Tampilkan postingan dengan label Cerpen Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Motivasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 September 2012

Cerpen Motivasi - Fight For Life to My Sister

FIGHT FOR LIFE TO MY SISTER
Karya Resti Noviani

Hari ini suasana di rumah cukup menegangkan karena adik ku nina meronta-ronta kesakitan di sebabkan penyakit yang ada dalam tubuhnya benar-benar menyiksanya
“kak lia sakittt…”sambil menjerit-jerit
Aku tak bisa berkata apa-apa aku langsung membawanya ke puskesmas
“dokter tolong adik saya”
“iya tolong bawa masuk”
Aku langsung membawa adiku ke dalam ruangan
“tolong keluar sebentar”sambil menatapku
Aku langsung beranjak keluar dari ruanggan dan memikirkan apa yang sedang terjadi pada adikku,kenapa tiba-tiba dia meronta-ronta kesakitan tiba-tiba ayahku datang dengan tergesa-gesa
“ada apa dengan adikmu”
“entahlah tiba-tiba dia meronta-ronta kesakitan”
Tiba-tiba dokter datang
“kalian berdua keluarganya?”
“iya,kami keluarganya”serentak kami berdua
“adik kalian terkena penyakit kanker stadium 4”
“apa dok stadium4”kata-kata ku syok
“secepatnya dia harus di bawa ke rumah sakit”
“apa tidak bisa di rawat di sini saja dok?”
“perlengkapan di puskesmas ini sangat terbatas”
 
Aku langsung menatap ayahku yang penuh dengan kegalauan karena memikirkan biaya rumah sakit
“ayo kita jenguk adikmu”dengan tersenyum sepertinya ayah tidak ingin memperlihatkan kesedihanya padaku
“ayah”sambil menepuk pundaknya
“apapun yang terjadi adikmu harus sembuh”
Kata-kata itu membuatku bungkam seribu bahasa
“tapi yah”
“sudahlah uang tak akan berharga di bandingkan penderitaan adikmu”sambil terus berjalan menemui adikku
“ayah”suara adikku yang masih lemah dan lemas
“iya nina”sambil memegang tanggan adikku
“kak lia mana?”
“dia ada di luar”
“ayah tidak apa-apa?”sambil menatap senyum palsu ayah
“aku mendengar semua yang di katakan dokter pada ayah dan kak lia”
“masalah itu janggan kamu fikirkan”sambil mengelus rambut nina”
“aku akan berusaha untuk sembuh yah”
“itu usaha yang bagus”sambil tersenyum
“nanti jika aku sudah berada di rumah sakit aku inggin ayah selalu menemaniku”

Ayah hanya tersenyum dan mengelus rambut nina kembali
“ayah tidak kembali bekerja hari ini?”
“iya ayah kembali bekerja nanti”

Setelah beberapa lama ayah dan nina mengobrol tiba saatnya bagi yah untuk bekerja kembali sebagai tukang sampah di perumahan elit
“ayah bekerja dulu ya nin”
“iya yah hati-hati”
“nanti biar kak lia yang menjagamu”sambil pergi meningalkan nina
“lia jaga adikmu”
“iya yah hati-hati”

Sambil pergi meninggalkanku ,aku masuk ke dalam ruangan dan menemui nina
“kak lia”
“iya nina”sambil duduk di sebelahnya
“kak maaf ya tadi sudah merepotkan”
“iya tidak apa-apa”
“kakak aku lelah,aku mau tidur dulu”
“iya kamu tidur dulu saja besok kakak ada rencana cari kerja untuk bantu biaya rumah sakit kamu”
Nina pun megerti pada akhirnya dia terlelap tidur

Esok paginya aku terbangun lebih awal dari nina tiba-tiba aku melihat sosok orang berbaju polisi datang menghampiriku
“permisi denggan keluarga p.sarman”
“iya,bapak ini siapa?”
“kami dari kepolisian “sambil menunjukkan identitasnya
“iya ada apa ya pak?”
“kami ada berita duka buat kalian “
“apa pak”aku was-was mendengar pernyataan pak polisi
“ayah kalian meninggal dunia di hajar massa karena ketahuan mencuri uang sebesar 5juta di salah satu perumahan elit tempat dia bekerja sebagai pemulung sampah”

Aku hanya diam sambil menahan linanggan air mataku yang terus tumpah karena sudah tak terbendung lagi
“apa ayah meninggal”nina mengejutkanku dari pintu belakang
“nina sabar nina”
Nina langsung pingsan mendenggar itu puskesmas pun tak bisa menangani masalah ini jadi nina langsung di bawa ke rumah sakit sementara aku masih menggurus pemakaman ayah di tpu

Setelah pemakaman aku menghitung uang yang ku terima dari beberapa saudara dan tetangga yang menyumbangkan uangya
“560 ribu totalnya”sambil memegang uang setelah mengurus pemakaman aku beranjak ke rumah sakit menemui adikku
“kak lia “denggan wajah lusuh dan menyedihkan
“iya nina,ini kakak bawa uang buat bayar rumah sakit mu dan untuk biaya opersi nanti kakak akan bekera”sambil memperlihatkan uangnya
“ayah mana kak?”denggan ratapan tajam seolah dia tidak memikirkan sakitnya
“ayah sedang bekerja”jawabku menguatkan hatinya
“kata pak polisi ayah meninngal”
“ayah tidak meninggal polissi tadi Cuma bercanda ,ini uangkan dari ayah”
“benar ini dari ayah”tanyanya polos
“iya benar asalkan kamu mau sembuh ayah pasti pulang”denggan senyum bahagia
“iya aku pasti berusaha kak”dengan senyum yang lama tak ku lihat semenjak dia menyidap penyakit
“ya sudah kakak pergi dulu,cari kerja”sambil mengelus rambutnya
“hati-hati ya kak,salam buat ayah”

Aku tak menghiraukan apa yang ia sampaikan padaku karena ku tidak tau harus berkata apa padanya,aku terus berjalan menuju tempat admin
“permisi suster”
“iya ada apa?”
“mau bayar biaya perawatan rumah sakit juga mau Tanya biaya operasi untuk pasien yang memiliki penyakit kanker stadium 4”
“untuk perawatan rumah sakit biaya ya 300rbu/hari dan untuk biaya operasi sebesar 100juta”
“apa suster semahal itu”
“iya”
“apa tidak bisa kurang”
“itu sudah paling murah”
“kalau begitu saya bayar biaya perawatan rumah sakit dulu ya sus kalau biaya operasi apa bisa di cicil”
“bisa asal janggan sampai 1minggu karena pasien harus segera di operasi “
“begitu ya sus,ini saya bayar uang perawatanya saja dulu”
“iya 300ribu”
“ini uangnya” sambil menjulurkan uangnya
“ini kuitansinya”
“iya terima kasih”

Aku langsung mencari pekerjaaan namun mencari pekerjaan tidak semudah yang aku bayangkan berulang kali aku di tolak dari berbagai tempatyang telah ku datang I,hingga aku merasa lelah karena sampai sekarang aku belum juga dapat pekerjaaan apalagi biaya perawatan inap rumah sakit untuk hari besok belum ku bayar apalagi untuk biaya operasi hingga tiba-tiba aku melihat sebuah brosur donor darah untuk golonggan darah o tanpa piker panjang aku mendatang i alamat yang ada dalam brosur
“permisi apa benar ini alamat yang ada di dalam brosur ini?”
“iya benar”
“saya inggin mendonorkan darah saya kebetulan darah saya adalah o”
“iya baiklah kalau begitu mari ikut saya”

Tak bebarapa lama proses pengambilan darah telah selesai di lakukan
“ini uang yang saya janjikan di dalam brosur”
“iya terima kasih”sambil menerima uang 150ribu,setidaknya itu cukup untuk makan hari ini
Setelah mendonorkan darah aku jadi berfikir untuk nekat mengamen,menjual barang-barang bekas,bahkan aku juga bekerja sebagai tukang sampah seperti ayahku meski aku tau menjadi tukang sampah hanya di beri upah 25000/hari tapi aku berusaha mencari tambahan uang untuk hidup adikku yaitu denggan menjadi pengamen,tukang cuci mobil,dan penjual barang-barang asonggan.

Pukul 24.00 aku kembali ke rumah sakit dan emnemui adikku yang rella tidak tidur demi menungguku
“kak lia,sudah pulang”dengan senyum
“sudah nina,kamu tidak tidur”
“aku menunggu kakak aku tau kakak pasti capek,ini aku sudah meyisakan makanan untuk kakak”
“kakak sudah makan tadi”sambil mengelus rambut nina
“aku tau kak,kalau kak lia belum mkan “sambil menyuapi aku makan
“memang kamu sudah makan”
“sudah kak tadi dapat dari rumah sakit tapi aku Cuma makan separuh yang separuhnya buat kakak”
“kamu memang adik yang baik”sambil mengunyah makanan

Esok paginya aku kembali ke tempat admin untuk membayar perawatan rumah sakit untuk hari ini
“suster saya mau bayar uang perawatan untuk hari ini”sambil memberikan uang recehan berjumlah 300ribu
“iya,untuk uang operasinya bagaimana?”
“saya bayar 150 dulu sus”
“kalau tiap hari di cicil kayak gini kapan adik anda di operasi?”bentak suster
“saya usahakan 6 hari lagi susu.saya mohon”
“itu urusan anda”
“iya saya janji sus sebebtar lagi saya akan bayar operasinya”
“iya baiklah kalau begitu karena kalau tidak segera di operasi penyakitnya akan menjalar di seluruh tubuh apalagi penyakit adik anda sudah semakin parah”
“iya saya tau sus” sambil menanggis
“ini kuitansinya”
“iya teerimakasih”
Setelah keluar dari rumah sakit aku langsung memungut sampah di perumahan yang hanya berupah 25000 setelah itu aku mencoba mengamen di berbagai terminal.akku juga mencuci piring di rumah makan yang hanya di beri upah 50.000/hari akuk terus berjuang tiada henti ada kala aku mencuci mobil dan motor di jalan namun upah yang ku dapat hanya cukup untuk membayar biaya perawatan rumah sakit hingga terpaksa aku menjadi seorang pelacur ketika itu meski berat bagi ku namun aku terpaksa dan ini lah pilihanku tapi tuhan menlongku denggan cara lelaki yang akan meniduriku ini tiba-tiba berubah fikiran setelah ia mendengar ceritaku akhrnya dia membantuku dan tidak jadi menideuriku dengan syarat aku mau bekerja untuknya menjadi pembntu rumah tangga dan aku harus menjaga rahasia ini dari istrinya ku turut I saja mau nya.

Kini adikku telah sembuh dan harga diriku juga tetap terjaga seiring berjalanya waktu adikku kini bisa mengikhlaskan kepergian ayah kami kini aku dan adikku hidup bahagia meski hidup kami pas-pasan dan sebagai anak yatim piatu.terima kasih allah aku tau engkaulah yanmg membukakan pintu hati lelaki yang berhidung belang ini menjadi malaikat ku kini aku bekerja padanya untuk membalas budinya walau alu tau aku salah kepada istrinya karena aku menyembunyikn rahasia besar suaminya tapi aku yakin engkau maha tahu dan semua ini demi hidup adiku.
 
PROFIL PENULIS
Nama : Resti Noviani
Alamat : Gang mojo 3 baru no 17
Pekerjaan : TU SD muhammadiyah 10 sby
Facebook : novianiresti@yahoo.com (resti alfresta kimberly)

Jumat, 14 September 2012

Cerpen Motivasi - Sebuah Perjalanan

SEBUAH PERJALANANAN
Karya Desima Siahaan

Perjalanan hidup kita ini tidak selamanya berhasil, bahagia dan mulus. Terkadang ada kerikil, tantangan dan rintangan. Tapi yang terpenting adalah keikhlasan dan ada rasa menikmati di dalam menjalaninya hingga tiba di tujuan. Supaya kita sampai pada tujuan dibutuhkan sikap yang fokus atau pusat perhatian. Jangan fokus pada kerikil maupun tantangan karena hal itu dapat menyebabkan impian kita menjadi terhalang.
SEBAGAI PAHLAWAN DEVISA , JAGALAH KEHARUMAN DAN NAMA BAIK BANGSA DAN NEGARA INDONESIA


Berkat Dan Anugrah Tuhan
Sebuah nama diberikan kedua orang tua saya ketika saya dibaptis di Gereja HKBP Sibuntuon Balige yaitu Desima Siahaan. Nama itu diambil oleh orang tua saya dari tanggal kelahiran saya 27 Desember 1989 yang bermakna memberikan pencerahan. Saya dilahirkan mama saya terkasih yaitu Hotna Rouli Simanjuntak. Bersama bapak saya tercinta Tigor Marojahan Siahaan membesarkan saya. Sebuah gelar Sarjana Muda saya terima dalam Sidang Senat Terbuka AMIK Medicom Medan pada tanggal 23 Oktober 2010. Sehingga nama saya mendapat tambahan gelar akademik yaitu Desima Siahaan, Amd. Sungguh suatu perjuangan yang sangat berat saya akhirnya menyelesaikan kuliah saya. Semester 4 mama kembali ke pangkuan Bapa di Sorga tepatnya 16 Februari 2009. Saat itu saya hanya menyerahkan semua kepada Tuhan biarlah tangan Tuhan yang bekerja melalui buah tangan bapak saya yang berjuang membiayai kuliah saya dan kak saya yaitu Cln. Bibelvrow Murni Demita Siahaan.

Praise The Lord kak Murni di wisuda 1 Juli 2010 , bapak saya sangat bahagia, tapi sayangnya saya mungkin kurang beruntung. 30 September 2010 bapak saya kembali menyusul mama saya tercinta untuk berada di sisi Tuhan Yesus. Saya mungkin sangat sedih tapi saya harus mampu mengikhlaskan semua.

Bekerja Di Dunia Industri
5 Januari 2011 saya memutuskan pergi merantau ke kota Batam suatu kota industri di tanah air. Saya meninggalkan dunia pendidikan yang sudah membantu saya menamatkan kuliah . Hampir 5 tahun saya mendalami dunia ini semenjak kelas 2 SMK saya sudah mulai mengajar Bahasa Inggris anak - anak dan Sekolah Minggu. Itu semua saya lakukan mengingat arahan bapak Kepala Sekolah SMK N 2 Balige dulu Bapak Drs . Lalo Hartono Simanjuntak. Beliau berpesan dengan mengajar kita akan terus mau belajar dan terus menambah ilmu. Di Medan saya menjadi guru les door to door hingga akhirnya menjadi pengajar di Gemilang Education Centre (GEC).

