Tampilkan postingan dengan label Cerpen Misteri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Misteri. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Juli 2012

Cerpen Misteri - Tragedy In The Land Of Sand

THE SIGNS OF THE DREAMS #8 : TRAGEDY IN THE LAND OF SAND
Karya Avans Cross Lines

Namanya Vangalena. Dia adalah salah satu mahasiswi dari Universitas Java Island. Dia bersama ratusan mahasiswa lainnya termasuk diriku sedang mengikuti study tour ke sebuah gurun di timur tengah.
Kami semua berangkat dari Indo tepat beberapa hari sebelum tragedi yang mengenaskan itu terjadi. Kehebatan alam semesta yang akan mengubah persepsi semua orang ketika mereka berada disana.

Adalah Campell, sebuah kota kecil di tengah gurun pasir yang bertahan selama puluhan tahun. Orang-orang menyebut tempat itu sebagai ’The Calm Heaven’ tempat yang tenang untuk peristirahatan terakhir.
Vangalena adalah temanku. Dia adalah wanita yang sangat angkuh, judes, dan sombong. Namun, aku sedikit menyukainya walaupun dia seperti itu. Alasannya selain karena dia cantik, dia juga kesepian. Tak ada satu orang pun yang ingin menjadi temannya. Mungkin karena sifatnya yang seperti itu.
Tujuan kami study tour ke tempat itu untuk mengamati bintang. Selain kota itu digunakan untuk tempat peristirahatan, kota itu juga digunakan oleh banyak ilmuan dunia untuk mengamati bintang dan benda langit lainnya.

Pagi itu kami berangkat terbang menuju Arab Saudi dan kemudian berangkat ke kota itu yang berjarak 100 km dari ibu kota.
Kota itu tepat berada di tengah gurun. Tak ada jalan raya. Yang ada hanya bukit-bukit pasir yang sewaktu-waktu bisa berpindah dan membingungkan orang-orang bila sampai tersesat disini. Satu-satunya kendaraan yang mampu berjalan di atas pasir dan bisa bertahan dari badai pasir adalah mobil yang seperti tank baja yang sedang kami naiki ini.
Akhirnya kami tiba disana. Di tempat terpencil itu. Keadaan disana begitu sunyi dan kumuh. Mungkin itu karena rumah-rumah mereka hanya terbuat dari susunan batu bata coklat saja. Warnanya sama seperti pasir di gurun ini.

Rumah-rumah disini begitu kecil dan tentu saja tampak selalu berdebu karena badai pasti selalu singgah di tempat ini. Memang benar tempat ini begitu sunyi. Hanya terdengar suara angin lembut perlahan yang menggesekan gurun pasir tersebut.
Kulihat Vangalena sedang berjalan menuju suatu tempat. Aku mengikutinya dari belakang. Kami berjalan menuju bagian utara dari kota itu.

Ada sebuah lapang yang gersang disana. Dan jauh di depannya ada sederet pagar kayu rusak yang melintang dari barat ke timur. Seakan-akan membatasi kota ini dan ada beberapa tentara arab yang menjaganya. Aku lihat pula cukup jauh dari kota ini ada sebuah menara. Mungkin itu digunakan untuk mengamati bintang.
“Hey, kenapa kau mengikutiku terus?!” tanya wanita itu gusar.
“Aku hanya ingin menemanimu,” jawabku.
Dia pergi menjauh dariku namun aku tetap mengikutinya. Dia menuju ke sebuah gedung yang kelihatannya seperti sebuah pabrik. Tempat itu begitu kumuh. Ketika kami masuk kesana terdengar suara riuh rendah mesin jahit. Orang-orang itu sedang bekerja di pabrik jahit ini. Kami melihat apa yang sedang dijahit mereka. Kami terkejut, ternyata itu adalah kulit dan bulu hewan. Aku tidak tahu hewan apa yang mereka gunakan untuk membuat topi, tas dan mantel tersebut.

Tiba-tiba seorang nenek dengan menggendong seekor kucing mendekati kami. Dia adalah pemilik pabrik ini.
Dia menyuruh kami duduk dan Vangalena mencoba bertanya sesuatu tentang hewan tersebut. Kami terkejut ketika nenek itu menjawab hewan itu adalah kucing-kucing liar yang ditangkap dari semua kota karena jumlah mereka semakin membludak. ’Dari pada dibunuh sia-sia lebih baik kami gunakan saja kulit dan bulu hewan itu,’ katanya pada kami.

