Tampilkan postingan dengan label Cerpen Remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Remaja. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 September 2012

Cerpen Pendidikan Islam - Indahnya Bersedekah

INDAHNYA BERSEDEKAH
Karya Anisa Nur Dinawati

Saskia adalah gadis berumur 7thn, namun dia adalah gadis yang kurang beruntung. Orang tua mereka bermatapencaharian sebagai pekerja serabutan yang tidak mempunyai penghasilan yang tetap. Saskia duduk dibangku kelas I SD, dia anak yang baik, rajin, pintar, dan patuh serta selalu bersemangat untuk menuntut ilmu. Sepulang sekolah dia selalu mencari pekerjaan untuk membantu orang tuanya membayar biaya sekolah.
“Bu aku berangkat sekola dulu ya” suara mungilnya menghampiri ibunya yang sedang mengumpulkan cucian tetangga sembari tangan mungilnya itu mencium tangan ibunya.
“Iya, hati-hati ya Kia, belajarlah yang benar ya nak” jawab ibunya sembari mengelus kepala anaknya itu.
“Iya, pasti ibu !” ujar Saskia penuh dengan semangat.
Kaki kecilnya itu berjalan menyelusuri sawah yang becek dan sungai yang sedang surut airnya, sungguh besar perjuangan gadis kecil itu untuk menuju sekolahnya itu.
SDN Maju Jaya, adalah sekolah yang belum terjamah oleh pemerintah, sekolah itu sangatlah tidak layak pakai dan saat musim hujanpun sekolah terpaksa untuk diliburkan.

Di kelas Saskia adalah siswi yang sangat aktif dan cerdas, dia mendapatkan peringkat pertama di kelas semester pertama.
“Saskia, ikut ibu dulu nak ke kantor” ucap Bu Hidayah.
“Iya bu” jawab Saskia.
Tiba di ruang kantor guru, saskia duduk dikursi usang itu.
“Nak... ini surat untuk ibu mu, besok ibu mu menghadap ibu ya” ujar Bu Hidayah pelan.
“Memangnya ada apa bu?” tanya Saskia polos.
“Kamu belum bayar SPP 5bln Nak” jawab Bu Hidayah.
“Oh soal itu, baiklah bu, terimakasih” jawab Saskia sembari beranjak pergi dari ruangan itu.

Waktu pulang sekolah pun tiba. Saskia segera menuju kamar mandi dan berganti pakaian untuk mencari pekerjaan hari ini. Lalu perlahan Saskia menuju pasar yang sudah biasa ia datangi.
“Kasihan ibu dan ayah, aku harus membantu mereka” ucapnya dalam hati.
Kali ini Saskia bekerja membantu ibu-ibu yang membawa belanjaan banyak.
“Ibu boleh saya bantu bawaannya?” tawar Saskia.
“Iya boleh nak”
Hari itu lumayan Saskia mendapatkan uang 25rb dan ia segera pulang karena waktu yang sudah sangat sore. Diperjalanan dia bertemu dengan pengemis tua, dan dia merasa sangat kasihan pada pengemis itu.
“Nenek kelihatannya lemas sekali, nenek sakit?” tanya Saskia pada pengemis itu.
“Saya belum makan 2 hari ini nak, saya hanya minum air putih saja, itupun hanya dua kali” jawab pengemis itu lemas.
“Kalau begitu ini untuk nenek, lumayan untuk nenek makan dan beli minum” sembari menyerahkan uang 25rb yang tadi dia dapatkan dari hasil kerjanya.
“Terimakasih nak, kau memang gadis kecil yang berhati mulia, semoga tuhan selalu memberikan kecukupan untuk mu” ucap pengemis itu merasa terharu dengan sikap gadis mungil itu.
“Iya sama-sama nek, kalau begitu aku pulang dulu ya nek, nenek segeralah membeli makan dan minum agar nenek selalu sehat” ucap Saskia dan beranjak meninggalkan emperan toko itu lalu ia pulang.
“Iya hati-hati nak”
“Iya nek” sembari tesenyum manis melihat nenek itu tersenyum untuknya.

Setibanya Saskia di rumah.
“Assalamualaikum...” dengan suara yang lucu itu ia membuka pintu.
“Walaikumsalam, kamu dari mana saja Kia ?” tanya ibunya.
“Tadi aku bekerja membantu ibu-ibu di pasar membawakan belanjaannya bu” jelas Saskia dengan wajah yang polos.
“Ya ampun nak, kamu ga usah bekerja lagi ya nak, tugas mu hanyalah belajar sekarang, biar ibu dan ayah yang mencari uang untuk biaya sekolah mu nak” respon ibu Saskia sembari meneteskan air mata karena ia kagum dengan anaknya yang mau ikut bekerja demi kelangsungan sekolahnya.
“Ibu ga usah nangis, Kia ga apa-apa ko” tangan kecilnya itu mengusap air mata sang ibunda.
“Maafkan ibu dan ayah ya Kia? Kami belum bisa membahagiakan mu seperti anak-anak yang lainnya, sekarang kamu mandi lalu makan ya nak” sembari mencium pipi gembilnya itu.
“Aku tidak apa-apa ibu, tapi maaf juga ya ibu, hari ini aku ga bawa uang, uangnya aku kasih untuk nenek tua yang belum makan tadi” ucap polosnya Kia memeluk ibundanya.
“Kamu memang anak ibu yang sangat cantik dan baik, itu adalah hal yang mulia, kamu ga perlu minta maaf sama ibu” jawabnya bangga pada anaknya.
“Hem ini surat untuk ibu dari bu guru, dan katanya besok ibu ke sekolah ku untuk menemui Bu Hidayah guru ku” sembari mengeluarkan surat dari tas yang sudah robek kecil dibagian kanan dan kirinya itu.
“Baik, besok ibu akan ke sekolah mu nak”

Keesokan harinya Saskia berangkat sekolah ditemani ibundanya. Diperjalanan Saskia memberikan uang recehnya kepada para pengemis yang ia jumpai.
“Kamu memang peri kecil ibu nak” ucap ibunya dalam hati sembari tersenyum bangga.
Sesampainya mereka disekolah, Saskia langsung mengantarkan ibunya ke ruang guru untuk menemui Bu Hidayah.
“Assalamualaikum bu..” ucap ibu Saskia.
“Walaikumsalam, silahkan duduk ibu..” jawab bu Hidayah.
“Sebenarnya ada apa ya ibu menyuruh saya datang kemari?”
“Mengenai bayaran SPP, Kia belum membayarnya 5bln” jelas bu Hidayah.
“Oh masalah itu ya bu, baik bu saya akan segara melunasinya, namun saya butuh waktu satu minggu ini ya bu” jawab ibu Saskia.
“Oke, baiklah kalau begitu ibu”

Lalu ibu Saskia pun pulang, ia berfikir bagaimana caranya agar ia bisa membayarnya dalam jangka waktu yang seminggu ini. Berjalan perlahan dan dia menubruk Ibu muda dan kaya raya yang mengenakan pakain berwarna biru langit dan jilbabnya yang menutupi auratnya.
“Ma, ma, maaf bu, saya tidak sengaja” ucap ibu Saskia gugup.
“Ya tidak apa-apa bu, ibu mengapa melamun dikeramaian seperti ini?” tanya ibu Riyana pelan.
“Tidak, saya hanya memikirkan anak saya saja bu”
“Memang anak ibu kenapa, sakit?”
“Tidak bu, saya perlu biaya untuk sekolah anak saya”
“kalau begitu ibu mau tidak menjadi pembantu di rumah saya, kebetulan saya sedang memerlukan pembantu bu, saya akan beri upah Rp 1.000.000,00 -,bulan? Bagaimana bu?” tawar ibu Riyana pada ibu Saskia itu.
“I, i..iya saya mau bu, tapi saya butuh uang itu minggu ini bu?” dengan wajah yang mulai berseri dan meredup kembali.
“Kamu tidak perlu khawatir untuk biaya anak kamu biar saya yang tanggung”
“Benar begitu bu?” rasa tak percaya menatap wajah bu Riyana.
“Iya benar ibu” dengan tersenyum manis dan penuh rasa percaya bahwa ibu Saskia adalah seorang ibu yang jujur dan bertanggung jawab.
“Terimakasih ya bu, terimakasih banyak bu !” jawab ibu Saskia bahagia.
“Kalau begitu sekarang ibu ke rumah saya dan kalau bisa ibu mulai bekerja hari ini” jelas bu Riyana.
“Iya bu saya mau !” dengan nada yang penuh semangat.

Dan akhirnya Saskia dapat bersekolah dengan nyaman dan menikmati masa kecilnya dengan wajar.
“Ini berkat anak ku juga, dia selalu bersedekah kepada sesama dan kini Allah memberikan balasan yang lebih dari yang anak ku keluarkan, keikhlasan adalah hal yang terpenting dalam bersedekah, Allah tidak pernah tidur dan Dia slalu mendengarkan curahan hati hambanya, terimakasih ya Allah atas segala karunia-Mu, kini ku rasakan betapa Indahnya Bersedekah J”

PROFIL PENULIS
Nama : Anisa Nur Dinawati
Nama panggilan : Anisa or Icha
Asal sekolah : SMK Wikrama Bogor
Alamat e-mail : anisanurdinawati@gmail.com
Alamat facebook : anieza_mickey@ymail.com

Baca juga Cerpen Remaja, Cerpen Pendidikan dan Cerpen Islam yang Lainnya.

Cerpen Cinta Remaja - The First Boy Friend

THE FIRST BOY FRIEND
Karya Anisa Nur Dinawati
Bella yang sudah beranjak dewasa dan mulai merasa jatuh cinta pada sosok pria idamannya. Bella adalah sesosok gadis yang cerdas, cantik, manja, dan hidup semau gue. Bella sekarang duduk dibangku kelas satu SMA Cakra Tunggal, dan selama di SMP dia belum pernah bermain perasaan dengan lawan jenisnya.

Satu minggu sudah mereka bersekolah disana.
Bella di kelas, dia duduk dan terdiam dipojok bangku dekat pintu.
“Huh ni sekola belum ada sesuatu yang beda” Gerutunya didalam hati.
“Daarrr !” Selly, sahabat dari kecil Bella membangunkannya dari lamunan.
“Apaan sih lu, bikin gua kaget aja !” ucap Bella yang sedikit kesal dengan Selly.
“Jiah santai aja kali non, lagian lu pagi-pagi gini udah ngelamun, sekolah baru ni.. jiwa baru dan semangat baru juga dong, keep smile cantik J” hibur Selly yang gak mau sahabatnya murung kaya gitu.
“Haha (ketawa datar) gua bt, perasaan udah satu minggu kita disini tapi gak ada sesuatu yang menyenangkan sih ?!” gerutu si manja Bella.
“Bella sayang... baru aja satu minggu, ya sabarlah... bawa enjoy aja, oke cantik ;).”
“Oke dicoba” jawab Bella datar.

Sebenarnya Bella ingin merasakan cinta, namun setelah dia melihat sahabatnya Selly yang sering nangis gara-gara cinta akhirnya Bella mikir seribu kali buat jatuh cinta.
“(brakk !) Aduhhhh ..” Bella ditabrak kakak kelasnya, dia Raka ketua tim basket SMA Cakra Tunggal.
“Sorry sorry gua ga sengaja” Raka merasa bersalah karena asik BBMan dan akhirnya dia menabrak Bella.
“Makanya ya mas, kalo punya mata dipake buat liat jalan juga dong, jangan dipake buat liat HP aja !” omel Bella pada Raka.
“Jih elu ade kelas songong banget ! bersyukur seorang Raka mau minta maaf sama cewe songong kaya lo !” kesal Raka.
“Eitss bung, santai aja kali... emang ada apa sama seorang Raka ?hm.. tapi tenang aja gua maafin ko, lain kali jangan kaya gitu lagi ya ..KAKAK !” ucap Bella sembari menepuk pundak Raka dan dengan nada yang pelan tapi jleb kena hati Raka, lalu Bella langsung pergi dari hadapan Raka.
“Emm... dia siapa sih ?” rasa penasaran pun muncul dibenak Raka.

Dan gara-gara kejadian itu, Raka mencari tau semua tentang Bella ke anak-anak kelas satu, dia dapet informasi kalo cewe itu namanya Bella. Dia mencari informasi lagi, dan kebetulan sekali dia bertemu dengan Selly sahabat Bella, dan informasi dijamin akurat.
“Hai cewe, lo anak kelas satu kan ?lo sekelas sama cewe yang namanya Bella ga?” tanya Raka pada Selly.
“Bella ? Bella yang putih, tinggi itu bukan ?” jawab Selly.
“Yap betul banget.”
“Oh itu sih sahabat saya ka. Emangnya ada apa gitu ka ?kakak suka ya sama Bella ?” ledek Selly pada Raka.
“Dih sok tau banget kaya dukun, gua Cuma pengen tau dia tuh kaya gimana sih orangnya?’ haha Raka ngeles dikit tuh kaya supir bajaj.
“Buat apa nanya-nanya gitu? Zaman sekarang ga ada yang gratis ya ka... haha”
“Beuh... matre kali kao... ya udah nanti pulang sekola gua traktir lu makan, gimana ?”
“Oke deh kalo gitu, berarti ceritanya nanti ya sambil makan aja?”
“Sip, lu jangan ngomong tentang hal ini sama Bella !”
“Oke siap kakak !”
Dan setelah itu merekapun masuk kedalam kelas.

Teeetttttttttttttt teeettttt tetttttttttttttttttttttttt bel pulang pun berbunyi.
“Bella hari ini gua ga bisa pulang bareng sama lu dulu ya, gua ada perlu mendadak !”
Ucap Selly pada Bella dan berlari untuk menghindar dari Bella.
“Lah tu orang kenapa ?alah paling juga mau jalan tuh sama cem-ceman baru... ckckck” ucap Bella.

Selly menunggu Raka di parkiran. Dengan mobil birunya, Raka menghampiri Selly.
“Cepet naek !” ajak Raka.
“Iya ka” jawab Selly.
Diperjalanan menuju tempat makan sekaligus tongkrongan Raka, Selly udah bawel banget.
“Sebenernya kenapa kaka pngen tau banget tentang Bella sih? Jujur deh kaka suka kan sama Bella? Emang kaka ga punya cewe ya? Kaka kan famous banget, cewe-cewe pasti pada ngantri kali buat dapetin sedikit perhatian dari kaka, bahkan buat jadi cewe kaka. Emang apa menariknya Bella dibandingin cewe-cewe laen?” Pertanyaan yang sangat panjang bukan ?, fyuh.
“Sssssttttt ! buset bawel banget ! santai-santai, nafas-nafas, kalo nanya tuh satu-satu napa!” jawab Raka yang bingung harus ngejawab darimana.
“Haha ya beginilah aku, ya udah kaka jawab aja yang kaka inget dari pertanyaan aku.” Jawab Selly sembari senyum-senyum kecil.
“Oke, gini ya.. menurut gua dia itu tipe cewe yang unik, gua baru dimarah-marahin sama cewe, ade kelas gua pula, dan itu Bella !. Bella itu cantik, manis dan apa adanya. Jujur gua mulai ada rasa buat dia sekarang.” Jelas Raka pada Selly.
“What ?tuhkan bener, tapi agak susah buat dapetin hati Bella loh ka”
“Wow, kenapa bisa gitu?”
“Emm Bella itu belum pernah PACARAN ! dan dia cuek sama urusan CINTA !”
“Hah ! cewe cantik kaya dia belum pernah pacaran? Jangan becanda kamu Sel” Raka terkejut.

