Senin, 27 Februari 2012

Terhampar Luasnya Ruang Hati (Cerpen Motivasi)

TERHAMPAR LUASNYA RUANG HATI
Cerpen A.R. Wahid

Seorang guru Sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampakmurung. “Kenapa kau selalu murung nak? Bukankah banyak hal yang indah didunia ini?” sang guru bertanya. “Guru, belakanan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi sayau untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya,” jawab sang murid muda.

Sang guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.” Si muridpun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

“Coba ambil segenggam garam itu dan masukan ke dalam segelas air,”kata sang guru. “Setelah itu coba kamu minim airnya sedikit.” Si muridpun melakukanya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.”Bagaimana rasanya?’ Tanya sang guru. “Asin dan perutku jadi mual,”jawab si murid dengan wajah masih meringis. Sang Guru tersenyum melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

“Sekarang kamu ikut aku.”Sang guru membawanya ke danau di dekat mereka.”Ambil garam yang tersisa dan tebarkanlah ke danau.”Si murid menebarkan segenggam garam sisa ke danau tanpa bicara apapun. Rasa asin dimulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dimulutnya, tapi tak dilakukanya. Tak sopan rasanya meludah di hadapan mursyid.

“Sekarang coba kamu minum air danau itu,”kata sang guru sambilmencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat dipinggir danau. Si murid menangkupkan kedua tanganya , mengambil air danau dan meminumnya. Ketika air dingin segar mengalir di tenggorokanya, sang Guru bertanya,”Bagimana rasanya?”

“Segar, segar sekali,”kata simurid sambil mengelap bibirnya. Tentu saja air danau ini berasal dari sumber mata air diatas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil dibawah. “Terasakah rasa garam yang kau taburkan?” tanya sang Guru. “Tidak sama sekali,”kata si murid sambil mengambil air minumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum dan membiarkan muridnya mengambil minum sampai puas.

“Nak,”kata sang Guru setelah muridnya selesai minum.”Segala masalah dalam hidup ini seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang kau hadapi dalam hidupmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetapi segitu-gitu aja tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia inipun demikian. Tidak ada satupun manusia,walau dia seorang nabi yang terbebas dari penderitaan dan masalah.”

Si murid terdiam mendengarkan.”Tapi Nak, Rasa ‘asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya ‘qalbu’(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, Berhentilah Menjadi Gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu sebesar danau.”

**
Hemm, sahabat fillah terkadang masalah yang kecil menjadi besar takkala hati kita sempit. Banyak sekali kita menyaksikan dalam perjalanan hidup kita ada orang saling bunuh hanya karena masalah yang kecil. Masalah yang kecil itu menjadi besar takkala hatinya sempit.

Perbesarlah ruang hati kita dan jadilah lebih bijaksana dalam menghadapi masalah. Niscaya solusi akan terhampar seiiring dengan terhampar luasnya ruang hati kita.

semangatlah..

***

Salam santun dan keep istiqomah.

Baca juga Cerpen Motivasi yang lainnya.

Minggu, 26 Februari 2012

Kemerdekaan - Cerpen Putu Wijaya

KEMERDEKAAN 
Cerpen Putu Wijaya

Seorang maestro menyerahkan karyanya yang terbaru kepada Gubernur sebagai hadiah untuk Peringatan Hari Proklamasi yang ke-63. Pelukis yang karyanya sudah menembus angka 3 milyar di Balai Lelang Singapura itu, ingin mengabadikan namanya di Gubernuran. Tentu saja semua menyambut gembira.

Gubernur menyelenggarakan resepsi khusus untuk pembukaan bungkusan lukisan dan sekaligus upacara penggantungan karya itu di ruang tamu Gubernuran. Seorang sutradara film yang yang filmnya lagi laku keras, ditarik dari tempat shooting film barunya, untuk mempimpin.
“Kalau China menyelenggarakan upacara pembukaan olimpiade begitu spektakuler, kita juga akan menandinginya dengan perayaan 17 Agustus yang tidak kalah pamornya,”kata Gubernur.

Para wartawan dikerahkan untuk hadir. Sekitar seribu orang tamu memenuhi ruang dalam dan halaman gubernuran. Di antaranya ada yang sengaja datang dari Jakarta, ingin menyaksikan peristiwa yang menelan biaya ratusan juta itu.
“Saudara-saudar hadirin, para tamu, undangan yang saya muliakan,”kata Gubernur dengan wajah berseri-seri membuka malam peringatan itu. ” Sebentar lagi kita akan memasuki genap 63 tahun merdeka. Selama ini kita tidak meragukan partisipasi semua orang di dalam merebut, menjaga dan kemudian mempertahankan kemerdekaan. Tetapi malam ini benar-benar istimewa, karena kita akan melihat bukti bahwa seorang seniman, tidak lagi hanya sibuk mengurus seni, tapi juga ngutus bangsa dan negara. Pelukis besar kita ini, menunjukkan langkah konkrit, sumbangannya pada negara dengan menyumbangkan sebuah katyanya yang berjudul Kemerdekaan. Silakan dibuka!”

Semua berkeplok tangan. Lalu sorot menyala. Seorang penari muncul. Dengan lemah gemulai dia mendekati bungkusan lukisan dan mulai membukanya perlahan-lahan. Tetapi gagal. Kemudian muncul 10 penari laki-laki. Mereka menggebrak. Tetapi bungkusan itu masih tetap tidak bisa dibuka. Akhirnya muncul puluhan penari lagi. Mereka mengangkat lukisan itu. Cahaya lampur berpedar-pedar. Asap mengepul. Tapi bungkus lukisan itu masih belum terbuka. Lalu terdengar suara seorang yang menembangkan puisi:
“Tak mungkin membuka kemerdekaan sendiri. Tak bisa mengejar kebebasan terpisah-pisah. Duaratus dua puluh juta tangan harus bergerak seretak, satu hentakan untuk membuat masa depan menjadi nyata. Kemerdekaan adalah persatuan. Kemerdekaan adalah kebersamaan. Kemerdekaan adalah melupakan perbedaan dengan tulus ikhlas dan dengan cinta menempuh jalan bersama dalam damai.”

Tiba-tiba bungkus lukisan itu terurai. Nampak lukisan itu. Tetapi belum jelas. Masih terhalang oleh bungkus kertas dengan tulisan: Kemerdekaan. Semua orang lalu mengaraknya dan menggantungkannya di dinding. Sesudah itu perlahan-lahan semuanya kembali. Panggung pun sepi.
Dengan diiringi lagu Rayuan Pulau Kelapa, Gubernur maju dan merobek kertas pembungkus. Lampu menyorot. Lalu terlihat lukisan itu secara utuh. Tetapi semua orang terkejut.

