Tampilkan postingan dengan label Cerpen Sedih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Sedih. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 September 2012

Cerpen Sedih - Oh Mama....Oh Papa....

OH MAMA ….OH PAPA…
Karya Desima Siahaan

CINTA SEDERHANA SUAMI DAN ANAK ANAKKU
MEMBUATKU BISA KUAT WALAU PADA AKHIRNYA AKU HARUS KEMBALI KEPADANYA

Arti Cinta Yang Sebenarnya

Cinta adalah sebuah perasaan terdalam kepada seseorang. Karena cinta kita bisa mengorbankan apa pun juga demi orang yang kita cintai bahkan nyawa sekalipun. Perkenalkan nama saya Hotna Rouli Simanjuntak , saya adalah seorang istri dari seorang suami yang sangat saya cintai sampai Tuhan memanggil saya kembali ke pangkuanNya yaitu Marojahan Siahaan. Saya juga seorang ibu dari 7 orang anak yang sangat mengasihi saya yaitu 2 orang anak laki – laki dan 5 orang anak perempuan. Pasti sangat begitu repot sewaktu mengurus anak anak saya waktu kecil. Tapi saya mempunyai kebahagiaan tersendiri untuk hal itu.


Tuhan , Terimalah Salah Satu Anakku Menjadi PelayanMu
Sejak dari dulu saya sangat ingin salah satu dari anak – anak saya dapat menjadi pelayan Tuhan. Setiap dalam doa saya selalu mengutarakan keinginan saya ini kepada Tuhan. Saya sangat senang dalam setiap pelayanan di gereja dimana mereka bisa berkotbah, memberitakan firman Tuhan, dan melawat orang orang kesusahan. Hingga awal Juni 2007 putri ku Murni menelepon dari Batam. Mama saya ingin pulang untuk kembali lagi ke melanjut , kalau mama mengizinkan saya ingin melanjut di Sekolah Bibelvrow HKBP di Laguboti.Murni tidak tahan mama kerja di PT terus. Saya sangat bahagia pada waktu itu . Dengan persetujuan dari suami dan anak – anak saya yang lain. Murni akhirnya kembali dari Batam dan mendaftar di Sekolah Bibelvrow. Dan juga putri bungsu saya Desi melanjut di sebuah perguruan swasta di Medan. Saya cukup bangga dengan putri bungsu saya ini walau dia anak bungsu tapi saya selalu mengajarkan dia mandiri. Hingga dia bisa membiayai biaya kuliah sendiri dengan memberikan les private ke rumah – rumah. Saya memang selalu berusaha memberikan pelajaran tambahan untuk anak saya selama sekolah terutama bidang study Bahasa Inggris. Karena kelak itu pasti berguna untuk kehidupan anak saya kelak. Puji Tuhan putri bungsu saya bahkan bisa membagi ilmunya bagi sesama. Selama Setahun saya bekerja giat untuk kebutuhan kedua putri saya.

Tuhan , Ada Apa Dengan Ibu Jari Saya
Dulu sewaktu masih gadis, saya bekerja di sebuah kilang pengolahan sarung. Hingga suatu saat ibu jari kiri saya terjepit mesin pemintal benang pada waktu itu . Darah hitam membeku dan mengendap selama puluhan tahun di ibu jari kiri saya. Hingga suatu hari sewaktu mencuci kain , ibu jari saya terantuk ke batu dan darah keluar dari ibu jari itu . Tapi anehnya darah yang keluar sangat bau dan lama kelamaan terjadi pembengkakan hitam di bagian ibu jari saya yang terkelupas. Saya berusaha mengobatinya dengan menjalani pengobatan medis, 3 x ibu kulit ibu jari saya di kupas sampai kulit warna hitam itu hilang tapi 3 bulan kemudian nanah hitam itu selalu muncul. Saya juga menjalani pengobatan alternatif sampai ke sebuah Desa di Dolok Sanggul Humbang Hasundutan waktu itu. Saya selalu berdoa kepada Tuhan agar , tanganNYa menjamah penderitaan saya. Tapi Tuhan baik saya tidak merasakan sakit apapun dengan ibu jari saya , walau nanah hitam itu selalu keluar. Ketika saya bekerja menanam padi di sawah , menyiangi kopi di ladang , mengambil kayu bakar . Saya selalu membungkus tangan saya dengan kain dan plastik.

Pernikahan Putri Sulung Saya Rumondang Marisi Siahaan
Tuhan sangat baik dan menunjukkan kasih setiaNYa yang begitu besar kepada keluarga saya. Putri sulung saya akhirnya di pinang oleh seorang laki laki perjaka. Sebagai seorang ibu saya sangat senang , karena diberi kesempatan untuk menikah kan anaknya oleh Yang Maha Kuasa. Pada saat itu putri bungsu saya kembali dari Medan untuk menghadiri pernikahan kakaknya. Pada malam hari Desi menanyakan saya waktu saya mengelap nanah yang keluar dari ibu jari saya. Mama , apa tidak lebih baik mama check up dulu ke Medan, dokter disana kan lebih ahli mama. Jadi kita bisa takut penyakit mama apa. Karena sudah beberapa kali di kupas kok nanah nya terus muncul sepertinya sudah berakar di dalam tuturnya. Saya terdiam dan akhirnya saya menjawab, tidak apa – apa kok nak mama tidak merasa sakit. Lagian kita kan butuh uang untuk biaya kuliah kakakmu dan juga kamu. Mama tidak usah memikirkan itu, kalau memang kita tidak ada biaya check up sementara dulu kita jual aja dulu mama cincin emasku pintanya. Desi memang mempunyai sebuah cincin emas yang telah kubelikan untuknya dari hasil tabungannya selama sekolah. Ah janganlah anakku , nanti itu kan bisa untuk biaya kuliahmu kelak jawabku. Keesok harinya pesta pernikahan putriku berlangsung dengan meriah, perberkatan nikah disebuah gereja dan juga adat Batak. Setelah agak sore putri bungsuku pamit , sambil memelukku dia berkata, mama kuharap mama akan datang check up ke Medan. Iya nak nanti mama pertimbangkan jawabku. Ketika malam hari semua keluarga berkumpul, suamiku, anakku Bernad, Putri Enni dan Murni, kami mendiskusikan ibu jari kiri ku yang membengkak dan juga ayah mertuaku. Ayah mertuaku meminta kepada suamiku supaya dia membawaku berobat. Pada saat itu aku melihat laki laki yang sangat aku cintai menitikkan air mata untuk ku. Dengan terisak isak dia berkata dia tidak terlalu khawatir dengan kondisi ibu jari tanganku karena aku selalu bisa bekerja mendampinginya disawah dengan lincah. Akhirnya di putuskan pada malam itu bahwa besok pagi aku harus berangkat check up ke Medan.

Cinta Sederhana Anak – Anakku
Sore itu aku dan putri ku Enni dan Murni sampai di kota Medan. Kami tiba di rumah saudara laki laki ku yaitu paman anak – anakku. Putri bungsuku Desi tinggal bersama pamannya disana. Desi sangat senang melihat kedatanganku. Mama jadi datang ? sahutnya sambil mencium pipiku. Iya nak sahutku. Pada malam itu aku membicarakan pada abangku tentang rencanaku ke Medan untuk operasi. Abangku mengatakan biaya yang diperlukan pasti cukup besar. Tapi tidak masalah besok kita akan pergi ke rumah sakit dulu untuk check up. Keesok harinya aku , abangku dan keponakanku pergi ke rumah sakit Pringadi Medan. Suster mengambil sampel nanan ibu jariku dan membawanya ke Laboratorium. Ibu Hotna kata Dokter, menurut pemeriksaan ibu jari kiri ibu adalah tumor . Jadi harus segera di amputasi. Tentu fisik ibu harus sehat dan membutuhkan biaya yang cukup besar kecuali ibu punya kartu Kesehatan. Saya terdiam dan akhirnya mengatakan dokter saya akan membicarakan hal ini dengan suami dan anak – anak saya terlebih dahulu. Hari hampir siang ketika putri bungsu ku itu pulang dari kuliah. Wajahnya terlihat gembira dan langsung menghampiriku. Mama gimana tadi mama pemeriksaan dirumah sakit tanyanya. Aku memandang wajah anak ku. Ibu jari kiri mama harus diamputasi tentu kita harus punya uang yang cukup untuk itu dan juga yang menjaga mama di rumah sakit harus ada jawabku. Apa kita bisa menggunakan Askes mama, kan Askes mama dari kampung kan bisa berguna kita minta aja rujukan dari dokter Balige. Pagi hari itu hujan rintik – rintik sambil menjahit kancing rok putriku yang putus aku agak sedikit berhayal dengan semua ini. Rasa nya aku sangat putus asa dengan semua sudah satu minggu aku di Medan tapi pengobatan untukku rasanya tak juga kesampaian. Aku tidak mau menyusahkan keponakanku yang harus bekerja dan juga abangku yang sudah tua. Sambil menyisir rambut dan berdandan putri bungsuku berkata. Mama , aku punya seorang murid les, ibunya bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Adam Malik Medan. Gimana kalau kita kerumahnya . Kita bisa tanya tentang penyakit mama , siapa tahu kakak itu mau membantu karena aku biasanya ngajar anaknya di rumahnya . Oh ya tak ada salahnya kita coba dulu nak jawabku. Sepertinya ucapan putriku itu membuatku semangat kembali. Dengan bergandengan tangan dan berteduh payung aku dan putri ku pergi ke rumah perawat itu. Di persimpangan jalan , aku menanyakan pertanyaan yang mungkin konyol kepada putri bungsuku. Nak apa kamu tidak malu jalan dengan mama tanyaku. Dengan terkejut putriku menjawab, kok malu mama kan ibu ku ngapain malu. Aku bangga punya mama yang selalu berjuang untuk kami. Ya Tuhan betapa sederhananya cinta anak anak ku. Terimakasih ya Bapa karena engkau menitipkan mereka dalam kehidupanku pikirku.

Aku Menjalani Operasi
Ibu Eni Perawat Rumah Sakit Adam Malik itu akhirnya membantu kami. Setelah berkasku selesai aku pun dijadwalkan menjalani operasi di Rumah Sakit Adam Malik Medan. Putri bungsuku Desi menandatangani semua berkas berkas operasiku. Jika pun terjadi hal hal yang tidak diinginkan nantinya keluarga akan bersedia menerima segala resiko yang ada. Rabu 16 Juli 2008 adalah hari saat aku menjalani ruang bedah . Aku masuk keruang operasi itu sekitar jam 13.00 dengan bekal doa suami dan anak anakku. Hanya kedua putriku yaitu Enni dan Desi yang menemani aku saat operasi. Disitulah aku merasa selama 5 jam aku dalam keadaan tak sadar. Hingga menjelang magrib aku sadar dan dibawa keruang inap. Aku merasakan kesakitan yang sangat luar biasa. Ibu jariku di perban, ketiak, dan leherku juga di perban begitu juga tanganku. Rasanya pada saat itu tubuhku seperti di Jagal. Ya Tuhan apakah ini api nerakamu buatku pikirku pada saat itu. Setelah kami sampai di ruang inap . Desi segera memimpin doa, aku masih sangat kesakitan . Dan pada pagi harinya putriku dari Batam Espi menelepon sambil menangis mengucap syukur pada Tuhan atas kehidupan kedua yang aku terima.

Tuhan Andaikan Itu Bukan Melanoma
Pada pagi harinya Desi membawa hasil pengoperasian tumor yang diangkat dari tubuhku. 3 hari kemudian. Desi mengambil hasilnya dan disitu tertulis, aku terkena tumor ganas stadium 1 dan sejenis melanoma ganas dan telah terjadi anastesia atau penyebaran. Aku sangat sedih , kondisi ku sangat lemah setelah operasi itu. Dari segi kedokteran Melanoma merupakan Neoplasma yang berasal dari Melanosit yang kemungkinan besar adalah kanker kulit yang menyebabkan kematian. Kanker ini paling banyak dari insiden kanker yang ada. Puncaknya pada usia 50 dan 70 tahun. Melanoma menyebar melalui system vascular dan limfatik serta bermetastasis ke kelenjar getah bening , regional kulit, paru paru dan system saraf. Progonisnya bervariasi berdasarkan kekebalan tumor. Melanoma biasanya terjadi di kepala dan leher pada pria , tungkai pada wanita serta punggung pada individu yang terpajan sinar matahari secara berlebih. Karena kanker yang kuderita adalah ganas. Dokter menganjurkan agar saya mengikuti kemoteraphi. Tapi kondisi fisik saya masih sangat lemah. Akhirnya ada yang menyarankan agar saya mengkonsumsi Produk High Dessert atau Bee Propolis dan juga produk CNI. Biaya untuk membeli obat obatan ini sangat mahal. Tapi putri bungsu saya berusaha membelinya untuk saya walaupun dengan mengajar door to door pada waktu itu.