Di GEC saya belajar tentang dunia kerja yang sebenarnya yaitu persiapan, tepat waktu dan keramahan ataupun tingkah laku yang baik. Saya sungguh sangat beruntung pernah bekerja di instasi itu dan mempunyai bapak Pimpinan Ir Herbinson Simamora. Sampai di Batam saya melihat ribuan pelamar berkumpul di pusat pelamaran namanya Comunity Centre (CC). Cukup banyak kawasan industri di Batam dan saya mencoba keberuntungan saya di kawasan industri Muka Kuning. Banyak lamaran yang saya jatuhkan dan tidak lama kemudian saya diterima bekerja di PT Sanmina - SCI Batam suatu perusahaan PCB atau spare part Computer sebagai Purchasing Staff. Tawaran gajinya tidak begitu besar hanya Rp 1.250.000/bulan . Tapi saya berpikir untuk menjalani nya pada waktu itu. Tugas saya adalah membantu para buyer untuk membukukan inventory barang. Perusahaan itu menggunakan suatu Sistem yaitu Oracle E-Business Suit.

Mencoba Melamar Ke PJTKI
Saya membaca iklan PT Tunas Karya melalui anak perusahaannya PT SumberDian Mandiri mencari tenaga kerja ke Ciba Vision Johor Bahru Malaysia. Saya tertarik untuk mengenal negeri Jiran. Saya membuat lamaran , lulus test , medical check up dan akhirnya dibantu pengurusan passport di kantor imigrasi Batam. Calling Visa akhirnya di terima akhir bulan Agustus 2011 dan pada 15 September 2011 kami berangkat ke Johor Malaysia sebanyak 7 orang.

Perjalanan Ke Johor Bahru Malaysia
Ciba Vision adalah sebuah pabrik pembuatan soft lensa yang berlokasi di Port Of Tanjung Pelepas Gelang Patah Johor. Pemeriksaan passport dan Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTLN) di lakukan petugas di pelabuhan International Batam Centre. Perjalanan ke Pelabuhan Stulang Laut Malaysia menempuh waktu 1 jam 30 menit. Ketika dalam perjalanan saya sangat menikmati nya. Bumi ciptaan Tuhan ini sangat luas. Saya sangat senang dan untuk mengusir kebosanan saya menyanyikan beberapa buah lagu yaitu Kasih Setiamu, Indonesia Tanah Air Beta dan O Tano Batak. Ketika sampai di perbatasan perairan Malaysia dan Singapore saya melihat sebuah tembok pembatas. Buatan tangan manusia itu memang cukup luar biasa. Memasuki Pelabuhan Stulang Laut ferry merapat pelan pelan dan akhinya kami menginjak negeri Jiran Malaysia.

Inikah Negeri Jiran
Kami di jemput bus perusahaan Ciba Vision ke terminal Stulang Laut. Jalanan di Malaysia semua mulus ya boleh disebut High Way. Dibutuhkan waktu 45 menit menuju pelabuhan Tanjung Pelepas. Disitu terletak hostel/dormitory Ciba Vision ya hostel itu seperti rumah rusun kota Batam. Para pekerja berasal dari Indonesia, Myanmar, Nepal, Bangladesh. Disini kita menggunakan bahasa Melayu boleh dibilang seperti pelafalan Upin dan Ipin di MNC TV. Kita harus hati hati dalam bergaul khususnya dengan laki - laki negara lain . Karena banyak laki laki asing itu mendekati perempuan Indonesia . Saya memperhatikan banyak perempuan Indonesia mau dating dengan mereka. Laki laki itu memang royal, traktir makan, ngajak jalan, kasih fasilitas seperti uang, mobile phone dan lain lain. Saya selalu mengingat pesan keluarga saya jangan mau dibeli dengan uang . Setiap malam saya perhatikan di sekitar hostel banyak perempuan Indonesia berpacaran dengan orang Myanmar, Nepal, Bangladesh . Bahkan pernah terjadi perkelahian akibat memperebutkan salah satu perempuan Indonesia antara mereka. Ironis bukan ?

Banyak Perempuan Indonesia Melupakan Tradisi / Adat Istiadat Tanah Air

Ketika saya memperhatikan lebih jauh kehidupan perempuan Indonesia di Malaysia ini mengalami perubahan 100 %. Terutama dalam hal berpakaian, boleh saja sih mengikuti mode tapi jangan sampai norak atau terkejut dengan perubahan . Sebagai TKI fokuslah pada tujuan . Banyak hal yang perlu di pelajari terutama bahasa. Televisi di Malaysia banyak menayangkan siaran siaran berbahasa Mandarin dan Inggris . Pada Intinya jagalah nama baik Bangsa dan Negara Indonesia , jangan melupakan tradisi bangsa dan fokuslah pada tujuan. Hidup di dalam dan bersama Tuhan itulah menentukan seluruh cara hidup, pola berpikir, sikap, reaksi dan tindakan.

Note :
LIFE IS A SONG - SING IT
LIFE IS A GAME - PLAY IT
LIFE IS A CHALLENGE - MEET IT
LIFE IS A DREAM - REALIZE IT
LIFE IS A SACRIFICE - OFFER IT
LIFE IS A LOVE - ENJOY IT

Teruslah Bergerak Hingga Kelelahan Itu Lelah Mengikutimu
Teruslah Berlari Hingga Kebosanan Itu Bosan Mengejarmu
Teruslah Berjalan Hingga Keletihan Itu Letih Bersamamu
Teruslah Bertahan Hingga Kelemahan Itu Lemah Menyertaimu
Tetaplah Berjaga Hingga Kelesuan Itu Lesu Menemani

PROFIL PENULIS
Nama : Desima Siahaan
Pekerjaan : Clerk
Alamat : PTP Hostel Johor Malaysia
Hobby : Memasak , membaca , menulis
Motto : Bright the world with your smile
FB : desy.siahaan@yahoo.com/Desima Siahaan
Umur : 22 tahun

Baca juga Cerpen Motivasi yang lainnya.

Sabtu, 25 Agustus 2012

Cerpen Motivasi Pendidikan - Ana Ingin Jadi Wartawan

ANA INGIN JADI WARTAWAN
Karya Dwiana

Takdir telah tercatat 50.000 tahun sebelum manusia dilahirkan, segala kejadian sudah tertuang dalam kitab terbentang (Lauh Mahfudz). Ketentuan pasti terjadi, tinggal jalan mana yang manusia pilih untuk menjemput ketentuan itu. Sepenggal untaian itu Aku ciptakan sendiri untuk menemani semangatku dalam meraih ambisi, menjadi orang sukses dalam perantauan.

Aku memang sedikit berbeda dengan saudaraku yang lebih qona’ah, menjalani kehidupan dengan slow dan nrimo, mungkin karena basic agama kakakku yang lebih kental sehingga menganggap dunia itu bukan ambisi utama yang dikejar. Sementara Aku selalu menganggap semua orang punya hak dan kesempatan yang sama untuk menjadi sesuatu tanpa terpacu pada materi.
“Keputusanmu sudah bulat Ndok?,” tanya Bapak yang sebenarnya berharap Aku melanjutkan usahanya jualan di Warung dekat SMP Negeri di Kampungku. “Sudah Pak, keputusanku sudah bulat ingin kerja di Bandung dan melanjutkan kuliah disana,” jawabku dengan tegas.


Kehidupan keluargaku memang sederhana, Bapak jualan di warung ditemani ibu tiriku. Sejak SMP kelas 1 ibu kandungku sudah dipanggil Allah lewat perantara penyakit komplikasi yang beliau derita. Aku sebenarnya setuju saja tetep tinggal di kota Reog asal Bapak mendukungku melanjutkan bangku pendidikan di Universitas, tapi sayang alasan ekonomi selalu menjadi dalil Bapak untuk menolak proposalku itu. Alhasil dengan tekad sekeras baja saat temen-temen seangkatanku asyik liburan sambil menunggu kelulusan, Aku memilih mencari kerja dengan satu alasan, cari uang untuk beli tiket pergi ke perantauan.

Alhamdulillah dapat, walau kerjaan itu membuat satu hariku seperti sebulan lamanya, pagi jadi pembokat siang jadi pramuniaga di toko kue. Dengan penghasilan Rp 250.000/bulan Aku pertahankan sampai malam takbiran keluar dari ruko itu, “Mas lebih setuju kamu nemenin Bapak jualan saja Na,” sela kakak melihat Aku tampak sibuk membereskan sisa packing karena sebentar lagi Aku segera meninggalkan kota tercintaku ini, “Mas sudah tahu sendiri bagaimana kharakterku, Aku tidak bisa dipaksa Mas,” ungkapku protes.
“Ya sudah terserah Kamu, Saran Mas jangan lupa khodratmu sebagai wanita. Jaga dirimu apalagi disana Kamu sendiri. Dekatkanlah diri pada Allah, insya Allah sesulit apapun akan ada jalan jika Kita berserah diri pada-Nya,” tutur kakakku. “Nggih Mas matur nuwon, Ana berangkat dulu Mas, Pak, Mbok’e,” pamitku sembari mencium tangan mereka satu per satu.

Seiring bus Pahala Kencana meninggalkan bumi Reog, semakin meninggikan ambisiku untuk berhasil di kota lautan api itu,” Aku datang ke Bandung untuk sukses, dalam profesi Aku nanti ingin jadi reporter atau wartawan, yang terpenting tidak terikat ruang waktu karena Aku orangnya cepat bosan…,” gumamku menerjemahkan asaku.

Pagi itu, di akhir September 2009 Aku sudah menginjak tanah Leuwi Panjang, kucari kontrakan saudaraku yang sejak 6 tahun lalu kerja disini. Tidak terlalu sulit, karena angkot berlalu lalang ke segala penjuru, “Kalau mau ke Sukamenak Kopo naik yang mana ya Mang,” tanyaku pada salah seorang sopir angkot sembari membaca nama alamat di secarik kertas, “Naik Soreang saja Neng, nanti bilang ke sopirnya turun di Kopo. Patokannya dekat Indomart, nanti tanya lagi dimana Sukamenak, tidak jauh dari situ,” papar Amang itu menjelaskan.
“Assalamualaikum..” salamku sembari mengetuk pintu nomor 52 blok E Sukamenak, “Walaikumsalam….,” jawab pemilik rumah membukakan pintu, “Anaa…..Ya Ampun kamu sudah nyampe sini, gak sms biar dijemput saja di Leuwi Panjang, untung kamu gak nyasar,” celoteh keponakanku Santi. Aku hanya senyum-senyum saja sambil memeluk kangen keponakanku yang udah setahun tidak bertemu.
Kuceritakan ihwal dan niatku merantau disini, saudaraku yang baik hati dengan tulus membantu mencarikan kerjaan, “Apa ajalah yang penting Aku bisa ngumpulin uang biar nanti bisa ngelanjutin kuliah, kuliah kelas karyawan juga ndak apa-apa,” paparku saat ditanya mau kerja apa.
Beberapa lamaran kerja Aku masukkan ke sejumlah pabrik di kabupaten Bandung, hampir sebulan Aku belum mendapat panggilan untuk tes kerja, pikiranku mulai suram, ditambah bekal sakuku semakin menipis… “An coba kamu besok ke pabrik yang ada di daerah Caringin kota Bandung, denger-denger disana ada lowongan,” kata Santi memberiku semangat.

Selesai Subuh, kuisi perut ini dengan sarapan lauk bala-bala dan sambal, kunikmati saja apa adanya karena inilah sari pati hidup, orang harus merasakan perih dulu jika ingin senang. Lalu kucari alamat pabrik X seorang diri karena Santi ada kerja lembur tak bisa menemani.
No. 18 N, ini dia pabriknya, “Permisii…” kataku setengah teriak, “Yaa ada apa” jawab security dari dalam, “Maaf pak saya mau memasukkan lamaran kerja,” terangku. Pak Satpam itu kemudian membukakan pintu gerbang dan Aku dipersilahkan untuk masuk dulu ke post security, “Komandan ini ada wanita mau memasukkan lamaran kerja,” kata satpam itu pada komandannya.
Kemudian Aku diinterview seputar keahlianku, “Kamu bisa jahit” tanya komandan, “Tidak bisa Ndan,” “Wah repot kalau gitu. Disini syaratnya harus bisa jahit,” papar komandan, “Gini aja coba kamu berdiri,” Aku turuti sambil komandan itu memperhatikan postur tubuhku, “Tinggi cukup, badan cukup, wajah juga cukup,” gumam komandan mengomentariku. “Kamu jadi security girl aja mau, nanti biar Saya yang ngurus ini itunya,” kata komandan menawarkan.

Pulang dari Pabrik Aku memikirkan tawaran komandan, “Security girl,” Aku bayangkan diriku memakai seragam biru, memberi hormat jika owner perusahaan lewat, lalu harus terlihat galak pada karyawan,” huuffft Aku sulit memutuskan. Disatu sisi Aku harus segera kerja, di sisi lain bukan bidang ini yang Aku inginkan. Dengan segala pertimbangan akhirnya ku ambil tawaran itu.
Seminggu Aku menjalani diklat lapangan dan test klasikal, lari 5 putaran, PBB, dan latian fisik lainnya. Untung di SMA dulu Aku aktif di Pramuka dan PALA jadi ini tidak terlalu berat bagiku. Tugas pertamaku di sebuah Pabrik Tekstil di Daerah Cimahi. Aku berkenalan dan berteman dengan security yang lebih senior di area sini. Ada 15 security pria dan 1 security wanita, mereka cukup ramah dan baik padaku.

Menjalani pertemanan dengan seniorku dari berbagai daerah, diantaranya Bandung, Cirebon, Garut, Tasikmalaya, Subang, Purwokerto, Timur Leste, dan daerah sebrang, Aku cukup nyaman dengan suasana ini. Dari cerita mereka, profesi security kebanyakan dipilih karena pelarian Tentara dan Polisi yang gagal atau tidak lulus tes.
Berteman dengan mayoritas pria dan profesi yang lazim disandang pria membuat kharakterku semakin tomboy, “Ana, dilihat kau tidak pantas jadi satpam. Pantasnya nerusin sekolah saja. Sayang masih muda sudah jadi satpam. Ini pekerjaan keras,” ujar seniorku bang Heri.

Kata-kata dari Bang Heri mengusik pikiranku, seakan Aku diingatkan kembali terhadap mimpi dan asaku untuk apa Aku datang ke Bandung. Sedih kurasakan, “Bapak ternyata hidup di kota itu tak semudah yang Aku bayangkan,” lirihku menatap cermin di kamar sambil berlinang air mata.
“Aku harus bangkit lagi, Aku harus mengejar cita-citaku jadi wartawan atau reporter,” tekatku menutupi rasa sedih.