Lukisan itu ternyata sebuah bendera merah-putih yang compang-camping karena tercabik-cabik angin. Di bawahnya nampak tumpukan mayat. Matahari kelihatan garang menyala menyemburkan api. Beberapa orang berdiri garang seperti hendak memotong tiang bendera dan menggantikannya dengan sebuah bendera yang lain.
“Ya Tuhan mengerikan sekali!” bisik beberapa ibu pejabat.

Gubernur pun bengong. Ia tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Para wartawan cepat bergerak mengabadikan lukisan itu dengan jepretan bertubi-tubi. Gubernur terlambar mengangkat tangan.
” Stop! Stop! Jangan dipotret!”

Para petugas muncul dan mengamankan. Terjadi keributan, karena wartawan-wartawan terus mendesak ingin memotret. Seorang petugas merebut kamera seorang wartawan. Yang punya kamera mempertahankan mati-matian. Akhirnya agar tidak menjadi kekacauan Gubernur terpaksa membiarkan lukisan itu dipotret. Tetapi kemudian ia berpidato panjang.
“Saudara-saudara, lukisan ini, adalah kesaksian dari seorang maestro yang sekarang hidupnya lebih banyak di luar negeri. Kata orang, semakin jauh orang, sebenarnya ia semakin pulang. Dari luar negeri, wajah negeri kita konon nampak lebih jelas. Inilah salah satu gambarannya. Kita boleh tidak suka,. Karena kita menginginkan wajah yang lebih baik. Tetapi atas nama kemerdekaan, inilah salah satu penglihatan tentang siapa sebenarnya kita. Apakah saudara-saudara setuju lukisan ini akan kita gantung di sini?”

Tidak ada yang menjawab. Mungkin sekali tidak berani.
“Bapak sendiri bagaimana?” tanya seorang mahasiswa.
“Selaku pribadi, saya memang ingin memajang lukisan maestro kita ini sebagai tanda penghormatan. Tetapi selaku gubernur, pejabat pilihan saudara-saudara sendiri, saya wajib menjalankan kehendak saudara-saudara. Jadi bukan perasaan saya yang penting, namun perasaan kalian semuanya. Apakah kalian setuju kalau lukisan yang melukiskan diri kita yang te****ang ini, kita gantung di sini agar semua tamu melihatnya?”

Tidak ada yang menjawab.
“Apakah saudara-saudara tidak malu te****ang bulat di depan tamu?”
“Te***jang bulat bagaimana, Pak,”tanya seorang Ibu.
“Bendera kita yang compang-camping dan sudah hampir terbakar, belum lagi ada orang hendak menggantikannya dengan bendera lain. Itu gambaran blak-blakan yang sama saja artinya kita bu##l; tanpa selembar kain pun di depan orang. Betul tidak?”
“Maksud Bapak p**no?”

Gubernur berpikir tapi kemudian menjawab tegas.
“Ya, p**no!!”

Semua terdiam.
“Kalau saudara-saudara setuju pornographi ini digantung di sini, di ruang tamu sehingga semua tamu melihatnya, selaku Gubernurb pilihan rakyat saya tidak bisa berkata lain, ya pasang saja. Tapi kalau saudara bilang kemerdekaan itu dibatasi oleh kemerdekaan otang lain yang tidak membenarkan kita memajang hal-hal yang bersifat p**no, saya akan copot sekarang juga? Bagaimana?”

Tak ada yang menjawab.
“Bapak sendiri bagaimana?”
“Lho, saya mewakili kepentingan saudara-saudara. Kalau saudara-saudara setuju, baik akan saya gantung. Tapi kalau tidak, buat apa digantung?”

Semuanya terdiam. Tiba-tiba sang maestro yang melukis Kemerdekaan itu maju..
“Lebih baik jangan dipajang, Pak Gubernur!”

Gubernur mengernyitkan dahinya.
“Kenapa? Karena p**no?”
“Semula saya memang membuat lukisan Kemerdekaan ini untuk digantung di sini. Tetapi begitu tadi melihat sendiri dia sudah tergantung, hati saya berontak. Lebih baik Kemerdekaan digantung di dalam hati saja. Karena kalau sudah diobral begini, akan jadi p**no, kita akan cepat sekali lupa!”

Baca Juga Cerpen Pendidikan yang lainnya.

Kartini - Cerpen Putu Wijaya

KARTINI
Cerpen Putu Wijaya

Subuh hari pintu rumah Amat digedor. Seorang tetangga muda muncul di depan pintu dengan muka berbinar-binar.
“Pak Amat, anak saya sudah lahir, selamat dan sehat.”

Darah Amat yang tadinya sudah naik langsung surut.
“Bagus! Selamat! Anak pertama kan?!
“Betul Pak Amat. Tolong!”
“Tolong?”
“Kasih nama. Saya belum punya nama.”

Amat cepat berpikir. Hari Kartini baru saja lewat. Ia langsung menggapai.
“Beri nama Kartini!”

Bapak muda itu terpesona. Amat langusng cepat mengguncang tangannya.
“Tak usah nama yang muluk-mulul, apa artinya nama, biar anak itu sendiri uang mengubah namanya,. Siapa pun kamu sebut dia, kalau dia dididik dengan baik, dia akan jadi sejarah yang berguna bagi otang banyak. Selamat!”

Anak muda itu masih bengong, tapi Amat tidak memberinya kesempatan bertanya lagi, langusng menutupkan pintu lagi.
“Lagi asyik-asyiknya, ada saja yang ganggu. Masak subuh-subuh begini nanya minta nama segala, “kata Amat sembari masuk kamar menghampiri Bu Amat. “Kalau belum siap punya anak, kenapa bikin anak. Masak nama saja bingung, Nanti kalau beli susu, periksa dokter, pasti lebih bingung lagi. Sudah sampai di mana kita tadi, Bu?”

Bu ternyata sudah tidur pulas kembali. Amat kecewa berat.
Tapu besoknya Bu Amat malah marah-marah.
“Bapak keterlaluan!”
“Lho, bukannya Ibu yang keterlaluan! Baru ditinggal sebentar sudah ngorok lagi!”
“Masak ngasih nama anak orang Kartini.”
“Lho, memang kenapa? Ibu Raden Ajeng Kartini kan orang besar. Tokoh sejarah. Nama itu bukan soal sepele. Memberi nama anak harus dengan cita-cita, akan jadi apa anak itu kelak. Ibu Kartini kan sudah berjasa membangkitkan kaum perempuan di Indonesia supaya percaya diri. Dia itu hebat, Bu!”
“Memang. Tapi tidak semua orang yang namanya Kartini bisa seperti RA Kartini!”
“Makanya yang namanya usaha itu penting, jangan hanya bergantung dari nama tok. Itu namanya klenik. Nama sakti juga kalau pendidikannya tidak becus jadi sampah. Lihat itu anak tetangga kita namanya Gajah Mada, mau bapaknya supaya jadi orang besar, eh nyatanya cumakusir dokar.”
“Mendingan Gajah Mada. Jelas. Kok Kartini!”
“Lho tidak bisa dibandingkan begitu, Bu. Sebesar-besar Gajah Mada, orang Sunda benci sama dia. Sementara Kartini, walau pun hanya bangsawan Jawa, tapi perjuangannya sangat berarti untuk membebaskan kaum perempuan di seluruh Indonesia yang sampai sekarang nasibnya masih di bawah telapak kaki lelaki!”
“Betul! Tapi kalau anak laki diberi nama Kartini, itu namanya sudah sinting!”

