Jumat, 29 Juni 2012

Khusus Untuk Hari Ini - Cerpen Sedih

KHUSUS UNTUK HARI INI
Oleh Endri Peri

Embun di dedaunan masih enggan untuk jatuh ke tanah. Kabut masih pekat menyelimuti bukit bukit di pulau ini. Suara kicauan burung yang bertengger di sebuah batang pohon kapas yang begitu meributkan subuh itu.

Aku membuka mataku. Ku lirik arloji yang terbelit di pergelanganku. Jarum jam menunjukan pukul 4 pagi. Aku segera beranjak dari tempat tidurku. Aku lalu berjalan menuju sebuah westafel yang tak jauh dari tempat tidurku. Ku basuh wajahku dengan air yang mengalir dari keran westafel itu. Airnya begitu sejuk kurasa. Setelah aku membersihkan wajahku. Aku lalu mengambil sepiring nasi lengkap dengan lauk ayam dan secangkir capucino hangat yang tergeletak di lantai kamarku. Aku makan nasi itu. Sungguh nikmat rasanya. Memang nikmat. Menu hari ini tidak seperti menu yang setiap hari yang ku jumpai. Khusus untuk hari ini, menunya special. Ku teguk capucino yang masih hangat tersebut. Tak beberapa lama setelah itu suara adzan pun berkumandangan. Bergema menjalar di lorong-lorong tempat itu. Aku lalu menyudahi sarapan ku. Aku beranjak ke westafel tadi. Aku lalu menyucikan tubuhku. Ku ambil sajadahku dan aku lalu menunaikan sholat subuh yang belakangan ini sering kulakuan. Setelah aku menunaikan sholat subuh, aku lalu mengambil kitap Al qur’an yang berada disebelah bantalku. Khusus untuk hari ini, aku membaca ayat terakhir di Al qur’an itu. Aku membaca surah Al-nisa dari ayat pertama sampai dengan ayat 93. Setelah aku membaca surah Al-nisa ayat 93. Aku lalu menitikan air mataku.

Subuh pun beranjak fajar. Sinar mentari pagi masuk melalui jendela kecil kamarku. Kurasakan hangat sinarnya yang mengenai pundak ku. Aku lalu menutup Al qur’an ku. Khusus untuk hari ini, aku harus berada di dalam kamar ku. Tidak seperti hari-hari biasanya. Dimana aku harus bekerja tanpa digaji.

Ku rebahkan kembali tubuhku di kasur. Pikiranku lalu menerawang. Kulukiskan wajahnya dilangit-langit kamarku. Aku lalu teringat percakapan terakhirku dengannya dua tahun yang lalu.
“Bang, sepertinya ayah tidak setuju abang meminangku.” Katanya.
“Kenapa? Apakah aku tidak pantas untukmu?” Tanya ku kepadanya.
“Ayah tidak setuju karena abang cuma tamatan SMA.” Jawabnya.

Perkataan terakhirnya sampai dengan saat ini masih terngiang-ngiang ditelingaku. Setelah beberapa lama aku menghayalkan dirinya. Aku lalu dikejutkan oleh suara ketukan pintu kamarku. Dan setelah kuncinya dibuka. Aku lalu melihat seorang pria masuk ke kamarku. Aku lalu bangkit dari tempat tidurku. Kupersilahkan dia duduk di tempat tidurku. Sebenarnya kamarku hanya berisikan sebuah tempat tidur dan sebuah westafel saja dan tak ada kursi satupun disana. Lima menit kemudian suasana masih hening. Pria itu masih melihatku dengan tatapan mata yang dalam.
“Apakah anda sudah mandi?” Pria itu mulai berkata kepadaku.
“Sudah pak.” Jawabku bohong. bagaimana mau mandi. dikamarku tidak ada kamar mandi.
“Apakah yang paling anda sukai di dunia ini?” Tanyanya kembali.
“ Saya sangat suka dengan mie ayam buatan ibu saya.” Jawabku.
“Ibu anda kan sudah meninggal. Tetapi jangan kuatir. Saya akan mencarikan mie ayam yang paling enak untuk anda. Apakah ada permintaan lain?” Katanya kepadaku.
“Hmm,satu lagi permintaan saya. Saya sangat ingin memakai baju toga yang sering dipakai para wisudawan.” Jawabku mantap.
“Baiklah. Permintaan anda akan kami usahakan.” Kata pria itu sambil tersenyum kepadaku.

Lalu pria itu beranjak pergi dari kamarku. Suasana kamarku kembali menjadi hening. Setelah beberapa lama aku diam di kamarku. Aku lalu dikejutkan dengan suara adzan ashar. Ternyata hari sudah sore. Aku kembali melakukan ritual rutin ku. Yaitu sholat lima waktu. Setelah siap melakukan ibadah wajib umat islam itu. Aku lalu berjalan mengitari setiap inci kamarku. Pikiranku mulai kacau. Yang ada di otakku hanya satu. Yaitu penyesalan. Aku lalu mengambil sebuah tasbih. Ku lafas kan namaNYA di setiap dzikirku. Setelah beberapa lama aku berdzikir, pikiranku pun kembali menjadi tenang dan damai. Aku menitikan air mata disetiap dzikirku. Setelah beberapa lama aku berzikir. Aku kembali dikejutkan suara pintuku yang kuncinya dibuka dari luar. Setelah pintu kamarku terbuka. Pria tadi kembali masuk ke kamarku. Pria itu membawa semangkok mie ayam dan sebuah baju toga yang aku pesan tadi. Dia lalu menghidangkan mie ayam itu dihadapanku dan meletakan baju toga disampingku. Tak beberapa lama setelah itu dia lalu beranjak keluar dari kamarku. Aku kembali sendirian dikamarku. Didalam keheningan kumakan mie ayam itu. Aku memakan suap demi suap mie itu. Meski pun mienya tak seenak buatan ibu. Setelah aku menghabisi mie ayam itu. Aku lalu memakai baju toga yang tadi diberikan pria itu. Kulihat wajahku di cermin westafel tersebut. Sungguh gagah aku memakai baju toga ini. Aku senyum-senyum sendiri. Aku bersyukur karena aku bisa memakai baju toga ini, khusus untuk hari ini. Kupandangi dengan dalam bayanganku di cermin. Tak terasa air mataku kembali menetes di pipiku. Aku kembali menangis di hening kamarku. Dikamar yang lembab, dikamar yang sunyi dan gelap.

Dan tak beberapa lama setelah itu hari beranjak menjadi malam. Pintu kamarku kembali dibuka dari luar. Pria itu kembali masuk ke kamarku.
“Sudah waktunya.” Pria itu berkata singkat kepadaku sambil tersenyum.
“Apakah aku boleh memakai baju toga ini?” Tanyaku kepada pria itu.
“Hmmmm, baiklah. Khusus untuk hari ini, kamu boleh memakai baju itu.” Kata pria itu kepadaku.
“Satu permintaan ku lagi. Ijin kan aku menunaikan sholat isya ku malam ini.” Aku kembali berkata kepada pria itu.
“ Baiklah, kamu boleh menunaikan sholat isya mu malam ini.” Jawab pria itu.

Dan setelah aku menunaikan sholatku. Pria itu lalu berkata
“apakah kamu sudah siap?”
“ Saya sudah siap lahir dan bathin.” Jawabku.
“ Baiklah, ikut dengan saya.” Jawab pria itu.

aku lalu pergi dengan pria itu. Aku meninggalkan kamar khusus ku yang sudah satu minggu kutempati. Di luar aku melihat dua buah mobil van. Aku lalu masuk dengan pria itu ke salah satu mobil van tersebut. Dan setelah lama mobil itu berjalan. Pria itu lalu berkata kepadaku.
“Maaf, saya harus menutup mata anda.”

Aku hanya tersenyum dan menganggukan kepalaku. Dia lalu menutup kedua mataku dengan secarik kain hitam yang tebal. Dan tak beberapa lama setelah itu mobil yang kami tumpangi pun berhenti di suatu tempat. Karena mataku ditutup, aku lalu turun dari mobil sambil dipapah. Aku pun dituntun berjalan mendekati sebuah pohon. Lalu aku di sandarankan di sebatang pohon. Tangan dan kakiku diikat di pohon itu. Tak beberapa lama setelah itu Aku mendengarkan suara kokangan senjata api laras panjang.

Hanya 2 kalimat yang bisa ku katakan di kata-kata terakhir ku.

SATU,.....”asyhadu alla ilaha illallah” DUA,.....”wa asyhadu anna muhammadar rasulull,......” TEMBAK!!!

Lalu suara tembakan menggema ke semua sudut tempat itu.

Peluru yang di tembakan itu langsung menghentak, menghujam, dan menusuk langsung ke jantungku. Tetapi anehnya aku tidak merasakan sakit. Aku hanya merasakan kebas di dadaku. Badanku mulai terasa dingin, saraf-sarafku mulai mati, jantungku berhenti berdetak, otakku mulai kekurangan oksigen, roh ku seperti diambil paksa dari tubuhku. Tak beberapa lama setelah itu aku mulai melayang meninggalkan jasadku yang terbujur kaku bersimbah darah. Aku melihat para polisi yang mengeksekusi-ku tadi segera mengemasi jasadku yang tidak bernyawa lagi. ternyata tiem tembak berjumlah tujuh orang. Aku lalu melayang ke atas. Dan terus melayang meninggalkan jasad ku. Dan setelah itu yang kulihat hanya sinar terang.
****

Keesokan harinya di halaman depan koran ibu kota.

Ismail rindra terpidana mati kasus perampokan dan pembunuhan sadis kemarin malam di eksekusi mati di suatu tempat di pulau nusakambangan. Terpidana mati ini sudah mengirimkan beberapa kali permohonan grasi tetapi tetap ditolak presiden. Ismail rindra telah terbukti melakukan perampokan dan pembunuhan sadis terhadap satu keluarga 2 tahun yang lalu. Hakim menjatuhkan hukuman mati karena dia telah membunuh 5 orang dengan sadis diantaranya A kiong, istri A kiong dan ketiga anaknya. Saat ditanya wartawan 2 tahun yang lalu alasan kenapa dia merampok dan membunuh dia hanya menjawab; "Saya merampok karena saya harus kuliah dan saya tidak cukup waktu untuk mengumpulkan biaya kuliah. sebenarnya saya tidak ingin membunuh, tetapi karena dia teriak. jadi saya bunuh dia." Ironis memang disaat semua orang sangat membutuhkan pendidikan. Pemerintah malahan acuh tak acuh terhadap pendidikan di negara ini. Apakah rakyat dilarang untuk maju, dilarang untuk pintar. Pemerintah tidak perpihak kepada rakyat miskin.

**SELESAI**

Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan tempat, nama, dan cerita. Itu adalah ketidak-sengajaan penulis dan mohon dimaafkan.
Endri Peri
10 juni 2012

PROFIL PENULIS
Namaku : Endri Peri
Asalku : Medan.
Kelahiranku : 9 Februari.
Facebookku : aku@endriperi.tk

Baca juga Cerpen  Sedih yang lainnya.

Kamis, 28 Juni 2012

Cerpen Cinta - Berkat Surat Cinta

BERKAT SURAT CINTA
Karya Elok Pradika Purnama Putry

Marsha adalah seorang siswa SMA 2, dia cewek yang cantik dan juga pintar. Dia memiliki sahabat sejati yang bernama Viona.

Waktu itu Viona telfon “Sha, nanti lo sekolahnya bareng Gue ya?” Tanya Viona “iya nanti lo jemput Gue ya?” kata Marsha, sambil menyisir rambut panjangnya. “okey” jawab Viona.

Lalu setelah ½ jam kemudian Viona datang ke rumahnya Marsha. “ayo cepat donk Sha? Nanti kita telat loch?” kata Viona sambil berteriak dari luar rumah Marsha “iya-iya tunggu sebentar?” jawab Marsha dengan tergesa-gesa. Setelah beberapa lama kemudian Marsha keluar. “ayo Vi, berangkat!” kata Marsha “let’s go” jawab Viona sambil masuk ke dalam mobil. Lalu mereka berangkat sekolah bersama-sama, sesampai di sekolah mereka segera masuk kelas, sambil meletakkan tasnya di lorong meja Marsha ada sepucuk surat.
“ada apa Sha?” Tanya Viona penasaran “ini ada orang yang ngirim surat ke Gue” jawab Marsha “siapa yang ngirim!” Tanya Viona “mana gue tau, sebentar Gue baca dulu!” kata Marsha.

