Tampilkan postingan dengan label Cerpen Uncategories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Uncategories. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Agustus 2012

Just Another Story of Me

JUST ANOTHER STORY OF ME
Karya Syahrul Adrian
 
“Jangan, beli komik,,,, komik itu barang yang tidak berguna !” Itu lah, kalimat yang sering ku dengar dari perkataan Orang tua kepada anaknya. Orang tua ku pun demikian, entah mengapa mereka langsung menilai tanpa tahu isi komik tersebut. Aku, memang suka baca komik tapi aku membaca komik yang menurut ku jalan ceritannya menarik untuk diikuti, dan ada pelajaran yang dapat diambil dan diikuti. Yah, aku tertarik dengan komik ‘TOPENG KACA’ karangan Suzue Miuchi. Komik, itu menceritakan mengenai Rasa cinta seorang gadis bernama maya kitajima terhadap dunia drama, dan ia bercita-cita untuk memerankan sebuah karya drama terkenal yaitu ‘Bidadari Merah’. Namun untuk mewujudkan itu semua tidaklah mudah kareana ia harus melalui latihan yang keras dari guru-nya yaitu Chigusa Tsukikage. 
 
Dan harus berhadapan dengan saingan beratnya yaitu Ayumi Himekawa. Yah, aku tau mungkin hanya cerita komik, namun menurutku Konflik yang ada pada komik itu seperti yang ada pada di dunia nyata. Dalam komik ‘TOPENG KACA’ tidaklah mudah untuk mendapatkan peran ‘BIDADARI MERAH’ sang tokoh harus Memperbanyak peranan dan karakter dalam berbagai drama yang ia main-kan. Begitu pun di dunia nyata, apabila kita meng-ingin-kan sesuatu untuk mendapatkannya kita harus berusaha dahulu. Itu-lah sebagian kecil yang ku maksud ada pelajaran yang dapat ku ambil dari komik ‘TOPENG KACA’ Karya Suzue Miuchi yang satu ini. Awalnya, aku tahu komik ini pun ketika aku meminjam dari saudara ku. Saat itu, aku tidak tetarik. Tidak ada sampul-nya, gambar cover-nya tidak bagus. 
 
Namun, ku coba membaca-nya menurutku jalan ceritannya menarik untuk diikuti. Yah, saat itu yang kubaca ialah edisi serial yang lama. Jadi, sulit untuk di cari namun dalam hati ku berharap bahwa komik karangan Suzue Miuchi ini di cetak ulang dan benar saja ada salah satu Perusahaan penerbit yang menerbitkan ulang Komik ‘TOPENG KACA’ dalam edisi deluxe. Begitu aku melihatnya ada di rak Toko Buku aku langsung membeli-nya, dan di sini-lah aku menyadari adannya manfaat dari komik ‘TOPENG KACA’ karya Suzue Miuchi yang ku beli.
‘Untuk, Apa sih kamu beli komik ?’ Tanya ayah ku, ‘untuk di baca-lah yah’ jawabku. ‘Terus, apa manfaatnya kamu baca komik ?’ Tanya ayahku. ‘ya, buat hiburan lah’ jawabku sambil memperhatikan komik yang kubaca. ‘Hanya itu ?’ Tanya ayahku yang berdiri di depanku. ‘sama, buat mengisi luang waktu yah !’ jawab ku sesuka hati ku. ‘Kamu, itu daripada baca komik,,,, mendingan baca buku pelajaran mu,, loh. Kan, enak,,, ada ilmu yang di dapat !’ kata ayah ku sambil berlalu, namun ku tak mengiraukan perkataan ayah, aku tetap saja membaca komik ‘TOPENG KACA’ karya Suzue Miuchi yang satu ini. Yah, untuk hiburan dan mengisi luang waktu bukak kah itu sudah merupakan salah satu manfaat adannya komik ?!.
Pada, awalnya aku memang beipikir begitu. Namun, selama aku terus ‘mengikuti’ Komik “TOPENG KACA” karya Suzue Miuchi yang satu ini. Walaupun, tak banyak, namun ku menemukan manfaat lain dari komik ini.

BAB 1
PENGHUBUNG
Yah, sebenarnya keluarga ku. Adalah, termasuk keluarga yang jarang berkomunikasi. Ayahku, adalah seorang pegawai Negeri sipil. Ibu ku, adalah seorang karyawan di salah satu perusahaan. Sedangkan, aku sendiri adalah salah satu mahasiswa di salah satu universitas swasta. Dan, adik perempuan ku salah satu Mahasiswi di salah satu universitas negeri. Karena, kami punya ke sibuk-an masing-masing itu-lah sehingga kami jarang berkomunikasi. Ketika, hari libur pun kami punya kegiatan masing-masing. Ayah ku, lebih suka Men-service motornya terkadang besantai-santai saja di rumah, Ibu ku Membersihkan rumah terkadang pergi dengan Para ibu Komplek perumahan. Kalau. Adik perempuan ku pergi dengan teman-temannya. Sedangkan, aku di rumah sambil membaca komik ‘TOPENG KACA’. 
 
Namun, dimana pada suatu hari libur. Saat, itu adik perempuan ku sedang tidak ada kegiatan bersama temannya. Dia, bertannya padaku ‘lagi baca komik apa mas ?’, “Komik topeng kaca dek” sahut ku, ‘Oh,,,,,, itu kan, komik buat cewek mas ?!’, ‘iya, dek,,, hehehe,,,,,,,’ kataku sambil nyengir, ‘Kok, loe baca sih mas,,,,, emangnya bagus apa mas ?’, ‘bagus, dek,,,, jalan ceritannya menarik diikuti dek !’ jawab ku, ‘Emangnya, ceritannya tentang apa sih mas ?’, ‘Udah,,,, loe baca aja dek,,,,, tuh yang nomor 1-nya dek !’ kata ku sambil menunjuk rak buku. Adik perempuan ku pun segera menuju ke rak buku dan mengambil komik nomor 1, lalu ia pun membaca komik karya suzue miuchi itu.

Setelah selesai membaca komik karya Suzue miuchi, Adikku berkata “BAGUS,,,,, mas, tumben loe pintar milih komik,,,,,, lanjutannya mana mas ?”, kata adik perempuan ku. ‘Tuh, no.2-nya,,,,’’ kata ku. Adik ku memuji ku, jujur dalam hati ku senang sekali. Walaupun, hanya dipuji seperti itu. Biasannya ia tak pernah memuji ku. Kalau, ada barang ku pilihkan biasannya ia selalu berkata ‘Ah,,,, pilihan loe mah,,,, payah-payah semua mas,,,,,’ tapi, kali ini ia memuji ku. Semenjak itu ia pun suka baca komik ‘TOPENG KACA’.

Suatu hari, ketika baru pulang dari kuliah. Ku lihat adik perempuan ku sedang membaca komik karya suzue Miuchi itu. Namun, tiba-tiba adik ku memanggilku ‘Mas,sini,,,,’ katannya,’apa,,,,’ sahutku sambil menghampiri adik ku, ‘Ceritannya bagus deh mas,,,,,,, disini Si Maya (nama tokoh utama di komik) masa acting-nya keren,,,,, deh mas,,,,,,,,”, katannya sambil menunjukkan komiknya yang ia pegang, kepada ku. ‘Emang, keren,,,,’ kata ku sambil senyum. Semenjak itu bila adik perempuan ku bertemu dengan ku ia pasti menceritakan isi komiknya, ‘’Si maya,,, tadi main drama ini-lah,,,, si maya,,,, tadi acting ini-lah,,,,, si maya tadi latihan ini- lah,,,,,,,,’’. Walaupun, terlihat bawel tapi aku senang. Aku, tidak menyangka adik perempuan ku se-Excited itu dengan komik pilihan ku.

Terkadang, bila malam hari. Selesai, makan malam. Kami, membaca komik bersama-sama. Adik ku perempuan ku bila baca selalu di samping ku. Bila, ada bagian cerita yang lucu adikku pasti menunjukannya pada ku. Lalu, kami tertawa bersama. Namun, suatu malam. Ketika, adu dan adik perempuan ku sedang tertawa Karena ada jalan cerita yang lucu. Tiba-tiba, Ayah ku berkata ‘ kalian ini sebaga mahasiswa bukannya baca yang menambah wawasan kalian,,,, malah baca komiik kaya anak SD,,,,,’, ‘ini, bagus tau yah,,,, jalan ceritannya’ celah adikku. ‘ apannya yang bagus,,,,,, ceritannya khayalan begitu’,’sana, kamu belajar,,,,, malah ikut baca komik,,,, nanti IPK mu turun,,,,,’ kata ayah ku pada adik perempuan ku. Setelah, mendengar ayah ku berkata seperti adik ku. Adik parempuanku lagsung menutup komiknya dan pergi ke kamar nya, ‘Kamu,,, juga sebagai kakak bukan menyuruh adiknya belajar juga,,,, nanti lama-lama komiknya ayah bakar juga !’ kata ayauh ku dengan nada tinggi, ‘JANGAN !’ kata ku balas memnbentak, ‘JANGAN,,,, apannya Ah,,,, ?!” kata ayahku sambil memandangi ku dengan pupilnya yang membesar. Aku, hanya bisa menunduk tidak berani menatapnya. Tapi, jujur saja di dalam hati aku merasa jengkel, kecewa dan marah. Mengapa, ayah ku tak bisa melihat Kedekatan adik perempuanku sekarang. Sekarang kami sering berbicara, walaupun yang kami bicarakan mengenai komik. ‘Bukan kah, karena komik aku dengan adikku dapat terhubung kembali’ Pikirku. Yah, menjadi penghubung bukan kah itu hal yang bermanfaat ?!,,,,

BAB 2
KEINGINAN

Bagaimana, apa yang kita inginkan dapat tercapai tentu-nya merasa bahagia kan ?!. Yah, aku pernah merasa kan hal yang seperti itu. Hal, ini aku rasa kan. Ketika, aku ingin sekali memiliki nomor lanjutan serial dari komik ‘TOPENG KACA’. Karena, waktu itu harga komiknya naik. Pada, awalnya harga-nya Rp24.000, kemudian naik menjadi Rp 28.000. dan, sekarang pun harga-nya berubah menjadi Rp 30.000. ‘Ya, ampun sekarang harga-nya naik lagi’, kata ku dalam hati sambil menaruh komik karya suzue miuchi ke tempatnya. ‘eh, loe gak jadi beli komiknya ?’ Tanya teman ku yang satu kampus. ‘gak,,,, ah, habisnya mahal’ kata ku, ‘ Terus,,, kemana nih, masa kita ke mall,,,,, cuman ke toko buku aja ?’ Tanya teman ku. Akhir nya, kami memutus kan makan siang di food court. “gak,,, mesan makanan loe ?” Tanya temen ku, ‘gak, ah,,, gue minum aja’ kataku. Aku, memang sengaja tidak pesen makanan karena aku ingin menyisih kan uang jajan untuk membeli komik karya suzue miuchi itu.

Pada, hari minngu aku di suruh sama ibu ku untuk membeli telur. Aku, di beri uang sama ibu ku sebesar Rp 20.000. sebenarnya harga telur se-kilo-nya harga nya RP 10.000. namun, ku kembali kan pada ibu ku Rp 5.000. yah, aku berbohong pada ibu ku. Aku, telah menyimpan Rp 5.000-nya lagi untuk ku.’emangnya, harga telur sekarang se-kilo-nya RP 15.000 yah nak ?’ Tanya ibu ku, iya,,,, ma sekarang harga nya naik’ kata ku berbohong. ‘oh, nih,,,, nak, Rp 5.000 buat kamu saja,,,, buat upah’ kata ibu ku. ‘Asyik,,,,, makasih yah ma,,,,,’ kata ku, ‘ma,,,,, maafin,,,,, maafin aku yah,,,, udah bohong sama mama,,,,, habisnya aku ingin menyisih kan uang buat beli komik ma,,,,’. Penyesalan ku dalam hati. Setelah itu, aku berusaha untuk tidak mengguna kan cara itu lagi.

Aku mulai berusaha, seperti : untuk berangkat ke kampus, aku usaha kan naik angkutan umum dan tidak naik ojek. Aku pun tidak jajan namun bawa bekal dari rumah. Setiap hari, ku laku kan hal itu. Jujur, aku merasa heran kenapa aku bisa melakukan hal itu. Biasannya, aku tidak pernah se-giat ini untuk mendapatkan se-suatu. Entah-lah,,,,, saat itu aku ingin sekali memiliki komik ‘TOPENG KACA’ karya Suzue miuchi.

Akhirnya, nomor lanjutan dari komik ‘TOPENG KACA’ ku miliki juga. Saat itu. Rasa nya ingin sekali teriak ‘AKHIRNYA GUE BISA DAPAT KOMIK YANG GUE INGIN-IN, DAN GUE PAKAI USAHA UNTUK MENDAPAT KAN-NYA’ ke semua orang. Yah, aku tahu mungkin ini berlebihan, tapi, jujur pada saat itu aku merasa senang sekaligus kecewa. Soalnya, begitu meng-ingat kejadian untuk mendapatkan komik. Aku, jadi ter-ingat ke-bohongan yang ku laku kan pada ibu ku. Bukan, aku sok baik atau pun sok suci namun entah mengapa begitu meng-inagat kejadian itu rasa kecewa ku timbul.’ Sekali lagi maafin aku yah mama,,,,,,,, soalnya, aku meng-inginkan komik ini ma,,,,, dan aku sekarang mendapatkannya ma,,,,,,,,’ kata ku dalam hati. ‘iya,,,,,,, aku sangat meng-ingin-kan komik’ kata ku me-yakin-kan diri sendiri.

BAB 3
BAHAN PRESENTASI
Di suatu mata perkuliahaan, mendapat kan tugas berkelompok. Tugasnya, yatu me-resensi film dan di cocok-an dengan teori yang sesuai. Saat, itu aku dan teman kelompok ku bingung untuk menentu kan film apa yang bagus buat tugas ini. Sedangkan, kelompok yang lain ada yang menggunakan film ‘BLACK SWAN’, ‘THE SOLOIST’, ‘THE ORPHAN’ dan lain-lain. ‘woy,,,,, gimana nih film apa ya ?’ kata teman se-kelompok ku, ‘loe,,, ad aide gak ?’ kata teman se-kelompok ku yang lainnya. ‘gak,,,,,, yaudah lah nanti aja di-pikir-in toh ada waktu seminggu lagi toh,,,,’ kata ku. Empat hari, kemudian. ‘eh,,,, udah dapat belum filmnya, Filmnya apa ?’ begitulah SMS dari teman se-kelompok ku. Ketika, selesai baca SMS dari teman se-kelompok ku. Aku, langsung membuka laptop ku dan men-searching di google. Namun, entah mengapa aku tidak tertarik pada judul filn yang tertera pada google. ‘duh,,,,,, film apa ya,,,,, yang bagus buat tugas kelompok ini ?’ Tanya ku pada diri sendiri dalam hati. 
 
