Tampilkan postingan dengan label Cerpen Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 September 2012

Cerpen Pendidikan Islam - Indahnya Bersedekah

INDAHNYA BERSEDEKAH
Karya Anisa Nur Dinawati

Saskia adalah gadis berumur 7thn, namun dia adalah gadis yang kurang beruntung. Orang tua mereka bermatapencaharian sebagai pekerja serabutan yang tidak mempunyai penghasilan yang tetap. Saskia duduk dibangku kelas I SD, dia anak yang baik, rajin, pintar, dan patuh serta selalu bersemangat untuk menuntut ilmu. Sepulang sekolah dia selalu mencari pekerjaan untuk membantu orang tuanya membayar biaya sekolah.
“Bu aku berangkat sekola dulu ya” suara mungilnya menghampiri ibunya yang sedang mengumpulkan cucian tetangga sembari tangan mungilnya itu mencium tangan ibunya.
“Iya, hati-hati ya Kia, belajarlah yang benar ya nak” jawab ibunya sembari mengelus kepala anaknya itu.
“Iya, pasti ibu !” ujar Saskia penuh dengan semangat.
Kaki kecilnya itu berjalan menyelusuri sawah yang becek dan sungai yang sedang surut airnya, sungguh besar perjuangan gadis kecil itu untuk menuju sekolahnya itu.
SDN Maju Jaya, adalah sekolah yang belum terjamah oleh pemerintah, sekolah itu sangatlah tidak layak pakai dan saat musim hujanpun sekolah terpaksa untuk diliburkan.

Di kelas Saskia adalah siswi yang sangat aktif dan cerdas, dia mendapatkan peringkat pertama di kelas semester pertama.
“Saskia, ikut ibu dulu nak ke kantor” ucap Bu Hidayah.
“Iya bu” jawab Saskia.
Tiba di ruang kantor guru, saskia duduk dikursi usang itu.
“Nak... ini surat untuk ibu mu, besok ibu mu menghadap ibu ya” ujar Bu Hidayah pelan.
“Memangnya ada apa bu?” tanya Saskia polos.
“Kamu belum bayar SPP 5bln Nak” jawab Bu Hidayah.
“Oh soal itu, baiklah bu, terimakasih” jawab Saskia sembari beranjak pergi dari ruangan itu.

Waktu pulang sekolah pun tiba. Saskia segera menuju kamar mandi dan berganti pakaian untuk mencari pekerjaan hari ini. Lalu perlahan Saskia menuju pasar yang sudah biasa ia datangi.
“Kasihan ibu dan ayah, aku harus membantu mereka” ucapnya dalam hati.
Kali ini Saskia bekerja membantu ibu-ibu yang membawa belanjaan banyak.
“Ibu boleh saya bantu bawaannya?” tawar Saskia.
“Iya boleh nak”
Hari itu lumayan Saskia mendapatkan uang 25rb dan ia segera pulang karena waktu yang sudah sangat sore. Diperjalanan dia bertemu dengan pengemis tua, dan dia merasa sangat kasihan pada pengemis itu.
“Nenek kelihatannya lemas sekali, nenek sakit?” tanya Saskia pada pengemis itu.
“Saya belum makan 2 hari ini nak, saya hanya minum air putih saja, itupun hanya dua kali” jawab pengemis itu lemas.
“Kalau begitu ini untuk nenek, lumayan untuk nenek makan dan beli minum” sembari menyerahkan uang 25rb yang tadi dia dapatkan dari hasil kerjanya.
“Terimakasih nak, kau memang gadis kecil yang berhati mulia, semoga tuhan selalu memberikan kecukupan untuk mu” ucap pengemis itu merasa terharu dengan sikap gadis mungil itu.
“Iya sama-sama nek, kalau begitu aku pulang dulu ya nek, nenek segeralah membeli makan dan minum agar nenek selalu sehat” ucap Saskia dan beranjak meninggalkan emperan toko itu lalu ia pulang.
“Iya hati-hati nak”
“Iya nek” sembari tesenyum manis melihat nenek itu tersenyum untuknya.

Setibanya Saskia di rumah.
“Assalamualaikum...” dengan suara yang lucu itu ia membuka pintu.
“Walaikumsalam, kamu dari mana saja Kia ?” tanya ibunya.
“Tadi aku bekerja membantu ibu-ibu di pasar membawakan belanjaannya bu” jelas Saskia dengan wajah yang polos.
“Ya ampun nak, kamu ga usah bekerja lagi ya nak, tugas mu hanyalah belajar sekarang, biar ibu dan ayah yang mencari uang untuk biaya sekolah mu nak” respon ibu Saskia sembari meneteskan air mata karena ia kagum dengan anaknya yang mau ikut bekerja demi kelangsungan sekolahnya.
“Ibu ga usah nangis, Kia ga apa-apa ko” tangan kecilnya itu mengusap air mata sang ibunda.
“Maafkan ibu dan ayah ya Kia? Kami belum bisa membahagiakan mu seperti anak-anak yang lainnya, sekarang kamu mandi lalu makan ya nak” sembari mencium pipi gembilnya itu.
“Aku tidak apa-apa ibu, tapi maaf juga ya ibu, hari ini aku ga bawa uang, uangnya aku kasih untuk nenek tua yang belum makan tadi” ucap polosnya Kia memeluk ibundanya.
“Kamu memang anak ibu yang sangat cantik dan baik, itu adalah hal yang mulia, kamu ga perlu minta maaf sama ibu” jawabnya bangga pada anaknya.
“Hem ini surat untuk ibu dari bu guru, dan katanya besok ibu ke sekolah ku untuk menemui Bu Hidayah guru ku” sembari mengeluarkan surat dari tas yang sudah robek kecil dibagian kanan dan kirinya itu.
“Baik, besok ibu akan ke sekolah mu nak”

Keesokan harinya Saskia berangkat sekolah ditemani ibundanya. Diperjalanan Saskia memberikan uang recehnya kepada para pengemis yang ia jumpai.
“Kamu memang peri kecil ibu nak” ucap ibunya dalam hati sembari tersenyum bangga.
Sesampainya mereka disekolah, Saskia langsung mengantarkan ibunya ke ruang guru untuk menemui Bu Hidayah.
“Assalamualaikum bu..” ucap ibu Saskia.
“Walaikumsalam, silahkan duduk ibu..” jawab bu Hidayah.
“Sebenarnya ada apa ya ibu menyuruh saya datang kemari?”
“Mengenai bayaran SPP, Kia belum membayarnya 5bln” jelas bu Hidayah.
“Oh masalah itu ya bu, baik bu saya akan segara melunasinya, namun saya butuh waktu satu minggu ini ya bu” jawab ibu Saskia.
“Oke, baiklah kalau begitu ibu”

Lalu ibu Saskia pun pulang, ia berfikir bagaimana caranya agar ia bisa membayarnya dalam jangka waktu yang seminggu ini. Berjalan perlahan dan dia menubruk Ibu muda dan kaya raya yang mengenakan pakain berwarna biru langit dan jilbabnya yang menutupi auratnya.
“Ma, ma, maaf bu, saya tidak sengaja” ucap ibu Saskia gugup.
“Ya tidak apa-apa bu, ibu mengapa melamun dikeramaian seperti ini?” tanya ibu Riyana pelan.
“Tidak, saya hanya memikirkan anak saya saja bu”
“Memang anak ibu kenapa, sakit?”
“Tidak bu, saya perlu biaya untuk sekolah anak saya”
“kalau begitu ibu mau tidak menjadi pembantu di rumah saya, kebetulan saya sedang memerlukan pembantu bu, saya akan beri upah Rp 1.000.000,00 -,bulan? Bagaimana bu?” tawar ibu Riyana pada ibu Saskia itu.
“I, i..iya saya mau bu, tapi saya butuh uang itu minggu ini bu?” dengan wajah yang mulai berseri dan meredup kembali.
“Kamu tidak perlu khawatir untuk biaya anak kamu biar saya yang tanggung”
“Benar begitu bu?” rasa tak percaya menatap wajah bu Riyana.
“Iya benar ibu” dengan tersenyum manis dan penuh rasa percaya bahwa ibu Saskia adalah seorang ibu yang jujur dan bertanggung jawab.
“Terimakasih ya bu, terimakasih banyak bu !” jawab ibu Saskia bahagia.
“Kalau begitu sekarang ibu ke rumah saya dan kalau bisa ibu mulai bekerja hari ini” jelas bu Riyana.
“Iya bu saya mau !” dengan nada yang penuh semangat.

Dan akhirnya Saskia dapat bersekolah dengan nyaman dan menikmati masa kecilnya dengan wajar.
“Ini berkat anak ku juga, dia selalu bersedekah kepada sesama dan kini Allah memberikan balasan yang lebih dari yang anak ku keluarkan, keikhlasan adalah hal yang terpenting dalam bersedekah, Allah tidak pernah tidur dan Dia slalu mendengarkan curahan hati hambanya, terimakasih ya Allah atas segala karunia-Mu, kini ku rasakan betapa Indahnya Bersedekah J”

PROFIL PENULIS
Nama : Anisa Nur Dinawati
Nama panggilan : Anisa or Icha
Asal sekolah : SMK Wikrama Bogor
Alamat e-mail : anisanurdinawati@gmail.com
Alamat facebook : anieza_mickey@ymail.com

Baca juga Cerpen Remaja, Cerpen Pendidikan dan Cerpen Islam yang Lainnya.

Rabu, 05 September 2012

Ramadhan - Cerpen Islami

RAMADHAN
Karya Najla Putri Mawaddah

PRANGGG… PLETAKKK…
Dengan emosi yang meletup-letup, Rama mengobrak-ngabrik lemari makanan. Segala piring dan gelas pun ia biarkan pecah dan melukai kakinya. Ia tak kuat membiarkan perutnya, terus bernyanyi. Ia tidak peduli, jika mamanya akan marah. Toh, sebenarnya juga, ia tidak pernah berpuasa. Hanya sekarang saja ia berpuasa, sebab ia ingin membuat mamanya diam dengan ceramahnya.
"Astagfirullah halazim, Rama! Apa-apaan kamu, nak? Kenapa piring dan gelas, pecah semua? Kamu nggak mau puasa lagi?" Bu Laila berdiri di daun pintu. Wajahnya merah padam. Ia pun berusaha menahan air matanya, agar tidak tumpah. Hatinya mulai gerimis melihat kelakuan anak semata wayangnya.
"Halah… puasa lagi, puasa lagi. Memangnya nggak ada kegiatan lain, ya, selain puasa?" jawab Rama dengan nada yang ditinggikan. Ia marah pada mamanya.
"Ya Allah, nak! Kamu tau, ini puasa apa?" tanya Bu Laila, berusaha untuk sabar.
"Puasa Ramadhan." Jawab Rama singkat dan cuek.

Bu Laila mengelus dada. Sudah berulangkali, ia menasehati dan mendidik anaknya, supaya menjadi anak yang sholeh. Anak yang selalu taat pada Sang Rabb. Pada Tuhannya. Namun ternyata ia gagal mendidik anaknya. Anaknya telah menjelma menjadi anak yang tidak taat. Rama tidak pernah menjalankan perintah Tuhannya. Rama selalu sibuk dengan urusannya sendiri. Segala hal-hal negatif sudah semua ia jalankan, sebaliknya hal-hal positif tidak pernah ia laksanakan.

Rama membuka kulkas, dan mengambil sebuah minuman di gelas. Ia teguk minuman itu, hingga habis tanpa sisa. Bu Laila merebut gelas itu, dan…

PRANGGG…

Bu Laila memecahkan gelas itu. Rama terkejut melihat sikap mamanya. Tanpa terasa, air mata Bu Laila telah membulir, membasahi pipinya.
"Sadarlah, nak! Kamu sudah dewasa. Sudah kelas 11 SMA. Kamu wajib melaksanakan Puasa Ramadhan. Kamu juga, wajib untuk melaksanakan sholat lima waktu. Mama memberi nama kamu, RAMADHAN, karena mama berharap anak mama menjadi anak yang sholeh. Anak yang selalu menjalankan perintah Allah. Termasuk Puasa Ramadhan." Tutur Bu Laila dengan penuh perasaan.

Rama diam, namun cuek. Perkataan mamanya, masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Percuma. Rama tidak akan peduli. Tanpa pamit, Rama melengos pergi meninggalkan mamanya yang masih mengeluarkan segala nasehat-nasehat.
***

"Ramaaa… mau kemana kamu, nak?" Bu Laila berlari, berusaha mengejar Rama hingga keluar rumah.
"Cabut," jawab Rama pendek. Ia mempercepat langkahnya.

Bu Laila terus mengejar hingga dari persimpangan jalan, sebuah truk melaju menghampirinya. Truk itu, kehilangan keseimbangan. Bu Laila tidak mengetahui hal itu. matanya hanya terfokus pada satu titik, yaitu Rama. Beberapa detik kemudian, insiden menyakitkan terjadi.

Refleks Bu Laila, merasakan tubuhnya melayang dan terbanting keras. Sekejab kemudian, semuanya mendadak GELAP…

Melihat insiden itu, semua mata memandang, berteriak histeris. Mendengar teriakan histeris masyarakat, Rama menghentikan langkahnya dan langsung menoleh kebelakang. Matanya membelalak tak percaya. Ia kaget bukan main. Air matanya tiba-tiba tumpah. Ia merasakan setengah nyawanya hilang. Hatinya nyeri dan gerimis, melihat sosok mamanya sudah terkulai tak berdaya.
"MAMAAA!!!"
***

Tut… tut… tut…

Suara mesin pendetak jantung, terus berjalan. Grafiknya pun, naik turun dengan teratur. Kondisi Bu Laila sangat kritis. Berkali-kali Rama memukul-mukul kepalanya. Ia terpukul. Tangisnya pun sangat memilukan. Ia menyadari, penyebab mamanya seperti ini, karena dirinya.
"Maaa… maafkan Rama!" Rama terisak. Ia pegangi kedua tangan mamanya, sambil berkali-kali menciumnya. "Gara-gara Rama, mama jadi begini. Rama menyesal, Ma! Mama harus kuat. Mama harus bertahan." Nasi telah menjadi bubur, dan tak akan menjadi nasi kembali. Kenapa ia tidak pernah sadar? Kenapa penyesalan itu, selalu datang terakhir? Rama merenung. Ia terlempar ke insiden dimana ia, menjadi anak yang durhaka kepada Tuhan dan orang tuanya.

