Tampilkan postingan dengan label Cerpen Ibu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Ibu. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 September 2012

Persembahan Buat Mama - Cerpen Ibu

PERSEMBAHAN BUAT MAMA
Karya Rita Lestari

Sejak usia belum genap satu tahun, Ara hidup tanpa kehadiran seorang ayah. Ayahnya pergi meninggalkannya dan ibu yang sangat dicintai serta mencintainya. Melihat teman-temannya yang tumbuh dengan orangtua yang lengkap, ia merasa tak seberuntung mereka. Ara yang saat itu masih kanak-kanak begitu sangat lugu dan mempercayai perkataan ibunya bahwa sang ayah telah meninggal dunia. Tapi tampaknya rasa penasaran Ara terhadap sosok ayah mulai menggedor-gedor hatinya untuk segera mengetahui apa yang sebenarnya terjadi setelah usianya beranjak remaja. “Ma, Ara pengen tahu kuburan Papa. Ara pengen banget ziarah ke makamnya. Kasihan Papa, pasti kangen sama kita. Bahkan sekalipun kita gak pernah mengaunjunginya. Kenapa Ma?‘‘ tanya Ara.
“Kan Mama udah bilang, kuburuan Papamu tuh jauh. Kita gak punya cukup uang buat ongkos ke sana!” jawab Mama.
“Ara kangen Papa. Ara gak punya kesempatan buat ketemu Papa, masa Ara harus gak punya kesempatan juga buat sekedar berziarah ke makamnya. Ayo Ma, kita ke makam Papa! Ayo Ma!“ Ara terus merengak kepada ibunya sambil menangis. Melihat Ara menangis, tampaknya membuat hati ibunya terenyuh. Dengan tangis yang juga merajainya, akhirnya ibupun berkata yang sebenarnya.
“Papamu masih hidup. Tapi jangan pernah kamu menaruh harapan lebih sama Papamu, karena dia udah punya kehidupan sendiri‘‘ kata Mama, lirih.

Mendengar pernyataan ibunya, Ara sangat behagia karena ternyata ia masih memiliki seorang ayah. Di sisi lain hati Ara sangat terpukul, kenapa ibunya tega berbohong tentang ayahnya. Ara ingin sekali menanyakan tentang perihal itu, tentang kebohongan yang selama ini dibuat oleh ibunya. Tapi hati kecil Ara berkata, “Mama pasti punya alasan yang kuat kenapa ia sampai berbohong tentang kebenaran ini.‘‘

Lambat hari Ara mengerti tentang apa yang terjadi dengan orangtuanya. Ara mengerti dan mengetahui bahwa orangtuanya telah bercerai sejak 12 tahun yang lalu. Kerinduannya terhadap sosok ayah yang selama 12 tahun ia tak prenah merasakan sama sekali sentuhan dan kasih sayang seorang ayah membuat ia ingin sekali berjumpa dengannya. Suatu hari ia pergi ke kota Metropolitan untuk menemui ayahnya. Ara tidak sendiri, tentu saja. Ia ditemani paman yang selama ini telah ia anggap sebagai sosok ayah dalam kegalauannya.
“Om, Ara senang deh ternyata Papa masih hidup. Dan sebentar lagi Ara bakal ketemu Papa. Hehe, jadi gak sabar. Kira-kira Papa kenal Ara gak ya Om?‘‘ ujarnya penuh semangat.
“Ya pasti Papamu kenal. Lah wong kamu ini anaknya!“ jawab Om.
”Iya ya Om, Ara kan anaknya Papa. Pasti Papa kenal Ara. Pasti Papa juga kangen banget ya Om sama Ara ? Gak kebayang gimana nanti Papa meluk Ara. Pasti meluknya erat banget terus gak lepas-lepas, saking kangennya. Hehe“ ucap Ara. Sementara sang paman membalas dengan senyuman.

Ara dan Om pun tiba di Jakarta.
“Loh Om, Kok ke rumah Tante Mia? Bukannya kita mau ketemu Papa?“ tanyanya, heran.
“Iya sayang, kita ketemu Papanya di sini“ jawab Om.
“Kenapa Om? Kata Om, Papa punya rumah di Jakarta. Kenapa kita gak ke rumah Papa aja, langsung? Kan Ara pengen tahu rumah Papa, biar Ara bisa sering-sering main ke rumah Papa.“
“Ara, Papa kamu kan uda punya kehidupan sendiri. Di rumahnya, bukan cuma Papa kamu aja yang tinggal. Tapi ada orang lain juga. Kamu gak mau kan mengganggu mereka?“
“Tapi Ara kan anaknya Papa. Ara juga gak akan ganggu orang lain kok.“
“Ya udah nanti lain waku ya sayang. Sementara,sekarang kita ketemu Papanya di sini dulu. Sebentar lagi Papamu datang, cuci muka dulu gih! Biar gak kucel tuh mukanya. Masa mau ketemu Papa kok kucel gitu!“
“Iya Om“

Setelah selesai mencuci muka, Ara kembali duduk di teras rumah tantenya. Ia begitu tak sabar menunggu kedatangan ayahnya. Beberapa saat kemudian tampak sosok laki-laki gagah mengenakan jaket kulit warna hitam, turun dari sepeda motornya. Laki-laki itu semakin mendekat ke arah Arah. Dalam hati Ara bergumam, “Gak salah lagi, itu Papa. Ya Tuhan, apa aku sedang bermimpi? Papaku yang selama ini ku anggap mati, ternyata sekarang ada di hadapanku. Bahkan ia tampak lebih gemuk dibandingkan dengan yang aku lihat di foto.“
“Asalamualaikum“ ucap sang Papa.
“Waalaikumsalam“ jawab Ara dan Om.

Saat itu juga Ara berharap apa yang dibayangkannya menjadi kenyataan. Ia selalu membayangkan pertemuan pertama itu adalah hari yang paling indah. Dimana ayahnya akan memeluknya erat-erat, membelainya, dan mencurahkan segenap kerinduan layaknya sosok ayah yang merindukan anaknya. Tapi ternyata semua jauh dari apa yang ia bayangkan. Sang ayah hanya menyodorkan tangan kanannya untuk kemudian ia cium.
“Ini Ara ya?” Tanya Papa.
“Iya Pa, ini Ara” jawab Ara.
“Kamu masih sekolah?”
“Masih Pa.”
“Kelas berapa?”
“Kelas enam”
“Yang rajin sekolahnya, biar pintar!”
“Iya Pa.”
“Mama kamu sehat?”
“Sehat Pa, Papa sehat?”
“Iya, Papa sehat.”

Tak ada perbincangan yang berarti di antara mereka. Bahkan Ara yang sebelumnya membayangkan pertemuan itu adalah awal yang baik untuk ia mencurahkan rindunya terhadap sang ayah, ternyata pupus. Yang ia rasakan justru sebaliknya. Ia merasa asing di mata sang ayah juga menganggap ayahnya asing di matanya. Ara justru tampak canggung untuk bermanja-manja kepada ayahnya, karena nyatanya sang ayah tak memberikan kehangatan sama sekali untuknya. Penantian Ara selama 12 tahun, terbayar dengan pertemuan yang hanya setengah jam saja. Hati Ara menangis, ia masih ingin memandang wajah ayahnya.
“Pa, kenapa buru-buru? Ara masih kangen” ucap Ara.
“Papa ada kerjaan. Nanti lain waktu kita ketemu lagi ya!“

Ara tertunduk lesuh. Saat sang ayah akan beranjak, seketika itu juga Ara menahan ayahnya sejenak.
“Tunggu Pa!” serunya.
“Iya Ra, ada apa? Papa buru-buru.”
“Ara minta nomor telepon Papa, boleh?”
“Iya, boleh. Kebetulan Om mu tadi sudah mencatat nomor telepon Papa, nanti kamu minta aja sama dia ya!”
“Baik Pa.”
“Ya sudah, Papa pamit. Asalmualaikum!”
“Waalaikumsalam.”
Ara hanya diam. Air mata yang ingin ia keluarkan, tertahan. Teriakkan serta tangisan yang ingin ia pecahkan, menggumpal jadi satu dalam hati yang kini mengiba. Ya, sebenarnya ia mengiba. Mengiba kasih sayang serta sentuhan seorang ayah. Hari telah berlalu, kehidupan masih terus berjalan. Sekalipun Ara tak bisa membawa ayahnya ikut bersamanya pulang, tapi itulah yang harus Ara jalani. Ia tak pernah merasa sendiri, karena masih ada sang ibu yang begitu luar biasa menyayanginya.
***

“Ra, bulan depan sekolahmu udah mulai ujian ya?” tanya Mama kepada Ara.
“Iya Ma. Tenang aja, Ara udah mulai siap-siap kok Ma. Ara udah belajar rajin dari biasanya. Kan biar lulus, terus bisa masuk SMP favorit. Hehe!“
“Mama senang lihat kamu semangat. Tapi kali ini Mama gak bisa sendirian Ra.“
“Maksud Mama?“
“Kamu harus lanjut sekolah, tapi Mama gak bisa sendirian membiayai kamu. Order jahitan lagi sepi. Mau gak mau kita harus minta tolong Papamu.“
“Ya udah Ma, ayo kita telepon Papa! Ara masih nyimpen nomor teleponnya kok.“
“Udah malam Ra, besok aja ya!“
“Iya Ma.“

Keesokkan harinya setelah pulang sekolah, Ara pergi ke Wartel. Sang ibu tidak bisa menemaninya karena harus menyelesaikan jahitan.
“Halo!“ Ara mendengar suara wanita mengangkat teleponnya.
“Halo!“ sahut Ara, “Bisa bicara dengan Bapak Wilyo?“
“Ini siapa ya?“

Saat ditanya seperti itu, Ara bingung haru jawab apa. Ara yakin suara wanita itu adalah suara istri ayahnya. Ara gugup tiba-tiba. Ia langsung menutup teleponnya. Tapi mengingat dia harus bicara dengan ayahnya, ia putuskan untuk menelepon lagi.
“Halo!” kembali terdengar suara perempuan itu.
“Bisa bicara dengan Bapak Wilyo?”
“Kamu yang tadi telepon kan?”
“Iya Bu.”
“Kamu siapa?”
“Aku Ara“
“Ara? Tunggu, tunggu kayaknya aku pernah dengar nama itu.“
“Aku Ara, anaknya Papa Wilyo.“
“Ohh jadi kamu! Ada apa kamu nyariin Papa kamu? Papa kamu gak ada.Udah, jangan telepon-telepon lagi!”

Wanita itu langsung menutup teleponnya. Ara semakin terguncang. Ia bingung apa yang harus ia katakan kepada ibunya. Berkali-kali ia mencoba menghubungi nomor itu kembali. Tapi berkali-kali juga wanita itu yang mengangkat teleponnya. Bukan jawaban dari sang ayah yang ia dapat, melainkan cacian dari ibu tirinya, istri ayahnya.
“Gimana Ra? Apa kata Papamu?“ tanya Mama sesampainya Ara di rumah.
“Papa lagi gak ada di rumah Ma. Kayaknya di rumahnya gak ada siapa-siapa deh. Soalnya Ara coba hubungin berkali-kali tapi gak ada yang angkat telepon Ara.“
“Oh…ya sudah, besok kita hubungin lagi!“
Ara tak sanggup menceritakan kepada ibunya tentang kejadian saat ia menghubungi ayahnya. Sekali lagi air mata Ara tertahan, tapi saat ini ia menahan air matanya karena ia tak mau sang ibu mengetahui bahwa betapa sakit hatinya.

Hari berikutnya Ara kembali ke Wartel. Kali ini sang ibu menemaninya.
“Biar Mama aja yang ngomong sama Papamu.“
“Iya Ma.”

Ara yang menunggu di luar Wartel, melihat wajah sang ibu di dalam Wartel yang kacanya tembus pandang tampak kesal. Entah apa yang sedang terjadi dengan pembicaraan antara mama dan papanya. Ibunya tampak sedang berdebat dengan ayahnya. Entah apa yang sedang diperdebatkan. Saat itu Ara hanya bisa melihat tanpa mendengar. Beberapa saat kemudian sang ibu keluar dari dalam Wartel.
“Gimana Ma?“ tanya Ara, penasaran.
“Papamu bersedia membantu. Walaupun tadi harus Mama paksa dulu. Mama berhak memaksa, karena ini kan demi kepentingan kamu, anaknya. Kamu berhak mendapatkan apa yang seharusnya kamu dapatkan dari seorang ayah.“
Satu bulan kemudian Ara masuk SMP. Belum lama ia menjadi siswa SMP, sang ibu memutuskan menikah lagi. Ara tak bias melarangnya. Ara berharap lelaki pilihan ibunya akan bisa meringankan beban mereka, terutama membantu perekonomian mereka juga bisa menjadi sosok ayah yang ia dambakan. Tapi keadaan tidak berubah. Pekerjaan ayah tirinya yang menjadi buruh serabutan tak membuat perubahan berarti dalam perekonomian mereka. Bukan hanya itu, Ara juga tidak pernah bisa merasa nyaman dekat dengan ayah tirinya. Sekalipun tahun sudah berganti tahun ia hidup satu atap dengan ayah tirinya, ia masih menganggap ayah tirinya asing. Entah apa yang menyebabkan Ara tak bisa dekat dengan ayah tirinya.
***

Ujian Nasional sudah di depan mata. Di saat yang lain sibuk memikirkan harus melanjutkan ke SMA mana setelah lulus SMP nanti, tapi Ara tidak. Ia menyadari perekonomian keluarganya tak seberuntung teman-temannya. Ia tak berani menghubungi ayahnya lagi untuk meminta tolong.
“Ra, Mama udah menghubungi Papamu berkali-kali tapi gak ada jawaban” ujar Mama.
“Mama telepon Papa? Kenapa Ma? Gak biasanya Mama telepon Papa.“
“Mama gak mau kamu putus sekolah. Mama pengen kamu sekolah setinggi-tingginya. Mama pengen lihat kamu jadi guru.“
“Ara pengen bantuin Mama aja. Ara gak mau nyusahin Mama lagi. Ara ga apa-apa kok Ma sampai SMP aja sekolahnya.”
“Tapi masa depan kamu yang kenapa-kenapa kalau kamu putus sekolah. Ijazah SMP bisa buat apa? Pokoknya gimanapun caranya kamu harus lanjut ke SMA. Mama akan usaha sebisa Mama.“
“Tapi masuk SMA itu butuh banyak uang Ma.“
“Kalau Papamu gak mau bantu, Mama bisa jual motor Mama.“
“Jangan Ma! Itu kan buat nganter-nganterin jahitan. Mama bakalan repot kalau gak ada motor itu.”
“Udah, kamu jangan mikirin masalah itu! Yang penting kamu bisa tetap sekolah.“
Sang ibupun menjual motornya untuk bisa membiayai Ara masuk SMA. Motor yang selama ini berperan penting dalam pekerjaannya. Motor yang baru lunas satu bulan yang lalu itu kini terpaksa ia jual demi menyekolahkan anaknya. Terlebih lagi Ara adalah anak satu-satunya. Hanya Aralah yang nantinya bisa mengangkat derajatnya.

