Rabu, 17 Agustus 2011

Cerpen Pengalaman Pribadi : Sebening Embun

Pengalaman Pribadi adalah sejarah kita dalam kehidupan, dalam pengalaman peribadi mungkin ada kalanya kita megalami diatas dan dibawah dan sebuah pengalaman pribadi akan lebih menarik apabila kita menuangkannya dalam sebuah tulisan yakni Cerpen, dalam Cerpen Pengalam Pribadi ini akan memngingatkan kita dengan adanya sebuah kematian dan dengan Cerpen pengalaman Pribadi ini semoga kita bisa meningkatkan iman dan taqwa kita terhadap sang pencipta, Oke langsung saja berikut ini adalah Cerpen Penglaman Pribadi Sebening Embun.

Sebening Embun
“Hallo.. selamat malam, bisa bicara dengan Didit?” ucapku pada orang yang sedang menjawab teleponku, suara itu terdengar ramah.
“Oh.. Diditnya sedang ke dokter, mbak. Kayaknya sebentar lagi pulang, soalnya udah dari tadi sore perginya. Mbak coba lagi aja telepon kira-kira setengah jam lagi? Atau mungkin ada pesan mbak? Nanti saya sampaikan.”
Rupanya Dwi yang mengangkat teleponku. Dwi adalah adik lelaki Didit yang pertama, dia kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung. Didit sendiri adalah anak sulung yang saat ini sedang mencoba berkarier di perusahaan percetakan. Aku mengenalnya ketika sama-sama terlibat dalam satu proyek pelatihan kewirausahaan.
“Ini Dwi ya? Mm.. ya udahlah Dwi, nanti aja aku telepon lagi. Makasi ya?” lalu ku tutup telepon. Didit sakit? Hmm.. sakit apa lagi ya? Sebenarnya bukan hal aneh kalau mendengar kabar Didit sakit. Temanku yang satu ini memang dikenal sebagai orang yang mudah sakit. Jika ku perhatikan, dia seperti bukan orang yang enerjik, kelihatan lemah lunglai dan tidak bergairah. Tapi ada yang aku suka darinya, dia orangnya baik, supel dan sangat taat beragama. Dalam pergaulan, dia tak pernah membeda-bedakan orang yang menjadi temannya. Semua orang yang mengenalnya pasti selalu mengungkapkan bahwa dia seorang yang sangat baik sehingga orang-orang selalu betah untuk berlama-lama dengannya. Begitupun aku, rasa simpatiku muncul berawal dari pertemanan ini. Apalagi dia termasuk lelaki yang smart, hmm.. aku paling suka sama lelaki smart.
“Krriiiiiiiiing.. kriing..” Uupss.. bunyi telepon di kamarku cukup membuat aku terkejut setengah mati, buyar deh lamunanku tentang Didit. Buru-buru ku angkat telepon sebelum menjerit untuk yang ke tiga kalinya.
“Yaa.. halloo?!”
“Halloo.. met malam, Nitanya ada?”
Aaahhh.. sepertinya aku kenal suara khas itu.
“Didit ya?” suaraku terdengar nyaring, mungkin karena aku merasa gembira dan tebakanku tidak meleset.
“Hehehee..” ku dengar tawanya renyah di sana. Langsung saja ku tanya kabarnya juga tentang sakitnya. Beberapa saat aku dan dia terlibat pembicaraan yang seru, sesekali kita tertawa membicarakan kekonyolan teman yang juga sobat kami, Niken. O ya, kita berteman empat orang. Didit, Defra, Niken dan aku adalah empat sekawan yang selalu bersama-sama ke manapun kita pergi. Kita bertemu dalam satu proyek dan tetap dekat, meskipun proyek telah usai.
Tak lama kemudian, ku dengar ia terbatuk-batuk. Aku agak meringis mendengarnya. Seperti batuk yang ditahan dan sakit kedengarannya.