Lalu, tiba-tiba aku jadi ingat pada komik karya suzue miuchi itu.’oh, iya’ kata ku ter-ingat sesuatu. Aku, ingat bahwa dalam komik ‘TOPENG KACA’ versi deluxe pada no.6 jalan cerita-nya mengenai, maya (Tokoh dalam komik) me-mainkan sebuah main drama yang berjudul ‘THE MIRACLE WORKER’ bercerita mengenai Anne Sullivan guru-nya Hellen keller. Yang mengajari hellen keller untuk mengenal lingkungan sekitar-nya. Dan, ketika itu aku mulai tertarik dan mencoba men-cari video-nya di youtube. Dan, ternyata ada. Film ‘THE MIRACLE WORKER’ ternyata pernah dimain kan ole Patty duke sebagai Hellen keller dan Anne Bancroft sebaga guru-nya Hellen keller yaitu Anne Sullivan. Di sini, saya jadi berpikir bahwa bahan cerita untuk komik tenyata tidak hanya mengenai imajinasi saja. 
 
Namun, apa yang ada dalam di kehidupan nyata juga bisa jadi bahan cerita untuk komik. Ke esok-kan hari-nya ku sms semua teman se-kelompok ku bahwa bahan untuk tugas ialah film ‘THE MIRACLE WORKER’, ku download dim tersebut walaupun hanya satu scene. Namun, scene itu ter-kenal yaitu ‘BREAKFAST SCENE’. Pada, scene itu mencerita kan Hellen keller di ajari cara makan oleh anne Sullivan di waktu sarapan. Tapi, bukan terlihat sdeperti di ajarin namun terlihat seperti berkelahi. Setelah ku download film-nya, aku bersama teman kelompok ku men-cocok- kan dengan teori-nya.

Di hari presentasi tugas kelompok. Kelompok ku ke bagian presentasi setelah dua se-kelompok sebelumnya. Dua kelompok, sebelum kelompok ku membahas film ‘BLACK SWAN’ dan ‘THE SOLOIST’ sangat bagus sekali, cara mereka ber-presentasi. Kini, giliran kelompok ku yang mempresentasi-kan bahan tugas kami. Pada, saat kelompok ku berprentasi tidak ada yang memperhati kan. Namun, saat ku memutar scene dari film ‘THE MIRACLE WORKER’ dari laptop ku. Semua-nya langsung memperhati kan, karena terpanah melihat acting Patty duke dan Anne Bancroft. Dan, saat kami selesai berpresentasi semua memberikan tepuk tangan. Dan, pada saat sesi membuka sesi pertanyaan, yah, bisa dibilang banyak yang bertanya menurut ku berarti saat kelompok kami berpresentasi banyak yang memperhati kan. Yang terakhir, satu ini yang membuat aku senang. Kelompok kami mendapat kan pujian karena film yang kami pilih sangat menarik.
Dapat pujian karena film yang di pilih sangat menarik. Bukan kah, hal itu aku dapat kan karena membaca komik karya Suzue miuchi yang bernama ‘TOPENG KACA’ iya, kan ?!. Mungkin, karena hal itu aku menjadi sangat senang pada komik ‘TOPENG KACA’ karya Suzue miuchi. Terkadang, sampai ku baca ber-ulang kali.

BAB 4
FUNGSI
‘Bbrrrrruuaaaaaaakkkkkkkkkk’ bunyi Koleksi komik ku di banting oleh ayah ku.’ Ini, komik di bakar saja !!!!’ kata, ayah ku marah. Ayah ku, marah karena kesal, waktu ku selalu di pakai untuk baca komik. ‘JANGAN YAH !” kata ku dengan nada tinggi. ‘biar, ayah bakar komik semuanya,,,, “ kata ayah ku sambil men-jinjing kantong kresek yang di dalamnya koleksi komik ‘TOPENG KACA’ ku. ‘MANA,,,, KOREKNYA,,,,,’ kata ayah ku. ‘SUDAH yah,,, jangan yah,,,,’ kata ibu ku menenangkan ayah ku. ‘BIARIN,,,,, BACA KOMIK GAK TAU ATURAN,,,,, MANA KOREKNYA,,,,,,,,’ kata ayah membentak. Aku, begitu melihat ayah ku menaruh kantong kresek yang berisi komik karya suzue miuchi itu, langsung ku rebut dan bermaksud untuk lari ke kamar. Namun, ayah ku berhasil meraih pergelangan ku dan berusaha merebut kembali kantong kresek yang berada di tangan ku. Tapi, aku tak mau melepaskannya sehingga terjadi tarik-menarik. ‘MULAI,,,,, BERANI KAMU YA SEKARANG!’ bentak ayah di hadapan ku. Akhirnya, aku tidak membalas tarikannya tapi aku juga tak mau melepas kan kantong kresek itu. “Ssssssssssssrrrrrrreeeettttttt,,,,,,,,,,,, Dduuuuuuaaaaaak,,,,,,,,,” Bunyi kantong kresek yang robek sehingga komik ‘TOPENG KACA’ karya Suzue miuchi itu keluar dan jatuh ke lantai. Melihat itu, aku langsung ku pungut, komik ‘TOPENG KACA’ karya Suzue Miuchi itu berserah kan di lantai. ‘NIH,,, KOMIK MU,,,,,,’ kata ayah ku sambil menjauh kan komik ku dengan telapak kaki-nya yang sebagian masih berserah kan di lantai. Namun, ku tetap memungut komik yang berada di dekat ku. Waktu, ku mengambil komik ku sekilas kutatap wajah adik perempuan ku dan ibu ku. Kulihat, mimik wajah mereka merasa heran dengan peri laku ku. Yang, karena lebih memilih komik. ‘TUH,,,,,, LIHAT AJA,,,,,, LEBIH MENTINGIN KOMIK,,,, JADI-NYA,,,,, GAK BISA APA-APA’ kata ayah ku dengan emosi yang meluap. Mendengar hal itu, ingin menangis rasa-nya.’GAK juga,,,,,’ kata ku yang berusaha menahan nangis. ‘AYAH,,,,, GAK TAU,,,,, AJA,,, SIH’ kata ku melanjutkan. ‘gak tau apa ah,,,, ?’ kata ayah ku dengan nada setengah tinggi. Mendengar, pertanyaan seperti itu, rasanya bagai kan bom yang siap meledak. ‘AH,,,, GAK TAU,, APA ?,,,,,, GAK BISA JAWAB KAN KAMU ?” bentah ayah ku, ‘ AYAH,,,,, GAK TAU KAN AKU BISA NGOBROL SAMA ADEK,,,,,,, AKU MAU MENYISIH KAN UANG JAJAN,,,,,,,, AKU DAPAT PUJIAN PADA SAAT PRESENTASI,,,,,, ITU,,,,, KARENA KOMIK INI YAH !’ Jawab ku dengan nada keras, akhirnya aku menangis. Tapi, ada perasaan lega dalam hati ku. Ayah ku, hanya memandang ku dengan mata yang sayu tampaknya sedikit mulai mengerti alasannya mengapa anak nya menyukai komik karya Suzue Miuchi itu. Namun, ayah ku tida berkata apa-apa ia hanya memandang ku sebentar dan membalik-an badannya berjalan menuju kamarnya. Ibu ku pun demikian memandang ku sebentar, lalu pergi mengikutu ayah ku. Mungkin, ibu ku ingiin menenang-kan ayah ku. Sedang kan, adik perempuan ku. Ia, menghampiri ku yang sedang meng-hapus air mata ku. Lalu, adik perempuan ku mencoba menenang-kan diri ku dengan cara memegang bahu- ku dan berkata ‘ Loe, suka banget,,,, yah ama komik ini ?!’, lalu, ku jawab ‘IYA dek,,,,, GUE,,, suka banget dek !’ sambil me- megang erat komik yang ber- ada di tangan ku.

Aku akhirnya, mengerti terkadang orang-orang tidak mengerti suatu manfaat benda kerena mereka tidak tahu manfaatnya. Namun, untuk orang-orang yang pernah merasa kan manfaat suatu benda jadi mereka tau manfaat benda tersebut untuk diri-nya sendiri. Aku, jadi ingat, salah satu dialog yang di ucapkan oleh Tsukikage (salah satu tokoh komik) pada saat ia berperan menjadi ‘BIDADARI MERAH’. Begini-lah, dialognya : “ Semua yang ada di dunia ini diciptakan berpasangan. Walau pun, tampak saling berlawanan tapi sebetulnya merupa kan ujung dan ujung sebuah tongkat. Ujung yang saling bertaut”.
Itu-lah salah satu dialog yang aku sukai dari komik ‘TOPENG KACA’ karya Suzue Miuchi. Dari, kalimat dialog itu-lah aku berpikir. Sesuatu menjadi tidak berguna karena adannya barang yang berguna. Itu-kah yang dimaksud ?! Aku, juga tidak tahu mengapa aku jadi memikir kan dialog di komik ini.
Entah lah ! Yang, aku tahu saat ini ada lah. Yah. Aku suka sekali membaca komik ‘TOPENG KACA’ karya Suzue Miuchi ini !>

Senin, 16 Juli 2012

Cerpen Action Fantasy - The Last Escape

THE SIGNS OF THE DREAMS #7 : THE LAST ESCAPE
Karya Avans Cross Lines

Perang telah dimulai. Manusia mulai mengangkat senjata mereka masing-masing, membunuh siapa saja orang yang menghalangi setiap keinginannya.
Java Island, pulau yang seharusnya indah, damai, kini menjadi sebuah medan pertempuran yang sangat mengerikan. Kejadian puluhan tahun lalu terulang lagi, Jepang dan Belanda menjajah pulau ini. Mereka membunuh ribuan warga yang tak bersalah, menahan kami, anak-anak untuk dijadikan budak mereka.
Semua berawal di tahun itu. Tahun dimana mesin-mesin berserakan di jalanan, mengotori tempat ini dengan besi-besi berkarat yang mereka gunakan untuk mengancurkan pulau ini.

Kejadiannya sangatlah cepat. Sebuah bola berukuran raksasa jatuh dari angkasa dan meluluhlantakkan bumi ini dengan ledakkannya. Ribuan nyawa melayang karenanya. Sementara yang selamat hanya bisa bertanya. Ada apa ini? Apa yang sedang terjadi? Kami hanya bisa bertanya tanpa tahu apa jawabannya. Namun, kami sadar ini bukanlah bencana. Perang... baru saja dimulai.

Beberapa jam setelah bom itu meledak, para tentara Jepang dan Belanda mendaratkan kapal mereka dan mulai membunuh satu persatu orang-orang yang menghalangi mereka.
Teman-teman kami, saudara-saudara kami, dan keluarga kami dibunuh oleh mereka. Kami yang selamat hanya bisa sembunyi di hutan, di gorong-gorong, di bawah tanah, ataupun di goa.

Saat itu terjadi kami sembunyi di gorong-gorong di bawah jalan raya. Aku, ibuku, teman-temanku, para orang tua dan puluhan anak-anak lain mencoba lari dari kejaran mereka. Mungkin saat ini hanya kami yang selamat. Mereka semua telah membunuh dan menahan orang-orang yang tak bersalah itu.
Di tempat ini, kami hanya bisa menunggu para penjajah itu pergi ataupun menunggu bantuan datang. Namun sudah lebih dari 3 hari dan tidak ada yang menyelamatkan kami. Kami terperangkap disini. Di tempat gelap ini. Dalam situasi seperti ini kami hanya punya dua pilihan. Yang pertama, tetap diam di tempat ini dan menunggu bantuan yang entah kapan datang. Mungkin saja mereka tidak akan pernah menolong ataupun menemukan kami dan kami akan mati kelaparan di tempat ini. Yang kedua, kami keluar dari tempat persembunyian ini dan menyerahkan diri kami pada musuh. Kalaupun tidak dibunuh, kami akan ditahan, dijadikan budak mereka.

Pilihan itu membuat kami sulit. Kami semua tidak berdaya, puluhan anak-anak menangis karena orang tua mereka telah mati sementara orang-orang tua sudah merasa putus asa. Hanya ibuku yang terus mencari cara agar kami semua selamat dari tempat ini.
Tiba-tiba seorang tentara menemukan kami, dari pakaian yang dikenakannya dia adalah tentara Indo dan berkata bahwa dia akan menyelamatkan kami. Dia mengangkut kami dengan sebuah truk dan membawa kami ke dermaga.

Awalnya kami semua besyukur, merasa lega karena tentara Indo ini akan menyelamatkan kami dan membawa kami ke tempat yang aman. Namun perkiraan kami salah. Setelah kami dinaikkan kekapal tempur angkatan laut, kami diberi senjata satu persatu. Mulai dari senjata tradisional sampai senjata mesin diberikan pada kami. Bahkan seorang gadis kecil berumur 5 tahun diberikan sebuah pistol oleh seorang tentara Indo tersebut.
“Kalian harus ikut perang melawan mereka, para penjajah!” kata mereka pada kami. Kami bukan hanya terkejut tapi juga tidak percaya apa yang telah dikatakan mereka pada kami.
“Dalam peperangan ini, tak ada lagi perbedaan usia! Semuanya sama dan kalian harus ikut berperang melawan mereka! Kita perjuangkan tanah ini. Tanah yang kita cintai ini.” kata seorang tentara.
“Ini tidak benar! Ada apa dengan kalian? Ada apa dengan pemerintahan negeri ini? Apa kau tidak lihat mereka masihlah anak-anak?!” bentak ibukku tapi wajahnya langsung dipukul oleh tentara tersebut. Aku hanya bisa diam tak bisa berbuat apa-apa untuk membenarkan sesuatu yang salah ini. Aku memeluk ibuku erat-erat.
“Baiklah, akan aku berikan pilihan pada kalian semua! Apa kalian ingin mati demi memperjuangkan negara kita, atau kalian ingin mati di tangan kami!” sahutnya.
Tak seorangpun menjawab. Semuanya bisu di senja itu. Kami semua, orang tua, anak-anak, laki-laki, dan perempuan semuanya berlatih menembak. Termasuk aku sendiri.
Kapal kami berangkat menuju sasaran pertempuran, setiap dermaga yang kami singgahi berdatangan orang-orang yang selamat seperti kami dan diperintah untuk berperang seperti kami. Saat ini, kami tidak punya pilihan yang terbaik untuk kami. Cepat atau lambat kami pasti akan mati di medan pertempuran yang tak seimbang ini.