Setelah lulus SMP, Arapun akhirnya melanjutkan SMA. Hari itu adalah hari pertama Ara masuk sekolah di SMA.
“Hei, aku Shita“ ajaknya berkenalan.
“Aku Ara“ sambil melontarkan senyuman, “Duduk sama aku aja!“ ujar Ara.
“Boleh?“
“Ya boleh dong.“
“Makasih ya.“
“Sama-sama.“

Hari-hari berikutnya Arapun berteman dekat dengan Shita. Bahkan mereka menjadi bersahabat. Ara menilai Shita adalah sosok yang menyenangkan dan berbeda dengan teman-teman lainnya. Begitupun sebaliknya. Tak jarang mereka saling mencurahkan isi hati satu sama lain. Di kelas XI, Ara dan Shita di tempatkan satu kelas lagi.
“Ara, kita satu kelas lagi!” teriak Shita.
“Iya Ta? Yee….akhirnya doaku terkabul bisa sekelas sama kamu lagi.”
Tampak kebahagiaan di wajah mereka. Ara merasa beruntung memiliki sahabat seperti Shita, begitupun Shita.

Di kelas XI, gadis yang polos itu mulai mengenal cinta. Ya, Ara telah tumbuh beranjak dewasa. Usianya kini tidak lagi 12 tahun. Usianya sudah hampir 17 tahun.
“Ra, kok ngelamun! Ngelamunin apa sih?“ tegur Shita.
“Ah gak, gak ngelamun kok!“ sangkal Ara.
“Bohong, orang dari tadi bengong gitu. Ngelamunin Ferdi ya? Hayo ngaku! Ciyee…!“ sindir Shita.
“Ah apaan sih kamu Ta!“ ucap Ara, tersipu malu.
“Eh..eh..eh..tuh lihat! Ferdi nyamperin kita. Ehem, aku pergi aja deh. Biasa aja ya Ra, jangan salting! Hahahahaha…!“ ledek Shita.

Shitapun pergi, sementara Ferdi menghampiri Ara.
“Ra, kok gak ke kantin?“ tegur Ferdi.
“Iya Fer, lagi males aja.“ Jawab Ara.

Ara memang kerapkali tidak ke kantin, lantaran ia harus berhemat. Selain itu juga karena uang sakunya tak jarang hanya cukup untuk ongkos kendaraan (angkot).
“Aku mau tanya serius Ra sama kamu“ ujar Ferdi.
“Tanya apa Fer?“ ucap Ara.
“Tanya…em…aduh aku bingung nih ngomongnya” Ferdi tampak gelisah, begitu juga Ara.
“Kok bingung? Ngomong aja!” desak Ara.
“Perasaan kamu ke aku, gimana?“
“M…maksud kamu?“ Ara kaget.
“Aku sayang sama kamu, Ra. Boleh aku jadi pacar kamu?“

Saat itu Ara bingung harus jawab apa. Ara juga menyayangi Ferdi, tapi ini kali pertama ia mengenal cinta sehingga ia tak cukup tahu apa yang seharusnya ia lakukan, dan harus seperti apa ia menyikapi perasaannya sendiri. Ara takut menjadi egois karena cinta, sehingga ia akan mengacewakan ibunya.
“Ra, kok diem?“ tegur Ferdi.
“Oh..em, maaf. Aku kaget aja kamu ngomong gitu.“
“Gimana Ra, boleh?“ tanya Ferdi sekali lagi.
“Jujur aku bingung Fer. Aku gak bisa jawab sekarang. Kasih aku waktu ya!“ pinta Ara.
“Baiklah. Aku akan terima apa pun jawabannya Ra. Makasih ya sebelumnya.”
“Sama-sama Fer. Besok jam istirahat kamu temui aku lagi ya, aku akan kasih jawaban ke kamu.”
„Oh iya Ra, pasti, pasti aku akan temui kamu besok.“

Sepanjang malam itu Ara tak bisa dengan segera terlelap tidur. Hatinya masih berkutat dengan kebimbangan. “Tuhan, perasaan ini sungguh tulus menyayangi Ferdi. Dia baik, dia berbeda. Aku jatuh cinta padanya. Tapi adilkah ini, Tuhan? Adilkah ini untuk Mama? Jika saja akhirnya aku mengecewakan Mama, aku akan sangat menyesal.“ Hati Ara berdesir penuh bimbang. Tapi keesokkan harinya,
“Fer, aku udah janji bakal kasih jawaban ke kamu hari ini“ ucap Ara kepada Ferdi.
“Iya Ra, jawaban kamu apa?“ tanya Ferdi, cemas.
“Aku juga sayang kamu.”
“Itu artinya…?
“Ya, kamu boleh jadi pacar aku.”
“Sungguh Ra? Makasih Ra, aku seneng banget. Makasih sayang, makasih. Upst keceplosan. Hehe, jadi malu.”
“Hehe, iya gak apa-apa kok.”
Sejak saat itu Ara dan Ferdi resmi berpacaran. Hampir setiap hari mereka pulang sekolah bersama. Kebetulan mereka satu arah. Gaya pacaran mereka tak seperti remaja nakal yang haus akan cinta. Ara dan Ferdi memang mesra, tapi mesra mereka dalam bentuk saling menasihati, mengingatkan, bertukar pikiran dan hal-hal positive lainnya. Bentuk kasih sayang mereka, mereka curahkan dengan perhatian. Ferdi selalu memanjakan Ara dengan kata-katanya, bukan dengan pelukan, ciuman dan sebagainya. Suatu ketika Ferdi mengirimkan pesan melauin ponselnya (SMS).
Ku merasa bahagia saat aku di sisimu
Bahkan dirimu berikan aku sebuah arti
Arti yang tak akan bisa kupungkiri
Cinta yang kau beri
Kasih sayangmu kepadaku
Kan menyatu dalam hatiku
Sungguh…
Rasa cintaku padamu
Rasa sayangku kepada dirimu
Akan selamanya bersatu dalam hatimu
Kita berdua akan selalu bersama
Tuk selama-lamanya.
Kata-kata Ferdi selalu bisa membuat Ara membumbung, mengawang. Saat Ferdi bersyair untuk dirinya walaupun melalui SMS, sudah cukup membuat hatinya merekah. Ia bahagia, Ferdi telah membuatnya tak merasa layu lagi.
***

Beberapa hari kemudian, tepat hari libur sekolah. Ara diajak sang paman pergi ke Jakarta. Pada saat itu juga Ara berinisiatif untuk menemui ayahnya kembali. Kali ini ia datangi kediaman ayahnya. Ia tidak sendiri, ia ditemani Om dan sepupunya. Ara sangat berharap kedatangannya disambut baik oleh ayah dan keluarga tirinya. Arapun tiba.
“Asalamualaikum“
“Waalaikumsalam“ sang ayah membuka pintu. Ara lega, ternyata ayahnyalah yang membukakan pintu. Ara memang tidak mau jika ibu tirinya atau saudara tirinya yang membukakan pintu.
“Ayo masuk, masuk!” ajak sang ayah.
“Lastri! Kakakmu datang ni” sang ayah memanggil Lastri, anak dari hasil pernikahan ke duanya.

Lastripun ke luar, tapi ia tidak sendiri melainkan ada sang ibu yang ikut serta menuju ruang tamu untuk menemui Ara, Om, dan sepupunya.
“Eh ada tamu agung toh!” ujar ibu tiri Ara. Sementara Lastri hanya diam. Tatapan mata keduanya penuh sinis terhadap Ara. Bahkan sang ayahpun lebih memilih banyak diam dibandingkan bicara. Sekali lagi hati Ara terluka. Harapannya selalu hilang, harapan indah saat bertemu sang ayah justru mencabik-cabik hatinya. Ia ingin sekali bisa menangis di hadapan ayahnya agar ayahnya tahu bahwa ia selama ini sangat merindukannya, sangat membutuhkannya, dan terluka atas sikap acuhnya.
Tapi Ara tegar, ia tak mau hati om dan sepupunya ikut terluka karena melihat ia menangis. Sebelum akhirnya memutuskan pergi dari rumah ayahnya, Ara sempat memotret adik tirinya. Keesokan harinya Ara kembali tiba di rumah. Dan menceritakan kepada ibunya tentang kejadian di rumah ayahnya. Ya, Ara tidak mendapat apa-apa. Ara pun menunjukkan foto adik tirinya kepada sang ibu. Setelah mendengar cerita Ara dan melihat foto Lastri, sang ibu kesal.
“Udah Mama bilang, percuma kamu temuin Papa kamu! Apa yang kamu dapat? Ga dapat apa-apa kan? Kamu malah direndahkan seperti itu. Pokoknya suatu saat nanti kamu harus sukses, Ra! Buktikan sama papa kamu kalau kamu bisa!“ tukas Mama.
Ara menangis, ia tak sanggup lagi menyembunyikan kesedihannya. Terlebih lagi melihat pembelaan sang ibu untuknya, hati Ara seakan menjerit. “Tuhan, sesulit dan sepahit inikah hidupku?“ desirnya merintih.

Hari terakhir libur sekolah, Shita datang ke rumah Ara. Namun Ara tidak ada di rumah.
“Tunggu aja dulu Ta! Bentar lagi juga Ara dateng kok. Sini, sini masuk, ngobrol-ngobrol dulu sama Tante!“ ujar ibu Ara.
“Iya Tante, makasih“ jawab Shita.
“Tante seneng kamu datang ke sini. Sebentar lagi kalian kelas XII. setelah lulus, nanti kamu mau kuliah di mana?“
“Kuliah? Belum tahu Tante. Pengennya sih kuliah, tapi mengingat kedua orangtuaku kondisi ekonominya elit (ekonomi sulit) gak tahu deh Tante. Kalau ada rezki ya alkhamdulillah. Kalau gak, ya aku kerja aja Tante. Bantuin Mama, Papa.“
“Iya ya Ta, orang-orang kayak kita ini Cuma punya mimpi. Jaman sekarang semua serba uang. Tante sih pengen Ara bisa kuliah, tapi jujur Tante gak sanggup membiayai Ara kuliah. Kalau kalian pengen kuliah, mulai dari sekarang harus rajin-rajin cari beasiswa. Tapi mending cari kerja aja deh Ta, cari uang! Sukses kan gak harus kuliah dulu, yang penting kalian terampil dan punya kemauan pasti bisa sukses!“
“Iya Tante, bener“

Tiba-tiba Ara datang.
“Eh..ada Shita! Udah lama Ta?” Tanya Ara.
“Lumayan Ra. Hehe.”
“Maaf ya jadi nunggu, abis kamu gak bilang sih mau ke sini!”
“Iya, santai aja lagi!“
***

Suatu hari Ara pergi mendatangi konser musik The Masiv dengan Lala. Lala adalah teman SDnya. Rumah Lala juga tak jauh dari rumah Ara. Lala pernah mengantar Ara ke suatu tempat, Lala pernah menolong Ara. Dan Ara pikir, ia harus membalas kebaikan Lala. Terpaksa ia mengikuti ajakan Lala yang mengidolakan The Masiv untuk menonton konsernya. Konser tersebut diadakan di Stadion yang letaknya tak jauh dari sekolah Ara. Konser dimulai sore hari. Jam sudah menunjukka pukul 18.30 WIB. Ara panik, tak biasanya ia berada di luar rumah hingga petang. Takut sang ibu cemas dan memarahinya, akhirnya dengan tak enak hati ia meninggalkan Lala. Arapun pulang. Sesampainya di rumah, sang ibu menyambutnya. Kali ini Ara disambut dengan wajah kesal ibunya. Dan hal yang ditakuti Ara terjadi, ibunya sangat marah. Saat itu Ara bagaikan sedang mimpi buruk. Gagang sapu melayang ke tubuhnya. Berkali-kali sang ibu memukulinya. Ara menangis, ia kesakitan tapi ia sadar bahwa ia bersalah.
“Mau jadi apa kamu? Tugas kamu belajar, bukan malah keluyuran nonton konser! Sama siapa kamu pergi? Sama siapa? Jawab!“ ujar sang ibu, meletup-letup penuh emosi.
“Lala Mah“jawab Ara dalam isak.
“Lala? Sejak kapan kamu bergaul sama dia? Mama gak suka! Ngerti? Ini cukup pertama dan terakhir kalinya!“ seru sang ibu, kemudian pergi meninggalkan Ara dengan muka merah padam. Ara masih kesakitan. Bukan hanya tubuhnya yang sakit, tapi hati dan batinnya ikut mengerang penuh sesal karena telah membuat sang ibu kecewa.