Tak Bisa Bekerja Setelah Operasi
Awal bulan Agustus saya balik ke Balige dengan bekal obat obatan dari High Desert. Putri saya menyarankan agar selalu mengontrol kesehatan saya di RS Balige. Saya adalah tipe wanita yang tidak mau berpangku tangan. Akibat operasi yang saya jalani tangan kiri saya tidak bisa bergerak dan leher saya agak sedikit membungkuk ke samping kiri. Sepulang dari rumah sakit di Medan saya berdoa pada Tuhan agar Tuhan memberikan kesempatan kepada saya untuk menikahkah anak sulung laki laki saya yaitu Jadi Chandra Siahaan. Doa saya di kabulkan Tuhan October 2008 anak laki laki saya membawa menantu saya dan mereka akhinya menikah. Dulu sebelum menikah anak sulung saya ini telah berjanji akan tinggal dengan saya tapi ternyata dia mengingkarinya. Dia membawa menantu saya kembali lagi merantau sampai rasanya saya sangat terpukul yang mengakibatkan penyakit saya kambuh.

Terjadinya Pembengkakan Kelenjar di Bagian Lain
Mungkin karena selalu berpikir dengan masalah keluarga yang saya hadapi , terjadi pembekakan kelenjar di tempat lain. Setelah saya operasi Putri saya Enni mengundurkan diri bekerja agar bisa merawat saya. Setiap putri bungsu saya menanyakan keadaan saya selalu mengatakan mama sehat nak, kamu belajar aja yang rajin agar dapat beasiswa.

Natal Terakhir Bersama Keluarga
Dimalam natal 2008 itulah natal terakhir yang aku jalani dengan anak anak ku. Sungguh aku tak ingin malam natal ini berakhir. Pada malam itu aku banyak memberi nasihat kepada anak anakku agar kelak suatu saat mereka selalu berserah diri kepada Tuhan jika kelak aku dipanggil Tuhan. Anak anakku sangat menangis mendengar ucapanku.
Tuhan Andai Aku Bisa Memilih

Januari 2009 penyakit itu mulai menggegoroti tubuhku hingga pada pertengahan bulan Januari 2009 aku check up di rumah sakit Balige. Dokter mengatakan kanker itu sudah menyebar ke seluruh tubuhku dan bisa diperkirakan umurku tinggal beberapa lama lagi. Aku sangat sedih semenjak itu aku tak bisa bergereja lagi, ikut paduan suara di Paduan Suara Hasundutan. Aku sangat sedih. Yang bisa kumakan hanya bubur dan satu – 3 sendok the. Mataku cekung dan kelihatan menghitam , perutku membengkak akibat . Beberapa kali paduan suara itu menjengukku , aku sangat menangis mendengar nyanyian mereka . Mereka menyanyikan sebuah judul lagu Nanggumalussang Angka Laut. Hidup ini ibarat badai. Air mataku meleleh , ingin aku berseru Tuhan ampuni dosaku. Mahasiswi teman putriku Murni juga datang menghiburku dan menyanyikan lagu . Aku sangat terhibur dengan kedatangan teman teman putriku. Awal Februari 2009 Putriku Espi kembali dari Batam melihat keadaanku. Dia sangat menangis melihat keadaaku , yang sepertinya tak berdaya . Rasanya hatiku hancur melihat tangisan anak anakku ini.

Tuhan andai aku bisa memilih aku tak mau ada tangisan diantara anak – anakku . Aku ingin Engkau menghapus air mata mereka kelak. Tuhan hiburkan anak anakku , kuatkan suamiku agar bisa bertahan di dalam cobaan ini doaku.
Jangan Tangisi Aku Nak

Senin Pagi 16 Februari 2009 aku merasa waktuku sudah dekat . Aku merasa kini saatnya aku harus kembali , meninggalkan dunia fana ini, mengakhiri semua rasa sakit ditubuhku. Jam 10.30 pagi dengan terpatah patah aku berkata kepada putriku Enni untuk memanggil Pendeta agar aku punya kesempatan ikut Perjamuan Kudus untuk menghapus semua dosa dosaku. Walau rasanya aku sudah tidak sanggup lagi tapi aku berusaha kuat untuk mengikuti acara itu dan memakan roti sebagai lambang tubuh Kristus dan minum anggur sebagai lambah darah Kristus. Setelah itu aku merasa lega. 10 menit Pendeta itu kembali pulang , aku merasa waktu ku sudah tiba dan dengan tenang aku menghembuskan nafas terakhir. Anak anak dan suamiku menjerit , menangis mengiringi kepergianku. Tapi dari surga aku menatap mereka dan berkata “ Maafkan aku , andai aku bisa melawan penyakit ini tapi rasanya aku tak ingin melihat air mata suami dan anak anak ku kering menanti kesembuhanku. Biarlah kesembuhan yang dari Tuhan yang aku dapat. Suami ku dan anak anakku yang terkasih kita akan kembali lagi bertemu di surga yang kekal , tempat yang disediakan Allah Bapa disorga. Terimakasih Tuhan karena Engkau telah mengangkatku . Tempatkanlah aku disisi kananMu. Hibur dan lawatlah anak anak dan suamiku.


In Memorial Hotna Rouli Simanjuntak
Lahir 22 Mei 1959

Kembali Kepangkuan Allah Bapa Disorga
16 Februari 2009

PROFIL PENULIS
Nama : Desima Siahaan
Alumni : AMIK Medicom Medan Indonesia
Pekerjaan : Clerk Ciba Vision Johor Sdn. Bhd Malaysia
T/Tgl Lahir : Sibuntuon 27 Desember 1989
Motto : Gunakan waktu yang diberikan Tuhan untuk membahagiakan orang tua kita selagi masih ada kesempatan.
Cita cita : Secretary or Cheff.
Hobby : Masak , membaca dan menulis
Alamat FB : desy.siahaan@yahoo.com/ Desima Siahaan
Alamat Twt : @DesimaAm

Baca juga Cerpen Sedih yang lainnya.

Jumat, 07 September 2012

Cerpen Sedih - Kalut Dalam Kalbu


KALUT DALAM KALBU
Karya Akhmad Azhar Rizaldi

Aku masih ingat sekali. Sore itu, ketika mainan ku terlepas dari tangan ku, aku melangkah menuju dapur. Kukira teriakan ibu dan ayah akan terus beradu hingga salah satu pintu dirumah ini akan dihempaskan. Tapi tidak.
Baru kali ini ketika mereka beradu mulut, tidak ada bunyi hempasan pintu yang terdengar. Tidak biasanya pikirku. Aku melangkah pelan, melirik melalui celah tembok, melihat bayangan itu mencengkram kepalanya sendiri. Kuberanikan diriku untuk melangkah masuk, melihat ayah menangisi ibu yang sedang terlentang.
"Ayah, ibu kenapa?" Aku mempelajari apa yang sedang terjadi "Ibu berdarah!" Aku terkejut, berlari kearah ibu.
"Bu, ibu kenapa!? Tertusuk pecahan kaca? Atau jarum? Kenapa darahnya sebanyak ini bu? Ibu sakit!!?" Ibu tak merespon tanya ku, apakah ibu tertidur? Mana bisa tidur sewaktu terluka seperti ini. Kemudian kulihat sebilah pisau jatuh dari tangan ayah, mengalir darah dari ujung mata pisaunya.
******

Penyesalan. Ketika aku tidak mengenal apa itu "mati" waktu itu. Kukira ibu tertidur. Kukira darah yang mengalir dari tubuh ibuku hanya sebekas tertusuk pecahan kaca atau jarum. Karena baru sebatas dua hal itu saja yang kutau bisa menyebabkan darah keluar. Tapi bukan dua-duanya. Itu karena pisau, yang terjatuh dari tangan ayah, yang berlukiskan darah di badan pisaunya. 

Penyesalan. Harusnya aku menangis waktu itu, menangis sekeras mungkin. Berteriak, mengambil pisau itu kemudian menghunuskannya kepada lelaki keparat itu. Air mata nya keluar setelah dia membunuh tubuhnya, tidak pernah keluar ketika ia membunuh hatinya. Air mata itu palsu, apakah ia masih menangisi nya di kurungan besi disana? Semoga saja tidak, karena ibu pasti akan merasa hina ditangisi laki-laki seperti itu.

Selalu menjadi penyesalan. Mengapa Ya Tuhan!? Harus lelaki itu yang mengawini ibu!? Biar saja aku tak lahir, asalkan bukan dia yang mengawini ibu!? Biar saja aku Engkau lahirkan menjadi bayi yang prematur atau anak yang cacad mental. Asal laki-laki itu tidak mengawini ibu!!! Agh!!!
Harusnya laki-laki itu jangan di kurung. Tapi bawa kehadapanku, lalu aku hajar wajahnya, ku congkel matanya! Ku tusuk mulutnya dengan besi panas! Neraka harusnya dibawa lebih dini padanya, dan aku sebagai malaikat penyiksanya.

Hingga atas semua penyesalan itu, aku menyesal! Aku menyesal telah menyesalinya! Kini tuhan menghukumku! Menghukum anak seorang pelacur dan pemabuk! Menghukum ku yang seorang anak haram, hasil dari sperma seorang pemabuk. Aku...aku sayang ibuku, dan aku... benci ayahku...

Aku dihukum, dalam sebuah tubuh yang tidak mampu kukendali. Otakku rusak karena penyesalan itu. Otakku rusak, tak ada yang sempat memperbaikinya. Sepuluh tahun dengan ingatan itu, sangatlah menyiksa. Tubuh ibu yang terlentang dengan darah menggenang, menjadi satu-satunya kenangan yang selalu terngiang di kepalaku. Aku sah menjadi orang gila sekarang...

Sama seperti ayah, akupun berada dalam kurungan sekarang. Kurungan bagi seorang yang tak waras. Yang mencelakakan orang ketika pasunganku dilepas. Para perawat dan penjenguk menakutiku. Mereka takut akan diriku, seorang yang tenggelam dalam kalutnya masa lalu, yang ditelan dalam kelabunya garis hidupku...
Ingatan itu terulang dan terulang lagi. Penyesalan semakin bertambah seiring semakin seringnya ingatan itu terulang.

Aku masih ingat sekali. Sore itu, ketika mainan ku terlepas dari tangan ku...Mainan itu adalah foto ibu dan ayah yang sedang menggendongku.

Baca Juga Cerpen Sedih yang lainnya.

PROFIL PENULIS
Nama :Akhmad Azhar Rizaldi
TTL : Banjarmasin, 30 Juli 1995
Alamat Facebook : Rizal D. Azhar /ahmadazharrizaldi@yahoo.co.id

Senin, 03 September 2012

Dia di Hari Minggu - Cerpen Sedih

DIA DI HARI MINGGU
Karya Putri Handayani

Tepat hari ini aku kerap menemui dia di tempat ini, dengan sejuta alasan yang melekat dibenak hal apapun tak terpikirkan ketika aku telah berada di hadapannya. Menatapnya dengan lekat sembari tersenyum lembut. Tepat di hari ini semua bebanku terasa sirna tatkala ku merebahkan kepalaku di pundaknya, memegang tangannya yang sarat akan kasih sayang. Tepat di hari ini pun semua terasa menyenangkan saat dia bisikkan “Aku cinta kamu selamanya” tepat di telingaku.Dan tepat di hari ini juga ku nikmati kebersamaan yang amat dalam ketika aku dan dia berhayal tentang masa depan, menatap awan-awan sembari memberinya makna, membuat iri seisi tempat itu seakan kami berteriak dan ungkapkan : “Heyy… lihat kami, ini lho pasangan terkompak tahun ini…!” Semua terasa indah saat itu, tatkala aku dan dia bergelut dalam kebersamaan.

Dan tepat di hari ini, aku sendiri. Tak ada lagi tempat untuk kusandarkan kepalaku, tak ada tangan sarat kasih sayang yang bisa kupegang saat ini, tak ada bisikan-bisikan cinta yang bisa kudengar lagi, dan tak ada pula orang-orang yang iri ketika melihatku. Seisi tempat itu kurasa telah mencampakkan aku saat ini, mengacuhkanku, dan seakan menyiratkan beberapa kata : “Siapa orang ini? hanya duduk seorang diri dengan tatapan kosong. Seharusnya kau tak datang ke sini!” Ketika itulah aku sadar bahwa memang benar.. aku hanya sendiri, dia tak datang ke tempat itu lagi.
****

Seperti biasa, dia selalu mengirimi aku sebuah pesan singkat yang kemudian aku balas dengan perasaan berbunga. Walaupun ia tak seromantis yang aku kira, tetapi ia mampu menumbuhkan rasa cinta yang amat besar di hatiku, ketika berkali-kali ia ungkapkan kata cinta dan sayang. Rasanya seperti melayang… terbang ke langit terang.. Menggapai bintang-bintang dan seakan tak terbayang. Berkali-kali ia ucapkan janji bahwa dia tak akan pernah meninggalkanku, takkan pernah buatku menangis dan menjadikanku yang terakhir dihatinya. Akupun turut menyambutnya dengan janji yang sama. Tak sedikitpun aku merasakan sangsi dalam mengucapkan janjiku, karena aku sungguh yakin dengan apa yang kuucap.