Pembicaraan mereka terpotong karena meraka telah sampai di resto tongkrongan Raka. Mereka segera masuk ke dalam dan mencari tempat duduk, lalu mereka segera memesan makanan.
“Oke kita lanjut lagi ya ka.” Ucap Selly.
“Iya oke oke”
“Iya beneran ka dia belum pernah pacaran, dia males patah hati terus nangis kaya setiap aku kalo lagi curhat sama dia” jelas Selly.
“Oh gitu, tapi gua janji ga bakal bikin dia kecewa ko, comblangin gua ya.” Jawab Raka.
“Hem bisa-bisa, traktiran menanti ya, haahaa” canda Selly.
“Iya tenang aja”
Setelah mereka berdua selesai makan, Raka pun segera mengantarkan Selly pulang.

Keesokan harinya di sekolah ada pertandingan basket seusai pembelajaran, pastinya Raka maen basket, dan Selly bakal maksa Bella buat ikut nonton pertandingan basket antar sekolah itu.
“Nanti pulang sekolah nonton tanding basket dulu ya Bel ?” ajak Selly.
“Em ngapain, ogah banget gua.” Tolak Bella.
“Lu ko gitu sih, ayolah temenin gua..” Selly memelas.
“Iya ya udah” Bella pasrah.
“yeyeyeyeye huyeee” Selly girang.

Waktu pulang sekolah pun tiba akhirnya Selly dan Bella segera menuju lapangan basket. Tim basket pun memasuki arena pertandingan.
“Yeeeeeeee Rakaaaaaaaa” teriak cewe-cewe SMA Cakra Tunggal.
“Raka? Dih apa menariknya tuh orang nyampe ditereakin kaya gitu” ucap males Bella.
“Ih ganteng tau, maennya keren lagi, lu nonton dulu aja deh, jangan banyak comment!” jawab Selly mencoba membuat Bella tertarik sama Raka.
“Aha ?masa ?” Bella meremehkan.
Bella pun mulai memperhatikan apa yang menarik dari seorang Raka.
“Emm maennya keren, bodynya oke, tajir iya, sifatnya ?emm gua ga tau deh.. tahan dulu ah” ucapnya pelan.
Selly berbicara dalam hati “Hem mulai tertarik tuh si Bella, tapi masih ragu sama sifat Raka, mungkin dia masih takut dengan bayang-bayang insan yang sedang patah hati ..emmhaha”

Semenjak itu, Bella mulai membuka hatinya buat Raka, dan dia juga ingin tau sifat Raka yang sebenernya. Bella dan Raka sering jalan bareng, ya walaupun Selly slalu ikut dengan mereka berdua, karena Bella ga mau kalo Cuma jalan berdua, maklum dia kan baru membuka hati buat cowo hehe..
***

Enam bulan kemudian.
SMA Cakra Tunggal mengadakan acara from night, dan acara ini bertemakan angsa putih. Jadi semua menggunakan kostum yang serba putih dan menggunakan topeng putih bulu angsa.
Raka tampil semaksimal mungkin buat menarik hatinya Bella cewe yang dia suka dan yang paling susah buat dia taklukin.
“Bel ayo ke dalem..” ucap Selly sembari narik tangan Bella dari mobil putih kesayangan Bella.
“Ih nyantai aja kali Sel, gua males ni buang-buang waktu di tempat beginian, mending gua baca novel deh di kamar” ucap Bella yang ogah-ogahan dateng ke tempat itu.
“Lu ga boleh gitu, ini acara pertama kita loh, harus seneng ah, ini masa remaja yang ga akan bisa keulang lagi, inget itu !jadi waktu lu itu jangan dipake buat baca buku terus, kali-kali refreshing dikit napa.” ucap Selly lantang.
“(Emm bener juga kata Selly) Iya iya deh kali ini gua setuju sama lu, ayo kita ke dalem kalo gitu !” ajak Bella sembari tersenyum dan mulai menikmati semua.
“Oke, have fun ya cantik ;)” ucap Selly memberi semangat pada Bella.
“Iya, malem ini malem kita semua ;)” jawab Bella penuh semangat.

Dan ga disangka-sangka Raka selain pinter and jago maen basketnya dia juga punya suara yang keren and dia nyanyi di acara from night ini.
“Lagu ini buat cewe yang gua suka dari pertama gua ngeliat dia, yaitu BELLA” dengan lantangnya Raka nyatain perasaannya dan dia nyatain itu lewat sebuah lagu, mata semua orang tertuju pada Bella.
“Bella, gila asli malem ini buat lo !keren, Raka suka sama lo !” teriak Selly pada Bella.
“Ssssttt ..!ga usah pake tereak kaya gitu juga kali baby” ucap Bella sembari senyum-senyum dan gelisah, malu tapi mau gitu.
Dan semua orang menikmati lagu yang dibawakan Raka sembari memaenkan gitar.
Pandangan Bella hanya tertuju pada Raka dan rasa tak percaya hadir dari dalam hati Bella.

Setelah itu acarapun dilanjutkan dengan dansa dan seluruh siswa/i SMA Cakra Tunggal memakai topeng putih bulu angsa yang tlah mereka pegang.
Raka menghampiri Bella dengan membawakan bunga mawar merah untuk Bella.
“I love you bella, mau ga kamu jadi pacar aku? Kalo kamu terima aku, kamu pegang tangan aku dan berdansalah denganku dan kalo kamu ga mau terima aku, kamu tinggal ambil mawar ini dan kamu lempar jauh-jauh” sembari menyodorkan bunga mawarnya itu.
Dengan wajah memerah karena Bella benar-benar terkejut akan hal itu, Bella menjawab “Emm gua, eh aku ..emm ..gimana ya ...emm I love you too, dan itu tandanya aku mau ko jadi pacar kamu” sembari memegang tangan Raka.
“Yeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeees !yeeeeeeeeeeeee gua diterima, musikkkk !” teriak Raka girang dan memulai acara dansa itu.
27-07-2012 tepat pukul 21.07 WIB meraka berdua resmi jadi pasangan kekasih.

Semua orang bertepuk tangan dan ikut bahagia di malam itu.
“Kamu pacar pertama buat aku, aku beruntung punya kamu, kamu yang pertama bikin semuanya indah banget, aku sayang kamu, semoga kamu ga ngecewain aku, kejadian malem ini ga akan pernah terlupakan.” Ucap Bella didalam hatinya sembari menatap mata Raka dalam.
“Malam ini adalah malam bersejarah buat aku, baru kali ini aku nemuin sosok cewe kaya kamu, aku beruntung punya kamu dan aku ga akan ngecewain kamu honey” ucap Raka dan mencium kening Bella.

Hubungan mereka berlangsung dengan romantis, mereka jarang banget berantem, ya karena mereka sama-sama pengertian, saling menjaga kepercayaan, saling suport satu sama lain, dan sama-sama perhatian.
“Cinta ga seburuk yang gua bayangin dan sekarang gua bisa rasain apa yang seharusnya gua rasain dari dulu, semua memang ga harus terburu-buru dan akhirnya gua ga dibuat kecewa oleh hal semu, semua ngebantu gua buat lebih dewasa dan lebih mengerti arti dari mencintai dan arti dari memiliki.”

-THE END-

PROFIL PENULIS
Nama : Anisa Nur Dinawati
Nama panggilan : Anisa or Icha
Asal sekolah : SMK Wikrama Bogor
Alamat e-mail : anisanurdinawati@gmail.com
Alamat facebook : anieza_mickey@ymail.com

Baca juga Cerpen Cinta dan Cerpen Remaja yang lainnya.

Jumat, 07 September 2012

Cerpen Cinta Remaja - My Friend My Love


MY FRIEND MY LOVE
Karya Agnes Stephanie

Apa rasa nya kalau kita cinta kita bertepuk sebelah tangan ?
Pasti ngenes banget,nyakitin…apalagi kalo jatuh cinta nya sama sahabat kita sendiri.bisa dibayangin ga tuh ? betapa sakit hati dan menderitanya Apa rasa nya kalau cinta kita bertepuk sebelah tangan? Pasti rasa nya tuh ngenes kita ?

Itu yang dirasain sama Zee,gadis remaja dengan nama lengkap zeefanya anastasya .dia jatuh cinta,tapi sial nya,dia jatuh cinta dengan sahabat nya sendiri ! Kara … yah tapi cinta kan ga pernah salah , apa salah nya jatuh cinta sama sahabat kita sendiri ? itu yang zee pikirkan tapi yang salah adalah dia jatuh cinta pada cowok yang jelas-jelas playboy .. ! kara memang terkenal playboy disekolah nya,sudah banyak cewek jadi korbannya ,masa pacarannya pun singkat banget paling lama 1 minggu paling sebentar yah …. 1 jam ! coba bayangin,zee tahu kalau sahabat nya itu adalah cowok playboy.tapi dia tetap saja menyukai kara.walaupun kara ga pernah tahu hal itu… 

Zee selalu cemburu setiap kali kara membicarakan tentang gebetannya,pacar-pacarnya,bahkan mantan-mantannya. Seperti siang itu,kara sedang curhat soal cewek yang mau digebet,anak kelas 11.biasanya mereka berdua duduk di bawah pohon yang rindang di taman sekolah mereka.
“sumpah zee,tuh cewek cantik abis”
“siapa?” Tanya zee heran
“anak kelas 11,gue udah putusin dia bakalan gue gebet” kata kara sambil nyengir-nyengir
“yah,paling-paling kalo jadian  ga nyampe 1 minggu” kata zee sinis
“weits,kali ini engga.dia tuh beda zee sama cewek-cewek lain.kalo gue jadian sama dia .gue akan pertahanin dia sampe kapan pun”

Zee udah ga tahan denger ocehannya kara,dia pun berniat untuk pergi dari situ.
“eh,lo mau kemana ?”Tanya kara memegang tangan zee
“pergi,panas kuping gue denger curhatan loe melulu!” …

Zee sedang ngobrol dengan teman-temannya ketika seorang cewek cantik melintas di samping mereka..
“Claudia tuh cantik banget yah, gue iri deh sama dia.”
“itu siapa si?” Tanya zee bingung
“dia itu Claudia,anak kelas 11.cantik kan”
“dia emang cantik,tapi yang gue denger dia tuh playgirl loh”
*jangan-jangan itu cewek yang diincer si kara,tapi kalau emg bener cewek itu playgirl…. Gue harus kasih tau kara* kata zee dalam hati

Malam nya seperti biasa kara main ke rumah zee,rumah zee sudah seperti rumah nya sendiri.karna dari kecil dia memang sudah terbiasa main disana.dia langsung naik kelantai dua dan mausk ke kamar zee..
“hai jelek”sapa kara sambil mencubit pipi zee
“eh apa-apaan si lo,nyubit-nyubit pipi gue segala”kata zee sambil mengusap pipinya yang sakit
“hehehe… gue punya kabar bagus nih,besok gue mau jalan sama cewek gebetan gue”
“gue mau nanya,cewek itu nama nya Claudia bukan?’tanya zee memastikan
“iyya,kok lo tau ? lo udah liat kn org nya? Gimana ? cantik kan?”
“mendingan lo ga usah gebet dia deh…”kata zee
“kenapa?” kara kaget
“dia tuh cewek ga baik,dia tuh playgirls gue ga mau lo dimaenin sama dia” kata zee
“lo jangan ngomong macem-macem deh zee,lo ga tau apa-apa soal dia.lagian tumben banget lo ngelarang gue ga boleh deket sama cewek.lo cemburu ya ? hayo ngaku , lo cemburu kan?” tuduh zee
“terserah deh,lo mau mikir apa.gue Cuma ga mau lu sakit hati”kata zee dingin
“ gue akan buktiin dia bukan cewek kayak gitu!” kara langsung pergi dari kamar zee.

Bosen,itu yang dirasain zee sekarang.. bosen karna ga ada kara yang biasa nya selalu dia ajak bercanda..kalo lagi libur sekolah kara selalu main kerumah zee,tapi sekarang zee tahu kara sedang bersama cewek lain.
Besok nya,kara sudah terlihat bergandengan tangan dengan Claudia,tanda nya mereka pasti udah jadian,, sakit hati zee melihat itu semua.dan kara,dia sama sekali ga mikirin perasaan zee..tapi zee mencoba ikhlas dan berharap agar kara bahagia dengan inta barunya itu.
Tapi,,sehabis pulang sekolah wajah kara terlihat kusut,bibir nya manyun,rambut nya acak-acakan. Zee tak tega melihat sahabat sekaligus orang yang disukai nya seperti itu.zee menghampiri kara
“ada apa ra ? kok ga pulang bareng Claudia?”Tanya zee
“zee……. Arggggghh gue patah hati !!”teriak kara
‘eh,lo kenapa si? Patah hati sama siapa ?” zee tambah bingung
“gue diputusin sama Claudia.didepan temen-temennya !sumpah demi apapun gue malu ! gue patah hati!”
“gue kan udah bilang,dia tuh ga baik.lo ga mau dengerin gue si” kata zee,
“arghhh,,gue harus bales dia. Gue akan bikin dia suka sama gue lagi !!”
“kapan si lo berenti nyakitin hati cewek? Ini balasan buat lo karna udah nyakitin cewek selama ini.tapi kenapa lo ga sadar juga.dan kenapa lo tuh ga pernah peka kalo ada orang yg bener-bener sayang sama lo!”
“maksud lo apa si zee ? gue ga ngerti”
“gue suka sama lo ra,dari dulu ! tapi gue pendem,karna gue tahu lo ga bakal suka sama gue !ah.. bego banget gue ngomong gini sama lo.udah lupain aja” kata zee lalu berniat pergi dr hadapan kara,dia malu malu banget !
“zee tunggu,gue tahu gue emang bodoh,tapi lo lebih bodoh lagi!”
“ha ?”
“gue,selama ini jadi playboy ,gonta ganti cewek.supaya bisa bikin lo cemburu! Tapi lo selalu cuek,lo selalu masa bodo kalo gue deket sama cewek lain.gue kira lo ga suka sama gue.dan alasan kenapa gue ga pernah lama pacaran sama mereka.karna gue ga bisa lupain lo zee.!” Kara tiba-tiba memeluk zee
“maafin kebodohan gue zee,coba kalo gue ngomong terus terang dari dulu sama lo,kita ga akan saling salah paham kayak gini.zee,lo mau ga jadi cewek gue ?” Tanya kara sambil berbisik

Zee menatap kara,dia memang bodoh mereka berdua sama-sama bodoh ….. ternyata cinta memang tak pernah salah ,, tapi kadang cinta bisa bikin salah paham.
“gue mau” zee tersenyum
-tamat-

*Makasih yang udah baca
*semoga ga ada yang copas karya guE


PROFIL PENULIS

Nama :agnes stephanie Alamat : tangerang,banten Add fb : agnes.stephanie83@yahoo.com Twiter : @agnesteff_ blog : http://agnestefanny.blogspot.com.


Baca juga Cerpen Cinta dan Cerpen Remaja yang lainnya.

Cerpen Cinta Remaja - Cinta Rasa Permen Karet


CINTA RASA PERMEN KARET
Karya Debby Hutami Budiyono

Hari pertama masuk MOS (Masa Orientasi Siswa), Karin menjadi siswi baru. Dia diantarkan hingga gerbang sekolah oleh orang tuanya.
"Semoga hari pertama dan hari hari berikutnya menjadi hari yg menyenangkan. Dan aku bisa melewatinya tanpa halangan amin," kata Karin dalam hati.

