Selasa, 04 September 2012

Indah Pada Waktunya - Cerpen Cinta

INDAH PADA WAKTUNYA
Karya Ingga Pria Pahla

Aku adalah laki-laki yang tidak pandai dalam mengungkapkan perasaan suka atau sayang pada seorang wanita . Di malam itu pikiranku melayang kembali memutar ruang dan waktu tepat pada saat saya duduk di kelas satu SMA. teringat saat pertama memasuki kelas baru, saat itu saya melangkahkan kaki masuk ke dalam kelas, mata ku pun liar melihat bagaimana kondisi kelas dan orang-orang yang tidak saya kenal dan tentu akan menjadi teman ku kelak. Terlihat berbagai macam tatapan yang terlihat asing menatapku sehingga membuat saya gugup dan malu,, padahal hati ini ingin sekali menyapa dan tersenyum pada teman-teman tapi tetap, tubuh, lidah dan bibir ini tidak mematuhi apa yang otak perintahkan, akhirnya reaksi yang terjadi pada tindakan ku ini hanya bisa diam dan pura-pura tidak melihat mereka, karena saya ini memiliki sifat pemalu yang menghambat dalam bergaul. Setelah memasuki ruangan saya mencari tempat duduk, tidak lama akhirnya saya menentukan untuk duduk di tengah baris ke 3, karena dalam pikiranku baris ke 3 tidak terlalu depan dan tidak terlalu belakang pas di tengah-tengah, tidak terlalu mencolok dan tidak terlalu tersembunyi.

Saya pun menyimpan tas dan duduk di kursi itu, saat itu masih pagi jadi belum semua siswa masuk ke dalam kelas, hanya segelintir orang yang sudah ada di kelas ini. Saya hanya diam tidak tahu apa yang harus di lakukkan, saya hanya berharap ada seseorang yang ku kenal agar bisa membebaskanku dari kebosanan dan keheningan ini. Hanya terdengar detak jam memecah keheningan, waktu terasa berhenti dan sungguh saya tidak tahu apa yang harus di lakukan, hingga saat itu terdengar suara langkah kaki yang semakin lama semakin jelas mendekati kelas ini, saya fokuskan pandangan pada arah pintu dan berharap dia adalah salah seorang yang ku kenal , tapi tiba-tiba ketika dia sudah terlihat perasaan ku berubah, jantung ku berdebar begitu kencang , mata ku tak mampu berkedip, dalam hati yang tadi terasa sepi tiba-tiba memancarkan sinar berwarna-warni bak pelangi, mata ku pun hanya tertuju pada gadis itu, dia tersenyum dan menyapa temannya yang duduk paling belakang, sungguh manis sekali senyumnya mampu membuat hati ini begitu damai. Ingin sekali aku menyapanya, berkenalan dengannya, dekat dengannya, tapi itu haya sebatas pikiranku saja karena sifat pemalu ku ini tidak bisa menggerakan tubuhku sesuka aku menggunakan pikiran ku. Dan akhirnya saya hanya diam, untuk menoleh ke belakang pun aku tak berani rasanya leher ku ini seperti di beton kaku tidak bisa bergerak.

Terdengar suaranya mengobrol dengan temannya, suaranya begitu lembut, terkadang dia tertawa dan entah kenapa aku bisa merasakan kebahagiaannya hanya dengan mendengar tawanya. Terbang imajinasi ku melayang-layang, andaikan dia tertawa karenaku, andaikan aku yang ada di posisi temannya yang sedang mengobrol dengannya, aku pasti sangat bahagia, terbesit dalam pikiranku saat itu. Saya begitu ingin melihatnya lagi, tapi bagamana caranya? otak ku terus berpikir keras dan akhirnya saya mendapat ide yaitu dengan pura-pura mengambil buku dalam tas yang ku simpan di belakang , otomatis badan ku harus berbalik dan saat itu saya bisa melihat wajahnya walaupun hanya sesaat dengan jantung yang berdebar begitu hebat. Benar-benar tampak konyol untuk memandang wajahnya saja harus melakukan hal seperti itu, tapi saat itu saya benar-benar tidak memiliki keberanian walau hanya untuk melihatnya.

Tak terasa sudah banyak siswa yang mulai memasuki kelas, sampai pada saat itu saya melihat sosok yang ku kenal, aku perhatikan ternyata benar dia adalah kawan baiku pada saat dulu di smp reza namanya, dia tampak kebingungan mencari tempat duduk. secara spontan aku panggil dia “ za duduk di sini, kebetulan tempat duduk di sebelahku masih kosong. Dia pun tersenyum menghampiri ku, eh rizki lu di sini juga ? sapa reza sambil bersalaman denganku. Ia nih za jawabku, ga nyangka kita sekelas lagi hehe apa kabar ? kemana aja loh jarang keliatan?, reza menjawab, ia nih tapi baguslah jadi gua bisa duduk sama loh, ga canggung lagi hehe ada ko, lu yang kemana aja hilang tanpa jejak? Aku pun tertawa, ia juga sih, tadi aja gua sendirian disini bingung mau ngapain ga ada yang gua kenal, untung aja ada lu, jadi ga mati gaya gua hehehe ada ko gua juga jarang keluar ngendon di rumah mulu sekarang, jiah kenalan dong ki ujar reza. lu tau sendiri kan za gua orangnya gimana? Udahlah ubah sikap lu yang pemalu itu, susah dapat punya temen apalagi pacar kalo penyakit pemalu lu itu masih lu pake. Ia sih gua juga pengen tapi susah. Reza pun mencoba meyakinkanku layaknya Mario teguh dengan kata-kata bijaknya, denger nih kalo luh terus malu lu ga akan maju, potensi lu akan ketutup oleh rasa malu yang semu itu. Udah ki buang yah sifat pemalu mu itu, lagian kalo lu malu dan malu sayang loh di sini banyak cewe cantik, gimana lu mau kenalan kalo malu hehehe. Saat itu tiba-tiba aku teringat kembali gadis yang tampak sempurna di mataku, aku mencoba menoleh ke belakang, dan dia tampak masih asik berbincang-bincang dengan temannya.

Bel pun berbunyi kring . . kring . . kring . . begitu terdengar nyaring aku pun terkejut dan segera memalingkan pandanganku yang tak sadar terus memandanginya. Tidak lama kemudian datang seorang wanita mengucapkan salam, dan berjalan dengan penuh wibawa namun tampak jutek. Siapa dia? Gumamku dalam hati, wanita itu pun berbicara ‘selamat pagi anak-anak, nama ibu reni suharti, ibu di tugaskan menjadi wali kelas kalian, dalam keseharian ibu mengajar pelajaran kimia. Pertama-tama ibu ucapkan selamat datang untuk kalian semua karena sudah resmi menjadi siswa di SMA ini, saya yakin kalian memiliki potensi, karena untuk memasuki sekolah ini tidaklah mudah jadi jangan kecewakan ibu, buatlah ibu bangga karena menjadi wali kelas di kelas ini. Tunjukan prestasi kalian, buatlah kelas ini menjadi kelas terbaik di antara kelas-kelas lain, setuju? Dengan mimik wajah begitu semangat, bagaikan seorang orator yang mengkerahkan ribuan masa, aku melihat jelas cara ibu reni berbicara. api semangat yang tadi hanya bagaikan lilin berubah bagaikan api yang membakar hutan terlihat jelas ketika semua anak serentak menjawab setuju ! dan tepuk tangan yang begitu meriah pun mengisi semua ruangan kelas.

Baiklah, berhubung ibu belum kenal kalian semua, ibu akan absen satu persatu agar ibu tahu nama kalian. Tak kenal maka tak sayang, bukan begitu anak-anak? Ia buu serrentak anak-anak menjawab. Baik berdiri dan acungkan tangan ketika ibu panggil namanya, absen pun di mulai. Antusiasku dalam mendengarkan absen ini begitu besar, selain ingin tahu nama-nama teman baru ku, aku pun ingin tahu siapa nama gadis itu? Aku begitu ingin mengetahuinya, rasa penasaran yang tidak pernah ku rasakan sebelumya, hingga sampai saat itu di sebutkan nama putri nafilah, gadis yang ku suka pun berdiri dan mengacungkan tangannya, tempak senyum manisnya seraya berkata saya bu. Kepala ku mengangguk-angguk dan berpikir ternyata putri namanya, sungguh nama yang pas untuknya karena dia bagaikan tuan putri yang selalu aku impikan. Tak sadar dalam lamunan ternyata aku senyum-senyum sendiri sampai sahabat ku reza mengagetkanku,
Reza : hy kenapa lu ki? Senyum-senyum sendiri . . jangan-jangan lu belum sembuh yah? Ledek reza sambil tertawa hehe
Rizki : sialan luh, gua udah sembuh. Lu tuh yang masih berobat jalan ampe sekarang hehe
Reza : berengsek luh, lu curang kenapa sembuh duluan ga solid lu mah,harusnya gila bareng-bareng sembuh pun harus bareng hahaha, cukup keras reza tertawa sampe bu reni menegur kami, hy kalian berdua . . menunjuk kami, kamu baru aja masuk udah bikin ulah yah. Maaf bu aku menjawab sambil tertunduk malu dan berbisik kepada reza, lu sih terlalu berisik. Maap ki gua lupa ada guru di depan ujar reza. Sini kalian berdua ke depan tegas bu reni, reza menjawab mau apa bu? Pake nanya ayo ke depan ! makin keras saja suaranya setelah reza bertanya. Kami berdua pun terpaksa maju ke depan, dan sorak anak-anak pun terdengar meledek kami dengan wajah gembiranya karena senang melihat kami ke depan. sungguh malu aku saat itu terutama aku malu pada putri walaupun belum kenal dengannya.

Bu reni : kalian tadi sibuk ngapain? Arisan? Tertawa anak-anak setelah ibu berbicara seperti itu
Reza : engga ko bu
Bu reni : engga engga, kalo engga kenapa kalian tadi tertawa begitu kencang? Ngetawain ibu yah?
Rizki : maap bu semua ini salah saya, saya yang mengajak reza mengobrol . ciee pembela sambil tertawa anak-anak meledekku. Sungguh aku jadi salah tingkah saat itu, niat saya pengen cepat beres malah jadi kaya gini
Bu reni : oh begituh, yaudah reza kamu duduk. aku semakin deg-degan ko reza saja yang di suruh duduk.
Rizki : bu saya boleh duduk juga?
Bu reni : menurut kalian anak-anak, sebaiknya rizki duduk atau jangan, bu reni meminta pendapat pada anak-anak.
Anak-anak : jangan bu . . haha. Hukum aja bu, suruh jogged iwak peyek hahaha. Sungguh tega pikirku anak-anak ini. Badanku berkeringat, tangan ku begitu dingin dan begitu segera ingin kejadian ini berakhir.
Bu reni : ide yang bagus. Tampak senyum jahat yang membuat bulu kuduk ku meriniding
Rizki : yah bu jangan dong . Wajah memelas ku pasang berharap bu reni mengasihiku.
Bu reni : terus kamu maunya apa? Dengan nada tegas bu reni berkata, sehingga membuat saya takut.
Rizki : dengan kepolosanku mencoba menjawab, saya minta kelapangan dada ibu untuk memaafkan kesalahan saya, dan saya mohon bimbingannya agar saya tidak melakukan kesalahan lagi. Sejenak suasana menjadi begitu hening, saya sempat bingung pikirku apa ku salah menjawab. tampak bu reni tersenyum begitu tulus mendengar jawabanku, dan dia berkata baiklah ibu memafkanmu jangan kau ulangi lagi kesalahanmu. Silahkan duduk kembali ke tempatmu.