Keesokan harinya Ara menceritakan apa yang telah dialaminya kepada Shita.
“Yang sabar Ra! Mama kamu kayak gitu pasti karena beliau gak mau anaknya jadi gak bener. Mama kamu sayang banget sama kamu kok Ra” ucap Shita.
“Iya Ta, aku tahu. Aku sering kok ngrasain ini, Mama sering mukulin aku kalau emang bener-bener merasa kecewa. Dan setiap Mama nglakuin itu, aku sadar kalu aku salah. Cuma cara Mama negur aku yang aku anggap keterlaluan. Apa mama kamu juga kayak gitu Ta?“
“Setiap orangtua punya cara sendiri untuk mendidik anaknya, Ra. Dan itu semua gak tanpa alasan. Mama kamu pengen kamu jadi anak yang kuat. Pokoknya, yang penting kamu jangan buat mama kamu kecewa lagi ya ke depannya!“
“Makasih ya Ta, kamu yang selalu bisa nenangin aku.“
“Sama-sama Ra, ini kan gunanya sahabat?“

Pada saat jam istirahat, Ara menemui Ferdi.
“Fer, aku mau ngomong sesuatu“ ujar Ara kepada Ferdi.
“Iya Ra, ngomong apa?“
“Aku sayang sama kamu. Tapi aku gak bisa nglanjutin hubungan ini.“
“Loh…kenapa Ra?“

Pada saat itu juga Ara menceritakan kejadian yang telah menimpanya. Selain kepada Shita, ia juga tak jarang menceritakan keluh kesahnya kepada Ferdi.
“Aku gak mau ngecewain Mama lagi, Fer. Aku juga gak mau Mama bakalan lebih marah dari kemarin kalau akhirnya Mama tahu kalau aku pacaran“ tambahnya.
“Iya Ra, aku ngerti. Aku bisa ngomong apa? Itu keputusan kamu. Bagi aku masalah status hubungan gak terlalu aku permasalahkan. Yang penting kita sama-sama saling sayang. Aku sayang kamu Ra. Aku terima keputusan kamu.”
“Makasih Fer.” Mereka saling memandang dan tersenyum.
Hari-hari berikutnya kembali Ara jalani dengan normal. Kurikulum di kelas XI hampir selesai. Hingga akhirnya ia dan teman-temannya sampai di kelas XII. Di kelas XII inilah para siswa dituntut untuk belajar lebih serius lagi. Mereka dituntut untuk siap menghadapi Ujian Nasional dan lulus dengan nilai yang baik. Ujian Nasionalpun di depan mata. Sebelum Ujian Nasional tiba ternyata Ara telebih dahulu dihadapkan oleh suatu ujian dalam keluarganya. Sang ibu bertengkar hebat dengan suaminya, ayah tiri Ara. Ia menyaksikan pertengkaran itu. Bukan hanya adu kata, ternyata sang ayah tiri tega manyakiti fisik ibunya. Ara tak bisa berbuat apa-apa, ia ingin sekali mengajak ibunya lari bersamanya. “Tuhan, ujian apa lagi ini?“ keluhnya.

Ara menjadi tidak konsentrasi belajar. Ara sempat putus asa. Dua hari kemudian , setelah pertengkaran itu, sang ibu menghampiri Ara.
“Ra, Mama gak kuat. Mama pengen pergi aja dari rumah. Kita tinggalin laki-laki itu Ra. Mama udah gak sanggup hidup serumah dengan dia lagi” ucap sang ibu dalam tangis.
“Ara ikut apa kata Mama aja. Ara sayang Mama“ jawab Ara juga dalam tangis.
Tapi ternyata bukan mereka yang pergi dari rumah, melainkan ayah tiri Aralah yang terlebih dahulu meninggalkan mereka.

Seminggu kemudian, Ara tersentak mendengar pernyataan ibunya.
“Ra, Mama mau ke Saudi. Surat-surat keberangkatana dan sebagainya udah diurus sponsor. “ ucap sang ibu.
“Mama lagi bercanda kan?”
“Gak Ra. Mama serius. Mama pengen kamu kuliah. Mama gak punya keahlian lain selain menjahit. Di Saudi, Mama akan ditempatkan kerja menjadi penjahit. Ara izinin Mama ya!“
“Tapi Ma, Ara gimana?“
“Ara akan baik-baik aja. Kamu bisa tinggal dengan Tantemu, biar rumah kita dikontrakkan. Uang hasil kontrakkannya bisa buat keperluan kamu sehari-hari.“
“Mama tega tinggalin Ara?“
“Tega gak tega Ra. Mama harus pergi demi masa depan kamu.“

Dengan berat hati akhirnya Arapun berkata,“Ara gak bisa melarang Mama. Yang penting Mama jaga diri ya kalau udah di sana!“
“Pasti Ra.“

Dua hari berikutnya sang ibu berangkat ke penampungan, di daerah Jatiasih, Bekasi. Ujian Nasional sudah semakin di depan mata, empat hari sebelum ujian, Ara memutuskan mendatangi ibunya di penampungan untuk meminta doa restu. Dan pertemuan itu menjadi pertemuan terakhir mereka untuk sementara. Hari ketiga Ujian Nasional, disaat Ara harus berjuang menjawab soal-soal, pada hari yang sama sang ibu berangkat ke Saudi. Sekali lagi Ara tegar. Ia tak mau mengecewakan ibunya. Ujian Nasionalpun selesai. Setelah lama menanti hasil ujian Nasional, akhirnya hari itu tiba. Dimana hasil Ujian Nasional akan segera diketahui. Ara dan teman-teman satu sekolahnya, dinyatakan seratus persen lulus.
“Alkhamdulillah aku lulus!!!” teriak Ara, “Mama, aku lulus!” teriaknya lagi.
Semua siswa bersorak sorai, mereka bahagia, mereka lega.
***

“Ra, gimana? Uadah daftar?” Tanya Shita kepada Ara.
“Untuk tahun sekarang di UPI untuk jurusan PGSD gak ada ujian tertulis Ta. Jadi aku daftar ke UNY. Doain ya..!”
“Siip…doain aku juga ya! Besok aku mau melamar kerja.”
“Pasti. Melamar kerja di mana Ta?“
“Di Hotel, temanku bilang ada lowongan resepsionis. Hotel baru sih, hotelnya juga gak gede-gede amat, masih bintang dua. Tapi aku berharap banget bisa diterima Ra.“
“pokoknya aku selalu doain kamu, Ta. Good luck ya!“
“Thanks Ra, kamu juga ya…good luck!“
Satu minggu kemudian Ara mengikuti SNMPTN di UNY. Dua minggu setelahnya, Ara mengetahui hasilnya. Ara terpukul, ia gagal. Sementara Shita diterima kerja sebagai Resepsionis di hotel tersebut.

Setelah gagal di UNY, Ara memutuskan untuk menunda satu tahun kuliahnya. Ia berkeputusan untuk bekerja terlebih dahulu, yang membuat ia semangat ialah kesempatannya untuk mengikuti SNMPTN jurusan PGSD di UPI tahun depan. Karena ternyata informasi yang dulu ia dapat, salah. Seharusnya waktu itu ia bisa daftar SNMPTN UPI PGSD, hanya saja missed komunikasi yang membuat ia kehilangan kesempatan itu.
“Pokoknya tahun depan aku harus diterima di UPI. Aku harus bikin mama bangga. Aku akan jadi guru, seperti harapan Mama“ gumamnya penuh semangat.

Ia tak lantas lost contact dengan sang ibu begitu saja. Satu bulan sekali sang ibu pasti menghubunginya.
“Ma, aku gagal masuk UNY. Maafin Ara Ma!“ ujar Ara.
“Ya udah gak apa-apa, masih ada kesempatan kok. Kerja aja dulu, tahun depan ikut Tes lagi! Mama selalu mendoakan kamu.“
“Makasih Ma.“
“Kamu di sana hati-hati ya. Gak ada Mama, bukan berarti Mama gak ngawasin kamu. Kamu harus mawas diri, jangan neko-neko.jadilah yang Mama banggakan!“
“Insya Allah Ma. Mama juga hati-hati ya di sana. Ara sayang Mama.“

Satu bulan kemudian Ara diterima kerja di salah satu Perusahaan Elaktronik. Tidak genap satu tahun bekerja, Ara memutuskan keluar dari perusahaan itu. Alasannya satu, ia ingin mengejar cita-citanya. Ya, satu bulan lagi ia harus mengikuti SNMPTN jurusan PGSD di UPI. Untuk itu ia harus focus. Agar ia tidak mengecewakan ibunya lagi. Hasilnya? Benar saja, Ara kali ini berhasil. Semua itu berkat kerja keras dan kesungguhannya. Ia langsung mengabari ibunya.
“Ma, alkhamdulillah Ara diterima di UPI“ ucapnya senang.
“Makasih sayang, makasih. Mama seneng dengarnya“ ucap sang ibu.
“Ara yang makasih ke Mama. Ini semua berkat doa Mama. Ara gak mau ngecewain Mama lagi. Cuma ini yang bisa Ara lakuin, Ara pengen wujudin harapan Mama untuk melihat Ara sukses jadi guru. Ara gak akan pernah bisa membalas kerja keras serta kasih sayang Mama ke Ara. Makaihs Ma!“
“Mama ikhlas sayang. Mama gak peduli Mama harus kerja keras kayak gini asalkan kelak Mama bisa lihat kamu sukses dengan gelar Sarjana. Kamu harapan Mama satu-satunya Ra.“
“Iya Ma, Ara janji akan wujudin itu. Mama akan lihat Ara sukses. Mama akan lihat Ara mendapat gelar Sarjana. Mohon doanya ya Ma. Karena dengan doa Mamalah Ara bisa lewatin apapun.“
“Pasti Mama akan selalu mendoakan kamu.“
Beberapa tahun kemudian Ara wisuda. Sang ibu yang telah pulang tiga tahun sebelum hari wisuda Ara, turut menyaksikan hari bersejarah itu. Hari itulah yang ia tunggu-tunggu. Hari dimana ia melihat anaknya memakai Toga pertanda sebentar lagi anaknya resmi menjadi Sarjana. Ya, ia sangat bahagia. Penuh haru ia manyaksikan wisuda Ara. Rasa syukur kepada Tuhan tak henti-hentinya ia ucapkan. Kerja kerasnya selama ini berbuah manis. Kehidupannya yang terjal berakhir mulus. Puteri kebanggaannya telah benar-benar membuat dia bangga. Ia kini merasa terbangun dari mimpi. Dimana anaknya akan mewujudkan mimpi-mimpi itu, mengubah kehidupannya yang gelap menjadi terang, itulah harapannya.

Beberapa saat kemudian Ara menghampiri ibunya.
“Mama…!“ teriak Ara. Ia langsung mencium tangan ibunya, berlutut serta mencium kaki ibunya. Keduanya berada dalam peluk dan isakan tangis yang tak henti-hentinya. Isakan tangis itu bukanlah isakan tangis beberapa tahun yang lau, dimana saat itu adalah isakan yang penuh kegetiran, kali ini isakan tangis itu penuh kebahagiaan.
“Makasih sayang, makasih” ucap Mama.
“Makasih Ma” sahut Ara, mereka masih saling berpeluk.
“Mama bangga sama kamu. Kamu udah berhasil mewujudkan impian Mama. Tapi ini bukan akhir Ra, kamu masih harus jauh melangkah ke depan untuk bisa mengeluarkan kehidupan kita dari gelap. Kamu yang Mama harapkan Ra. Dengan ini, mudah-mudahan sedikit demi sedikit kehidupan kita akan menjadi lebih baik. Kamu gak boleh mempunyai nasib seperti Mama. Kamu harus lebih terang dari bintang. Kamu harus lebih harum dari mawar. Mama yakin anak Mama pasti bisa. Jadilah orang yang berguna sayang, yang amanah serta bertanggung jawab! Lakukanlah yang seharusnya kamu lakukan! Sebagai orangtua, Mama hanya bisa mendoakan. Doa Mama akan selalu tercurah buat kamu sampai Mama menutup mata untuk selama-lamanya.“
“Makasih Ma, Ara akan sukses buat Mama. Wisuda hari ini, juga kerja keras Ara ke depannya atau bahkan jika Ara benar-benar sukses nanati, semua itu persembahan buat Mama.“
Setelah itu merekapun pulang. Sungguh perjalanan yang indah walau terjal. Keindahan itu tercipta karena adanya ketabahan, keyakinanan, kerja keras dan ketaatan kepada Tuhan. Ara dan ibunya telah membuktikan mengubah kesulitan mereka menjadi mudah dan ketidakberadyaan itu menjadi kekuatan yang luar biasa. Kesulitan-kesulitan yang ada serta tempaan hidup yang bertubi-tubi justru membuat mereka kuat. Kebahagiaan tak bergantung pada kekayaan materi. Tetapi kekayaan hati serta keyakinan terhadap diri sendiri dan terhadap Tuhanlah yang menghantarkan mereka pada kebahagiaan abadi. Keep fighting.

-The End-

PROFIL PENULIS
Rita Lestari
Cirebon - Jawa Barat
Email: rita_lestari93@yahoo.co.id
Fb: aTir_b4g1@yahoo.com

Jumat, 27 Juli 2012

Cerpen Cinta Ibu - Suapan Pertama Untuk Emak

SUAPAN PERTAMA UNTUK EMAK
Karya Ta_wilisTazkiyah

Sahur…Sahur…Sahur…Sahur…
Sahur…Sahur…Sahur…Sahur…
Sahur…Sahur…Sahur…Sahur…
Dung…Dung… Tok…Tok….

Iringan kentongan terdengar mendekat, suara kokokan ayam semakin jelas beriringan suara khas kodok yag tak mau ketinggalan dalam konser dini hari itu. Terhitung beberapa detik kemudian suara kentongan mulai menjauh tinggal kokokan ayam dan nyanyian kodok yang masih bertahan dalam konsernya. Ku mulai terbangun dan menyadari bahwa hari ini adalah hari pertama puasa di Bulan Ramadhan. Bergegas bangkit dari kasurku dan menuju ke dapur belakang rumah. Dengan langkah gontai ku dapati Emak sudah bangun dan sedang khusyuk bersujud. Subhanallah Emak masih sholat tahajjud.
Ku ambil air wudhu dan menyusul di samping Emak untuk sholat tahajjud. Emak yang saat itu sudah selesai beranjak menuju dapur. “Arep Nggawe Supermi sik nduk.” suara emak begitu berat ku dengar, sesekali mengusap tetesan air mata yang sempat mampir di pipi Emak.

Selesai bermunajat pada NYA, ku bergegas menuju dapur belakang.
“Nduk iki segane kari sithik. Di bagi wae ya. Emak wis ra nduwe beras.” Emak menuangkan nasi di piring-piring membaginya menjadi lima bagian.
“Nggih mak” Jawabku singkat. Seketika linangan air mata nyaris terjatuh. Cepat ku mengusapnya tak mau Emak melihat menangis.
“Mak.. sudah matang belum mienya?” Ku mendekat hingga berda di samping Emak. Emak yang saat itu dengan sigap membagi mie itu pada lima piring yang sudah berjajar di meja makan.
“Lho mak kok Cuma lima piring? Emak nggak sahur?” Tanya ku
“Emak nggak usah makan nduk.. Emak cukup minum air putih saja. Udah..sana bangunkan adik-adikmu sama Bapakmu. Ayo kita sahur.” Senyum Emak mengembang.

