Tampilkan postingan dengan label Cerpen Romantis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Romantis. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 September 2012

Cerpen Cinta Romantis - Pertemuan Ku Denganmu

PERTEMUANKU DENGANMU
Karya Laili Nur Rochmah

Aku Clara anak centil yang pandai bergaul. Aku hidup dengan satu ayah, satu ibu, dan dua orang kakak laki2. Waw …!! Lengakap ya…. Suatu ketika aku di ajak oleh ayah ku pergi ke paris bersama keluarga besar. Liburan kali ini adalah hadiah ulang tahun ku yang ke-17 th.

Sebelum aku berangkat aku pergi kerumah temen ku untuk berpamitan ..OMG.. aku serasa pengen pergi lama. Saat semua keluargaku telah berkumpul kamipun siap untuk berangkat. Tak lupa kakak kesayangan ku juga ikut. Dia bernama Dion, anak budheku yang terakhir.

Selama di perjalanan menuju bandara aku hanya hadset’an aja dan tak ikut bercanda dengan semua keluagaku. Tiba-tiba kak Dion memukul pundak ku dari belakang. “hai cantik..!! tumben gak ngecebret kayak biasa nya?..” spa kak Dion “apaan sih….” Jawabku. “dek jangan sombong donk…” kata kak Dion. Tapi aku tak menghiraukan kata-kata kak Dion dan langsung melingkarkan badan sambil menutup muka dengan bantal. “dek!! Awas loe…” kata kak Dion untuk mengakhiri kata-kata nya.

Tidak terasa akhirnya kami sampai di bandara dan langsung masuk ke pesawat pribadi kluarga besarku. Lagi-lagi kak dion menyapaku. “adek abang yang cantik.. bolehkan abang duduk bareng ma adek?” Tanya kak Dion. “silahkan!!” jawab ku singkat . “dek jangan ceberut gitu donk! Kakak bawa temen nie…” kata kak Dion. “palin-paling Arman yang kuper itu…” jawab ku sinis. “Yang ini mah beda, nie orangnya…. Gantengkok..” kata kak Dion. Tiba-tiba dari belakang tubuh kak Dion muncul seseorang yang ganteng, bertubuh tinggi, dan keren. “siapa kak namanya?” Tanya ku. “kenalan aja sana..”kata kak Dion. “siapa kak namanya?” kataku sambil mengulurkan tangan pada lelaki itu. “namaku Kevin, namamu siapa?” katanya. “Namaku Clara…” jawabku. Kemudian kami bertigapun bercanda ria hingga tak terasa kami sampai di tempat tujuan. Kami semuapun berkemas untuk turun dari pesawat dan segera menginjakan kaki ke bumi paris nan-indah ini. Ternyata kami disana di sambut kerabat kerja papaku yang tinggal disana. Kak Kevin selalu bersama aku kemanapun aku pergi. Sedangkan kak Dion selalu berduaan dengan tunangannya.

Begitu kami sampai di paris tepatnya di paris kami langsung menuju hoteh tempat kami menginap. Waw… gedhe bangets.. uuuuuhhhh… begitu lelahnya aku setelah melalui perjalanan yang jauh. Langsung aja aku menikmati kamar mewah yang super duper nyaman. Dadah…!!!! Guys ! aku tidur dulu ya….

_ Keesokan Harinya _

Cahaya sang surya yang membuat aku terbangun telah menembus jendela-jendela kamarku hingga mengenai kulitku. Langsung saja aku ke kamar mandi, berkaca,dan segera membereskan tempat tidurku. Setelah semua selesai aku segera keluar dari kamar dan menikmati pemandangan di pagi hari dari gedung paling atas gedung itu. “ngapain di sini sendirian?” tiba-tiba terdengar suara kak Kevin yang mengagetkan ku. “Eh… emm…”aku hanya tersenyum. “Aku boleh nemenin gk?” Tanya kak Kevin. “boleh….” Jawabku singkat. Kamipun berbincang-bincang sambil melihat gedung-gedung tinggi pencakar langit yang terlihat begitu indah. Entah mengapa pada saat itu membuat perasaaanku jadi bingung. Saat ku tatap wajahnya jantungku berdebar, berada di dekatnya serasa dunia milik berdua. Baru kali ini aku sebahagia ini. Tiba-tiba ponsel ku berbunyi. Ternyata itu telfon dari papaku. Papaku menyuruhku segera ke resto tengah untuk makan bersama. kami berduapun segera turun ke bawah. Wah….. betapa malunya aku saat itu. “kalian berdua cocok ya…” kata mama. Dan semuapun mulai menyoraki kami berdua. Seketika itu wajahku menjadi merah. Akhirnya aku duduk di sebelah kakakku dan kak Kevin duduk bersama kak Dion dan kuluargaku yang lainnya.

Ketika aku ingin mengambil makanan yang sudah di sediakan di depan. kak Kevinpun juga sama ingin mengambillnya. Waktu aku ngambil piring kak Kevin juga ngambil piring, waktu aku mau ngambih salat kak Kevin juga mengambil salat, saat aku mengambil sendok kita barengan dan seketika itu aku dan kak Kevin bertatap muka. “kamu mau ngambil? Ambil aja ” kata kak Kevin. Dan aku hanya tersenyum dan segera mengambil sendok tersebut kemudian segera duduk. Jarak duduk kami lumayan jauh. Tapi kak Kevin selalu mencuri kesempatan untuk memandangku dengan tersenyum. Perasaan dalam hatiku tambah bercampur aduk dengan semua itu. Padahal waktu itu aku sedang jengkel dengan salah satu temen cowok ku di sekolah. Dia bernama Aldo. Karna dia adalah cowok yang telah menghianati aku. Jadi sebelum aku berangkat ke paris aku masih dalam keadaan hati yang begitu rumit. Dan setibanya di paris aku merasa semua rasa gundahku telah pergi. Dan aku merasa sangat bahagia sekali.

Seusai makan pun kami berkeliling ke kota paris dan sekitarnya. Tak lupa aku selalu mengeluarkan kamera digital ku. kakAngel (tunangan kak dion) selalu menemaniku untuk narsis. Tak lupa kak Kevin dan kak Dion mengikuti kami. “dek! Foto bareng ma kakak yuk!” ajak kakDion. “ayok..” jawab ku. “aku yang fotoin ya..”kata kak Angel. Ckrik…. Ckrik…. Ckrik….. waw kak Dion dan aku terlihat lucu sekali. “sekarang gentian donk…!!” kata kak angel. Ckrik… ckrik… ckrik… waduh dua cewek cantik lagi foto.. hehehe. “heh! Kevin bengong aja.. sini ikutan foto!” ajak kak Dion. Kamipun foto bertiga, waw cewek cantik di apit sama dua cowok ganteng. “eh.. tunggu dulu.. gimana kalau Kevin foto bareng sama clara?” kata kak Dion. Tiba-tiba tangan ku di gerett oleh kak Kevin dan menggeretku ke sebelahnya lalu kamipun foto berdua. Bertambah dasyatnya detah jantungku pada waktu itu.