Ketika aku sedang memandang matahari jingga itu seorang gadis mendekatiku. Namanya Aeris. Dia berbincang-bincang denganku, membicarakan ini dan itu seakan-akan hari kiamat akan segera tiba.
Sirine kapal tanda bahaya tiba-tiba berbunyi. Kapal angkatan laut milik Belanda mendekat dari arah jam 9. Kami terpaksa. Kami dipaksa mereka. Walaupun saat itu kami tak sanggup, takut namun kami tak bisa lari dari kenyataan ini. Sesungguhnya kamilah yang dijadikan budak oleh orang-orang yang seharusnya melindungi kami.

Meriam pertama membentur bagian depan kapal kami. Kami balas mereka dengan serangan beruntun senjata tercanggih yang kami punya. Tiba-tiba kapal kami dengan kapal mereka bertubrukan dan saat itulah perangpun dimulai. Kami berusaha menyelamatkan diri kami masing-masing yaitu dengan membunuh para musuh. Korban di kapal kami semakin banyak, mereka berjatuhan ke laut yang hitam.
Perang ini seperti pemberontakan antar bajak laut. Dengan masing-masing membawa sebilah senjata tajam kami berusaha memusnahkan mereka agar tidak menyerang kapal kami. Musuh yang terpedaya oleh kepolosan wajah anak-anak akhirnya mati.

Aku belum pernah membunuh manusia sebelumnya, bagaimana mungkin aku dapat melakukan ini? Anak-anak yang berusaha membunuh mereka semua ketakutan. Satu persatu orang tua maupun anak-anak menceburkan diri kelaut, berharap bisa lari dari pertempuran ini. Namun, apa yang terjadi? Mereka semua mati tenggelam di laut yang gelap itu.

Di titik ini aku hanya bisa diam. Melihat kekacauan yang semakin tak terkendali ini.
“Apa kita akan selamat?” tanya Aeris di sampingku.
“Kenapa jadi seperti ini?” tanya Erwin mengeluh. Dia adalah satu-satunya temanku yang selamat dari ledakkan itu.
“Dani!” teriak ibuku. Dia bersama seorang pria di sampingnya mendekati kami.
Tiba-tiba kapal kami dan kapal musuh berbenturan keras. Aeris yang berada di sampingku itu terjatuh kelaut. Aku tak sempat menggenggam erat lengannya. Dia pun tewas di laut itu.
Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya pertempuran ini dimenangkan oleh kami. Kapal musuh akhirnya tenggelam dengan membawa penumpang yang tersisa.
Sementara itu, kapal kami kini seperti tempat jagal. Darah dimana-mana. Kami membuang mayat-mayat yang memadati kapal kami itu ke lautan.
Di kapal ini tak banyak yang tersisa. Jumlah anak-anak yang selamat bisa aku hitung dengan jari sementara itu hampir semua tentara sudah tewas.
Kami yang selamat dikumpulkan di satu tempat dan diberi tugas masing-masing oleh seseorang yang aku rasa mengenalnya di televisi. Navigator, koki, asisten kapten, dokter, semua tugas-tugas berat itu dilimpahkan pada kami sampai kami menuju tempat persembunyian kami di kepulauan seribu.

Aku tak punya pilihan, tugas dokter itu dilimpahkan padaku bersama seorang pria dewasa yang aku lihat tadi bersama ibuku.
“Dani, kau harus bisa! Kita tidak punya pilihan. Bila kita menentang mereka, kita akan mati.” kata ibuku padaku. Jika seperti ini keadaannya apa bedanya dijajah oleh tentara Jepang dan Belanda itu.
Beberapa jam kemudian kami tiba di persembunyian. Aku sangat terkejut. Tak pernah aku tahu tempat ini. Pulau yang seperti penjara. Pantai yang mengelilinginya diberi pagar besi. Mungkin untuk keamanan, tapi ini berlebihan seakan-akan ini adalah pulau penjara.

Seorang tentara memerintahku, ibu dan pria itu turun dari kapal. Dia membawa kami ke sebuah tempat seperti penjara jauh di pedalaman pulau. Dia membawa kami ke sebuah tempat berbenteng beton di atas perbukitan. Tempat itu seperti penjara. Dan ternyata memang benar itu adalah penjara. Puluhan warga asing ditahan disana. Baik tentara Jepang dan Belanda yang menjajah sampai warga berperawakan asing yang sesungguhnya adalah warga Indo.

Tentara yang membawa kami itu memberikanku sebuah golok dan menyuruhku untuk membunuh salah satu dari mereka. Aku sangat shock mendengar hal itu. Aku hanya bisa diam tak bergerak melihat orang-orang yang ditahan itu. Seorang gadis di dalam sel itu berteriak-teriak pada kami meminta kami melepaskannya. Dia mengaku bukanlah warga jepang ataupun belanda. Dia adalah warga Indo asli walaupun wajah dan warna rambutnya menunjukkan dia adalah warga belanda. Namun, dia lancar berbicara Indo. Dia merengek meminta kami melepaskannya namun tentara itu menyeretnya keluar dari sel dan membawanya ke hadapanku.
“Bunuh dia!” perintah tentara Indo itu. Aku tidak bisa seperti ini. Aku bertanya-tanya ada apa dengan ini semua?
“Apa kau mau berkhianat pada negaramu sendiri?” tanya tentara itu membentakku.
“Tapi... dia bukan sekutu mereka. Dia warga kita yang seharusnya kita tolong,” kataku kasihan melihat gadis berambut pirang pendek itu. Seluruh wajahnya penuh luka.
“Cepat bunuh dia! Kalau tidak kau yang akan aku bunuh!” bentak tentara itu menodongkan senjata ke kepalaku.
“Dani turuti saja apa katanya. Ibu takut dia akan melukaimu,” kata ibuku pelan sambil mengucurkan air mata. Aku tidak kuat dengan semua tekanan ini. Sambil mengucurkan air mata aku memeluk gadis yang menangis itu.
“Ini semua salah! Lebih baik aku mati! Lebih baik kami mati karena pada akhirnya kamipun pasti akan dibunuh oleh kalian kan?” kataku kemudian memejamkan mataku sambil tetap memeluk gadis itu. Suara tangisan kami tak bisa kami tahan lagi. Hanya tinggal beberapa detik lagi kami akan mati.

Tiba-tiba terdengar suara hantaman besar dari benda tumpul. Saat aku membuka mataku tentara itu sudah tersungkur di lantai. Aku menengok kearah ibu dan si pria itu. Dialah yang memukul tentara itu.
“Sebaiknya kita segera pergi dari sini! Kabur dari tempat ini sebelum tentara lain melihat kita!” kata pria itu.

Ibuku memegang erat lenganku sementara aku memegang erat lengan gadis itu. Kami segera keluar dari tempat itu.
“Kalian cepatlah pergi dari sini! Kabur dari tempat ini,” kata ibu.
“Bagaimana dengan ibu?” tanyaku.
“Kami tidak akan lari. Bila kita semua kabur dari sini kita semua akan ditangkap dan dibunuh,” kata pria itu.
“Cepatlah kalian pergi dari sini!” kata ibuku. Aku memeluk ibuku itu untuk yang terakhir kali. Aku bersama gadis yang tak kukenal itu pergi dari sana. Kabur ke pedalaman hutan. Kami berusaha bertahan hidup di tempat yang tak kami kenal ini. Akankah ini semua berakhir? Akankah aku kembali bersama ibuku? Akankah semua hal yang salah ini akan menjadi benar? Aku terus bertanya-tanya dalam pelarian terakhir kami ini...

Inspirated by mydream. Sabtu, 20 Maret 2010

PROFIL PENULIS
Avans Cross Lines lahir di Bandung, 31 Maret 1992. Bagiku mimpi adalah inspirasi terbesarku. Mimpi adalah jembatan yang menghubungkan antara khayalan dan kenyataan dimana aku dapat dengan leluasa menyebrangi garis antara kedua dunia tersebut. Untuk sejenak ikutlah bersamaku dan lihatlah seberapa indah, seram, romantis, lucu, bahagia, maupun menegangkannya jembatan itu.

Minggu, 15 Juli 2012

Cerpen Sciene Fi - Tragedi Bintang Biru

THE SIGNS OF THE DREAMS #6 : MASSAL
Karya Avans Cross Lines
 
21 Februari 2058.
Aku silang tanggal dalam kalender kertas yang aku bawa. Sebuah diari yang sedang aku pegang ini adalah sebuah saksi hidup. Hari demi hari setiap peristiwa yang terjadi aku tulis dalam diariku ini.
Kami, sekelompok manusia yang berada di kapal ini adalah orang-orang yang selamat dari kematian. Kami terdampar jauh. Jauh dari peradaban manusia. Di tempat ini tidak ada apa-apa. Tidak ada daratan, tidak ada lautan, tidak ada matahari. Yang ada hanya langit hitam bercahayakan jutaan bintang nun jauh dari tempat kami terdampar.

Kami bukanlah penumpang kapal pesiar ataupun pesawat terbang yang hilang ketika memasuki kawasan segitiga bermuda. Kami lebih dari itu. Kami adalah keluarga Astronot. Keluarga Astronot yang mengalami kecelakaan saat kami hendak mendarat di Mars.

8 tahun lalu adalah waktu dimana kami melakukan perjalanan ini. Aku adalah anak berumur 15 tahun. Anak dari sepasang astronot. Ayah dan ibuku adalah astronot dan mereka bekerja di NASA.
Bagiku, ini adalah pengalaman yang sangat menakjubkan karena pemerintah menganjurkan membawa serta keluarga para Astronot yang akan diluncurkan ke Mars.

21 Februari 2050.
Tahun ini ada penjelajahan ke planet mars yang kesekian kalinya. Ayah, ibu, beserta 3 astronot lainnya akan membuat sebuah tempat disana yang dinamakan OX-House. Sebuah tempat berbentuk kubah dengan diameter 50 m itu akan dijadikan sebuah tempat peristirahatan terbaik. Tempat itu akan dijadikan rumah oksigen. Agar para astronot bisa bertahan hidup di Mars tanpa mengenakan pakaian khusus tersebut.
Untuk membangun tempat tersebut membutuhkan waktu sekitar 1 tahun. Keluargaku bersama 3 keluarga astronot lainnya bersiap lepas landas dari bumi pagi itu. Lost Heaven, adalah nama kapal ulang alik yang kami tumpangi. Kapal yang terlalu besar untuk dikendalikan segelintir orang saja.

21 Februari 2050. Pukul 03.00.
Kapal itu pun meluncur. Menembus lapisan langit yang masih hitam. Mesin yang sangat kuat membuat kami dengan cepat sampai ke Mars.
Awalnya kami pikir perjalanan ini akan baik-baik saja, hingga suatu ketika sebuah gelombang berwarna kemerahan menabrak kapal kami. Melemparkan kami jauh dari lintasan Mars yang seharusnya kami tuju. Gelombang itu mengacaukan seluruh sistem sehingga kami tidak bisa menghubungi bumi. Kami terlempar jauh hampir mendekati lintasan asteroid.
Ada hal aneh di tempat itu. Kami melihat sebuah daerah berwarna gelap di hadapan kami. Sebelum sempat kami menyadari benda langit apa itu kami sudah terhisap ke dalamnya. Kapal kami terhisap lubang hitam. Kami terputar-putar dan terhisap jauh ke dalam lubang itu. Namun anehnya kami selamat. Kami tidak dihancurkan oleh monster galaksi tersebut. Setelah selang beberapa lama kamipun terlempar keluar dari lubang itu.

Kami tidak tahu berada dimana. Koordinat kami tidak diketahui. Kami terlempar milyaran tahun cahaya dari bumi. Dan sepertinya kami berada di galaksi lain. Kepanikanpun mulai terjadi.
Akankah kami selamat? Bisakah kami pulang? Bagaimana jika kami terdampar selamanya di sebuah galaksi tanpa bintang ini.
Nebula berwarna jingga seperti kapas bergelumul entah berapa jarak dari kami. Yang dapat kami lihat di hadapan kami hanyalah sebuah bintang. Bintang yang memancarkan cahaya biru.
Berkali-kali, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, awak kapal mencoba menghubungi bumi dan memperbaiki sistem yang rusak. Namun kami sadar itu tidak ada gunanya. Kami sadar bahwa kami tidak akan dapat kembali ke bumi. Kami akan terdampar disini selamanya.

21 Februari 2051.
Aku silang tanggal itu dalam kalenderku. Kami sudah terdampar setahun di tempat ini. Di tempat yang akan menjadi kuburan kami kelak.
Kami semua sudah putus asa menghubungi bumi. Tepat di tanggal itu kami hentikan usaha untuk menghubungi bumi dan para astronot mulai beralih ke hal lain. Mereka mulai meneliti bintang biru itu.
Persedian makanan dan minuman yang kami bawa cukup banyak. Namun, tetap saja suatu saat akan habis dan kami akan mati kelaparan. Di dalam kapal ini kami hanya bisa menunggu ajal datang menjemput kami semua.