Setelah dari pabrik itu kami berdua mencoba kembali ke rombongan. Namun mereka semua sudah tidak ada disana.
“Mungkin mereka sudah berangkat ke menara,” katanya padaku.
“Kalau begitu ayo kita kesana!” ajakku. Kami harus melewati sebuah pintu pagar besi yang dijaga tentara itu agar kami tidak dianggap ilegal memasuki wilayah tersebut. Salah seroang tentara itu menyuruh kami hati-hati. Entah apa maksudnya?
Jarak menara itu kira-kira 100 meter dari lapang kota dan kami harus melewati gurun pasir yang sangat panas ini untuk menuju kesana. Kami heran, pasir disini lebih putih, seperti pasir pantai.
Rasanya kami telah berjalan cukup lama, tapi kami belum juga sampai di menara itu. Menara itu seakan menjauh dari kami. Cuaca yang sangat panas ini membuat pandangan kami kabur. Menara itu sudah berada di depan mata, namun kami melihat keanehan dari menara itu. Di puncak menara, kami melihat sebuah lantai beton yang lebar seperti lapangan.
Bangunan itu seperti Unstable Stone atau Stonehenge. Menara yang berdiameter 5 meter dan tinggi lebih dari 100 meter itu dijadikan sebagai tiang penyangga lantai yang luasnya 200 m². Sungguh bangunan yang tidak biasa.

Kami mencoba masuk ke dalam menara tersebut. Menaiki ribuan anak tangga untuk sampai ke puncak. Namun disana tak ada siapa-siapa.
“Kemana mereka?” tanyanya.

Dari puncak menara itu kami bisa melihat gurun pasir yang luas sejauh mata memandang.
“Mereka tidak ada disini. Lebih baik kita kembali,” kataku.

Kamipun kembali menuruni anak-anak tangga itu. Namun kami sangat terkejut ketika keluar dari pintu menara itu. Banyak sekali orang-orang. Jumlahnya sampai ribuan. Dan mereka semua mengenakan pakaian serba putih. Orang-orang itu tampak kebingungan dan ketakutan. Kami mencoba bertanya pada seorang bapak namun dia tidak menjawab pertanyaan kami, wajahnya sangat ketakutan.
“Ada apa ini? Siapa mereka? Datang dari mana mereka semua? Kenapa mereka tampak bingung dan ketakutan? Dan kenapa mereka memakai pakaian putih itu?” tanya Vangalena bertubi-tubi padaku. Aku hanya bisa menggeleng.
“Mereka seperti orang yang akan mati.” kataku. Tiba-tiba terdengar suara jeritan dari puncak menara. Ketika kami melihat ke atas kami benar-benar terkejut. Terdapat ratusan orang-orang disana. Mereka semua menjerit. Kami tidak tahu apa yang sedang terjadi disini. Tapi jika dilihat baik-baik ke arah puncak menara itu, jumlah orang-orang di atas sana semakin membludak. Satu persatu orang-orang berjatuhan dari lantai setinggi 50 meter itu. Mereka berjatuhan seperti hujan dan mendarat di atas pasir putih di bawahnya. Dalam seketika mereka pun langsung mati.
“Aku mulai takut Vanga. Lebih baik kita pergi dari sini!” kataku histeris. Namun dia malah terus memperhatikan orang-orang di atas sana. Seorang ibu-ibu jatuh sesaat sebelum puncak menara itu runtuh membawa serta ratusan orang-orang diatasnya. Mereka pun mati seketika. Pasir yang tadinya seputih salju kini berubah menjadi merah oleh darah. Ini seperti neraka bagiku atau mungkin padang Masyar yang semua orang bicarakan itu

Selang beberapa saat kemudian terdengar suara gemuruh dan tiba-tiba pasir menyembur keluar dengan amat deras seperti geyser. Semakin lama semburan pasir itu semakin besar dan tiba-tiba saja dari dalam semburan itu muncul sebuah gunung. Yang kami heran adalah gunung itu terbuat dari air bening yang sangat kental. Semakin lama gunung air itu semakin tinggi. Tingginya pasti lebih dari 100 meter. Orang-orang disana mulai berlarian. Kami pun ikut berlari, kami tahu akan ada bencana besar yang akan menimpa kami. Kami berlari menuju kota.
Gunung itu pun akhirnya memuntahkan isinya. Cairan kental berwarna lautan biru menerjang orang-orang itu. Gelombangnya seperti tsunami yang amat dahsyat. Gelombang itu menghantam orang-orang dan membuatnya terperangkap di dalam air yang sangat kental tersebut.

Kami berdua mencoba berlari secepat kami bisa. Namun gelombang itu begitu cepat mengejar kami. Semua orang-orang berpakaian putih itu telah tewas. Yang tersisa hanya kami berdua.
Pintu penjaga telah di depan mata. Mereka menyuruh kami cepat masuk. Hal yang kami lakukan setelah sampai disana adalah mencari tempat perlindungan. Namun tak ada tempat yang aman disana. Gelombang itu semakin dekat. Kami berdua langsung masuk kedalam sebuah kotak besi yang sepertinya itu digunakan sebagai tempat sampah. Namun kami tak punya pilihan lain. Kami berbaring dan berpelukan erat di kotak itu.