Aku bergegas pergi dari samping Emak. Bukan apa-apa hanya saja air mata ini tak bisa ku tahan lagi. Hingga sesaat ku terdiam di kamar sebelum membangunkan adik-adikku.
“Ya Rabb…kuatkanlah hamba.” Desahku saat itu.

Ya..itu lah sedikit gambaran tentang sifat Emak yang selalu mengalah untuk anak-anaknya. Lebih dari itu bagiku Emak adalah sosok yang tangguh tak pernah mengenal kata lelah dalam hidupnya. Apalagi lelah untuk memperjuangkan putra-putranya demi memperoleh pendidikan yang layak. Ku yang sekarang bisa menikmati bangku salah satu universitas di Kota Pahlawan itu juga berkat perjuangan Emak dan Bapak.
Kondisi keluarga kami memang sedang diuji dengan kondisi ekonomi yang semakin kerdil hingga bisa dibilang kami sedang berada di ujung tanduk. Emak yang membatu perekonomian keluarga atau bisa dibilang juga sebagai tulang punggung utama dengan berdagang di Pasar. Sedang Bapak adalah pekerja serabutan yang terkadang bekerja terkadang tidak. Emak dan Bapak memang tidak pernah bersekolah hingga tingkat universitas hanya sampai tingkat SLTP.
Emak adalah sosok wanita yang tabah, Terkadang ku iri dengan semangat juang Emak. Emak tidak bisa berhenti bekerja dan bekerja. Mulai dari menjual sayur di pasar dilanjut dengan jualan gorengan keliling dan terkadang Emak mengerjakan sawah sepetak di samping rumah. Hari-hari Emak begitu melelahkan tapi tak pernah rasa keluh kesah terucap dari mulut wanita paruh baya yang telah mengandung ku itu. Keringat yang bercucuran di bawah teriknya matahari selalu Emak anggap sebagai air yang menyegarkan badannya.

Sudah hampir delapan tahun kondisi keluarga kami memang semakin memburuk dan ku rasa puncaknya adalah sekarang. Adik-adikku harus menanggung beban ketika masa kecil mereka. Seharusnya senyuman, tawa dan canda yang mereka lakukan di masa kecil itu tapi kini mereka harus ikut merasakan pahit dan getirnya kehidupan di keluarga kami. Mereka rela mengalah agar ku bisa terus melaju di bangku universitas. Hingga mereka harus mengenakan pakaian seadanya, makan seadanya, tak pernah membeli perlengkapan sekolah, rela dengan uang saku yang serba pas-pasan dan rela ketika uang yang seharusnya jatah mereka dikirimkan untuk biaya hidupku di Kota Pahlawan. Satu pesan Emak yang selalu di utarakan untuk adik-adikku “Le… Nduk..sak iki ngalah dhisik ya. ben di enggo mbak e dhisik. Mengko nak mbak e wis sukses kan iso gentian.” Ketika Emak mengutarakan nasihat bijaknya itu ku hanya bisa tertunduk menahan air mata agar tak sampai keluar. Dalam hati ku berteriak “Adik-adikku maafkan Mbak ya”
Emak juga selalu berpesan pada ku “Nduk..kowe anak pertama sing bener-bener diarepne Emak. Emak iso ne donga mugo-mugo awakmu lancar nak kuliah trus dadi wong sukses. Sok mben nak wis entuk panggawean ojo sampai lali karo adik-adikmu. Emak Cuma njaluk ayo podo bareng-bareng ngewangi ben adik-adikmu yo isi sukses.”

Hati ini bertambah menjerit dengan harapan-harapan yang selalu disematkan Emak pada ku. Harapan-harapan seorang Emak kepada anak sulungnya yang kini sedang menempuh gelar sarjananya. Harapan-harapan itu selalu ku tempat pada di pundak-pundak ku agar senantisa ku rasakan harapan itu selalu menyertaiku. Harapan yang menjadi semangatku dikala ku lelah dengan kondisi yang ada, kondisi yang membuat semuanya merintih.
***

Ku bangunkan satu persatu adik-adikku dan juga Bapak ku. Mereka bangun dan bersiap makan sahur dengan nasi dan lauk seadanya. Tampak dari wajah-wajah mungil adikku rasa kantuk yang masih mendera. Ya..sebenarnya meraka belum dikenakan kewajiban untuk berpuasa kecuali adikku yang kedua tapi mereka ingin belajar untuk berpuasa di Bulan Ramadhan ini. Kami berkumpul di Ruang kecil yang kami sebut ruang tamu. Dalam keheningan Pagi kami melahap dengan nikmatnya tanpa memperdulikan apa yang kami makan. Ku mendekat pada Emak yang tengah memperhatikan buah hatinya makan dengan lahapnya. Sesekali Emak tersenyum melihat tingkah buah hatinya itu.
“Emak… suapan pertama ini untuk Emak” Suaraku terdengar menahan tangis dan mencoba untuk mendekatkan sendok yang berisi nasi dari piring yang ku bawa ke mulut Emak. Tak menyangka Emak menerimanya dan tampak butiran air mata Emak mulai jatuh.
“Ya Allah kuatkanlah Emak.. Lapangkanlah dada Emak Ya Allah, Lindungilah Emak dari segala marabahaya. Aku sayang Emak Ya Allah.” Doa kalbu yang ku panjatkan saat itu.

Allahu Akbar…Allahu Akbar….. Adzan shubuh bergema di Desa ku tercinta dan saatnya ku mengakhiri cerita tentang kehidupan ini.
SELESAI

PROFIL PENULIS
Nama Pena Ta_wilisTazkiyah, Mahasiwa D4 Jurusan Kesejahteraan sosial di Kampus Peradaban Bandung. Anak sulung dari 4 bersaudara, Kota asal Ngawi Jawa Timur. Terimakasih penulis ucapkan pada kedua orang tua ku dan adik-adik ku tersayang. Juga pada teman-teman yang selalu memberikan motivasi untuk menulis. email : Azq_wilisstks@ymail.com. Hamasah.. Allah tujuan kita ^^ Saran dan kritik bisa di send via email.
Terimakasih

Baca juga Cerpen Cinta dan Cerpen Ibu yang lainnya.

Minggu, 22 Juli 2012

Cerpen Ibu - Salam Surga Untukmu

SALAM SURGA UNTUKMU
Karya Agus Putra

18 tahun yang lalu aku terlahir dari rahim ibuku. 18 tahun yang lalu aku terlahir atas pengorbanan ibuku. Hidup dan matinya menjadi satu, saat itu baginya hidupku adalah cahaya lalu matinya bukan apa-apa. Tuhan sang kuasa menyelamatkanku serta ibu yang telah mengandungku dalam telur emas sebutan orang tua dulu, selama 9 bulan lamanya. Perjuangannya tak sia-sia aku terlahir seperti anak lainnya..atau mungkin. Setelah beberapa minggu kelahiranku, barulah sebuah tinta tercoret di surat kelahiranku. Disana bertuliskan “Glen”, mungkin nama yang terlalu modern untuk seorang desa sepertiku. tapi itulah nama. Nama adalah rejeki, begitu kata orang-orang, tetapi tidak bagiku. Bagiku nama adalah ibu, karena sebuah nama terlahir dari seorang ibu.

Boneka berkepala botak, bertubuh guling menjadi teman penjagaku di usia 2 tahun, disaat gigi dan kaki kecilku mulai menunjukkan ketangkasannya. Gigitan pada hidung boneka itu adalah hal yang selalu kulakukan setiap saat. sehingga terkadang membuat ibu gemas melihatnya, tidak ada boneka itu, berarti tidak ada mimpi yang indah. Walau wajahnya terlihat lelah berada untukku berhari-hari. Sama seperti wajah ibu, tetapi rasa bahagianya menutupi itu.

Ketika usiaku sudah 6 tahun, boneka itu masih saja menemaniku, ia sama seperti ibu. Sampai sekarangpun boneka itu tetap menjadi legenda di balik lemari tua ibuku, ia tertidur seakan aku sebagai tuannya tak ingin menyentuh dirinya, tapi sejujurnya boneka itu seperti ibu, tetapi ibu bukanlah seperti boneka itu, bagiku ibu adalah tuhan. Memberikanku kasih sayang sepenuh hatinya. Hari ini ibu tak ada dirumah, ia baru saja pergi ke supermarket. Melihat beberapa guji di atas lemari itu membuat fikiranku bercerita, guci itu seakan berkata padaku, ia mengatakan lahir, hidup dan mati. Bahkan berulang kali terlintas diotakku, karena merasa tak nyaman aku berhenti memperhatikan, dan membalikkan tubuhku menuju kedalam dapur rumah untuk membuat beberapa sarapan, tetapi kulihat lemari es sudah tak terisi apapun, jika menunggu ibu pasti akan lama, jadi kuputuskan saja untuk membeli mi instan di dekat rumah. Berjalan kaki merupakan hal yang tepat untuk dilakukan, mengingat tokonya yang tak begitu jauh dari rumahku. Seperti biasa aku berjalan dalam rumput mutiara hijau di luar jalan aspal yang terlihat kasar. Tiba-tiba saja terdengar suara rem yang menusuk kupingku, aku membalikkan badan, terlihat sebuah sepeda motor tanpa pengendara meluncur ke arahku. “brakkk” setelah suara itu aku tak ingat apapun lagi.

Aku mulai membuka mata secara perlahan, kulihat beberapa perban membalut tubuhku hingga ke kepala, disampingku, ibu tertidur, sembari menggenggam tisu pada tangan kirinya. Ia tampak menangis melihatku seperti ini, aku tak pernah melihat kesedihan seperti ini sebelumnya. Aku merasa menjadi sorang yang berdosa melihat tuhan dalam hidupku menangis meneteskan air mata sucinya untuk seorang sepertiku. Aku merasa kecewa pada diriku, dan menusuk jiwa hingga fikiranku ingin meninggalkan tubuh ini karena malu. Dalam hati aku berkata pada tuhan “sebuah nama adalah seorang ibu, jika ibu menangis maka nama itu adalah tempat air matanya, tuhan jika nama tak lagi hitam maka jangan biarkan ibu kehilangan air matanya lagi!”.

Dua bulan setelah kesembuhanku, aku mendatangi seorang psikeater, atau lebih tepat disebut orang bijaksana, halus dan tutur kata dan mengena dalam hati serta meresap keseluruh jiwa, kata-kata beliau sangat menginspirasi orang-orang, namanya paul, seorang umat katolik. “lalu apa masalah pada jiwamu Glen?” Tanya paul padaku
“hanya sesuatu yang tidak bisa membuatku lari dari hutang-hutang masa lalu”
“hutang masa lalu itu apa Glen?”
“seperti kelahiranku, dan ibu, aku sayang pada ibuku!”
“rasa sayang seorang anak kepada ibunya adalah normal, ia adalah ibu, karena ibu, benih yang suci tumbuh dan terus menjadi umatnya!”
“aku tidak ingin melihat ibu menangis, aku tak yakin sampai kapan aku akan seperti ini, tidak ada harapan untukku untuk membuat ibu tersenyum!”
“Glen, tidak ada yang harus kalu takuti, tentang kesedihan itu, karena selalu ada harapan!”
Itulah kata-kata terakhir dari paul, membuatku sedikit lega, bukan bermaksud mencampuri kebijaksanaanya, tetapi hanya ingin menambahkan saja, “selalu ada harapan jika kita terus berusaha”, terdengar tidak bagus, tapi maknanya takkan ada yang mengalahkannya.

Hari ini pagi terlihat manja dengan sinarnya, dedaunan mencercah sinar matahari yang kadang tertutup awan, dibalik ketenanagan itu ibu memegang pundakku, “apa yang sedang kau fikirkan!” Tanya ibu dengan halus, “melihat cahaya!” jawabku
“kau lihat cahaya itu ya, seperti apa menurutmu?”
“seperti ibu, hingga sampai kapan ia menerangi?”
“selamanya”
Setelah mengatakan itu ibu pergi ke kamarnya, tetapi beberapa menit kemudian tiba-tiba saja ia menjerit dengan keras, dan berteriak memanggilku. Belum tiba langkahku di kamarnya, ibu sudah terlihat pinsan, terkapar lemas di lantai, dengan segera aku menelepon ambulan dan membawa ibu ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan.

Aku menunggu dengan cemas, aku belum mengerti kenapa ibu tiba-tiba terjatuh seperti itu, akhirnya beberapa menit kemudian seorang dokter keluar dari ruang IRD, “ibu saya kenapa dokter?” tanyaku panik. “beliau mengalam masalah pada otak belakang, apa beliau pernah bercrita pada anda sebelumnya tentang ini? Beberapa bulan yang lalu ia datang kerumah sakit ini, ia bertanya padaku mengapa kepala belakangnya sering sakit, dengan berat aku katakan, ada sebuah tumor yang menghambat aliran darah pada otaknya, aku menganjurkan beliau untuk terapi, karena ketika tumor ini mulai menjadi ganas, ia akan mengganggu susunan syaraf otak!”

Pernyataan dokter itu membuatku tercengang, kenapa ibu tak pernah menceritakan hal itu padaku? Apa dia menjaga perasaanku! Pada saat bersamaan ayahpun datang, raut wajahnya terlihat sangat cemas.
“lalu bagimana keadaan ibu saya dokter?”
“aku menyesal mengatkan ini tetapi dulu aku pernah menangani pasien serupa, ia hanya bisa bertahan selama tiga hari, detak jantung dan tekanan darah semakin menurun, tidak ada harapan lagi!”
“apa??? Bajingan!!! Selalu ada harapan!!!!!!!!!!!!!!!!” teriakku kepada dokter tersebut, mendorongnya dan masuk ke dalam ruang IRD, mendorong semua perawat yang ada di sana, itu diluar kontrol emosiku.
“minggir!!!! Ibu kenapa kau tiba-tiba menusuk perasaanku seperti sekarang ini, aku tak ingin melihatmu mati, lihat kesurga bu, disana tidak ada apapun, tidak ada hal yang indah bu, jadi jangan kesana, ayo bangun kita pulang!!!! Ibu hari ini berkata padaku, kalau ibu seperti sinar matahari, yang akan menyinari SELAMANYA!!!!”