Tahun demi tahun telah berjalan. 21 Februari 2055. Itu menurut perhitunganku. Tapi sebenarnya aku sendiri tidak tahu tahun berapa sekarang karena segalanya telah berbeda. Mungkin, kalau sekarang kami berada di bumi. Tak akan ada yang tersisa lagi di kuburan kami.
Semua orang ketakutan, panik, putus asa, bahkan seorang istri salah satu astronot mencoba bunuh diri. Hampir setiap waktu, kami semua berdiri di depan tembok kaca tebal. Memandang bintang biru di hadapan kami.
Tiba-tiba, sesuatu terlihat dalam bintang biru melalui teropong luar angkasa kapal kami. Sesuatu berwarna hijau. Dan kamipun sadar bahwa itu bukanlah sebuah bintang. Melainkan sebuah planet bercahaya.
Sudah hampir setahun kami tak saling bicara. Persediaan makanan semakin menipis dan sebagian dari kami mengalami sebuah penyakit aneh. Entah apa namanya tapi aku menyebutnya Blue Mind Effect. Setengah dari kami mengalami penyakit itu. Mereka mulai kejang-kejang, berkeringat, dan sekarat saat kami semua melakukan rutinitas kami. Memandang bintang biru atau sekarang sebutannya adalah planet bintang biru
2 tahun berlalu. Kami sudah tak memiliki persediaan makanan lagi. Seorang gadis muda anak dari kapten kapal mulai kejang-kejang sebelum akhirnya meninggal.
Kelaparan mulai melanda seluruh awak kapal. Penelitian tentang planet yang kami sebut bintang biru atau Blue Star tersebut belum juga menemukan jawaban. Para astronot ragu untuk mendaratkan kapal ini di planet yang tidak diketahui tersebut.
Dari 16 awak yang tersisa hanya setengahnya saja yang sampai saat ini masih bertahan hidup. Aku, Ayah, Ibu, Kapten beserta istrinya, kakak beradik dan seorang astronot lain.
Sudah lebih dari satu minggu kami berusaha tetap hidup tanpa makanan. Yang kami semua harapkan saat ini bukanlah selamat. Karena kami sudah mengakui dan menyadari bahwa kami tidak akan selamat. Yang kami harapkan sekarang adalah pengampunan dari Tuhan.
Kami semua berkumpul di hadapan bintang biru. Saling menggenggam erat lengan kami, memejamkan mata kami, dan berdoa dengan sepenuh hati.

Silaunya cahaya planet itu sampai menembus kelopak mata kami. Perlahan kami membuka mata dan terkejut melihat apa yang terjadi dengan planet bintang biru tersebut. Daratan hijau tampak jelas terlihat oleh kami dengan mata telanjang. Daratan yang indah seperti surga yang hilang dari dunia ini.
“Mungkin masih ada harapan…” kata kapten pelan.
Tanpa berlama-lama lagi, dengan tenaga terakhir yang kami miliki. Kami jalankan kapal itu menuju Blue Star. Kami menerobos atmosfer yang tampak seperti lautan biru dengan bintik-bintik putih yang memancarkan cahaya. Dan tibalah kami disana. Kami mendarat di atas ladang rumput yang hijau yang di kelilingi oleh pegunungan indah dan hutan hujan.
Untuk pertama kalinya kami melihat tempat seindah ini. Kamipun bersiap membuka gerbang dan keluar dari kapal. Kami tidak tahu apakah di tempat ini terdapat oksigen atau tidak tapi yang pasti jika kami harus mati, kami rela mati di tempat indah ini.

Pintu baja setebal 19 inchi itupun dibuka. Cahaya yang hangat menyentuh kulit kami dan udara yang sangat segar masuk keparu-paru kami.
“Andai saja kita tidak pernah ragu…” kata ibuku menghirup oksigen yang sangat murni tersebut.
Kami semua mengucurkan air mata. Kami semua langsung berlari menuju ke sebuah sungai kecil yang mengalir pelan diantara padang rumput. Airnya begitu jernih, tenaga yang hilang seakan-akan tak pernah kami rasakan. Kami berlarian kesana kemari tak sadar diri kami yang sebenarnya.
Beberapa lama kemudian kami melihat sebuah kotak baja. Tergeletak di tengah kumpulan bunga. Kami mendekatinya dan ayahku mencoba membuka kotak itu. Terdapat sebuah buku dan kalender usang di dalamnya.

Ayahku membacakan pada kami tulisan yang terdapat dibuku tebal itu.
“21 Februari 2291. Matahari menjauh kemudian redup cahayanya dan terjadi supernova yang sangat hebat akibat meledaknya matahari. Bumi selamat. Namun lintasan planet-planet berubah total.
Selama lebih dari 1 abad tata surya dilanda kegelapan. Satu persatu planet-planet mulai berguguran. Perlahan-lahan peradaban manusiapun mulai punah. Para ilmuan berusaha membuat cahaya buatan untuk menghangatkan bumi. Sebuah gas buatan diledakkan di angkasa dan menciptakan langit biru yang bercahaya.
Bumi kembali terang dan hangat. Namun, butuh waktu berabad-abad agar bumi kembali seperti sedia kala.

21 Februari 3797. 90% manusia musnah. Kami yang tersisa mencoba bertahan hidup dan menunggu bumi pulih sepenuhnya.” Kata ayahku.
“Jadi... ini bumi?”
“Ya, kapten. Kita telah menembus lorong waktu. Ini adalah masa depan bumi kita…” kata ayahku.
Aku melihat kalender yang tedapat di kotak itu. Aku melihat 1 tanggal dalam kalender itu ditandai silang. 21 Februari 21210. Di bawah kalender itu terdapat sebuah tulisan.
Tahun ini adalah penjelajahan ke planet E2. Kami berhasil menemukan planet yang mirip dengan bumi dan kami berhasil menciptakan kapal luar angkasa berkecepatan cahaya yang dapat melesat cepat menuju planet itu yang jaraknya jutaan tahun cahaya dari bumi ini. Kami akan tinggal di planet itu sampai bumi ini benar-benar pulih sepenuhnya…

Inspirated by mydream. Minggu, 21 Februari 2010

PROFIL PENULIS
Avans Cross Lines lahir di Bandung, 31 Maret 1992. Bagiku mimpi adalah inspirasi terbesarku. Mimpi adalah jembatan yang menghubungkan antara khayalan dan kenyataan dimana aku dapat dengan leluasa menyebrangi garis antara kedua dunia tersebut. Untuk sejenak ikutlah bersamaku dan lihatlah seberapa indah, seram, romantis, lucu, bahagia, maupun menegangkannya jembatan itu.
Fb: Avans ‘Dani Cross Lines
Blog: avanscrosslines.blogspot.com

Senin, 21 Mei 2012

Cerpen Kelembutan Hati Seekor Kucing

KELEMBUTAN HATI SEEKOR KUCING
Oleh Amalia Eronia

Dhuuuaaaaaarrrr…
Yaampun, suara petir yang cukup besar mengagetkanku. Tiba-tiba saja hujan besar membasahi tubuhku.
“Wah, bagaimana ini? Mana sudah pukul 7 malam.” Endusku dalam hati. Saat itu aku baru saja pulang dari les privatku. Memang pada saat keadaan itu aku sudah berada hampir dekat dengan jarak rumahku tetapi bila aku nekad tentu aku akan basah kuyup.

Akupun berteduh sesegera mungkin di pinggir jalan yang bisa melindungiku dari guyuran air hujan. Suasana hanya ramai dengan laju kendaraan di jalan. Sedangkan hanya aku yang berteduh sendiri tanpa teman.
“meeoong…meeoong…” Tiba-tiba ada suara mengagetkanku.
“hah! Apa itu? Suara kucing.. Loh tapi mengapa suara itu hilang lagi?” aku bertanya-tanya sendiri seakan suara kucing itu hanya halusinasiku saja. Tetapi..
“meeong…meoong…” Suara kucing itu muncul kembali. Aku heran dimana kucing itu berada. Aku lirikan kepalaku ke kanan dan kekiri. Hei, aku menemukan sesuatu. Itu adalah sebuah sepatu boots tanpa pasangan. Aku mendekati sepatu itu dan aku lihat ke dalam lubangnya.
“meoong…” Seekor anak kucing lucu merengek kepadaku. Tubuhnya basah kuyup, ia sepertinya kelaparan. Terlihat dari perutnya yang kecil dan cekung. Aku kasihan melihatnya. Siapa orang jahat yang telah membuang kucing lucu ini.
“Hei kau, hehe.. kau mengagetkanku. Aku fikir kau tadi hantu, ternyata kau adalah seekor kucing yang lucu dan menggemaskan.”Aku tersenyum kearah kucing tersebut. Ia hanya menatapku sembari sesekali ia mengeong.

Dhuuuaaarrrr….
Suara petir mengagetkan kami kembali. Kucing itu ketakutan, ia menutup matanya dengan tubuh yang gemetar.
“Kau pasti takut ya. Sudah..sudah.. tak apa, ada aku disini. Sepertinya itu petir terakhir. Lihat! Hujannya mulai reda. Bagaimana kalau kau ikut aku pulang?” hehe seperti orang bodoh, mungkinkah kucing bisa mengerti bahasaku.
“meong..” Jawabnya. Aku anggap itu adalah jawaban “YA” dari seekor kucing. Hhem baiklah kita pulang menuju rumahku, Anastasia.

Akhirnya sampai juga aku di rumah. Aku tinggal bersama Kakek dan Bibiku. Orang tuaku telah lama tiada, entahlah apa sebabnya. Kakek bilang itu terjadi saat aku masih bayi. Mungkin kakek tak mau mengulasnya kembali.
“Nah, lihat! Ini susu hangat untukmu dan aku membawa handuk untuk mengeringkan bulumu itu. Bagaimana ya? Aku tak punya makanan kucing. Oh iya, tunggu sebentar.” Aku berlari sejenak mencari sesuatu. Lalu akupun kembali membawa makanan untuk kucing itu. Mungkin semangkuk susu hangat takkan cukup. Aku khawatir ia akan mencret keesokan harinya.
“Ini aku bawakan kau daging ayam. Sssstt!! Jangan bilang-bilang ya, aku mengambilnya diam-diam di dapur. Hehe,ini semua untukmu”. Hehe senang sekali melihatnya. Seperti yang kukira. Kucing itu memang lapar. Dia makan lahap sekali.
“Oia, aku lupa sesuatu. Siapa namamu, meng? Apa tidak apa-apa kalau aku yang memberimu nama? Tapi aku tak tahu apa kau betina atau jantan?” aku tak bisa membedakan gender hewan.
“Kek..kakeek…kemarilah sebentar.” Aku memanggil kakekku. Semoga ia bisa membedakannya.
“Ada apa Anastasia? Hei, siapa ini? Anggota baru keluarga kita?” jawab kakek saat melihat kucing itu.
“Hehe, aku harap dia menjadi anggota baru keluarga kita, kek. Tadi saat aku berteduh aku menemukannya di dalam sepatu boot. Aku kasihan melihatnya sendiri lalu aku bawa pulang. Tetapi aku bingung apa gendernya? Jantan ataukah betina? Apa kau bisa membedakannya?” jawabku pada kakek.
“Hmmm yaa, coba aku angkat kau sebentar ya kucing.” Kata kakekku lalu beliau meneruskan bicaranya.
“Anastasia, kucing ini jantan. Nah, sekarang kau dapat memberinya nama.” Jawab kakekku.

Akupun mulai memikirkan nama yang cocok untukknya dan akhirnya aku dapat.
“Ah! Aku tahu, aku akan memberi dia nama “Boots” karena aku menemukannya di dalam sepatu boot. Hehe, kau suka kan, Boots??”

Seakan mengerti kucing itu menjawab
“miiaaww..” dan sejak saat itu namanya menjadi Boots…
“Haaaahh!!! Kucing siapa itu yang kau bawa kemari Anastasia? Kau ingin menebar penyakit di rumah ini lewat kucingmu itu hah??” tiba-tiba bibiku datang mengagetkan dengan suaranya yang tinggi dan marah.
“Aku menemukan kucing ini kehujanan bi, aku kasihan. Makanya aku bawa kemari.” Jawabku polos.
“kau ini, selalu saja menyulitkanku. Kucing itu kotor. Kau buang lagi sana. Aku tak setuju dia ada disini.”kata bibiku.
“tidak ! aku akan merawatnya. Mengapa kau berani berkata seperti itu bi? Ini rumah orangtuaku. Aku butuh teman, dan kucing ini yang akan menjadi sahabatku. Lagipula ayah ibuku tak akan keberatan bila ada seekor kucing di rumah ini.” Kataku tegas.
“Tentu saja mereka takkan keberatan. Orang tuamu sudah lama mati. Mereka tidak tahu ada kucing di rumah ini. Jika mereka tahu,mereka pasti akan memarahimu. Hah! Menyebalkan.”jawab bibiku. Kata-katanya benar-benar menyakitkan. Aku mulai diam lalu menitikkan air mata.
“Heh! Rosella, diamlah. Tak sepantasnya kau bicara seperti itu. Sudahlah cucuku, jangan menangis. Kakek tidak keberatan kucing itu disini. Peliharalah dia. Dia akan menjadi teman baikmu.” Sela kakekku menenangkan.
“Bela saja anak itu sampai kau puas ayah! Heh ..” lalu bibikku meninggalkan ruangan.
Bibiku memanglah orang yang suka marah-marah. Ia mencintai kesempurnaan. Ia belum menikah. Bibiku sudah lama ada di rumah ini sudah lama pula ia marah-marah dirumah ini. Tapi untunglah ada kakek yang selalu menjadi penghalang. Aku sedih, mengapa bibiku tak bisa menyayangiku seperti anak sendiri..

Hari-hari kulalui bersama Boots. Dia teman terbaikku. Tak pernah menghianatiku. Yah! Apa yang seekor kucing ketahui tentang berkhianat? Malam itu aku duduk termenung di atap rumah menatap bintang.
“ayah..ibu..lihatlah aku. Mengapa bibi Rosella terus saja memarahiku?” aku bicara sendiri sembari menitikkan air mata. Selalu saja kata-kata pedas dari bibiku membuatku teringat akan ayah dan ibu. Sambil memegangi foto mereka dan ada aku yang masih bayi di tengah foto tersebut.
“Meong..” tiba-tiba Boots datang, rupanya ia mengikutiku naik ke atap rumah.
“hei Boots, kau rupanya. Hehe, kau lucuuuuuuuuuu sekali. Boots, aku harap kau tak sakit hati ya dengan apa yang dikatakan oleh bibiku tadi.” Kataku, dan Boots menatapku dengan lembut.
“Boots, apa seekor kucing sepertimu punya impian? Aku punya impian yang terbendung Boots. Suatu saat nanti aku ingin menjadi Dokter. Impian yang diharapkan kakekku. Pantaskah aku Boots??” tanyaku pada kucing ini.
“Meoong..” jawab Boots sembari mengusap kepalanya padaku.
“Hehehe, Boots..kau sangat manis. Sepertinya kau mengerti aku. Berjanjilah padaku kita akan menjadi teman selamanya.”
Lagi-lagi Boots menjawab dengan meongannya. Lalu ia tertidur disampingku.