Tak lama berselang hembusan angin yang sangat kencang menembus kota itu. Namun anehnya tak ada gelombang air yang menerjang kota. Akibat dari rasa lelah, takut, dan shock kami pun jatuh pingsan.
Saat kami sadar, kami sudah berada di dalam mobil. Kami melihat wajah-wajah mahasisiwa lain yang tampak senang dan seperti tidak terjadi apa-apa. Kami seakan-akan tidak pernah keluar dari mobil ini karena posisi duduk kami masing-masing tidak berubah sedikitpun. Candaan mahasiswa lainpun sama seperti terakhir kali aku melihatnya. Dan kami tidak turun di kota itu. Kami hanya berhenti sebentar disana sebelum menuju menara.

Kami tidak bisa berkata apa-apa seakan-akan semua ini hanya mimpi belaka. Kami melewati kota itu, kami melihat lapangan yang penuh dengan anak-anak yang sedang bermain bola. Bangunan yang pernah kami kunjungi itu tidak terlihat sebuah pabrik, melainkan seperti sebuah penginapan/ motel. Kami melihat beberapa turis asing sedang berjemur dibawah terik matahari.

Mobil yang kami naiki melaju menuju pintu gerbang ke menara. Dan anehnya ada sebuah jalan bebatuan yang mengarah ke menara tersebut. Saat kami sampai di menara, kamipun dikejutkan lagi dengan ukuran bangunan itu sendiri. Diameter menara itu lebih dari 20 meter dan tingginya tak sampai 50 meter. Di dalam menara itu terdapat banyak monitor, teropong raksasa dan beberapa ilmuan barat sedang bekerja disana. Hal yang mencengangkan kami adalah tidak ada lantai beton seluas yang pernah kami lihat di puncak menara.

Ini semua begitu membingungkan. Apakah ini hanya mimpi semata? Namun kenapa mimpi kami berdua sama? Apakah ini suatu pertanda? Pertanda dimana hari pembalasan itu akan tiba...

Inspirated by mydream. Jum’at, 26 Maret 2010

PROFIL PENULIS
Avans Cross Lines lahir di Bandung, 31 Maret 1992. Bagiku mimpi adalah inspirasi terbesarku. Mimpi adalah jembatan yang menghubungkan antara khayalan dan kenyataan dimana aku dapat dengan leluasa menyebrangi garis antara kedua dunia tersebut. Untuk sejenak ikutlah bersamaku dan lihatlah seberapa indah, seram, romantis, lucu, bahagia, maupun menegangkannya jembatan itu.
Fb: Avans ‘Dani Cross Lines Blog: avanscrosslines.blogspot.com

Minggu, 15 Juli 2012

Cerpen Misteri Sedih - Kematian Mimpi 26 Mei 2012

NEW SIGNS*1: KEMATIAN MIMPI 26 MEI 2012
Karya Avans Cross Lines 

Aku berdiri di sudut ini. Mungkin sudah berjam-jam berlalu. Aku terus berdiri di samping belakang ibuku. Terkadang mengikutinya berjalan kian kemari melakukan hal-hal yang tak aku mengerti. Aku tidak merasa lelah. Aku berjalan tapi tidak seperti berjalan. Aku serasa melayang namun kakiku jelas-jelas menginjak tanah.

Sudah berjam-jam berlalu. Aku heran banyak sekali orang-orang yang berdatangan. Aku tak ingat apapun tentang ini. Apa ibuku mengadakan pengajian disini? Kenapa mereka semua tampak sedih? Berduka cita seperti tengah kehilangan seseorang.

Aku lihat ibuku berjalan ke ruangan lain. Dia terduduk di depan sesuatu di ruangan itu. sesuatu yang tertutup kain putih. Aku ingin melihatnya namun para orang tua menghalangi pandanganku. Di samping sesuatu yang tertutup kain putih itu aku melihat sebuah foto dan plat nama yang ditulis spidol hitam di samping foto tersebut. DANI RAMDANI nama yang tertulis disana. Membuat aku terkejut bukan kepalang dan ketika kulihat baik-baik foto tersebut ternyata itu adalah foto diriku sendiri.

Aku terdiam membisu, terpatung kaku, tubuhku gemetar, lunglai namun kenapa diriku tidak terjatuh tidak tersungkur ketanah atau pingsan. Diriku seakan seonggok besi. Kaku. Sungguh aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat ini. Ini… mustahil. Sebenarnya apa yang tengah terjadi disini? Kenapa mereka bermuram durja? Kenapa ibuku bersedih hati? Apa yang dia tangisi? Apa yang ada dibalik kain putih itu?
Aku bergerak maju. Menyisip diantara orang-orang. Mencoba mendekati ibu. Cuma ada ibuku disini. Tak ada orang yang aku kenal lagi selain ibuku di ruangan ini. Wajah yang lainnya tampak asing. Aku tak mengenal mereka. Di ruangan ini tak ada ayahku, Ayah tiriku, Kakakku dan istrinya, atau keluarga besar ibuku. Kemana mereka? Dan rumah siapakah ini? Aku tidak kenal dengan rumah ini?