Hati ku pun lega, dan tak ku sangka ibu yang begitu terlihat killer tersenyum dan ramah kepadaku. tak lupa ku ucapkan trimakasih pada bu reni dengan senyum manis, ketika aku berjalan menuju tempat duduk tak sengaja aku melihat putri tersenyum padaku, aku merasa tidak percaya tapi aku berharap ini nyata, dan sungguh perasaan ku sangat senang. Tapi apa yang terjadi aku tidak bisa membalas senyumnya, penyakit malu ku tiba-tiba menyerangku dan akhirnya saya hanya diam dan pura-pura tak melihatnya. Dalam hatiku bodohnya diri ku ini, padahal ini adalah kesempatan bagus untuk mengenalnya, bodoh bodoh bodoh kesal ku dalam hati. Dalam duduk ku hanya menyesal, kenapa aku tidak bisa membalas senyumnya pikiranku hanya memikirkan penyesalan itu. Aku mencoba menenangkan diri dan berbicara pada diri ku sendiri, tenang masih ada kesempatan lain, tenang , tenang tenang, hanya kata itu yang ku ucapkan dalam hati.

Waktu terus berjalan jam pertama sampai jam akhir hanya diisi oleh perkenalan-perkenalan guru, karena hari pertama masuk jadi tidak ada kegiatan belajar. Tak terasa waktu pulang pun tiba, aku pun bergegas untuk pulang. Dalam perjalan pulang, setiap langkah kaki otak ku hanya memikirkan putri. Terlihat jelas mata indahnya, senyum manisnya, suara lembutnya, paras cantiknya dalam pikiranku. Saya sadar ternyata aku benar-benar jatuh cinta pada gadis itu. Sampai tak terasa rumahku sudah terlihat dan akhirnya sampailah aku di rumah. Sesampai di rumah aku ingin sekali hari esok cepat datang, begitu rindunya aku pada putri. Dan perasaan itu membangkitkan semangatku, sehingga aku ingin selalu ada di sekolah, belajar dan melihat wajahnya.

Kring kring kring alarm ku pun berbunyi, aku langsung bangun dari tidur dan pikiranku sudah membayangkan sekolah. Saat itu jam 5 pagi, aku mandi, shalat, memakai seragam dan mempersiapkan buku-buku yang akan di bawa pada hari ini. Tak lupa aku sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Tak terasa waktu sudah menunjukan jam 06.30 saat itu aku langsung pamit pada orang tua ku untuk berangkat ke sekolah. Di perjalanan aku begitu semangat ingin cepat menginjak sekolah akhirnya sampai lah di sekolah. Aku bergegas menuju kelas, sesampainya di depan pintu kelas ku ucapkan salam sebeleum masuk asalamualaikum . . terdengar jawaban walaikumsalam, dalam hatiku aku kenal suara ini, ini suara yang selalu ada dalam pikiranku. Ketika aku lihat ternyata yang menjawab salamku adalah putri, wah sungguh pagi hari yang indah gumamku dalam hati. Dia tersenyum ketika menjawab salamku, aku pun memberanikan diri untuk membalas senyumnya. Dan aku pun melangkah ke tempat duduku dan duduk disana, suasana begitu hening hanya ada aku dan putri dalam kelas. Perasaan ku sungguh campur aduk saat itu, antara senang, malu, dan bingung, bingung harus melakukan apa agar suasana tidak seperti di ruang hampa begtiu sepi seperti tidak ada sumber kehidupan. Ingin aku menyapanya tapi tetap lidah ku kelu, aku seperti orang bisu saat itu tidak bisa bersuara. Aku berharap dia menyapaku duluan tapi tampaknya dia juga tidak menyapaku.

Sampai datanglah temannya putri namanya gina, aku pun bernafas lega karena terlepas dari perasaan yang begitu aneh. Gina ini memiliki sifat periang dan mudah bergaul dengan orang lain dan juga bisa meramaikan suasana, itu yang saya lihat dari sosoknya. Kadang aku iri pada kepribadiannya, dia begitu berani, mudah bergaul, sedangkan aku huufh sungguh lemas aku membandingkannya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa padahal baru kali pertama aku jatuh cinta pada wanita, tapi aku tidak bisa menggunakan kesempatan yang sangat menguntungkan ini, wanita itu teman sekelas ku harusnya aku bisa lebih mudah mendekatinya, tapi kenapa . . kenapa . . jerit ku dalam hati.
Waktu pun terus berputar, seiring berjalannya waktu aku sudah cukup mengenalnya, mulai berani tersenyum padanya, aku bisa berbincang dengannya walaupun sangat singkat tapi itu membuat ku senang. Di kelas aku ini orang yang tergolong tidak banyak bicara, baik, dan sopan kepada orang lain. Sampai suatu waktu gina temannya putri berkata padaku.
Gina : rizki ada salam dari putri
rizki : sejenak roh ku serasa keluar dari ragaku. Apa benar yang di ucapkan gina
Gina : heh .. malah bengong
Rizki : yang bener gin?
Gina : yaudah kalo ga percaya Tanya aja langsung tuh ama putri
Riaki :aku menolehkan pandangan ku pada putri, tak ku sangka putri pun menoleh dan memandang padaku. Terlihat pandangannya begitu dalam sehingga dapat menyentuh hati. Tapi bodohnya aku langsung mengalihkan pandangan ku dari pandangannya karena aku benar-benar malu.

Setelah kejadian itu hati ku sungguh senang, aku berpikir nampaknya putri suka padaku. Hati ku berbunga-bunga. Rasanya ada semangat baru berkobar dalam jiwaku. Makin lama putrid mulai mendekati ku, terkadang dia memulai pembicaraan dengan ku namun aku hanya bisa menjawab pertanyaannya dengan singkat sungguh bukannya aku tidak mau tapi aku malu. pernah dia duduk di samping tempat duduku, wah aku sempat tidak percaya, dia tersenyum dan berkata saya ikut duduk di sini yah. Senyumnya begitu manis, hati ku meleleh bagaikan lilin yang habis oleh api. Aku pun hanya menangguk, dan kesalahan fatal aku malah pergi dari tempat duduku. Sumpah aku tidak kuat duduk di sampingnya,jantungku berdebar kencang, terasa panas dingin di sekujur tubuhku, aku begitu malu sangat malu berada di sampingnya. Bodoh! aku di kendalikan oleh sifat malu itu, aku kesal pada diri sendiri!
Mungkin karena sifat pemalu ku itu, lama kelamaan putri yang biasanya terlihat ramah, selalu tersenyum kini serasa menjauhi diriku.hati ku cemas, ada apa dengan putri? Apa aku ada salah padanya, pikiran ku tak karuan, hati ku begitu gelisah. Aku berpikir mungkin dia menganggap aku tidak suka padanya, aku tidak peduli padanya karena aku selalu menghindar saat dia mendekatiku, aku hanya menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang begitu singkat, aku terlihat cuek terhadapnya. Tapi andai dia bisa merasakan apa yang kurasa, andai dia bisa melihat jauh kedalam hatiku, cinta, kasih, sayang ku begitu besar dan tulus kepadanya, hanya untuknya. Aku akan selalu menjaga perasaan itu karena bagiku putri adalah cinta sejatiku walaupun aku belum tau apa itu cinta, tapi aku bisa merasakannya hanya dengan melihatnya.

Waktu terus berjalan dan tidak ada perubahan pada putri malah dia semakin cuek padaku, dan aku tetap masih menjadi orang yang di kalahkan oleh sifat pemalu, sungguh menyedihkan. Sampai suatu saat terdengar isu yang mampu menghancur leburkan hati yang utuh hanya dengan waktu yang singkat, dan baru pertama kali aku merasakannya. Saat itu aku mendengar kabar bahwa putri sudah memiliki pacar, dan pacarnya itu adalah teman sekelasnya juga, otomatis dia adalah teman sekelas ku juga. Aku bertanya-tanya siapakah pacarnya putri. Aku berharap ini tidak benar, ini hanya gossip, karena sungguh aku tidak rela putri di miliki oleh orang lain.
Aku mencoba bertanya pada teman ku, rian namanya. karena rian teman dekat putrid, Aku pikir dia pasti tahu siapa pacarnya putri.
Rizki : eh yan . .
Rian : eh ki ada apa?
Rizki : engga ko, pengen ngobrol aja hehehe
Rian : kirain ada apa hehe.
kami berdua pun mengobrol panjang, sampai aku rasa cukup obrolan itu ku hentikan, dan aku mencoba memberanikan diri menanyakan hal tentang putri.
Rizki : eh yan ktanya di kelas ada yang cinlok yah?
Riyan : haha ia tau ada :D
Rizki : siapa ama siapa sih? Gua ga tau hehe. aku begitu penasaran dan berharap bukan putri yang di sebutkan riyan
Riyan : masa lu ga tau? Itu loh si putri ama si reza
Jleb hatiku serasa di tusuk oleh ribuan tombak panas yang di lumuri racun, begitu lemas aku mendengarnya.
Riyan : eh lu kenapa ngelamun ki?
Rizki : engga ko yan, gua cabut dulu yah.