Esok haripun tiba. Ada apa ribut-ribut. Bibi terdengar berteriak-teriak.
“Aaaaaaaarrrrrgggggg!!!! Anastasiaaa. Banguuuun ! lihatlah ulah kucingmu ini. Dia mengotori rumah.” Bibiku terdengar marah.
“Ada apa bi? Apa yang dilakukan Boots?” tanyaku. Aku segera turun ke bawah dan melihat keadaan. Terlihat bibiku memang marah sembari menggenggam sapu lidi. Ternyata ia menggunakan sapu lidi tersebut untuk memukul Boots.
“Dasar kucing kotor! Plaaakkkkkk….” Kata bibiku sembari berusaha memukul Boots.
“Bibiiiiii, cukup! Kasihan Boots. Ia belum terbiasa dengan rumah ini. Berhenti memukulnya.” Kataku berteriak dengan air mata yang keluar. Aku kasihan pada Boots. Ia terlihat gemetar dan takut. Ia bersembunyi di kolong kursi.
“Bersihkan semua ini, aku tak mau tahu!!” kata bibiku lalu ia pergi.
Aku menghampiri Boots ke kolong kursi. Aku merunduk, kulihat dia masih seperti ketakutan.
“Hai Boots..kemarilah…” Bootspun menghampiri aku.
“Kau pasti belum tahu ya arah toilet di rumah ini. Baiklah, sini. Ikuti aku!” aku berjalan menunjukkan Boots arah toilet. Seakan mengerti, ia mengikutiku.
“Nah ini dia, toilet bersama. Biasanya kami membuang kotoran disini. Kalau bisa. Kau juga ya, supaya bibi tidak memukulmu lagi. Tapi kalau kau tak bisa. Jangan sampai kau membuang kotoran dan ketahuan bibi. Biar aku saja yang tahu dan aku akan segera membersihkan kotoranmu. Oke  aku tinggal dulu ya, aku harus membersihkan kotoranmu di ruang tamu.”

Aku mulai membersihkannya. Yah, lumayan lah. Ini pertama kalinya aku membersihkan kotoran hewan. Tapi semua ini memang tanggung jawabku. Lambat laun Boots pasti akan terbiasa dengan keadaan. Kucing akan terlatih dan mengikuti kebiasaan majikannya.

Aku kembali ke toilet dan melihat Boots. Alhasil aku melihat kotorannya di dalam toilet.
“Hehe, kucing pintar. Lihat, setelah kotoranmu terbuang rapi disini, panggil aku. Aku akan menyiramnya boots. Seperti ini.. lihatlah.. aku yakin kau takkan bisa menyiramnya. Jadi kau panggil aku saja yaa ”. Jawabku.
Tak sia-sia aku melatih Boots. Kucing ini benar-benar penurut.

Tak terasa waktu bersama Boots sudah 3 tahun. Ia tumbuh menjadi kucing besar. Atas pemeliharaanku bersama kakek. Pagi itu aku mengobrol dengan kakek. Tentunya ada Boots ditengah-tengah kami.
“Sebentar lagi aku akan lulus sekolah, kek. Dan aku akan meneruskan cita-citamu. Ke Universitas Kedokteran. Doakan aku ya kek.”
“Hehe, tentu cucuku. Senang rasanya, kau sudah besar. Kau akan menjadi pewaris tunggal seluruh harta peninggalan orang tuamu. Aku tak bisa terus-terusan menjalankan perusahaan milik keluargamu. Aku ingin pensiun.”
“Tapi aku tak pernah mengurus perusahaan kek, akupun bukan seorang pebisnis. Lagipula aku kan akan melanjutkan menjadi seorang dokter. Apa dokter bisa berbisnis? Mengapa tidak bibi Rosella saja yang menjalankannya?”
“Oh maaf nak, bibi Rosellamu tidak memiliki hak atas warismu, dia hanyalah bibi angkatmu. Sedangkan seluruh asset keluarga ini adalah usaha kedua orang tuamu. Dan aku bangga pada mereka. Tak ada yang tak bisa. Jika kau punya kemauan, semua usaha ini bisa dikembangkan. Aku siap membantumu.”kata kakekku.
“Bagaimana menurutmu Boots, diusia muda aku sudah harus mengemban tugas menjadi pengusaha. Padahal aku ingin sukses atas usahaku sendiri.” Tanyaku pada Boots.
Ia hanya menatapku dengan wajah lucunya. Hehe,
“Hahaha, baiklah nak. Anggap saja kau tidak memiliki harta warisan. Maka kau bisa berusaha menjadi orang hebat seperti orangtuamu. Itu semua tergantung padamu. Sebaik-baiknya kau menggunakan harta, kau takkan pernah dikuasai oleh harta. Aku melihat kesederhanaan pada dirimu, kesederhanaan yang berbuah keberhasilan.” Kata kakekku.
“Baiklah kek, aku akan mencobanya. Semua demi baktiku pada orang tuaku, padamu, dan Boots. Bibi Rosella juga tentunya.”
“Yah, aku bangga padamu nak.” Jawabnya sembari tersenyum.

Akhirnya hari kelulusannku tiba, segudang pekerjaan mulai menungguku setelah aku lulus. Pertama aku harus menandatangani surat wasiat keluargaku. Dan akhirnya semua asset keluarhaku dibalik namakan atas namaku. Kini aku harus mengurus perusahaan. Bukan hanya itu, aku harus mengikuti ujian untuk bisa masuk ke Universitas Kedokteran. Dengan susah payah, akhirnya aku lulus ujian masuk.

Makin hari bibi Rosella makin kecut padaku. Entah apa yang menjadi penyebabnya. Aku heran. Perasaanku tak enak.
“Bibi, boleh aku bicara?” tanyaku saat itu mencuri kesempatan. Aku ingin berbicara dengannya. Sekarang aku sudah besar, mengapa harus selalu ada permusuhan dalam rumah ini.
“Ada apa? Jangan terlalu berbasa-basi. Langsung saja.” Jawabnya ketus.
“Bi, mengapa kau tak pernah suka padaku? Kau selalu saja memusuhiku. Kau bibiku, meskipun bibi angkat, tapi bukankah kita seharusnya bisa menjalin hubungan baik?” tanyaku padanya.
“Heh! Kau menganggapku bibimu, tapi maaf kau bukan keponakanku. Aku tak pernah menganggapmu. Dan aku benci ibumu. Ayah selalu membanggakannya. Sekarang kau yang dibanggakan. Tak pernah ia memperhatikanku.” Jawabnya,

Memang, kisahnya dahulu, bibi Rosella adalah anak asli kakek, sedangkan ibuku hanya anak angkat kakek yang kakek adopsi dari panti asuhan. Sifat ibu dan bibiku sangat berbeda. Ibuku anak yang penurut dan giat. Sedangkan bibiku sangat manja. Apapun inginnya harus selalu dipenuhi. Suatu hari ada seorang pengusaha muda melamar ibuku. Yaitu ayahku, mereka menikah. Tanpa sadar pernikahan itu telah membuat kecemburuan pada bibiku. Mungkin sampai sekarang ia tak pernah menyukaiku, karena aku adalah anak ibukku, Ny.Ferlita kakak tiri dari bibi Rosella.

“Kau salah bi, kakek juga menyayangimu. Apalagi kau adalah putri kandungnya.” Kataku.
“sudahlah, aku benci mengulas hal itu. Urusi saja dirimu sendiri!” jawabnya masih dengan penuh dendam.
“Bibi, aku sayang padamu.” Kataku sambil menangis, lalu aku berlari dari hadapannya. Tak kuat menahan air mata.

Esok pun tiba. Itu adalah hari keberangkatanku demi mencapai cita-citaku. Universitas yang berlainan Negara.
“Kakek, aku berjanji padamu. Ketika aku kembali kesini aku sudah memiliki gelar Dokter. Aku titip perusaan ayah dan ibu. Juga Boots. Jaga dia untukku ya kek.”
“Tentu nak, jaga dirimu baik-baik disana. Belajarlah yang rajin. Semua demimu nak. Aku akan merawat Boots seperti aku merawatmu. Maafkan bibimu, ia tak turut mengantar keberangkatanmu. Aku tak tahu, harus dengan cara apa aku berkata padanya agar menyayangimu seperti menyayangi anaknya sendiri.” Kata kakekku.
“Sudahlah kek, aku menyayanginya, aku sudah katakan padanya semalam. Disana aku akan mengirim pekerjaanku lewat e-mail. Boots, aku tinggal dulu ya. Nanti aku akan kembali. Aku akan menelefon jika aku rindukanmu. Ikutilah kemana kakek melangkah. Dia yang akan menjagamu. Jangan nakal ya.” Jawabku sembari berpesan pada Boots.
“Meong..”
“Anak baik ! kakek aku berangkat ya.. aku harus segera naik ke pesawat. Dah kakek, dadah Boots..”
“hati-hati nak…” kakek melambaikan tangan padaku. Boots menatapku. Air mata keluar lagi. Sedih rasanya. Tapi aku berjanji, aku akan kembali lagi dan melihat mereka.

Kehidupanku dinegara lain benar-benar berbeda. Keseriusanku diuji disini. Tapi aku masih merindukan Boots dan kakek. Serta Bibi Rosella. Aku selalu menanyakan keadaan Boots seminggu sekali. Dan aku mendengar meongannya.

4 tahun berlalu, aku kini meraih gelar dokterku. Aku bisa pulang ke rumah. Aku akan membawa kabar gembira untuk kakek, Boots. Dan semoga bibi Rosella lebih manis sekarang setelah kepergianku selama 4th.
“Halo kakek, aku akan pulang hari ini. Tunggu aku di rumah ya.”

Malam itu aku pulang, sampai di rumah pagi hari. Waaahh, inilah rumahku. Dengan perubahan baru selama 4 th. Cat rumah baru, kamarku yang terdesain rapi. Kakek yang rambutnya makin memutih. Boots yang makin besar. Bibi Rosella, akhirnya ia menerimaku.
“Surpriiiiseeeeeee!!!!!!!!”teriak kakek dan bibiku. Serta keluargaku lainnya, sanak sodara yang menunggu kedatanganku.
Aku terharu sekali. Inilah rasanya menjadi seorang anak yang dirindukan. Tetapi sekarang aku bukan seorang anak lagi. Aku telah menjadi wanita dewasa.
“hikks..aku senang sekali. Sudah lama aku menantikan moment seperti ini. Berkumpul bersama keluarga besarku. Dan Boots, kau makin besar saja. Aku sangat merindukanmu, dan kau makin lucu.”
“nak, akhirnya kau benar-benar mencapai cita-citamu. Sekali lagi kau membuatku bangga.” Kata kakekku.
“yah Anastasia, maafkan aku ya. Kau memang keponakanku yang sangat membanggakan. Malam ini kita adakan pesta untukmu. Aku sudah memasak masakan kesukaanmu.” Kata bibi Rosella.
Aku tersenyum, aku bahagia sekali.. Kehangatan keluarga.

Kami berfoto bersama untuk mengabadikan moment ini. Aku, kakek, Bibi, Boots, serta keluarga lainnya yang berjajar. Foto yang cantik.
“Boots, kau tidak mengeong? Sepertinya kau tak semangat” aku mengelus-ngelus kepala Boots. Matanya terlihat mengantuk.
“Kau lupa padaku Boots? Aku Anastasia, yang pertama kali menemukanmu di dalam sepatu boot. Ingat?? Mmh, baiklahh. Mungkin aku harus dari awal lagi untuk bisa mengenalmu.” Boots tak ada reaksi. Tetapi dia menatapku.

“Kemari Anastasia. Ayo makan dulu. Ini menu special kesukaanmu” panggil bibiku untuk makan malam.
“Iya bibi, ayo Boots, kita makan.” Boots terdiam sejenak, kemudian ia mengikutiku.

Akupun duduk di meja makan. Wah memang benar, ini adalah sayur soup special kesukaanku. Ternyata walaupun dulu ia membenciku tetapi ia memperhatikan menu favoritku.
“ayo makan,” kata bibiku.
“eh, yang lain kemana bi, kakek dan saudara yang lainnya?” tanyaku.
“emh, ah mereka tadi sudah makan. Tinggal kau saja yang belum. Ayo cepat dimakan soupnya. Bila sudah dingin tak akan enak lagi kan?” kata bibiku.
“emmh, yaa. Baiklah.”

Tiba-tiba..
“Plentraaaaaaaanggggg..!!!” mangkuk kaca tempat soup yang kumakan dihidangkan jatuh ke bawah lalu terpecah. Boots naik ke atas meja makan dan menyenggolnya. Bibi pun terlihat reaksinya seperti kaget.
“Boooooooottts!! Apa yang kau lakukan? Lihatlah kau merusak moment kebahagiaanku. Aku menantikan ini sudah lama Boots.”kini aku yang marah. Bibiku tak menunjukkan reaksi murkanya.
“maafkan aku bi.” Jawabku sedih.
“oh, tak apa Anastasia, tenang saja. Tapi aku hanya membuat soup itu semangkuk khusus untukmu. Tak ada lagi gantinya.” Jawab bibiku.

Aku benar-benar kesal pada Boots. Kucing itu mengacaukan suasana.
“Boots, ulahmu sangat keterlaluan. Aku tak mau membersihkannya. Ini adalah salahmu.” Seketika aku menyalahkan Boots.
Seakan mengerti ia pun menjilati tumpahan soup itu. Aku berlari ke kamar dan menangis. Ada-ada saja kejadian yang hampir membuat bibiku marah. Padahal sekarang dia sudah baik terhadapku.

Aku kembali lagi ke meja makan untuk melihat Boots, aku merasa bersalah telah memarahinya. Harusnya aku maklum, dia hanya seekor kucing yang tak tahu apa-apa. Tapi di ruang makan Boots sudah tak ada. Tumpahannya masih berceceran. Bodohnya aku, mana mungkin seekor kucing dapat membersihkan soup yang tumpah.

