Tampilkan postingan dengan label Cerpen Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Sosial. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Juli 2012

Cerpen Sosial - Main di Langit

MAIN DI LANGIT
Karya Roysemut

Matahari bersinar Terik. Panasnya menyengat. Angin bawa debu terbang ke penghujung langit dan darat. Titik-titik debu menerpa wajah-wajah sendu. Wajah-wajah bocah kurus serius. Wajah lima bocah cari jawaban.
“Kalau udah begini, mau main dimana?” Gerutu Andi sambil menendang-nedang batu.

Tak ada yang bisa menjawab pertanyaan Andi. Baik Anto, Dullah, Iman atau Rizal tetap diam. Pertanyan Andi hilang ditelan angin. Anto bukan tak ingin menjawab pertanyaan Andi, tapi pertanyaan seperti itu sebetulnya juga ingin ia lontarkan pada satpam penjaga rumah yang mengusir mereka. Tapi Anto tidak berani. Terlebih ketika satpam penjaga rumah itu mengacung-acungkan pentungan ke arah mereka.
“Coba negara kita luas ya! Pasti kita bisa main bola di lapangan.” Gumam Dullah sambil memainkan bola plastik di tangannya.
“Heh..Dul ! Negara kita ini luas!” Jawab Iman sambil mencoba merebut bola yang dipegang oleh Dullah.
“Kalo luas, kenapa gak ada lapangan yang bisa dipakai main bola” Tanya Dullah
“Kata siapa nggak ada? Ada kok… cuman kalau main kita mesti bayar.. !” Debat Iman.
“Yeee… kalo itu juga tahu, yang gratis ada nggak? Tanya Rizal yang sedari tadi lebih suka memainkan debu di hadapannya.

Iman diam. Dullah, Anto, Rizal dan Andi ikut hening.
“Mungkin…” Andi bergumam
“Mungkin apa?”. Tanya Iman
“Mungkin udah keburu abis dijadiin Mol” Jawab Andi.

Rizal gharuk-garuk kepala. Dullah menyedot ingus, sedang Anto dan Iman bengong. “Ah…masa’ udah pada abis dijadiin Mol? Perasaan… Mol-nya sedikit!” Ucap Dullah sambil ngupil.
“Iya…Mol-nya dikit. Tapi parkirannya luas, blon lagi gedung betingkatnya…banyak!!!” Gerutu Andi.
“Ah udah deh…dari pada mikirin Mol, mendingan mikir dimana bisa main bola!” Sergah Anto yang dari tadi hanya diam mendengar perbincangan kawan-kawannya.
Andi. Dullah, Iman dan Rizal kaget dengar ucapan Anto. Mereka akhirnya duduk bersama dan mulai berpikir. “Di mana ya bisa main bola?”.
***

Matahari makin menyengat. Panas bukan main. Kelima bocah yang kepanasan masih saja duduk di pinggir trotoar.
“Nha….Gimana kalau di belakang proyek apartemen?” Ujar Dullah sambil teriak. Keempat teman Dullah kaget bukan kepalang.
“Ah di situ mah bakalan diusir lagi!” Jawab Andi dengan spontan.
“Kok bisa?” Tanya Dullah
“Iya! Satpam yang ngusir kita tadi pasti jaga di sana juga! Wilayahnya kan sama!” Jawab Andi.
“Gimana kalau kita main di belakang pasar?” Tanya Iman.
“Nanti diomelin ama babe lu lagi!” Ucap Rizal. “Babe lu kan penjaga pasar!”

Kelima bocah itu lagi-lagi membisu. Seperinya memang tak ada lahan lagi bagi mereka untuk bermain. Matahari menyengat sangat panas. Begitu panasnya sampai-sampai Dullah mengelus-elus kepalanya yang botak.
“Wah Panas nih, gue nggak bisa mikir kalau panas kayak begini!” Ucap Dullah.
Anto, Andi serta Rizal segera mendongak ke atas. Dilihatnya awan-awan putih menggantung di angkasa. Tiba-tiba terbesit ide di dalam pikiran Anto. Tak berapa lama bocah berumur enam tahun itu berkata sambil menunjuk langit.
“Hei…Gimana kalau kita main di sana!”
“Akh gila apa lu? Stress lu yak ?” Sergah Iman.

Empat anak lainnya ketawa. Semua menertawakan Anto.
Dullah meraba jidat Anto. Memastikan teman sepermainannya itu waras.
“Adem! Lebih panas jidat gue kayaknya” Ucap Dullah sambil bolak-balik meraba jidat Anto dan jidatnya sendiri.

Anto diam saja saat diraba jidatnya. Sementara temannya yang lain menertawakan tingkah polah Dullah dan Anto.
“Gimana? Kita coba main di Langit?” Tanya Anto. Tak memperdulikan tawa teman-temannya
“Wah makin stress nih bocah” Ucap Iman.
“Intinya cuman yakin! Dicoba aja dulu, kalau bisa main di sana kan seru.” Jawab Anto sambil menunjuk ke langit.

Suasana hening sesaat, keempat bocah teman-teman Anto segera memikirkan apa yang diucapkan oleh Anto. Tak berapa lama semuanya kembali tertawa terbahak-bahak.
“Udahlah! Ayo kita pulang! Besok kita cari lapangan lagi” Teriak Rizal.
“Kenapa? Mending kita coba panggil awan, supaya kita bisa main di langit” Tanya Anto.
“Wah makin stress nih bocah” Ucap Iman berulang kali. “Inget emak lu To... Masak gara-gara lapangan aja lu stress”
“Iya To, kayak Mang Dasir aja lu! Mang Dasir sih mending. Stress karena emang rumahnya digusur” Jawab Rizal.

Anto tersenyum. Keempat kawannya mulai beranjak pergi. Pulang. Tiba-tiba Anto merebut bola dari tangan Iman, kemudian berlari menjauh.
“Anto mau kemana lu ?” Tanya Dullah kaget
“Mau panggil awan. Main bola di langit” Teriak Anto

Semuanya bengong melihat Anto berlari menjauh
“Ntar kalau bisa main di langit, samperin kita-kita ya Tooooo” Teriak Rizal melengking
“Wah ikut stres nih bocah !” Ucap Iman sambil nengok ke Rizal.
Keempat bocah teman Anto mulai pulang ke rumah masing-masing. Anto masih terus berlari sambil bersiul. Larinya makin cepat. Siulannya pun makin melengking tinggi.
Ajaib ! Anto berlari melayang, makin lama makin tinggi. Anto tersenyum, makin semangat ia berlari dan bersiul. Anto terbang!
***

Matahari makin menyengat. Panas. Makin panas dengan kemacetan yang terjadi. Semua kendaaraan berhenti. Motor, mobil, bis, sepeda, truk, semuanya berenti. Semua orang mendongak ke atas langit. Semua melihat anak-anak usia enam sampai sepuluh tahun beterbangan ke langit sambil bersiul. Ada yang membawa bola, pukulan kasti, raket, karet dan aneka alat main lainnya.

Di bawah, orang-orang dewasa hanya terbengong-bengong. Sebagian ada yang mencoba untuk berlari dan bersiul juga. Berharap bisa terbang ke langit juga. Penjual minuman sampai monyong-monyong dan terengah-engah. Bersiul dan berlari, berharap bisa ikutan terbang dan jual minuman di langit. Tapi apa daya, penjual minuman hanyak bisa terengah-engah. Suasana makin hiruk-pikuk. Penerbangan terhenti. Takut menabrak anak-anak yang sedang main di langit.
Makin lama makin banyak anak yang main.... di langit.***

Roysemut, Pamulang, 15 Maret 2011

PROFIL PENULIS
Roy Semut, Laki-laki kelahiran Malang, 16 Mei yang berprofesi sebagai penyiar radio ini gemar membaca dan menulis cerpen dan puisi. Mulai gemar menulis sejak kuliah. Salah satu cerpennya yang pernah dimuat di Jawa Pos adalah “Mimpi Munah”. Ia menggunakan nama Cak Mardi saat menulis cerpen tersebut. Tinggal di wilayah Tangerang Selatan, ia mencoba kembali berkarya.