seusai kami foto-foto kamipun berbelanda membeli souvenir yang bagus bangets. . kemudian kami kembali ke hotel lalu kembali ke kamar masing-masing. Aduh… badanku terasa pegal sekali setelah berjalan-jalan.
Malam harinya aku diajak oleh kak Kevin untuk jaln-jalan ke suatu tempat yang sering dii kenal dengan menara evel. Indaah sekali. Malam yang gelap di hiasi oleh cahaya yang kerlap-kerlip di setip sudut menara. Membuat aku dan kak Kevin tak ingin melewatkannya. Kamipun berhenti sejenak untuk menikmati suasana yang romantic itu.Aku hanya berdua dengannya. Tanpa ada satupun orang yang tau termasuk mama dan papaku.
“hei! Kok bengong? Lagi mikirin apa hayoo?!” sambil menyengol tubuhku yang krempeng ini hingga aku hampir terjatuh dari sebuah bangku yang ku duduki itu.
“eh! Aduh..” menahan badan agar tidak sampai tersungkur. “lagi mikirin seseorang. Emangnya kenapa?”
“siapa orang yang kamu pikirkan?”
“emm.. seseorang yang udah bikin aku sakit hati. Ah… sudah lah tak usah di bahas gak penting banget.”
“oh.. cowok?”
“ya.. gitu deh..”
“Gk usah di pikir kalo gak penting. Apa lagi kalo bikin kamu jadi sedih. Kan udah ada aku di sini jadi, seneng-seneng aja”
“hemmm..” aku hanya tersenyum
“eh.. aku punya cerita lho.. mau dengerin gk?”
“boleh..”
“suatu hari hiduplah pangeran yang gagah dan ganteng namanya pangeran Leo. Ya.. orangnya kayak aku gini……”
“ih.. PD”sambil melipatkan tangan pada dada
“eh.. belum selesai ceritanya.. aku lanjutin ya… , pangeran itu memiliki peliharaan hewan yang lucu. Namanya Ole dia adalah seekor kucing. Suatu hari pangeran Leo mengajak si ole untuk jalan-jalan di sekitar taman kerajaan. Saat mereka sedang duduk-duduk santai sambil menikmati indahnya bunga, pangeran menemukan sebuah tanaman bunga yang indah dan langka. Dan dia ingin sekali membudidayakan-Nya. Akhirnya pangeran menyuruh para pelayannya untuk membantunya membudidayakan di tempat tersendiri dan tak diketahui oleh siapapun. Pangeran Leo berkata pada para pelayannya.” Pada suatu hari nanti aku akan memperlihatkan hasil dari budidayaku kepada calon permaisuriku. Kemudian……” wajah kak Kevin sangat serius waktu itu

Aku memperhatikanya dengan begitu seksama. Dan aku tak mendengarkan ceritanya. Aku hanya diam dan memandangi wajahnya yang ganteng itu. Tak sadar aku memotong cerita kak Kevin dengan berkata“ andai saja Aldo seperti kak Kevin yang humoris dan perhatian. Kak Kevin buat aku jadi lupa tentang semua permasalahnkku. Terimakasih kak..”
“…dan pangeranpun jatuh cinta pada… “ kak Kevin berhenti bercerita. “ha!! Apa? Kamu tadi bilang apa?”
“ oh.. em.. (aduh kok keceplosan sih) nggak kok gak papa. Terusin aja ceritanya”
“males… lagian, kayaknya kamu dari tadi juga gak dengerin aku cerita kan?!”
“emang aku sengaja gk dengerin! Habis ceritanya jelek sih.. wekk…” akkupun menjulurkan lidah dan berlari menghindari serangan yang akan datang.
“heh! mau kemena kamu? Awas kamu aku kejar!”
“coba aja kalo bisa wek..”

Kak Kevin pun mengejarku dan kami berdua saling kejar-kejaran. Hingga aku terjatuh.
“au… aduh…” aku merith kesakitan
“ waduh kamu kenapa?”
“ah.. kamu ini pakek Tanya lagi. Sakit nih..”
“ ya ampun maaf.. sini lihat mana yang sakit”
“ nih di jidat kamu!” sambil menujuk jidatnya dan aku lansung lari lagi. “hei! Di bohongin aja mau hahahahaha”.akupun langsung lari ke mobil.
“hei.. kurang ajar.. ahk.. aduh.. sesak nafasku kumat.. pasti ini gara-gara aku lari-lari gimana nih..”. jarakku waktu itu jauh darinya. Batang hidungku sudah tak terlihat.

Akhirnya kak Kevin membeli minum air mineral di toko terdekat untuk meredakan sesaknya. Tapi sayang obatnya ketinggalan di mobil.
“waduh.. kok lama ya.. mana kak Kevin kok masih nggak kelihatan sih?” sambil menari-marikan jemariku di badan mobil.
Setelah beberapa menit kemudian kak Kevinpun datang. Dan aku menanyakan kenapa lama sekali dan kak Kevi bilang katanya tadi ketemu sama temennya trus ngobrol jadi agak lama. Dan setelah itu kamipun pulang.sesampainya di hotel akupun tidur di kamar kak Angel.
Besok tepat pada hari minggu papaku ingin merayakan ultahku ini disebuah taman yang di disaint sangat romantis. Dan acaranya pada malam hari. Malam yang begitu gelap di hiasi oleh sinar lampu yang berkelip-kelip di sepanjang jalan menambah ke romantisan suasana. Terdapat beberapa tatanan kursi yang begitu rapi unuk para keluarga. Bunga-bunga yang berwarna merah mengelilingi seluruh taman. Terdapat pula sebuah panggung mini yang di atasnya terdapat sebuah meja kecil, mix crofont, dan alat music kesukaanku yaitu biola. Aku dah gk sabar menantikan acara besok malam.

Hei!. Kak Angel yang mengagetkanku sambil menepuk punddakku. “cie.. lagi ngelamunin apa nie?. Bagi cerita donk…”. Akupun menjawabnya sambil tersenyum. “ aku dah gk sabar kak sama acara besok malam”. Kak Angel menjawab, “ gk sabar sama acaranya pa gk sabar nerima kadonya?” jawabku lagi, “em… dua-duanya dech.. hehe”. “udah ah,, tidur yuk.. dah malem nie,,, katanya dah gk sabar… ayo di buat tidur aja biar gk terasa…”. “ok!!!!”.

Kring…kring…kring… terdengar suara jam beker kesayanganku yang sesalu aku bawa ke mana-mana. Dan akupun terbangun. Begitu aku terbangn akupun melihat bunga mawar merah dikasur tempat aku tidur. Ku lihat dengan teliti. Dan aku tidak menemukan siapa pengirimnya. Di situ terdapat kartu ucapan yang isinya, “ happy b’day.. untuk orang yang paling baik yang ku kenal.. tersenyumlah semanis bunga ini unukku. Sebagai ucapan trimakasih. Because, Your smile is refresh my heart.” Ternyata bunga itu pemberian dari kak Kevin. Ternyat tanpa ku sadari kak Kevin mengendap-endap masuk ke kamarku yang lupa aku kunci.

