Tampilkan postingan dengan label Cerpen Anak-anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Anak-anak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Juni 2012

Diana, Peri yang Usil - Cerpen Anak-anak

DIANA PERI YANG USIL
Karya Titha

Di awan, terletak sebuah kerajaan peri. Kerajaan itu dipimipin oleh seorang Ratu yang bernama Clarion, yang biasa dipanggil Ratu Ree. Kerajaan itu sangat indah. Di timur terdapat air terjun yang sangat besar namun indah, tempat peri air bekerja. Di barat terdapat hutan yang menampilkan empat musim secara bergantian, tempat peri hutan bekerja. Di selatan terdapat rumah angin yang mengendalikan pergerakan angin di kerajaan peri ini. Sedangkan, di utara terdapat es dan salju. Di utara juga tidak ada kehidupan.

Semua peri mengerjakan tugas mereka dengan baik, kecuali Diana. Diana adalah seorang peri air yang amat usil. Kerjanya hanya menyiram peri-peri yang lewat. Hampir semua peri diusili olehnya. Karena keusilan itu, dia tidak memiliki teman.

Karena para peri tidak tahan dengan keusilan Diana, mereka melaporkan Diana pada ratu Ree. Setelah para peri kembali, Diana mendapat undangan untuk minum teh sore itu.

Apakah Diana datang? Tentu saja dia datang. Diana datang dengan tujuan mengacaukan pesta minum teh. Sayang, niat Diana terlaksanakan. Dia menggerakkan air teh dan menyiram semua peri, bahkan ia menyiram Ratu Ree.

Para peri marah dan menyeret Diana ke ruang pengadilan. Selama ini, tak seorangpun peri yang membuat masalah hingga diadili. Bahkan, saat diadili Diana masih bersikap kurang ajar.

Karena sikapnya itu, Diana mendapat hukuman. Diana diusir dari timur. Padahal, rumahnya ada di Timur. Maka, Diana berjalan dengan gontai tanpa tujuan.

Di perjalanannya, Diana menangis. “Huhu… kenapa aku diusir? Aku kan hanya sedikit usil.”

Cici kelinci yang memiliki hati yang lembut sedih melihat Diana menangis.
“Ada apa peri kecil? Mengapa kamu menangis? Berhentilah menangis dan mampirlah ke rumahku.” ujar Cici kelinci.
“Huhuhu… Aku diusir dari rumahku. Sekarang aku tidak memiliki rumah lagi.”
“Sungguh kasihan nasibmu. Apakah kamu mau tinggal dirumahku untuk sementara?” tawar Cici kelinci.
“Terima kasih, bu kelinci. Namaku Diana. Siapa namamu?” tanya Diana
“Namaku Cici.”

Diana kini memiliki teman, yaitu Cici kelinci. Setiap hari dia membantu Cici kelinci mengerjakan tugasnya. Jika pekerjaan Cici kelinci telah selesai, Diana bermain dengan Cici kelinci. Tanpa Diana sadari, ia telah berubah. Suatu hari, Cici kelinci berbicara pada Diana.
“Diana, kurasa kini saatnya kamu kembali kerumahmu. Kamu sebenarnya peri yang baik.”
“Begitukah Cici kelinci? Kalau begitu, aku akan kembali kerumahku. Terima kasih atas kebaikanmu selama ini, Cici kelinci. Selamat tinggal!” ujar Diana.

Di tengah jalan, Ia dihadang oleh peri penjaga. Diana tak diperbolehkan masuk. Dianapun menangis kembali. Seakan alam turut bersedih, hujan pun turun.

Tiba-tiba, Ratu Ree datang. Beliau membela Diana dan memperbolehkan Diana masuk. Ternyata, Cici kelinci adalah Ratu Ree! Beliau menyamar dan merubah sifat Diana. Sekarang, Diana tidak lagi mengganggu peri-peri lain dan mendapat banyak sekali teman.

PROFIL PENULIS
Nama : Tithasiri Audi Rahardjo
TTL : Semarang, 29 Juni 1999
Hobi : Nyanyi, ngarang, renang, makan, tidur
Zodiak : Cancer
Sekolah : SMPN 01 Curup Kota
Alamat : Jalan D.I Panjaitan no 91 Curup-Bengkulu
Motto : No day without laugh! :D

Baca juga Cerpen Anak yang lainnya.