Aku melihat dengan pasti apa yang ada dibalik kain putih itu. itu… aku.. itu tubuhku… bagaimana mungkin? Sebenarnya apa yang telah terjadi? Apa aku sudah mati…?
“Aku mati?” tanyaku tak percaya. Kapan aku mati? Apa ini mimpi? Ya! Ini pasti mimpi! Bukankah aku sudah sering mimpi tentang kematian dan hari kiamat? Ini pasti salah satu mimpiku. Aku harus keluar dari mimpi yang menyesatkan ini!

Aku pejamkan mataku. Namun mimpiku tak beralih juga. aku terus berada di ruangan ini. Aku tidak bisa mengenyahkan mimpi ini. Apakah ini nyata? Kalau aku sudah mati? Aku lihat ibuku mulai melekatkan kain kafan itu di jasadku sembari berurai air mata, menahan isakan tangis.

Dia mengusap lembut pipi dingin lelaki itu.
“Dani, ibu sayang kamu…” ucapnya berbisik di telinga tubuh yang tak lain adalah jasadku.
“Ibu, apa ibu tidak bisa melihatku? Aku disini ibu. Disamping ibu,” ucapku padanya. Namun ibu dan semua orang yang ada disini tak menyadari keberadaanku. Mereka berjalan lalu lalang, bicara, berduka cita namun tak dapat merasakanku. Arwahku.

Aku berharap ada seseorang di rumah ini yang dapat melihatku. Aku hanya ingin bilang bahwa aku ada disamping ibuku. Aku ingin memberi petunjuk pada semua orang bahwa aku ada di rumah ini.
“Ibu… aku disini..” ucapku menangis. Namun dari mataku tak keluar setetes air matapun.
Aku memandangi beberapa orang di ruangan ini, mengira-ngira adakah orang yang dapat melihatku. Sekali saja. Orang yang mau menyampaikan pesanku pada ibuku sebelum aku dikuburkan. Di ruangan ini ada pak ustad, pak haji, para santri. Aku harap ada dari mereka yang bisa melihatku.

Pandanganku langsung tertuju pada pak ustad yang baru saja datang dan duduk di sudut lain ruangan ini. Segera, aku menghampirinya…
“Pak, bapak bisa melihat saya?” tanyaku disampingnya. Namun pak ustad itu terdiam membisu dengan tatapan memandang kosong kedepan.
“Pak, lihat kemari. Aku ingin ngomong sesuatu sama bapak,” ucapku teguh.
“Pergilah! Pergilah dari dunia ini! Tempatmu sekarang bukan disini! Pergilah! Jangan mengganggu keluargamu dan pemakamanmu,” ucap pak ustad itu padaku tanpa sedikitpun melirik ke arahku.
“Aku hanya ingin bicara sebentar sama bapak. Aku cuma mau bilang…”
“Cukup!!! Pergi kau setan!” teriak pak ustad itu padaku. Semua orang memandangnya keheranan.
“Kenapa pak?” tanya ibuku mendekatinya.
“Anak ibu ada disini. Dia tidak mau mati dalam tenang,” ucapnya.
“Dani? Dimana?” tanya ibu.
“Di hadapanmu,” ucapnya.
“Dani, benarkah kau ada disini?” tanya ibu berurai air mata.
“Iya bu, ini aku. Aku disini,” ucapku tapi aku tahu dia tak akan bisa mendengarkanku.
“Dani, pergilah. Sekarang tempatmu bukan disini lagi. pergilah dengan tenang. Jangan mengganggu keluargamu,” ucap pak ustad ke arahku seakan mengusir.

Aku mengangguk. Tak mengelak lagi. Aku juga tak sanggup melihat kesedihan ibu yang menderu-deru. Aku tak sanggup melihat tangisnya. Tapi ada hal yang masih mengganjal di hatiku sampai detik ini.
“Sebelum aku pergi aku ingin bertanya satu hal. Apa yang terjadi? Bagaimana aku mati?” tanyaku.
“Kamu dan kakakmu mengalami tabrakan. Kakakmu sedang kritis di rumah sakit dan kamu… meninggal,” ujarnya. “Sekarang pergilah dengan damai,” tambahnya.

Alasan sederhana. Kematian dengan alasan yang terlalu sederhana untuk membuat arwahku gentayangan. Mereka bilang manusia yang mati dan arwahnya gentayangan hanyalah orang-orang yang masih mempunyai urusan dengan dunia dan mempunyai alasan yang cukup kuat. Tapi bagiku apakah alasan tabrakan sederhana itu cukup kuat? Ataukah adala alasan kuat lain?
Aku bergerak menuju keluar rumah. Aku dengar ibuku masih menangis dengan histeris. Pak Ustad dan yang lain berusaha membuatnya tenang.

