrik padam secara tiba-tiba. Kini, tidak hanya rumah kami yang gelap, tetapi juga semua rumah di kampung. Kejadian ini bukanlah hal asing lagi bagi para warga. Hampir setiap malam dilakukan pemadaman. Padahal kami selalu membayar langganan listrik dengan tertib. Katanya, energi disimpan sebagai warisan untuk anak-cucu.
Pagi harinya bapak berkata, “Yang kalian lihat semalam bukan maling, tetapi salah satu penunggu rumah kita, mungkin. Mereka tidak akan mengganggu kelangsungan hidup kita jika memiliki keteguhan iman. Tertibkan salat wajibnya. Jika ada waktu, luangkan untuk berjamaah ke masjid. Tidak usah menunggu Bapak atau Ibu yang menyuruh. Besok kalau kalian rajin salat, setan-setan pasti takut untuk mendekati rumah kita karena penghuninya adalah anak-anak manis yang taat kepada Allah”. Aku menatapnya dengan pandangan kosong karena tidak mengerti dengan apa yang dikatakan. Kak Dita mengangguk berkali-kali. Makhluk yang selalu dianalogikan dengan wajah buruk rupa, besar dan jahat itu sudah aku lihat.  Aku menjadi teringat kepada perkataan guru mengajiku bahwa Allah menciptakan kehidupan lain selain di bumi. Dan satu-satunya yang muncul dipikiranku adalah setan. Bukan tumbuhan atau hewan. Mengapa aku tidak memilih allien? Karena aku belum mengenal istilah itu. Dalam hati aku selalu bertanya, apakah maksud bapak mengangkat sapu lidi  dan bahkan sering memukulkan ketubuh aku dan kakakku? Sejahat itukah dia? Sekasar itukah cara dia mendidik anaknya? Bahkan aku sempat berpikir bahwa bapak satu saudara dengan setan.
Masa kecilku memang tidak berkecukupan. Dan aku tidak pernah  sama dengan teman sejawat. Misalnya saja, jika dengan leluasa mereka memakan mi instan tanpa direbus, aku harus mengambilnya secara sembunyi-sembunyi dari dapur dan kemudian aku bawa lari ke kebun yang jaraknya seperempat kilometer dari rumah. Itupun jika ada persediaan di dapur. Aku memakannya bersama teman-teman perempuanku di kebun jambu biji yang salah satu pohonnya roboh. Pohon jambu biji memiliki batang yang kuat dan lentur. Kami selalu bermain ayunan di atasnya. Jika pohonnya berbuah, kami akan memetiknya meskipun masih keras. Terkadang kami juga bermain di pohon jambu monyet. Tetapi tidak untuk ayunan. Karena meskipun batangnya besar dan berwarna coklat tua, ia tidak mampu menahan beban yang berat. Satu hal yang selalu aku ingat, aku tidak pernah memakai celana panjang atau rok karena kulitku sudah licin. Apa hubungannya? Karena dikebun itu ditumbuhi tanaman yang jika bunganya sudah mengering, maka akan lancip seperti paku. Jika mengena kulit pasti akan terasa sakit dan agak gatal.
Panasnya matahari membakar kulit yang sudah sawo matang. Selain tidak leluasa memakan mie yang masih mentah, aku juga tidak memiliki sepeda kecil seperti milik Rina, Wati ataupun Dewi. Mereka memiliki sepeda yang bagus. Milik Rina berwarna biru, Wati berwarna merah muda dan milik Dewi berwarna kuning. Aku selalu berharap kelak bapak akan membelikanmu sepeda baru yang berwarna merah atau hitam. Setiap hari mereka bersepedaan menyusuri jalan desa atau mengelilingi lapangan. Dan aku berlari, berlari dan berlari. Mengejar agar tetap bersama. Ibu tidak pernah tahu penderitaanku. Ia selalu bekerja, bekerja dan bekerja. Kalau bermain petak umpet, aku selalu menjadi penjaga. Mereka selalu bergerombol dan bermain curang. Iya, para lelaki di desaku tidak pernah mau menerimaku menjadi teman yang baik. Bahkan mereka memprovokasi teman-teman perempuan. Aku selalu menangis. Kak Dita pun tidak bisa menolongku karena dia harus ikut bersembunyi. Aku tahu, mereka seperti menyekap Kak Dita agar tidak muncul untuk mengalah. Karena emosi yang tidak tertahankan, aku berlari pulang masih dengan tangisan. Jika mereka mengetahui niatku, mereka akan mengejar dan menyorakiku. Tangisku semakin menjadi. Tapi mereka tidak juga punya hati. Di mana Rina, Dewi dan Wati ketika aku dipermalukan dan diinjak-injak hatiku? Persahabatan monyet, mereka melupakan janji yang berucap dan mengikat.
Di rumah, aku masih menangis. Rasa sakit hatiku belum hilang. Melihat anaknya yang cengeng, lagi-lagi monster rumah tangga mengambil sapu lidi dan mencambuknya dipungggngku. Sakit sekali. Tapi kesakitan itu membekap mulutku. Air mata mengalir di pipi yang memerah menahan sakit hati dan raga. Dipukulnya aku sekali lagi, tetapi di kakiku yang masih kotor. Aku menutup muka dan menelungkup. Tidak lama kemudian, Kak Dita datang dan memelukku. Ternyata dia juga menangis meskipun belum dicambuk. Sapu itu melayang dipunggung Kak Dita. Semua gara-gara aku. Setelah memukul, bapak keluar dari kamar entah akan pergi kemana. Kak Dita mengelus-elus punggung dan kakiku yang dicambuk. Sebenarnya aku lelah menangis. Hampir setiap hari aku menangis. Semua itu tidak akan terjadi jika bapak tidak memukulku, semua itu tidak akan menimpaku jika aku tidak bermain dengan bocah-bocah curang. Tangisku berhenti ketika aku tertidur.