Saat yang ku tunggupun datang. Di sana suasananya sangat ramai dan cukup meriah. Aku memaikan biola kesayanganku setelah papa memberikanku sebuah kue tar untuk ku tiup. Aku membawakan lagu yang berjudul DEALOVA. Aku bernyanyi bersama kak Angel.yah.. begitu cepat berlalu akhirnya pesta berakhir. Dan aku kembali ke kamar dan bermimpi indah. Sampai pada saatnya tiba.

Tak terasa seminggupun telah berlalu, aku segera mengemasi barangku dan segera pulang. Di pesawat aku menggenggam kalung pemberian kak Kevin dan memandanginya dengan begitu teliti. Aku jadi merasa sedih sekali karena aku harus segera berpisah dengannya dan mungkin aku tak akan bertemu dengannya lagi. Air matapun tak ingin kalah, ia tidak sungkan sungkan untuk keluar dari mataku dan membasahi pipiku yang merah merona. Kemudian aku tertidur dengan kalung yang ku genggam begitu erat.
“nak.. bangun udah sampai…” terdengar suara papa yang membangunkan ku. “ya…” jawab ku pendek. Aku berdiri dan melihat kearah kak Kevin. Ternyata ia baru terbangun dari tidurnya yang begitu pulas. Akupun turun dengan perasaan yang begitu bercampur aduk. Setelah semua barang telah ditunkan dari pesawat kamipun berkumpul di sebuah restoran dekat bandara untuk menunggu jemputan dari sopir pribadi papaku.
Di sana aku tidak makan tapi hanya memesan minuman saja. Aku masih kepiran dengan perkataan kak Kevin waktu itu. “clara..trimakasih telah memberikanku liburan yang begitu menyenangkan. Terimakasih juga buat Dion. Dengan adanya liburan kali ini serasa hidupku tak percuma dan aku senang sekali bias bertemu dengan mu di sini. Di tempat yang belum pernah ku temui dan tempat yang sangat indah sekali untuk sisa umurku ini. Kamu tau mengapa akku berkata seperti ini? “ akupun menggelengkan kepala. “karena aku tak lama lagi untuk tinggal di dunia ini…” katanya waktu kami sedang jalan-jalan berdua di sekitar hotel. Air matakupun mulai berlinang kembali. Karna kak Kevin menderita penyakit yang tak bias di sembuhkan. Aku tau dsri kak Dion tapi sayangnya dia tak memberitahuku apa nama penyakitnya.
Tin..tin.. terdengar suara klakson dari mobil papaku pertanda bahwa kami telah di jemput dan harus segera pulang. Aku hanya melihat sekilas wajah kak Kevin yang tersenyum padaku dan segera pulang. Kupun kirimkan smsku untuk kak Kevin “good bye…” tapi tak ada balasan dari dia. Itu saat terahir kalinya aku mengirim smsku untuk kak Kevin.

2 minggupun berlalu aku tak kunjung di sms oleh kak Kevin. Aku merasa kangen sekali padanya. Akupun mengambil album dan melihat fotoku dengan kak Kevin dan akupun memandanginya dengan menangis. mengapa begitu cepat? Mengapa pertemuanan ini membuat aku merasa senang sekali. Tiba-tiba hp ku berbunyi. Ternyata itu sms dari kak Kevin yang selama ini ku tunggu. “maaf ya baru bias sms sekarang… kakak beberappa hari ini lagi gk enak badan… kakak Cuma mau bilang kalau kakak terkesan sama kamu sejak pertemuan kita di paris 2 minggu yang lalu. Walau mungkin kamu sudah gk inget sama kakak.. tapi kakak selalu inget ma u.. cinta memang kadang membut kita menjadi terpisah bahkan kadang cinta juga bias mendatangkan air mata. Tapi kakak yakiin satu hal walau toh kita mati tapi jika kita selalu menyimpanya dengan begitu rapi dan di tutupi oleh senyuman pasti akan berbuah indah dan selalu di kenang sampai mati.mungkin ini sms kakak yang terahir. Terimakasih ya sudah memberikan kenangan pada kakak yangbegitu indah… see you, kamu selalu di hati kakak.” Ujarnya dalam sms. Akupun tak kuat menahan derasnya air mata yang terus mengalir ini. Tanganku gemetaran tak kuat untuk membalas kata-katanya dan aku memutuskan untuk telfon ternyata tak di angkat. Hingga ku berulang-ulang untuk menulfonnya tapi tetap saja tak di angkatnya.
Akhirnya keesokan harinya aku memutuskan untuk menelfon kak Dion juga tak di angkat, kak Anggelpun juga demikian. “Ya sudahlah lebih baik aku menunggu kabar kak Kevin setelah menghubungi aku”. 3 haripun berlalu aku di telfon oleh kak Anggel dan aku di suruh untuk bersiap-siap karena aku akan di ajak ke rumah kak Kevin bersama kak Dion. Akupun segera bersiap-siap lalu pergi bersama mereka. Di perjalanan kak Dion dan kak Anggel hanya diam saja dan tak berkata apa-apa, kami salling diam-diaman tak ada satu katapun yang terdengar pada watu itu. Mata mereka berduapun sembab seperti habis menangis. ada apa ini? Apa sesuatu telah terjadi pada hubungan mereka? Ataukah terjadi sesuatu pada kak Kevin? Oh… tuhan apa yang terjadi? Mengapa mereka tidak memberitahuku jika telah terjadi sesuatu?.

Akhirnya kami sampai di tempt tujuan. Begitu banyak orang yang berdatangan pada waktu itu ada apa ini?. Akupun turun dari mobil dan melihat kesekitar rumah kak Kevin. Banyak sekali orang yang berkumpul pada waktu itu terlihat juga papa dan mama. Mereka semua sedang memakai baju hitam-hitam. Dan yang membuat aku terkejut adalah bendera kuning yang berkibar di dinding rumah kak Kevin.
“kak Angel apa yang telah terjadi?” Tanya Clara
“hu…hu…hu..” kak Angel tak bisa menahan rasa harunya.
Langsung saja aku masuk ke dalam rumah. Saat aku masuk banyak sekali orang yang berdatangan sambil membacakan doa kautsaran. Di tengah-tengah mereka terdapat seorang lelaki yang terbungkus kain kafan dengan wajah yang pucat.
Tak kuat aku menahan air mata yang mengalir ke luar dari rongga-rongga mataku. Akupun menghampiri ibunya kak Kevin dan bertanya “a..apa benar ini Kevin?” tanyaku sambil meneteskan airmata. Ibunya pun hanya menganggukkan kepalanya saja tanpa berkata apa-apa. Dan ibunyapun memeluk ku dengan begitu erat sambilmenangis tersendu-sendu.
Kemudian aku menghampiri zenajah tersebut. Ternyata walau dia sudah tiada tapi rasa detak jantungku masih sama seperti dulu saat aku petama jumpa dengannya. Aku memandangi wajahnya dengan tersenyum. Karena pada saat itu aku meresa bahwa dia tersenyum padaku.
Seketika itu tetesan air matakupun berhenti. Entah mengapa serasa aku melihat dia bahagia di sana.”oh.. tuhan perpisahan ini membuat hatiku merasa hancur. Tapi jika ini memang terbaik, maka terimalah ia di sisimu. Istana surgamu pastikan indah dengan cinta yang ia bawa dariku”. Kataku dalam hati
Akupun kembali memeluk ibunya kakKevin dan berkata “ tante… jangan engkau tangisa anakmu yang baik hati ini. Tangisanmu hayna akan membawakan keburuk buatnya. Aku yakin ia telah bahagia di sana.” Ibunya kak Kevinpun melepaskan dekapanku dan berkata “ya nak.. ibu mengerti.. terima kasih ya kamu sudah mau dating jauh-jauh kemari.” Akupun membalasnya dengan senyuman.