Setelah Marsha membaca surat itu, Viona langsung bicara. “ini sich namanya surat cinta” kata Viona sambil merebut surat itu dari tangannya Marsha. “ya Gue tau Vi, tapi masalahnya siapa pengirim surat ini” Tanya Marsha “tenang-tenang, selama masih ada Viona masalah lo akan rebes! eee beres!” jawab Viona sambil tertawa. “emank apa rencana lo” Tanya Marsha ke Viona “rencananyaaaa, belum ada sich!” jawab Viona. “gimana sich lo katanya tenang-tenang, rencana aja belum ada, ya ampun?” kata marsha “ya harus gimana lagi!” jawab Viona sambil senyum-senyum.

Lalu mereka berdua pulang ke rumahnya masing-masing. Di rumah Marsha terus memikirkan siapa pengirim surat itu! Lalu Marsha mendatangi kamar kakaknya yang bernama Leo. tok…tok…tok… suara Marsha mengetok pintu kamar kakaknya.
“ya sebentar?” kata Leo. lalu Leo membuka pintu kamarnya. “eh…adikku tersayang, ada apa tumben masuk kamar kakak” Tanya Leo “gini, adik kesayangan kakak ini mau curhat, boleh gak?” jawab Marsha “tentu saja boleh lah, ayo masuk!” kata Leo sambil mengajak marsha masuk. “emank mau curhat tentang apa,ama cowok ya? Nanti kakak bilangin ama mama lo kalau lo pacaran!” kata Leo “Ah kakak, tapi memang masalah cowok sich, tapi aku gak pacaran kok jadi kakak gak usah capek-capek ngomong ke mama” kata Marsha sambil senyam senyum sendiri “ayo cepet cerita, malah senyam senyum sendiri kaya orang yang di pinggir jalan aja!” kata Leo “ihhh kakak tega banget ama adiknya sendiri emank aku orang gila apa! Gini lo kakak ku yang nyebelin, aku baru aja tadi dapet surat cinta, tapi aku tidak tahu siapa pengirimnya, menurut kakak bagaimana cara aku cari tahu” Tanya Marsha ke kakaknya. “gimana kalau lo besok berangkatnya pagi-pagi, terus lo cari tau tu siapa yang ngirim surat ke lo!” kata leo! “okey, juga ide lo,yaudah aku mau ke kamar aku dulu thanks ya kak,!” kata Marsha lalu pergi ke kamar. Di kamar Marsha menelfon Viona. “halo, eh Marsha ada apa tumben telfon Gue” kata Viona “gini Vi, besok berangkatnya agak pagi ya?” Tanya Marsha ke Viona. “emank kenapa kok berangkatnya pagi-pagi” jawab Viona “Gue mau cari tau siapa yang ngirim surat itu ke Gue, mau yaaa?” kata Marsha sambil merayu Viona, sebagai teman yang baik Viona pun mau “okey, apa sich yang nggak buat lo.” Jawab Viona.

Paginya, Marsha dan Viona berangkat, ketika itu di sekolah belum ada satupun murid yang datang, lalu mereka berdua langsung masuk ke kelas, setelah itu Marsha melihat ke lorong tempat duduknya, ternyata surat itu sudah ada
“eh liat Vi, suratnya sudah ada” kata Marsha “sudah ada! Coba lo baca.” Lalu Marsha membaca surat tersebut.

Lalu setelah Marsha selesai membaca surat itu, Viona bilang “Gue bingung Sha, kok surat itu sudah ada ya, padahal kita aja berangkatnya pagi-pagi gini” kata Viona dengan bingung “iya juga ya!” jawab Marsha. Lalu bel pun berbunyi, pelajaran pertama akan di mulai. Lalu tiba-tiba Marsha mencari-cari sesuatu. “Sha apa yang lo cari” kata Viona.
“buku tugas Gue,ya ampun…padahal Gue udah buat puisi itu sampai tengah malem? Gimana ini, ha Gue buat aja sekarang!” kata Marsha sambil meletakkan buku di meja. “emank lo bisa, membuat puisi dalam waktu yang sesingkat ini “ kata Viona “aku harus bisa.” Jawab Marsha dengan percaya diri. Lalu Marsha membuat puisi itu, Setelah beberapa lama Pak Seno datang. Pak Seno adalah guru B. Indonesia, dia adalah guru paling galak di sekolah. “huh, akhirnya selesai juga!!!” kata Marsha, saking leganya dia tidak melihat bahwa Pak Seno ada di dekatnya. “apa yang selesai Marsha” kata Pak Seno kapada Marsha “bukan apa-apa kok Pak?” kata Marsha dengan hati was-wasan. “yaudah, sekarang cepat kamu baca puisi kamu ke depan!” kata Pak Seno menyuruh Marsha untuk membaca Puisinya ke depan. Lalu Marsha membacanya.

Setelah Marsha selesai membacanya, Juno memberi tepuk tangan kepada kepada Marsha. Juno adalah siswa paling tampan di sekolahnya Marsha, banyak sekali yang mengejar cinta juno tapi tidak ada satu cewek pun yang di terima oleh Juno. Juno itu sangat pintar membuat puisi, sudah sering Juno mendapatkan penghargaan dan juga Piala. Setelah itu yang membaca adalah Juno “Juno, ayo cepat maju ke depan!” kata Pak Seno menyuruh Juno untuk membacakan hasil karya puisinya. “baik Pak!” kata Juno. Lalu Juno membaca puisinya.“sudah Pak!” kata Juno bilang ke Pak Seno kalau dia sudah selesai membaca puisinya. “waow…hebat seperti suara lagu yang sangat…merdu!!!” kata Pak Seno yang sedang memuji Juno. “Lebayyyy” kata Marsha “bilang apa kau tadi!!!” Tanya Pak Seno kepada Marsha “gak bilang apa-apa kok, bener dech!” jawab Marsha.

Setelah itu pak Seno mengumumkan sesuatu “murid-murid semua, sebenarnya tugas puisi ini untuk memilih siapa yang akan mengikuti lomba membuat puisi se-Provinsi, dan di sini saya sudah menemukan siapa yang akan mengikuti lomba itu” kata Pak Seno “Emank siapa yang ikut lomba itu?” Tanya Viona “Juno dan Marsha!!!” kata Pak Seno “Gue,,,!!!” Tanya Viona dengan penasaran “iya lo Sha” jawab Viona. “nanti kalian berdua harus berkelompok membuat puisi, dan besok harus sudah selesai.” Kata Pak Seno yang sedang menyuruh Marsha dan Juno. “apa, besok harus selesai, gimana sich Pak, katanya harus bagus tapi di atur-atur” jawab Marsha dengan muka murung “huuuuzzzzzzzzz, diem!!!” kata Juno menyuruh Marsha diam “ihhhh” jawab Marsha. Setelah itu Marsha dan Juno Ngobrol, “Nanti di rumah Gue apa rumah lo” Tanya Marsha “rumah lo aja dech Sha!”jawab Juno “emank lo tau rumah Gue” Tanya Marsha “ya tau lahhh?” jawab Juno dengan mantap.

Lalu semua murid pulang ke rumahnya masing-masing, dan 1 jam kemudian Juno berangkat ke rumahnya marsha. “Assalamu’alaikum” kata Juno sambil mengetok pintu “wa’alaikumsalam, cari siapa ya?” Tanya mamanya Marsha “saya mau ketemu sama Marsha, tadi saya dan Marsha sudah janjian!” jawab Juno. “ow, sebentar ya tante panggilin, ayo masuk” kata mamanya Marsha sambil membujuk Juno untuk masuk “ya tante terima kasih” jawab Juno sambil masuk ke ruangan. “Marsha…Marsha ayo turun dicariin teman kamu nich?” panggil mamanya Marsha “iya ma? Tunggu sebentar” kata Marsha menjawab.

Lalu setelah beberapa lama Marsha pun turun dengan memakai baju yang rapi dan cantik sampai-sampai Juno terpesona. Saking terpesonanya Juno mlongo melihat Marsha sambil senyam-senyum sendiri, bahkan Marsha mengira kalau Juno kesambet. “hey…Juno! Juno…!!!” kata Marsha sambil menepuk pundaknya Juno. “eh, Marsha!” kata Juno “siang-siang nglamun? Nglamunin cpa? Jangan-jangan nglamunin Gue ya? Tanya Marsha “emank nglamunin lo gak boleh ya?” jawab Juno “ya boleh aja sich!!! Tapi jangan sampai kesambet donk?” kata Marsha sambil tertawa “apa-apaan sich lo Sha, tapi hari ini lo bener cantik banget???” kata Juno sambil memandang Marsha “jangan mandang Gue sperti itu donk? Emank kemarin-kemarin Gue gak cantik ya?” Tanya Marsha. “ya cantik lah, kalo gak, gak mungkin Gue naksir lo” jawab Juno keceplosan bilang ke Marsha kalau Juno naksir sama Marsha “apa, lo naksir ama Gue!” kata Marsha kaget “upz, gak kok lo paling salah denger, beneran kok Gue tadi gak bilang” kata Juno takut ketahuan sama Marsha “yaudah, biasa aja kali, gitu aja! Ayo Gue ajak lo ke sesuatu tempat” kata Marsha “eh bukannya kita mau…?” tanya Juno “udah nanti kita buat di sana puisinya” jawab Marsha “okey lah kalo begitzu”.

Lalu Marsha mengajak Juno ke sesuatu tempat tersebut, ternyata Marsha mengajak Juno ke sebuah Telaga yang indah. Lalu mereka membuat puisi tersebut. Setelah beberapa lama pun selesai, besoknya Juno dan Marsha mengikuti lomba tersebut, dan Viona pun menyaksikan lomba tersebut. “Marsha, Juno semangat ya? Gue di sini akan dukung kalian?” kata Viona dari tempat duduk penonton “makasih ya Vi?” teriak Marsha dan Juno dari kejauhan. Lalu Marsha membacakan puisinya dengan Juno.

10 menit kemudian, pengumuman pun di umumkan. “saya di sini akan mengumumkan hasil dari pemenang dari lomba membuat puisi. Pemenangnya adalah… SMA…2…untuk wakil dari SMA 2 silahkan naik ke panggung”
“ah, kita menang Jun?” kata Marsha kaget “iya, kita menang, ayo kita maju ke panggung!” kata Juno. Lalu mereka berdua naik ke panggung dan juri memberikan piala serta penghargaan untuk mereka. Setelah itu marsha turun, namun lain dengan Juno, Juno malah bicara sesuatu di speaker. Marsha menghampiri Viona, “eh, Sha Juno kok masih di sana, ada apa!” Tanya Viona
“aku juga tidak tau!” jawab Marsha. Lalu Juno berkata sesuatu “saya Juno di sini akan berkata jujur kepada cewek yang ada di sana yang bernama Marsha! Sebenarnya Gue yang ngasih surat cinta di lorong tempat duduk lo, Gue cinta ama lo, dan Gue sayang ama lo, lo mau gak jadi cewek gue!” kata Juno. Lalu Marsha menuju panggung, “jujur Gue kecewa banget ama lo, kenapa lo gak bilang kalau lo yang ngirim surat itu” kata Marsha “so…lo mau gak? Jawab sekarang Gue nggak akan Tanya kedua kalinya.” Tanya Juno “l’m sorry Jun, Gue gak bisa! Gue gak bisa nolak lo.” Jawab Marsha kepada Juno. lalu seluruh penonton bertepuk tangan atas menangnya dan jadiannya Juno dan Marsha. “selamat ya Sha, Jun?” kata Viona “ngomong-ngomong selamat untuk apa?” Tanya Juno “untuk menangnya sekolah kita dan atas jadiannya kalian?” jawab Marsha “thankz ya Vi, Gue beruntung banget punya sahabat kaya’ lo!” kata Marsha “sama-sama Sha?” jawab Viona. Lalu Juno dan Marsha sekarang pacaran.

....the end....