Besoknya kuceritakan mimpi-mimpiku pada teman-teman satpam dan karyawan di pabrik itu, “Ahh mimpi di siang bolong kamu mah. Mau jadi wartawan kesiangan..hahaha,” mereka mengejekku. Aku tersentak dengan respon mereka..memang harapanku terlalu tinggi mengingat asal-usul, kemampuan dan pendidikanku, “Bang Wandy, apa Ana terlalu bermimpi ya untuk jadi kuli tinta,” tanyaku pada Wandy, satpam yang paling dekat denganku, “Jangan nyerah Na sebelum kamu memulai dan mencoba..tidak ada yang tidak mungkin kok..tidak apa-apa bermimpi..tidak salah bermimpi setinggi-tingginya, masalah jatuhnya di kubangan mana itu haq Allah,” tutur Wandy memberiku semangat, “Kalau Ana memang serius ingin jadi wartawan, Ana pindah di area tugas yang ada ladang ilmunya. Saya dapat informasi dari kawan, 2 mingguan lagi di Area Skol Kristen daerah Pasteur membutuhkan 07 (satpam perempuan), karena 07 yang sekarang mau cuty hamil. Paling tidak itu lebih baik dari tempat kerja sekarang,” Informasi dari bang Wandy itu segera ku chek croscek. Tak berfikir lama segera Aku mengajukan diri pindah tugas.

Seminggu sebelum aq over tugas ke Skol Kristiani itu, pagi hari ketika Aku hendak berangkat tugas terdengar teriakan orang, teriakan bukan hanya dari satu orang, melainkan ramai banyak orang, “Kami menagih haq Kami yang kalian rampas..Kembalikan uang Kami..” terdengar keras teriakan itu semakin Aku mendekati area kerja. Rupanya suara itu berasal dari puluhan orang yang demo di area kerjaku. Dari cerita bang Wandy, para pendemo itu Eks karyawan yang sudah pensiun namun hingga 1 Tahun sejak mereka resigh uang pensiun belum dibayarkan oleh Pabrik.

Sebagai keamanan Aku turut mengawasi jalannya demo agar tidak rusuh… Uppzz, mataku tertuju pada sosok pria disela kerumpulan orang demo itu, tapi dia tidak ikut berteriak lantang maupun membawa poster-poster yang berisi kecaman, pria yang kira-kira berumuran ¼ abad dengan jaket hitam itu tampak sibuk mengambil gambar melalui kamera Canon yang ia tendeng, setelah itu dia mewancarai seorang pendemo menggunakan recorder kecil, tampak sangat gagah, tanpa sadar Aku tersenyum simpul sendiri… “Heiii…tunggu,” teriakku nyamperin Dia setengah berlari, karena tampaknya Dia sudah selesai dengan kepentingannya…”Kamu memanggil Saya?” jawabnya menoleh padaku, “Iya..Kamu, Kamu wartawan? Boleh Aku kenal Kamu, Aku ingin jadi wartawan,” ucapku cepat karena Dia terlihat tergesa..”Ini kartu namaku, maaf Aku duluan ada liputan lain..,” kata dia sembari pergi meninggalkan gerbang pabrik…

Kubaca lekat setiap kata dan nomor telpon yang tertera di kartu nama itu. Nama laki-laki gagah itu Dany, seorang wartawan Mingguan yang bertugas lintas daerah. Hatiku bergemuruh, jantungku berdetak lebih cepat, bukan karena pria itu tapi karena Aku akan menemukan jalan menuju puzzle mimpiku.
“Assalamualaikum maaf ini dengan Kak Dany, Wartawan Koran X?” kataku setelah Ia mengangkat teleponku, “Walaikumsalam ya benar Saya sendiri, Anda siapa” jawabnya… dialog itu berujung kita janjian di suatu tempat, tepatnya hari Sabtu, karena Aku sekarang sudah pindah tugas di Skol Kristiani dan mendapat libur hari Sabtu Minggu.
“Kenapa Kamu ingin jadi wartawan An,? tanya Dany, “Karena Wartawan itu tugasnya mulia, menyampaikan dan mendidik masyarakat dengan berita yang ia bawakan, trus wartawan itu tempatnya kaum inteleq, dan kerjanya tidak terikat ruang waktu jadi tidak monoton,” jawabku dengan lancar. Jawaban itu kulontarkan berdasarkan pengalaman pribadi sewaktu SMA dulu masih aktif di Ekskul Journalist dan Announcer, walau lingkupnya hanya kecamatan setidaknya ada basic di bidang itu, “Iya betul memang seperti itu, tapi Kamu siap dengan resiko seorang wartawan,” tanyanya lagi kali ini dengan nada lebih ditekan, “Apa memang resikonya Kak,” tanyaku balik karena belum tahu konsekwensi yang ia maksud, “Penjara atau Kuburan” jawabnya dengan mata tajam. Aku agak tersentak dengan pernyataan Dany, namun ambisi dan mimpi menaklukan ketakutanku, “Aku siap kak,”.

Setelah kesiapanku, Dany mengajariku tentang Journalist dari ilmu yang Ia dapat sewaktu di Universitas dan ilmu dia praktek di lapangan. Setiap Sabtu Minggu kuhabiskan waktu dengannya, dengan pelajaran tertulis tentang dasar-dasar journalis, cara membuat berita, kode etik wartawan dan bahkan di bulan ke-4 sejak kita mulai belajar, Dany mengajakku langsung terjun ke lapangan. Aku mengamati bagaimana cara dan alur Dany ketika mewawancarai narasumber. Aku begitu bahagia bisa bertemu dan kenal dengan Dany. Pria gagah yang baik hati itu menemaniku menjemput mimpi. Aku sangat berharap persahabatan dan agenda rutinitas Kita setiap Sabtu Minggu bisa bertahan lama, paling tidak sampai Aku mandiri dan tidak jadi wartawan amatiran lagi. Tapi rupanya takdir berkata lain, bulan ke-7 sejak kita belajar bersama, Dany dipindah tugaskan di Bogor, “Jujur Aku sedih harus jauh dari kakak. Kak Dany adalah semangatku dalam mengejar asa ini. Aku tidak tahu gimana ngelanjutin pembelajaran ini tanpa kakak,” tuturku diiringi tangis melepas kepergian Dany, “Ana, Saya hanya perantara dari Allah untuk menjemput cita-cita Kamu. Kalau kamu yakin bahwa Allah Maha adil jangan pernah putus asa,” itu nasihat terakhir yang Dany sampaikan sebelum Ia menuju kota hujan.

Hari berganti hari kujalani dengan semangat yang menurun drastis. Sebagai tentara langit biru di area skol, tugasku menerima tamu sebelum menghantarkan tamu itu ke recepsionist di sekolah kristiani tempat Aku mengais rejeki, “Siang mbak, Saya ada janji dengan Pak Marlon guru fisika mengajar kelas 12,” kata seorang tamu menghampiriku, Aku belum pernah melihat tamu ini sebelumnya. Sekilas dia seperti keturunan Chinese, tapi masih ada darah Indonesia dilihat dari warna kulitnya sawo matang typical khas kulit orang Indonesia, “Siang Pak, tapi jam istirahat teacher masih 2 jam lagi,” tuturku pada tamu itu, “Iya tidak apa-apa memang janji kita jam 12 nanti, cuma tadi ada keperluan yang terpending jadi saya putuskan kesini saja sambil menunggu Pak Marlon,” ujarnya.

Sambil menanti jam istirahat, tamu yang memperkenalkan diri dengan nama Robert itu mengajakku berbincang. Dia seorang dosen di Universitas Teologi, “Mbak gerejanya dimana,” tanya Robert, Aku kaget dengan pertanyaan itu, “Maaf Pak saya muslim,” jawabku, “Okh anda islam, Saya tadi tidak menyangka lho kalau mbak islam. By the way mbak masih muda kenapa mau jadi security,?” pertanyaan Robert kembali membuatku gugup. Kuceritakan saja perjalanan hidupku selama di rantauan ini karena Pak Robert orangnya cukup care sehingga Aku tidak canggung, “Wahh sayang ya mbak, orang dengan ambisi dan semangat yang kuat seperti mbak tidak terakomodasi. Kalau di Kita orang-orang seperti mbak pasti akan diperhatikan,” terangnya, “Maksud Bapak gimana?” tanyaku tak mengerti terhadap statement pak Robert, “Maksudnya kalau mbak ikut keyakinan Kami mbak akan sukses. Kebetulan saya dosen dan banyak jaringan, kalau mbak mau ikut keyakinan Kami saya bisa usahakan beasiswa journalist SI di UN yang mbak bisa pilih sendiri dan beasiswa S2 di Amerika. Tapi dengan membawa visi dari keyakinan Kami,” papar Pak Robert. Aku hanya melongo dan terdiam mencerna setiap kata yang Pak Robert lontarkan.
Aku akui, walaupun KTP islam tapi Aku belum mengenal Allah, kewajibanku 5 waktu saja masih banyak bolongnya. Tawaran itu mengikis imanku, bayangan kuliah, journalist, keliling dunia terbayang di kelopak mataku.

Aku diberi waktu sebulan untuk mengambil atau menolak tawaran itu. Saat ada tawaran besar seperti ini Aku sangat membutuhkan teman untuk share, bukan keluarga karena keluargaku tidak mengerti ambisiku. Aku teringat Kak Dany, kuhubungi nomornya, “Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan” suara operator seluler yang selalu Aku dengarkan setiap menghubungi nomor kak Dany telah memutus persahabatan Kami. Aku benar-benar kehilangan sosok teman yang sangat baik dan Aku butuhkan sarannya.
Mendekati hari pertemuan dengan Pak Robert Aku putuskan untuk mengambil tawaran itu, “Yach hanya dengan cara itu mimpi-mimpiku bisa jadi nyata. Hidupku hanya sekali dan akan Aku manfaatkan hidup ini sesuai keinginanku,” ucapku membakar semangat diri.

Hari H bertemu dengan Pak Robert, kita janjian di Universitas tempat beliau mengajar. Perjalanan ke Universitas Aku naik angkot, disamping tempat dudukku, ada seorang wanita berjilbab seusiaku tampak serius membaca sebuah buku, Aku perhatikan raut wajah wanita itu tampak bercahaya, tidak terlalu rupawan tapi sangat sejuk dipandang, “Afwan, Ukhti dari tadi mengamati Saya, ada yang bisa saya bantu,?” tutur wanita itu menyadarkanku bahwa dari tadi Aku telah terpana dengan cahaya di wajahnya, “Oh maaf, itu bukunya bagus,” kataku salah tingkah, “Ini buku tentang dasar-dasar islam, kalau mau Ukhti bisa membacanya,” kata wanita itu dengan santun, “Oya Ukhti hendak kemana,?” tanyanya, “Astagfirullah hal adzim” ucapku dengan tangis terisak sambil memeluk wanita itu…….

Baca juga Cerpen Islam, Cerpen Pendidikan dan Juga Cerpen Motivasi yang lainnya.

Senin, 20 Agustus 2012

Cerpen Motivasi - Aku Menjual Keperawananku

AKU MENJUAL KEPERAWANANKU !
Karya Purnama Utari Dewi

Tulisan kontroversial itu ditulis Jihan di semua akun jejaring sosialnya di internet. Dengan cepatnya ratusan lelaki mengirimkan permintaan pertemanan di facebooknya. Tanpa ragu Jihan pun menerima semua pria itu menjadi temannya. Beberapa diantara mereka langsung memberikan tawaran harga. Followers akun twitternya pun melesat naik. Sebagaian besar diantara mereka adalah pria. Ada yang sudah menikah, ada pula yang masih lajang. Jihan tidak peduli, yang ia inginkan hanyalah menjual keperawanannya dengan harga yang sangat tinggi.
“5 juta !” tulis seorang pria di dinding facebooknya.
“Lebih tinggi lagi !” Jihan membalas
“Baiklah,, 6 juta,” balas si pria itu. Jihan lagi-lagi hanya menjawab “ Lebih tinggi lagi!” 

Beberapa teman wanita di jejaring sosialnya mulai mengecam sikap Jihan. Ada beberapa yang menghapusnya dari daftar pertemanan. Jihan tetap tidak peduli. Ia hanya ingin mendapatkan uang sebanyak-banyaknya.
“Saya akan memebeli keperawananmu dengan harga 10 juta!” Tiba-tiba salah seorang followers-nya mengirim kata-kata itu di twitter.
Sepuluh juta????? Hati Jihan bergidik. Tak pernah terbayangkan sebelumnya uang sebesar itu akan dimilikinya.
“Lebih tinggi lagi!” Klik.! Jihan mengirim balasan.
Menjelang tengah malam, Jihan mematikan ponselnya dan segera tidur. Penawaran tertinggi hari ini sepuluh juta.
*****

Keeseokan harinya Jihan bangun pagi-pagi benar. Dibukanya kembali semua akun jejaring sosial. Hari ini ia harus mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Dan seketika matanya terbelalak ketika ada penawaran 15 juta di facebooknya. Pengirimnya adalah seorang pengusaha muda di jakarta. Dibawah penawarannya, sang pengusaha bertanya.
“Bagaimana saya bisa tahu bahwa anda masih perawan?”
“Bukankah itu sangatlah mudah? Semua pria dewasa bisa membedakan mana wanita
perawan, dan mana yang bukan. Kalau tidak terbukti saya perawan, Anda tidak usah
bayar.”
Hingga kini penawaran terbesar adalah lima belas juta. Jihan masih menginginkan harga yang lebih tinggi lagi.
“SAYA MENJUAL KEPERAWANAN SAYA!” Tulis Jihan lagi di status seluruh akun jejaring sosialnya. Ia berharap mendapatkan penawaran tertinggi hari ini.
“Bagaimana dengan 16 juta?” tanya seorang pria setengah baya di twitter. Lagi-lagi

Jihan hanya membalas “Lebih tinggi!”.
Hari semakin siang dan tidak ada lagi penawaran di atas 16 juta. Jihan memutar otak untuk mendongkrak harga keperawanan yang akan dijualnya. “Apa harus kusertakan fotoku mengenakan pakaian mini agar harganya bisa tinggi?” Tanyanya dalam hati.
Belum sempat Jihan melakukannya, tiba-tiba facebooknya menerima sebuah pesan baru dari seorang laki-laki muda dan tampan yang berusia sekitar 23 tahun.
“Saya akan membayarmu dengan harga yang sangat tinggi. Beri tahu berapa harga yang
kamu minta?”

Jihan tersenyum, ia langsung membalas, “sangat tinggi. Seharga dengan kesembuhan ayah saya dari sebuah penyakit yang menggerogoti tubuhnya.”
“Hubungi saya di nomor berikut.” Pria itu kemudian mengetik nomor ponselnya.
Jihan segera menghubunginya. Ia menunggu sang pria menjawab panggilannnya dengan cemas.
“Beritahu berapa harga yang kamu minta?” Tanya suara pria diseberang sana.
“Seharga dengan kesembuhan ayahku dari sebuah penyakit.”
“Maksud kamu,??”
“Aku menjual satu-satunya harta yang kumiliki untuk kesembuhan ayahku.”