Aku,teman-temanku, seluruh keluarga besar kak Kevin termasuk mama papaku ikut mengbumikan. Banyak sekali yang menangis pada waktu itu. Di antaranya nenek kak Kevin yang paling tua. Aku jadi sedih melihatnya. Andai aku bias membawa kak Kevin kembalipasti nenk itu akan sangat senang. Tak sedikit ku lihat orang di sekitarku menangis hingga seusai pemakaman. Pada waktu itu akupun juga menangis tapi tangisanku di sertai senyuman yang manis untuk kak Kevin.

Hal yang paling membuatku sedi adalah saat aku di kirimi sms oleh kak Kevin untuk teraakhir kalinya. Hanya sms itu dan pemberian kalungnyalah yang tersisa. Aku selalu mengenakan kallung tersebutsetiap saat.
“hai Clara!” terik tante Erna ibunya kak Kevin yang mengagetki ku
“ya tante ada apa?”
“ayo kita duduk di halaman belakang!”
“baik..” jawabku singkat
“em.. saya mulai dari mana ya.. Em… gini sebelum Kevin pergi dia bilang sama tante bahwa dia telah menemukan gadis yang dapat memikat hatinya. Dan katany kamu tau siapa orangnya. Boleh tidak tante Tanya siapa cewk yang telah memikat hatinya itu?” Tanya tante erna serius

Sambil mengeleng-gelengkan kepala aku menjawab. “lho.. saya tidak tau benar.. tidak tau.”
“yang bener..??”
“ya benar..” sambil menganggukkan kepala

Beberapa saat kemudianaku bertanya. “ tante memang kenapa kok Tanya siapa cewek yang sudah memikat hatinya?
“soalnya tante habis menemukan sebuh buku diary di laci kamar Kevin.
“ permisi kalau boleh Clara tau memang isinya apa tante?”
“pokoknya di dalam buku di ceritaka kisah-kisah mantan pacarnya yang menyedihkan. Lalu suatu hari dia di ajak oleh temanya ke suatu tempat untuk berlibur. Di sana dia bertemu dengan seorang wanita dan wanita tersebut adalah adik dari temannya itu. wAnita itu selalu membut ia selalu tersenyum. Nah.. pada saat pertemuan itunlah dia merasa bahwa wanita itu bias menggantikan posisi mantannya. Dan di sana juga di tulis bahwa dia senag sekali bias membelikannya kalung, walau itu hanya kalung murah. Pokok masih banyak lagi deh..”
“Oh.. gitu ya.. boleh gak saya lihat diary-nya?”
“boleh sebentar tante ambilkan dulu.” Jawab tante erna.
Beberapa menit kemudian tante erna datang dengan membawa buku harian tersebut. Kemudian membawanya kehadapanku dan aku pun melihatnya dengan air mata yang berlinang dipipiku. Tak ku sangka bahwa selama ini dia menyimpan rasa sayang padaku. Di buku ini tertulis jelas bahwa dia sayang padaku. Dalam hatiku berkata “mengapa engkau tak mengatakan sejak dulu? Dan mengapa kita tidak saling mengenal sejak dulu? “.

Tapi kini dia telah tiada didunia ini tapi ada dalam hatiku. Dan aku tetap selalu mengingat bahwa jangan mencintai seseorang melebihi rasa sayangnya kepada tuhan.
Aku ingin sekali mengatakan kepada tante erna bahwa akulah orang nya. Tapi, setiap aku ingin mengatakan hatiku mengatakan jangan.

Haripun telah gelap mama dan papaku juga kak Angel mengajaku untuk pulang. Tetapi tante Erna menyuruh ku untuk menyinap. Sayang sekali ajakan tante Erna tidak bisa membuat aku menginap disana. Tante Ernapun menyuruhku membawa buku harian kak Kevin. Bertambah satulah kenangan dari kak Kevin.
Hari demi haripun berlalu. Walau aku jauh dari tante Erna namun kami masih sering calling-callingan. Sampai pada akhirnya aku bisa mengatakan pada tante Erna bahwa akulah wanita yang telah sedikit membuatnya tersenyum dan melupakan semua kenangan buruknya. Selamat tinggal kak Kevin… see you… aku akan selalu mengenang pertemuan kita meskipun pada kenyataannya kita tidak bisa menyatu.

~ TAMAT ~

PROFIL PENULIS
Namaku Lely. aku sekolah di jombang aktivitasku kalo lagi nganggur ya... nulis cerpen. cita-citaku jadi wartawan. aku kelas 11 ( 2 sma ). almat FBku lolipoplely@ymail.com nama FB-nya laydies lely

Minggu, 26 Agustus 2012

Cerpen Romantis Lucu - Cinta Cenat Cenut Cemunguth Celamanya

CINTA CENAT CENUT CEMUNGUTH CELAMANYA
Karya Listya Adinugroho

Pada suatu tanggal, tepatnya tanggal 40 Februari 2011 cot 45, terdapat sebuah hutan yang sangat lebat, bahkan lebih lebat dari hujan lebat. Tidak ada seorang pun yang berani masuk di hutan itu. Bahkan orang-orang tak berani menceritakan tentang hutan itu. Bahkan (lagi), saya juga gak berani menceritakan hutan itu. Maka dari itu, kita beralih 1 meter ke utara dari hutan tersebut. Di sana, terdapat sebuah kota yang sedang mengalami kemajuan ke belakang. Kota itu diberi nama Kota Untuk Slamanya. Cie….

Di Kota itu, terdapat salah satu sekolah yang sudah berdiri dari dahulu. Nama sekolah itu adalah SMA Satu Harapan biasanya disingkat SMASH. Sekolah itu berdiri sejak 5000 tahun sebelum tahun 7010. Slogan di sekolah tersebut adalah “Cintaku Cenat Cenut, Prestasiku Takkan Surut”. Sekolah itu sudah menjadi icon tersendiri bagi Kota Untuk Slamanya, bahkan icon itu melebihi 7 icons. Hah? Sekolah itu didirikan oleh seorang Antariksawan yang pernah pergi ke planet Bumi dan akhir2 ini ia dikabarkan akan mengunjungi Planet Hatimu. Cie…. Antariksawan tersebut bernama Pak Bagus,S.G (Sarjana Gombal), nama panjangnya bukanlah Kapur Bagus, Toko Bagus, maupun Bagus Setiawan. Tetapi namanya adalah Bagus Berkualitas, disingkat BB.