Tatkala itu, saat kutemuinya di tempat langganan yang biasa kami datangi untuk melepas segenap kerinduan yang membendung. Makhlum saja, kami berlainan sekolah, oleh karena itu kami hanya dapat bertemu di akhir pekan saja : Hari Minggu. Bergurau, bermanja-manjaan. Hal itulah yang biasa kami lakukan ketika bertemu. Ditengah canda tawa itu ia kembali meyakinkanku atas janjinya, sampai akhirnya ia memberi jari kelingkingnya untuk dikaitkannya di jari kelingkingku. Spontan saja aku terima, dan ia pun berucap, “Aku berjanji akan selalu mencintaimu sampai kapanpun juga, kaulah yang terakhir, kita tak akan terpisahkan oleh apapun juga, percayalah!” Mendengar itu, aku tersenyum tipis sembari mengangguk. Kalkulator cintaku telah menunjukkan angka 100% terhadap kesaksiannya.
Tak seperti biasanya, ia tak menghubungiku lagi. Makin jarang, dan seiring hal itu sifatnya pun menjadi sedikit berubah. Entah..

Aku tanya, mengapa dia seperti itu. Perasaan aku tak pernah telat membalas pesan singkatnya, sesibuk apapun aku tetap ingat menanyakan keadaannya, dan aku merasa tak pernah mengacuhkannya. Namun, mengapa dia seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Dia menjawab pertanyaanku, dan saat itu juga aku berpikir : Aku menyesaal menanyakan hal ini. Kau tahu apa yang dia katakana kepadaku? Dia bilang kalau….. Ah,,sungguh jawaban yang tak dapat kuterima dalam keadaan apapun. Jawaban yang merenggut senyumku seketika. “Aku belum bisa melupakan Dia. Sedikitpu.” Beberapa patah kata itulah yang ku terima sebagai imbalan dari pertanyaanku. Ya… “Dia” mantannya pacarku. Aku tak tahu apa salahku sehingga aku berada di posisi ini sekarang. Antara galau, sedih, tak yakin dan tak terima… Semua terasa manyakitkan saat sifatnya makin memburuk terhadapku. Semakin parah, sampai aku tak bisa membedakan Ini kekasih atau musuhku.

Kini dia menggantung hubungan kami. Berkali kutanyakan, “Maumu apa???”. Lalu dia hanya menjawab, “Terserah padamu saja!”. Sungguh sadis bukan? Cukup membuat aku tercengang untuk beberapa saat. Heyy… Kemana janjimu yang dulu? Pergi kemana dia? Kemana dirimu yang selalu berbisik, “Aku sayang kamu..”. Kemana harapan-harapan indah yang kau tuangkan ke dalam hatiku. Kini aku rasa semua telah jauh meninggalkanku. Tapi dia diam. Tak sedikitpun menampik rasa kecewaku ini.

Semua tak seperti yang kuharapkan. Aku kira semua akan indah seperti pelangi, penuh warna dan penuh keceriaan. Namun aku baru sadar, indahnya pelangi tak sejalan dengan berapa lama ia akan bertahan tampak seperti itu. Aku mulai tahu, pelangi hanya muncul sesaat dan menghilang untuk waktu yang lama.. lama selama ia mengkehendakinya. Aku pikir seperti inilah cintanya terhadapku. Kasih sesaat dan janji yang semu. Aku mulai sakit hati…. Di sisi lain aku juga masih menyimpan rasa itu, rasa yang tak mungkin aku hilangkan dalam sekejap kedipan mata.
****

Aku masih tak beranjak dari tempat dudukku. Aku termenung. Handphoneku aku genggam di tangan kananku dengan posisi menengadah. Ku pandangi sosok yang berada dalam wallpaper handphoneku, wajahnya berseri-seri seperti menatap ke arahku dengan lekat. Aku tersenyum tipis. Ingin rasanya aku banting handphone itu, dalam senyumnya aku melihat suatu kebohongan yang amat besar. Terlalu keras ia tancapkan belati itu di tengah-tengah jantungku. Sakit sekali.

Butiran-butiran bening mulai menitik di pipiku. Mengalir dan terus mengalir. Tak kuasa ku usap, hanya ku biarkan. Ku anggap ini bentuk duka cita dari mataku untuk hatiku. Aku tak berhenti menangis, aku ingin dia yang mengusap air mataku ini seperti apa yang selalu ia katakana dulu. Tapi apa daya, dia tak datang. Aku tak akan pernah melupakan semua kepahitan ini, sampai kapanpun aku akan tetap ingat apa itu janji, apa itu hutang, apa itu kesetiaan. Dan di sinilah aku akan menunggu janji itu dengan setia. Di sini, di tempat ini. Saat ini, di hari ini : Hari Minggu.

PROFIL PENULIS
Nama : Desak Ketut Putri Handayani
Alamat : Klungkung, Bali.
TTL: Klungkung, 5 Maret 1995
Zodiak : Pisces
Sekolah : SMA N 2 Semarapura, Bali.
Hobby: Menulis, menyanyi dan berpetualang
Tentangku : Aku ilalang kecil yang sedang mencoba untuk menjangkau langit, walau itu terbilang mustahil namin aku percaya, langit yang akan menyentuhku dengan kilauan-kilauan cahayanya yang indah :)

Baca juga Cerpen Sedih yang lainnya.

Sabtu, 01 September 2012

Someday - Cerpen Sedih

SOMEDAY
Karya Handy Risma Tricahya

Alunan lagu sedih terdengar dari dalam kamar Mely. Dia terduduk meratap di meja belajar yang berada disamping jendela. Dia terlihat sangat kacau sekali, rambutnya yang panjang sedikit berantakan, wajahnya pucat dan matanya sembab.

Diatas mejanya itu terdapat lampu belajar yang menyinari parasnya yang nampak makin kacau, beberapa tumpukan buku dan sebuah bingkai foto yang terbalik. Hujan diluar sudah mulai reda, terlihat tetesan air mengalir dari kaca jendelanya.pelan – pelan Mely mendorong jendelanya dan dibiarkannya terbuka sedikit, hembusan angin yang menerpa wajahnya begitu terasa sangat dingin, tiba – tiba Mely tersenyum dan menertawai dirinya sendiri.
“ Seharian ini aku belum mandi? Kakak coba lihat gara – gara memikirkanmu aku sampai lupa mengurus diriku sendiri.” Selama beberapa menit Mely terpaku memandangi langit yang gelap.
“ Kakak? Kenapa kamu tidak juga datang? Aku sudah begitu lama menunggumu. Kau kan sudah berjanji akan menjemputku.” Kata Mely lirih.

Perlahan – lahan Mely merangkak ke tempat tidurnya dan membanting tubuhnya diatas kasur. Matanya lekat memandang langit – langit butiran hangat yang mengalir di pipinya tak ia hiraukan lagi. Sayup – sayup tedengar alunan lirik yang menyayat hati milik Lykke Li . . .
There’s a possibility
There’s a possibility
All that I had was all I’m gonna get
Mmmm . . .
There’s a possibility
All I’am gonna get is gonna with your step
All I’am gonna get is gonna with your step
So tell me when you hear my heart stop
You’re the only one that knows!
Tell me when you hear my silince
There’s a possibility I wouldn’t known
Mmmm . . .
Know that when you leave
Know that when you leave
By blood and by mean
You walk like a thieve
By blood and by mean
I fall when you leave
So tell me when my sigh is over
You’re the reason why I’m close
Tell me when you hear me falling
There’s a possibility it wouldn’t show
Mmmm . . .
By blood and by mean
I fall when you leave
By blood and by mean
I follow where you lead
Mmmm . . .
Mmmmmm . . .
Waktu sudah menunjukan pukul 01 : 12 AM. Tapi Mely belum tidur juga.
“ Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin tidur sekarang, karena hatiku selalu ertuju padanya. “ Hatinya berteriak lalu ia tutup kepalanya dengan bantal.
“Ah iya, tentang laki – laki yang ku panggil kakak itu, dia telah meninggalkanku setahun yang lalu atau bahkan lebih. Banyak cara yang telah ku lakukan untuk dapat melupakannya, termasuk mencoba merasakan cinta dari pria lain. Tapi setiap aku duduk berhadapan dengan pria lain, hatiku akan sangat terguncang dan aku akan berlari sambil meneriakan nama kakakku itu. Dan dititik puncak menyerah serta putus asa, aku akan kembali pada kenyataan bahwa aku tidak akan pernah bisa melupakannya. Lalu aku akan membohongi diriku sendiri, meyakinkan diriku sendiri bahwa kakakku pasti akan datang untuk menjemputku.”

Pukul 06.00 pagi. Hari yang cukup dingin, hujan masih rintik – rintik, Mely melangkah meninggalkan rumahnya. Ia menggunakan celana Jins biru, sweater abu – abu dan syal putih pemberian kakaknya itu yang dilingkarkan ke lehernya. Tiba - tiba Mely terdiam sambil tersenyum, wajahnya menengadah keatas agar dapat merasakan percikan rintik hujan lalu matanya terpejam.
“ Aku ingat sekali dihari seperti sekarang ini kakak akan memelukku dari belakang dan berkata ‘ Honey, aku tidak ingin kau sakit. Jika kau sakit, aku juga akan sakit.’” Lirihnya dalam hatinya yang bergemuruh.
“ Lalu aku akan menyandarkan kepalaku dibahunya yang kokoh sambil memegang tangannya yang melingkar didadaku.” Mely segera membuka matanya tersadar oleh rasa rindu pada laki – laki itu.
“ Tok, tok, tok, “ Mely mengetuk pintu sebuah apartement.
“ Hay! “ seorang gadis menyapa Mely dengan ceria dari balik pintu. Mely hanya tersenyum. Sesosok wajah yang sangat Mely kenal. Dia adalah Yuna sahabat Mely semenjak duduk dibangku SMA.
“ Ayo cepat masuk! Diluar sangat dingin.” Kata Yuna sambil menarik tangan Mely yang terasa dingin walau memakai sarung tangan.
“ kenapa kau tidak menelpon aku dulu kalau kau mau kesini? Aku kan bisa menjemputmu.” Keluh Yuna sambil mengelap air dirambut Mely dan memperbaiki syal mely yang letaknya berantakan.
“ Sayang, wajahmu pucat sekali . . . apa kau sedang sakit?” tanya Yuna yang nampak begitu khawatir terhadap mely.
“ Tidak! Aku hanya kedinginan . . .” Jawab Mely.
“ Duduklah! Akan ku buatkan kau coklat hangat.” Lanjut Yuna mempersilahkan Mely duduk disofa yang empuk lalu bergegas pergi kedapur.

Selang beberapa menit kemudian, Yuna datang dengan membawa secangkir coklat hangat. Mely menyeruput minuman itu, segera dia merasakan kehangatan melewati tenggorokannya seperti hangatnya persahabatan yang ia rasakan kepada Yuna.
“ Sudah beberapa hari ini kau tidak pergi kekampus, ada apa mel?” tanya Yuna kepada sahabatnya itu, tapi Mely hanya tersenyum.
“ Aku mengerti perasaanmu, tapi tolong jangan seperti ini. Pikirkanlah dirimu sendiri. Paling tidak pikirkanlah orang tuamu! Orang tuamu pasti akan sedih jika mereka tau kau seprti ini.” Lanjut Yuna. Mely mengerlingkan matanya. Dia merasakan perasaan bersalah terhadap orang tuanya.
“ ku mohon Mel! Kembalilah! Kembalilah seperti Mely yang kukenal dulu, Mely yang cantik, pintar dan periang . . . dan . . .”
“ Bagaimana mungkin aku dapat kembali seperti dulu Yuna?” kata Mely memotong pembicaraan yuna.
“ Bisakah kau mengembalikan kakakku? Katakan Yuna! Katakan padaku bagaimana caranya!” Kata Mely yang mulai meledak tangisnya.
“ Hentikan Mel! Bagaimana mungkin aku tahu? Kau sendiri tahu, aku pun tahu, semua orang juga tahu bahwa pemuda itu telah meninggal setahun yang lalu karena kecelakaan saat kembali dari singapura, bukankah kau juga hadir saat pemakamannya?”
“ Cukup Yuna! Kau sudah keterlaluan, kau salah! Semua orang juga salah! Kakakku itu, . . . dia akan datang menjemputku.” Kata mely sambil menahan sesak didadanya. Tanpa memandang Yuna, Mely Melangkah meninggalkan sahabatnya itu yang makin tidak mengerti dengan pemikiran Mely.
“ Mel pikirkanlah kata – kata ku tadi, ini semua demi kebaikanmu!!!” Kata Yuna setengah berteriak.