Air mataku menetes deras, aku mencoba menguatkan fikiran, jiwa serta harapan, tapi fikiranku telah terkalahkan oleh ketakutan, aku melihat, alat pengukur detak jantung terdengar makin melambat, para perawat berkerumun untuk menolong ibuku, aku merasa dihakimi tuhan yang tega melakukan ini. “tuhan jika mmang nama adalah ibu, dan ibu adalah kau tuhan.. maka jangn biarkan ada tanah kosong disurga untuknya! Dia belum pantas menghadapmu, atau aku yang tidak mau dia menghadapmu!!!” aku melihat mata ibu dengan matanya yang tertutup dan setengah nafasnya. “ibu ijinkan aku mencium keningmu, aku tidak kuat!!!” aku menciumi kening ibu, tetapi detak jantungnya terdengar semakin lambat. “maaf kami harus melakukan penanganan pada ibu anda!” kata seorang dokter. “jika ia menghadap tuhan aku akan bunuh kalian semua, dan sebegitu baiknya ibuku di dunia, ini tuhan berani mengambil nyawanya, sungguh tuhan keterlaluan, tuhan tidak adil!!!!!” aku pergi meninggalkan ruang IRD sementara ayah menahan jalanku, memegangi tanganku. “kau akan kemana? Sadarlah kita hanya bisa berharap pada tuhan, karena tidak ada harapan lagi!”
“dengarkan aku!!!!! aku tak percaya pada tuhan, ia lebih memilih mengambil seorang yang tak berdosa, apakah tuhan adalah nyata, apakah surga dan neraka itu ada??? Apa tuhan pernah berbicara pada kita, apa tuhan pernah menyapa kita? Dia tidak ada, seberapa lamapun ayah berdoa tidak akan ada apa-apa, tuhan tidak nyata, yang nyata hanya kematian dan rsa kehilngan!!!! Satu lagi, aku sudah katakan pada ayah, bahwa SELALU ADA HARAPAN!!!!!”

Bergegas aku memacu mobilku menuju rumah paul, aku sudah terlihat seperti orang kesetanan, dan semua mata yang melihatku adalah iblis. Setelah sampai di rumah paul, aku tak permisi lagi dan masuk ke ruagannya, “hei hei ada apa Glen?” katanya terkejut
“mana tuhan yang kau bicarakan itu Paul, aku dulu salah menyangka bahwa ibu adalah tuhan, tapi sekarang ketika ibu terbaring menunggu ajalnya apakah tuhan menolongnya? Apa arti simbolisasinya itu? Injil, tripitaka, al qur an, weda, …………tuhan itu tidak ada, itu knyataanya Paul!!!”
“kau imbaskan semua ketakutan akan kehilanganmu itu pada tuhan!! Ingat Glen tuhan mengwasimu selalu!”
“ohh yahh.. dan kenapa ialebih memilih mengambil ibuku, orang yang tak berdosa!”
“karena tuhan menyukai ibumu Glen, fikiran, jiwa dan hatinya telah suci!”
“aku lebih menyukai dan mencintai ibuku ketimbang tuhan Paul!”
“intinya karena ketakutan akan kehilanganmu itu memaksamu untuk melampiaskannya pada tuhan, tuhan bukan sebab semua ini terjadi, kau hanya takut pada fikiranmu! Itu iblis!!!!!”
“kau berlaku seperti pendeta, aku tak percaya tuhan, akupun tak percaya kau!” aku bergegas pergi namun langkahku tertahan oleh kata-kata terakhir Paul. “apa kau juga tak percaya pada harapan lagi Glen?”, aku hanya mendengarkan tapi tak kuhiraukan. aku memacu mobil hingga sampai rumah, aku ketakutan, otakku seakan ingin keluar, aku mengmbil sebuah kertas dan pulpen, lalu mencoba menuliskan sesuatu dengan tangan yang bergetar, aku sangat ketakutan, tanganku memaksa fikiranku untuk mengambil senapan milik ayah, sembari menahan nafas aku dekatkan ke pelipis, dan suara terakhir yang aku dengar setelah ketakutan adalah……. “DOORRR….”
1 jam kemudian… “Glen ditemukan tewas dengan luka tembak di pelipis kanan hingga tembus ke pelipis kiri, polisi menyimpulkan Glen tewas murni bunuh diri”
Paul : “Glen tidak bunuh diri, ia dibunuh oleh ketakutan!”
3 jam kemudian… “Nadia, ibu dari Glen selamat dari fase kritis dan telah mengalami scaning otak, bahwa tidak ada tumor lagi di dalam kepalanya.”
Paul : “Ia takut untuk kehilangan, dan akhirnya kehilangan diri sendiri”
14-02-2012
Untuk Nama
Aku takut melihat ibu tak kuliht lagi…. Aku takut kehilangan semua tentang dirinya… aku takut kehilangan kasih sayangnya… aku sayang ibuku, lebih dari apapun, lebih dari harapan yang aku hianati kepercayaannya. Aku lebih ingin hilang dari pada kehilangan. Aku tak ingin melihat kepulangan.
Salam Sorga Untukmu (IBU)
Dari Glen

* Setiap orang takut menghadapi kematian, tapi beberapa lebih takut kehilangan”

PROFIL PENULIS
Agus Putra Budiana. kelas 3 SMA PGRI 1 Amlapura Bali. aktif dalam kegiatan sastra dan lomba cipta karya cerpen

Jumat, 20 Juli 2012

Cerpen Ibu Sedih - Perjuangan Arletta

PERJUANGAN ARLETTA
Karya Arletta

“kue-kue! Masih baru!” teriak Arletta sambil mengemudi sepeda sederhananya. Arletta menghentikan sepedanya karena lampu lalu lintas menyala berwarna merah. Tiba-tiba mobil di sebelah Arletta membuka kaca belakang mobilnya.
“Adek jualan kue ya?” tanya Ibu yang terdapat di dalam mobilnya.
“iya Bu, mau kuenya Bu” tawar Arletta tersenyum.
“hmmm ini semuanya masih baru, Nak?” tanya ibu itu.
“masih, Bu. Masih sangat baru” ucap Arletta tersenyum.
“yaudah nanti sorekan Ibu ada acara arisan. Ibu beli semuanya deh” ucap Ibu mengejutkan Arletta.
“apa? Semuanya, Bu?” tanya Arletta.

Ibu itu hanya mengangguk.
“oh yaudah saya bungkus dulu ya” ucap Arletta tersenyum lebar. “ini, Bu” lanjut Arletta sambil memberikan 30 bungkus kue yang sudah di plastikan.
“semuanya berapa, Nak?” tanya ibu itu.
“semuanya jadi 30.000, Bu. Karena 1 nya 1000, Bu” ucap Arletta senang. Ibu itu mengeluarkan uang lembaran 50.000.
“ini” ucap ibu itu.
Arletta bingung.
“Bu, gak ada kembaliannya” ucap Arletta bingung.
“untuk kamu semua” ucap Ibu itu “makasih ya, Dek” ucap Ibu itu lanjut. Lampu hijau menyala, mobil itu melaju.
“Bu! IBU!” teriak Arletta. Arletta memperhatikan uang yang ada di tangannya, tersenyum, lama-lama melebar. “terima kasih tuhan” ucap Arletta.

Arletta menuntun sepedanya, menyenderkan sepedanya di pagar rumah, lalu menggemboknya.
“Bu, Arletta pulang!” ucap Arletta membuka pintunya. Arletta terkaget melihat Ayahnya ada di rumah. Matanya merah, rambutnya berantakan dan menyeramkan.
“Letta, mana uangnya!” ucap Ayah Arletta Serak.
“ehh... uang apa, Pak?” tanya Arletta melangkah mundur.
“uang kue! Mana cepet!” kata Bapa menarik Arletta masuk, lalu menarik tas Arletta.
“jangan, Pak. Nanti aku sama Ibu dan Andin makan apa kalo ga ada uang” ucap Arletta merintih tetap mempertahankan tasnya.
“lepas!” ucap Bapa mendorong Arletta.
“emang gua peduli ama lu. Mau makan apa, kek. Ga peduli gua” ucap Bapanya mengeluarkan uangnya dari tas Arletta. Lalu melempar tas Arletta ke muka Arletta dan pergi begitu saja. Arletta menangis mencari ibunya.
“bu...” panggil Arletta. Arletta masuk kedalam kamarnya. Tenyata Ibu nya sedang menangis, tergeletak di lantai, badannya gemeteran. Dan Adiknya, Andin ada di samping lemari ketakutan juga menangis.
“Ibu! Andin!” teriak Arletta. Arletta memeluk ibunya dan menarik Andin dalam pelukannya.
“maafin Arletta, Bu” ucap Arletta.

Sorenya, Arletta mengemudikan sepedanya ke warung Bu Syadah.
“untung aku masih ada 20 bungkus di warung Bu Syadah” ucap Arletta senang. Sesampainya di warung Syadah yang cukup jauh dari rumah Arletta, Arletta menyandarkan sepedanya di meja warung.
“Bu Syadah” panggil Arletta.
“eh elu, Ta. Nih uangnya. 20.000 kan?” tanya Bu Syadah.
Arletta tersenyum, mengangguk mengambil uangnya “makasih, Bu” ucap Arletta. “iya” balas ucap Bu Syadah. Lalu Arletta segera pulang dari warung Bu Syadah.

Arletta berlari senang menuju rumahnya, setelah menyandarikan sepedanya.
“Bu, Arletta pulang!” ucap Arletta senang. Arletta membuka pintunya.
“Bu..” ucap Arletta pelan. Ibu bangkit dari tempatnya, tatapan yang penuh kekecewaan.
“letta, dari mana saja kamu?” tanya Ibu marah.

Arletta takut.
“Letta cuman ngambil penghasilan kue yang Letta titipin di warung Bu Syadah, Bu” ucap Arletta sambil memberi uang kepada Ibu dengan rasa takut. Ibu langsung mengambil uang itu, menahan haru. Ibu segera berlari kearah kamar.
Arletta bingung.

Arletta mengejar Ibu, tapi pintunya terkunci. Arletta menyandarkan tubuhnya ke pintu kamar Ibu.
“Bu, Ibu marah ya sama Letta?” tanya Arletta sedih.
Tak ada jawaban. “tadi Arletta cuman ngambil uang kue di warung Bu Syadah, Bu. Itu doang. Jangan marah, Bu. Arletta minta maaf, Bu” ucap Arletta sambil menangis.
Tak ada jawaban.
Arletta pasrah. Ia berjalan menuju kamarnya dan adiknya.

Ibu juga kini sedang menangis, menahan haru.
“maafkan Ibu, Nak. Karena Ibu, kalian jadi hidup susah seperti ini” ucap Ibu sambil menangis tersedu-sedu. Ibu menyesali akan kehidupannya ini. Arletta terpaksa berhenti sekolah di saat kelas SMA 1 karena tak ada biaya. Dan adiknya masih kelas 4 SD. Sedangkan Bapanya... entah apa yang sudah merasuki tubuhnya hingga menjadi kejam seperti ini, Bapanya hanya berjudi dan berjudi, mabuk dan mencuri. Hingga akhirnya Arletta lah yang harus membanting tulang untuk Ibu dan Adiknya. Ibunya juga bekerja sebagai tukang cuci tetangga.


Arletta mencuci piring di sebuah warung makan sederhana. Selain berjualan kue di pagi hari, siang harinya Arletta bekerja sebagai tukang cuci, lumayan untuk tambah-tambah uang makan. Arletta mengusab keringatnya dengan punggung tangan.
“Neng Arlet” panggil Teh Elis, pemilik warung sederhana ini.
“oh iya, Teh” ucap Arletta mencuci tangannya dengan air bersih, lalu menghampiri Teh Elis.
“ada apa?” tanya Arletta.
“oh iya, Let. Warungnya Teteh kan mau tutup, soalnya Teteh ada perlu. jadi kamu besok lagi, ga bisa ampe malem. Ga apa kan? Nih uangnya” ucap Teh Elis sambil memberi uang 10.500.
“oh iya ga apa, Teh. Arlet permisi dulu ya, Teh. Makasih” ucap Arletta tersenyum mengambil uangnya, lumayan untuk tambah uang makan.
“iya, Mangga atuh, Arlet”

Arletta mengemudikan sepeda sederhananya, setelah ini dia ingin mengambil uang kue di warung Bu Syadah. Walau lelah tapi Arletta tak pernah mengeluh, didalam hati dan pikirannya adalah hanya membahagiakan keluarganya. Tiba-tiba sebuah mobil menyerempet sepedah Arletta.
“AHHHHHH!!!” teriak Arletta. Kaki Arletta terluka. “aduhh” rintih Arletta. 1 orang pria turun dari mobil.
“ga bisa naik sepeda ya?” tanya laki-laki itu sinis. Arletta berdiri.
“mestinya disini yang harus marah tuh bukan kamu tapi aku” ucap Arletta kesal.

Rio terpaku. Tatapan matanya teringat oleh gadis yang ia cintai.
“kenapa kamu liatin aku kaya gitu?” tanya Arletta kesal.
Rio hanya diam. “Anjani?” sebuah nama terlontarkan oleh Rio.
Arletta bingung. “nama aku bukan Anjani, jangan sok tau deh kamu” ucap Arletta kesal. Arletta menuntun sepedanya, menuju kerumahnya.
Rio masih terpaku. “Anjani? Apa benar kamu Anjani?” ucap Rio.

Arletta berjalan menuju kedalam rumah, setelah menyenderkan sepedahnya. Tiba-tiba terdengar suara jeritan, Arletta menajamkan pendengarannya.
Itu suara Ibu!. Arletta berlari kedalam rumah. Dan di situ memang ada Ibu, terduduk dilantai dan menunduk. Tapi disitu juga ada Bapa, sedang memukuli Ibu.
“jangan sakiti Ibu lagi, Pak!” ucap Arletta berlari menuju ibunya dan memeluk Ibunya.
“Rossa mana uangnya! Dan kamu Arletta awas!” teriak Bapa sambil menarik Arletta lalu mendorongnya.

Andin terpaku di dekat meja. Ibu hanya menangis sekeras-kerasnya.
“mana uangnya?!” teriak Bapa sambil menjambak rambut Ibu. Arletta sungguh tak tega.
“aku.. aku..” ucap Ibu tergagap
“ini, Pak. Tapi.. jangan sakiti kami lagi” ucap Arletta. Setelah menerima uang tersebut, Bapa segera pergi dari rumah. Ibu memeluk Arletta erat.
“Letta...makasih” ucap Ibu menangis. “ga apa, Bu” ucap Arletta.