Saat MOS sedang berlangsung tiba tiba ada anggota OSIS yg memanggil Karin. Saat itu jg Karin ketakutan setengah mati, dia takut talah melakukan kesalahan dan dia akan dihukum. 
"Kamu anak yg namanya Honozono Karin?" tanya salah satu kakak OSIS.
"I...iiyyaaa kak," jawab Karin dengan gemetaran dan bercucran keringat dingin.
"Aku Risky. Gak usah takut gitu sampek gemetaran sm keluar keringat dingin. Aku cuma pengin tau aja adiknya Kenny yg mana," jawab Risky tersenyum sambil menenangkan susasana.
"Loh kakak kenal kak Kenny?" tanya Karin yg sudah mulai tenang dan tak ketakutan lagi.
"Iya, aku temen main Kenny. Kebetulan kemarin Kenny cerita kalo adiknya masuk sekolah sini terus Kenny titip ke aku buat jagain adiknya yaitu kamu," jawab Risky.
"Aku kira td aku dipanggil gara gara ngelakuin kesalahan terus mau dihukum. Ehh ternyata enggak lega banget rasanya," kata Karin menghela napas panjang.
"Hehhe enggak kok dek. Oiya nanti lg ya dek dilanjutin aku tunggu dikantin waktu istirahat ya." kata Risky sambil berlalu pergi dan tersenyum manis.
***

Saat istirahat tiba hampir saja Karin lupa bahwa dia ada janji dengan Risky karna Karin sedang sibuk binggung mencari kakak kakak OSIS yg lagi ngumpet buat dimintain tanda tangannya. Karin segera berlari sekencang kencangnya bergegas pergi ke kantin.
Saat Karin sedang memandangi setiap sudut kantin, tiba tiba ada yg seseorang yg memanggilnya.
"Karin sebelah sini," panggil Risky dengan melambaikan tanganya. Langsung saja Karin menghamprir Risky dan duduk tepat didepan Risky.
"Maaf ya kak aku telat, abisnya aku binggung nyari kakak kakak OSIS yg lagi ngumpet buat dimintain tandan tangan," kata Karin sambil napasnya terengah engah.
"Iya gpp dek, tapi lucu deh kamu dek. Apa yg di depanmu sekarang bukan OSIS?" tanya Risky sambil memberikan minum pada Karin.
"Oiya lupa aku kak," jawab Karin tersipu malu dan wajahnya memrah.
"Sini aku liat daftar OSIS yg dimintain tanda tangan nanti sambil aku bantuin mintain tanda tangannya," kata Risky.
"Bener kakak mau bantuin aku mintain tanda tangan ke kakak kakak OSIS?" tanya Karin.
"Iya aku bantuin tanang aja dek," jawab Risky tersenyum.
"Makasih ya kak udah baik sm aku," kata Karin.
'' Iya sama sama dek. Udah ayo kita makan dulu aja, kamus pasti laper kan gara gara lari td" jawab Risky sambil memberikan semangkuk bakso pada Karin.
***

Benar saja dalam 30 menit terkumpul sudah semua tanda tangan kakak kakak OSIS. Dan tak terasa bel tanda pulang berbunyi. 
Saat Karin sedang menunggu dijemput tiba tiba Risky menghampirinya.
"Nunggu dijemput ya Karin?" tanya Risky.
"Iya nih kak nunggu dijemput," jawab Karin.
"Emang mau dijemput sapa, dijemput cowoknya ya?" tanya Risky bercanda.
"Ahh enggak kok kak aku belum punya cowok. Aku itu dijemput kak Kenny tp agak telat soalnya kak Kenny masih ada kuliah lg bentar kak," jawab Karin.
"Aku anterin pulang aja mau gak?" tanya Risky.
"Enggak deh kak nanti kalo tau cewek kakak bisa bisa terjadi perang dunia kakak sm cewek kakak hehhe," jawab Karin sambil tertawa kecil.
"Bisa aja kamu ini. Aku belum punya cewek kok jd gak bakal ada pernag dunia kalo aku nganterin kamu pulang," kata Risky tersenyum manis.
"Gak deh kak makasih takut ngerepotin kakak. Tadi aja aku udah ngerepotin kakak masak sekarang aku mau ngerepotin kakak lagi," jawab Karin.
"Gak apa apa kok. Dari pada kamu nunggu Kenny kelaman?" tanya Risky.
"Gimana ya? Iya deh aku bareng kakak tapi aku bilang kak Kenny dulu ya kak biar nanti kak Kenny gak jemput aku," jawab Karin.
"Ok deh," kata Risky tersenyum.
***

Masa MOS telah berakhir kini Karin resmi menjadi siswi sekolah itu. Dan selama MOS Karin selalu bersama sama dengan RIsky. Bahkan mereka selalu pulang bersma, tersebar gossip jg bahwa mereka telah berpacaran tp mereka tak menanggapinya.
Saat Karin sedang santai menonton TV, kak Kenny menghampirinya dan bertanya padanya. "Dek km pacaran ta sm Risky?' tanya kak Kenny.
"Enggak kok kak aku gak pacaran sama kak Risky. Kakak ini aneh aneh aja kalo tanyak," jawab Karin seadanya.

Keesokan harinya dikelas Risky sedang di interograsi oleh teman temannya.
“Ris, kamu pacaran ta sama anak baru yg namanya Karin?” tanya teman teman Risky.
“Enggak kok aku gak pacaran sama Karin,” jawab Risky enteng.
“Masak? Tapi kok kamu deket banget ya sama Karin?” tanya salah satu teman Risky.
“Apa salahnya deket aja. Emang gak boleh ya deket.” Kata Risky.
“Ya gak apa apa sih. Tapi kedekatan kalian itu kayak orang pacaran?” tanya teman Risky lagi.
“Sebenernya aku suka sih sm Karin. Abis dia itu anaknya baik, polos, lugu lucu trus aku jg nyaman deket dia,” jawab Risky jujur.
“Pantesan kok kamu nyuekin cewek cewek yg selama ini ngejar ngejar kamu, ternyata kamu udah jatuh cinta sm Karin,” tanya teman Risky.
“Iya tapi aku binggung kira kira Karin suka jg nggak ya sm aku?” kata Risky.
“Lah menurut kamu gimana. Dia udah punya cowok belum?” tanya teman Risky lagi.
“Karin sih gak punya cowok,” jawab Risky.
“Ya udah kesempatan tuh buat kamu pendekatan sama Karin. Jangan pesimis dulu Ris,” kata teman Risky memberi semangat.
“Iya deh aku ikuti saranmu,” jawab Risky.
“terus kapan rencananya kamu nembak Karin?” tanya teman Risky.
“Secepatnya deh aku temabk Karin,” jawab Risky.
“Gitu dong jangan pesimis dulu,” kata temanRisky.
“Tapi gimana nembaknya?” tanya Risky pada temannya.
“Ya tembak aja pake bunga apa barang kesukaannya. Kamu tau gak apa barang kesukaannya Karin?” cetus teman Risky.
“Gak tau aku. Tapi kalo aku lagi sama Karin dia pasti makan permen karet trus bau parfumnya jg permen karet,” jawab Risky.
“Ya udah pake itu aja permen karet gak apa apa sapa tau Karin suka sama barang yg berbau permen karet. Tapi yg berkesan nembaknya walau cuma pake permen karet biar Karin terkesan gitu,” saran teman Risky.
“Ya deh. Aku coba tanyak Karin dulu aja apa bener dia suka sama barang yg berbau permen karet apa gak,” jawab Risky.
“Aku doa’in kamu diterima deh sama Karin dan waktu nembak dia lancer,” kata teman Risky.
Lalu Risky pergi ke kantin untuk bertemu Karin. Kebetulan Karin sedang sendirian, ini kesempatan Risky buat tanya.
“Sendiri aja nih, boleh gak aku duduk sini?” tanya Risky.
“Ehh kak Risky, iya gak apa apa kak,” jawab Karin sambil tersenyum.
“Karin aku boleh tanyak gak?” tanya Risky lagi.
“Boleh aja kak,” jawab Karin singkat.
“Kamu suka permen karet?” tanya Risky.
“Iya, emang kenapa kak,” jawab Karin
“Abis tiap aku lagi sama kamu pasti ada bau parfum permen karet trus kamu juga pasti makan permen karet,” kata Risky.
“Hehhe hidung kakak tajem banget ya,”jawab Karin tertawa kecil.
“Iyalah Risky gitu loh hehhe, tapi kenapa kamu suka permen karet?” tanya Risky lagi.
“Gak tau kak dari kecil udah suka aja. Rasanya kalo sehari aja aku gak makan permen karet kayak ada yg aneh gitu kak,” jawab Karin tersenyum manis.
***

Hari yg ditungu tunggu Risky dan membuat hatinya berdebar debar tiba juga. Risky sengaja memesan rangkaian bunga yg terbuat dari permen karet untuk menyatakan perasaannya pada Karin gadis yg telah membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
Malam harinya Risky telah mempersiapkan tempat yg pas untuk menyatakan perasaannya dan setelah selesai semua persiapan Risky, dia segera menjemput Karin. Setelah dia menjemput Karin langsung saja Risky dan Karin bergegas pergi menuju tempat yg telah di siapkan oleh Risky. Tak beberapa lama kemudian Risky dan Karin tiba juga.
“Ngapain kita kesini kak?” tanya Karin kebinggungan.
“Udah deh, tungu bentar ya,” jawab Risky.
“Ehh tapi kakak mau kemana,” kata Karin.
“Ka…ka…Karin kamu mau gak jadi pacarku?” tanya Risky gugup sambil menyerahkan rangkaian bunga dari permen karet yg telah di persiapkan untuk menyatakan persaannya.
“Ehh ini rangkaian bunganya dari permen karet kak?” tanya Karin.
“Iyya, kenapa Karin kamu gak suka ya sama rangkaian bunganya dek,”  jawab Risky spontan.
“Ehmm enggak kok kak. Malah aku suka banget sama abis unik dan baru kali ini aku di kasih rangkaian bunga dari permen karet kak,” kata Karin tersenyum manis.
“Jadi gimana kamu mau gak jadi pacarku?” tanya Dika lagi.
“Kita jalani aja apa adanya ya kak,” jawab Karin.
“Jadi kamu mau jadi pacarku?” tanya Risky memastikan.
“Iya aku mau jadi pacar kakak,” jawab Karin sambil memberikan senyum termanisnya.

TAMAT

Baca juga Cerpen Remaja dan Cerpen Cinta yang lainnya.

Senin, 03 September 2012

Cerpen Remaja Lucu - Kodok Struk

KODOK STRUK
Karya Hendra

Banyak hal yang enggak bisa gue lupain gitu aja sewaktu gue masih di SMA. Salah satunya tentang guru olahraga gue. Namanya Arul, postur tubuhnya tinggi langsing dengan rambut tipis. Dia banyak cerita tentang pengalamannya, diantara semua pengalamannya, jujur dari lubuk hati gue paling dalam, enggak ada satupun yang bisa gue percaya. Gue enggak percaya dia pernah bermain di klub bola Bayern Munchen, kalau dia memang pernah pasti dia udah jadi pelatih bola bukan jadi guru olahraga. Dia mungkin mempunyai kepercayaan diri yang sangat sangat tinggi.

Pengalaman menarik pada saat jam pelajarannya itu pas dia sedang menjelaskan gaya dalam berenang. Gue yakin kalau kalian lihat bagaimana dia mempraktekkannya, pasti kalian akan sawan/kesambet. Tapi yang bikin seru adalah kita enggak boleh ketawa pada saat dia menjelaskannya. Sumpah ini seperti acara Tahan Tawa yang ada di Trans TV. Kalau di Tahan Tawa ada bopak sebagai pengujinya disekolah kami ada Arul.

Kami sekelas sebenarnya tidak ada yang tahan ingin ketawa pada saat dia mempraktekan renang gaya kodok. Gayanya enggak seperti kodok yang normal tapi lebih mirip kodok struk. Mungkin lebih bagus kodok struk kali daripada dia.

Pada saat itu salah satu temen gue ketangkep kamera sedang tertawa karena gaya kodok struk itu. Dan keluarlah jati diri Arul sebagai sosok kejam yang dtakuti oleh para murid sekolah itu termasuk gue. Dia merasa direndahkan oleh pansek karena sudah berani menertawakannya. Sebenarnya satu kelas pada ketawa semua sih cuma panseknya aja lagi kena sial. Kasihan banget memang pansek dia mungkin belum mandi wajib makanya kena sial seperti itu.

Satu kelas langsung sunyi, enggak ada yang berani bicara, enggak ada yang berani bergerak, enggak ada yang berani membuka mulut dan enggak ada yang berani bernapas. Kasian pada mati semua dong.hehe Gue pengen banget nyarankan pansek untuk pura pura gila jadi dia enggak kena marahnya Arul. Tapi gue masih mencoba mengumpulkan keberanian gue. Setetes demi setetes gue kumpulin dan akhirnya gue urungkan niat baik gue ini karena Arul makin marah dan menyuruh pansek untuk keluar dari kelas pada saat itu juga.

Setelah kejadian yang menegangkan itu berakhir, suasana kelas menjadi hening dan serius menerima pelajarannya kecuali gue dan 3 teman gue. Kami berempat masih aja ngeledek dia. Kami memang segerombolan siswa yang usil dan sering nyeletuk disaat guru menjelaskan. Terutama si Alam, dia terlihat serius tetapi sebenarnya dia itu orang gila yang turun kedunia dan ditugaskan untuk mengganggu kami semua.

Arul pun makin semangat menjelaskan dan kami makin enggak ngerti dengan semua gaya yang dia praktekan. Gue ngeliat keluar jendela berharap ada mobil ambulance dari rumah sakit jiwa. “Semoga aja dia bukan pak Arul yang asli semoga dia orang gila yang sedang menyamar menjadi pak Arul.” Itu doa gue pada saat itu.

Yang gue senang itu pada saat dia kehabisan bahan untuk cerita. Hanya dengan itu dia mau membebaskan kami dari kelas dan mata pelajaran yang berbahaya yang mungkin bisa membuat kami jadi tertular oleh dia.

Gue sadar pada saat kuliah, banyak ilmu dan nasehat yang gue dapat dari beliau. Gue beranggapan dia melakukan itu semua agar kami bisa punya cita cita yang tinggi. Agar selalu berusaha untuk bisa dapetin apa yang kita inginkan. Tapi Gue hanya bisa membalasnya dengan ucapan Terima Kasih.

Sabtu, 01 September 2012

Melancholy - Cerpen Remaja

MELANCHOLY
Karya RLR

Aku melirik sinis pada pintu kelas. Teringat olehku, kemarin seseorang melemparkan kotak pensil beserta isinya padaku dengan alasan ingin melihat aku menangis, namun ia gagal dan berakhir di ruang guru. Aku juga teringat pada dua hari yang lalu ketika seseorang tiba-tiba memelukku dengan alasan ingin melihat ekspresiku saat malu. Namun ia gagal dan berakhir di ruang UKS.