Mely memperlambat langkahnya. Dia berdiri mematung didepan halte bus. Baginya mobil – mobil dan orang – orang yang lalu lalang disekitarnya adalah bayangan putih yang kelam dan jalan tempat dia berdiri adalah hamparan padang rumput yang gersang.
“ Bau anyir apa ini?” mely melihat – lihat disekitarnya mencari – cari dari mana asal bau itu. Tiba – tiba seorang pria menegurnya.
“ Maaf mba . . . Itu, hidungnya mimisan.” Kata pria itu. Mely yang baru sadar, bau anyir yang dia cari – cari dari tadi ternyata adalah bau darah yang mengalir dari hidungnya.
Ah-ya , tentang penyakit kanker yang menggerogoti tubuhnya itu, Mely hampir melupakannya. Enam bulan yang lalu dokter memvonis Mely mengidap Leukimia alias kanker darah. Entah sudah stadium berapa Mely sudah lupa. Tidak ada satu orang pun yang tahu, Mely tidak pernah tertarik untuk memeriksakan dirinya kedokter. Bahkan didalam hatinya dia merasa sangat bangga terhadap penyakitnya itu, karena Tuhan akan segera mempertemukan dirinya dengan kakaknya itu.
Mely mengelap darah dihidungnya dengan lengan bajunya, lalu melanjutkan perjalanannya sambil sesekali tersenyum. Matanya melirik ke jam yang ada ditanganya, “jam 8:15” kata mely pelan. Mely ingat, dihari minggu seperti ini, mely dan kakaknya akan menghabiskan waktu bersama, masak bersamaa, makan bersama, nonton DVD bersama, memberi makan ikan dikolam bersama, semuanya terbayang diingatan mely dengan jelas.

Tiba-tiba Mely mempercepat langkahnya, keringat dingin mengucur dari tubuhnya, langkahnya mulai gontai, tapi Mely tidak peduli dia ingin cepat-cepat sampai rumah. “ kakak “, panggil Mely sambil membuka pintu rumahnya. Tapi tidak ada jawaban, yang ada hanya kesunyian yang Mely rasakan memenuhi rumah itu.
“kreeeeekk.....”, bunyi pintu kamar Mely memecah kesunyian, perlahan Mely melangkah masuk kedalam kamarnya, jemarinya yang kurus meraba-raba keatas meja mencari bingkai foto yang selama ini diletakkn dalam posisi terbalik, lalu meletakkannya dengan benar diatas meja. Nampak dibingkai itu foto seorang pria sedang tersenyum manis. “ Ah...kakak, kau masih seperti yang dulu “, gumam Mely.
Mely membuka lemari pakaian berwarna coklat yang ada dikamarnya, baju-baju milik pria itu masih tergantung dengan rapi dilemari. Ditelusurinya baju-baju itu satu-persatu dengan jari-jemarinya, lalu diambilnya satu jas warna hitam milik pria itu dan memeluknya dengan erat sambil menghirub aroma maskulin dari jas itu, menurut Mely setidaknya itu bisa mebuatnya tenang.

Mely berbaring diatas ranjangnya. Diletakannya jas pria itu disampingnya lalu memandang foto yang ada diatas meja belajarnya serambi ia berkata “ Kakak hari ini aku lelah sekali, aku berharap setelah hari ini aku tidak akan lelah lagi. Aku berharap ini air mata terakhirku.”
“ Mel, Mely???” sayup – sayup Mely mendengar suara seseorang memanggil namanya. Mely pun perlahan membuka matanya.
“ Syukurlah kau sudah sadar.” Kata Yuna sambil tersenyum.
“ Yuna, dimana aku sekarang?”tanya mely kepada sahabatnya.
“ tenanglah kau sekarang berada dirumah sakit sayang . . . Tadi aku datang kerumahmu, lalu ku temukan kau sudah pingsan dikamarmu dan akhirnya ku bawa kau kemari. Oh iya, aku sudah menghubungi orang tuamu.” Jelas Yuna kepada Mely.
“ Orang tuaku? Dimana merekaa sekarang?”
“ mereka ada diluar sedang berbicara dengan dokter. Ehmm... Kau tunggu dulu sebentar ya? Aku akan memberi tau mereka kalau kau sudah siuman.” Kata Yuna.

Entah pergi kemana Yuna tadi karena begitu lama keluar kamar tempat Mely dirawat.
“ Kenapa Yuna lama sekali?” Ucap Mely dalam benaknya. Kemudian Mely bangkit dari ranjangnya. Dari jendela rumah sakit terlihat lampu – lampu kota dan beberapa mobil yang melintasi jalan raya. Setelah puas memandang lampu – lampu kota, Mely melangkah menuju kamar mandi lalu duduk disamping bak mandi besar yang penuh dengan air. Disentuhnya air yang ada dibak itu dengan ujung jarinya. “sejuknya . . . “ gumam Mely lirih.
Mely membenamkan seluruh tubuhnya ke dalam bak mandi itu. Kedua tangannya diletakan dipermukaan perutnya. Didalam air itu Mely memejamkan matanya. Sebelum semuanya menjadi gelap terlintas semua kenangan waktu piknik dengan orang tuanya, Waktu dia lulus SMA. Wkatu dia bersenang – senang dengan sahabatnya. Saat pertama kali bertemu dengan kakak, dan yang terakhir adalah lambaian kedua orang tuanya yang sambil tersenyum ketika Mely harus melanjutkan kuliah diluar kota.
“ Maafkan aku ayah . . . Ibu . . . “ ucap dalam pikirnya.
Mely seperti terjatuh dari tempat yang begitu tinggi.
“ Dimana aku?” tanya Mely dalam hatinya. Dalam kebingungannya, seseorang memegang pundaknya dari belakang. Mely tertegun.
“ Aroma ini, aroma yang sangat ku kenal . . .” Mely menghirup udara dalam. Mely segera membalikan tubuhnya. Terlihat sesosok pria mengenakan setelan jas warna hitam dan kemeja putih sedang tersenyum manis. “ Kakak???” panggil Mely. Keduanya saling berpelukan melepaskan kerinduan yang mendalam.

Mely melepaskan pelukannya dan mulai menangis.
“ Kakak kenapa kau lama sekali??? Aku sudah lama menunggumu.” Kata mely seraya menepuk – nepuk dada pria itu.
“ Maafkan aku honey.” Kata pria itu sambil menghapus air mata Mely dengan tangannya.
“ Hey, kau terlihat lebih tampan hari ini.” Kata Mely sambil membenahi kerah jas pria itu.
“ Oh ya, aku tahu kau akan datang honey. Makanya aku berdandan. Dan kau kenapa lebih kurus?” kata pria itu.
“ Ini semua salahmu kakak, kau yang membuat aku seperti ini.” Kata Mely manja.
“ Maafkan aku honey, aku sudah membuatmu hidup menderita.” Jawab pria itu. Matanya memancarkan rasa bersalah.
“ Tanpa kau meminta pun aku selalu memaafkanmu.”
“ Ayo ikut denganku.” Pinta pria itu sambil menarik tangan gadis yang dicintainya.
“ Kemana kak? “ tanya Mely.
“ Ketempat yang sangat indah,kau pasti akan menyukainya.” Lalu keduanya berjalan sambil bergandengan tangan.

Keduanya telah sampai disuatu tempat yang indah dan damai, suara air terjun yang mengalir, burung – burung yang berkicau, rumput hijau yang tertata rapi, dan kupu – kupu cantik yanng terbang mengitari bunga – bunga yang bewarna – warni.
“ Disinilah kita akan tinggal honey, tidak ada lagi yang dapat memisahkan kita.” Kata pria itu.
“ Kakak aku bahagia sekali.” Keduanya duduk dikursi indahyang berada dibawah pohon rindang sambil menikmati pemandangan air terjun. Mely merebahkan kepalanya dipundak pria itu, lalu pria itu pun membelai rambut Mely dan berkata,
“ sayang? Kau mau mendengarkan lagu yang selalu ku nyanyikan disaat aku menunggumu disini.”
“ Iya kakak, menyanyilah, aku ingin mendengarnya.” Sahut Mely.

Someday . . . If I get you here,
I will never let you go,
Someday . . . If I found you,
I will never to loose you from my embrace,
Because you are my everything,
And I believe that someday,
Will come the day . . .
Someday . . .

Sementara itu terlihat keluarga Mely berjalan pergi meninggalkan pemakaman. Ibu Mely menangis terisak – isak dipelukan suaminya. Sedangkan Yuna masih berdiri mematung sambil memandang makam Mely, tangan kirinya menggenggam dua tangkai bunga mawar merah.
“ Tak ku sangka Mel, semua akan berakhir seperti ini. Kau benar, kakakmu memang benar – benar menjemputmu, berbahagialah Mel . . . Berbahagialah kau disana, temuilah kakakmu disana.” Kata Yuna sambil tersenyum masam.

Lalu Yuna mengambil satu tangkai mawar merah yang ada ditangan kirinya, Yuna mengecup dengan lembut kelopak mawar itu, lalu meletakannya dimakam Mely, dan meletakan satu tangkai mawar lagi diatas makam seorang pria yang letaknya tepat disamping makam Mely yang tak lain adalah makam seorang kakak yang sangat Mely cintai. Yang sudah lama lebih dulu meninggalkannya.
“ Jagalah Mely kakak, jangan biarkan dia menderita lagi.”
Yuna menghapus air matanya lalu pergi meninggalkan pemakaman.
Musik sedih mengalun samar – samar mengiring langkah Yuna. . .

PROFIL PENULIS
Nama Aku Handy Risma Tricahya, Aku hobi bikin cerpen dan aku bikin banyak cerpen sering aku tempel dimading sekolah tanggapan temen - temen sih karya aku cukup lumayan tapi aku masih cukup belajar banyak. oya, ini nama facebook aku " Handys Risma Boyafter Thedarkness"

Baca juga Cerpen Sedih yang lainnya.

Minggu, 26 Agustus 2012

Cerpen Sedih - Sayap Yang Patah

SAYAP YANG PATAH
Karya Fitriani Zulfikar

Siang kini berubah jadi malam ,, malam pun akan tetap jadi malam .. embun pagi tak lagi menetes setelah hujan tak lagi turun, angin pun tak lagi terasa berhembus bersahabat, sejak tornado menghantam dan meluluh lantakan segalanya yang ada.
Tak banyak yang lagi tersirat dari wajah ayunya yang selalu memancarkan sinar kilau yang menyejukkan, tak lagi ada yang keluar dari bibirnya selain tatapan matanya yang terlihat selalu kosong, entah apa yang ada di fikiran nya, entah apa yang ada di lamunan nya juga entah siapa yang ada di hatinya, hingga ia selalu menangis tersedu.

Aku memang tak terlalu mengerti jalan hidup yang dia lalui, seberapa sulit dia tersenyum, dan seberapa banyak ia terluka. Aku tak tahu seberapa besar penyesalan dalam hatinya. Hanya saja aku tahu bahwa ia tak sepenuhnya merelakan dia yang harus di relakan. Di tinggal pergi seseorang yang kita cintai secara tiba tiba itu bukan hal yang mudah.

Sebut saja namanya Rere, mahasisiwi fakultas Ilmu Tekhnologi itu harus berhenti di tengah perjalanan hidupnya karena 1 hal yang mungkin terdengar bodoh tapi nyata. Mahasisiwi dengan kulit putih dengan tinggi semampai itu akhirnya menyerah setelah ia jatuh dan tak mampu bangkit dari keterpurukanya. Wanita yang sempat di eluh eluhkan oleh banyak pria karena kecantikan nya dan kebaikan nya itu pada akhirnya tak bisa lagi melanjutkan pendidikan nya setelah ia di tinggal pergi oleh sang kekasih tercinta yang sudah hampir 5 tahun bersamanya, menjalani suka duka dan melalui hari yang yang bahagia bersamanya .

Pernikahan yang sempat terencana pun hancur berkeping keeping dan hanya menyisakan pilu yang tak bisa hilang bahkan sampai ia mati, sebuah pernikahan dengan konsep yang matang dan persembahan yang lengkap kini terhenti dan tak kembali, tak ada yang bisa mengulang hari itu, bila di beri 1 kesempatan untuknya, ia hanya ingin memutar kembali waktu yang telah lewat, waktu yang berharga namun terlewatkan tanpa sebuah kesadaran bahwa hidup takan selamanya berjalan sesuai keinginan.

Hari itu ,,, genap 1 tahun sudah proses lamaran berlangsung, entah percaya atau tidak, kata orang dulu bila pernikahan lewat dari dalam jangka waktu 1 tahun setelah proses lamaran maka segalanya tak kan pernah terjadi sesuai yang kita inginkan, atau bisa di bilang gagal. Hari itu dewa ( kekasihnya ) sempat meminta pernikahan itu terlaksana lebih cepat dari tanggal yang sudah di tetapkan namun rere menolak dan hanya bisa berlalu sambil menekuk wajahnya yang terlihat kesal. Saat itu, rere memang terlihat kurang stabil, sifat kekanak kanakannya datang lagi namun dewa hanya bisa sabar dan sabar menghadapi rere yang selalu menolak membicarakan tentang pernikahan mereka. Namun jelang hari ke 7 sebelum pernikahan , sesuatu terjadi dan menjadi akhir dari rencana indah mereka.

Hari itu,, langit terlihat mendung dan berawan, tak ada firasat apapun yang dirasakan oleh rere ataupun keluarga, hanya saja pagi sebelum kepergianya yang tak kembali , ia hanya meminta untuk mempertimbangkan kembali keputusan yang rere ambil untuk masa depan mereka, seperti biasa rere tak cukup peka akan perasaan yang dimiliki dewa, hingga pada akhirnya siang itu tepat pukul 14.14 ,, handphone nya berbunyi kencang, tak ada yang membuiat hatinya curiga, dengan santainya di angkat telfon itu dan mendapat kabar duka dari pihak rumah sakit yang menangani dewa.