Aku berjalan dengan perasaan yang begitu rapuh, jiwaku seperti terombang ambing di lautan. Semangatku padam, ragaku begitu lemas, dan hati ku benar-benar hancur. Kenapa? Kenapa dengan reza, dia teman baiku hati ku menjerit. Aku duduk di tempat duduku, aku hanya diam bagaikan batu menyesalkan apa yang terjadi, aku sungguh sangat menyesal. Saat itu ada yang mengagetkanku
Reza : eh ki lu kenapa?
Rizki : eh luh, engga ko. Aku mencoba tersenyum kepadanya.
Reza : romannya lagi sedih ni anak hehe
Ketika aku mau menjawab datang putri menyapa reza.
Putri : reza ke kantin yu . .
Reza : oh ia sayang ayo . reza berbisik kepadaku itu pacar baru gua ki, doain yah supaya langgeng hehe
Rizki : aamin. Air mataku hampir saja menetes, tapi aku coba tahan karena bagaimanapun juga reza adalah teman baiku, dan aku tidak ingin terlihat lemah di hadapan mereka.
Reza : ok thank you, mau ikut ke kantin ga ki?
Rizki : ia nanti gua masih kenyang hehe
Reza : yaudah gua duluan yah.
Terlihat reza menggandeng tangan putri, aku mencoba tersenyum aku mencoba untuk tegar dan menahan air mata ku untuk tidak menetes, tapi aku tak kuasa menahan sakit di hati ku.
Setelah aku tahu semuanya, kegiatanku lebih banyak diam, aku tidak bersemangat, apalagi aku sering melihat kedekatan antara reza dan putri di kelas, terlihat bahagia mereka berdua, mereka tertawa, tersenyum,becanda, saling memberikan kasih sayang mereka, terlihat begitu jelas oleh mataku. Aku mencoba menguatkan diriku sendiri, aku mencoba bangkit dari keterpurukan, aku sadar aku tidak boleh sedih melihat putri bahagia, harusnya aku bahagia walaupun dia bahagia bukan karena aku. Aku mencoba melapangkan dada, membesarkan jiwa untuk menerima ini semua. Ak berdoa dalam hatiku tuhan apabila putri memang jodohku, pertemukanlah kami kembali di saat kami sudah berilmu dan matang dalam mengambil tindakan dan keputusan (dewasa). Dan aku mohon jagalah putri, dari orang-orang yang ingin menghancurkan dan merusak masa depannya. Karaena aku akan menunggunya di masa depan nanti.

Saat itu aku menjalani hari-hariku dengan penuh semangat, aku ingin sukses di masa depanku. Aku mengikuti berbagai macam organisasi dalam pendidikanku, agar aku bisa membuang sifat malu dan mencptakan sosok baru yang lebih kritis dan percaya diri. 7 tahun berlalu, aku sudah berhasil menggapai impianku. Aku menjadi pengusaha yang memiliki omset yang sangat besar. Sampai suatu waktu aku bertemu dengan putri, sungguh senang perasaan ku. Aku menyapanya, aku tidak malu lagi, karena aku sudah mengasah diri dalam pengalaman dalam mejalani kehidupan. Di situ kami mulai sering bertemu, dan makin lama semakin dekat hubungan ku dengan putri. Dan tiba-tiba aku teringat doaku waktu dulu ketika aku benar-benar rapuh, ternyata rencana tuhan itu maha indah. Kalo saja aku dulu berhasil mendapatkan cinta putri dan menjadi pacarnya, mungkin belum tentu sekarang dia ada di dalam rumahku, menjadi istri sahku. Dan aku merasakan sendiri kesabaran itu berbuah manis, sangat manis sekali 

Baca juga Cerpen Cinta yang lainnya.

Cintaku Berakhir Diperjodohan - Cerpen Cinta

CINTAKU BERAKHIR DIPERJODOHAN
Karya Sindy Nur Aini

Hari ini dinding langit nampak begitu terang diiringi sang bulan dan sang bintang yang berjajar-jajar di sudut malam yang indah. Terlintas kenangan tempo lalupun melintas dalam benakku. Ku renungi cerita yang pernah terjadi itu. Nampak senyumku juga mengiringi saat aku mengingat kenangan lalu itu.

Aku adalah Sharila Putri Maharani. Singkat cerita tentang cerita cintaku. Banyak hal yang pernah aku lalui tentang cinta semasa hidupku. Awalnya aku adalah tipe cewek yang setya, tapi lama-lama semakin aku jatuh cinta semakin aku sakit hati semakin pula banyak cinta yang masuk dalam dunia hatiku.

Cinta pertamaku, berlangsung selama kurang lebih setengah tahun. Cinta semasa smp ku. Dia bernama Bagas . Bagas itu orangnya manis, putih, kalau tinggi badan dia tuh sedang, pintar, pokoknya tipe ku banget deh. Waktu terlama aku merasakan cinta. Cinta itu harus terakhiri di kala kita masuk SMA. Kita bersekolah yang berbeda dan di kota yang berbeda pula. Akhirnya kita memutusan untuk berakhir. Bunga mawar kuning dan cincin imitasi adalah pemberian terakhir untukku sebagai tanda perpisahan. Mulai sejak aku benci yang namanya mawar kuning karena itu merupakan kenangan terpahit ku, baru 3 bulan kita putus dia sudah punya cewek lain.

Cinta keduaku, berlangsung selama satu setengah tahun. Cinta selama aku asrama di sebuah pondok pesantren. Namanya adalah Yusuf . dia adalah wakil ketua di pondok pesantrenku. Lagi-lagi cerita cinta itu harus berakhir karena dia harus pindah pondok di luar jawa.

Bila dipikir-pikir aku itu tipe cewek yang setia bukan ? terus kenapa gak ada cowokpun yang mencoba setia pada hatiku ? miris sekali nasibku.

Cinta ketigaku , berlangsung selama lima bulan. Kala ini hatiku terjatuh pada sang pendekar silat. Namanya Arya . dia tuh tinggi, putih, tampan, pintar dan dia tuh sama kayak aku suka sastra. Tapi sama saja, harus berakhir karena au merasa tidak cocok dengan dia, dia itu egois.

Cinta keempatku, hanya satu bulan . kali ini adalah teman sekelasku semasa SMA. Namanya Bayu. Dia tuh tinggi, putih, pintar, humoris, puitis, pemain drama di sekolahku. Sama seperti cerita sebelumnya, juga harus berakhir karena tak dapat restu dari orang tua. Kenangan terakhir yang dia berikan padaku adalah sekotak coklat favoritku.

Cinta kelimaku, kali ini hanya sepuluh hari. Namanya adalah Fajar. Dia tuh tinggi, putih, pintar, pendekar, dan pintar. Sudah bisa ditebak bukan bagaimana akhirnya? Yapp .. betul end juga . kenalnya aja singkat, jadiannya singkat juga dong. Kenal dan jadiannya selama aku liburan di rumah nenekku di Jombang. Berawal dari tatapan mata jadi cinta deh , hehhehe. Seperti lagu “ dari mata turun ke hati” . sama-sama harus berakhirnya gara-gara riwayat keluarganya yang gak sesuai keluargaku, akhirnya dilarang deh sama orang tua.

Cinta keenamku ini berlangsung selama satu tahun. Kali ini agak lama ya. Kali ini orangnya manis, punya dekik di pipi kanannya, pintar, putih, tinggi, dan riwayat keluarganyapun sesuai dengan kriteria keluargaku. Namanya adalah Andika Ahmad Anggara. Dia adalah kakak senior di Universitas Sebelas Maret. aku merasa telah lengkap bersamanya. Dia sesuai dengan impianku dan sesuai dengan keluargaku. Tapi abgaimana lagi, kalo jodoh tak kan kemana. Sayangnya dia bukan jodohku. Aku fikir kisah cintaku kan berhenti di hati Andika, tapi kenyataannya lain. Andika sudah dijodohkan sama orang tuanya. Miris banget nasibku bukan ???

Apakah kalian pengent protes, kenapa sih dari tadi penulis ini tipe cowok nya itu-itu melulu ? jawabnya ya terserah gue dong. Cerpen-cerpen siapa? Masalah buat loh, hehehe

Cinta ketujuh , cinta ini berlangsung sampai mati. Inilah cinta terakhirku dan pencarian cintaku haus berhenti di sini. Pas banget , cinta ke tujuh karena aku juga anak ke tujuh dari tujuh saudara. Cintaku ini bernama Aziz Lesmana Mahardika. Tahukah, kali ini Aziz berbeda dengan yang lainya, cinta-cintaku sebelumnya kan berkulit putih tapi kali ini Aziz berkulit sawo matang tapi dia manis lho, ada dekik di pipi kana dan kirinya. Dia juga pendekar dan juga pengarang lho. Awal ceritanya adlah ketika orang tuaku ingin menjodohkanku dengan anak temannya sewaktu kuliah di Malang. Mereka sudah 20 tahun tak bertemu. Dan bertemu pertama ternyata anak-anaknya sudah besar semua. Aku dan Aziz sama-sama anak terakhir, sehingga ayahku memutuskan untuk berbesanan dengan temannya itu. Tak semudah itu aku langsung mau dijodohkan. Aku menolaknya. Coba kau bayangkan, memangnya ini jaman Siti Nurbaya ? nggakkan ?? tapi berhubung aku adalah anak yang patuh sama orang tua, aku bvelajar deh untuk mengerti orang tuaku. Aku bilang sama orang tuaku coba mencoba saja kalau tidak cocok ya sudah tapi kalau cocok ya diteruskan. Orang tuaku pun menyetujuinya. Aku pikir Aziz langsung mau dijodohkan ternyata sama seperti aku, awalnya dia juga menolak. Akhirnya aku dan Aziz dipertemukan. Yapp , apa yang kau pikirkan betul. Aku dan Aziz merasa cocok dan hubungan inipun diteruskan. Setelah aku wisuda akhirnya kita tunangan. Aku menikah di usia 23 tahun dan Aziz pada Usia 27 tahun. Ternyata akhir cerita cintaku berakhir diperjodohan.
~(( END ))~

Baca juga Cerpen Cinta yang lainnya.

Senin, 03 September 2012

Cerpen Remaja Lucu - Kodok Struk

KODOK STRUK
Karya Hendra

Banyak hal yang enggak bisa gue lupain gitu aja sewaktu gue masih di SMA. Salah satunya tentang guru olahraga gue. Namanya Arul, postur tubuhnya tinggi langsing dengan rambut tipis. Dia banyak cerita tentang pengalamannya, diantara semua pengalamannya, jujur dari lubuk hati gue paling dalam, enggak ada satupun yang bisa gue percaya. Gue enggak percaya dia pernah bermain di klub bola Bayern Munchen, kalau dia memang pernah pasti dia udah jadi pelatih bola bukan jadi guru olahraga. Dia mungkin mempunyai kepercayaan diri yang sangat sangat tinggi.

Pengalaman menarik pada saat jam pelajarannya itu pas dia sedang menjelaskan gaya dalam berenang. Gue yakin kalau kalian lihat bagaimana dia mempraktekkannya, pasti kalian akan sawan/kesambet. Tapi yang bikin seru adalah kita enggak boleh ketawa pada saat dia menjelaskannya. Sumpah ini seperti acara Tahan Tawa yang ada di Trans TV. Kalau di Tahan Tawa ada bopak sebagai pengujinya disekolah kami ada Arul.