Ketika aku terbangun, lampu redup sudah menyala, suara azan dikumandangkan. Mungkin azan maghrib. Ibu datang dan menyingkap bajuku. Dia melihat bekas cambukan itu. Memang tidak luka, tetapi memerah. Ibu tidak pernah mencium kening ataupun pipiku. Tetapi aku tahu kalau dia sangat mencintaiku. Itulah kehebatan seorang ibu. Ibu mencintaiku dibandingkan bapak. “Bu, aku belum mandi”. Tanpa aku bilang pun, sebenarnya ibu tahu bahwa aku belum mandi. Dia sudah merebus air. Setelah mandi, ibu memberiku sebutir jeruk. Jeruknya tidak mulus. Ada satu bagian yang busuk. Kata ibu, itu tidak busuk, hanya bonyok karena terlalu masak. Di lain waktu ibu memberiku pear atau apel. Pasti ada bagian yang terlalu masak. Aku tidak menyebutnya bahwa buah itu hampir busuk. Hanya sedikit bonyok. Bapak tidak pernah memberi kejutan kecil membahagiakan seperti itu. kejutan yang ia beri hanya cambukan. Bapak jarang berkata, melainkan sering bertindak. Itulah hal yang aku benci dari dia. Mengapa dia tidak bisa berkata lembut seperti ibu? Mengapa dia tidak memiliki wajah bening, sebening wajah ibu.
Di lain kesempatan, Kak Dita berkata kepadaku, “Dek, aku bilang sama ibu kalau Bapak sering memukuli kita ketika ibu sedang bekerja. Aku juga bilang kalau kamu ingin memiliki seorang kakek yang kaya sehingga dapat meminta uang untuk membeli chiki atau es lilin. Aku ceritakan semua kepada ibu waktu kamu tidur”. Aku tidak merespon semua perkataan itu. Masih terlalu kecil untuk meraba ketidakadilan yang melekat dihidupku.
Kakek? Aku lupa kalau ternyata masih memiliki seorang kakek di sini. Dia tidak pernah hadir di langkah-langkahku. Setelah Kak Dita mengingatkanku tentang seorang kakek, aku mencari rumahnya yang berada di samping rumahku. Aku masuk melewati dapur. Ruangannya gelap dan masih bertanah, seperti rumahku. Tetapi rumah kakek lebih menyeramkam. Sawang tertempel di langit-langit dan sudut ruang. Lampu teplok mengayun di gantungannya. Ketika aku mencari, dia tidak ada. Betul bukan, kakek tidak pernah ada untukku meskipun ia masih hidup. Aku mengambil gelas di rak, kemudian menuangkan air teh. Pahit. Mungkin kakek kehabisan gula pasir. Teh itu aku ganti dengan air putih. Setelah meminumnya, aku meletakkan gelas dan berlari keluar mencari teman bermain. Aku ke rumah Rina, tetapi ternyata dia sedang tidur siang. Dewi sedang diajak saudaranya ke kebun binatang. Wati? Aku tidak terlalu suka dengannya. Dia sangat usil dan congkak. Aku memilih pulang untuk tidur siang. Aku tertidur sangat lama. Samar-samar aku mendengar bentakan dan teriakan hebat.
“…. Apa kamu tidak bisa bersikap lembut kepada anak-anak? Mereka semua anak yang baik, tetapi kamu selalu melakukan kekerasan untuk menghukum sedikit kesalahan yang wajar dilakukan oleh anak seumurannya. Apakah dulu bapakmu juga memperlakukan kamu seperti itu? Mana, mana bekas cambukan itu? Anak-anak sudah cukup bisa mengingat apa yang setiap hari kamu lakukan. Jika kamu tidak berhenti memperlakukannya seperti itu, mereka akan trauma dan kesalahanmu akan mereka bawa sampai mati. Tinggalkanlah kesan yang baik agar mereka menghormatimu bukan karena takut, tetapi karena sayang!”.
“Mereka anak-anak yang nakal! Kerjaannya hanya bermain dan menangis. Aku juga mengajari mereka banyak hal, bukan? Setiap sebelum tidur, aku melatih mereka untuk membaca dan menulis, meskipun hanya di tembok”. Terdengar suara sanggahan dari bapak yang nada suaranya lebih tinggi. Haruskah orang dewasa menyelesaikan masalah dengan teriakan dan bentakan? Apakah orang tua Rina, Wati dan Dewi juga sering bertengkar seperti ini?
“Apakah hanya itu yang dapat kau berikan? Dari dulu, sikapmu tidak pernah berubah! Aku sudah tidak mampu lagi mempertahankan rumah tangga ini! Kembalikan aku ke orang tuaku. Akan aku bawa anak-anak”. Perkataan ibu sangat mengagetkanku. Aku menangis karena tidak tahu permasalahan yang sebenarnya. “Mbak Dita, bawa tasnya keluar. Ayo kita ke rumah simbah di Solo. Kamu sudah lama tidak berkunjung, bukan?” kata ibu dengan suara rendah.