Selain menulis cerpen dan puisi, ia juga menulis berbagai motivasi hidup dipandang dari sudut pandang sepakbola. Sebagian besar tulisannya tentang motivasi ia tulis di blog pribadi www.bolahidup.wordpress.com

Minggu, 27 Mei 2012

Cerpen Sosial - Saksi Bisu

SAKSI BISU
Oleh Martha Friska Sirait

Malam itu tepatnya disaat semua orang sedang terlelap dalam mimpi dan terbaring lelap dalam selimut hangat mereka masing-masing, terlihat ada seorang anak sedang berjalan ditengah gelapnya malam sembari memegang sebuah boneka anjing yang sudah lusuh dan koyak. Anak tersebut terus berjalan tanpa henti meskipun tapak kakinya sudah lepuh terkikis oleh panas jalan tadi pagi. Dia tidak tahu arah tujuan dan tidak tahu arah untuk pulang, sebab tidak ada lagi seseorang yang bisa dia datangi saat itu juga.
Hingga suatu ketika disaat dirinya berhenti di bawah lampu jalan yang redup, tiba-tiba ia merasa hawa dingin yang mengikutinya tidak lagi bersamanya. Ia terdiam dan menutup matanya sesaat untuk merasakan udara yang tadi terus bersamanya. Sama seperti angin malam yang berhembus cepat, tiba-tiba sesuatu menghampiri dirinya dan membungkam mulutnya hingga dia tak lagi bisa merasakan jari-jarinya sendiri.
“ Apa yang harus kita perbuat dengan anak ini ?”
“ Aku tidah tahu, bos hanya menyuruhku untuk membawanya kemari ”

Tru..tru..tru..., tiba-tiba terdengar bunyi handphone dari salah salah satu pria tersebut.
“ Hallo, iya bos... baik bos”
“ Kita disuruh untuk mengantar anak ini kesuatu tempat”
“ Kau tau tempatnya ?”
“ Ya, tidak terlalu jauh dari sini. Lekas angkas anak itu”
“ Baik ”.

Hembusan angin yang kecil dengan aroma kue yang begitu wangi telah membuat mata anak itu terbuka. Ia menoleh kearah kanannya dan melihat sesuatu yang ia kenal. Spike. Yah, itu adalah boneka anjing kesayangannya yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi. Lalu ia bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan keluar dari pintu tanpa merasa keanehan sedikitpun tentang tempat itu.
“ Kau sudah bangun ? ”
 
Anak itu hanya mengangguk sekali
“Siapa nama mu, Nak?” sambil memegang pipi anak itu dengan lembut. Namun tak ada jawaban dari bibir kecil anak itu.
“Baiklah, kalau kamu belum mau mengasih tahu nama kamu, tapi ada baiknya kamu ikut bersama teman-temanmu untuk sarapan”.

Lalu wanita itu memegang tangan anak itu dan membawanya duduk dimeja makan dimana disana sudah banyak anak-anak yang seperti dia sedang menunggu sarapan mereka.
“ Nah, anak-anak sekalian sekarang kalian kedatangan teman baru, tapi dia belum mau memberitahu kita siapa namanya. Kira-kira siapa dari kalian yang berkenan untuk berkenalan dengannya ?”
“ Tidak perlu ! ”

Tiba-tiba kalimat itu keluar dari mulut anak itu
“ Sora, itu namaku. Jadi kalian tidak perlu memperkenalkan diri padaku”. Dengan tenang ia langsung meninggalkan tempat makan itu.
“ Sora, tidak baik berkata seperti itu kepada teman-temanmu, kamu harus sopan dengan mereka”

Anak itu menghentikan sejenak langkah kaki kecilnya kemudian membalikkan badannya dan menatap wanita itu.
“ Mereka bukan teman-temanku, mereka hanya anak-anak yang kebetulan bernasib sama denganku yang dipertemukan ditempat ini. Lagipula aku tidak ingin mengenal mereka”.
Secara tiba-tiba wanita itu terdiam membisu, matanya tak bisa digerakkan, mulutnya diam seperti dikunci dan tubuhnya tak mampu untuk bergerak. Seakan-akan anak itu telah memberikan sihir jahat padanya yang membuat dirinya merasa takut dan tak mampu untuk melepaskannya.Tok..tok..tok.., terdengar seseorang dari luar pintu sedang mengetuk pintu. Tok..tok..tok...Tok..tok..tok..., suara itu terdengar lagi, namun tidak ada jawaban satupun dari dalam kamar tersebut.

Tok...tok..tok..tok...tok..., suara ketukan itu semakin kencang terdengar namun tetap saja tak ada jawaban dari dalam kamar. Hingga tiba-tiba suara ketukan itupun berhenti. Seseorang yang berada dalam kamar tersebut melangkah kearah pintu dan mencoba melihat keluar, apakah orang yang mengetuk tadi sudah pergi atau belum. Saat dia yakin bahwa tidak ada lagi orang diluar, maka dia membalikkan badannya dam mencoba kembali ketempat tidurnya. Namun disaat ia berbalik, sesuatu mengejutkannya.
“Aaahhh...”

Suara teriakan itu bersamaan keluar dari mulut anak itu dan seseorang yang terlihat dari balik jendela. Dengan cepat anak itu membuka kaca jendela dan menarik orang itu kedalam.
“ Aduh..aduh.., pelan-pelan dong ! ”
“ Sedang apa kamu ?”
“ Aku tadi mengetuk pintu kamarmu, tapi kamu tidak menjawab. Maka dari itu aku mencoba memeriksamu dari jendela mana tahu terjadi apa-apa dengan mu”.
“Aku tidak apa-apa, sekarang pergilah”
“ Tunggu, ada yang ingin aku katakan kepadamu”
“ Aku tidak mau dengar”
“ Ini yang terakhir” sambil memasang wajah yang memelas.
“ Katakan dengan cepat !” sambil bertolak pinggang dan menatapnya dengan sinis.
“ Aku Lee, senang bertemu denganmu”
“ Kamu hanya ingin mengatakan itu ?”
“ Iya, tapi ada hal yang lebih penting yang ingin aku tanyakan”
“Apa ?”
“ Kata-katamu yang tadi pagi saat di ruang makan apakah kamu serius mengatakannya ?”
“ Tidak”
“ Terus kenapa kamu mengatakannya ?”

Dengan perlahan Sora mendekati Lee dan mengendus-endus tubuhnya.
“ Kamu bau !”
“ Apa ? memang hubungannya dengan aku apa ?
“Entahlah. Waktumu telah habis, sekarang keluarlah”
Haripun telah berlalu, meskipun Sora melalui hari-hari dengan anak-anak seusianya di tempat itu, namun sifatnya tidak berubah. Pola fikirnya masih terlihat seperti orang dewasa dan sangat cerdik. Suatu hari ketika disaat dia sedang keluar untuk menghirup udara malam, dengan tidak sengaja ia melihat dua orang pria sedang berdiri dibawah pohon beringin sambil merokok. Mereka terlihat sedang menunggu seseorang ditempat itu. Karena penasaran, ia mendekati tempat itu dan mengintip mereka dari kejahuan.

Dengan memusatkan pandangan matanya kearah orang itu dan menajamkan pendengarannya, ia mulai berfikir dan memutar otaknya untuk mengetahui keanehan itu. Dengan terkejut ia tidak mempercayai sesuatu yang telah ia lihat. Setelah beberapa lama mengamati mereka, ia langsung kembali ketempat kediamannya.
“ Dari mana saja kamu ?”
“ Menghirup udara malam”
“ Kamu tahu peraturan disinikan ?”

Tapi pertanyaan itu tak digubris oleh Sora sedikitpun. Ia hanya memainkan matanya dengan melirik kekiri, kekanan, kebawah dan keatas. Dan sesekali ia mengorek kupingnya hingga membut geli dirinya sendiri. Karena merasa kesal atas sikap Sora, Lee langsung menekan kedua pipi Sora dengan ujung jari telunjuk dan jempolnya.
“ Jangan pernah mempermainkan aku!”