PROFIL PENULIS
Nama : Elok Pradika Purnama Putry
Alamat : Ponorogo, Jawa Timur
Akun Facebook :
Pradyckaputry Cherryberry Princessbeauty (elok.putry@yahoo.co.id)
Elok Pradycka Purnama Putry (elokpradycka@yahoo.com)
akun Twitter : @chimyputry

Baca Cerpen Cinta yang lainnya.

Biarkan Ku Melihat Surga - Cerpen Cinta

BIARKAN KU MELIHAT SURGA
Karya Ghiffary Amanda Sastre

“Maaf, Din. Aku harus pergi”

“Tidddaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk................................................!!!!!!!!!!”
Itulah percakapan mereka terakhir kalinya, pertemuan yang berakhir dengan airmata dari keduanya. Dan pergilah....
***

Hilang sudah canda tawa kebahagiaan dari Chocky. Setelah 2th lebih mereka pacaran, kini sifat Chocky berubah drastis 380 derajat. Tak lagi ia selalu bersama dengan Dinda. Dulu, tak ada kegiatan apapun yang tidak mereka lakukan bersama, setiap saat. Kesetiaan membuat kisah mereka tak pernah ada kata RAPUH, atau sekedar marahan. Salah satunya selalu saja bergantian untuk mengalah. Karena mereka tahu, bila tak begitu, hubungan ini akan segera berakhir. Banyak yang bilang, mereka berdua serasi. Bak perahu tanpa air takkan pernah bisa berjalan, mereka selalu beriringan.

Ya, di usia Chocky yang mulai beranjak meninggalkan masa remaja, dan kini sudah bekerja disebuah perkantoran yang cukup megah. Beda dengan Dinda, dia kini masih duduk di bangku kuliah semester 2. Harapan mereka, hingga menikah nanti, saling berdampingan satu sama lain, dan bahagia. Namun semua kandas ditengah jalan, ketika Dinda tahu dan merasa bahwa sikap Chocky berubah. Tak lagi perhatian, menuruti keinginannya untuk bertemu, bermain bersama, hilang.
***

14 Maret. Tepat hari ini, usia pacaran mereka 3th. Tak ada yang spesial. Chocky tetap tak beri kabar pada Dinda. Dinda bertanya-tanya sendiri, apa ia masih dianggap sebagai kekasih yang di cintainya? Namun pertanyaan itu tak pernah ia lontarkan pada Chocky, takut kalau-kalau ia akan marah. Dan pertanyaan yang terus terputar secara otomatis di otak Dinda tak pernah terjawab. Hingga sore itu pun, Dinda datang kerumah Chocky. Biar saja, Dinda tak peduli dengan reaksi Chocky nanti.
“Permisi, Chocky nya ada?” tanya Dinda saat ada seorang anak didepannya, kira-kita baru kelas 2 SMP. Mungkin adik ini yang di maksud Chocky pada setiap cerita harinya, batin Dinda.
“Oh, tidak ada kak. Maaf!” jawab anak itu singkat, yang segera menutup pintu rumah dengan sedikit keras.
“Oh, ya ampun! Keras sekali” batin Dinda kaget, seraya mengelus-elus dada. Segera ia pergi dengan hati kecewa. Tak bisa ia bendung air mata itu. Mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi. Dan
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrgggghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh.....................................................................................................................................................................................................
Truk besar telah ditabrak mobil Dinda, dan terkaparlah dengan segenap darah yang terus mengalir dari hampir setiap sudut tubuhnya. Entah bagaimana itu kejadiannya, tadi Dinda sungguh tak bisa mengendalikan rasa kecewa dan rindunya ia pada Chocky. Segera ia dibawa oleh warga setempat ke rumah sakit.
***

Sudah hampir 2 minggu Dinda tak sadarkan diri. Ia begitu lemah, dengan banyaknya perban yang terpasang sana-sini, kepala pun tak luput masih banyak bercak merah itu. Orang tuanya dari Medan, segera datang menemui anaknya, yang memang jauh, kuliah di kota Keraton Yogya. Sedih sekali rasanya melihat anak semata wayangnya itu sakit, ikut merasakan. Ibunya tak henti jua menangis.
Tepat ke-3 minggunya Dinda tak sadarkan diri. Chocky tetap tak menjenguk Dinda. Sudah berkali-kali teman-teman Dinda hilir-mudik untuk menjenguknya. Tapi tak ditemukan sosok Chocky oleh kedua orang tua Dinda. Kekasih yang selalu ia banggakan pada setiap cerita kabar pada orang tuanya.

Entah darimana itu. Suatu malam, Dinda bermimpi, dan mengigau memanggil-manggil nama Chocky. Sentak orang tua Dinda kaget dan menggerak-gerakkan tubuh Dinda namun tetap saja nama itu di panggil, dan Dinda tak sadarkan diri. Kembali lagi ia pingsan dan tertidur pulas. Sedih benar kedua orang tuanya.
Tepat minggu ke-4, Chocky baru datang ke rumah sakit, ingin menjenguk Dinda. Walau dengan berat hatinya ia melangkah. Entah karena apa. Biar sudah sebulan, Dinda belum juga sadarkan diri. Sekarat mungkin bila dikata orang-orang umum. Antara hidup dan mati. Setengah nyawa sedang berada di alam sana.

Sesampainya Chocky di rumah sakit, dengan refleks ia berlari ke kamar Dinda. Dan saat sampai di depan pintu, tanpa ragu ia buka dengan cepat, dan segera memeluk Dinda. Ia menyesal sekali. Dinda sudah 4 minggu di rumah sakit, dan tak sadarkan diri. Tapi mengapa ia masih saja memikirkan dirinya sendiri agar Dinda dapat membencinya. Selamanya. Karena penyakit di tubuhnya secara perlahan membunuh jiwa dan raganya.
“Dindaaaaaaaaaa................. maafkan aku, Din! Kenapa kamu bisa kayak gini?” tangis Chocky memeluk, seraya mengguncang kecil tubuh Dinda.
Satu jam kemudian. Pelukkan itu lemah, melemas, dan akhirnya Chocky tertidur dengan posisi kepala di samping tangan Dinda. Pulas. Mungkin lelah karena selama satu jam tadi Chocky menangis menyesali perbuatannya.
***

“Chocky... Chocky... jangan pergi! Jangan tinggalin aku sendirian, Choc! Aku rapuh.” Dinda kembali mengigau. Perlahan mata Chocky terbuka.
“Din..Dinda! Bangun, Din! Aku disini, sayang.” Saut Chocky

Perlahan mata Dinda melihat dunia. Kelam..putih seluruhnya.
“Aku dimana?” tanya Dinda dengan suara lirih
“Kamu dirumah sakit, sayang. Maafin aku ya, Din.” Penyesalan Chocky terus membuntuti. “Gimana ceritanya, Din? Kamu kok bisa, ya ampun..sampai berdarah sana-sini, sayang?” lanjut Chocky.
“Kamu kemana aja, Choc? Waktu itu aku kerumah kamu, karena aku tau, hari itu adalah hari our anniversary 3 years. Gak ada kabar dari kamu. aku berharap, kalau aku pergi ke rumah kamu, aku bakal temuin kamu. Tapi nyatanya, adik kamu yang buka pintu. Terus dia jawab sesingkat mungkin bilang kamu gak ada dirumah. Aku sedih, Choc. Aku kecewa! Apa kamu gak...”

Penjelasan Dinda belum berakhir. Namun segera ditutup dengan sentuhan lembut jari telunjuk Chocky. Ia cukup. Cukup pedih, dan air mata itu keluar mendengar penjelasan Dinda. Bersalah..sekali. Ia tak pernah maksud mencelakai Dinda, sebagai kekasihnya. Namun apalah daya? Takdir secara perlahan membuat darah Dinda tumpah ruah di jalanan. Dan tak hanya itu. Sungguh menyedihkan.
“Choc...” panggil Dinda lembut.
“Iya. Kenapa, Din? Kamu mau apa, sayang?”
“Tolong lihat kakiku, Choc. Aku merasa tidak enak.”
Dan betapa terkejutnya Chocky. Kaki kiri kekasihnya itu telah di amputasi. Karena tulang keringnya telah patah terjepit pintu mobil depan, yang mengakibatkan darah keluar tak henti-hentinya.

Kembali lagi air mata penyesalan mengalir membentuk anak sungai dipipi Chocky.
“Kenapa, Choc? Kakiku hilang?” Dinda bertanya seraya mengerutkan kening.
“Maafkan aku, sayang. Maafkan aku! Andai saja aku keluar saat itu. Dan tiba waktunya kau pulang. Aku mengantarmu seperti biasa. Maafkan aku, Din!” dengan nada keras, Chocky melanjutkan “Hukum aku! Hukum sesuka hatimu! Aku menyesal karena aku telah bersalah.”

Ditengah isak tangis Chocky. Dinda pun tak kalah sedihnya dengan tangis kekasihnya.
“Nggak! Kamu gak salah, Choc! Kemarilah...” minta Dinda dan melambaikan jari-jari lentiknya. Chocky merespons lambaian tangan Dinda. Dan mereka sama-sama merangkul.
***

Siang yang terik. Angin bersiul meniup debu-debu suci. Bersalah. Membawa ketenangan untuk Dinda. Dengan adanya itu, Chcocky kini siap kembali seperti semula. Menyisi disudut pundak Dinda, merangkulnya, menjadi perisai hidup sang juliet. Ya, bahagialah. Hal yang tak pernah ingin mereka pisahkan.
“Aku bahagia. Selalu bahagia bersamamu, Din” kata pembuka Chocky seraya terus mendorong kursi roda Dinda di taman
“Iya, Choc. Jangan pernah pergi dari hidupku lagi! Aku ga sanggup, Choc!” sambut Dinda dengan senyum air mata
“Iya. Iya, sayangku Dinda”
Hari-hari mulai mereka jalani bersama. Tak ada rasa bosan, mungkin. Bak bumi tanpa matahari dan bulan, takkan pernah hidup.
***

Benar. Chocky memenuhi janjinya. Ia temani Dinda kemanapun pergi keluar rumah. Walau kini, kaki Dinda tak sesempurna dulu lagi. Tapi kesetiaan tetap terjaga dengan adanya cinta sejati. Tak lelah ia ikuti kemahuan Dinda. Ya, laki-laki sempurna!

Chocky sangat tahu betul, bahwa umurnya tinggal 2 bulan lagi. Tak tahu cara agar Dinda membencinya . Malam ketika itu, dia tidak tidur. Tetap terjaga dalam pikiran liarnya.
“Dinda, maafkan aku..”
***

Pagi buta. Seperti biasa, Dinda tanyakan keadaan Chocky lewat pesan singkat.

Pesan pertama, tak dibalas. Kedua pun sama. Ketiga, keempat, dan seterusnya. Sampai Dinda bertanya-tanya dan memilih untuk menelponnya. Namun nihil. Sama saja, tak ada yang mengangkat teleponnya.
“Hahh...bingung aku! Harus gimana lagi?” desah Dinda lemas “Kamu kenapa lagi sih, Choc? Kenapa? Apa aku udah ga sesempurna dulu lagi? Aku buruk!”
“Kenapa, nak? Jangan salahkan diri sendiri! Coba lagi kau hubungin kekasihmu itu. Mungkin tadi dia sedang mandi, atau sarapan mungkin.” Bantah Bunda Dinda yang menghampiri dan memeluk Dinda dari belakang.
Udara menyesak. Merasuk setiap dinding paru-paru Dinda. Lelah sekali ia jalani kehidupan ini. Semua karena cinta dihatinya tak pernah hilang, rapuh, atau goyah sekalipun.
***

Selama sebulan terakhir ini, dengan sabar Dinda kabar sang pemimpin kerajaan hatinya. Sms, atau sekedar telpon saja tak pernah dibalas. Sebenarnya, ia sangat kesal! Ingin sekali rasanya ia memukul, membuat Chocky menangis atas perbuatannya dulu.
“Mana, Choc? Mana janjimu ketika ditaman rumah sakit? Ketika awal kita bersatu? Kau kata ingin jadi pemimpin aku dan anak-anakku kelak? Aku gak bisa terus begini, Choc! Letih aku!” rintih Dinda
“Mengertilah, kasih..” sedikit senandung Dinda
***

Tepat 2 bulan. Tanpa berpikir panjang, Dinda langsung mamanggil sang sopir untuk mengantarnya ke bandara Medan dan segera terbang ke Yogyakarta. Tak bisa lagi ia tahan keinginan ini. Terlalu lama.