Amat terkejut.
“Lho, jadi anaknya laki-laki?”
“Sejak 5 bulan lalu dokter sudah bilang lelaki. Kok kasih nama Kartini?”

Amat bengong. Ia cepat memakai sandal dan bergegas ke rumah tetangga itu. Anak muda itu sudah hampir hendak berangkat ke klinik bersalin membawa perlengkapan untuk istri dan anaknya.
“Terimakasih Pak Amat.”
Amat jadi salah tingkah. Dengan malu dia mengulurkan tangan minta maaf.
“Maaf, Bapak tidak tahu. Aku memberikan nama sembarangan. Jangan pakai nama itu!”
“Tidak apa Pak Amat. What is a name. Saya berterimakasih sekali Pak Amat tidak marah digedor subuh begitu. Namanya bagus.”

Amat bingung.
“Lho jangan ngasih nama anakmu Kartini!”
“Tapi Raden Ajeng Kartini kan pahlawan Pak Amat. Saya harap nanti anak saya akan berguna kepada bangsa seperti Kartini.”
“Jangan! Kenapa mesti kasih nama Kartini!”
“Itu kan pemberian dari Pak Amat?”
“Jabis aku kan tidak tahu,. asal nyeplos saja!.”

Anak muda itu tertawa.
“Nama Kartini itu bagus, Pak!”
“Jangan!”

Anak muda itu tertawa lagi lalu pergi..
“Aku kira dia tersingung dan menyindir. Masak aku kasih nama anak lakinya dengan nama perempuan,” curhat Amat malam hari di meja makan.
“Makanya kalau ngomong jangan sembarangan,”kata Bu Amat, “anak itu sudah kaulan, apa pun nama yang diberikan oleh orang pada anaknya akan dia pakai. sebab sudah 11 tahun menikah belum punya anak.”

Amat terperanjat.
“Jadi dia serius akan memberi nama putranya Kartini?”
“Iya iyalah!”

Amat tak jadi makan. Ia merasa bersalah. Ia menunggu di depan rumah sampai larut malam. Ketika anak muda itu pulang dari klinik, ia langsung menyapa.
“Gus, Kartini tadi datang menemui Bapak.”

Anak muda itu terkejut.
“Siapa Pak?”
“Raden Ajeng Kartini.”

Anak muda itu tersenyum. Amat langsung mencecer.
“Boleh lanjutkan perjuanganku, bebaskan perempuan-perempuan Indonesia dari penindasan, kata RA Kartini. Merdekakan kaumku agar mendapat perlakuan setara dengan kaum lelaki. Tetapi tidak perlu menjadi lelaki. Hakekat perempuan tetap perempuan, lelaki tetap lelaki, karena itu laki perempuan akan bertemu untuk saling melengkapi. Kalau kamu menjadikan perempuan lelaki dan lelaki itu perempuan, kamu sudah menodai perjuanganku!”

Anak muda itu mengangguk
“Saya mengerti maksud Pak Amat.”
“Kalau begitu jangan kasih nama anakmu Kartini!”
“Tidak bisa Pak, sudah dicatatkan dalam akte kelahirannya.”
“Tapi kamu tidak boleh mengubah anak lelaki menjadi perempuan!”
“Anak saya perempuan Pak, bukan lelaki seperti yang diramalkan oleh Dokter.”

Baca Juga Cerpen Pendidikan yang lainnya.

Hardiknas - Cerpen Putu Wijaya

HARDIKNAS
Cerpen Putu Wijaya

Ali mendapat inspirasi dari Elvira supir trans Jakarta Blok M-Kota yang memakai pakaian daerah Palembang pada hari Kartini. Semingggu sebelum dan sesudah Hari Pendidikan nasional (2 Mei), ia ke sekolah memakai pakaian daerah.
Beberapa hari pertama, ia sempat menarik perhatian. Para murid tercengang. Tapi tidak ada yang berani bertanya. Semuanya hanya senyum-senyum menganggap guru itu mau sok nyentrik. Guru-guru lain hanya pandang-pandangan. Mereka pikir Ali sedang berusaha untuk menarik perhatian. Ada kabar burung ia jatuh cinta pada Bu Ani, guru baru yang selalu mengajar dengan memakai baju kurung.

Tetapi ketika Ali masih terus memakai pakaian daerah selama seminggu, Kepala Sekolah, kontan memanggil.
“Pak Ali, apa sebenarnya missi Pak Ali, mengajar dengan memakai pakaian daerah?”

Ali terkejut. Ia sendiri ketika pertama kali memakai pakaian daerah merasa kikuk. Tetapi setelah satu minggu, ia lupa itu pakaian daerah. Ia menganggapnya sebagai pakaian biasa. Baru ketika Kepala Sekolah menegur, ia sadar kembali ia sudah memakai pakaian daerah.
“Maaf Pak, saya tidak ada missi apa-apa. Saya hanya mencoba menyambut Hari Pendidikan Nasional, untuk mengingatkan anak-anak betapa pentingnya pendidikan. Sebab kebanyakan mereka nampaknya sekolah karena terpaksa, dipaksa oleh orang tuanya.”
“Tapi kan hari Pendidikan sudah lewat?”
“Betul, Pak.”
“Berapa lama Pak Ali mau pakai pakaian daerah begini?”
“Ya kalau diperkenankan, untuk seterusnya, Pak.”

Kepala Sekolah terkejut.
“Tapi kita kan sudah punya seragam sekolah. Pak Ali tidak suka seragam kita? Ini protes?”
“Sama sekali tidak, Pak..”
“Kalau begitu, saya minta supaya Pak Ali kembali mengenakan seragam sekolah saja kalau sedang mengajar. Di luar sekolah terserah Pak Ali.”

Ali tidak menjawab. Sebenarnya kalau tidak disuruh berhenti, ia memang sudah merencanakan untuk kembali mengajar dengan pakaian seragam guru. Tapi karena dilarang, tiba-tiba ia ingin melawan.
“Maaf Pak, “kata Ali kemudian dengan sopan, “apa memakai pakai daerah kalau sedang mengajar itu membuat ilmu yang kita ajarkan kepada murid-murid jadi cacad?”