Kami sekelas sebenarnya tidak ada yang tahan ingin ketawa pada saat dia mempraktekan renang gaya kodok. Gayanya enggak seperti kodok yang normal tapi lebih mirip kodok struk. Mungkin lebih bagus kodok struk kali daripada dia.

Pada saat itu salah satu temen gue ketangkep kamera sedang tertawa karena gaya kodok struk itu. Dan keluarlah jati diri Arul sebagai sosok kejam yang dtakuti oleh para murid sekolah itu termasuk gue. Dia merasa direndahkan oleh pansek karena sudah berani menertawakannya. Sebenarnya satu kelas pada ketawa semua sih cuma panseknya aja lagi kena sial. Kasihan banget memang pansek dia mungkin belum mandi wajib makanya kena sial seperti itu.

Satu kelas langsung sunyi, enggak ada yang berani bicara, enggak ada yang berani bergerak, enggak ada yang berani membuka mulut dan enggak ada yang berani bernapas. Kasian pada mati semua dong.hehe Gue pengen banget nyarankan pansek untuk pura pura gila jadi dia enggak kena marahnya Arul. Tapi gue masih mencoba mengumpulkan keberanian gue. Setetes demi setetes gue kumpulin dan akhirnya gue urungkan niat baik gue ini karena Arul makin marah dan menyuruh pansek untuk keluar dari kelas pada saat itu juga.

Setelah kejadian yang menegangkan itu berakhir, suasana kelas menjadi hening dan serius menerima pelajarannya kecuali gue dan 3 teman gue. Kami berempat masih aja ngeledek dia. Kami memang segerombolan siswa yang usil dan sering nyeletuk disaat guru menjelaskan. Terutama si Alam, dia terlihat serius tetapi sebenarnya dia itu orang gila yang turun kedunia dan ditugaskan untuk mengganggu kami semua.

Arul pun makin semangat menjelaskan dan kami makin enggak ngerti dengan semua gaya yang dia praktekan. Gue ngeliat keluar jendela berharap ada mobil ambulance dari rumah sakit jiwa. “Semoga aja dia bukan pak Arul yang asli semoga dia orang gila yang sedang menyamar menjadi pak Arul.” Itu doa gue pada saat itu.

Yang gue senang itu pada saat dia kehabisan bahan untuk cerita. Hanya dengan itu dia mau membebaskan kami dari kelas dan mata pelajaran yang berbahaya yang mungkin bisa membuat kami jadi tertular oleh dia.

Gue sadar pada saat kuliah, banyak ilmu dan nasehat yang gue dapat dari beliau. Gue beranggapan dia melakukan itu semua agar kami bisa punya cita cita yang tinggi. Agar selalu berusaha untuk bisa dapetin apa yang kita inginkan. Tapi Gue hanya bisa membalasnya dengan ucapan Terima Kasih.

Cerpen Horor - Kos Berhantu

KOS BERHANTU
Karya Karina Puspa Sari

Aku menempati kamar kosku yang baru di kawasan sekitar kota dekat kampusku. Biaya perbulanya agak sedikit mahal ya tentu saja karena dekat dengan Kampus. Ruangannya nyaman untuk di tempati untuk mahasiswa sepertiku. Ruangan itu di cat hijau lembut. Kamar itu berukuran 3x3 meter persegi. Ada satu tempat tidur beserta bantal dan gulingnya, satu lemari plastik, satu set meja belajar, dan juga tentu saja ada kamar mandi.

Aku segera menata baju-bajuku, perlengkapanku, memasang seprai untuk tempat tidur, meletakan buku-bukuku di rak meja belajar. Setelah selesai aku istirahat sebentar sambil membuka laptopku dan menyalakan musik kesukaanku. Tidak lama kemudian aku tertidur. Sesaat setelah aku tertidur aku melihat ada orang yang berjalan masuk ke kamarku menuju kamar mandi. Aku tidak melihat wajahnya. Dia memakai baju berwarna serba merah. Kulitnya putih sekali. Saat aku terjaga kemudian aku bangun, aku kemudian menuju kamar mandi untuk melihat orang tadi.
“Hei siapa yang di dalam?” Kataku sedikit berteriak
Tidak ada jawaban.
“Heii!! Siapa yang di dalam?” kataku agak sedikit marah karena ada orang yang tanpa ijin memasuki kamarku.
Tidak ada jawaban lagi. Kali ini terdengar suara keran menyala
“Aku akan mendobrak pintu ini! Jika kau tidak menjawab” kataku sambil berusaha membuka pintu yang terkunci itu
Kali ini aku benar-benar akan mendobrak pintu ini. Entah yang di dalam laki-laki atau perempuan aku tak peduli. Urusan nanti dimarahi ibu kos karena merusak pintu kamar mandi itu masa bodoh. Aku sudah merasa jengkel sekarang. Dan, BRAAKKK! Pintu kamar mandi berhasil aku buka. Tapi aneh, tidak ada siapa-siapa di dalam. Kemana orang tadi pergi? Di sini tidak ada jalan keluar selain pintu ini. Apa aku yang salah terhadap pandanganku tadi? Ah ngga salah kok. Keran juga menyala seperti habis di pakai oleh seseorang. Lalu siapa orang tadi? Kemana orang itu pergi? Sesaat angin berhembus pelan menyapu bulu kudukku hingga berdiri. Aku merasa takut. Apa yang terjadi di sini?
***

“Eh mbak lihat orang masuk ke sini ga? Pake barju serba merah. Kulitnya putih banget” Tanyaku pada penghuni kamar kos yang lain
“Engga kok. Semuanya tadi pada tidur siang. Ga ada yang keluar kamar atau berjalan di sekitar sini apalagi masuk kamarmu”
“Haah? Beneran mbak?” rasa takut mulai menyelimutiku
“Iya beneran lah. Tadi yang di luar Cuma kita bertiga. Kita ga lagi bengong. Ada apa sih?”
“Ngga apa-apa kok mbak” kataku sekarang benar-benar takut
***

Aku menyeruput kopi panasku, sambil berusaha melupakan kejadian tadi. Kuputuskan Ruri, sahabatku untuk datang menemaniku sekarang.
“Dit, lo kenapa sih kok murung gitu?” Tanya Ruri
“Gue mau cerita sesuatu ma lo” kataku sambil duduk di tempat tidur
“Lo mau cerita apa?” jawab Ruri

Kemudian aku menceritakan semua kejadian tadi. Setelah selesai. Wajah Ruri tampak seperti sedang memikirkan sesuatu. Kemudian dia tertawa ringan dan mencubit pipiku.
“Haha. Dita, dita! Lo tu ada-ada aja. Mungkin lo lagi kecapekan kali makanya jadi kaya gini” kata ruri
“ah, tapi keranya beneran nyala kok, kayak habis di pakai” Jawabku yang tidak setuju dengan pendapat Ruri
“Udah lah dit. Lo tenang aja. Masa ada setan di siang bolong”
Aku tersenyum kecut. Perkataan Ruri memang ada benarnya. Aku merasa sedikit lebih tenang dan lega. Setelah itu aku dan Ruri memutuskan untuk berjalan-jalan di pusat kota. Benar-benar membuatku melupakan kejadian di kos itu.
Malam harinya, badanku terasa capek sekali. Aku kemudian mandi untuk menyegarkan badanku. Kemudian aku menyalakan laptopku sebentar dan mengirimkan e-mail kepada saudaraku. Menanyakan kabarnya di sana. Karena lelah, aku putuskan untuk tidur. Aku mengunci pintu kamarku supaya tidak ada orang yang masuk. Jendela di kamarku kubiarkan terbuka, Karena udara malam itu sedikit panas.
Malam itu kejadian tadi terulang. Antara masih bermimpi atau sudah terbangun aku kembali melihat orang yang berpakaian serba merah memasuki kamar mandiku. Dan bedanya sekarang orang itu berlumuran darah. Aku takut sangat takut. Aku tidak berani membuka mata. Aku putuskan tetap terpejam sambil berdoa.
***

Pagi harinya aku berniat akan menanyakan hal ini kepada ibu kos. Aku sudah tidak tahan terhadap semua ini. Ketakutanku tidak dapat di sembunyikan. Atau jika perlu aku akan pindah kos yang lebih baik. Jauh dari kesan menyeramkan.
Aku juga bertanya-tanya dari mana orang yang berpakaian serba merah kemarin masuk. Pintu kan sudah aku kunci? Masa lewat jendela? jelas tidak mungkin, karena tidak akan cukup jika di lewati orang. Atau jangan-jangan dia bukan orang melainkan..? ketakutanku makin bertambah
Aku bergegas menuju tempat ibu kos berada. Sesampai disana aku di sambut ramah oleh ibu kos.
“Ada apa dit, kamu mau bayar kos?” kata ibu Kos sedikit bercanda
“Bu, saya mau menceritakan sesuatu” kataku serius
“Cerita apa? Jika tentang hal-hal bodoh ibu tidak ada waktu. Kau lihat kan ibu lagi sibuk?”
“Tapi aku minta waktu sebentar bu. Ini akan sangat membantuku”
“Baiklah apa yang ingin kau ceritakan?”
Aku kemudian menceritakan semua kejadian menyeramkan yang aku alami kemarin. Setelah selesai. Raut wajah ibu kos berubah. Rautnya menunjukan keseriusan. Tidak seperti dugaanku dia akan tertawa.