Aku duduk di bibir kasur, menunggu apa yang akan ibu lakukan. Aku melihat bapak berjalan ke arah pintu dan menguncinya. Ibu berkata “Bobo, Dik”. Tetapi aku hanya menggelengkan kepala. Tidak mungkin aku dapat tidur dalam situasi seperti ini. Aku, Kak Dita dan ibu berdiam diri di dalam satu kamar. Sedangkan bapak keluar untuk ronda, kata ibu. Ini baru selesai maghrib. Sebenarnya mau kemanakah Bapak? Kami dikunci di dalam rumah. Aku melihat ibu menundukkan kepalanya. Dia meneteskan air mata. Mengapa? Kami bertiga menangisi kejadian malam itu. Kak Dita masih memeluk tas berisi baju-baju.
Setelah pertengkaran hebat itu, bapak lebih sering mengajak kami ke masjid. Kami tidak pernah melihat lagi ia mengangkat sapu atau sekedar membentak. Tidak pernah kami rasai lagi kesakitan di tangan, kaki ataupun punggung. Telinga kami juga tidak memerah. Seiring menghilangnya kebiasaan bapak, aku juga membuang jauh rasa benci dan takut kepada makhluk itu. Kebencian itu seperti ombak yang berlari ke arahku, tetapi kembali dilempar ke lautan. Jika aku ditanya “apakah kamu belajar mengarungi kehidupan dari ombak?” Maka aku akan menjawab, “Ya. Aku selalu memandang lautan di kala senja setelah badan bapak ambruk dimakan usia. Dari perenunganku ini, aku mendapat pesan dari alam agar aku belajar dari ombak. Bukan belajar dari sesuatu yang hidup karena yang hidup selalu mencari kekurangan. Senja juga mengajariku untuk menutupi segala keburukan yang dimiliki orang lain,” kataku tanpa pikir panjang.
“Keburukan orang lain? Mengapa kamu hanya menutupinya, buang saja semua keburukan orang lain. Maka pikiran kita akan berkurang,” kata seorang lelaki yang tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Apakah tadi aku berkata dengan keras?
“Tidak, aku lebih suka menutupi dan menyimpan keburukan orang lain karena dari hal itu aku akan selalu mengingat mana yang baik untuk aku lakukan dan mana yang harus aku jauhkan. Aku sudah merasai semua kesakitan hidup, dan aku tidak mau jika orang lain merasakannya karena tindakanku,” sanggahku seketika.
“Baiklah. Apakah kamu belajar sesuatu juga dari bapakmu? Tadi kamu menyebut namanya”.
“Tidak, karena bapakku hidup,” lelaki itu tercengang ketika mendengar jawabanku.
Baru aku ketahui belakangan bahwa lelaki yang menghidupi keluargaku itu bukan bapak kandungku. Bapakku meninggal tanpa sebab yang pasti. Setelah mengetahui silsilah bapak tiriku, sikapku tidak berubah. Tidak semakin benci, tidak juga memaklumi. Mungkin Kak Dita sengaja tidak pulang ke Jogja karena tidak ingin menemui bapak meskipun dia belum mengetahui bahwa bapak yang sekarang bukanlah induk kami yang sebenarnya. Kakakku bekerja di Gorontalo. Dia terlalu sakit hati. Selain mengalami kekerasan fisik, bukankah dia juga mengalami kesakitan psikis. Dia sakit hati bukan karena bapak sering memukulnya, tetapi karena memukulku. Itulah isi surat terakhir yang dikirimkan Kak Dita lima tahun yang lalu. Senja itu aku akhiri dengan percakapan singkat. Ombak berbisik kepadaku agar aku segera pulang. Burung-burung seperti mengantarku sampai ke parkiran. Hanya ada beberapa motor yang tersisa. Tetapi penjaja makanan dan souvenir belum menutup barang dagangan.

Sabtu, 10 September 2011

Cerpen Cinta Masa Sekolah Karya Indah Betharia

Cerpen Indah Betharia

Angin sore menerpa wajahku yang sedang santai di pantai melamunkan hal yang tidak seharusnya aku lamunin. Hal itu yang sudah membuatku galau belakangan. Apalagi kalau bukan jatuh cinta? Ya, aku jatuh cinta disaat-saat terakhirku di sekolah. Sebenarnya sudah 3 tahun aku mengenalnya dan selama 3 tahun itu kita selalu saja satu kelas, tapi tidak pernah ada perasaan seperti yang aku rasakan sekarang. 
“Hai Deta..”, sapa seseorang disampingku mengagetkanku dan membuyarkan semua lamunanku. Ternyata Riko yang menghampiriku, cowok yang menjadi sahabatku dan ternyata diam-diam menyimpan rasa terhadapku setelah dia putus dengan pacarnya. Bahkan dia sempat mengungkapkan perasaannya padaku.
“Ada apa? Ngapain kamu kesini?”, tanyaku ketus karena semenjak aku mendengar kabar bahwa dia menaruh hati padaku, aku sudah tidak suka lagi dengannya.
“Kamu diundangan ulang tahun Aini g’?”, Tanya Riko basa basi.
“Iya. Kenapa?”,aku jadi teringat undangn Aini ternyata acaranya nanti malam.
“Mau berangkat sama aku g’ nanti malam?”, ajaknya padaku. Aku sendiri tidak yakin bisa datang ke acara itu, apalagi acaranya malam, sangat tidak mungkin rasanya.
“Aku g’ bisa datang, ada urusan di rumah. Aku pulang dulu ya”, kataku ketus dan langsung meninggalkan Riko di pantai sendirian.