Hujan pun tiba tiba turun dengan derasnya mengisyaratkan bahwa alam turut bersedih akan kepergian penghuni nya . sejak hari itu, rere tak lagi bisa berdiri tegak selayaknya hari hari biasanya. Rere telah kehilangan sayap indahnya, dia telah kehilangan separuh jiwanya. Rere tak lagi seindah dulu , kini semua takan bisa terulang, waktu pun tak bisa di putarnya walau dia menangis meminta. Segalanya yang berlalu akan tetap berlalu, dia masih seperti itu, dengan lamunan dan tatapan matanya yang kosong dan sedih, menyendiri dan terus menyendiri, sambil sesekali dadanya terlihat sesak, entah sampai kapan dia seperti itu, entah 1 tahun 2 tahun atau mungkin selamanya.

SELESAI THANKYU

PROFIL PENULIS
Nama : Nurfitriani. Aprian
Tempat/Tanggal Lahir : Jakarta, 3 April 1994
Alamat Facebook : apriliani.fitri@facebook.com

Baca juga Cerpen Sedih yang lainnya.

Senin, 20 Agustus 2012

Cerpen Cinta Sedih - Penghianatan Cinta dan Persahabatan

PENGHIANATAN CINTA DAN PERSAHABATAN
Karya Sri Hasih Nurhayati

Cinta, setiap hari tak pernah lekang dengan kata-kata ini, kata cinta selalu menjadi topic menarik untuk dibicarakan. Cinta bisa menyatukan dua hal yang terpisah tapi juga bisa menghancurkan sesuatu yang menyatu menjadi terberai, bahkan banyak persahabatan yag hancur karena cinta. Seperti kisah yang dialami Bela.

Bela adalah gadis yang cantik dan baik. Dia baru saja lulus dari SMA, dan kini dia kuliah disalah satu perguruan tinggi yang ada dikotanya. Dia mempunyai seorang teman pria, yang merupan temannya dari kecil, semenjak sd hingga SMA selalu bersama, bahkan mereka satu dusun, namanya Aldo. Mereka berteman sangat baik, Aldo juga kuliah tapi beda universitas dengan Bela, tempat kosan mereka juga menjadi lumayan jauh, tapi hal ini tidak membuat hubgungan Bela dan Aldo menjauh. Aldo tetap sering bermain kekosan Bela.
Kebetulan Bela mempunyai seorang adik sepupu yang seumurang dengannya namanya Gita, juga bersahabat baik dengan Aldo. Jadi tak heran jika Aldo sering main kekosan Bela, bahkan bisa dibilang kedekatan Gita dengan Aldo lebih dekat dari pada kedekatan Aldo dengan Bela.

Hingga suatu ketika Aldo datang mengunjungi kosan Bela
“hai be” sapa Aldo
“hai, Aldo, masuk-masuk,eh ada aditya juga, yuk masuk-masuk” bela menyambut kedatangan Aldo dan juga Aditya teman masa SMA nya dengan amah
“ehm Gita mana bel, ada yang mau kenalan nih” kata Aldo sambil melirik aditya
“ye apaan sih, kok ngelirik gue” kata Aditya karena merasa disindir
“ouh, bentar lagi uga dating” kata Bela sambil tersenyum

Tak lama kemudian Git datang berama citra teman kuliahnya.
“eh ada tamu rupanya” kata Gita ketika masuk kekosan
“iya nih, ada yang mau kenalan sama kamu Git” kata Aldo
“ow yah, siapa?” kata Git tersenyum
“nih, kenalin temen gue, Aditya namanya” kata Aldo memperkenalkan Aditya
“hai, gue Gita, oya kenalin juga temen gue Citra” Gita kemudian memperkenalkan Citra pada Aldo dan aditya
“kak, citra mau nginep disini mala mini, boleh gag?” kata GIta pada bela
“iya boleh lah” kata Bela.
Setelah malam perkenalan itu, Citra bercerita pada Gita bahwa dia menyukai Aldo. Gita kemudian menyarankan untuk cerita dengan Bela, karena Bela adalah teman Aldo dari kecil, pasti lebih banyak tau. Akhirnya Bela menjadi mak comblang Aldo dan Citra, hingga mereka jadian. Gag ada yang menyangka, mereka baru bertemu satu kali, dan kenal baru 1 minggu udah pacaran. Padalah Citra sebenarnya mempunyai cowok lain selain Aldo. Memang hubunganny udah agak renggang, dan setelah 1 minggu jadian, Citra putus dengan cowok lamanya.
Karena Aldo dan Citra pacaran, Citra jadi sering menginap dikosan Bela, karena Aldo sering main kekosan Bela, jadi biar bisa ketemu terus. Sedang Aldo juga kalau datang tak sendirian, dia sering mengajak temannya, Aditya sering diajaknya akhirnya aditya jadian sama Gita.
Lalu bagaimana dengan Bela, bela juga jadian sama temannya Aldo namanya Andre, jadi disini ceritanya teman dapat temannya lagi. Dari sini kemudian timbul masalah. Sebenarnya Bela tak pernah mencintai Andre, lama-lama kelmaan Andre tahu karena sesunguhnya Bela mencintai Aldo, bahkan semenjak duduk dibangku SMP. Akhirnya Andre memutuskan untuk putus dengan Bela, setelah mereka pacaran selama 8 bulan, padahal pada saat itu Bela sudah mulai melupakan Aldo dan mulai mencoba menerima Andre, tapi apa mau dikata lagi.
Karena Aldo sekarang sudah mulai renggang dengan Citra, karena citra selalu membohongi Aldo dan diam-diam Citra juga sering jalan dengan Ridho teman Aldo, Ridho menceritakan semuanya dengan Aldo, Aldo kemudian menjadikan kesempatan ini untuk putus dengan Citra karena sebenarnya Aldo juga tak lagi cinta dengan Citra. Aldo kini justu berbalik mencintai Bela.
Setelah Aldo putus dengan citra, Aldo berusaha mendekati Bela. Citra tau jika Aldo mendekati Bela. Citra akhirnya beranggapan bahwa Aldo memutuskan nya karena Bela telah merebut Aldo. Bela dan citra yang semula baik akhirnya menjadi renggang, gara-gara Aldo. Sesungguhnya Bela tak pernah merebut Aldo dari siapapun, tapi Aldo putus dengan Citra murni dengan kesalahan Citra.

Dan setelah Aldo pacaran dengan Bela, citra menjadi semakin menjadi, dia benar-benar marah dengan Bela. Dia berkata pada bela bahwa dia akan merebut kembali Aldo dari tanagn Bela
“kamu tega ya Bel, kamu tau kan kalau aku sangat mencintai Aldo, tapi kenapa kamu ta merebut Aldo dari tangan aku” kata citra pada bela
“aku gag pernah merebut dia dari tangan kamu, Aldo memutuskan kamu karena kesalahan kamu sendiri” bela mebela diri
“alah, udahlah gag usah membalikkan keadaan, ingat ya bela, aku akan merebut Aldo dari tangan kamu”

Bela benar-benar tak habis piker, kalau citra akan berpikiran begitu. Sedangkan citra benar-benar membuktikan ucapannya. Dibelakang Bela citra sering menghubungi Aldo dan mencoba untuk balikan lagi. Entah kata-kata apa yang citra katakana pada Aldo, setelh apa yang dibuat citra pada Aldo dulu, yang sudah menduakannya dan membohonginya, Aldo masih saja percaya dengan ucapan Citra. Akhirnya Aldo menerima kembali Citra. Dan memilih meninggalkan Bela
“kamu tega al, aku gag nyangka kalau kamu akan berbuat begini” kata Bela pada Aldo setelah tau bahwa Aldo kembali lagi dengan citra
“maafin aku bel, tapi aku benar-benar bingung” kata Aldo
“kamu gag perlu bingung, sekarang kamu milih aku aku atau citra” kata bela tegas.
Bahkan tak ada air mata yag mengalir, sakit hatinya telah membuatnya membeku

Aldo hanya diam, tak berkata apa-apa.
“oke, aku mengerti sekarang, kamu lebih memilih citra, oke kalau gitu kita putus, aku gag mau kenal kamu lagi Aldo, dan jangan pernah muncul lag i dihadapan aku”

Bela kemudian pergi meninggalkan Aldo yang duduk termangu, Kemudian GIta mendatangi Aldo
“aku gag nyangka do, kamu bakal berbuat begini, kamu jahat tau gag” kata gita dengan marahnya
“ya aku mesti giman alagi git, aku bingung”
“udah lah terserah kamu, yah semoga kamu bahagia dengan pilihan kamu sendiri, dan semoga kamu gag salah dengan keputusan kamu”

Gita kemudian perhi meninggalkan Aldo, dan meemui Bela, untuk menghiburnya. Hanya Aditya yang masih berdiri didepan Aldo
“aku gag ngerti apa yng ada dalam pikiran kamu al, sampe-sampe kamu bisa balikan lagi dengan Citra” kata aditya
“ah udahlah dit, gag perlu dibahas, aku udah cukup pusing sekarng, mending lo tinggalan aja gue sendiri disini” kata Aldo pada adit
“ok” adit kemudian pergi meninggalkan Aldo
***

“ya udah lah bel, lo lupain aja si Aldo, kamu dijauhin dari Aldo, pasti ada hikmahnya” gita mencoba menghibur bela
“iya, makasih ya git” kata bela pada gita
Kini bela hanya mencoba tegar dan sabar. Menghadapi penghianatan cinta Aldo, mungkin ini yang terbaik buat mereka. Bela percaya jika suatu ketika dia akan mendapatkan orang yang lebih baik dari Aldo. Yang dia sayangkan adalah kini persahabatanya dengan aldo dari kecil hancur, begitu pula dengan citra. Tapi bela bersyukur akhirnya dia bisa tahu siapa orang-orang yang sebenarnya tulus untuk selalu ada untuknya, dan siapa saja yang pantas untuk dijadikannya sahabat. Bela kini hanya berusaha untuk melupakan semua yang terjadi. Tuhan pasti sedang memberikan cobaan kepadanya, karena Tuhan saying dengannya.

PROFIL PENULIS
Nama : sri hasih nurhayati
Alamat : Palembag, SUMSEL
Twitter : @hasihcancera
Fb : srihasihnurhayati@ymail.com

Semoga suka dengan cerpen saya, dan mohon kritik dan sarannya.

Baca juga Cerpen Cinta, Cerpen Remaja dan Cerpen Sedih yang lainnya.

Cerpen Remaja Sedih - Dia Tercipta Bukan Untukku

DIA TERCIPTA BUKAN UNTUKKU
Karya Sri Hasih Nurhayati

Pernah gag sih kamu ngerasain suka sama orang, tapi kamu gag pernah punya keberanian untuk mendekatinya apalagi mengungkapkan perasaan yang kamu rasakan. Sama sekali gag ada nyali untuk mengatakan semua kepadanya tentang apa yang kamu inginkan, ibaratnya udah kalah sebelum berperang. Dan yang paling menyedihkan lagi, bahkan kamu sama sekali tak pernah punya kesempatan untuk bisa dekat dengannya. Hanya bisa mengaguminya dalam diam, hanya bisa menatapnya dari jauh, terkadang merasa iri dengan orang-orang yang ada disekitarnya yang bisa ada didekatnya bahkan terkadang muncul perasaan untuk menyingkirkan mereka semua agar hanya kamu yang bisa dekat dengannya. Tapi apa daya, bahkan kamu tak mempunyai sedikit keberanian untuk mendekatinya.

Mungkin inilah yang saat aku rasakan, mencintai seorang pria yang selama ini aku cari dan idam-idamkan, seorang pria yang baik, lucu, pintar dan punya pendirian yang kuat. Seorang pria yang telah mampu membuat aku tidak tidur semalaman karena memikirkanya, membuatku berimajinasi dan bermimpi tentang cinta yang indah. Tapi aku tak pernah punya keberanian untuk mendekatinya. Bahkan berbicara kepadanya pun aku tak berani, nyaliku ciut, tapi keinginanku untuk memilikinya sangat besar.

Namanya selalu memenuhi tiap lembar diaryku, harihariku tak pernah lekang tentang dia, walau aku tak pernah bertemu secara langsung dengannya, kami memang tak pernah bertemu semenjak pertemuan pertama kali kami yang kebetulan, dia adalah teman dari kakak perempuanku
Tapi semua perasaan ini justru membuat aku hamper gila, bagaimana tidak, aku tak pernah bisa berhenti untuk memikirkannya, tak sedetikpun, sedang orang yang aku pikirkan belum tentu memikirkan aku, bahkan mungkin dia tak pernah tau tenang perasaanku. Aku telah mencoba melupakannya, tapi tiap kali aku berusaha melupakannya justru aku semakin ingat semua tentang dia, bahkan seperti ada sesuatu yang aku rasakan bahwa aku tak boleh melupakannya.