“Mungkin yang kamu lihat adalah Alessana” ujar Ibu kos
“Siapa itu Alessana ?”
Ibu kos menghembuskan nafas panjang.
“8 tahun yang lalu alessana mati di kos-kosan ini diduga dia bunuh diri karena depresi karena ditinggal kekasihnya yang telah meninggal. Dia anak yang cantik. Dia melukai dirinya dengan pisau. Dia mengalami pendarahan hebat. Hingga dia kemudian di temukan mati menggenaskan di kamar mandi. Hingga sampai sekarang orang yang menempati kamar itu selalu diperlihatkan sosok alessana sedang berjalan di kamar mandi. Hingga belum 2 hari menempati kamar itu orang yang menempati sudah angkat kaki dari kamar itu. Tidak tahan. Pernah juga ada orang yang di perlihatkan sosok Alessa yang berlumuran darah dan menyeramkan…”
Setelah ibu kos selesai bercerita aku benar-benar kaget sekaligus shock. Aku berjanji akan pindah kos-kosan besok paginya. Aku sudah tidak tahan.
***

Malam harinya aku masih tidur di kos itu. Rasanya tidak bisa memejamkan mata mengingat kejadian tadi. Jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Sepi sekali suasana di luar. Mungkin penghuni kos yang lainnya sudah tertidur. Hawa dingin tiba-tiba menyergapku. Hembusan angin dari jendela membuatku mengigil. Kututup jendela itu dan kutarik selimutku supaya membuatku hangat. Aku berusaha memejamkan mataku.
Tetapi, aneh. Kenapa suasana di sini menjadi berubah. Tiba-tiba desiran angin berhembus di belakang tengkakku. Membuatku jadi merinding. Tiba-tiba lampu mati. Suasana benar gelap dan aku sendirian. Aku menggenggam selimutku semakin kencang. Aku tidak berani bergerak.
“PYAARR!!” tiba-tiba ada sebuah benda terjatuh. Bunyinya mengagetkanku. Lalu terdengar bunyi derap kaki. “Tap..Tap..Tap” bunyi itu sepertinya makin mendekat ke arahku. Aku tidak bisa melihat siapa itu karena benar-benar gelap. Jantungku benar-benar berdegup kencang sekali. Keringatku mengalir deras di sekitar tubuhku. Aku mulai melafalkan doa-doa memungkinkan kejadian yang tidak enak yang akan terjadi nanti. Ada yang menaiki kakiku. Seperti sebuah beban berat. Aku tidak berani menggerakan kakikku sedikitpun. Kurasakan ada tangan yang mengelus kakikku. Permukaan kulitnya halus aku bisa merasakanya.
Tiba-tiba lampu menyala. Terlihat seorang wanita sedang menatap kosong ke arahku. Mulutnya berlumuran darah. Matanya terlihat seperti sedang menangis. Dan.. wanita itu berjalan semakin mendekati ke arahku. Badanku serasa beku. Aku ingin berteriak tapi tidak ada suara yang keluar.
“Jangan takuut….” Kata wanita itu lembut
“Aku tidak akan menyakitimu..”
“Aku Alessana, aku hanya ingin menyampaikan pesan buatmu. Tolong aku, aku terperangkap di sini. Bebaskan aku, agar nyawaku bisa tenang di sana. Bakar kalung yang ada didekat lemari. Kalung berliontin huruf ‘A’. tidak ada orang yang tau. Sepi,kotor. tolong akuu… aku mohon..” sosok itu tiba-tiba perlahan menghilang. Dan sekarang yang terlihat hanya gelap. Aku begitu shock.
***

Aku tidak sadar, dan tahu-tahu sudah berada di pagi hari. Rupanya aku pingsan tadi malam. Nyawaku rasanya belum terkumpul semuanya. Aku masih kebingungan. Badanku terasa capek sekali. Aku kemudian bangun melihat jam berapa sekarang. Jam sudah menunjukan pukul 10! Ya ampun.. kali ini aku benar-benar kesiangan. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Aku bertanya pada diriku sendiri. “Ya tuhan.. apa yang terjadi padaku? Mengapa semua ini terjadi?” aku menghembuskan nafas panjang.
Kemudian aku memikirkan kejadian tadi malam. Wanita yang aku lihat kemarin malam adalah Alessana. Wanita itu membicarakan tentang nyawanya. Nyawanya yang terperangkap di dunia nyata. Dia ingin aku membebaskanya. Dan dia juga membicarakan tentang kalung.. dia menyuruhku untuk mencari kalung dan kemudian membakarnya. Aku bertanya-tanya. Ada apa dengan kalung itu? Kenapa dia ingin aku membakarnya untuk membuat nyawanya bebas? Ahh, tapi aku tidak peduli. Yang terpenting sekarang adalah mencarinya supaya dia dan juga tenang hidupnya. Dia akan terbebas nyawanya menuju alam sana. Dan aku? Tentu saja supaya hidupku tidak diganggu lagi oleh mahluk halus itu.
***

Sudah berjam-jam aku mencari kalung yang di maksud Alessana. Lemari pakaian sudah aku geledah. isinya aku keluarkan semua. Aku cari-cari di sekitar lemari juga tidak ada. Aku bingung. Lemari mana yang di sebut Alessana? Susah sekali mencarinya. Aku memikirkan pesan Alessana lagi. “…Bakar kalung yang ada didekat lemari. Kalung berliontin huruf ‘A’. tidak ada orang yang tau. Sepi,kotor. tolong akuu… aku mohon..”. Kalung yang ada di dekat lemari. Berliontin huruf ‘A’. sepi dan kotor. Tiba-tiba sesuatu terlintas di pikiranku. Kurasa aku sudah menemukan jawabannya. Apa mungkin benar? Jantungku berdegup kencang.
***

Aku sudah sampai di gudang di kos itu. Semoga firasatku benar. Aku mencari barang yang di maksud Alessana. Aku mulai bekerja di sekitar gudang. Banyak debu dan sangat kotor. Aku mulai terbatuk-batuk. Saat aku sedang membuka beberapa bangku yang sudah usang ada tikus yang melewati kakiku. Aku menjerit. Betapa menjijikanya tempat ini. Apa tempat ini tidak pernah di sentuh oleh manusia? Benar-benar menjijikan. Sesaat setelah itu aku melihat lemari besar, cokelat dan tua. Kayu-kayunya sudah lapuk di makan rayap. Firasatku mengatakan agar mendekati lemari itu. Aku segera menggeledah isi lemari itu. Tapi aku tidak menemukan apa-apa. Hanya ada kertas Koran yang sudah lama. Tiba-tiba ada sebuah bola terjatuh dan menggelinding kearah bawah lemari itu. Aku membungkukkan badan untuk mengambilnya. Tapi ketika sampai di bawah, aku tidak lagi menghiraukan bola tadi. Perhatianku tertuju pada kotak cokelat yang terlihat bersih. Aku memungutnya. Perasaanku mengatakan inilah jawabanya. Hatiku berdegup kencang.
Kubuka perlahan kotak itu. Di dalamnya berisi surat. Aku membaca surat itu yang isinya adalah..
“Kepada : Alessana yang kusayangi
Dari : Kekasihmu

Alessana aku benar-benar merindukanmu. Di hari ulang tahunmu yang ke 17 ini maaf aku tidak bisa datang ke tempatmu. Aku hanya bisa memberikan kalung ini. Penyakit leukimiaku sudah mencapai tahap akut. Aku tidak mampu untuk berjalan lagi. Badanku sudah terasa tidak berdaya lagi. Maaf jika sudah mengecewakanmu. Kurasa ini yang terakhir dariku. Akuu….uu mencintttaiymuu..”

Pada akhir kata terlihat bahwa tulisanya berubah menjadi tidak karuan. Aku mendiskripsikan bahwa kekasih Alessana saat menulis kata terakhir itu penyakitnya kambuh. Sehingga kesusahan untuk menulis. Jadi begitu jawabanya. Alessana merasa tidak bebas karena surat dan kalung yang di beri kekasihnya ini. Di kotak itu terdapat kotak kecil lagi berwarna biru tua. Aku membukanya. Ada sebuah kalung berliontin huruf ‘A’ berwarna perak dan mengkilat. Benar-benar cantik.
Tapi aku harus segera membakarnya. Dengan cepat aku melumuri kalung itu dengan minyak tanah. Kemudian membakarnya.
***

Setelah 3 minggu kejadian itu, hidupku terasa tenang. Tidak ada gangguan dari mahluk halus lagi. Aku sudah melupakan kejadian itu. Mungkin Alessana sudah tenang. Tetapi suatu ketika pada malam hari saat aku sedang tertidur, Aku terjaga lagi. Aku melihat bayangan Alessana tersenyum ke arahku. Dia tampak seperti sedang mengatakan sesuatu padaku.
“Terima kasih..Sampai jumpa..” ucapnya
Alessana melambaikan tangan bersamaan dengan itu bayangan Alessana menghilang. Aku tahu Alessana benar-benar tenang sekarang

TAMAT

PROFIL PENULIS
Nama lengkap : Karina Puspa Sari
Facebook : Karina Puspa Sari
twitter : @Karina_puspaa

Baca juga Cerpen Horor yang lainnya.

Rahasia di Balik Bom Buku - Cerpen Lucu

RAHASIA DI BALIK BOM BUKU
Karya Yurika Anggraini

Langit yang tampak kelam dan awanpun pekat hitam pertanda hujan telah mengamuk di atas pijakannya. Allahu akbar … Allahu akbar, adzan magrib pun berkumandang di seluruh penjuru kota.
“ San, tak dengarkah awak suara adzan tuh?”tanya seorang perempuan tua pada anaknya yang dari tadi asyik mengarang pantun di bukunya.
“ Apa mak? Lah sudah adzan? “
“ Iya, tak dengarkah awak? “ Ohh, patutlah aku tak dengar mak, kan hujan,”jawab Sasan.
“ Ada pula hujan yang awak salahkan. Bersihkan telinga tuh tiga kali sehari! Adzan magrib pun awak tak dengar.”
“ Bersihkan telinga? Macam mana aku nak bersihkan telinga, pembersih telinga saja kita tak punya,”
“ Masa iya? Mak kan lah beli waktu itu.”
“ Yang itu sudah habis mak,”
“ Cepatnya,”
“ Ya kan mak juga yang bilang pakainya tiga kali sehari.” Perempuan tua yang heran dengan perkataan anaknya pun hanya pasrah.” Ya sudahlah, nanti mak beli lagi di warung. Sekarang awak pergilah ambil air wudhu!”
Dengan segera Sasan pergi ke kamar mandi. Byur… byur… byur… air wudhu mengalir membersihkan tubuhnya. Langkah kakinya membawanya ke ruangan kecil. Dia pun sholat magrib dengan setengah khusyu.
***

“ Sa...san. Saa...saan..” teriak teman-teman Sasan dari luar rumah.
“ Iya,” jawab Sasan ketika ia sudah membuka pintu rumahnya.
“ Lamanya lah awak nih,” ucap Yayan yang merupakan sahabat dari Sasan sekaligus ketua geng dari mereka, TRICOTENG, nama yang diberi oleh geng itu sendiri yang berarti tiga cowok muanteng. Sebuah nama yang patut dibanggakan oleh mereka.
“ Ntah! tak nak aku terlambat lagi.” ucap Jejep yang juga merupakan sahabat Sasan.
“ Iya lah, aku minta maaf. Aku tadi kena ceramah sama mak aku, dikira sembunyikan sepatu sekolah adik aku.”
“ Sudah ketemu sepatu adik awak?” tanya Jejep heran. “ Sudah,”
“ Macam mana pula?” tanya Jejep lagi “ Ya soalnya aku yang naruh sepatu adik aku,”
“ Heh... patutlah awak kena ceramah, awak yang sembunyikan pun.” kata Yayan sambil menjitak kepalanya.
“ Ayolah kalau begitu. Kita berangkat sekarang!” seru Jejep.
Mereka berjalan menelusuri lorong-lorong, mengibas daun di pinggir jalan. Jalan setapak berakhir di ujung jalan, mereka mulai melewati kebun karet. Alang-alang yang tumbuh disekitarnya, melambai diterpa angin, melambai pelan pada siapapun yang melewatinya. Langkah kaki yang mantap, tak ada sesuatu yang bisa menghalangi.