Pria berkelahiran tahun 1830 itu dulunya hanya sedang iseng bermain susun batu dengan teman-temannya. Tapi secara tidak sadar batu itu menjadi sebuah bangungan berlantai 10, sudah termasuk perabotan, kamar mandi, atap dan dapur dan perkakasnya. Pak Bagus kaget setengah hidup melihat bangunan megah itu. Karena di kampungnya dulu belum ada rumah, bangunan itu dijadikan sebagai hunian sementara 18 kampung. Akan tetapi karena adanya seleksi alam dan teori revolusi, bangunan tersebut dijadikan sekolah oleh Pak Bagus. Kebetulan siswa yang mendaftar hanya sedikit, sebanding dengan jumlah gurunya yang hanya berjumlah 2 orang. Jumlah siswa yang mendaftar hanya sekitar 4 sampai 5 ribu orang, belum termasuk orangtua yang mendampingi. Yah,,,karena bangunan sekolah hanya muat untuk 300,2 makhluk, terpaksa harus diadakan seleksi besar-besaran. Siapa yang jumlah huruf dalam namanya berjumlah ganjil atau prima langsung didiskualifikasi. Juga, yang mempunyai nama dengan huruf kurang dari 10 huruf juga langsung didiskualifikasi. Setelah 10 menit seleksi tersebut dilakukan, kini sekolah telah mendapat 300 siswa tetap.

Di sekolah itu ada sebuah murid yang terkenal gahol. Namanya adalah Seiza Emanuel Tristant Alexis Nockquart (disingkat SETAN). Ia adalah ketua geng “Tri Rejeki” bersama dua temannya, Zubi (A’uzubillahi Minasyaiton) dan Fay (Kamseu Fay). Status Seiza memang masih pelajar. Namun, ia sudah memiliki pekerjaan sampingan, yaitu menjadi Mahasiswa. Lhoh? Ia menjadi Mahasiswa di STTS (Sekolah Tinggi Tinggi Sekali) jurusan pergombalan. Di usianya yang 17 tahun, ia sudah menjadi mahasiswa selama 18 tahun. Hah? Bapaknya adalah seorang penjual obat panu. Namun ia langsung berhenti karena diprotes pelanggan. Obat itu memang dapat menyembuhkan panu, tapi efek samping dari obatnya adalah pusing, ngantuk, mata kunang-kunang, mata kupu-kupu, pilek, muntah darah, diare, kanker, amnesia, gagal ginjal, stroke, gangguan kehamilan dan janin, dan juga kematian.

Lanjut!! Hari-hari telah berlalu. Mentari dengan setia menyinari bumi seperti kesetiaanku mencintaimu. Cie….pagi itu, Seiza bangun pagi seperti hari-hari yang lalu-lalu. Alarm di HPnya berbunyi pukul 02.00 namun ia baru bisa menjalani aktivitas secara normal pada pukul 06.00 (maksudnya pukul 06.00 di hari selanjutnya) karena waktunya digunakan untuk mematikan 4356 HPnya yang berbunyi. Orang kaya…..

Setelah selesai mematikan alarm di 4356 HPnya, ia langsung menjalankan hobinya. Hobinya adalah memikirkan apa hobinya yang sebenarnya. Ia mengecek HPnya dan ternyata ada SMS!!!!!! Biasanya kan banyak SMS mama minta pulsa, tapi kali ini beda. Isi SMSnya adalah mama ngasih pulsa. Gini tulisannya, “Nak, Mama lagi di kantor polisi. Pulsa mama habis. Jadi gak bisa sms kamu. Rencananya mama mau beli pulsa. Kamu mau titip gak. Nanti pulsanya mama kirim ya?” dan beberapa menit kemudian ada kiriman pulsa 100 ribu. Lumayan lah.

Hari itu adalah tanggal 14 Februari 2012, kalian tahu hari apa ? yak!!! Betul!! Hari Selasa. Hari itu adalah hari Selasa. Namun hari itu bukan sekedar hari Selasa biasa, kalian tahu?? Yak!!! Benul (benar + betul) !!! hari itu adalah hari Selasa Pon. Lhoh? Hari itu adalah Valentino Day. Oh salah, yang bener Valentine Day. Seiza berniat membuka usia remajanya dengan menembak seorang wanita yang ia idam-idamkan. Dari 2.456.234 wanita yang diidamkan, ia telah membidik 1 wanita yang menurutnya sempurna. Wanita itu bernama Tomerina Caterine, biasanya disingkat TomCat. Seiza langsung menelfonnya dan mengajak ia janjian dengan janji-janji yang menjanjikan di suatu tempat. Rencananya ia akan mengajak Tomcat pergi ke tempat yang ramai dengan tujuan proses penembakannya bisa disaksikan langsung oleh banyak orang.

Beberapa jam kemudian (lebih tepatnya 0,0167 jam kemudian), kedua belah pihak sampai di tempat tujuan. Seiza bersiap-siap untuk melakukan aksinya. Jantung berdetak kencang, hati cenat-cenut, lidah ngilu, asam urat kambuh, halah. Dengan penuh deg-degan ia membaca sebuah puisi. Kira-kira seperti ini:
Gombal gambul gombal gembel
Gembal gembul gembal gembul
Gombal ini bukan sekedari gombal
Gombalku ini adalah gombal dari segala gombal
Aku tak peduli bapak kamu petani
Aku tak peduli bapak kamu pilot
Aku tak peduli bapak kamu maling
Karena apapun pekerjaan bapakmu
Cintaku Hanya untukmu
Dan bukan untuk bapakmu

Tahukah kamu siapa pencipta sepakbola?
Tahukah kamu siapa ayah Albert Einstein?
Tahukah kamu dimana alamat yang sebenarnya dicari Ayu Ting Ting?
Aku tak terlalu ingin kau tahu itu
Tapi aku hanya ingin kau tahu
Bahwa aku sayang padamu

Mendengar itu, Tomcat menjadi klepek-klepek. Seiza segera menggunakan momen itu untuk segera menembak Tomcat. “Ehm,,Cat…kamu mau gak jadi TKW di Arab Saudi?” tanya Seiza. “Enak aja,, gak lah!!”. “Hmmm…kalau jadi TKW di Malaysia?” Seiza tanya lagi. “ENGGAK!!!! AKU GAK MAU JADI TKW!!!” “Wohohoh….slow aja mbak. Kamu gak mau jadi TKW, its okay. Tapi kamu mau kan jadi pacar aku?”. Tomcat tiba-tiba shock…..ia mengalami pelelehan (melting maksudnya). Dan seperti yang kita duga, jawabannya adalah “YES!”. Orang-orang sekitar yang tadinya diam kini bersorak-sorak. Mereka berteriak dengan begitu semangatnya. Mayoritas yang berteriak memakai kaos Orange. Oh iya, saya lupa ngomong. Tempat untuk menembak Tomcat adalah di Stadion Ollimpiyskiy, tepatnya di tengah lapangan. Kala itu sedang ada partai final EURO antara Italia dan Spanyol. Dan Spanyol menjadi pemenangnya dengan skor 4-0. Keempat gol tersebut dihasilkan karena tendangan dari kiper Spanyol membentur Seiza dan mengecoh Buffon. Dan akhirnya mereka juara. Pantesan pada teriak-teriak. Seiza kemudian ikut merayakan kemenangan Spanyol itu. Karena terus meleleh, Tomcat akhirnya pingsan. Tapi Seiza masih ikut merayakan kemenangan spanyol dan sempat foto bareng bersama supporter Spanyol, bukan pemainnya lho.