Arletta tak bisa tidur malam itu, memikirkan kejadian tadi sore.
Kenapa nasib ku seperti ini? Tanya Arletta kepada diri sendiri. Tiba-tiba terdengar suara pintu, walau pelan tapi terdengar. Arletta segera bangun dari kasurnya secara pelan, takut Andin bangun. Arletta mengintip di pintu. Ternyata Ibu, tapi kenapa membawa tas? Mengendap-endap pula, dan malam-malam begini?. Jangan-jangan Ibu ingin meniggalkan kita?. Arletta segera keluar.
“Ibu? Mau kemana?” tanya Arletta. Ibu kaget, dan tampak gugup.
“e.. Ibu...” ucap Ibu gugup.
“Ibu ingin meninggalkan kami? Kenapa Ibu tega?” tanya Arletta. Matanya terasa hangat. Ibu tak kuasa menahan tangis, 2 butir mengalir begitu saja di pipinya. Ibu meraih tubuh Arletta.
“Ibu ga kuat menerima cobaan ini, Ibu ingin ke jakarta. Disana ada Budhe kamu, ini alamatnya, makanya Ibu mau kesana” ucap Ibu.
“bagaimana dengan kita? Letta? Dan Andin? Bagaimana, Bu? Aku juga ga mau di siksa trus sama Bapa” ucap Letta menangis. Ibu melepas pelukannya. Menghapus air air matanya lalu Letta.
“nanti pagi kita berangkat, tanpa sepengetahuan Bapa, kamu siap-siap ya” ucap Ibu.
“tapi Ibu ga akan kaya tadi kan? ninggalin kami gitu aja?” tanya Arletta.
“janji” ucap Ibu.

Setelah pagi, sekitar subuh. Arletta menyiapkan tasnya dan tas Adiknya, Andin. Andin masih tertidur pulas. Arletta mengambil wudhu, lalu sholat. Setelah selesai solat Arletta berjalan menuju kamar, ternyata ibu sedang solat. Arletta menunggu, menunggu. Tapi kenapa Ibu terus berposisi sujud ya? Tanya Arletta dalam hati. Arletta semakin takut akhirnya Arletta menepuk bahu Ibu.
]“Bu...” panggil Arletta.
Tak ada jawaban.
Tiba-tiba Ibu tergeletak dilantai.
“Ibu? Ibu! IBU...!!!. Andin!!” teriak Arletta tetap menompang badan Ibu.
Andin datang. “apa kak...” Andin terkaget melihat Ibu. “Ibu kenapa, Ka?” tanya Andin.
“Ibu...!!!!” teriak Arletta.

Arletta kehilangan ibu yang selama ini dia jaga. Arletta memperjuangkan semuanya untuk keluarganya. sampai ia harus kehilangan ibunya

PROFIL PENULIS
Nama ; Arletta Glesca

Panggil saja namaku Arca
Selamat membaca.
Maaf kalau ada salah kata., baru pemula

Baca juga Cerpen Sedih yang lainnya.

Kamis, 19 Juli 2012

Cerpen Ibu - Pahitnya Hidup dan Keyakinan

PAHITNYA HIDUP DAN KEYAKINAN
Karya Tito Suprianto

Dalam hidup semua orang pasti mengalami kisah pahit dalam hidupnya dengan tingkat kesulitan tergatung kemampuan orang tersebut tuhan berikan cobaan padanya. Karna saya yakin tuhan tidak mungkin memberikan cobaan di luar kemampuan umatnya.

Saya pribadipun pernah mengalami pahitnya hidup dan itu cobaan dari tuhan yang di rasa paling berat saya alami. Di mulai dari tahun 2002 keinginan saya untuk melanjutkan sekolah kejenjang Kuliah yang bertentangan dengan kedua orang tua saya yang tidak setuju takut tidak bisa membiayai kuliah sampai akhir / takut jika saya kuliah berhenti di tengah jalan karna keterbatasan ekonomi. Alhamduliah dengan mengucap lahaula walaquwata illabillah akhirnya ibu menyetujui dan mendaftarkan saya ke salah satu universitas swasta di bandung yang tidak jauh dari rumah kami tinggal untuk menghemat ongkos dengan syarat saya harus benar-benar fokus pada kuliah saya dan maaf jika ibu tidak bisa memenuhi kebutuhan di luar biaya kamu. Ibu hanya memberi jatah ongkos kuliah dan biaya kuliah saja. akhirnya sayapun bisa kuliah dan bejalan lancar walaupun kadang mengeluh jika meliha teman-teman saya dapat fasilitas kuliah (HP dan unit computer untuk tugas kuliah) yang sekalipun saya meminta untuk kebutuhan tugas kuliah ibu tidak sanggup membelikan. Berjalannya waktu saya berusaha perih untuk bisa memiliki computer maupun HP dan alhamdulilah walaupun saat itu saya belum punya sendiri computer saya raji melihat teman yang kebetulan ahli di bidang service komputer dengan sedikitnya wawasan dan ilmu tersebut saya terhadap hadware dan software computer saya bisa service dan jual beli untuk menabung membeli computer sendiri dan HP. 

Singkat cerita berjalannya masa kuliah saya yang harus mencari sendiri tambahan untuk kebutuhan biaya kuliah tak terasa waktu berjalan. Di tahun 2007 almarhum ibu saya mulai sakit-sakitan disisi lain saya harus konsentrasi membereskan masa kuliah / sekripsi dengan waktu yang sangat singkat (2bulan) karna factor biaya yang sudah terasa berat bagi ibu saya untuk menutupi uang semester. Dengan modal otak pas-pasan, saya sempat pesimis untuk mengejar waktu 2 bulan tersebut. Hanya keyakinan doa orang tua saya berusaha dan kerja keras walaupun masa itu saya benar-benar kurang tidur dan kadang defresi dalam penyusunan sekripsi tapi alhamdulah dalam waktu 1.5 bulan saya bisa membereskan skripsi, sampai saat ini saya masih ingat sewaktu memberikan bab 5 sekripsi saya pada dosen pebimbing. Rasa waswas, minder dan campur aduk yang saya alami saat itu akhirnya dosen pebimbing menulis tinta ACC untuk bab lima saya. Detik itu pun saya tak bisa menahan rasa haru,dan tak kuasa menaha air mata tidak percaya akhirnya saya bisa kejar waktu tersebut.

Di bulan juni-juli akhirnya masa sidang dan wisuda bisa saya saya selesaikan untuk membuat bangga kedua orang tua yang telah bekerja keras membanting tulang untuk kuliah saya. Sebulan terasa singkat saya alami setelah wisuda usai untuk saya rehat dan mulai perjalanan yang sebenarnya untuk memikirakan masa depan dan mencari pekerjaan, tapi tuhan / Alloh masih sayang dan masih ngeuji keimanan saya. di bulan agustus menjelang bulan ramadhan almarhumah ibu semakin parah dalam sakitnya, kecurugaan kami mulai timbul dikala almarhumah ibu bercerita pada saya dan ayah saya, sering bermimpi dengan hal-hal goib/luar dari talar logika, kami pun berinisiatif untuk memanggil orang pintar/ustad di daerah kami untuk berkonsultasi, (Wallahu A'lam ) kami di peringatkan untuk lebih sering beribadah dan mendoakan almarhum ibu karna memang ada penyakit non medis, kami pun serentak kaget masih ada di jaman modern seperti ini orang yang shirik pada keluarga kami sampai tega melakukan hal seperti itu. 

Disamping informasi yang di dapat dari ustad tersebut kami rasa tidak salah nya untuk memeriksakan penyakit almarhumah ibu ke rumah sakit, Alhasil…setelah pemeriksaan rumah sakit dari hasil ronsen ternyata ibu positif gagal ginjal dan cukup kronis kala itu, yang di haruskan untuk rawat inap dan cuci darah dalam kurun waktu 3x dalam satu minggu. Saat itulah keluarga kami mulai mengalami kewalahan untuk menutupi biaya rumah sakit yang lumayan membengkak bagi ukuran ekonomi keluarga kami, dari menjual barang sampai meminjam uang pada tetangga pun sudah kami lalukan, tapi tetap saja semua itu jauh dari cukup. Dan akhirnya dengan rasa tak tega mebawa pulang almarhumah ibu dalam keadaan kritis di rumah sakit pun terpaksa kami membawa pulang kerumah karna keterbatasan biaya 

Hari demi hari pahit bagi saya untuk melihat dan mendengar jeritan kesakitan almarhum ibu menahan penyakit non medis (tiap malam menjelang selau saja almarhumah ibu menjerit, tertawa kesurupan dangan berbicara dengan bahasa yang kami tidak paham dan merasa ada sesuatu dalam tubuh di saat sadar dari kesurupan) dan penyakit medis (gagal ginjal) yang seharusnya mendapapkan perawatan insentif dan cuci darah di rumah sakit. Setelah 3 hari almarhum ibu kami pulang kira-kira bada magrib waktu itu, ibu merasa kesakitan yang sangat di banding hari sebelumnya, kata sakit dan sakit terlontal dari mulut ibu sambil memanggil-mangil saya dan meminta tolong “sakit ini di bagian perut terasa ada hewan yang berberak dalam perut ibu” sambil mendekat dan memegangi perut almarhum ibu, saya bingung apa yang saya harus lakukan untuk menolong / setidak nya mengurangi kesakitannya? saya sebisa-bisa membaca ayat al’quran dan memohon kekuatannya untuk bisa menolong ibu, tak sadar dan tak bisa saya bayangkan kejadian itu sampa detik ini pun? Tiba-tiba almarhum ibu kesurupan dan terdengar suara kake-kake yang keluar dari mulut ibu, dia berbicara dan mengaku JIN suruhan seseorang yang di tugaskan untuk mengganggu keluarga saya khususnya ibu saya, saya pun serentak kaget dan emosi kala itu. 

Ya siapa yang tidak kaget dan emosi ada mahluk halus/JIN merasuk dalam tubuh ibu kita untuk menggangu dan menyakiti. saya lantas mencoba untuk menyuruh mahluk/JIN itu pergi dan jangan menggagu lagi keluarga dan ibu saya. Singkat waktu dengan keyakinan pada Alloh bahwa tiada mahluk yang lebih kuat dan bisa menandingi kuasanya jika kita yakin. Kurang lebih 11 jam sampai pagi menjelang dari magrib waktu itu. Alhamduliah JIN itu pergi. Tenang rasa yang saya rasakan dan berharap sakit ibu bisa mebaik karna tinggal medis saja yang kami hawatirkan, entah kenapah malam nya setelah kejadian tersebut walapun saya kelelahan saya tidak bisa tidur dan tidak mau beranjak disisi almarhumah ibu, ibu pun sama ketika itu tidak mau saya tinggalkan dan jauh-jauh dari sisinya! Saya hanya bisa mengelus-ngelus rabut ibu dan saat itu almarhum ibu pun terus berulang kali bicara pada saya sambil menangis untuk meminta maaf jika ibu tidak kuat lagi, maaf ibu tidak bisa menyaksikan dan menikahkan kamu nak. Tolong jaga dan rawat kedua adik kamu yang kebar (adik perempuan kembar yang baru kls 4SD) dan yang terakhir jaga rumah ini jangan sampai kejual atau apapun. Karna hanya rumah ini bekal dari ibu untuk kalian.. kalimat 3 itu yang terus di balak balik ibu ucapkan, saya tidak kuat saat itu untuk menahan air mata… dan mungkin itu wasiat terakhir ibu dalam fikiran saya. 

Waktu tak terasa saat itu sudah jam 11 malam, ibu pun mulai terlihat mengantuk dan saya pun menyuruh ibu untuk beristirahat dan tidur. Karna saya juga mulai terasa kelelahan dan mengantuk. Akhirnya saya pun beranjak pergi kekamar saya di lantai dua, sebelum memejamkan mata, kembali saya tak bisa menahan air mata dan memintadan memohon pada Alloh, untuk segera di sembuhkan ibu karna itu yang saya harapkan dan ihtiarkan kamrin, tapi jika Alloh berkehendak lain..ambilah ibu saya..karna saya tidak tega melilah ibu saya dengan kondisi seperti ini (badan ibu turun derastis, dari gendut 65kg selagi sehat dan hanya kurang lebih 27kg saat itu) tak sadar saya pun mulai tidur. Waktu takdir dan kehendak tuhan pun menjawab…! Dalam nyenyak tidur sayapun bangun dengan jeritan kaka perempuan saya… serontak lari ke bawah? inalilahi wainalilahi rojiun… jenasah ibu yang saya lihat. Lemas, kaget tak percaya sadar tuhan mendengar doa saya semalam. Tuhan berkehendak lain untuk kesembuahan ibu, saya pun harus iklas karna itu kehendak Alloh dan yang terbaik buat almarhumah ibu.

Tak terasa sampai detik ini saya menulis kisah ini sudah 5 tahun saya di tinggal almarhumah ibu, disusul kaka yang harus menemani suaminya di luar pulau dan bapak yang sudah berumah tangga lagi. saya pun hanya tinggal bertiga dari tahun 2009 dengan ke dua adik perempuan kembar saya yang saat ini sudah kelas 2 SMP. Alhamduliah saya bisa menjalankan amanat/wasiat almarhumah ibu saya. walaupun roda kehidupan yang manis kadang pahit saya alami sampai saat ini karna biaya ke dua adik harus saya penuhi sendiri. Tapi saya insya Alloh masih yakin dan akan yakin bahwa tuhan Alloh tidak tuli, buta dan pasti maha bertanggung jawab pada umatnya. Jika kita yakin, berdoa, meminta dan berusaha kerja keras, Alhamduliah saya mampum membiayai ke dua adik dengan gaji kerja di salah satu perusahaan swasta yang tidak begitu besar. (tidak ada bantuan dari Bapak dan Kaka)

Itulah kisah pahit yang saya pernah alami dan hanya dengan modal yakin pada Alloh sampai saat ini saya kuat menjalaninya. Bagi siapapun yang membaca kisah ini, yang masih Alloh kasih kesempatan untuk bisa membahagiakan orang tua khususnya Ibu, jangan pernah kecewakan, sia-siakan, apalagi menyakiti seorang ibu ! karna hanya penyesalan, ketidak puasan dan rasa kurang dan kurang yang kita rasa walaupun kita sukses dalam segi materi jika tidak sempat mebagi/membahagiakan sosok ibu jika sudah tidak ada, hanya memory dan mengirim doa yang kita bisa rasa dan lakukan untuk ibu kita. Dan yakinlah hanya pada Alloh apapun yang terjadi jika sudah berusaha sebisa/sekuat kemampuan kita al’hasil itu kehendaknya, inya Alloh yang kita dapat itu yang terbaik darinya…amin. Mohon maaf jikalau ada salah kata dan penulisan, saya hanya manusia yang tidak luput dari kesalahan dan hanya tuhan Alloh yang saya yakini yang maha benar adanya. Saya hanya ingin membagi pengalaman dan moga saja ada manfaatnya amin

Bandung, 12 Juli 2012

PROFIL PENULIS
Nama : Tito Suprianto
Alamat : Bandung,
ncas3@yahoo.co.id ( facebook & email )

Sabtu, 07 Juli 2012

Cerpen Ibu - Struggle for My Dream

STRUGGLE FOR MY DREAM
Karya Karina Puspa Sari
 
“Aku ingin seperti anak perempuan yang lain
Mendapat kasih sayang dari Orang tua
Tapi semua berubah ketika ayahku meninggal
Kehidupanku seolah berubah menjadi kelam dan menakutkan..”