Tapi dengan kuatnya, Sora langsung menepis tangan Lee hingga terlepas dari pipinya.
“Aku tidak pernah sedikitpun takut kepadamu !” sambil memainkan telunjuknya kearah wajah Lee, kemudian ia berlalu dengan tenangnya.

Keesokan harinya seperti biasa anak-anak selalu bekerja sama untuk membereskan rumah. Semua begitu semangat ketika mengerjakan tugas mereka masing-masing. Namun disaat semua anak sedang bekerja tiba-tiba Lee menghampiri Sora dan menyapanya.
“ Hai, mengenai hal semalam aku minta maaf”
“Tidak perlu, aku sudah tidak mempermasalahkan itu lagi. Sekarang pergilah !”
“Mengapa kamu begitu bersikap sinis padaku ? padahal kita sama”
“Tidak, aku bukan manusia sepertimu. Jadi pergilah dari hadapanku !”

Malam begitu indah ketika langit menyelimuti bumi dengan penuh bintang-bintang. Dan kunang-kunang bertaburan menghiasi sunyinya malam itu. Tapi itu tidak dapat ia lihat karena tubuhnya tengah terbalut tali yang telah terikat kuat disekujur tubuhnya. Bibirnya lebab sebab terkena pukulan yang keras, serta keningnya yang bercucuran darah akibat terkena pukulan dari balok kayu yang mengenainya.
“Sejauh mana kamu mengetahui masalah ini ?”
“Apa berarti yang aku ketahui itu adalah benar ?”

Tanpa pandang bulu, pria itu langsung memukul wajahnya dan menendangnya sampai terpental jauh kebelakang.
“Dasar tak berguna !”
“Lalu bagaimana dengan mereka, kau juga tidak menganggap mereka tidak berguna sementara kau mengambil organ tubuh mereka dan menikmatinya”
“Kau juga akan bernasib sama dengan mereka, jadi tunggulah giliranmu”
Setelah pria itu meninggalkan Sora sendirian, maka dengan cepat Sora langsung pengeluarkan pisau silet dari mulutnya dan melemparkannya mendekati tangannya agar bisa mengambilnya. Gerakan kecil yang cepat dari tangannya membuat tali itu terputus dan terlepas dari ikatan yang membelenggunya. Dengan bergegas Sora langsung kabur dari tempat itu dan keluar mencari teman-teman yang lain. Namun tak satupun anak-anak lain ditemukannya.
Lalu ia mencoba keluar dari rumah itu, sesaat ingin membuka pintu ia melihat sesuatu dibalik pintu kamar ruangan mother, yang tidak lain adalah ibu asuh mereka sendiri. Dengan perlahan ia mendekati ruangan itu. Tangannya telah bersiap untuk membuka pintu itu dan dengan berani ia langsung memasuki ruangan itu. Sekujur tubuhnya menjadi kaku dan matanya tidak mampu untuk berpaling dari pandangannya karena kakinya seakan-akan telah terpegang kuat oleh sesuatu untuk tidak bisa pergi dari tempat itu. Sesaat ia ingin muntah dan menutup mulutnya dengan tangannya.

Dan tanpa sadar ia menitikkan air mata dan tersungkur kelantai setelah dia tak mampu lagi untuk berdiri. Dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat tubuh dari teman-temannya telah termutilasi dengan sadis dan semua organ-organ tubuh mereka berserakan diseluruh lantai itu. Ia tidak percaya, namun dengan memberanikan diri ia mendekati mereka dan mencoba untuk mengenalinya agar bisa mengetahui siapa saja yang belum menjadi korban dari pria jahat itu.
“ Hanya dia, aku sudah menduganya”
“Kau benar !”

Meskipun terkejut, dengan cepat Sora langsung menjaga jarak dan mengambil pisau yang ada di lantai kamar itu.
“Kenapa Lee, Bukannya kau sayang pada mereka?”
“Mereka bukan siapa-siapa buatku”
Dan tanpa membutuhkan banyak waktu, Lee langsung menerkam Sora layaknya serigala yang hendak menangkap mangsanya. Namun hal itu sudah diperhitungkan oleh Sora, maka dengan cepat ia menahan serangan dari Lee dan menendang tubuhnya hingga tersungkur kebawah. Tapi tendangan itu tak bertahan lama, Lee langsung bisa bangkit lagi dan mengambil pisau dari balik bajunya dan mencoba untuk menikam Sora. Perkelahianpun terjadi dengan sengit, beberapa tusukan mengenai tubuh Sora, tapi perkelahian itu seimbang dengan tertusuknya Lee dari mata pisau Sora.

Mereka sudah seperti kerasukan setan yang saling terus menyerang untuk saling membunuh satu dengan yang lain. Saling mempertahankan diri dengan menangkis semua tusukan pada mereka dengan tubuh-tubuh bangkai dari teman-teman mereka sendiri. Namun sudah menjadi kodrat seorang wanita dimana tenaga pria jauh lebih unggul dibanding kekuatan wanita. Sora akhirnya tertusuk di bagian perut kirinya dan tersungkur jatuh kelantai. Lee merasa puas dan membiarkan Sora tetap dilantai. Lalu Lee mengunci kamar itu dan menyiram seluruh rumah itu dengan minyak lampu.
“Lee, apa yang terjadi padamu?”
“Wanita itu ternyata sedikit kuat”
“Lalu, apa yang terjadi?”
“Tenang saja Mother, dia sudah aku bereskan”
“Bos, mobil sudah saya siapkan. Sekarang kita sudah bisa bergerak”
“Lee, pergilah dengan mereka, aku akan menyusulmu nanti”
“Baik Mother”

Setelah mobil mereka bergerak, Mother pergi kesuatu tempat untuk mengambil semua organ-organ tubuh anak-anak itu untuk dijualnya kepada orang lain. Tapi begitu terkejutnya dia ketika semua koper yang berisi organ tubuh tersebut tidak ada.
“Kau mencari ini?”
“Kau ?”

Tapi tanpa mengulangi kesalahan yang sama, Sora langsung mengunci pintu tempat Mother berada. Dia mengambil alih semua organ tubuh itu dan membawanya keluar.
“Hei, anak brengsek, keluarkan aku dari sini!”

Dengan cepat Sora langssung meninggalkan tempat itu. Hanya berselang waktu sepuluh menit, Lee dan komplotannya kembali kerumah itu untuk melepaskan Mother. Sesaat mereka akan keluar, tiba-tiba mobil polisi telah mengepung mereka. Dan akhirnya mereka tertangkap.
“Dari mana komandan tau kalau disini ada tindakan kriminal?”
“Seseorang mengirimku surat, didalam surat itu dikatakan bahwa dirumah ini akan menjadi rumah penjahat. Dan jika saja kita mengabaikannya, kita akan menyesal meski pada dasarnya kita telah kehilangan banyak nyawa anak-anak tidak berdosa”.
“Lalu siapa pengirimnya?”
“Aku tidak tahu, yang pasti Tuhan sedang mengirimkan bantuannya kepada kita untuk mengungkapkan kasus yang telah kita selidiki selama ini”.
Setelah kejadian itu berlalu, tidak seorangpun dikatakan selamat dalam peristiwa itu. Namun hanya Dialah yang Maha tahu semuanya, termasuk keberadaan anak itu.
 
PROFIL PENULIS
Namaku Martha Friska Sirait, 
Lahir di Medan pada tanggal 01 Maret 1991.
Sekarang aku berkuliah di Universitas HKBP Nommensen Medan dan mengambil jurusan FKIP Bahasa Indonesia.
Alamat facebook saya conansirait@ymail.com

Kamis, 03 Mei 2012

Cerpen Kritik Sosial - Negeri Paduan Suara

NEGERI PADUAN SUARA
Cerpen Riki, S.S.