Pria itu terdiam sejenak. “Baiklah, aku akan membayarmu dengan harga yang sangat tinggi. Hari ini, temuilah aku di (.....) ia lalu menyebutkan sebuah tempat.
Menjelang sore, Jihan bergegas pergi ke tempat yang telah ia sepakati dengan sang pria kaya raya itu. Ia tidak kesulitan menemui sang pria karena pakaian yang dikenakan olehnya cukup mencolok, sebuah kemeja merah dan celana hitam mengkilat.
“Ayo ikut denganku.” Aba si pria sambil berjalan ke arah mobilnya.
Mereka pun langsung masuk ke dalam mobil. Sang pria kemudian melepaskan kedua kancing kemejanya. Jihan pikir, inilah saatnya ia melepaskan keperawanannya. Pria itu kemudian diam sejenak memperhatikan wajah Jihan. Ia merasa bahwa wanita yang ada dihadapannya masih terlalu muda untuk menjual keperawanannya. “Apa yang akan kau jual padaku?” tanya pria itu kemudian.
“Keperawananku,” jawab Jihan dengan tegas.

Sang pria mengangguk. Ia memperhatikan Jihan lagi, kemudian menggeleng.
“Aku tidak mau membayar keperawananmu.!!!”
“Kenapa?? Kau pembohong!! Kau bilang mau membayarku! Aku sudah mengeluarkan
banyak uang untuk datang ketempat ini. Kau harus menepati janjimu untuk
membayarku!!” Jihan geram.
“Tenang...aku akan tetap membayarmu, tapi bukan untuk keperawananmu.
Keperawananmu bukanlah sesuatu yang pantas untuk dibayar. Aku akan membayar
keberanianmu. Itulah yang dapat ku bayar darimu. Terimalah uang ini. Jumlahnya
lebih dari cukup untuk membawa ayahmu ke Rumah Sakit. Dan sekarang pulanglah....”
“Aku tidak perlu melakukan apa-apa untukmu??” tanya Jihan.
“Kau sudah melakukan banyak hal untukku. Keberanianmu membuatku sadar, bahwa
keberanian berkorban untuk orang lain adalah harga termahal yang ada di dunia ini.

Aku hampir melupakannya. Dan kaulah yang mengingatkanku.”
“Aku hanya ingin ayahku sembuh. Aku tidak memiliki harta dan cara lain untuk
mendapatkan uang. Aku beruntung beruntung pria sepertimu. Terima kasih kau tidak
mengambil hartaku yang paling berharga.”
“Kau memang gadis yang sangat berani. Bagaimana bisa kau memiliki keberanian
seperti ini?”
“Siapa bilang aku berani? Aku takut, bahkan sangat taku. Dijalan tadi aku menangis
karena benar-benar takut. Pada saat melihatmu, aku sangat takut kau menerkamku
seperti harimau.”
“Sekarang pulanglah, bawa ayahmu ke rumah sakit secepatnya,” katanya kemuadian
sambil tersenyum.
Jihan pun segera pergi untuk membawa ayahnya ke Rumah Sakit.
*****

Beberapa bulan kemudian ayah Jihan pun sembuh dari penyakit. Dina senang kini hidupnya dapat kembali berjalan normal. Ia pun memiliki seorang kekasih yang dikenalnya melalui akun facebook..bahkan lelaki itu adalah lelaki yang telah membantunya membayar biaya rumah sakit untuk ayahnya. Doni namanya. Mereka saling menyayangi dan berhubungan secara serius. Atas restu ayahnya..mereka merencanakan menikah 3 bulan kedepan, dan minggu depan mereka akan meresmikan hubungan mereka dengan mengadakan acara pertunangan. Sungguh kebahagiaan yang tak diduga sebelumnya oleh Jihan. Jihan yg dahulu adalah seorang gadis yg hidupnya penuh kesederhanaan, sejak kecil ia hanya dirawat oleh ayahnya. Ibunya telah meninggal dunia setelah melahirkan Jihan. Namun kini hidupnya telah berubah semenjak hadirnya Doni dikehidupannya. Kini ia telah bekerja di sebuah perusahaan ternama. Hingga tiba saatnya hari yang sangat dinanti oleh jihan dan Dino. Mereka pun resmi menjadi sepasang suami-istri. Tepat di malam pertama pernikahan mereka, Jihan menyerahkan keperawanannya kepada Doni secara gratis, tanpa bayaran, dan tanpa rasa takut.

THE END

Selasa, 14 Agustus 2012

Cerpen Motivasi - Hari Itu Tak ada Lagi

HARI ITU TAK ADA LAGI
Karya Yulia Agisni

Hati ku seakan tak menentu malam ini saat suasana tempat tinggal ku tampa sepi tak ada suara yang terdengar malam ini hanya suara,,desirah nafas ku yang entah tak beraturan aku seakan tak percanya semua ini. Ternyata waktu begitu cepat berjalan hingga aku tak terasa 8 bulan aku sudah jauh dari tampat dimana aku di lahirkan. Ku coba mengingat-ingat kenangan yang dulu ketika aku belum pergi dari rumah ortu ku. Kenangan yang tak mungkin di ulang kembali,, kenangan yang telah lenyap tapi masih terpendam di memory ingatan ku.

Ku coba mencari sebuah buku harian di meja belajar ku . buku yang ku cari ku temukan,, ku buka buku itu sehiris-demihiris tampa tak mau ketinggalan sedikit pun,,mata berfokus pada buku yang ku pegang. Aku tiba-tiba merasakan kalau aku berada di waktu yang pernah terjadi pada hidup ku,di mana hari itu hari yang sangat menyanangkan bagi ku,,kini aku merasa semuanya di ulang kembali .

Cerita itu terjadi ketika aku masih tinggal bersama ortu ku,,dimana aku masih duduk di bangku smp,,atau masa butih biru. Walaupun aku masih duduk di smp tapi aku tak kalah dengan orang yang sudah universitas. Aku sering mengikuti organisasi-organisasi ke islaman seperti Ipma, dan Remaja masjid. Disana aku sering sring tentang ke islaman dan belajar yang tak pernah aku dapatkan di sekolah.

Aku bergaul dengan kakak yang lebih tinggi ilmu nya dengan ku walaupun aku merasa sedikit malu. Lama kelamaan kemaluan itu hilang,, aku jadi banyak mengusulkan pendapat dan pendapat ku sering di terima dengan baik, ketika itu remaja masjid akan membuat sebuah acara maulid nabi di masjid,,,aku di tunjuk sebagai seksi acara aku terima malah aku senang karna,, aku anak yang masih kecil di tunjjuk sebagai seksi acara,, seksi acara menurut ku sobat sangat berat bagi ku.karna itu pertama kalinya aku jadi paniti BHBI
Acara itu di laksanakan pada tanggal 14 maret 2010 pertepatan pada hari ahad dimana semua anak sekolah pada libur. jam 6:00 panitia harus sampai disana untuk mempersiapkan acaranya. Aku bangun pagi-pagi biar tidak telat datang ke masjid.
***

Deer.....dEer suara hp ku berbunyi tanda sms “ass...cepatan datang nya jangan samapai telat” kata sms yang ku baca itu . tampa banyak basa basi aku bergegas menuju pintu untuk pergi ke masjid. Di perjalanan aku ketemu dengan seorang teman yang ku kenal nama nya Aini,, ya di juga sebagai paniti aku pun mengajak nya untuk pergi bersama-sama ke masjid,,lama kelamaan kami berjalan akhirnya kami sampai ke masjid tapi sayang kami tak melihat satupun orang disana. Akhirnya kami menuju kerbang masjid di sebelah barat disana kami bertemu dengan Ani kami mengajak nya untuk duduk menunggu yang lain
“Haee....dah lama nunggunya” teriak unim yang ada di seberang sana,,sambil terkopoh-kopoh menuju tempat dimana kami duduk.
“Yahhh....dak terlalu lama kok” sahut Aini
“Dimana yang lain” kata ku menyambung
“masih tuu di belakang” ungkap Unim sambil menghela nafas lega
Dari kejauhan terlihat Nira dan zoh yang sedang membawa kotak,,
“Ehh...apa yang kalian bawa” kata Ali kepada Zoh dan Nira
“Nee....hadiah buat anak-anak yang menang pertandingan” ungkap Zaoh membalas pertanyaan Ali

Ali memindah duduknya di samping ku,,,
“EeeE...awas Ali jangan dekat-dekat”ungkap ku sinis kepada Ali
“Yapp aku tau kok..tak usah takut gitu” jawab Ali
Obrolan pun terhenti seketika ketika pak Aji menyuruh kami untuk masuk ke masjid,,
Matahari mulai menampakkan senyumannya dari upuk barat,,dan memantulkan cahanya ke kaca-kaca masjid dan tampak masjid begitu bersinar...mungkin matahari itu ikut gembira melihat kami yang sedang membuat sebuah acara maulid nabi
Aku,Diah,Nira,dan Zoh mempunyai tugas dari Pak Aji untuk membungkus hadiah untuk pemenang perlombaan,,tapi tak begitu lama aku dan Diah mempunyai perkerjaan yang lain yaitu menghitung banyak ibu-ibu yang membawa sampak (bingkisan). Aku dan Diah sangat senang mendapat perkerjaan ini,, karna kami dapat duduk santai dan saling curhatan melaui tulisan.

Dari kejauhan terlihat Pak Aji yang datang menghampiri kami. Pak Aji datang sedikit marah kepada kami berdua karna kami telah member yang bukan panitia yang membuat hadiah untuk para juara perlombaan,aku dan Diah diam. Pak Aji pun pergi meninggalkan kami.sebenarnya kami juga mau ikut pergi sama Pak Aji tapi kami takut sama bu Sinta.ketika aku dan Diah berdiri Zoh pun datang dengan muka cemberut,, tapi kami tak menghiraukan nya malah kami memarahi nya karna memberikan yang bukan panitia yang membuat hadiah. Zoh semakin marah kepada kami dia pergi dari kami dengan wajah yang ingin meledak.
Kami bosan di tempat sampak. Akhirnya aku di ajak Nira untuk pergi ke tempat panitia,, disana aku bertemu dengan Ikang, Hamzan,Rana, dan Bendul .

Aku duduk di samping bendul,,
“Heeee....Nia kok tadi malam suara mu bagus banget andai aku bawa hp akan ku rekam suara mu” ungkap bendul sambil bergurau ke pada ku
“Ahh...aku tau kok suara ku jelek” balas ku dengan suara lemas sambil berdiri menuju Hamzan,, aku duduk di depan Hamzan sambil ngobrol dengan nya,, tapi aku tidak tau kalau aku sedang di foto sama Rana. aku malu banget tampa basa-basi aku berdiri dan menghadap ikang,,ehh malah ikang tertawa..

Hupps.....aku jadi lebih malu,. Acara inti taujih yang di sampaikan oleh Ustad.aminullo yahh itu adalah kakek ku,, aku begitu seksama mendengar nya walau aku tidak melihat wajahnya tapi aku yakin itu kakek ku.. karna suara nya tak asing di telingaku,,karna aku berada di balakang panggu,, jadi tak dapat melihat wajahnya
Acara pun selsai.. semua panitia pergi makan,,tapi aku tak ada nafsu makan,,aku Cuma mengambil kacang yang sudah di koreng.
“Nia ayok makan” ungkap Ali kepada ku
“males ahh...lasingan kamu marah-marah aja”balas ku sambil menuju gerbang masjid
Dari kejauhan suara orang memanggil ku
“Nia..kamu mau kemana” suara Pak Aji kepada ku
“aku mau pulang Pak”kata ku sambil menoleh ke belakang
“tapi nanti sore kamu kesininya Nak Nia” kata Pak Aji
Aku tak menjawab aku terus berjalan menuju rumah tempat ku tinggal,, sesampai ku di rumah kaki ku merasa amat capek tapi itu tak terasa karna aku begitu bahagia bisa berkumpul dengan teman – teman ku. Walau itu tak kan bisa di ulang tapi akan menjadi kenangan terindah
Cerita ku tak berakhir sampai di sana,
Sore itu ketika matahari menuju ke upung barat untuk tenggelam,,,,yahh kira-kira jam 3:35 selsai sholat ashar.aku Izin ke ibu ku untuk bergi ke masjid lagi untuk membersihkan masjid

Aku berjalan menuju rumah Nira untuk memanggilnya untuk sama-sama berangkat kemasjid,, tapi Nira yang ku cari sedang tidur,, aku menyuru mia adeknya nira untuk membangunkan nya tapi adek nya malah takut. Akhirnya ku coba membangunkan nira
“Nira heee....Nira bangun ayook kita pergi ke masjid’ungkap ku sambil mengangkat kakinya agar dia terbangun
“yaa..iya aku akan bangun” balasnya sambil bangun dan menuju kamar mandi
Aku melihat sekeliling kamar Nira,,yang terlihat boneka dan buku-buka yang bersera kan
“hee..nia maaf nya lama nunggu soal nya aku capek,, aku capek banget”kata nira sambil memakai jilbabnya
“ayokk..dahh kita berangkat”

Sampai di masjid aku melihat banyak orang kami bersama-sama membersihkan masjid,, kami juga mengangkut drim-drim yang kami pinjam di sekolah,,
Selsai kami membersihkan semuanya..kami duduk sambil memakan kue buatan ibu nya Rana.,,,hpppss Enakkk...looo
“ayooo...semua kita fotoan” kata Hamzan
“Ayoook’kata kami serempak
Karna aku haus aku mengambil air,,ketika aku kembali aku di foto sama pak edot yahh...,, aku tutup muka dehh karna malu.
“Masa indah itu tak ada lagi” itulah akhir dari cerita yang ku tulis di buku harian ku aku ingin banget bisa berkumpul seperti itu lagi,, tapi itu hanya mimpi bagi ku ,,,karna sekarang,,itu adalah bagian mimpi yang terindah yang aku punya. Andai sejarah boleh terus diperpanjang membawa mitos dan legendanya, bagi diri ku.
Tapi Hari terus berjalan tapi waktut terus datang,,usia senja semakin menifis,,karna tak ada waktu yang bisa di ulang lagi,, kesalah tetap kesalahan dan kebahagian tetap kebahagian yang pernah kita rasaka,,dan masa itu yang pernah kita lewati akan menjadi sebuah pelajaran yang paling berharga untuk kita semua.
Ku tutup buku harian ku sambil memejamkan mata menyambut hari esok yang lebih bahagia lagi. Dan belajara dari masa lalu.

PROFIL PENULIS
Nama saya Yulia Agisni ,
Saya sekolah di MAN 2 MATARAM
saya lahir pada tanggal 31 juli 1996.

Baca juga Cerpen Motivasi yang lainnya..