“Iya nih, batukku gak sembuh-sembuh, Nit. Makin hari, malah makin parah saja. Aku malah udah 5 hari gak masuk kantor.” Waah.. separah itukah batuknya? Aku teringat kembali kala kita masih sama-sama beserta teman-temanku yang lain. Mengerjakan proyek bersama, berdiskusi bersama, makan siang bersama, bahkan pulang pun selalu bersama. Aku tahu dari Defra, kalau dia memang mengidap berbagai macam penyakit, entah itu berat atau ringan, aku sendiri tak tahu. Yang pasti, sinusitis adalah salah satu penyakit langganannya. Mungkin karena sekarang setiap hari dia harus bermotor lagi. Ku dengar, Kijang SX abu yang selalu dia pakai telah dijual untuk kebutuhan ayahnya. Hmm.. kadang aku trenyuh mendengarnya, ia begitu perhatian terhadap keluarganya terutama pada ayahnya.
Makin lama, batuknya terdengar makin panjang. Aku tak tega mendengarnya. Karena itu..
“Dit, ngobrolnya distop dulu deh. Kasian kamu batuk-batuk melulu. Aku gak tega dengarnya, ntar aku yang telepon kamu lagi ya. Sekarang, kamu istirahat aja dulu.”
Akhirnya, pembicaraan kami usai setelah tiga kali aku memintanya untuk menutup telepon karena aku tak tega mendengar batuknya.
Seminggu berlalu, aku sibuk dengan pekerjaanku. Beberapa makalah belum aku selesaikan, padahal makalah ini harus selesai besok untuk dipresentasikan bossku di depan audiens training komunikasi. Aah.. aku teringat janjiku untuk menelepon Didit. Bagaimana keadaannya sekarang ya? Sudah sembuhkah ia? Aku sendiri heran, kenapa teman-temanku tak ada yang kasih kabar padaku soal kondisi Didit hari ini. Apa mereka pun sangat sibuk sampai melupakan Didit? Atau mereka tidak tahu kalau Didit sakit? Sejak proyek usai, kontak hanya dilakukan lewat telepon dan email. Defra diterima sebagai perwira Angkatan Laut dan harus bertugas di Papua, sedangkan Niken, dia kembali ke posisinya sebagai mahasiswa Ilmu Politik yang sibuk menyelesaikan skripsinya.
Aku kembali tenggelam dalam pekerjaanku menyelesaikan sisa makalah komunikasi sambil ku nyalakan MP3 player di komputer kerjaku. Lagu “Lea” Toto pun mengalun, menemani kesibukanku. Aku teruskan ketikan makalah untuk bossku. Rumit juga ya, mengerjakan sesuatu di kala kurang konsentrasi? Apalagi kalau bahan untuk menyusun makalah dirasa kurang lengkap. Tapi, aaahh.. akhirnya, selesai juga makalah ini. Segera ku susun pula dalam power point mengingat bossku suka mempresentasikan makalahnya memakai proyektor. Waktuku hanya tinggal satu jam lagi sebelum menjelang jam pulang.
Waktu menunjukkan pukul lima sore lewat lima menit. Aku buru-buru membereskan bahan-bahan makalah dan meja kerjaku untuk bergegas pulang, agar bisa cepat-cepat menelepon temanku, Didit.
Ku tekan nomor itu, lalu ku dengar telepon diangkat. Langsung ku sapa, “Halloo.. selamat malam, bisa dengan Didit?” beberapa detik ku tunggu jawab dari telepon itu.
“Yaa.. ini Didit, Nita?” waah.. rupanya dia sendiri yang menerima langsung teleponku. Tapi, kenapa suaranya tak seperti suara yang selama ini ku kenal ya? Aku hampir tak mengenalinya. Suara ini begitu serak, berat dan seperti menahan sakit. Apa sakitnya belum sembuh juga?
“Hai Dit, gimana kabarmu? Udah baikan? Sepertinya masih batuk ya?” aku membuka pembicaraan.