Aku memang dikenal galak-aku merasa, lebih baik daripada dibilang tomboy-, berbeda dengan kembaranku. Ya, aku seorang anak kembar. Namaku Dini dan kembaranku Dina. Sifat kami bertolak belakang. Kalau aku dikenal pemarah dan egois, Dina cengeng dan manja. Kalau aku malas dalam belajar maka dia amat giat bahkan dia pernah menjadi peringkat umum ketika masih di SMP. Kalau aku mengikuti ekstrakulikuler karate yang terkesan keras, makan Dina mengikuti les piano yang terdengar lembut. Begitu banyak yang berbeda dari kami, satu-satunya yang sama hanyalah raut wajah. Itu saja.

Karena itu kadang aku sering memarahinya. Aku kesal melihatnya menangis tak jelas. Setiap aku bertanya kenapa, jawabannya simple sekali.
“Tak ada apa-apa.”

Tak ada apa-apa gimana? Kok, bisa sampai nangis gitu kalau tidak ada apa-apa?

Namun kadang dia bersikeras meyakinkanku dengan berkata kalau besok semua masalahnya pasti akan selesai. Hanya saja sampai saat ini, aku merasa masalahnya bukan selesai tapi malah bertambah. Terakhir, dia menangis hanya karena Gilang, pacarnya, berjalan-jalan dengan siswi dari sekolah lain. Karena aku pusing mendengar Dina menangis seharian di kamar akhirnya aku ke rumah Gilang dan membuatnya tak bisa berjalan lagi selama tiga hari.

Kembali ke pintu kelas. Aku mulai membukanya perlahan. Terdengar teriakan nyaring berbunyi.
“DINI! KAMU SUDAH MENYELESAIKAN PR-MU BELUM?”

Ternyata teman sebangkuku, Naila. Ia langsung berlari menghampiriku yang diam di tempat. Aku mengernyitkan dahi.
“Hah! Pr?!!”

Naila memegangi kepalanya. Pusing mungkin punya teman sebangku macam aku. Aku berlari menuju bangku, membuka tasku dan mengeluarkan buku catatanku. Sial! Padahal sudah kutandai dengan banyak tanda panah pada bagian PR-nya. Malah sudah ada keterangan kalau hari ini dikumpul. Aku benar-benar lupa. Dengan cekatan aku mengambil pena dan buku temanku. Aku mesti bekerja ekstra pagi ini!!

TENG TENG TENG!!
Kelas hening sejenak untuk menghitung berapa kali lonceng berbunyi. Setelah lonceng berhenti berbunyi, terdengar teriakan memprihatinkan, “TIDAAAKKKK!!!”

Segera saja semua murid mengambil buku masing-masing lalu duduk di tempatnya untuk menulis secara diam-diam. Akupun begitu.
“Naila, pinjam bukumu ya?” pintaku.

Naila tampak berpikir sejenak kemudian menyerahkan bukunya padaku. Aku kegirangan sesaat, lalu mulai serius menulis. Mulutku tak sadar mengucapkan kata demi kata yang aku tulis. Senyumku mengembang ketika aku hampir menyelesaikan PR yang jumlahnya hanya lima soal essai ini. Sayangnya guru ternyata sudah lama masuk bahkan ketika aku menulis jawaban soal ketiga guru sudah berdiri di belakangku.
“Sudah hampir selesai ya?” ujar guru itu lembut di telinga kananku. Aku menoleh takut padanya. Dan akhirnya, aku dikeluarkan dari kelas secara paksa.
“Jangan masuk kelasku lagi!”

Kira-kira begitulah ucapannya ketika ia mengusirku. Yah, hadapi saja dengan santai. Tetap bersyukur pada Tuhan. Setidaknya, berjalan-jalan di koridor lebih menyenangkan daripada belajar di kelas.

Satu per satu kelas kulewati. Tak terlihat penyesalan dari diriku. Aku justru melewatinya dengan perasaan tetap riang. Inilah kelebihanku-mungkin juga sebenarnya kekurangan-, aku bisa melewati semua masalahku dengan sikap tenang. Berbeda dengan beberapa wanita yang ketika mendapat masalah langsung menangis. Huh, seperti kembaranku. Dikit-dikit nangis.

Setelah sekian lama aku berkeliling koridor akhirnya lonceng pergantian pelajaran berbunyi. Segera aku berlari menuju kelasku. Kalau terlambat, aku bisa ketinggalan masuk kelas dan terpaksa keluar lagi dari pelajaran. Dan yey! Aku masuk tepat waktu.

Aku segera duduk di kursiku. Beberapa siswa kelihatan sedikit gusar. Aku melirik menuju papan tulis. Banyaknya coretan membuatku bertanya, “Belajar apa kalian tadi?”
“Hanya belajar beberapa soal mengenai fungsi limit.”

Aku membulatkan mulutku mengucapkan huruf “O” kemudian mengamati papan tulis sekali lagi. Sumpah, aku bingung dari mana kemana guru kira-kira menjelaskan. Mungkin aku bisa minta bantuan pada Dina, aku yakin dia pasti sudah mempelajarinya.
“Oh iya, pertemuan selanjutnya kita ulangan lho.”
“Ha?!!”

Hening.

(Pulang sekolah)
Aku berjalan lunglai, tidak seperti biasanya. Hal tersebut otomatis membuat Dina bertanya heran padaku.
“Kau kenapa?”
“Hanya sedikit malas.”

Dina kemudian diam untuk beberapa menit selama kami berjalan menuju halte. Aku melirik padanya, dia berjalan dengan langkah yang berat. Bahkan saat aku sedang malas seperti sekarang, aku tetap terlihat lebih bersemangat daripada dia.
“Hei, kamu sudah belajar mengenai fungsi limit?” tanyaku penuh harap padanya. Aku sebenarnya sangat tidak ingin menerima jawaban lain selain ‘iya’. Namun tetap saja realita yang menentukan jawaban Dina.
“Belum, kenapa?”

Aku makin lunglai berjalan ketika mendengar jawabannya. “Aku ada ulangan tentang itu.”
“Kapan?”
“Dua hari lagi,” ujarku lirih. Dua hari sebenarnya waktu yang lama kalau belajar. Sayangnya aku malas belajar, pasti dua hari cepat berlalu. Ah, apa aku keluar dari kelasnya lagi saja, ya?
“Kalau mau, kakak bisa baca buku di perpustakaan saja. Pasti ada buku yang mempelajari fungsi limit.”
“Ah, aku malas ke perpustakaan. Aku cepat bosan di sana.”

Dina tersenyum simpul. Aku tak bisa menebak apa yang ia pikirkan, aku hanya merasa ia tidak akan apa-apa melihatku seperti ini. Dan mungkin juga aku sebenarnya tidak apa-apa. Besok aku pasti sudah bisa menyelesaikan masalahku. Hei, tunggu sebentar. Kenapa cara pikirku seperti Dina?


(Keesokan harinya)
“Maaf, aku terlambat!” teriakku dari balik pintu kelas. Nampak di depanku guru sudah menerangkan sementara murid-murid sedang mencatat. Yup, sekali lagi aku dikeluarkan dari kelas.

Mungkin ini karma, karena aku telah sering membuat beberapa siswa tak bisa berangkat sekolah untuk belajar-jika memang begitu- karena aku beri sedikit pelajaran. Namun sudahlah, berjalan di koridor untuk kesekian kalinya tak ada masalah. Aku sudah terbiasa. Ini bukan kedua kalinya aku dikeluarkan selama pelajaran di mulai dan kurasa ini bukan jadi yang terakhir kalinya.

Entah mengapa, naluri mengantarku ke perpustakaan. Mungkin aku masih kepikiran dengan ulangan itu. Bagaimanapun juga nilai ulangan adalah salah satu nilai yang bisa menutupi sikapku yang kurang bagus agar aku tetap bisa naik kelas. Aku tak bisa membiarkan diriku tidak naik kelas. Aku tak mau itu!
Segera aku berjalan menuju salah satu rak yang berisi kumpulan buku fisika lalu mengambil salah satunya. Aku buka perlahan. Mungkin aku bisa mempelajarinya selama aku dikeluarkan dari kelas. Terlihat olehku, tulisan besar pada subbab bagian pertamanya. “Yap, ini dia yang aku cari!”

Aku duduk di salah satu kursi. Aku baru sadar kalau aku tidak membawa alat tulis. So, bagaimana aku belajar? Kulirik kanan dan kiri. Perpustakaan benar-benar sepi. Aku tak bisa menemukan seseorang untuk meminjam.
Aku putus asa. Kukembalikan buku tersebut pada raknya. Mungkin sebaiknya aku bolos saja besok dan meminta ulangan susulan lain hari. Atau mungkin aku bisa bertukar tempat dengan Dina? Ah, semua akan sadar itu bukan aku. Aku terlalu berbeda dengannya. Mungkin ada baiknya aku meminjam buku dan minta Dina mempelajarinya agar dia bisa mengajariku juga.
“Ada masalah?”

Suara baritone mengagetkanku. Aku menoleh ke sumber suara. Seorang lelaki sedang menatapku. Dan jika aku tak salah, lelaki itu adalah Yudha, ketua OSIS sekaligus mantan Naila, temanku. Aku mencoba bersikap seperti biasa namun aku tak bisa. Aku sedang bingung dan itu semua terlihat melalui raut wajahku.
“Tidak.”

Aku kembali meletakkan buku yang sebenarnya ingin kupinjam. Sialnya, entah mengapa aku bisa kurang menekan bukunya hingga akhirnya satu lemari isinya tumpah semua di badanku. Yudha kaget, lalu mencoba menolongku. Hingga akhirnya ketika aku sadar Yudha sudah ada di hadapanku. Lebih tepatnya menindih tubuhku.
“MENJAUH KAU!!” spontan aku bertindak dan secara otomatis Yudha terpental ke belakang. Ia mengelus-elus punggungnya yang membentur tembok karena kudorong. Mulutnya membentuk senyuman tipis. Sungguh, hal itu membuatku jijik padanya.
“Kalian?!“ ujar penjaga perpustakaan tak percaya. Ia muncul sambil berkecak pinggang.

Yah, singkat kata saja akhirnya aku dan Yudha membereskan semua buku yang berceceran. Tanganku tak sengaja menyentuh buku fisika yang berisi materi fungsi limit. Kupandangi dalam-dalam buku itu. Tak sadar, aku terlalu lama memandanginya.
“Kau juga ulangan tentang fungsi limit ya?”

Serasa kena jitak, aku tertegun mendengarnya. “Kau juga?”
“Tidak, kelas sebelah mengatakan mereka akan ulangan fisika, tentang fungsi limit.”

Kelas sebelah? Ah, Pasti kelasku.
“Kau mendapat masalah dalam mengerjakan itu ya?”

Aku membuang muka. Aku memang ada masalah, tapi aku gengsi untuk meminta tolong pada laki-laki.
“Akan kuajari kau setelah kita membereskan ini.”
“Kau bisa?”
“Aku sudah mempelajari itu ketika di SMP.”

Benar juga ya. Ketika SMP mungkin aku juga sudah mempelajarinya namun aku jarang mendengarkan penjelasan guru dan lebih memilih bercerita dengan teman sebangku ketika itu. Dan Dina, ah, dia mungkin sedang sakit mata waktu itu.
“Tolong jangan beritahu oranglain kalau aku minta ajari padamu,” pintaku memelas. Tak ada pilihan lain toh?
“Baiklah!”

(Malam hari di rumah)
Aku duduk di tepi kasur, sementara Dina sedang tiduran sambil membaca buku di kasurnya sendiri. Aku senang, hari ini dia tak menangis. Aku bisa tenang mengerjakan soal yang disuruh Yudha untuk mengerjakannya sendiri di rumah. Sungguh! Hari ini aku benar-benar merasa senang. Aku akhirnya bisa mengerti fungsi limit tanpa harus meminjam buku ataupun bertukar posisi dengan Dina. Dan lagi, Yudha berjanji akan mengajari aku lagi jika aku mendapat masalah. Dengan kata lain, tak masalah keluar kelas lagi! Ups, kurasa itu persepsi yang salah ya.

Aku mulai mengerjakan soal pertama. Aku mulai berusaha berkonsentrasi namun langsung buyar dalam satu detik saat terdengar dering ponsel bergetar di meja. Ponsel Dina rupanya. Aku mencoba tak mempedulikannya. Aku harus konsentrasi dengan soal, apapun yang terjadi.
“Hiks, hiks!” Dina mulai meringis. Dan sekali lagi pikiranku buyar.
“Ada apa?” tanyaku geram.
“Gilang-“
“Berjalan dengan siswi lain lagi?” ujarku ketus. “Akan kupatahkan kakinya kali ini!”
“Bukan! Gilang jangan disakiti lagi! Aku ikut sakit jika kau melukainya!” suara Dina terdengar serak.

Dengan nada meninggi aku lantas menjawab, “Jadi kenapa?! Berhentilah menangis untuknya!”
“Dia hanya minta putus. Sudahlah kakak tenang saja, aku tidak apa-apa.”

Tamparan keras mendarat di pipi kanannya. Dengan penuh amarah aku berteriak padanya, “Kalau begitu berhentilah menangis! Aku pusing!!!”

BLAMM!
Aku keluar dari kamar. Terdengar tangisan Dina yang malah semakin menjadi-jadi. Aku terduduk lesu, menyadari aku terlalu cepat marah hari ini padanya. Namun aku sedang dalam keadaan tidak bagus untuk sabar. Harusnya dia menyadari itu.

(Esok harinya di sekolah)
Aku tidak berangkat bersama dengan Dina. Malah aku berangkat duluan daripada dia. Aku terlalu bersemangat untuk ulangan hari ini. Meski semalam aku belum mengerjakan satupun soal yang Yudha berikan, namun aku tetap merasa bahwa aku bisa. Hehe, mungkin sebenarnya aku ini pintar ya. Namun sayang, aku malas.

Aku segera duduk kemudian mengeluarkan buku fisika yang jadi aku pinjam dari perpustakaan. “Naila, lihat! Aku bisa menger-“

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Naila cepat-cepat pergi keluar kelas. Ada kerjaan mungkin. Tapi jika caranya seperti tadi rasanya berbeda dengan Naila yang biasanya. Aku jadi merasa tidak enak dengannya.

(Setelah berjam-jam kemudian)
Sampai jam pulang sekolah, aku tetap merasa tidak enak dengan Naila. Ada yang berubah darinya. Dia bersikap dingin dan tak mau berbicara padaku. Tiap kali aku mengajaknya bicara, dia langsung menajamkan matanya seakan tidak senang padaku.
“Hei, kudengar kemarin dari pulang sekolah sampai sore hari kau berada di perpustakaan ya?” tanya Lili yang mengambil tempat duduk Naila ketika Naila keluar.
“Iya. Kenapa?”
“ha? Berarti benar, ya, kau sedang melakukan pendekatan pada Yudha saat itu?!”

TUUKK!

Kujitak dahi Lili. “Tentu saja tidak! Aku hanya minta ajari fungsi limit padanya. Lihat! Nilaiku bagus kan? Berarti aku tidak bohong!!”
“Wah, pantas Naila sikapnya begitu, ya.”

Aku terdiam. Memang apa hubungannya coba?
“Naila dengan Yudha kan baru balikan dua hari yang lalu.”

Aku terhenyak. Jadi itu hubungannya. Aku segera berlari menjenguk Naila keluar kelas. Sayangnya aku terlambat. Kulihat dari kejauhan Yudha sedang berbicara dengan Naila kemudian mereka pulang berdua.