            Aku adalah seorang siswi SMA kelas tiga yang baru selesai menempuh ujian akhir nasional. Dan hari-hariku di SMA sudah tinggal sedikit lagi, karena kita hanya menunggu pengumuman pelulusan saja. Meski siswa-siswa sudah diperbolehkan tidak usah masuk sekolah, aku tidak akan menyia-nyiakan waktu terakhirku bersama teman-teman.
***
            Hari itu aku berniat berfoto-foto bersama teman-teman. Aku sengaja membawa kamera untuk  berfoto bersama teman-temanku sebagai kenangan yang mungkin akan sangat dirindukan suatu saat nanti. Di saat aku sedang asyik berfoto-foto, Tiara dan gengnya melewati depan kelasku. Mereka adalah teman seangkatanku. Mereka memang cantik dan pintar, jadi g’ rugi lah kalau dia ngetop di sekolah. Meski begitu, aku mengenal Tiara bukan seorang wanita yang sombong, karena dia adalah wanita yang baik. Tapi ada yang aneh belakangan aku melihat Tiara. Ya, terasa aneh dengan sosok Dendi yang selalu bersamanya.
“Hei Tiara… Selamat ya.. Ternyata kalian sudah jadian”, sapa salah satu temanku. Hatiku berdetak kencang mendengar ucapan selamat itu. Rasanya badanku lunglai mendengarnya. Jika tak disadarkan temanku, mungkin kameraku sudah rusak terjatuh dari tanganku.
Aku langsung memalingkan mukaku dari Tiara dan teman-temannya karena aku tidak ingin ada satu orangpun yang tau tentang apa yang aku rasakan.
Ya, Dendi yang sudah membuatku sering melamun belakangan ini. Entah sejak kapan perasaan ini bermula. Semenjak aku disakiti oleh mantanku, aku tidak merasakan perasaan suka sama orang lain, dan ternyata Dendi yang berhasil mencuri hatiku, tapi bukan seperti itu yang sebenarnya aku inginkan. Cinta bertepuk sebelah tangan.
“Eh, kamu kenapa? Aku tahu kamu cemburu melihat Tiara dan Dendi”, sapa betha sahabatku.
“Eh, g’ ada apa-apa. Ayo foto-foto lagi”, kataku pada betha.
“Kamu tidak usah memalingkan pembicaraan. Kamu bisa membohongi yang lainnya, tapi kamu tidak bisa membohongi aku Deta. Aku sahabat kamu sejak lama, aku sudah paham betul seperti apa kamu.”, kata Betha.
Betha benar, aku tidak mungkin juga menyimpan ini sendiri, mungkin Betha bisa membantuku menenangkan pikiranku.
“Iya Beth.. Aku cemburu melihat mereka berdua. Entah sejak kapan perasaan ini bermula, tapi inilah yang aku rasakan belakangan ini, aku sering memikirkan dia. Entahah aku juga bingung. Dan aku baru tau ternyata dia sudah menjadi milik orang lain. Tapi kenapa harus dengan Tiara?”, kataku sedikit kesal.
“Ya… aku juga sedikit menyayangkan juga sih Dendi jadian sama Tiara. Karena aku tau sendiri seperti apa Tiara.”
“Bukannya Tiara udah punya dua cowok? Tapi kenapa masih sama Dendi juga? Dia mempermainkan Dendi Beth”, kataku pada Betha.
“Mereka jadian waktu ultah Aini. Sapa suruh kamu g’ datang”, kata Betha ketus.
“Jadi mereka baru jadian?”, tanyaku
“Iya. Tapi aku melihat Dendi juga tak begitu merespon Tiara. Udah deh Deta, kita ke kantin aja. Laper nih”, ajak Betha yang sudah kelaparan belum sarapan di rumah. Betha menarikku ke kantin, dan ku temui Dendi juga ada di kantin, tapi tidak ada Tiara disana.
“Nah, kesempatan nih ada Dendi juga. Sendirian lagi. Kesana yuk”, ajak Betha tanpa basa basi dulu padaku langsung saja menarikku ke meja dimana Dendi sedang duduk.
“Hai Den.. Sendirian aja. Gabung ya?”, pinta Betha.
Aku berusaha menutupi kegalauaku di depan Dendi. Bagaimanapun, Dendi tidak boleh tau tentang perasaanku yang sebenarnya.
“Wah… Yang baru jadian nih… Selamat ya”, Dendi hanya tersenyum.
“Eh, foto sama aku ya.. Buat kenang-kenangan”, dan aku menghampiri Dendi dan duduk disamping Dendi dan minta tolong Betha untuk mengambil gambar.
“Den, kamu ko’ mau sih sama Tiara?”, tanyaku nekad. Aku sendiri kaget kenapa aku harus menanyakan hal itu.
“Aku juga g’ tau Deta. Aku sendiri bingung dengan perasaanku”, selang beberapa menit Tiara datang menghampiri.
“Hmmm…. Lagi ngapain berdua?”, Tanya Tiara ketus.
“Berdua? Aku sama Betha juga ko’. Wah Tiara cemburu. Udah sana sama dia aja. Ntar aku dibilang merebut suami orang lagi”, kataku bercanda.
Dendipun pergi bersama Tiara. Aku tersenyum kecil melihat mereka yang tidak terlihat seperti pasangan yang serasi. Aku melihat ada yang beda pada Dendi, seperti tak ada gurat kebahagiaan pada dirinya.
