Tampilkan postingan dengan label Cerpen Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 September 2012

Cerpen Pendidikan Islam - Indahnya Bersedekah

INDAHNYA BERSEDEKAH
Karya Anisa Nur Dinawati

Saskia adalah gadis berumur 7thn, namun dia adalah gadis yang kurang beruntung. Orang tua mereka bermatapencaharian sebagai pekerja serabutan yang tidak mempunyai penghasilan yang tetap. Saskia duduk dibangku kelas I SD, dia anak yang baik, rajin, pintar, dan patuh serta selalu bersemangat untuk menuntut ilmu. Sepulang sekolah dia selalu mencari pekerjaan untuk membantu orang tuanya membayar biaya sekolah.
“Bu aku berangkat sekola dulu ya” suara mungilnya menghampiri ibunya yang sedang mengumpulkan cucian tetangga sembari tangan mungilnya itu mencium tangan ibunya.
“Iya, hati-hati ya Kia, belajarlah yang benar ya nak” jawab ibunya sembari mengelus kepala anaknya itu.
“Iya, pasti ibu !” ujar Saskia penuh dengan semangat.
Kaki kecilnya itu berjalan menyelusuri sawah yang becek dan sungai yang sedang surut airnya, sungguh besar perjuangan gadis kecil itu untuk menuju sekolahnya itu.
SDN Maju Jaya, adalah sekolah yang belum terjamah oleh pemerintah, sekolah itu sangatlah tidak layak pakai dan saat musim hujanpun sekolah terpaksa untuk diliburkan.

Di kelas Saskia adalah siswi yang sangat aktif dan cerdas, dia mendapatkan peringkat pertama di kelas semester pertama.
“Saskia, ikut ibu dulu nak ke kantor” ucap Bu Hidayah.
“Iya bu” jawab Saskia.
Tiba di ruang kantor guru, saskia duduk dikursi usang itu.
“Nak... ini surat untuk ibu mu, besok ibu mu menghadap ibu ya” ujar Bu Hidayah pelan.
“Memangnya ada apa bu?” tanya Saskia polos.
“Kamu belum bayar SPP 5bln Nak” jawab Bu Hidayah.
“Oh soal itu, baiklah bu, terimakasih” jawab Saskia sembari beranjak pergi dari ruangan itu.

Waktu pulang sekolah pun tiba. Saskia segera menuju kamar mandi dan berganti pakaian untuk mencari pekerjaan hari ini. Lalu perlahan Saskia menuju pasar yang sudah biasa ia datangi.
“Kasihan ibu dan ayah, aku harus membantu mereka” ucapnya dalam hati.
Kali ini Saskia bekerja membantu ibu-ibu yang membawa belanjaan banyak.
“Ibu boleh saya bantu bawaannya?” tawar Saskia.
“Iya boleh nak”
Hari itu lumayan Saskia mendapatkan uang 25rb dan ia segera pulang karena waktu yang sudah sangat sore. Diperjalanan dia bertemu dengan pengemis tua, dan dia merasa sangat kasihan pada pengemis itu.
“Nenek kelihatannya lemas sekali, nenek sakit?” tanya Saskia pada pengemis itu.
“Saya belum makan 2 hari ini nak, saya hanya minum air putih saja, itupun hanya dua kali” jawab pengemis itu lemas.
“Kalau begitu ini untuk nenek, lumayan untuk nenek makan dan beli minum” sembari menyerahkan uang 25rb yang tadi dia dapatkan dari hasil kerjanya.
“Terimakasih nak, kau memang gadis kecil yang berhati mulia, semoga tuhan selalu memberikan kecukupan untuk mu” ucap pengemis itu merasa terharu dengan sikap gadis mungil itu.
“Iya sama-sama nek, kalau begitu aku pulang dulu ya nek, nenek segeralah membeli makan dan minum agar nenek selalu sehat” ucap Saskia dan beranjak meninggalkan emperan toko itu lalu ia pulang.
“Iya hati-hati nak”
“Iya nek” sembari tesenyum manis melihat nenek itu tersenyum untuknya.

Setibanya Saskia di rumah.
“Assalamualaikum...” dengan suara yang lucu itu ia membuka pintu.
“Walaikumsalam, kamu dari mana saja Kia ?” tanya ibunya.
“Tadi aku bekerja membantu ibu-ibu di pasar membawakan belanjaannya bu” jelas Saskia dengan wajah yang polos.
“Ya ampun nak, kamu ga usah bekerja lagi ya nak, tugas mu hanyalah belajar sekarang, biar ibu dan ayah yang mencari uang untuk biaya sekolah mu nak” respon ibu Saskia sembari meneteskan air mata karena ia kagum dengan anaknya yang mau ikut bekerja demi kelangsungan sekolahnya.
“Ibu ga usah nangis, Kia ga apa-apa ko” tangan kecilnya itu mengusap air mata sang ibunda.
“Maafkan ibu dan ayah ya Kia? Kami belum bisa membahagiakan mu seperti anak-anak yang lainnya, sekarang kamu mandi lalu makan ya nak” sembari mencium pipi gembilnya itu.
“Aku tidak apa-apa ibu, tapi maaf juga ya ibu, hari ini aku ga bawa uang, uangnya aku kasih untuk nenek tua yang belum makan tadi” ucap polosnya Kia memeluk ibundanya.
“Kamu memang anak ibu yang sangat cantik dan baik, itu adalah hal yang mulia, kamu ga perlu minta maaf sama ibu” jawabnya bangga pada anaknya.
“Hem ini surat untuk ibu dari bu guru, dan katanya besok ibu ke sekolah ku untuk menemui Bu Hidayah guru ku” sembari mengeluarkan surat dari tas yang sudah robek kecil dibagian kanan dan kirinya itu.
“Baik, besok ibu akan ke sekolah mu nak”

Keesokan harinya Saskia berangkat sekolah ditemani ibundanya. Diperjalanan Saskia memberikan uang recehnya kepada para pengemis yang ia jumpai.
“Kamu memang peri kecil ibu nak” ucap ibunya dalam hati sembari tersenyum bangga.
Sesampainya mereka disekolah, Saskia langsung mengantarkan ibunya ke ruang guru untuk menemui Bu Hidayah.
“Assalamualaikum bu..” ucap ibu Saskia.
“Walaikumsalam, silahkan duduk ibu..” jawab bu Hidayah.
“Sebenarnya ada apa ya ibu menyuruh saya datang kemari?”
“Mengenai bayaran SPP, Kia belum membayarnya 5bln” jelas bu Hidayah.
“Oh masalah itu ya bu, baik bu saya akan segara melunasinya, namun saya butuh waktu satu minggu ini ya bu” jawab ibu Saskia.
“Oke, baiklah kalau begitu ibu”

Lalu ibu Saskia pun pulang, ia berfikir bagaimana caranya agar ia bisa membayarnya dalam jangka waktu yang seminggu ini. Berjalan perlahan dan dia menubruk Ibu muda dan kaya raya yang mengenakan pakain berwarna biru langit dan jilbabnya yang menutupi auratnya.
“Ma, ma, maaf bu, saya tidak sengaja” ucap ibu Saskia gugup.
“Ya tidak apa-apa bu, ibu mengapa melamun dikeramaian seperti ini?” tanya ibu Riyana pelan.
“Tidak, saya hanya memikirkan anak saya saja bu”
“Memang anak ibu kenapa, sakit?”
“Tidak bu, saya perlu biaya untuk sekolah anak saya”
“kalau begitu ibu mau tidak menjadi pembantu di rumah saya, kebetulan saya sedang memerlukan pembantu bu, saya akan beri upah Rp 1.000.000,00 -,bulan? Bagaimana bu?” tawar ibu Riyana pada ibu Saskia itu.
“I, i..iya saya mau bu, tapi saya butuh uang itu minggu ini bu?” dengan wajah yang mulai berseri dan meredup kembali.
“Kamu tidak perlu khawatir untuk biaya anak kamu biar saya yang tanggung”
“Benar begitu bu?” rasa tak percaya menatap wajah bu Riyana.
“Iya benar ibu” dengan tersenyum manis dan penuh rasa percaya bahwa ibu Saskia adalah seorang ibu yang jujur dan bertanggung jawab.
“Terimakasih ya bu, terimakasih banyak bu !” jawab ibu Saskia bahagia.
“Kalau begitu sekarang ibu ke rumah saya dan kalau bisa ibu mulai bekerja hari ini” jelas bu Riyana.
“Iya bu saya mau !” dengan nada yang penuh semangat.

Dan akhirnya Saskia dapat bersekolah dengan nyaman dan menikmati masa kecilnya dengan wajar.
“Ini berkat anak ku juga, dia selalu bersedekah kepada sesama dan kini Allah memberikan balasan yang lebih dari yang anak ku keluarkan, keikhlasan adalah hal yang terpenting dalam bersedekah, Allah tidak pernah tidur dan Dia slalu mendengarkan curahan hati hambanya, terimakasih ya Allah atas segala karunia-Mu, kini ku rasakan betapa Indahnya Bersedekah J”

PROFIL PENULIS
Nama : Anisa Nur Dinawati
Nama panggilan : Anisa or Icha
Asal sekolah : SMK Wikrama Bogor
Alamat e-mail : anisanurdinawati@gmail.com
Alamat facebook : anieza_mickey@ymail.com

Baca juga Cerpen Remaja, Cerpen Pendidikan dan Cerpen Islam yang Lainnya.

Sabtu, 25 Agustus 2012

Cerpen Motivasi Pendidikan - Ana Ingin Jadi Wartawan

ANA INGIN JADI WARTAWAN
Karya Dwiana

Takdir telah tercatat 50.000 tahun sebelum manusia dilahirkan, segala kejadian sudah tertuang dalam kitab terbentang (Lauh Mahfudz). Ketentuan pasti terjadi, tinggal jalan mana yang manusia pilih untuk menjemput ketentuan itu. Sepenggal untaian itu Aku ciptakan sendiri untuk menemani semangatku dalam meraih ambisi, menjadi orang sukses dalam perantauan.

Aku memang sedikit berbeda dengan saudaraku yang lebih qona’ah, menjalani kehidupan dengan slow dan nrimo, mungkin karena basic agama kakakku yang lebih kental sehingga menganggap dunia itu bukan ambisi utama yang dikejar. Sementara Aku selalu menganggap semua orang punya hak dan kesempatan yang sama untuk menjadi sesuatu tanpa terpacu pada materi.
“Keputusanmu sudah bulat Ndok?,” tanya Bapak yang sebenarnya berharap Aku melanjutkan usahanya jualan di Warung dekat SMP Negeri di Kampungku. “Sudah Pak, keputusanku sudah bulat ingin kerja di Bandung dan melanjutkan kuliah disana,” jawabku dengan tegas.


Kehidupan keluargaku memang sederhana, Bapak jualan di warung ditemani ibu tiriku. Sejak SMP kelas 1 ibu kandungku sudah dipanggil Allah lewat perantara penyakit komplikasi yang beliau derita. Aku sebenarnya setuju saja tetep tinggal di kota Reog asal Bapak mendukungku melanjutkan bangku pendidikan di Universitas, tapi sayang alasan ekonomi selalu menjadi dalil Bapak untuk menolak proposalku itu. Alhasil dengan tekad sekeras baja saat temen-temen seangkatanku asyik liburan sambil menunggu kelulusan, Aku memilih mencari kerja dengan satu alasan, cari uang untuk beli tiket pergi ke perantauan.

Alhamdulillah dapat, walau kerjaan itu membuat satu hariku seperti sebulan lamanya, pagi jadi pembokat siang jadi pramuniaga di toko kue. Dengan penghasilan Rp 250.000/bulan Aku pertahankan sampai malam takbiran keluar dari ruko itu, “Mas lebih setuju kamu nemenin Bapak jualan saja Na,” sela kakak melihat Aku tampak sibuk membereskan sisa packing karena sebentar lagi Aku segera meninggalkan kota tercintaku ini, “Mas sudah tahu sendiri bagaimana kharakterku, Aku tidak bisa dipaksa Mas,” ungkapku protes.
“Ya sudah terserah Kamu, Saran Mas jangan lupa khodratmu sebagai wanita. Jaga dirimu apalagi disana Kamu sendiri. Dekatkanlah diri pada Allah, insya Allah sesulit apapun akan ada jalan jika Kita berserah diri pada-Nya,” tutur kakakku. “Nggih Mas matur nuwon, Ana berangkat dulu Mas, Pak, Mbok’e,” pamitku sembari mencium tangan mereka satu per satu.

Seiring bus Pahala Kencana meninggalkan bumi Reog, semakin meninggikan ambisiku untuk berhasil di kota lautan api itu,” Aku datang ke Bandung untuk sukses, dalam profesi Aku nanti ingin jadi reporter atau wartawan, yang terpenting tidak terikat ruang waktu karena Aku orangnya cepat bosan…,” gumamku menerjemahkan asaku.

Pagi itu, di akhir September 2009 Aku sudah menginjak tanah Leuwi Panjang, kucari kontrakan saudaraku yang sejak 6 tahun lalu kerja disini. Tidak terlalu sulit, karena angkot berlalu lalang ke segala penjuru, “Kalau mau ke Sukamenak Kopo naik yang mana ya Mang,” tanyaku pada salah seorang sopir angkot sembari membaca nama alamat di secarik kertas, “Naik Soreang saja Neng, nanti bilang ke sopirnya turun di Kopo. Patokannya dekat Indomart, nanti tanya lagi dimana Sukamenak, tidak jauh dari situ,” papar Amang itu menjelaskan.
“Assalamualaikum..” salamku sembari mengetuk pintu nomor 52 blok E Sukamenak, “Walaikumsalam….,” jawab pemilik rumah membukakan pintu, “Anaa…..Ya Ampun kamu sudah nyampe sini, gak sms biar dijemput saja di Leuwi Panjang, untung kamu gak nyasar,” celoteh keponakanku Santi. Aku hanya senyum-senyum saja sambil memeluk kangen keponakanku yang udah setahun tidak bertemu.
Kuceritakan ihwal dan niatku merantau disini, saudaraku yang baik hati dengan tulus membantu mencarikan kerjaan, “Apa ajalah yang penting Aku bisa ngumpulin uang biar nanti bisa ngelanjutin kuliah, kuliah kelas karyawan juga ndak apa-apa,” paparku saat ditanya mau kerja apa.
Beberapa lamaran kerja Aku masukkan ke sejumlah pabrik di kabupaten Bandung, hampir sebulan Aku belum mendapat panggilan untuk tes kerja, pikiranku mulai suram, ditambah bekal sakuku semakin menipis… “An coba kamu besok ke pabrik yang ada di daerah Caringin kota Bandung, denger-denger disana ada lowongan,” kata Santi memberiku semangat.