Badanku terasa lesu menyaksikan hal itu. Untuk pertama kalinya aku merasa sedih. Hampir sepanjang jalan aku menahan air mataku keluar. Tuhan, aku mendapatkan teman baru sekaligus guru baru buatku namun aku kehilangan seorang teman hari ini.

Di rumah terdengar Dina menangis di kamar. Saat aku membuka pintu dia cepat-cepat menghapus air matanya.
“Ah, kau sudah pulang.”

Kudengar suaranya serak. Meski begitu, dia tetap berusaha tersenyum padaku. Tapi aku bisa merasakan ketakutan Dina padaku. Mungkin ia berpikir aku akan melakukan hal yang sama seperti kemarin. Yah, kemarin aku memang tak mengerti ia. Satu-satunya yang aku rasakan hanyalah pusing ketika mendengarnya menangis. Namun sekarang aku sudah paham seperti apa sedihnya ketika kehilangan seseorang. Aku tidak akan menamparnya lagi. Aku hanya ingin,… memeluknya.

PROFIL PENULIS
Newbie di dunia menulis (kurasa)
fb: rini lusiana II
email : rini.lusiana78@yahoo.co.id

Baca juga Cerpen Remaja yang lainnya.

Berawal dari Sebuah Kebohongan - Cerpen Remaja

BERAWAL DARI SEBUAH KEBOHONGAN
Karya Beti Sinta Rosi

Malam ini sangat berbeda dari malam malam sebelumnya. Malam ini bulan maupun bintang tak tampak karena tertutup awan kelam. Seperti diriku kini yang tak tau harus berbuat apa, aku mendapat sepucuk surat dari sahabatku Dani. Dia menyatakan perasaannya di dalam surat tersebut, untaian kata manis yang menyejukkan hatiku tak dapat aku hindari lagi. Namun hati kecil ini tak bisa dibohongi, “Aku tak menyukainya” , hati kecil ini selalu menjeritkan kata kata itu setelah aku membaca berulang kali surat tersebut. Tapi, aku tak mau Dani kecewa denganku, akhirnya aku bertekat membalas surat tersebut,

Perasaan ini tak dapat ku bohongi
Perasaan ini memang ada
Perasaan ini memang selalu menyelimuti hati ini
Perasaan suka kepadamu inilah yang selalu aku harapkan bisa kau balas
Dan ternyata perasaanmu sama denganku
Aku yakin jika semua ini akan terjadi
Akhirnya aku dapat mengatakan bahwa “Aku juga Mencintaimu”
Ku letakkan pena yang sedari tadi kugenggam, ku baca ulang isi dari balasanku, aku berpikir aku telah berdosa karna membohonginya, tapi apa daya aku tak mau membuat sahabat karibku terluka dan menjauhiku. Ku masukkan selembar kertas yang penuh kedustaan itu ke dalam amplop bewarna merah hati, karna besok aku harus memberikan jawabanku ke dia.

“Teng.....teng...teng” suara lonceng sekolah yang menandakan berakhirnya kami menuntut ilmu berdenting, suara lonceng yang diikuti suara langkah kaki para siswa yang menuju gerbang semakin membuat hatiku riuh, hari ini aku berjanji menemui Dani di gerbang sekolah. Aku tak yakin dengan jawabanku tadi malam, aku masih ragu. Kukeluarkan kembali surat yang telah ku hias rapi dari dalam tasku. Aku menghirup nafas dalam dalam, aku berniat untuk mengganti isi surat tersebut. Mungkin sebuah kejujuran dapat merubah segalanya, aku tak ingin hari hariku bersamanya ternodai karna kebohonganku.
“Hay, Bila udah lama nunggu?” kata seseorang dibelakangku
“Dani” batinku, tanpa berpikir panjang aku segera menoleh ke arah suara itu, tapi kudapati Anton, teman sebangku Dani yang memanggilku tadi
“Oh, Anton, dimana Dani?” ucapku seraya menyembunyikan suratku di belakang tubuhku
“Dani tak masuk karna sakit, Oiya Bil, aku disuruh Dani, mengambil surat yang kau janjikan kemaren”

DEG!
“Surat? Oh...suratnya ketinggalan di rumah iya ketinggalan” ucapku menutupi rasa gugupku
“Terus itu apa?” ucapnya menunjuk secarik kertas yang jatuh tepat dibawahku, kemudian diambilnya surat tersebut, “lah, ini suratnya” ucapnya
“Oh...iya mungkin tadi aku salah liat, aku kira itu surat izin Nina, hehe” cengirku
“Yaudah aku kasih Dani ya? Dah Bil...”
Aku terpaku di tempat, aku tak dapat berbuat apa apa,kutarik tanganku yang sedari tadi bersembunyi di belakang tubuhku, memang benar dugaanku, surat itu terjatuh dari amplopnya. Inginku berlari ke Anton yang belum jauh dari ku, namun perasaan bimbang kembali datang di hatiku. Aku menyerah, aku biarkan saja surat itu dibaca oleh Dani, mungkin seiring waktu berjalan aku dapat sedikit demi sedikit mencintainya.

Sore ini aku berniat menjenguk Dani, di perjalanan hatiku semakin tak menentu karna hari ini mugkin aku resmi berpacaran dengan Dani. Aku mengemudikan mobilku sedikit kencang karna takut hari semakin malam. Sesampainya dirumah Dani, aku mengambil buket bunga serta nasi goreng buatanku yang disukai Dani. Kulangkahkan kakiku menuju kedalam rumahnya, Pak Tri adalah penjaga rumah Dani, beliau sudah sangat akrab denganku. Aku dan Dani telah berteman hampir 5 tahun sejak kelas 1 SMP, jadi tak heran jika aku bisa keluar masuk rumah Dani tanpa seizin Pak Tri.
“Mau jenguk Tuan Dani, non?” tanya Pak Tri
“Iya pak, oiya Dani dirumahkan?” jawabku ramah
“Iya non, silahkan masuk nanti mobilnya saya parkirkan.”
“Baiklah pak ini kuncinya” ucapku seraya memberikan kunci mobil ke Pak Tri.

Aku masuk ke dalam rumah Dani, aroma khas rumah Dani selalu membekas, rumah Dani sangat rapi, Dani disini hanya tinggal sendirian, karna Orang tuanya sedang keluar kota. Tak mau membuang buang waktu segeraku ke lantai 2 dimana kamar Dani berada. Sesampainya di depan kamar Dani aku ragu untuk membukannya, aku takut jika Dani menanyakan kebenaran isi surat tersebut. Tiba tiba hendle pintu Dani bergerak, aku kaget mungkinkah Dani? Namun ternyata pengasuh Dani yang keluar
“Oh non Bila silahkan masuk, Saya mau ngurusin dapur dulu, tolong titip tuan Dani ya” pintanya
“Bik, ini untuk Dani” ucapku seraya menyerahkan satu kotak penuh nasi goreng
“Oya, makasih ya non, pasti Dani seneng banget ini non.” ucapnya kemudian pergi

Aku masuk ke kamar Dani, ku lihat Dani yang terbaring lemas diatas kasurnya, tiba tiba hati ini merasa khawatir, aku sempat bertanya apakah aku mulai menyayangi Dani atau aku hanya simpati? Aku duduk di sebelah Dani, setelah meletakan buket bunga, aku kembali memalingkan wajahku dan kutemukan wajah Dani yang begitu pucat, Dani sangat tampan jika tidur? Hey ada apa denganku? Tidak tidak, aku jatuh cinta kepada Dani? Tapi mengapa aku menolak? Toh, aku juga udah jadian sama dia.
“Bil.” lirih Dani
“Ha?” lamunanku tiba tiba pecah, “iya ada apa?” ucapku
Terlihat raut senyum di wajahnya, “kok gak bilang sayang?” ucapnya yang kurasa tak bercanda
“Apa? Oh i..i..iya saa...yaa...ng..kam..u gak ..pa..pa..kan?” balasku canggung
“Hahaha...kita kan udah resmi jadian, harusnya gak usah canggung dong.”

Aku mengangguk tanda menyetujuinya, “Oiya, aku tadi bawa nasi goreng, kamu mau? Aku ambilin.” ucapku seraya berdiri berniat mengambilkannya
“Bil, gak usah aku cuma mau kamu disini.” lirihnya menggenggam tangan kiriku.
Tanpa aba aba aku segera kembali ke tempat dudukku semula.
“Bil, mungin hidupku tak kan lama lagi namun setelah aku mengenalmu 5 tahun yang lalu aku jadi mengerti arti hidup ini. Hidup ini indah jika kita dapat melihat orang yang kita sayangi merasa bahagia. Bil, kamu mau kan menemaniku diusiaku yang tak lama lagi ini?”
Tak terasa air mataku mengalir, “Dan, kamu ngomong apa sih? Aku gak ngerti, aku selalu disini Dan, aku tak akan meninggalkanmu.” isakku namun dengan sebuah canda
“Kamu nggak usah tangisi aku, aku jadi ikut sedih jika kamu sedih Bil, aku sayang banget sama kamu, tadi Anton ngasih suratmu itu katanya kamu membalas cintaku, aku senang banget Bil, aku tak tau harus ngomong apa lagi” jawabnya di sertai senyuman yang masih mengembang di wajahnya.

Ku pererat genggaman tanganku, aku menangis bukan karna aku sedih melihatmu, tapi karna aku menyesal telah membohongimu Dan.
“Sudah Bil, jangan nangis.” ucapnya berusaha bangun, tapi aku mencegahnya
“Jangan bergerak dulu.”

Dani mengangguk, kemudian suasana hening tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami, hingga Dani memulai pembicaraan
“Bil, udah malem, pulang gih, nanti kamu kecapekan lagi”
Aku mengangguk, ku bermaksut untuk berdiri namun lagi lagi Dani menggenggam tanganku
“I love You Bila” ucapnya
Ku balas kalimat tersebut dengan senyuman, karna aku sama sekali tak mencintainya. Oh Tuhan salahkah aku?

Hari ini adalah annyversarry ku yang ke 1 tahun dengan Dani, aku mulai merasakan bibit bibit cinta yang mulai bermekaran di hatiku. Danilah yang menumbuhkan itu semua, Dani selama ini telah mengajariku arti cinta yang sebenarnya, disetiap kata Dani kadang menyisipkan kalimat yang membuat hati ini bertanya tanya.
“Dedaunan tak selamanya akan berwarna hijau dan dapat melindungi kita dari panas, tapi ada saatnya daun itu akan jatuh dari pohonnya dan lama kelamaan akan berubah bentuk menjadi seonggok sampah”

Aku masih tak mengerti apa maksut dari kalimat tersebut, setiap aku bertanya Dani hanya menjawab “tunggulah waktunya, nanti kamu akan mengerti”
“Tin...tinn...” terdengar suara klakson dari depan rumahku, aku segera pergi, tapi sebelumnya aku mematuk diriku ke cermin
“Perfect” gumamku
“Mah, aku pergi ya....” kataku seraya mencium tangan mamaku
“Iya, hati hati jangan malam malam”
Aku berlari sambil mengacungkan jempolku. Aku masuk ke mobil silver Dani.
“Hay, sayang hari ini mau kemana?” ucapku senang
“Ke taman aja ya sayang aku mau istirahat, kan disana sejuk.”

Aku mengangguk, perjalanan dari rumahku ke taman bisa dibilang dekat hanya memakan waktu 15 menit saja. Selama di perjalanan kami tak banyak mengobrol, hanya saja sesekali kami bersanda gurau. Tak terasa kami telah sampai di tempat tujuan, setelah memarkir mobil Dani, kami menuju bangku taman yang tak jauh dari sebuah danau kecil. Kukeluarkan isi tasku, aku membawa beraneka roti dan tentunya sekotak nasi goreng.
“Dan, aku bawain nasi goreng, mau aku suapin?” tawarku
Dani mengangguk, dia lalu membuka mulutnya, aku segera menyuapinya. Oh Tuhan terimakasih, karna sekarang aku telah bisa menyayangi Dani, aku tak mau meninggalkannya, aku sudah terlanjur mencintainya Tuhan.
“Bil, maafkan aku jika aku mempunyai salah kepadamu, mungkin jika aku meninggalkan dunia ini, aku telah bahagia karna yang terpenting impikanku selama ini telah terwujud, aku bisa melihat orang yang aku sayangi bahagia. Berjanjilah kamu kepadaku, setelah aku tiada kamu akan mencari penggantiku, namun kamu harus memilih seorang lelaki yang sehat tidak sepertiku yang sakit sakitan.” lirihnya, sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan selama ini, sesuatu yang sangat penting dan aku tak tau apa maksut semua itu.
“Dan, kenapa kamu selalu bilang seperti itu, ada apa yang terjadi? Apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan? Apa itu Dan? Apa? kenapa kamu tak mengatakannya kepadaku? Aku mencintaimu Dan, aku tak mau kehilanganmu.” kataku disertai hembusan nafas yang berat

Dani memelukku, begitu hangat pelukannya, baru kali ini aku merasakan pelukan Dani, aroma tubuh Dani dapat ku nikmati dengan jelas, aku membalas pelukannya, aku pererat pelukanku seakan aku tak mau membiarkan dia pergi. Namun perlahan tubuh Dani memberat, aku melepaskan pelukannku terlihat di hidung Dani mengalir darah segar, Dani perlahan menutup matanya disertai dengan senyuman yang terlukis di kedua sudut bibirnya.
“Terimakasih Bil, kau telah menemaniku di akhir hayatku ini. Aku mencintaimu.” lirih Dani pelan
“ Dani....” kugoncangkan badannya dengan pelan, namun tak ada reaksi darinya, kugoncangkan lagi namun dengan nada yang lebih cepat, “Daniiii......” jeritku sekarang yang membuat pengunjung taman menoleh kearahku.
Air mataku tumpah semakin deras, orang orang disekeliling kami mendekat dan menggotong tubuh lemas Dani, salah seorang pengunjung mengubungi ambulance. Tak lama kemudian ambulance datang, aku mengikuti mobil ambulance dengan mobil Dani, aku masih tak percaya Dani yang aku cintai sekarang pergi. Aku masih bertanya tanya sebenarnya penyakit apa yang diderita Dani?

Sesampainya di rumah sakit, aku menelfon Mamaku karna Orang tua Dani sedang pergi entah kemana. Aku menyendiri di sebuah bangku yang kosong, aku terus terusan mondar mandir di depan pintu kamar dimana Dani ada didalamnya.
“Bila!” panggil seseorang yang sangat ku kenal
“Mama” aku berlari memeluk wanita paruh baya yang sangat ku sayangi
“Mah, Dani mah Dani.” isakku di pelukan mamaku
“Sabar nak sabar, pasti akan ada jalan keluarya. Kita berdoa saja supaya Dani baik baik saja.”
Aku tak menjawabnya, tiba tiba mamaku memberikan secarik kertas putih yang tertulis “Untuk Malaikat Tanpa Sayapku Nabila”
“Mungkin ini saatnya sayang.” ucap mama menyerahkan surat tersebut ditanganku
Aku membuka lipatan surat tersebut, terlihat tulisan Dani yang begitu rapi, terjajar dengan indah

Untuk Bila,
Bil, mengkin jika kamu membaca surat ini aku telah tiada di dunia ini, namun yakinlah walaupun raga ini telah lenyap, namun jiwa ini akan selalu menemanimu dan senantiasa menjagamu dari surga, tapi ingatlah, jika kau merindukanku, serukan namaku di dalam hatimu, serukanlah dengan ketulusan maka kau akan merasakan aku didalam jiwamu.
Tapi...andai saja aku bisa menolak takdir ini, sungguh aku ingin melihatmu berbahagia dengan orang yang tepat, berbahagia dengan hidup yang kau punya, berbahagia dengan diriku. Namun apa daya aku tak dapat merubah takdir ini. Memang aku ingin sekali memelukmu, namun dunia kita telah berbeda, berjanjilah kepada dirimu sendiri bahwa kau tak akan melupakanku dan tak akan melupakan kenangan kita yang dulu kita ukir bersama.
Maafkan aku Bil jika aku tak sempurna, maafkan aku jika kali ini aku harus pergi dan tak akan kembali lagi, dan maafkan aku karna aku belum bisa membahagiakanmu karna sakit yang tak kuharapkan ini. Semoga kau bahagia tanpaku Bil. Terimakasih telah memberiku warna dan mengerti arti kehidupan, terimakasih Bil.