“kakeeeekkk..kau melihat Boots? Aku tadi memarahinya, tapi sekarang dia tak ada. Aku merasa bersalah kek. Aku ingin meminta maaf padanya.” Tanyaku pada kakek.
“ada masalah apa? Baru sekarang aku mendengarmu memarahi kucing yang amat kau sayangi. Boots tadi berlari ke pintu belakang, entah mau kemana. Sepertinya dia keluar. Jawab kakekku.
Aku sesegera mungkin berlari mencari Boots.

“Ya Tuhan, kemana kucing itu? Ini sudah malam.”aku menangis dalam pencarianku. Entah mengapa aku sangat menyayangi kucing itu. Hewan yang sudah sehati denganku.
“Boootss….Boootss…tolonglah, maafkan aku yang sudah memarahimu tadi. Aku mohon Boots, jangan sampai kau membenciku. Hiikkss..aku hanya…hanya…merindukan kasih sayang Bibi Rosellaku, hiikkkss..” aku menangis menungkulkan kepala sembari berjalan mencari Boots. Saat aku menatap ke depan, ternyata Boots. Dia tertidur di tengah jalan. Jalanan yang kebetulan sedang sepi. Aku berlari menghampirinya.
“Hei Boots..kau disini. Maafkan aku yaa. Aku tadi memarahimu. Boots..”kataku berbicara padanya. Tapi tak ada reaksi apa-apa. Aku tak bisa melihat wajahnya. Boots menutup wajahnya dengan buntutnya.
“Boots, kau kenapa? Tak ada suara meongan darimu. Tolonglah Boots, jawab aku dengan sekali saja meonganmu. Tolonglah.” Lagi-lagi ia tak menjawab. Aku mengoyak-oyakan badan Boots, tak ada reaksi, tak ada gerakan, matanya tertutup. Disitulah aku sadar bahwa Boots telah mati.
“Booots.. jangan tinggalkan aku Bootss… Boooootttsss.” Aku menangis, sembari aku ikut tertidur di tengah jalan itu . aku memeluk tubuh Boots.
Dhuuuuaar…kilat pun menyambar langit. Hujan turun membasahi tubuh kami. Sama seperti dahulu, waktu pertama kali aku menemukan Boots dalam sepatu boot. Kini aku berpisah dengannya pun dengan iringan hujan. Setelah tertidur di samping Boots aku tak ingat apa-apa lagi.

Aku membuka mataku, hari sudah pagi. Tersadar aku sudah berada di dalam kamarku. Kepalaku pusing, aku terkena demam.
“Oh syukurlah Anastasia, kau sudah bangun.”kata kakekku. Ia ada di sebelahku.
“jadi kejadian semalam bukanlah mimpi kek? Boots benar-benar mati?” aku mengucurkan air mataku.
“tenanglah Anastasia, setiap makhluk pasti akan mati. Emh, aku sudah mengotopsi hasil pemeriksaan dari tubuh kucingmu. Penyebab ia mati adalah karena adanya racun arsenic berlebih dalam tubuhnya. Ini berbahaya sekali, awalnya racun ini membuat perut sakit pada manusia, muntah, diare, dehidrasi, kram perut, syok, koma, lalu berakhir pada kematian. Mungkin seekor hewan tidak akan bertahan lama menahan efek dari racun arsenic ini sehingga kematianlah yang terjadi pada kucingmu.” Tegas seorang dokter yang sudah ada di kamarku sebelum aku bangun. Itu dr.Franz.
“Apa? Racun arsenic? Kakek, ambil samplenya, sisa soup yang semalam tumpah. Ayo cepat. Aku harap masih belum ada yang membersihkan tumpahannya.” Jawabku.

Kami berlari ke dapur, tapi sayang soup itu telah dibersihkan. Tetapi masih ada sedikit sisa di pecahan mangkuknya. Aku mengambil samplenya dan memeriksanya bersama dr.Franz. Ya, memang benar racun arsenic itu berasal dari soup itu. Soup yang semalam Boots jilati demi membersihkannya. Aku menyesal. Kini aku tahu sekarang Bibi Rosella hendak berniat jahat padaku. Ia meracuniku untuk mendapatkan seluruh harta keluargaku. Boots mungkin melihat kejahatannya. Ia sengaja menumpahkan soup itu untuk menyelamatkanku. Kucing yang baik, secepat ini aku kehilangannya.

Boots dikuburkan di halaman rumahku. Bibi Rosella ditahan dipenjara atas ulahnya.
“Kek, mungkin Boots lebih bahagia di surga ya daripada bersamaku.” Aku bergurau.
“Tidak nak, Boots bahagia bersamamu. Ia menyayangimu. Sampai ia rela mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkanmu nak, terkadang hati seekor hewan jauh lebih berkilau dibandingkan seorang manusia, lihatlah buaya yang ganas. Ia ganas demi melindungi keluarga yang ia cintai. Belajarlah dari seekor hewan, nak.” Kata kakekku.

Sungguh, aku merasa sangat kehilangan Boots. Tapi aku sangat berterimakasih padanya. Ia pahlawan bagiku. Aku memutuskan untuk selanjutnya berprofesi sebagai dokter hewan, seperti kata kakek “belajarlah dari seekor hewan” dan aku akan belajar, memahami mereka, menyayangi dan berbagi. Kini aku memiliki kucing baru bernama Vanilla. Tapi tetap hatiku masih menyimpan bayang-bayang kucing penyelamatku. Boots.
"Lihatlah! Mereka teman terbaikmu. Bukan untuk disiksa, ditendang dan disiram dengan air. Indahnya berbagi kasih sayang dengan sesama makhluk hidup :)"

Kamis, 10 Mei 2012

Cerpen Terbaru - Tato Kupu-kupu

TATO KUPU-KUPU
Cerpen Karen Kamal

Keduanya memiliki mata sayu kecoklatan yang indah. Mereka saling menyayangi walau terkadang mereka bertengkar. Mereka tertawa pada lelucon kecil yang paling mereka sukai, pada pria-pria yang memohon cinta mereka. Andien, gadis muda yang mandiri. Ia tidak akan pernah takluk pada pria manapun, apalagi untuk memenuhi kebutuhan finansial karena ia sudah terbiasa bekerja keras dan mencetak uangnya sendiri sejak orangtua mereka meninggal jauh sebelum ia mengerti dunia konyol yang ternyata kebanyakan orang-orangnya adalah budak uang.

Lain halnya dengan Gladys yang tertawa setiap kali berhasil mempermainkan pria-pria bodoh yang mencintai tubuhnya. Gladys si trouble maker tahu betul bahwa para bajingan itu hanya mengucapkan kata “cinta” agar dapat memasukinya. Ia terkadang menangis karena kelelahan, tapi ia akan kembali tertawa saat ia teringat seorang pria lagi akan masuk perangkapnya. Gladys merasa kasihan pada Andien yang ikut kelelahan saat ia lelah. Tapi tidak akan ada seorang pun yang dapat menghentikannya, tidak juga Andien.

Andien tidak menyalahkan Gladys meskipun ia harus membereskan masalah-masalah yang dibuatnya. Pernah sekali Andien marah sekali pada Gladys tapi ia sangat menyesal. Gladys berbagi mata sayu kecoklatan yang sama dengannya, berbagi darah daging yang sama, dan berbagi liang fantasi di bawah sana yang sama pula. Sudah seharusnya saat Gladys menikmati permainannya, Andien pun merasakan yang sama. Dulu Andien bekerja keras untuk bertahan hidup bagi dirinya sendiri. Sekarang ia punya Gladys yang akan menikmati hasil kerja kerasnya dan bersenang-senang. Gladys sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkannya, juga akan menghiburnya.

Tidak. Andien meyakinkan dirinya sendiri ia tidak akan pernah bisa melepaskan Gladys dan sebaliknya. Gladys adalah gadis yang sangat percaya diri dan mampu menghadapi kesulitan apapun. Gladys gadis yang kuat. Bukannya Andien tidak kuat. Ia telah hidup sendiri sejak ditinggal kedua orangtuanya dalam kecelakaan mobil yang tidak akan pernah ia pahami selama semua kitab suci berkata Tuhan mencintai makhluk ciptaanNya. Ada sesuatu yang berbeda dalam diri Gladys yang tidak dimiliki Andien. Andien hanyalah gadis yang terlihat kuat di luar, namun ia dan Gladys tahu ia lemah dan rapuh. Hatinya masih terbuat dari otot-otot halus dan merahnya darah masih mengalir di sana. Gladys selalu melindungi Andien yang lemah. Ia kagum padanya.

Gladys iri pada Andien tapi Andien tidak tahu itu. Bagi Gladys, Andien adalah seorang sosok ibu yang tidak pernah ia temui. Andien beruntung pernah menikmati kasih sayang ibunya ketika ia masih muda. Gladys iri. Tapi kasih sayang yang diberikan Andien baginya tidak pernah ada habisnya dan tak bedanya dengan kasih seorang ibu. Maka Gladys berjanji pada dirinya sendiri dan Andien, ia tidak akan pernah melangkah pergi. Tak sekalipun. Gladys membuat tato kupu-kupu pada pinggang belakangnya sebagai simbol perjanjiannya itu. Sebuah kupu-kupu hitam cantik, yang hanya memiliki sebuah sayap, sehingga ia tidak akan pernah bisa terbang. Sama seperti dirinya, Gladys rela mengoyak sayapnya yang sebelah agar ia tidak akan pernah mampu meninggalkan Andien.

Bukannya dunia ini tidak ada lagi yang mencintai Andien dan Gladys. Keduanya sudah menemukan cinta itu dalam diri mereka. Mereka berbagi mata sayu kecoklatan. Sekarang mereka juga berbagi tato kupu-kupu itu. Mereka tidak membutuhkan cinta lain. Untuk apalagi membodohi diri sendiri dan menjatuhkan diri dalam cinta, yang sama seperti jebakan-jebakan dan jurang yang tidak jelas dasarnya.

Setiap malam Andien dan Gladys akan menyempatkan diri bercengkrama dalam diam atau tertawa kecil setelah pulang bekerja atau bermain. Andien dengan sabar mendengarkan cerita-cerita petualangan Gladys yang sebetulnya sudah ia ketahui detil-detilnya. Ia ada di situ, bersama Gladys dalam setiap permainannya. Tapi Andien akan tetap tertawa atau menangis bersama setiap kata yang mengalir keluar dari mulut Gladys.

Suatu kali, Andien menangis sesenggukan dalam kamar mandi. Ia berteriak-teriak dan melempar botol-botol kaca kosmetiknya sampai salah satunya melukai tangannya. Gladys tetap diam sampai Andien duduk terjatuh di lantai kamar mandi yang dingin. Andien marah pada Gladys, pada perbuatannya siang hari itu. Gladys mengajak boss di kantor Andien untuk bermain di sebuah hotel mahal.

Gladys cemburu. Gladys marah saat tahu Andien memberi perhatian lebih pada bossnya, makanya ia mencari masalah. Ia mengambil foto dirinya dengan si boss dan mengirim foto itu pada istri boss. Andien menikmati setiap detik yang dihabiskan Gladys bersama si boss, saat mereka berpelukan erat setelah lelah bermain dalam liang fantasinya. Biasanya Andien akan ikut tertawa bersama Gladys, tapi tidak kali ini. Andien terlanjur jatuh cinta pada bossnya, makanya ia sangat marah pada Gladys. Gladys tahu betul ia jatuh cinta untuk pertama kali dalam hidupnya, tetapi ia mengacaukan segalanya.

Gladys perlahan membelai kepala Andien, menyisir lembut rambutnya. Perlahan menyentuh dadanya dan meremas sedikit buah dadanya saat melewatinya. Perlahan Gladys menuruni tubuh Andien dan menyentuh liang yang biasanya menjadi objek fantasi permainannya. Saat ia merasa Andien sudah sedikit relax, ia perlahan memasukkan jari-jari lentiknya ke dalam liang tersebut. Semakin lama, semakin cepat berirama. Andien melenguh dan mengerang bersama Gladys dalam puncak kenikmatan di atas lantai kamar mandi yang dingin.

Sesudahnya, Andien memutuskan itu menjadi kali pertama dan terakhir ia marah pada Gladys. Dan keesokannya, Andien menerima surat pemecatan dirinya, tapi ia tak lagi peduli. Ia pintar, dan terlebih, ia masih muda. Ia akan menemukan pekerjaan yang lebih baik dan akan dibayar sepuluh kali lipat gajinya yang ia terima dari kantor lamanya itu.

Pada malam-malam kelabu, Gladys mendadani Andien cantik-cantik dan mengajaknya ke club malam, menemui pria-pria bodoh, meneguk beberapa gelas wine merah, bermain bersama mereka dia atas ranjang hotel-hotel mahal, dan membuang mereka seperti sampah, yang tidak akan pernah disentuh lagi, dilihat lagi pun tak pantas. Gladys dan Andien akan lebih menikmati waktu bersama, tertawa kecil pada candaan dan rahasia yang hanya diketahui oleh mereka berdua.

Di kemudian hari, akan semakin banyak orang-orang tolol yang mengatakan Andien gila. Ia akan menutup telinganya. Akan semakin banyak orang yang menatapnya jijik karena kelakuan nakal dan kekanakan Gladys. Ia akan menutup matanya. Ia akan lebih tolol lagi kalau ia mengecewakan Gladys yang berbagi mata sayu kecoklatan bersamanya, yang berbagi liang fantasi bersamanya, dan berbagi tubuh yang sama dengannya.

Kamis, 26 April 2012

Perjalanan Sebungkus Plastik

PENGALAMAN SEBUNGKUS PLASTIK
Cerpen Nadia Almira Sagitta
 
Hmm, aroma sate sedap menggiurkan tercium sampai ke tempatku. Aku adalah sebungkus plastik merah yang dipakai untuk membungkus daging sate ini. Penjualnya adalah Pak Prioto. Dia seorang yang tua namun baik, ramah kepada siapapun termasuk kepada para pembelinya. Katanya selalu, PEMBELI ADALAH RAJA. Walau satenya hanya dijual 800 rupiah per tusuknya dia selalu melayani pembeli semaksimal mungkin. Teman-teman seperjuanganku sudah meninggalkanku. 
 