Matanya terpejam sebentar, dan membuka kembali. Butiran air mata penyesalan pun turun membulir di pipinya.
"Ramaaa lihat? Tangan mamamu bergerak." Pak Qadar, ayahnya memberitahu. Rama tersadar, lalu kembali fokus pada Sang mama tercinta.
"Dokterrr… Dokterrr…" Pak Qadar memanggil-manggil dokter.

Tak lama, Dokter datang bersama suster. Mereka langsung memeriksa kondisi Bu Laila. Setelah selesai, terlebih dahulu dokter menyunggingkan senyum bahagia.
"Allhamdulillah, Bu Laila sudah melewati masa kritisnya. Bapak dan Adik, sudah bisa berbicara dengan Ibu. Tapi, jangan terlalu memaksakan Bu Laila untuk berbicara, ya? Pelan-pelan saja dulu!" jelas Dokter memberitahu.

Rama dan Pak Qadar menghembuskan nafas lega. Mereka mengucapkan terima kasih kepada Dokter dan Suster. Dokter dan suster pun tersenyum, lalu pamit untuk memeriksa pasien lainnya.
***

Perlahan, mata Bu Laila mengerjab-ngerjab berusaha untuk dapat melihat dengan jelas. Bibirnya sambil berkomat-kamit mengucapkan Asma Allah. Kemudian, matanya menangkap sosok anak dan suami tercinta.
"Ra… Ra… Ma… " ucapnya terpatah-patah.
"Ma… maafkan Rama, Ma! Rama menyesal. Rama memang anak durhaka. Gara-gara Rama, mama jadi begini. Rama sayang sama mama. Rama nggak mau mama pergi. Rama janji, Rama akan turuti semua kemauan mama. Rama janji, Ma!" ucapnya to the point dan serius, sambil terisak.

Air mata Bu Laila jatuh membulir di pipi. Ia terharu mendengar perkataan anak semata wayangnya. Pak Qadar ikut menitikkan air mata. Mereka mengelus-ngelus kepala Rama, dengan penuh kasih sayang.
"Benar, kamu akan turuti kemauan mama?" tanya Bu Laila tak kalah serius. Rama menggangguk mantab. "Kalau begitu, mama mau kamu masuk pondok pesantren, nak! Setiap orang tua sangat menginginkan anaknya menjadi anak yang sholeh. Mungkin dari Pondok Pesantren, kamu akan menjadi yang lebih baik, nak! Hanya itu permintaan mama. Seterusnya mama tidak akan minta apa-apa lagi dari kamu!" lanjutnya.
"Rama, ayah sama mama punya sahabat ustadz di sebuah pondok pesantren. Namanya Pondok Pesantren Modern Al-Mizan. Didikkan di pondok pesantren itu, bagus, nak! Ayah sama mama percaya sama pondok pesantren itu. kita ingin kamu mondok disana, nak! Kalau kamu mau, ayah sama mama akan masukkan kamu disana. Kita akan menitipkan kamu sama sahabat ayah." Jelas Pak Qadar.

Sejenak Rama diam. Ia berpikir dan menimang-nimang keputusannya. Dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia ingin berubah. Tekatnya sudah bulat, untuk membahagiakan orang tuanya. Terutama mamanya.
"Rama mau Ma, Yah!" ucapnya kemudian dengan suara lugas dan mantab.

Allhamdulillah. Bu Laila dan Pak Qadar mengucapkan syukur. Tak menyangka, anak semata wayangnya, akan mengucapkan sebuah kalimat yang selama ini mereka idam-idamkan.
***

The End

PROFIL PENULIS
Nama saya Najla Putri Mawaddah. Lahir di Tangerang, 31 Januari 1996. Sedang bersekolah di sebuah pondok pesantren Modern Al-Mizan Putri, yang terletak di Cikole-Pandeglang. selama ini saya mempublikasikan karya saya di mizan post, majalah al-mizan. da jaringan sosial lainnya. saya berharap, kamu kamu yang membaca menyukai karya saya ini. bagi yang mau bersilaturrahmi hayu silakan, mampir ke facebook dan twitter saya, story_najlapm@hotmail.com

Baca juga Cerpen Islam yang lainnya.

Selasa, 28 Agustus 2012

Cerpen Islami - Doa Untuk Bidadari

DO’A UNTUK BIDADARI
Karya Abdurrahman Malik El Hady

Di sebuah auditorium kampus, berdiri seorang laki-laki berkemeja biru tua, tampak rapi dengan mengenakan peci hitam tertancap di kepala. Dengan wajah tampannya, Ia tebarkan senyuman pagi cerah, siap akan menyampaikan kuliah di hari pertamanya menjadi dosen. Kegagahan beliau memancarkan pesona kekaguman semua pelajar di dalam ruangan. Tak heran seorang mahasiswi berkerudung kuning penasaran bertanya kepadanya, “ Pak, kalau boleh tahu, apakah bapak sudah berkeluarga?”, perempuan itu agak malu rupanya bertanya demikian. Namun dengan bijaknya sang dosen tersenyum dan menjawab, “ hhhmmm,,, mungkin saya jawab dengan sebuah cerita…”. Semua orang terkesima penasaran ingin mendengarkan cerita pak dosen, suasanapun menjadi hening, semua telinga terpusat, pak dosen perlahan bercerita.

“ Dahulu, ada seorang pemuda yang telah lama belajar agama di sebuah pesantren di Jawa Tengah, Ia termasuk anak yang baik akhlak dan budi pekerti, pintar dan juga banyak prestasi yang pernah ia raih, baik di dalam pesantren maupun di luar pesantren. Orang-orang sering memanggilnya dengan nama Fawwaz, si peraih banyak prestasi. Alasan mengapa Fawwaz selalu mendapat juara dalam segala hal, karena ia terangkat dan termotivasi oleh seseorang. Dia bagi Fawwaz adalah perhiasan berharga yang selalu menghiasi hatinya, selalu membuat jiwanya membara untuk meraih apa yang Fawwaz cita-citakan. Iapun sebenarnya telah lama bersemayam dalam lubuk hati Fawwaz, namun Fawwaz belum berani mengatakan isi hatinya.

Setelah lulus dari Sekolah Aliyah dan pesantrennya, Fawwaz dipanggil oleh Kyai pesantrennya. Fawwaz merasa ada yang aneh dengan sikap yang dilakukan sang kyai pada hari itu sampai-sampai memanggilnya masuk ke dalam rumah. Tidak disangka pak Kyai ternyata telah mengetahui bahwa Fawwaz menyukai seorang santriwati Tahfidz al Qur’an, ia bernama Nurul Hidayah. Fawwaz tertunduk malu. Seketika itu Pak Kyai menghubungi orang tua Nurul dan meminta anaknya untuk bersedia dilamar oleh seorang santri yang akan melanjutkan kuliah di Mesir. Orang tuanya dengan ta’dzimnya menerima permohonan Pak Kyai itu. Tanpa basa basi, Pak Kyaipun menanyakan kesiapan Fawwaz langsung dan memohon orang tuanya untuk mempersiapkan lamaran. Fawwazpun mengiyakan dengan ekspresi kaku tidak menyangka.

Akhirnya digelarlah acara lamaran Fawwaz di kediaman Nurul yang dihadiri keluarga Fawwaz dan juga Pak Kyai dan istri. Resmilah kedua sejoli ini menjadi pasangan lamaran yang tinggal menunggu janur kuning ditancapkan. Semuanya sepakat pernikahannya agar diadakan setelah kepulangan Fawwaz dari Mesir. Senyum wajah Nurul memancar, dengan anggun Iapun menunduk sebagai isyarat mengiyakan.

Kemudian, Fawwazpun diberangkatkan dengan diantar oleh keluarganya dan Nurul yang ikut melepas kepergian menuju pengembaraannya ke Negri Pyramid. Sebelum berangkat, beberapa patah kata terlontar dari bibir dingin Fawwaz, “ wahai bidadariku, bersabarlah kau menanti, tetap tancapkan rasa cinta ini untuk obati, kerinduan kita yang kan mekar disaat ku pulang nanti, ku siap menjadikanmu satu-satunya bidadari, yang kan selalu menemani hidup kemana ku pergi, untuk mendapat ridho ilahi rabbi…”. Hati Nurul memerah merona mendengarnya, Iapun menjawab, “ baiklah wahai kekasihku, aku ikhlas dengan kepergianmu, akupun kan bersabar menantimu, tak lupa iringan do’aku kan selalu menyertaimu, sampai tiba waktunya kita kan bersatu, mengukir kasih cinta yang kian menggebu-gebu, dalam nahkoda bimbinganmu wahai kekasihkku…”

Sesampainya di Kairo, Fawwaz mulai disibukan dengan kegiatan kuliahnya, ia begitu semangat, serius dan bersungguh-sungguh. Cita-citanya ingin berhasil dengan predikat terbaik. Fawwaz masuk di Fakultas Ushuluddin, jurusan Tafsir Al Qur’an. Kesenangannya dengan tafsir membuat kesehariannya senantiasa digeluti dengan kitab-kitab tafsir. Fawwaz seolah orang yang kehausan akan ilmu, waktunya hampir habis dengan kegiatan keilmuannya, dari mulai kuliah, mengulang pelajaran, menghafal al qur’an, mengaji dan mengikuti dauroh-dauuroh yang diadakan oleh kalangan masisir (mahasiswa Indonesia di Mesir) dengan para masyayikh.

Di tengah kesibukannya, sebetulnya Fawwaz terkadang merasa rindu kepada pesona indah wajah Nurul. Ketika itu, Ia selalu pergi ke pinggiran sungai Niil, menikmati keindahan aura sungai terpanjang dan termakmur di dunia, sambil duduk menyendiri meresapi angin kota Kairo, membayangkan bidadari impian hatinya dengan ditemani burung-burung beterbangan, Iapun sering mengungkapan isi hatinya dengan menendangkan syi’ir cinta arab,
“ asirbal qithoo, hal man yu’iiru janaahahu # la’alli ila man qod hawaitu athiiruu “
“Wahai segerombolan merpati,,,apakah diantara kalian ada yang berkenan meminjamkan sayapnya # sehingga aku bisa terbang menuju orang yang sangat ku cinta” .

Nurul yang merupakan santriwati tahfidz terbaik, seringkali mengirim surat lewat pos untuk Fawwaz, dalam suratnya Nurul memberi tahu bahwa ia sudah menyelesaikan hafalan Al Qur’an lebih cepat, Ia juga memohon izin untuk mengabdi sambil mengikuti kuliah keguruan di Instutut yang ada di pesantrennya. Nurul memang perempuan yang sangat sholehah, Ia sering memberi nasihat dan motivasi agar Fawwaz senantiasa tekun ibadah, kuliah dengan rajin, sehingga mendapat ilmu yang berkah dan manfa’at. Setelah membacanya, Fawwaz seolah mendapat energi dan semangat baru. Kata-kata Nurul membuat gelora jiwanya meningkat. Ia bertekad harus menjadi yang terbaik, karena ia akan menjadi Imam dari bidadari jelitanya.

Akhirnya kurang dari empat tahun, Fawwaz mampu menyelesaikan kuliahnya dengan predikat syaraf ula / cumlaude, Ia berhasil menghafal al qur’an 30 juz dan nadzom-nadzom penting yang selalu dibutuhkan dikalangan masyarakat, seperti Alfiyyah, Zubad, dan ilmu penting lainnya. Fawwazpun pernah meraih dua kali kejuaraan pembacaan puisi arab dalam even yang di adakan Universitas Al Azhar. Semua itu berkat sosok seorang bidadari calon pendamping hidupnya, yang senantiasa menentramkan jiwa, membakar semangat dan cita-cita.

Setelah kepulangannya dari Mesir, Keluarga Fawwaz dan Nurul sepakat meresmikan pernikahan di pertengahan bulan syawwal, tepat setelah satu bulan Fawwaz di tanah air. Persiapan acara sudah meriah, siap untuk digelar. Keluarga, kerabat dan masyarakat berbondong-bondong menghadiri acara. Iqrar ijab qobul diucapkan dari lisan Fawwaz dengan bahasa arab fasih, semua hadirin mengesahkan, semarak suasana membahana bahagia, akhirnya kedua sojoli telah sah terikat dengan tali pernikahan, Fawwaz dan Nurul diarak dengan mobil sedan yang sudah dihias indah, saat itulah Nurul telah halal untuk Fawwaz, dengan hangat Nurul mencium tangan Fawwaz, dengan kasih dan sayang Fawwaz mencium kening wajah anggun Nurul dan membelainya dalam pelukan. Namun ketika berada di jalan raya, tiba-tiba sedan yang ditunggangi sepertinya oleng, terlihat si sopir sepertinya mengantuk karena semalaman begadang, sekilas dari arah yang berlawanan mobil truk yang melaju kencang menabrak sedannya hingga terguling, kecelakaanpun terjadi.”
Semua orang di auditorium kaget dan menjerit histeris, bahkan ada yang menangis. seorang bertanya keheranan, “ lalu bagaimana nasib Fawwaz dan Nurul, Pak? “

Sang dosen melanjutkan lagi ceritanya, “ Ya, Alhamdulillah Fawwaz masih bisa diselamatkan, Namun,,, Nurul,,,, Ia tewas di tempat kejadian“… ruang auditorium menangis, tetesan air mata tidak bisa dibendung. “ Fawwaz waktu itu sangat terpukul dan frustasi, namun Ia masih diberi ketabahan. Ia berdo’a, semoga istrinya dimasukan ke dalam surga, menjadi bidadari pendamping diakhiratnya kelak. Kemudian, untuk menghilangkan kesedihannya, Fawwaz bertekad kembali ke Mesir melanjutkan Master sampai doktoral, kemudian kembalilah Fawwaz ke Indonesia, dan saat ini dia berdiri di depan kalian semua”, DR. H. Muhammad Ulul Azmi el Fawwaz, MA.