Orang yang menyangimu,
Dani
Air mataku kembali mengalir, “Makasih juga Dan selama ini kamu mampu bertahan buatku” aku menoleh kearah Mamaku yang sedari tadi mengelus elus punggungku, “Ma, sebenarnya Dani sakit apa?” ucapku dengan kesusahan
“Dani, terlahir hanya memiliki satu ginjal, dan ginjal tersebut sangat lemah, Mama Dani selalu mengecek kesehatan Dani setiap waktu. Tahun berjalan tepat diumur Dani ke 13 tahun, tepatnya saat Dani masuk SMP, Dani harus menerima kenyataan pahit, ginjal Dani tak mampu bekerja dengan baik, ginjal Dani tak dapat membuang sisa sisa metabolisme dari tubuhnya. Dani divonis menderita gagal ginjal akut, gagal ginjal ini masih bisa ditolong dengan cangkok ginjal. Mama Dani sering berbicara tentang Dani, tapi mama takut bilang kepadamu sayang” Papar mama panjang lebar
Aku masih tak percaya berarti dari aku bertemu Dani dia telah menyembunyikan ini semua.
“Mah, golongan Danikan O, golongan Bila juga O, bagaimana jika Bila yang menyumbangkan ginjal Bila?” ucapku memohon
“Sayang, kamu ingin Dani bersedih jika ternyata ginjal yang ada pada dirinya adalah ginjal darimu?” ucap mama
“Maah...plis, Bila sayang dengan Dani ma”
“Tidak Bila mama tidak setuju.” bentak mamaku

Hari ini hari pemakaman, dimana hari ini semua orang, keluarga, teman, orang orang yang peduli terhadap kita berkumpul jadi satu. Hari ini bukanlah hari terakhirku, namun hari ini adalah hari baru di dalam hidupku, hari dimana semua kenangan, kesedihan, kesenangan aku tinggalkan di dunia ini menuju ke tmpat yang damai dan tentram diatas sana. Dani semoga kau bahagia dengan ginjalku yang tertanam di tubuhmu.
“Dan, ayo pulang mama yakin Bila pasti bahagia di alam sana.” bujuk mama Dani
“Kenapa harus Bila ma?” isak Dani
“Nak Dani, ini adalah keputusan Bila, dulu sewaktu Nak Dani kritis Bila memohon kepada ibu untuk mendonorkan ginjalnya kepada Nak Dani, awalnya ibu menolak, namun kecintaan Bila akan Nak Dani begitu kuat, Bila memohon hingga sujud di telapak kaki ibu. Ibu sangat tersentuh, akhirnya ibu mengizinkan Bila, Bila terlihat sangat senang. Pada akhirnya operasi berlangsung, semua berjalan dengan baik, namun satu ginjal Bila mengalami kebocoran, ginjal Bila rusak, tak bisa berfungsi karna kebocoran tersebut, dan pada akhirnya Bila tak tertolong, Bila sempat berbicara pada ibu, dia bilang, jika dia tak kembali ke dunia ini, dia minta ibu untuk menyampaikan surat kecil ini ke Nak Dani.” ucap mama Bila dengan penuh kesedian serta menyerahkan surat kecil tersebut.
“Dan, aku mengerti sekarang tentang arti Daun tersebut, mungkin dedaunan itu bisa saja jatuh, namun ranting bisa saja menolongnya, mungkin ranting memang lemah tapi dia mampu menopang daun agar tidak jatuh. Walaupun ranting itu jatuh namun daun masih bisa dilindunginya, dengan cara menerbangkan daun tersebut ke suatu tempat untuk memulai kehidupan yang baru. Kamu tau tidak? Ranting itu adalah aku, dan daun adalah kamu. Kita saling melengkapi, namun karna takdir kita dapat terpisahkan, tapi ingatlah aku tak akan meninggalkanmu Dan, I love You.” begitulah isi pesan dari surat tersebut
“Terimakasih Bil, aku janji akan merawat ginjal ini untukmu, I Love You too.” ucap Dani seraya meninggalkan tempat pemakamanku, sekaligus tempat terakhirku.

Kini semuanya telah hilang, aku telah menemui takdirku selama ini, aku tak akan mengecewakan semuanya, termasuk orang orang yang aku cintai. Sekarang di atas sini aku dapat melihat dan menjaga kalian semua meski aku tak dapat menyentuh kalian. Bermuai dari kebohongan, aku dapat mengerti arti kehidupan seperti yang diajarkan Dani. Aku tak menyangka kebohonganku dapat membuatku seperti ini. Selama kita hidup kita harus berusaha menjaga semuanya agar tetap indah dan yang paling terpenting kita harus membuat orang yang kita sayangi bahagia.
SELESAI

PROFIL PENULIS
Nama: Beti Sinta Rosi
Tempat Tanggal Lahir : Yogyakarta, 15 Januari 1997
Alamat: Taman KT 1/459, Yogyakarta
Asal Sekolah : SMA Negeri 7 Yogyakarta
Facebook : Beti Sinta Rosi

Baca juga Cerpen Remaja yang lainnya.

Selasa, 28 Agustus 2012

Cerpen Remaja - A.U.D.R.E.Y

A.U.D.R.E.Y
Karya Annisa Vee Lestari

“Audrey, ada yang ingin Aku sampaikan. Aku ingin, hubungan kita sampai disini.”
“Apa? Kita putus?”
*****

Hoamm...mata masih setengah terpejam. Matahari sudah bersemangat menyinari bumi. Kulihat wajahku yang bengkak dan mataku yang sembab pasca tragedi semalam. Aku Audrey Dwita Anggrainy. Saat ini Aku duduk di bangku kuliah semester satu. Bicara tentang tragedi semalam, itu adalah hal terpahit yang pernah Aku alami. Karel Dinata, pacarku dua tahun lalu dan sekarang sudah menjadi mantanku. Ia memutuskanku secara sepihak tanpa alasan yang jelas. Jujur, Aku masih sangat mencintainya. Aku juga yakin kalau ia masih punya rasa yang sama sepertiku. Karena hubungan kita memang baik-baik saja. Ponselku berdering. Aku berharap itu sms dari Karel seperti biasanya, setiap pagi ia selalu membangunkanku lewat sms. Kubuka dan kubaca sms itu. *Au, bangun! Gue udah diluar nih – Kiran*. Huh, ternyata sms itu dari Kiran, teman SMA-ku yang saat ini kuliah di universitas yang sama denganku. Kubuka gorden jendela lalu melambaikan tangan ke Kiran mengisyaratkan padanya untuk menungguku.

Segera Aku bersiap, sarapan, lalu pergi. Terlihat Kiran mengerutkan dahi saking betenya. “Hehe, lama ya Ran? Sorry yaa...lo tau lah secara gue kan calon singer terkenal,” Aku masuk ke mobilnya tanpa memperdulikan keadaan Kiran. Tak berapa lama Kiran masuk ke mobil masih dengan muka bete. “Ihh Kiran mah ngambek loh! Ntar cantiknya hilang loh..” Ledekku. “Ihhh! Lo paling bisa yaa...” Kiran mencubit pipiku disusul tawanya. Mobil terus melaju menuju kampus. Dijalan, Kiran memberiku kabar buruk. “Au, lo nggak ke airport?” Tanya Kiran. “Airport? Memang ada apa?”. “Loh? Lo nggak tau? Karel Au! Dia kan mau pindah ke Jepang,” Kiran menatapku heran. “Apa??? Dia nggak bilang sama gue. Memang sih tadi malam kita habis putus, tapi dia nggak bilang apa-apa tuh,” Jelasku. Kiran menggeleng dan langsung putar arah. Aku terdiam. Tak habis pikir kenapa Karel begitu teganya tak memberitahuku atas keberangkatannya. Sampailah kami di suatu tempat yang bernama bandara. Kami turun dan bergegas mencari keberadaan Karel. Hampir seluruh tempat kami telusuri tapi hasilnya nihil. Aku terduduk lemas, air mata mengalir di pipiku. Kini Aku bukan hanya kehilangan perhatiannya, status, tapi juga kehilangan dirinya, my sunny, cinta pertamaku, Karel.

“Audrey,” Seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh. “Ka..ka..karel...” Ucapku terbata. Air mata mengalir juga di wajah itu. Karel memelukku. “Karel, kenapa kamu pindah? Apa kamu benci sama Aku? Salah Aku dimana? Bilang Karel..” Ucapku dengan nafas tersengal-sengal. Karel mendaratkan jari telunjuknya di bibirku, “Sshhh..kamu nggak salah. Ini murni salah Aku. Aku akan pergi ke Jepang untuk kuliah. Mungkin Aku akan tinggal disana selama empat tahun,” Karel tersenyum. “Aku akan menunggu kamu sampai kamu kembali!” Tegasku. “Aku akan menunggu kamu sampai kamu kembali!” Tegasku. Karel menatapku dalam, “Hei, kamu jangan tunggu Aku! Carilah pengganti lain yang lebih baik dari Aku. Karena Aku belum pasti kembali...”. Lagi-lagi aku terdiam, stak di posisi ku sekarang. Sedangkan Karel semakin menjauh. Raga ini yakin tak bisa mencegahnya. hanya bisa berharap akan perasaannya padaku. “Karel...kalau kamu masih sayang sama Aku, plis lihat Aku!” Batinku. Karel terus berlari menuju tempat keberangkatannya. Aku masih menunggu, namun sepertinya penantianku ini akan berakhir sia-sia. Sudahlah sebaiknya Aku jangan terlalu berharap...

“Udah dong Au, jangan nangis terus...” Terlihat Kiran menghawatirkan keadaanku. Entah mengapa mata ini terus memaksaku untuk mengeluarkan air mata. Mobil terus melaju menuju kampus. Walau sudah telat, biarlah. Aku bisa masuk kelas sore. akhirnya mobil memasuki pelataran. Aku dan Kiran turun lalu bergegas ke kantin, tempat kita biasa nongkrong. “Gue yakin kok, Karel itu masih cinta sama lo..” Ucap Kiran berusaha menghiburku. “Udahlah Ran, gue nggak apa-apa kok. Mungkin semua ini udah takdir gue, harus kehilangan cinta pertama gue..” Ucapku sedih. “Woi! Pada kenapa kalian? Lo lagi, Au. Kenapee?” Tiba-tiba seseorang muncul dengan riang gembira. “Ihh, kepo amat sih lo Dion?! Huss huss sana minggir!” Usir Kiran. “Yee..kok lo yang sensi? Kan gue mau ketemu Audrey. Wekk,” Dion ( kakak tingkatku sekaligus sahabatku) memeletkan lidahnya ke arah Kiran. Aku hanya tertawa melihat tingkah kedua sahabatku ini. Kehadiran mereka sungguh berarti. “Audrey cantik, lo kenapa? Galau ya? Galau karena Karel lagi?!” Tanya Dion sedikit membentak. Aku mengangguk pelan. “Udah gue bilang lo itu nggak cucok sama Karel, masih aja dilanjutin. Sekarang apa nyatanya? Lo nangis lagi kan? Udah deh sekarang lo ikut gue yuk?!” Dion menarik lenganku. “Mau kemana? Gue ada kelas...” Teriakku. “Udah, titip absen aja sama Kiran.”

“Ini dimana, Yon?” Tanyaku bingung. “Tunggu sebentar ya, 1..2..3.. its show time!” Teriak Dion. Tiba-tiba seekor monyet menari di depanku. Sontak Tawaku meledak. Dion melirikku, tersenyum. Saat ini hanya Dion cowok satu-satunya yang bisa buatku bahagia. Dion selalu ada disaat Aku susah maupun senang. Jika Aku ada masalah dengan Karel, Dion lah sebagai tempat curhatku. Mungkin jika Dion menaruh hati padaku, akan kujadikan pertimbangan. Tapi tidak untuk saat ini. Karena nama Karel masih terukir jelas di hatiku. “Makasih ya Dion..” Bisikku. “Gue akan lakukan apapun untuk buat lo bahagia. Karena gue nggak mau melihat lo menangis,” Ucap Dion tanpa melihatku. Straodinario! Mungkin itu satu-satunya kata yang bisa mewakili pendangan gue terhadap Dion. Ia begitu tulus menyayangiku sebagai sahabatnya. Pertunjukkan selesai, kami pun pulang. Dion mengantarku pulang sampai depan rumah. “Thanks for today, Dion!” Ucapku. Dion membuka kaca helmnya, “Sama-sama, jangan nangis lagi ya! Yang udah berlalu biarkan berlalu. Tatap masa depan. Semangat!!” Dion mengangkat tangannya bak pejuang. Aku mengangguk cepat. Dion memakai helmnya dan berlalu.
*****

“Cieee yang mau manggung for first time..semangat ya,” Kiran memelukku. “Aaaa Kiran! Doakan Aku ya teman,” Ucapku. Kiran mengantarku ke tempat pentas. Ya, hari ini Aku akan tampil di sebuah acara. Sebelum manggung Aku mencoba sms Karel, minta doa restu. *Karel..Aku mau manggung, doakan semua lancar yaa-Audrey*. Tapi sms-ku tak kunjung dibalas. Positive thinking, mungkin Karel sedang sibuk. Aku yakin dia mendoakanku dari sana. “Dion mana ya?” Tanyaku. “Lagi di jalan, bentar lagi sampai kok,” Jawab Kiran. Hatiku deg-degan takut gagal. Tak berapa lama namaku dipanggil. Aku naik ke panggung dan mulai bernyanyi. Syukurlah, sampai di akhir lagu semua dalam keadaan good. Penonton sepertinya menikmati suaraku. Aku turun lalu menghampiri Kiran dan Dion yang sudah menunggu di pojok. “Congrats ya Au! Gue bangga punya sahabat kayak lo,” Ucap Dion. Aku hanya tersenyum. Tiba-tiba seseorang membawakan bunga yang di dalamnya terdapat secarik kertas. Saat kutanya siapa pengirimnya, orang tersebut menggeleng. Kubaca tulisan di kertas itu, *Aura suara dan senyumanmu buat bahagiaku*. Aku melihat sekeliling tapi tak ada tanda apapun. “Ciee baru sekali manggung aja udah dapat secret admirer..” Ledek Kiran. “Iya dong, siapa dulu? Audrey...” Pamerku.