Jumat, 23 Maret 2012

Cerpen Persahabatan Anak-anak - Kancil dan Buaya

KANCIL DAN BUAYA
Cerpen Maulana
 
Suatu hari Si Kancil, binatang yang katanya cerdik itu, sedang berjalan-jalan di pinggir hutan. Dia hanya ingin mencari udara segar, melihat matahari yang cerah bersinar. Di dalam hutan terlalu gelap, karena pohon-pohon sangat lebat dan tajuknya menutupi lantai hutan. Dia ingin berjemur di bawah terik matahari.

Di situ ada sungai besar yang airnya dalam sekali. Setelah sekian lama berjemur, Si Kancil merasa bahwa ada yang berbunyi di perutnya,..krucuk…krucuk…krucuk. Wah, rupanya perutnya sudah lapar. Dia membayangkan betapa enaknya kalau ada makanan kesukaannya, ketimun. Namun kebun ketimun ada di seberang sungai, bagaimana cara menyeberanginya ya? Dia berfikir sejenak.
 
Cerpen Kancil dan Buaya

Tiba-tiba dia meloncat kegirangan, dan berteriak: “Buaya….buaya…. ayo keluar….. Aku punya makanan untukmu…!!” Begitu Kancil berteriak kepada buaya-buaya yang banyak tinggal di sugai yang dalam itu.
Sekali lagi Kancil berteriak, “Buaya…buaya… ayo keluar… mau daging segar nggak?”

Tak lama kemudian, seekor buaya muncul dari dalam air, “Huaahhh… siapa yang teriak-teriak siang-siang begini.. mengganggu tidurku saja.” “Hei Kancil, diam kau.. kalau tidak aku makan nanti kamu.” Kata buaya kedua yang juga muncul.
“Wah…. bagus kalian mau keluar, mana yang lain?” kata Kancil kemudian. “Kalau cuma dua ekor masih sisa banyak nanti makanan ini. Ayo keluar semuaaa…!” Kancil berteriak lagi.
“Ada apa Kancil sebenarnya, ayo cepat katakan,” kata buaya.
“Begini, maaf kalau aku mengganggu tidurmu, tapi aku akan bagi-bagi daging segar buat buaya-buaya di sungai ini,” makanya harus keluar semua.

Mendengar bahwa mereka akan dibagikan daging segar, buaya-buaya itu segera memanggil teman-temannya untuk keluar semua. “Hei, teman-teman semua, mau makan gratis nggak? Ayo kita keluaaaar….!” buaya pemimpin berteriak memberikan komando. Tak berapa lama, bermunculanlah buaya-buaya dari dalam air.
“Nah, sekarang aku harus menghitung dulu ada berapa buaya yang datang, ayo kalian para buaya pada baris berjajar hingga ke tepi sungai di sebelah sana,” “Nanti aku akan menghitung satu persatu.”

Tanpa berpikir panjang, buaya-buaya itu segera mengambil posisi, berbaris berjajar dari tepi sungai satu ke tepi sungai lainnya, sehingga membentuk seperti jembatan.
“Oke, sekarang aku akan mulai menghitung,” kata Kancil yang segera melompat ke punggung buaya pertama, sambil berteriak, “Satu….. dua….. tiga…..” begitu seterusnya sambil terus meloncat dari punggung buaya satu ke buaya lainnya. Hingga akhirnya dia sampai di seberang sungai. Hatinya tertawa, “Mudah sekali ternyata.”

Begitu sampai di seberang sungai, Kancil berkata pada buaya, “Hai buaya bodoh, sebetulnya tidak ada daging segar yang akan aku bagikan. Tidakkah kau lihat bahwa aku tidak membawa sepotong daging pun?” “Sebenarnya aku hanya ingin menyeberang sungai ini, dan aku butuh jembatan untuk lewat. Kalau begitu saya ucapkan terima kasih pada kalian, dan mohon maaf kalau aku mengerjai kalian,” kata Kancil.
“Ha!….huaahh… sialan… Kancil nakal, ternyata kita cuma dibohongi. Awas kamu ya.. kalau ketemu lagi saya makan kamu,” kata buaya-buaya itu geram.
Si Kancil segera berlari menghilang di balik pohon, menuju kebun Pak Tani untuk mencari ketimun.

Baca juga Cerpen Persahabatan dan Cerpen Pendidikan yang lainnya.