Alasan lain? Urusan lain? Hari apa sekarang? Aku coba gali kembali memori dalam ingatanku yang kian detik kian redup. Tapi aku tak bisa ingat apa-apa kecuali kenangan terakhir. Detik-detik terakhir dimana aku dibonceng kakakku dengan motornya.
Aku terdiam tersudut. Terpatung kaku. Terpaku dalam waktu yang membeku. Aku duduk diujung jalan. Sendirian, terpuruk dalam ketidakpastian. Meringkuk tanpa ada orang-orang disekitarku. Didimensi baruku…

PROFIL PENULIS
Avans Cross Lines lahir di Bandung, 31 Maret 1992. Bagiku mimpi adalah inspirasi terbesarku. Mimpi adalah jembatan yang menghubungkan antara khayalan dan kenyataan dimana aku dapat dengan leluasa menyebrangi garis antara kedua dunia tersebut. Untuk sejenak ikutlah bersamaku dan lihatlah seberapa indah, seram, romantis, lucu, bahagia, maupun menegangkannya jembatan itu.
Fb: Avans ‘Dani Cross Lines
Blog: avanscrosslines.blogspot.com

Baca juga Cerpen Sedih yang lainnya.

Selasa, 22 Mei 2012

Cerpen Misteri - Diburu Bayang-bayang

DIBURU BAYANG-BAYANG
Oleh Aisyah

Ify Alyssa berjalan melewati koridor sekolahnya, dadanya terasa sesak, saat ini ia tak dapat mengatur napasnya. Bisa ia rasakan jantungnya berdentum-dentum memukul iganya. Terlihat jelas pelipisnya mengeluarkan keringat bercucuran. Entah sadar atau tidak, sedari tadi ada seseorang yang mengikutinya.
“Tenang, Fy!” Perintahnya pada dirinya sendiri, berusaha mengatur napasnya yang tersengal-sengal. “Gak ada yang perlu lo takutin. Ini sekolah jadi, gak ada yang berani macam-macam.”

Ragu-ragu ia mencoba menoleh ke belakang tapi, bayangan hitam itu dengan cepat bersembunyi dibalik tembok, Ify dapat melihat itu walau samar-samar. Ify mulai berjalan lagi, membiarkan orang tak dikenalnya itu mengikutinya. Ia berbelok menuju ruang kelasnya, setidaknya disana ia merasa aman, karena ada banyak anak lain.
“Ayo, orang sinting, apakah kau berani mengikutiku sekarang,” Gumamnya. Ia berjalan dengan cepat. Bayangan hitam itu juga melakukan hal yang sama. Ify tak menyangka orang itu masih berani mengikuti dirinya. Napasnya mulai tak beraturan, jantungnya berdegup kencang, pelipisnya mulai berkeringat dingin lagi.
Pelan-pelan Ify menambahkan kecepatan berjalannya, matanya terpaku pada ruang kelas yang hanya berjarak beberapa meter lagi. Bayangan hitam itu mulai mendekat kearah Ify. Ify mendorong kursi yang sempat menghalangi jalannya dan langsung berlari menuju pintu ruang kelas, lalu membukanya.
Suasana ruang kelas yang semula ramai perlahan berubah menjadi hening, semua mata kini tertuju pada Ify yang menyender pada pintu sambil mengatur napasnya. Ify membuka sedikit pintu sekedar untuk memastikan orang itu masih mengikutinya atau tidak. Dadanya terasa lega, ia menghembuskan napasnya. Orang itu tak lagi mengikutinya.
Ify mengarahkan pandangannya ke depan, ia mengerjap kaget ketika melihat semua mata tertuju padanya. “Kenapa ngelihatin gue kayak gitu?” tanyanya berusaha normal ya, berusaha menjadi normal kembali.
***

Ify berjalan menuju kantin, berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja. Ify menatap wajah-wajah yang menurutnya mencurigakan tapi, tak mungkin temannya sendiri akan membunuhnya. Mungkin, bisa saja mengingat dirinya sekarang ‘berbahaya’ bagi sebagian orang. Tatapan Ify terhenti ketika melihat Ashilla, dari informasi yang didengar dari temannya, sepanjang musim panas, Ashilla terus menempel pada Gabriel –kekasihnya dulu- Tapi, Gabriel tak pernah mengucapkan kata putus pada Ify.

Dan sekarang Ify tak lagi ingin mengingat-ingat Gabriel, itu masa lalu. Dan kemungkinan besar cowok itu tak akan mau mendekatinya lagi karena menurutnya, Ify ‘berbahaya’. Tapi, sekarang Ify ingin membuat tatapan sinis yang menuju padanya hilang, ia tak ingin terus ditatap seperti itu, seolah-olah semua orang mengawasinya, takut kejadian musim panas tahun lalu terjadi lagi.
Ify terus berjalan menyusuri lorong nyaris bertubrukan dengan cowok di depannya. “Maaf.” Ujar Ify. Cowok itu berbalik menghadapnya.