Sepulang dari show, Dion mengajakku ke suatu tempat. Katanya ini sebagai hadiah karena Aku telah sukses manggung. Tempat yang tak asing bagiku, karena dulu Karel sering mengajakku kesini. Lagi-lagi Karel yang muncul di benakku. “Sunny, kenapa kamu tak kunjung beriku kabar?” Batinku lirih. Dion menarik lenganku mengajakku berlari ke tempat itu. Taman warna, dimana setiap malam ada pesta kembang api disini. Duar! Duar! Duar! Suara kembang api mulai bergeming. Aku tersenyum bahagia sembari melirik Dion. Dion menatapku, “Audrey, gue sayang sama lo!”. “Aku juga, Kar...” Kalimatku terputus. Aku tersadar kalau yang ada di hadapanku bukanlah Karel, melainkan Dion. Astaga! Mikir apa Aku ini? Mengapa hati ini terus berharap? Dion...maafkan Aku.
“Makasih ya Dion, lagi-lagi lo yang nganter gue pulang,” Ucapku. Dion mengangkat kedua bahunya, “Santai aja kali. Udah sana masuk! Have a nice dream,” Dion pun berlalu. Nyatanya ia memang begitu baik. Harusnya saat ini Aku mulai berfikir untuk belajar mencintainya. Aku yakin Dion ada rasa padaku. Lagi pula, kami sudah terbiasa bersama-sama sejak lama. Jadi nggak ada salahnya kalau Aku mencoba untuk move on. Saat Aku memasuki rumah, Aku mendapati mawar dan secarik kertas, lagi. “Apalagi ini?” Batinku. *Untuk bahagiamu, selamat atas kesuksesanmu*. Siapa sebenarnya secret admirer ini???
*****

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Sekarang kuliahku sudah memasuki semester enam. Hari ini adalah hari paling membahagiakan untuk Aku, Kiran dan khususnya Dion. Karena hari ini adalah hari wisuda Dion. Sejak saat itu, hubungan Aku dan Dion semakin dekat. Layaknya sepasang kekasih. Tapi, Aku belum memberikan status yang jelas untuknya. Karena jujur, hati ini masih berharap kalau Karel akan kembali tahun depan. Aku bersiap-siap untuk menghadiri wisuda Dion. Mandi, sarapan dan berangkat. Saat Aku hendak mengeluarkan mobil, lagi-lagi ada mawar dan secarik kertas di atas mobilku. Ini adalah mawar kelima yang kudapat dari secret admirer yang sampai saat ini tak kuketahui identitasnya. Kubuka tasku lalu kubaca kembali kertas-kertas yang lalu. *Derai penantian, gantilah dengan masa depan*, *Rasaku semakin kuat namun rasamu semakin pupus*. Dan ini kertas terakhir yang kuterima, *Entahlah, semuanya ada padamu*. “Dert..dert..” Ponselku berdering. Masih dalam lamunan, kuangkat telefon dari Kiran. “Iya Kiran?” Sapaku. “Woi! Buruan!!!” Teriaknya. Segera kututup ponsel lalu bergegas pergi.
“Dion Chandrawinata!” Panggil MC. Huh, walaupun telat, setidaknya Aku masih bisa mendengar nama Dion dipanggil sebagai lulusan terbaik tahun ini. Sembari membawa bunga, Dion menghampiriku yang duduk manis di kursi paling belakang. “Audrey, gue lulus!” Teriaknya lalu memelukku. “Selamat ya. Gue bangga sama lo,” Bisikku. Dion melepaskan pelukannya lalu mengajakku ke taman belakang kampus. Hatiku bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya ingin diakukan Dion. “Audrey, gue mau bicara sesuatu. Tolong dengarkan sampai selesai baru boleh komentar. Kalau lo berani potong pembicaraan gue, awas lo!” Ancamnya. Aku mengangguk cepat.
“Au, gue udah lulus dan gue juga udah dapat pekerjaan. Kita udah sama-sama dewasa. Nggak munafik selama tujuh tahun kita bersama-sama, dari mulai kita SMP, rasa sayang gue ke elo muncul walau hanya sebatas sahabat. Tapi setelah Karel putus sama lo dan kita semakin dekat, rasa cinta itu ada. Gue pikir, hari ini adalah saat yang tepat untuk meresmikan hubungan kita. Lo mau kan jadi calon istri gue?” Dion melamarku. Tuhan...apa yang harus Aku perbuat? Aku sayang Dion, tapi Aku masih penasaran dengan perasaan Karel. mengapa begitu sulit untukku menerimanya?. “Dion...” Ucapku merendah. “Gue sayang lo. Tapi untuk komitmen, gue belum bisa jawab sekarang. Tunggu jawaban gue tahun depan, gue janji!” Timpahku. Dion tertunduk. Tampak raut kecewa di wajahnya. Berapa saat kemudian Dion menatapku seraya berkata, “Baiklah, gue akan tagih janji lo tahun depan.”
*****

1 TAHUN KEMUDIAN...
“Mbak Audrey? Cantik banget...” Teriak Kiran. “Kiran..sebentar lagi gue udah nggak single,” Aku memeluknya. “Asik banget sih! lulus dengan nilai terbaik, dapet suami idaman lagi!” Gerutu Kiran. “Jangan iri gitu. Pasti lo juga akan merasakan hal yang sama suatu saat nanti,” Aku mengelus pundak Kiran. Seseorang mengetuk pintu, “Sayang, tamu udah pada menunggu di bawah. Eh, ada Kiran. Hai Kiran?!” Ucapnya, calon suamiku. “Hallo juga Dion! Akhirnya..kalian jadi juga,” Goda Kiran. Dion tersenyum sembari memberiku isyarat kalau ia menunggu kehadiranku di ruang bawah. Ya, sebentar lagi aku akan menikah dengan Dion, pria yang melamarku setahun yang lalu. Aku memutuskan untuk menerimanya karena sampai saat ini Karel tak kunjung datang. Aku menyadari kalau harapanku sudah pupus padanya. Harapanku saat ini ada pada Dion.

Wajahku kini sudah berlumur make up. Saat Aku sedang asik bercanda dengan Kiran, satpam rumahku masuk memberiku mawar dan secarik kertas, lagi. Aku dan Kiran saling memandang heran. Kubuka kertas itu lalu kubaca. *Yang terakhir dariku, selamat atas pernikahanmu*. Aku bertanya pada satpam itu tentang identitas si pengirim. “Orangnya baru saja keluar. Wanita, pakai baju ungu”. Segera Aku berlari mencari wanita yang dimaksudnya. Di taman dekat pintu keluar Aku menemukannya. Kutepuk pundaknya, “Hai..kamu yang selama ini mengirimkan Aku bunga?”. Wanita itu menoleh, tersenyum dan memberiku kertas lagi. Tapi kali ini agak lebih besar, seperti surat. Aku menatap wanita itu lalu beralih menatap Kiran. Mata Kiran menunjukkan isyarat kalau Aku harus membuka surat itu. Hatiku berdegup kencang saat membacanya. Lalu kututup surat itu dengan air mata. Wanita itu menjelaskan semuanya lalu pergi. Masih dalam suasana haru, Kiran memelukku erat sekali. Membuatku lebih tenang dari sebelumnya.
“Sayang, kamu nggak apa-apa?” Dion meraba wajahku. Aku mengangguk berat. Kiran menatapku tajam, “Ini hari pernikahan lo! Yang lalu biarkan berlalu. Sekarang masa depan lo ada pada orang ini,” Bisik Kiran. Tak mau membuat Dion kecewa, segera kuhapus air mata dan mencoba tersenyum demi Dion walau berat rasanya. “Kamu udah siap?” Tanya Dion. Kutatap Kiran dan Kiran membalas dengan angkat jempol. “Aku siap Dion, calon suamiku,” Ucapku lantang. Dion menarikku ke pelaminan.

Semua proses telah dilaksanakan. Aku bahagia, akhirnya Aku bisa menemukan pendamping yang tepat untukku. Walaupun orang itu bukan cinta pertamaku. Tapi Aku tak menyesal pernah mengenal Karel. Karena kalau Aku tak mengenalnya dan pernah menjadi orang yang berarti di hidupnya begitu juga ia di hidupku, mungkin endingnya nggak akan seperti ini. Karena pengalaman itulah yang membuatku belajar banyak. Masalah surat tadi, ternyata semua mawar dan kertas itu adalah dari Karel. Karel mempunyai orang suruhan untuk menjagaku disini. Satu yang kusesali, Aku tak tau kalau Karel ternyata sakit dan harus dibawa ke Jepang untuk berobat. Dan saat ini Karel sudah tiada. Ia meninggal dua hari yang lalu. Inilah mawar sekaligus surat terakhir darinya. Sekarang aku sudah resmi menjadi istri dari Dion Chandrawinata dan aku bahagia. “Aku mencintaimu istriku, Audrey Dwita Anggrainy,” Dion mencium keningku. “Aku juga mencintaimu suamiku, Dion Chandrawinata.”

Surat dari Karel -
“Aura suara dan senyumanmu buat bahagiaku. Untuk bahagiamu, selamat atas kesuksesanmu. Derai penantian, gantilah dengan masa depan. Rasaku semakin kuat namun rasamu semakin pupus. Entahlah, semuanya ada padamu. Yang terakhir dariku, selamat atas pernikahanmu.
Huruf dari namamu kuuntai menjadi kata-kata yang menggambarkan kisah hidupmu saat ku tak ada di sisimu. Aku bukan penyuka sastra, namun karena rasa ini, membuatku merasa layaknya sastrawan. Satu hal dalam hidupku yang paling membahagiakan. Yaitu mengenalmu sebagai cinta pertamaku, A.U.D.R.E.Y.”
KAREL DINATA

PROFIL PENULIS
Nama : Annisa Vee Lestari
Add fb : http://www.facebook.com/nissa.vibra /(nissa vibra)

Baca juga Cerpen Remaja yang lainnya.

Kamis, 23 Agustus 2012

Cerpen Remaja Islam - Udara Malam Diluar Pesantren

UDARA MALAM DILUAR PESANTREN
Karya Faqih Sulthan

Betapa banyak dari kalangan muda berhenti dari mengejar cita-cita, kehendak mulia, mimpi-mimpi fantastis dalam capaian prestasi, hanya lantaran keteledoran, hanya karna ulah menyimpang yang mulanya hanya iseng iseng belaka, atau mental ‘nanti dulu’, atau sikap ‘sebentar dulu’.akhirnya lama kelamaan jiwanya mulai layu, semangat mulai redup. Gairah berkaryanya semakin kering. Akhirnya ia pun terhenti dari segala harapan yang telah menanti di ujung kerja kerasnya.

Malam Jumat itu seusai solat isya’ para santri asik ngobrolin sang kyai yang tak kunjung datang mengisi tausiah, banyak dari santri yang menduga tausiyah bakal dibatalin. Tentu aku dan kawan kawan bingugn apa yang muski dikerjain malam itu, mau tidur..,udah tadi siang di sekolah!, mau makan..,paling menunya gituan, kalo ngrumpi?,alah...... ngga’ usah disebutin jelas itu DOSA!. Kalo sudah begini bengong bareng deh!.

Sedang enak-enaknya bengong, tiba-tiba “DOARR” benturan pintu membuat kesunyian kamarku terpecah, ternyata setelah di telusuri Rio atau panggil saja O-lah penyebabnya.
“Asal kalian tahu!, udara bebas telah menanti kita, tunggu apa lagi mumpung Ustadz-Ustadz pada lenggah” teriak O layaknya Bung tomo.
“ Anta ga’ usah mimpi! Kalo ketahuan kita bisa jadi jama’ah botak.” Saut Tahta menolaknya.
“ Alah.... not effect lagipula cuman semalam!” bantah Afix mendukung O.
Setelah kedua kubu ini cukup lama bersitegang, akhirnya kubu dari O-lah yang memenangkanya, dengan berat hati akhirnya Rizki dan simpatisannya mau tidak mau harus menuruti O atas dasar kekompakan.

Tapi masih saja ada halangan dengan terbentuknya gerakan NonBlok yang beranggotakan Iqbal & Yovie, awalnya aku-pun termasuk dari mereka dengan setempel disiplin terukir di jidat ku, tetapi dibagian hatiku yang lain menggatakan akan timbul kedengkian yang bakal menimpaku, itulah sebabnya peraturan yang berdiri tegak di pondok ini terpaksa ku robohkan dengan dalih rumus phytagoras, loh ! ko’ phytagoras ?. Ya karena rumus phytagoras berlaku untuk segitiga siku-siku, bunyi rumus phytagoras adalah panjang sisi miring kuadrat sama dengan jumlah kuadrat dari panjang sisi yang lain. atau secara matematis ditulis C² = B² + A² maka dapat disimpulkan bahwa, antara O sebagai C², Rizki sebagai B²,dan Aku sebagai A² masing-masing memiliki posisi yang saling berkaitan walaupun memiliki sifat variabel yang berbeda mereka mampu membentuk sebuah bangun segitiga siku-siku atau yang kita sebut sebagai kekompakan.
” ujar Affan yang ketika itu menjabat sebagai atasan kami. كيف يمكننا الخروج من هنا دون علم الأستاذ"
“ta’ usah kawatir kita gunakan saja jamur sebagai tameng” seru Ady dengan bangga.
“maklut so...?” kata yang dilontarkan kawan-kawanku usai mendengar ucapan Ady.
“gini lo..awalan, kita sibukan para Ustadz dengan keberadaan Iqbal & Yovie, bila para Ustadz terlena dan gerbang masih terbuka lebar kita bisa segera keluar dari sini” jelas Ady mirip Adolf hitler ketua Nazi pas nyusun strategi penyerangan inggris.

Malam itu juga sesuai komando, rencana itu betul-betul kami kerjakan. Satu persatu para santri kabur dari pondok. Kami dengan mudah bisa lolos dari sepengetahuan Ustadz dan itu bukan karena Iqbal & Yovie yang berhasil melemahkan penjagaan para Ustadz ,akan tetapi memang Ustadznya yang lemah.
Kabur dari pondok bukan soal seberapa ketat penjagaan atau kawat berduri yang menghalangi melainkan ini soal seberapa kuatnya pagar nafsu yang dimiliki para santri. Meski sehebat apapun penjagaannya kalo pagar nafsunya rusak akan tetap saja mudah dibobol. Kitab Ta’limul muta’alim yang sering kami kaji tak begitu berdampak pada kami, sehingga 14 bab yang terdapat di dalam kitab ini (istilah kitabnya, fashl) yang membahas tentang metode belajar, keutamaan ilmu, motivasi belajar, memilih ilmu, guru, dan kawan serta memuliakan ilmu dan ulama, yang sesungguhnya berfungsi sebagai reparasi pagar nafsu malah hanya dijadikan para santri moderen semacam kami sebagai syarat terhindar dari jeweran ustadz Ladun selebihnya hanya Allah dan masing-masing diri mereka yang tahu.