Yah aku hanyalah seorang wanita yang lemah, hanya bisa memendam perasaan yang aku punya. Hingga suatu ketika aku bertemu teman lamaku.
“hai sinta” sapa temanku rina
“hai juga, rina, tumben main ke rumah” tanyaku basa-basi
“ah, kamu, yah kemaren kemaren aku sibuk kuliah, ni juga sempet makanya main”
“owh, kamu ama siapa?” tanyaku
“ouh, sebenarnya tadi aku sama radit, tapi dia udah pulang”

Oh my god, Radit, yah dia Radit adalah pria itu, tak kusangka dia tadi ada disini dan bersama Rina, jangan-jangan. Pikiranku langsung berpikir sangat jauh, harus aku bisa terima kemungkinan terburuk
“eh sin, kok malah ngelamun sih” Rina mengagetkanku
“eh maaf, ehm kenapa Radit gag disuruh mampir sekalian?” tanyaku kemudian pada Rina
“iya tadi dia buru-buru, ada kerjaan katanya, maklumlah dia kan emang lagi magang jadi sibuk gitu”

Rina begitu tau banyak tentang Radit, bahkan lebih banyak tau dari pada aku, Rina bercerita panjang lebar tentang Radit, membuat aku makin galau, tiap kali nama Radit disebut Rina sambil tersenyum membangkitkan api cemburu dihatiku, tapi aku segera sadar, Radit bukanah siapa-sapa ku, aku hanyalah seorang wanita yang sangat mencintainya dalam sepi duniaku.
“Radit udah banyak berubah sekarang, dia makin dewasa and berwibawa, ehm bikin aku makin suka” Duarrr, kata-kata Rina seperti petir yang aku rasakan disiang bolong, apa benar Rina telah jadian dengan Radit, apa benar Rina juga mencintai Radit, dan ini artinya kami menyukai satu orang yang sama. Firastku tak slah.
“kamu udah jadian ya ama Radit?”. Tanyaku sambil menahan sesak didada
“ehm, belum kok, yah baru deket deket aja, tapi Radit orangnya dingin sin, susah ditebak” celoteh Rina. Rina memang tak pernah tau jika aku juga mencintai Radit, tak banyak yang tau tentang perasaanku ini. Hanya dina sahabatku yang tau.
“ehm, ya deketin aja, siapa tahu dia punya perasaan yang sama dengan kamu” kataku mencoba menutupi perasaanku sendiri
“iya sih, iya doain aja yah sin aku bisa cepat-cepat jadian sama Radit, kamu sendiri gimana?”
“gimana apanya?” tanyaku pura-pura tak mengerti
“iya kamu sendiri gimana, apa udah nemuin orang yang kamu suka?”. Tanya rina
“ehm, belum kok, aku masih seneng kayag gini ajah” kataku pada Rina
“ouh, emang criteria kamu kayag apa sih, siapa tau aku bisa bantuin cari” Rina menawarkan padaku
“ih apaan sih Rin, aku bisa cari sendiri, lagian kalau sekarang aku masih belum pingin”
“ya deh, entar kalau aku udah benar-benar jadian sama Radit, kamu pasti aku kenalin sama seseorang” kata Rina penuh rahasia
“apaan sih Rin, udah ah gag usah bahas ini, bahas yang lain aja”
Aku berusaha menata kembali perasaanku yang hancur lebur. Belum juga aku temukan keberanian untuk mendekati Radit orang yang sangat aku inginkan, kini aku yga harus menghadapi kenyataan bahwa Rina sahabat lama ku yang sudah sangat baik denganku juga sangat mencintainya. Tak mungkin aku bersaing dengan sahabatku sendiri. Semakin sakit hati ini yang aku rasakan.

Terkadang aku ingin rasanya mencoba melupakan semua ini, aku benci pada diriku sendiri yang tak pernah punya keberanian untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan ini. Perasaan yang menyiksaku, yang menimbulkan sesak didakaku. Entah sampai kapan aku bisa bertahan dalam keadaan seperti ini. Mungkin benar kata orang bahwa cinta tak harus memiliki. Tapi aku juga tak bisa membohongi perasaanku sendiri, bahwa aku sangat menginginkan Radit.

Hingga suatu hari aku mendengar Rina telah benar-banar jadian dengan Radit. Aku tak kuasa menahan tetesan bening mengalir dipipiku. Dina sahabatku berusaha menghiburku.
“sabar sin, mungkin saat ini e]kamu gag bisa memilikinya, tapi kelak kamu pasti punya kesempatan untuk memilikinya”
Yah mungkin Dina benar, suatu ketika nanti jika aku diberi kesempatan untuk memiliknya, walau hanya sedetik, itu sudah sangat berharga bagiku. Kini aku hanya bisa melihat orang aku cintai bersama dengan orang lain, yang tak lain adalah sahabat ku sendiri.

Sakit memang ketika mencintai seseorang, tapi tak bisa memilikinya, apa lagi orang yang kita cintai telah ada yang punya, yang tak lain adalah sahabat kita sendiri. Tak akan tega jika harus merebutnya, persahabatan itu lebih berarti dari segalanya.dan sebenarnya Yang paling menyakitkan buatku adalah, selain aku tak bisa memiliki Radit, tapi juga karena Radit tak pernah mengerti akan perasaanku. Rasa yang terpendam dan tak pernah terungkapkan. Karena kata orang, lebih baik cinta diolak karena itu artinya kita telah berabi mengungkapkan perasaan kita dan si doi tau walau akhirnya harus ditolak, setidaknya kita tahu yang sebenarnya, dari pada cinta yang tak pernah terpendam dan tak pernah terungkapkan sehingga kita tak pernah tau perasaan dia yang sebenarnya, apakah dia sebenarnya juga mempunyai perasaan yang sama atau tidak, tapi setidaknya kita tahu yang sebenarnya, dan perasaan kita tak akan menggantung.

Yah memang Radit tak pernah tau, jika selama ini aku bisa bertahan untuk bisa terus melihatnya tersenyn, Radit tak pernah tau jika selama ini aku bernafas untuk nya, Radit tak pernah tau putih dan tulusnya cintaku. Mungkin emang salahku sendiri, kenapa aku tak pernah mengatakan apa yang aku rasakan pada Radit.
Tapi apa mau dikata, semuanya telah terjadi, nasi telah menjadi bubur, aku juga tak pernah menginginkan untuk mencintai Radit, rasa cintaku ini adalah anugrah dari Yang KUasa,bahkan aku tak tau kapan aku mulai mencintainya, kenapa aku bisa mencintai Radit, karena Cinta tak mengenal kata Apa, Mengapa, Kapan, dan Bagaimana.semuanya mengalir begitu saja, yang aku tahu adalah sampai detik ini aku masih sangat mencintainya. jika akhirnya aku tak bisa bersama dengan Radit dan tak pernah bisa memilikinya, mungkin itu sudah takdirku, yah mungkin juga Radit memang bukan jodohku. Mungkin kelak ketika aku telah menemukan kepingan hati ini yang hilang, aku akan mengingatnya sebagai bagian hidupku yang dulu pernah ada, dan kini hanya menjadi kenangan terindah buatku.

Aku berusaha sebisa ku untuk melupakan Radit, dengan mencoba membuka hati pada orang lain, tapi yang ada aku justru merasakan dunia ku semakin menyedihkan. Aku belum bisa melupakan Radit, dan untuk saat ini aku putuskan untuk sendiri dulu.
Jika suatu ketika aku dipertumakan dengan Radit dikesempatan kedua dan akan aku katakan kepadanya tentang semua perasaanku, tapi tidak untuk memilikinya, tapi untuk mengatakan bahwa aku pernah menjadikannya sebagai hal terindah dalam hidupku. Karena mungkin ketika aku dipertemukan dengan Radit dikesempatan kedua itu, aku telah mendapatkan pengganti Radit yang mengisi hari-hari ku.

Dan untuk saat ini, aku hanya ingin mencoba tersenyum, jika memang benar cinta tak harus meiliki, melihatnya bahagia itu sudah cukup bagiku. Mungkin ini yang terbaik.
“aku memang mencintai Radit, tapi aku tak akan merebutnya dari Rina, cinta memang tak harus memiliki, benar kan Din?” kataku pada Dina pada suatu ketika

Dina tersenyum padaku
“yah kamu benar sin. Aku yakin Tuhan telah menyiapkan seseorang yang mungkin tak lebih sempurna dari Radit, tapi lebih mengerti kamu”
Aku beruntung walaupun aku tak bisa memiliki Radit, tapi aku masih punya sahabat seperti Dina, aku juga masih punya keluarga yang akan terus ada untukku. Yah walau tak bisa kupungkiri untuk saat ini dan entah sampai kapan aku masih mencintai Radit dan ingin memilikinya. Walau takdir telah berkata lain. Radit diciptakan memang bukan untukku.

PROFIL PENULIS
Nama : Sri Hasih Nurhayati
Alamat : Palembang, SUMSEL
Twiter:@hasihcancera
Fb: srihasihnurhayati@ymail.com

Semoga suka dengan cerpen saya, mohon kritik dan sarannya.

Baca juga Cerpen Remaja dan Cerpen Sedih yang lainnya.

Jumat, 10 Agustus 2012

Hanya Hujan - Cerpen Sedih

HANYA HUJAN
Karya Tita Yunia Witarti

Malam ini tak seperti malam-malam kemarin, kemarin masih terdengar suaranya yang begitu latang namun penuh kasih sayang, dan kemarin masih kulihat senyum manisnya yang begi tulus pada ku, tapi malam ini tak ada lagi suaranya, tak kulihat lagi senyum manisnya. Malam ini begitu sepi, yang ada hanya kenangan, tapi Aku berharap malam besok bisa seperti malam kemarin lagi, penuh dangan canda, tawa, dan nasihatnya. Tak terpikirkan olehku bahwa Ia akan tega meninggalkan Aku demi orang lain, padahal Dia begitu menyayangi ku dan Ibuku tapi semenjak bertemu dengan orang itu, Dia melupakan ku bahkan sampai tega meninggalkan Aku dan Ibuku.

Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarku dan membuatku tersadar dari lamunanku, ku bangangkit dari tempat tidurku dan melangkah menuju pintu itu, ku buka dan ternyata dibalik pintu ada seorang wanita yang telah melahirkan Aku dan merawatku, dan Dia pun tersenyum padaku. Ia pun masuk ke kamarku dan duduk di tempat tidur, Aku pun mengikutinya dan duduk disebelahnya.
“ Nad besok ibu mau ke Bogor, kamu tinggal sama nenek dulu yah.” Kata ibuku
“ Ia mah.” Jawab ku, sebenarnya hati tak mengijinkan ibuku untuk pergi tapi harus bagaimana lagi, toh ibu pergi untuk kera.

Tangan ibu membelai rambutku, dan saat itu aku pun ingin sekali meniteskan air mata namun ku tak mampu, karena aku tak ingin memperlihatkan kesedihan ku dihadapan ibu. Ibu memberikan sebuah map ke padaku dan ku buka map itu di dalam map itu ada dua lembar kertas lalu aku pun membaca tulisan yang ada dalam kertas itu. Setelah membaca itu rasanya aku ingin merobek-robek kertas itu dan ingin rasanya menangis sekencang-kencangnya, tapi aku tahu ini sudah kesepakatan ibu dengan ayah, aku tak bisa membetah keinginan mereka, aku tak mau batin ibu tersiksa dan aku juga ga mau jika ayah pulang dan membuat ibu menangis.
“ Tadi paman kamu yang mengantarkan ini, mungkin ini yang terbaik bagi kita, ya sudah sekarang kamu istirahat, ini sudah malam. !” kata ibu, aku hanya mengangguk, lalu ibu pun beranjak pergi keluar dari kamarku, dan menutup pintu itu, aku pun menuju pintu dan menguncinya, aku berlari ketempat tidur dan menjatuhkan badaku ke kasur aku tak kuat lagi menahan air mata yang sejak tadi aku tahan.
“ Ya Allah sebenarnya aku tak mau kedua orang tua ku berpisah, tapi aku tak mampu berbuat apa-apa, mungkin benar apa yang di katakana mamah bahwa ini yang terbaik, tapi itu untuk mereka dan tidak bagi diri aku, aku tak bisa hidup tanpa mereka.” Kataku

Pagi harinya ibu mengetuk pintu dan membangunkan aku, aku pun terbangun dan membuka pintu, ibuku kelihatan rapih dan sudah membawa tas besar yang di isi baju-bajunya.
“ Nad ibu pergi dulu yah, jaga dirimu baik-baik dan sekolah yang benar.” Kata ibu ku
“ Iah mah, mamah juga hati-hati di jalan, dan jika sudah sampai jangan lupa telopon Nad yah mah.” Kata ku, lalu aku pun mencium tangannya dan ibuku membelai rambutku dan mencium pipiku. Kulihat matanya yang penuh kasih sayang dan ada genangan air dimatanya. Lalu ibuku pun menuju keluar dan aku pun mengikutinya dari belakang, sesampai di luar ibu pun memangil tukang ojeg untuk mengantarkan nya ke terminal, ibu pun pergi meninggalkan aku dan lambaian tangannya membuat air mata ini jatuh kepipiku,,, aku pun berlari ke dalam rumah, dan rasanya semua tubuhku mulai lemas aku pun terjatuh, aku keluarkan semua beban dihati, aku menangis sekencang-kencangnya.
“ Kenapa harus begini, aku tak menginginkan semua ini terjadi, tuhan kenapa kau tega pisahkan aku dengan kedua orang tuaku.” Tariak aku,,

Susana di luar sangat mendung dan tak lama kemudian hujan pun turun, Aku pun pergi keluar dan ku berjalan di derasnya hujan, air mataku terus mengalir tampa henti, tiba-tiba sebuah sepada motor berhenti dihadapanku, dan menghentikan langkah ku. Aku tak mengenali dia karena wajahnya tertutupi helm dan dia pun mengunakan jas huja. Dia menarik aku ke bawah pohon yang dekat dengan jalan itu, lalu dia membuka helmnya, ternyata Dia adalah Naila sahabatku.
“ Apa yang sedang kamu lakukan, ini hujan gede banget Nad.” Kata Naila, Dia pun melihat wajahku.
“ Kamu nangis Nad ?” Tanya Naila kepadaku. Ku usap air mataku.
“ Engga Nai, ini Cuma air hujan.” Aku pun berbohong padanya, karena Aku tak mau Dia tahu kalau Aku punya masalah.