Untuk kesekian kalinya dia berada di kegelapan. Gelap yang tidak berujung dan bertepi. Dia tidak bisa meyakinkan padaku, apakah dia berada di sebuah ruangan atau bukan. Tidak ada batas sudut-sudutnya, tidak ada bentuk, dan pula tidak ada warna.
”Apakah ini puncak kesakitanku? Dingin dan lembab sekujur tubuh.”
”Apakah ini akhir dari segalanya? Gelap sepanjang pandangan.”
"Degup...degup...degup...degup!"
Terdengar seperti getaran kecil menyentuh-nyentuh di dalam syaraf telinga. Dia menyadari sel-sel kesadaran dalam tubuhnya satu demi satu meredup, kecuali sel-sel syaraf telinganya saja yang tersisa dan itu pun yang terakhir.

Terdengar suara-suara mengelilinginya.
"Gombal dengan semua kepura-puraannya. Dia merasa dirinya paling ideal dan suci," ungkapnya dalam nada Tenor.
"Ya, benar sekali," tegas suara bernada Bariton di sampingnya.
"Sudahlah kamu berdua jangan terlalu menyudutkannya, mungkin itu prinsipnya.”
”Prinsipnya berbeda dengan prinsip kita," tegur sura perempuan dengan suara lirih seperti Nada Meso Sopran.
"Prinsip itu seperti keyakinan. Dia akan memegang teguh dan tidak akan tergiur, sekalipun kita membujuknya dengan keuntungan materi yang besar.”
"Prinsip kita itu mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Bukankah demikian kesepakatannya?" nada Tenor terkesan meyakinkan tujuannya.
"Ya, tepat sekali.”
“Benar-benar dia tidak punya prinsip,” ejek nada Tenor.
”Sudah, cukup! Dia itu berbeda,” tegas nada Meso Sopran dengan nada sedikit tinggi.
”Prinsip menurutnya berupa pengabdian yang utuh. Tidak untuk kepentingan kelompok, apalagi hanya untuk kepentingan dirinya sendiri.”
”Sebenarnya saya kagum padanya!” jujur nada Meso Sopran.
”Nyonya kagum dengan orang seperti ini. Kalau kagum, kenapa Nyonya tidak berprinsip sepertii dia?” nada Tenor sedikit menyindir.
”Sudahlah jangan kau pertanyakan. Kebenaran menurut kita adalah sebuah kesepakatan. Kesepakatan adalah mufakat, dan mufakat itu merupakan suara kebenaran. Bukankah seperti itu?”
”Benar sekali! ....Satu milyar.... buat Nyonya,” respon nada bariton.
”Kita harus menguatkan prinsip kita dengan nada yang sama!” jawab mereka serempak.
Terdengar gelak-tawa kegembiraan diantara mereka seperti nada-nada marsh. Suara satu, dua dan tiga berirama serentak membentuk kekuatan suara yang saling mengukuhkan, sehingga membentuk nada yang bulat dan utuh. Tetapi, menurut pendengarannya justru suara-suara di luar tubuhnya itu bernada sumbang dan menjijikan.


Sementara udara di ruangan yang berbentuk bujur sangkar itu terasa mencekam, dingin AC menusuk pori-pori tubuh. Infus yang tergantung di besi penyangga, tanpa lelah menetskan air makanan untuk menyambung kehidupan baginya. Tabung oxygen berdiri tegak dengan sabar memompakan udara melalui lubang hidung, segarnya memberikan riak kesadaran. Namun, itu semua hanya terhitung dengan jatah nafas yang terbatas. Sedikit harapan masih ada dititipkan di setiap detak jantungnya.
"Degup...degup...degup...degup."
"Degup...degup...degup...degup."
”Saya khawatir, dia akan membongkar rahasia kita semua,” nada Bariton mencemaskan.
”Nada yang tidak seirama akan mengeluarkan suara sumbang dan akan mengganggu keharmonisan. Dan, itu artinya mengganggu kemanan kita!”
”Ya Tuhan! Jauhkanlah bencana ini,”
”Tetapi jika benar-benar terjadi, sudah dipastikan kita tidak bisa menikmati manisnya uang dan mewahnya mobil, yang ada hanya malu dan kehinaan dalam tralis besi,” keluh nada tenor ketakutan.
”Bagaimana jadinya Nyonya?” pinta nada Bariton.
”Jangan khawatir, semuanya sudah diatur dengan rapi.”
”Tidak ada orang yang tahu jejak-jejak kita, kecuali kita dan dia.
”Kalian lihat sendiri, bukankah dia sudah tidak berdaya? Jadi kita aman.” jelas nada Meso Sopran.

Suara itu mengikis sedikit demi sedikit harapan kehidupan, menghantarkannya pada gelap. Tetapi, cahaya tetap memaksa merambat diantara celah-celah kecil, sekalipun pudar tetap membawa sedikit harapan kehidupan. Kepekaan pendengaranya kembali menyelinap di balik rongga-rongga telinga.
"Degup...degup...degup...degup," sayup detak jantung.
”Kemarin saya menanyakan kondisinya ke ketua tim dokter yang menanganinya. Ternyata hasil diagnosanya mengatakan bahwa pingsan yang sering dialaminya akan mengakibatkan amnesia akut atau bahkan kematian.”
”Informasi ini memberikan arti penting untuk keamanan kita semua,” tandas nada Meso Sopran.
”Artinya kalau pun dia tidak mati, kita tetap akan aman karena dia tidak dapat mengingat apa-apa tentang kita. Entah syaraf apa yang rusak di kepalanya,” jelas nada Meso Sopran meyakinkan.
”Keberuntungan memihak kita.”
”Dua pilihan yang jitu; mati atau lupa selama-lamanya.”
”Kita akan selamat dan kita akan kaya!” suara Tenor dan Bariton serempak.

Riuh kemenangan dari suara-suara sumbang itu seperti nada-nada marsh yang lebih serentak. Nadanya berirama keuntungan ratusan juta rupiah; makanan lezat di hotel super mewah dengan gula-gula perempuan cantik. Demikian juga mobil Mercy dan BMW seri terbaru menjadi nada kegembiraannya pula.
”Setahun yang lalu sebelum dia terkena penyakit dan sering pingsan, saya sudah membujuknya untuk bergabung kembali dalam kesepakatan kita. Tetapi, dia menolak mentah-mentah.”
”Dia marah besar, katanya lebih baik mati dari pada harus bergabung lagi dalam kesepakatan. Sumpah-serapah yang dialamatkan olehnya adalah penghianat.
"Siapa penghianat itu?" intrupsi nada Tenor.
"Bukannya dia sendiri yang menjadi penghianat. Menghianati kesepakatan yang telah dibuat. Bisa-bisanya dia memutar-balikan fakta," dalih nada Bariton.
"Lantas apa lagi yang disampaikan si penghianat tengik ini?”

Suara nada Bariton terdengar keras sekali menempel di telinganya, dia memukul-mukul tempat tidur di samping tubuh yang terbujur kaku. Gereget gigi-giginya yang beradu sehingga terdengar ngilu sekali.
“Lepaskan saja selang-selang oxygen itu dari lubang hidungnya, supaya kita cepat aman!”
“Tarik segala ucapanmu itu, tolol! Kau terlalu gegabah dengan ucamanmu. Itu namanya pembunuhan!”
“Kita perlu sedikit bersabar, menunggu sang waktu menjemputnya.”
“Sudahlah, kau bersabarlah sedikit. Lantas apalagi yang dikatakannya?” timpal nada Bariton
”Dia berdiri dari kursi kantornya, dan memaki-maki saya,” tambah nada Meso Sopran.
”Katanya, badai tidak akan pernah berakhir di negeri ini. Bukankah kita dipilih untuk mewakili suara-suara yang menitipkan segala perbaikan. Kita mengibarkan warna-warni bendera dengan panji perubahan. Kenapa kita menghianatinya? Kemudian dia mengusir saya.”
”Demikianlah perbincangan terakhir dengannya. Tepatnya hari senin jam 10.30 di ruang rapat komisi,” jelas nada Meso Sopran kembali.
"Degup...degup...degup...degup," sedikit terdengar detaknya.
Sel-sel syaraf telinga mulai meredup-menyala dan meredup-menyala lagi. Sisa-sisa kesadarannya berusaha mengingat suara-suara di luar tubuhnya. Menerka untuk mengingat siapa pemilik suara-suara sumbang itu.
Siapakah mereka sebenarnya? Kalau dia berhasil mengingat siapa mereka, tentunya kalian juga akan tahu dan kalian bisa melaporkan mereka sebagai pelaku kejahatan.