Mario Stevano. Ify mengerjap. Cowok yang dulu Ify anggap ‘aneh’ sekarang berubah menjadi cowok keren. “Eh… Ify, apa kabar?”
“Baik,” gumam Ify, matanya masih menatap Rio. Ia benar-benar tak menyangka, setahun tidak sekolah ternyata begitu banyak perubahan, termasuk, Rio. Setahun yang lalu, Ify sempat mengamuk di kantin, entah karena apa, ia sendiri pun tak tahu. Yang pasti, semua orang tak dapat menenangkannya kecuali, neneknya, hanya neneknya yang dapat menenangkannya. Menurutnya, neneknya tahu apa yang terjadi pada dirinya. Tapi, neneknya tak mau memberitahukannya. Dan sekarang, ia ingin mencari tahu tapi, itu tak mungkin dilakukannya sendiri. Ia butuh bantuan orang lain.

Ify tersadar dari lamunannya. Ia mulai berjalan lagi tapi, langkahnya tertahan karena, Rio menahan langkahnya. “Kenapa lagi?” Rio mencondongkan badannya kearah Ify.
“Apa gue bisa bantu mecahin masalah lo?” bisiknya tepat ditelinga Ify. Ify menegakkan badannya, tak percaya Rio membisikkan bantuan padanya. Perlahan Ify menggelengkan kepalanya. “Mungkin, lain kali.” Ify berjalan terus, tak ingin berlama-lama. Entah kenapa ia merasa sedikit canggung berada didekat cowok itu.
Ketika sampai di pintu kantin, Ify membukanya dengan ragu. Sebenarnya ia takut masuk ke dalam kantin. Takut, yang terjadi padanya tahun lalu terulang lagi, sangat takut. Ia tak mau dikurung di pafiliun lagi seperti tahun lalu, ia dipasung agar tidak memberontak. Dan itu mengerikan untuk diingat. Jadi, ia putuskan untuk saat ini akan melupakan kejadian mengerikan itu, di kantin ini. Jika ia bisa.

Perlahan Ify berjalan menuju mesin es yogurt. Ia bisa merasakan sejak tadi semua mata tertuju padanya. Ia hanya bisa menghela napas berat. Kapan semua ini bisa berhenti, ia tak mau ditatap seperti itu terus sepanjang hari.
Ify menyapu pandangannya, mencari meja kantin yang masih tersisa untuknya. Setidaknya, ada yang mau mengajaknya duduk.
Dari ujung matanya ia dapat melihat dengan jelas, Rio melambaikan tangan padanya, tepatnya menyuruhnya duduk di dekat cowok itu. Sebelum benar-benar melangkah, Ify memicingkan matanya pada tempat yang diduduki Rio, ‘meja’ itu, dimana pada saat Ify mengamuk di meja itu.

Dengan langkah yang tersa berat, Ify melangkah kearah meja itu, berharap tidak akan terjadi apa-apa saat ia duduk disana.
“Hai, Fy….” Sapa Rio ramah. “…. Lo gak gak takut kan, duduk dimeja ini.” Ify menggeleng ragu.
‘Apa maksudnya dengan ngomong kayak gitu? Pikirnya curiga.
“Semenjak kejadian itu-----” “Gak ada lagi yang mau duduk dimeja ini, kecuali gue.” Rio menyelesaikan kalimatnya, suaranya terdengar bersahabat. Ify tahu, Rio sebenarnya takut mengingat kejadian tahun lalu.

Ify berusaha mempertahakan senyumnya. Ia duduk dihadapan Rio. “Kenapa?” tanya Ify.
“Gak tahu.” Jawab Rio, mengangkat kedua bahunya. Ify tersenyum canggung. Kenapa dia harus sekeren ini, sih? Ify merasa ada yang aneh pada diri Rio, apa dia menyembunyikan rasa takutnya atau memang dia sesantai ini kalau sedang menghadapi cewek ‘gila’. Apa yang dipikirkan Ify, cepat-cepat ia membuang rasa curiganya.
“Ngomong-ngomong, sejak kapan lo berubah penampilan?” tanya Ify, ia berusaha untuk tidak terlihat canggung. Tapi, setidaknya itu usaha yang bisa ia lakukan sekarang.
“Sejak Angel memaki gue…” jawab Rio, mengaduk-ngaduk es yogurt-nya. “….Pas gue lagi ngedeketin dia.” Ify ingat, saat itu Rio sedang mendekati Angel tapi, Angel malah memakinya dan membuat Rio seperti orang bodoh, dan itu sudah satu tahun yang lalu. Tentu sebelum Rio, sekeren seperti sekarang ini.
Ify bisa membayangkan jika dia menjadi Rio, mungkin ia tidak akan pernah masuk sekolah karena, sudah dipermalukan seperti itu. Membayangkannya saja sudah membuat Ify merasa aneh. Ya, seperti orang asing yang perlu ditendang dari sekolah elite ini. Tapi, bukankah sekarang Ify merasa hal yang sama seperti Rio dulu? Hidup kadang memang tak adil.