“Brakk!!”
Pintu kamar dibuka dengan paksa oleh seorang ibu yang cukup tua. Dia menyiramkan air terhadap anaknya yang sedang menikmati mimpi indahnya.
“Bangun bodoh!! Ini sudah siang! Pekerjaan rumah menumpuk kamu malah enak-enakan molor disini!! Ayo cepat bangun!” Ibu itu berkata sambil membentak
“Iya Mom, Aku akan menyelesaikanya, maafkan aku, aku terlalu kelelahan karena mengerjakan pekerjaan kemarin” Kata anak itu yang masih belum terkumpul nyawanya
“Dasar Pemalas! Itulah kerjaan anak perempuan! Sudah cepat sana kerjakan” Ibu itu berkata sambil menyeret anaknya keluar
Anak itu hanya menunjukan muka kepasrahan.

Anak malang itu bernama Sara. Ayahnya telah meninggal karena kecelakaan mobil. Ibu kandungnya sudah lama pergi entah kemana. Dia sekarang tinggal bersama ibu tiri yang bias dibilang kejam. Dulu sewaktu di Panti asuhan McWiddle dia senang sekali karena mendapat orang tua yang menjadi ibu tirinya kini. Dia membayangkan bisa mendapat kasih sayang dari orang tua lagi. Tapi setelah tinggal lama dengan ibu tirinya semua itu jauh dari yang di bayangkan. Ibu tirinya cukup kejam. Pernah ia dengan tega menyiramkan teh yang masih panas ke tangan Sara yang masih halus hanya karena teh itu kurang manis.
Sara mempunyai bakat melukis. Lukisannya cukup bagus jika dibandingkan dengan anak-anak yang seumur denganya. Tapi bakat itu terhambat karena ibu tiri Sara tidak menyukai bakatnya. Menurutnya melukis itu bukan pekerjaan perempuan. Dan katanya pekerjaan itu berkesan membosankan dan kampungan. Ibu tirinya bahkan pernah membakar lukisan-lukisan Sara. Dan tentu saja Sara hanya bisa terdiam melihatnya.
“Sara tolong belikan Gula di Pasar Bought eat!!” ujar ibunya sedikit berteriak meyuruh Sara yang kala itu sedang mengepel lantai.
“Baiklah Mom!!” seru Sara mengimbangi teriakan ibunya

Jarak Pasar bought eat dengan rumah Sara cukup jauh. Sara menaiki sepedanya untuk sampai kesana. Sampai di Pasar ia datang ke toko yang sudah menjadi langgananya. Toko itu tampak sederhana tapi terkesan bersih. Di depan toko itu terpampang spanduk berbunyi “Picko Shop”
“Hai Picko! Aku beli gulanya dua bungkus! Cepat ya!” ujar Sara turun dari sepedanya
“Ini, untuk kau 5ribu cukup!” kata picko sambil menyerahkan gulanya
“Terimakasih !” tapi saat Sara akan pulang langit mulai mendung, petir juga menyambar. Dia tidak berani pulang dengan basah kuyup lebih baik dia menunggu di kios itu walaupun sama saja nanti kena marah.
“Ehm, bolehkah aku berteduh di Kiosmu sebentar? Hujan sebentar lagi mau turun” kata Sara
“Masuk saja! Parkirkan sepedamu di garasi. Akan aku buatkan kau Kue dan susu cokelat” Ujar Picko ramah
“Tidak usah Picko! Aku hanya sebentar disini!” kata Sara
“Sudahlah masuk saja! Tak usah malu-malu” kata Picko sambil menarik Sara masuk.
“Kau ini memang menyebalkan Picko! Haha”

Sara duduk di kursi yang terbuat dari katun berwarna merah. Benar saja setelah Sara duduk hujan pun turun. Udara menjadi dingin. Sara merapatkan jaketnya. Sambil menunggu hujan, Sara mendengarkan radio. Penyiar radio itu sedang membacakan sebuah pengumuman.
“PENGUMUMAN!!
Akan diadakan lomba seni yang diadakan di Park Center di hari minggu. Start mulai jam delapan sampai selesai. Acara ini akan dihadiri oleh walikota. Kategori lombanya adalah: FILM, KARIKATUR,MELUKIS,DRAMA dll. Biaya pendaftaran sebesar Rp.50,000,-. Bagi para pemenang akan mendapatkan hadiah sebesar 5juta dan berhak mendapat beasiswa untuk bersekolah di sekolah seni terbaik di kota ini Wilden House Art! Keterangan ebih lanjut hubungi 081578368363”

Picko kembali sambil membawakan kue dan susu cokelat.
“Terima kasih Picko!” kata sara sambil mengambil Kue cokelat yang masih hangat.
“Kau dengar berita tadi Sara? Ikut saja! Kau kan berbakat” ujar Picko menyarankan
“Tapi aku tidak mempunyai uang untuk mengikuti lomba itu, belum juga jika ibukku mengijinkan, kau tau sendiri kan kalau ibukku tidak suka jika aku melukis” Kata Sara mau meminum susu cokelatnya.
“Kau kan bisa kerja sampingan! Coba saja kau sepulang nanti berbicara dengan ibummu, siapa tahu mengijinkan!” kata Picko menyarankan
Sara hanya menghela nafas.

Hujan sudah reda. Sara berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepada Picko karena mengijinkan ia berteduh dirumahnya. Setelah sampai rumah benar saja ia kena marah ibu tirinya.
“Darimana saja kamu? Beli gula saja lama sekali!” kata Ibu tiri Sara marah-marah
“Aku berteduh di Kios Picko sebentar, tadi turun hujan” kata Sara sambil menunduk
“Banyak alasan! Sebagai hukumanya malam ini kau tidak makan dan kukunci kau di kamar!” kata Ibunya sambil menyeret Sara kekamarnya
“KLEKK!!” Pintu kamar di kunci oleh ibu tirinya
“Mom!! Jangan Mom! Jangan kurung aku! Maafkan aku Mom!! Huu..huu..” Ratap Sara di kamarnya sambil menangis
Namun tidak aja jawaban. Hanya hening malam yang menemani Sara

Pagi Hari, Sara terbangunkan oleh silau sinar matahari. Kepala Sara pening, Wajahnya pucat, Tubuhnya lemas. Sehari semalam dia belum makan. Dia ingat kenangan bersama ayahnya saat dia bermain dengan ayahnya di taman. Kenangan itu indah. Sara mendadak merindukan ayahnya. Sara kemudian pingsan. Dan kenangan itu lenyap

Saat Sara bangun Sara sudah berada di rumah sakit. Dan disebelahnya ada ibu tirinya dan seorang dokter, Melihatnya siuman Ibu tirinya langsung menunjukan muka senang walau Sara tau itu sebenarnya hanya AKTING!
“Sara sayang, kau sudah sembuh nak? Kau kenapa?” Kata Ibu tiri Sara dengan senyum palsunya
“Aku tidak apa-apa Mom :P hanya kelelahan dan belum makan” ujar Sara menyindir Ibunya
“Kenapa kau tidak istirahat saja? Kau itu memang rajin mengerjakan semua pekerjaan rumah, tapi perhatikan juga kondisimu sayang!” Kata ibu tiri Sara berbohong

Sara hanya memutar kedua bola matanya
“Dia hanya kelelahan, dan perlu istirahat, daya tahan tubuhnya lemah, setelah ini dia bisa pulang kerumah” Kata Dokter
“Terima kasih dokter! Saya akan lebih memperhatikanya” Kata Ibu tiri Sara
“Saya permisi dulu!” ujar dokter itu sambil beranjak pergi

Di ruangan itu tinggal Sara dan ibunya.
“Jangan kau pikir aku berubah menjadi baik terhadapmu! Aku memeriksakanmu karena aku memastikan kau masih bisa mengerjakan rumah atau tidak! Mengerti ???” Kata Ibu Sara kejam
“Aku tau kau tidak berubah secepat itu terhadapku Mom!” Kata Sara tak mau kalah
“Oh! Sudah mulai berani ya! Apa yang kau punya? Sudah beruntung kau masih ku ijinkan tinggal dirumahku!, ayo segera pulang! Dan segera kerjakan pekerjaan rumah!” ucap ibu Sara sambil menarik tangan sara kasar
“So shiittt” Sara mengumpat pelan
“Apa!?” kata Ibu tiri Sara mendengarnya
“Tak ada” Kata Sara tenang

Dia teringat tentang lomba seni di hari minggu besok. Tapi dia masih juga belum bisa menaklukan ibunya. Sara bingung harus berbuat apa. Mungkin dia akan menoba berbicara dengan ibunya.
Sesampainya di rumah Sara langsung disuruh mencuci baju. Setelah itu membersihakan lonteng atas. Lalu mengepel teras. Sara ingin Protes karena ia juga belum makan
“Mom! Aku kan belum makan! Daya tahan tubuhku masih lemah” Kata Sara protes
“Ups! Aku lupa, kau ingin makan? Itu ada makanan di lemari kayu! Ambilah, makan sepuasmu!” Kata Ibu Sara

Sara kemudian membuka lemari kayu yang sudah usang. Dikiranya mendapat makanan yang layak pangan eh ini dapat makanan yang sudah basi. PAYAH!
“Bagaimana? Kau mau?” Ucap Ibu Sara
“Mom, aku tahu ini makanan. Tapi ini kan makanan basi!” Ujar Sara protes
“Sudah beruntung diberi makanan! Ini anak mash protes juga! Sekrang cepat makan makanan itu! Gadis bodoh!”
Sara terpaksa memakan makanan yang rasanya tidak karuan itu. Dan menelannyapun sambil meneteskan air mata

Sara letih habis bekerja. Dia ingin membicarakan tentang lomba seni itu terhadap ibunya. Semoga diijinkan harapnya.
“Mom, Ada lomba seni di Park Center, aku bermaksud mengikutinya, jika aku menang aku akan mendapat uang Rp 5jt dan bisa sekolah Wilden House art , biaya pendaftaranya sebesar 50 ribu, maukkah kau mengijinkanku dan memberi uang 50 ribu untuk pendaftaran? Kata Sara memelas
“Kamu itu ga usah aneh-aneh! Buat apa lomba lukis? Tidak ada untungnya!” ibu sara membentak
“Tapi Mom jika aku memenangkanya aku akan mendapat hadiah 5jt! Hasil seluruhnya akan aku berikan semua kepadamu Mom! Aku mohon aku sangat ingin mengikuti lomba itu, aku akan rajin membereskan pekerjaan rumah asal kau mengijinkan” ujar Sara penuh harap
“Hmm, baiklah jika itu maumu, aku mengijinkanmu, tapi pegang janjimu itu” ancam ibunya
“Iya Mom, terima kasih sekali!” ucap Sara senang
“Sekarang bereskan seluruh rumah, aku harus merawat rambutku di salon” kata ibunya
***

Minggu Pagi di Park Center, Sara sudah bersiap-siap untuk melukis, dia melukis dengan percaya diri. Pemenang lomba itu akan diumumkan pada hari Rabu.
***

Sara sedang membersihkan lantai ketika Seorang berbadan agak besar bertamu di rumahnya. Dia memakai setelan jas hitam. Tampaknya dia adalah panitia lomba seni kemarin.
“Apakah benar disini rumah anak yang bernama Sara Sheldon?” Orang itu bertanya kepada ibu Sara
“Iya ada apa?” kata ibu Sara
“Anak ibu memenangkan lomba lukis sebagai juara pertama. Dia berkesempatan bersekolah di Wilden House art dan mendapat hadiah sebesar 5juta” kata Orang itu
“Saraa!” Kata ibunya berteriak memanggil Sara

Dengan cepat Sara segera datang. “Iya ada apa Mom?” kata Sara bertanya
“Kau memenangkan lomba lukis!” Kata ibunya bersemangat
“Karena tugas saya sudah selesai. Saya permisi pulang dulu!” kata orang itu
“Oh baik pak! Terima kasih atas kunjunganya” kata ibu Sara mengantarkan keluar orang itu
***

“Mom, sesuai dengan janjiku, aku akan memberikan seluruh hadiah uang 5jt itu kepadamu, aku ikhlas demi km Mom” kata Sara datar
“Kau yakin?” kata ibu Sara heran
“Sangat yakin” Sara memantapkan
“Hmm, Sara kau memang anak yang baik, aku yang telah salah menilaimu, maafkan aku yang selama ini sudah jahat terhadapmu, kau ini pantas mendapatkan yag terbaik, maafkan Ibumu Sara” kata ibu Sara berkaca-kaca
“Mom, meskipun kau sering menyakitikku, tapi kau adalah ibu yang paling aku sayang, aku sayang kmu Mom” kata Sara
Ibu sara langsung memeluk Sara sambil meneteskan air mata. Lalu mencium kening anaknya. Dia merasa semuanya telah usai

TAMAT

PROFIL PENULIS
Nama lengkap : Karina Puspa Sari
Tempat, tanggal lahir : Magelang, 01 Juli 1998
Nama Facebook : Karina Puspa Sari
E-mail : rinrin.puspasari@yahoo.com

Baca juga Cerpen Ibu yang lainnya.