Berjalan terus di antara pohon-pohon Jati yang berjejer, pohon-pohon yang mulai bertumbangan, dilahap kerakusan manusia. Sejauh mata memandang, pohon Jati tinggal satu dua dalam jarak pandang saling berjauhan, mungkin dalam waktu dekat akan habis. Kaki melangkah melanjutkan perjalanan melewati rumah-rumah penduduk yang juga saling berjauhan. Jejep yang memperhatikan Sasan terus mengarang pantun selama perjalanan menuju sekolah, ia pun akhirnya membuka pembicaraan.
“ Aku rasa, awak ni kelak nak jadi penyair.”
“ Iya kah? Kenapa awak bisa cakap macam tuh? “ Lah, tiap hari awak kerjaannya berpantun terus.
Sampai-sampai, telinga aku nih lah penat dengar pantun awak! Ntah iya ntah tidak pantun yang awak karang dari tadi, aku pun tak tahu.” gerutu Jejep.
“ Aku pun tak paham lah maksud awak nih, Jep. Pertama awak puji aku. Kedua awak hina aku.”
“ Hehehe, kenyataannya kan memang seperti itu.
Aku dengar awak dari tadi berpantun, tapi tak ada yang jelas pantun yang awak buat.”
“ Sudahlah. Sasan nak berpantun kah, nak jadi penyair atau tidak kah, itu terserah dia. Yang penting kan kita... HAPPY,” ujar Yayan.
Tawa terkekeh pelan terdengar dari mereka yang merubah suasana pagi hari itu.
***

Ketika jam pelajaran sudah dimulai, tiba-tiba Ibu Wakil Kepala Sekolah SMP Negeri 7 Tanjung Pinang, Ibu neli muncul di depan pintu dengan seorang anak perempuan yang tampaknya bukan penduduk asal dari daerah tersebut. Rambutnya yang tergerai indah membuat mata Sasan tidak berkedip sedetikpun. Kulitnya yang putih memiliki sisi perbedaan dari anak-anak biasanya yang berada dikota itu.
“ Assalamu’alaikum, Anak-anak!”
“ Wa’alaikum salam, Bu!”
“ Anak-anak, hari ini kalian akan memiliki teman baru. Dia pindahan dari Jakarta. Nak Anggrai, silahkan perkenalkan diri!” Saat Anggrai memperkenalkan dirinya,
Sasan terus memperhatikannya sambil mencatat segala apa yang diucapkan Anggrai. Mulai dari nama, umur, tempat lahir, tanggal lahir, alamat, dan status. Sasan pun bergumam,
“Anggrai cantik tinggi semampai, dada bidang rambut mengurai, putih melepak lembut gemulai, saya melihat rasa terkulai. Alamak... ternyata bidadari tuh memang ada ya, Jep.”
“ Heh, cakap apa budak satu nih. Tak dengarkah awak tadi, kalau dia tuh orang Jakarta. Macam awak tah tahu saja, orang-orang di Jakarta macam mana.” jawab Jejep mengeluarkan suara kecil mengejek yang duduk sebangku dengan Sasan.
“ Memangnya orang Jakarta tuh macam mana?”
“Di Jakarta tuh banyak sekali koruptor. Para pejabat termasuk anggota Dewan disana tuh kerjaannya hanya makan uang negara. Kasus korupsi disana saja tak ada yang tuntas-tuntas. Hemm, macam si siapa lah tuh namanya. Aku lupa pula,”
“ Siapa? Aku tak tahu.”
“ Ihh, yang lagunya nak pergi ke Bali tuh.”ucap Jejep kesal.
“ Aihh, si Gayus lah tuh, nama itu pun kalian tak ingat.” sambung Yayan tiba-tiba yang daritadi mendengar percakapan mereka.
“ Nah, itu maksud aku. Awak nak tahu lagi, kalau di Jakarta juga pernah ada bom. Kemarin, aku dengar berita di TV, katanya ada pula bom buku.”
“ Bom buku? Apa pula bom buku tuh, Jep?”tanya Sasan dengan wajah kolotnya.
“ Bom buku pun awak tak tahu, mangkanya awak tuh sering lihat berita di TV.”
“ Jep... Jep. Macam mana aku nak lihat berita di TV, TV saja aku tak punya.”jawab Sasan santai.
“ TV pun awak tak punya San? “
“ Sudahlah, apa pasal kalian berdua nih. Hal yang seperti itu pun kalian perdebatkan. Lagi pula apa hubungannya si Anggrai dengan koruptor dan bom buku. Ada-ada saja awak nih Jep.”sergah Yayan.
“ Maksud aku tuh bukan itu, tapi...”
“ Ya sudahlah, Sasan nak cakap gadis tuh bidadari kah, tak tahu orang Jakarta macam mana kah, dia tak punya TV kah, terserah dia.
Dia tak tahu bom buku macam mana pun, itu juga terserah dia. Yang penting kan kita nih... HAPPY,” ujar Yayan dengan senyum lebar yang dibuat-buat.
Percakapan mereka terhenti ketika Anggrai datang ke arah mereka. Ternyata Anggrai duduk disamping Yayan yang kebetulan duduk sendiri. Tepat di belakang Sasan.
“Pucuk di cinta ulampun tiba,” gumam Sasan. Jejep yang tidak senang dengan keadiran Anggrai di belakangnya hanya dapat menatap Anggrai dengan sinis.
“Aku harap awak tidak mendekati budak perempuan itu, San!”ancam Jejep.
“Kenapa pula? Bukankah dia terlihat cantik dan baik,” Jejep menatap Sasan lebih serius,
“Dia tidak seperti yang awak bayangkan. Aku yakin, suatu hari nanti akan terjadi sesuatu yang tidak dapat awak bayangkan.”
***

Jam lima pagi. Suasana mulai riuh rendah. Rengekan motor mengawali pagi itu. Pedagang-pedagang warung pergi ke pasar untuk memenuhi pesanan pelanggannya. Masih terlalu pagi memang, tapi itulah kebiasaan mereka mengawali harinya. Sesekali terdengar ayam berkokok, Nampak malu-malu, membangunkan majikannya dari lelapnya istirahat yang cukup panjang.
Suara itu membuat Sasan terbangun dari tidurnya yang tak nyenyak lalu duduk diatas kasurnya.
“ Wilmana di atas gunung, penyengat bergantung tinggi, gundah gulana duduk termenung, teringat akan si jantung hati.”gumam Sasan. Setelah itu bangkit dari duduknya. Galau terus menghantuinya kemanapun ia melangkah. Ia melihat jam dinding yang ada didekat kamarnya, jam lima lewat sembilan menit. Dia bergegas ke kamar mandi hendak mengambil air wudhu. Dingin terasa membasahi tubuhnya, namun kesegaran ada padanya. Tetap berkainkan sarung ia menunaikan shalat shubuh. Pagi itu matahari masih malu menampakkan wajahnya. Namun tidak untuk Sasan.
Ia segera pamit pada ibunya untuk pergi bermain barsama para sahabatnya. Pandangan matanya menerawang, menerobos jarak yang mampu dijangkau panca indera.

Dari kejauhan, ia melihat seorang gadis kecil yang tidak asing lagi baginya. Karena disana bersandar dengan santai di sebuah bangku kayu kecil, tak lain dan tak bukan adalah, Anggrai. Sambil mengumpat pelan, Sasan melayangkan tatapan penuh makna ke arah Anggrai. Anggrai membalasnya dengan mengangkat sebelah tangan dan melambai ke arahnya. Sambil terus membalas pandangan Anggrai, Sasan pelan-pelan berjalan mendekat.
Mereka pun akhirnya saling berbincang-bincang.
“Aku juga tak tahu kenapa Jejep begitu tidak menyukaimu. Ia terlalu benci dengan orang Jakarta. Seperti yang aku ceritakan tadi, dia selalu menasehatiku agar tidak terlalu dekat dengan awak.” ujar Sasan setelah ia menceritakan pada Anggrai tentang sikap jejep.
“Ya sudahlah, itu kan hak dia. Jika dia memang tidak menyukai aku, juga tidak apa. Mungkin, dia hanya bermaksud memperingati kamu agar tidak terlalu percaya dengan seseorang yang baru kamu kenal. Apalagi kalau orang itu bukan penduduk dari kota ini. Seperti aku.” ucap Anggrai dengan aksen Jakartanya. Walaupun Sasan baru kenal dengan Anggrai, tapi berbicara dengannya sangat asyik. Mereka begitu nyambung satu sama lain. Karena masih ingin kenal lebih dekat lagi dengan Anggrai, Sasan mengajaknya untuk melihat permainan sepak bola. Saat mereka sedang melewati jalan dipinggir lapangan bola. Disaat para pemain sepak bola sedang asyik bermain, tiba-tiba bola yang mereka tendang bukan melayang ke arah gawang. Bola itu melayang ke arah Anggrai. Sasan yang melihat bola tersebut, dengan cepat ia menangkis dan menahannya sehingga tidak mengenai kepala Anggrai.
Anggrai yang dikejutkan oleh sikap Sasan, masih bingung untuk berbicara. Ia hanya melihat Sasan tergeletak di tanah.
***