Mereka telah dipakai oleh Pak Prioto. Betapa senangnya hati mereka. Aku juga mau, Pak! Derap langkah manusia mondar-mandir melewati gerobak Pak Prioto. Ada kudengar satu yang menuju ke sini. “Mas, 20 tusuk ya, dibungkus!” Waah, dibungkus?? Semoga Pak Prioto memilihku, aku sudah tak sabar. Tek..! Kreatt! Pak Prioto telah membungkus satenya dan diikat dengan karet, kini saatnya menaruh dalam plastik! Kurasakan tangan tua kerut Pak Prioto menyentuhku, duh geli! Akhirnya, aku dipakai untuk membungkus juga! “Makasih, Mas, berapa?” “Cukup 16.000, Pak.” Setelah terjadi arus barang dan arus uang kepada yang bersangkutan, aku segera digantungkan ke stang motor si pembeli. Ia membawa motornya dengan kecepatan sedang. Aku bisa merasakan angin menerpa wajahku. 
 
Ternyata begini ya, rasanya berada di luar, sejuk rasanya! Selama ini kan aku hanya berada di dalam gerobak. Beberapa saat, aku sudah sampai ke rumah Bapak ini. Belakangan baru kutahu namanya Bram, terpampang di pintu rumahnya tulisan ‘Bram's Home’. Ia mengetuk pintu, dan disambut oleh anak semata wayangnya. “Nik, ini Bapak bawa sate. Tolong ditata di piring, ya!” ucapnya kepada sang anak. Dengan manis, anak kecil itu mengambil piring, mengeluarkan sate dariku, dan menatanya di piring. Lalu bapak dan ibu sang anak datang menghampiri.
“Hmm, sedap sangat aromanya, uda!” ujar Shinta si istri. Orang Padang rupanya.
“Makan sama-sama yuk, ayah-bunda!” kata si anak.
“Tunggu, rapikan dulu, Ninik. Plastiknya ditaruh di dalam lemari dapur saja.”
“Iya, bunda!” Dengan segera, Ninik meletakkanku bersama dengan plastik-plastik lain. 
 
Mereka selalu menyimpan plastik belanjaan supaya dapat digunakan di lain waktu. Mereka menolak ketika ada toko menawarkan barang belanjaan untuk dibungkus (kecuaIi di Mall tentunya). Kata mereka, “Tidak usah, saya bawa plastik sendiri.” Nah, kegiatan menolak plastik dapat mengurangi global warming, pemanasan itu lho. Udah ah, back to the topic. Ada plastik hitam, bening, bahkan kantung dari toko ternama. Tapi, ufp~ di sini agak pengap! Tapi, tak apalah, aku mendapatkan banyak teman baru disini.

Esoknya, aku diambil lagi, dan kali ini aku dipakai membungkus penganan sederhana yang akan diberikan kepada fakir miskin. Duh, kuenya berat sekali, hampir saja aku robek. Namun hal itu tak boleh terjadi! Dan, jadilah aku tetap kuat sampai akhirnya aku berpindahtangan lagi. Kue-kue diletakkan di piring bening dan aku? Dibuang begitu saja ke jalanan. Belum pernah aku dihina seperti ini. Bahkan, oleh pak Prioto pun tidak! Tapi, aku tahu, aku tidak ada apa-apanya. Maka, aku pasrah saja walau aku dicampakkan begitu saja. Aku memulai petualangan baru lagi. Mulanya, aku sangat ketakutan. Bagaimana tidak? Tidak ada yang mengacuhkanmu, kamu di sini sendirian. Bisa kuulang? SENDIRIAN... 
 
Tak ada teman yang serupa denganmu, apalagi yang mengenalmu! Tiba-tiba… BREEEM! Derum motor mengagetkanku. Motor melaju gila-gilaan. Ah, asap knalpotnya, mencemari lingkungan. Pencemaran udara! Menimbulkan global warming, membuat bumi makin panas. Dan, matahari bersinar tak henti-henti. Akibatnya ya, panas terik yang sangat kurasakan sekarang. Lama-kelamaan badanku bisa mengerut ini! Lalu, aku terbang dihembus angin. Mengikuti arah angin yang entah ke mana. Mungkin akan menuju ke negeri antah-berantah. Haha, aku juga tak tau. Tiba-tiba, SREEET! Aku terserempet roda motor! Bukan hanya itu, aku terseret olehnya! Aku berguling-guling di bawah roda, terkadang berada di atas, terkadang dilindas lagi. Dan, SRAK! Aku terbebas! Bukan main sakitnya! Masih cantikkah aku? Masih muluskah diriku? Oh, tidak! Tubuhku terkoyak! Pantas saja, aku merasakan sakit yang tak tertahankan. 
 
Aku harus mencari ilalang dan menetap di sana. Aku tak sanggup berjalan lagi apalagi berpetualang kemudian. Apa daya, ketika ku ingin menuju ke seberang ku terlindas lagi. Kali ini sebuah truk gandeng. Lagi-lagi ku harus menderita lagi. Bukan main, betapa beratnya perjuangan hidup di luar sana. Beruntung, ada seorang anak SMA melihatku terkapar di jalan. Ia menoleh kiri-kanan memastikan pengendara motor berkurang, lalu dengan cepat ia berlari ke arahku dan menaruhku di tempat sampah. Mungkin ini yang terbaik. Tidak di rumah, tidak di jalanan, tidak di ilalang, namun di tempat sampah. Ya, tempat penampungan barang yang tidak berguna lagi. Aku? Tidak berguna? Jelas. 
 
Dengan tubuhku yang seperti ini, aku bahkan tidak bisa menampung barang seringan apapun. Aku sudah rusak, bolong tepatnya. Baiknya, hidupku memang di tempat sampah. Sungguh, hatiku sakit menerima kenyataan ini. Tapi, tak apalah. Yang jelas hidupku kini lebih tenang daripada aku harus hidup di jalanan penuh siksaan itu. Sebuah gerobak sampah menghampiri tempatku. Memasukkan seluruh sampah yang ada di dalamnya dan memasukkannya ke gerobak kayunya. Ia berjalan menarik gerobak bersama aku yang kini akan hidup bersama kumpulan sampah bau nan kotor.
 
PROFIL PENULIS
Assalamualaikum dan salam sastra, saya Nadia Almira Sagitta. Seorang penulis amatir yang sangat menyukai warna biru dan bercita-cita menjadi seorang sastrawati.
Alamat facebook: www.facebook.com/nadiaalmirasagitta

Jumat, 24 Februari 2012

Cerpen Kritik Sosial - Anehnya Indonesiaku

ANEHNYA INDONESIAKU
Cerpen Dilla Fadlilla

Pagi itu, Genta menggeliat di tempat tidurnya sebentar, dan memebuka matanya. Terlihat jarum jam menunujukkan angka 5 tepat. Bergegaslah dia mengambil sepeda bututnya untuk membeli sarapan.
“Mau kemana, cah bagus?” ujar Pak Hasan yang tak lain Ayah dari Genta. Genta adalah anak dari Pak Hasan dan Bu Ayu. Ibu Genta sudah meninggal sejak dua tahun lalu akibat tubuh beliau digeroti oleh kanker yang ganas.
“Oala, Bapak ini buat Genta kaget saja. Seperti biasa, pak. Membeli sarapan untuk kita”
“Hati-hati, nak. Setelah sarapan nanti, bergegaslah kamu mandi dan mencari pekerjaan. Masa lulusan fakultas management tak memepunyai pekerjaan tetap?”
“Baik, pak” jawab Genta dengan tersenyum

Genta terus mengayuh sepedanya. Sesampainya di pasar, Genta segera mencari warteg dan membeli makanan. Dia memilih nasi uduk untuk sarapan dan sayur bayam, tempe goreng dan sambal untuk lauk makan siang Pak Hasan nanti ketika ia pergi nanti. Tujuh belas ribu rupiah semuanya. Yah lumayan, Ta. Masih bisa makan walau cuma makanan kampung gumam Genta dalam hati.
Di tengah perjalanan pulang, Genta bertemu dengan Osa. Osa adalah seorang gadis yang sepermainan dengan Genta yang kerjaannya hanya menunggu undian dari TV atau Radio karena juga tidak mempunyai pekerjaan tetap sama halnya seperti Genta.
“Bang Genta!” panggil Osa
“Eh, Osa. Mau kemana?”
“Ini, Bang. Radioku rusak. Padahal, nanti siang undian berhadiah. Hadiahnya uang tunai sebesar lima juta rupiah. Lumayan, buat tambah uang belanja”
“Ya sudah sana. Aku pulang dulu. Kasihan Bapakku, sudah menunggu daritadi”

Sesampainya di rumah, Genta segera menyandarkan sepedanya didepan teras rumahnya. Dia segera masuk, dan sarapan bersama Pak Hasan. Sesudah sarapan, Genta bergegas mandi, dan mencari pekerjaan.
“Pak, Genta pergi dulu. Di meja makan, sudah saya siapkan nasi beserta lauk pauk untuk makan siang Bapak nanti” jelas Genta
“Iya, cah bagus. Sudah sana cari kerja. Hati-hati ya nak ya”

Setelah diberi wejangan oleh Pak Hasan, Genta segera pergi kembali dengan sepeda bututnya untuk mencari kerja. Dia melewati gang gang tikus untuk segera mencapai kota. Saat sampai di cakruk gang kenanga, dia bertemu dengan Kang Tarto. Kang Tarto sebenarnya seorang Sarjana Pendidikan. Namun, dia malas mencari pekerjaan. Dan sekarang, Kang Tarto hanya nongkrong bersama preman kampung sambil bermain kartu gaple.
“Permisi, Kang” ucap Genta sembari melewati cakruk
“Genta, berhenti kamu!” seru Kang Tarto
“Ada apa, Kang?”
“Mau kemana kamu? Cari kerja lagi?” gerdik Kang Taro sembari berjalan menuju arah Genta. Genta hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.
“Hah, jaman segini, cari kerja sulit. Mendingan juga nongkrong atau nyopet di pasar. Hasil banyak, hidup tak terkatung-katung” lanjutnya
“Hus! Kang Tarto ngacau kan. Kita mesti cari kerjaan halal, Kang. Memang sulit. Tapi, tidak ada salahnya kita mencobanya”
“Sok suci kamu! Kamu liat wakil kita di pusat sana?” tanya Kang Tarto sinis. Genta hanya mengangkat alisnya.
“Mereka hanya menyalah gunakan kewenangan untuk mengambil uang rakyat! Apa itu perbuatan yang benar? Hah?” desak Kang Tarto. Genta diam seribu bahasa. Benar juga apa kata Kang Tarto. Tapi, mencari pekerjaan yang halal pasti lebih mulia batin Genta.
“Sudahlah, Kang. Genta permisi dulu” pamit Genta.

Diperjalanan, Genta masih terngiang akan ucapan Kang Tarto tadi. Namun, Genta tak menghiraukannya. Dia terus menyusuri gang-gang tikus dan melewati rumah-rumah yang berhimpitan layaknya kardus bekas yang disusun rapi di loteng.

Tiga puluh menit kemudian, Genta sampai di kota. Dia mulai menentukan nasibnya kelak. Dari toko-toko kecil dia masuki. Ijazah kelulusan dari perguruan tinggi di kota pelajar ia tunjukkan. Beraneka cacian dia terima.

Hingga tengah hari, Genta belum mendapatkan pekerjaan. Akhirnya, dia memutuskan untuk mencari makan terlebih dahulu. Genta kembali mengayuh hingga dia sampai di warteg dekat pasar kembang. Tak sengaja, dia melihat seorang anak yang ada didalam keramaian pasar yang berniat untuk mencopet dompet salah seorang wanita tua. Genta mengejar anak itu hingga disebuah tempat asing yang sangat kumuh.
“Abang kenapa kejar saya? Abang tidak tahu kalau saya sedang bekerja untuk mencari sesuap nasi?” ucap pencopet cilik itu sembari mengusap peluhnya.
“Kamu bilang mencopet itu pekerjaan? Apa kamu tidak takut jika dikeroyok warga dan ditangkap polisi?”
“Ah, abang ini. Itu sudah sering terjadi” Genta hanya menganga mendengar pengakuan pencopet itu.
“Siapa yang menyuruhmu untuk bekerja seperti ini?” tanya Genta penasaran
“Bosku” jawab si pencopet singkat
“Kau yang hanya seorang pencopet mempunyai seorang bos? Mustahil!” bantah Genta
“Ayo bang ikut aku kalau kau kurang percaya!”

Genta memutuskan untuk mengikuti anak itu. Setelah lima belas menit, mereka sampai di markas besar si pencopet. Markas si pencopet hanya sebuah bangunan bekas yang berdebu.
“Tuh, bang. Bosku ada situ” ucap si pencopet sambil menunjuk bosnya yang sedang duduk disebuah kain yang diikatkan di sebuah besi yang berkarat. Perlahan Genta berjalan mendekati bos si pencopet. Tiba-tiba...
“Faisal! Kenapa kau membawa orang asing masuk ke markas kita?” tanya si bos kepada si pencopet yang bernama Faisal itu.
“Si abang ini ngeyel, bos!” jawab Faisal dengan santai
“Ya sudah sana, kembali bekerja! Orang ini, biar aku yang menghadapinya” perintah si Bos.
“Siap, Pak Bos!” jawab Faisal sembari mengedipkan mata kanannya.

Di markas itu tinggal Genta dan Pak Bos. Genta agak merinding menghadapi orang ini. Genta memberanikan diri untuk berbicara dengan Pak Bos.

Pak Bos ini bernama Pak Wayan. Sebetulnya, Pak Wayan ini orang baik. Hanya saja postur badan dan dandanannya yang sangar membuat orang ngeri melihatnya. Cukup lama Genta ada ditempat itu. Hingga Genta melihat ada gerombolan pencopet yang jumlahnya lima belas anak yang usianya berkisar sepuluh hingga enam belas tahun.

Genta di tempat itu sampai jam tiga sore. Pak Wayan sengaja menyuruh Genta untuk berada di tempat itu hingga semua anak buah Pak Wayan datang.
“Loh, abang ini belum pulang ya, bos?” tanya Faisal sambil menggaruk kepalanya
“Memang kenapa? Abang ini datang dengan niat baik kok” ujar Pak Wayan sambil mengusap kepala Faisal.

Pak Wayan menjelaskan kepada Genta bahwa dia memiliki lima belas anak buah. Bukan hanya budaya saja yang beragam. Namun, nama-nama pencopet anak buah Pak Wayan juga beragam. Mulai dari copet pasar yang dipimpin oleh Faisal, copet bus kota yang menyamar sebagai pelajar yang dipimpin oleh Edo, dan copet yang berkelas yaitu copet Mall yang dipimpin oleh Joe.