Kepala sekolah ketawa.
“Tentu saja tidak.”
“Kalau begitu apa salahnya guru memakai pakaian daerah ke sekolah, Pak?”
“Tidak ada.”
“Tapi kenapa saya dilarang?”
“Karena sekolah kita sudah punya seragam untuk guru yang sedang mengajar. Kalau di luar jam pelajaran, Pak Ali memakai pakaian apa juga terserah. Kesepakatan sebaiknya tidak dilanggar, Pak Ali, nanti jadi preseden yang buruk Kita guru harus menjadi teladan murid-murid, Pak Ali.”

Ali terdiam. Kepala Sekolah merasa Ali sudah setuju. Tapi esoknya, Ali tetap saja mengajar dengan memakai pakaian daerag. Tentu saja ia kembali dipanggil.
“Pak Ali kelihatannya belum mengerti maksud saya, silakan memakai seragam guru kalau sedang mengajar.” Kata Kepala Sekolah dengan nada mulai keras.
“Saya sudah mencoba, Pak. Tapi badan saya tidak mau berangkat kalau pakai seragam. Jadi saya terpaksa memakai pakaian daerah kembali.”

Kepala Sekolah hampir saja tersenyum karena jawaban itu lugu dan lucu. Tapi guru-guru lain yang mendengar percakapan itu sudah terlebih dahulu ketawa. Kepala Sekolah, lalu menaikkan suaranya.
“Kalau Pak Ali tidak mau mematuhi aturan sekolah, lebih baik jangan mengajar!”
“Kenapa Pak?”
“Sebab desiplin adalah salah satu yang lemah dalam pendidikan kita. Kita pintar membuat aturan, tetapi tidak mampu melaksanakannya, sehingga semua aturan itu mubazir. Kita baru saja memperingat Hari Pendidikan. Memegang desiplin adalah salah satu dari usaha yang konkrit kalau mau memperingati Hari Pendidikan dengan sungguh-sungguh. Pak Ali mengerti maksud saya?”
“Saya mengerti. Bapak melarang saya mengajar memakai pakaian adat.”
“Bukan.!”

Ali tercengang.
“Saya melarang semua guru di sini untuk melanggar kesepakatan yang sudah kita sepakati bersama. Guru kalau mengajar harus memakai pakaian seragam guru sebagaimana juga murid kalau masuk harus memakai pakaian seragam murid. Kita tidak hanya mendidik murid menjadi pintar, tetapi kita juga mendidik jiwa murid untuk dewasa dengan memegang tegun desiplin. Dan itu caranya dengan memberikan contoh. Saya tidak memperkenankan guru memberi contoh buruk, melanggar desiplin! Paham?”
Ali terkejut karena suara Kepala Sekolah lantang, sehingga guru-guru yang lain mendengar. Meskipun tidak menjawab, esoknya, Ali tetap saja ke sekolah memakai pakaian daerah.

Ketika Ali hendak masuk gerbang sekolah, satpam langsung menahan.
“Maaf Pak Ali, kami tidak mengizinkan Bapak mengajar tanpa memakai pakaian seragam sekolah.”
“Tapi ini pakaian daerah, ini lebih tinggi dari pakaian seragam sekolah.”
“Maaf, Pak. Saya hanya menjalankan perintah.”
“Dalam militer yang pangkatnya lebih tinggi, dihormati oleh yang pangkatnya di bawah.”
“Tapi ini sekolah, Pak!”
“Sama saja. Kalau mau belajar desiplin, militer adalah biangnya. Jadi kalau mau menegakkan desiplin harus menghormati yang pangkatnya lebih tinggi! Buka pintunya!”

Satpam itu bingung. Tapi ketika Ali mau masuk, satpam cepat menghalangi.
“Aku guru, aku mau mengajar!”
“Saya hanya menjalankan tugas, Pak!”

Terjadi ketegangan. Tiba-tiba entah siapa mulai terjadi perkelahian. Murid-murid keluar dari ruangan dan kemudian rama-ramai melerai. Kedua belah pihak ditenangkan. Setelah semuanya reda, lalu Bu Ani maju dan berbicara kepada semuanya.
“Anak-anakku semua para pelajar, itulah tadi contoh ketidakseimbangan pendidikan kita. Sekolah seyogyanya menumbuhkan kecerdasan dan sekalian kebijakan, sehingga kita tidak perlu berantem karena hal-hal yang tidak perlu. Keplok tangan buat Pak Ali, Bapak Kepala Sekolah dan Satpam yang sudah memerankan peranannya dengan bagus!”
Semua murid berikut para guru berkeplok riuh.

Baca Juga Cerpen Pendidikan yang lainnya.

Merdeka - Cerpen Pendidikan

MERDEKA 
Cerpen Putu Wijaya

Agustus sudah berlalu..Satu dua kali hujan mulai turun. Bendera-bendera merah-putih yang berjajar di sepanjang jalan sudah lenyap. Memang ada juga beberapa pedagang yang masih saja ngotot memasang. Umumnya penduduk sudah menyimpan kembali benderanya untuk dikeluarkan lagi nanti tahun depan. Tetapi bendera merah-putih raksasa yang berkibar di rumah orang kaya itu masih belum diturunkan.
“Ini bukan tidak ada maksudnya,” kata Amat curiga. “Mengapa dulu dia segan memasang, tetapi sekarang justru bandel membiarkan bendera kepanasan dan kehujanan. Apakah kamu tidak perlu ke sana lagi dan bertanya, Ami?”

Ami menggeleng.
“Saya sudah kapok, Pak. Kalau Bapak mau silakan saja tapi jangan bawa-bawa Ami.”
“Kenapa?”
“Kami anak-anak muda tak tertarik lagi dengan sandiwara over actingnya itu.”
“Apa maksudmu dengan over acting?”
“Mantan wakil rakyat itu dengan segala macam caranya sedang berusaha memikat perhatian kita. Tak usah diladeni. Masih masih orang yang lebih pintar dari dia yang perlu kita perhatikan.”
“Siapa?”
“Kami.”
“Kami siapa?”
“Ami misalnya.”
“Karena kamu anak muda?”
“Jelas!”
“Tapi apa kamu punya uang 5 milyar?”

Ami terbelalak. Amat segera berpakaian. Mengenakan sepatu dan baju batik. Ami terpaksa bertanya.
“Bapak mau ngapain?”
“Ke rumah orang kaya itu.”
“Menanyakan mengapa dia tidak menurunkan bendera?”
‘Tidak. Menagih janjinya untuk menyumbang 5 milyar. Kalau gagal, baru menanyakan mengapa dia tidak menyimpan bendera padahal sudah tahu sekarang kita hampir memasuki musim hujan.”
“Kenapa Bapak jadi ngurus sumbangan orang?”
“Sebab Bapak tidak mau dia menjadi terkenal hanya karena mengancam akan menytumbang 5 milyar. Kalau mau nyumbang, nyumbang saja seperak juga akan diterima baik. Jangan menyebar kabar sabun menyumbang 5 milyar tapi tidak ada prakteknya. Itu kan membuat semua orang mimpi.”