Mukalla, Juni 2012, Abdul Rahman Malik El Hady…
*****

PROFIL PENULIS
Saya hanya seorang pelajar di negeri perantauan Yaman, tepatnya di Universitas Al Ahgaff- Hadramaut - Yaman. Berasal dari Majalengka, Jawa Barat dan pernah menyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah 2 Bumiayu-Jawa Tengah.
Semoga Cerpen ini bermanfaat dan mampu memotivasi menuju kebaikan...Amiin. Syukron.

Baca juga Cerpen Islami yang lainnya.

Sabtu, 25 Agustus 2012

Cerpen Motivasi Pendidikan - Ana Ingin Jadi Wartawan

ANA INGIN JADI WARTAWAN
Karya Dwiana

Takdir telah tercatat 50.000 tahun sebelum manusia dilahirkan, segala kejadian sudah tertuang dalam kitab terbentang (Lauh Mahfudz). Ketentuan pasti terjadi, tinggal jalan mana yang manusia pilih untuk menjemput ketentuan itu. Sepenggal untaian itu Aku ciptakan sendiri untuk menemani semangatku dalam meraih ambisi, menjadi orang sukses dalam perantauan.

Aku memang sedikit berbeda dengan saudaraku yang lebih qona’ah, menjalani kehidupan dengan slow dan nrimo, mungkin karena basic agama kakakku yang lebih kental sehingga menganggap dunia itu bukan ambisi utama yang dikejar. Sementara Aku selalu menganggap semua orang punya hak dan kesempatan yang sama untuk menjadi sesuatu tanpa terpacu pada materi.
“Keputusanmu sudah bulat Ndok?,” tanya Bapak yang sebenarnya berharap Aku melanjutkan usahanya jualan di Warung dekat SMP Negeri di Kampungku. “Sudah Pak, keputusanku sudah bulat ingin kerja di Bandung dan melanjutkan kuliah disana,” jawabku dengan tegas.


Kehidupan keluargaku memang sederhana, Bapak jualan di warung ditemani ibu tiriku. Sejak SMP kelas 1 ibu kandungku sudah dipanggil Allah lewat perantara penyakit komplikasi yang beliau derita. Aku sebenarnya setuju saja tetep tinggal di kota Reog asal Bapak mendukungku melanjutkan bangku pendidikan di Universitas, tapi sayang alasan ekonomi selalu menjadi dalil Bapak untuk menolak proposalku itu. Alhasil dengan tekad sekeras baja saat temen-temen seangkatanku asyik liburan sambil menunggu kelulusan, Aku memilih mencari kerja dengan satu alasan, cari uang untuk beli tiket pergi ke perantauan.

Alhamdulillah dapat, walau kerjaan itu membuat satu hariku seperti sebulan lamanya, pagi jadi pembokat siang jadi pramuniaga di toko kue. Dengan penghasilan Rp 250.000/bulan Aku pertahankan sampai malam takbiran keluar dari ruko itu, “Mas lebih setuju kamu nemenin Bapak jualan saja Na,” sela kakak melihat Aku tampak sibuk membereskan sisa packing karena sebentar lagi Aku segera meninggalkan kota tercintaku ini, “Mas sudah tahu sendiri bagaimana kharakterku, Aku tidak bisa dipaksa Mas,” ungkapku protes.
“Ya sudah terserah Kamu, Saran Mas jangan lupa khodratmu sebagai wanita. Jaga dirimu apalagi disana Kamu sendiri. Dekatkanlah diri pada Allah, insya Allah sesulit apapun akan ada jalan jika Kita berserah diri pada-Nya,” tutur kakakku. “Nggih Mas matur nuwon, Ana berangkat dulu Mas, Pak, Mbok’e,” pamitku sembari mencium tangan mereka satu per satu.

Seiring bus Pahala Kencana meninggalkan bumi Reog, semakin meninggikan ambisiku untuk berhasil di kota lautan api itu,” Aku datang ke Bandung untuk sukses, dalam profesi Aku nanti ingin jadi reporter atau wartawan, yang terpenting tidak terikat ruang waktu karena Aku orangnya cepat bosan…,” gumamku menerjemahkan asaku.

Pagi itu, di akhir September 2009 Aku sudah menginjak tanah Leuwi Panjang, kucari kontrakan saudaraku yang sejak 6 tahun lalu kerja disini. Tidak terlalu sulit, karena angkot berlalu lalang ke segala penjuru, “Kalau mau ke Sukamenak Kopo naik yang mana ya Mang,” tanyaku pada salah seorang sopir angkot sembari membaca nama alamat di secarik kertas, “Naik Soreang saja Neng, nanti bilang ke sopirnya turun di Kopo. Patokannya dekat Indomart, nanti tanya lagi dimana Sukamenak, tidak jauh dari situ,” papar Amang itu menjelaskan.
“Assalamualaikum..” salamku sembari mengetuk pintu nomor 52 blok E Sukamenak, “Walaikumsalam….,” jawab pemilik rumah membukakan pintu, “Anaa…..Ya Ampun kamu sudah nyampe sini, gak sms biar dijemput saja di Leuwi Panjang, untung kamu gak nyasar,” celoteh keponakanku Santi. Aku hanya senyum-senyum saja sambil memeluk kangen keponakanku yang udah setahun tidak bertemu.
Kuceritakan ihwal dan niatku merantau disini, saudaraku yang baik hati dengan tulus membantu mencarikan kerjaan, “Apa ajalah yang penting Aku bisa ngumpulin uang biar nanti bisa ngelanjutin kuliah, kuliah kelas karyawan juga ndak apa-apa,” paparku saat ditanya mau kerja apa.
Beberapa lamaran kerja Aku masukkan ke sejumlah pabrik di kabupaten Bandung, hampir sebulan Aku belum mendapat panggilan untuk tes kerja, pikiranku mulai suram, ditambah bekal sakuku semakin menipis… “An coba kamu besok ke pabrik yang ada di daerah Caringin kota Bandung, denger-denger disana ada lowongan,” kata Santi memberiku semangat.

Selesai Subuh, kuisi perut ini dengan sarapan lauk bala-bala dan sambal, kunikmati saja apa adanya karena inilah sari pati hidup, orang harus merasakan perih dulu jika ingin senang. Lalu kucari alamat pabrik X seorang diri karena Santi ada kerja lembur tak bisa menemani.
No. 18 N, ini dia pabriknya, “Permisii…” kataku setengah teriak, “Yaa ada apa” jawab security dari dalam, “Maaf pak saya mau memasukkan lamaran kerja,” terangku. Pak Satpam itu kemudian membukakan pintu gerbang dan Aku dipersilahkan untuk masuk dulu ke post security, “Komandan ini ada wanita mau memasukkan lamaran kerja,” kata satpam itu pada komandannya.
Kemudian Aku diinterview seputar keahlianku, “Kamu bisa jahit” tanya komandan, “Tidak bisa Ndan,” “Wah repot kalau gitu. Disini syaratnya harus bisa jahit,” papar komandan, “Gini aja coba kamu berdiri,” Aku turuti sambil komandan itu memperhatikan postur tubuhku, “Tinggi cukup, badan cukup, wajah juga cukup,” gumam komandan mengomentariku. “Kamu jadi security girl aja mau, nanti biar Saya yang ngurus ini itunya,” kata komandan menawarkan.

Pulang dari Pabrik Aku memikirkan tawaran komandan, “Security girl,” Aku bayangkan diriku memakai seragam biru, memberi hormat jika owner perusahaan lewat, lalu harus terlihat galak pada karyawan,” huuffft Aku sulit memutuskan. Disatu sisi Aku harus segera kerja, di sisi lain bukan bidang ini yang Aku inginkan. Dengan segala pertimbangan akhirnya ku ambil tawaran itu.
Seminggu Aku menjalani diklat lapangan dan test klasikal, lari 5 putaran, PBB, dan latian fisik lainnya. Untung di SMA dulu Aku aktif di Pramuka dan PALA jadi ini tidak terlalu berat bagiku. Tugas pertamaku di sebuah Pabrik Tekstil di Daerah Cimahi. Aku berkenalan dan berteman dengan security yang lebih senior di area sini. Ada 15 security pria dan 1 security wanita, mereka cukup ramah dan baik padaku.

Menjalani pertemanan dengan seniorku dari berbagai daerah, diantaranya Bandung, Cirebon, Garut, Tasikmalaya, Subang, Purwokerto, Timur Leste, dan daerah sebrang, Aku cukup nyaman dengan suasana ini. Dari cerita mereka, profesi security kebanyakan dipilih karena pelarian Tentara dan Polisi yang gagal atau tidak lulus tes.
Berteman dengan mayoritas pria dan profesi yang lazim disandang pria membuat kharakterku semakin tomboy, “Ana, dilihat kau tidak pantas jadi satpam. Pantasnya nerusin sekolah saja. Sayang masih muda sudah jadi satpam. Ini pekerjaan keras,” ujar seniorku bang Heri.

Kata-kata dari Bang Heri mengusik pikiranku, seakan Aku diingatkan kembali terhadap mimpi dan asaku untuk apa Aku datang ke Bandung. Sedih kurasakan, “Bapak ternyata hidup di kota itu tak semudah yang Aku bayangkan,” lirihku menatap cermin di kamar sambil berlinang air mata.
“Aku harus bangkit lagi, Aku harus mengejar cita-citaku jadi wartawan atau reporter,” tekatku menutupi rasa sedih.

Besoknya kuceritakan mimpi-mimpiku pada teman-teman satpam dan karyawan di pabrik itu, “Ahh mimpi di siang bolong kamu mah. Mau jadi wartawan kesiangan..hahaha,” mereka mengejekku. Aku tersentak dengan respon mereka..memang harapanku terlalu tinggi mengingat asal-usul, kemampuan dan pendidikanku, “Bang Wandy, apa Ana terlalu bermimpi ya untuk jadi kuli tinta,” tanyaku pada Wandy, satpam yang paling dekat denganku, “Jangan nyerah Na sebelum kamu memulai dan mencoba..tidak ada yang tidak mungkin kok..tidak apa-apa bermimpi..tidak salah bermimpi setinggi-tingginya, masalah jatuhnya di kubangan mana itu haq Allah,” tutur Wandy memberiku semangat, “Kalau Ana memang serius ingin jadi wartawan, Ana pindah di area tugas yang ada ladang ilmunya. Saya dapat informasi dari kawan, 2 mingguan lagi di Area Skol Kristen daerah Pasteur membutuhkan 07 (satpam perempuan), karena 07 yang sekarang mau cuty hamil. Paling tidak itu lebih baik dari tempat kerja sekarang,” Informasi dari bang Wandy itu segera ku chek croscek. Tak berfikir lama segera Aku mengajukan diri pindah tugas.

Seminggu sebelum aq over tugas ke Skol Kristiani itu, pagi hari ketika Aku hendak berangkat tugas terdengar teriakan orang, teriakan bukan hanya dari satu orang, melainkan ramai banyak orang, “Kami menagih haq Kami yang kalian rampas..Kembalikan uang Kami..” terdengar keras teriakan itu semakin Aku mendekati area kerja. Rupanya suara itu berasal dari puluhan orang yang demo di area kerjaku. Dari cerita bang Wandy, para pendemo itu Eks karyawan yang sudah pensiun namun hingga 1 Tahun sejak mereka resigh uang pensiun belum dibayarkan oleh Pabrik.

Sebagai keamanan Aku turut mengawasi jalannya demo agar tidak rusuh… Uppzz, mataku tertuju pada sosok pria disela kerumpulan orang demo itu, tapi dia tidak ikut berteriak lantang maupun membawa poster-poster yang berisi kecaman, pria yang kira-kira berumuran ¼ abad dengan jaket hitam itu tampak sibuk mengambil gambar melalui kamera Canon yang ia tendeng, setelah itu dia mewancarai seorang pendemo menggunakan recorder kecil, tampak sangat gagah, tanpa sadar Aku tersenyum simpul sendiri… “Heiii…tunggu,” teriakku nyamperin Dia setengah berlari, karena tampaknya Dia sudah selesai dengan kepentingannya…”Kamu memanggil Saya?” jawabnya menoleh padaku, “Iya..Kamu, Kamu wartawan? Boleh Aku kenal Kamu, Aku ingin jadi wartawan,” ucapku cepat karena Dia terlihat tergesa..”Ini kartu namaku, maaf Aku duluan ada liputan lain..,” kata dia sembari pergi meninggalkan gerbang pabrik…

Kubaca lekat setiap kata dan nomor telpon yang tertera di kartu nama itu. Nama laki-laki gagah itu Dany, seorang wartawan Mingguan yang bertugas lintas daerah. Hatiku bergemuruh, jantungku berdetak lebih cepat, bukan karena pria itu tapi karena Aku akan menemukan jalan menuju puzzle mimpiku.
“Assalamualaikum maaf ini dengan Kak Dany, Wartawan Koran X?” kataku setelah Ia mengangkat teleponku, “Walaikumsalam ya benar Saya sendiri, Anda siapa” jawabnya… dialog itu berujung kita janjian di suatu tempat, tepatnya hari Sabtu, karena Aku sekarang sudah pindah tugas di Skol Kristiani dan mendapat libur hari Sabtu Minggu.
“Kenapa Kamu ingin jadi wartawan An,? tanya Dany, “Karena Wartawan itu tugasnya mulia, menyampaikan dan mendidik masyarakat dengan berita yang ia bawakan, trus wartawan itu tempatnya kaum inteleq, dan kerjanya tidak terikat ruang waktu jadi tidak monoton,” jawabku dengan lancar. Jawaban itu kulontarkan berdasarkan pengalaman pribadi sewaktu SMA dulu masih aktif di Ekskul Journalist dan Announcer, walau lingkupnya hanya kecamatan setidaknya ada basic di bidang itu, “Iya betul memang seperti itu, tapi Kamu siap dengan resiko seorang wartawan,” tanyanya lagi kali ini dengan nada lebih ditekan, “Apa memang resikonya Kak,” tanyaku balik karena belum tahu konsekwensi yang ia maksud, “Penjara atau Kuburan” jawabnya dengan mata tajam. Aku agak tersentak dengan pernyataan Dany, namun ambisi dan mimpi menaklukan ketakutanku, “Aku siap kak,”.