“Belum Nit. Batukku makin parah, dadaku kadang terasa sakit. Jadinya, aku gak bisa ngobrol banyak. Kadang aku malah gak sanggup untuk terima telepon. Aku suka minta orang rumah untuk bilang aku sudah tidur kalau ada yang telpon aku. Makanya, maaf ya kalau besok-besok, kamu terima telepon dari rumahku seperti itu.”
Waah.. aku jadi merasa seperti orang bersalah, karena aku telepon dia saat ini. Padahal aku hanya ingin tahu kabarnya saja. Tapi, menurutnya malam ini aku beruntung sekali karena dia sedang dalam kondisi lumayan sehingga bisa terima teleponku. Senangnya aku mendengar jawaban ini darinya. Aku rekam dalam ingatanku, dia tak boleh ngobrol banyak. Karena itu, aku juga ngobrol seperlunya saja. Bercerita soal kerjaanku, juga kabar teman-teman. Ya, dia menanyakan kabar teman-temannya. Mungkin karena ia sendiri belum ketemu mereka sejak proyek usai.
Sudah sepuluh menit, aku harus menutup teleponku. Aku takut, dia kecapekan karena harus membalas obrolanku. Tapi, anehnya dia tetap saja bercerita. Aku jadi tak enak untuk menghentikannya. Ku dengar dengan seksama ceritanya dan sesekali ku tanggapi. Sepertinya dia tak mau cepat-cepat mengakhiri obrolan ini. Gimana ya?
“Dit.. udah cape belum? Jangan lupa, kamu harus banyak istirahat. Aku gak mau teleponku ini ganggu istirahatmu.” Tapi, dia tak hiraukan ucapanku. Dia tetap saja asyik bercerita padaku. Sepertinya, malam ini dia punya teman ngobrol? Dan sepertinya aku menelepon di waktu yang tepat. Hmm.. aku jadi ingat rasa simpatiku padanya, mungkinkah?
Akhirnya, terpaksa harus ku akhiri juga obrolan ini karena aku mulai mendengar batuk sakitnya. Suaranya terdengar agak kecewa, karena aku memutuskan obrolan ini. Seperti biasa, aku janji padanya akan telepon beberapa hari lagi untuk mengetahui kondisinya. Suaranya terdengar gembira dan aku senang mendengarnya. Dalam hati ku berdoa, semoga ia cepat sembuh.
“Kriiiiiiing..” bunyi telepon menyadarkan aku ketika sedang asyik menyusun buku-buku pustaka bossku yang harus aku susun alphabetis.
“Yaa.. haloo selamat siang?” ternyata pak Ujang bawahan bossku yang dulu sama-sama diperbantukan di proyek. Dia memberiku kabar tentang sakitnya Didit. Aku tanya perkembangannya, mengingat sudah beberapa hari ini aku belum sempat menelepon Didit lagi.
“Mbak Nita, Mas Didit sekarang kondisinya makin parah. Saya kemarin nengok dia, kasihan sekali mbak sampai gak tega lihatnya juga. Kalau bisa, mbak sempatkan nengok juga, buat sekedar kasih motivasi aja, soal umur kan kita gak tau mbak.” Aku terdiam mendengar cerita Pak Ujang tentang Didit. Padahal tempat kerjaku kebetulan berdekatan dengan rumah DIdit yang hanya beda satu komplek saja, tapi aku belum menyempatkannya. Aku bingung, datang ke rumah Didit sendirian, duh.. apa gak jadi tanda tanya orang tuanya ya? Selama ini yang aku lakukan memang hanya meneleponnya saja. Buru-buru ku tepis perasaan itu. Sepertinya omongan pak Ujang benar juga, umur manusia tidak bisa diprediksi. Aku jadi tergugah untuk menengok Didit, daripada aku menyesal. Sebenarnya dia sakit apa ya? Pak Ujang sendiri belum tahu karena memang Didit sakit masih menjalani perawatan di rumah saja.