“Beth, udah yuk ke kelas. BT aku disini”, ajakku pada Betha. Dan begitu aku beranjak menuju kelas, aku melihat pertengkaran di luar. Tiara sedang bertengkar dengan Nia. Apalagi kalau bukan masalah cowok? Pacar Tiara yang kedua adalah pacar Nia yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri.
“Dasar penghianat”, kata Nia yang kudengar sangat keras. Aku menghampiri Nia yang terlihat sangat galau.
“Nia, ada apa?”, tanyaku berusaha menghibur.
“Dia tidak pernah mengerti perasaanku. Sekarang Dendi yang jadi korban mereka, selanjutnya siapa lagi?”, kata Nia dalam tangisnya dan langsung pergi meninggalkan aku.
Aku heran, Tiara yang selama ini aku kenal baik ternyata berubah. Apa sebenarnya maksudnya aku tidak tau.
Bel sudah berbunyi menandakan waktunya pulang. Seperti biasa aku menunggu kakakku menungguku di gerbang sekolah. Kudapati tontonan menarik di depan sekolah. Dua pacar Tiara datang menjemput Tiara dan Dendi juga di ajak Tiara duduk bersama mereka.
“Wah… Tontonan menarik nih.. Hebat ya Tiara bisa ngegaet 3 cowok sekaligus”, kata Andi teman sekelasku.
Aku melihat Dendi hanya duduk tak banyak bicara. Dan terlihat 3 cowok duduk menunggu Tiara yang sedang ada di dalam toko. Dan anehnya pacar pertama Tiara sedang ngobrol bersama pacar kedua Tiara. Dan kulihat Dendi hanya diam saja. Terlihat Dendi berdiri dan menghampiriku.

“Deta.. Lagi nunggu siapa?”, Tanya Dendi mendekatiku.
“Aku nunggu kakaku. Kamu sendiri? Lagi nunggu Tiara?”, tanyaku mengejek. Dendi hanya diam saja tak menjawab.
“Dendi.. Kamu tahu dua cowok yang sedang ngobrol berdua itu?”, tanyaku pada Dendi.
“Aku tau”, jawabnya singkat.
“Lalu kenapa kamu masih mau saja sama Tiara? Bukannya itu Cuma membuat kamu sakit hati? Dia memanfaatkan kamu Dendi’,kataku sok tau, tapi memang itulah kenyataannya.
“Aku tau Deta. Aku ingin terlepas dari dia”
“Tinggal kamu putusin saja kan”, tiba-tiba Tira menghampiriku.
“Lagi ngapain?? Awas ya selingkuh dibelakangku”, kata Tiara pada Dendi. Aku tertawa geli mendengarnya. Sudah jelas-jelas ada tiga cowok yang sedang menungguinya, tapi masih santai saja bilang seperti itu. Dan aku juga melihat Dendi hanya senyum saja. Sungguh aneh..
“Den, aku pulang dulu ya”, kata Tiara dan dia memilih pulang bersama teman-temannya. Dan aku lihat Tiara sudah berlalu dan begitu pula dengan dua cowok yang sedari tadi menunggu Tiara.
“Den, sebenarnya kamu sayang g’ sih sama Tiara?”, tanyaku nekad.
“Mungkin”, jawab Dendi singkat.
“Aku bingung sama kamu. Bisa-bisanya kamu mau dimanfaatin mereka. Kamu Cuma dipermainkan Dendi”, kataku pada Dendi
“Aku tau Deta. Aku juga ingin lepas dari dia. Tapi tidak semudah yang kamu bayangkan”, kata Dendi padaku. Dan aku lihat kakakku sudah datang menjemputku.
“Den, aku duluan ya.. Kakakku sudah datang”, kataku pamit pada Dendi dan aku berlalu meninggalkannya yang masih ada di gerbang sekolah.
***
Pagi itu, ketika aku sampai di sekolah, dan kudapati Dendi sedang duduk melamun di depan perpustakaan sekolah. Tapi aku tak menghiraukannya karena aku mencari Davi yang berjanji membantuku menyetakkan foto-fotoku.
“Dav, nih kameranya. Kemaren kamu janji mau nyetakin smuanya. Inget kan?”, kataku pada Davi.
“Pasti, tenang aja. Mungkin 3 hari lagi jadi.”, dan Deva mengambil kameraku dan akupun meninggalkannya. Aku masih melihat Dendi ada di depan perpustakaan, aku beranikan menghampirinya.
“Hai Dendi..”, sapaku pada Dendi yang sedari tadi terlihat melamun saja. Dendi membalas dengan senyuman.
“Boleh aku duduk disini?”, tanyaku pada Dendi. Dendi mengangguk mengiyakan.
“Kamu kenapa? Ada masalah?”, tanyaku pada Dendi.
“Iya, masalah perasaanku”, kata Dendi singkat.
“Masalah Tiara?”, tanyaku gugup.
“Boleh aku tanya sesuatu sama kamu?”, tanya Dendi kemudian tak menghiraukan pertanyaanku.
“Mau tanya apa?”, kataku.
“Kamu jawab jujur ya. Bagaimana perasaan kamu sama aku?”, aku kaget mendengar pertanyaan itu. Kenapa Dendi bertanya seperti itu padaku. Apa dia tau apa yang aku rasakan? Tapi dari siapa?
“Aku sudah tau bagaimana sesungguhnya. Tapi aku ingin dengar langsung dari kamu karena aku tidak yakin”, tukas Dendi.