Setelah kesiapanku, Dany mengajariku tentang Journalist dari ilmu yang Ia dapat sewaktu di Universitas dan ilmu dia praktek di lapangan. Setiap Sabtu Minggu kuhabiskan waktu dengannya, dengan pelajaran tertulis tentang dasar-dasar journalis, cara membuat berita, kode etik wartawan dan bahkan di bulan ke-4 sejak kita mulai belajar, Dany mengajakku langsung terjun ke lapangan. Aku mengamati bagaimana cara dan alur Dany ketika mewawancarai narasumber. Aku begitu bahagia bisa bertemu dan kenal dengan Dany. Pria gagah yang baik hati itu menemaniku menjemput mimpi. Aku sangat berharap persahabatan dan agenda rutinitas Kita setiap Sabtu Minggu bisa bertahan lama, paling tidak sampai Aku mandiri dan tidak jadi wartawan amatiran lagi. Tapi rupanya takdir berkata lain, bulan ke-7 sejak kita belajar bersama, Dany dipindah tugaskan di Bogor, “Jujur Aku sedih harus jauh dari kakak. Kak Dany adalah semangatku dalam mengejar asa ini. Aku tidak tahu gimana ngelanjutin pembelajaran ini tanpa kakak,” tuturku diiringi tangis melepas kepergian Dany, “Ana, Saya hanya perantara dari Allah untuk menjemput cita-cita Kamu. Kalau kamu yakin bahwa Allah Maha adil jangan pernah putus asa,” itu nasihat terakhir yang Dany sampaikan sebelum Ia menuju kota hujan.

Hari berganti hari kujalani dengan semangat yang menurun drastis. Sebagai tentara langit biru di area skol, tugasku menerima tamu sebelum menghantarkan tamu itu ke recepsionist di sekolah kristiani tempat Aku mengais rejeki, “Siang mbak, Saya ada janji dengan Pak Marlon guru fisika mengajar kelas 12,” kata seorang tamu menghampiriku, Aku belum pernah melihat tamu ini sebelumnya. Sekilas dia seperti keturunan Chinese, tapi masih ada darah Indonesia dilihat dari warna kulitnya sawo matang typical khas kulit orang Indonesia, “Siang Pak, tapi jam istirahat teacher masih 2 jam lagi,” tuturku pada tamu itu, “Iya tidak apa-apa memang janji kita jam 12 nanti, cuma tadi ada keperluan yang terpending jadi saya putuskan kesini saja sambil menunggu Pak Marlon,” ujarnya.

Sambil menanti jam istirahat, tamu yang memperkenalkan diri dengan nama Robert itu mengajakku berbincang. Dia seorang dosen di Universitas Teologi, “Mbak gerejanya dimana,” tanya Robert, Aku kaget dengan pertanyaan itu, “Maaf Pak saya muslim,” jawabku, “Okh anda islam, Saya tadi tidak menyangka lho kalau mbak islam. By the way mbak masih muda kenapa mau jadi security,?” pertanyaan Robert kembali membuatku gugup. Kuceritakan saja perjalanan hidupku selama di rantauan ini karena Pak Robert orangnya cukup care sehingga Aku tidak canggung, “Wahh sayang ya mbak, orang dengan ambisi dan semangat yang kuat seperti mbak tidak terakomodasi. Kalau di Kita orang-orang seperti mbak pasti akan diperhatikan,” terangnya, “Maksud Bapak gimana?” tanyaku tak mengerti terhadap statement pak Robert, “Maksudnya kalau mbak ikut keyakinan Kami mbak akan sukses. Kebetulan saya dosen dan banyak jaringan, kalau mbak mau ikut keyakinan Kami saya bisa usahakan beasiswa journalist SI di UN yang mbak bisa pilih sendiri dan beasiswa S2 di Amerika. Tapi dengan membawa visi dari keyakinan Kami,” papar Pak Robert. Aku hanya melongo dan terdiam mencerna setiap kata yang Pak Robert lontarkan.
Aku akui, walaupun KTP islam tapi Aku belum mengenal Allah, kewajibanku 5 waktu saja masih banyak bolongnya. Tawaran itu mengikis imanku, bayangan kuliah, journalist, keliling dunia terbayang di kelopak mataku.

Aku diberi waktu sebulan untuk mengambil atau menolak tawaran itu. Saat ada tawaran besar seperti ini Aku sangat membutuhkan teman untuk share, bukan keluarga karena keluargaku tidak mengerti ambisiku. Aku teringat Kak Dany, kuhubungi nomornya, “Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan” suara operator seluler yang selalu Aku dengarkan setiap menghubungi nomor kak Dany telah memutus persahabatan Kami. Aku benar-benar kehilangan sosok teman yang sangat baik dan Aku butuhkan sarannya.
Mendekati hari pertemuan dengan Pak Robert Aku putuskan untuk mengambil tawaran itu, “Yach hanya dengan cara itu mimpi-mimpiku bisa jadi nyata. Hidupku hanya sekali dan akan Aku manfaatkan hidup ini sesuai keinginanku,” ucapku membakar semangat diri.

Hari H bertemu dengan Pak Robert, kita janjian di Universitas tempat beliau mengajar. Perjalanan ke Universitas Aku naik angkot, disamping tempat dudukku, ada seorang wanita berjilbab seusiaku tampak serius membaca sebuah buku, Aku perhatikan raut wajah wanita itu tampak bercahaya, tidak terlalu rupawan tapi sangat sejuk dipandang, “Afwan, Ukhti dari tadi mengamati Saya, ada yang bisa saya bantu,?” tutur wanita itu menyadarkanku bahwa dari tadi Aku telah terpana dengan cahaya di wajahnya, “Oh maaf, itu bukunya bagus,” kataku salah tingkah, “Ini buku tentang dasar-dasar islam, kalau mau Ukhti bisa membacanya,” kata wanita itu dengan santun, “Oya Ukhti hendak kemana,?” tanyanya, “Astagfirullah hal adzim” ucapku dengan tangis terisak sambil memeluk wanita itu…….

Baca juga Cerpen Islam, Cerpen Pendidikan dan Juga Cerpen Motivasi yang lainnya.

Kamis, 23 Agustus 2012

Cerpen Remaja Islam - Udara Malam Diluar Pesantren

UDARA MALAM DILUAR PESANTREN
Karya Faqih Sulthan

Betapa banyak dari kalangan muda berhenti dari mengejar cita-cita, kehendak mulia, mimpi-mimpi fantastis dalam capaian prestasi, hanya lantaran keteledoran, hanya karna ulah menyimpang yang mulanya hanya iseng iseng belaka, atau mental ‘nanti dulu’, atau sikap ‘sebentar dulu’.akhirnya lama kelamaan jiwanya mulai layu, semangat mulai redup. Gairah berkaryanya semakin kering. Akhirnya ia pun terhenti dari segala harapan yang telah menanti di ujung kerja kerasnya.

Malam Jumat itu seusai solat isya’ para santri asik ngobrolin sang kyai yang tak kunjung datang mengisi tausiah, banyak dari santri yang menduga tausiyah bakal dibatalin. Tentu aku dan kawan kawan bingugn apa yang muski dikerjain malam itu, mau tidur..,udah tadi siang di sekolah!, mau makan..,paling menunya gituan, kalo ngrumpi?,alah...... ngga’ usah disebutin jelas itu DOSA!. Kalo sudah begini bengong bareng deh!.

Sedang enak-enaknya bengong, tiba-tiba “DOARR” benturan pintu membuat kesunyian kamarku terpecah, ternyata setelah di telusuri Rio atau panggil saja O-lah penyebabnya.
“Asal kalian tahu!, udara bebas telah menanti kita, tunggu apa lagi mumpung Ustadz-Ustadz pada lenggah” teriak O layaknya Bung tomo.
“ Anta ga’ usah mimpi! Kalo ketahuan kita bisa jadi jama’ah botak.” Saut Tahta menolaknya.
“ Alah.... not effect lagipula cuman semalam!” bantah Afix mendukung O.
Setelah kedua kubu ini cukup lama bersitegang, akhirnya kubu dari O-lah yang memenangkanya, dengan berat hati akhirnya Rizki dan simpatisannya mau tidak mau harus menuruti O atas dasar kekompakan.

Tapi masih saja ada halangan dengan terbentuknya gerakan NonBlok yang beranggotakan Iqbal & Yovie, awalnya aku-pun termasuk dari mereka dengan setempel disiplin terukir di jidat ku, tetapi dibagian hatiku yang lain menggatakan akan timbul kedengkian yang bakal menimpaku, itulah sebabnya peraturan yang berdiri tegak di pondok ini terpaksa ku robohkan dengan dalih rumus phytagoras, loh ! ko’ phytagoras ?. Ya karena rumus phytagoras berlaku untuk segitiga siku-siku, bunyi rumus phytagoras adalah panjang sisi miring kuadrat sama dengan jumlah kuadrat dari panjang sisi yang lain. atau secara matematis ditulis C² = B² + A² maka dapat disimpulkan bahwa, antara O sebagai C², Rizki sebagai B²,dan Aku sebagai A² masing-masing memiliki posisi yang saling berkaitan walaupun memiliki sifat variabel yang berbeda mereka mampu membentuk sebuah bangun segitiga siku-siku atau yang kita sebut sebagai kekompakan.
” ujar Affan yang ketika itu menjabat sebagai atasan kami. كيف يمكننا الخروج من هنا دون علم الأستاذ"
“ta’ usah kawatir kita gunakan saja jamur sebagai tameng” seru Ady dengan bangga.
“maklut so...?” kata yang dilontarkan kawan-kawanku usai mendengar ucapan Ady.
“gini lo..awalan, kita sibukan para Ustadz dengan keberadaan Iqbal & Yovie, bila para Ustadz terlena dan gerbang masih terbuka lebar kita bisa segera keluar dari sini” jelas Ady mirip Adolf hitler ketua Nazi pas nyusun strategi penyerangan inggris.

Malam itu juga sesuai komando, rencana itu betul-betul kami kerjakan. Satu persatu para santri kabur dari pondok. Kami dengan mudah bisa lolos dari sepengetahuan Ustadz dan itu bukan karena Iqbal & Yovie yang berhasil melemahkan penjagaan para Ustadz ,akan tetapi memang Ustadznya yang lemah.
Kabur dari pondok bukan soal seberapa ketat penjagaan atau kawat berduri yang menghalangi melainkan ini soal seberapa kuatnya pagar nafsu yang dimiliki para santri. Meski sehebat apapun penjagaannya kalo pagar nafsunya rusak akan tetap saja mudah dibobol. Kitab Ta’limul muta’alim yang sering kami kaji tak begitu berdampak pada kami, sehingga 14 bab yang terdapat di dalam kitab ini (istilah kitabnya, fashl) yang membahas tentang metode belajar, keutamaan ilmu, motivasi belajar, memilih ilmu, guru, dan kawan serta memuliakan ilmu dan ulama, yang sesungguhnya berfungsi sebagai reparasi pagar nafsu malah hanya dijadikan para santri moderen semacam kami sebagai syarat terhindar dari jeweran ustadz Ladun selebihnya hanya Allah dan masing-masing diri mereka yang tahu.

Kami telah keluar dari tempat kami menuntut ilmu. Yang biasanya sarung dan gamis menyelimuti kini jins dan jemper membuat kami Jauh dari kata santri. Bulan terus fokus melihat langkah kami, berbeda dengan orang tua kami yang tertidur pulas tanpa mereka ketahui kalau anak-anaknya ternyata telah menghianati kepercayaan mereka. meski Rizka dan kawan-kawa telah meyakinkanku, Hatiku tetap kebat kebit. Soalnya ini pertama kali aku membolos.
Alun alun, ya! Disanalah kami nanti singgah, berkumpul dengan banyak lapisan masyarakat. Tak perduli mau konglomerat, miskin, kafir, mukmin yang taat bahkan yang munafik-pun ada disana.
Kami terus menyusuri kota yang kami sebut kota labirin karena sekian banyak jalan yang kami lalui tersekat oleh dinding-dindingnya yang menjulang tinggi. Dari jauh sudah terdengar ayat-ayat Allah terlantun begitu indah membahana ditengah kota, sementara yang mendengarkan bertentangan dengan apa yang telah didengar. Itu terbukti tatkala kami tiba di alun-alun, para pejantan dan betina bercumbu seolah mereka telah menantang Allah dengan menyalahi Q.S An nuur: 30-31. Tapi sayang, bagi calon-calon kyai seperti kami tak banyak yamg mempermasalahkan itu.

Rizka dan teman-temanya kemudian pergi kepusat pertokoan. Jalan-jalan muter-muter. Masuk ketoko mainan, nyobain jadi anaknya orang berduit. Juga liat-liat kaus-kaus yang sulit kami ditemukan di almari santri dan puncaknya, main dingdong! belasan logam koin dihabiskan untuk nyobain semua permainan. Makin sering kalah makin penasaran.
Menjelang pukul sembilan malam kami masih asik main, sampai-sampai gak tahu kalo sekelilingnya udah sepi. Tanpa duga, nongol Satpam ngusir –ngusir kami, ya udah nggak ada pilihan lain kami musti cepet keluar dari gedung itu dengan koin masih tergenggam di tangan.