Ami masih terus hendak mendesak, tapi Amat menutup percakapan.
“Nanti saja kalau Bapak sudah pulang dari sana!”

Ami geleng-geleng kepala. Dia kasihan kepada bapaknya yang sudah tua dijadikan permainan oleh orang banyak. Ditokohkan sebagai nara sumber dan panutan. Tapi giliran menagih sumbangan didaulat untuk jalan kaki sendirian bagaikan pengemis pada orang kaya yang pasti tidak akan sudi membuka dompetnya dengan selembar rupiah pun. Apalagi 5 milyar.
“Orang kaya tidak akan mungkin berduit kalau tidak pelit. Lihat saja nanti hasilnya pasti nol!” kata Ami mengadu pada ibunya.
“Biar saja Ami, daripada bapakmu ngerecokin di rumah, biar dia ke sana, siapa tahu beneran.”
“Ibu jangan begitu. Meskipun sudah pensiun, tetapi Bapak itu masih sama bergunanya dengan orang lain, asal jangan memposisikan dirinya sudah tua.”
“Tapi Bapakmu kan memang sudah tua.”
“Memang, tapi keberadaan orang tua sama pentingnya dengan anak muda.”
“Ya itu dia. Makanya Bapakmu sekarang ke sana mengusut sumbangan 5 milyar itu. Kalau kejadian kan kita semua untung. Sekolah berdiri dan kita dapat 10 persen.”

Ami terkejut.
“Sepuluh persen apa?”
“Lho kamu tidak tahu toh? Siapa saja yang berhasil mengumpulkan uang sumbangan untuk melanjutkan pembangunan gedung sekolah kita dapat bagian 10 persen dari sumbangan itu..”

Ami tertegun. Andaikan benar, tak usah sepuluh, satu persen dari 5 milyar saja kehidupan keluarga Amat akan bersinar. Ami langsung bermimpi. Apa saja yang akan dia beli kalau missi bapaknya berhasil. Ia sampai terlena di kursi menunggu bapaknya pulang.
Ketika Amat masuk rumah, ia heran melihat Ami menggeletak di kursi.
“Bangun Ami, nanti kamu masuk angin.”

Ami terkejut, tapi kemudian langsung bertanya.
“Bapak berhasil?”
“Ya.”

Ami berteriak: yes!
“Stttt jangan teriak sudah tengah malam ini.”
“Jadi Bapak akan dapat sepuluh persen?”
“Ya.”
“Sepuluh persen dari 5 milyar?”
“Tidak. Dia mengubah angkanya.”
“Berapa. Sepuluh milyar?”
“Seratus ribu.”
“Ah? Berapa?”
“Seratus ribu.”
“Lho kenapa?”
“Bapak bilang kepada dia baik-baik. Tidak usahlah menyumbang sebanyak itu. Malah nanti akan menimbulkan persoalan dan pertengkaran kita di sini. Di mana-mana duit biasanya membuat cekcok. Jadi Bapak bilang, daripada kawasan kita yang damai ini menjadi neraka yang penuh dengan saling curiga-mencurigai, lebih baik jangan membuat persoalan. Sumbang yang wajar saja, seratus ribu sudah cukup untuk memancing para warga lain menyumbang.”

Ami ternganga.
“Aduh, Bapak kenapa jadi bego begitu?”
‘Karena Bapak tahu semua omongan 5 milyarnya itu hanya isapan jempol. Daripada dia terkenal karena hisapan jempolnya itu, kan lebih baik dipaksa bertindak yang konkrit saja dengan nyumbang seratus ribu. Itu untuk menutupi rasa malunya sudah keceplosan ngomong 5 milyar, sampai-sampai dia tidak berani lagi tinggal di rumah karena takut ditagih. Itu sebabnya selama ini dia menghilang bersama keluarganya, makanya benderanya tidak pernah diturunkan. Sekarang beres, dia sudah nyumbang seratus ribu, ini duitnya. Dan benderanya sudah diturunkan. Paham?”
“Tidak.”

Amat terhenyak. Lalu menjatuhkan badannya ke kursi seperti nangka busuk.
“Bapak juga tidak paham. Mengapa dia mau. Padahal Bapak hanya mengertak maksudku supaya dia malu dan langsung nyumbang 5 milyar!”

Baca Juga Cerpen Pendidikan yang lainnya.

Menebar Kedamain (Cerpen Islam 2012)

MENEBAR KEDAMIAN

Baru kali ini selama 5 tahun perkawinannya, Astiti benar-benar tidak mengerti dengan tindakan Iwan suaminya. Iwan, seorang lelaki yang alim dan sholeh membuat keputusan untuk mengontrak rumah di daerah yang lingkungannya benar-benar tidak "bersih". Sejak dipindah tugas oleh kantornya di daerah ini, maka mau tidak mau kami harus mencari kontrakan lagi di daerah yang dekat dengan kantor suaminya. Untuk bertahan tinggal di tempat dulu, rasa-rasanya tidak mungkin lagi karena gaji suaminya akan ludes hanya untuk transport dan lagi jaraknya cukup jauh.

Sebenarnya rumah yang akan mereka tempati nanti sangatlah ideal, dan lagi harga sewanya yang cukup murah untuk rumah se type ini, sepetak rumah ukuran 100 meter persegi ditambah pekarangan yang mengelilingi cukup luas. Tempat seperti ini tidak pernah dijumpainya pada "rumah-rumah" nya terdahulu.Tetapi hanya satu yang membuat Astiti tidak suka, yaitu lingkungan sekitarnya yang amat sangat tidak mendukung. Di ujung gang masuk terdapat warung temapt berkumpulnya pemuda-pemuda yang suka mabuk. Kalaulah sudah malam hari suara "genjrang-genjreng" irama musik sangat memekakkan telinga ditambah lagi lingkungan tetangga di daerah ini sangat tidak familiar menurut Astiti. Atau mungkin melihat penampilan Astiti yang lain dari kebanyakan wanita disini dengan menggunakan kerudung yang selalu menutup auratnya. Juga satu lagi yang membuat Astiti paling tidak suka adalah di gang sebelah terdapat sebuah rumah "bordil" sarang maksiyat. Kata orang-orang di sekitar sini rumah bordil tersebut tanpa ijin Pemda setempat alias beroperasi secara gelap tetapi tergolong besar. Tetapi Astiti tidak perduli, mau gelap kek terang benderang kek kalau yang namanya sarang maksiyat tetap saja berdosa, dan sampai saat ini Astiti tidak pernah dan tidak akan mau melihat atau melewati gang sebelah. Ihh Astiti bergidik... Naudzubillahi min dzalik.