Setelah sampai komplek perumahan yang ditempati Chocky dan sudah berada di pintu rumah keluarga Chocky, Dinda terkejut sekali. Tak di sangka, kini ia melihat jasad tak berdaya sedang berbaring dihadapannya, dan segera menghampiri. Banyak orang melihatnya aneh.
“Choc..Chocky! Bangun, Choc! Aku disini! Aku Dinda Lizzy, kekasihmu. Huhuhuhu” tangis Dinda membuncah hebat. Sungguh tak terima ia kini harus sendiri. Gila rasanya bila ia hatus kehilangan orang pertama dihatinya. Selalu ia puja. Dan perpisahan ini tak pernah ia bayangkan.
“Kak, maaf kak!” sapa Desta, adik Chocky. “Maaf, kak. Kak Chocky gak pernah kasih tau tentang penyakit kanker otak yang menghabisi hidupnya. Selama ini, kak Chocky gak kasih kabar ke kakak, karena dia mau kakak benci kak Chocky. Dengan cara begitu, kakak gak akan terlalu sedih seperti ini. Seperti yang kakak lakuin sekarang.” Jelas Desta panjang lebar.
“Salah, Dest! Salah besar pikiran dia! Nggak! Dengan cara begitu, aku sangat sedih. Aku memang mulai kesal dengan sikapnya yang tak pernah balas pesan atau teleponku, sejak aku pulang bersama orang tua ke Medan. Tapi rasa cinta ini...” elakkan itu terhenti karena tangisan yang tersendat-sendat di tenggorokan Dinda. Ia sangat tak percaya.
“Mana kata orang kita bisa nikah? Jangan mati lah! Hampa aku, Choc!” logat batak meliputi tangisan Dinda.
***

Setahun bayangan kebersamaan dengan Chocky, tak pernah hilang. Benar-benar Dinda merasa kehilangan. Kini ia tak bisa tersenyum lapang atau pun tertawa lepas seperti dulu, saat ada Chocky di dunia ini.

Chocky...
Sedang apa kau sekarang, sayang? Aku rindu masa-masa dulu. Aku teringat saat kau katakan cinta dan berlutut padaku.
“Dinda, aku cinta sama kamu. Terima aku jadi pacar kamu. Tolong! Tolong selamatin nyawa aku dengan cinta tulus darimu. Karena kalau tidak, aku akan mati.”
Dan, aku balas dengan tawa. Aku anggap kau bercanda, Choc. Ternyata kau benar-benar serius menyatakannya.

Choc..
Sampai saat ini. Aku belum bisa melupakanmu walau sedetik berlalu. Padahal kejadian itu sudah setahun berjalan kau meninggalkan ku sendiri. Aku belum temukan lelaki sepertimu. Terimaku apa adanya. Dengan kakiku yang hanya tinggal satu ini. Aku ingin sekali menyusulmu di surga sana. Pasti kini kau tengah menantiku di singgasana terindah yang telah Tuhan sediakan untuk kita. Cinta dihatiku ini takkan pernah terhapus, lekang oleh waktu. Karena kebahagiaanku hingga saat ini belum ku temukan. Kecuali saat aku bersamamu. Bergurau penuh dengan tawa. Dan mata manismu masih kutatap dalam bayangan semu mimpiku. Bahagialah, kasih! Aku sangat mencintaimu..
***
Republik – Biarkan Aku Melihat Surga
Dinda, dengarkanlah!
Kini ku tak bisa denganmu lagi
Dinda, resah bila
Sudah tinggalkan semua kisah kita berdua!
Biarkanlah ku melihat surga
Di depanku.. ooo
Dan biarkanku mengatakannya, padamu
Pada dirimu ooo

Bahwalah aku..mencintaimu
Oh sungguh, sungguh mencintaimu
Dan tak ada, yang lain
Selain dirimu didalam hatiku..ooo

Dinda, iya..sudah
Aku pergi, untuk dirimu
Dinda, kini nafasku
Terakhir bagimu, terakhir untukmu ooo

Bahwalah aku..mencintaimu
Oh sungguh, sungguh mencintaimu
Dan tak ada, yang lain
Selain dirimu didalam hatiku oo
(Bahwalah aku, selalu ada disisimu ooo
Bawalah aku untuk terakhir kalinya)
Bahwa..aku mencintaimu
Oh sungguh, sungguh mencintaimu
Dan tak ada, yang lain
Selain dirimu didalam hatiku...oo

PROFIL PENULIS
Ghiffary Amanda Sastre
Kalau mau tau tentang ghiffa, mau kenal ghiffa(khusus untuk perempuan yg baik), kalian bisa add fb ghiffa, terus kalian kirim inbox. atau kalau enggak, follow twitter ghiffa. insya Allah di follback. terus mention or kirim inbox aja. terimakasih
facebook: Ghiffary Amanda Sastre
twitter: @FfhaChocoCandy

Baca juga Cerpen Cinta yang lainnya.

Cinta Tak Harus Memiliki - Cerpen Cinta

CINTA TAK HARUS MEMILIKI
Karya Artika EL Sonia

Sunyi di sebuah malam, hanya suara detik jam dinding yang terdengar. Seorang gadis dengan gaun tidur berwarna merah muda, tampak menatap ke luar jendela. Tatapannya menerawang jauh. Terbang bersama sejuta kenangan yang tak mungkin bisa ia lupakan. Barangkali inilah rasanya hidup seorang diri, tanpa seseorang yang berarti.

Hujan diluar perlahan-lahan turun. Menimbulkan suara gemericik. Gadis itu rupanya teringat pada sebuah dongeng. Dongeng dari mamanya ketika dia masih berumur 6 tahun. Judul dongeng itu adalah “ Gadis sebatang kara”. Bahkan, sampai sekarang, suara mama ketika bercerita masih terngiang ditelinganya. Dan dongeng itu, kini benar-benar nyata dalam hidupnya. Dia sendiri yang memerankan tokoh utama dalam dongeng itu.

Tenggelam dalam lautan kesendirian adalah gejolak jiwa yang kerap kali ia rasakan. Sebuah konflik batin yang harus ia telan sendiri.
“ Kirana.. Diminum dulu obatnya, ayo keluar dari kamarmu.” Sebuah suara tampak terdengar dari luar kamar.

Ya, nama gadis itu adalah Kirana. Tapi, dia tak menghiraukan panggilan itu. Panggilan Tante-nya yang menurut Kirana tak penting. Karena entah kenapa, semenjak mamanya meninggal dan papa menikah lagi, Kirana tak pernah menganggap ada orang lain dalam hidupnya. Ia hanya menganggap bahwa ia hidup sendiri dan tak ada orang didalamnya. Kalaupun ada, maka orang itu hanya figuran. Dan ia yang merupakan peran utamanya. Satu-satunya pemeran utama yang harus memainkan dinamika kehidupan ini.

Kirana melangkah perlahan-lahan ke tepi ranjang. Ia duduk dan mematikan lampu. Seolah benar-benar larut dalam kesendiriannya.

* * *

Sinar matahari siang ini terasa menyengat, seorang pria tampak kerepotan membawa 2 buah kopor serta 1 tas ransel. Sesekali, ia menyeka keringat yang mengalir di dahi dan pelipisnya.
“ Benar-benar melelahkan” batinnya dalam hati. Rumah yang ia tuju masih jauh. Setidaknya, ia masih harus menyusuri gang ini sekitar 5 sampai 10 menit lagi. Menyesal juga, tadi dia tidak memakai jasa tukang becak di mulut gang.

Sesaat kemudian, langkah kakinya terhenti di sebuah rumah bercat biru tua dan di dinding rumah itu terdapat plang bertuliskan “ TERIMA KOST”. Dengan ragu, pria tadi mengetuk pintu.
“ Permisi..”

Seorang wanita paruh baya tampak membukakan pintu.
“ Selamat siang, Bu..” Pria tadi tersenyum tipis.
“ Selamat siang juga. Pasti kamu Dafian ya?”

Pria tadi yang tak lain adalah Dafian, mengangguk.
“ Silahkan masuk dan duduk dulu, Ibu mau ke dalam ambil minum, tampaknya kamu kelelahan.”

Wanita tadi adalah Bu Tari, yang merupakan pemilik kost-an, ia beranjak dari hadapan Dafian untuk mengambilkan minum.

Rumah ini tampak nyaman. Mungkin akan serupa dengan kost-annya yang terletak di belakang rumah. Desain rumah ini memang sederhana, menggunakan desain rumah minimalis walau tidak bertingkat. Dibandingkan dengan rumah lainnya yang terdapat di gang , rumah inilah yang paling bagus dan terawat. Ketika tadi Dafian membuka pagar rumah,ia langsung disambut dengan taman kecil yang ditanami aneka macam bunga. Ada air mancul kecil di tengah taman itu.
“ Ini ibu bawakan orange jus, “

Kedatangan Bu Tari membuyarkan lamunan Dafian tentang rumah ini.
“ Terimakasih Bu.. Jadi merepotkan”
“ Tidak apa-apa kok. Ini kuncinya, nak Dafian. Semoga kamu nyaman disini.” Bu Tari menyodorkan kunci kamar kost.
“ Mari Bu, Terimakasih..” Dafian berpamitan dan menuju kost-an barunya.

* * *

Sore ini , langit tampak cerah. Kirana duduk berkaca di depan cermin. Ia mengenakan busana muslim dan jilbab berwarna biru muda. Dia memasukkan Al-Quran ke dalam tas yang terletak di meja rias.
“ Na, mau kemana? “tanya Tante Lastri, yang masih mengenakan seragam putih khas seorang dokter.
“ Acara rohis.” jawab Kirana singkat dan langsung menuju keluar rumah.

Tante Lastri memandang Kirana hingga bayangannya hilang di balik pintu rumah. Rona wajahnya menampakkan kecemasan yang luar biasa. Sudah lama Lastri kehilangan sosok Kirana yang dulu. Yang periang dan selalu bersikap manis padanya. Hanya satu kebiasaannya yang tak pernah berubah, yaitu mengikuti acara rutin rohis di Masjid dekat rumah.

* * *

Dafian merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Jadwal kuliahnya memang benar-benar padat. Ia merasakan cacing-cacing di perutnya berdemo, menuntut diisi. Sejak kemarin dia tidak makan. Orang tuanya hanya akan membiayai full uang kuliahnya. Sedangkan biaya hidup, hanya ala kadarnya saja. Itulah yang membuat Dafian pindah kost ke kost-an yang lebih murah dan mengurangi makan di restaurant food court kesukaannya.

Akhirnya, Dafian memilih untuk keluar. Mencari warung makan kecil-kecilan, yang penting perutnya kenyang dan dia dapat beraktivitas kembali. Ketika keluar kost-an, udara sore langsung menyergapnya. Meskipun disini lingkungannya sedikit kumuh, apalagi untuk seorang calon dokter sepertinya, tapi Dafian cukup nyaman. Orang-orang disekitar sini pun semuanya ramah-ramah.
“ Nak Dafian mau kemana?” tanya Bu Tari ketika berpapasan dengan Dafian di mulut gang.
“ Mau cari warung makanan bu.” jawab Dafian sambil tersenyum sopan.
“ Oh begitu. Ehm, di sebrang sana, dekat masjid Al-Ikhlas, ada warteg yang murah tapi masakannya enak loh. Kamu bisa makan disana.” ujar Bu Tari sambil menunjuk sebuah warteg kecil di sebrang mulut gang.
“ Wah, terimakasih ya,bu.”

Dafian langsung menuju warteg yang dimaksud Bu Tari. Namun, ketika baru saja menyebrang, mata Dafian tertuju pada seorang wanita berjilbab biru muda yang baru saja keluar dari Masjid AL-Ikhlas. Dia terkesima melihat paras wanita itu. Aura kecantikannya begitu bersinar. Karenina kekasihnya saja, lewat. Padahal Karenina adalah seorang model yang sempat memenangkan beberapa audisi majalah terkenal dan kontes kecantikan yang diselenggerakan oleh beberapa produk iklan.
“ Astaga, cewek itu cantik sekali.” Dafian menggeleng takjub. Ia ingin menghampiri wanita itu, tapi ragu ditambah tujuannya untuk mengisi perut belum terlaksana.
“ Aku harus tahu nama cewek itu.” ucap Dafian mantap.