Dulu ia mempunyai banyak teman, Sivia, Alvin, Zevana, Oik, Cakka, dan semua teman lama Ify. Tapi, tidak untuk sekarang, mereka semua menghilang begitu saja. Apakah itu teman? Dan sekarang siapa yang akan menjadi teman Ify. Rio? Mungkinkah ia mau berteman dengan Ify? Cewek yang sudah dianggap ‘gila’ oleh semua orang yang berada di sekolah ini.
“Sekarang kita berteman?” Rio menjulurkan tangannya pada Ify. Ify menatap uluran tangan Rio ragu lalu menjabatnya.
“Teman.” Gumamnya.
***

Ponsel Ify berdering. Tanpa mengangkat kepala dari bantalnya, ia mengulurkan tangannya untuk mengambil ponsel dari dalam lacinya.
“Halo….”
“Lo akan mati, Fy…”

Ify langsung terjaga, jantungnya berdentum keras. Seseorang telah mengancamnya. Orang yang tidak dikenalnya. Suara orang itu terdengar serak dan juga sangat mengancam. Suara itu bukan milik neneknya. Bukan milik Rio. Ataupun suara temannya yang lain.
‘Tenang, Fy,’ batin Ify. ‘Kemarin ada orang yang ngikutin gue. Dan sekarang ada orang yang ngancam gue.’

Ify berdiri dari atas tempat tidurnya, berjalan perlahan menyusuri kamarnya. Napasnya benar-benar tak teratur, seperti ingin meraup oksigen yang lebih dari luar sana.
“Siapa yang mau ngebunuh gue!?” tiba-tiba Ify memekik keras. “Siapa!!!!????”

Seorang perempuan tua sedang mengintipnya dari sela-sela pintu kamar Ify yang sedikit terbuka dan menangkap bahu Ify. Mengguncangnya.
“Ify!” seru perempuan tua itu. Suara itu… seperti neneknya.

Ify membuka mata, dan melihat neneknya membungkuk di atas tubuhnya. Ify duduk, melepaskan diri dari pegangan neneknya
‘Itu hanya mimpi,’ Ify mulai sadar.
“Maaf. Apa jeritanku terdengar sangat nyata?” tanya Ify, ia berusaha mengatur napasnya agar terdengar baik-baik saja.
“Iya.” Jawab neneknya. “Tenanglah. Dia sudah pergi.” Neneknya mengusap lembut rambut Ify yang hitam bergelombang. Sesaat Ify merasa bingung ‘Dia? Siapa yang dimaksud nenek?’
“Maksud nenek, ‘dia’ siapa?” tanya Ify memberanikan diri. Ia berharap neneknya mau menceritakannya. Tapi, gelengan yang didapatnya. Sepertinya, neneknya tidak ingin menjelaskannya apapun untuk saat ini.
“Bukan siapa-siapa…..” sahut neneknya. “Mau nenek ambilkan minum?” Ify menggeleng. ia benar-benar berusaha terlihat sangat normal agar neneknya tak lagi mencemaskan dirinya. Dan siapapun tidak ingin dikurung dalam pafiliun dan dipasung, termasuk Ify. Dia juga tidak ingin mengamuk diluar keinginannya.
Neneknya keluar pintu. Ify menghembuskan napasnya yang terasa sangat berat.
‘Hanya mimpi’ batin Ify. Memang itu hanya mimpi tapi, mimpi itu terasa sangat nyata. Jelas mimpi itu ada kaitannya dengan dunia nyata yang saat ini ia alami. Seseorang diluar sana menginginkan kematiannya. Tapi… siapa? Ia tidak tahu orangnya. Dan Ify tidak tahu kapan orang itu akan mencoba membunuhnya lagi.

Nenek Ify masuk sambil membawa air dan menyodorkan gelas itu ke tangan cucunya.
“Terima kasih, nek.” Ujar Ify berterima kasih. Neneknya hanya tersenyum, ia masih berharap neneknya mau menceritakan tentang apa yang sudah terjadi pada dirinya. Ia merasa sangat takut, tulang belakangnya seperti mati rasa. Nenek Ify memandang cucunya cemas.
“Aku baik-baik saja.” Ujar Ify, berharap neneknya mempercayainya, neneknya hanya tersenyum.
***

Baiklah, ini adalah waktu yang tepat Ify Alyssa, kau akan mati sesegera juga.
Cuaca di pagi ini sangat cerah.Tapi, tidak dengan Ify, gadis itu tercenung sejak perjalanannya ke sekolah tadi. Sedari tadi Ify hanya berpijak didepan gerbang sekolahnya, anak-anak yang melewatinya hanya berdecak kesal melihatnya. Sedari tadi ia hanya menatap gedung sekolahnya.