“Met malam.. Didit ya? Gimana kabarnya sekarang?” ku dengar dia terdiam, seperti sedang ambil nafas panjang sebelum akhirnya membalas pertanyaanku.
“Kondisiku masih sama Nit. Kemarin aku check-up ke dokter, katanya ada tumor di paru-paruku besarnya kira-kira sebesar telur ayam. Tumor ini ada di antara sekat paru-paruku, makanya bikin aku susah nafas dan kadang-kadang dadaku sakit jadi untuk mengurangi sakitnya aku batuk-batuk. Kata dokter harus dioperasi, biayanya sekitar 30 juta. Aku gak punya uang sebesar itu, lagi pula peluang hasil operasi ini fifty-fifty. Si pasien bisa sembuh atau malah meninggal. Jadi ku pikir, kalau hasilnya seperti itu lebih baik gak usah dioperasi. Aku mau coba pengobatan alternatif aja yang lebih murah. Aku udah pasrah kok sekarang.” Aku terdiam mendengarnya. Aku hampir menangis mendengar cerita Didit. Ya Allah.. segitu beratnya cobaan yang Engkau berikan pada temanku? Teman sebaik dia harus menanggung cobaan ini? Suara Didit seperti yang ringan beban, dia begitu pasrah pada kondisinya. Tak ada kalimat keluhan sedikitpun. Aku salut padanya, dalam kondisinya yang mungkin akan menghadapi maut, dia masih bisa tersenyum. Motivasinya untuk sembuh bisa aku rasakan. Aku jadi ingin bertemu dengannya. Aku ingin lihat kondisinya langsung, aku jadi teringat cerita pak Ujang dua hari yang lalu.
Lalu, ku telepon Niken untuk coba mengajaknya menengok Didit. Tapi, saat ini dia sedang sibuk-sibuknya. Dia menolak aku ajak, karena harus bolak-balik mengurus skripsinya. Dia janji padaku akan menengok Didit begitu kesibukannya berkurang. Duh.. kenapa susah sekali mengajak orang untuk menemaniku ke rumah Didit?
“Hai Nit.. sibuk banget nih? Gimana buku pustaka bossmu udah ampe mana dientry?” Nanin datang menghampiriku, aku sedang asyik memasukkan judul-judul tumpukan buku pustaka ke komputer yang ada di meja kerjaku. Aku membalas sapaannya. Nanin adalah orang yang dikontrak boss untuk membantuku menyusun buku-buku pustaka secara alphabetis. Dia dosen komunikasi yang juga pustakawan. Program buatannya dibeli bossku sebagai penunjang pustaka. Saat ini dia adalah trainerku untuk adaptasi penggunaan program buatannya. Tidak terlalu sulit, hanya butuh sedikit ketelatenan saja agar buku-buku yang dimasukkan tidak terlewat judul maupun isinya. Sesekali aku tanya Nanin, jika ku kesulitan menentukan jenis buku yang ku masukkan.
Selama beberapa jam aku asyik dengan kesibukanku, begitupun Nanin. Ku lihat dia sedang menempel label pustaka yang telah aku cetak tadi. Setelah itu, buku-buku yang telah didata dan ditempeli label, disusun ke rak buku sesuai dengan nomor jenis buku.
Waktu menunjukkan pukul empat sore. Aku teringat niatku untuk menengok Didit. Ahaaa.. kenapa tak ku ajak Nanin saja?
“Nin.. mau anter aku nengok temenku gak? Dia udah sakit lama banget hampir dua bulan gak sembuh-sembuh, tumor paru. Aku pengen nengok, cuma gak ada temen. Gak enak nih, abis temen laki-laki. Mau gak Nin? Ntar sore ya? Deket kok di komplek sebelah.” Aku ngomong sambil sedikit memohon, please..