Ketika jam pulang sekolah, Anggrai menghampiri Sasan dan memberikan sebuah bingkisan kecil berbentuk persegi panjang sebagai ucapan terimakasihnya atas kejadian di lapangan bola waktu itu. Sasan pun menerimanya dengan senang hati. Namun, ia terkejut ketika melihat bingkisan tersebut ternyata sebuah buku. Ia teringat akan perkataan Jejep yang mengatakan pada saat ini sudah ada bom buku. Belum sempat ia pamit dengan Anggrai, ia pun berlari meninggalkan Anggrai sendiri. Jantungnya berdegup kencang memikirkan apa yang terjadi. Apakah benar Anggrai adalah orang Jakarta seperti yang di katakan Jejep? Apakah sesuatu yang terjadi dikatakan Jejep adalah ini? Larinya semakin di percepat ketika ia melihat lagi buku yang ada di tangannya. Setelah ia sampai di lapangan bola tempat sahabat-sahabatnya sering berkumpul, ia pun langsung menghampiri mereka.
“Ada apa dengan awak nih? Napas tersengal-sengal macam tuh. Apa awak habis di kejar orang?”tanya Yayan melihat SasaN berdiri di hadapan mereka dengan keringat yang membanjiri tubuhnya.
“Bukan. Bukan itu, tapi...”
“Hemm, aku tahu. Pasti awak kena libas mak awak kan? Mangkanya awak lari kesini.”sindir Jejep.
“Bukan, bukan itu juga. Tapi ada satu hal yang ingin aku perlihatkan pada kalian,”ucap Sasan lagi sambil menunjukkan sebuah bingkisan yang di berikan Anggrai.
“Buku ?”tanya Yayan heran. Sasan akhirnya menceritakan apa yang terjadi saat di lapangan bola pada waktu itu. Dua dari anggota TRICOTENG itu hampir tidak percaya atas apa yang sudah dilakukan Sasan.
Mereka menganggap Sasan seperti pahlawan kesiangan.
“Apa maksud awak dengan buku itu?“tanya Jejep waspada yang akhirnya mampu bicara karena menahan tawa setelah mendengar cerita dari Sasan.
“Bukankah awak pernah bilang, kalau di Jakarta ada bom buku. Dan...”
“Kan sudah aku bilang, jangan lagi awak dekati budak perempuan tuh. Sekarang awak sudah kenal kan budak Jakarta macam mana,”geram Jejep.
“Sudahlah, yang perlu kita lakukan sekarang adalah kita harus membuktikan apakah benar itu bom buku atau bukan,”ujar Yayan menenangkan.
“Aku tak nak. Kalau itu benar bom buku macam mana, apa kalian berdua nak mati? Hehh, yang jelas aku tak nak mati. Kalau kalian nak buktikan, buktikan saja sendiri. Aku nak balik!”tegas Jejep.
“Kalau awak balik, itu berarti awak pengecut.”balas Yayan Jejep telah bersiap-siap untuk pergi, namun kata itu membuatnya kembali.
“Apa awak cakap tadi!”
“Jelas awak takut kan,”pancing Yayan lagi.
“Sudahlah, apa pasal lagi kalian berdua nih. Yang penting sekarang adalah kita harus membuka buku itu. Dan awak Jep, aku harap awak tak balik.”sergah Sasan.
Mereka pun akhirnya saling bertukar pandang satu sama lain. Wajah yang di penuhi ketegangan plus ketakutan melanda mereka. Dengan hati-hati Sasan membuka bingkisan tersebut. Jantung Jejep seolah berhenti berdetak saat Sasan akan membuka buku tersebut. Tapi kemudian ia melihat Sasan yang tidak jadi membukanya.
“Ada apa?”
“Ini seperti bukan buku. Aku rasa ini hanya sebuah kotak biasa yang berbentuk seperti buku. Bahannya juga bukan dari kertas tapi sangat kaku dan keras. Sepertinya ada sesuatu di dalamnya,”ucap Sasan.
Setelah ia menempelkan buku tersebut ke telinganya dan menjauhkannya kembali, ia menambahkan,”Aku mendengar suara didalam sini, seperti bunyi tiitt...tiit...tiit... dan...”
“Tidak salah lagi, itu pasti bom. Ya Allah, jikalau aku mati sekarang ampunilah aku. Dan sampaikan juga pada mak kalau aku sangat menyayanginya, ya Allah. Tapi sebenarnya, aku tak nak mati sekarang ya Allah, aku tak nakk...”
“Diam lah awak nih, Jep. Betenang!”bentak Yayan Sasan melanjutkan membuka buku tersebut. Dalam hatinya ia juga berdoa sama seperti Jejep. Sasan menyebut semua nama-nama Allah saat buku sudah berhasil dibukanya. Namun, ia terkejut ketika melihat apa yang ada di dalam kotak berbentuk buku itu. Ia merasa geli setelah melihatnya. Yayan dan Jejep yang melihat ekspresi Sasan, dengan segera mereka melihatnya. Mereka pun tertawa keras setelah mengetaui barang yang ada didalamnya ternyata hanya sebuah jam tangan dan sebatang coklat silver queen.
“Jadi bunyi tiitt...tiitt...tiit itu suara jam tangan ini, aku kira bom pula tadi,”ujar Jejep.
“Jadi awak dah tahu kan, kalau Anggrai bukan orang yang seperti awak pikirkan. Buktinya dia ngasih aku jam tangan dan coklat ini. Dan lebih tepatnya kalau ni bukan bom.”
“Iya, aku minta maaf kalau begitu San.”aku Jejep
“Hemm, kalau begitu bagilah coklatnya. Kami kan sudah bantu awak,”ucap Yayan dengan senyum lebarnya yang juga di ikuti oleh Jejep.
“Iyalah, tapi kita bertiga nanti harus minta maaf dengan Anggrai karena sudah salah paham dengan dia. Terutama awak, Jep.”
“Oke lah tuh. Hemm, ngomong-ngomong baru kali ini kita makan coklat silver quenn kan,” jawab Jejep santai.
“Sudahlah, kita sudah tahu bingkisan itu bukan bom kah, Anggrai tak seperti yang kita bayangkan kah, dan baru kali ini kita makan coklat silver quenn kah. Itu terserah. Yang penting kan sekarang, kita ini ....”
“H-A-P-P-Y....” teriak mereka serentak *** Hari itu sangat melelahkan bagi Sasan. Setelah melewati kejadian demi kejadian yang sangat membingungkan untuknya, ia pun hanya berbaring di kasur menatap langit-langit atas di kamarnya. Lalu matanya tertuju ke sebuah jam tangan yang dipakai di tangan sebelah kirinya. Ia menatap jam tangan itu lekat-lekat. ”Bunga sena cempaka biru, ketiga dengan bunga pekan, bila Jakarta ada bom buku, kirakah Tg.pinang ada bom jam tangan?”gumam Sasan bingung.
 
PROFIL PENULIS
Nama : Yurika Anggraini
Alamat :Batam
FB : Yurika RainiQuennSha
 
Baca juga Cerpen Lucu yang lainnya.

Live Must Go On - Cerpen Cinta

LIVE MUST GO ON
Karya Nita 

Pernahkah kamu merasakan sakit hati karena ditinggal kekasih? Jawabannya tentu saja iya. Bahkan mungkin bisa dibilang hampir seluruh orang di muka bumi ini pernah merasakan yang namanya patah hati. Tak terkecuali aku. Dan percayakah anda bahwa ditinggal kekasih pergi untuk selamanya jauh lebih baik dari pada ditinggal kekasih demi wanita lain? Aku tidak. Karena aku adalah salah satu orang yang merasakan bagaimana sakitnya ditinggal kekasih untuk selamanya dan tidak bisa melihat senyumannya lagi selain di foto dan tak bisa lagi mendengar suaranya karena ia telah tiada.

Kisahku berawal dari 5 tahun yang lalu. Saat itu aku sudah bekerja di sebuah rumah sakit swasta di Surabaya, dan aku mempunyai kekasih bernama Angga. Kami telah menjalin hubungan selepas kami menyelesaikan kuliah masing-masing, dan saat itu kami bekerja di rumah sakit yang sama.

Dua tahun menjalani hubungan, kami pun akhirnya memutuskan untuk melanjutkan hubungan ke arah yang lebih serius. 15 Mei kami bertunangan, dan sesuai rencana, kami akan melangsungkan akad nikah dan resepsi satu bulan kemudian. Aku betul-betul bahagia dan rasanya hidupku sempurna sudah. Tapi manusia memang hanya bisa berencana, dan tetap Tuhanlah yang menentukan segalanya. Dan musibah itu, yang mengubah segalanya terjadi tepat satu minggu sebelum hari-h pernikahan kami.
“Dari sini kita langsung ke butik ya sayang, aku udah gag sabar lihat kamu pakai gaun pengantinmu.” Ujarnya sambil tersenyum manis padaku hari itu.
“Lo, kog buru-buru banget? Kan kita baru pulang dari Rumah Sakit, aku belum mandi lagi. Pulang mandi dulu ya.” Kataku sambil balas menatapnya dan tersenyum.
“Ok deh. Kalo gitu ke tempatmu dulu baru kita ke butik.”

Dan itu adalah kali terakhir ia berkunjung ke tempatku.
“Aduh, gag sabar banget nih pengen lihat kamu pakai gaun pengantin.” Ujarnya saat di perjalanan menuju butik, saat itu hujan gerimis.
“Ya ampun kamu ini, kayak gag ada hari esok aja.” Jawabku santai.
“Mungkin emang nggak. Kamu ingat kan kata peribahasa lakukanlah hal apa yang bisa kau lakukan hari ini? Dan aku pengen banget bisa lihat kamu pakai gaun itu untuk yang terakhir sebelum kita dipingit.” Ujarnya lagi.
“Aih, kamu ada-ada aja.” Jawabku lagi. “Tuh butik dah di depan, jangan ngegombal lagi dong.” Sambungku.

Sesampai di butik, aku langsung masuk ke ruang ganti dan Angga menungguku di luar. Tak berapa lama aku keluar dengan gaun pengantin pesanan kami.
“Kamu cantik banget sayang. Rasanya jadi gag pengen beralih pandangan dari kamu deh. Andai aja aku bisa terus memandang kamu kayak gini.” Ujarnya saat melihatku ke luar dari ruang ganti.
“Kamu, ada-ada aja. Aku jadi malu nih. Jangan ngegoda terus dong.”
“Aku serius! Aku gag ngerayu kamu. Andai aja aku bisa terus memandang kamu begini.” Ujarnya dan aku hanya bisa tersipu.

Semua terasa indah hari itu, sampai telepon yang berakhir pada perpisahan kami. Saat aku sedang mengganti pakaian, ia mendadak mendapat telepon dari Rumah Sakit yang memintanya untuk segera ke Rumah Sakit karena pasien yang sedang ia tangani mendadak jantungnya kumat. Dan ia bergegas pergi kembali ke Rumah Sakit.
“Sayang, aku ke RS dulu ya. Kamu jaga diri baik-baik ya, aku harus pergi. Um satu lagi, aku bener-bener sayang kamu. Tadi aku sudah minta Sarah buat jemput kamu ya. Dah sayang, samapi ketemu lagi nanti.” Ujarnya memberi ucapan perpisahan sore itu sambil mengecup keningku. Saat itu hujan sudah turun dengan deras.
“Ya, aku juga sayang kamu. Kamu juga hati-hati ya. Love you.” Jawabku.