“Aku suka sama kamu. Kamu itu orangnya baik, asyik”
“Hanya suka saja? Perasaan suka seperti apa itu?”, tanya Dendi memotong pembicaraanku. Aku bingung harus bilang apa. Tapi mungkin lebih baik aku katakan apa adanya.
“Aku sayang sama kamu”, kataku singkat.
Dendi tersenyum mendengarnya seolah tidak percaya pada apa yang aku katakan. Tak lama setelah aku katakan itu, Rani teman Rara lewat di depanku dan Dendi.
“Hmmm.. Awas ketahuan Tiara lo ya… aku aduin ntar”, kata Rani mengejek..
“Dendi, aku pergi saja. Lupakanlah apa yang aku katakan barusan, itu tidak penting. Aku takut ada masalah dengan Tiara. Aku tidak suka bermasalah dengan teman-teman.”, kataku dan langsung meninggalkan Tiara sebelum Rani benar-benar datang dan memaki-makiku.
Entah apa yang sudah aku katakan pada Dendi. Perasaan yang seharusnya aku simpan, aku ungkapkan pada Dendi di moment yang tidak tepat. Betapa bodohnya aku….
**
Aku mengurung diri di kamar merenungkan apa yang sudah aku katakana tadi pada Dendi.
“Apa yang ada dipikiran Dendi sekarang. Mau ditaruh dimana mukaku kalau ketemu Dendi? Seharusnya aku tak mengatakannya. Deta…Deta… Cari masalah saja kau”, kataku dalam hati. Tiba-tiba kakak mengetuk pintu kamarku.
“Deta, kamu di kamar?”, Tanya kakak dari luar kamar.
“Ada apa kak? Aku di kamar. Kakak masuk saja”, kataku
“Deta, kamu siap-siap ya. Besok pagi kita berangkat ke Jakarta. Kakak baru dapat telpon dari Jakarta kalau nenek sedang sakit disana”, kata kakak dan sontak aku kaget. Dengan begitu, waktuku bersama teman-teman sepertinya sudah sangat singkat. Tapi aku harus segera ke Jakarta bersama kakak. Tidak mungkin nenekku tergantikan teman-temanku.
“Iya kak, tapi Deta besok ke sekolah sebentar ya kak”, kataku pada kakak. Kakak mengangguk mengiyakan.
“Mungkin besok hari terakhirku bertemu Dendi. Dan aku akan sangat menyesal jika aku tetap seperti ini.”, Hatiku berkecamuk berfikir apa yang seharusnya aku lakukan. Hingga akhirnya aku mendapat ide untuk mengiriminya surat saja.

Dear Dendi…
Mungkin saat kamu membaca surat ini, aku sudah ada di Jakarta. Aku senang bisa punya teman seperti kamu. Tapi sangat disayangkan bisa-bisanya kamu mau diperlakukan seperti itu oleh Tiara. Padahal masih ada seorang cewek yang tulus mencintai kamu. Seandainya saja kamu tau itu. Tapi semuanya sudah terlambat. Kamu sudah terlampau masuk dalam permainan Tiara. Kamu terlampau bermain api, harus kamu padamkan sendiri.
Mudah-mudahan kamu sadar dan bisa tegas mengambil keputusan. Terima kasih fotonya. Foto itu akan jadi kenangan terindah dalam hidupku. Meski hanya foto saja. Dan akan selalu aku simpan foto itu. Lupakan saja yang kukatakan kemarin.
Terima kasih Dendi kamu sudah mau menjadi teman baikku.

                                                                                                Dear
                                                                                                _deta_
***
Pagi yang cerah namun tak secerah hatiiku. Aku sedih harus segera ke Jakarta di hari-hari terakhirku bersama teman-temanku. Padahal satu bulan lagi aku akan meninggalkan sekolah ini dan mungkin tidak akan bertemu lagi. Aku titipkan surat pada salah satu temanku. Tapi entah bagaimana caranya surat itu sudah dipegang Tiara. Dia menghampiriku yang beranjak pulang.
“Deta, ngapain ke Jakarta?”, Tanya Tiara ketus.
“Jenguk nenekku yang sedang sakit”, jawabku singkat.
“Apa maksud surat ini?”, Tanya Tiara menunjukkan surat itu dan menyobeknya pas di depan mukaku.
“Itu Cuma surat biasa saja Tiara. G’ ada apa-apa”, kataku berusaha santai untuk menutupi perasaanku yang sebenarnya campur aduk dan nano nano rasanya..
“Kamu mau merebut Dendi dari aku? Dasar cewek perebut cowok orang”, kata Tiara ketus.
Aku hanya tersenyum tipis mendengar kata-kata Tiara. Setelah banyak memakiku, Tiara pergi meninggalkanku dan akupun beranjak pulang karena mungkin kakakku sudah menungguku untuk segera berangkat ke Jakarta. Tapi tiba-tiba Nia memanggiku.
“Deta tunggu”, teriak Nia padaku.
“Ada apa Nia?”, tanyaku heran.
“Aku mendukung kamu. Aku tau kamu dan Dendi saling mencintai. Keliatan lagi dari tingkah kalian. Dan kalian pantas bersatu, bukan dengan Tiara. Kamu jangan dengarkan kata-kata Tiara tadi.”, kata Nia berusaha menghibur.
“Aku g’ ada apa-apa sama Dendi. Kita Cuma temenan saja. Lagian aku udah mau berangkat ke Jakarta.”, kataku santai.