"Ada apa dek..kok melamun terus sih...udah selesai belum membongkar kotaknya ?" Teguran mas Iwan membuyarkan lamunan Astiti. "Hhemmm...mana bisa beres sih mas dalam waktu singkat" jawab Astiti dengan ogah-ogahan. "Yaaa..mana bisa cepat selesai kalau sama ngelamun begitu...ada yang bisa di bantu dek..?" tanya Iwan ramah. "Banyak sih kalau mau bantu..... itu kotak-kotak di ruang tamu sama sekali belum aku bongkar, kotak yang sudah dibongkarpun belum sempat aku bereskan " Jawab Nastiti agak meninggi..entah karena letih atau hatinya kurang sreg tinggal di rumah baru ini. "Ya sudah sini biar mas bantu..pokoknya tanggung beres deh.." Iwan menyahut dengan sabarnya. Memang kalau Astiti sudah terlihat bersungut-sungut terus pertanda hatinya diliputi perasaan kesal dan kalau sudah begitu Iwan tidak akan menanggapi...percuma kalaupun ditanggapi pun nantinya akan meletuplah pertikaian-pertikaian kecil.

Walaupun sudah sepekan mereka boyongan ke rumah baru tersebut, tetapi Astiti masih malas membongkar kardus-kardus barang dan segera merapihkannya. Bahkan ada bebrapa kardus memang sengaja tidak di bongkar olehnya. Karena Astiti berharap kepindahan di rumah ini tidak akan lama. Dan ia berharap Iwan segera dipindah lagi tugas kantornya ataupun kalau tidak mereka menemukan rumah kontrakan lagi yang lebih indah lingkungannya.

Enggan pula Astiti untuk melakukan silaturahim dengan tetangga kanan kirinya. Pikirnya percuma saja diajak menuju kebajikanpun susah akan berhasil. Alhasil selama ini Astiti hanya mengurung diri dan anak-anaknya di dalam rumah saja. Pertama yang ia takutkan adalah banyaknya "virus-virus" yang akan menggerayangi anak-anaknya, apalagi Abdullah sudah berusia 3 tahun dan Ahmad 1 tahun akan mudah sekali meniru apa yang dilihat dan didengar Entah apa omongan para tetangga yang beredar Astiti tidak mau tahu. Bahkan Astiti pun melarang mbok Yem khadimat yang telah menemaninya semenjak ia anak-anak untuk tidak bergaul terlalu dekat dengan tetangga sekitar.

Semenjak Astiti kecil memang dilahirkan dalam lingkungan yang bersih, dan tidak pernah terlintas sedikitpun di dalam pikirannya tinggal di daerah seperti ini. Masa kanak-kanaknya dihabiskan di lingkungan pesantren, karena Ayahnya termasuk pengajar pesantren. Kemudian ketika menginjakkan kakinya di bangku perguruan tinggi, teman-temannya banyak sekali orang-orang yang aktif dalam kajian keislaman dan Astitipun meleburkan diri dalam aktifitas tersebut. Bahkan setelah menikah dengan Iwan tempat tinggalnya tak jauh dari pusat pendidikan Islam yang besar sehingga lingkungan sekitarnya banyak sekali para keluarga Islami yang menyekolahkan anak-anaknya di sekolah tersebut. Jadi selama ini Astiti selalu tinggal di daerah yang bersih dan terisolasi dari virus yang merusak iman.
*******

Siang itu Astiti pulang dari belanja dan seperti biasanya ia naik mikrolet. Ketika turun dari mikrolet tiba-tiba terdengar celetukan orang dari dalam. "Ehh..nggak nyangka pake jilbab turunnya di warung mang Dirun.." Deg...Asititi terhenyak mendengar celetukan salah seorang penumpang di mikrolet. Ternyata warung mang Dirun tempat berkumpulnya para pemuda berandalan itu terkenal akan kejelekannya. Perasaan Astiti jadi tak menentu.Sesampai dirumah ia menangis menjadi-jadi. Semakin tak betahlah Astiti tinggal di daerah ini. Kesal juga ia tujukan kepada Iwan suaminya, mengapa begitu teganya memilihkan tempat tinggal di lingkungan ini untuk keluarganya. Malam hari sepulang Iwan pulang dari kantor, Astiti menguraikan perasaan yang menggumpal di dadanya. "Mas...kok begitu tega memilihkan tempat tinggal di daerah ini buat kita" tanya Astiti "Emangnya..kenapa to dek..dek..bukannya dimanapun di Bumi Allah itu sama" timpal Iwan " Lho bagaimana sih Mas Iwan ini, lha dekat tempat maksiyat kok ya di jadikan alternatif tempat tinggal...emang nggak ada tempat kontrakan lagi yang lebih baik.." "Ada sih dek tapi itu di perumahan elite seberang jalan, kalau dek Asti mau tinggal di sana gaji Mas nggak cukup..maaf ya dek" canda Iwan. "Mas Iwan sih enak, pergi pagi ke kantor pulang sudah menjelang maghrib, sedangakan aku... mas yang disini sepanjang hari sudah tidak betah melihat berbagai kemaksiyatan di depan mata" Astiti semakin kesal saja dengan Iwan yang masih bisa bercanda padahal ia sudah gondok sekali. "Sebenarnya sebelum Mas putuskan untuk memilih tempat tinggal disini, sudah putar kesana kemari mencari kontrakan. Ada yang di gang samping kiri itu rumahnya kecil sekali hanya ada satu kamar tetapi kontrakannya 2 kali lipat di sini. mas juga heran dek mengapa harga kontrakan rumah ini begitu murah.. Menurut pak RT, karena yang menempati rumah sebelum kita ditemukan bunuh diri dengan gantung di pohon mangga di pekarangan. Hemm apa itu yang membuat dek Asti takut tinggal disini..."tukas mas Iwan "Masya Allah mas...biarpun ada seratus demit, jin dan sebangsanya mengganggu kita ..Insya Allah aku nggak takut mas.." "Bener nih.." selidik mas Iwan. "Rasulullah kan bersabda apabila hendak mencari tempat tinggal, kita juga harus melihat tetangga kiri kanan alias kita juga harus memperhatikan lingkungannya.." timpal Astiti. "Lalu de Asti mau apa...mau pindah, atau mau tinggal di rumah bapak ..." tanya Iwan dengan sabarnya. Astiti terdiam seribu bahasa. "ya..memang idealnya rumah yang akan ditempati memang seperti demikian. Tetapi kalau kondisinya seperti ini bagaimana dek...Lagian Mas sudah membayar uang kontrakan selama setahun, sayang khan kalau kita sudah keburu pindah.."Iwan menjelaskan. Astiti tetap berdiam saja. "Sabar dulu ya dek...Insya Alloh ini merupakan ujian bagi kita. Dimanapun juga kita tinggal yang namanya ujian itu pasti ada dari Alloh. Nah itu artinya kita sebagai orang beriman karena Alloh mendatangkan ujian buat hambanya..." jelas Iwan, "Tinggal bagaimana kita bisa melaksanakan ujian ini atau tidak, artinya kita dapat tinggal di daerah ini tanpa kita teracuni, dan yang terpenting bagaimana kita dapat ber'amar ma'ruf nahi munkar terhadap tetangga.."