Minggu, 05 Agustus 2012

Cerpen Motivasi - Gitar Tua Joko

GITAR TUA JOKO
Karya Septian Joko Sulistyo

Joko benar-benar gimana harus meyakinkan Ayahnya yang udah mati-matian cari duit buat membiayayai sekolah Joko.Pasalnya,setelah Ayahnya membayar SPP ternyata Joko sering sekali bolos sekolah,Kata teman-temannya kalo Joko bolos sekolah Dia sering ngamen,Joko yang bercita-cita ingin menjadi musisi merengek-rengek minta dibelikan Gitar baru
"Emangnya kenapa Ko,kalo Ayah gak beliin Gitar baru?" Ayahnya kesal setengah mati
"Ya elaa, Yah! Joko kan malu,Yah! Masak sih Joko pakai gitar tua punya warisan Ayah! Mana ada orang yang mau lihat Gitar yang usang dan rapuh kayak gitu...?"
"kan itu masih bisa dipakai.Ntar kamu belajar nari Jaipong aja biar punya bakat yang lain!"
"Ayah tega amat, sih! Masak Joko disuruh Nari Jaipong...? Yang bener aja, Yah emang Ayah ga mau apa punya anak yang pintar main gitar? Kalo pingin Joko sukses didukung dong!
"Haiiyaa....! Kamu malah nyeramahi Ayah ! "

Ayah Joko bertolak kebelakang Joko mulai ketakutan.
"Ampun Yah... Joko nggak bermaksud nyeramahi Ayah..." harusnya yang diceramahi itu kamu ! Kamu itu udah untung Ayah manjain dari kecil . Ayah sekolahin sampai SMA..!
"Joko cuman minta gitar kok,Yah..." kali ini nada Joko melemah
"Ayah ngerti! Tapi kan tau sendiri,berapa harga gitar itu..?"

Joko terdiam.Joko udah tau kalo harga gitar yang dia inginkan sebesar sembilan ratus dua puluh ribu rupiah. Itu gitar yang paling keren diantara gitar teman"nya , yang harganya jauh lebih murah sebenarnya ada yang harganya sekitar seratus sampai tiga ratus ribu.Perihal gitar gitar itu udah Joko dan Ayah tanyakan kemarin ditoko musik dekat rumah mereka
"Daripada beli gitar itu,mending juga buat beli beras!"Ayah berjalan keluar rumah.Joko mengejar Ayahnya
"Yah!"
"Bodo.Ah!"
"Yah! tunggu dulu !"Joko memegang tangan Ayahnya.Ayah meronta-ronta agar Joko melepas pegangannya
"Yah,denger dulu.."

Ayah berhenti dan menghela nafas,menunggu Joko ngomong .

Sebenarnya Ayah udah ga mau lagi dengerin omongan si Joko karena Joko itu pintar ngerayu .Bisa bisa ia bakalan termakan omongan si Joko. Joko itu anak kebanggaannya. Anak kesangannya. karena Joko paling ambisius diantara anggota keluarga lainnya.
"Yah sekarang Joko mau ngomong jujur.."
"Ya..udah ngomong aja, asal nggak nyinggung nyinggung gitar sembilan ratus dua puluh ribu rupiah itu..."

Joko tersenyum dan menangguk setuju, meski sebenarnya yang bakal ia omongin nanti buntut buntutnya bakal sampai kesoal gitar juga
"Begini Yah sekarang ini kan Joko lagi deketin si Bunga . Ayah tau kan Bunga . putri tunggal Pak Bon.

Nah Bunga itu naksir banget sama si Joko . kalo Joko udah lulus SMA nanti, Bunga bilang Joko langsung bisa kerja dicafe milik keluarganya . Ayahtau nggak , katanya kalo kerja didicafenya harus punya alat musik sendiri.
"Ga usah pakai Alat musik modal nyanyi aja!'
"Ayah kan tau sendiri suara Joko kayak kapal pecah, apalagi Joko dijanjiin bakalan tampil terus. Nah kalo gitar aja ga punya? Gimana jadinya?"
"Tuh kan gitar lagi!" Ayah kesal dan hendak keluar dari rumah
"Yah, Tunggu dulu!"
"Tadi katanya ga lagi ngebahas gitar?!"
"Ini penting, Yah !"Kembali kesoal gitar
"Kalo Joko masih tidak punya gitar bakalan ga diterima"

Joko terlihat sedih sekali . entah sungguh sungguh sedih atau cuma taktiknya aja. Joko menunjukan wajah sedihnya ke Ayah . sehingga Ayahnya jadi iba . langsung menuruti kemauan Joko .

Dan sekarang ini Ayah Joko tampak merenung . Joko sendiri Mengatur nafas
"Gimana Yah...?"

Ayah Joko masih tetap diam . Yah mulai garuk garuk kepala sambil memandang Joko .
"Ntar deh Aah usahain !" ujar Ayah . akhirnya , membuat Joko Bersorak dalam hati

Joko langsung berlari kekamarnya . Joko tersenyum senang menghadap kecermin ." Uuh , akhirnya berhasil juga !" keluh Joko dalam hati .

seminngu kemudian , Joo dibelikan gitar .

Gitar yang harganya sembilan retus dua puluh ribu rupiah itu telah dibelinya.

keesokan harinya Joko pergi kesekolah dan duduk didalam kelasnya tampak berbincang bincang dengan Jono .
"Jon , Gue udah bel gitar Baru nih" ngomong dengan sombongnya
'kenapa beli baru ?, terus gitar Lo yang Tua itu , Lo kemanain ?"
"kan Lo tau sendiri Gitar yanglama udah jelek, lagian udah Gue simpan di Kardus sekarang ada digudang"
"Wah sekarang aja Lo lupain dulu dulu Lo Banggain , jangan lupakan yang lama Dia juga berkarya membuat lagu lagumu"
"Aah.. Lo cerewet ! eh , ada Bunga tuhh" Joko terlihat senang
"Lo masih berteman sama si Bunga?"
"oyee. emangnya kenapa Jon?" Joko sedikit heran
"Dia itu matre ,penipu lagian pacarnya juga banyak"
"ahh...! apa Lo kata dah ! , bilang aja Lo cemburu!"

Joko Berlari kearah Bunga dan meninggalkan joko Teman akrabnya itu
"Hai?"
"Hai juga " Bunga memamerkan senyumnya
"ke kantin yukk?"
"Iyya .. Kamu yang bayarin ya "
"iyya deh, kan Aku yang ngajak" sebenarnya Joko lagi bokek tapi demi Bunga Joko ngelakuin apa aja yang Dia mau.

setelah mereka berdua selesai makan , Bunga bilang sesuatu pada Joko
"Ko, besok jalan jalan yukk , ke Mall?"
"Heg, Joko kaget, jalan jalan ?"
"iya, bisa nggak?" Bunga memamerkan senyumnya lagi
"iyya , bisa kok , tenang aja " Joko membalas senyumnya

Sepulang sepulang dari sekolah , Joko pun kebingungan didalam kamarnya . Joko lagi mikir bagaimana bisaJoko jalan jalan tanpa ada rupiah diDomprtnya. Uugh , minta sama Ayah kaga mungkin banget. Joko kebingungan . lalu Joko menatap wajahnya dicermin sambil sambil memainkan Gitar barunya itu .

Yup,Joko punya akal ! Joko Tau gimana caranya punya uang biar bisa menyenangkan hati Bunga .

Joko pun pergi ketoko musik itu . Joko kembali dengan penjaga toko . Joko bilang pada si penjaga toko itu .

kalo gitarnya bermasalah , Joko minta gitar yang baru dibeli itu dikembalikan dan menuntut ganti rugi , jelas aja si penjaga toko itu ga terima , karena Joko merengak akhirnya penjaga toko itu menyerah juga
" Gimana kalo gitar ritu dikembalikan, uang Kamu juga dikembalikan?!"

ujar si penjaga toko musik itu dengan kesal , karena kehabisan akal
"Setuju...Pak!"

Joko keluar dari toko musik itu dam memasukan uangnya kesaku , lalu pergi .

Joko emang jadi Jalan jalan bareng Bunga , cewek yang lagi Dia pedekatein . Dan siang itu mereka abis shopping diMal. Bunga membawa belanjaan banyak banget. Wajah Bunga tampak ceria . Wajah Joko agak agak kusut. soalnya semua Dia yang bayarin
"Makasih ya Ko.. , Udah di beliin macem macem"
"Joko tersenyum garing ,"sama sama ..."Suaranya terdengar lemas banget

Joko meliha peluang dan langsung melontarkan jurus rayuaanya ," Yaah , Kalo itu bikin Kamu senang , kenapa nggak Aku lakuin ? Ya, enggak?" Bunga menatap Joko terharu
"Hm.. , Kamu baik banget sih Ko .... , Eh... Aku pesen pizza buat adek Aku ,ya ? Dia sms minta dibeliin okeh oleh tadi, bolehkan?" ungkap Bunga

Joko kaget dan gugup ,"oh, boleh boleh !"

saat Bunga pesen pizza . Joko dengan panik mengeluarkan Dompetnya, membuka isinya lalu mengintip dibawah meja . tangannya sibuk sisa uang didalamnya .

Joko panik . " Aduuuh ..mampus . mepet banget !" setelah selesai pesen beli pizza , Bunga menatap Joko " Kenapa Ko ?"
"Oh , eh, Nggak ! nggak pa-pa!"

waktu sudah sore mereka berdua pulang . Joko mengantar Bunga sampai didepan rumahnya.
"Makasih ya Ko" sambil membawa barang belanjaanya
"Oh,iya sama sama " tersenyum kaku
"Ya udah,Aku masuk dulu ya , Daaa"

setelah bunga masuk kerumahnya . Joko pulang jalan kaki karna rumah Joko tidak jauh dari rumah Bunga. sesampainya dirumah.
"Aku pulang "
"Darimana Ko?" Tanya Ayah
"Habis jalan jalan Yah"
"Sama siapa?"
"sama Bunga" Joko langsung masuk kekamarnya dan menatap kecermin
"Ternyata yang selama ini dibicarakan Jono memang benar, Joko buta karna cinta!" keluh Joko dalam hati

Joko kali ini benar benar sangat takut dan bingung , bagaimana harus meyakinkan Ayahnya lagi . Pasalnya uang yang dibeli buat beli gitar tersebut adalah uang tabungan terakhir Ayah
" Ya , Tuhan ampunilah Saya yang selama ini s'lalu ceroboh dan s'lalu memikirkan diri sendiri , kuatkanlah Joko Ya... Tuhan" Berdoa Joko dalam hati
"Apa Joko harus bicara jujur Yaah ?" dengan keberanian yang kuat Joko beranjak keluar dari kamarnya dan mencari Ayahnya
"Yah ... Joko mau ngomong jujur "
"Ada apa lagi Ko?"
"Soal gitar Yah"
"kenapa lgi gitarnya?"
"Gitarnya Joko jual Yah "
"BUAT APA KAMU JUAAAL!!?... bagaimana Ayah bisa mempercayai Kamu lagi Ko! lagian itu juga uang terakhir Ayah !" Geram Ayah
"Maafin Joko Yah " lalu Joko bercerita bagaimana panjang lebar bagaimana uang itu bisa ia jual , setelah bercerita begini begitu Ayah hanya terdiam selama beberapa menit dan akhirnya bicara juga
" Ko sebelum Kamu cinta orang lain cintailah dirimu sendiri ,

sebelum Kamu mempercayaiorang lain percayai dirimu sendiri , jadilah dirimu sendiri !"
"iyya Yah , Joko ngerti " Joko langsung berlari ke dalam gudang dan mengambil gitar tua yang diselimuti debu itu dan dibersihkannya. setelah selesai membersihkan Joko kembali berbincang dengan Ayahnya
"Yah , Joko akan berkarya lagi dengan gitar ini dan akan bertanggung jawab "

Sejak saat itu Joko mulai bisa ngelupain Bunga dan berkonsenterasi kebakatnya . Joko mencari pekerjaan kesana kemari dan setelah satu bulan lebih uangnya sudah terkumpul , uang itu Joko berikan untuk Ayahnya.
"Yah, ini uangnya buat Ayah , Joko sadar selama ini hanya meminta uang saja , ternyata harus ada perjuangan dan pengorbanan untuk mendapatkannya "
"tidak perlu Ko , uang itu Kamu simpan saja , dengan Kamu bertanggung jawab saja Ayah sudah bangga "

Ayah memeluk Joko dengan eratnya dan berlinang air mata begitu juga dengan Joko

Dan sampai saat ini Gitar Tua itu masih digunakan Joko untuk berkarya . dimanapun ada Joko juga ada Gitar tuanya .

(Ternyata yang selamanya Tua tidak Jelek
Ternyata yang selamanya Tua tidak buruk
Tapi mereka punya segudang pengalaman yang harus kita CONTOH!!!!)

TAMAT

PROFIL PENULIS
Nama : Septian Joko Sulistyo
TTL : Malang , 09 09 1995
Sekolah : SMK REKAYASA DENPASAR
Alamat : Denpasar , BAdung Gatot Subroto
Agama : Kristen
Add facebook Septian_jakson@yahoo.co.id

Jumat, 27 Juli 2012

Cerpen Motivasi - Derai Air Mata di Senyum Mungilku

DERAI AIR MATA DI SENYUM MUNGILKU
Karya Siti Aminah

Krrriiiiiiiii....nnnggggg... alarm handphoneku berdentang keras membangunkanku pagi ini. dengan setengah sadar dan mulai mengucek-mengucek mata akupun melangkah ke kamar mandi. Kuingat lagi hari apa ini??
oh ternyata hari ini hari minggu. saatnya bersantai pkirku dalam hati (sambil tersenyum kecil ku menyengir).

Draaagggg. . . aku terkejut sambil berteriak apa itu??
ibuku tertawa geli dengan khas wajahnya yang bundar pasih layaknya kue donat yang siap di santap. . .

Ada apa bu? >:/ dengan nada setengah bingung menahan nafas agar tidak terciyum bau uap ku. . .

Tiba-tiba aku merasa ada yang kurang dengan hari ini tapi apa ya??
oooohhh iya ayah? dimana ayah??
aku bertanya pada ibuku dimana ayah berada)?

Bu ayah dimana?? masih tidur?/ gak biasanya kataku melirih.
angghh. . . kau lupa ayahmu kan sudah berangkat berapa hari yang lalu untuk kembali bekerja kata ibukuk

Oia aku lupa bu. . .
ibuku tertawa geli. tidak ku sangka aku bisa melewati masa-masa sulitku yang hampir membunuhku selama 17 tahun ini. kembali aku teringat akan kenangan silam yang takkan aku lupakan dalam memoriku.

Masa dimana keluh kesah yang tak lagi mampu menghadangku dengan caranya tak dapat lagi ia berharap aku akan secepat itu menyerah pada nasib.
16 tahun aku baru bisa bernafas sedikit legah
aku terduduk bersandar pada titik tulang yang lemah menahan sakit yang amat sakit aku rasakan . . .
sejauh ini ayahku cukup berubah tidak seperti dulu . . .
aku tidak tahu apakah aku sanggup menghadapi semua ini . . .
saat aku mengingat ini aku selalu menangis bahkan menyalahkan diri dan keadaan tahukah kau apa yang kurasakan wahai teman- teman??