* * *

Malamnya, Dafian tak bisa tidur. Sosok wanita yang tadi dia lihat,kini bergantian melintas di benaknya dan membuatnya seperti orang yang baru saja jatuh cinta. Dafian sampai tidak menyadari, bahwa ia telah memiliki kekasih. Kekasih yang sangat ia sayangi. Dafian menyayangi Karenina? Ya, itu adalah benar. Tapi, ketika Karenina belum menjadi model super sibuk seperti sekarang. Karenina yang ia kenal begitu ramah dan perhatian. Sementara sekarang? Dafian seperti dianggap angin lalu saja.
“Drrtt..drrttt..” handphone Dafian bergetar. Tertera sebuah panggilan masuk dari Karenina. Dafian mengangkatnya.
“ Halo”
“ Ya, Kar?”
“ Ketemuan? Sekarang?”
“ Hah? Di depan kost-an? Tau darimana kost-an aku yang baru?”
“Oke aku keluar.”

Baru saja ia memikirkan Karenina, sekarang orangnya langsung telpon dan mengabari bahwa dia ada di depan kost-an. Dafian beranjak dan menghampiri Karenina.
“ Ada apa Kar?” tanya Dafian dingin ketika melihat Karenina telah berdiri di ambang pintu. Dia mengenakan pakaian yang amat terbuka. Wajahnya ber make-up tebal. Mungkin, dia baru pulang dari acara pemotretan.
“ Tutupi badan kamu pakai ini” Dafian menyodorkan jacket yang dikenakannya. Jujur saja, ia tak suka dengan pemandangan ini. Seorang wanita harusnya menjaga kehormatannya bukan malah mempertontonkannya.
“ Gak usah. Aku kesini mau bicara sama kamu,” Karenina menolak.
“ Oke apa?”
“ Besok, aku harus pergi ke Washington. Aku dapat kontrak pemotretan disana. Dan mungkin, aku akan lama. Aku sadar, selama ini aku tak perdulikan kamu lagi. Aku fikir, lebih baik kita menyudahi hubungan ini sampai disini saja. Aku doakan kamu agar sukses menggapai cita-cita kamu yang sebentar lagi akan tercapai. Maafkan aku..” Karenina tersenyum pahit.

Sementara Dafian biasa saja. Ia sudah tak menyayangi Karenina layaknya dulu.
“ Ya, terimakasih Karenina. Aku harap kamu dapat yang lebih baik dari aku.” Dafian menatap Karenina lekat-lekat. Cinta memang cepat merubah seseorang. Karenina memang jauh lebih cantik dari dulu. Wajah nya yang peranakan Indo- Jepang itu, terlihat lebih manis dengan polesan make-up. Tapi bukan ini yang Dafian mau.
“ Aku pamit ya Daf.”
“ Aku antar sampai depan gang. Supaya kamu tidak diganggu oleh preman-preman di sepanjang gang ini. Berbahaya untuk model cantik sepertimu apalagi pakaianmu amat terbuka.” Dafian tersenyum. Sementara Karenina amat tersentuh. Ternyata Dafian masih sama seperti dulu.

* * *

Hari ini adalah hari Minggu. Pukul satu siang. Dafian baru saja pulang dari gereja Imannuel yang terletak di pusat kota. Acara kebaktian yang rutin diadakan setiap hari Minggu itu membuat dia tidak bisa bermalas-malasan tidur di Minggu pagi. Dan sekarang, ia harus pergi ke rumah dosennya di kawasan komplek Cemara Hijau mengenai tugas praktek kuliahnya.

Baru sampai mulut gang, dia melihat seorang wanita yang pernah dilihatnya di depan masjid kemarin. Matanya terbelalak kaget. Wanita itu sekarang sedang ada di toko bunga.
“ Ya Tuhan. Aku harus tahu nama cewek itu.” Dafian berkata dalam hati. Dan ia menghampiri wanita itu. Namun, ketika akan menghampiri, wanita itu sudah keluar dari toko bunga, tapi satu dari beberapa tangkai bunga yang dibawanya ada yang terjatuh. Spontan Dafian memungutnya.
“ Mbak tunggu..”

Wanita tadi menoleh.
“ Ini bunga punya mbak? Tadi jatuh disana.” Dafian kini benar-benar berhadapan dengan wanita yang belakangan ini selalu hadir dalam benaknya
“ Terimakasih..” wanita itu kemudian melanjutkan langkahnya.
“ Hai, tunggu .”
“ Apalagi?” kata wanita itu angkat bicara.
“ Boleh tahu nama kamu? “ Dafian tersenyum ramah.
“ Kirana. “ lagi-lagi jawabannya singkat.
“ Aku Dafian.”

Kirana mengangguk dan tersenyum, lalu melangkah lagi. Sementara Dafian senang tak terkira. Ini pertemuan pertama dengan wanita yang disukainya. Tapi, sejak kapan ia suka dengan wanita ber-jilbab? Wanita yang sudah jelas-jelas berbeda keyakinan dengannya.

* * *

Kirana meneguk teh yang baru saja dibuatnya. Ia teringat dengan kejadian tadi. Nama pria tadi adalah Dafian. Dan tanpa sadar dia tersenyum sendiri. Padahal, belum pernah dia merasa sesenang ini jika bertemu dengan pria. Kejadian yang dialaminya tentang mencintai seorang pria pernah berakhir pahit dan itulah yang membuatnya enggan jatuh cinta kembali. Tapi, jika dengan pria tadi. Tampaknya ada daya tarik sendiri dari pria itu. Ahh,.. Kirana ingin bertemu kembali dengan Dafian.

Diam-diam dia meraih buku diary bersampul mawar dari meja disamping ranjangnya. Dia mulai menuliskan curahan perasannya. Tentunya dengan rona wajah seseorang yang sedang jatuh cinta. Namun, senyumnya sirna ketika pandangannya mulai kabur dan ia merasakan sakit yang hebat pada kepalanya. Sakit itu terus menyerang dan Kirana tak mampu melawannya.

* * *

Ini kedua kalinya Dafian bertemu Kirana di toko bunga. Kebetulan, Dafian akan membeli seikat bunga untuk Sang Bunda yang akan berulang tahun besok.
“ Hai Kirana..” sapa Dafian. Kirana menoleh dan tersenyum manis.
“ Sedang apa kamu disini Daf? “ tanya Kirana heran
“ Beli bunga lah, masa berenang.” jawab Dafian sambil menatap Kirana. Menikmati kecantikan natural dari wanita di hadapannya ini. Bagaimana tidak. Kirana memiliki mata yang indah dengan bulu mata tebal dan lentik. Kulitnya putih bersih dan hidungnya mancung sempurna. Sepertinya, Kirana memiliki garis keturunan orang Belanda.
“ Oh, beli bunga untuk siapa? Pacar kamu ya Daf ?” Kirana tertawa kecil
“ Pacar? Aku ga punya pacar Na. Aku beli bunga ini untuk Bunda. Besok dia ulang tahun. Eh, kamu suka mawar?” tanya Dafian ketika melihat bunga yang dipesan Kirana adalah mawar. Kemarin, waktu pertemuan pertama dengan Kirana, dia juga melihat jenis bunga yang sama.
“ Iya suka sekali..” Kirana mengangguk pelan.
“ Aku belikan untuk kamu, ya..” sebuah kalimat yang tidak Kirana duga, terluncur dari mulut Dafian.
“ Wah,terimakasih ya Dafian. “ Kirana tersenyum lebar. Pria di depannya ini sangat baik.“ Sama-sama, lebih senang lagi kalau kamu mau menemani aku makan siang. “ tawar Dafian. Kirana tersenyum lagi dan mengangguk cepat.

* * *

“ Ehmm...jadi begitu ya sebab kamu memutuskan hubungan dengan kekasihmu itu?” tanya Kirana ketika Dafian menjelaskan mengapa ia melajang sekarang. Mereka saling bercerita tentang banyak hal.
“ Ya, begitulah. Kamu tampak pendiam sekali Na, apalagi ketika pertama kita bertemu.” Dafian berkomentar.
“ Aku kesepian. Aku hidup seorang diri. Tapi, ketika bertemu kamu, aku merasa punya seseorang yang baru. Aku bisa terbuka mengenai hidup aku setelah sekian lama aku menutup diri, Daf. Padahal, kita baru kenal.”
“ Oh ya? Aku merasakan hal itu juga, Na. Aku merasa cocok denganmu loh. Padahal kita baru bertemu 2 kali.” ucap ucap Dafian jujur.

Lama mereka saling diam
“ Na, kamu cantik dan aku suka..” tidak sengaja Dafian mengatakan itu dan Kirana tersipu malu.
“ Kita bisa lebih saling mengenal Daf. “ ucap Kirana
“ Ya, kamu benar. Oh ya, aku ada kuliah jam 4 sore. Kita bisa bertemu kembali nanti. “ Dafian melirik arloji di tangannya dan jam menunjukkan pukul 15.15
“ Oke Pak Dokter. Sebaiknya kita shalat dulu yuk.” Kirana hendak beranjak.
“ Na, maaf..”
“ Ya, kenapa? “
“ Aku non muslim. “

Seketika raut wajah Kirana berubah.

* * *

5 bulan telah berlalu semenjak pertemuannya dengan Kirana. Hubungan mereka masih baik. Dafian memang telah menyatakan cintanya pada Kirana, tapi Kirana tetap tidak bisa merespon karena keyakinan mereka berbeda. Apalagi, orang tua Dafian menentangnya keras ketika Dafian bercerita bahwa dia jatuh cinta pada seorang wanita muslim dan ingin meminangnya. Dafian masih ingat ketika ayahnya begitu marah ketika dia meminta ijin untuk memeluk agama Islam demi cintanya. Sepertinya, cinta yang kuat akan membuat Dafian benar-benar melaksanakan niatnya itu agar mendapatkan Kirana. Dia tahu Kirana tidak akan menjawab cintanya selama mereka masih berbeda keyakinan. Haram kata Kirana. Dan sekarang, yang terpenting adalah lulus kuliah, menjadi dokter sesungguhnya dan meminang Kirana.

Tak peduli kata orang tuanya. Lagipula, sebenarnya dia sudah lama ingin mengetahui tentang Islam lebih dalam. Ketertarikannya itu bermula ketika Dafian duduk di bangku SMP. Dia melihat teman-temanya yang sebagian besar orang muslim, melaksanakan shalat di hari Jumat siang secara bersama-sama dan yang mengikutinya adalah laki-laki semua. Selain itu, dia suka memperhatikan guru agama Islam di SMP nya menerangkan tentang sejarah Islam, yang sedikit-sedikit bisa dia mengerti. Dia juga suka mendengar orang yang kata salah satu temannya, sedang mengaji. Ketika SMP pun, dia pernah tertarik dengan salah satu teman wanitanya yang memakai jilbab. Sangat anggun menurutnya. Karena, jujur saja Dafian tidak suka wanita yang tidak mejaga kehormatannya seperti memakai rok pendek diatas lutut. Padahal, sekolah sudah melarangnya.
“ Selamat siang Dafian.” sebuah suara membuat lamunan Dafian buyar.
“ Siang bu. “ Dafian tersenyum pada dosennya itu, Bu Lastri.
“ Melamun saja, Daf.” goda Bu Lastri.
“ Eh, ehmm engga bu. Oh ya, bagaimana dengan praktek bedahnya?”
“ Kamu bisa mulai minggu depan. Setelah itu, persiapan untuk ujian. Ibu yakin kamu pasti lulus dan bisa mempertanggungjawabkan gelar dokter mu.” ucap Bu Lastri.
“ Terimakasih, bu. “

Bu Lastri mengangguk dan tersenyum.
“ Eh, bu. Amlop ini punya ibu?” tanya Dafian ketika mengambil amplop besar berwarna putih yang jatuh dekat sepatunya.
“ Oh, ya ini hasil check-up pasien saya, Daf.” Bu Lastri mengambil amplop itu dari tangan Dafian

“ Emang, dia sakit apa?”
“ Dia divonis kanker otak stadium akhir Daf. Dan kanker nya itu telah meluas. Kamu tau kan artinya apa? Harapan untuk hidupnya kecil. Mungkin saya sendiri tidak bisa mengatakan berapa lama dia akan bertahan. Yang pasti, hanya Tuhan yang tahu. Saya sangat sedih melihatnya, apalagi dia sudah saya anggap sebagai anak sendiri. Dia sangat lemah dan tidak berdaya ketika diberi paint killer dengan dosis yang tinggi. Tapi, bila tidak diberi itu, maka dia akan sangat menderita. Lama dia hidup mungkin hanya ditentukan oleh bagaimana dia mempunyai semangat tinggi untuk hidup. Bila kankernya masih ada di stadium 2, kami para dokter bisa melakukan chemoterapi dan pengambilan jaringan-jaringan yang terkena kanker. Tapi, semua terlambat. Dia tidak pernah peduli dengan rasa sakit di kepalanya sehingga sekarang, kankernya itu sudah meluas. “
“ Semoga Tuhan memberikan sebuah keajaiban ya,Bu..” ucap Dafian.
“ Ya, Daf. Saya berharap seperti itu. Saya permisi.”