“ Oh gitu yah, emang Aku bisa Kamu bohongi, Nad kita tuh berteman udah lama, Aku tahu yang mana air hujan dan mana air mata, dan Aku tahu muka Kamu yang sedang bahagia dan Sedang sedih, kenapa sih kamu selalu bohong kepada Aku, atau Kamu ga menganggap Aku sebagai sahabatmu lagi.”
“ Bukan gitu Nai, Aku cuman ga mau kalau kamu terbebani oleh masalah ku, Aku tahu kalau Kamu sedang punya masalah sama pacar Kamu.” Kata ku
“ Memang Aku lagi ada masalah tapi, setidaknya Kamu cerita sama Aku, apa masalah mu, Aku udah terbuka sama Kamu mengenai masalah Aku sama pacarku, sekarang Aku mau Kamu juga terbuka kepada Aku mengenai masalah mu, coba cerita siapa tahu aku bisa bantu kamu.” Kata Naila kepadaku, Aku pun tak kuat menahan air mata ini dan aku pun menangis di pundak Naila. Aku pun mencoba bercerita tentang masalahku
“ Nai, Mamah dan Ayah Aku bercerai.” Kata ku pada Naila.
“ Nad yang bener.” Kata Naila dengan terkejut, dia pun langsung duduk di bawah pohon itu dan aku pun duduk disampingnya.
“ Iah Nai, dan tadi pagi Ibu pergi ke Bogor untuk bekerja.”
“ Kenapa bisa bercerai Nad ? memang Kamu ga melarang mereka ?” Tanya Naila
“ Aku mau melarang meraka, tapi Mamah selalu bilang pada ku, kalau aku melarang mereka bercerai itu artinya Mamah…..” Belum Aku beres cerita tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti di hadapan kita kemudian orang yang mengemudi itu turun dan menarik tangan Naila, ternyata itu Andre pacarnya Naila.
“ Nai, ikut Aku kalau mau masalah kita selesai.” Ajak Andre kepada Naila
“ Tapi Dre.” Naila menatap aku
“ Pergi lah Nai, bereskan dulu masalahmu, masalah Aku biar aku yang menyelesaikanya sendiri.” Kata ku pada Naila
“ Tapi Kamu.”
“ Sudah lah Nai, Aku ga papa ko. “
“ Bener kamu ga papa ?”
“Iah pergilah.” Naila pun pergi bersama Andre.
Hujan pun belum berhenti malah semakin deras. Aku pun kembali berjalan. Entah kepada siapa lagi Aku akan bercerita tentang semua perasaanku, semua tlah meninggalkan Aku untuk kepentingan mereka. Sekarang ku sendiri dan hanya hujan yang menemani kesedihanku.

PROFIL PENULIS
Nama :Tita Yunia Witarti
Tempat/tanggal lahir : 10 juni 1992
Hobi : baca cerpen dan Novel
Alamat Facebook : chitayunita_92@yahoo.com

Baca juga Cerpen Sedih yang lainnya.

Rabu, 01 Agustus 2012

Cerpen Sedih - A little of Sorrow

A LITTLE OF SORROW
Karya Karina Puspa Sari

Byuurr !
Baju Cerlia basah kuyub, ditambah lagi semua tugas-tugas yang akan dia kumpulkan juga ikut basah. Dia terkena siraman air yang sengaja diletakkan diatas pintu kamar mandi dengan ember. Cerlia hanya diam. Dia sudah terbiasa dibuat seperti itu oleh anak-anak yang membencinya. Tak tau kenapa anak-anak itu sangat membencinya. Bahkan mereka tak henti-hentinya mengganggu Cerlia. Terdengar tawa cekikikan dibelakang Cerlia. Mereka adalah kumpulan anak-anak populer yang diketuai oleh Regan orang yang paling kaya di sekolah Cerlia. Jadi mereka cukup berkuasa di sekolah Houfflescrim Of School dan juga cukup berwenang mengganggu anak baru di sekolah tersebut. Tak ada yang berani menentangnya karena orang tua Regan adalah pejabat penting dikotanya. Cerlia sangat membenci mereka. Tapi dia tak bisa berkutik karena kalah jumlah oleh mereka.
“Duh! Kasian sekali anak ini, Basah ya?” kata Regan dan kelompoknya mendatangi Cerlia

Cerlia hanya terdiam. Regan pun membentaknya. “Kenapa? Kau takut pada kami? Tentu saja kami kan yang berkuasa disini! Dan kau bocah tengik! Kau tak pantas berada di sekolah ini! Dasar sampah! Hahaha” ujar Regan sambil menginjak tugas-tugas Cerlia.

Cerlia geram dan ingin sekali memukul Regan. Tapi jika itu terjadi mereka akan tambah mengganggunya lebih dari itu. maka Cerlia pun hanya diam.
“Bye Bocah Tengik! Sampai bertemu lagi ya di Ruang siksa kami! Ckckck” ujar Regan dan kelompoknya sambil berlalu.

Yang dimaksud ruang siksaan oleh Regan adalah tempat Gedung olahraga tua yang sudah tidak terpakai dan tidak akan diketahui oleh siapapun bahwa disitu Cerlia pernah disiksa bersama teman-teman yang senasib denganya. Mulut Cerlia diberi selotip hitam, tanganya diikat, dan dia ditarik secara paksa oleh anak buah Regan yaitu Roxy dan Casey. Dia kemudian bersimpuh dihadapan Regan sambil menunduk. Sementara kaki Regan berada dipundaknya. Kemudian dia disiram air bekas cucian, bajunya diacak-acak tak beraturan, rambutnya diberi minyak. Kemudian dia akan disuruh berdiri didepan anak-anak tersebut. Dan tentu saja Regan dan teman-temanya melemparinya dengan sebuah bola. Memang sangat menyakitkan.
Itu sudah menjadi kebiasaan Regan disekolahnya. Ungkapan yang kuat yang berkuasa berlaku di sekolah itu. Cerlia pernah mengutukki dirinya sendiri, kenapa dia tidak bisa berbuat apa-apa di hadapan Regan dan teman-temanya. Tapi apa boleh buat dia memang tidak mempunyai kekuatan untuk membalas musuh-musuhnya tersebut. Nanti setelah dia mengikuti kelas Fisika dia akan kembali mengikuti kenyataan pahit yang dibuat oleh Regan dan teman-temanya. Tak ada yang membela Cerlia. Mereka takut akan terkena siksaan seperti yang dialami Cerlia. Bahkan teman-teman yang sebasib denganya pun memilih untuk mengurusi diri mereka masing-masing takut akan diberi pelajaran yang setimpal oleh anak-anak populer itu. Memang menyedihkan.
“TEEEETTT!” bel tanda usai yang memekakkan telinga pun berbunyi.

Cerlia ingin cepat-cepat kabur dari sekolah itu supaya tidak berada diruang siksa bersama Regan dan teman-temanya. Dia pulang lewat jalan belakang. Jalanan itu cukup licin dan berbahaya. Cerlia harus memanjat tembok yang tinggi. Apapun akan Cerlia lakukan supaya dapat terbebas dari Regan. Hap..hap..hap! Cerlia berhasil melalui tembok tersebut. Kemudian dia lari melewati jalanan itu.

Tiba-tiba Mercedes merah hamper menabrak Cerlia ketika dia akan menyebrang jalan. Kemudian langkahnya terhenti karena shock. Mobil itu juga berhenti dan pengemudinya keluar. Berharap pengemudinya meminta maaf karena sembrono mengemudikan mobil. Tapi memang sungguh malang, yang keluar adalah Regan dan anak buahnya Roxy,Casey, dan Stella. Roxy dan Stella kemudian menjambak rambut Cerlia kasar dan berkata “Ikut kami ke dalam mobil sampah! Kita akan kembali bertemu diruang siksa! Kau akan senang disana! Jangan mencoba lari dari kami! Hahaha” kata Roxy dan Casey tertawa sinis

Setelah sampai disekolah. Cerlia langsung diseret keruang siksa. Rambutnya kini diberi pylox warna-warni, kemudian diberi oli. Isi tasnya dikeluarkan diacak-acak dan diinjak-injak. Kemudian dia disuruh mencium kaki Regan dan teman-temanya satu-persatu. Tapi sebelum itu terjadi seorang telah berteriak di ujung ruangan.
“Berhenti! Cukup sudah kalian melakukan ini! Kalian memang keterlaluan!”

Cerlia tak percaya pada penglihatanya bahwa yang berbicara tersebut adalah Rian Muffler. Cowok yang paling popular dan terkeren disekolahnya. Rian disegani oleh Regan dan teman-temanya karena ya mereka menyukai cowok tersebut. Segera saja Regan menyudahi pekerjaanya dan segera menghampiri Rian.
“Hai Rian! Apakah yang kau mau? Kau mau ikut memberi pelajaran pada mereka?” kata Regan menggodanya.

Rian merasa jijik. “Aku mau kalian pergi dari ruangan ini!” kata Rian tegas
“Hmm.. baiklah! Sampai nanti Rian!” kata Regan dan temna-temanya tak puas.

Kemudian Rian mendatangi Cerlia. Dia duduk didekatnya. Dia belum pernah sedekat ini dengan Rian. Kemudian Rian mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Dia memberi Cerlia saputangan miliknya.
“Kau tak apa?” katanya sambil memberikan saputanganya
“Ehm.. Aku tak apa-apa, aku sudah terbiasa seperti ini. Tapi terimakasih atas bantuanmu” Kata Cerlia sedikit gugup.
“Baiklah kalau begitu.. ambil saja saputanganku, siapa tau kau lebih membutuhkanya dariku” Kata Rian sambil ingin pergi dari tempat itu.

Saat Rian ingin keluar dari pintu itu. Cerlia berlari menghampiri Rian kemudian mengatakan sesuatu.
“RIAN!!” Panggil Cerlia sedikit berteriak

Rian menoleh dan membalik badannya. “Ya..ada apa?”
“Ehm..Terimakasih saputanganya” kata Cerlia tersenyum gugup.
“Its Ok Girl!” jawab Rian ramah

Dalam hati Cerlia berbunga-bunga. Baru kali ini dia ditolong oleh anak populer yang rendah hati seperti Rian. Anak popular yang dia kenal selama ini adalah anak yang sombong, anak yang jahat, anak yang selalu dia benci. Tapi dengan Rian semua berbeda. Dia adalah anak Populer yang rendah hati. Kemudian Cerlia bergegas pulang. Rumahnya ada dijalan Castepillarhood number 12. Dia ditinggal disitu bersama ibunya. Ayahnya sudah lama meninggal sejak dia berumur 8 tahun karena kecelakaan yang ayah Cerlia alami sehabis mengantar Cerlia kecil pulang dari kebun binatang. Maka dari itu Cerlia menjadi takut ke kebun binatang.
Setelah sampai rumah. Cerlia langsung disambut oleh ibunya. Ibunya kaget karena penampilan Cerlia berantakan. Lalau ibunya bertanya “Sayang, kau kenapa? Kenapa pakaianmu kotor begitu?”
Cerlia dengan tampang tak bersalah menjawab “Oh ini.. tadi kecipratan air, trus tadi juga jatuh dan kecebur got hehe” kata Cerlia santai. “Ya ampun sayang! Kamu ini bagaimana sih? Yasudah sana cepat ganti baju, kemudian mandi, ibu sudah siapkan Risoles kesukaanmu” kata Ibu Cerlia

Cerlia tidak berani bercerita yang sesungguhnya kepada ibunya atas apa yang dialaminya. Karena ia sudah diancam jika dia berani membicarakan ini pada orang tuanya dia akan diberi siksaan lebih dari yang saat ini ia alami, bahkan ia akan diancam akan dikeluarkan dari sekolah.

Selesai membersihkan pakaianya Cerlia kemudian membuka Diarynya dan menulis sesuatu disana.
Hi Dear,
Aku lagi sedih, ya seperti biasanya..
Aku kembali diperlakukan seperti “Sampah” oleh anak-anak populer..