Lagi asyik menikmati AC terahir di pintu utama gedung, di sebrang jalan raya tampak dari teman kami memangil-mangil mengisyaratkan agar kami segera menghampirinya, seolah-olah ada kejadian luar biasa telah terjadi.
“Rugi kalian ngelewatin kejadian yang tak kan ada dua kali, ada duel antar dua geng yang kedua duanya sama-sama punya kekuatan gaib, yang satu pakek jurus harimau, yang satunya lagi jurus pocong ya.. kayak ngilang gitu deh” jelas Alpin nyerocos.
Alpin baru bisa berhenti dari ocehanya ketika ia melihat dari balik pungung ku tampak seorang ibu yang menghampiri kami lantas menawarkan sisa roti ulta milik anaknya kepada kami dengan cuma cuma, ya.. meski udah ga’ utuh yang penting enak, gratis lagi ,he.he.he.
Belum sempat roti terbagi rata, kami kedatangan tamu yang kalau dinilai dari penampilanya sudah barang tentu bukan santri layaknya kami. kumal,semiran, dan aneh. Tapi yang lebih aneh disaat kami merasa terancam, ternyata ia hanya ingin mengajak kami bertanding sepakbola. Maka malam itu juga tepat pukul 11.30 WIB di bundaran Kudus terjadilah duel antara PERSIPON dengan JFC (jalanan football club) yang bakal disaksikan beribu-ribu kendaraan yang lalu lalang.

Lampu-lampu toko berangsur-angsur padam tanda bahwa malam semakin larut, tetapi pertandingan ini malah semakin seru, ketika banyak trik-trik menakjubkan yang ditampilkan mereka di hadapan kami seperti flick up, el elastico, lift ball, Marseille roulette , serta samba. Pemain kamipun berjatuhan dibuatnya.
Dari mulainya pertandingan, bola belum samasekali menyentuhku, hingga akhirnya ia menghampiriku dengan sendirinya, tapi sayang itu tak berdurasi lama, karna Tahta dengan semangat mengglora meminta bola itu agar segera diserahkan padanya. Dengan berat hati satu umpan amatir kuberikan pada Tahta, sang kapten, yang langsung menyundul bola dengan sisi kanan kepalanya. Namun, Keeper tak mau kalah, ia menepis bola kedalam lapangan pada waktu yang tepat. Tak sampai disitu saja Rifki pun ikut serta dalam perselisihan itu, ia melakukan chip volley tinggi diatas keeper yang terjatuh, dengan keras bola melesat melintasi tumpukan sendal-sendal gawang dan meningalkan area pertandingan, menciptakan gol sehingga kita memipin dengan sekor 5-3. Pada menit ke 80-an ‘ehh inget ngak ada intermission’ ,

Kapten JFC melakukan gerakan hell kick flick pada Huda yang seketika itu terkecoh, ia melakukan one two bersama temannya, dan ia melakukan tendangan volley rendah yang langsung menjebol gawang timku. Skor menjadi 5-4, karena pertandingan ini tak ber wasit dan tak diberi batas waktu, maka yang perlu di lakukan ialah mencetak angka sebanyak-banyaknya sampai ada di antara kami yang terkapar kecape’an. Tapi asal kalian tahu pertandingan itu usai bukan karna kami kecape’an melainkan ketika bola yang kami rebutkan terpental jauh melambung menghantam teravo lampu alun-alun dengan begitu kerasnya. Akibatnya lampu alun-alun mati dengan seketika! “ waduh!...., kabuuur....* woy ojo lali sandale,” “sandalku neng di? #%^ “ heh iku sandalku!”. Kami ketakutan bukan kepalang melebihi takut kami saat menghadapi Mbah Syem (direktur pondok) ngamuk.
Entah apa yang kami takuti, hingga harus merelakan sandal pada jebot. Padahal kabur dari pondok saja menjadi hal yang membanggakan, tapi mengapa hanya karna lampu alun-alun mati kami musti kayak maling lompat sana ngumpet sini. Kalo begini kesimpulannya berarti memang sudah tidak terbesit lagi sifat tanggung jawab di dada kami.

Langkah kami semakin melambat seiring semakin jauhnya alun-alun dari pandangan kami, tak selang beberapa lama sohabatku Afix tanpa beban memutuskan agar perjalanan ini dilanjutkan ke rental PS, padahal belum kering keringat di tubuh kami. Sekarang terbukti jika saiton itu memang tak akan pernah lelah bila sudah berurusan dengan misinya yakni menggoda manusia.
“Ana Muflis ni” ujar Khafidz memanja.
“Ya, lagi pula mata ku wis riyep riyep ki !” saut Daus sembari mengucek matanya.
“Menara ya’ !” yang lain menyauti.
Meski mereka tak bermaksud membela aturan pondok aku turut gembira ada dari kawanku yang tidak berminat menuju rental PS, andai insiden ini terjadi tentu akan menjadi pelanggaran pondok ke 2 bagi kami. Memang benar di dalam nas Al-Qur’an tak ada yang menerangkan keharamannya sehingga ini menjadi perkara kontemporer yang harus disesuaikan dengan peraturan yang berlaku.
Meskipun yang berniat ke rental PS resesif tetap saja tak menyurutkan hasrat para pecandu PS hadir ke tempat terlarang itu. Kejadian ini menggambarkan hukum (–) x (+) = (–) keburukan yang walau didalamnya ada kebaikan hasilnya akan menjadi buruk. Solusinya kami yang (+) harus memisahkan diri dari yang (–), tak ada pilihan lain selain berpisah dari yang (–) agar tak ada yang terkontaminasi.

Kamipun memutuskan bermalam di masjid yang dibangun sunan jaffar shadiq, yang di sana banyak orang berbondong bondong minta-minta, ya.. minta di panjangin umurnya lah, dilulusin sekolahnya lah, dikayakan hartanya lah, bahkan minta dikasih receh pun ada alias pengemis he,he,he.. yang jelas mintanya selain kepada Allah SWT (musrik). Tapi ada juga yang tidak musrik ko’, ya.. kayak kita-kita ini ni, didikan ponpes Muhammadiyah dengan doktrin murni dari nabi Muhammad masak percaya ama hal yang khurofat kaya’ gitu mau dibawa kemana wajah KH. Ahmad Dahlan.
Kami terus menyusuri jalan beraspal yang tak kunjung dingin, padahal sesekali angin malam menerpa tubuh kecil kami. Terus melangkah dengan berharap masjid yang kami idamkan telah di depan mata, agar bola mata yang kian memerah ini segera tertutup rapat rapat.

Sampailah di bagian yang mengingatkanku akan sejarah perang diponegoro tepatnya tatkala rakyat pribumi bersatu dalam semangat "Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati"; sejari kepala sejengkal tanah dibela sampai mati. Namun ini tidak ada sangkut pautnya dengn perebutan tanah, karna ini adalah kejadian yang bermula ketika kami telah berjalan jauh meningalkan komunitas PS tiba-tiba dari ujung jalan tampak segrombolan anak anak muda yang postur tubuhnya menggingatkan kami dengan para pecandu PS itu,
“Ya itu memang mereka, lihat saja ada yang sandalnya jebot itukan Huda” ujar Farizi sembari melenggak lenggokkan kepalanya.

Setelah dirasa opserfasi sudah cukup teliti, Azkipun angkat bicara
“Hei! Aku punya ide nih, gimana kalo perjumpaan ini kita bikin mirip kayak adegan tawuran!, kayak anak STM yang di tp-tp itu.tu... ”

Kami berlari dengan begitu menjiwai seolah menujkukan bahwa kami memang bakat dalam tawuran. Harap maklumlah, dipondokkan udah sering tawuran kalo ayam lauknya. Di sisi lain, para PS-man juga nampak ter Ilhami menanggapi sandiwara ini mereka berlari kencang menghampiri kami.
“heyaaaaaaaaa!!!” gemuruh suara kami.

Padahal kami tahu disekitar TKP banyak bapak-bapak lagi asik ngumpul main catur sambil ngemil kacang godok, e..malah gara-gara ulah kami, kacang godoknya ketuker ama pion, wak ka’ ka’ ka’.. Oops.
“E .e.e..... ka..mpul !” peki’ salah satu warga karena kecewa melihat kami enga’ jadi pukul-pukulan malah berlaga layaknya aktor Keanu Charles Reeves pas main di film Matrix meranin tokoh Neo.
Saat itu aku tak sempat berfikir jikalau notabenku adalah seorang santri 13 th, yang ada hanya perasaan gembira soalnya rental PS yang mereka tuju tutup, jadinya kami bisa pergi ke masjid sunan kudus bareng-bareng.
Tak kusangka kaki ini telah hadir di permukaan tanah menoro, debu yang sekian lama menumpuk di raut muka segera tersterilkan oleh air wudhu. Sebelum terpejam kami sempatkan mendirikan solat malam meski terkadang dengungan ahli dzikir sempat mengganggu.

Di keheningan malam -/+ jam tigaan, kenyamananku bermimpi mulai terusik saat kudengar suara aneh yang terus merambat ditelingaku *#^%*)(@!?>+! “Hiiiiii....,..” sepontan aku terprangah melihat tubuh O yang dibelai pemuda cantik bertingkah kemayu.
“Suts sutsO,O.bangun, ..bangun” kawan ku berusaha membangunkannya dengan suara lirih. Kami tak mampu berbuat banyak karna banci itu badanya kekar, tapi untunglah ada orang bawa’ gagang pell dengan suara lantangnya mengusir si banci tadi, seketika si banci kabur tergopoh gopoh sembari terdengar ia menggerutu.
“Nang ! omahmu ngendi ?”seru si tukang pell.
“ndha’an pak”balas O ngibul.
“bali kono Masjidte apek ano pengajian” serunya.
“Huh* untunglah O masi berjaka kalau ga’ jadi repot urusanya” sindir kawanku.
Ada yang mengganjal bagiku. Sebenarnya apa alasanya hingga banci barusan bisa dibuat kawanku O mabuk kepayang. E,,,Ternyata setelah ku infestigasi semua ini berawal dari ulah O tatkala beranjak ke rental PS ia menggoda si banci !. jadi sekarang sudah jelas,semua ini dikarenakan hukum kausalitas atau bisa di terangkan melalui perinsip archimedes "Jika suatu benda dicelupkan ke dalam sesuatu zat cair, maka benda itu akan mendapat tekanan keatas yang sama besarnya dengan beratnya zat cair yang terdesak oleh benda tersebut".
Dengan sesal bercampur rasa geli karena nasib O barusan, kami jadi kesulitan menentukan kemana lagi kita harus singgah, jikapun ke pondok, yang ada malah digrebek, masak ke alun-alun lagi, ya.. udah lah emang disana nasip kami berikutnya.
Kepergian kami disambut para santri salafi yang berdatangan memenuhi panggilan sang kyai, dengan ditemani kitab kuning yang tertempel di dadanya mereka siap mengabdi pada guru.

Entah apa yang membuat mereka berbeda dengan kami yang hanya bisa perotes dan mengkritik, jika di tela’ah dengan seksama mungkin santri modern memang takkan mungkin 100% percaya terhadap gurunya namun hal ini akan menciptakankan penyaluran ilmu yang dapat terevaluasi melalui dobrakan dobrakan yang dilakukan santri-santrinya tapi sayangnya hal ini berdampak pada mental ketawadhu’an mereka terhadap guru. Oleh karna itu mau santri salaf atau modern yang terpenting tawadhu’ dan tidak menjadi santri yang pasif /hanya menerima materi dari sang guru tanpa mengetahui kebenaranya.

Mata kering memerah, kaki mengeras, sekujur tubuh lengket oleh keringat terasa sedikit terobati ketika kami telah berhasil menaklukan medan yang jauh dan bisa berbaring pulas di teras masjid agung Kudus.
“tak tak tak tak taktak tak, dung.... dung.... dung dung dung dungdung dung...dung.......dung..,Allah.......................huak,barAllah........................huak,bar”, suara muazin yang mirip kaya’ Afgan itu menandakan subuh telah tiba. Meski sedikit malas-malasan karena ga’ ada pak Hasan ngopyai ,kami tetap menunaikan salat subuh dengan iman yang masih tersisa di hati.

Takbirotulikrom lalu membaca alfatihah + ayat-ayat dalam al qur’an kemudian ruku’ lalu iktidlal dan next, e.’.’.’. eladalah! kami tersungkur sujud tanpa tahu kalo ada do’a kunut, tanpa bosa-basi seketika layaknya video direplay kami kembali tegak. Meski di dalam salat kami sedikit malu dengan jama’ah lainya karna memperjuangkan karakter, kami tetap berusaha mengahiri salat itu dengan khusyuk.
Setelah menunaikan ritual ibadah yang jarang-jarang bisa ditemukan di masjid kami. Kami segera beranjak keluar kemudian duduk-duduk menikmati asap knalpot yang semakin mengusir udara subuh hanya untuk memperoleh mentari terbit dari balik gedung Ramayana.

Apakah ini yang disebut O sebagai kebebasan. Yang bisa keliling supermarket, sepakbola bareng anak jalanan dan main PS sampai-sampai harus dipeluk banci. Kalo memang benar itu kebebasan maka apa bedanya kita dengan gelandangan atau lebih extrimnya binatang yang baginya kebebasan berupa perbuatan tiada aturan. Padahal seasik apapun kebebasan takkan sedikitpun lepas dari resiko yang telah disiapkan oleh Allah. Lantas mungkinkah santri dengan mental macam kami kelak akan memperoleh cahayaNya, hanya do’a yang dapat ku panjatkan.
Ini hanya sekeping kisah pesantren yang masih terpatri dimemori setiap pelakunya adapun hikmah didalamnya itu tergantung dari hati yang merasakan.

PROFIL PENULIS
Nama saya Faqih Sulthan, Lahir dengan darah kota ukir, tumbuh di tanah kota wali, menimba ilmu di bawah langit kota keretek (ponpes muhammadiyah kudus). 

Baca juga Cerpen Remaja dan Cerpen Islami yang lainnya.