Dafian membiarkan Bu Lastri pamit dan entah kenapa, dia teringat Kirana.

* * *

Malam di sebuah restaurant.

Dafian menatap Kirana yang malam itu sengaja ia ajak ke tempat makan faforitnya. Ia ingin menyampaikan sesuatu yang amat penting. Tapi, tak seperti biasanya, wajah Kirana terlihat pucat.
“ Na, kamu sakit?” tanya Dafian.

Kirana tersenyum dan menggeleng pelan.
“ 2 minggu lagi, aku wisuda kuliah dan itu artinya, aku benar-benar menjadi seorang dokter,Na.” Ucap Dafian senang. Namun, Kirana hanya tersenyum menanggapinya.
“ Minggu-minggu ini kita tak bisa banyak bertemu. Aku banyak kegiatan di kampus. Tapi, aku berjanji saat telah diwisuda, aku akan datang membawa ijazah dokterku dan langsung melamarmu.”

Kirana tersentak kaget. Wajahnya yang pucat, sekarang berubah menjadi lebih pucat seperti orang yang meninggal.
“ Kamu serius?” tanya Kirana.
“ Aku serius. Apakah kamu tidak mau? “
“ Daf, kita kan...”
“ Aku akan menjadi mualaff untukmu Na. “ tegas Dafian memotong pembicaraan Kirana.
“ Tapi, Daf? Keluarga kamu? Papamu seorang whorsip leader di gereja-gereja besar. Tentu saja keyakinannya begitu kuat dan beliau tidak akan merelakan anaknya begitu saja memeluk agama lain.” ujar Kirana, dia mengalihkan pandangannya keluar. Menatap kendaraan yang lalu lalang.
“ Aku sangat mencintaimu. Tidak ada salahnya bila aku menentukan jalanku sendiri. Aku akan menjadi mualaf untukmu,Na” Dafian mengulang pembicaraannya.

Kirana termenung, dia menatap kembali wajah pria yang sebenarnya sangat dia cintai. Sinar ketulusan terpancar dari wajah Dafian.
“ Kamu tidak usah khawatir. Aku tulus dan sungguh-sungguh. Nanti, ajari aku shalat dan mengaji ya. Pokoknya semua tentang Islam.” ucap Dafian. Matanya menatap Kirana lembut.

Sementara Kirana, merogoh tasnya dan mengambil sebuah buku.
“ Ini ada buku tuntunan shalat. Lengkap. Semua jenis shalat ada disini. Tapi, yang paling utama, kamu harus pelajari shalat fardu. “ Kirana memberikan buku yang diambil dari tasnya kepada Dafian.
“Terimakasih, Na. Aku pasti datang untukmu.”

* * *

Hari ini adalah hari yang sangat spesial bagi Dafian. Dia telah lulus kuliah dan mendapatkan gelar sebagai seorang dokter. 1 hari sebelumnya, dia telah resmi menjadi seorang pria muslim. Melakukan sunat, dan mengucap kalimat syahadat di depan seorang ustadz. Disaksikan juga oleh beberapa tokoh agama di daerah ini. Bu Tari, ibu kost-nya pun datang menjadi saksi. Sementara orangtuanya, tidak tahu mengenai hal ini.

Rencananya, hari ini Dafian akan datang ke rumah Kirana. Dia ingin menjalankan niat tulusnya untuk meminang Kirana. Setidaknya, dia bisa bicara pada orang terdekat Kirana. Kirana pernah bicara, bahwa dia tinggal bersama tante-nya di Komplek Cemara Hijau. Tapi, nomor handphone Kirana tidak dapat dihubungi. Sejak 2 minggu yang lalu. Tadinya Dafian fikir, mungkin handphone Kirana lowbatt, dan dia tak penah mencoba menghubungi Kirana lagi karena sibuk. Dan sekarang, ketika dihubungi lagi pun, jawaban dari operatornya sama. Tidak dapat dihubungi.

Dafian menghela nafas panjang, dan mulai keluar dari kost-an nya. Menyusuri gang, dan masuk ke Komplek Cemara Hijau. Dia masih mengenggam ijazah dokternya. Tadinya, dia berharap akan bertemu dengan Bu Lastri di acara wisuda, tapi dia tidak ada. Padahal, Dafian ingin mengucapkan terimakasih pada dosennya itu yang telah banyak membantu dalam proses kuliahnya.

Komplek Cemara Hijau Blok F no.9, sepertinya Dafian mengenal alamat itu. Sekarang, dia telah sampai. Eh, tunggu dulu. Ini kan rumahnya Bu Lastri, dan rumah ini? Rumah Kirana pula. Tapi kok ada bendera kuning dan banyak orang berpakaian hitam di dalam?

Berbagai pertanyaan berkecamuk di fikiran Dafian.Hatinya cemas luar biasa. Dia mendekati rumah itu.
“ Permisi..” ucap Dafian.
“ Dafian..” Bu Lastri muncul dari dalam. Dia kaget melihat Dafian telah berdiri di halaman rumahnya.
“ Ibu ini rumah Kirana?” tanya Dafian pelan.
“ Kamu mengenal Kirana?” tanya bu Lastri kaget.
“ Dia calon istriku, Bu..”

Seketika Bu Lastri menangis. Menangis menatap Dafian.
“ Jadi, kamu orang yang Kirana ceritakan? Kamu harus melihat dia untuk yang terakhir kalinya.” Bu Lastri meminta Dafian mengikutinya. Dafian tak mengerti apa yang terjadi. Dia terhenti di hadapan seorang jenazah.
“ Katakan bahwa dia bukan Kirana Bu.” Dafian berlutut lemas. Ijazah yang sedari tadi dipegangnya, jatuh terlepas dari genggamannya. Dia tak mampu berkata apa-apa. Lemas,dan pikirannya tak bisa mencerna apa yang saat ini terjadi.
“ Kirana adalah orang yang saya ceritakan tempo hari. Dia mengidap kanker otak. Selama 2 minggu dia koma di rumah sakit. Malam itu sebelum dia masuk rumah sakit, Kirana bilang bahwa dia akan bertemu dengan orang yang dicintainya. Padahal, 1 hari sebelumnya dia sempat pingsan dan kondisinya saat itu sedang lemah. Sampai pada saat setelah pertemuannya dengan orang itu, yang ternyata kamu, Kirana pingsan kembali dan kondisinya langsung memburuk. Dia tidak punya harapan untuk hidup. Dia juga tak pernah bercerita bahwa pria yang berhasil membuatnya bahagia itu adalah kamu. Saya tidak menyangka “ jelas Bu Lastri panjang lebar. Dia menatap jenazah Kirana dengan tatapan kosong.

Dafian tak percaya bahwa ini adalah nyata. Kirana seperti masih ada. Masih ada di sampingnya. Dan akan ia nikahi sekarang. Tapi kenapa secepat ini? Mengapa saat Dafian telah menemukan sosok wanita yang benar-benar tepat, wanita itu pergi? Meninggalkannya sendirian. Hati Dafian menjerit tak rela.
“ Daf, jenazahnya akan di shalatkan. Kamu mau menunggu di luar?” tanya Bu Lastri.
“ Saya sudah muslim sekarang, Bu. Saya akan ikut menyolatkan Kirana.” ucap Dafian. Ini pertama kalinya dia menyolatkan jenazah. Dan Dafian bisa melakukannya. Dia belajar dari buku tuntunan shalat yang diberikan oleh Kirana saat terakhir mereka bertemu.
“ Na, aku akan menunjukkan padamu, bahwa aku sekarang bisa shalat. Dan aku shalat untukmu.” Gumam Dafian dalam hati. Tanpa sadar, air matanya mengalir perlahan.

* * *

Langit kelam menghiasi acara pemakaman Kirana sore ini. Bau tanah makam menusuk hidung. Dafian duduk di samping pusaran Kirana. Di batu nisan itu tertulis nama “Kirana Aurelia Dreana”. Nama seorang wanita yang sangat Dafian cintai. Yang Dafian impikan, yang Dafian harap bisa menjadi Ibu dari anak-anaknya. Yang akan ada di samping Dafian sampai kapanpun. Tapi sekarang, semua angan-angan itu hancur begitu saja. Kirana telah pergi meninggalkannya. Rupanya Dafian harus meyakini dan menguatkan hati, bahwa menapaki hari tanpa sosok Kirana, adalah hal yang nyata. Yang akan dihadapinya mulai detik ini.

Buliran air mata turun membasahi pipi Dafian. Ia memang laki-laki yang pantang menangis. Tapi kali ini, ia seolah kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya. Ya, cinta. Cinta yang paling berharga itu harus hilang begitu saja. Sisi terindah dalam hidupnya adalah pertemuan dengan Kirana.
“ Daf.. ini ada sesuatu dari Kirana. Dia menitipkan ini sesaat sebelum dia pergi.” Ucap Bu Lastri sambil menyerahkan buku diary bersampul mawar merah.
“ Terimakasih, Bu..” ucap Dafian. Bu Lastri lalu pulang, meninggalkan Dafian sendiri.

Dafian membuka lembaran pertama buku diary Kirana, isinya tentang perasaan dia ketika mamanya meninggal dan Papanya menikah lagi ditambah dengan kisah penyakitnya, begitu seterusnya sampai halaman 8. Dari halaman 9 sampai 14, tentang perasaan Kirana pada Dafian serta keraguannya untuk menerima cinta Dafian karena mereka berbeda keyakinan, dan dari halaman 15 sampai 17 tentang penyakitnya yang semakin parah, di halaman 18 tentang pinangan Dafian dan di halaman terakhir ada sebuah catatan untuk Dafian. Dafian juga melihat sebuah bunga mawar yang telah layu, pemberiannya dulu, ditempel di salah satu lembaran dalam buku diary itu.

Untuk ,
Dafian..

Dafian,aku menulis catatan ini, karena aku takut tak bisa bertemu kamu lagi. Aku yakin, sekarang kamu sudah menjadi pria muslim kan? Alhamdulilah. Aku senang sekali. Karena aku berharap aku bisa seterusnya denganmu Daf, tanpa perbedaan diantara kita.

Daf..
Aku dan kamu bertemu dalam satu kisah percintaan umat manusia. Dimana di dalamnya, kita bersama-sama merajut benang kasih, meniti indahnya jembatan cinta. Tapi, kini aku tak berdaya. Aku hanya berharap, Allah memberikanku sisa hidup untuk melihatmu sebagai pria muslim. Melihatmu sebagai seorang dokter walau hanya sekejap.

Daf..
Maaf jika nyatanya aku harus pergi meninggalkanmu. Jika aku tak bisa menepati janji akan menunggumu untuk datang melamarku. Tapi aku hanya ingin kamu tahu, bahwa aku sangat menyayangimu. Kamu bisa membuat aku bahagia kembali setelah sebelumnya aku selalu merasa sendiri. Kamu bisa membuat aku membuka diri setelah sebelumnya aku menutup diri karena kisah keluargaku yang hancur berantakan.