Ku lihat Nanin sedikit tersenyum, “Temen spesial ya?” mimik jahil diapun tampak. Aku nyengir dibuatnya, serasa kepergok mendadak. Nanin diam sejenak, aku harap-harap cemas. Untuk lebih meyakinkannya, aku pun cerita panjang lebar soal penyakitnya. Pikirku, pokoknya sore ini aku harus jadi nengok Didit.
“Oke.. ntar sore aku temenin.” Aaahhh.. senangnya aku, akhirnya ada juga yang mau temani ke rumah Didit. Sepertinya omonganku begitu persuasif ya? Bikin Nanin mau berkorban untukku.
“Assalamu’alaikum..” ku lihat ada dua orang tamu di rumah Didit. Aku dan Nanin disambut ayah Didit. Rumahnya yang mungil, kelihatan begitu asri dan rapi. Ibunya muncul dan menyalamiku, aku sapa Didit yang duduk dekat ruang makan. Dia tersenyum padaku dan membalas sapaanku. Rupanya tamu itu, pak Dadi dosen fakultas tempat bossku mengajar yang juga senior kelas Didit waktu kuliah. Aku kenal, karena selalu kontak dengannya jika ada urusan soal perkuliahan. Kerjaanku memang berhubungan dengan akademik, karena itu aku kenal dekat dengan beberapa dosen tempat bossku mengajar.
Didit terlihat diam, sangat jauh berbeda jika ketemu aku di telepon. Tapi aku tak terlalu ambil pusing, yang penting saat ini aku bisa lihat keadaannya. Dia terlihat seperti orang yang sehat, hanya wajahnya sangat pucat. Tak ada kesan kurus di badannya, semuanya terlihat biasa namun sangat jelas, kalau dia seperti menahan sesuatu yang sakit dan semua orang tidak perlu tahu. Mungkin dia lebih suka menikmatinya sendiri sehingga orang yang melihatnya tetap seperti orang yang sehat. Sesekali dia mengajakku ngobrol dan aku menjawabnya sambil ku perhatikan mimiknya. Lemah sekali.
Satu jam berlalu, hampir maghrib aku memberi kode pada Nanin untuk segera pulang. Ku pikir, dia harus istirahat lagi. Ku lihat pak Dadi pun hendak bersiap-siap pulang. Sore itupun aku pamit pada ayah ibunya dan juga Didit dan tak lupa mendoakannya. Aku melihat satu harapan di dirinya. Sepertinya dia merasa senang karena aku menengoknya. Mudah-mudahan menjadi satu harapan pula untuknya agar tetap tidak menyerah pada penyakitnya.
Satu bulan berlalu, sejak aku menengoknya. Aku tidak tahu kondisi Didit sekarang. Kesibukanku membuat aku tidak ada kesempatan untuk tahu kabarnya. Lagi pula aku sendiri tak mau mengganggu istirahatnya, karena setiap kali aku telepon aku tak pernah bisa lagi ngobrol langsung dengannya. Biasanya aku hanya ngobrol dengan ayahnya karena dia sedang istirahat.
Pagi tadi sebelum aku sampai tempat kerjaku, aku lihat iring-iringan jenazah masuk gang rumah Didit. Rumah Didit memang bersebelahan dengan komplek pemakaman umum. Anehnya, aku deg-degan dibuatnya. Aku teringat Didit. Tapi buru-buru ku tepis pikiran itu jauh-jauh.
Ku lihat di luar jendela depan meja kerjaku panas terik disertai hujan rintik-rintik. Kenapa pikiranku tertuju pada Didit lagi ya? Dia sedang apa sekarang? Hari ini tanggal 14 November. Ada apa ini? Aku benar-benar ingin tau kabarnya. Mungkin nanti sore aku telepon ke rumahnya. Namun, ku urungkan niatku karena takut mengganggu istirahatnya. Sejak ku hanya bisa ngobrol dengan ayahnya saja, aku memang jadi agak jarang meneleponnya lagi. Semoga kondisinya membaik. Ayahnya pun sudah terlihat pasrah.