Selasa, 21 Agustus 2012

Cerpen Islam - Hanya Kau Yang Bisa

HANYA KAU YANG BISA
Karya Reisha Fadhilah Hadianty Achadiat

*Pengenalan Tokoh Utama*
Parasnya yang ayu, jalannya yang anggun, pakaiannya yang sopan, sikapnya yang lemah lembut, senyumnya yang khas, membuat semua orang yang berada di dekatnya sangat tak ingin kehilangan sosok gadis itu. Namanya Kiena, dia gadis yang sangat rendah hati dan ceria. Orang-orang yang berada di dekatnya pun nyaris tak pernah melihat setetes pun air mata yang jatuh membasahi pipi Kiena. Dan mereka sering bertanya-tanya mengapa Kiena seperti nya sangat senang menjalani hidup ini bagaikan tanpa masalah, namun Kiena hanya membalas pertanyaan teman-temannya itu dengan sebuah senyuman.

*Saat Di Kuliahan*
"Naa... Kamu udah ngerjain tugas dari Pak Gunawan?" Kata Dinda teman sekampus Kiena.
"Hmm?" Jawab Kiena sambil mengingat-ingat.
"Udah atau belum?" Tanya Dinda sekali lagi.
"Oh... Yang mana yah?"
"Yaah diaa.. beuuuhh... Itu loh yang di suruh bikin makalah tentang manajemen keuangan."
"Oh.. Udah.. Udah.. ada di tas, dari waktu itu juga udah selesai kok.."
"Enak banget, kok aku belum selesai yah? Kamu apa sih resepnya ko bisa cepet banget ngerjainnya?"
"Hehe.. Waktu yang aku punya ga banyak, sedangkan yang harus aku lakukan itu banyak."
"Itu doang? Gimana bisa?"
"Intinya.. hargai waktu :D "

Dinda hanya terdiam dan mencoba untuk mencerna perkataan yang keluar dari mulut Kiena, tapi sampai keesokan harinya, kata-kata itu pun masih menjadi sebuah misteri yang belum bisa dipecahkan. Kebetulan rumah Dinda dan Kiena berdekatan, akhirnya Dinda segera menanyakan kembali apa yang di maksud oleh Kiena, karena dia masih belum mengerti dan tugas dari Pak Gunawan belum terselesaikan.
“Kienaa... Aku mau nanya lagi !”
“Kamu mau nanya apa sih? Nanya mulu.. hihihi”
“Langsung ke intinya aja deh yaah, bantuin aku donk naa buat ngerjain tugas nya Pak Gunawan.. yah yah yah ;)”
“Emang apa sih susahnya? Tinggal nyari inspirasi di google terus edit sedikit kata-katanya, tambahin aja sama ilmu yang kamu punya tentang materi itu.”
“Yaah...” Jawab Dinda sedikit kecewa.
“Oh iyaa... coba deh kamu bayangin, fikirin sama kamu. Ayah kamu tiba-tiba males buat kerja, males aja deh pokoknya.”
“Yahh.. kalau males gimana aku bisa makan sama keluarga aku yang lainnya, bahaya tuh kalau papah aku jadi males gitu.”
“Sip, jawabanmu tepat sekali. Males itu adalah sikap yang negatif, dan hasilnya pun bakalan negatif. Buat diri sendiri atau bahkan buat orang lain. Sekarang kamu itu lagi mengidap penyakit MALES stadium.... euumm..”
“Oh tidak mungkin Kiena sayang, aku ini anak nya rajin kok.. Liat aja, besok tugas dari Pak Gunawan udah selesai.”
“Kamu yakin waktu yang kamu punya itu banyak?”
“Hmm.. 24jam cukup kan?”
“Cukup?”
“Ih Kiena apa-apaan sih ah.. aku jadi serem kalau ditanyain gitu terus sama kamu..”
“Hahahahaha... Aku selalu mikir, gimana kalau tiba-tiba kaki aku gak bisa aku gerakin lagi, tangan aku juga tiba-tiba kaku, aliran darah aku berhenti, mata jadi kunang-kunang, aku juga gak bisa nafas lagi, dan itu terjadi ketika aku memikirkan hal ini.. Aku selalu saja membayangkan bagaimana jika itu semua terjadi.”
“Ih.. Kiena.. Lagi-lagi aku jadi parno nih, asli ini aku takut banget dengernya..”
“Kenapa harus takut? Bukannya itu semua bakal kita alamin kan?”
“Yaa tapi kan aku gak mau itu semua terjadi sama aku atau kamu sekarang juga, masih banyak hal yang kurang di perhatikan dalam hidup aku.”
“Alhamdulillah, sekarang kamu udah ngerti kan maksud ucapan dari aku kemarin?”
“Hah?Hmm...” Dinda hanya menggaruk-garuk kepala tanda dia masih belum mengerti apa yang di maksud Kiena.

*Ketika Malam Tiba*
Tepat pada pukul 23.30 WIB, lagi-lagi Kiena tidak bisa tidur karena sibuk memanaje waktu agar semua yang dia harapkan dan ingin diperjuangkan bisa terwujud secepatnya. Harapannya dalam dekat ini sangat simple, dia ingin melihat adik-adiknya yang putus sekolah kembali bersekolah, dan ayahnya yang berhenti bekerja karena terkena PHK bisa menyambung kembali untuk bekerja. Dan ibunya berhenti menjadi seorang TKW di Negeri Arab sana. Dan untuk masalah pribadinya, Kiena ingin sekali penyakit yang di deritanya itu pergi yang jauh dan vonis dokter terhadap dirinya yang katanya masa hidup Kiena sudah tidak lama lagi karena penyakit yang di deritanya itu adalah kebohongan yang nyata, dan itu sama sekali mustahil. Kiena masih ingin hidup di dunia ini, karena Kiena ingin menjadi pribadi yang tangguh dan menyenangkan di mata orang-orang yang melihatnya dan tentu saja yang utama adalah di pandangan Tuhannya, Allah SWT karena Kiena menganut keyakinan Islam.

Setiap malam hari jika terbangun, Kiena selalu melakukan sholat tahajud, Kiena selalu berdo’a agar semua harapan yang sedang dia usahakan itu dapat terwujud sebelum semuanya terhenti. Meskipun Kiena masih ingin merasakan indahnya hidup di dunia, namun Kiena tak bisa mengelak jika masa hidupnya memang harus berakhir dalam waktu yang tak jauh dari ini, Kiena ikhlas jika dia harus mati.
“Asalkan aku gak diam, asalkan aku terus berusaha dan terus menggerakkan anggota tubuhku untuk melakukan hal-hal yang positif dan Allah mengizinkannya, aku akan tenang jika aku harus mati dalam waktu dekat ini.” Begitulah kata-kata Kiena kepada dirinya sendiri ketika sedang melakukan sholat tahajud.

Setelah melakukan sholat tahajud, Kiena langsung berbaring di atas kasurnya dan kemudian dia memejamkan matanya dan dia mulai tertidur.

*Pagi harinya*
Saat itu Kiena sedang memakai sepatu di depan rumahnya dan Dinda sedang berjalan melewati rumah Kiena ketika akan pergi ke kampusnya. Dan setelah Kiena selesai memakai sepatunya dia mulai berdiri, namun tiba-tiba saja Kiena terdiam sambil memegang erat kepalanya. Kiena merasa kesakitan dan menjerit-jerit karena saking sakitnya. Dinda yang melihat kejadian itu merasa kaget dan segera menghampiri Kiena, namun Kiena malah membalikkan tubuhnya karena tak ingin Dinda melihat keadaannya yang seperti itu. Tak lama dari itu Kiena terjatuh ke lantai, dan banyak darah yang keluar dari hidungnya. Dinda menangis melihat keadaan teman dekatnya itu lemah terkapar tak berdaya. Dinda tak menyangka bahwa orang sebaik Kiena dan seriang Kiena ternyata harus mengalami hal yang menyakitkan seperti itu.

Dinda langsung membawa Kiena ke dalam rumahnya, dan Dinda menanyakan keadaan Kiena kepada adik-adik dan ayahnya.
“Pak, sejak kapan Kiena seperti ini?” Tanya Dinda kepada ayahnya Kiena.
“Bapak sendiri juga tidak tahu nak kalau Kiena seperti ini, Kiena gak pernah kayak gini sebelumnya. Setau Bapak Kiena itu sehat-sehat saja.” Jawab ayah Kiena.
“Hmm... Masa sih Pak? Memangnya Kiena gak pernah cerita apa-apa gitu sama Bapak? Takutnya Kiena emang punya penyakit yang cuma Kiena sendiri yang tau.”
“Aduh, itu anak emang bandel.” Sambil menepuk jidatnya.
“Hmm.. Pak, gimana kalau bawa Kiena ke rumah sakit aja? Soal biaya udah biar Dinda aja yang minta tolong ke papah Dinda, gimana?”
“Iya, terimakasih yaa nak. Bapak cari dulu mobil”
“Nggak usah Pak, papah belum pergi kerja kok. Biar sekalian aja. Dinda telpon dulu deh papahnya.”
“Alhamdulillah, beruntung sekali Kiena punya teman dekat seperti Dinda.”
Dinda pun segera menelpon papahnya dan menceritakan kejadian yang baru saja terjadi terhadap Kiena temannya. Dan papahnya menyetujui keinginan Dinda untuk mengantarkan Kiena ke rumah sakit.

Dinda pun segera mengirimkan SMS kepada teman sekampusnya untuk memberitahu kan kepada dosennya bahwa Dinda dan Kiena tidak bisa hadir ke kampus hari ini di karenakan Kiena masuk rumah sakit.

*Ketika di Rumah Sakit*
Ketika sesampainya di rumah sakit Kiena langsung dibawa ke ruang UGD dan di periksa oleh dokter yang bersangkutan.

Setelah beberapa menit Kiena di periksa, kemudian dokter yang menangani Kiena keluar dari ruangan UGD tersebut. Ayah Kiena beserta yang lainnya langsung menanyakan bagaimana keadaan Kiena kepada dokter.
“Bagaimana keadaan Kiena anak saya, dok?”
“Mari ikut ke ruangan saya, hanya Bapak saja.” Jawab dokter serius.

Ayah Kiena pun segera mengikuti dokter ke ruangannya. Dan setelah sampai...
“Bagaimana Pak? Sebenarnya ada apa dengan anak saya? Apakah dia punya penyakit yang serius?”
“Benar Pak, penyakit ini sudah lama sekali di derita oleh Kiena anak Bapak, sudah sampai ke bagian otak kanannya.”
“Memang anak saya mengidap penyakit apa ya dok?”
“Ada tumor di otaknya, dan itu membuat Kiena selalu merasa kesakitan.”
“Apakah penyakitnya mematikan, dok?”
“Itu hanya Tuhan yang mengetahui, apa yang terbaik untuk Kiena saat ini. Namun memang, untuk saat ini di prediksikan hidup Kiena sudah tidak lama lagi, hanya tinggal beberapa minggu lagi. Karena penyakitnya memang sudah parah sekali.”
“Astaghfirullahaladziim.. Apakah masih bisa di sembuhkan dok penyakitnya? Adakah cara lain agar Kiena sembuh?”
“Satu-satunya jalan adalah melakukan operasi.”
“Berapa biayanya kira-kira dok?”
“Untuk pengobatan itu saya kisarkan sekitar 30jt”
“Astaghfirullahaladziim...” Gumamnya dalam hati sambil menundukkan kepalanya. “Baiklah dok, saya usahakan uangnya. Asal anak saya bisa sembuh dari penyakitnya.”
“Baiklah akan saya usahakan, tetap tegar dan terus berusaha Pak, bersabarlah semoga Allah senantiasa memberikan yang terbaik untuk Bapak dan keluarga Bapak.”
“Terimakasih dok atas bantuannya. Kira-kira, kapan Kiena bisa melakukan operasi?”
“Secepatnya.. Besok, bagaimana?”
“Iya dok, terimakasih. Saya akan membicarakan hal ini dulu kepada Kiena.”
“Yaa..”
“Permisi dok.”
“Yaa silahkan... :) ”

*Kamar Kiena*
Ayahnya pun masuk ke kamar tempat Kiena di rawat, ayahnya melihat Kiena sedang tertidur. Lalu ayahnya duduk di samping Kiena, ayahnya menatap dalam-dalam wajah Kiena, kemudian ayahnya menangis dan berkata.
“Anakku sayang, kenapa kamu diam saja tak membicarakan hal ini kepada ayah? Kenapa kamu menyembunyikan hal ini sayang?”

Tak lama dari itu, Kiena terbangunkan dan langsung melirik ke wajah ayahnya yang sedang menangis. Kiena pun tersenyum melihat ayahnya menangis.
“Ayah, kenapa nangis yah?”
“Kamu kenapa senyum ngeliat ayah nangis?”
“Masa aku harus nangis juga yah? Ayah kenapa?”
“Ayah mau tau, kenapa kamu menyembunyikan penyakit kamu dari ayah? Kenapa kamu gak bilang sama ayah?”
“Ayah, ayah udah cukup pusing dengan masalah yang ayah punya. Kiena gak mau ngebebanin ayah sama penyakit yang Kiena punya. Kiena gak mau ayah stress mikirin Kiena, apalagi ayah juga kan baru aja ngalamin PHK. Kiena gak tega yah..”
“Kamu anak ayah ! Sesulit apapun masalah yang ada di hidup ayah itu gak akan berarti ketika masalah anak ayah lebih berat.”
“Begitu juga dengan Kiena yah.. Ketika Kiena punya masalah dan ayah juga punya masalah, yang Kiena pikirin itu cuma pengen ngebahagiain ayah.”
“Sudah... Besok kamu bakal di operasi, itu demi penyembuhan penyakit kamu.”
“Ayah, tapi uangnya dari mana? Udah Kiena ikhlas kok kalau Kiena harus mati dalam waktu dekat ini, berapa lama lagi Kiena hidup kata dokter yah?”
“Hanya dalam waktu beberapa minggu lagi.”
“Tuh kan, masih ada waktu beberapa minggu lagi. Udah Kiena mau pergi dari sini.. Kiena mau ngurusin urusan Kiena yang belum selesai.”
“Kamu masih sakit Kiena.. !”
“Kiena yakin Allah lebih tau segalanya tentang ayah, tentang Kiena. Kalau emang hidup Kiena udah gak lama lagi Kiena ikhlas yah, tapi sebelum Kiena mati Kiena pengen ngelakuin hal-hal yang bisa bikin Daffa, ayah, ibu sama Rini bahagia dulu, biar Kiena perginya juga tenang.”
“Emang kamu mau melakukan apa untuk ayah dan ibu?”
“Udah, yang penting Kiena sekarang harus keluar dulu dari rumah sakit ini. Lagian ini siapa sih yang bawa Kiena ke rumah sakit, emangnya ayah punya biaya buat bayar rumah sakit ini?”
“Biaya rumah sakit ini sudah di urus oleh Bapaknya Dinda temen kamu.”
“Hah? Dinda?”
Kiena pun langsung bergegas dari tempat tidurnya dan segera meminta pulang kepada dokter dan memastikan dirinya sudah tidak sakit lagi. Awalnya dokter tidak mengizinkan, namun karena Kiena yang memintanya dan keadaannya sangat menghawatirkan dokter pun mengizinkan Kiena untuk pulang.