Daf..
Jika aku telah tiada, jangan lupakan aku ya, jangan lupakan kisah kita. Jaga dirimu baik-baik dan aku selalu menyayangi kamu, mendoakan kamu agar kamu selalu dalam lindungan Allah. Satu lagi, kamu harus memohon maaf pada orang tua yang telah membiayai kamu sampai kamu seperti sekarang. Mohon maaflah karena kamu telah memeluk agama Islam tanpa persetujuan mereka.
Dafian, jagalah selalu ibadahmu. Ingatlah bahwa aku sebenarnya tak pernah meninggalkanmu. Meski ragaku telah tiada. Namun, cintaku selalu dihatimu..
Kirana.

Dafian menutup buku diary Kirana. Kertas berisi catatan Kirana kini basah oleh air mata. Dia tidak kuat menghadapi kenyataan ini.
“ Daf..” seseorang memegang bahu Dafian dari belakang. Dafian menoleh,
“ Karenina?? Kenapa kamu bisa ada disini?” tanya Dafian kaget.
“ Kirana adalah sahabatku semasa SMP. Dan aku baru tau semua tentang kamu dan Kirana dari Tante Lastri. Sabar ya,” ucap Karenina. Dia juga duduk di samping pusaran Kirana.

Sementara Dafian tak bisa berkata-kata. Kepalanya menengadah menatap langit yang gelap sekali. burung camar beterbangan kesana kemari. Hujan mulai turun.
“ Daf, hujan nih. Ayo kita pulang. Biarlah Kirana pergi. Dia pasti tenang di alam sana.” Karenina membuka payungnya dan membopong Dafian berdiri. Lalu, dia memayungi Dafian yang terlihat masih sedih. Sekali lagi Dafian memandang pusaran Kirana sebelum akhirnya pulang.
“ Kirana, biarkanlah camar ini terbang, beserta sejuta rinduku padamu. Kamu selalu di hatiku untuk selamanya, cinta tak harus memiliki..” Dafian berkata dalam hati ..
* * *

Baca juga Cerpen Cinta yang lainnya.

Ketika Semua Telah Tiada - Cerpen Sedih

KETIKA SEMUA TELAH TIADA
Karya Ilham Syahputra

Aku adalah anak dari Bapak Surino dan Ibu Lastri, seorang penjual makanan di kantin Sekolah SMA. Namaku Flora Lestari, namun kebanyakan orang memanggilku dengan sebutan orang miskin. Pekerjaanku keseharian adalah membantu ibuku berjualan di kantin. Aku adalah orang yang pintar dan ingin sukses seperti kebanyakan Artis di Sineteron. Namun, dibalik kepintaranku, aku bukanlah orang yang baik, melainkan orang yang angkuh, suka melawan dan kasar kepada orang tuaku. Aku sangat marah, jika semua yang ku inginkan tidak di penuhi oleh mereka.
***

Saat itu, aku menangis, ketika teman-temanku mengajakku untuk sekolah. Namun, air mata yang mengalir ini sama sekali tidak berguna. Aku harus membantu Ibuku bekerja berjualan. Di saat indah yang seharusnya aku menggunakan seragam SMA, namun kebalikannya aku harus bekerja menggantikan ayah yang telah meninggalkan kami saat aku duduk di kelas Tiga SMP. Aku tidak bisa melanjutkan sekolahku karena Ibuku tidak mampu untuk membiayaiku. Setiap hari aku melihat mereka yang mengenakan seragam-seragam baru sambil membawa buku untuk belajar. Sedangkan aku harus bangun pagi membantu ibu membuat makanan untuk dijual di kantin. Sambil membersihkan meja, aku sempat melamun, aku berfikir kenapa hidupku seperti ini. Aku merasa kesal dengan hidup serba kurang. Padahal aku ingin seperti mereka yang serba kecukupan, mempunyai apa yang mereka inginkan, dengan menghambur-hamburkan ribuan kertas bernilai yang sangat berharga sesuka hati. Aku merasa bahwa tuhan tidak adil padaku, mengapa harus ada kemiskinan di dunia ini, dan kalaupun ada kenapa harus aku yang miskin. Tiba-tiba Ibu mengagetiku dari belakang. Aku terkejut, dan langsung berdiri mengeluarkan kata kasar di depannya.
‘’Dasar orang miskin, gak ada kerjaan selain ini apa??, bosen banget terus menerus harus jadi pembantu’’. Marahku pada Ibu.
Aku langsung pergi kekamar tanpa menghiraukan panggilan Ibu kepadaku. Sambil menangis di atas kapuk yang reok, aku merepet sendiri kesal pada Ibuku.
***

Malam semakin larut, aku terbangun dari tidurku, tersentak karena mimpi yang aneh. Aku terjatuh dari bukit yang terjal hingga jurang yang dalam tanpa ada cahaya, sangat gelap sekali. saat itu jam menunjukkan pukul 00.01 WIB. Sambil mengelap keringat di wajahku, kulangkahkan kaki ke dapur untuk membuat teh hangat. Setelah itu, aku mengambil cerpen di atas meja belajarku dan duduk di atas lantai yang kasar sambil membaca aku menikmati teh hangat. Asyik membaca, tak sengaja kakiku menampar segelas teh itu pecah berserak, hingga membangunkan Ibuku dari tidurnya. Dengan cepat aku membersihkannya. Namun naas menimpaku sebutir kaca menggores jariku, darah pun menetes di atas lantai. Ibuku langsung mengambil perban untuk mengobati jariku. Namun aku merasa muak melihat orang miskin itu, dan menyuruhnya pergi meninggalkanku.
‘’Ngapain kamu di sini…!! Aku gak butuh orang tua miskin kayak kamu..!!’’. Bentak dan membuang kain itu.
Ibuku pun masuk kedalam kamar tanpa sepatah kata.
***

Ke esokan harinya aku mengintip Ibuku yang masih tidur. Aku mendobrak pintu dan menyuruhnya bangun karena sudah siang. Malah Ibu menyuruhku untuk membelikan Bodrex ke pasar. Saat itu aku baru tahu kalau Ibuku sedang sakit kepala.
“Heh! Enak saja nyuruh-nyuruh!! Kalau mau, ya beli sendiri donk!! Punya kaki kan? Kalo Ibu nggak punya kaki, baru aku belikan!” dengan keberatan, aku menolak suruhannya.
‘’Dasar Ibu manja, uda miskin sok jadi Raja, sakit gitu saja uda ngerepotin, gimana kalau sampai kanker otak. Hmm…. Pasti aku jadi pembantu” ucapku sambil meninggalkan Ibuku dengan kesal.

Akhirnya ibuku berusaha bangkit dengan sangat lemah dari tidurnya untuk ke pasar membeli obat sendiri. Aku tak perduli Ibu keluar rumah sendiri. Hingga sore, aku melihat Ibuku tak kunjung pulang, aku bangkit dari tempat tidur dan duduk di teras rumah menunggu Ibuku. Tak lama, ada seorang lelaki yang datang menghampiriku.
‘’Flora… Emm... emm.. anu...!!
‘’ Anu apa..? ngomong tuh yang jelas dong..!!
‘’Ibumu.. heh.. Ibumu...
‘’Emanknya kenapa dengan Ibuku..dia lagi beli obt ke pasar’’.
‘’Aduhh.. bukan itu maksudnya..!! Iiibu kamu kec.. kecelakaan!”.
‘’Apa…????.
‘’Iya Flora, Ibu kamu kecelakaan, dan sekarang ada di rumah sakit’’.
‘’Aku terkejut dengan ucapan itu. Entah kenapa aku sedih dengan ucapan lelaki itu. Seharusnya aku senang karena Ibu kecelakaan! Jadi tidak ada yang merepotkanku lagi. Tidak ada wajah yang menjengkelkan aku lagi’’. Gumamku dalam hati.
Tanpa pikir panjang, aku segera pergi ke rumah sakit di antar lelaki tak di kenal itu. Air mataku menetes, melihat Ibuku terbaring di kasur rumah sakit tak sadarkan diri, degan luka-luka yang masih membekas darah.
***

Sejam kemudian, Ibuku tersadar, kemudian memanggil-manggil namaku. Aku pun segera masuk dengan tetesan air mata menyesali perbuatanku. Tak malu aku untuk memeluk erat Ibuku, walau selama ini aku selalu melawan padanya. Ibu kemudian memegang tanganku.
“Jaga dirimu baik-baik, Flora. Maaf karena Ibu tidak bisa menemanimu selamanya. Ibu sudah memaafkan semua kesalahanmu. Semua kata-kata kasar darimu. Ingatlah anakku, jika kamu ingin menjadi orang yang besar di pandang orang dan bermanfaat di keramaian orang, satu yang harus kamu rubah, yaitu karakter. Mulai sekarang, perbaikilah akhlakmu, berbuat baiklah pada orang lain, terutama pada dirimu sendiri. Dan jangan lupa untuk banyak belajar dan membaca, karena dengan pengetahuan yang luas, dengan mudah kamu akan menjadi orang yang senang. Sekarang, kamu bisa tenang tanpa Ibu Flora. Ibu sangat menyayangimu. Semoga nantinya kamu bisa tumbuh sebagai wanita yang soleha’’. Nasehat Ibu dengan mengalirkan air matanya.

Setelah berucap kemudian Ibu tersenyum padaku. Sebelum akhirnya... dia memejamkan matanya dengan kedamaian.
‘’Ibuu..!!! jangan tinggalin aku Bu..!! aku takut tinggal sendiri. Ibuu...!! bangun Bu, maafin aku…’’. Teriakku sambil menggoyahkan tubuh Ibuku yang tak lagi mendengarkan jeritanku.
Kata-kata pahit yang pernah ku ucapkan pada Ibu kini telah ku rasakan sendiri. Tak ada gunanya lagi aku menyesali perbuatanku semasa dulu, semuanya tidak akan membuat Ibuku kembali. Sekarang saatnya aku harus memenuhi pesan dari Ibuku. Aku harus menjadi orang yang bener-bener bermanfaat bagi diriku dan orang lain. Dengan menjadikan diriku sebagai wanita muslimah, banyak belajar, membaca, serta berdoa untuk Ibuku.
***

Sebulan kemudian, perubahan drastis telah ku alami. Aku semakin hobi membaca, menulis, memanfaatkan buku-buku makanan rayap di meja belajarku. Aku tertarik menulis cerpen setelah banyak membaca tentang beografi seorang cerpenis terkenal di Indonesia dengan penghargaan yang diperolehnya. Hari-hari ku lewati dengan menulis cerpen. Mulai dari mengikuti lomba sampai ke kantor media cetak, untuk mempromosikan karya-karya yang telah ku ciptakan. Namun, usahaku selalu tidak berhasil. Hingga akhirnya ada seorang dermawan yang membalikkan kehidupku. Orang itu menganggapku sebagai anak angkatnya, menyekolah dan menguliahkanku ke salah satu fakultas terkenal di Indonesia. Kesempatan besar yang aku miliki saat itu, tidak pernah aku sia-siakan, aku lebih giat dalam mengembangkan cita-citaku menjadi orang terkenal sebagai cerpenis. Aku menjadi orang yang benar-benar sukses, setelah menamatkan kuliahku. Menjadi seorang cerpenis yang terkenal di Indonesia. Bahkan, aku pernah memenangkan hasil karyaku di luar negeri. Sejak saat itu, aku tinggal bersama orang tua baruku dengan kehidupan yang sangat layak dari sebelumnya. Aku berfikir bahwa, menjadi orang sukses itu tidak mesti dari keluarga yang kaya, orang miskin sekalipun berhak meraih kesuksesannya. Asalkan, niat dan usaha yang keras selalu ditanamkan dalam hati.

PROFIL PENULIS
Nama : Ilham Saputra
Tempat, Tanggal Lahir : Melati, 17 April 1995
Alamat : Jalan Melati, Desa Padang Pulau.
Kecamatan Bandar Pulau.
Kota : Kisaran, Sumatera Utara, Indonesia.
Email : ogencidesuka@yahoo.co.id
Twitter : watasiwa_ilham
Skype : watasiwa_ilham.tc
Blog : http://watasiwailhamtc.blogspot.com/

Baca juga Cerpen Sedih yang lainnya.