“Aku tau perasaan kamu Deta”, kata Nia. Aku hanya tersenyum dan berpamitan padanya dan akupun berlalu meninggalkan sekolah tercinta yang penuh kenangan. Dalam perjalanan pulang, tidak terasa air mataku menetes.
“Mungkin hanya seperti ini saja cerita cintaku pada Dendi. Cinta memang tak harus memiliki. Biarlah aku selalu menyimpan perasaan ini sebagai kenangan yang terindah. Dan akan aku jadikan Dendi sebagai kenangan terindah pula”, kataku dalam hati.
***
Hari-hariku di Jakarta sangat membosankan dan yang terlintas dibenakku selalu saja Dendi, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku baru bisa kembali ke rumah dua hari sebelum pengumuman kelulusan.
Hari itu adalah pengumuman kelulusan. Aku berharap aku lulus dan harapan kedua Dendi mengerti perasaanku dan membalas perasaanku. Aku berharap dia mau mengatakn padaku kalau dia juga mencintaiku.
“Deta.. Kapan datang? Kangen”, kata Betha menyapaku.
“Baru kemaren. Kamu lihat Dendi g’?”, tanyaku bingung
“Yee… Ini baru datang langsung nanya’ Dendi. Tanya kabarku kek ato gimana gitu”, kata Betha iri.
“Beth, aku yakin kamu paling mengerti aku. Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu terakhirku Beth”, kata Deta dan meninggalkan betha berlari berusaha mencari Dendi.
“Deta tunggu”, teriak Deva. Aku baru ingat foto-fotoku yang aku titipkan sama dia.
“Deva.. Ya Ampun aku baru ingat kalau foto-fotoku ada di kamu semua. Udah jadi?”, tanyaku pada Deva.
“Iya, tapi ada klise yang digunting sama Tiara. Dia menemukan foto-foto kamu di tas aku. Dia liat ada foto kamu bersama Dendi, dia gunting-gunting deh sama klisenya juga”,kata Deva menyesali kelalaiannya.
“Udah g’ apa-apa. Sini aku lihat dulu”, kataku dan Deva memberikan foto-foto itu padaku. Dan ternyata fotoku yang bersama Dendi masih ada, Tiara salah ambil karena yang tergunting adalah fotoku bersama Andika.
Aku lega aku masih punya foto Dendi meskipun aku tidak bisa bersamanya. Dan ternyata banyak foto-foto Dendi. Aku kembali teringat Dendi, aku harus segera menemuinya.
Tapi belum menemukan Dendi, salah satu guru memanggilku untuk mengurusi kuliahku. Dan karena hal itu aku tidak banyak waktu main-main disekolah sampai aku jarang bertemu dengan Dendi lagi.. Aku pasrah saja, mungkin jalan cintaku sudah digariskan seperti ini. Perasaan ini mungkin memang seharusnya aku simpan sendiri tanpa ada yang tau dan mungkin aku tidak bisa memilikinya. Sepeti itulah cerita cintaku di sekolah, cinta yang hanya bisa kusimpan sendiri.
***

7 tahun kemudian
Tidak terasa studiku sudah selesai dan aku menemukan pasangan hidup yang sangat mencintaiku. Sudah sekitar 4 tahun aku tidak bertemu dengan Betha semenjak aku lulus sekolah karena kita memang kuliah ditempat yang berbeda. dan suatu hari, Betha mendapatkan alamatku. Dan dia mengajakku bertemu di suatu tempat.
“Betha……………”, teriakku memanggil betha yang sudah sekian lama g’ ketemu.
“Deta… Aku kangen banget sama kamu. Apa kabar?”, tanya betha padaku. Hari itupun aku melepas kangen dengan Betha dan ternyata Betha membawakanku undangan reuni sekolah yang sudah tinggal beberapa hari lagi.
“Kamu pasti datang kan Deta?”, tanya Betha padaku.
“Pasti dong.. Aku kan kangen banget sama teman-teman”, dan begitulah pertemuanku dengan Betha setelah sekian lamanya tak bertemu. Banyak hal yang aku ceritakan dengan Betha bahkan hal yang tak pernah aku tahu, baru aku ketahui setelah lama tidak bertemu. Mengenang masa-masa sekolah yang sangat indah dan kerinduanku pada teman-teman dan suasana sekolah akan segera terobati dengan adanya reuni ini.
***

Jam sudah menunjukkan jam 8 pagi. Hari itulah yang aku tunggu-tunggu dimana aku bisa bertemu dengan teman-teman lamaku. Aku berangkat dengan penuh semangat dan perasaan senang. Sesampainya di tempat acara, aku kembali bercanda gurau bersama teman-teman yang tidak pernah aku sangka-sangka sebelumya.
Ditengah canda gurauku bersama teman-teman,  seseorang kembali datang dengan motor Mio putih dan memakai jaket merah. Wajahnya tak terlihat karena helm yang ia kenakan.
“Siapa tuh?”, tanyaku pada teman-teman. Teman-temanpun juga tidak mengenali siapa cowok yang datang. Tiba-tiba aku kaget ketika cowok itu membuka helmnya dan ternyata itu Dendi, cowok yang pernah aku suka dan yang paling aku rindukan dari teman-teman yang lain.
“Tuhan… Engkau telah mengabulkan permintaanku. Dia yang aku tunggu meskipun aku sudah tidak mungkin lagi bisa bersatu dengannya karena aku yakin diapun juga sudah menemukan pasangan hidupnya”, kataku dalam hati.