Kalau sudah begini Astiti sudah tidak dapat mengelak lagi argumen Iwan, karena yang dikatakannya memang ada benarnya. Tinggal bagaimana Astiti menterjemahkan kata sabar dalam kehidupannya sekarang ini. memang benar-benar harus sabar karena tidak terdengar suara adzan Duhur , Asar serta isya', sebagai gantinya terdengar nyanyian musik dangdut. Hanya terdengar adzan Maghribdi surau yang amat sangat kecil dan jarang dipenuhi jamaah.
******

Siang ini terjadi sebuah insiden kecil di dapur Astiti. Rupanya mbok Yem terburu-buru memasukkan minyak di dalam kompor dan minyak berceceran kemana-mana, sehingga ketika akan dipakai kompor tersebut meledak dan menimbulkan suara keras. Astiti yang baru saja menyelesaikan shalat duhur di kamar menjadi panik. Ia langsung menyambar Ahmad dan Abdullah yang sedang tertidur lelap. Mereka berdua merupakan kekayaan yang paling berharga buatnya di dunia ini. Dan segera memerintahkan mbok Yem segera pergi. Terlihat tangan mbok Yem sebelah kiri agak melepuh. mungkin sedikit terkena jilatan api. Keluar rumah Astiti langsung berteriak minta tolong, segeralah berdatangan para tetangga untuk menolongnya. Sedangkan dari arah warung mak dirun, para pemuda yang biasanya berkongkouw-kongkouw langsung masuk ke rumah Astiti, sekitar lima belasan orang pemuda masuk dan segera membantu memdamkan api yang menjilat dapur Astiti. Tampak semangat sekali mereka. Ada yang mengambil air di sumur, ada yang menyemprotkan air dari keran, ada yang mengambil pasir untuk disebarkan ke arah api.

Sedangkan Astiti bersama dua anaknya dan mbok Yem berada di rumah mbak Marni tetangga sebelahnya. Mbak Marni mengambilkan air putih untuk Astiti, dan mbak Lastri tetangganya pula membantu meredakan tangis Ahmad yan kaget melihat kejadian di rumah nya. "Bu Iwan...sabar ya bu...ini air putih ayo diminum dulu, ayo mbok Yem di minum juga " suruh mbak Marni. "Terima kasih ya mbak Marni" ucap Astiti lirih. Pada saat genting seperti ini Ia hanya pasrah kepada Allah saja. "Bu..kalau api belum bisa padam nanti bisa tidur di rumah saya saja, kasihan anak-anak" ajak mbak Marni. Astiti hanya bisa mengiyakan, di dalam hatinya hanya berdoa agar api tidak menjalar kemana-mana.

Suasana jalan di rumahnya, siang ini benar-benar ramai sekali. Tetangga-tetangga Astiti bahu membahu memadamkan api yang ada di rumah Astiti. Alhamdulillah tidak sampai setengah jam api berhasil di padamkan, berkat kerja keras para warga dan juga bantuan pemuda-pemuda itu yang berani memadamkan api sehingga jilatannya hanya sampai dapur saja. Itupun hanya daerah di sekitar kompor saja yang terkena, barang-barang lain di dapur dapat diselamatkan.
******

Kejadian siang itu, telah membuka hati Astiti. Ternyata para pemuda yang selama ini amat dibencinya, telah membantu keluarganya untuk memadamkan api. Ternyata mbak Marni tetangga sebelah rumah, yang bekerja pada malam hari, dan sempat membuat Astiti menjadi tak suka telah banyak membantunya. Ternyata mbak Lastri, mbak Mur, mbak Rini yang sering berdandan menor juga membantu Astiti dengan suka rela. Ternyata bu Dedeh, bu Jali, bu Anom yang sering terlihat oleh Astiti ngerumpi di mana-mana mambantunya pula....
Dari kejadian ini Astiti segera tersadar bahw sebenarnya mereka pada dasarnya adalah orang-orang yang baik, tetapi mungkin tidak ada yang mengarahkan jadilah masyarakat seperti ini. Selama ini ternyata ber amar ma'ruf nahi munkar yang Astiti terima hanya sebatas konsep-konsep belaka dan belum pernah dipratekkan dalan kehidupan sehari-harinya.

Kemudian segera Astiti mendiskusikan dengan Iwan suaminya bagaimana cara-cara berdakwah di lingkungan seperti ini. Tentu saja Iwan senang sekali mendengar penuturan dan semangat Astiti. Akhirnya mereka berdua membagi tugas, stiti mencoba mendekati para ibu dan anak-anak sedangakan Iwan mencoba mendekati para pemudanya. Di sela-sela kesibukan yang menumpuk, mereka berdua mencoba mengimplementasikan konsep dakwah yang pernah dipelajari.

Pertama-tama yang dilakukan Astiti adalah mencoba mendekati anak-anak kecil. Astiti mengundang sekitar 30an anak -anak seusia 4 tahun sampai 7 tahun dengan alasan syukuran.Dibuatkan kantng-kantong kecil berisi permen dan biskuit. Permainan anak-anak yang meriah di pekarangan rumahnya yang cukup luas dibuatnya. Kalau sudah begini Astiti bersyukur sekali mempunyai pekarangan rumah yang cukup luas.Setelah capai bermain, anak-anak diajaknya berkumpul untuk dicoba mengetahui hafalan surat dan sedikit pengetahuan tentang agama. Cukup shock juga Astiti terhadap anak-anak seusia tersebut ternyata tidak hafal dengan surat Al Fatihah. Tetapi lagu-lagu dangdut mereka cukup fasih melantunkannya.

Sekarang kalau sore hari, anak-anak banyak yang bermain di pekarangan rumah Astiti. Sekarang mereka tidak takut terhadap sosok Astiti, yang menurut mereka dahulu terlihat amat galak. Astiti tersenyum sendiri. Lama-lama anak-anak yang suka bermain di pekarangan rumah diajak untuk shalat Maghrib berjamaah dengannya, tentu saja hal ini merupakan sesuati yang baru bagi anak-anak itu. Tetapi mereka menyambut dengan senang. Kemudian dilanjutkan dengan belajar mengaji.