Selesai Subuh, kuisi perut ini dengan sarapan lauk bala-bala dan sambal, kunikmati saja apa adanya karena inilah sari pati hidup, orang harus merasakan perih dulu jika ingin senang. Lalu kucari alamat pabrik X seorang diri karena Santi ada kerja lembur tak bisa menemani.
No. 18 N, ini dia pabriknya, “Permisii…” kataku setengah teriak, “Yaa ada apa” jawab security dari dalam, “Maaf pak saya mau memasukkan lamaran kerja,” terangku. Pak Satpam itu kemudian membukakan pintu gerbang dan Aku dipersilahkan untuk masuk dulu ke post security, “Komandan ini ada wanita mau memasukkan lamaran kerja,” kata satpam itu pada komandannya.
Kemudian Aku diinterview seputar keahlianku, “Kamu bisa jahit” tanya komandan, “Tidak bisa Ndan,” “Wah repot kalau gitu. Disini syaratnya harus bisa jahit,” papar komandan, “Gini aja coba kamu berdiri,” Aku turuti sambil komandan itu memperhatikan postur tubuhku, “Tinggi cukup, badan cukup, wajah juga cukup,” gumam komandan mengomentariku. “Kamu jadi security girl aja mau, nanti biar Saya yang ngurus ini itunya,” kata komandan menawarkan.

Pulang dari Pabrik Aku memikirkan tawaran komandan, “Security girl,” Aku bayangkan diriku memakai seragam biru, memberi hormat jika owner perusahaan lewat, lalu harus terlihat galak pada karyawan,” huuffft Aku sulit memutuskan. Disatu sisi Aku harus segera kerja, di sisi lain bukan bidang ini yang Aku inginkan. Dengan segala pertimbangan akhirnya ku ambil tawaran itu.
Seminggu Aku menjalani diklat lapangan dan test klasikal, lari 5 putaran, PBB, dan latian fisik lainnya. Untung di SMA dulu Aku aktif di Pramuka dan PALA jadi ini tidak terlalu berat bagiku. Tugas pertamaku di sebuah Pabrik Tekstil di Daerah Cimahi. Aku berkenalan dan berteman dengan security yang lebih senior di area sini. Ada 15 security pria dan 1 security wanita, mereka cukup ramah dan baik padaku.

Menjalani pertemanan dengan seniorku dari berbagai daerah, diantaranya Bandung, Cirebon, Garut, Tasikmalaya, Subang, Purwokerto, Timur Leste, dan daerah sebrang, Aku cukup nyaman dengan suasana ini. Dari cerita mereka, profesi security kebanyakan dipilih karena pelarian Tentara dan Polisi yang gagal atau tidak lulus tes.
Berteman dengan mayoritas pria dan profesi yang lazim disandang pria membuat kharakterku semakin tomboy, “Ana, dilihat kau tidak pantas jadi satpam. Pantasnya nerusin sekolah saja. Sayang masih muda sudah jadi satpam. Ini pekerjaan keras,” ujar seniorku bang Heri.

Kata-kata dari Bang Heri mengusik pikiranku, seakan Aku diingatkan kembali terhadap mimpi dan asaku untuk apa Aku datang ke Bandung. Sedih kurasakan, “Bapak ternyata hidup di kota itu tak semudah yang Aku bayangkan,” lirihku menatap cermin di kamar sambil berlinang air mata.
“Aku harus bangkit lagi, Aku harus mengejar cita-citaku jadi wartawan atau reporter,” tekatku menutupi rasa sedih.

Besoknya kuceritakan mimpi-mimpiku pada teman-teman satpam dan karyawan di pabrik itu, “Ahh mimpi di siang bolong kamu mah. Mau jadi wartawan kesiangan..hahaha,” mereka mengejekku. Aku tersentak dengan respon mereka..memang harapanku terlalu tinggi mengingat asal-usul, kemampuan dan pendidikanku, “Bang Wandy, apa Ana terlalu bermimpi ya untuk jadi kuli tinta,” tanyaku pada Wandy, satpam yang paling dekat denganku, “Jangan nyerah Na sebelum kamu memulai dan mencoba..tidak ada yang tidak mungkin kok..tidak apa-apa bermimpi..tidak salah bermimpi setinggi-tingginya, masalah jatuhnya di kubangan mana itu haq Allah,” tutur Wandy memberiku semangat, “Kalau Ana memang serius ingin jadi wartawan, Ana pindah di area tugas yang ada ladang ilmunya. Saya dapat informasi dari kawan, 2 mingguan lagi di Area Skol Kristen daerah Pasteur membutuhkan 07 (satpam perempuan), karena 07 yang sekarang mau cuty hamil. Paling tidak itu lebih baik dari tempat kerja sekarang,” Informasi dari bang Wandy itu segera ku chek croscek. Tak berfikir lama segera Aku mengajukan diri pindah tugas.

Seminggu sebelum aq over tugas ke Skol Kristiani itu, pagi hari ketika Aku hendak berangkat tugas terdengar teriakan orang, teriakan bukan hanya dari satu orang, melainkan ramai banyak orang, “Kami menagih haq Kami yang kalian rampas..Kembalikan uang Kami..” terdengar keras teriakan itu semakin Aku mendekati area kerja. Rupanya suara itu berasal dari puluhan orang yang demo di area kerjaku. Dari cerita bang Wandy, para pendemo itu Eks karyawan yang sudah pensiun namun hingga 1 Tahun sejak mereka resigh uang pensiun belum dibayarkan oleh Pabrik.

Sebagai keamanan Aku turut mengawasi jalannya demo agar tidak rusuh… Uppzz, mataku tertuju pada sosok pria disela kerumpulan orang demo itu, tapi dia tidak ikut berteriak lantang maupun membawa poster-poster yang berisi kecaman, pria yang kira-kira berumuran ¼ abad dengan jaket hitam itu tampak sibuk mengambil gambar melalui kamera Canon yang ia tendeng, setelah itu dia mewancarai seorang pendemo menggunakan recorder kecil, tampak sangat gagah, tanpa sadar Aku tersenyum simpul sendiri… “Heiii…tunggu,” teriakku nyamperin Dia setengah berlari, karena tampaknya Dia sudah selesai dengan kepentingannya…”Kamu memanggil Saya?” jawabnya menoleh padaku, “Iya..Kamu, Kamu wartawan? Boleh Aku kenal Kamu, Aku ingin jadi wartawan,” ucapku cepat karena Dia terlihat tergesa..”Ini kartu namaku, maaf Aku duluan ada liputan lain..,” kata dia sembari pergi meninggalkan gerbang pabrik…

Kubaca lekat setiap kata dan nomor telpon yang tertera di kartu nama itu. Nama laki-laki gagah itu Dany, seorang wartawan Mingguan yang bertugas lintas daerah. Hatiku bergemuruh, jantungku berdetak lebih cepat, bukan karena pria itu tapi karena Aku akan menemukan jalan menuju puzzle mimpiku.
“Assalamualaikum maaf ini dengan Kak Dany, Wartawan Koran X?” kataku setelah Ia mengangkat teleponku, “Walaikumsalam ya benar Saya sendiri, Anda siapa” jawabnya… dialog itu berujung kita janjian di suatu tempat, tepatnya hari Sabtu, karena Aku sekarang sudah pindah tugas di Skol Kristiani dan mendapat libur hari Sabtu Minggu.
“Kenapa Kamu ingin jadi wartawan An,? tanya Dany, “Karena Wartawan itu tugasnya mulia, menyampaikan dan mendidik masyarakat dengan berita yang ia bawakan, trus wartawan itu tempatnya kaum inteleq, dan kerjanya tidak terikat ruang waktu jadi tidak monoton,” jawabku dengan lancar. Jawaban itu kulontarkan berdasarkan pengalaman pribadi sewaktu SMA dulu masih aktif di Ekskul Journalist dan Announcer, walau lingkupnya hanya kecamatan setidaknya ada basic di bidang itu, “Iya betul memang seperti itu, tapi Kamu siap dengan resiko seorang wartawan,” tanyanya lagi kali ini dengan nada lebih ditekan, “Apa memang resikonya Kak,” tanyaku balik karena belum tahu konsekwensi yang ia maksud, “Penjara atau Kuburan” jawabnya dengan mata tajam. Aku agak tersentak dengan pernyataan Dany, namun ambisi dan mimpi menaklukan ketakutanku, “Aku siap kak,”.

Setelah kesiapanku, Dany mengajariku tentang Journalist dari ilmu yang Ia dapat sewaktu di Universitas dan ilmu dia praktek di lapangan. Setiap Sabtu Minggu kuhabiskan waktu dengannya, dengan pelajaran tertulis tentang dasar-dasar journalis, cara membuat berita, kode etik wartawan dan bahkan di bulan ke-4 sejak kita mulai belajar, Dany mengajakku langsung terjun ke lapangan. Aku mengamati bagaimana cara dan alur Dany ketika mewawancarai narasumber. Aku begitu bahagia bisa bertemu dan kenal dengan Dany. Pria gagah yang baik hati itu menemaniku menjemput mimpi. Aku sangat berharap persahabatan dan agenda rutinitas Kita setiap Sabtu Minggu bisa bertahan lama, paling tidak sampai Aku mandiri dan tidak jadi wartawan amatiran lagi. Tapi rupanya takdir berkata lain, bulan ke-7 sejak kita belajar bersama, Dany dipindah tugaskan di Bogor, “Jujur Aku sedih harus jauh dari kakak. Kak Dany adalah semangatku dalam mengejar asa ini. Aku tidak tahu gimana ngelanjutin pembelajaran ini tanpa kakak,” tuturku diiringi tangis melepas kepergian Dany, “Ana, Saya hanya perantara dari Allah untuk menjemput cita-cita Kamu. Kalau kamu yakin bahwa Allah Maha adil jangan pernah putus asa,” itu nasihat terakhir yang Dany sampaikan sebelum Ia menuju kota hujan.

Hari berganti hari kujalani dengan semangat yang menurun drastis. Sebagai tentara langit biru di area skol, tugasku menerima tamu sebelum menghantarkan tamu itu ke recepsionist di sekolah kristiani tempat Aku mengais rejeki, “Siang mbak, Saya ada janji dengan Pak Marlon guru fisika mengajar kelas 12,” kata seorang tamu menghampiriku, Aku belum pernah melihat tamu ini sebelumnya. Sekilas dia seperti keturunan Chinese, tapi masih ada darah Indonesia dilihat dari warna kulitnya sawo matang typical khas kulit orang Indonesia, “Siang Pak, tapi jam istirahat teacher masih 2 jam lagi,” tuturku pada tamu itu, “Iya tidak apa-apa memang janji kita jam 12 nanti, cuma tadi ada keperluan yang terpending jadi saya putuskan kesini saja sambil menunggu Pak Marlon,” ujarnya.

Sambil menanti jam istirahat, tamu yang memperkenalkan diri dengan nama Robert itu mengajakku berbincang. Dia seorang dosen di Universitas Teologi, “Mbak gerejanya dimana,” tanya Robert, Aku kaget dengan pertanyaan itu, “Maaf Pak saya muslim,” jawabku, “Okh anda islam, Saya tadi tidak menyangka lho kalau mbak islam. By the way mbak masih muda kenapa mau jadi security,?” pertanyaan Robert kembali membuatku gugup. Kuceritakan saja perjalanan hidupku selama di rantauan ini karena Pak Robert orangnya cukup care sehingga Aku tidak canggung, “Wahh sayang ya mbak, orang dengan ambisi dan semangat yang kuat seperti mbak tidak terakomodasi. Kalau di Kita orang-orang seperti mbak pasti akan diperhatikan,” terangnya, “Maksud Bapak gimana?” tanyaku tak mengerti terhadap statement pak Robert, “Maksudnya kalau mbak ikut keyakinan Kami mbak akan sukses. Kebetulan saya dosen dan banyak jaringan, kalau mbak mau ikut keyakinan Kami saya bisa usahakan beasiswa journalist SI di UN yang mbak bisa pilih sendiri dan beasiswa S2 di Amerika. Tapi dengan membawa visi dari keyakinan Kami,” papar Pak Robert. Aku hanya melongo dan terdiam mencerna setiap kata yang Pak Robert lontarkan.
Aku akui, walaupun KTP islam tapi Aku belum mengenal Allah, kewajibanku 5 waktu saja masih banyak bolongnya. Tawaran itu mengikis imanku, bayangan kuliah, journalist, keliling dunia terbayang di kelopak mataku.

Aku diberi waktu sebulan untuk mengambil atau menolak tawaran itu. Saat ada tawaran besar seperti ini Aku sangat membutuhkan teman untuk share, bukan keluarga karena keluargaku tidak mengerti ambisiku. Aku teringat Kak Dany, kuhubungi nomornya, “Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan” suara operator seluler yang selalu Aku dengarkan setiap menghubungi nomor kak Dany telah memutus persahabatan Kami. Aku benar-benar kehilangan sosok teman yang sangat baik dan Aku butuhkan sarannya.
Mendekati hari pertemuan dengan Pak Robert Aku putuskan untuk mengambil tawaran itu, “Yach hanya dengan cara itu mimpi-mimpiku bisa jadi nyata. Hidupku hanya sekali dan akan Aku manfaatkan hidup ini sesuai keinginanku,” ucapku membakar semangat diri.

Hari H bertemu dengan Pak Robert, kita janjian di Universitas tempat beliau mengajar. Perjalanan ke Universitas Aku naik angkot, disamping tempat dudukku, ada seorang wanita berjilbab seusiaku tampak serius membaca sebuah buku, Aku perhatikan raut wajah wanita itu tampak bercahaya, tidak terlalu rupawan tapi sangat sejuk dipandang, “Afwan, Ukhti dari tadi mengamati Saya, ada yang bisa saya bantu,?” tutur wanita itu menyadarkanku bahwa dari tadi Aku telah terpana dengan cahaya di wajahnya, “Oh maaf, itu bukunya bagus,” kataku salah tingkah, “Ini buku tentang dasar-dasar islam, kalau mau Ukhti bisa membacanya,” kata wanita itu dengan santun, “Oya Ukhti hendak kemana,?” tanyanya, “Astagfirullah hal adzim” ucapku dengan tangis terisak sambil memeluk wanita itu…….

Baca juga Cerpen Islam, Cerpen Pendidikan dan Juga Cerpen Motivasi yang lainnya.

Senin, 20 Agustus 2012

Cerpen Pendidikan - Mimpi Yang Terbunuh

MIMPI YANG TERBUNUH
Karya  Denis Supiantias

“ Yah…..basah “
“ Kenapa Mir ? “
“ Ini bu, sepatu yang Mira jemur kemarin lupa diangkat “
“ Trus gimana ? kamu sekolah ? “
“ Hari ini Mira ngak sekolah bu “
“ Ya sudah, nanti kamu ikut ibu ke kebun saja ya “
“ Iya ibu “

Hujan tadi malam mengurungkan niatku untuk pergi ke sekolah. Aku binggung, apakah aku harus senang atau tidak. Di sekolah hari ini ada mata pelajaran pak Yudi beliau guru yang paling lucu di sekolah dan disukai siswa. Namun hari ini juga ada pelajaran ibu Aminah beliau adalah guru yang paling kejam dan galak diantara guru – guru yang ada di sekolah. Kekejaman dan kegalakannya melebihi sang raja hutan karena banyak siswa yang takut ketika beliau sudah mengajar. Bahkan terkadang sampai ada siswa yang terkencing – kencing karena takut dengan ibu aminah yang galak. Tapi di sisi lain aku harus ikut ibu ke kebun untuk mencari sayur dan dijual besok ke Malaysia. Beginilah cara hidup di perbatasan harus bisa memanfaatkan keadaan.
“ Sudah siap “
“ Iya bu “
“ Ayo…!!”