*Dalam waktu 2 minggu*
Dalam waktu beberapa minggu ini Kiena sibuk mencari uang untuk membantu adik-adiknya agar bersekolah, dan beberapa kali mendatangi perusahaan yang pernah di tempati oleh ayahnya untuk bekerja. Kiena melakukan apa saja yang dia mampu agar semua harapannya itu bisa tercapai. Meskipun penyakit yang di deritanya kerap kali terasa ketika Kiena sedang sibuk mengurusi urusannya itu, namun karena Kiena yakin akan pertolongan Allah, Kiena terus berusaha agar semuanya terwujud.

Dalam waktu 2 minggu ini Kiena terus saja berusaha dan berdo’a, dan alhasil... sampai lebih dari sebulan pun Kiena masih tetap bisa menghirup udara dan bebas bergerak. Operasi yang sudah disepakati ayah dan dokter nya pun tidak dilakukan karena Kiena yakin Allah lebih tau segalanya. Semua yang di usahakan Kiena selama beberapa minggu ini tidaklah sia-sia. Secara perlahan, ibunya Kiena memutuskan untuk pulang ke rumah dan berhenti bekerja karena tak ingin jauh-jauh dari Kiena dan ingin mengurus Kiena agar tidak mudah capek dan lain sebagainya. Ayahnya pun kembali bekerja seperti semula di tempat kerjanya yang dulu karena ayahnya hanya di tuduh melakukan tindakan korupsi padahal ayah Kiena tidak bersalah, dan atasan ayahnya Kiena pun meminta maaf kepada ayah Kiena karena sudah melakukan kesalahan yang besar karena sudah memecat ayah Kiena.

Adik-adiknya pun bisa bersekolah karena hasil dari kerja ayahnya, dan uang gaji yang dibawa oleh ibunya dari Arab sana. Kiena sangat bahagia sekali dan bersyukur kepada Allah karena telah membantu mewujudkan segalanya, dan tentang penyakit yang di derita Kiena itu... dia hanya bisa berpendapat..
“Hanya Kau yang bisa merubah segala yang tidak mungkin menjadi mungkin.. dan yang mungkin menjadi tidak mungkin... :D”

Kiena pun kembali melakukan aktivitas rutinnya yaitu menjadi seorang mahasiswi yang rajin dan ulet, gadis yang riang dan tak pernah bersedih hati. Dinda sangat bahagia melihat sahabatnya sudah kembali sehat seperti sediakala, dia hanya berkomentar terhadap penyakit yang di derita Kiena..
“Entahlah apapun penyakitnya itu, dengan tekad dan do’a yang tiada henti dan ketulusan hati menerima segala kenyataan yang ada.. mungkin semua nya akan menghilang dan lenyap karena takut dengan kegigihan dan tekad yang bulat pada diri kita ... so.. i believe in miracle from Allah”
“Dinda, makasih yah udah mau bantuin aku kemarin ini.. sekarang udah ngerti belum maksud perkataan aku di bulan lalu?”
“hahaha.. iyaa sama-sama Kiena sayang, love you muah muah... Hmm.. ngerti lah sekarang mah, kamu kemarin ngomong kayak gitu gara-gara ngerasa hidup kamu bakalan the end kan? Padahal ngga..”
“hahaha tetep aja waktu itu harus di hargai, karena kematian itu pasti datang, tapi tentang waktu dan caranya itu yang kita gak tau gimana.. Intinya, Hanya Allah yang bisa mengubah segala hal yang di luar nalar kita..”
“Setuju...”
“hahahahaha” tawa keduanya.

PROFIL PENULIS
Nama lengkap saya Reisha Fadhilah Hadianty Achadiat sering dipanggil Reisha, Esha, Rei, atau Rere..
Saya lahir di Cimahi tanggal 3 bulan Juli tahun 1993. Saya berusia 19th sekarang.
Kegiatan saya kuliah di Universitas Bina Sarana Informatika (BSI) Bandung, jurusan Komputerisasi Akuntansi program D3.
Saya anak ke 1 dari 4 bersaudara. Hobbi saya memang menulis dan senang mendengarkan lagu. Cita-cita saya menjadi novellist.

Alamat Facebook saya : https://www.facebook.com/eiichazhufairra

Baca juga cerpen Islam yang lainnya.

Sabtu, 11 Agustus 2012

Cerpen Remaja Lucu - The Power of Simin

THE POWER OF SIMIN
Karya Cucuk Espe

Simin mendapat togel tiga angka sekaligus. Seluruh kampung gempar. Dia menjadi buah pembicaraan dimana-mana. Meski dia masang tidak banyak, tetapi tepat tiga angka merupakan sesuatu yang langka. Hal inilah yang mengundang pembicaraan. Semua ingin seperti Simin. semua ingin meniru laku yang dilakoni Simin. Apa saja! Termasuk prilaku yang nyeleneh dan dianggap tidak waras oleh kebanyakan orang. Saat ini, Simin benar- benar menjadi pusat perhatian.
Seperti sore itu, segerombolan orang kelihatan tengah sibuk mengerumuni Simin di teras rumahnya. Mereka ngobrol dengan sangat serius.
"Ramalanmu jitu, min," sergah Parto.
"Kodenya dari mana?" sambung yang lainnya.
Simin hanya cengar cengir.
"Mimpimu apa, Min?"
"Besok lusa pasti tidak jauh dari angka kemarin."
"Dan angka ikutnya pasti kecil."
"Min, kamu punya wangsit apa lagi."
Wajah Simin berubah. Dalam hatinya sedang bingung menjawab pertanyaan yang diajukan kawan-kawannya. Sebab dia juga merasa tidak tahu, kenapa bisa nyantol tiga angka. Tidak terpikirkan kalau bakal menang. Hal itu terjadi begitu saja. Mungkin sebuah ketidaksengajaan. Simin memandangi kawan-kawannya satu per satu.

Sementara kawannya menyerbu dengan pertanyaan yang memojokkan pikirannya. Saking jengkelnya, Simin mengatakan dengan jujur kalau dia sendiri juga tidak tahu kenapa bisa dapat tiga angka. Tetapi kawan-kawannya tidak percaya.
"Simin pasti punya dukun," celetuk Dikun.
"Benar dukunmu orang mana, Min?"
Di sela kebingungannya menhadapi cercaan kawannya, Simin mendadak ingin tertawa sendiri. Dia geli melihat kawan-kawannya yang cukup serius seolah tidak ada hal lain saja dalam hidup mereka.
Simin membetot rokok sebatang lalu disulut dengan santai.
"Lha wong gitu kok dipikir serius," celotehnya ringan. Hal ini membuat kawan-kawannya penasaran.
"Ini penting, Min."
"Apa kau tidak mau berbagai keberuntungan?"
Simin tersenyum kecil hingga kelihatan giginya yang keropos dan menghitam.
"Aku sendiri juga ndak tahu," kata Simin. Sementara kawan-kawannya semakin tidak puas mendengar jawaban dan sikap Simin.
Dan Dikun kini duduk agak mepet dengan Simin.
"Kita ini cukup lama berteman. Apakah diantara kita ini masih ada rahasia untuk hal begini?"
"Aku ini ndak tahu. Ini hanya kebetulan."
"Tidak mungkin! Kebetulan kok pas tiga angka."
'Bener!"
"Demi teman, Min...."

Mereka mulai jengkel oleh sikap Simin. Malah Dikun mulai menggeser duduknya menjahui Simin. Hampir saja mulutnya mengumpat. Namun mendadak Simin berdiri dengan batang rokok masih bertengger di mulutnya. Pikirannya seolah menemukan sesuatu.
"Tiga hari yang lalu, waktu pulang dari sawah, aku sempat ngobrol dengan orang gila di pos kampling ujung kampung. Ya....cukup lama!"
Semua melongo mendengar penuturan Simin.
****

Dua hari kemudian, kabar tentang orang gila di pos kamping telah menyebar ke seluruh kampung. Bahkan selalu menjadi tema pembicaraan di warung-warung, di perempatan, tak terkecuali di balai desa. Pak lurah sendiri juga penasaran dengan orang gila itu. Barangkali dalam hatinya juga ingin memperoleh keberuntungan seperti Simin.
Dan sejumlah penduduk siang itu berbondong-bondong mendatangi pos kamling di ujung kampung. Mereka berharap bisa menemukan orang gila yang diceritakan Simin tempo hari. Sepanjang perjalanan mereka berandai-andai, apa yang akan dilakukannya jika nomornya masuk lebih dari tiga angka.
"Aku akan beli sawah."
"Lebih enak sapi! Bisa dijual lagi!"
"Akan kubayar hutang-hutangku. Sisanya kubuat jualan."
"Minyak, beras, gula, listrik, bahkan ikan asin pun harganya naik. Aku akan borong semuanya agar istriku tidak ngomel terus karena uang belanja selalu kurang."
Mereka terus bergerak seolah akan menjemput rejeki. Hari itu, mereka memang sengaja tidak ke sawah karena memang ingin menemui orang gila di pos kamling. Mereka berjalan beriringan dengan hati berbunga. Namun betapa kagetnya ketika mereka menemukan pos kamling telah kosong.
"Mana orang gila itu?"
"Kata Simin di sini."
"Kamu tidak salah dengar?"
"Benar disini....!"
"Dia sudah pergi."
"Diamput...!"
Mereka ngeloyor meninggalkan pos kamling dengan perasaan kecewa. Sepanjang perjalanannya hanya dipenuhi dengan umpatan dan makian. Hancur sudah segala angan yang memenuhi pikiran mereka.
Dan keesokan harinya, Yanto anak Pak RT pulang sekolah sambil menangis karena diuber-uber orang gila di perempatan.
"Pasti itu orang gila dimpos kamling kemarin," tukas Dikun di warung kopi Mbah Kom. Maka tanpa dikomando lagi, beberapa penduduk pergi ngelurug ke perempatan. Kabar kalau ada orang gila di perempatan cepat menyebar. Sejumlah orang meninggalkan pekerjaannya. Mereka berbondong-bondong ke perempatan. Kampung yang tadinya sepi, kini menjadi ramai orang lalu lalang ingin menemui si gila pembawa keberuntungan.

Ketika semua penduduk telah bertemu di perempatan, mereka berkerumun dan bingung. Ternyata orang gila itu telah pergi. Dicari ke setiap sudut, siapa tahu orang itu meringkuk di balik tembok, di selokan, atau bahkan di atas pohon. Kosong. Mereka sangat kecewa dan mengumpat sekenannya.
"Kita memang belum beruntung."
"Tapi aku yakin dia pegang angka."
"Pokoknya dia harus kita temukan," para penduduk tetap ngotot.
Sementara itu, Dikun dan kawan-kawannya pergi ke rumah Simin untuk minta keterangan sejelas-jelasnya. Hal ini mengingat para penduduk telah tertipu dua kali. Tentu, mereka tidak ingin hal ini terulang kembali.
Tiba di rumah Simin, mereka tidak menemukan siapapun. Simin memang tinggal sendirian tanpa sanak saudara. Dia pendatang tak ada yang tahu dari mana asalnya. Di kampung itu dia menjadi buruh tani. Dikun mengitari rumah Simin sementara kawannya terus memanggil tuan rumah. Cukup lama. Hingga mereka memutuskan untuk melongok lewat lubang jendela.
"Kosong. Simin pergi!"
****

Keberadaan orang gila itu benar-benar telah merasuki pikiran para penduduk. Hal ini terdorong oleh keinginan yang kuat untuk menang togel. Akibatnya biarpun itu gila tetapi kalau mampu memberikan angka yang akurat, apa salahnya? Contoh Simin, dia benar-benar beruntung mampu berbicara langsung dengan sang pembawa keberuntungan itu. Semua ingin seperti Simin.
Pak lurah sendiri tak mampu berbuat banyak terhadap penduduknya yang gandrung dengan togel. Memang pernah ada penggerebekan oleh aparat dari kecamatan. Tetapi hasilnya tak memuaskan. Memang ada warganya yang tertangkap, hanya semalam, lalu dilepas lagi. Oleh karena itu, tak heran jika togel kini menjadi buah pembiacaraan sehari-hari warganya.

Dan pagi itu, saat Pak lurah akan memasuki kantornya, dia terkejut melihat seorang lelaki kumal tanpa baju tidur di depan ruang pertemuan. Perlahan dia mendekat. Dilihatnya, tubuh yang penuh debu, rambutnya lusuh, kurus dan kakinya pecah-pecah. Sementara di sampingnya terdapat tumpukan kertas dan kain seperti sampah. Sekilas teras ruang pertemuan itu menjadi kotor.
"Dia gila," pikir Pak lurah.
Segera dia memanggil orang-orang yang sedang ngopi di warung tak jauh dari balai desa.
"Ada orang gila!"
"Dimana?
"Balai desa!"
"Ayo kesana. Mungkin itu orang gila yang dikatakan Simin."