Dia mengutarakan padaku tentang suara-suara janggal yang pernah dia simak tiga bulan yang lalu. Pada waktu itu dia lebih kelihatan sehat, mulutnya masih bisa menyampaikan informasi dengan baik. Dia mengatakan padaku persis seperti apa yang dia dengar. Dia hanya bisa mengingat suara-suara itu dengan baik, persis seperti dia hanya mengingat baik diriku sebagai teman dekatnya.
”Sudahlah kalau dia menginginkan keluar dari kesepakatan ini, keluar saja. Apa pentingnya keberadaanya dalam kesepakatan ini. Toh, cuma dia satu orang saja.”
”Kesepakatan yang kita buat, dianggap absah karena jumlah suara kita sudah quorum. Maka izin penggusuran tanah dibawah jembatan antar kota itu disepakati dengan segala konsekwensi konvensasinya.”
”Bukankah seprti itu?”
”Benar sekali,Nyonya.” jawabannya serntak
”Kita sudah menanadatanganinya di atas materai,”
”Sah dan absah.”
”Apa yang harus kita khawatirkan?”
”Kita sudah sangat aman, karena sudah tidak ada lagi penolakan diantara kita. Kita sudah nyaman, karena sudah tidak adalagi dua mata dan dua telinga yang mengawasi kita.
”Marilah kita bersulang.”
Inilah sabda kebenaran yang dititipkan pada cahaya, menembus gelap setebal malam tanpa rembulan. Kejahatan dan kedoliman dipahatkan dan terlihat di atas tanah kumuh milik orang-orang misikin yang digusur. Dengan izin kekuasaan dibangunlah mahligai kemewahan yang menjanjikan. Kesepakatan yang menjijikan; izin penggusuran tanah kumuh milik orang-orang miskin di bawah jembatan layang antar kota.

Menurutnya apakah kalian akan memaksa mencari sumber suara-suara sumbang itu? Tetapi dia mengkhawatirkan kalian tidak bisa menemukannya. Sekalipun menemukan suara-suara itu, bukannya bisa menangkap mereka justru kalian sendiri yang dituntut balik dengan alasan memfitnah dan mencemarkan nama baik. Itu semua karena bukti yang ada hanya berupa nada-nada suara saja.

Dia mengira, di ruang itu orang-orangnya sudah terkelompokan dalam grup paduan suara yang sama. Paduan suara yang cenderung menyanyikan nada-nada sumbang yang memiliki satu intruksi dari sang dirigen. Sang Dirigen pandai sekali dalam menyampaikan isyarat-isyarat tangan dan mengintruksikan perintah-perintah tanpa suara. Sehingga sampai hari ini belum satu pun suara-suara sumbang itu terungkap dengan jelas dan tuntas.

Inilah keterbatasan. Dia hanya bisa meminta maaf pada kalian, karena suara-suara tersebut hanya dialamatkan dalam nada-nada Tenor, Bariton dan Meso Sopran seperti yang telah kalian dengar.
Suara yang terdengar bukanlah paduan suara marsh kemerdekaan mengusir segala bentuk penjajah seperti dalam cerita-cerita kepahlawanan. Paduan suara itu berupa paduan suara Diatonis Mayor, tangga nadanya mempunyai jarak antara 1 dan 1/2. Ciri-ciri nadanya bergairah, gembira dan semangat. Namun sayang, ciri-ciri nada tersebut hanya untuk mendapatkan keuntungan 1 atau 1/2 milyar rupiah saja.

Dingin AC di ruangan itu kian tidak bersahabat, menyelinap di setiap lubang pori-pori, sehinga dinginnya menyatu dengan sekujur tubuh. Dingin yang memisahkan dari segala hangat kehidupan dunia. Sudah tidak terlihat lagi air jatuh dari selang infus sebagai riak kehidupannya. Tabung oxigen sudah menyerah memompakan harapan. Dan, akhirnya dingin menyeretnya jauh kekedalaman sunyi, tanpa sedikitpun cahaya.
”Bagaimana perkembangannya, Dok?” tanyanya dengan nada harap-harap cemas.
”Tidak bisa diselamatkan!” .
”Dia sudah tiada!”
”Benar sekali kita sudah aman.”
”Syukurlah,” ketiga suara itu serempak dengan nada bulat.

Segala gelap mengisyaratkan seluruh kesadarannya; memisahkan dari segala terang yang penuh dengan interik-interik pelik dan manipulasi. Dia lebih memilih kehidupan yang hening dan sepi untuk menghadap sang Illahi dengan bekal kejujuran yang dimilikinya. Kejujuran itu terbungkus dengan lipatan kain putih sebagai bukti kesucian dari noda-noda dunia. Perang telah usai meski harus diakhiri dengan sebuah kekalahan; adalah melawan musuh ketidak-adilan yang diakhiri dengan kemenangan mengalahkannya dari sudut mata duniawi.

Angin menghembuskan tubuhnya dengan iring semerbak wangi melati mengantarkannya. Dia disambut dengan segala kesederhanaan rumah, tanpa disain, tanpa mode, tanpa pagar dan tanpa garasi mobil. Terbujur tubuhnya dikelilingi tangisan memanjatkan doa atas kesederhanaan dan kejujuran yang dipujanya. Sekedar itu, dia dipendamkan tanpa upacara kehormatan seorang pahlawan. Sekedar itu, dia ditinggalkan, dengan hanya alamat lahir dan kepergian tertulis di atas sebuah nisan.

PROFIL PENULIS
Nama : Riki SS
Email : riki.gevin@gmail.com

Selasa, 24 April 2012

Cerpen Sosial "Amplop"

AMPLOP
Cerpen Sandi S
 
Ribuan pasang mata menatap ke arah yang sama, ke papan pengumuman balai kepegawaian. Padahal terik mentari seperti ingin membuat semut-semut memekik kegerahaan. Sementara kerumunan manusia semakin tumpah. Saling sama melumuri keringat, orang tua harus pegang anaknya erat-erat karena jika tidak manusia lain akan siap menginjak. Pengumuman itu memang baru selesai kami tempel tiga jam yang lalu. Tapi tak lama kemudian jumlah manusia mengalir bagai bulir, berhimpitan penuh sesak ada pula pedagang yang memanfaatkan peluang berjualan es tebu, tisu, dan buku-buku panduan ujian. Itu baru pengumuman kelulusan administrasi. Jari-jari mereka menunjuk kepada tulisan yang tertera di papan mencari namanya masing-masing. Sementara barisan di belakang menumpuk siap ambil bagian. Aku hanya bisa saksikan mereka dari jendela kantor. Surya makin terang, jelas saja sebab waktu baru merangsek ke pukul dua siang. Panasnya siap memanggang kerumunan masa yang berebut status pegawai negeri sipil.

Dari sana mereka terlihat beringas seperti beruang ganas yang sedang kelaparan. Burung-burung gereja tak terlihat berseliweran, padahal biasanya mereka berbisik ria keluar masuk lubang fentilasi tanpa ada yang intervensi. Gumpalan awan dari kejauhan siap memberi keteduhan. Halaman kantor yang biasanya lengang kini tak bisa menyisakan ruang. Motor-motor mereka diparkir sembarang, Pak satpam kelihatan berang. Tak tertinggal nyamuk pers juga hadir memberikan laporan, berebut berita tentang orang di dalam sesak kerumunan.