Aku hanya menganguk pasrah karena harus membantu ibu hari ini. Ini semua kulakukan untuk membantu ibu memenuhi kehidupan keluarga. Semenjak kematian ayah dua tahun lalu, ibu harus berjuang sendiri untuk memenuhi kehidupan keluarga kami. Sementara bang Dika entah kemana. Setelah ia pergi ke Malaysia dan bekerja di sana ia tidak pernah memberi kabar kepada kami. Tetapi yang lebih memilukan adalah, mungkin bang Dika tidak tahu kalau ayah sudah tiada. Ibu adalah satu – satunya harapanku sekarang. Hanya ibu yang ada. Terkadang aku merasa sangat bersalah dan aku merasa sedih melihat ibu hanya menjadi seorang kuli petani dan penjual sayur. Tapi aku tidak bisa berbuat apa – apa. Aku hanya seorang siswa SD yang masih berumur 12 tahun dan tidak mempunyai keahlian di bidang apapun. Tapi aku tetap berusaha untuk membantu ibu, walaupun itu hanya mencari sayur. Besok hari minggu dan itu adalah hari yang tepat untuk berjualan ke Malaysia karena pada hari tersebut pasar Kuari pasti ramai pengunjung. Dan besok aku harus bangun pagi – pagi sekali karena aku harus mempersiapkan sayur – sayur yang akan di bawa ke Malaysia. Kami sering menjual hasil kebun kami ke Malaysia dan kami dibayar dengan menggunakan uang ringgit Malaysia. Kami biasanya menjual sayur dengan menapok harga 2 Ringgit perikat. Namun terkadang jika yang kami jual berupa sayur buah maka kami menjualnya dengan harga 2-3 ringgit perkilo. Perjalanan menuju Malaysia tidak begitu jauh sekitar dua jam saja. Itupun ditempuh dengan berjalan kaki ditambah lagi dengan beban sayur yang mencapai berat berkisar antara 15 – 20 kilo atau lebih. Tapi itu tidak menjadi masalah buat ibu. Yang penting dia bisa mendapatkan uang dengan cara yang halal.
“ Mir…bangun. Siapkan sayur yang kamu bawa “
“ E……”
“ kamu ikut ibu jualan tidak hari ini “
“ Ikut bu “
“ Ya sudah siap – siap sebentar lagi berangkat “

Aku masih sangat merasa mengantuk. Kulihat jam di sudut dinding menunjukkan pukul 5 pagi. Berarti pukul 7 pagi ini kami sudah sampai di Malaysia. Mungkin aku anak yang kurang beruntung yang hidup di perbatasan. Tapi itu bukan merupakan masalah bagiku yang penting aku harus berjuang untuk tetap hidup dan membantu ibuku tercinta. Aku dan ibupun segera berangkat menuju Malaysia kami tidak sendirian karena banyak orang hari ini yang pergi ke Malaysia dengan tujuan yang berbeda – beda. Kamipun akhirnya tiba di Malaysia dan ibu langsung mengajakku pergi ke pasar Tamuk dan kami langsung menawarkan sayur – sayur yang kami pikul dari rumah tadi. Tapi sungguh ironis kami masuk ke Malaysia tidak menggunakan paspor alias illegal. Mau bagaimana lagi ? uang saja terkadang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup bagaimana bisa membuat paspor?. Mau menjual sayur ke kecamatan tidak mungkin karena terlalu jauh di tambah lagi dengan keadaan jalan yang tidak terawat. Maklum daerah perbatasan seperti desa kami kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Sayurpun sudah habis terjual dan hari ini aku dan ibu mendapatkan uang yang lumayan untuk orang seukuran ekonomi rendah seperti kami.
“ Kamu mau beli apa Mir ? “
“ Ngak ada bu, ibu saja yang belanja “
“ Ya sudah ibu belanja ke toko itu dulu ya. Kamu tunggu di sini jangan ke mana – mana “

Aku hanya menganguk saja. Biasanya setelah berjualan ibu mengajakku pergi kepasar Kuari tempat kami sering berbelanja. Sebenarnya aku ingin membeli sepatu baru karena sepatuku sudah sangat lama dan kalau sepatuku basah tidak ada sepatu cadangan. Tapi keinginanku itu kubiarkan saja. Biarlah, toh sepatu lamaku masih bisa dipakai dan juga aku harus bisa memikirkan kebutuhan yang harus ibu penuhi.
“ Ayo Mir, kita pulang ibu sudah selesai belanjanya “
“ Iya bu “
“ Ini….tadi ibu belikan kamu sepatu “

Senang !!! sepertinya Tuhan mendengar doaku barusan. Aku memeluk ibu erat – erat dan sesekali kutatap wajahnya dan tak lupa ku berterima kasih padanya. Ku lihat mata ibu berkaca – kaca dan tak lama kemudian tangisnyapun keluar aku mengerti perasaan ibu karena selama ini ibu tahu bahwa aku selalu ingin membeli sepatu dan baru sekarang ibu bisa membelikannya untukku. Setelah selesai belanja kamipun segera pulang. Barang – barang belanjaan kami, kami bawa dengan menggunakan ligit atau sengkalang yang tadi kami gunakan untuk membawa sayur. Jalan Malaysia menuju kampuku masih menggunakan jalan tikus. Jadi tidak merasa panas dalam perjalanan malah terasa sangat sejuk karena masih banyak pohon – pohon yang rindang dan besar. tiba di rumah aku langsung merebahkan tubuhku di lantai. Kutatap foto ayah yang ada di dinding aku begitu sedih. Mengapa ayah begitu cepat pergi? Kalau saja ayah masih hidup, aku dan ibu tidak mungkin seperti ini.
“ Mira…….kamu sudah mandi ? “
“ Belum bu, Mira keletihan jalan seharian “
“ Ya sudah ibu mandi dulu ya, nanti kamu nyusul “
“ Iya bu “
Tak ada ledeng, tak ada bak mandi kalau mau mandi tujuan kami hanya sungai. Kalau sudah senja begini pasti sungainya ramai. Akupun segera menyusul ibu mandi ke sungai dan membawa sedikit cucian alakadarnya. Seusai mandi kamipun kembali ke rumah. Ibu langsung ke dapur dengan menggunakan kembannya dan aku langsung pergi ke kamar untuk berbenah diri dan mengganti bajuku yang basah. Sambil mengganti baju aku sesekali melihat ke cermin di kamarku melihat mukaku yang tidak begitu cantik. Sambil melihat wajahku di cermin aku berbicara sendir, menghayal dan merenung. Sambil menghayal aku melihat poster Ibu Megawati yang bapak belikan untukku ketika beliau masih hidup. Maklum sewaktu kecil jika di tanya aku ingin jadi apa aku dengan cepat menjawab “Presiden”. Sampai sekarangpun aku ingin menjadi presiden. Aku ingin memimpin Negara ini dan aku ingin membangun Negara ini dengan adil terutama dalam pemerataan pembangunan dan aku akan mensejahterakan rakyat Indonesia. Pernah sekali aku menyatakan keinginanku kepada ibu. Tetapi ibu hanya tertunduk lesu dan sedih. Bagaimana tidak? Jangankan untuk menjadikanku sebagai presiden. Menamatkanku sampai lulus SD entah – entah ibu mampu. Mimpiku hilang seketika aku sadar dengan keadaan ekonomi keluargaku dan aku haru tahu diri bahwa orang seperti diriku tidak mungkin bisa menjadi presiden. Aku tidak menyangka keinginanku tidak bisa kucapai hanya karena keadaan ekonomi. Mengapa dunia ini tidak adil? Mengapa hanya mereka yang mempunyai cukup uang yang bisa menjadi orang berguna? Sementara aku tidak bisa. Aku menghela nafas panjang dan aku harus yakin bahwa kehidupan ini sudah ditentukan Oleh Tuhan dan aku harus tetap bersyukur dengan apa yang telah ada sekarang. Lamunanku berhenti ketika ibu memanggilku untuk makan malam. Kulihat ibu sudah menunggu di dapur dengan senyumnya yang khas dan keningnya yang sudah mulai keriput. Kamipun mulai menyantap makanan yang telah di sediakan ibu. Aku hanya bisa merenung dan selalu ingat dengan apa yang sering diucapkan oleh ayah “ hidup adalah sebuah anugrah “ kata – kata itu mempunyai makna yang dalam bagiku. Ibu menyentuh bahuku yang dari tadi sedang asik melamun dan dia tertawa geli melihat aku yang terkejut. Akupun membalas senyuman ibu dan melanjutkan makan malam kami.


Catatan :
Ligit atau Sengkalang : Adalah sejenis tas tradisional yang terbuat dari anyaman rotan.
Tamuk : Pasar sayur
Kuari : Salah satu nama pasar di Malaysia

Selasa, 14 Agustus 2012

Cerpen Pendidikan - Isa Negeri Daun Jembatan Gantung

ISA NEGERI DAUN JEMBATAN GANTUNG
Karya Dedi Irwan

Profesi Guru di ceruk kampung melayu sangatlah terhormat. Masyarakat kampung tahniah dan menghargainya laksana manusia beriman masuk sorga tanpa hisab. Ibarat mengemban titah Tuhan untuk menyampaikan risalah, amanah ini harus di emban dan diminta pertanggungjawaban di yaumil akhir. Salah satu manusia pilihan dikampung kami adalah guru Isa. Laki paroh baya dengan tubuh kurus tinggi seperti tiang listrik mau tumbang, oleng kiri- kanan ditiup angin. Kalau berjalan menghentak-hentak bumi, berdentum tegap. Raut wajahnya perpaduan unsinkronisasi antara Elvis Presley dengan P. ramlee , rock n roll melayu. Jambang dan kumisnya menyatu berpilin membentuk akar beringin. “Untuk bidadari bergayut” katanya suatu ketika. Genetika salah kaprah muncul antara mulut dan hidung terlalu dekat satu dengan yang lainnya sehingga menghasilkan wajah horror di film Halloween . Ditatap lebih dekat lagi malah menghasil kan produk wajah Tuanku Mahmudin , haji uzur tukang doa kampung. Tetapi semua hal ihwal personal tentang keburukan wajah tertolak mentah mentah oleh kami ketika dia masuk kelas mengajarkan hal-hal aneh tentang dunia dan ilmu agama. Penemu lampu petromak, istana di nusantara , menara pisa yang condong ,mengaji, sampai jembatan gantung menghubungkan sekolah dengan ceruk kampung.

Kami sendiri tidak mengetahui asal muasal pak guru Isa secara pasti. Menurut mak, beliau berasal dari anak pedalaman suku LAUT. Mereka hidup di rakit berpindah-pindah dan sesekali turun kedarat. Orang laut mencakup berbagai suku dan kelompok yang bermukim di pulau-pulau dan muara sungai di kepulauan Riau. Guru Isa tinggal di sudut kampung seorang diri tanpa sanak saudara. Mak, ayahnya masih berkelana menggunakan sampan di muara-muara dan pulau bersama adik-adiknya tak sekolah. Dia sendiri diangkat sewaktu masih kecil oleh petani kaya kopra di Mandah ,di sekolah kan sehingga terdampar menjadi guru. Jika ditanya asal kampung dan ibundanya secara detail dia selalu bungkam. “Kita semua berasal dari mulut rahim yang sama, bunda HAWA”, jawabnya ketika kami memaksa. Memasuki puberitas kedua belum seorang pun dara yang memikat hati guru Isa. “Kerja belum selesai”, katanya menolak secara halus jika ada mak ingin menjodohkan dengan anak gadisnya.
***

Paradok di negeri angin kaya minyak dan perkebunan berdiri Sekolah Dasar Negeri Instruksi Presiden. Tidak berbentuk ala sekolah. Terletak jauh diseberang kampung hutan dimana tempat pembuangan anak jin durhaka dan para lelembut membuat istana. Mungkin sekolah kami bekas kamp peninggalan tentara Jepang untuk mendidik pribumi bela kaisar. Atau bekas rumah pemotongan hewan yang hewannya pada kabur melihat situasi tempat tidak kondusif. Pertanyaan aneh muncul dibenak kami yang tidak memerlukan jawabannya. Sekolah terbuat dari dinding papan mahoni dipaku renggang sehingga memudahkan mata mengintai dari luar. Semen kasar sebagai lantai dan rumbia di anyam sebagai atap. Terdiri dari tiga ruangan. Satu ruang untuk anak kelas I,II,III, dan ruang yang lainya untuk anak kelas IV ,V, VI . Ruangan khusus tiga kali tiga untuk guru bercampur baur dengan kepala sekolah untuk bermacam tetek bengek adminstrasi lusuh.

Tapi kelas bagi kami adalah lambang istana presiden yang tidak ada photo presidennya. Tempat kami menempa ilmu, mengaji dari guru Isa dan bapak kepala. Sekolah kami cintai dengan pernak pernik kelas tidak sesuai dengan standarisasi Undang-Undang Pendidikan Negara. Beberapa meja kayu dengan kursi panjang diduduki oleh anak berderet deret seperti ikan salai silais berjemur , bersusun berdasarkan kebutuhan. Di sudut kiri kelas bertengger lemari kayu dengan daun pintunya soplak, berderik-derik menjerit jika di tutup. Jambangan kayu dengan bunga kertas terletak di atas meja kaki empat yang satunya hampir patah . Dialas dengan taplak meja bermotif pakis merayap buram. Papan tulis hitam pecah dipaku di dinding kelas dengan paku berkarat mau roboh . Yang lebih membuat kami terpesona adalah kami bisa menghibahkan air berwarna di pohon pohon nganggur, semak , batang durian, batang kampas dan akhirnya berlarian mencuci si manis di bandar kecil belakang sekolah. Berbagai-macam gambar poster menempel didinding untuk menempel lobang di makan rayap. Dari penyanyi dangdut sampai tokoh pahlawan nasional. Selembar poster memakai sorban dan janggut mirip pahlawan nasional ikut berperan aktif menghiasi dinding. Ketika kami tanyakan kepada pak guru Isa siapa sebenarnya tokoh mempunyai mata sayu dan selalu tersenyum miris menatap kami setiap pagi ?. Beliau hanya tersenyum - senyum simpul menerangkan. “Jika kalian sudah dewasa kalian akan mengerti bahwa tokoh gambar itu terkenal diluar negri dan sering masuk tivi”, katanya. Tidak sampai menunggu kami bersunat akhirnya tersiar kabar di TV bahwa dia bernama OSAMA BIN LADDEN.

Uniknya sekolah kami hanya mempunyai seorang kepala sekolah di bantu oleh guru Isa. Entah kemana guru yang lainnya menghilang setelah mengajar beberapa bulan. Hingga tinggalah dua orang tersisa bertahta menjalankan roda pendidikan. Mereka berjibaku semangat menghadang setiap persoalan anak didik, dari yang remeh temeh sampai undangan mendoa kawin. Bapak Kepala dengan guru Isa mengajar dari kelas I sampai dengan kelas VI, merangkap tata usaha, membuka pintu jendela sekolah serta bermacam – macam pekerjaan di luar konteks ilmu pendidikan. Terkadang mereka bingung memilih yang mana anak kelas IV, mana anak kelas I atau sebaliknya karena anak – anak sesuka hati memasuki kelas berdasarkan pelajaran mereka sukai.
***

Petualangan paling menarik menyenangkan setiap pagi adalah pergi ke sekolah dan jembatan gantung. Dengan jarak tempuh yang cukup jauh dan berliku dari rumah merupakan phenomena alam . Subuh buta kami sudah berjalan berombongan melewati pematang sawah penduduk berliku becek. Melintasi parak getah rimbun , meniti jembatan gantung di bawahnya mengalir arus sungai berbatuan bagaikan alur irama menari setiap pagi. Harumnya lumpur sawah dan aroma padi menguning membuat kami berandai-andai terbang melayang. Diiringi dengan suara cicit burung pipit menggatok padi, desiran bunga ilalang simponi merdu ikut menghantarkan kami. Buah getah yang berjatuhan di tegur angin menarik kami untuk bermain para di sepanjang jalan setapak tanah. Apatah lagi meniti jembatan gantung sisi kanan kirinya terbalut akar – akar pohon kuat dialasi kayu beloti kekar, berayun-ayun berirama sungguh mempesona. “Jembatan gantung merupakan latihan khusus bagi kalian, Ibarat meniti siraj Siratal Mustakim” kata pak Isa di suatu pagi jumat . Kata-kata philosofi agama indah sulit untuk kami pahami.

Di jembatan akar gantung inilah tempat kami bercengkrama, bersenda gurau bersama guru Isa setelah pulang sekolah. Tempat kami duduk menjuntaikan kaki sambil melihat arus sungai berbuih di timpa batu. Bercerita tentang kampung dan ilmu yang kami peroleh di sekolah. Sesekali kami berpacu meniti jembatan “ Siapa yang duluan sampai akan masuk sorga !“, teriak guru Isa di seberang. Membuat kami berlari terengah – engah berpacu meniti jembatan tanpa ada perasan takut . Jembatan akar gantung bukanlah produk P .T menggunakan bahan-bahan besi, beton dan kawat baja. Dengan ahli insiyur rancang jembatan terstruktur. Jembatan gantung merupakan rahmat Ilahi yang diturunkan lewat akar- akar menggantung dari dua batang pohon beringin besar, menjalar melilit panjang kanan kiri sebagai sandaran. Diikat dengan akar – akar kecil sampai keseberang. Beloti sebesar lengan orang dewasa di pakai sebagai dasar jembatan rapat. Kami tidak tahu kapan jembatan gantung ini lahir. Cerita orang kampung, jembatan ini sudah ada ketika orang susah hidup memakai celana goni. Atas swadaya masyarakat dan batin kampung akar-akar pohon beringin panjang menjuntai sampai ke sungai di bentuk menjadi sebuah jembatan akar. Pak Isa menambahkan , keajaiban alam jembatan akar gantung terbentuk karena masyarakat masih menggunakan resam melayu. Bersatunya alam dengan manusia beradat.” Hutan ,pohon, tanah, air, integral dari sumber kehidupan yang tidak bisa dipisahkan.Jika sifat tamak sudah merasuk manusia alamat alam akan murka”, katanya menasehati. Kami meangguk – angguk takzim bak ayam mematuk padi.

Mak juga ikut-ikutan bercerita menambahkan jembatan itu ada “PENUNGGUNYA”. Hantu hutan yang suka menakut-nakuti anak-anak tidak sembahyang dan nakal. Setelah aku bertanya kepada pak Isa , dia malah tertawa terkekeh-kekeh. “ Memang betul kata mak engkau tu” , jawabnya. Jembatan gantung akan marah jika engkau degil dan tidak mau sembahyang. Dia akan mengamuk seperti Hang Tuah melawan Portugis. Akar-akar panjang pohon akan berobah menjadi tangan raksasa mencekik. Batang pohon yang menyangga akar akan tumbang berjalan mencari siapa saja yang berulah membuat dosa”. Kami lama terdiam bisu takut mendengar ceritanya. Pak Isa sama saja dengan mak !
***

Sepoi angin dari batang pohon ketapang di sekitar sekolah membuat mata kami mulai terkantuk-kantuk menahan lapar. Pak Isa memecah suasana kebekuan dengan cerita kepahlawan membuat kami tersadar dari mimpi. “Hang Tuah adalah pahlawan asal melayu pemberani bersama 4 orang sahabatnya Jebat, Lekiu,Kesturi dan Lekir. Mereka berlima laksamana tangguh membasmi lanun yang merompak kapal di selat Melaka. Pedangnya yang tajam menghunus dan membabat angkara murka. Hikayat cerita tetua dulu Hang Tuah sewaktu kecil pernah menikam lanun dengan pisau dapur”. Kami langsung terpana melongo mendengar cerita pak Isa. Seandainya kami bertarung melawan perompak menggunakan pisau dapur mak ?.

Tiba-tiba pintu kelas berdentam keras. Pak Isa berhenti bercerita seketika, bersigegas membuka pintu. Berdiri didepan pintu bapak kepala dengan tiga orang makhluk asing. Menatap aneh kelas kami , berputar-putar berkeliling seperti menemukan tempat pusara yang baru dibongkar dan artefak peninggalan kerajaan. Disamping pak Isa dengan gagahnya berdiri laki seumur ayah kira-kira 50 tahun, memakai baju safari dengan pena emas perak di saku depan. Tubuh nya proposional dengan rambut sisir belah samping. Kulitnya putih nampak bersih sering mandi. Dia menunjuk- nunjuk kelas, melihat keatas, kekanan kiri , memandang kami sekejap lalu berbicara dengan bapak kepala panjang lebar. Pak kepala sekolah mengangguk – angguk balam. Disebelah kanan bapak kepala berdiri dua orang laki-laki yang lebih aneh lagi. Satu memakai baju kaus berkrah seumur wak atan tukang pangkas rumput , 30 tahun. Membawa kamera panjang bisa diputar-putar, maju mundur, panjang pendek disandangnya. Sesekali dia tersenyum membuat blitz cahaya kamera. Amboi, ,,kami melipat tangan duduk tertib memandang cahaya silau. Yang satu lagi bermata sipit memakai kaca mata Jhon lenon melorot sampai kehidung . Badannya pendek gempal , dengan kepala plontos pipi tembam, lucu. Bahasanya yang digunakannya selalu diakhiri dengan 1 huruf konsonan dan 3 vocal di akhir kata. Irama bahasanya mendayu naik turun cepat. Entah apa yang mereka bicarakan ,bergemuruh bak lebah mencari sarang kemudian diam, lalu bising lagi. Kerutan diwajah pak kepala semakin bertambah diusia memasuki pensiun ketika bapak safari berucap , ditimpali dengan kata tambahan meracau, haia !,haia ! dari pendek gempal. Guru Isa diam menyimak, esxpresi wajahnya datar tanpa makna, dingin ! . Setelah mengambil blitz cahaya kamera sekali lagi , mereka bergegas tergesa-gesa menuju ruang kantor guru. Ada apa gerangan ?.

Tamu yang datang ke kampung membuat berita simpang siur di masyarakat. Kabar yang berkembang biak menjalar kian kemari membuat tetua kampung turun gunung menengahi dan cepat memotong issue. Biasanya mereka memutuskan suatu permasalahan di sebuah balai, balai salaso jatuh namanya. Balai salaso jatuh mempunyai selasar keliling yang lantainya lebih rendah dari ruang tengah karena itu dinamakan salaso jatuh. Di puncak atapnya bersilangan mencuat hiasan kayu ukir salembayung mengandung makna mendalam keimanan terhadap Tuhan.

Pagi itu balai ramai oleh penduduk akan digelar musyawarah adat. Tikar rotan dibentangkan memanjang diruang utama. Satu persatu orang orang kampung mulai berdatangan ,membuat lingkaran mengililingi talam jambau ( makanan ) yang di bawa oleh ibu-ibu . Kaum perempuan duduk bersimpuh berpisah membentuk kelompok sendiri bersama anak- anak. Datuk dari berbagai persukuan sudah duduk bersila memakai baju kebesaran sesuai ranji payung di depan . Duduk disebelah kirinya penghulu, kepala dusun, dan ninik mamak. Guru isa dan bapak kepala duduk di sebelah kanan . Sedangkan batin duduk berhadap hadapan dengan datuk, memakai baju hitam-hitam. Tak lama kemudian datang tergopoh-gopoh rombongan dari kota. Mata ku tercekat kaget melihat orang asing datang di sekolah tempo hari, Kali ini rombongan mereka banyak. Beberapa orang berbadan tegap menyertai mereka berdiri. Kepala dusun menyediakan tempat yang masih tersisa di sebelahnya.

Canang di pukul berdentang beberapa kali di sebelah pintu utama, pertanda acara adat segera dimulai. Seorang berdiri memakai pakaian teluk belanga, memakai kain songket dililit di pinggang. Keris berhulu tersalip di pinggangnya. Memakai topi selancar angin. Gagah tampan bak hulubalang raja, Pantun dibacakan.
Sirih pinang berlipat sirih pinang
Sirih dari pulau mutiara
Pemanis kata selamat datang
Awal bismilah pembuka acara

Pantun pembuka di hentak dengan pukulan canang sekali. Selanjutnya mulutnya komat – kamit berucap membuka pantun kedua, “Encik-encik, puan-puan , engku dan tuan tuan, kepada datuk penghulu adat saya persilahkan memberikan kata-kata petuah”, katanya mempersilahkan salah seorang datuk memberikan wejangan.
Bukan lebah sembarang lebah
Lebah bersarang di pohon kayu
Bukan sembah sembarang sembah
Sembah adat pusaka melayu

Kayuh perahu sampai keseberang
Singgah keseberang di kampung hulu
Bukan tak tahu dunia sekarang
Gaharu dibakar kemenyan berbau
Apa hendak hal yang dimau ?

Pantun datuk memberikan petuah dan isyarat untuk mepersilahkan orang asing itu berbicara. Tetamu bersiap-siap mengajukan keinginan. Di wakili oleh baju safari , kali ini dia memakai batik motif siku-siku lancip. Menggunakan bahasa Indonesia baik dan benar disusun secara hati-hati. Kata- kata ilmiah panjang-panjang seperti anak kuliahan. Si mata sipit dan pembawa kamera membantu membisikan kata di daun telinganya menambah semangat. Tidak berselang lama dia pun usai sudah. Orang kampung hanya melongo mendengar , melolong dan bersikut-sikut kiri kanan. Anak-anak mulai kegerahan menyingkap talam sambal sambil bertanya kepada maknya kapan helat adat usai?. Mak- mak tersenyum sumringah mencubit. Kemudian dilanjutkan oleh si gendut gempal. Memakai bahasa Indonesia yang tertatih-tatih , celat menambahkan, mengulang maksud dari tujuan mereka. Mengakibatkan balai riuh rendah oleh suara sorak pekikan tidak setuju bercampur dengan tangisan si buyung minta makan.

Hari pun mulai beranjak siang, sinar matahari masuk dari jendela balai yang dibuka lebar, Datuk mulai gelisah. Para batin memegang keris....mereka berbisik-bisik. Ninik mamak mengambil peran memberi amanah….
Memetik bunga tapak dara
Berjejal bunga kembang setaman
Bukannya kami tidak mau menerima
Tanah hutan ulayat, amanah tuhan

Dengan gusar si mata sipit membuka sebuah kertas didalam map. Gayung bersambut nampaknya oleh tetamu. Dibacakannya dengan suara celat lantang “Beldasalkan pelatulan dan pelsetujuan,,, hiaa!!”.

Belum usai maklumat si gempal, guru Isa langsung berdiri memotong cepat. “Kami tidak memerlukan perkebunan di kampung. Hutan, sawah ladang masih mencukupi untuk hidup, jangan kalian tukar”!, ucapnya tegas berwibawa. Kegaduhan tumbuh, orang –orang kampung bersorak-sorai berteriak membela guru Isa. Beberapa orang berbadan tegap yang berdiri diluar menatap kami pongah dengan mata memerah. Panas menyeruak memasuki balai berjelanak. Tetamu nampaknya tidak habis akal. Mereka berbicara lamat-lamat dengan kepala dusun. Kepala dusun menggangguk-angguk kecil sampai kopiahnya terjatuh, lalu…...
Adat melayu janganlah disanggah
Tetuah ilmu rasa berseri
Jika hidup ingin berubah
Marilah mencari hidup ke tempat tinggi

Pertanyaan dari guru Isa pun terjawab sudah, orang kota tersenyum lebar mendapat dukungan. Datuk , ninik mamak dan guru Isa saling berpandang - pandangan terpana. Suara siapa yang di bawa oleh Kadus?. Esa hilang dua terbilang, pantang surut mendapat lawan. Guru Isa membalas dengan menggelegar.
Bulat kata karena mufakat
Mufakat kata untuk semua
Jika semua tidak menerima
Di lain waktu kita berjumpa

Prak-prak,prak , tepuk tangan keluar dari tangan-tangan orang kampung berdecak-decak memberi azam .Tetamu terdiam lama mendengar pantun pak Isa. Mereka berdiskusi. Wajah si baju batik dan plontos tampak tegang. Alamat apa yang terjadi jika hampir semua tatanan kampung menolak?. Kadus akhirnya membuka tasnya sebagai senjata pamungkas, mengeluarkan sebuah map biru didalamnya ada secarik kertas berlogo gambar burung garuda . Diperlihatkannya kepada datuk , kemudian kakinya beranjak menghadap ninik mamak, penghulu dan terakhir dengan senyum dikulum menuju guru Isa. Selembar surat dengan banyak tanda tangan sakti, dibumbuhi penuh matrai membuat semua hadirin terdiam kelu, bisu……………..

Canang di pukul bertalu-talu sedih mengakhiri musyawarah adat yang menghancurkan.
***

Semenjak pembicaraan di balai salaso jatuh riak – riak sandungan tumbuh di sudut - sudut kampung, sawah,pos ronda dan warung kopi. Hingga di suatu pagi hari lain…
“ Kita akan menjadi kaya,” kata berewok mengisap rokok kretek murah. Kebun itu beda dengan pohon karet”, lanjutnya mengawali pembicaraan di sebuah warung kopi.
“ Apa nya bedanya?” , tanya seorang pemuda tanggung dengan sarung selempang di bahu , duduk disampingnya meminum kopi setengah.
“ Jelas beda. Kelapa kecil itu menghasilkan minyak, karet menghasil kan getah” jawab brewok sok tahu menerangkan.
“ Bukan itu yang ku maksud , untungnya buat kita apa ?” ,tanya nya ketus tidak puas .
“Hasil pohon kelapa kecil bisa di jual dengan harga tinggi”jawab laki laki paroh baya menimpali . Dia memakai topi segitiga lancip. Pulang dari menakik getah agaknya.
Pemuda itu diam , goreng pisang panas di piring di comotnya seketika menyambar. Mulutnya berdesih-desis kepanasan “ Di sekolah pak Isa akan dibangun perkebunan juga ?”, tanyanya penasaran .
“ Iya”.
“ Anak-anak, sekolah, kebun, sawah ladang mau kemana ?”.
“ Diganti !” .
“ Dengan apa ?”.
“ Kebun kelapa kecil ”.
“ Apa ???”.
“ Apanya ?”.
“ Sawah, ladang , kebun kita ?”, cercanya lagi.
“ Mana kami tahu !!. Memang kebun punya bapak kami” , jawab si brewok membantu menjawab dengan jengkel. Mematikan rokok yang hampir masuk mulut, meludah kian kemari ketanah. Puih !,, puih !. Pemuda itu langsung terdiam sunyi. Di hirupnya kopi hampir habis, tetes-tetes terakhir masuk di kerongkongan terasa pahit dan getir !.
“ Aku tidak setuju !”. katanya kaku
“ Sebenarnya orang kampung juga tidak setuju”, balas brewok dingin.
“ Lalu engkau ?, pemuda tanggung memburansang. Mengapa kau semangat tadi ? Cuiiihhh! “ katanya menyemburkan air asin berterbangan , mengenai muka brewok.
Si brewok langsung naik pitam , direngkuh baju pemuda dengan kuat . “Aku tidak setuju bedebah !, teriaknya dengan mata melotot, melap air di pipinya . Aku hanya ikut-ikutan kepala dusun”.
“ Sudah!, sudah lah”!, teriak topi lancip melerai.

Hasil drama dibalai membuat kampung berubah ramai dengan kedatangan orang –orang asing dari kota. Ada yang mengukur sawah, kebun dengan alat ukur. Ada pula yang berbicara dengan orang kampung membujuk. Suatu hari kami melihat kapal di sungai mengangkut sebuah besi aneh ditarik dengan kawat baja menuju sekolah. Anak-anak terheran- heran melihat barang langka ini masuk kesekolah. Mereka memegang tubuhnya, mengelus capitnya dan berteriak-teriak di bangku beramai-ramai. “Oi !,oi!... ada belalang sembah raksasa dari besi ”……………..

Perubahan nampak juga dari wajah dan sikap kepala sekolah dan guru Isa . Guru kepala terlihat pucat dan berkerut-kerut. Raut sedih muncul timbul tenggelam di wajahnya ketika melihat kami. Sedangkan guru Isa sering nampak diam di sekolah menyendiri. Kami sudah berusaha membawanya bercanda, bercerita lucu tapi tidak berhasil . Dia semakin diam dan diam. Tanpa sengaja pada suatu hari aku melihatnya memeluk dan menyorongkan wajahnya ke daun pohon beringin. Aneh, bibirnya bergerak-gerak kecil berbicara. Tangannya lembut menyentuh dan membelai daun-daun beringin. Dielusnya akar batang sambil berbisik-bisik. Ada apa dengan guru Isa? .Apakah guru Isa bisa berbicara dengan daun-daun dan akar beringin ?.

Tidak hanya diam dan berbisik – bisik di jembatan, dia sekarang rajin membawa kami ke jembatan gantung. Hampir setiap waktu kami di bawanya. Di bawah pohon beringin tempat akar jembatan gantung kami duduk- duduk melingkar mendengarkan hikayat lama dari moyangnya “Suku laut”. Kali ini guru Isa mau bercerita dengan semangat. Kami berdoa didalam hati mudah-mudahan penyakit aneh diamnya hilang bersama derasnya arus sungai dan semilir angin hutan..
“Setiap makhluk yang di ciptakan Allah adalah bernyawa”, katanya di kala itu. “Contohnya nabi Sulaiman, beliau bisa bicara dengan binatang menjadikan alam sebagai sahabatnya”. Kami terdiam hening mendengarkan. “Kalian bisa menjadikan alam sebagai guru”, lanjutnya lagi berdiri sambil memungut daun-daun pohon beringin yang berjatuhan kering ditiup angin dan memasukannya kedalam saku baju.
“Bisa bicara dengan alam ?”. kami bertanya heran
“ Ya”, jawabnya memandang wajah kami lekat dengan penuh kasih.
“ Alam mempunyai insting sama seperti manusia” tambahnya. Bisa tertawa, marah dan sedih”.
“ Bagaimana dengan pohon dan dedaunan ?” tanyaku.
Pak Isa hanya tersenyum melihatku . Di usapnya rambutku dengan tangannya yang kekar.
“ Kalian lihat lah jembatan akar ini “,katanya menunjuk jembatan gantung. Dari tahun ketahun tidak pernah tua dan lapuk. Akar pohon beringin ini selalu kokoh menyangga padahal sudah ratusan tahun pertanda pohon bersinergi dengan manusia. Kami bertambah bingung mendengar perkataan guru Isa.

Di suatu sore aku berjalan berdua dengan guru Isa di hutan jembatan gantung. Kami berdiri di atas jembatan memandang jauh. Beberapa orang kampung melewati jembatan pulang dari kebun. Anak-anak digendong mak memakai kain panjang, membawa kayu bakar. Tak nampak sorot keletihan diwajah mereka. Kehidupan di kampung kami ditentukan oleh sumber daya alam yang menaunginya. Simbolis alam dengan masyarakat. Hutan tanah, flora dan faunanya. Dengan konsep alam itu masyarakat kampung tidak hanya mempunyai satu jenis pekerjaan saja. Diwaktu pagi mereka pergi berkebun, menakik getah dengan arit takik atau kesawah. Diwaktu sore menjelang, mereka menangkap ikan menggunakan bubu,lukah menyergap ikan yang tersesat. Dan adakalanya selesai berkebun mencari damar, rotan dan beniro (mencari air nira ). Ketika hujan berkepanjangan maka saatnya meramu hasil hutan. Hutan salah satu mata rantai yang mengikat dengan masyarakat untuk ekonomi dan lingkungan
“ Suatu waktu kau akan pergi ke sebuah negeri. Kata pak Isa memecah kesunyian.
“Negeri apa ?”.
“ Negeri daun”.
“ Daun ?
“ Ya. Disana akan kau temukan daun-daun dari berbagai pohon hidup saling menyayangi. Negeri itu indah sekali berwarna-warni elok dipandang dan menawan hati’ terang pak Isa
“Di mana itu guru ?” tanyaku

Guru Isa tidak menjawab.“Tak seorang pun bisa menjatuhkan daun dari ranting pohon jika belum sampai waktunya”. .
“ Guru akan pergi kesana ? .Bagaimana dengan sekolah kita?”, tanyaku penasaran.
Kali ini kulihat wajah guru isa berubah menjadi pinggan pecah. Matanya berair, diusapnya dengan ujung baju.” Daun - daun dan akar akan menjadi sahabat kehidupan kalian sepanjang hayat”, katanya sendu. Mata itu pecah . Di peluknya tubuhku erat. Aku pun ikut menangis.

Dimalam itu dari rumah panggung yang didirikan ayah diatas tiang dengan tinggi menjadi saksi bisu malam . Kurebahkan badan di dipan , golek kiri kanan macam lemang , tak juga mata terpejam. Bayang – bayang orang asing , sekolah, jembatan gantung dan guru isa bertukar silih berganti menghantui pikiranku. Perkataan guru isa yang mengharu biru dan membingungkan mengganggu biji mata ku agar tidak mau lelap tidur. Tiba-tiba bayang hitam menyeruak masuk dari fentilasi jendela rumah lontik. Kecil berputar-putar semakin lama semakin besar membentuk buah – buah hitam kelapa amat banyak , menghimpit tubuhku. Aku tercekik, meminta tolong tapi suaraku sepertinya hilang ditelan pusaran bumi. Mata ku medelik keatas, tanganku menggapai-gapai lemah. Semakin aku menggapai dan berteriak semakin kuat himpitan itu. Kakiku menghentak hentak kuat melawan tak berdaya. Akhirnya pertolongan datang dari gayung kecil mak . Mengguyur muka dan tubuhku dengan air . “Zainul kau asik nak melolong, ada apa ?” , kata mak menggoyang-goyang tubuhku kuat. Aku tersentak bangun pucat, badanku menggigil berkeringat dingin .

Dan dimalam itu juga angin bertiup lambat-lambat dingin dari batang-pohon tepi sungai jembatan gantung. Awan bergerak perlahan menutupi bulan , tak berbintang. Sesosok berperawakan tinggi tersudut duduk di atas jembatan. Mata itu sembab , menitik air di sudut matanya satu satu menimpa sungai yang beriak. Dua tangannya mengadah terbuka membelah langit. Dari mulutnya mengeluarkan bunyi-bunyi pujian memuja kepada Tuhan. Lalu dia diam terfakur lama , hening. Tak lama kemudian dia berdiri menuju pohon beringin besar jembatan. Dipetiknya beberapa helai daun sebesar telinga. Diciuminya lambat-lambat. “Waktunya harus berangkat pergi “ ,katanya lembut . Mata itu semakin sembab dan tersedu-sedu. Tiba-tiba bunyi gemuruh air sungai bergejolak hebat, Angin berubah mengamuk kencang menghantam pohon beringin jembatan. Akar akar terlepas dari ikatan simpul melayang-melayang membentuk tangan –tangan raksasa yang panjang. Beloti kayu beterbangan dari alas jembatan. Suara petir menggelegar kuat berdentum beberapa kali seiring dengan lenyapnya guru Isa dan jembatan gantung bersama pusaran angin menuju negeri daun……………………………………..
Pelalawan, akhir Juni 2012

PROFIL PENULIS
Nama : Dedi Irwan
Tempat /tgl lahir : Bangkinang, 06 -02-1973
Pekerjaan : Guru Bahasa Inggris SD Taruna Andalan
Alamat : Komplek Perumahan II PT.RAPP BLOK 0 NO 6 Pangkalan Kerinci
Pelalawan
Hoby : Membaca, menulis.
Email : Adithidayah@yahoo.com
FB : adithidayah@yahoo.com

Baca juga Cerpen Pendidikan yang lainnya.

Selasa, 24 Juli 2012

Cerpen Pendidikan Remaja - Senja Yang Mengantar Impianku

SENJA YANG MENGANTAR IMPIANKU
Karya Wardatul Adawiyah

Lambat laun dingin semakin menusuk, masuk kesegala rongga tubuhku, dingin ini beradu kuat dengan suhu tubuhku yang semakin panas terasa. Aku masih dalam kesakitanku! Sudah 2 hari aku terbaring lemas diatas kasur berselimut kain tebal berwarna merah dengan sedikit motif bunga tulip disetiap ujungnya.

Tanpa kusadari, mutiara hangat mulai jatuh, mengairi kedua pipiku. Semakin deras mengucur dikedua muara anak pipi. Aku menangis malam ini bukan alasan karena cinta, rasa sakit hati, bukan pula karena sakitku yang tiap harinya tidak menunjukkan perubahan kearah yang lebih baik. Tapi malam ini, kesedihan itu datang karena rasa rinduku yang membuncah mendengar suara lemah lembut beliau.

Setelah magrib usai, ibu menelfonku di seberang sana. Ia menanyakan perihal kabarku disini, menanyakan kabarku dalam perantauan selama sebulan terakhir. Aku sedikit gugup menjawab, dengan nada ragu-ragu kujawab bahwa diriku baik-baik saja ditanah kampung orang. Aku berbohong Allah, maafkan hamba Ya Allah, tidak ada niat sedikitpun untuk membohongi beliau.

Semenit berlau, dua, tiga, dan dimenit ke enam, ibuku merasakan kejanggalan dalam percakapanku malam ini.
“nak, kamu sakitkah ?” kupejamkan mataku sesaat, merasakan getaran suara yang mulai berubah.
“mm.. Amani baik-baik saja bu’, tidak apa kok”
“jangan bohong sama ibu, ibu tahu kau sedang sakit, suaramu melemas begitu, belum lagi batukmu yang selalu terdengar” aku hanya terdiam, mendengar suara beliau yang mulai diiringi dengan tangisan kecil.
“sudah berapa hari kamu sakit ?, apa ibu bilang, tidak usah sekolah jauh-jauh, kalau begini siapa yang mau menjagamu ?, pulang sajalah, tidak usah pikir beasiswa yang kau terima disana, ibu dan bapakmu disini masih bisa membiayai kuliahmu.! Aku menarik nafasku dalam. Sedikit kesal mendengar perkataan ibu barusan.

Segera kututup telefon ibuku diseberang sana, tanpa ada salam penutup yang sering mengakhiri pembicaraan seperti biasanya. Fisikku tidak sanggup mendengar semua keluh kesah ibu, tidak sanggup mendengar suaranya kian parau yang memecah jadi tangis. Maafkan Amani bu! Ini sudah keputusan Amani. Sekali lagi maaf.

Malam ini benar-benar membuatku sedih, sakitku ditambah kejadian barusan membuatku sedikit menitihkan air mata lagi. Jadi rindu kampung halaman, jadi rindu sosok luar biasa nan bersahaja dirumah sana, jadi rindu kecerian berbagi tawa dan canda bersama adik-adik, jadi rindu mereka yang jauh disana.
Kepalaku masih pening! Sepertinya sakitnya kambuh! Beban pikiranku ditambah satu lagi. Teringat malam yang telah lalu, saat esok kepergianku merantau di tanah kampung orang. Ah, mengingatnya membuat air mataku kembali bercucuran deras. Saat ayah, ibu, nenek, kakek, paman, bibi dan keempat saudaraku duduk melantai diruang TV. Malam itu kebahagiaanku terasa lengkap, semuanya hadir memberikanku pesan dan kesan sebelum esok aku pergi jauh untuk waktu yang lama.

Ini impianku, ini cita-citaku, bersekolah diluar kota dengan jurusan dan fakultas yang saya inginkan. Ayah dan ibuku bersih keras melarangku bersekolah jauh-jauh. Kesempatan itu sempat menjadi mimpi nyata yang nyaris terbuang begitu saja.
“kan bisa sekolah di Makassar saja nak! Masuk negerilah dulu, disini juga masih banyak universitas bagus! Tidak usah pikirkan beasiswa itu, ayah masih bisa membiayai, cita-citamu jadi seorang penulis juga bisa dimulai disini nak!”
“lantas kenapa Ayah mengizinkanku mendaftar disana ? Ah, bagi Amani perguruan Tinggi Negeri ataupun Swasta sama saja yah! Tergantung pribadinya kita sendiri, Amani juga dari sekolah swasta, tapi masih bisa bersaing dengan anak negeri. Pokoknya niat Amani sudah bulat! Amani ingin kuliah disana!” nada biacaraku sedikit meninggi.
“iya Ayah paham, ayah masih ingat jelas dengan cerita-cerita impianmu bahwa kamu ingin bersekolah diluar kota dengan jurusan psikologi dan ingin menjadi penulis muda, ya! Ayah masih ingat jelas itu nak. Tapi ayah tetap saja khawatir, kamu masih kecil untuk mengenal kehidupan diluar sana, bagaimana kerasnya kehidupan luar, kamu masih terlalu muda nak untuk kuliah jauh-jauh”.
“Belum lagi kamu sering sakit, lantas siapa yang akan menjagamu nak ? siapa yang akan menyiapkan makananmu ?” ibuku menambahkan.
“pokoknya Amani ingin sekolah disana! Amani ingin kejar impian Amani. Huh!”

Jauh sebelum malam itu, sering sekali Ayah dan Ibu mengurungkan niatku untuk bersekolah diluar kota. Tapi malam sebelum hari keberangkatanku, aku menyadari alasan mereka melarangku pergi! Kehidupan luar memang terlalu ganas untuk kulalui seorang diri ditanah kampung orang. Akan banyak rindu yang tumpah tiap malamnya, akan banyak rasa cemas yang selalu hadir, akan banyak air mata yang jatuh karena perpisahan ini. Namun, ini tetap cita-cita dan impian yang harus mengorbankan segalanya. Termasuk rasa egoisme diri kita masing-masing.
“ayah hanya berpesan, agar Amani disana tetap menjaga sholat, pergaulan serta akhlak Amani, bersekolah yang rajin, jangan kecewakan kami semua disini nak, kepergianmu besok adalah langkah awal dari mimpi-mimpimu, tetap hadirkah Tuhanmu ditiap langkahmu nak.!” Seraya tertunduk dengan mata yang sembab, Ayah mengecup keningku, memeluk anak sulungnya sangat erat dengan penuh perasaan cinta.
“ingat! jaga kesehatanmu, ibu tidak mau kalau sampai disana sering sakit lagi, jangan lupa sering minum vitaminmu, minum susulah biar gejala tipus mu itu tidak kambuh-kambuh lagi”
“ibuku sayang, kalau urusan minum susu, Amani nggak janji yah? Hehe ” sambil mengecup kadua pipi beliau. Malam ini kebahagianku lengkap sekali, doaku malam ini “Allah izinkan keduanya tetap dalam naungan kasih-Mu, limpahkan kelapangan serta kesehatan bagi keduanya.”

MAWARDA
Senja datang beriringan bersama jingga yang mulai menguning disudut kaki langit, sore itu, sebelum berangkat kebandara, aku datang ke ma’had yang membesarkanku, sore itu juga, aku benar-benar merasakan bahwa mereka semua, adik-adikku di ma’had, teman-teman, sahabatku bahkan guru-guruku turut menangisi kepergian kami berempat. Mendengar nasihat dan salam selamat tinggal rasanya tidak ingin jauh dari mereka semua. Namun, inilah takdirku, inilah impianku yang harus kukejar, yang harus kuraih, meskipun perpisahan memang kadang menyakitkan.
“Amani ini.!” Kulirik dari belakang sahabatku Mhiza.
“apa ini ?” seraya menerima bungkusan didalam kantongan plastik putih.
“hadiah dari sahabatmu disebelah rumah, yang dia janjikan itu loh! yang satunya lagi kenang-kenangan dariku” kubuka plastik putih itu dan kutemukan sebuah novel tentang ‘persahabatan’ dan satunya lagi buku diary yang lumayan besar berwarna cokelat muda.
“makasih ya Zaa..” Mhiza tersenyum. Aku berlari kearah ibuku yang berada didalam mobil, sejam lagi aku akan berangkat meninggalkan kota kelahiranku. Kota penuh kenangan dalam hidupku.
Bandara Internasional Hasanuddin 17: 25 WITA
Suasana bandara itu sesak, dipenuhi kerumunan manusia. Ada orang-orang yang sedang bergembira melihat sanak saudara serta kerabat mereka berdatangan dari persinggahan yang lama ditanah kampung orang, namun disisi lain, tidak sedikit juga mereka bersedih melihat keluarga serta kerabat mereka pergi untuk waktu yang lama.

Inilah seni kehidupan, dimana kita dihadapkan antara dua pilihan, kanan dan kiri, atas dan bawah, baik dan buruk serta pertemuan dan perpisahan adalah salah satu seni kehidupan yang selalu memberikan kesan berarti dan mendalam. Engkau akan mengenal seseorang ketika pertemuan itu datang menyapa, dan engkau akan merasa seseorang itu berarti dalam hidupmu ketika perpisahan datang menghampirimu, namun segalanya akan indah pada waktunya, baik yang buruk sekalipun akan terasa indah ketika engkau mengenang masa-masa dimana kita saling berbagi.
“Amani kutitip ke-3 temanmu, saling mengingatkan disana nak!, ingat tiga pesan ustadzah, jaga sholatmu, jaga pakaianmu, dan jaga hatimu nak, ingat! pergaulanmu yang salah bisa merusak dirimu sendiri” Ustadzahku memelukku erat, mengusap kepalaku serta mengelus lembut punggungguku.
Sedikit lagi, senja akan menghilang...
Kupeluk erat wanita perkasa itu, ah! Rasanya air mataku ingin tumpah lagi melihat beliau kembali menitihkan air mata. nenek ,adik-adikku , ustadzahku, sahabat-sahabatku yang turut mengantar, kuucapkan selamat tinggal, doakan kami semoga selamat dalam perantauan ini. Senja itu tak menghadirkan ayahku. Tidak apalah mungkin tugasnya kali ini benar-benar penting! Tapi, aku yakin dari kejauhan sana beliau tidak berhenti mendoakan anaknya ini.

Aku masuk! Perlahan bayangan nyata mereka mulai hilang dari pandanganku. Senjapun demikian, garis-garis jingga yang menghiasi kaki langit mulai samar. Kini siluet hadir menggantikan senja yang mengantarku pergi, yang membawa imipianku kesebuah tempat yang mengharuskanku berpisah dengan orang-orang yang kusayang untuk waktu yang lama.

Semoga pada senja berikutnya aku akan hadir bersama kalian, berbagi cerita, berbagi tawa dan canda dibawah langit penuh jingga itu. Ataukah senja yang hadir bersama gerimis manja yang melukis senyum indah pelangi. Aku akan bersabar bersama rinduku disini, bersama doa-doa kalian yang selalu mengalun ditiap sujudmu. Akan kubawa pulang sebuah amanah yang telah dititipkan diatas kedua pundakku yang telah menjadi mimpi nyata dalam kehidupan kelak.
“auu...” seberkas cahaya jingga masuk menembus jendela kamarku dari arah barat, kali ini senja membangunkanku. Menyilaukan kedua mataku yang telah menangis semalam suntuk. Masyaallah hampir lupa aku! Hari ini ada agenda penting dikampus, setengah jam lagi aku akan terlambat!.

Senja temani aku mengukir mimpiku disini, tetap bersamaku dalam kelapangan maupun kesakitanku. Berjanjilah padaku! Aku akan pulang bersamamu kembali. Kekampung kelahiranku dengan membawa sejuta harapan-harapan nyata bagi mereka. Pulang! Dan kau bersamaku akan menatap senyum tulus bahagia mereka dibawah naungan kasih Tuhan. Kabulkanlah ya Rabb! Amin, Amin ya Rabbul Izzati.
THE END

PROFIL PENULIS
Assalamualikum wr wb
salam hangat! salam ukhuwah dari diriku sendiri teman-teman.
kenalin nih yang punya cerpen diatas. namaku Wardatul Adawiyah, aku biasanya disapa "warda". aku berasal dari kota makassar, sulawesi selatan. aku dari kecil, bersekolah di YPP DARUL AMAN BUQ'ATUN MUBARAKAH GOMBARA MAKASSAR, dari Taman Kanak-kanak hingga masa abu-abuku kulewati dipondok biruku ini!. Alhamdulillah saat ini saya seorang mahasiswa disalah satu perguruan tinggi dikota malang (UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG) saya mengambil fakultas dan jurusan psikologi.
teman-teman sekalian jika ingin melihat karya tulis warda yang lainnya silahkan kunjugi blog di bawah ini :
www.jilbaberblue.blogspot.com atau www.mawarwarda.wordpress.com
kalian juga bisa baca coretan-coretan saya di facebook :
Wardatul Adawaiyah (Wardatul Adawiyah Aziz)

Sekian teman-teman, salam bahagia selalu.. :)

Baca juga Cerpen Pendidikan, Cerpen Remaja dan Cerpen Motivasi yang lainnya.

Sabtu, 14 Juli 2012

Cerpen Pendidikan - Stres

STRES
Karya Martha Friska Sirait

Siang itu suhu udara sangat terasa panas, namun merupakan sahabat baik bagi mereka-mereka yang sedang mencuci pakaian. Dengan bermodalkan kaki ayam, seorang anak rela berlari ditengah teriknya matahari tanpa mengindahkan rasa panas yang berada ditelapak kakinya.
“ Bu, beli gorengannya dua ribu. Satu goreng pakai satu koran ya Bu”
Setelah menghabiskan gorengannya, Andre kembali ketempat dimana ia sering menghabiskan waktunya dari pagi hingga sore. Ia selalu menunggu orang yang keluar dari tempat perbelanjaan dan menawarkan tenaganya untuk membawa barang-barang belanjaan mereka sampai ke tempat parkiran.
“ Terima kasih ya, kamu tidak sekolah ?”
“ Tidak Pak, tidak ada biaya untuk bersekolah”
“ Orang tua kamu mana ?”
“ Saya anak yatim piatu. Orang tua saya telah meninggal saat saya masih bersekolah kelas empat SD.”
“ Hmm..., Bapak turut prihatin. Ini upah kamu, jangan pernah patah semangat ya Nak”
“ Terima kasih Pak”

Ia masih menunggu dan terus menunggu, jauh di depan pintu tempat perbelanjaan. Hingga suatu ketika disaat ekor matanya melirik sesuatu yang begitu membuat dirinya penasaran, ia berdiri dari tempat duduknya dan mulai melangkahkan kakinya ketempat matanya tertuju.
“ Apa yang sedang Bapak lakukan ?”
“ Saya ingin membawanya ke rumah sakit”
“ Memangnya anjing Bapak sakit apa?”
“ Dia tidak mau makan dan terkadang terlihat begitu lemas, saya menduga bahwa anjing ini sakit”

Dengan perlahan Andre mendekati anjing itu dan melakukan sesuatu kepada anjing tersebut. Sesaat kemudian anjing itu langsung kembali segar dan menggoyangkan ekornya.
“ Anjing Bapak hanya merasa sesak nafas, dan itu disebabkan karena rantai yang anda pasang pada lehernya terlalu kencang sehingga membuatnya lemas”
“ Oh, terima kasih ya Nak”
“ Ya, sama-sama Pak”

Keesokan harinya Andre kembali ketempat dimana Ia sering menghabiskan uangnya.
“ Bu, beli gorengan. Seperti biasa ya Bu”

Membeli gorengan bukanlah suatu kebiasaan olehnya. Hanya saja, degan membeli gorengan tersebut ia bisa melakukan sesuatu yang ia gemari. Tidak ada yang tau mengapa, bahkan si penjual gorengpun tidak mengetahuinya. Itu hanya kebiasaan semata yang mungkin tidak semua anak-anak menyukainya.
“ Kau mau bekerja sebagai pesuruh di tempat saya bekerja, saya hanya sebagai tukang bersih-bersih disuatu Rumah Sakit, bagaimana kamu mau ?”
“ Saya mau Pak, tapi saya tidak mempunyai baju yang bagus untuk bekerja di sana”
“ Tenang saja, seragam telah disediakan di sana. Pukul dua siang kamu datang kesini dan kita akan berangkat bersama”
Rumah Sakit itu sangat besar dan megah. Tidak hanya terlihat dari stuktur bangunannya saja, tetapi juga dari pasiennya. Banyak jenis binatang yang bernilai jual tinggi menjadi pasien di rumah sakit tersebut. Andre sangat senang dan merasa beruntung pada saat itu. Setelah ia diterima bekerja, ia semakin bersemangat membeli gorengan dan mencari buku-buku bekas.

Satu minggu telah berlalu dan kini Andre mulai terbiasa dengan segala pekerjaannya. Ia sangat rajin dan selalu dapat menyelesaikan tugasnya dengan cepat namun memuaskan. Dan ketekunannya itu dihargai oleh pihak Rumah Sakit dan memberinya kenaikan gaji.
“ Terjadi infeksi Nosokomial di Rumah sakit ini ! Wajar pasien stres karena ditempatkan di lingkungan baru dan terjadi disemua Rumah Sakit, tapi aneh sekali kalau banyak kasus seperti ini”
“ Kamu fikir diagnosis dokter Ran itu salah, infeksi Nosokomial biasanya karena virus Parvo kan, klo kamu menentang dokter kamu akan dipecat dari sini”. Virus parvo adalah virus yang masuk ke jepang sekitar tahun 1980-an yang menyebabkan muntaber akibat infeksi Nosokomial.
“Apa kita tidak bisa mengatakan pendapat kita disini dengan bebas, demi menolong pasien?”
“ Kamu fikir kamu siapa, Ndre. Kamu hanya petugas kebersihan disini, sedangkan Bu Ran adalah dokter”

Karena andre tidak bisa menerima itu, lalu Ia pergi mendatangi dokter Ran dan memintanya melakukan pemeriksaan secara menyeluruh pada setiap pasien dan cari tahu virusnya. Mendengar pernyataan Andre, dokter Ran tidak bisa menerimanya. Karena itu sama saja menyatakan bahwa diagnosisnya salah tanpa bukti.
“ Kalau begitu tolong dilakukan pemeriksaan agar aku bisa meminta bantuan dokter lain untuk menunjukkan dasarnya”
“ Tidak bisa. Saya tidak memberikan izin untuk itu. Karena kamu yang menuduh saya tanpa bukti. Jika kamu tidak bisa membuktikannya, maka kamu harus bertanggung jawab. Saya akan memenjarakan kamu karena telah mencemarkan nama baik saya.” dokter Ran adalah anak dari pemilik Rumah Sakit, oleh karena itu Dia bisa melakukan apa saja di Rumah sakit tersebut.

Setelah mendengar pernyataan dokter itu, Andre kembali ke ruangannya. Sejenak ia berfikir. Aku sudah memeriksa efek samping dan kemungkinan alergi obat yang diberikan. Dan aku sudah mencari tahu keberadaan virus parvo, kemungkinannya penyebabnya makanan dari Rumah Sakit ini.
“ Guk..Guk..Guk...”
“ Ada apa anjing manis?” sesaat andre melihat keatas untuk memperhatikan mengapa anjing tersebut menyalak ke arah atas, dan ia melihat banyak kecoa yang berlalu lalang. Langit-langit itu memeng terlalu tinggi untuk bisa dibersihkan, lalu tiba-tiba Andre terdiam seperti tahu sesuatu.

Sejak kejadian itu, Andre tidak lagi berbicara apa-apa. Namun belakangan ini Rumah Sakit menjadi lebih bersih dari sebelumnya. Beberapa orang mengatakan bahwa Andrelah yang membersihkan seluruh Rumah Sakit itu agar ia tidak jadi dipecat. Tiba-tiba dokter Boy, selaku pemilik rumah sakit tersebut datang menemui dokter Ran.
“ Kabarnya Andre membersihkan Rumah Sakit ini sendirian dan membasmi kecoak-kecoak yang berada diatap. Aku penasaran kenapa Dia begitu peduli soal kebersihan dan aku sudah menyelidikinya. Ini catatan rekam medik pasien yang dirawat akhir-akhir ini dan hasil pemeriksaan pasien penderita gastritis akut. Coba dilihat !”