Semakin lama jumlah anak-anak yang sering menyemarakkan rumah Astiti bertambah. Kalau dulu hanya sekitar 10 orang, sekarang berjumlah sekitar 25an anak. Kadang Astiti semakin kewalahan karena banyaknya. Dan ia sekarang dipanggil ibu Haji oleh anak-anak itu, ia hanya meng amin kan mudah-mudahan terkabul cita-cita mulia ini.

Sambutan positif ternyata juga bergaung pada ibu anak-anak tadi. Ibu-ibu di lingkungan ini ada yang meminta tolong agar Astiti mengajarkan membaca Alquran. Tentu saja kesempatan emas ini tidak disia-siakan olehnya. Tersebutlah nama mbak Marni, mbak Lastri, mbak Mur, bu Dedeh, bu Anom dan ibu- ibu lainnya menyemarakkan rumah Astiti untuk belajar membaca Alqur'an dan juga di selingi oleh Astiti untuk mengajarkan Islam.

Iwanpun tak ketinggalan pula dalam mencoba beramar ma'ruf nahi munkar. Para pemuda yang sering berleha-leha di ujung jalan sering pula bertandang ke rumah.Mereka salut terhadap Iwan, karena Iwan yang berpendidikan tinggi mau bertutur sapa dengan mereka yang rata-rata pemuda putus sekolah dan pengangguran.

Sekarang pun jarang dijumpai para pemuda-pemuda itu ber mabuk-mabukan. Tetapi suara musik yang mereka nyanyikan kadang masih terdengar. Tetapi itupun pada hari Sabtu malam saja. Kini mereka dikoordinir oleh Iwan untuk mengerjakan suatu ketrampilan tertentu yang dapat menambah penghasilan. Jamaah di surau pun mulai ramai. Iwan berusaha menghidupkan aktifitas di surau tua itu. Sekarang suara adzan pun terdengar lima waktu berkumanadang.

Memang untuk merubah sesuatu secara frontal tidak semudah membalikkan tangan, tetapi butuh pengorbanan yang besar terutama kesabaran.Astiti dan Iwan berusaha untuk memutihkan daerah mereka yang dahulu hitam. Tentunya banyak juga halangan yang menimpa mereka. Tetapi mereka tetap optimis karena Allah lah yang menyertai mereka.

Ada lagi harapan dan cita-cita Astiti..yaitu mencoba memutihkan gang sebelah dengan lokalisasinya.Yaa tentunya cita-cita mulia ini Insya Allah akan ditegakkannya. Namun memang butuh waktu untuk itu semua. Allah akan bersama mereka...............
******
Baca Juga Cerpen Islam yang lainnya..

Sabtu, 25 Februari 2012

Cerpen Bahasa Inggris Terbaru 2012 - Who Ate The Bread?

WHO ATE THE BREAD?
By Ana Sakinah

Once upon a time, there were an old man and his son lived in a suburb. His wife has died when the boy was two years old. She got heart attack. The old man loved his son so much that he gave everything his son asked. It was because he did not want to see his son sad. He did not want to lose his only on, as he had already lost his wife. He wanted to grow his son well, so that his wife could smile.

The boy named Han. Han was sixteen and was a charming boy. He was oval-faced, thanks to his thin cheek. His eyes were as deep as the blue sea. He had a pointed nose—which shone when the sunlight passed on it. His lip was as nice as a thin cut-lemonade.

Just a week later, he would have his birthday party. The party would be the greatest party ever. All villagers would be invited to attend the party. Their house would be beautifully decorated by the professional decorators. Han’s father took his son to the most branded saloon in the city. He got his new hair-style. He also got some expensive shirts, T-shirts, and trousers that they bought in famous stores.

The day Han and his father were waiting for was coming. Han was dressed up well by the young talented artists. He wore a white shirt combined with a black jacket. He looked more handsome in that suit. The guests were also young, gorgeous girls. They tried to attack Han’s attention by wearing expensive gown and twinkle accessories. They all looked pretty, just like fairies in story tales. Some boys also attended the party. But, they were not as charming as Han.

When all guests were talking about what they were going to show to Han--in order to attacked his attention, he came out of his bedroom and greeted them. All girls stood up and were surprised to see their charming prince. The party began. The music turned on.

Some pretty girls came close to Han. Han was not interested with them, except a girl. The girl was wearing a worn, flashy pink with races on the bottom-edge costume. She did not put any accessories on her hair, unlike other girls. Her eyes were as cold as the ice in the north-pole. Her face was gloomy, just like a child who lost her beloved mother. She was sitting alone next to the pile of groceries.

Han walked up to the girl. He did not talk to her. He just looked deeply into her eyes while squatting on the ground. Then, Han began to talk. He asked the girl’s name and her intention to attend to his party. Actually, she did not want to attend Han’s birthday party. Besides that, she disliked Han and his father, that they were arrogant. She attended Han’s birthday party was just because her parents asked her to.

Did Han angry to the girl? No, he did not. Han admitted his and his father’s arrogance. Why did he do that? It was because he fell in love with the girl. He fell in love in the first sight. He saw an outstanding beauty in that girl. The girl was different from other girls. She had beautiful eyes. Her smile was like a fairy’s, eventhough she was not smiling. Her face was as bright as a full-moon. She gave a warm to Han, the warm that could never make him took his eyes off of her.

Han turned on his motorcycle. He rode it and took the girl with him. Everyone was thunderstruck. Some girls jumped on conclusion that Han was crazy. They were very disappointed because Han preferred to take the very strange and flashy girl rather than to choose them—who had given their best performance for him. Even some girls cried that they were not able to be Han’s girlfriend.

It was almost a year that Han had not come back to his house. There was no news where he was. The girl was not at her house, either. Han’s father went to see a well known shaman to look for his son. The shaman told him that Han was brought by a fairy to a very, very wonderful place.
“Was there a girl with a worn, flashy pink gown in the party?,” asked the shaman.
“Yes, there was a very strange girl with flashy costume. Han rode her and they never returned since that day,” Han’s father replied.
“Well, the girl is a fairy instead of a human being. She comes to look after a kind man, a man who is not interested by physical appearance, but he loves a girl because of her inner beauty.”
“Will he return home?,” Han’s father asked again.
“No, he will not be able to be a human anymore. The fairy has put him as her family’s member. He has dead already. You can find his body near the river whose water is red in its hilt, “ said the shaman.

Han’s father went to the river and found his son’s dead body. Then, Han was graved next to his mother’s grave. Han’s father put a piece of bread on his son’s grave instead of spreading flowers.

The next day, Han’s father came to his son’s grave, the bread became smaller. He thought that his son ate the bread. He was very happy that he always put one on his son’s grave everyday. No one could understand whether Han ate the bread or not. No one asked Han’s father why he did this out of thought thing. He just felt happy after putting the bread there.

Baca juga Cerpen Bahasa Inggris yang lainnya...