Lelaki paruh baya dengan seragam dinas membawa selembar kertas di tangan kirinya, bersama seorang gadis kecil yang sedari tadi memegang erat tangan kanannya. Anak perempuan itu merengek minta pulang, pria itu membelikannya es krim. Tangis manjanya sudah jeda. Tiga hari lagi tes PNS baru digelar, semua kandidat kurasa sudah siap tempur. Tapi kuharap kejadian beberapa tahun belakang tak pernah terulang. Polemik yang amat pelik yang menyuguhkan keonaran anak-anak orang terkemuka yang tanpa tes lantas lulus PNS. Aku tak mau lagi mendengar suara mahasiswa teriak dan bersorak lalu kaca-kaca kantor menjadi dekil dan penuh bercak karena dilempar telur dan kotoran ternak. Tapi barangkali aksi mereka ada benarnya, praktek haram itu tak patut dipelihara.

Sesak kerumunan kini telah lengang, mencair ke muara-muara sungai tempat asal mereka harus pulang. Sekarang sudah bisa mengambil nafas dengan lepas. Aku melangkah keluar karena memang sudah waktunya pulang kerja. Baru beberapa meter melangkah, aku lihat tinggal lelaki itu yang tersisa. Penjual es, tisu, koran, dan penjual buku semua sudah dilalap senja. Ia baru mencari-cari data, jemarinya menunjuk ke arah tulisan yang tertera barangkali ia mencari namanya. Anak perempuannya kembali merengek minta pulang karena semburat senja tak lagi membayang. Aku tak menghiraukan memacu motor sebelum diterkam malam.
**

“ Pa ! ada tamu, sebentar ya Pak saya panggil suami “
“ ya Bu, nggak apa-apa “

Panggilan istri segera mempercepat aku mandi. Selesai berbusana aku temui tamu yang sepertinya membawa kepentingan untukku. Ah, barangkali cuma teman sepekerjaan. Istriku datang memberi jamuan, aku datang lantas bersalaman. Lelaki itu, aku masih ingat persis wajahnya apalagi ia juga membawa putrinya. Ada apa ? dalam benak aku bertanya. Kenapa pria ini kemari ? ada urusan apa denganku. Kutahan dulu pertanyaan sementara kupersilakan ia untuk meneguk minuman.
“ maaf ya Mas mengganggu, saya cuma mau minta tolong “
“ tolong apa ya Pak ?, aku masih belum paham dengan itikadnya.
“ begini “ sambil mengeluarkan amplop coklat besar dan tebal. Ia lanjutkan pembicaraan. “ saya punya rezeki buat Mas kalau bersedia membantu saya “
“ tapi bantu apa ya Pak ? “
“ Mas lihat saya kemarin kan ? sudah lama saya menginginkan jadi PNS, jadi guru honorer tak pernah mengangkat derajat hidup saya”.
“ jadi Bapak mau menyogok saya ? maaf Pak saya tidak akan bertindak sekeji ini “
“ saya tak mengatakan ini keji, tapi saling menghargai. Saya memberi, Mas punya empati “
“ nggak semudah itu kali Pak, saya punya reputasi dan tak bisa dibeli “

Belum selesai pembicaraan kami, terdengar suara istriku memanggil menenangkan pikiranku yang semula menggigil. Aku segera kabur menuju dapur.
“ Pa ! , aku menyambut suaranya yang lembut.
“ Pa, Bu Anita kemarin baru beli tv sama kulkas baru lo “
“ ya memangnya kenapa, gajian bulan depan papa baru bisa belikan kalau mama mau “
“ kenapa mesti bulan depan kalau sekarang uangnya udah ada “
“ uang apa Ma ? “
“ Mama mendengarnya, apa salahnya sih membantu Bapak itu Pa ! “
“ nggak bisa, mama mau papa dipenjara ? “
“ kan nggak ada yang tahu Pa, lagian ini akan adil. Bapak itu sudah puluhan tahun menjadi honorer, sudah layak dinegrikan ! “

Aku tak menghiraukan bicara istri, memilih kembali temui orang tadi. Tapi ruangan tamu sudah lengang orang itu sudah menghilang. Amplop gemuk itu ditinggalnya bersama beberapa tulisan di atas kertas.
Ini alamat saya Mas, seandainya uangnya kurang datang saja kemari !.
Cepat-cepat kuamankan amlop dan suratnya. Kalau Rini tahu ia pasti menganggapnya rezeki. Aku dihadapkan situasi yang amat menguji intuisi. Aku harus benar-benar memikirkan sebelum terperosok lebih dalam pada praktek birokrasi yang gila-gilaan. Halal haram hantam!. Menyelinap di balik gelap takut kalau istri tahu lantas ia akan kalap melihat amplop gemuk yang berisi jutaaan harap.

Esok harinya aku berencana mengembalikan amplop kepada sang empunya. Beberapa rumah aku mencoba singgah hingga akhirnya kutemukan juga alamat yang sesuai dengan isi surat. Rumahnya besar dan berpagar, di luar ada satpam penjaga. Aku bergegas masuk dan menggedor pintu. Satpam mencoba mengalangi tapi aku punya nyali ia hanya mengikuti.
“ jangan mentang-mentang kau kaya bisa membayar orang seenaknya ! keluar kau ! aku tak sudi makan uangmu ini “

Satpam menerkam dari belakang, aku makin naik pitam. Yang kurasakan hanya gelap dan bikin kalap. Aku dan satpam berguling diteras sementara cengkramannya tak pernah lepas.
“ ada apa ini ? “ seorang pria berbadan kekar keluar. Aku berdiri lantas ditampar. Dari hidung mengalir darah segar. Aku dilempar keluar pagar bagai kucing yang habis bikin onar.

Aku pulang membawa memar. Orang tua itu mempermainkanku dengan memanipulasi domisili. Amplopnya masih aku jaga agar Rini tak pernah mengetahuinya. Sampai di rumah tak kujumpai ia. Aku segera berbenah supaya wajah tak tampak seperti bekas luka. Aku hanya berbaring memeras kening, menjambak lara, memaki diri sendiri, menggenggam dendam yang amat dalam. Tak lama berselang aku histeris dalam kegalauan terdengar suara renyah dari luar rumah. Istriku baru pulang tak tahu habis dari mana.
“ Pa, Papa !! sini dong bantuin angkatin “

Aku beranjak walau sebenarnya ada sesuatu yang menyesak di dalam benak. Kulihat dua orang kuli angkut membawa kulkas dan tivi.
“ punya siapa ya ? “
“ punya kita dong Pa “

Aku tertegun penuh tanya, dan kembali ke kamar membawa amplop itu dan membongkarnya. Setelah kusobek bagian depannya yang ada hanya guntingan koran bekas saja. Seperti ada gemuruh di dalam dadaku hingga peluh dingin meleleh ke seleuruh tubuh. Di mata ada segumpal awan mendung yang siap menumpahkan isinya. Nafasku mendengus tak beraturan. Aku rasakan pasang-surut darah yang ingin naik ke kepala. Aku banting kulkas dan tivi di depan istri. Ia histeris dan menangis. Tetangga datang tanpa mesti diundang. Mereka menganggap aku gila. Rambutku dijambak, kaki dan tangan diikat dan dibiarkan tergeletak. Istriku tak henti menangis, hatinya teriris.
“ kembalikan uangnya !!! itu bukan uang kita Ma !.
“ Ini uang tabungan Mama, Pa ! “

Rabu, 07 Maret 2012

Cerpen Sosial - (Aku Anak)

(AKU ANAK)
Cerpen Maulina Sagita

Satu malam dengan Long Allen memaksaku berteriak pada pasir, “Hentikan semua kenangan! Aku membencinya, seperti halnya kemarahan yang mengingkariku!”. Waktu ini kembali lagi, tanpa bisik dan tanpa wangi tanah basah sehabis hujan. Setenggak Stout, setenggak Cassberg ditambah sebotol Martil mungkin akan benar-benar membantuku membuang nyawa.

Batu apung putih tiba-tiba berserak dalam kepala, pening.
“Lakukan sesuatu, Rikar! Nyawamu harus diselamatkan. Anakmu, Yayang menunggu di rumah. Dia sakit, dia sedang sakit....”. Dengan penatku yang sekarang, aku akan bersedia hidup di Najaf, sebuah kota suci bagi kelompok syiah –yang paling merasakan kerasnya tekanan rezim Saddam–, setiap hari tanpa ragu bersedia menunggu mati. Ternyata benar, menjadi manusia itu lelah.

Padi-padi di taman belakang yang tambah hari tambah merunduk saling menudingkan jari dan aku menciumnya, mencium kerinduan itu. Tubuhku ringan bagai lajeungan. Pasir putih ini seperti uap air yang tinggal setitik-setitik di bulir-bulir padi. “Hei, kereta api tua yang lelah. Kau kah yang membuat padi-padi berpesta di pantai?”. Kenapa malam tidak membuat logikaku lebih otoriter, jawaban bintang untukku hanya sebuah senyuman zonder kata.
 “Apa maunya langit, musik yang merubung kafe-kafe itu kenapa bisa sampai kemari?. Lelap, lelaplah buih. Tak perlu air laut memaksamu berjaga, membasahi pantai. Hari ini aku mabuk. Mari, angin! Ayo, nyiur! Mati bersamaku!!!”.
Lelah, kosong.
**

“Rikar, pulanglah, anakmu sakit. Dia kurus, pucat dan sedih. Fotomu selalu dilihatnya setiap hari. Yayang kangen kamu, pulanglah dulu!”
“Tak bisa, Ma. Rikar banyak pekerjaan di sini. Kalau tidak kerja sehari, tak akan aku dapat uang. Lagipula akek-akek dari Singapura banyak yang datang minggu-minggu ini. Kesempatan untuk menambah uang dengan menemani mereka. Ma, tolong jaga saja Yayang, bawa dia ke dokter! Nanti, aku kirimi uang lagi. Sudah ya, Ma. Peluk dan ciumkan Yayang buatku.”

Kumatikan N6110-ku. Hhhh, lagi-lagi kabar buruk dari rumah. Entah, kapan kelana-kelana nyata yang kelam ini selesai. Rasanya, aku butuh segelas Strobe.
“Rikar! Apa yang kau perbuat?! Hentikan! Jangan minum lagi, kau ingin mati?!”
“Ha...ya, aku ingin mati. Andai mati itu bukan sebuah tanggung jawab, aku ingin mati sekarang juga!”
“Rikar, kalau Om A Hong sampai tahu kau mabuk, bisa dipecat kau! Kemarin mabuk, sekarang mabuk lagi. Hentikan, Rikar!”
“Hei....Hei....., kembalikan gelas itu, isinya terlalu mahal untuk dibuang ke lantai!”
“Lalu, mengapa duitmu kau habiskan bersama alkohol busuk ini? Seharusnya uangmu kau berikan keluargamu!”
“Keluarga? Keluarga yang mana? Anakku, Yayang yang sakit-sakitan itu, atau mamaku yang punya hutang ratusan juta dan dicari-cari orang itu, atau papaku yang sudah jadi pengangguran karena malas dan menelantarkan empat orang anaknya begitu saja. Atau maksudmu, keluarga besar dari mama-papaku yang merasa sebagai priyayi-priyayi suci itu. Ha...ha....ha...., bisa saja kau, Mona.”
“Sudah, ayo kembali ke mess, kau terlalu banyak bicara!”
“Aaaah, tidak! Tidaaak, Mona. Biarkan aku sendiri, ini hidupku bukan hidupmu!”
“Rikar, aku tahu ini hidupmu tapi di hidupmu pun ada hidup orang lain. Anakmu Rikar, anakmu!”
“Anak, anaaakk! Kalian semua ribut tentang anak. Aku pun seorang anak, lalu perduli apa papa-mamaku pada anaknya ini? Dimana keperdulian mereka sekarang? Dimana?”
“Memang kau ini aneh, Rikar. Kau baby besar tapi punya baby kecil. Harusnya kau masih bersekolah dan tidak bekerja di sini melayani akek-akek!”
“Tak usah banyak kata! Heiii, kembalikan gelas itu! Heeii....!”
**

Meja dengan meja memang tidak pernah saling bercakap, kehendak remang yang menjadi cenayang mereka tersipu. Dan, kemudian seolah menit tak bergegas. Kaki-kaki meja yang coklat kehitaman itu menjelma semut-semut yang berusaha melepaskan diri dengan berlompatan satu persatu, merobohkan  ulir-ulir urat kayu yang terdiri dari ribuan semut-semut hitam yang terus menggemakan diri untuk berkata: “Lepaskan aku ! Bebaskan aku !”.
Kini meja itu tak bisa lagi berdiri karena keempat kakinya telah habis. Keempat kaki meja yang bernyawa itu sekarang telah menuju kebebasannya, kebebasan yang tidak henti pula memukul-mukul gendang nuraniku dan  semakin mengiang di labirin telinga terus berpusar menyakiti otak tanpa belas kasihan. Bayang-bayang hitam tercipta kemudian  membunuh seekor kunang-kunang dengan bengis, kunang-kunang itu terkubur hidup-hidup, mati di hadapan otakku sendiri.

Lagi, lelah.
“Kak....., Kakak. Kakak melamun? Tolong beri saya sedikit uang, Kak! Saya belum makan dua hari.”

Asing, kosong, enggan namun kutoleh juga suara itu.”Taher...?”. Ya, anak ini mirip Taher, adikku yang masih SMP. Sesenyap aroma kota kelahiranku  melintas cepat, berikutnya hilang.
“Apa? Apa, dik? Kau minta apa?”
“Uang, Kak. Beri aku sedikit uang untuk makan.”
“Kau belum makan?”!
“Belum, Kak.”
“Tunggulah, sebentar. Pak Wi, mi rebus dengan telor satu ya ?”

Terdengar sahutan mengiyakan dari jauh.
“Duduklah sini dulu, dik!”
“Ya, Kak.”
“Kau tidak sekolah? Dimana bapak-ibumu? Kau punya rumah?”
“Saya memang tidak sekolah, Kak. Tak ada biaya, buat makan saja carinya susah apalagi untuk sekolah! Saya tak pernah punya bapak. Ibu tidur, istirahat untuk kerja nanti malam. Kami biasa tidur di bawah jembatan pertigaan sana itu, Kak.”

Penatku suram. “Aku merasa, akulah yang paling menderita tapi ternyata......, Hhhhh!.”
“Kak, Kak mi rebusnya kumakan ya?”
“Oh, iya, ya. Makanlah, kenyangkan perutmu!”

Mengapa hidup tidak juga meng-iya-kan kami, “Aku anak, dia anak, mereka yang itu juga anak...”. Lusa kemarin, daun ialah daun. Sejam yang lalu, daun itu mengalir menyapa setiap batu dengan sunyi. Saat ini, daun yang sama masih juga dengan sunyi, menguap larut dipeluk udara. Adalah daun itu kami....
“Kakak, aku sudah selesai makan. Terima kasih, Kak. Aku pergi dulu!”
“Hei, hei, nanti dulu! Bawa mi rebus mentah ini, masaklah di rumahmu bila kau lapar lagi dan uang ini, jangan berikan pada preman, simpanlah sendiri! Hati-hati!”
“Waaaah, terima kasih, Kak. Terima kasih...”

Sekecup hangat tertinggal di punggung tanganku. “Dia benar-benar persis Taher, yang selalu mencium tanganku tiap berpamitan pergi sekolah”.  “Taher, Shala, Odi–adik-adikku. Apakah kalian juga sudah makan?”.
Capekku mengancam mata, memintanya untuk tidur. Siang tenggelam dalam masing-masing selimut penghuni mess ini sampai nanti, saat malam berbisik membangunkan kami, para pramuria.
* *** *

Dari atas timbunan pasir ini, kembaraku......
Suara-suara bising pilar gedung yang berdentingan dengan deru asap kendaraan, tetap. Memuakkan. Lagi, ini amarahku, aku harus bermain-main dengan kubangan lumpur di bekas galian bangunan yang tak kunjung selesai. Dengan pasir-batu yang tak lagi ramah, yang tiga hari kemarin membuat mata temanku luka. Kadang bosan itu tak berguna, karena hanya berisi keluhan-keluhan yang membesarkan anak parasit bernama pasrah. Harapan pun menjadi seperti mata kanan dan kiri bunglon yang dapat bergerak-gerak sendiri. Resah.