“Kriiiiiinngg.. kriiing..” telepon di kamarku bunyi. Jam berapa ini? Jam 04.30.. siapa ya subuh-subuh begini telepon? Buru-buru ku angkat telepon yang tepat di atas sandaran kepalaku.
“Halloo..” aku agak berat mengangkatnya. Rasa kantukku tak tertahankan, padahal aku harusnya sudah bangun untuk shalat subuh.
“Assalamu’alaikum.. dengan Nita ya?” hey.. sepertinya aku kenal suaranya, Fikri. Dia teman baik Didit juga, hanya pertemananku dengannya tak sedekat dengan Didit, Defra dan Niken. Lagi pula baru kali ini dia telepon aku. Lalu, ada apa ya subuh-subuh dia telepon aku? Tumben.
“Alaikum salam.. iya Fik, tumben telepon. Ada apa?” suaraku terdengar berat. Ku dengar dia agak ragu untuk menyampaikan sesuatu.
“Ini Nit.. mm, kamu udah tau soal kabar Didit belum? Aku mau nyampein tadi dini hari jam 02.30 Didit udah ninggalkan kita semua untuk selamanya. Dia udah meninggal Nit..” Dhhuuuuaaaaaarrr!! aku merasa sedang disambar petir saat aku mendengar kabar ini dari Fikri. Suara Fikri terdengar terbata-bata. Spontan aku ucapkan Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.. aku langsung menangis saat itu juga. Kenapa secepat ini ya Allah Kau panggil teman terbaikku? Aku terus menangis dan terus menangis.
“Kita pasrahkan aja pada Allah Nit.. yang penting jangan lupakan untuk doakan Didit, mudah-mudahan amal ibadahnya diterima di sisi Allah SWT.” Suara Fikri menahan tangisku. Obrolan disudahi karena dia harus kontak teman-teman lainnya dan aku pun harus memberitahu teman-temanku. Niken, Defra apa mereka sudah tahu?
Niken menangis. Tangisannya malah tak berhenti di telepon, padahal aku sudah berusaha berkali-kali menghiburnya. Dia menyesal sekali, karena saat aku ajak menengok dia tolak ajakanku dengan alasan sibuk skripsi. Dia menyesal kenapa tidak menerima ajakanku saat itu. Dia menyesal karena selama Didit sakit, justru dia jarang kontak. Aku tetap mendengar semua penyesalan Niken. Aku teringat dua hari yang lalu, perasaanku sangat tidak enak soal Didit. Aku pun sempat menyesal, kenapa hari itu aku urungkan niatku untuk meneleponnya? Padahal kata Fikri, hari itu adalah hari Didit masuk rumah sakit karena kondisinya bertambah parah. Dia sempat anfal di rumah sakit. Seandainya hari itu aku jadi menelepon, mungkin aku bisa langsung menengoknya pula di rumah sakit. Tapi, semuanya sudah terjadi. Jalannya memang harus seperti ini. Aku pun teringat akan asaku.
Pagi ini, 16 November aku siap-siap untuk menghadiri pemakaman teman terbaikku. Dengan tangis yang tak henti-hentinya, aku coba untuk lebih kuat dari Niken. Aku bersyukur, karena di saat-saat terakhirnya aku sempat merasakan lebih dekat dengannya. Aku bersyukur karena di saat sebulan sebelum kematiannya, aku sempat menengoknya. Aku bersyukur karena diberi kesempatan menjadi orang yang pertama mendapat kabar kematiannya. Aku bersyukur, dia telah bebas dari penderitaannya. Semoga ini yang terbaik untuknya. Selamat jalan sobat.. suatu saat, aku pun pasti akan menjadi bagian dari duniamu. Engkau teman terbaik yang pernah ku punya bagai sebening embun yang selalu membasahi setiap helai daun. L
The End

Sumber : http://gusti68.blogspot.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar