Sabtu, 01 September 2012

Cerpen Cinta Update September 2012

Cerpen Cinta Update September 2012  - Oke seperti biasanya sebelum saya share postingan Cerpen Tentang Cinta Terbaru, saya akan memperkenalkan postingan saya sebelumnya yakni Cerpen Persahabatan dan Cerita  Lucu. memang yang namanya cinta sangat kuat posisinya dalam kehidupan kita, baik Cinta kepada sang Pencita maupun cinta kepada sesama manusia dan kali ini saya akan share tentang Cerpen Cinta yang didalamnya mungkin terdapat cerita yang menarik dan bisa menjadi sebuah pelajaran untuk kita dalam kehidupan.

Dan Cerpen Cinta ini akan kami Update secara berkala dan Mudah-mudahan bisa Update setiap hati, Kali ini Cerpen CInta ini Update September 2012, Okelah jangan panjang-panjang narasinya, silahkan saja baca Cerpen Tentang Cinta dibawah ini.


KUMPULAN CERPEN CINTA UPDATE SEPTEMBER 2012

1. KISAH KASIH DI SEKOLAH
Karya Nurul Fadilah
Pada suatu hari disebuah desa tinggallah 3 orang gadis.Ketiga gadis tersebut bernama IFA,DHILA, dan RiA. Mereka hidup rukun dan mereka juga bersahabat.Setiap pagi mereka pergi kesekolah bersama-sama.Sekarang mereka sudah duduk dibangku SMP kelas tiga....Baca Selengkapnya....
2. LIVE MUST GO ON
Karya Nita 
Pernahkah kamu merasakan sakit hati karena ditinggal kekasih? Jawabannya tentu saja iya. Bahkan mungkin bisa dibilang hampir seluruh orang di muka bumi ini pernah merasakan yang namanya patah hati. Tak terkecuali aku....Baca Selengkapnya....
3. MY LOVE FOR CINTA
Karya Najla Putri Mawaddah
Setetes kebencian di dalam hati, pasti akan membuahkan penderitaan. tapi setetes cinta di dalam relung hati, akan membuahkan kebahagiaan sejati. Saat ini Cinta termenung sambil memerhatikan boneka teddy bear yang dibelikan oleh Bimo. Cinta bingung, kenapa Bimo membelikannya boneka ini. Apalagi boneka teddy bear ini, boneka kesukaannya.....Baca Selengkapnya....
4. CINTAKU BERAKHIR DIPERJODOHAN
Karya Sindy Nur Aini
Hari ini dinding langit nampak begitu terang diiringi sang bulan dan sang bintang yang berjajar-jajar di sudut malam yang indah. Terlintas kenangan tempo lalupun melintas dalam benakku. Ku renungi cerita yang pernah terjadi itu. Nampak senyumku juga mengiringi saat aku mengingat kenangan lalu itu.....Baca Selengkapnya....
5. INDAH PADA WAKTUNYA
Karya Ingga Pria Pahla
Aku adalah laki-laki yang tidak pandai dalam mengungkapkan perasaan suka atau sayang pada seorang wanita . Di malam itu pikiranku melayang kembali memutar ruang dan waktu tepat pada saat saya duduk di kelas satu SMA....Baca Selengkapnya....
6. SEBATAS RASA UNTUK KITA
Karya Najla Putri Mawaddah
Mungkin itulah sebuah curahan hatiku ini, yang dilanda kesedihan karena cinta. Padahal ini adalah pertama kalinya aku jatuh cinta. Namun, cintaku aneh. Mencintai dia, yang mempunyai saudara kembar yang membenciku....Baca Selengkapnya....
7. MY FRIEND MY LOVE
Karya Agnes StephaniePasti ngenes banget,nyakitin…apalagi kalo jatuh cinta nya sama sahabat kita sendiri.bisa dibayangin ga tuh ? betapa sakit hati dan menderitanya Apa rasa nya kalau cinta kita bertepuk sebelah tangan? Pasti rasa nya tuh ngenes kita ?.....Baca Selengkapnya....
8. CINTA TAK BERUJUNG

Karya Nanda AgustiawatiMalam itu gitar dan hanya alunan lagu lah  yang temani ku  malam itu. Dirumah hanya ada aku dan adikku. Kedua orang tuaku sedang ada tugas diluar kota. Karna aku dan adikku sibuk sekolah. Aku dan adik ku tidak dapat ikut dengan mereka.....Baca Selengkapnya....
9. CINTA RASA PERMEN KARET
Karya Debby Hutami Budiyono
Hari pertama masuk MOS (Masa Orientasi Siswa), Karin menjadi siswi baru. Dia diantarkan hingga gerbang sekolah oleh orang tuanya.
"Semoga hari pertama dan hari hari berikutnya menjadi hari yg menyenangkan. Dan aku bisa melewatinya tanpa halangan amin," kata Karin dalam hati......Baca Selengkapnya....

10. INDAH PADA WAKTUNYA
Karya Devi Khairun Nisa
Ada sejuta cerita tentang cinta. Kisah itu tak kan pernah habis, tak kan pernah bosan di dengar jaman. Tidak. Tidak akan pernah. Sesakit apapun cerita itu, kisahnya kan tetap dikenang. Seperih apapun luka yang di lukisnya, tetap ada secercah bahagia yang membingkai....Baca Selengkapnya...
11. SURAT CINTA DARI ORANG ASING
Karya Desima Siahaan
Seorang pria Asing meng-add Fbku dan Aku Confirm as a friend. Dari sana perkenalanku terjadi dengan dia , dimana rasa cinta di dalam hatiku tumbuh sering dengan email yang kuterima. Sebut saja namanya Mic Dha. Hubungan percintaanku dengan Tej Dbr, seorang pria asing berkebangsaan Nepal akhirnya kandas setelah 8 bulan kami merajut cinta.....Baca Selengkapnya...
12. IZINKAN AKU MENGGELAR SAJADAH BERSAMAMU
Karya Shepti Rizky Amrina Rosada
Dingin masih menyelumuti suasana pagi, tampak kabut-kabut masih membasahi dedaunan. Disaat orang-orang masih terlelap dalam tidurnya aku terbangun dalam suasana hening segera aku bergegas mengambil air wudhu dan bersiap-siap untuk menunaikan solat tahajjud....Baca Selengkapnya...
13. THE FIRST BOY FRIEND
Karya Anisa Nur Dinawati
Bella yang sudah beranjak dewasa dan mulai merasa jatuh cinta pada sosok pria idamannya. Bella adalah sesosok gadis yang cerdas, cantik, manja, dan hidup semau gue. Bella sekarang duduk dibangku kelas satu SMA Cakra Tunggal, dan selama di SMP dia belum pernah bermain perasaan dengan lawan jenisnya...Baca Selengkapnya...
14. 19 TANGKAI ZANTEDESCHIA
Karya Devi Khairun Nisa
Hari ini pagi kesembilan di bulan Mei. Tak seperti tahun tahun sebelumnya, kali ini May Lily tak seindah biasanya. Tanpa semangat, tanpa harapan, tanpa rasa menggebu tiap kali menghitung mundur hari yang terlewati dibulan kelima tahun masehi ini....Baca Selengkapnya..
15. PERTEMUANKU DENGANMU
Karya Laili Nur Rochmah
Aku Clara anak centil yang pandai bergaul. Aku hidup dengan satu ayah, satu ibu, dan dua orang kakak laki2. Waw …!! Lengakap ya…. Suatu ketika aku di ajak oleh ayah ku pergi ke paris bersama keluarga besar. Liburan kali ini adalah hadiah ulang tahun ku yang ke-17 th....Baca Selengkapnya..
16. KUBUTUH KESETIAAN
Karya Mira Afianti
Akhirnya aku menutup telponku. Aku memang sedikit kecewa, tapi aku harus menerima ini. Aku harus ngertiin pacar aku sendiri.
Sekarang aku segera besiap-siap untuk persiapan besok. Karna besok akan ada sanlat (pesantren kilat) di sekolah. Setelah aku selesai bersiap-siap, aku pun bergegas tidur, karna hari mulai malam.....Baca Selengkapnya..
17. KENANGANKU PENGALAMANKU
Karya Bintang
Namaku aika.. umurku sekarang udah hampir 22 thun... tapi kenangan itu selalu saja tertanam dibenakku. Bagaimana senang jatuh cinta atau bagaimana rasanya disakiti. Kejadian itu memang sudah terjadi 3 tahun yang lalu, tapi sampai saat ini rasa itu masih terus ada.....Baca Selengkapnya..

Semoga Cerpen Cinta diatas bisa bermanfaat bagi anda dan juga bisa memotivasi anda dalam membuat sebuah Cerpen, SHARE atau LIKE jika Cerpen diatas Bermanfaat bagi anda.

Melancholy - Cerpen Remaja

MELANCHOLY
Karya RLR

Aku melirik sinis pada pintu kelas. Teringat olehku, kemarin seseorang melemparkan kotak pensil beserta isinya padaku dengan alasan ingin melihat aku menangis, namun ia gagal dan berakhir di ruang guru. Aku juga teringat pada dua hari yang lalu ketika seseorang tiba-tiba memelukku dengan alasan ingin melihat ekspresiku saat malu. Namun ia gagal dan berakhir di ruang UKS.

Aku memang dikenal galak-aku merasa, lebih baik daripada dibilang tomboy-, berbeda dengan kembaranku. Ya, aku seorang anak kembar. Namaku Dini dan kembaranku Dina. Sifat kami bertolak belakang. Kalau aku dikenal pemarah dan egois, Dina cengeng dan manja. Kalau aku malas dalam belajar maka dia amat giat bahkan dia pernah menjadi peringkat umum ketika masih di SMP. Kalau aku mengikuti ekstrakulikuler karate yang terkesan keras, makan Dina mengikuti les piano yang terdengar lembut. Begitu banyak yang berbeda dari kami, satu-satunya yang sama hanyalah raut wajah. Itu saja.

Karena itu kadang aku sering memarahinya. Aku kesal melihatnya menangis tak jelas. Setiap aku bertanya kenapa, jawabannya simple sekali.
“Tak ada apa-apa.”

Tak ada apa-apa gimana? Kok, bisa sampai nangis gitu kalau tidak ada apa-apa?

Namun kadang dia bersikeras meyakinkanku dengan berkata kalau besok semua masalahnya pasti akan selesai. Hanya saja sampai saat ini, aku merasa masalahnya bukan selesai tapi malah bertambah. Terakhir, dia menangis hanya karena Gilang, pacarnya, berjalan-jalan dengan siswi dari sekolah lain. Karena aku pusing mendengar Dina menangis seharian di kamar akhirnya aku ke rumah Gilang dan membuatnya tak bisa berjalan lagi selama tiga hari.

Kembali ke pintu kelas. Aku mulai membukanya perlahan. Terdengar teriakan nyaring berbunyi.
“DINI! KAMU SUDAH MENYELESAIKAN PR-MU BELUM?”

Ternyata teman sebangkuku, Naila. Ia langsung berlari menghampiriku yang diam di tempat. Aku mengernyitkan dahi.
“Hah! Pr?!!”

Naila memegangi kepalanya. Pusing mungkin punya teman sebangku macam aku. Aku berlari menuju bangku, membuka tasku dan mengeluarkan buku catatanku. Sial! Padahal sudah kutandai dengan banyak tanda panah pada bagian PR-nya. Malah sudah ada keterangan kalau hari ini dikumpul. Aku benar-benar lupa. Dengan cekatan aku mengambil pena dan buku temanku. Aku mesti bekerja ekstra pagi ini!!

TENG TENG TENG!!
Kelas hening sejenak untuk menghitung berapa kali lonceng berbunyi. Setelah lonceng berhenti berbunyi, terdengar teriakan memprihatinkan, “TIDAAAKKKK!!!”

Segera saja semua murid mengambil buku masing-masing lalu duduk di tempatnya untuk menulis secara diam-diam. Akupun begitu.
“Naila, pinjam bukumu ya?” pintaku.

Naila tampak berpikir sejenak kemudian menyerahkan bukunya padaku. Aku kegirangan sesaat, lalu mulai serius menulis. Mulutku tak sadar mengucapkan kata demi kata yang aku tulis. Senyumku mengembang ketika aku hampir menyelesaikan PR yang jumlahnya hanya lima soal essai ini. Sayangnya guru ternyata sudah lama masuk bahkan ketika aku menulis jawaban soal ketiga guru sudah berdiri di belakangku.
“Sudah hampir selesai ya?” ujar guru itu lembut di telinga kananku. Aku menoleh takut padanya. Dan akhirnya, aku dikeluarkan dari kelas secara paksa.
“Jangan masuk kelasku lagi!”

Kira-kira begitulah ucapannya ketika ia mengusirku. Yah, hadapi saja dengan santai. Tetap bersyukur pada Tuhan. Setidaknya, berjalan-jalan di koridor lebih menyenangkan daripada belajar di kelas.

Satu per satu kelas kulewati. Tak terlihat penyesalan dari diriku. Aku justru melewatinya dengan perasaan tetap riang. Inilah kelebihanku-mungkin juga sebenarnya kekurangan-, aku bisa melewati semua masalahku dengan sikap tenang. Berbeda dengan beberapa wanita yang ketika mendapat masalah langsung menangis. Huh, seperti kembaranku. Dikit-dikit nangis.

Setelah sekian lama aku berkeliling koridor akhirnya lonceng pergantian pelajaran berbunyi. Segera aku berlari menuju kelasku. Kalau terlambat, aku bisa ketinggalan masuk kelas dan terpaksa keluar lagi dari pelajaran. Dan yey! Aku masuk tepat waktu.

Aku segera duduk di kursiku. Beberapa siswa kelihatan sedikit gusar. Aku melirik menuju papan tulis. Banyaknya coretan membuatku bertanya, “Belajar apa kalian tadi?”
“Hanya belajar beberapa soal mengenai fungsi limit.”

Aku membulatkan mulutku mengucapkan huruf “O” kemudian mengamati papan tulis sekali lagi. Sumpah, aku bingung dari mana kemana guru kira-kira menjelaskan. Mungkin aku bisa minta bantuan pada Dina, aku yakin dia pasti sudah mempelajarinya.
“Oh iya, pertemuan selanjutnya kita ulangan lho.”
“Ha?!!”

Hening.

(Pulang sekolah)
Aku berjalan lunglai, tidak seperti biasanya. Hal tersebut otomatis membuat Dina bertanya heran padaku.
“Kau kenapa?”
“Hanya sedikit malas.”

Dina kemudian diam untuk beberapa menit selama kami berjalan menuju halte. Aku melirik padanya, dia berjalan dengan langkah yang berat. Bahkan saat aku sedang malas seperti sekarang, aku tetap terlihat lebih bersemangat daripada dia.
“Hei, kamu sudah belajar mengenai fungsi limit?” tanyaku penuh harap padanya. Aku sebenarnya sangat tidak ingin menerima jawaban lain selain ‘iya’. Namun tetap saja realita yang menentukan jawaban Dina.
“Belum, kenapa?”

Aku makin lunglai berjalan ketika mendengar jawabannya. “Aku ada ulangan tentang itu.”
“Kapan?”
“Dua hari lagi,” ujarku lirih. Dua hari sebenarnya waktu yang lama kalau belajar. Sayangnya aku malas belajar, pasti dua hari cepat berlalu. Ah, apa aku keluar dari kelasnya lagi saja, ya?
“Kalau mau, kakak bisa baca buku di perpustakaan saja. Pasti ada buku yang mempelajari fungsi limit.”
“Ah, aku malas ke perpustakaan. Aku cepat bosan di sana.”

Dina tersenyum simpul. Aku tak bisa menebak apa yang ia pikirkan, aku hanya merasa ia tidak akan apa-apa melihatku seperti ini. Dan mungkin juga aku sebenarnya tidak apa-apa. Besok aku pasti sudah bisa menyelesaikan masalahku. Hei, tunggu sebentar. Kenapa cara pikirku seperti Dina?


(Keesokan harinya)
“Maaf, aku terlambat!” teriakku dari balik pintu kelas. Nampak di depanku guru sudah menerangkan sementara murid-murid sedang mencatat. Yup, sekali lagi aku dikeluarkan dari kelas.

Mungkin ini karma, karena aku telah sering membuat beberapa siswa tak bisa berangkat sekolah untuk belajar-jika memang begitu- karena aku beri sedikit pelajaran. Namun sudahlah, berjalan di koridor untuk kesekian kalinya tak ada masalah. Aku sudah terbiasa. Ini bukan kedua kalinya aku dikeluarkan selama pelajaran di mulai dan kurasa ini bukan jadi yang terakhir kalinya.

Entah mengapa, naluri mengantarku ke perpustakaan. Mungkin aku masih kepikiran dengan ulangan itu. Bagaimanapun juga nilai ulangan adalah salah satu nilai yang bisa menutupi sikapku yang kurang bagus agar aku tetap bisa naik kelas. Aku tak bisa membiarkan diriku tidak naik kelas. Aku tak mau itu!
Segera aku berjalan menuju salah satu rak yang berisi kumpulan buku fisika lalu mengambil salah satunya. Aku buka perlahan. Mungkin aku bisa mempelajarinya selama aku dikeluarkan dari kelas. Terlihat olehku, tulisan besar pada subbab bagian pertamanya. “Yap, ini dia yang aku cari!”

Aku duduk di salah satu kursi. Aku baru sadar kalau aku tidak membawa alat tulis. So, bagaimana aku belajar? Kulirik kanan dan kiri. Perpustakaan benar-benar sepi. Aku tak bisa menemukan seseorang untuk meminjam.
Aku putus asa. Kukembalikan buku tersebut pada raknya. Mungkin sebaiknya aku bolos saja besok dan meminta ulangan susulan lain hari. Atau mungkin aku bisa bertukar tempat dengan Dina? Ah, semua akan sadar itu bukan aku. Aku terlalu berbeda dengannya. Mungkin ada baiknya aku meminjam buku dan minta Dina mempelajarinya agar dia bisa mengajariku juga.
“Ada masalah?”

Suara baritone mengagetkanku. Aku menoleh ke sumber suara. Seorang lelaki sedang menatapku. Dan jika aku tak salah, lelaki itu adalah Yudha, ketua OSIS sekaligus mantan Naila, temanku. Aku mencoba bersikap seperti biasa namun aku tak bisa. Aku sedang bingung dan itu semua terlihat melalui raut wajahku.
“Tidak.”

Aku kembali meletakkan buku yang sebenarnya ingin kupinjam. Sialnya, entah mengapa aku bisa kurang menekan bukunya hingga akhirnya satu lemari isinya tumpah semua di badanku. Yudha kaget, lalu mencoba menolongku. Hingga akhirnya ketika aku sadar Yudha sudah ada di hadapanku. Lebih tepatnya menindih tubuhku.
“MENJAUH KAU!!” spontan aku bertindak dan secara otomatis Yudha terpental ke belakang. Ia mengelus-elus punggungnya yang membentur tembok karena kudorong. Mulutnya membentuk senyuman tipis. Sungguh, hal itu membuatku jijik padanya.
“Kalian?!“ ujar penjaga perpustakaan tak percaya. Ia muncul sambil berkecak pinggang.

Yah, singkat kata saja akhirnya aku dan Yudha membereskan semua buku yang berceceran. Tanganku tak sengaja menyentuh buku fisika yang berisi materi fungsi limit. Kupandangi dalam-dalam buku itu. Tak sadar, aku terlalu lama memandanginya.
“Kau juga ulangan tentang fungsi limit ya?”

Serasa kena jitak, aku tertegun mendengarnya. “Kau juga?”
“Tidak, kelas sebelah mengatakan mereka akan ulangan fisika, tentang fungsi limit.”

Kelas sebelah? Ah, Pasti kelasku.
“Kau mendapat masalah dalam mengerjakan itu ya?”

Aku membuang muka. Aku memang ada masalah, tapi aku gengsi untuk meminta tolong pada laki-laki.
“Akan kuajari kau setelah kita membereskan ini.”
“Kau bisa?”
“Aku sudah mempelajari itu ketika di SMP.”

Benar juga ya. Ketika SMP mungkin aku juga sudah mempelajarinya namun aku jarang mendengarkan penjelasan guru dan lebih memilih bercerita dengan teman sebangku ketika itu. Dan Dina, ah, dia mungkin sedang sakit mata waktu itu.
“Tolong jangan beritahu oranglain kalau aku minta ajari padamu,” pintaku memelas. Tak ada pilihan lain toh?
“Baiklah!”

(Malam hari di rumah)
Aku duduk di tepi kasur, sementara Dina sedang tiduran sambil membaca buku di kasurnya sendiri. Aku senang, hari ini dia tak menangis. Aku bisa tenang mengerjakan soal yang disuruh Yudha untuk mengerjakannya sendiri di rumah. Sungguh! Hari ini aku benar-benar merasa senang. Aku akhirnya bisa mengerti fungsi limit tanpa harus meminjam buku ataupun bertukar posisi dengan Dina. Dan lagi, Yudha berjanji akan mengajari aku lagi jika aku mendapat masalah. Dengan kata lain, tak masalah keluar kelas lagi! Ups, kurasa itu persepsi yang salah ya.

Aku mulai mengerjakan soal pertama. Aku mulai berusaha berkonsentrasi namun langsung buyar dalam satu detik saat terdengar dering ponsel bergetar di meja. Ponsel Dina rupanya. Aku mencoba tak mempedulikannya. Aku harus konsentrasi dengan soal, apapun yang terjadi.
“Hiks, hiks!” Dina mulai meringis. Dan sekali lagi pikiranku buyar.
“Ada apa?” tanyaku geram.
“Gilang-“
“Berjalan dengan siswi lain lagi?” ujarku ketus. “Akan kupatahkan kakinya kali ini!”
“Bukan! Gilang jangan disakiti lagi! Aku ikut sakit jika kau melukainya!” suara Dina terdengar serak.

Dengan nada meninggi aku lantas menjawab, “Jadi kenapa?! Berhentilah menangis untuknya!”
“Dia hanya minta putus. Sudahlah kakak tenang saja, aku tidak apa-apa.”

Tamparan keras mendarat di pipi kanannya. Dengan penuh amarah aku berteriak padanya, “Kalau begitu berhentilah menangis! Aku pusing!!!”

BLAMM!
Aku keluar dari kamar. Terdengar tangisan Dina yang malah semakin menjadi-jadi. Aku terduduk lesu, menyadari aku terlalu cepat marah hari ini padanya. Namun aku sedang dalam keadaan tidak bagus untuk sabar. Harusnya dia menyadari itu.

(Esok harinya di sekolah)
Aku tidak berangkat bersama dengan Dina. Malah aku berangkat duluan daripada dia. Aku terlalu bersemangat untuk ulangan hari ini. Meski semalam aku belum mengerjakan satupun soal yang Yudha berikan, namun aku tetap merasa bahwa aku bisa. Hehe, mungkin sebenarnya aku ini pintar ya. Namun sayang, aku malas.

Aku segera duduk kemudian mengeluarkan buku fisika yang jadi aku pinjam dari perpustakaan. “Naila, lihat! Aku bisa menger-“

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Naila cepat-cepat pergi keluar kelas. Ada kerjaan mungkin. Tapi jika caranya seperti tadi rasanya berbeda dengan Naila yang biasanya. Aku jadi merasa tidak enak dengannya.

(Setelah berjam-jam kemudian)
Sampai jam pulang sekolah, aku tetap merasa tidak enak dengan Naila. Ada yang berubah darinya. Dia bersikap dingin dan tak mau berbicara padaku. Tiap kali aku mengajaknya bicara, dia langsung menajamkan matanya seakan tidak senang padaku.
“Hei, kudengar kemarin dari pulang sekolah sampai sore hari kau berada di perpustakaan ya?” tanya Lili yang mengambil tempat duduk Naila ketika Naila keluar.
“Iya. Kenapa?”
“ha? Berarti benar, ya, kau sedang melakukan pendekatan pada Yudha saat itu?!”

TUUKK!

Kujitak dahi Lili. “Tentu saja tidak! Aku hanya minta ajari fungsi limit padanya. Lihat! Nilaiku bagus kan? Berarti aku tidak bohong!!”
“Wah, pantas Naila sikapnya begitu, ya.”

Aku terdiam. Memang apa hubungannya coba?
“Naila dengan Yudha kan baru balikan dua hari yang lalu.”

Aku terhenyak. Jadi itu hubungannya. Aku segera berlari menjenguk Naila keluar kelas. Sayangnya aku terlambat. Kulihat dari kejauhan Yudha sedang berbicara dengan Naila kemudian mereka pulang berdua.

Badanku terasa lesu menyaksikan hal itu. Untuk pertama kalinya aku merasa sedih. Hampir sepanjang jalan aku menahan air mataku keluar. Tuhan, aku mendapatkan teman baru sekaligus guru baru buatku namun aku kehilangan seorang teman hari ini.

Di rumah terdengar Dina menangis di kamar. Saat aku membuka pintu dia cepat-cepat menghapus air matanya.
“Ah, kau sudah pulang.”

Kudengar suaranya serak. Meski begitu, dia tetap berusaha tersenyum padaku. Tapi aku bisa merasakan ketakutan Dina padaku. Mungkin ia berpikir aku akan melakukan hal yang sama seperti kemarin. Yah, kemarin aku memang tak mengerti ia. Satu-satunya yang aku rasakan hanyalah pusing ketika mendengarnya menangis. Namun sekarang aku sudah paham seperti apa sedihnya ketika kehilangan seseorang. Aku tidak akan menamparnya lagi. Aku hanya ingin,… memeluknya.

PROFIL PENULIS
Newbie di dunia menulis (kurasa)
fb: rini lusiana II
email : rini.lusiana78@yahoo.co.id

Baca juga Cerpen Remaja yang lainnya.

Someday - Cerpen Sedih

SOMEDAY
Karya Handy Risma Tricahya

Alunan lagu sedih terdengar dari dalam kamar Mely. Dia terduduk meratap di meja belajar yang berada disamping jendela. Dia terlihat sangat kacau sekali, rambutnya yang panjang sedikit berantakan, wajahnya pucat dan matanya sembab.

Diatas mejanya itu terdapat lampu belajar yang menyinari parasnya yang nampak makin kacau, beberapa tumpukan buku dan sebuah bingkai foto yang terbalik. Hujan diluar sudah mulai reda, terlihat tetesan air mengalir dari kaca jendelanya.pelan – pelan Mely mendorong jendelanya dan dibiarkannya terbuka sedikit, hembusan angin yang menerpa wajahnya begitu terasa sangat dingin, tiba – tiba Mely tersenyum dan menertawai dirinya sendiri.
“ Seharian ini aku belum mandi? Kakak coba lihat gara – gara memikirkanmu aku sampai lupa mengurus diriku sendiri.” Selama beberapa menit Mely terpaku memandangi langit yang gelap.
“ Kakak? Kenapa kamu tidak juga datang? Aku sudah begitu lama menunggumu. Kau kan sudah berjanji akan menjemputku.” Kata Mely lirih.

Perlahan – lahan Mely merangkak ke tempat tidurnya dan membanting tubuhnya diatas kasur. Matanya lekat memandang langit – langit butiran hangat yang mengalir di pipinya tak ia hiraukan lagi. Sayup – sayup tedengar alunan lirik yang menyayat hati milik Lykke Li . . .
There’s a possibility
There’s a possibility
All that I had was all I’m gonna get
Mmmm . . .
There’s a possibility
All I’am gonna get is gonna with your step
All I’am gonna get is gonna with your step
So tell me when you hear my heart stop
You’re the only one that knows!
Tell me when you hear my silince
There’s a possibility I wouldn’t known
Mmmm . . .
Know that when you leave
Know that when you leave
By blood and by mean
You walk like a thieve
By blood and by mean
I fall when you leave
So tell me when my sigh is over
You’re the reason why I’m close
Tell me when you hear me falling
There’s a possibility it wouldn’t show
Mmmm . . .
By blood and by mean
I fall when you leave
By blood and by mean
I follow where you lead
Mmmm . . .
Mmmmmm . . .
Waktu sudah menunjukan pukul 01 : 12 AM. Tapi Mely belum tidur juga.
“ Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin tidur sekarang, karena hatiku selalu ertuju padanya. “ Hatinya berteriak lalu ia tutup kepalanya dengan bantal.
“Ah iya, tentang laki – laki yang ku panggil kakak itu, dia telah meninggalkanku setahun yang lalu atau bahkan lebih. Banyak cara yang telah ku lakukan untuk dapat melupakannya, termasuk mencoba merasakan cinta dari pria lain. Tapi setiap aku duduk berhadapan dengan pria lain, hatiku akan sangat terguncang dan aku akan berlari sambil meneriakan nama kakakku itu. Dan dititik puncak menyerah serta putus asa, aku akan kembali pada kenyataan bahwa aku tidak akan pernah bisa melupakannya. Lalu aku akan membohongi diriku sendiri, meyakinkan diriku sendiri bahwa kakakku pasti akan datang untuk menjemputku.”

Pukul 06.00 pagi. Hari yang cukup dingin, hujan masih rintik – rintik, Mely melangkah meninggalkan rumahnya. Ia menggunakan celana Jins biru, sweater abu – abu dan syal putih pemberian kakaknya itu yang dilingkarkan ke lehernya. Tiba - tiba Mely terdiam sambil tersenyum, wajahnya menengadah keatas agar dapat merasakan percikan rintik hujan lalu matanya terpejam.
“ Aku ingat sekali dihari seperti sekarang ini kakak akan memelukku dari belakang dan berkata ‘ Honey, aku tidak ingin kau sakit. Jika kau sakit, aku juga akan sakit.’” Lirihnya dalam hatinya yang bergemuruh.
“ Lalu aku akan menyandarkan kepalaku dibahunya yang kokoh sambil memegang tangannya yang melingkar didadaku.” Mely segera membuka matanya tersadar oleh rasa rindu pada laki – laki itu.
“ Tok, tok, tok, “ Mely mengetuk pintu sebuah apartement.
“ Hay! “ seorang gadis menyapa Mely dengan ceria dari balik pintu. Mely hanya tersenyum. Sesosok wajah yang sangat Mely kenal. Dia adalah Yuna sahabat Mely semenjak duduk dibangku SMA.
“ Ayo cepat masuk! Diluar sangat dingin.” Kata Yuna sambil menarik tangan Mely yang terasa dingin walau memakai sarung tangan.
“ kenapa kau tidak menelpon aku dulu kalau kau mau kesini? Aku kan bisa menjemputmu.” Keluh Yuna sambil mengelap air dirambut Mely dan memperbaiki syal mely yang letaknya berantakan.
“ Sayang, wajahmu pucat sekali . . . apa kau sedang sakit?” tanya Yuna yang nampak begitu khawatir terhadap mely.
“ Tidak! Aku hanya kedinginan . . .” Jawab Mely.
“ Duduklah! Akan ku buatkan kau coklat hangat.” Lanjut Yuna mempersilahkan Mely duduk disofa yang empuk lalu bergegas pergi kedapur.

Selang beberapa menit kemudian, Yuna datang dengan membawa secangkir coklat hangat. Mely menyeruput minuman itu, segera dia merasakan kehangatan melewati tenggorokannya seperti hangatnya persahabatan yang ia rasakan kepada Yuna.
“ Sudah beberapa hari ini kau tidak pergi kekampus, ada apa mel?” tanya Yuna kepada sahabatnya itu, tapi Mely hanya tersenyum.
“ Aku mengerti perasaanmu, tapi tolong jangan seperti ini. Pikirkanlah dirimu sendiri. Paling tidak pikirkanlah orang tuamu! Orang tuamu pasti akan sedih jika mereka tau kau seprti ini.” Lanjut Yuna. Mely mengerlingkan matanya. Dia merasakan perasaan bersalah terhadap orang tuanya.
“ ku mohon Mel! Kembalilah! Kembalilah seperti Mely yang kukenal dulu, Mely yang cantik, pintar dan periang . . . dan . . .”
“ Bagaimana mungkin aku dapat kembali seperti dulu Yuna?” kata Mely memotong pembicaraan yuna.
“ Bisakah kau mengembalikan kakakku? Katakan Yuna! Katakan padaku bagaimana caranya!” Kata Mely yang mulai meledak tangisnya.
“ Hentikan Mel! Bagaimana mungkin aku tahu? Kau sendiri tahu, aku pun tahu, semua orang juga tahu bahwa pemuda itu telah meninggal setahun yang lalu karena kecelakaan saat kembali dari singapura, bukankah kau juga hadir saat pemakamannya?”
“ Cukup Yuna! Kau sudah keterlaluan, kau salah! Semua orang juga salah! Kakakku itu, . . . dia akan datang menjemputku.” Kata mely sambil menahan sesak didadanya. Tanpa memandang Yuna, Mely Melangkah meninggalkan sahabatnya itu yang makin tidak mengerti dengan pemikiran Mely.
“ Mel pikirkanlah kata – kata ku tadi, ini semua demi kebaikanmu!!!” Kata Yuna setengah berteriak.

Mely memperlambat langkahnya. Dia berdiri mematung didepan halte bus. Baginya mobil – mobil dan orang – orang yang lalu lalang disekitarnya adalah bayangan putih yang kelam dan jalan tempat dia berdiri adalah hamparan padang rumput yang gersang.
“ Bau anyir apa ini?” mely melihat – lihat disekitarnya mencari – cari dari mana asal bau itu. Tiba – tiba seorang pria menegurnya.
“ Maaf mba . . . Itu, hidungnya mimisan.” Kata pria itu. Mely yang baru sadar, bau anyir yang dia cari – cari dari tadi ternyata adalah bau darah yang mengalir dari hidungnya.
Ah-ya , tentang penyakit kanker yang menggerogoti tubuhnya itu, Mely hampir melupakannya. Enam bulan yang lalu dokter memvonis Mely mengidap Leukimia alias kanker darah. Entah sudah stadium berapa Mely sudah lupa. Tidak ada satu orang pun yang tahu, Mely tidak pernah tertarik untuk memeriksakan dirinya kedokter. Bahkan didalam hatinya dia merasa sangat bangga terhadap penyakitnya itu, karena Tuhan akan segera mempertemukan dirinya dengan kakaknya itu.
Mely mengelap darah dihidungnya dengan lengan bajunya, lalu melanjutkan perjalanannya sambil sesekali tersenyum. Matanya melirik ke jam yang ada ditanganya, “jam 8:15” kata mely pelan. Mely ingat, dihari minggu seperti ini, mely dan kakaknya akan menghabiskan waktu bersama, masak bersamaa, makan bersama, nonton DVD bersama, memberi makan ikan dikolam bersama, semuanya terbayang diingatan mely dengan jelas.

Tiba-tiba Mely mempercepat langkahnya, keringat dingin mengucur dari tubuhnya, langkahnya mulai gontai, tapi Mely tidak peduli dia ingin cepat-cepat sampai rumah. “ kakak “, panggil Mely sambil membuka pintu rumahnya. Tapi tidak ada jawaban, yang ada hanya kesunyian yang Mely rasakan memenuhi rumah itu.
“kreeeeekk.....”, bunyi pintu kamar Mely memecah kesunyian, perlahan Mely melangkah masuk kedalam kamarnya, jemarinya yang kurus meraba-raba keatas meja mencari bingkai foto yang selama ini diletakkn dalam posisi terbalik, lalu meletakkannya dengan benar diatas meja. Nampak dibingkai itu foto seorang pria sedang tersenyum manis. “ Ah...kakak, kau masih seperti yang dulu “, gumam Mely.
Mely membuka lemari pakaian berwarna coklat yang ada dikamarnya, baju-baju milik pria itu masih tergantung dengan rapi dilemari. Ditelusurinya baju-baju itu satu-persatu dengan jari-jemarinya, lalu diambilnya satu jas warna hitam milik pria itu dan memeluknya dengan erat sambil menghirub aroma maskulin dari jas itu, menurut Mely setidaknya itu bisa mebuatnya tenang.

Mely berbaring diatas ranjangnya. Diletakannya jas pria itu disampingnya lalu memandang foto yang ada diatas meja belajarnya serambi ia berkata “ Kakak hari ini aku lelah sekali, aku berharap setelah hari ini aku tidak akan lelah lagi. Aku berharap ini air mata terakhirku.”
“ Mel, Mely???” sayup – sayup Mely mendengar suara seseorang memanggil namanya. Mely pun perlahan membuka matanya.
“ Syukurlah kau sudah sadar.” Kata Yuna sambil tersenyum.
“ Yuna, dimana aku sekarang?”tanya mely kepada sahabatnya.
“ tenanglah kau sekarang berada dirumah sakit sayang . . . Tadi aku datang kerumahmu, lalu ku temukan kau sudah pingsan dikamarmu dan akhirnya ku bawa kau kemari. Oh iya, aku sudah menghubungi orang tuamu.” Jelas Yuna kepada Mely.
“ Orang tuaku? Dimana merekaa sekarang?”
“ mereka ada diluar sedang berbicara dengan dokter. Ehmm... Kau tunggu dulu sebentar ya? Aku akan memberi tau mereka kalau kau sudah siuman.” Kata Yuna.

Entah pergi kemana Yuna tadi karena begitu lama keluar kamar tempat Mely dirawat.
“ Kenapa Yuna lama sekali?” Ucap Mely dalam benaknya. Kemudian Mely bangkit dari ranjangnya. Dari jendela rumah sakit terlihat lampu – lampu kota dan beberapa mobil yang melintasi jalan raya. Setelah puas memandang lampu – lampu kota, Mely melangkah menuju kamar mandi lalu duduk disamping bak mandi besar yang penuh dengan air. Disentuhnya air yang ada dibak itu dengan ujung jarinya. “sejuknya . . . “ gumam Mely lirih.
Mely membenamkan seluruh tubuhnya ke dalam bak mandi itu. Kedua tangannya diletakan dipermukaan perutnya. Didalam air itu Mely memejamkan matanya. Sebelum semuanya menjadi gelap terlintas semua kenangan waktu piknik dengan orang tuanya, Waktu dia lulus SMA. Wkatu dia bersenang – senang dengan sahabatnya. Saat pertama kali bertemu dengan kakak, dan yang terakhir adalah lambaian kedua orang tuanya yang sambil tersenyum ketika Mely harus melanjutkan kuliah diluar kota.
“ Maafkan aku ayah . . . Ibu . . . “ ucap dalam pikirnya.
Mely seperti terjatuh dari tempat yang begitu tinggi.
“ Dimana aku?” tanya Mely dalam hatinya. Dalam kebingungannya, seseorang memegang pundaknya dari belakang. Mely tertegun.
“ Aroma ini, aroma yang sangat ku kenal . . .” Mely menghirup udara dalam. Mely segera membalikan tubuhnya. Terlihat sesosok pria mengenakan setelan jas warna hitam dan kemeja putih sedang tersenyum manis. “ Kakak???” panggil Mely. Keduanya saling berpelukan melepaskan kerinduan yang mendalam.

Mely melepaskan pelukannya dan mulai menangis.
“ Kakak kenapa kau lama sekali??? Aku sudah lama menunggumu.” Kata mely seraya menepuk – nepuk dada pria itu.
“ Maafkan aku honey.” Kata pria itu sambil menghapus air mata Mely dengan tangannya.
“ Hey, kau terlihat lebih tampan hari ini.” Kata Mely sambil membenahi kerah jas pria itu.
“ Oh ya, aku tahu kau akan datang honey. Makanya aku berdandan. Dan kau kenapa lebih kurus?” kata pria itu.
“ Ini semua salahmu kakak, kau yang membuat aku seperti ini.” Kata Mely manja.
“ Maafkan aku honey, aku sudah membuatmu hidup menderita.” Jawab pria itu. Matanya memancarkan rasa bersalah.
“ Tanpa kau meminta pun aku selalu memaafkanmu.”
“ Ayo ikut denganku.” Pinta pria itu sambil menarik tangan gadis yang dicintainya.
“ Kemana kak? “ tanya Mely.
“ Ketempat yang sangat indah,kau pasti akan menyukainya.” Lalu keduanya berjalan sambil bergandengan tangan.

Keduanya telah sampai disuatu tempat yang indah dan damai, suara air terjun yang mengalir, burung – burung yang berkicau, rumput hijau yang tertata rapi, dan kupu – kupu cantik yanng terbang mengitari bunga – bunga yang bewarna – warni.
“ Disinilah kita akan tinggal honey, tidak ada lagi yang dapat memisahkan kita.” Kata pria itu.
“ Kakak aku bahagia sekali.” Keduanya duduk dikursi indahyang berada dibawah pohon rindang sambil menikmati pemandangan air terjun. Mely merebahkan kepalanya dipundak pria itu, lalu pria itu pun membelai rambut Mely dan berkata,
“ sayang? Kau mau mendengarkan lagu yang selalu ku nyanyikan disaat aku menunggumu disini.”
“ Iya kakak, menyanyilah, aku ingin mendengarnya.” Sahut Mely.

Someday . . . If I get you here,
I will never let you go,
Someday . . . If I found you,
I will never to loose you from my embrace,
Because you are my everything,
And I believe that someday,
Will come the day . . .
Someday . . .

Sementara itu terlihat keluarga Mely berjalan pergi meninggalkan pemakaman. Ibu Mely menangis terisak – isak dipelukan suaminya. Sedangkan Yuna masih berdiri mematung sambil memandang makam Mely, tangan kirinya menggenggam dua tangkai bunga mawar merah.
“ Tak ku sangka Mel, semua akan berakhir seperti ini. Kau benar, kakakmu memang benar – benar menjemputmu, berbahagialah Mel . . . Berbahagialah kau disana, temuilah kakakmu disana.” Kata Yuna sambil tersenyum masam.

Lalu Yuna mengambil satu tangkai mawar merah yang ada ditangan kirinya, Yuna mengecup dengan lembut kelopak mawar itu, lalu meletakannya dimakam Mely, dan meletakan satu tangkai mawar lagi diatas makam seorang pria yang letaknya tepat disamping makam Mely yang tak lain adalah makam seorang kakak yang sangat Mely cintai. Yang sudah lama lebih dulu meninggalkannya.
“ Jagalah Mely kakak, jangan biarkan dia menderita lagi.”
Yuna menghapus air matanya lalu pergi meninggalkan pemakaman.
Musik sedih mengalun samar – samar mengiring langkah Yuna. . .

PROFIL PENULIS
Nama Aku Handy Risma Tricahya, Aku hobi bikin cerpen dan aku bikin banyak cerpen sering aku tempel dimading sekolah tanggapan temen - temen sih karya aku cukup lumayan tapi aku masih cukup belajar banyak. oya, ini nama facebook aku " Handys Risma Boyafter Thedarkness"

Baca juga Cerpen Sedih yang lainnya.

Berawal dari Sebuah Kebohongan - Cerpen Remaja

BERAWAL DARI SEBUAH KEBOHONGAN
Karya Beti Sinta Rosi

Malam ini sangat berbeda dari malam malam sebelumnya. Malam ini bulan maupun bintang tak tampak karena tertutup awan kelam. Seperti diriku kini yang tak tau harus berbuat apa, aku mendapat sepucuk surat dari sahabatku Dani. Dia menyatakan perasaannya di dalam surat tersebut, untaian kata manis yang menyejukkan hatiku tak dapat aku hindari lagi. Namun hati kecil ini tak bisa dibohongi, “Aku tak menyukainya” , hati kecil ini selalu menjeritkan kata kata itu setelah aku membaca berulang kali surat tersebut. Tapi, aku tak mau Dani kecewa denganku, akhirnya aku bertekat membalas surat tersebut,

Perasaan ini tak dapat ku bohongi
Perasaan ini memang ada
Perasaan ini memang selalu menyelimuti hati ini
Perasaan suka kepadamu inilah yang selalu aku harapkan bisa kau balas
Dan ternyata perasaanmu sama denganku
Aku yakin jika semua ini akan terjadi
Akhirnya aku dapat mengatakan bahwa “Aku juga Mencintaimu”
Ku letakkan pena yang sedari tadi kugenggam, ku baca ulang isi dari balasanku, aku berpikir aku telah berdosa karna membohonginya, tapi apa daya aku tak mau membuat sahabat karibku terluka dan menjauhiku. Ku masukkan selembar kertas yang penuh kedustaan itu ke dalam amplop bewarna merah hati, karna besok aku harus memberikan jawabanku ke dia.

“Teng.....teng...teng” suara lonceng sekolah yang menandakan berakhirnya kami menuntut ilmu berdenting, suara lonceng yang diikuti suara langkah kaki para siswa yang menuju gerbang semakin membuat hatiku riuh, hari ini aku berjanji menemui Dani di gerbang sekolah. Aku tak yakin dengan jawabanku tadi malam, aku masih ragu. Kukeluarkan kembali surat yang telah ku hias rapi dari dalam tasku. Aku menghirup nafas dalam dalam, aku berniat untuk mengganti isi surat tersebut. Mungkin sebuah kejujuran dapat merubah segalanya, aku tak ingin hari hariku bersamanya ternodai karna kebohonganku.
“Hay, Bila udah lama nunggu?” kata seseorang dibelakangku
“Dani” batinku, tanpa berpikir panjang aku segera menoleh ke arah suara itu, tapi kudapati Anton, teman sebangku Dani yang memanggilku tadi
“Oh, Anton, dimana Dani?” ucapku seraya menyembunyikan suratku di belakang tubuhku
“Dani tak masuk karna sakit, Oiya Bil, aku disuruh Dani, mengambil surat yang kau janjikan kemaren”

DEG!
“Surat? Oh...suratnya ketinggalan di rumah iya ketinggalan” ucapku menutupi rasa gugupku
“Terus itu apa?” ucapnya menunjuk secarik kertas yang jatuh tepat dibawahku, kemudian diambilnya surat tersebut, “lah, ini suratnya” ucapnya
“Oh...iya mungkin tadi aku salah liat, aku kira itu surat izin Nina, hehe” cengirku
“Yaudah aku kasih Dani ya? Dah Bil...”
Aku terpaku di tempat, aku tak dapat berbuat apa apa,kutarik tanganku yang sedari tadi bersembunyi di belakang tubuhku, memang benar dugaanku, surat itu terjatuh dari amplopnya. Inginku berlari ke Anton yang belum jauh dari ku, namun perasaan bimbang kembali datang di hatiku. Aku menyerah, aku biarkan saja surat itu dibaca oleh Dani, mungkin seiring waktu berjalan aku dapat sedikit demi sedikit mencintainya.

Sore ini aku berniat menjenguk Dani, di perjalanan hatiku semakin tak menentu karna hari ini mugkin aku resmi berpacaran dengan Dani. Aku mengemudikan mobilku sedikit kencang karna takut hari semakin malam. Sesampainya dirumah Dani, aku mengambil buket bunga serta nasi goreng buatanku yang disukai Dani. Kulangkahkan kakiku menuju kedalam rumahnya, Pak Tri adalah penjaga rumah Dani, beliau sudah sangat akrab denganku. Aku dan Dani telah berteman hampir 5 tahun sejak kelas 1 SMP, jadi tak heran jika aku bisa keluar masuk rumah Dani tanpa seizin Pak Tri.
“Mau jenguk Tuan Dani, non?” tanya Pak Tri
“Iya pak, oiya Dani dirumahkan?” jawabku ramah
“Iya non, silahkan masuk nanti mobilnya saya parkirkan.”
“Baiklah pak ini kuncinya” ucapku seraya memberikan kunci mobil ke Pak Tri.

Aku masuk ke dalam rumah Dani, aroma khas rumah Dani selalu membekas, rumah Dani sangat rapi, Dani disini hanya tinggal sendirian, karna Orang tuanya sedang keluar kota. Tak mau membuang buang waktu segeraku ke lantai 2 dimana kamar Dani berada. Sesampainya di depan kamar Dani aku ragu untuk membukannya, aku takut jika Dani menanyakan kebenaran isi surat tersebut. Tiba tiba hendle pintu Dani bergerak, aku kaget mungkinkah Dani? Namun ternyata pengasuh Dani yang keluar
“Oh non Bila silahkan masuk, Saya mau ngurusin dapur dulu, tolong titip tuan Dani ya” pintanya
“Bik, ini untuk Dani” ucapku seraya menyerahkan satu kotak penuh nasi goreng
“Oya, makasih ya non, pasti Dani seneng banget ini non.” ucapnya kemudian pergi

Aku masuk ke kamar Dani, ku lihat Dani yang terbaring lemas diatas kasurnya, tiba tiba hati ini merasa khawatir, aku sempat bertanya apakah aku mulai menyayangi Dani atau aku hanya simpati? Aku duduk di sebelah Dani, setelah meletakan buket bunga, aku kembali memalingkan wajahku dan kutemukan wajah Dani yang begitu pucat, Dani sangat tampan jika tidur? Hey ada apa denganku? Tidak tidak, aku jatuh cinta kepada Dani? Tapi mengapa aku menolak? Toh, aku juga udah jadian sama dia.
“Bil.” lirih Dani
“Ha?” lamunanku tiba tiba pecah, “iya ada apa?” ucapku
Terlihat raut senyum di wajahnya, “kok gak bilang sayang?” ucapnya yang kurasa tak bercanda
“Apa? Oh i..i..iya saa...yaa...ng..kam..u gak ..pa..pa..kan?” balasku canggung
“Hahaha...kita kan udah resmi jadian, harusnya gak usah canggung dong.”

Aku mengangguk tanda menyetujuinya, “Oiya, aku tadi bawa nasi goreng, kamu mau? Aku ambilin.” ucapku seraya berdiri berniat mengambilkannya
“Bil, gak usah aku cuma mau kamu disini.” lirihnya menggenggam tangan kiriku.
Tanpa aba aba aku segera kembali ke tempat dudukku semula.
“Bil, mungin hidupku tak kan lama lagi namun setelah aku mengenalmu 5 tahun yang lalu aku jadi mengerti arti hidup ini. Hidup ini indah jika kita dapat melihat orang yang kita sayangi merasa bahagia. Bil, kamu mau kan menemaniku diusiaku yang tak lama lagi ini?”
Tak terasa air mataku mengalir, “Dan, kamu ngomong apa sih? Aku gak ngerti, aku selalu disini Dan, aku tak akan meninggalkanmu.” isakku namun dengan sebuah canda
“Kamu nggak usah tangisi aku, aku jadi ikut sedih jika kamu sedih Bil, aku sayang banget sama kamu, tadi Anton ngasih suratmu itu katanya kamu membalas cintaku, aku senang banget Bil, aku tak tau harus ngomong apa lagi” jawabnya di sertai senyuman yang masih mengembang di wajahnya.

Ku pererat genggaman tanganku, aku menangis bukan karna aku sedih melihatmu, tapi karna aku menyesal telah membohongimu Dan.
“Sudah Bil, jangan nangis.” ucapnya berusaha bangun, tapi aku mencegahnya
“Jangan bergerak dulu.”

Dani mengangguk, kemudian suasana hening tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami, hingga Dani memulai pembicaraan
“Bil, udah malem, pulang gih, nanti kamu kecapekan lagi”
Aku mengangguk, ku bermaksut untuk berdiri namun lagi lagi Dani menggenggam tanganku
“I love You Bila” ucapnya
Ku balas kalimat tersebut dengan senyuman, karna aku sama sekali tak mencintainya. Oh Tuhan salahkah aku?

Hari ini adalah annyversarry ku yang ke 1 tahun dengan Dani, aku mulai merasakan bibit bibit cinta yang mulai bermekaran di hatiku. Danilah yang menumbuhkan itu semua, Dani selama ini telah mengajariku arti cinta yang sebenarnya, disetiap kata Dani kadang menyisipkan kalimat yang membuat hati ini bertanya tanya.
“Dedaunan tak selamanya akan berwarna hijau dan dapat melindungi kita dari panas, tapi ada saatnya daun itu akan jatuh dari pohonnya dan lama kelamaan akan berubah bentuk menjadi seonggok sampah”

Aku masih tak mengerti apa maksut dari kalimat tersebut, setiap aku bertanya Dani hanya menjawab “tunggulah waktunya, nanti kamu akan mengerti”
“Tin...tinn...” terdengar suara klakson dari depan rumahku, aku segera pergi, tapi sebelumnya aku mematuk diriku ke cermin
“Perfect” gumamku
“Mah, aku pergi ya....” kataku seraya mencium tangan mamaku
“Iya, hati hati jangan malam malam”
Aku berlari sambil mengacungkan jempolku. Aku masuk ke mobil silver Dani.
“Hay, sayang hari ini mau kemana?” ucapku senang
“Ke taman aja ya sayang aku mau istirahat, kan disana sejuk.”

Aku mengangguk, perjalanan dari rumahku ke taman bisa dibilang dekat hanya memakan waktu 15 menit saja. Selama di perjalanan kami tak banyak mengobrol, hanya saja sesekali kami bersanda gurau. Tak terasa kami telah sampai di tempat tujuan, setelah memarkir mobil Dani, kami menuju bangku taman yang tak jauh dari sebuah danau kecil. Kukeluarkan isi tasku, aku membawa beraneka roti dan tentunya sekotak nasi goreng.
“Dan, aku bawain nasi goreng, mau aku suapin?” tawarku
Dani mengangguk, dia lalu membuka mulutnya, aku segera menyuapinya. Oh Tuhan terimakasih, karna sekarang aku telah bisa menyayangi Dani, aku tak mau meninggalkannya, aku sudah terlanjur mencintainya Tuhan.
“Bil, maafkan aku jika aku mempunyai salah kepadamu, mungkin jika aku meninggalkan dunia ini, aku telah bahagia karna yang terpenting impikanku selama ini telah terwujud, aku bisa melihat orang yang aku sayangi bahagia. Berjanjilah kamu kepadaku, setelah aku tiada kamu akan mencari penggantiku, namun kamu harus memilih seorang lelaki yang sehat tidak sepertiku yang sakit sakitan.” lirihnya, sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan selama ini, sesuatu yang sangat penting dan aku tak tau apa maksut semua itu.
“Dan, kenapa kamu selalu bilang seperti itu, ada apa yang terjadi? Apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan? Apa itu Dan? Apa? kenapa kamu tak mengatakannya kepadaku? Aku mencintaimu Dan, aku tak mau kehilanganmu.” kataku disertai hembusan nafas yang berat

Dani memelukku, begitu hangat pelukannya, baru kali ini aku merasakan pelukan Dani, aroma tubuh Dani dapat ku nikmati dengan jelas, aku membalas pelukannya, aku pererat pelukanku seakan aku tak mau membiarkan dia pergi. Namun perlahan tubuh Dani memberat, aku melepaskan pelukannku terlihat di hidung Dani mengalir darah segar, Dani perlahan menutup matanya disertai dengan senyuman yang terlukis di kedua sudut bibirnya.
“Terimakasih Bil, kau telah menemaniku di akhir hayatku ini. Aku mencintaimu.” lirih Dani pelan
“ Dani....” kugoncangkan badannya dengan pelan, namun tak ada reaksi darinya, kugoncangkan lagi namun dengan nada yang lebih cepat, “Daniiii......” jeritku sekarang yang membuat pengunjung taman menoleh kearahku.
Air mataku tumpah semakin deras, orang orang disekeliling kami mendekat dan menggotong tubuh lemas Dani, salah seorang pengunjung mengubungi ambulance. Tak lama kemudian ambulance datang, aku mengikuti mobil ambulance dengan mobil Dani, aku masih tak percaya Dani yang aku cintai sekarang pergi. Aku masih bertanya tanya sebenarnya penyakit apa yang diderita Dani?

Sesampainya di rumah sakit, aku menelfon Mamaku karna Orang tua Dani sedang pergi entah kemana. Aku menyendiri di sebuah bangku yang kosong, aku terus terusan mondar mandir di depan pintu kamar dimana Dani ada didalamnya.
“Bila!” panggil seseorang yang sangat ku kenal
“Mama” aku berlari memeluk wanita paruh baya yang sangat ku sayangi
“Mah, Dani mah Dani.” isakku di pelukan mamaku
“Sabar nak sabar, pasti akan ada jalan keluarya. Kita berdoa saja supaya Dani baik baik saja.”
Aku tak menjawabnya, tiba tiba mamaku memberikan secarik kertas putih yang tertulis “Untuk Malaikat Tanpa Sayapku Nabila”
“Mungkin ini saatnya sayang.” ucap mama menyerahkan surat tersebut ditanganku
Aku membuka lipatan surat tersebut, terlihat tulisan Dani yang begitu rapi, terjajar dengan indah

Untuk Bila,
Bil, mengkin jika kamu membaca surat ini aku telah tiada di dunia ini, namun yakinlah walaupun raga ini telah lenyap, namun jiwa ini akan selalu menemanimu dan senantiasa menjagamu dari surga, tapi ingatlah, jika kau merindukanku, serukan namaku di dalam hatimu, serukanlah dengan ketulusan maka kau akan merasakan aku didalam jiwamu.
Tapi...andai saja aku bisa menolak takdir ini, sungguh aku ingin melihatmu berbahagia dengan orang yang tepat, berbahagia dengan hidup yang kau punya, berbahagia dengan diriku. Namun apa daya aku tak dapat merubah takdir ini. Memang aku ingin sekali memelukmu, namun dunia kita telah berbeda, berjanjilah kepada dirimu sendiri bahwa kau tak akan melupakanku dan tak akan melupakan kenangan kita yang dulu kita ukir bersama.
Maafkan aku Bil jika aku tak sempurna, maafkan aku jika kali ini aku harus pergi dan tak akan kembali lagi, dan maafkan aku karna aku belum bisa membahagiakanmu karna sakit yang tak kuharapkan ini. Semoga kau bahagia tanpaku Bil. Terimakasih telah memberiku warna dan mengerti arti kehidupan, terimakasih Bil.

Orang yang menyangimu,
Dani
Air mataku kembali mengalir, “Makasih juga Dan selama ini kamu mampu bertahan buatku” aku menoleh kearah Mamaku yang sedari tadi mengelus elus punggungku, “Ma, sebenarnya Dani sakit apa?” ucapku dengan kesusahan
“Dani, terlahir hanya memiliki satu ginjal, dan ginjal tersebut sangat lemah, Mama Dani selalu mengecek kesehatan Dani setiap waktu. Tahun berjalan tepat diumur Dani ke 13 tahun, tepatnya saat Dani masuk SMP, Dani harus menerima kenyataan pahit, ginjal Dani tak mampu bekerja dengan baik, ginjal Dani tak dapat membuang sisa sisa metabolisme dari tubuhnya. Dani divonis menderita gagal ginjal akut, gagal ginjal ini masih bisa ditolong dengan cangkok ginjal. Mama Dani sering berbicara tentang Dani, tapi mama takut bilang kepadamu sayang” Papar mama panjang lebar
Aku masih tak percaya berarti dari aku bertemu Dani dia telah menyembunyikan ini semua.
“Mah, golongan Danikan O, golongan Bila juga O, bagaimana jika Bila yang menyumbangkan ginjal Bila?” ucapku memohon
“Sayang, kamu ingin Dani bersedih jika ternyata ginjal yang ada pada dirinya adalah ginjal darimu?” ucap mama
“Maah...plis, Bila sayang dengan Dani ma”
“Tidak Bila mama tidak setuju.” bentak mamaku

Hari ini hari pemakaman, dimana hari ini semua orang, keluarga, teman, orang orang yang peduli terhadap kita berkumpul jadi satu. Hari ini bukanlah hari terakhirku, namun hari ini adalah hari baru di dalam hidupku, hari dimana semua kenangan, kesedihan, kesenangan aku tinggalkan di dunia ini menuju ke tmpat yang damai dan tentram diatas sana. Dani semoga kau bahagia dengan ginjalku yang tertanam di tubuhmu.
“Dan, ayo pulang mama yakin Bila pasti bahagia di alam sana.” bujuk mama Dani
“Kenapa harus Bila ma?” isak Dani
“Nak Dani, ini adalah keputusan Bila, dulu sewaktu Nak Dani kritis Bila memohon kepada ibu untuk mendonorkan ginjalnya kepada Nak Dani, awalnya ibu menolak, namun kecintaan Bila akan Nak Dani begitu kuat, Bila memohon hingga sujud di telapak kaki ibu. Ibu sangat tersentuh, akhirnya ibu mengizinkan Bila, Bila terlihat sangat senang. Pada akhirnya operasi berlangsung, semua berjalan dengan baik, namun satu ginjal Bila mengalami kebocoran, ginjal Bila rusak, tak bisa berfungsi karna kebocoran tersebut, dan pada akhirnya Bila tak tertolong, Bila sempat berbicara pada ibu, dia bilang, jika dia tak kembali ke dunia ini, dia minta ibu untuk menyampaikan surat kecil ini ke Nak Dani.” ucap mama Bila dengan penuh kesedian serta menyerahkan surat kecil tersebut.
“Dan, aku mengerti sekarang tentang arti Daun tersebut, mungkin dedaunan itu bisa saja jatuh, namun ranting bisa saja menolongnya, mungkin ranting memang lemah tapi dia mampu menopang daun agar tidak jatuh. Walaupun ranting itu jatuh namun daun masih bisa dilindunginya, dengan cara menerbangkan daun tersebut ke suatu tempat untuk memulai kehidupan yang baru. Kamu tau tidak? Ranting itu adalah aku, dan daun adalah kamu. Kita saling melengkapi, namun karna takdir kita dapat terpisahkan, tapi ingatlah aku tak akan meninggalkanmu Dan, I love You.” begitulah isi pesan dari surat tersebut
“Terimakasih Bil, aku janji akan merawat ginjal ini untukmu, I Love You too.” ucap Dani seraya meninggalkan tempat pemakamanku, sekaligus tempat terakhirku.

Kini semuanya telah hilang, aku telah menemui takdirku selama ini, aku tak akan mengecewakan semuanya, termasuk orang orang yang aku cintai. Sekarang di atas sini aku dapat melihat dan menjaga kalian semua meski aku tak dapat menyentuh kalian. Bermuai dari kebohongan, aku dapat mengerti arti kehidupan seperti yang diajarkan Dani. Aku tak menyangka kebohonganku dapat membuatku seperti ini. Selama kita hidup kita harus berusaha menjaga semuanya agar tetap indah dan yang paling terpenting kita harus membuat orang yang kita sayangi bahagia.
SELESAI

PROFIL PENULIS
Nama: Beti Sinta Rosi
Tempat Tanggal Lahir : Yogyakarta, 15 Januari 1997
Alamat: Taman KT 1/459, Yogyakarta
Asal Sekolah : SMA Negeri 7 Yogyakarta
Facebook : Beti Sinta Rosi

Baca juga Cerpen Remaja yang lainnya.

Persembahan Buat Mama - Cerpen Ibu

PERSEMBAHAN BUAT MAMA
Karya Rita Lestari

Sejak usia belum genap satu tahun, Ara hidup tanpa kehadiran seorang ayah. Ayahnya pergi meninggalkannya dan ibu yang sangat dicintai serta mencintainya. Melihat teman-temannya yang tumbuh dengan orangtua yang lengkap, ia merasa tak seberuntung mereka. Ara yang saat itu masih kanak-kanak begitu sangat lugu dan mempercayai perkataan ibunya bahwa sang ayah telah meninggal dunia. Tapi tampaknya rasa penasaran Ara terhadap sosok ayah mulai menggedor-gedor hatinya untuk segera mengetahui apa yang sebenarnya terjadi setelah usianya beranjak remaja. “Ma, Ara pengen tahu kuburan Papa. Ara pengen banget ziarah ke makamnya. Kasihan Papa, pasti kangen sama kita. Bahkan sekalipun kita gak pernah mengaunjunginya. Kenapa Ma?‘‘ tanya Ara.
“Kan Mama udah bilang, kuburuan Papamu tuh jauh. Kita gak punya cukup uang buat ongkos ke sana!” jawab Mama.
“Ara kangen Papa. Ara gak punya kesempatan buat ketemu Papa, masa Ara harus gak punya kesempatan juga buat sekedar berziarah ke makamnya. Ayo Ma, kita ke makam Papa! Ayo Ma!“ Ara terus merengak kepada ibunya sambil menangis. Melihat Ara menangis, tampaknya membuat hati ibunya terenyuh. Dengan tangis yang juga merajainya, akhirnya ibupun berkata yang sebenarnya.
“Papamu masih hidup. Tapi jangan pernah kamu menaruh harapan lebih sama Papamu, karena dia udah punya kehidupan sendiri‘‘ kata Mama, lirih.

Mendengar pernyataan ibunya, Ara sangat behagia karena ternyata ia masih memiliki seorang ayah. Di sisi lain hati Ara sangat terpukul, kenapa ibunya tega berbohong tentang ayahnya. Ara ingin sekali menanyakan tentang perihal itu, tentang kebohongan yang selama ini dibuat oleh ibunya. Tapi hati kecil Ara berkata, “Mama pasti punya alasan yang kuat kenapa ia sampai berbohong tentang kebenaran ini.‘‘

Lambat hari Ara mengerti tentang apa yang terjadi dengan orangtuanya. Ara mengerti dan mengetahui bahwa orangtuanya telah bercerai sejak 12 tahun yang lalu. Kerinduannya terhadap sosok ayah yang selama 12 tahun ia tak prenah merasakan sama sekali sentuhan dan kasih sayang seorang ayah membuat ia ingin sekali berjumpa dengannya. Suatu hari ia pergi ke kota Metropolitan untuk menemui ayahnya. Ara tidak sendiri, tentu saja. Ia ditemani paman yang selama ini telah ia anggap sebagai sosok ayah dalam kegalauannya.
“Om, Ara senang deh ternyata Papa masih hidup. Dan sebentar lagi Ara bakal ketemu Papa. Hehe, jadi gak sabar. Kira-kira Papa kenal Ara gak ya Om?‘‘ ujarnya penuh semangat.
“Ya pasti Papamu kenal. Lah wong kamu ini anaknya!“ jawab Om.
”Iya ya Om, Ara kan anaknya Papa. Pasti Papa kenal Ara. Pasti Papa juga kangen banget ya Om sama Ara ? Gak kebayang gimana nanti Papa meluk Ara. Pasti meluknya erat banget terus gak lepas-lepas, saking kangennya. Hehe“ ucap Ara. Sementara sang paman membalas dengan senyuman.

Ara dan Om pun tiba di Jakarta.
“Loh Om, Kok ke rumah Tante Mia? Bukannya kita mau ketemu Papa?“ tanyanya, heran.
“Iya sayang, kita ketemu Papanya di sini“ jawab Om.
“Kenapa Om? Kata Om, Papa punya rumah di Jakarta. Kenapa kita gak ke rumah Papa aja, langsung? Kan Ara pengen tahu rumah Papa, biar Ara bisa sering-sering main ke rumah Papa.“
“Ara, Papa kamu kan uda punya kehidupan sendiri. Di rumahnya, bukan cuma Papa kamu aja yang tinggal. Tapi ada orang lain juga. Kamu gak mau kan mengganggu mereka?“
“Tapi Ara kan anaknya Papa. Ara juga gak akan ganggu orang lain kok.“
“Ya udah nanti lain waku ya sayang. Sementara,sekarang kita ketemu Papanya di sini dulu. Sebentar lagi Papamu datang, cuci muka dulu gih! Biar gak kucel tuh mukanya. Masa mau ketemu Papa kok kucel gitu!“
“Iya Om“

Setelah selesai mencuci muka, Ara kembali duduk di teras rumah tantenya. Ia begitu tak sabar menunggu kedatangan ayahnya. Beberapa saat kemudian tampak sosok laki-laki gagah mengenakan jaket kulit warna hitam, turun dari sepeda motornya. Laki-laki itu semakin mendekat ke arah Arah. Dalam hati Ara bergumam, “Gak salah lagi, itu Papa. Ya Tuhan, apa aku sedang bermimpi? Papaku yang selama ini ku anggap mati, ternyata sekarang ada di hadapanku. Bahkan ia tampak lebih gemuk dibandingkan dengan yang aku lihat di foto.“
“Asalamualaikum“ ucap sang Papa.
“Waalaikumsalam“ jawab Ara dan Om.

Saat itu juga Ara berharap apa yang dibayangkannya menjadi kenyataan. Ia selalu membayangkan pertemuan pertama itu adalah hari yang paling indah. Dimana ayahnya akan memeluknya erat-erat, membelainya, dan mencurahkan segenap kerinduan layaknya sosok ayah yang merindukan anaknya. Tapi ternyata semua jauh dari apa yang ia bayangkan. Sang ayah hanya menyodorkan tangan kanannya untuk kemudian ia cium.
“Ini Ara ya?” Tanya Papa.
“Iya Pa, ini Ara” jawab Ara.
“Kamu masih sekolah?”
“Masih Pa.”
“Kelas berapa?”
“Kelas enam”
“Yang rajin sekolahnya, biar pintar!”
“Iya Pa.”
“Mama kamu sehat?”
“Sehat Pa, Papa sehat?”
“Iya, Papa sehat.”

Tak ada perbincangan yang berarti di antara mereka. Bahkan Ara yang sebelumnya membayangkan pertemuan itu adalah awal yang baik untuk ia mencurahkan rindunya terhadap sang ayah, ternyata pupus. Yang ia rasakan justru sebaliknya. Ia merasa asing di mata sang ayah juga menganggap ayahnya asing di matanya. Ara justru tampak canggung untuk bermanja-manja kepada ayahnya, karena nyatanya sang ayah tak memberikan kehangatan sama sekali untuknya. Penantian Ara selama 12 tahun, terbayar dengan pertemuan yang hanya setengah jam saja. Hati Ara menangis, ia masih ingin memandang wajah ayahnya.
“Pa, kenapa buru-buru? Ara masih kangen” ucap Ara.
“Papa ada kerjaan. Nanti lain waktu kita ketemu lagi ya!“

Ara tertunduk lesuh. Saat sang ayah akan beranjak, seketika itu juga Ara menahan ayahnya sejenak.
“Tunggu Pa!” serunya.
“Iya Ra, ada apa? Papa buru-buru.”
“Ara minta nomor telepon Papa, boleh?”
“Iya, boleh. Kebetulan Om mu tadi sudah mencatat nomor telepon Papa, nanti kamu minta aja sama dia ya!”
“Baik Pa.”
“Ya sudah, Papa pamit. Asalmualaikum!”
“Waalaikumsalam.”
Ara hanya diam. Air mata yang ingin ia keluarkan, tertahan. Teriakkan serta tangisan yang ingin ia pecahkan, menggumpal jadi satu dalam hati yang kini mengiba. Ya, sebenarnya ia mengiba. Mengiba kasih sayang serta sentuhan seorang ayah. Hari telah berlalu, kehidupan masih terus berjalan. Sekalipun Ara tak bisa membawa ayahnya ikut bersamanya pulang, tapi itulah yang harus Ara jalani. Ia tak pernah merasa sendiri, karena masih ada sang ibu yang begitu luar biasa menyayanginya.
***

“Ra, bulan depan sekolahmu udah mulai ujian ya?” tanya Mama kepada Ara.
“Iya Ma. Tenang aja, Ara udah mulai siap-siap kok Ma. Ara udah belajar rajin dari biasanya. Kan biar lulus, terus bisa masuk SMP favorit. Hehe!“
“Mama senang lihat kamu semangat. Tapi kali ini Mama gak bisa sendirian Ra.“
“Maksud Mama?“
“Kamu harus lanjut sekolah, tapi Mama gak bisa sendirian membiayai kamu. Order jahitan lagi sepi. Mau gak mau kita harus minta tolong Papamu.“
“Ya udah Ma, ayo kita telepon Papa! Ara masih nyimpen nomor teleponnya kok.“
“Udah malam Ra, besok aja ya!“
“Iya Ma.“

Keesokkan harinya setelah pulang sekolah, Ara pergi ke Wartel. Sang ibu tidak bisa menemaninya karena harus menyelesaikan jahitan.
“Halo!“ Ara mendengar suara wanita mengangkat teleponnya.
“Halo!“ sahut Ara, “Bisa bicara dengan Bapak Wilyo?“
“Ini siapa ya?“

Saat ditanya seperti itu, Ara bingung haru jawab apa. Ara yakin suara wanita itu adalah suara istri ayahnya. Ara gugup tiba-tiba. Ia langsung menutup teleponnya. Tapi mengingat dia harus bicara dengan ayahnya, ia putuskan untuk menelepon lagi.
“Halo!” kembali terdengar suara perempuan itu.
“Bisa bicara dengan Bapak Wilyo?”
“Kamu yang tadi telepon kan?”
“Iya Bu.”
“Kamu siapa?”
“Aku Ara“
“Ara? Tunggu, tunggu kayaknya aku pernah dengar nama itu.“
“Aku Ara, anaknya Papa Wilyo.“
“Ohh jadi kamu! Ada apa kamu nyariin Papa kamu? Papa kamu gak ada.Udah, jangan telepon-telepon lagi!”

Wanita itu langsung menutup teleponnya. Ara semakin terguncang. Ia bingung apa yang harus ia katakan kepada ibunya. Berkali-kali ia mencoba menghubungi nomor itu kembali. Tapi berkali-kali juga wanita itu yang mengangkat teleponnya. Bukan jawaban dari sang ayah yang ia dapat, melainkan cacian dari ibu tirinya, istri ayahnya.
“Gimana Ra? Apa kata Papamu?“ tanya Mama sesampainya Ara di rumah.
“Papa lagi gak ada di rumah Ma. Kayaknya di rumahnya gak ada siapa-siapa deh. Soalnya Ara coba hubungin berkali-kali tapi gak ada yang angkat telepon Ara.“
“Oh…ya sudah, besok kita hubungin lagi!“
Ara tak sanggup menceritakan kepada ibunya tentang kejadian saat ia menghubungi ayahnya. Sekali lagi air mata Ara tertahan, tapi saat ini ia menahan air matanya karena ia tak mau sang ibu mengetahui bahwa betapa sakit hatinya.

Hari berikutnya Ara kembali ke Wartel. Kali ini sang ibu menemaninya.
“Biar Mama aja yang ngomong sama Papamu.“
“Iya Ma.”

Ara yang menunggu di luar Wartel, melihat wajah sang ibu di dalam Wartel yang kacanya tembus pandang tampak kesal. Entah apa yang sedang terjadi dengan pembicaraan antara mama dan papanya. Ibunya tampak sedang berdebat dengan ayahnya. Entah apa yang sedang diperdebatkan. Saat itu Ara hanya bisa melihat tanpa mendengar. Beberapa saat kemudian sang ibu keluar dari dalam Wartel.
“Gimana Ma?“ tanya Ara, penasaran.
“Papamu bersedia membantu. Walaupun tadi harus Mama paksa dulu. Mama berhak memaksa, karena ini kan demi kepentingan kamu, anaknya. Kamu berhak mendapatkan apa yang seharusnya kamu dapatkan dari seorang ayah.“
Satu bulan kemudian Ara masuk SMP. Belum lama ia menjadi siswa SMP, sang ibu memutuskan menikah lagi. Ara tak bias melarangnya. Ara berharap lelaki pilihan ibunya akan bisa meringankan beban mereka, terutama membantu perekonomian mereka juga bisa menjadi sosok ayah yang ia dambakan. Tapi keadaan tidak berubah. Pekerjaan ayah tirinya yang menjadi buruh serabutan tak membuat perubahan berarti dalam perekonomian mereka. Bukan hanya itu, Ara juga tidak pernah bisa merasa nyaman dekat dengan ayah tirinya. Sekalipun tahun sudah berganti tahun ia hidup satu atap dengan ayah tirinya, ia masih menganggap ayah tirinya asing. Entah apa yang menyebabkan Ara tak bisa dekat dengan ayah tirinya.
***

Ujian Nasional sudah di depan mata. Di saat yang lain sibuk memikirkan harus melanjutkan ke SMA mana setelah lulus SMP nanti, tapi Ara tidak. Ia menyadari perekonomian keluarganya tak seberuntung teman-temannya. Ia tak berani menghubungi ayahnya lagi untuk meminta tolong.
“Ra, Mama udah menghubungi Papamu berkali-kali tapi gak ada jawaban” ujar Mama.
“Mama telepon Papa? Kenapa Ma? Gak biasanya Mama telepon Papa.“
“Mama gak mau kamu putus sekolah. Mama pengen kamu sekolah setinggi-tingginya. Mama pengen lihat kamu jadi guru.“
“Ara pengen bantuin Mama aja. Ara gak mau nyusahin Mama lagi. Ara ga apa-apa kok Ma sampai SMP aja sekolahnya.”
“Tapi masa depan kamu yang kenapa-kenapa kalau kamu putus sekolah. Ijazah SMP bisa buat apa? Pokoknya gimanapun caranya kamu harus lanjut ke SMA. Mama akan usaha sebisa Mama.“
“Tapi masuk SMA itu butuh banyak uang Ma.“
“Kalau Papamu gak mau bantu, Mama bisa jual motor Mama.“
“Jangan Ma! Itu kan buat nganter-nganterin jahitan. Mama bakalan repot kalau gak ada motor itu.”
“Udah, kamu jangan mikirin masalah itu! Yang penting kamu bisa tetap sekolah.“
Sang ibupun menjual motornya untuk bisa membiayai Ara masuk SMA. Motor yang selama ini berperan penting dalam pekerjaannya. Motor yang baru lunas satu bulan yang lalu itu kini terpaksa ia jual demi menyekolahkan anaknya. Terlebih lagi Ara adalah anak satu-satunya. Hanya Aralah yang nantinya bisa mengangkat derajatnya.

Setelah lulus SMP, Arapun akhirnya melanjutkan SMA. Hari itu adalah hari pertama Ara masuk sekolah di SMA.
“Hei, aku Shita“ ajaknya berkenalan.
“Aku Ara“ sambil melontarkan senyuman, “Duduk sama aku aja!“ ujar Ara.
“Boleh?“
“Ya boleh dong.“
“Makasih ya.“
“Sama-sama.“

Hari-hari berikutnya Arapun berteman dekat dengan Shita. Bahkan mereka menjadi bersahabat. Ara menilai Shita adalah sosok yang menyenangkan dan berbeda dengan teman-teman lainnya. Begitupun sebaliknya. Tak jarang mereka saling mencurahkan isi hati satu sama lain. Di kelas XI, Ara dan Shita di tempatkan satu kelas lagi.
“Ara, kita satu kelas lagi!” teriak Shita.
“Iya Ta? Yee….akhirnya doaku terkabul bisa sekelas sama kamu lagi.”
Tampak kebahagiaan di wajah mereka. Ara merasa beruntung memiliki sahabat seperti Shita, begitupun Shita.

Di kelas XI, gadis yang polos itu mulai mengenal cinta. Ya, Ara telah tumbuh beranjak dewasa. Usianya kini tidak lagi 12 tahun. Usianya sudah hampir 17 tahun.
“Ra, kok ngelamun! Ngelamunin apa sih?“ tegur Shita.
“Ah gak, gak ngelamun kok!“ sangkal Ara.
“Bohong, orang dari tadi bengong gitu. Ngelamunin Ferdi ya? Hayo ngaku! Ciyee…!“ sindir Shita.
“Ah apaan sih kamu Ta!“ ucap Ara, tersipu malu.
“Eh..eh..eh..tuh lihat! Ferdi nyamperin kita. Ehem, aku pergi aja deh. Biasa aja ya Ra, jangan salting! Hahahahaha…!“ ledek Shita.

Shitapun pergi, sementara Ferdi menghampiri Ara.
“Ra, kok gak ke kantin?“ tegur Ferdi.
“Iya Fer, lagi males aja.“ Jawab Ara.

Ara memang kerapkali tidak ke kantin, lantaran ia harus berhemat. Selain itu juga karena uang sakunya tak jarang hanya cukup untuk ongkos kendaraan (angkot).
“Aku mau tanya serius Ra sama kamu“ ujar Ferdi.
“Tanya apa Fer?“ ucap Ara.
“Tanya…em…aduh aku bingung nih ngomongnya” Ferdi tampak gelisah, begitu juga Ara.
“Kok bingung? Ngomong aja!” desak Ara.
“Perasaan kamu ke aku, gimana?“
“M…maksud kamu?“ Ara kaget.
“Aku sayang sama kamu, Ra. Boleh aku jadi pacar kamu?“

Saat itu Ara bingung harus jawab apa. Ara juga menyayangi Ferdi, tapi ini kali pertama ia mengenal cinta sehingga ia tak cukup tahu apa yang seharusnya ia lakukan, dan harus seperti apa ia menyikapi perasaannya sendiri. Ara takut menjadi egois karena cinta, sehingga ia akan mengacewakan ibunya.
“Ra, kok diem?“ tegur Ferdi.
“Oh..em, maaf. Aku kaget aja kamu ngomong gitu.“
“Gimana Ra, boleh?“ tanya Ferdi sekali lagi.
“Jujur aku bingung Fer. Aku gak bisa jawab sekarang. Kasih aku waktu ya!“ pinta Ara.
“Baiklah. Aku akan terima apa pun jawabannya Ra. Makasih ya sebelumnya.”
“Sama-sama Fer. Besok jam istirahat kamu temui aku lagi ya, aku akan kasih jawaban ke kamu.”
„Oh iya Ra, pasti, pasti aku akan temui kamu besok.“

Sepanjang malam itu Ara tak bisa dengan segera terlelap tidur. Hatinya masih berkutat dengan kebimbangan. “Tuhan, perasaan ini sungguh tulus menyayangi Ferdi. Dia baik, dia berbeda. Aku jatuh cinta padanya. Tapi adilkah ini, Tuhan? Adilkah ini untuk Mama? Jika saja akhirnya aku mengecewakan Mama, aku akan sangat menyesal.“ Hati Ara berdesir penuh bimbang. Tapi keesokkan harinya,
“Fer, aku udah janji bakal kasih jawaban ke kamu hari ini“ ucap Ara kepada Ferdi.
“Iya Ra, jawaban kamu apa?“ tanya Ferdi, cemas.
“Aku juga sayang kamu.”
“Itu artinya…?
“Ya, kamu boleh jadi pacar aku.”
“Sungguh Ra? Makasih Ra, aku seneng banget. Makasih sayang, makasih. Upst keceplosan. Hehe, jadi malu.”
“Hehe, iya gak apa-apa kok.”
Sejak saat itu Ara dan Ferdi resmi berpacaran. Hampir setiap hari mereka pulang sekolah bersama. Kebetulan mereka satu arah. Gaya pacaran mereka tak seperti remaja nakal yang haus akan cinta. Ara dan Ferdi memang mesra, tapi mesra mereka dalam bentuk saling menasihati, mengingatkan, bertukar pikiran dan hal-hal positive lainnya. Bentuk kasih sayang mereka, mereka curahkan dengan perhatian. Ferdi selalu memanjakan Ara dengan kata-katanya, bukan dengan pelukan, ciuman dan sebagainya. Suatu ketika Ferdi mengirimkan pesan melauin ponselnya (SMS).
Ku merasa bahagia saat aku di sisimu
Bahkan dirimu berikan aku sebuah arti
Arti yang tak akan bisa kupungkiri
Cinta yang kau beri
Kasih sayangmu kepadaku
Kan menyatu dalam hatiku
Sungguh…
Rasa cintaku padamu
Rasa sayangku kepada dirimu
Akan selamanya bersatu dalam hatimu
Kita berdua akan selalu bersama
Tuk selama-lamanya.
Kata-kata Ferdi selalu bisa membuat Ara membumbung, mengawang. Saat Ferdi bersyair untuk dirinya walaupun melalui SMS, sudah cukup membuat hatinya merekah. Ia bahagia, Ferdi telah membuatnya tak merasa layu lagi.
***

Beberapa hari kemudian, tepat hari libur sekolah. Ara diajak sang paman pergi ke Jakarta. Pada saat itu juga Ara berinisiatif untuk menemui ayahnya kembali. Kali ini ia datangi kediaman ayahnya. Ia tidak sendiri, ia ditemani Om dan sepupunya. Ara sangat berharap kedatangannya disambut baik oleh ayah dan keluarga tirinya. Arapun tiba.
“Asalamualaikum“
“Waalaikumsalam“ sang ayah membuka pintu. Ara lega, ternyata ayahnyalah yang membukakan pintu. Ara memang tidak mau jika ibu tirinya atau saudara tirinya yang membukakan pintu.
“Ayo masuk, masuk!” ajak sang ayah.
“Lastri! Kakakmu datang ni” sang ayah memanggil Lastri, anak dari hasil pernikahan ke duanya.

Lastripun ke luar, tapi ia tidak sendiri melainkan ada sang ibu yang ikut serta menuju ruang tamu untuk menemui Ara, Om, dan sepupunya.
“Eh ada tamu agung toh!” ujar ibu tiri Ara. Sementara Lastri hanya diam. Tatapan mata keduanya penuh sinis terhadap Ara. Bahkan sang ayahpun lebih memilih banyak diam dibandingkan bicara. Sekali lagi hati Ara terluka. Harapannya selalu hilang, harapan indah saat bertemu sang ayah justru mencabik-cabik hatinya. Ia ingin sekali bisa menangis di hadapan ayahnya agar ayahnya tahu bahwa ia selama ini sangat merindukannya, sangat membutuhkannya, dan terluka atas sikap acuhnya.
Tapi Ara tegar, ia tak mau hati om dan sepupunya ikut terluka karena melihat ia menangis. Sebelum akhirnya memutuskan pergi dari rumah ayahnya, Ara sempat memotret adik tirinya. Keesokan harinya Ara kembali tiba di rumah. Dan menceritakan kepada ibunya tentang kejadian di rumah ayahnya. Ya, Ara tidak mendapat apa-apa. Ara pun menunjukkan foto adik tirinya kepada sang ibu. Setelah mendengar cerita Ara dan melihat foto Lastri, sang ibu kesal.
“Udah Mama bilang, percuma kamu temuin Papa kamu! Apa yang kamu dapat? Ga dapat apa-apa kan? Kamu malah direndahkan seperti itu. Pokoknya suatu saat nanti kamu harus sukses, Ra! Buktikan sama papa kamu kalau kamu bisa!“ tukas Mama.
Ara menangis, ia tak sanggup lagi menyembunyikan kesedihannya. Terlebih lagi melihat pembelaan sang ibu untuknya, hati Ara seakan menjerit. “Tuhan, sesulit dan sepahit inikah hidupku?“ desirnya merintih.

Hari terakhir libur sekolah, Shita datang ke rumah Ara. Namun Ara tidak ada di rumah.
“Tunggu aja dulu Ta! Bentar lagi juga Ara dateng kok. Sini, sini masuk, ngobrol-ngobrol dulu sama Tante!“ ujar ibu Ara.
“Iya Tante, makasih“ jawab Shita.
“Tante seneng kamu datang ke sini. Sebentar lagi kalian kelas XII. setelah lulus, nanti kamu mau kuliah di mana?“
“Kuliah? Belum tahu Tante. Pengennya sih kuliah, tapi mengingat kedua orangtuaku kondisi ekonominya elit (ekonomi sulit) gak tahu deh Tante. Kalau ada rezki ya alkhamdulillah. Kalau gak, ya aku kerja aja Tante. Bantuin Mama, Papa.“
“Iya ya Ta, orang-orang kayak kita ini Cuma punya mimpi. Jaman sekarang semua serba uang. Tante sih pengen Ara bisa kuliah, tapi jujur Tante gak sanggup membiayai Ara kuliah. Kalau kalian pengen kuliah, mulai dari sekarang harus rajin-rajin cari beasiswa. Tapi mending cari kerja aja deh Ta, cari uang! Sukses kan gak harus kuliah dulu, yang penting kalian terampil dan punya kemauan pasti bisa sukses!“
“Iya Tante, bener“

Tiba-tiba Ara datang.
“Eh..ada Shita! Udah lama Ta?” Tanya Ara.
“Lumayan Ra. Hehe.”
“Maaf ya jadi nunggu, abis kamu gak bilang sih mau ke sini!”
“Iya, santai aja lagi!“
***

Suatu hari Ara pergi mendatangi konser musik The Masiv dengan Lala. Lala adalah teman SDnya. Rumah Lala juga tak jauh dari rumah Ara. Lala pernah mengantar Ara ke suatu tempat, Lala pernah menolong Ara. Dan Ara pikir, ia harus membalas kebaikan Lala. Terpaksa ia mengikuti ajakan Lala yang mengidolakan The Masiv untuk menonton konsernya. Konser tersebut diadakan di Stadion yang letaknya tak jauh dari sekolah Ara. Konser dimulai sore hari. Jam sudah menunjukka pukul 18.30 WIB. Ara panik, tak biasanya ia berada di luar rumah hingga petang. Takut sang ibu cemas dan memarahinya, akhirnya dengan tak enak hati ia meninggalkan Lala. Arapun pulang. Sesampainya di rumah, sang ibu menyambutnya. Kali ini Ara disambut dengan wajah kesal ibunya. Dan hal yang ditakuti Ara terjadi, ibunya sangat marah. Saat itu Ara bagaikan sedang mimpi buruk. Gagang sapu melayang ke tubuhnya. Berkali-kali sang ibu memukulinya. Ara menangis, ia kesakitan tapi ia sadar bahwa ia bersalah.
“Mau jadi apa kamu? Tugas kamu belajar, bukan malah keluyuran nonton konser! Sama siapa kamu pergi? Sama siapa? Jawab!“ ujar sang ibu, meletup-letup penuh emosi.
“Lala Mah“jawab Ara dalam isak.
“Lala? Sejak kapan kamu bergaul sama dia? Mama gak suka! Ngerti? Ini cukup pertama dan terakhir kalinya!“ seru sang ibu, kemudian pergi meninggalkan Ara dengan muka merah padam. Ara masih kesakitan. Bukan hanya tubuhnya yang sakit, tapi hati dan batinnya ikut mengerang penuh sesal karena telah membuat sang ibu kecewa.

Keesokan harinya Ara menceritakan apa yang telah dialaminya kepada Shita.
“Yang sabar Ra! Mama kamu kayak gitu pasti karena beliau gak mau anaknya jadi gak bener. Mama kamu sayang banget sama kamu kok Ra” ucap Shita.
“Iya Ta, aku tahu. Aku sering kok ngrasain ini, Mama sering mukulin aku kalau emang bener-bener merasa kecewa. Dan setiap Mama nglakuin itu, aku sadar kalu aku salah. Cuma cara Mama negur aku yang aku anggap keterlaluan. Apa mama kamu juga kayak gitu Ta?“
“Setiap orangtua punya cara sendiri untuk mendidik anaknya, Ra. Dan itu semua gak tanpa alasan. Mama kamu pengen kamu jadi anak yang kuat. Pokoknya, yang penting kamu jangan buat mama kamu kecewa lagi ya ke depannya!“
“Makasih ya Ta, kamu yang selalu bisa nenangin aku.“
“Sama-sama Ra, ini kan gunanya sahabat?“

Pada saat jam istirahat, Ara menemui Ferdi.
“Fer, aku mau ngomong sesuatu“ ujar Ara kepada Ferdi.
“Iya Ra, ngomong apa?“
“Aku sayang sama kamu. Tapi aku gak bisa nglanjutin hubungan ini.“
“Loh…kenapa Ra?“

Pada saat itu juga Ara menceritakan kejadian yang telah menimpanya. Selain kepada Shita, ia juga tak jarang menceritakan keluh kesahnya kepada Ferdi.
“Aku gak mau ngecewain Mama lagi, Fer. Aku juga gak mau Mama bakalan lebih marah dari kemarin kalau akhirnya Mama tahu kalau aku pacaran“ tambahnya.
“Iya Ra, aku ngerti. Aku bisa ngomong apa? Itu keputusan kamu. Bagi aku masalah status hubungan gak terlalu aku permasalahkan. Yang penting kita sama-sama saling sayang. Aku sayang kamu Ra. Aku terima keputusan kamu.”
“Makasih Fer.” Mereka saling memandang dan tersenyum.
Hari-hari berikutnya kembali Ara jalani dengan normal. Kurikulum di kelas XI hampir selesai. Hingga akhirnya ia dan teman-temannya sampai di kelas XII. Di kelas XII inilah para siswa dituntut untuk belajar lebih serius lagi. Mereka dituntut untuk siap menghadapi Ujian Nasional dan lulus dengan nilai yang baik. Ujian Nasionalpun di depan mata. Sebelum Ujian Nasional tiba ternyata Ara telebih dahulu dihadapkan oleh suatu ujian dalam keluarganya. Sang ibu bertengkar hebat dengan suaminya, ayah tiri Ara. Ia menyaksikan pertengkaran itu. Bukan hanya adu kata, ternyata sang ayah tiri tega manyakiti fisik ibunya. Ara tak bisa berbuat apa-apa, ia ingin sekali mengajak ibunya lari bersamanya. “Tuhan, ujian apa lagi ini?“ keluhnya.

Ara menjadi tidak konsentrasi belajar. Ara sempat putus asa. Dua hari kemudian , setelah pertengkaran itu, sang ibu menghampiri Ara.
“Ra, Mama gak kuat. Mama pengen pergi aja dari rumah. Kita tinggalin laki-laki itu Ra. Mama udah gak sanggup hidup serumah dengan dia lagi” ucap sang ibu dalam tangis.
“Ara ikut apa kata Mama aja. Ara sayang Mama“ jawab Ara juga dalam tangis.
Tapi ternyata bukan mereka yang pergi dari rumah, melainkan ayah tiri Aralah yang terlebih dahulu meninggalkan mereka.

Seminggu kemudian, Ara tersentak mendengar pernyataan ibunya.
“Ra, Mama mau ke Saudi. Surat-surat keberangkatana dan sebagainya udah diurus sponsor. “ ucap sang ibu.
“Mama lagi bercanda kan?”
“Gak Ra. Mama serius. Mama pengen kamu kuliah. Mama gak punya keahlian lain selain menjahit. Di Saudi, Mama akan ditempatkan kerja menjadi penjahit. Ara izinin Mama ya!“
“Tapi Ma, Ara gimana?“
“Ara akan baik-baik aja. Kamu bisa tinggal dengan Tantemu, biar rumah kita dikontrakkan. Uang hasil kontrakkannya bisa buat keperluan kamu sehari-hari.“
“Mama tega tinggalin Ara?“
“Tega gak tega Ra. Mama harus pergi demi masa depan kamu.“

Dengan berat hati akhirnya Arapun berkata,“Ara gak bisa melarang Mama. Yang penting Mama jaga diri ya kalau udah di sana!“
“Pasti Ra.“

Dua hari berikutnya sang ibu berangkat ke penampungan, di daerah Jatiasih, Bekasi. Ujian Nasional sudah semakin di depan mata, empat hari sebelum ujian, Ara memutuskan mendatangi ibunya di penampungan untuk meminta doa restu. Dan pertemuan itu menjadi pertemuan terakhir mereka untuk sementara. Hari ketiga Ujian Nasional, disaat Ara harus berjuang menjawab soal-soal, pada hari yang sama sang ibu berangkat ke Saudi. Sekali lagi Ara tegar. Ia tak mau mengecewakan ibunya. Ujian Nasionalpun selesai. Setelah lama menanti hasil ujian Nasional, akhirnya hari itu tiba. Dimana hasil Ujian Nasional akan segera diketahui. Ara dan teman-teman satu sekolahnya, dinyatakan seratus persen lulus.
“Alkhamdulillah aku lulus!!!” teriak Ara, “Mama, aku lulus!” teriaknya lagi.
Semua siswa bersorak sorai, mereka bahagia, mereka lega.
***

“Ra, gimana? Uadah daftar?” Tanya Shita kepada Ara.
“Untuk tahun sekarang di UPI untuk jurusan PGSD gak ada ujian tertulis Ta. Jadi aku daftar ke UNY. Doain ya..!”
“Siip…doain aku juga ya! Besok aku mau melamar kerja.”
“Pasti. Melamar kerja di mana Ta?“
“Di Hotel, temanku bilang ada lowongan resepsionis. Hotel baru sih, hotelnya juga gak gede-gede amat, masih bintang dua. Tapi aku berharap banget bisa diterima Ra.“
“pokoknya aku selalu doain kamu, Ta. Good luck ya!“
“Thanks Ra, kamu juga ya…good luck!“
Satu minggu kemudian Ara mengikuti SNMPTN di UNY. Dua minggu setelahnya, Ara mengetahui hasilnya. Ara terpukul, ia gagal. Sementara Shita diterima kerja sebagai Resepsionis di hotel tersebut.

Setelah gagal di UNY, Ara memutuskan untuk menunda satu tahun kuliahnya. Ia berkeputusan untuk bekerja terlebih dahulu, yang membuat ia semangat ialah kesempatannya untuk mengikuti SNMPTN jurusan PGSD di UPI tahun depan. Karena ternyata informasi yang dulu ia dapat, salah. Seharusnya waktu itu ia bisa daftar SNMPTN UPI PGSD, hanya saja missed komunikasi yang membuat ia kehilangan kesempatan itu.
“Pokoknya tahun depan aku harus diterima di UPI. Aku harus bikin mama bangga. Aku akan jadi guru, seperti harapan Mama“ gumamnya penuh semangat.

Ia tak lantas lost contact dengan sang ibu begitu saja. Satu bulan sekali sang ibu pasti menghubunginya.
“Ma, aku gagal masuk UNY. Maafin Ara Ma!“ ujar Ara.
“Ya udah gak apa-apa, masih ada kesempatan kok. Kerja aja dulu, tahun depan ikut Tes lagi! Mama selalu mendoakan kamu.“
“Makasih Ma.“
“Kamu di sana hati-hati ya. Gak ada Mama, bukan berarti Mama gak ngawasin kamu. Kamu harus mawas diri, jangan neko-neko.jadilah yang Mama banggakan!“
“Insya Allah Ma. Mama juga hati-hati ya di sana. Ara sayang Mama.“

Satu bulan kemudian Ara diterima kerja di salah satu Perusahaan Elaktronik. Tidak genap satu tahun bekerja, Ara memutuskan keluar dari perusahaan itu. Alasannya satu, ia ingin mengejar cita-citanya. Ya, satu bulan lagi ia harus mengikuti SNMPTN jurusan PGSD di UPI. Untuk itu ia harus focus. Agar ia tidak mengecewakan ibunya lagi. Hasilnya? Benar saja, Ara kali ini berhasil. Semua itu berkat kerja keras dan kesungguhannya. Ia langsung mengabari ibunya.
“Ma, alkhamdulillah Ara diterima di UPI“ ucapnya senang.
“Makasih sayang, makasih. Mama seneng dengarnya“ ucap sang ibu.
“Ara yang makasih ke Mama. Ini semua berkat doa Mama. Ara gak mau ngecewain Mama lagi. Cuma ini yang bisa Ara lakuin, Ara pengen wujudin harapan Mama untuk melihat Ara sukses jadi guru. Ara gak akan pernah bisa membalas kerja keras serta kasih sayang Mama ke Ara. Makaihs Ma!“
“Mama ikhlas sayang. Mama gak peduli Mama harus kerja keras kayak gini asalkan kelak Mama bisa lihat kamu sukses dengan gelar Sarjana. Kamu harapan Mama satu-satunya Ra.“
“Iya Ma, Ara janji akan wujudin itu. Mama akan lihat Ara sukses. Mama akan lihat Ara mendapat gelar Sarjana. Mohon doanya ya Ma. Karena dengan doa Mamalah Ara bisa lewatin apapun.“
“Pasti Mama akan selalu mendoakan kamu.“
Beberapa tahun kemudian Ara wisuda. Sang ibu yang telah pulang tiga tahun sebelum hari wisuda Ara, turut menyaksikan hari bersejarah itu. Hari itulah yang ia tunggu-tunggu. Hari dimana ia melihat anaknya memakai Toga pertanda sebentar lagi anaknya resmi menjadi Sarjana. Ya, ia sangat bahagia. Penuh haru ia manyaksikan wisuda Ara. Rasa syukur kepada Tuhan tak henti-hentinya ia ucapkan. Kerja kerasnya selama ini berbuah manis. Kehidupannya yang terjal berakhir mulus. Puteri kebanggaannya telah benar-benar membuat dia bangga. Ia kini merasa terbangun dari mimpi. Dimana anaknya akan mewujudkan mimpi-mimpi itu, mengubah kehidupannya yang gelap menjadi terang, itulah harapannya.

Beberapa saat kemudian Ara menghampiri ibunya.
“Mama…!“ teriak Ara. Ia langsung mencium tangan ibunya, berlutut serta mencium kaki ibunya. Keduanya berada dalam peluk dan isakan tangis yang tak henti-hentinya. Isakan tangis itu bukanlah isakan tangis beberapa tahun yang lau, dimana saat itu adalah isakan yang penuh kegetiran, kali ini isakan tangis itu penuh kebahagiaan.
“Makasih sayang, makasih” ucap Mama.
“Makasih Ma” sahut Ara, mereka masih saling berpeluk.
“Mama bangga sama kamu. Kamu udah berhasil mewujudkan impian Mama. Tapi ini bukan akhir Ra, kamu masih harus jauh melangkah ke depan untuk bisa mengeluarkan kehidupan kita dari gelap. Kamu yang Mama harapkan Ra. Dengan ini, mudah-mudahan sedikit demi sedikit kehidupan kita akan menjadi lebih baik. Kamu gak boleh mempunyai nasib seperti Mama. Kamu harus lebih terang dari bintang. Kamu harus lebih harum dari mawar. Mama yakin anak Mama pasti bisa. Jadilah orang yang berguna sayang, yang amanah serta bertanggung jawab! Lakukanlah yang seharusnya kamu lakukan! Sebagai orangtua, Mama hanya bisa mendoakan. Doa Mama akan selalu tercurah buat kamu sampai Mama menutup mata untuk selama-lamanya.“
“Makasih Ma, Ara akan sukses buat Mama. Wisuda hari ini, juga kerja keras Ara ke depannya atau bahkan jika Ara benar-benar sukses nanati, semua itu persembahan buat Mama.“
Setelah itu merekapun pulang. Sungguh perjalanan yang indah walau terjal. Keindahan itu tercipta karena adanya ketabahan, keyakinanan, kerja keras dan ketaatan kepada Tuhan. Ara dan ibunya telah membuktikan mengubah kesulitan mereka menjadi mudah dan ketidakberadyaan itu menjadi kekuatan yang luar biasa. Kesulitan-kesulitan yang ada serta tempaan hidup yang bertubi-tubi justru membuat mereka kuat. Kebahagiaan tak bergantung pada kekayaan materi. Tetapi kekayaan hati serta keyakinan terhadap diri sendiri dan terhadap Tuhanlah yang menghantarkan mereka pada kebahagiaan abadi. Keep fighting.

-The End-

PROFIL PENULIS
Rita Lestari
Cirebon - Jawa Barat
Email: rita_lestari93@yahoo.co.id
Fb: aTir_b4g1@yahoo.com

Kisah Kasih Disekolah - Cerpen Cinta

KISAH KASIH DI SEKOLAH
Karya Nurul Fadilah

Pada suatu hari disebuah desa tinggallah 3 orang gadis.Ketiga gadis tersebut bernama IFA,DHILA, dan RiA. Mereka hidup rukun dan mereka juga bersahabat.Setiap pagi mereka pergi kesekolah bersama-sama.Sekarang mereka sudah duduk dibangku SMP kelas tiga.
Suatu ketika salah seorang teman mereka sedang duduk sambil membicarakan seseorang.Karna penasaran, mereka ikut bersama teman-teman yang lain nya.Ternyata sedang membicarakan seorang pria bernama ayi.”Ayi itu siapa sih?” Tanya dhila dengan penuh kebingungan.”Ayi itu anak sekolah kita juga tapi dia dilokal C” jawab wulan, “oh” jawab dhila lagi.

BEBERAPA MINGGU KEMUDIAN. . . . . . .
Di sekolah dhila mengadakan acara dan anak-anak local C pun ikut menghadiri acara tersebut. Dengan sontak dhila pun bertanya kepada ifah ”fah,yang mana sich yang nama nya ayi?” jari ifah pun menunjuk salah seorang pria dan menyebutkan bahwa pria manis berseragam rapi itu lah yang bernama ayi. Dhila pun terperangah karna memang benar cerita teman-teman nya itu bahwa ayi itu orang nya manis dan ramah. Lama kelamaan dhila menaruh hati pada pria ramah nan tampan itu

Setiap waktu dhila memikirkan sang pujaan hati nya itu.Tapi ternyata pujaan hati nya itu menyukai teman dhila yaitu ifah. Begitu mengetahui bahwa ayi telah menyatakan cinta nya kepada ifah, dhila pun bersedih karena orang yang sangat dicintai nya ternyata mencintai sahabat nya. Pada saat itu dhila sangat kecewa dengan sahabat nya betapa tidak, sahabat yang dahulu membantunya untuk dekat dengan ayi, kini malah balik menyukai ayi. Padahal ifah tahu bahwa dhila mencintai ayi. Semenjak itu hubungan dhila dengan ifah mulai renggang. Mereka jarang berkomunikasi. Sampai suatu ketika teman-teman mereka menanyakan mengapa sekarang dhila dan ifah jarang bersama-sama. “dhil, kamu marahan ya sama ifah? Sekarang kok gak pernah bareng lagi?” Tanya fitri. Dengan cuek dhila menjawab “ ga pa pa kok Cuma lagi ga pengen barengan aja”.

1 minggu kemudian. . . . .
Dhila merasa tidak nyaman terus berlama-lama marah kepada ifah. Begitu juga sebalik nya. Akhirnya dhila mengajak ifah untuk bertemu di sebuah tempat. Setelah ifah datang dhila pun langsung minta maaf kepada ifah, begitu juga ifah ia meminta maaf kepada dhila atas semua sikap yang menyakiti hati dhila. Akhirnya mereka saling memaafkan.
Dan pada suatu ketika Dhila sedang mengirim pesan atau yang sering kita dengar yaitu SMS dengan menggunakan tanda tangan yang berisi “HOLY LOVE TO CLOWN ME I JUST LOVE”. Dan setelah SMS Dhila dibalas teman nya bertanya kpd Dhila” siapa tuh cinta suci nya?” lalu Dhila pun menjawab bahwa Ayi adalah cinta suci nya. Teman Dhila pun kaget dan mengira bahwa Dhila dan Ayi telah berpacaran padahal mereka belum pernah bertemu sebelumnya dan teman nya pun berkata” tapi kalian sering sms-an kan?” dan Dhila pun menjawab “enggak, punya nomor hp nya aja enggak” . Jadi teman Dhila pun berkata” mau gak nomor hp nya kebetulan aku punya nih” dan Dhila pun menjawab”ya, aku mau”. Setelah itu Ayi dan Dhila pun menjadi akrab.

Dan suatu ketika Ayi bertanya kepada Dhila” siapa tuh pacar nya?” Dhila pun menjawab” belum ada” lalu Ayi bertanya lagi” koq ga nyari?” Dhila menjawab lagi”ngapain dicari nanti kalau sudah waktunya kan pasti ada, kamu sendiri kenapa belum punya pacar. Belum ada yg cocok ya?” lalu Ayi pun menjawab kembali dengan canda”sama aku aja”. Begitulah keakraban mereka. Tiba pada suatu hari tepat nya pada hari kamis Ayi mengirim pesan kepada Dhila, bahwa ia ingin bertemu dengan Dhila pada waktu les karena ada suat u hal yang ingin dibicarakan. Tetapi setelah Dhila menunggu di sekolah ternyata ia tidak datang Dhila sungguh kecewa. Padahal Dhila sudah amat sangat penasaran.
Beberapa bulan kemudian
Menjelang ujian tryout kedua, Dhila harus bersiap-siap baik secara fisik maupun mental. Keesokan harinya jadwal pun dibagi dan ternyata anak kelas IXc mengikuti ujian disekolah Dhila.

Keesokan harinya . . . .
Pada pagi hari semua berjalan seperti biasa. Namun ketika siangnya tak seperti biasanya sekolah ini ramai, mungkin ini karna anak lokal c ikut hadir kesekolah ini. Pada siang itu ketika Ayi sudah datang, Dhila merasa jantungnya berdegup kencang entah apa yang dirasakan nya saat itu. Begitu seterusnya sampai ujian usai. Setelah beberapa minggu berlalu, tibalah lagi ujian akhir sekolah(UAMBN), yang rencananya akan diadakan pada tanggal 26 maret 2012. Ketika pengumuman, kepala Dhila terasa pusing karna memikirkan apa yang baru diucapkan oleh gurunya barusan. Ujian demi ujian berlalu, bahkan kini tak terasa bahwa ujian nasional pun tlah berlalu. Besok anak-anak kelas 3 mts libur slama tiga hari.

Pada hari sabtu malam, tiba-tiba teman Dhila SMS yang mengatakan bahwa Trio meminta nomor HP nya Ayi. Namun Dhila ragu dan akhirnya Dhila menanyakan hal tersebut kepada Ayi. Ternyata dia mengizinkannya. Dan pada menelfon Ayi, Ria mengirim pesan kepada Dhila yang isi nya Ria meminta maaf atas segala kesalahan nya. Dan sebenarnya sudah beberapa minggu Dhila dan Ifa tidak berkomunikasi dengan Ria karena ada suatu masalah. Ketika Ria minta maaf kepada Dhila, tanpa fikir panjang Dhila langsung memaafkan Ria. Setelah lama bertukar pesan dengan Ria, tiba-tiba Ria berkata bahwa Ayi itu adalah PACAR nya. Begitu mendengar hal tersebut, Dhila langsung menanyakan hal tersebut kepada Ayi, ternyata semua itu benar. Sungguh pada malam itu hati Dhila sangat lah hancur, betapa tidak sahabat yang selama ini ia bangga-banggakan ternyata begitu kejam mengkhianati dirinya sendiri.

Malam itu hati Dhila sangat hancur, dia begitu terpukul mendengar kebenaran hal itu. Ternyata sahabat yang slama ini yang begitu sangat ia sayangi ternyata tega melakukan semua itu pada dirinya. Padahal sebelumnya dia baru bermaafan dengan sahabatnya itu, tapi setelah mendengar semua itu dia jadi membenci sesosok seorang sahabatnya itu. Mulai detik itu juga dia berusaha untuk melupakan semua hal yang berkaitan dengan kedua orang itu yakni Ria dan Ayi. Dan mungkin dengan cara pergi dari sini Dhila akan dengan mudah melupakan rasa sakit hatinya………………
Beberapa hari setelah Dhila mengetahui kejadian yang sebenarnya, Ifa mengirim pesan untuk Dhila yang berisi “Dhila, kamu bisa tidak kerumah aku?”, “mau ngapain fa?”, “katanya si Ria dan Ayi ngajak ketemuan”, “mau ngapain lagi sich Fa?”, “aku juga gak tahu tapi katanya dia mau jelasin sesuatu”,”mau jelasin apa lagi kan semuanya dah jelas”, “ea aku gak tahu , yang penting hari ini kamu bisa gak keluar?”,” ya sudah nanti jam 3 aku kerumah kamu”.

Jam 03:00
Dhila pergi menuju kerumah Ifa. Sesampai nya Dhila disana ternyata Ifa sudah menunggu. Tanpa dikomando mereka langsung pergi ketempat yang trelah ditentukan. Dan setelah mereka sampi disana ternyata Ria belum datang, karena Dhila sudah sangat kesal dan kecewa kepada Ria dan Ayi akhirnya Dhila mengajak Ifa minta pulang. “Fa,pulang yuk, mau ngapain disini. Janjinya jam tiga tapi kenapa sampai sekarang belum datang juga. Lagian apa lagi sih yang harus dijelaskan? Semuanya kan sudah jelas, jelas banget malah.”, “sabar sebentar kenapa sih La”. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Ria datang tapi yang diherankan kemana si Ayi. Katanya mereka mau kesini juga. Tapi, bagi Dhila ga penting mau ada dia kek mau gak sekalipun Dhila juga gak bakalan perduli tuh. Setelah Ria bicara ternyata si Ayi tidak bisa ikut karna ada kepentingan. Disana hanya Ifa dan Ria saja yang berbincang-bincang sedangkan Dhila hanya diam saja dan rasanya saat itu Dhila ingin sekali mengamuk-ngamuki Ria. Tapi Dhila tetap mengontrol emosi dan dia juga tahu kalau tempat itu adalah temoat umum.

Beberapa saat kemudian mereka bernjak pulang dan Dhila pun mengantar Ifa pulang namun sesampai nya mereka dijalur Ifa, mereka tidak langsung pulang melainkan jalan-jalan. Dan tanpa sengaja mereka bertemu dengan Ayi dijalan namun Dhila membuang muka dan pura-pura tidak tahu bahwa disitu ada Ayi. Setelah jalan-jalan akhirnya mereka pulang. Dan selama 4 hari masuk sekolah Dhila tak mengeluarkan sepatah kata pun untuk Ria. Karena saat itu Dhila sangat marah, sebab setiap hari mereka membicarakan Ayiiii saja. Dalam hati Dhila berkata “ gimana aku bisa mengikhlaskan dan melupakan Ayi kalau setiap hari yang dibahas Cuma Ayi,Ayi,Ayi, dan Ayi”. Namun hari ke-5 masuk sekolah Dhila sudah bisa sedikit merelakan Ayi bersama dengan Ria walaupun belum sepenuhnya bisa melupaknnya.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Dan akhirnya perpisahan pun dilaksanakan, meskipun tidak berlangsung dengan mewah namun tidak mengurangi rasa bahagia dihati Dhila. Dan pada tanggal 30 mei 2012 mungkin akan menjadi catatan sejarah buat seluruh anak kelas 3 smp/mts se-Indonesia karena pada hari itu akan diumumkan siapa saja yang lulus. Dan semoda Dhila dan teman-teman bisa lulus dan dapat meraih cita-citanya masing-masing. Amiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiin…..

SELESAI

Baca juga Cerpen Cinta yang lainnya.