Aku bukan kecewa dengan bertambahnya gedung-gedung tinggi yang bagus-bagus itu, yang mengusir rumah-rumah dan sawah-ladang kami, yang membuang tanah lapang tempat kami bermain bola, petak umpet, gobak sodor, patil lele, engkle dan loncat tali. Dimana purnama yang bulat penuh itu pun tersenyum sesekali, ketika kami– anak-anak tanah lapang memergoki pasangan-pasangan mesra di bawah pohon cemara yang banyak mengelilingi tanah lapang kami. Ahhh, lelah aku dengan mainan kubangan lumpur ini. Tapi selain kubangan lumpur ini aku tidak punya lagi mainan lainnya. Tidak juga mainan-mainan mahal di layar-layar tv atau komputer itu, entah apa namanya.

Kalau, aku tidak berteriak pada gedung-gedung tinggi itu, pada kubangan ini, pada kumpulan kumuh rumah kami yang semakin terpinggir dan sering banjir itu, pada suara sumbang kami yang lelah tertawa di antara asap-asap pabrik dan kendara. Lalu pada siapa aku harus berteriaaaak..........
“Kak Watu, Kak Watu dipanggil emak, disuruh  beli air bersih ke rumah  Pak Zulfi buat masak!”
“Kamu ini kalo nggak teriak-teriak, nggak enak ya? Dasar cucakrawa bayi, ribut banget!”
“Kak Watu! Cepat nanti emak marah!”
“Ya, ya, ribut!”
 **

b a t u  II
bayiku manis
yang berjenis-jenis
tunggu waktu teriris
tanpa meringis
di sana
bocah cowokku
memegang batu
pandangnya menuju
ke hutan milik sang waktu
bocah cewekku
bercita-cita lugu
untuk jadi ibu
sedang belajar memasak batu.

Lusa kemarin, kutemukan puisi itu di secarik kertas di timbunan sampah dekat gudang percetakan buku yang dijaga oleh bapakku. Tak jarang juga, bapak memberi aku buku-buku yang tidak utuh, yang cetakannya terbalik atau yang lusuh dan bau kutu. Meski begitu, tetap saja buku-buku itu kubaca daripada aku bermain dengan kubangan lumpur yang semakin keruh. Sampai-sampai oleh beberapa temanku, aku dibilang sok pintar, sok gaya. Anak tukang jual gorengan dan satpam saja kok sukanya baca buku. Setiap selesai membaca satu buku, biasanya aku langsung berlari ke jembatan pertigaan di ujung Jalan Soekarno-Hatta itu. Dan yang selalu terlihat di bawahnya, barigade petak-petak kardus kuyu tanpa sungging. Lantas, penatku menggemuruh. Luka.
* *** *

“Siang ini, giliran Partai Kelinci yang berkampanye dengan melakukan pawai di kawasan Panjaitan sampai Soekarno-Hatta. Menurut rencananya pawai akan  diakhiri dengan hiburan panggung musik dangdut koplo di bekas Lapangan Cemara, yang sekarang telah menjadi GOR. Cemarandana. Sekian, kilasan kawat kampanye. Disiarkan langsung oleh Radio Republik-republikan dari lokasi pawai.”

Ada gerah yang lewat mengilhami beku. Mess ini terasa begitu pekat dan membuatku ingin menjerit. Lariku hendak bersuara, “Kami –anak– ingin mendongengimu tentang cerita malaikat suci yang tidak berwarna-warni. Tolonglah dengar kami?!!”. Kemasi nyawamu dengan hendak ini, kemudian bergegaslah!.
“Rikar....., Rikar! Tunggu! Kau hendak pergi kemana? Siang hari tak boleh keluar dari mess, kau benar-benar bisa dipecat Om A Hong nanti! Tunggu, Rikar!”
“Biar Mona, aku harus lari, lari, berlariii...! Aku ingin Bapak-Ibu  Partai itu tahu, bahwa aku-kami– para anak adalah rakyat, R-A-K-Y-A-T!!!!!”
“Rikaaaaaarrr.....!!!”
* *** *

Satu buku lagi selesai kubaca hari ini, jembatan pertigaan Soekarno-Hatta menungguku. Memang, aku tak akan dapat memetaki langit apalagi menyembunyikannya untuk diriku sendiri. Tapi, tetap aku harus lari, lari, berlariii...! Untuk meneriaki kekuasaan-kekuasaan yang makin pandai berdongeng itu,  bahwa aku-kami– para anak adalah rakyat,  R-A-K-Y-A-T!!!!!”.
Gempita suara kosong lambang-lambang Partai Kelinci menguapkan sementara barigade petak-petak kardus kuyu di bawah pertigaan jembatan. Dan penat yang luka tetap berteriak, meminta. “Tolong, dengarkan kami!!!”.

Aku yang datang tergesa, seolah telah bersiap mereinkarnasi leksikal-leksikal menjadi batu. Tidak dengan seru, tidak, tidak! Belum sempat dengan seru, luka...ku sudah, re....sah!
* *** *

“Selamat sore, kilasan kawat kampanye sore ini memberitakan bahwa dalam kampanye Partai Kelinci tadi siang telah jatuh dua orang korban. Korban pertama adalah seorang perempuan, 17 tahun, dengan Kartu Identitas Penduduk bernama Rikar Wanimardika yang dalam kampanye di GOR Cemarandana berusaha untuk menaiki panggung secara paksa, yang langsung diamankan Satgas Partai Kelinci. Malangnya, perempuan ini tergelincir ketika dipaksa turun oleh Satgas, kepalanya terantuk besi pengaman panggung dan langsung meninggal dunia. Sedangkan korban kedua adalah anak laki-laki diperkirakan berumur 15 tahun, yang sedang melepas bendera-bendera dan poster-poster Partai Kelinci  di pertigaan jembatan Soekarno-Hatta yang ternyata telah menutupi pemandangan kumuh petak-petak rumah kardus di bawah jembatan. Dan kemudian memicu amarah salah seorang aktivis Partai Kelinci yang sedang berpawai, yang lalu memukuli si anak laki-laki dengan tonggak bambu bendera sampai babak belur. Anak itu sempat dilarikan ke rumah sakit, tetapi setelah tiba di rumah sakit, korban meninggal dunia. Satu-satunya identitas si anak adalah secarik kertas berisi puisi yang terselip di saku celana pendeknya dengan judul ‘batu II’. Sekian, berita akhir kilasan kawat kampanye. Disiarkan langsung oleh radio Republik-republikan dari lokasi kejadian. Selamat petang.”
Surabaya, 28 Maret 2004

Keterangan:
Akek-akek = orang tua-orang tua yang kaya tapi kesepian
Zonder = tanpa
Lajeungan = layangan (bahasa Madura)
Long Allen, Stout, Cassberg, Martil, Strobe = semuanya adalah nama-nama atau jenis-jenis minuman keras yang mengandung alkohol
Gobak Sodor = permainan anak-anak di Jawa, yang dimainkan di tanah lapang dengan cara berusaha menerobos masuk kotak-kotak yang digambar di atas tanah, yang masing-masing kotak dijaga oleh satu orang
Patil Lele = permainan anak-anak di Jawa, biasanya dimainkan oleh anak laki-laki, permainannya menggunakan tongkat kayu sepanjang lengan tangan dan sepotong kayu pendek sebagai sasaran untuk dilempar dari lubang yang dibuat di atas tanah
Engkle = permainan anak-anak di Jawa yang biasa dimainkan oleh anak-anak perempuan dengan cara melompati bidang-bidang garis yang dibuat di atas tanah lapang, sembari menggeser sebuah kereweng (pecahan batu/genting rumah)