Seiza segera memanggil Ambulance dengan kentongan. Tomcat langsung dibawa ke Rumah Sakit setempat, namanya Rumah Sakit Tak Ingin Tersakiti. Ia dimasukkan ke ruang UGD (Uninstalasi Gawat Darurat). Seiza pun panic (harusnya tulisannya “panik” tapi karena ada auto correct jadi “panic”). Badannya gemetaran. Bahkan rumah sakitnya pun ikut bergetar dan pengunjung sempat panik sesaat. Ia menelfon orang tua Tomcat. Selang beberapa detik kemudian, orang tuanya datang. Suasana pun semakin tegang karena Tomcat belum keluar2 juga.

Seiza sempat menggombali ibunya Tomcat tapi karena ada suaminya, Seiza memilih menggombali bapaknya saja. 3 tahun pun telah berlalu. Dokter keluar dan mengizinkan Seiza dan orang tuanya Tomcat untuk masuk. Di sana terbaring Tomcat. Seiza mendekat. Tomcat bilang, “Seiz, kamu bener cinta sama aku?” Seiza menjawab dengan muka unyu, “Iya, Cat, aku mencintaimu dengan sepenuh sepertiga hatiku.” Tomcat bingung “Maksud kamu?” “aku kan sudah punya 2 cewek, karena aku adil, jadi hatiku kubagi sama rata, sepertiga sepertiga.” Tomcat kaget. “APHAA!!!!” orang tuanya juga kaget “APHAA!!!” dokternya juga kaget “APHA!!!!!” pengujung rumah sakit pun juga kaget “APHHA!!!!” Bahkan lalu lintas di luar sempat berhenti sejenak karena pengendaranya juga kaget “APHHAA!!!” saya juga ikut kaget “APHA!!!!” pembaca mau ikut kaget nggak? Hayooo…..Tomcat serasa tercabik cabik, tersayat-sayat dan terpukul-pukul serasa terkena racun tomcat. “Kamu jahad (pakai qolqolah)!! Kamu busuk! Kamu Banci!! Kamu keji!!!” “Tapi setidaknya aku ganteng kan? Hehe”. “EH!!! POKOKNYA HARI INI LO! GUE! PREND!” Seiza kaget “loh, kok prend? Harusnya kan end?” “Oh iya, ralat, LO!! GUE!! END!!!” Tomcat pun langsung pergi entah kemana. Ibunya berkata pada Seiza “Kalau boleh kecewa, saya jujur sama kamu.” Bapaknya juga ngomong “Salah bu! Yang bener, kalau boleh jujur, saya kecewa sama kamu” “oh ya maaf. Hehe” mereka pun langsung pergi. Seiza sangat sedih karena disuruh mbayar biaya Rumah Sakit. Biayanya Cuma sekitar 50.000 sampai 100.000 pundsterling. Itu baru biaya tempat tidur saja dan belum termasuk fasilitas tambahan seperti Televisi, Kursi, AC, Kipas angin, Kamar mandi, Studio Musik, Lemari Es, Mobil mewah, dan juga kolam renang.

Seiza sejenak merenungi apa yang terjadi, dan akhirnya tidur. Esok harinya Seiza berencana menemui Tomcat di suatu tempat. Kali ini ia mengajak janjian di tempat sepi. Saya juga gak tahu kenapa Tomcat mau saja. Mereka pergi ke kuburan. Karena terlalu sepi, mereka pindah ke puncak. Weisyeh…..Seiza pun memulai percakapan, “Cat, aku mau ngomong. Aku sudah mutusin 2 cewek aku yang lain. Sebenarnya mereka sih yang mutusin aku. Sekarang kamu mau gak maafin aku?” “Enggak!!” jawab Tomcat. “Tapi Cat, menurut buku Tatang Sutarma…” Tomcat langsung menyela “HEH! Itu bukunya Sule!” “Aku pinjem dulu,,nanti aku balikin. Menurut buku Tatang Sutarma kita harus memaafkan jika seseorang minta maaf dengan ikhlas.” “Aku dah gak percaya lagi sama kata-katamu yang penuh dusta itu. Aku perlu bukti”.

Seiza pun langsung mengajak Tomcat ke Toko Perhiasan yang letaknya tidak terlalu jauh dari posisi mereka sekarang, kira-kira setengah meter lah. Seiza langsung membeli perhiasan yang paling mahal yaitu 2MM (Milyar Milyar) rupiah. Namun ia berhasil menawar menjadi 2000 rupiah karena ia ikut gerakan XJuta Nawar. Perhiasan itu langsung ia tunjukan kepada Tomcat, dan langsung membuangnya jauh-jauh. “Cat, itu bukti bahwa aku tak terlalu memikirkan tentang uang, tapi aku lebih memikirkan hubungan kita. Sekarang aku mohon. Maafin Marwan ya…” tiba-tiba ada seorang laki-laki berambut agak panjang dan berkata, “Eh, itu nama gue.” “oh ya maaf mas.” Ia langsung melanjutkan, “ Cat!! Kamu mau gak maafin aku?” Tomcat pun agak bingung karena di lubuk hatinya ia masih cinta dengan Seiza. Tiba tiba Ahmad Dhani datang dan berkata, “Kalau aku, Yes!” lalu Anang Hermansyah juga datang, “Aku juga, Yes!” Tomcat pun langsung menegapkan badannya dan berkata, “OK. Mas Dhani yes. Mas Anang yes. Aku juga yes. Selamat kamu mendapat tiket emas ke hatiku.” Seiza pun menjadi berbunga-bunga. Bunganya langsung dijual oleh Mas Dhani dan sebagian diambil Mas Anang untuk diberikan kepada Ashanti. Sesuatu. Eh itu Syahrini ya. Maaf salah. Seiza langsung menggandeng Tomcat dan duduk bersama untuk memandangi Bulan yang indah. Mereka lalu pulang ke rumah masing-masing dan langsung menyalakan laptop dan mengubah status di facebooknya dari lajang menjadi jalang. Eh salah, dari lajang menjadi berpacaran. Mereka pun langsung tidur dan siap menyambut hari yang cerah untuk masa depan yang cerah. Selesai

Dari cerita di atas (jangan nengok ke atas ya!), kita bisa mengambil pesan moralnya tanpa harus saya pandu. Cinta itu bukan sekedar gombal atau kata-kata rayuan yang hanya mempengaruhi pikiran dan apapun yang terkandung di dalamnya. Namun cinta itu sebuah perbuatan atau pengorbanan yang kita lakukan kepada orang yang kita cintai dimana orang yang kita cintai itu menjadi cinta kepada kita sehingga orang yang bersangkutan menjadi tersentuh hatinya. Halah.