Usai semua anak buah Pak Wayan berkumpul dan memberikan hasil copetan kepada Pak Wayan, Pak Wayan mulai mengenalkan Genta kepada anak buahnya. Selain itu, Pak Wayan juga memberitahukan maksud kedatangan Genta.
“Bocah-bocah, kalian tahu abang yang ada disampingku ini?” tanya Pak Wayan kepada semua anak buahnya. Dan Genta hanya menundukkan kepalanya sambil melontarkan senyuman kepada anak-anak itu.
“Abang ini namanya Bang Genta. Bang Genta ini nih, mau mengajak kita bekerja sama. Mulai dari sekarang, hasil kerja kalian akan diberikan kepada abang sepuluh persen. Kalian setuju?” tanya Pak Wayan.
“Bos! Kita rugi dong! Hasil susah payah kita-kita mau diambil sama si Abang jelek itu? Aku nggak  sudi!” bantah Joe.
“Betul, bos! Ditambah lagi nih pendapatan kita belum tentu banyak! Sepuluh persen banyak, bos!” tambah Edo. Suasana di markas para pencopet itu semakin memanas.
“Bukan, bukan begitu maksudku. Aku hanya ingin bekerja sama saja. Hasil kalian yang sepuluh persen, tujuh persen akan ku tabung di salah satu bank syariah dan tiga persen lagi untuk menggajiku. Maka, kalian akan mendapatkan bunga. Lantas, uang yang sudah terkumpul itu bisa kalian jadikan modal untuk membuka usaha yang lebih bersih. Seperti menjadi pedagang asongan, atau mengamen” ucap Genta membela diri.
“Menjadi pedagang asongan? Hasil sedikit, bang! Ngamen? Apalagi tuh. Main gitar aja gue gak bisa, bang!” timpal Faisal.
“Diam semua!” seru Pak Wayan melerai pertikaian itu.
“Mulai lusa, kalian akan diberi pendidikan oleh Bang Genta! Biar kalian semua tidak bodoh seperti ini! Sudah cepatlah kalian ke belakang untuk tidur!” bentak Pak Wayan.

Akhirnya, Genta berpamitan meninggalkan markas itu. Dia mengayuh kembali sepedanya sampai rumahnya.
“Assalammu’alaikum” ucap Genta sambil mengetuk pintu rumahnya
“Waalaikumsalam. Kok sampai larut malam begini kamu itu to, nak. Bapak ini khawatir” tentu saja Pak Hasan resah ditinggal pergi anak semata wayangnya ini walaupun untuk mencari pekerjaan.
“Bapak tidak perlu mengkhawatir kan saya. Saya kan sudah dewasa, pak. Sudah ayo kita makan malam bersama. Genta belikan abon sapi agar awet hingga dua hari ke depan” jelas Genta.

Malam itu, Genta dan Pak Hasan bercengkrama cukup lama. Dan tak lupa, Pak Hasan menanyakan tentang pekerjaan putra kesayangannya itu. Yah, Genta masih menyembunyikan pekerjaannya, yaitu sebagai pembimbing dari para pencopet.

Ketika ufuk timur telah mengeluarkan suryanya, rutinitas Genta dimulai kembali. Hanya saja, pagi ini dia mencari tenaga kerja untuk membantunya membimbing para pencoopet itu.
“Abah, Osa ada?” tanya Genta kepada ayah Osa. Tentu saja, orang yang akan dia datangi pertama adalah Osa. Abah segera memanggilkan Osa untuk bertemu dengan Genta.
“Eh, Bang Genta. Kenapa, bang rajin banget  kesini. Hmmm, ada udang dibalik batu ini pasti. Ayo bang, ngaku!” desak Osa
“Iiih, kau ini. Aku kesini Cuma mau nawarin kerjaan aja  kok. Mau kan kamu jadi tutor musik anak? Gajinya lumayan nih. Lagi pula, kamu kan mahir main gitar sama bersenandung gitu deh. Daripada kamu terus-terusan nungguin undian yang gak  jelas gitu. Mending ikut aku aja. Mau? Tapi...”
“Tapi napa, bang? Osa sih mau mau aja. Mau diajak ke tempatnya sekarang juga boleh” ujar Osa sambil tersenyum lebar
“Anak-anaknya jadi c-co-copet. Kamu mau beneran? Anak-anaknya unik unik kok” Genta berusaha membuat Osa tertarik dengan pekerjaan itu. Osa melotot mendengar itu. Awalnya Osa ingin menolaknya. Tapi, Osa berinisiatif untuk mencoba pekerjaan itu. Apalagi, pekerjaan itu sesuai dengan keahliannya.
“Oke dah aku mau. Kapan nih mulai kerjanya? Gajinya berapa sih, bang?”
“Kita kerja mulai besok. Aku ngajarin mereka berhitung dan tentang akhlak. Nah, nyopetnya belum tentu nih hasilnya. Kalau kemarin ku tanya bosnya, sehari bisa dapet jutaan. Katanya sih paling sedikit sehari dapet sejuta. Kurang lebih kita sebulan seratus ribu dah” jelas Genta.
“He?! Sejuta, bang? Banyak amat. Mustahil, bang! Seratus ribu? Boleh tuh. Daripada buat pusing Abah melulu” tambah Osa. Setelah Genta berhasil  merayu Osa, dia meminta Osa untuk membantunya merayu Kang Tarto. Reflek Kang Tarto hampir sama dengan Osa. Alhasil, Kang Tarto mau menerimanya. Lengkap sudah pembimbing untuk anak-anak brandal yang kelak menjadi penerus bangsa ini. Semoga seperti yang aku, Osa, Kang Tarto dan Pak Wayan harapkan batin Genta

Kukuruyuuuuuuuuukkkkkk.......
Ciap ciap ciap, cuiiitttt cuit.....
Tak terasa, hari telah berganti. Hari ini adalah hari pertama Genta, Osa, dan Kang Tarto bekerja. Mereka bergegas menuju markas anak-anak copet dengan mengayuh sepeda mereka masing-masing. Melewati gang-gang tikus, sarang-sarang manusia yang berhimpitan, jalan setepak dan usai tiga puluh menit mereka sampai di tempat kerja mereka alias markas anak-anak copet.

Osa dan Kang Tarto menganga melihat tempat itu. Seolah mereka berada di tempat pembuangan limbah pabrik yang kumuh, dan bau. Genta yang sudah terbiasa dengan tempat itu segera menemui Pak Wayan untuk mengenalkan partnernya untuk membimbing anak-anak copet itu nanti.
“Pagi, Pak Wayan” sapa Genta kepada Pak Wayan sambil memberikan senyuman hangat. Disusul dengan Osa dan Kang Tarto yang berjabat tangan dengan Pak Wayan sambil memperkenalkan diri.
“Pagi, Genta, Osa, Kang Tarto. Mau dimulai kapan bimbingannya? Biar anak-anak saya yang urus” ujar Pak Wayang yang tak sabar untuk melihat anak buahnya belajar. “Lebih cepat kan lebih, Pak. Mungkin, bisa dimulai sekarang” jawab Genta. Pak Wayan mulai mengumpulkan anak buahnya dengan meniup peluit yang dikalungkan dilehernya.

Cukup dengan satu peluit panjang, anak buah Pak Wayan berlarian untuk berkumpul. “Hari ini, Bang Genta kemari gak  sendiri nih. Kalian belajar mulai jam tujuh sampai jam dua belas di loteng atas yang kalian bersihkan kemarin, habis itu kalian nyopet seperti biasa” kata Pak Wayan memberikan sekilas pengarahan. Anak-anak copet segera menuju ke loteng tempat mereka belajar sebentar lagi. Diikuti dengan Pak Wayan yang berniat mengantar Genta, Osa, dan Kang Tarto.
Tak membuang waktu, Genta segera mengenalkan Osa dan Kang Tarto. Genta mempersilahkan Osa dan Kang Tarto untuk mengenalkan diri.
“Adik adik, kata pepatah ni tak kenal maka tak sayang. Nama kakak Cahyani Osa. Kalian panggil aku Mbak Osa. Mbak akan membimbing kalian buat jadi pengamen yang berkwaliatas! Tidak hanya pengamen yang ecek-ecek” oceh Osa. Anak-anak copet hanya diam mendengarnya dan tak menghiraukan Osa.
“Nama saya Tarto. Panggil saja Kang Tarto. Akang akan jadi guru serbaguna kalian. Ada yang mau ditanyakan dari Akang?” tawar Kang Tarto. Edo mengangkat tangan kanannya. “Kang Tarto, gimana caranya nyopet biar gak ditangkap sama pak pak tua yang jelek itu?” tanya Edo dengan muka yang sangat polos.
“Do, Kang Tarto tidak akan mengajarkan kalian hal itu. Tanyakan pada Pak Wayan. Kau ini” tegur Genta pada Edo. “Iya iya, Bang Genta” balas Edo dengan sewot.

Akhirnya pembelajaran dimulai. Banyak hal baru yang didapat oleh Genta, Osa dan Kang Tarto. Anak-anak copet sekarang juga bisa mandi setiap hari. Ya, sebelumnya anak-anak copet mandi bila turun hujan saja.
Waktu terus berputar seperti roda pedati, tak terasa sepuluh bulan telah berlalu. Anak-anak copet perlahan-lahan berubah. Faisal dan copet pasar lainnya, sekarang menjadi pedagang asongan yang berkeliling di pasar. Edo dan copet bus kota menjadi pedagang di terminal. Dan terakhir, Joe dan copet Mall menjadi pengamen yang berkeliling warteg. Mungkin, penghasilannya tak seberapa dari mencopet. Namun, itu sudah menjadi kesuksesan tersendiri bagi Genta, Osa dan Kang Tarto.

Suatu hari, Pak Hasan menanyakan profesi anaknya, Genta.  Genta terlihat bingung menjawabnya.
“Apa itu hal yang sangat penting untuk Bapak?” tanya Genta yang mulai sedikit terdesak.
“Ya jelas. Kalau ada tetangga menanyakan profesimu yang bekerja sama dengan Osa, apa yang harus Bapak jawab?” pinta Pak Hasan. Genta hanya terdiam mendengar itu. Genta memutuskan untuk tidak mengatakannya.
“Waktu yang akan menjawab, pak” sahut Genta dengan tersenyum dan mencium tangan Ayahandanya dan berpamitan untuk bekerja.

Kali ini, Genta berhasil lolos. Namun, tidak dengan Osa. Osa juga diintrogasi oleh Abahnya. Nasib Osa berbeda dengan Genta. Abahnya mengajak Pak Hasan untuk mengikuti Osa sampai tempat kerja anak-anaknya.
Betapa terkejutnya Genta dan Kang Tarto setelah mengetahui apabila Osa diikuti oleh Abah dan Pak Hasan. Apapun yang disembunyikan, pasti akan terbongkar di suatu hari nanti. Akhirnya, hal yang paling ditakutkan Genta, Osa dan Kang Tarto pun datang.

Orang tua Genta dan Osa marah besar. Pak Wayan dan anak-anak copet tercengang melihatnya. Ini pertanda bahwa profesi Genta, Osa, dan Kang Tarto sebagai tutor anak-anak copet akan berakhir. Genta yang melihat itu, segera mengatakan pada Pak Wayan. Pak Wayan mengerti apa yang dimaksud oleh Genta. Genta dan Osa mengejar orang tuanya masing-masing. Sesampainya di rumah, Pak Hasan segera mengelurkan gula, kopi, beras dan semua barang yang dibeli oleh Genta.
“Pak, kenapa semuanya dikeluarkan? Genta mencari dengan susah payah. Apa Bapak tidak menghargai hasil kerja keras anaknya ini?”  tanya Genta dengan mata yang berkaca-kaca.
“Lebih baik Bapak tidak makan hasil jerih payahmu ini. Ini, ambillah! Bapak tidak sudi mengkonsumsi barang haram ini!” bentak Pak Genta sambil memberikan barang hasil kerja keras Genta.

Tak berbeda dengan keadaan dirumah Osa. Hanya saja, Osa mendapat cacian yang tajam, dan dilarang untuk bergaul kembali dengan Genta.
Sekarang, keadaan seprti dimulai dari nol kembali. Osa hanya menunggu undian berhadiah dari TV atau Radio, Kang Tarto kembali dengan segerombolan preman kampung dan nongkrong di cakruk, sedangkan Genta terus berusaha mencari pekerjaan.

Seminggu kemudian, Genta mendapatkan pekerjaan. Yaitu sebagai petugas SPBU. Saat Genta istirahat, Genta selalu makan siang di warteg dekat tempat kerjanya. Dan, dilain hari, Genta bertemu Joe dan mantan copet Mall lainnya. Cukup lama mereka bersenda gurau. Namun bunyi sirine petugas Sat Pol PP merusak keadaan hangat itu. Joe dan teman-temannya segera berlari. Genta ikut berlari menyelamatkan mantan anak asuhnya itu. Ketika petugas Sat Pol PP sudah mulai mendekat, Genta menahan petugas itu.
“Kenapa kalian lebih memilih menangkap anak-anak itu?” tanya Genta
“Mereka mengganggu kenyaman warga. Kalau anda tidak ingin saya tangkap, lebih baik anda jangan lindungi anak-anak nakal itu” tukas petugas sat Pol PP
“Kenapa kalian tidak menangkap tikus-tikus kantor saja? Mereka juga mengganggu kenyaman warga! Bahkan mempermainkan rakyat kecil seperti kita! Kalian bodoh! Tangkap aku saja! Jangan tangkap mereka yang berusaha mencari sebutir beras dengan cara yang halal!” timpal Genta dengan nada membentak. Akhirnya, Genta ditangkap petugas Sar Pol PP itu dan menyelamatkan Joe dan kawanannya.

Ini  akhir ceritanya. Begitulah Indonesia, korupsi dimana-mana. Hanya rakyat kecil yang disiksa. Apa gunanya Indonesia disebut negara hukum apabila hukum tidak berlaku pada orang besar? Apa hukum hanya berlaku untuk rakyat kecil yang tidak mampu memberi uang tutup mulut pada hakim? Anehnya Indonesiaku.

-Dilla-
SMP N 1 Wonosari 2011/2012