Kami telah keluar dari tempat kami menuntut ilmu. Yang biasanya sarung dan gamis menyelimuti kini jins dan jemper membuat kami Jauh dari kata santri. Bulan terus fokus melihat langkah kami, berbeda dengan orang tua kami yang tertidur pulas tanpa mereka ketahui kalau anak-anaknya ternyata telah menghianati kepercayaan mereka. meski Rizka dan kawan-kawa telah meyakinkanku, Hatiku tetap kebat kebit. Soalnya ini pertama kali aku membolos.
Alun alun, ya! Disanalah kami nanti singgah, berkumpul dengan banyak lapisan masyarakat. Tak perduli mau konglomerat, miskin, kafir, mukmin yang taat bahkan yang munafik-pun ada disana.
Kami terus menyusuri kota yang kami sebut kota labirin karena sekian banyak jalan yang kami lalui tersekat oleh dinding-dindingnya yang menjulang tinggi. Dari jauh sudah terdengar ayat-ayat Allah terlantun begitu indah membahana ditengah kota, sementara yang mendengarkan bertentangan dengan apa yang telah didengar. Itu terbukti tatkala kami tiba di alun-alun, para pejantan dan betina bercumbu seolah mereka telah menantang Allah dengan menyalahi Q.S An nuur: 30-31. Tapi sayang, bagi calon-calon kyai seperti kami tak banyak yamg mempermasalahkan itu.

Rizka dan teman-temanya kemudian pergi kepusat pertokoan. Jalan-jalan muter-muter. Masuk ketoko mainan, nyobain jadi anaknya orang berduit. Juga liat-liat kaus-kaus yang sulit kami ditemukan di almari santri dan puncaknya, main dingdong! belasan logam koin dihabiskan untuk nyobain semua permainan. Makin sering kalah makin penasaran.
Menjelang pukul sembilan malam kami masih asik main, sampai-sampai gak tahu kalo sekelilingnya udah sepi. Tanpa duga, nongol Satpam ngusir –ngusir kami, ya udah nggak ada pilihan lain kami musti cepet keluar dari gedung itu dengan koin masih tergenggam di tangan.

Lagi asyik menikmati AC terahir di pintu utama gedung, di sebrang jalan raya tampak dari teman kami memangil-mangil mengisyaratkan agar kami segera menghampirinya, seolah-olah ada kejadian luar biasa telah terjadi.
“Rugi kalian ngelewatin kejadian yang tak kan ada dua kali, ada duel antar dua geng yang kedua duanya sama-sama punya kekuatan gaib, yang satu pakek jurus harimau, yang satunya lagi jurus pocong ya.. kayak ngilang gitu deh” jelas Alpin nyerocos.
Alpin baru bisa berhenti dari ocehanya ketika ia melihat dari balik pungung ku tampak seorang ibu yang menghampiri kami lantas menawarkan sisa roti ulta milik anaknya kepada kami dengan cuma cuma, ya.. meski udah ga’ utuh yang penting enak, gratis lagi ,he.he.he.
Belum sempat roti terbagi rata, kami kedatangan tamu yang kalau dinilai dari penampilanya sudah barang tentu bukan santri layaknya kami. kumal,semiran, dan aneh. Tapi yang lebih aneh disaat kami merasa terancam, ternyata ia hanya ingin mengajak kami bertanding sepakbola. Maka malam itu juga tepat pukul 11.30 WIB di bundaran Kudus terjadilah duel antara PERSIPON dengan JFC (jalanan football club) yang bakal disaksikan beribu-ribu kendaraan yang lalu lalang.

Lampu-lampu toko berangsur-angsur padam tanda bahwa malam semakin larut, tetapi pertandingan ini malah semakin seru, ketika banyak trik-trik menakjubkan yang ditampilkan mereka di hadapan kami seperti flick up, el elastico, lift ball, Marseille roulette , serta samba. Pemain kamipun berjatuhan dibuatnya.
Dari mulainya pertandingan, bola belum samasekali menyentuhku, hingga akhirnya ia menghampiriku dengan sendirinya, tapi sayang itu tak berdurasi lama, karna Tahta dengan semangat mengglora meminta bola itu agar segera diserahkan padanya. Dengan berat hati satu umpan amatir kuberikan pada Tahta, sang kapten, yang langsung menyundul bola dengan sisi kanan kepalanya. Namun, Keeper tak mau kalah, ia menepis bola kedalam lapangan pada waktu yang tepat. Tak sampai disitu saja Rifki pun ikut serta dalam perselisihan itu, ia melakukan chip volley tinggi diatas keeper yang terjatuh, dengan keras bola melesat melintasi tumpukan sendal-sendal gawang dan meningalkan area pertandingan, menciptakan gol sehingga kita memipin dengan sekor 5-3. Pada menit ke 80-an ‘ehh inget ngak ada intermission’ ,

Kapten JFC melakukan gerakan hell kick flick pada Huda yang seketika itu terkecoh, ia melakukan one two bersama temannya, dan ia melakukan tendangan volley rendah yang langsung menjebol gawang timku. Skor menjadi 5-4, karena pertandingan ini tak ber wasit dan tak diberi batas waktu, maka yang perlu di lakukan ialah mencetak angka sebanyak-banyaknya sampai ada di antara kami yang terkapar kecape’an. Tapi asal kalian tahu pertandingan itu usai bukan karna kami kecape’an melainkan ketika bola yang kami rebutkan terpental jauh melambung menghantam teravo lampu alun-alun dengan begitu kerasnya. Akibatnya lampu alun-alun mati dengan seketika! “ waduh!...., kabuuur....* woy ojo lali sandale,” “sandalku neng di? #%^ “ heh iku sandalku!”. Kami ketakutan bukan kepalang melebihi takut kami saat menghadapi Mbah Syem (direktur pondok) ngamuk.
Entah apa yang kami takuti, hingga harus merelakan sandal pada jebot. Padahal kabur dari pondok saja menjadi hal yang membanggakan, tapi mengapa hanya karna lampu alun-alun mati kami musti kayak maling lompat sana ngumpet sini. Kalo begini kesimpulannya berarti memang sudah tidak terbesit lagi sifat tanggung jawab di dada kami.

Langkah kami semakin melambat seiring semakin jauhnya alun-alun dari pandangan kami, tak selang beberapa lama sohabatku Afix tanpa beban memutuskan agar perjalanan ini dilanjutkan ke rental PS, padahal belum kering keringat di tubuh kami. Sekarang terbukti jika saiton itu memang tak akan pernah lelah bila sudah berurusan dengan misinya yakni menggoda manusia.
“Ana Muflis ni” ujar Khafidz memanja.
“Ya, lagi pula mata ku wis riyep riyep ki !” saut Daus sembari mengucek matanya.
“Menara ya’ !” yang lain menyauti.
Meski mereka tak bermaksud membela aturan pondok aku turut gembira ada dari kawanku yang tidak berminat menuju rental PS, andai insiden ini terjadi tentu akan menjadi pelanggaran pondok ke 2 bagi kami. Memang benar di dalam nas Al-Qur’an tak ada yang menerangkan keharamannya sehingga ini menjadi perkara kontemporer yang harus disesuaikan dengan peraturan yang berlaku.
Meskipun yang berniat ke rental PS resesif tetap saja tak menyurutkan hasrat para pecandu PS hadir ke tempat terlarang itu. Kejadian ini menggambarkan hukum (–) x (+) = (–) keburukan yang walau didalamnya ada kebaikan hasilnya akan menjadi buruk. Solusinya kami yang (+) harus memisahkan diri dari yang (–), tak ada pilihan lain selain berpisah dari yang (–) agar tak ada yang terkontaminasi.

Kamipun memutuskan bermalam di masjid yang dibangun sunan jaffar shadiq, yang di sana banyak orang berbondong bondong minta-minta, ya.. minta di panjangin umurnya lah, dilulusin sekolahnya lah, dikayakan hartanya lah, bahkan minta dikasih receh pun ada alias pengemis he,he,he.. yang jelas mintanya selain kepada Allah SWT (musrik). Tapi ada juga yang tidak musrik ko’, ya.. kayak kita-kita ini ni, didikan ponpes Muhammadiyah dengan doktrin murni dari nabi Muhammad masak percaya ama hal yang khurofat kaya’ gitu mau dibawa kemana wajah KH. Ahmad Dahlan.
Kami terus menyusuri jalan beraspal yang tak kunjung dingin, padahal sesekali angin malam menerpa tubuh kecil kami. Terus melangkah dengan berharap masjid yang kami idamkan telah di depan mata, agar bola mata yang kian memerah ini segera tertutup rapat rapat.

Sampailah di bagian yang mengingatkanku akan sejarah perang diponegoro tepatnya tatkala rakyat pribumi bersatu dalam semangat "Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati"; sejari kepala sejengkal tanah dibela sampai mati. Namun ini tidak ada sangkut pautnya dengn perebutan tanah, karna ini adalah kejadian yang bermula ketika kami telah berjalan jauh meningalkan komunitas PS tiba-tiba dari ujung jalan tampak segrombolan anak anak muda yang postur tubuhnya menggingatkan kami dengan para pecandu PS itu,
“Ya itu memang mereka, lihat saja ada yang sandalnya jebot itukan Huda” ujar Farizi sembari melenggak lenggokkan kepalanya.

Setelah dirasa opserfasi sudah cukup teliti, Azkipun angkat bicara
“Hei! Aku punya ide nih, gimana kalo perjumpaan ini kita bikin mirip kayak adegan tawuran!, kayak anak STM yang di tp-tp itu.tu... ”

Kami berlari dengan begitu menjiwai seolah menujkukan bahwa kami memang bakat dalam tawuran. Harap maklumlah, dipondokkan udah sering tawuran kalo ayam lauknya. Di sisi lain, para PS-man juga nampak ter Ilhami menanggapi sandiwara ini mereka berlari kencang menghampiri kami.
“heyaaaaaaaaa!!!” gemuruh suara kami.

Padahal kami tahu disekitar TKP banyak bapak-bapak lagi asik ngumpul main catur sambil ngemil kacang godok, e..malah gara-gara ulah kami, kacang godoknya ketuker ama pion, wak ka’ ka’ ka’.. Oops.
“E .e.e..... ka..mpul !” peki’ salah satu warga karena kecewa melihat kami enga’ jadi pukul-pukulan malah berlaga layaknya aktor Keanu Charles Reeves pas main di film Matrix meranin tokoh Neo.
Saat itu aku tak sempat berfikir jikalau notabenku adalah seorang santri 13 th, yang ada hanya perasaan gembira soalnya rental PS yang mereka tuju tutup, jadinya kami bisa pergi ke masjid sunan kudus bareng-bareng.
Tak kusangka kaki ini telah hadir di permukaan tanah menoro, debu yang sekian lama menumpuk di raut muka segera tersterilkan oleh air wudhu. Sebelum terpejam kami sempatkan mendirikan solat malam meski terkadang dengungan ahli dzikir sempat mengganggu.

Di keheningan malam -/+ jam tigaan, kenyamananku bermimpi mulai terusik saat kudengar suara aneh yang terus merambat ditelingaku *#^%*)(@!?>+! “Hiiiiii....,..” sepontan aku terprangah melihat tubuh O yang dibelai pemuda cantik bertingkah kemayu.
“Suts sutsO,O.bangun, ..bangun” kawan ku berusaha membangunkannya dengan suara lirih. Kami tak mampu berbuat banyak karna banci itu badanya kekar, tapi untunglah ada orang bawa’ gagang pell dengan suara lantangnya mengusir si banci tadi, seketika si banci kabur tergopoh gopoh sembari terdengar ia menggerutu.
“Nang ! omahmu ngendi ?”seru si tukang pell.
“ndha’an pak”balas O ngibul.
“bali kono Masjidte apek ano pengajian” serunya.
“Huh* untunglah O masi berjaka kalau ga’ jadi repot urusanya” sindir kawanku.
Ada yang mengganjal bagiku. Sebenarnya apa alasanya hingga banci barusan bisa dibuat kawanku O mabuk kepayang. E,,,Ternyata setelah ku infestigasi semua ini berawal dari ulah O tatkala beranjak ke rental PS ia menggoda si banci !. jadi sekarang sudah jelas,semua ini dikarenakan hukum kausalitas atau bisa di terangkan melalui perinsip archimedes "Jika suatu benda dicelupkan ke dalam sesuatu zat cair, maka benda itu akan mendapat tekanan keatas yang sama besarnya dengan beratnya zat cair yang terdesak oleh benda tersebut".
Dengan sesal bercampur rasa geli karena nasib O barusan, kami jadi kesulitan menentukan kemana lagi kita harus singgah, jikapun ke pondok, yang ada malah digrebek, masak ke alun-alun lagi, ya.. udah lah emang disana nasip kami berikutnya.
Kepergian kami disambut para santri salafi yang berdatangan memenuhi panggilan sang kyai, dengan ditemani kitab kuning yang tertempel di dadanya mereka siap mengabdi pada guru.

Entah apa yang membuat mereka berbeda dengan kami yang hanya bisa perotes dan mengkritik, jika di tela’ah dengan seksama mungkin santri modern memang takkan mungkin 100% percaya terhadap gurunya namun hal ini akan menciptakankan penyaluran ilmu yang dapat terevaluasi melalui dobrakan dobrakan yang dilakukan santri-santrinya tapi sayangnya hal ini berdampak pada mental ketawadhu’an mereka terhadap guru. Oleh karna itu mau santri salaf atau modern yang terpenting tawadhu’ dan tidak menjadi santri yang pasif /hanya menerima materi dari sang guru tanpa mengetahui kebenaranya.

Mata kering memerah, kaki mengeras, sekujur tubuh lengket oleh keringat terasa sedikit terobati ketika kami telah berhasil menaklukan medan yang jauh dan bisa berbaring pulas di teras masjid agung Kudus.
“tak tak tak tak taktak tak, dung.... dung.... dung dung dung dungdung dung...dung.......dung..,Allah.......................huak,barAllah........................huak,bar”, suara muazin yang mirip kaya’ Afgan itu menandakan subuh telah tiba. Meski sedikit malas-malasan karena ga’ ada pak Hasan ngopyai ,kami tetap menunaikan salat subuh dengan iman yang masih tersisa di hati.

Takbirotulikrom lalu membaca alfatihah + ayat-ayat dalam al qur’an kemudian ruku’ lalu iktidlal dan next, e.’.’.’. eladalah! kami tersungkur sujud tanpa tahu kalo ada do’a kunut, tanpa bosa-basi seketika layaknya video direplay kami kembali tegak. Meski di dalam salat kami sedikit malu dengan jama’ah lainya karna memperjuangkan karakter, kami tetap berusaha mengahiri salat itu dengan khusyuk.
Setelah menunaikan ritual ibadah yang jarang-jarang bisa ditemukan di masjid kami. Kami segera beranjak keluar kemudian duduk-duduk menikmati asap knalpot yang semakin mengusir udara subuh hanya untuk memperoleh mentari terbit dari balik gedung Ramayana.

Apakah ini yang disebut O sebagai kebebasan. Yang bisa keliling supermarket, sepakbola bareng anak jalanan dan main PS sampai-sampai harus dipeluk banci. Kalo memang benar itu kebebasan maka apa bedanya kita dengan gelandangan atau lebih extrimnya binatang yang baginya kebebasan berupa perbuatan tiada aturan. Padahal seasik apapun kebebasan takkan sedikitpun lepas dari resiko yang telah disiapkan oleh Allah. Lantas mungkinkah santri dengan mental macam kami kelak akan memperoleh cahayaNya, hanya do’a yang dapat ku panjatkan.
Ini hanya sekeping kisah pesantren yang masih terpatri dimemori setiap pelakunya adapun hikmah didalamnya itu tergantung dari hati yang merasakan.

PROFIL PENULIS
Nama saya Faqih Sulthan, Lahir dengan darah kota ukir, tumbuh di tanah kota wali, menimba ilmu di bawah langit kota keretek (ponpes muhammadiyah kudus). 

Baca juga Cerpen Remaja dan Cerpen Islami yang lainnya.