Satu kata dari saya : Cintailah orang-orang yang benar-benar mencintai anda. Cintailah orang-orang yang berjasa dalam hidup anda. Dan cintailah orang-orang yang membenci anda. Karena sebenarnya, jika kita mencintai semua orang, maka semua orang akan mencintai kita. Dan jangan sekali-kali anda membenci orang yang membenci anda, karena orang yang membenci anda adalah orang yang ingin mendapatkan cinta anda. Loh? Ini bukan satu kata ya. Hehe. Maaf.

Baca juga Cerpen Romantis dan Cerpen Lucu lainnya.

Sabtu, 25 Agustus 2012

Cerpen Cinta Romantis - Bintang Terindah Buat Lisa

BINTANG TERINDAH BUAT LISA
Karya Apriadi
 
Ku istirahatkan sejenak badanku setelah lelah bermain sepak bola di kursi dekat taman sekolah yang sangat sejuk, karena dinaungi oleh sebuah pohon besar. Dari sini aku dapat melihat keseluruhan SMA ku yang begitu indah dengan tanaman-tanaman yang hijau dan sejuk.

Namaku Rama, aku bersekolah di salah satu SMA di kotaku yang cukup terkenal. Hoby ku adalah melihat bintang-bintang ketika malam sehabis shalat Isa, dan itu sudah kulakukan semenjak tiga tahun yang silam. Entah apa penyebabnya, aku hanya merasa, apabila aku melihat bintang-bintang itu. Rasanya aku begitu tenang dan damai. Aku memang suka sendirian, tetapi terkadang aku juga selalu terpikirkan untuk memiliki seorang teman dekat ataupun sahabat yang berarti dalam hidup ku yang kosong ini.
Dalam lamunan ku, aku dikejutkan oleh suara seorang perempuan yang memanggil ku dengan panggilan “Kaka”
 

Perlahan kubuka mataku dan langsung melihat kearah nya. Dia adalah adik kelas ku yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu.
“ya ada perlu apa?” tanya ku singkat
Sepertinya dia sangat pemalu, dia hanya menundukan kepala sambil menyatukan kedua jari telunjuk kanan dan kirinya.
Akhirnya dia bicara juga. Dia ingin mengucapkan terima kasih kepadaku, karena aku telah menolong nya tadi pagi ketika motornya terserempet. padahal aku sudah lupa dengan kejadian itu. Setelah ku ucapkan “sama-sama” dia kemudian langsung pergi dengan cepat bersama teman nya. Aku tidak sempat menanyakan namanya.

Beberapa bulan setelah kejadian itu, dia tidak pernah lagi menemui ku. Terkadang aku masih suka duduk di tempat itu, dan bermaksut bertemu lagi dengan nya. Tetapi ternyata dia tidak pernah muncul lagi. Lambat laun, aku sudah lupa seperti apa wajah nya. Yang aku ingat dia memiliki senyum yang sangat indah.
Aku merasa aneh dengan diriku, tidak biasanya aku seperti ini. Mungkin karena dia adalah adik kelas pertama yang menemuiku. Semoga suatu ketika aku bertemu lagi dengan nya.

Hari ini adalah acara ulang tahun sekolah, aku sebagai ketua dewan redaksi sekaligus wakil dari ketua osis, harus bekerja ekstra keras untuk hari ini. Pagi hari sebelum acara mulai kami harus menyapu lapangan yang akan dipakai untuk pertandingan futsal antar sekolah. Ketika acara dimulai, aku harus keliling untuk mengontrol kinerja para anggota redaksi.
“hei kamu, anggota redaksi” panggil ku pada seorang anggota redaksi pria yang hanya duduk-duduk sambil menggoda seorang wanita.
“iya kak, ada apa ya?”
“kau itu mau dikeluarkan dari anggota ya?” ancam ku padanya, dia sepontan meminta maaf, dan langsung bekerja. Rupanya masih ada satu orang anggota lagi yang enak-enakan minum.
“hei kamu anggota redaksi,kesini!” panggil ku pada salah seorang wanita yang menurutku wajah nya tidak asing. “iya kamu kesini!”

Dia sepertinya agak terkejut setelah ku panggil, setelah menghampiriku dia menundukan kepalanya.
“a,a, ada apa ka?” tanya nya. Sejenak aku teringat sesuatu,
“wah,,,,,,,, kamu wanita yang waktu itu ya? Hahahaha sudah lama aku mencari kamu” ups, sepertinya aku keceplosan. Waduh gawat ini.
“hah?” dia terlihat terkejut sekali “kenapa kaka mau mencari saya?”
“anu, itu,” aduh, aku bingung harus jawab apa, “itu, oh iya, aku mau menanyakan nama kamu, hahahaha, aku penasaran, makanya aku mau mencari kamu” yes aku dapat alasan
“oh itu, maaf ya ka, saya lupa bilang nama saya ke kaka” ucap nya sambil menundukan kepalanya.
Lisa, itu lah namanya. Seorang yang aku nantikan selama hampir beberapa bulan ini. Dan yang aneh nya, aku tidak tahu kenapa aku jadi ingin berkenalan dengan nya. Lagi pula ternyata dia juga anggota redaksi, kenapa aku tidak tahu itu ya? Ah biar saja, toh aku sudah bertemu dengan nya.

Lama setelah kami berkenalan, aku semakin sering menemui nya. Dan entah mulai kapan dia sudah tidak malu-malu lagi ketika berbicara kepadaku. Malah sebaliknya, dia suka sekali membuat suasana menjadi lebih menyenangkan. Beberapa minggu kemudian, aku merasa ada sesuatu yang aneh. Aku sering merasa bosan apabila melihat bintang, aku juga sering merasa jenuh apabila dirumah. Yang terpikir oleh ku adalah saat-saat bersama dengan Lisa.
“Itulah Cinta boy. Kamu harus sadar itu” kata Jefry memberitahu ku.
“ah masa?”
“Bah kamu ini boy, macam tidak kenal Cinta saja”
Kata-kata Jefry terus saja bernyanyi-nyanyi di kepalaku. Dan aku terus saja bertanya pada diriku sendiri di hadapan bayangan tubuh ku sendiri didepan cermin. “masa cinta?”
Lagi pula kalau menurut cerita Jefry, Lisa suka padaku. Biarlah ku serahkan kepada Allah apa yang akan terjadi setelah aku nyatakan perasaan ku ini.
Keesokan harinya. Aku ajak Lisa ke lapangan rumput hijau yang luas, sepanjang perjalanan aku sangat deg-degan rasanya. Lisa juga bertanya-tanya kepadaku, untuk apa dia dibawa kesini.
Perlahan ku pegang kedua tangan nya, dan kutarik nafas panjang.

Bismillahirrahmaanirrahiim.
“Lisa, Aku sayang sama kamu, aku sayang kamu karena Allah, maukah kamu menjadi bintang yang paling terang untuk ku? Untuk selama lamanya”
Sejenak keadaan menjadi sunyi, hanya deruh angin yang ku dengar. Aku begitu gugub dengan apa yang akan dia jawab. Rasanya kemarin malam aku sudah shalat tahajud dengan rakaat yang banyak, dan berdoa dengan rasa harap dan cemas. Kira kira doa ku apa dikabulkan tidak ya?