15 menit aku menunggu, Sarah datang menjemputku dengan kondisi basah kuyup. Aku bingung melihat kondisinya hari itu.
“Kamu kenapa de? mobil kamu gag mungkin bocor kan?” tanyaku sambil berusaha bergurau dan ia hanya diam saja.
“Itu gag penting, yang penting kakak ikut aku sekarang.” Katanya dengan wajah tegang sambil segera menarik tanganku dan masuk mobil. Sepanjang perjalanan ia hanya diam saja dan aku tak berani bertanya lebih banyak. Dan saat mobil berhenti, aku baru sadar kalau kami berada di parkiran RS sekarang.
“Ada apa de? kenapa ke RS?” tanyaku kebingungan.
“Nanti kakak juga tahu, tapi sebelumnya kakak yang kuat ya.” Ujarnya membuatku semakin bingung. Saat itu kau sempat terfikirkan ibuku. Jangan-jangan ibuku mendadak terkena serangan jantung. Aku langsung panik seketika. Saat di depan ICU aku terkejut melihat semua anggota keluarga berkumpul dengan wajah tegang. Dan di sana kulihat ibuku sedang duduk di samping ibu Angga dengan wajah yang sama tegangga dengan Sarah.
“Ada apa ini? Ada apa semuanya tiba-tiba berkumpul di sini? Siapa yang sakit? Dan di mana Angga?” tanyaku.
“Angga di dalam, sedang berjuang melewati masa kritis. Baiknya kita bersama mendoakan yang terbaik untuknya.” Jawab ayah Angga sembari mengalihkan pandangannya.
“Kenapa? Dia kenapa Om?” Tanyaku sambil menahan tangis.
“Angga kecelakaan saat dalam perjalanan menuju RS nak, kamu yang sabar ya dia pasti selamat.” Ujar Ibu Angga sambil mengelus rambutkuku. Seketika pandanganku menjadi kabur, semuanya terasa menjadi gelap dan aku terduduk di sudut ruangan sambil terus meneteskan air mata tanpa isakan.
Tak lama kemudian, keluarlah seorang dokter yang ku kenal dokter Budi dari dalam ruangan ICU. Ia keluar dengan wajah tertunduk lesu dan aku mengerti maksud dari wajah itu. Terlebih saat kulihat tatapan ibanya saat menatapku. Dan seketika aku langsung histeris menangisi nasib malangku.

Esoknya, aku menyaksikan Angga, orang yang paling kau kasihi dipendam dalam tanah. Aku tak henti-hentinya menangis sepanjang upacara pemakamannya. Dan orang disekelilingku hanya bisa diam menatapku iba. Seusai pemakaman, aku merasa kosong dan serasa tak ada sandaran lagi. Hingga akhirnya aku dapat berdiri tegar dengan cinta yang ia tinggalkan untukku.
Dan kini, tak terasa tiga tahun sudah berlalu. Dan aku tetap berdiri di sini dengan segenap rasa yang ku punya untuknya. Aku tak pernah menyesal pernah bersamanya dan mencintainya, karena berkat dia aku bisa melewati kehidupan yang penuh rasa sakit itu. Karena semua rasa sakit hati ini telah hilang bersama dengan sembuhnya bekas luka gores di lenganku ini.
Dan Angga, aku yakin ia pasti bahagia di sana melihatku mampu tersenyum di sini sekarang..

PROFIL PENULIS
Nama : Nita
Tempat tanggal lahir : Benangin, 8 Januari 1993
Hobi : Membaca, Jalan-jalan dan mendengarkan musik.
Alamat FB : maniz.nita@yahoo.co.id

Baca juga Cerpen Cinta yang lainnya.

Dia di Hari Minggu - Cerpen Sedih

DIA DI HARI MINGGU
Karya Putri Handayani

Tepat hari ini aku kerap menemui dia di tempat ini, dengan sejuta alasan yang melekat dibenak hal apapun tak terpikirkan ketika aku telah berada di hadapannya. Menatapnya dengan lekat sembari tersenyum lembut. Tepat di hari ini semua bebanku terasa sirna tatkala ku merebahkan kepalaku di pundaknya, memegang tangannya yang sarat akan kasih sayang. Tepat di hari ini pun semua terasa menyenangkan saat dia bisikkan “Aku cinta kamu selamanya” tepat di telingaku.Dan tepat di hari ini juga ku nikmati kebersamaan yang amat dalam ketika aku dan dia berhayal tentang masa depan, menatap awan-awan sembari memberinya makna, membuat iri seisi tempat itu seakan kami berteriak dan ungkapkan : “Heyy… lihat kami, ini lho pasangan terkompak tahun ini…!” Semua terasa indah saat itu, tatkala aku dan dia bergelut dalam kebersamaan.

Dan tepat di hari ini, aku sendiri. Tak ada lagi tempat untuk kusandarkan kepalaku, tak ada tangan sarat kasih sayang yang bisa kupegang saat ini, tak ada bisikan-bisikan cinta yang bisa kudengar lagi, dan tak ada pula orang-orang yang iri ketika melihatku. Seisi tempat itu kurasa telah mencampakkan aku saat ini, mengacuhkanku, dan seakan menyiratkan beberapa kata : “Siapa orang ini? hanya duduk seorang diri dengan tatapan kosong. Seharusnya kau tak datang ke sini!” Ketika itulah aku sadar bahwa memang benar.. aku hanya sendiri, dia tak datang ke tempat itu lagi.
****

Seperti biasa, dia selalu mengirimi aku sebuah pesan singkat yang kemudian aku balas dengan perasaan berbunga. Walaupun ia tak seromantis yang aku kira, tetapi ia mampu menumbuhkan rasa cinta yang amat besar di hatiku, ketika berkali-kali ia ungkapkan kata cinta dan sayang. Rasanya seperti melayang… terbang ke langit terang.. Menggapai bintang-bintang dan seakan tak terbayang. Berkali-kali ia ucapkan janji bahwa dia tak akan pernah meninggalkanku, takkan pernah buatku menangis dan menjadikanku yang terakhir dihatinya. Akupun turut menyambutnya dengan janji yang sama. Tak sedikitpun aku merasakan sangsi dalam mengucapkan janjiku, karena aku sungguh yakin dengan apa yang kuucap.

Tatkala itu, saat kutemuinya di tempat langganan yang biasa kami datangi untuk melepas segenap kerinduan yang membendung. Makhlum saja, kami berlainan sekolah, oleh karena itu kami hanya dapat bertemu di akhir pekan saja : Hari Minggu. Bergurau, bermanja-manjaan. Hal itulah yang biasa kami lakukan ketika bertemu. Ditengah canda tawa itu ia kembali meyakinkanku atas janjinya, sampai akhirnya ia memberi jari kelingkingnya untuk dikaitkannya di jari kelingkingku. Spontan saja aku terima, dan ia pun berucap, “Aku berjanji akan selalu mencintaimu sampai kapanpun juga, kaulah yang terakhir, kita tak akan terpisahkan oleh apapun juga, percayalah!” Mendengar itu, aku tersenyum tipis sembari mengangguk. Kalkulator cintaku telah menunjukkan angka 100% terhadap kesaksiannya.
Tak seperti biasanya, ia tak menghubungiku lagi. Makin jarang, dan seiring hal itu sifatnya pun menjadi sedikit berubah. Entah..

Aku tanya, mengapa dia seperti itu. Perasaan aku tak pernah telat membalas pesan singkatnya, sesibuk apapun aku tetap ingat menanyakan keadaannya, dan aku merasa tak pernah mengacuhkannya. Namun, mengapa dia seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Dia menjawab pertanyaanku, dan saat itu juga aku berpikir : Aku menyesaal menanyakan hal ini. Kau tahu apa yang dia katakana kepadaku? Dia bilang kalau….. Ah,,sungguh jawaban yang tak dapat kuterima dalam keadaan apapun. Jawaban yang merenggut senyumku seketika. “Aku belum bisa melupakan Dia. Sedikitpu.” Beberapa patah kata itulah yang ku terima sebagai imbalan dari pertanyaanku. Ya… “Dia” mantannya pacarku. Aku tak tahu apa salahku sehingga aku berada di posisi ini sekarang. Antara galau, sedih, tak yakin dan tak terima… Semua terasa manyakitkan saat sifatnya makin memburuk terhadapku. Semakin parah, sampai aku tak bisa membedakan Ini kekasih atau musuhku.

Kini dia menggantung hubungan kami. Berkali kutanyakan, “Maumu apa???”. Lalu dia hanya menjawab, “Terserah padamu saja!”. Sungguh sadis bukan? Cukup membuat aku tercengang untuk beberapa saat. Heyy… Kemana janjimu yang dulu? Pergi kemana dia? Kemana dirimu yang selalu berbisik, “Aku sayang kamu..”. Kemana harapan-harapan indah yang kau tuangkan ke dalam hatiku. Kini aku rasa semua telah jauh meninggalkanku. Tapi dia diam. Tak sedikitpun menampik rasa kecewaku ini.

Semua tak seperti yang kuharapkan. Aku kira semua akan indah seperti pelangi, penuh warna dan penuh keceriaan. Namun aku baru sadar, indahnya pelangi tak sejalan dengan berapa lama ia akan bertahan tampak seperti itu. Aku mulai tahu, pelangi hanya muncul sesaat dan menghilang untuk waktu yang lama.. lama selama ia mengkehendakinya. Aku pikir seperti inilah cintanya terhadapku. Kasih sesaat dan janji yang semu. Aku mulai sakit hati…. Di sisi lain aku juga masih menyimpan rasa itu, rasa yang tak mungkin aku hilangkan dalam sekejap kedipan mata.
****

Aku masih tak beranjak dari tempat dudukku. Aku termenung. Handphoneku aku genggam di tangan kananku dengan posisi menengadah. Ku pandangi sosok yang berada dalam wallpaper handphoneku, wajahnya berseri-seri seperti menatap ke arahku dengan lekat. Aku tersenyum tipis. Ingin rasanya aku banting handphone itu, dalam senyumnya aku melihat suatu kebohongan yang amat besar. Terlalu keras ia tancapkan belati itu di tengah-tengah jantungku. Sakit sekali.

Butiran-butiran bening mulai menitik di pipiku. Mengalir dan terus mengalir. Tak kuasa ku usap, hanya ku biarkan. Ku anggap ini bentuk duka cita dari mataku untuk hatiku. Aku tak berhenti menangis, aku ingin dia yang mengusap air mataku ini seperti apa yang selalu ia katakana dulu. Tapi apa daya, dia tak datang. Aku tak akan pernah melupakan semua kepahitan ini, sampai kapanpun aku akan tetap ingat apa itu janji, apa itu hutang, apa itu kesetiaan. Dan di sinilah aku akan menunggu janji itu dengan setia. Di sini, di tempat ini. Saat ini, di hari ini : Hari Minggu.

PROFIL PENULIS
Nama : Desak Ketut Putri Handayani
Alamat : Klungkung, Bali.
TTL: Klungkung, 5 Maret 1995
Zodiak : Pisces
Sekolah : SMA N 2 Semarapura, Bali.
Hobby: Menulis, menyanyi dan berpetualang
Tentangku : Aku ilalang kecil yang sedang mencoba untuk menjangkau langit, walau itu terbilang mustahil namin aku percaya, langit yang akan menyentuhku dengan kilauan-kilauan cahayanya yang indah :)

Baca juga Cerpen Sedih yang lainnya.