Setelah membaca hasil itu, dokter Ran sangat terkejut. Dan tidak lama saat itu, Andre datang keruangan dokter Boy.
“ Oh, kamu sudah datang. Terima kasih ya, berkatmu kami jadi tahu ada infeksi Nosokomial akibat kecoak”
“ Tempat ini menjadi bersih baru sekarang ini. Kita harus mengumpulkan data dulu agar kita tahu pasti kecoak benar penyebab Gastritis akut” sahut dokter Ran.
“ Memang kecoa penyebabnya, karena pasien terinfeksi bakteri Pylory! Setelah saya teliti, memang benar kecoak punya kemungkinan tertinggi sebagai perantara bakteri Pylori. Bukan hanya manusia, tetapi juga hewan. Bila terkena bakteri tersebut, pasien akan terkena Gastritis akut, radang lambung dan kanker lambung. Dan penyebab bakteri itu dari kotoran kecoak yang mungkin bercampur dengan makanan atau minuman pasien disini.”
“ Jadi, diagnosisku benar-benar salah, lalu dari mana kamu tau Ndre bahwa kecoaklah penyebab bakteri itu?”
“ Saya melihat seekor anjing yang menyalak ketika melihat kecoak di langit-langit tempat ini. Anjing hanya menyalak pada sesuatu yang tidak biasa dilihat olehnya, kemungkinan anjing itu tidak biasa melihat kecoak di kediaman majikannya”
“ Kita akan memeriksa pasien dan menyembuhkan mereka. Dokter Ran, salah diagnosis kali ini kesalahan Rumah Sakit. Aku tidak akan membebankan kepadamu seorang diri. Tapi, jangan sampai terulang lagi ! Camkan itu baik-baik ! sekarang keluar dari ruangan saya”
“ Permisi Pak”
“ Andre, sekali lagi sanya minta maaf serta mengucapkan terima kasih kepadamu atas apa yang telah kamu lakukan. Memang seharusnya dokter Ran tidak memperlakukan kamu seperti itu, setiap orang berhak mengeluarkan pendapatnya. Tapi kalau boleh saya tahu, apakah kamu mengetahui bahwa kecoak merupakan perantara bakteri Pylori ?”
“ Ya, Pak. Tapi saya tidak diberi izin oleh dokter Ran untuk melakukan pemeriksaan. Maka dari itu saya hanya bisa berusaha agar kecoak-kecoak disini tidak ada lagi”
“ Dari mana kamu tahu, kamu suka membaca buku kesehatan ya?”
“ Saya tidak punya cukup uang untuk membelinya. Saya hanya gemar membaca. Maka dari itu saya suka membeli gorengan hanya untuk mengambil korannya saja serta mengambil buku-buku dan koran-koran bekas agar bisa menbaca”
“ Menakjubkan. Baiklah, kamu tidak akan dipecat”
“ Terima kasih Pak”
Setelah kejadian itu, tidak seorangpun yang berani menganggap Andre seorang pekerja biasa yang tidak memiliki suatu kemampuan ataupun kecerdasan.\

Baca juga Cerpen Pendidikan yang lainnya.

Cerpen Persahabatan Islam - Mungkin Bukan Jodohku

MUNGKIN BUKAN JODOHKU
Karya Mardiono

Usai mengikuti pengajian rutin disekolah tempat mereka mengajar.
“ Luna, gak biasanya kamu gini. Apa kamu sakit ? koq kelihatannya dari tadi melamun terus “ Tanya Rahmi sambil jalan menuju ke rumah.
“ seandainya kamu tahu apa yang ada dihatiku Rahmi, kau pasti gak akan terima ini…” gumam Luna dalam hati.
“ hallo….” Tegur rahmi membuyarkan lamunannya.
“ ha, oh,. Ehm… gak papa kok mi, oh ya gimana? tadi malam jadi kerumah Bu Zuraidah ?, trus gimana hasilnya ? “ jawab Luna mengalihkan pembicaraan.
“ sudah kubilang. Untuk sekarang ini, aku belum mau memikirkan hal itu. Pernikahan merupakan suatu hal yang sakral, yang harus kita jalani dengan serius, karena itu bukan sementara, tapi untuk selamanya…” ucap rahmi sedih. Ia terus memikirkan ayahnya yang sakit – sakitan. Ia masih ingin terus mengurusnya. Ia tak tega kalau harus meninggalkannya. Sementara Bu Zuraidah, ketua yayasan mereka, ingin menjodohkan Rahmi dengan salah satu guru disitu.
“ Rahmi, aku ngerti kok perasaanmu. Tapi cobalah kamu istikharah meminta petunjuk kepada Allah. Kesempatan tidak datang dua kali. Pak Ferdhi sangat cocok untukmu. Dia seorang Da’i. Kami semua guru – guru disini mendukung..” ucap Luna membesarkan hatinya, sambil menghapus setetes air mata Rahmi yang tiba – tiba saja jatuh mengingat ayahnya yang sedang sakit. Mereka berhenti sesaat. Sebenarnya Luna tidak tega kalau harus merebut ferdhi dari tangannya karena Rahmi begitu akrab dengannya.
***

Malam itu.
Kepala luna sakit sekali, mengingat ucapan yang baru saja didengar. Ia menangis. Masih terngiang ditelinga ucapan ibunya.
“ Luna, kapan lagi kamu menikah…?, sudah dua adikmu yang melangkahimu, cepat – cepatlah kamu cari jodoh. Ibu sudah ingin menimang cucu dari kamu..”
Ia masih duduk terdiam ditempat tidur, melihat fhoto kekasihnya. Selaksa raut wajah dan tragedi itu terputar kembali mengenang masa lalunya.
Pesta yang megah telah digelar. Seratus undangan lebih telah tersebar. Tapi bukannya mempelai laki – laki yang datang, malahan seorang lelaki berkumis tebal, berbaju seragam cokelat dan bertitel, datang dan menanyakan kejelasan KTP yang diberikan. Korban kecelakaan lalu lintas.

Gaun kebaya yang masih melekat, menjadi saksi perpisahan mereka dirumah sakit. Sang calon suami hanya diam terbujur lemas bersanding infus dan hirupan oksigen yang melekat di wajahnya. Ia mengejar dokter usai proses operasi. Namun dokter berkata, “ hanya ini yang sanggup kami lakukan. Tuhanlah yang menentukan segalanya. “ ucap dokter itu sedih penuh penyesalan. Mendengar itu, perasaan bahagia dan cinta yang telah terbangun lama, kini roboh berserakan. Jilbab yang anggun, tak lagi tertata rapi oleh sedihnya. Lututnya melantai. Derai air matanya tak kunjung henti. Dalam hati ia ingin berteriak, ya Rabb…. Kenapa kau timpakan ini padaku?

Sepertiga malam ia habiskan untuk bermunajat kepada Allah swt. Ia terus menangis, memohon pada yang Kuasa, agar dimudahkan jodohnya. Sebenarnya beberapa calon telah ditawarkan kepadanya. Ada yang pengusaha, PNS, angkatan, bahkan ada yang ingin melamarnya seorang konglomerat. Namun semua itu ia tolak. Apalah artinya harta yang melimpah apabila tidak dilandasi keimanan dan ketaqwaan yang dapat mengokohkan bahtera rumah tangga. Semua itu ia tuangkan dalam diary mungil, selepas tahajjudnya.
***

Fajar sidik mulai membangunkan sang mentari dari peraduannya. Selesai sholat subuh, ia tidur kembali.
“ Luna, kamu gak ngajar ?, sekarang sudah jam delapan..” ibunya membangunkan dengan lembut.
“ astaghfirullah…” ucapnya tersentak saat mendengar jam delapan. Langsung ia berberes dan mempersiapkan segala sesuatunya. Bukupun asal sahut saja tanpa melihat – lihat lagi yang mana yang akan diajarkan nanti.
***

Ferdhi tiba di sekolah telat. Ia melihat Madrasah sepi. Beberapa orang tua menggandeng tangan anaknya kembali pulang.
“ kenapa pulang bu?” Tanya ferdhi penuh penasaran, sambil memarkir sepeda motornya dan melepas helm dari kepalanya.
“ lho kok Bapak gak pergi?, ayahnya bu rahmi sekarang sedang kritis di rumah sakit. Semua guru menjenguk kesana. Anak – anak hari ini diliburkan.” Jawab orang tua murid.

Ferdhi langsung balik arah menuju rumah sakit. Tapi ketika ia sampai disimpang, angkot warna putih berhenti didepannya. Luna turun tergesa.
“ Bu Luna.. ,” panggil Ferdhi mengejutkan.

Baru saja Luna membayar ongkos pada pak supir.
“ ada apa pak?” Tanya Luna heran. Jarang sekali Ferdhi mau ngobrol dengan rekan guru akhwat. Kecuali ada sesuatu hal yang sangat penting. Dengan singkat ferdhi memberitahukan kabar yang ia dapat. Merekapun bergegas ingin pergi ke rumah sakit. Luna sangat segan dan ragu, ingin minta bonceng. Begitu juga ferdhi. Ia sangat menjaga hijab. Mungkin ia lebih baik memberikan sepeda motornya untuk luna kendarai, daripada harus memboncengnya.
“ Bu Luna naik angkot saja ya?”
“ ya pak. Gak papa, Bapak duluan saja. Nanti saya menyusul. “

Madrasah sunyi. Semua murid – murid sudah dijemput oleh orang tuanya. Ada juga yang pulang sendiri karena rumahnya dekat. Ferdhi tidak tega harus meninggalkannya luna sendirian. Iapun menunggu Luna sampai dapat angkot. Satu setengah jam mereka menunggu angkot. Tetap tak tampak melintas. Angkot lintas ke madrasah memang sangat jarang. Satu – satu. Apalagi kalau sudah jam delapan keatas. Tidak ada sewa. Para pekerja dan pelajar sudah berada ditempatnya masing – masing. Angkot – angkot itu juga menunggu sewa diterminal sampai penuh, baru mau berangkat.
Mereka resah. Entah apa yang sudah terjadi dirumah sakit sana. Mereka ingin segera kesana. Ferdhi juga bingung. Satupun becak juga tak ada yang muncul. Kalaupun ada, sudah berisi kian penumpang yang ia bawa dari tempat mangkal. Mentari semakin meninggi.

Mereka tidak mungkin melama – lamakannya. Saat darurat, segala sesuatu yang tidak boleh menjadi boleh. Gak mungkin ferdhi meninggalkan Luna sendiri ditempat yang sepi. Ferdhi mempersilahkan Luna naik disepeda motornya. Mereka segera meluncur. Ferdhi cukup tangkas menerobos mobil – mobil besar yang mengangkut pasir dan batu.
Luna juga tahu batas. Tidak seperti remaja sekarang pada umumnya. Gak tahu malu. Boncengan dengan bukan muhrimnya. Memeluknya layaknya suami istri. Bahkan mungkin suami istripun malu melakukan itu ditempat umum. Dasar zaman edan !!

Dus, mereka sampai dirumah sakit. Sejurus kemudian, mereka menemui guru – guru lainnya yang telah lama berada disana. Keluarga Rahmi berada didepan ruang gawat darurat. Spontan Bu Zuraidah mendekati Ferdhi dan menggiringnya ke sudut ruangan.
“ Pak Ferdhi, mungkin hanya Bapak yang dapat menyelamatkan ini. Rahmi sedari tadi pingsan belum siuman. Ia sangat takut ayahnya meninggal. Dari sekian orang saudaranya, hanya Rahmi-lah yang paling disayang oleh ayahnya” ucap Bu Zuraidah penuh pengharapan dan sedih. Ia melanjutkan..
“ sebelum ayahnya sakit, ayahnya berpesan bahwa ia ingin melihat Rahmi menikah sebelum ia pergi…, entah apa maksudnya. Tolonglah Pak Ferdhi, Rahmi orangnya ta’at, ia sabar dan sebentar lagipun akan diwisuda. Cocok untuk jadi da’iah pendamping pak Ferdhi”, jelasnya runut, mendesak penuh harapan. Wajahnya memelas.

Sebenarnya telah lama juga Ferdhi jatuh hati pada Rahmi. Ia beda dengan guru – guru yang lainnya, yang hanya memakai jilbab dan rok saat mengajar saja. Bahkan rahmi sering ikut pengajian rutin ibu – ibu arisan yang diisi oleh Ferdhi. Jilbabnya yang menjulur lebar, baju gamisnya yang longgar dan panjang, mampu menusuk hati Ferdhi bagai panah asmara. Seketika itu juga Bu Zuraidah mengurus tuan kadi dan mahar yang ala kadarnya. Asal ini berlangsung.

Sementara itu, Luna terus mengipasi Rahmi yang tengah pingsan di ruang tunggu dengan buku yang asal cabut dari tasnya. Tapi tiba – tiba saja tangan Luna di tarik oleh salah satu guru yang lain, sebentar keluar. Kondisi ayah Rahmi semakin parah. Buku yang dipakai luna untuk mengipas, tertinggal disamping Rahmi yang mulai sadar.
Tanpa sengaja rahmi membuka buku itu. Wangi penuh hiasan stabilo dan tinta warna. Itu buku diary Luna. Ia buka halaman terakhir…

Jum’at, 22 januari 2010
Pukul 03: 15
……..
“ ya Rabb, seandainya aku boleh menjual diriku, akan kuberikan seluruh jiwa dan ragaku untuknya seorang. Aku mencintainya karena keimanan dan ketaqwaannya. Namun aku tak mau menjadi pagar makan tanaman. Biarlah pak Ferdhi bahagia dengan Bu Rahmi.
Rabbighfirli ala kulli dzunubi..
***

Semua berkumpul diruang UGD. Termasuk Rahmi yang dibopong masuk oleh guru yang lain. Bu Zuraidah sudah mengkonfirmasikan ke dokter yang menangani ini. Iapun mendapat izin.
“ayah !! bangun ayah. Sekarang Rahmi akan penuhi permintaan ayah…” ucapnya sesenggukan dengan terus mengharap jawaban. Air matanya tak terbendung. Tuan kadi, Ferdhi, Bu Zuraidah, Luna dan rekan guru lainnya juga cemas. Namun jawaban yang keluar, lain dari apa yang diharapkan.

Titttttttt……
Gambar gelombang deteksi jantung dilayar monitor bergaris lurus. Innalillahi wa inna lillahi roji’un…
Suasana haru pilu berkelebat dalam ruangan itu. Ferdhi, Luna, Bu Zuraidah, tuan kadi, rekan guru dan beberapa suster yang direncanakan akan jadi saksi nikah, melihat Rahmi yang tengah sedih tak karuan. Ia memeluk ibunya dan terus menangis. Tak ada yang berani mengusik mereka.

Cepat – cepat Ferdhi membenahi posisi ayahnya. Mengatur perlengkapan mayat seadanya. Sementara Bu Zuraidah menyelesaikan administrasi rumah sakit agar jenazah ayahnya cepat dibawa pulang. Tapi Luna, ia hanya bisa melihat sosok sahabat karibnya tengah berkabung. Kasihan. Dalam beberapa minggu ini Rahmi terus sedih memikirkan ayahnya.

Luna mendekati Rahmi. Ia memeluknya. Sesaat hanyut dalam kesedihan.
“mi, kamu harus ikhlas ya. Semua ini sudah kehendak yang kuasa..” ucapnya berusaha menyeka air mata Rahmi dipipinya.
Setelah selesai memposisikan jenazah, Ferdhipun menghampiri mereka. Ia memberi semangat agar terus positif menatap hidup ke depan. Namun semua itu tetap tak dapat melunturkan kesedihan rahmi. Tatapan matanya kosong. Fikirannya buntu. Tapi entah kenapa, saat melihat mereka berdua, ia jadi teringat dengan tulisan yang sempat ia baca di diary Luna tadi.
“Setidaknya aku bahagia melihat kalian berdua bahagia” ucap Rahmi yang tiba – tiba bereaksi. Ia menarik tangan Luna dan Ferdhi yang beralaskan baju kokonya. Begitu juga saat disatukan. Tangan Ferdhi diletakkan ditangan yang berbalut gamisnya. Luna masih bingung
“aku sudah membaca buku diary mu na, aku ingin kalian menikah”. Lanjut Rahmi pasrah. Semua yang mendengar bergetar heran dengan keputusan rahmi. Bu zuraidah menatap penuh kebimbangan. Bahagia dalam pilu. Dua sahabat yang saling mencintai karena Allah. Didepan rahmi, tuan kadi menjalankan prosesi akad nikah untuk Luna dan Ferdhi. Sungguh mulia hati Rahmi. Disaat kekalutannya ia masih bias memikirkan orang lain.
Tahajjud luna tak sia – sia. Allah tidak tidur. Ia maha tahu isi hati hambanya. Dan cintapun merebak dengan ikhlasnya.

Tamat
Selesai februari 2010
Direvisi, 20 November 2010
Di sipange

PROFIL PENULIS
Mardiono, Lulus SMK Negeri 7 Medan, jurusan akuntansi tahun 2004.Dan telah menyelesaikan pendidikan S1-nya di STAI BU PANDAN Maret 2012.

Cerpen yang telah di terbitkan, “ Tatapan Matanya” pada 04 Oktober 2010 di annida online, dapat di baca di  (http://annida-online.com/media.php?module=detailartikel&id=2251&page=1)

Baca juga Cerpen Persahabatan dan Cerpen Pendidikan yang lainnya,

Cerpen Pendidikan Islam - Enam Tahun Itu

ENAM TAHUN ITU
Karya Mardiono

Kau memang bintang sekolah yang selalu dikagumi semua teman. Para guru juga memuji dan menyanjungmu, seolah tak ada lagi yang dapat diandalkan disekolah selain kau. Segudang prestasi ilmiah mampu kau sabet dengan mudah. Wajah cantik titipan Tuhan itupun mungkin dapat menggoyahkan iman seorang jejaka. Tapi, cukupkah itu semua tanpa dibarengi akhlak seorang pelajar?.

Semua sampah dan dusta. Engkau masih saja beralasan yang bukan - bukan padaku. Aku kau anggap boneka yang bisa kau mainkan sesuka hatimu. Bahkan masih kuingat saat kau menjelaskan segalanya. “ dia masih pamanku secara garis adatnya. Ia semarga dengan ibuku. Jadi tidak mungkin kami akan bersatu “. Itulah yang kau ucapkan saat ku mulai curiga padamu.

Tapi semua itu palsu. Masih ingatkah kau saat kita jadian dulu?. Dengan kata indah dan sayang kau ungkapkan perasaan itu. Namun apa?. Mungkin baru kaulah orang yang mengecewakanku seberat ini, selama ini. Ucapanmu manis mengikis hati. Lakonmu selalu menunjukkan bahwa kaulah yang perfect sebagai seorang bintang di sekolah. Kau pergi ke Jakarta tanpa pamit. Acara perpisahanmu disekolah, juga aku tak diundang. Semua orang tahu kalau kau orang yang terpandang. Sehingga, bukanlah hal yang sulit untuk mengurus perpindahanmu ke Jakarta.

Aku masih ingat, sore itu kau mengajakku jalan melihat sunset di tepi pantai Pandan. Akupun bersiap senang dan semangat. Tapi nyatanya?. Muncul kembali smsmu yang menyatakan acara jalan untuk sore itu, batal. Tak lama setelah itu, dengan tenang dan tanpa merasa bersalah, kau melintas di depanku, berdua dengan pamanmu menuju arah tepi pantai itu. O.., jadi itu alasannya?
***

Masih jelas membekas diingatanku, saat semua kepergok tanpa sengaja. Saat itu hapeku tengah lowbatt. Aku ingin menghubungi keluargaku yang berada di Medan. Lalu kupinjam hapemu untuk mengirim sms agar dapat dihubungi. Dan ketika menerima balasan sms, tanpa sengaja kulihat pesan singkat itu. Saat itulah aku tahu bahwa kau masih menjalin hubungan dengan mantan pacarmu yang kau sebut sebagai pamanmu itu. Sengaja dalam hapemu tak kau buat nama dari pemilik nomor itu. Agar aku tak curiga. Tapi aku juga tak bodoh seperti yang kau bayangkan. Setelah ku cek untuk memanggil nomor itu dihapeku, barulah muncul nama dari pemilik nomor hape itu. Lebih yakin lagi, saat isi sms yang kulihat itu, mengatakan kalau ia menangih janji sebuah ciuman padamu. Itukah yang kau anggap pamanmu? Atau itu hanya alasanmu saja?. Saat itu juga kusadar kalau kau hanya sekedar mempermainkanku. Kau khianati cinta ikhlasku. Kau obrak abrik semua ketulusan yang kuberi. Mengapa ada orang sepertimu dimuka bumi ini?

Kau bahkan pernah cerita padaku bahwa akan ada karma atau hukum adat yang terjadi, bila dua orang yang saling mencintai tapi tidak bisa menyatu karena adat. Tapi apa?, kertas wangi berhias kerlap kerlip ini mengatakan bahwa kau akan menikah dihari dan tanggal yang telah tertera. Kau memang aneh !!
***

Lamunanku tiba – tiba saja terhenti saat ibu memanggilku untuk sarapan. Tapi saat kulihat waktu di jam dinding, mungkin lebih cocok disebut makan malam. Aku tak sadar. Dzuhur hingga maghrib terlewatkan seolah aku bukan seorang muslim. Sungguh, cinta dunia ini begitu menyesatkan. Begitu merugikan. Membuatku jauh dari-Nya. Membuatku bergumul dengan dosa. Aku terjebak oleh tipu daya syeithan dalam bentuk seorang wanita. Ya Rabb….., masih mungkinkah kudapatkan pintu maaf-Mu?.
Seharian kerjaku hanya membolak – balik kertas undangan itu saja. Perutku lapar. Sebenarnya siang tadi aku mau makan, tapi entah mengapa suara ketokan pintu itu tiba – tiba menggangguku dan membuatku harus menunda makan,
“ Bang Radit, ini ada kiriman dari kakak. Maaf ya bang, aku cuma disuruh nyampe’in aja”. Ucap adiknya yang menyodorkan sebuah tiket pesawat tujuan Jakarta. Mereka akan melangsungkan pesta pernikahannya di Jakarta. Kalau dikampung, secara adat mereka dilarang.

Entah apa maksudnya. Ingin rasanya tiket pesawat itu kurobek – robek menjadi tak berbentuk. Tapi untuk apa?. Apakah aku harus dendam kepadanya?. Sungguh tak ada gunanya. Mungkin itu sudah jodohnya. Lalu kenapa ia harus menyakiti hatiku?, apa ini memang disengaja??

Kuabaikan semua hal tentang dirinya. Termasuk undangan dan tiket tujuan Jakarta itu, hanya ku jadikan penyumbat tong sampah di lubang yang sering menjadi lalu lintas tikus.
***

Waktu terus berputar berganti tahun. Tanpa terasa, seragam biru abu – abu ini telah termuseumkan. Enam tahun telah kulalui sejak peristiwa itu. Kini akupun telah lulus PNS di Departemen sosial dan ketenagakerjaan. Buah hatiku yang mungil, baru saja menginjak tanah. Namanya Syaifur Rozzaq, yang artinya pedang Sang pemberi rizky. Katanya, nama itu adalah do’a. Semoga dengan nama ini, aku mendo’akan anakku agar menjadi pembela agamaNya.

Kini tak ada lagi sisa – sisa namanya dihatiku dan dibenakku. Semua hanyalah sebuah kenangan masa SMA. Aku terus disibukkan oleh pekerjaanku, hingga aku dikirim ke Jakarta dalam misi sensus yayasan Sekolah Luar Biasa.
***

Siang itu ditengah keseriusanku bekerja. Penaku nyaris terhenti. Mataku terpaku pada sebuah nama orang tua murid yang termuat dalam formulir penerimaan bantuan. Nama itu. Marga itu. Mengingatkanku pada seseorang enam tahun silam. ‘Ah, mungkin itu hanyalah suatu kebetulan saja. Berjuta – juta orang yang tinggal di Jakarta ini. Mungkin saja ada kemiripan nama juga marga’ tepisku dalam hati. Tapi kenapa hatiku gundah?. Perasaanku tak bisa dibohongi. Entah apa yang mengganjal di benakku.

Hari itu begitu melelahkan. Kutinggalkan semua pekerjaanku walau hanya sesaat. Ku stell lagu – lagu pop hits enam tahun silam yang mungkin bisa menghiburku dari penatnya pekerjaan. Grup band Dewa 19, melantunkan lagu berjudul kangen, suara arie lasso sang vokalis itu, sangat mengingatkanku masa saat aku bercanda ria di taman sekolah dengan teman – teman. Angankupun berkelana bersama tembang nostalgia itu. Hingga aku terlelap. Dalam tidurku, aku melihatnya lagi. Yang kuingat saat kumengenal dan mulai jatuh hati padanya, saat itulah lagu ini kudengar. Suaranya masih terngiang. aroma parfumnya serasa menyengat. Bentuk tubuhnyapun masih tergambar. Ia mulai mendekat. Ingin membisikkan sesuatu ditelingaku. Dan….
“ Pak Radit…, pak radit….”, tubuhku tergoyang pelan disertai dengan ucapan itu. Salah seorang staff yayasan membangunkanku. Kurang ajar !!, ia mengacaukan segalanya. Mungkinkah mimpi itu bisa kusambung lagi?. Tapi kenapa bisa memimpikannya ya?
“Maaf pak, saya mengganggu, ada orang tua murid yang datang membawa persyaratan penerima bantuan pak” imbuh staff itu sopan sambil meletakkan berkasnya dimejaku. Aku masih terdiam. Kepalaku masih berat. Mungkin karena tidurku tidak sempurna. Aku masih mengucek – ngucek mata. Setelah itu langsung kusahut lembaran formulir pendataan penerima bantuan itu dengan malas. Rasanya tak ingin kukerjakan karena masih mengantuk. Jarikupun menulis bak dokter yang menulis sebuah resep untuk pasiennya. Tapi…

Kembali hatiku berdesir. Jantungku berdegub. Dug..dug...dug… Ia menyebutkan nama dan marga yang sama. Suara itu ……...

Spontan kuhentikan pekerjaan itu. Ragaku terasa beku bagai dalam ruangan bersalju. Apa aku masih berada dalam mimpi?. Tidak. Karena tadi sempat kuseruput kopi panas yang dihidangkan oleh staff yayasan agar aku terlihat segar.

Dengan perlahan dan perasaan yang gusar, kucoba mendongakkan kepalaku menatap orang tua murid itu, dan….

Kami beradu pandang. Lebih dari lima detik. Ia juga terlihat heran dan bingung.
“ ma..ma...maaf pak, kenapa melihatku begitu?” ucapnya terbata.
“ has..has…hasnah kan?” tanyaku meyakinkan.
“ha..ehm…ehm…eng..eng..eng... enggak koq eh, ya benar pak. Tu memang nama saya. Kan tadi sudah bapak tulis..” jawabnya ragu salah tingkah.
“ kamu…..???”
“ oh gak pak. Mungkin Bapak salah orang. Saya baru pindah dari Semarang, sebulan yang lalu. Maaf pak, saya terburu. Data pelengkapnya nanti saya kirimkan saja ke Bu Lina. Kebetulan, rumah kami berdampingan. Ia juga sering mengantar anak saya kesekolah sekalian mengajar”. Lanjutnya tergesa mengejar anaknya. Anak itu tampak bingung sendiri dan lasak seperti orang gila. Entah apa yang terjadi. Iapun langsung ngacir keluar ruangan setelah berhasil menangkap anaknya.
***

Heran, bingung dan penuh tanda tanya mengitar dibenakku. Kenapa ia langsung menangkap apa yang ingin kusampaikan?. Aku masih belum puas. Sejurus kemudian, jariku bagai detektif mencari berkas Bu Hasnah dilemari Yayasan. Aku hampir putus asa dan merasa kalah karena tak dapat kutemukan. Aku kembali ke kursi kerjaku dan terus penasaran. Hingga ku seruput kembali kopi hangat itu, mungkin bisa menyegarkan kembali suasana dalam hatiku. Saat kuletakkan kembali gelas kopi itu, nampak tergeletak manis terbungkus map hijau disamping gelas kopi itu. Rupanya itu berkas syarat penerima bantuan SLB yang tadi diserahkan. Mataku kembali haus untuk memeriksanya. Dan akhirnya kudapatkan juga apa yang kucari. Nama suami dan nama ibunya yang semarga. Tanggal pernikahan mereka juga tertera disitu, sama seperti yang pernah kulihat diundangan enam tahun silam. Dan anak itu ???.

Ku bolak balik berkas bermaterai itu lagi. Hingga akhirnya kutahu kalau anaknya itu mengidap penyakit autisma. Penyakit yang tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Bahkan kelasakannya itu akan berhenti saat semua raganya merasa lelah karena terus bergerak. InnaliLlah…
Tak terbayangkan olehku, betapa sulit dan repotnya mengurus anak seperti itu. Semoga hal itu jauh dari keluarga dan anakku.

Sesaat bayangan enam tahun silam itu, terputar kembali. Aku masih diam membisu, didampingi kertas – kertas data orang tua murid yang masih berantakan karena terlalu penasarannya kumencari.

Aku teringat akan karma dan hukum adat yang pernah ia ceritakan dulu. Apakah itu imbasnya?. Wallahu a’lam. Katanya omongan orang tua itu adalah nasehat. Terkadang ada benarnya juga walau tidak bisa kita yakini sepenuhnya. Entah harus bersikap bagaimana aku dengan kondisi itu. Akankah aku harus senang atas kemenanganku merasa dia kena imbasnya?. AstaghfiruLlah… Ia juga manusia yang sama mempunyai perasaan dan naluri seperti aku. Bagaimana pula jika itu terjadi padaku?. Atau apakah aku harus sedih, melihat keadaannya yang sekarang?. Tapi aku juga telah dikhianatinya.

Biarlah semua ini diatur Sang penguasa urusan dunia akhirat. Hanya Dia-lah yang dapat membolak – balikkan segalanya dengan sangat mudah dan tanpa terduga. Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya yang senantiasa berada dijalanNya. Semoga yang Kuasa memberikan yang terbaik untuk kita. Amin


Tamat
Sipange, 27 Desember 2010
Pukul 11:25

PROFIL PENULIS
Mardiono, Lulus SMK Negeri 7 Medan, jurusan akuntansi tahun 2004.
Melanjutkan pendidikan pada September 2006 di Ma’had Abu Ubaidah Bin Al Jarrah angkatan ke IV. Dan telah menyelesaikan pendidikan S1-nya di STAI BU PANDAN Maret 2012.

Cerpen yang telah di terbitkan, “ Tatapan Matanya” pada 04 Oktober 2010 di annida online, dapat di baca di (http://annida-online.com/media.php?module=detailartikel&id=2251&page=1)

Baca juga Cerpen Pendidikan dan Cerpen Islam yang lainnya.