Dulu ayah selalu melarang dan memarahiku jika aku terlalu banyak bermain. bukan hanya itu saja ayah tak dapat menahan amarahnya dan sering memukulku tak jarang bekas pukulan dari ayah berdarah dan amat perih. itu sebabnya aku tidak pernah merasa betah jika berada dirumah.

Hei kau tidak mandi?// melamun aja dagh jam 9 ni. mandi sana??
aku mengiyakan perkataan ibuku dengan segera
kulangkahkan kakiku menuju kamar yg digunakan orang untuk menyegarkan tubuhnya kembali.
akan tetapi pikiran ku melayang dan lari dari peredaran aku masih saja teringat kejadian kejadian dulu sambil merintih di kamar mandi aku menangis betapa kalutnya hidupku dahulu jauh dari yang namanya kegembiraan layaknya anak-anak seusiaku.

Kupandang atap yang menerawang keatas puncak mahligai. kurasakan alunan angin mulai menenangkanku.tanganku seolah tak cukup kuat mengguyurkan air kearahku. dengan secepat kilat kucoba perlahan dan seolah berlari mengejar air yang terbuang sia-sia dihadapanku.

Tapi di sela sela aku membersihkan muka ku dengan face cream air mataku keluar dan bertumpahan tak tertahankan lagi aku segera membasuhnya dengan air berharap kesedihanku takkan ada orang yang tahu terutama ibuku jangan sampai ia melihatku menangis.

Apa kau sudah sia mandinya teriak ibuku dari arah dapur //
ibuku mengulang perkataannya kembali tapi akuk tidak hiraukan.
lalu ibuku menggedor kamar mandi untuk menanti jawabanku.
ibuku bertanya lagi apa kau sudah siap mandi??
seketika aku tersadar dengan cepat aku menjawab iya sudah siap . . .

Keseharianku berada dirumah tu mustahil segenap mungkin
jujur aku tidak pernah merasa kalau sehari saja aku bisa berada di rumah
iibuku menyuruhku jika aku liburaann barang sehari saja aku harus bekeja yaya. . . aku akan turuti apapun yang dikatakn ibuku selagi itu baik buatku.

Aku bukan anak yang manja seperti mereka yang menghandal kan dan memeras orang tuany untuk beli ini dan itu tidak aku bukan seperti itu.
aku cukup mengerti keadaan yang buat aku akan jatuh bahkan tidak segan untuk membunuh diriku sendiri.
aku kuat aku tidak ingin ibuku sedih apapun itu wlaupun nyawa taruhannya aku akan selalu lakukan.

Aku bekerja sejak umur 6 tahun aku jarang berada dirumah setiap tahun aku selalu merayakan lebaran bersama orang yang sangat menyayangiku dia memanggilku nenek.
sulit untuk tinggal dirumah orang lain.
tapi aku slalu bersyukur dan tidak mau meneluh aku tidak mau sebodoh itu.

Aku yakin aku cukup kuat menerima semua kenyataan dan puaskah kalian menghina aku? mengucilkan keluargaku ayah ibu n adik adikku. belum cukupkah kalian menyiksa aku?/

Aku ingin berteriak sekuatnya agar mereka tahu bagaimana jika aku menjadi dan membalas apa yang kalian buat terhadapku.
mungkin ada jalan lain di balik ini semua aku yakin allah tetap bersamaku

Satu hal yang aku tahu bahwa hidup ini keras sekeras hatimu jika kau memaksakan kehendakmu dan mencoba mencari ketenangan di luar rumah percuma itu semua malah menghancurkan dirimu.

Aku selalu takut untuk berhadapan dngan keberanian aku takut aku tak mampu menahan semua yang tidak seburuk apa yang dikatakan tetanggaku dan oran-orang di sekelilingku.

Terkadang aku merasa ibah dengan diriku. tapi inilah kisahku yang penuh dengan ratapan dan tangisan semua ini hanya bisa aku pendam.
sampai sekarang aku menjauh dari teman-temanku mencoba berdiri di atas tubuh yang tak snggup menampung kata-kata hinaan dari mereka.

Tahukah kalian apa yang ada di pikiranku setiap waktu??
bGimN KU BISa keluR Dri keterpurukkanku?
bagaimana aku keluar dari semua ini?
aku juga punya paman tapi tuidak ada yang memilikiakal logis mereka semua memiliki msifat yang tidak baik dan salah satu pamanku mengalami gila mental.
keadaan rumah yang bising dn tidak berkecukupan tangisan adikku dan hinaan orang terhadap keluargaku ditambah dengan istirahat yang tidak cukup untuk memulihkan tubuhku.

Inilah yag ku alami walaupun begini aku yakin aku snggup

Buat kalian cukupilah diri kalian dengan kesenangan yang sebenarnya bukan kesenangan yang semu
jadilah orang yang takkan pernah menyerah sekalipun setiap orang meludahimu di setiap kau berjalan
pandanglah jauh kedepan dimana kau akan tersenyuM di akhir ceritA dan berkata inilah aku yang dulu kalian hina

Tetaplah bersyukur dengan yang kau punya.
salam senyumku untukmu yang berhasil keluar dari jaringan problema hidup.

PROFIL PENULIS
Namaku Siti Aminah aku saat ini duduk d kelas 12 di SMKN 1 Medan.(2012)
Umur ku 17 tahun.
Alamatku Jl. bromo gang tengah
Fb kikio ina qunyoshi

Baca juga Cerpen Motivasi yang lainnya.

Rabu, 25 Juli 2012

Cerpen Motivasi - Kejutan Berhantu

KEJUTAN BERHANTU
Karya Shabrina Adzhaningtyas

Tubuhku masih tergeletak lemas di atas kasur berlapiskan kain bermotif flora yang nampak harum dan wangi. Sebuah kain tebal masih menyelimuti seluruh tubuhku. Terlihat sebuah garis lurus memasuki daun jendela kamarku, mengenai tepat di wajahku. Awalnya, terasa dingin karena sebuah benda balok yang mengeluarkan udara bersuhu rendah menerpa kulitku. Namun, lama kelamaan rasanya semakin hangat dan panas. Keringat mulai bercucuran. Rupanya, sang surya memaksaku untuk membuka kelopak mataku yang sedari tadi nakal karena terus menerus menutupi kornea mataku. Kudengar sebuah teriakkan dari luar pintu. Nampaknya memaksaku untuk bangun. Baiklah, aku menyerah.

Kucoba menggerakkan secara perlahan kedua kakiku menuju wastaffel1 untuk membasuh wajahku yang terlihat lusuh dan kusam bagaikan kitab tua. Ibu terus menerus berteriak menyuruhku untuk Shalat Subuh, mandi dan makan, walaupun ini sudah memasuki waktu Shalat Dhuha. Di fikiranku, hari Minggu ini adalah hari yang sangat indah yang ingin ku isi dengan berpuas-puas di pusat perbelanjaan bersama teman sebayaku. Terlihat seseorang menggoyangkan gagang pintuku yang akan segera terbuka.
“Ibu?” tanyaku seperti orang linglung2.
“Ini hari Senin! Kenapa kamu masih menatapi wajahmu di cermin itu? Ibu sampai lelah berteriak membangunkanmu. Bi Nah dan Bi Sum pun sama. Cepat mandi dan sarapan!“ cerocos ibu.

Wajahku pun menganga. Tanpa basa-basi, aku langsung berlari menuju kamar mandi.
“Mana air panasnya?” teriakku dari dalam kamar mandi.
“Mandi air dingin!” balas ibu. Aku berteriak spontan. Badanku masih bergetar untuk menyiramkan satu gayung berisi air dingin itu. Byuurr!
Brrr… Tubuhku masih bergetar, layaknya orang yang memakai kaos oblong di musim dingin. Rasanya seperti antartika sudah di depan mata. Aku pun segera berpakaian dan turun tangga untuk sarapan.
“Kamu kenapa, Flo?“ tanya ibu. Gigiku hanya bergetar menjawabnya.
“ Ana3 apa, non?” tanya Bi Sum.
Aku merespon hal yang sama. Nampaknya, ibu tahu apa yang aku rasakan. Ibu tampak berbisik-bisik dengan Bi Sum.
Aku segera pergi ke meja makan tanpa basa-basi lagi.
“Bi Nah, Bi Sum… Rotinya mana? Terus bikinin susu, gulanya 2 sendok, pakai yogurt sama meises. Susu coklat ya, Bi.“ perintahku cepat- cepat.
“Semua sudah siap di dekat kompor, non.“ kata Bi Nah.
“Kok di deket kompor sih Bi Nah? Di mana- mana, majikan itu makan di meja makan, bukan di deket kompor. Di dapur lagi. Ih, Bi Nah. Cepetan bawa ke meja makan sana!“ aku pun marah.
Namun apa yang terjadi? Bi Nah hanya membuat seribu alasan. Bi Nah malah masih ubek4 dengan mesin cuci dan masakannya itu.

Rupanya ibu mendengar pertengkaran antara aku dan pembantuku. Tanpa basa-basi, ibu langsung menyemprotku dengan cerocosannya.
“Pasti kamu lagi kan Flora?” ibu marah.
“Aku kan lagi buru- buru, bu. Apa ibu tidak lihat?“ balasku.
“Kalau kamu bawa sendiri, tanpa marah–marah sama Bi Nah waktunya udah cukup kan? Kamu buang waktu kamu dengan marah–marah sama Bi Nah. Kamu harus mandiri.“ kata ibu.
“Terserah kalau ibu mau marah. Aku mau makan di sekolah saja. Capek. Tiba–tiba nafsu makan ku hilang. Aku berangkat. Assalamualaikum.“ kataku tanpa bersalaman dengan Ibu.
“Wa’alaikumsalam.“ jawab Ibu dan Bi Nah.
Akhirnya, Bi Nah minta maaf kepada ibu. Ibu hanya diam dan keluar menyusulku. Ibu menyusulku keluar karena tahu aku teriak-teriak tidak jelas di luar.

Benar-benar mengejutkan. Sebuah mobil sedan beroda empat tepat berukuran 360o tidak lagi terparkir rapi di garasi. Supirnya pun menghilang. Mendengar teriakkanku karena shock5 tersebut, ibu langsung tertawa lepas. Aku bingung dengan tingkah laku ibu itu. Ternyata oh ternyata, mobilnya dibawa pak Jupri keluar kota bersama Ayah tadi pagi- pagi sekali. Dan, hari ini aku harus naik benda beroda dua yang diajalankan dengan cara dikayuh, sepeda. Dengan wajah yang tidak mengenakkan hati, aku pun melaju tanpa merespon ibu. Yang sangat amat aku sayangkan, percumanya aku pergi luluran ke salon kemarin bersama tanteku yang cantik jelita. Aduh, hari yang sangat sial.
“Huh, huh, huh. Gayuh terus Flora. Kamu pasti bisa. Huh, huh.“ keluhku dengan nafas terengah-engah.
“Kayaknya kok tidak sampai–sampai sih?“ kataku.
“Mungkin karena naik sepeda, ya ?” aku bergumam sendirian.
***

“Aduh! Gusti6! Non Flora.“ teriak Bi Sum dari kamarku.
“Itu ada apa Bi Nah, kok Bi Sum teriak–teriak?“ tanya ibu kepada Bi Nah.
“Tidak tahu, nyonya. Coba biar saya lihat.“ jawab Bi Nah.
“Iya, Bi. Tolong dilihat ya. Terima kasih, Bi.“ pinta ibu.
“Iya, nyonya. Sama–sama.“ kata Bi Nah.
“Bi Sum. Ada apa? Buka pintu.“ teriak Bi Nah dari luar pintu kamarku.
“Pintunya tidak dikunci, Bi Nah. Cepat masuk. Aku takut sama geli ini.“ kata Bi Sum.
“Iya–iya sebentar.“ jawab Bi Nah.
“Ada apa sih ?“ tanya Bi Nah.
“Ini nih, si Non Flora bener–bener jorok ya. Mau sampai kapan tuh anak kayak begini? Kasur kagak pernah diatur. Terus kamu lihat nih, kolong kasur nya! Penuh sampah. Barusan nih ya, saya nemu tikus mati. Baunya minta ampun, kejepit di kasur gara–gara banyak kue keju berserakan di deket kasur non Flora. Ya ampun, Bi Nah. Kalau kayak gini setiap hari, saya lebih milih mengundurin diri aja jadi pembantunya non Flora. Setiap hari disuruh ini disuruh itu. Ya emang saya pembantu, tapi enggak berlebihan kayak gini juga cara nya memperlakukan saya, Bi.“ cerewet Bi Sum panjang lebar.
“Heh, Bi Sum. Jangan bicara begitu. Tidak apik7. Biar bagaimanapun, mereka itu majikan kita. Kalau dipecat nanti baru tahu rasa lho.”
“Bukannya gitu, Bi Nah. Tapi saya ini merasa tidak dihargai sama sekali sebagai pembantu.”
“Sudah- sudah, sebaiknya kita tunggu saja sampai non Flora berubah, meskipun hal itu Cuma mimpi bagi kita, Bi.”
***

Tidak seperti biasa, di sekolah aku disambut oleh kelima kawan dekatku dengan baik. Namun, hari ini nampaknya sedikit berbeda. Mereka melototi sepedaku. Mungkin mereka berfikir, sepeda baru, atau aku turun pangkat, atau yang lain. Aku membalas mereka dengan senyuman. Aku lagsung pergi ke kelas tanpa mempedulikan mereka. Pandangan mereka tidak aneh kepadaku. Namun, aku yang merasa aneh kepada mereka.
5 jam berlalu. Cindy mengajakku untuk pulang dan pergi ke gerbang sekolah untuk menunggu jemputan.
“Aku naik sepeda, Cin.“ jawabku lesu.

Semua sahabatku langsung mendekati aku. Lalu menanyakan hal mengapa aku naik sepeda hari ini. Aku menjelaskan kepada mereka apa yang sebenarnya terjadi. Semua sahabatku mendukungku. Rasanya, aku sangat beruntung memiliki sahabat seperti mereka saat ini.
Keempat sahabatku memang mempunyai ciri khas sendiri–sendiri. Mulai dari Cindy yang seperti orang blo’on. Terus Marcel yang sedikit badboy. Ada juga Rifki yang bertampang culun. Juga Aisyah yang orangnya taat Agama. Kami berlima memang sudah bersahabat. Aku, Rifki dan Aisyah, sudah bersahabat sejak SD. Namun, aku bersahabat dengan Cindy dan Marcel mulai kelas 7.