Rabu, 27 Juni 2012

Kapan Ibu Mengerti - Cerpen Ibu

KAPAN IBU MENGERTI?
Karya Andi Sri Fajriana

Kutatap langit senja di hadapanku ini. Matahari kembali ke peradabannya. Warna orange memenuhi sebagian dari lagit itu. Awan tenang menghiasi lagit yang berwarna jingga. Awan itu, setenang hatiku saat ini. Sebentar lagi, Tuhan akan mencabut nyawaku. Aku selalu berdo’a. Berdo’a agar semua kesandiwaraan ini berakhir. Namun, harapanku mungkin hanya sebatas untaian kata yang tak terbalasakan. Ku hanya bisa menunggu, menunggu, dan terus menunggu. Menunggu kebenaran yang akan terungkap. Semua pemeran dalam skenario itu, akan segera menjadi kenyataan. Jika aku sudah tak ada lagi. Namun, apakah itu mungkin?

“ ICHAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!”.....
Ku dengar teriakan mengelegar itu dari bawah. Dengan segenap kemampuanku, ku dorong kursi roda yang ku duduki hingga aku sampai di depan mama.
“ ICHA!!!! KAMU APAKAN BAJU MAMA???? KENAPA BISA BOLONG SEPERTI INI? KAMU TIDAK NIAT LAGI TINGGAL DI RUMAH INI? “. Tanya mama dengan geram.
“ Ma... a...a...ku aku gak tau ma.... Perasaan tadi baju mama baik- baik aja “. Jawabku dengan takut- takut.
“ APA KAMU BILANG???? DASAR ANAK TAK TAU DI UNTUNG KAMU... MASIH BAGUS MAMA IJININ KAMU MAKAN DAN TINGGAL DI RUMAH INI. TAPI BALASAN KAMU DARI MAMA APA? HAH? “. Dengan geram, mama menarik kuat rambutku hingga rontok. Sakit. Itu yang ku rasakan sekarang.
“ Ma,,, ampun ma... Icha beneran gak tau apa- apa. Ma ampun.. hiks... hiks.. Ampun ma, sakit “. Kataku sambil terisak.
“ DASAR ANAK LUMPUH KAMU “. Akhirnya, hujatan itu keluar dari mulut mama. Bukan hanya sakit yang ku rasakan di fisikku. Namun, ngilu ini berasa di relung hatiku yang paling dalam. Ku hanya bisa terisak memilukan di hadapan mama. Hingga akhirnya, mama berlalu dari hadapanku.

Ya. Inilah keseharianku. Perkenalkan, namaku Icha Septian Nuraga. Aku anak tunggal dari keluarga ini. Semenjak kejadian 2 tahun yang lalu, saat itu ayah meninggal karena kecelakaan, pesawat saat akan menjemputku dari London. Hingga mama berfikiran, kalau aku penyebab dari meninggalnya ayah. Namun, siapa yang tau, kalau sampai saat ini aku juga merasa kehilangan seperti mama. Bahkan rasa kehilanganku lebih besar dari mama.
Sekarang, aku menginjak umur 16 tahun. Harapanku nanti, saat aku berulang tahun, mama akan mengucapkan ucapan kepadaku dan memberikan kecupan hangat di pipiku. Walaupun tak ada ayah di sini, tapi aku merasa cukup bahagia akan kehadiran mama. Semoga....

Kubuka album biru.....
Penuh debu dan usang......
Ku pandangi semua gambar diri.....
Kecil bersih belum ternoda......

“ Icha, sebentar teman mama mau datang. Ingat, kamu harus ada di belakang. Jangan keluar- keluar sebelum mama suruh. Awas saja kamu jika kamu membantah “. Kata mama dengan cueknya tanpa memandang kearahku.
Ya... Aku tidak di anggap sebagai anak kalo ada di hadapan teman mama. Mama hanya mengakui dulu kandungannya gugur. Betapa mirisnya hatiku saat mama mengatakan itu semua. Tapi apa dayaku?
Ku hanya menurut dengan perkataan mama. Saat aku berbalik, saat itu juga air mataku terjun dengan derasnya. Yang lebih tepat air mata kepedihan.
Sekarang, aku sudah sampai di kamarku. Bukan kamar, tapi lebih tepatnya gudang. Aku tak tahu, mengapa mama membiarkanku tidur sendiri di sini. Padahal kamar yang lain masih kosong. Ku ratapi nasibku yang malang ini. Tapi aku yakin, di balik semua kekejaman mama, pasti ada rasa kasih sayang mama kepadaku. Walalupun hanya secuil.
Aku tertidur beralaskan tikar yang tipis, dan di temani oleh nyamuk- nyamuk. Walalupun dalam keadaan ini aku sangat tidak nyaman, tapi biarkanlah. Aku yakin semuanya pasti berakhir..
Tanpa ku sadari, mama menengok di balik pintu kamarku.
“ Maafkan mama sayang. Mama sayang kamu “. Bisik mama kemudian berlalu.

Pikirku pun melayang...
Dahulu penuh kasih....
Teringat semua cerita orang...
Tentang riwayatku....
3 bulan kemudian......

Tepat hari ini, tanggal 07 Mei 2012, hari ulang tahunku. Ku jalani hari- hariku dengan semangat. Sampai mama terheran- heran di buatnya.
“ Kenapa kamu jadi semangat begitu? Semangat untuk kerja maksudnya? “. Tanya mama dengan sinis. Ku hanya bisa memberikan senyuman termanisku. Kemudian berlalu dari hadapan mama. Huft, aku tak ingin hari spesialku menjadi rusak karena hujatan mama. Kalau bisa aku bertanya, kapan mama mengerti?

Pada malam hari.....

Saat ini, mama belum pulang dari kantor. Aku ingin membuat kejutan untuk mama. Aku membuat cake yang betuliskan ‘ICHA SAYANG MAMA’ dan di hiasi oleh lilin yang berbentuk angka 17, sesuai dengan jumlah umurku. Ku desain sedemikian rupa cake itu, hingga menjadi cake yang berbentuk hati dengan sangat indah. Huft, melelahkan sekali hari ini. Ku tulis pada kertas berwarna pink isi suratku kepada mama. Seusainya, aku merasakan sakit yang teramat sangat di kepalaku. Cairan berwarna merah pekat yang berbau amis, meleleh dengan derasnya di hidungku. Dengan sekuat tenaga, aku meletakkan surat itu di pinggir meja dekat cake ku. Sakit di kepalaku makin menjadi. Hingga semuanya gelap.

Kata mereka diriku
Slalu dimanja....
Kata mereka diriku
Slalu di timang.....
Nada- nada yang indah...
Selalu terurai darinya...
Tangisan nakal dari bibirku...
Takkan jadi deritanya.....
Tangan halus nan suci......
Tlah mengankat tubuh ini......
Jiwa raga dan seluruh hidup....
Rela kau berikan......


Epilog.......

Mama’s story..

Kutatap nisan di hadapanku saat ini. Betapa mirisnya hatiku. Aku kembali membaca surat yang ada di genggamanku ini. Aku memang benar- benar ibu yang sangat bodoh. Teganya aku menaruh duri pedih di atas kesabaran putri kecilku ini...
“ Maafkan mama sayang..... Mama sangat menyangimu putri kecilku “. Ku menangis sejadi- jadinya di pusaran anakku......
Isi surat:
Mama..... Icha tak tahu mengapa mama sebegitu bencinya sama Icha. Tapi, Icha tetap sayang sama mama. Biarpun mama sangat tidak menyukai Icha. Maafkan Icha yah ma, kalo selama ini Icha selalu buat marah mama. Dan juga maafkan Icha kalo sudah menjadi dalang dari meninggalnya ayah. Terima kasih ma atas kasih sayang mama kepada Icha. Icha akan selalu sayang sama mama....
With love....
Icha Septian Nuraga

_SAD ENDING_

PROFIL PENULIS
Nama Lengkap: Andi Sri Fajriana
Tempat, Tanggal lahir: Bulukumba, 29 April 1999

Senin, 25 Juni 2012

Cerpen Ibu - Sepucuk Surat Merah Muda

SEPUCUK SURAT MERAH MUDA
Karya Dwi Hartini Nur

Kemunafikan dunia. Aku merasa telah masuk dalam perangkap kemunafikan dunia yang semakin merajalela dan menyerang kehidupanku, kehidupan yang begitu kelam dan kelabu. Setiap langkah kakiku yang gontai bagai menggambarkan kerapuhan jiwaku saat ini. Kehidupan yang aku fikir sangat menyenangkan dan menghibur ternyata berbalik menjadi kehidupan yang ricuh dan mengherankan bin mengejutkan. Hidup dengan kemunafikan dunia, hal terbodoh yang telah kurasakan saat ini. Hidup ini terlalu singkat untuk aku habiskan dengan pemberontakan kehidupan yang tidak pernah aku bayangkan. Setiap hari hanya menyaksikan kemarahan mama, ejekan adik dan kakak, semburan nasihat dari papa yang sekaligus memarahiku. Aku bosan hidup seperti ini. Dunia kehidupanku bagai tak berputar. Aku merasa seperti budak yang tidak pernah lepas dari penyiksaan.

Siksaan batin yang kualami tidak dapat lagi kuhitung dengan jemariku. Siksaan itu telah merajalela dan menyebar dalam hidupku. Sampai aku merasa aku telah berada dalam neraka jahiliah. Tempat yang menyeramkan nan menakutkan. Tempat di mana segala siksaan bertubi-tubi tanpa ampun dilakukan di tempat ini. Seharusnya rumah itu menjadi istana bagiku bukan menjadi neraka untukku. Aku merasa iri pada semua teman-temanku yang mempunyai kehidupan yang jauh lebih baik dari kehidupanku saat ini. Mereka selalu kelebihan kasih sayang dari kedua orang tua mereka. Sedang aku, kelebihan ocehan dan kemarahan dari mama. Setiap pagi, siang, sore, malam hingga pagi kembali datang, kupingku hanya mendengar teriakan dan jerit kemarahan dari mama.

Akupun mencoba keluar dari rumah dan duduk di bawah pohon yang rindang. Sambil merenungi nasibku yang kian malang, aku mulai berkhayal terbang di atas langit, bermain dengan gumpalan awan dan tertawa dengan udara. Aku merileksasikan diriku dari siksaan batin ini. Belum sampai hitungan jam, jeritan mama kembali menerkam kupingku. Mama kembali marah atas kesalahanku yang terbilang tidak begitu besar. Aku hanya lupa membersihkan kamarnya. Hanya itu, tapi kemarahan mama bagaikan halilintar yang menyambarku di siang bolong.

Akupun membereskan kamar tidur mama. Lalu, mengambil air wudhu dan bergegas sholat Ashar. Dalam kekhusyukan sholatku, aku berdo’a “Ya Tuhan, berikanlah hamba setitik kebahagiaan. Setitik saja. Hamba hanya ingin mendapatkan sedikit kebahagiaan dari banyaknya kebahagiaan yang engkau miliki, ya Allah. Hamba ingin Mama menyayangi hamba seperti beliau menyayangi saudara-saudara hamba yang lain. Hamba ingin memeluk surga di bawah telapak kakinya. Hamba hanya ingin kebahagiaan dan kasih sayang darinya. Ya Tuhan, tolong beritahu Mama bahwa aku sangat menyayanginya, Ya Tuhan” akupun bergegas melipat peralatan sholatku dengan rapi.

Hari ini, tepat tanggal 22 Desember. Hari kelahiranku, hari kebangkitanku dan hari kebebasanku menikmati dunia setelah 9 bulan lamanya terkurung dalam rahim Mama. Aku berharap hari ini ada senyuman di bibir Mama untukku. Aku merindukan senyuman Mama yang hampir telah pudar dari penglihatanku. Aku mulai keluar dari kamar dan duduk di ruang keluarga, tempat mama biasa menghabiskan waktunya. Tak lama kemudian, mama keluar dari kamarnya dan mama hanya melihatku sekilas, sekilas saja lalu pergi ke kamar kakak. Aku yang telah duduk di tempat itu seperti terkecoh, aku yang berharap penuh Mama mengucapkan kalimat “Happy Birthday, Baby” tiba-tiba lesu tak berdaya. Aku rapuh saat itu juga. Tak terasa tetesan air mata jatuh membasahi pipiku. Aku tak kuat menahan perihnya hatiku. Mamaku yang sangat aku sayang, melupakan hari ulang tahunku. Betapa sakitnya hatiku. Bagaikan tertusuk benalu. Akupun mengurung diri di kamar seharian. Dan aku menulis sepucuk surat untuk mama.
Bulukumba, 22 Desember 2011
Untuk Mama tercinta

Selamat hari Ibu, Ma
Kalimat ini aku jadikan salam untuk membuka suratku ini untuk mama karena hari ini adalah hari Ibu, sekaligus hari ulang tahunku, Ma. Mungkin hari ulang tahunku tidak begitu penting bagi Mama, aku sadar itu, Ma. Namun, biarkanlah aku mendengarkan ucapan “Happy Birthday” dari bibir Mama, kali ini saja. Aku merindukan senyuman lebar Mama yang semakin lama kian memudar dari penglihatanku. Aku merindukan Mama yang dulu. Ma, aku tahu aku bukanlah anak yang sempurna di mata Mama. Tapi biarkanlah aku juga menikmati sejuknya kasih sayang dari Mama. Biarkanlah aku bersujud di hadapanmu dan meminta maaf kepadamu, sekali saja. Lalu aku akan pergi jauh dari kehidupanmu, Ma. Aku janji itu. Aku hanya ingin mencium surgamu, telapak kakimu yang bersinar itu.
Ma, jika esok aku telah tiada, aku mohon, lantunkanlah sebuah do’a untukku agar perjalananku ke surga dapat di mudahkan oleh Tuhan. Hanya itu pintaku Ma. Dan aku akhiri suratku ini dengan ucapan “Happy Mother’s Day, Mom. I will always love you. Now and ever”

Salam, anakmu

“DITA”

Setelah suratku aku tulis di atas selembar kertas berwarna merah muda, seketika penyakit jantungku pun kambuh. Penyakit jantungku pun merenggut nyawaku. Dan, akupun meninggal dalam keadaan yang teramat sedih karena tidak dapat melihat senyuman dari mama untuk yang terakhir kalinya.

PROFIL PENULIS
Nama Lengkap : Dwi Hartini Nur
Nama Panggilan : Wiwi
Tempat, tanggal lahir : Bulukumba, 22 Desember 1996
Alamat : Jl. Matahari, Bulkumba, Sulawesi Selatan
Alamat Facebook : Ade'dwhieta ZiiCweneon Inginkandzhbat (WHydii)
Alamat twitter : @Why_whiek