Diana, Peri yang Usil - Cerpen Anak-anak

DIANA PERI YANG USIL
Karya Titha

Di awan, terletak sebuah kerajaan peri. Kerajaan itu dipimipin oleh seorang Ratu yang bernama Clarion, yang biasa dipanggil Ratu Ree. Kerajaan itu sangat indah. Di timur terdapat air terjun yang sangat besar namun indah, tempat peri air bekerja. Di barat terdapat hutan yang menampilkan empat musim secara bergantian, tempat peri hutan bekerja. Di selatan terdapat rumah angin yang mengendalikan pergerakan angin di kerajaan peri ini. Sedangkan, di utara terdapat es dan salju. Di utara juga tidak ada kehidupan.

Semua peri mengerjakan tugas mereka dengan baik, kecuali Diana. Diana adalah seorang peri air yang amat usil. Kerjanya hanya menyiram peri-peri yang lewat. Hampir semua peri diusili olehnya. Karena keusilan itu, dia tidak memiliki teman.

Karena para peri tidak tahan dengan keusilan Diana, mereka melaporkan Diana pada ratu Ree. Setelah para peri kembali, Diana mendapat undangan untuk minum teh sore itu.

Apakah Diana datang? Tentu saja dia datang. Diana datang dengan tujuan mengacaukan pesta minum teh. Sayang, niat Diana terlaksanakan. Dia menggerakkan air teh dan menyiram semua peri, bahkan ia menyiram Ratu Ree.

Para peri marah dan menyeret Diana ke ruang pengadilan. Selama ini, tak seorangpun peri yang membuat masalah hingga diadili. Bahkan, saat diadili Diana masih bersikap kurang ajar.

Karena sikapnya itu, Diana mendapat hukuman. Diana diusir dari timur. Padahal, rumahnya ada di Timur. Maka, Diana berjalan dengan gontai tanpa tujuan.

Di perjalanannya, Diana menangis. “Huhu… kenapa aku diusir? Aku kan hanya sedikit usil.”

Cici kelinci yang memiliki hati yang lembut sedih melihat Diana menangis.
“Ada apa peri kecil? Mengapa kamu menangis? Berhentilah menangis dan mampirlah ke rumahku.” ujar Cici kelinci.
“Huhuhu… Aku diusir dari rumahku. Sekarang aku tidak memiliki rumah lagi.”
“Sungguh kasihan nasibmu. Apakah kamu mau tinggal dirumahku untuk sementara?” tawar Cici kelinci.
“Terima kasih, bu kelinci. Namaku Diana. Siapa namamu?” tanya Diana
“Namaku Cici.”

Diana kini memiliki teman, yaitu Cici kelinci. Setiap hari dia membantu Cici kelinci mengerjakan tugasnya. Jika pekerjaan Cici kelinci telah selesai, Diana bermain dengan Cici kelinci. Tanpa Diana sadari, ia telah berubah. Suatu hari, Cici kelinci berbicara pada Diana.
“Diana, kurasa kini saatnya kamu kembali kerumahmu. Kamu sebenarnya peri yang baik.”
“Begitukah Cici kelinci? Kalau begitu, aku akan kembali kerumahku. Terima kasih atas kebaikanmu selama ini, Cici kelinci. Selamat tinggal!” ujar Diana.

Di tengah jalan, Ia dihadang oleh peri penjaga. Diana tak diperbolehkan masuk. Dianapun menangis kembali. Seakan alam turut bersedih, hujan pun turun.

Tiba-tiba, Ratu Ree datang. Beliau membela Diana dan memperbolehkan Diana masuk. Ternyata, Cici kelinci adalah Ratu Ree! Beliau menyamar dan merubah sifat Diana. Sekarang, Diana tidak lagi mengganggu peri-peri lain dan mendapat banyak sekali teman.

PROFIL PENULIS
Nama : Tithasiri Audi Rahardjo
TTL : Semarang, 29 Juni 1999
Hobi : Nyanyi, ngarang, renang, makan, tidur
Zodiak : Cancer
Sekolah : SMPN 01 Curup Kota
Alamat : Jalan D.I Panjaitan no 91 Curup-Bengkulu
Motto : No day without laugh! :D

Baca juga Cerpen Anak yang lainnya.

Rabu, 27 Juni 2012

Kapan Ibu Mengerti - Cerpen Ibu

KAPAN IBU MENGERTI?
Karya Andi Sri Fajriana

Kutatap langit senja di hadapanku ini. Matahari kembali ke peradabannya. Warna orange memenuhi sebagian dari lagit itu. Awan tenang menghiasi lagit yang berwarna jingga. Awan itu, setenang hatiku saat ini. Sebentar lagi, Tuhan akan mencabut nyawaku. Aku selalu berdo’a. Berdo’a agar semua kesandiwaraan ini berakhir. Namun, harapanku mungkin hanya sebatas untaian kata yang tak terbalasakan. Ku hanya bisa menunggu, menunggu, dan terus menunggu. Menunggu kebenaran yang akan terungkap. Semua pemeran dalam skenario itu, akan segera menjadi kenyataan. Jika aku sudah tak ada lagi. Namun, apakah itu mungkin?

“ ICHAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!”.....
Ku dengar teriakan mengelegar itu dari bawah. Dengan segenap kemampuanku, ku dorong kursi roda yang ku duduki hingga aku sampai di depan mama.
“ ICHA!!!! KAMU APAKAN BAJU MAMA???? KENAPA BISA BOLONG SEPERTI INI? KAMU TIDAK NIAT LAGI TINGGAL DI RUMAH INI? “. Tanya mama dengan geram.
“ Ma... a...a...ku aku gak tau ma.... Perasaan tadi baju mama baik- baik aja “. Jawabku dengan takut- takut.
“ APA KAMU BILANG???? DASAR ANAK TAK TAU DI UNTUNG KAMU... MASIH BAGUS MAMA IJININ KAMU MAKAN DAN TINGGAL DI RUMAH INI. TAPI BALASAN KAMU DARI MAMA APA? HAH? “. Dengan geram, mama menarik kuat rambutku hingga rontok. Sakit. Itu yang ku rasakan sekarang.
“ Ma,,, ampun ma... Icha beneran gak tau apa- apa. Ma ampun.. hiks... hiks.. Ampun ma, sakit “. Kataku sambil terisak.
“ DASAR ANAK LUMPUH KAMU “. Akhirnya, hujatan itu keluar dari mulut mama. Bukan hanya sakit yang ku rasakan di fisikku. Namun, ngilu ini berasa di relung hatiku yang paling dalam. Ku hanya bisa terisak memilukan di hadapan mama. Hingga akhirnya, mama berlalu dari hadapanku.

Ya. Inilah keseharianku. Perkenalkan, namaku Icha Septian Nuraga. Aku anak tunggal dari keluarga ini. Semenjak kejadian 2 tahun yang lalu, saat itu ayah meninggal karena kecelakaan, pesawat saat akan menjemputku dari London. Hingga mama berfikiran, kalau aku penyebab dari meninggalnya ayah. Namun, siapa yang tau, kalau sampai saat ini aku juga merasa kehilangan seperti mama. Bahkan rasa kehilanganku lebih besar dari mama.
Sekarang, aku menginjak umur 16 tahun. Harapanku nanti, saat aku berulang tahun, mama akan mengucapkan ucapan kepadaku dan memberikan kecupan hangat di pipiku. Walaupun tak ada ayah di sini, tapi aku merasa cukup bahagia akan kehadiran mama. Semoga....

Kubuka album biru.....
Penuh debu dan usang......
Ku pandangi semua gambar diri.....
Kecil bersih belum ternoda......

“ Icha, sebentar teman mama mau datang. Ingat, kamu harus ada di belakang. Jangan keluar- keluar sebelum mama suruh. Awas saja kamu jika kamu membantah “. Kata mama dengan cueknya tanpa memandang kearahku.
Ya... Aku tidak di anggap sebagai anak kalo ada di hadapan teman mama. Mama hanya mengakui dulu kandungannya gugur. Betapa mirisnya hatiku saat mama mengatakan itu semua. Tapi apa dayaku?
Ku hanya menurut dengan perkataan mama. Saat aku berbalik, saat itu juga air mataku terjun dengan derasnya. Yang lebih tepat air mata kepedihan.
Sekarang, aku sudah sampai di kamarku. Bukan kamar, tapi lebih tepatnya gudang. Aku tak tahu, mengapa mama membiarkanku tidur sendiri di sini. Padahal kamar yang lain masih kosong. Ku ratapi nasibku yang malang ini. Tapi aku yakin, di balik semua kekejaman mama, pasti ada rasa kasih sayang mama kepadaku. Walalupun hanya secuil.
Aku tertidur beralaskan tikar yang tipis, dan di temani oleh nyamuk- nyamuk. Walalupun dalam keadaan ini aku sangat tidak nyaman, tapi biarkanlah. Aku yakin semuanya pasti berakhir..
Tanpa ku sadari, mama menengok di balik pintu kamarku.
“ Maafkan mama sayang. Mama sayang kamu “. Bisik mama kemudian berlalu.

Pikirku pun melayang...
Dahulu penuh kasih....
Teringat semua cerita orang...
Tentang riwayatku....
3 bulan kemudian......

Tepat hari ini, tanggal 07 Mei 2012, hari ulang tahunku. Ku jalani hari- hariku dengan semangat. Sampai mama terheran- heran di buatnya.
“ Kenapa kamu jadi semangat begitu? Semangat untuk kerja maksudnya? “. Tanya mama dengan sinis. Ku hanya bisa memberikan senyuman termanisku. Kemudian berlalu dari hadapan mama. Huft, aku tak ingin hari spesialku menjadi rusak karena hujatan mama. Kalau bisa aku bertanya, kapan mama mengerti?

Pada malam hari.....

Saat ini, mama belum pulang dari kantor. Aku ingin membuat kejutan untuk mama. Aku membuat cake yang betuliskan ‘ICHA SAYANG MAMA’ dan di hiasi oleh lilin yang berbentuk angka 17, sesuai dengan jumlah umurku. Ku desain sedemikian rupa cake itu, hingga menjadi cake yang berbentuk hati dengan sangat indah. Huft, melelahkan sekali hari ini. Ku tulis pada kertas berwarna pink isi suratku kepada mama. Seusainya, aku merasakan sakit yang teramat sangat di kepalaku. Cairan berwarna merah pekat yang berbau amis, meleleh dengan derasnya di hidungku. Dengan sekuat tenaga, aku meletakkan surat itu di pinggir meja dekat cake ku. Sakit di kepalaku makin menjadi. Hingga semuanya gelap.

Kata mereka diriku
Slalu dimanja....
Kata mereka diriku
Slalu di timang.....
Nada- nada yang indah...
Selalu terurai darinya...
Tangisan nakal dari bibirku...
Takkan jadi deritanya.....
Tangan halus nan suci......
Tlah mengankat tubuh ini......
Jiwa raga dan seluruh hidup....
Rela kau berikan......


Epilog.......

Mama’s story..

Kutatap nisan di hadapanku saat ini. Betapa mirisnya hatiku. Aku kembali membaca surat yang ada di genggamanku ini. Aku memang benar- benar ibu yang sangat bodoh. Teganya aku menaruh duri pedih di atas kesabaran putri kecilku ini...
“ Maafkan mama sayang..... Mama sangat menyangimu putri kecilku “. Ku menangis sejadi- jadinya di pusaran anakku......
Isi surat:
Mama..... Icha tak tahu mengapa mama sebegitu bencinya sama Icha. Tapi, Icha tetap sayang sama mama. Biarpun mama sangat tidak menyukai Icha. Maafkan Icha yah ma, kalo selama ini Icha selalu buat marah mama. Dan juga maafkan Icha kalo sudah menjadi dalang dari meninggalnya ayah. Terima kasih ma atas kasih sayang mama kepada Icha. Icha akan selalu sayang sama mama....
With love....
Icha Septian Nuraga

_SAD ENDING_

PROFIL PENULIS
Nama Lengkap: Andi Sri Fajriana
Tempat, Tanggal lahir: Bulukumba, 29 April 1999