Tapi,
Ada seorang anak populer yang menolongku, dia sangat baik, dia memberiku saputangan..
Dia adalah Rian Muffler..
Cowok paling popular di sekolahku,
Hahaha..
Seneng banget deh

Love Cerlia

Selesai menulis Diarynya, Cerlia belajar, dan kemudian tertidur. Keesokan harinya dia seperti biasa berangkat sekolah. Tapi kali ini dia berangkat lebih pagi. Dia takut terlamabat karena pelajaran hari ini ada pelajaran dari Pak Jason. Guru paling Galak dan menakutkan. Kemudian dia segera berangkat sekolah.

Sesampainya di sekolah. Dia langsung masuk keruang kelasnya. Tapi baru sampai setengah jalan menuju kelasnya dia sudah dihadang oleh Regan dan teman-temanya. Dan tentu saja Cerlia diseret ke Ruang Siksa.
“Hei Sampah! Kau melakukan apa dengan Rian kemarin!? Jangan sekali-sekali kau mencoba mendekati yang namanya Rian Muffler!! Atau kau akan tau akibatnya! Mengerti??”
“Iya Regan” kata Cerlia sambil menunduk.
“Bagus kalau begitu! Oh ya, kau sudah mengerjakan Tugas dari pak Jason? Kalau sudah serahkan padaku!” Kata Regan sambil menyerobot tas Cerlia dan membuka tasnya secara paksa. Tapi Cerlia tidak melepaskan genggamanya pada tas itu. “Jangan Regan kumohon” kata Cerlia memohon
“Kau ingin melepaskanya atau tidak!?” kata Regan mengancam. Cerlia kemudian melepaskan dan memberi tugasnya ke Regan.
“TEEETTT” bel tanda masuk berbunyi.

Cerlia masuk sambil ketakutan karena tugas yang diberi Pak Jason direbut oleh Regan. Saat pak Jason masuk Cerlia tambah ketakutan. Pak Jason kemudian duduk “Anak-anak keluarkan tugas yang saya berikan kemarin jika ada yang tidak mengerjakan tugas maka akan berdiri dibawah tiang bendera samapi pelajaran terakhir usai!” Cerlia menjadi semakin takut terlebih-lebih saat pak Jason mendekatinya. “Cerlia mana tugasmu?” kata Pak Jason. Cerlia kemudian menoleh ke Regan, Regan pun memelototinya. Tepat pada saat itu Pak Jason membentaknya, “Mana tugasmu Cerlia? JAWAB!” Kata Pak Jason tegas “Ehm..tidak mengerjakan pak!” kata Cerlia ketakutan
“Kalau begitu cepat keluar dan laksanakan hukumanya! Dasar anak pemalas!” bentak pak Jason

Tanpa pikir panjang Cerlia langsung tersenyum lesu. Ternyata di bawah tiang bendera memang sangat tidak enak. Panas dan gerah. Cerlia sangat capek. Tubuhnya menjadi lemah. Dia tidak kuat berdiri lagi. Tapi rasa itu dia tahan supaya tidak terkena marah Pak Jason.
“KRIIIINGG” tanda bel istirahat.

Regan dan teman-temanya langsung menghampiri Cerlia dan langsung menyiramkan seember air ke Cerlia. Cerlia menjadi basah kuyup.
“Bagaimana? Segar kan? Aku tau kau kepanasan makanya aku bawakan air haha” kata Regan dan teman-temanya menertawakan Cerlia. Cerlia hanya menunduk. Kemudian Cerlia disuruh bersimpuh dihadapan Regan dan teman-temanya. Saat ini adalah hal yang paling tidak disukai oleh anak-anak yang terkena “BULLYING”. Cerlia dipukuli dan ditendangi oleh Regan dan teman-temanya. Dia menangis dan meringis menahan sakit. Tak ada orang yang mau menolongnya. Tapi untung kejadian itu terhenti karena bel tanda masuk berbunyi.
“Kau beruntung bocah tengik!” ucap Regan tersenyum sinis

Cerlia hanya diam dan menunduk. Dia sangat kesal, sangat benci, sangat ingin menangis. Tapi ia berkata pada dirinya sendiri, bahwa dia harus kuat apapun yang terjadi. Kemudian dia berdiri. Merapikan bajunya dan penampilanya. dia kemudian berjalan menuju kelasnya dengan biasa seolah tidak terjadi apa-apa.

Sudah pukul 13.00. Saatnya Cerlia pulang. Dia kali ini lebih cepat pulangnya supaya tidak bertemu dengan Regan dan teman-temanya. Setelah sampai Rumah dia memikirkan kejadian yang dialaminya tadi. Cerlia kemudian menangis. Dadanya sudah sesak karena terlalu lama memendam amarah. Dia ingin jalan hidupnya berubah. Dia tidak ingin dianggap remeh. Dia tidak ingin diinjak injak. Dia tidak ingin dianggap sampah lagi oleh anak-anak populer! Dia terus memikirkan bagaimana caranya supaya bisa terbebas dari pengaruh anak-anak populer itu. samapi-sampai dia tertidur karena terlalu stress dan badan-badanya juga sedang sakit-sakitan karena habis diinjak-injak oleh Regan dan teman-temanya.

Pagi-pagi Cerlia terbagun. Dia melihat jam burung hantunya. Waktu sudah menunjukan pukul setengah tujuh. “Oh tidak! Aku kesiangan” pekik Cerlia. Cerlia pun cepat-cepat mandi dan makan kemudian cepat-cepat berangkat sekolah. Pada saat dia sudah sampai didekat gerbang sekolah, terlihat pak Satpam sudah mau menutup pintu. Tapi Cerlia dapat menahnya.
“Sebentar pak! jangan ditutup dulu!” cegah Cerlia. Akhitnya Pak Satpam pun membukakan pintunya untuk Cerlia. “Hufftt.. Lega” kata Cerlia. Dia pun langsung menuju kelasnya. Hari itu adalah pelajaran Bu Rachel guru Fisika. Saat itu sedang ada latihan praktek. Saat Cerlia akan keluar dari pintu laboratorium tanpa sengaja dia menabrak Regan dan teman-temanya. Sehingga cairan yang dibawa Cerlia tumpah mengenai baju Regan. Sontak Regan pun langsung marah.
“KURANG AJAR! KAU ITU MEMANG HINA SANGAT HINA! BERSIHKAN BAJUKU SEKARANG JUGA! CEPATT !!” bentak Regan

Cerlia pun langsung membersihkan Baju Regan. “Yang bersih dong! Masa Cuma bersihin baju aja ga becus! Dasar Bodoh!” kata Regan kasar. “Iya Regan aku minta maaf” Kata Cerlia memelas.
“What? Can you Repeat please!? MAAF ?? Emangnya lo siapa berani-beraninya minta maaf, sudah kita pergi saja yuk teman-teman daripada ngladeni bocah yang ga jelas asal-usulnya ini” Kata Regan sambil menendang Cerlia.

Cerlia hanya memaklumi kejadian itu. dia hanya menganggapnya angin lalu walau dia sebenarnya sakit hati. Pukul 13.00 Cerlia pulang. Tiba-tiba dia melihat sebuah anak yang pakaianya lusuh dan berjalanya tertatih-tatih. Rupanya dia barusan terkena Bullying. Segera saja Cerlia mengampirinya. “Hei kau tak apa? Kelihatanya kau keskitan” kata Cerlia.

Anak itu melihat Cerlia kemudian menjawab “Aku tak apa” kata anak itu. “Benarkah? Kulihat kau juga terkena Bullying? Kata Cerlia polos. “Sudah kubilang aku tak apa-apa” kata anak itu sedikit membentak Cerlia sambil memalingkan wajahnya dari Cerlia. “Emm.. kalau begitu namamu siapa?” Tanya Cerlia
“Ginny Flint. Biasa dipanggil Ginny” kata anak itu
“Owh..aku Cerlia Hamiltton. Senang berkenalan denganmu” kata Cerlia

Tiba-tiba Cerlia mempunyai ide. Karena dia dan Ginny sama-sama terkena Bullying, rupanya rencananya kali ini akan berhasil. Dia lalu mengungkapkan pikirnya tersebut pada Ginny.
“Emm Ginny apakah kau tau aku juga sering terkena Bullying?” kata Cerlia
“Benarkah ?” kata Ginny
“Ya, dan rasanya tidak mengenakkan, aku ingin sekali membalas perbuatan mereka” ucap Cerlia
“Sama, tapi tahu sendiri kan? Takkan ada yang berani melawan kumpulan anak-anak populer” ucap Ginny melas.
“Kupikir tidak” kata Cerlia berbinar-binar
“Maksudmu?”
“Begini kita kan memiliki nasib yang sama, yaitu sama-sama dibullying. Kau dan aku ingin terbebas kan dari gangguan anak-anak populer kan? Aku tau kau sudah tak tahan dengan perlakuan mereka kepadamu, nah singkat saja ya, maukah kau bekerja sama denganku supaya mereka tidak mengganggu kita lagi dan juga anak-anak yang terkena bullying lainya?” kat Cerlia memohon.
“Emm.. apakah kau yakin Rencanamu ini akan berhasil?” kata Ginny ragu-ragu.
“Ya..tentu pasti!” kata Cerlia mantap
“Baiklah..ceritakan rencanamu” kata Ginny
“Baiklah ini Rencanakku…” kata Cerlia membisikan sesuatu kepada Ginny

Setelah selesai Ginny langsung terperangah. “Kau yakin akan melakukan itu?”
“Ya! Kita dan anak-anak yang dibullying lainnya akan bekerjasma! Kau tolong beritahu ke anak-anak yang lain ttentang rencanaku ini, aku mohon!” kata Cerlia penuh harap
“Oke! Akan aku lakukan!” Kata Ginny tersenyum gembira.
“Thanks!” kata Cerlia

Keesokan harinya Cerlia tidak sengaja menabrak Regan dan teman-temanya. Hingga membuat makanan yang dibawa Regan tumpah.
“OMG! APA LAGI INI!? DAN KAU, KAU LAGI-KAU LAGI! SEKARANG IKUT KAMI KERUANG SIKSA! CEPAT” kata Regan sambil menarik Cerlia.

Tapi sebelum itu terjadi seseorang telah berteriak dan ternyata itu Ginny “Hei lepaskan anak itu!” kata Ginny tegas

Sontak Regan pun kaget. “Mau apa kau? Kau juga mau ikut ke ruang siksa?”
“Enak saja! Memang kalian siapa? Berani-beraninya nyuruh-nyuruh orang! Ciihh” kata Ginny meludah
“Kurang ajar! Awas Kau!” kata Regan sambil menghampiri Ginny dan siap mengepalkan tinju

Tiba-tiba tangan Regan ditarik oleh seseorang. “Mau apa kau terhadap temanku? Jika kau mengganggu temanku aku pun juga ikut terganggu” kata seseorang yang bernama Nicole yang juga pernah terkena Bullying.
“Ya! Jangan sekali kali menyentuh temanku dengan tangan hinamu itu! pergi sana!” sambung anak laki-laki yang bernama Justin.
“Huhh.. kalian memang menyebalkan!” kata Regan tak bisa berkutik
“PERGI SEKARANG ATAU KAMI AKAN BERTINDAK!!?” bentak seseorang bernama Teresa

Karena kalah jumlah Regan dan teman-temanya pun pergi meninggalkan Anak-anak itu. mereka pun kesal. Cerlia pun berkata keras “PERGI JAUH SANA! DASAR SAMPAH!” kata Cerlia senang.
“Cerlia kita berhasil! Dengan kita saling membela mereka takkan mengganggu kita! Kau memang hebat Cerlia!” kata Ginny sambil memeluk Cerlia
“iyaa.. Thanks Ginny” kata Cerlia senang

Sejak saat itu Regan dan teman-temanya tak berani membullying anak-anak walaupun itu anak baru sekalipun. Dan saat Cerlia berada di taman menikmayi kemenanganya. Seseorang mendatanginya.
“Aku bangga padamu Cerlia, kau sangat berani, kau memang perempuan yag hebat!”

Wajah Cerlia langsung memerah
“Ehmm.. Thanks Rian! ;) ini kukembalikan saputanganmu, aku tak memakainya lagi” kata Cerlia sambil menyodorkan saputanganya pada Rian
“Tidak, untuk kau saja” kata Rian sambil tersenyum paling manis.
“Thanks Before ! ;)”
“Cerlia, apakah kau ada acara besok malam ?” ujar Rian
“Tidak, memangnya kenapa?” kata Cerlia penasaran
“Dinner bareng gue ya!” Kata Rian
“Emm.. bagaimana ya?” kata Cerlia ragu-ragu
“Aku mohon Cerlia, kali ini saja” kata Rian memohon
“Gak usah ngrengek gitu lagi! Iya aku bakal temenin lo dinner, ckckck” kata Cerlia tertawa
“Yes! Makasi Cher” ucap Rian senang
“Iya..iya”

Mereka kemudian duduk bersama ditaman dan menikmati suasana dengan langit biru yang cerah. Mereka berpegangan tangan dan menikmati kebahagiaan bersama.

PROFIL PENULIS
Nama lengkap : Karina Puspa Sari
Facebook : Karina Puspa Sari
E-mail : rinrin.puspasari@yahoo.com