Aku pun segera pulang ke rumah menaiki sepeda itu lagi. Meskipun tidak butut, aku tetap saja sedikit malu. Karena biasanya aku diantar dengan naik mobil. Karena lelah, tanpa mengganti seragam dan mengatur buku yang berserakan di meja, aku langsung tertidur pulas sampai lupa untuk makan siang.
Terdengar suara ketokan pintu dari luar kamarku. Rupanya Bi Nah yang mengetuk-ketuk pintu ku sedari tadi sehingga membuatku terbangun. Stelah kubuka pintu kamarku, kulihat Bi Nah membawa nampan warna putih yang cukup lebar berisikan 2 piring makanan dan satu gelas minuman. Karena sudah cukup lapar, langsung kuambil nampan itu dengan mengucapkna terima kasih kepada Bi Nah.
“Sami – sami7, non.“ jawab Bi Nah.
“Eh, Bi. Milkshake8 nya mana?”
“Pangapunten9, non. Saya lupa.”
“Lupa gimana sih, Bi? Bibi kan tahu saya tidak bisa makan tanpa milkshake? Gimana sih? Bikinin sana!”
“Baik, non.“

Aku pun marah kepada Bi Nah karena dia tidak membuatkanku milkshake yang aku pesan. Bi Nah pun segera pergi ke dapur untuk membuatkanku milkshake.
Sudah 30 menit, namun Bi Nah belum juga mengantarkan milkshake pesananku ke kamarku. Karena lama, akhirnya aku menyusul Bi Nah ke dapur. Di tangga, aku mendengar suara orang ngomel-ngomel di dapur. Aku segera pergi ke dapur. Dan ternyata? Yang aku lihat, Bi Nah sedang membuat gosip tentang diriku di hadapan Bi Sum.
“Kamu saya pecat. Kamu ya,Bi. Udah berani, ngejek majikan sendiri. Suruh bikinin milkshake malah bikin gosip. Apaan tuh? Pokoknya Bi Sum saya pecat.“ kataku tiba–tiba di belakang Bi Sum.
“Oke, non. Tanpa non pecat pun saya akan pergi dari sini sekarang juga.“ tegas Bi Sum.
“Enggak ada yang bisa memecat pembantu disini kecuali saya dan tuan Bayu. Mengerti?“ tegas ibu.
“Ibu?“ aku terkejut.
“Iya, kenapa Flora? Kamu tidak bisa seenaknya memecat pembantu. Yang menggaji mereka itu bukan kamu. Tapi Ayah. Mengerti?“ marah ibu.
“Oke, Bu. Kalau Ibu tidak mau Bi Sum yang pergi dari sini, saya yang akan pergi dari rumah. Titik.“emosiku meluap bagaikan gunung api yang mau mengeluarkan isi perutnya.
Aku pun segera berlari ke kamar dan membereskan juga merapikan barang–barang ku semua. Semua nya ku masukkan dalam koper, dan aku segera mengganti baju.
“Non Flora. Tunggu. Non Flora jangan pergi.“ pinta Bi Sum.
“Nyonya Fitria, saya mau pamit. Saya sudah tidak tahan di sini. Saya ingin pulang kampung saja. Atau saya mencari majikan baru yang lebih disiplin. Kamarnya tidak berantakan setiap hari. Saya capek, nyonya. Permisi.“ kata Bi Sum.
“Permisi nyonya. Saya juga mau ikut Bi Sum.“ kata Bi Nah.
“Bagus deh kalau kamu ngalah. Pergi berdua lagi. Yesss. Udah sana pergi.“ kataku senang.
Ibu tak bicara dan langsung masuk ke kamar.
***

Apa ibu kesal padaku? Apa ibu marah padaku. Sejenak, aku masih berpikir, kalau tidak ada pembantu, siapa yang mau mengurusku? Ah, sudahlah, kan ibu juga bisa cari pembantu baru nantinya. Aku langsung merebahkan diri di atas kasur dan, tanpa sadar, aku langsung terlelap.
***

Mataku masih terpenjam. Hening menyelimuti suasana sunyi kamarku. Semakin terlihat sepi dan amat sepi.
Gubraak! Aduh! Diriku yang mulanya terbaring rapi diatas kasur empuk berlapis seprei lembut, kini sudah tergeletak kesakitan di sebuah alas yang sangat amat keras, dingin, dan terlihat berwarna putih. Aku pun terbangun karena mengaduh setelah terjatuh dari kasur. Aku melirik jam dindingku,
“Apa? Jam setengah 7?” teriakku spontan.
Ibu membuka pintu kamarku dan menyuruhku untuk segera siap-siap sekolah. Katanya, ibu dan ayah akan segera pergi ke luar kota selama seminggu, itu artinya aku akan ditinggal?
“ Bi Nah dan Bi Sum tidak ikut kan?” tanyaku.
“Mereka sudah kamu usir. Kamu harus mandiri. Tidak akan ada yang betah jika sifatmu masih seperti ini. Ibu berangkat.”
Tanpa mengucapkan kata lain, ibu langsung keluar dari kamarku.
Aku terdiam. Aku sesaat menyesali perbuatan ku kemarin. Aku menangis. Hari ini, aku memutuskan untuk izin sekolah. Aku meng-sms semua sahabatku.

Sekarang sudah jam 10. Setelah Shalat Subuh tadi, aku belum beranjak dari tempat tidur. Aku masih bingung, apa yang membuat kedua pembantuku tidak betah di rumah. Apa kelakuanku yang tidak menyenangkan hati. Tanpa sadar, sedikit demi sedikit aku mulai merasakan penyesalan itu. Dan ku lirik layar ponselku, keempat sahabat ku telah membalas sms ku, semua nya berkata, ‘ya.’
Sejenak aku masih berpikir tentang apa yang membuat ku dijauhi bahkan ditinggalkan pembantu ku dan orang tua. Aku sudah kelas 3 SMP atau kelas IX, namun sikapku layaknya anak kecil, masih ingin mandi air panas, makan masih disiapkan, baju masih dicucikan, seseorang yang pemarah, apa itu yang mereka benci dari ku ? Apa ini kekuranganku ?
Dret..Dret..Dret.. ponsel ku bergetar dan berbunyi, membangunkan ku dari tidur siang ku. Di layar nya bertuliskan
“Marcel memanggil…” ku tekan tombol bergambar telepon berwarna hijau, dan ku ucapkan,
“Halo, Marcel? Ada apa Cel?“
“Halo, Flora. Kamu beneran sakit ya hari ini?“
“Cerita nya panjang, Cel. Kapan–kapan aku cerita deh.“ jawabku singkat. Tanpa salam dan basa–basi, aku hanya mengucapkan “ Dah!“ kemudian langsung menutup ponsel.

Aku harus berubah. Apapun itu, aku harus berubah. Entah apa yang membuat aku ingin berubah. Bi Nah dan Bi Sum tidak salah apa–apa, tapi mereka akhirnya pergi dari sini. Aku tidak bisa hidup sampai sekarang tanpa mereka. Dari aku lahir, mereka sudah bekerja disini. Tapi, entah apa yang merubah sifatku jadi seperti itu. Aku harus jadi Flora yang rapi, sabar, penyayang, dan yang baik–baik deh. Tapi gimana caranya? Aha! Aku kayaknya punya ide nih.

Seperti apa yang dibilang Ibu, apa–apa serba sendiri. Jadi aku akan mulai dengan mencuci piring dan baju. Sedikit keberatan sih, tapi demi perubahan, apapun akan aku lakukan. Demi sahabatku juga. Syalala… Semua pekerjaan sudah di depan mata. Schedule hari ini: Cuci baju, cuci piring, masak, bersih–bersih rumah, dan lain-lain. Kesannya seperti pembantu, sih. Tapi, enggak apa–apa lah.
***

Lagi dan lagi, aku terbangun dari dunia mimpiku, sejenak aku berpikir, mungkin hari ini aku akan terlambat datang ke sekolah, disidang di ruang BK, atau mungkin membersihkan toilet, atau bahkan hormat di bendera lapangan selama 2 jam. Maka dari itu aku sedikit takut untuk melirik jam weker ataupun jam dindingku. Seingatku, aku tadi malam sudah menyalakan dering alarm benda berbentuk bulat yang mempunyai 3 jarum itu, namun, mengapa ku tak mendengarnya. Perlahan pun aku memberanikan diri untuk melirik benda itu. Jreengg! Apa? Baru jam 4 pagi? Betapa melongonya aku melototi benda itu? Sungguh, tidak wajar sekali aku bangun jam segini. Mungkin aku harus memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin.

Shalat Subuh, menyiapkan sarapan, mandi, berpakaian, dandan, bersih-bersih, dan bla..bla..bla.. Kegiatanku pagi ini cukup padat, dimulai dari pukul 04.00 dan selesai sekitar pukul 06.00
“Apa aku harus berangkat sekolah sepagi ini?” tanyaku sendirian.
Entahlah, mungkin iya. Aku segera mengambil sepeda yang berwarna biru laut itu lalu mengunci pintu rumah. Sudah seperti yang kuduga, sekolah bagaikan rumah hantu. Berangin, gerbang masih tertutup rapat, dan sepi. Dan yang harus aku lakukan sekarang adalah, menunggu sampai satpam datang …
***

Ciitttt.. Suara rem sepeda motor mengagetkanku, sehingga membangunkanku dari tidurku. Tunggu? Aku tertidur di pos satpam!
“Flora, bangun! Kamu kok tidur disini sih?”
“Hehe, maaf pak. Saya tadi datang kepagian. Karena lama menunggu bapak, saya tertidur deh. Suasananya mendukung banget buat tidur, hehe.”
“Hah, kamu itu. Sudah sana masuk!”
“Baik, pak.”
***

“Naik sepeda lagi?” tanya Rifky.
Aku mengangguk, tapi tidak dengan lesu seperti kemarin, kali ini aku sangat amat ceria. Namun, wajahku setelah tidur masih terlihat, mungkin sedikit lusuh seperti kertas di mata teman-teman.

Hari ini aku berjanji untuk menceritkan tentang alasan tidakmasuknya aku kemarin kepada Marcel. Aku mencari Marcel di kantin, dia sedang berkumpul bersama sahabatku. Aku tidak bersama mereka karena tadi aku harus menemui Bu Bunga untuk mengumpulkan tugas menyusul kemarin saat aku tidak masuk.
Akhirya aku duduk satu meja denga mereka lalu bercerita masalahku. Tidak hanya Marcel. Semua sahabatku akan kuceritakan tentang hal ini.
“Jujur, ya, Flo. Kita juga pengen banget dari dulu tuh kamu berubah. Tapi, kita itu kan udah janji untuk menghargai satu sama lain. Jadi kita bisa apa untuk ngomong sama kamu. Saran aku sih, kamu harus belajar mandiri dan lebih dewasa lagi sekarang. Kita kan mau SMA, jadi harus lebih teliti lagi kalau introspeksi diri. Kita semua bakalan bantu kamu kok. Tenang aja lagi. Ya kan temen- temen ? Eh, maksud aku sahabat- sahabat ? Hehehe …“ nasihat Cindy.
Semuanya mengangguk dan tersenyum.
“Terima kasih ya temen–temen, eh sahabat–sahabat?“
“Iya.“ jawab semua nya bersamaan.
“Eh, tumben nih Cindy tokcer. Biasanya…“ canda Marcel.
“Biasanya apa?“ wajah Cindy mulai terlihat kesal.
“Hehehe … Enggak kok, Cin. Kita kan cuma juskid, hanya bercanda.“ kata Marcel.
“Kita? Kan hanya kamu?“ kata Cindy. Semuanya tertawa.

Tak terasa sudah 1 minggu aku sendirian di rumah. Dan tidak ada kejadian- kejadian aneh yang aku alami. Di rumah, aku pun langsung bersih- bersih rumah dan mencuci baju juga piring. Tanpa sadar, ternya sudah pukul 5 sore. Aku pun segera mandi sore dan pergi ke kamar. 2 jam berlalu. Selama 2 jam tadi, di kamar aku hanya mengerjakan tugas di laptop kesayangan ku. Sekarang sudah pukul 7 malam. Perutku terasa lapar. Aku pun pergi ke dapur untuk memasak mie instan. Baru sampai di tangga, kulihat seperti ada seseorang di dapur bawah. Ciri khas nya mayoritas seperti hantu terkenal di Indonesia, kuntilanak. Rambutnya gimbal panjang terurai. Sekilas, kulit nya pucat pasi, baju nya seperti dress atau daster lengan panjang berwarna putih berkilau, juga dengan tawa khas nya. Tapi kali ini, aku tidak mendengar dia berbunyi ‘Hi… Hi… Hi…’. Badanku sekilas menggigil, bulu kuduk ku berdiri semua. Tanpa basa – basi, langsung ku ambil sapu paling panjang dan besar di rumah ku.
“Awas saja kau kuntilanak. Sebentar lagi kau akan rasakan pukulan sapu terdahsyat dari ku. Masuk rumah orang kok enggak bilang – bilang, enggak sopan tau.“
Perlahan, aku mendekati makhluk itu. Baru saja mau ku pukul, dia sudah berbalik badan dan berteriak. Aku pun juga berteriak sekencang – kencang nya. Serasa dunia berhenti sejenak. Semua mendadak menjadi hitam. Tubuh ku tergeletak tak berdaya.

Ada orang yang menggoyang-goyangkan tanganku, memanggil namaku, seolah menyuruhku untuk bangun. Dia menyebut namanya sendiri, ‘Aku, Marcel,’. Di hidung ku terasa dioleskan minyak kayu putih yang baunya menyengat sehingga membuatku terbangun. Lantas apa yang kulihat di depan mata ku? Makhluk mengerikan tadi. Langsung ku berteriak
“Kuntilanak!“ teriakku histeris.
“Sssssssttttt. Ini aku Marcel.“ kata makhluk itu.
“Marcel? Kok bisa? Aku kenapa?“ tanya ku bingung. “Kamu tadi pingsan pas ngeliat aku di dapur. Aku dandan kayak begini sama anak–anak mau ngerjain kamu.“ kata Marcel.
“Ngerjain aku? “ tanya ku semakin bingung.
“Iya. Hari ini kan kamu ulang tahun. Tadi pagi waktu di sekolah kamu pasti lupa, kan? Kita jalan yuk. Anak–anak udah pada nunggu di luar.“ kata Marcel.
“Ya ampun. Iya ya. Aku lupa, beneran deh. Aduh, Marcel. Makasih banget ya.“ kata ku.
“Ya sama-sama.” Jawab Marcel.

Begitu sampai di luar rumah, aku melihat sudah ada Ayah dan Ibu juga disana. Tak lupa juga ada Bi Nah dan Bi Sum yang kembali bekerja di rumahku. Mereka mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Aku berterima kasih kepada mereka. Sungguh, aku seneng banget. Aku memeluk mereka. Mereka ternyata juga ikut mengerjai aku, hehehe. Akhirnya kami menuju restoran seafood. Disana sudah tersedia langsung makanan khusus untuk keluarga ku, aku, dan teman – teman ku.
“Tante, tante tahu tidak? Waktu aku tadi nyamar jadi kuntilanak, Flora, anak tante tersayang ini sampek pingsan hlo tante gara–gara shock, hehehe.” ejek Marcel.
“Yee, siapa suruh tadi dandannya nyeremin banget. Hehehe…“ kataku. Semua anak tertawa lepas, begitu pula Ayah dan Ibu.
“Selamat Ulang Tahun, anak Ibu dan Ayah tersayang. Semoga tambah yang baik–baik saja ya.” Kata Ibu dan Ayah.
“Iya, Bu. Iya, Yah. Terima kasih.“ kata ku. Mereka berdua mencium kedua pipi ku.