Dendi menghampiriku dan teman-teman. Dan menyapa satu persatu temanku dan termasuk aku. Dia terkesan lebih pendiam. Aku berusaha netral bersama teman-teman agar tak ada rasa yang aneh-aneh pada diriku. Tapi sebenarnya aku ingin sekali ngobrol hanya berdua dengannya untuk mengobati kerinduanku padanya. Tapi itu tidak mungkin. Sangat tidak mungkin. Tidak apa lah, yang penting aku bisa melihatnya saja. Dan akupun bercanda gurau bersama semua teman-teman, termasuk pula dengan Dendi meski ada perasaan canggung pada diriku tapi aku tetap usahakan netral saja, hingga aku akhirnya tidak canggung lagi dengannya.
Akupun menikmati acara reuni dengan santai. Ditengah-temgah acara, aku melihat Dendi sedang ngobrol bersama Betha. Entah apa yang mereka bicarakan, mereka terlihat sangat serius. Di akhir acara, Betha menghapiriku.
“Deta, Dendi ingin bicara sama kamu. Kamu bisa kan?”, tanya Betha padaku.
“Ada apa?”, tanyaku penasaran.
“Udah mau aja, g’ pa-pa kan. Tuh dia udah menuju kursi kita”, kata Betha padaku.
“Hai Deta.. Boleh ikutan duduk disini?”, tanya Dendi padaku. Dan aku mengangguk mengiyakan dan diapun duduk disampingku.
“Senang bisa bertemu lagi”
“Iya, aku juga senang banget. Terima kasih Betha atas usaha kamu mengadakan reuni ini”, kataku pada Betha.
“Aku ke temen-temen panitia dulu ya.. Kalian disini saja”, kata Betha dan meninggalkan aku berdua saja dengan Dendi. Dengan hanya berdua saja, aku semakin gugup dan tak keluar banyak kata dari diriku.
“Tiara g’ datang ya?”, tanyaku pada Dendi.
“G’ ada tuh.. Hmmm.. Jadi ingat Tiara. Aku selalu mengingat pengalamanku dulu saat aku dijadikam taruhan sama Tiara. Sangat menyakitkan”, kata Dendi bercerita.
“Sebenernya kamu sayang g’ sih sama Tiara?”, tanyaku ngelantur.
“Awalnya ia, tapi itu hanya perasaan suka saja. Karena waktu itu aku mencintai teman sekelasku, kata Dendi tersenyum.
“Oya, siapa? Temen kita dong!”, balasku.
“Dia pernah menitipkan surat untukku sebelum dia berangkat ke Jakarta, tapi ternyata surat itu jatuh ke tangan Tiara. Sampai sekarang aku tidak tau apa isi surat itu”
“Oya…. Kaya’nya aku tau deh. Lalu?”, tanyaku antusias. Pada kenyataanya aku sadar siapa yang dia bicarakan karena surat yang dia maksud adalah surat dariku.
“Kamu bisa tebak g’ gimana perasaannya dia padaku waktu itu?”, tanyanya padaku.
“Aku tidak tau. Kenapa kamu malah tanya aku?”,
“Tadi kamu bilang tau sama cewek itu.”
“Iya sih, sapa tau kamu pernah tau ada tanda-tanda dia suka sama kamu ato gimana gitu”, kataku ngeles.
“Yang aku tau, aku cinta sama dia dan dia cinta pertamaku”, aku kaget saat Dendi bilang dia adalah cinta pertamanya.
“Lalu kenapa kamu tidak mengungkapkan perasaanmu dulu?”, tanyaku basa basi.
“Karena aku takut ditolak. Aku tidak punya keberanian mengungkapkannya”, kata Dendi
“Itu salahmu yang tidak bisa tegas dan jujur pada dirimu sendiri. Untuk apalagi disesali”
“Menurut kamu, jika aku mengungkapkannya apa dia akan menerimaku?”
“Menurutku dia akan menerima kamu”, kataku singkat
“Ya Allah.. Seandainya aku bisa memutar waktu kembali ke masa lalu, aku akan ungkapkan jika tau dia akan menerimaku”, kata Dendi lirih
“Sudah terlambat Den…”, kataku lirih pula.
“Kamu tau kan siapa cewek itu. Bisa kamu tebak siapa?”, kata Dendi memancing dan aku tau dia pura-pura tidak tau.
“Aku. Iya kan?”, kataku langsung.
“Hmmm… Aku menyesal tidak pernah mengungkapkannya. Dan sekarang aku tau kamu sudah punya pasangan, seolah aku tidak rela kamu dimiliki orang lain, tapi aku tidak bisa beruat apa-apa lagi. Yang jelas aku sudah lega, ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan”, kata Dendi tersenyum.
“Itu masa lalu Dendi. Sekarang kita sudah hidup di jalan kita masing-masing. Aku sudah punya pasangan hidup dan begitu juga dengan kamu. Kita akan tetap berteman, sampai kapanpun”, kataku pada Dendi.
Tidak hanya Dendi saja yang lega, akupun lega mendengar Dendi juga mencintaiku dan aku cinta pertamanya. Mungkin Dendi ingin waktu kembali berputar ke masa lalu, dan aku ingin kembali ke masa lalu dimana aku mencintainya meski hanya seminggu saja, tidak untuk selamanya, karena aku sudah bahagia dengan hidupku sekarang. Biarlah Dendi tetap menjadi masa lalu, dan akamn selalu terkenang dan akan selalu ada dihatiku.

Orang bisa berubah, pasangan bisa berbeda, tapi kenangan tidak akan pernah berubah.