Pak lurah dan beberapa orang segera mendatangi orang gila itu. Wah....kalau benar ini orang gila yang dicari dan pegang angka, ini keberuntungan kita. Begitulah pikir orang-orang itu. Sementara Pak lurah terus berjalan tanpa banyak komentar.
Beberapa meter dari tempat orang gila itu tidur, Pak lurah menghentikan langkahnya.
"Ada apa Pak?" tanpa menjawab tetapi hanya ememberikan isyarat telunjuk. Ternyata orang gila itu telah bangun. Dan yang membuat mereka terkejut, kini ada dua orang di teras. Mereka berbicara dengan serius. Sejurus kemudian yang satu tertawa sambil menepuk-nepuk kepala sementara satunya lagi menangis sambil terus melihat ke langit.
Pak lurah dan beberapa orang berjalan agak mendekat. Dan....seolah tidak percaya dengan penglihatannya. Yang tertawa itu adalah si gila dan yang memangis itu adalah Simin.
"Simin tidak waras."
Setelah tertawa dan menangis, keduanya terlibat pembicaraan yang serius.
"Min, angkanya berapa?"
Lantas keduanya menangis.

Jakarta, Maret 2001

PROFIL PENULIS

*) Cucuk Espe – Aktor teater dan penulis lakon “Wisma Presiden” (Teater Kopi Hitam Indonesia) tinggal di twitter @cucukespe.
(Pernah diterbitkan di  radar mojokerto, edisi minggu (29/7/2012)

Malu Pacaran Lagi - Cerpen Islam

MALU PACARAN LAGI
Karya Putri R

Ehhmmm seperti biasa..setiap pagi menyusuri jalan teduh menuju kantor. Senin sampai jumat selama jam kerja hampir sama kejadiannya ga jauh beda. Kerja, maksi dan crita bareng temen, crita sendiri kaya sekarang, kerja lagi, kadang-kadang intermezo (ngapain aja yang penting happy ). Dan salah satunya adalah dengerin temen curhat hhuuhhff. Dan lagi-lagi topiknya tentang cinta. Kalau kata patkay dari dulu beginilah cinta deritanya tiada akhir hehe...

Naila temen kantorku dia orangnya polos, lucu, aneh tapi nyata hehe. Dia cerita tentang pacarnya yang dulu satu kampus dengannya. Dirli pacar naila sering antar jemput dia ke kantor. Dirli pengen banget naila pake jilbab. Dirli minta Naila belajar banyak sama aku. Ternyata pacar naila ini diam-diam tau banyak tentangku. Ko bisaa??? ketemu ga pernah sms ga pernah telp ga pernah *pasti ga punya pulsa* sampai-sampai Naila curiga ada apa antara aku dengan dirinya?? jadi pusing 8 keliling panjang kali lebar sama dengan luas.

Naila juga sering cerita pacarnya rajin mengaji di masjid, aw aw aw anak pengajian ternyata. Jadi pengen tau tentang si dia. Setelah melakukan penyelidikan kenapa dirli bisa tau tentangku, aku masih belum bisa menyimpulkan apa-apa baru bisa nebak-nebak. Ternyata tiap antar jemput naila ke kantor dirli sering melihatku, hanya sebatas melihat bisa tau siapa aku???hebattt. Beberapa hari kemudian saudaraku *saudara iman* namanya raina dia satu kantor juga denganku, dia cerita kalau ternyata pacar naila emang anak pengajian, tapi ko pacaran???. Anak pengajian ga boleh pacaran dong kan tiap hari ngaji hehe..,dalam islam ga ada pacaran.

Jadi gini ceritanya tetangganya raina namanya kiki. Kiki ini temen kuliahnya naila dan dirli. Nah berawal dari dirli yang cerita sama kiki, kata dirli "aku ini anak pengajian lo sama kaya kamu hehe..*nyengir kuda*" pada saat itu dirli belum tau kalau kiki tetanggaan sama raina yang satu kantor denganku dan naila.
"Aaaapaaaa????"Kiki kaget ala sule ovj. kemudian kiki cerita sama raina kalau temen kuliahnya, si naila kerja juga di kantornya, dan pacar naila ternyata anak pengajian juga. "Aaaapaaaa????" raina ikut-ikutan kaget ala sule ovj. kemudian raina menceritakan semua tentang dirli padaku karena aku temen deket naila *bingung kan:D*pegangan*.

Akhirnya terjawablah teka teki saling silang tentang dirli. Dirli selalu menghindar tiap naila ingin mengenalkan aku padanya. Naila yang emang belum tau banyak tentang hukum pacaran dalam islam nyantai aja telponan dengan mesra sama dirli di depanku *ga sopan*.

Dan suatu ketika aku bertemu dirli yang lagi jemput naila, kebetulan ni bisa kenalan hihi...jadi pengen nyanyi "kamu ketauan...lagi pacaran" eh dirli jawab "malu aku malu pada semut merah yang berdiri di sana menatapku curiga" looocchh aku dong semut merahnya??? Ga ga jadi nyanyi. Dirli pun hanya tertunduk diam dan buru-buru mengajak naila pulang. Sejak saat itu dirli jadi ga bebas lagi antar jemput naila ke kantor. Dia mulai merasa kalau aku tau tentang dia, belum lagi raina yang ternyata tetangganya kiki.

Dirli jadi berfikir ko banyak banget anak-anak pengajian di sekitar naila. Lama-kelamaan dirli merasa di ingatkan oleh Alloh, dia sadar kalau sudah menyimpang dari peraturan Alloh yaitu "pacaran", secara dia anak pengajian gitu loochh parahnya lagi di saksikan oleh banyak orang, "malu dirli malu pada semut merah" eh semut merah lg hehe..Dirli malu sama Alloh, malu sama dirinya sendiri dan malu sama teman2 naila.

Dirli pun bertekad untuk tobat, dia langsung membuat stiker yang bertuliskan "Say No To Pacaran" kemudian di tempel di hatinya...Alhamdulillah dirli masih punya kesempatan bertobat.

Akhirnya dirli bicara serius dengan naila. Dia bilang "Naila kamu belajar pake jilbab atau kita putusss" jegerrrr Naila kaget bagai di sambar petir mendengar kata-kata dirli. Naila nangis senangis nangisnya. Perlahan dirli mulai menjelaskan kepada naila kenapa dia memutuskannya.

Dirli takut dosa karna pacaran. Dirli juga menjelaskan tentang wajibnya menutup aurat bagi wanita, hukumnya pacaran itu seperti apa, dosanya bagaimana. Dirli juga cerita tentang alasannya supaya naila bisa belajar agama bersamaku. Naila yang selama ini menganggap dirli orang yang baik dan ga pernah macam-macam mulai mengerti dan bisa menerima keputusan dirli.

Naila pun mulai belajar memakai jilbab. Dia menceritakan pertengkarannya dengan dirli kepadaku dan dia juga bilang ingin belajar tentang islam yang sesungguhnya denganku. Mungkin ini jalan hidayah bagi naila.

Dirli mulai berani berkomunikasi denganku. Dia menitipkan naila kepadaku supaya bisa banyak belajar agama. Akhirnya naila sering ikut pengajian bersamaku. Dirli dan naila pun putus hubungan. Dirli mengatakan pada naila kalau nanti mereka berjodoh dirli akan menikahinya dengan syarat naila telah menjadi seorang wanita sholihah. ~The End~

*Terkadang manusia harus malu dulu untuk bisa menyadari kesalahannya.

*Tapi terkadang Alloh telah mengingatkan kita secara pribadi atas kesalahan kita, hanya antara aku dan kamu hanya antara Alloh dan diri kita tapi sedikit yang bisa langsung menyadarinya.

*Dan terkadang ada yang sangat sadar kalau dia berbuat salah, diriku dirimu dirinya dan mereka pun tau kesalahan orang itu tapi yang bersalah ga malu-malu alias biasa aja tu so masalah buat lo...ingatlah bahwa sekecil apapun kejelekan atau kebaikan kita tetap akan ada balasannya dari Alloh.

Baca juga Cerpen Islam yang lainnya.

Dua Surau Dalam Satu Desa - Cerpen Islam

DUA SURAU DALAM SATU DESA
Karya Andi Sudianto

Tuhan, agama, keyakinan, apa semua itu? Ini sebuah pertanyaan tanpa jawaban bukan pertanyaan bodoh. Desa Dadapan, Sebuah desa yang di dalamnya terdapat mayat-mayat manusia yang telah mati sebelum melelui kematian. Mereka hidup penuh kekosongan, ‘dimana tuhan? Apa itu agama?’ itu yang ada di dalam kepala mereka.

Desa ini telah banyak mencetak sarjana hingga ada yang bergelar profesor tapi ketika merek di tanya tentang Tuhan, agama. tulang mereka retak kemudian berjatuhan, di lubang hidung telinga mengali otak mencair sehingga mereka mati karena pertanyaan. Apa pantas mereka menyandang gelar sarjana?
Surau satu tidak memecahkan apapun malah hanya akan menimbulkan masalah kerena terdapat dua orang yang tersohor di desa Dadapan ini dengan perselisihan pemikiran.

Filsuf dan Ilmuwan. Dua hal yang tidak bisa di satukan satu hal yang akan terus bersetru.
Keduanya membuthkan permecahan maka di bangur dua surau. Yang satu di bangun oleh Prof. Nursid. Ilmuwan yang telah malang melintang di universitas eropa dan yang satu di bangun oleh Prof. Mukim seorang guru filsafat moderen telah mengepakan sayapnya di yunani, athena tempatnya bapak filosofi lahir dan berharap kerasukan arwah Plato.
Prof. Nursid dengan kekuatan finasial yang sangat kuat membangun surau yang sangat luar biasa megahnya. Lantainya keramik impor dari eropa, bangunan gaya artistik amerika, khusus imam lantainya terbuat dari emas murni, kacanya menyilaukan, alasnya permadani yang sangat indah, jika di bandingkan seperti masjid taj mahal india.

Ilmuwan ini berpendapat Tuhan menyukai tempat yang luar biasa indahnya makanya prof. Nursid sangat berharap menemukan tuhan di surau yang di bangunnya dengan kemegahan.
Prof. Mukim dengan filosofi-filosofi yang telah dia ciptakan berdasarkan ilmu filsafat yang telah dia pelajari bertahun-tahun. Dia berpendapat Tuhan menyukai singgah di tempat sederhana. “Lihat dunia ini, semuanya tercipta alami, sederhana, hanya kita (manusia) merusaknya menjadiksnya mesin” katanya.
Maka di bangunlah surau dari kayu seadanya, lantai dari kayu seadanya, alas seadanya, bahkan suara adzan pun alami dari teriakan orang tanpa pengeras suara.
***

“sudah kau temukan Tuhan dalam surau yang kau bangun prof. Nursid?” tanya prof. Mukim.
“tidak, tidak ada yang aku peroleh dalam pencarianku, sia-sia. nol besar. Absurd dengan hasil dan usaha yang telah kulakukan. Mungkin Tuhan silau dengan emas si surauku sehingga Tuhan enggan meyambangiku” jawabnya.
“lalu, bagaimana denganmu prof. Mukim?” meneruskan berbaik bertanya.
“hasil akhir yang tidak aku harapkan. Semua yang telah aku rumuskan melenceng. Ku kira Tuhan akan mendengar suara adzan dari pita suara tanpa pengeras suara. Ternyata tidak.” jawabnya dengan nada putus asa.

Kedua profesor ini telah gagal dalam usaha pencariannya. Teori-teori yang mereka rumuskan gagal dalam pratiknya. Jika sebabanya hanya karena mereka hanya meraba-raba tentu tidak karena mereka telah mempunyai gelar titiel S3.
***

Di ujung desa setelah melewati sunggai tinggal kakek-kakek tanpa tersentuh peradaban. Tinggal di gubuk yang hampir roboh, pakaianya lusuh, rambut dan jenggotnya terurai sembarangan. Jika orang menemuainya pasti dianggap orang gila. Konon menurut cerita-cerita penduduk sema kakek misterius itu alalah sufi, orang yang mendalami tasawuf.
Orang awam pasti akan mendefinisikan sufi adalah sesat. Kerena yang meraka tau dan di ajarkan hanya tigkatan spiritual syariat dan tarekat sedangkan sufi sampai tingkatan hakikat bahkan ma’rifat yaitu tingkatan tertinggi dalam ajaran islam.

Prof. Nursid dan mukim pergi menemui kakek itu. Mencari sebuah kebenaran tentang dua surau yang mereka bangun, dan serta pertanyaan ‘dimana tuhan?’.
“kakek dimana itu Tuhan, mengapa Tuhan tidak menampakkan diri di Surau kami yang kami bangun dengan cara berlainan. Seharusnya Tuhan taubuankah julukannya Maha Melihat lalu mengapa Tuhan tidak mampir di desa kami, desa yang terdapat pilihan dua surau untuk mampir?”
“jika itu tujuanmu kemari pulanglah nak, percuma kau tidak juga menemukan-Nya di sini. Dua surau yang kalian bangun itu seperti jembatan yang mengelincirkan. bukan hanya kalian saja yang bisa tergelincir tapi semua orang yang melewati jembatan tersebut. maka berdosalah kalian. Tuhan itu hidup di diri kalian, Tuhan itu lebih dekat dari urat leher kalian. Tuhan itu singgah di akal budi pekerti kalian. Kalian salah, Tuhan itu tidak untuk di cari tapi di yakini dalam hati”.
Mereka berdua pulang dalam perjalanan dan sejenak berfikir ‘jadi kenapa harus ada perbedaan di antara kami dalam fiqih dan tauhid?’

Baca juga Cerpen Islam yang lainnya.