Bayang-bayang hitam itu bergerak secepat kilat melewatinya. Matanya mengerjap kaget, jantungnya berdentum-dentum keras memukul iganya, lututnya terasa lemas, keringat dinginnya bercucuran, napasnya tersengal-sengal.
“Siapa lo! keluar!” teriaknya keras, ia mencoba mengatur napasnya. “Hhhhf… Lo pikir gue takut!???”
Bayangan hitam itu terlihat menyeringai lebar tepat dibalik punggung Ify. Ify menarik napas berat, ada sesuatu yang merasuki dirinya. Bayang hitam itu.
Ify dapat merasakan emosi-emosi yang merasuki dirinya. kebencian, dendam, amarah yang sangat memuncak. Matanya tersirat kebencian yang mendalam, matanya berkilat merah. Ia tersenyum sinis.
Langit yang semulanya cerah mendadak berubah menjadi hitam.

Nenek Ify memandang langit yang tak biasanya dari jendela kamarnya. “Dia kembali.” Nenek Ify bergegas berlari keluar rumah.
“Ada apa nyonya? Kenapa lari-lari?” tanya Pak Karjo-supirnya-
“Kita ke sekolah Ify sekarang. Dia sudah kembali.” Pak Karjo terbelalak.
“Baik nyonya.”

Ify menyeringai lebar, tangannya mengepal. Ia berjalan menghentak menuju kantin. Anak-anak yang dilewatinya berbisik-bisik curiga. “Ify gila lagi, ya?”

Ify membuka pintu kantin dengan kasar membuat engsel pintu kantin tersebut lepas dari tempatnya. Disebuah meja yang dulu pernah membuat Ify dianggap ‘gila’ terdapat sesosok bayangan putih samar. Ibunya.
“Inilah hal yang kutunggu-tunggu setelah sekian lamanya.” Ujar Ify sinis, menatap remeh kearah bayangan putih itu.
“Lepaskan anakku! Banyangan putih itu berseru. “Dia tidak bersalah!!.” Ify menyeringai.
“Tidak akan.” Balasnya sengit. “Kaulah yang sudah membuat hidupku kacau! Dan aku! Tidak akan membiarkan keturunan Alyssa hidup!” Ify mengambil sebilah pisau di meja terdekatnya.
“Kau lihat! aku akan membunuh anakmu!” Ify mengarahkan pisau tersebut tepat didepan dada kiri. “Sama seperti kau membunuhku di meja itu!!” Jari telunjuk Ify mengarah pada meja yang pernah membuat jiwa Ify terguncang.

Bayangan putih itu mendekat kearah Ify. “Aku mohon jangan!” cegahnya. Ify hampir menghunus pisau itu ke jantungnya kalau saja nenek Ify tidak datang mencegahnya.
“Zahra! Cukup!” seru nenek Ify dari pintu kantin. Ify berbalik. “Dendammu telah selesai. Jatuhkan pisau itu!” Ify menatap pisau ditangannya ragu.
“Tidak!” serunya. “Aku akan membunuhnya!!”
“Zahra, cukup. Dendammu telah selesai, kembalilah keasalmu.” Sergah nenek Ify. Nenek Ify menoleh kearah pak Karjo dibelakangnya. “Cepat bakar meja itu!” perintahnya. Pak Karjo mengangguk lalu berlari kearah meja itu, menyiramnya dengan minyak tanah.
“Jangan!” cegah Ify sebelum benar-benar pak Karjo membakar meja tersebut. “Jangan bakar mej…”
“Cepat!” teriak nenek Ify. Pak Karjo langsung membakar meja tersebut. Dengan cepat api melalap meja Itu. Sedang Ify mengerang kesakitan. Bayangan putih itu perlahan menghilang dengan sendirinya.
“Nenek cukup! Padamkan api itu! Panas!” erang Ify kesakitan, ia terjatuh ke lantai. Sampai akhirnya ia tak sadarkan diri.
***

Ify duduk di atas kursi roda, matanya tak jelas tertuju kearah mana, kepalanya ia miringkan. Jiwanya saat ini benar-benar terguncang. Rio duduk disisi kiri Ify.
“Fy, semua udah berakhir….” Lirihnya. “Kembalilah seperti dulu, Ify yang periang.” Ify hanya diam tak menanggapinya. Rio menatap Ify miris, ia melangkahkan kakinya untuk pergi dari sisi Ify.
“Udah berakhir…” gumam Ify. Langkah Rio terhenti, ia berbalik meloncat dan langsung memeluk Ify. “Udah berakhir.” Gumamnya lagi.

Mungkin bagi kau dan itu sudah berakhir. Tapi, bagiku permainan ini belum berakhir. Permainan kita akan terus berlanjut Ify Alyssa. Akan terus berlanjut, dendamku tak akan pernah akan hilang. Dendam itu akan selalu ku ingat.