Seorang pelayan tiba-tiba mengantarkan sebuah kardus berukuran sedang, dan menyuruh ku untuk membukanya. Setelah ku buka, ternyata isinya sebuah kue ulang tahun besar.
“Waaah? Makasih temen–temen. Ibu, Ayah. Aku sayang kalian semua.”
Akhirnya kami semua meniup lilin kue bersama, dan di fotokan oleh salah seorang pelayan. Kam makan, dan berfoto ria. Keesokan harinya, aku merayakan ulang tahun ku di sekolah. Setiap teman ku, kuberikan 1 bingkisan berupa boneka dan snack.

Sejak kami masuk SMA, geng sahabatku beranggotakan menjadi 6 orang. Nama anggota baru nya Angel. Dia anak yang baik. Kami semua hidup bahagia dan semoga masih bersahabat sampai tua nanti. Bagusnya, kami semua lulus UN SMP dengan masuk peringkat 5 besar yang semua ya diraih oleh anggota Friendship.itu yang membuat kami semua bisa diterima di SMA yang sama, SMA terfavorit di kota ku, SMA 271 bertaraf Internasional, juga kelas yang sama. Aku sebangku dengan Angel, Aisyah dengan Cindy, Rifky dengan Marcel.

_ S E L E S A I _

Baca juga Cerpen Motivasi yang lainnya.

Selasa, 24 Juli 2012

Cerpen Pendidikan Remaja - Senja Yang Mengantar Impianku

SENJA YANG MENGANTAR IMPIANKU
Karya Wardatul Adawiyah

Lambat laun dingin semakin menusuk, masuk kesegala rongga tubuhku, dingin ini beradu kuat dengan suhu tubuhku yang semakin panas terasa. Aku masih dalam kesakitanku! Sudah 2 hari aku terbaring lemas diatas kasur berselimut kain tebal berwarna merah dengan sedikit motif bunga tulip disetiap ujungnya.

Tanpa kusadari, mutiara hangat mulai jatuh, mengairi kedua pipiku. Semakin deras mengucur dikedua muara anak pipi. Aku menangis malam ini bukan alasan karena cinta, rasa sakit hati, bukan pula karena sakitku yang tiap harinya tidak menunjukkan perubahan kearah yang lebih baik. Tapi malam ini, kesedihan itu datang karena rasa rinduku yang membuncah mendengar suara lemah lembut beliau.

Setelah magrib usai, ibu menelfonku di seberang sana. Ia menanyakan perihal kabarku disini, menanyakan kabarku dalam perantauan selama sebulan terakhir. Aku sedikit gugup menjawab, dengan nada ragu-ragu kujawab bahwa diriku baik-baik saja ditanah kampung orang. Aku berbohong Allah, maafkan hamba Ya Allah, tidak ada niat sedikitpun untuk membohongi beliau.

Semenit berlau, dua, tiga, dan dimenit ke enam, ibuku merasakan kejanggalan dalam percakapanku malam ini.
“nak, kamu sakitkah ?” kupejamkan mataku sesaat, merasakan getaran suara yang mulai berubah.
“mm.. Amani baik-baik saja bu’, tidak apa kok”
“jangan bohong sama ibu, ibu tahu kau sedang sakit, suaramu melemas begitu, belum lagi batukmu yang selalu terdengar” aku hanya terdiam, mendengar suara beliau yang mulai diiringi dengan tangisan kecil.
“sudah berapa hari kamu sakit ?, apa ibu bilang, tidak usah sekolah jauh-jauh, kalau begini siapa yang mau menjagamu ?, pulang sajalah, tidak usah pikir beasiswa yang kau terima disana, ibu dan bapakmu disini masih bisa membiayai kuliahmu.! Aku menarik nafasku dalam. Sedikit kesal mendengar perkataan ibu barusan.

Segera kututup telefon ibuku diseberang sana, tanpa ada salam penutup yang sering mengakhiri pembicaraan seperti biasanya. Fisikku tidak sanggup mendengar semua keluh kesah ibu, tidak sanggup mendengar suaranya kian parau yang memecah jadi tangis. Maafkan Amani bu! Ini sudah keputusan Amani. Sekali lagi maaf.

Malam ini benar-benar membuatku sedih, sakitku ditambah kejadian barusan membuatku sedikit menitihkan air mata lagi. Jadi rindu kampung halaman, jadi rindu sosok luar biasa nan bersahaja dirumah sana, jadi rindu kecerian berbagi tawa dan canda bersama adik-adik, jadi rindu mereka yang jauh disana.
Kepalaku masih pening! Sepertinya sakitnya kambuh! Beban pikiranku ditambah satu lagi. Teringat malam yang telah lalu, saat esok kepergianku merantau di tanah kampung orang. Ah, mengingatnya membuat air mataku kembali bercucuran deras. Saat ayah, ibu, nenek, kakek, paman, bibi dan keempat saudaraku duduk melantai diruang TV. Malam itu kebahagiaanku terasa lengkap, semuanya hadir memberikanku pesan dan kesan sebelum esok aku pergi jauh untuk waktu yang lama.

Ini impianku, ini cita-citaku, bersekolah diluar kota dengan jurusan dan fakultas yang saya inginkan. Ayah dan ibuku bersih keras melarangku bersekolah jauh-jauh. Kesempatan itu sempat menjadi mimpi nyata yang nyaris terbuang begitu saja.
“kan bisa sekolah di Makassar saja nak! Masuk negerilah dulu, disini juga masih banyak universitas bagus! Tidak usah pikirkan beasiswa itu, ayah masih bisa membiayai, cita-citamu jadi seorang penulis juga bisa dimulai disini nak!”
“lantas kenapa Ayah mengizinkanku mendaftar disana ? Ah, bagi Amani perguruan Tinggi Negeri ataupun Swasta sama saja yah! Tergantung pribadinya kita sendiri, Amani juga dari sekolah swasta, tapi masih bisa bersaing dengan anak negeri. Pokoknya niat Amani sudah bulat! Amani ingin kuliah disana!” nada biacaraku sedikit meninggi.
“iya Ayah paham, ayah masih ingat jelas dengan cerita-cerita impianmu bahwa kamu ingin bersekolah diluar kota dengan jurusan psikologi dan ingin menjadi penulis muda, ya! Ayah masih ingat jelas itu nak. Tapi ayah tetap saja khawatir, kamu masih kecil untuk mengenal kehidupan diluar sana, bagaimana kerasnya kehidupan luar, kamu masih terlalu muda nak untuk kuliah jauh-jauh”.
“Belum lagi kamu sering sakit, lantas siapa yang akan menjagamu nak ? siapa yang akan menyiapkan makananmu ?” ibuku menambahkan.
“pokoknya Amani ingin sekolah disana! Amani ingin kejar impian Amani. Huh!”

Jauh sebelum malam itu, sering sekali Ayah dan Ibu mengurungkan niatku untuk bersekolah diluar kota. Tapi malam sebelum hari keberangkatanku, aku menyadari alasan mereka melarangku pergi! Kehidupan luar memang terlalu ganas untuk kulalui seorang diri ditanah kampung orang. Akan banyak rindu yang tumpah tiap malamnya, akan banyak rasa cemas yang selalu hadir, akan banyak air mata yang jatuh karena perpisahan ini. Namun, ini tetap cita-cita dan impian yang harus mengorbankan segalanya. Termasuk rasa egoisme diri kita masing-masing.
“ayah hanya berpesan, agar Amani disana tetap menjaga sholat, pergaulan serta akhlak Amani, bersekolah yang rajin, jangan kecewakan kami semua disini nak, kepergianmu besok adalah langkah awal dari mimpi-mimpimu, tetap hadirkah Tuhanmu ditiap langkahmu nak.!” Seraya tertunduk dengan mata yang sembab, Ayah mengecup keningku, memeluk anak sulungnya sangat erat dengan penuh perasaan cinta.
“ingat! jaga kesehatanmu, ibu tidak mau kalau sampai disana sering sakit lagi, jangan lupa sering minum vitaminmu, minum susulah biar gejala tipus mu itu tidak kambuh-kambuh lagi”
“ibuku sayang, kalau urusan minum susu, Amani nggak janji yah? Hehe ” sambil mengecup kadua pipi beliau. Malam ini kebahagianku lengkap sekali, doaku malam ini “Allah izinkan keduanya tetap dalam naungan kasih-Mu, limpahkan kelapangan serta kesehatan bagi keduanya.”

MAWARDA
Senja datang beriringan bersama jingga yang mulai menguning disudut kaki langit, sore itu, sebelum berangkat kebandara, aku datang ke ma’had yang membesarkanku, sore itu juga, aku benar-benar merasakan bahwa mereka semua, adik-adikku di ma’had, teman-teman, sahabatku bahkan guru-guruku turut menangisi kepergian kami berempat. Mendengar nasihat dan salam selamat tinggal rasanya tidak ingin jauh dari mereka semua. Namun, inilah takdirku, inilah impianku yang harus kukejar, yang harus kuraih, meskipun perpisahan memang kadang menyakitkan.
“Amani ini.!” Kulirik dari belakang sahabatku Mhiza.
“apa ini ?” seraya menerima bungkusan didalam kantongan plastik putih.
“hadiah dari sahabatmu disebelah rumah, yang dia janjikan itu loh! yang satunya lagi kenang-kenangan dariku” kubuka plastik putih itu dan kutemukan sebuah novel tentang ‘persahabatan’ dan satunya lagi buku diary yang lumayan besar berwarna cokelat muda.
“makasih ya Zaa..” Mhiza tersenyum. Aku berlari kearah ibuku yang berada didalam mobil, sejam lagi aku akan berangkat meninggalkan kota kelahiranku. Kota penuh kenangan dalam hidupku.
Bandara Internasional Hasanuddin 17: 25 WITA
Suasana bandara itu sesak, dipenuhi kerumunan manusia. Ada orang-orang yang sedang bergembira melihat sanak saudara serta kerabat mereka berdatangan dari persinggahan yang lama ditanah kampung orang, namun disisi lain, tidak sedikit juga mereka bersedih melihat keluarga serta kerabat mereka pergi untuk waktu yang lama.

Inilah seni kehidupan, dimana kita dihadapkan antara dua pilihan, kanan dan kiri, atas dan bawah, baik dan buruk serta pertemuan dan perpisahan adalah salah satu seni kehidupan yang selalu memberikan kesan berarti dan mendalam. Engkau akan mengenal seseorang ketika pertemuan itu datang menyapa, dan engkau akan merasa seseorang itu berarti dalam hidupmu ketika perpisahan datang menghampirimu, namun segalanya akan indah pada waktunya, baik yang buruk sekalipun akan terasa indah ketika engkau mengenang masa-masa dimana kita saling berbagi.
“Amani kutitip ke-3 temanmu, saling mengingatkan disana nak!, ingat tiga pesan ustadzah, jaga sholatmu, jaga pakaianmu, dan jaga hatimu nak, ingat! pergaulanmu yang salah bisa merusak dirimu sendiri” Ustadzahku memelukku erat, mengusap kepalaku serta mengelus lembut punggungguku.
Sedikit lagi, senja akan menghilang...
Kupeluk erat wanita perkasa itu, ah! Rasanya air mataku ingin tumpah lagi melihat beliau kembali menitihkan air mata. nenek ,adik-adikku , ustadzahku, sahabat-sahabatku yang turut mengantar, kuucapkan selamat tinggal, doakan kami semoga selamat dalam perantauan ini. Senja itu tak menghadirkan ayahku. Tidak apalah mungkin tugasnya kali ini benar-benar penting! Tapi, aku yakin dari kejauhan sana beliau tidak berhenti mendoakan anaknya ini.

Aku masuk! Perlahan bayangan nyata mereka mulai hilang dari pandanganku. Senjapun demikian, garis-garis jingga yang menghiasi kaki langit mulai samar. Kini siluet hadir menggantikan senja yang mengantarku pergi, yang membawa imipianku kesebuah tempat yang mengharuskanku berpisah dengan orang-orang yang kusayang untuk waktu yang lama.

Semoga pada senja berikutnya aku akan hadir bersama kalian, berbagi cerita, berbagi tawa dan canda dibawah langit penuh jingga itu. Ataukah senja yang hadir bersama gerimis manja yang melukis senyum indah pelangi. Aku akan bersabar bersama rinduku disini, bersama doa-doa kalian yang selalu mengalun ditiap sujudmu. Akan kubawa pulang sebuah amanah yang telah dititipkan diatas kedua pundakku yang telah menjadi mimpi nyata dalam kehidupan kelak.
“auu...” seberkas cahaya jingga masuk menembus jendela kamarku dari arah barat, kali ini senja membangunkanku. Menyilaukan kedua mataku yang telah menangis semalam suntuk. Masyaallah hampir lupa aku! Hari ini ada agenda penting dikampus, setengah jam lagi aku akan terlambat!.

Senja temani aku mengukir mimpiku disini, tetap bersamaku dalam kelapangan maupun kesakitanku. Berjanjilah padaku! Aku akan pulang bersamamu kembali. Kekampung kelahiranku dengan membawa sejuta harapan-harapan nyata bagi mereka. Pulang! Dan kau bersamaku akan menatap senyum tulus bahagia mereka dibawah naungan kasih Tuhan. Kabulkanlah ya Rabb! Amin, Amin ya Rabbul Izzati.
THE END

PROFIL PENULIS
Assalamualikum wr wb
salam hangat! salam ukhuwah dari diriku sendiri teman-teman.
kenalin nih yang punya cerpen diatas. namaku Wardatul Adawiyah, aku biasanya disapa "warda". aku berasal dari kota makassar, sulawesi selatan. aku dari kecil, bersekolah di YPP DARUL AMAN BUQ'ATUN MUBARAKAH GOMBARA MAKASSAR, dari Taman Kanak-kanak hingga masa abu-abuku kulewati dipondok biruku ini!. Alhamdulillah saat ini saya seorang mahasiswa disalah satu perguruan tinggi dikota malang (UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG) saya mengambil fakultas dan jurusan psikologi.
teman-teman sekalian jika ingin melihat karya tulis warda yang lainnya silahkan kunjugi blog di bawah ini :
www.jilbaberblue.blogspot.com atau www.mawarwarda.wordpress.com
kalian juga bisa baca coretan-coretan saya di facebook :
Wardatul Adawaiyah (Wardatul Adawiyah Aziz)

Sekian teman-teman, salam bahagia selalu.. :)

Baca juga Cerpen Pendidikan, Cerpen Remaja dan Cerpen Motivasi yang lainnya.