Lisa sejenak menatap mataku dengan dalam, aku kurang mengerti apa maksutnya. Aku masih menunggu. tiba-tiba dia tersenyum, dan mengangguk tanda setuju.
“TERIMA KASIH JEFRY........ eh salah ALHAMDULILLAH....” teriaku kegirangan.
“kaka, jangan teriak! Nanti kedengeran orang”
“nggak mau, kecuali kamu mau bilang sayang sama aku” pinta ku dengan manja padanya.
“Iya, iya kaka sayang, aku sayang kaka sampai terus terus terus terus terus terus terus terus terus terus, untuk selamnya” ucap nya kemudian tersenyum.
“apa? aku tidak mendengar, coba ulangi sekali lagi” teriaku dari jauh
“aduh, aku sayang kaka sampai terus terus terus terus terus terus terus terus terus terus dan terus, untuk selamnya”

"Terkadang bintang itu terang, dan terkadang bintang itu penuh dengan kabut awan.

Sekarang terang sudah bintang ku dalam hatinya. Bersemayam dengan singgasana cinta yang terindah. Cinta untuk selamnya, Bintang Terindah Buat Lisa"
“oh iya lisa, aku cinta kamu”
“iya iya, aku juga cinta kaka”
“apa? Aku tidak mendengar”
“budek...”
 
PROFIL PENULIS
Nama "Apriadi"
Cerpen ini kupersembahkan untuk Peni ku tercinta, kekasih ku.
Ini adalah cerpen pertama ku disini, semoga kalian suka

Baca juga Cerpen Cinta dan Cerpen Romantis yang lainnya.

Kamis, 23 Agustus 2012

Cerpen Romantis - Dia Melukaiku dan Menyembuhkanku

DIA MELUKAIKU DAN MENYEMBUHKANKU
Karya Tofik Nuryanto

Aku nggak pernah merasa sepedih ini, gila…!! Aku cowok dan berprinsip aku nggak bakalan nangis karena aku sudah sejak lama lupa bagaimana rasanya menangis. Tapi apakah gara² seorang cewek aku bisa kaya gini…??
“AAAAAAAAAAARrrrgghhhhhhhhhh……!!!!!!!!!!!!!”
Aku memang lagi galau karena cewek. Namanya Anti, aku manggil dia Ant dan dia manggil aku Ka, tapi sekarang malah dia manggil aku kak. Aku lagi shock berat dan galau, sedih, pedih dan tersiksa karena cewek yang aku taksir selama 1 tahun kemaren baru saja curhat dan mengaku kalau dia ternyata sudah tidak virgin lagi. Hancur dan hanya pedih yang aku rasakan begitu dia mengatakannya. Padahal rencananya aku mau nyataain ke dia kalau aku tuh suka sama dia, malah dia yang nyerocos curhat dan akhirnya minta ngerahasiain semuanya. Dan akhirnya akupun berujung ke dunia insomnia ku yang semakin akut sambil duduk dijendela kamar ditemani kopi pahit, rokok dan gitar usang tapi enggan aku mainkan.

Aku memang pernah curhat ke Anti dan mengaku kalau aku dulu punya masa lalu kelam, setiap deket sama cewek yang aku lakuin Cuma hal² yang nggak pantes aku lakuin sama cewek yang aku deketin alias mesum doank. Aku sering TTM (Teman Tapi Mesum) sama cewek² jaman SMU, tapi itu semua karena mereka sicewek-cewek itu yang mau. Dan mereka pulalah yang ninggalin aku begitu aja, kadang malah nggak jelas kabarnya sehingga aku terkatung-katung tanpa kepastian dari mereka. Tapi ah, itu adalah masa lalu yang kelam bagiku yang sudah aku tinggalkan selama aku kuliah.
Sayup-sayup aku mendengar lagu hey jude-ny a The Beatles, ah… ternyata ada sms di Hp ku yang sengaja aku pelankan nada deringnya sampai ke level 1. “Siapa sih jam 2 pagi sms, gila kali” aku menggerutu dan membuka sms tersebut.

Anti. Itulah nama yang tertera pada layar hp ku, Anti pulalah yang membuatku menjadi semakin terperosok ke dunia insomnia yang kian lama kian aku nikmati saja. Karena memang entah kenapa sudah 5 tahun ini aku susah tidur, tidur biasanya jam 1 baru bisa tidur. Kalau lagi bête malah bisa sampai adzan subuh baru tidur, ya…. Walaupun akhirnya malah nggak tidur karena rumah aku deket musholla maka kalau denger adzan aku terbiasa langsung menuju musholla untuk sholat berjama’ah.
“Dika, aku tahu kamu belum tidur kan. Kesini dong. Ke Kosan” begitu pesan dari Anti. Aku mau balas tapi hatiku masih terasa perih karena mengetahui kondisi cewek yang paling aku sayangi ternyata sudah tidak virgin lagi. Aku nggak munafik kalau aku sendiri dulu waktu SMU sering bertindak gila-gilaan dengan cewek-cewek TTM-anku dari bercumbu rayu sampai grepe-grepe. Bahkan ada TTM yang selalu memberikan oral ke aku tiap ketemuan. Tapi aku masih bisa menjaga untuk tidak melakukan hubungan badan dengan mereka walaupun mereka sudah menyatakan mau jika aku minta. Ah kenapa aku kembali mikirin masa lalu yang kelam ya?

Akupun mulai membalas sms Anti, “lagi ngopi di singgasana Ant, da pa, males ah, malem gini?” sms pun terkirim dan tak berapa lama Hp ku bordering. Anti memanggil…
“Halo, da pa Ant?” aku menyahut, “Sory ya Kak, kalo aku udah buka aib aku ke kamu. Kamu nggak papa kan?” suaranya merdu mengalir ke telingaku, walaupun aku masih kondisi shock tapi aku tetap berusaha untuk tetap bertingkah biasa saja “tenang aja Ant, rahasiamu terjamin kok ditanganku” jawabku. “Kak, mau nggak nemenin aku dikosan, kayaknya aku ketularan insomniamu nih. Kosan juga lagi sepi nggak tau anak² pada nggak pulang” pinta Anti. “Sekarang?” timpaku. “Ya iyalah, buruan gih” “Ya deh…. Tunggu ya, “ aku pun menutup Hp dan turun untuk pergi ke kosan dia. Rumahku memang tidak jauh dari kosan Anti dan kedua orang tuaku terbiasa memberikan tanggung jawab penuh ke aku dan kakakku untuk menjalankan kehidupan masing² asal masih dalam taraf wajar jadi aku pun terbiasa keluar malam tanpa harus ijin ke ortuku, paling Cuma ninggalin memo atau sms kalo aku lagi keluar.

Karena sudah jam 1 lebih maka jalanan sepi, jadi sekitar 15 menit aku sudah sampai di gerbang kosan Anti, kosan dia berupa rumah tingkat dengan banyak kamar untuk disewakan ke mahasiswa² tapi hanya khusus putri. Tapi rumah tersebut tidak dijagain oleh ibu kos karena rumah ibu terletak di seberang kota yang lumayan jauh juga jika harus tiap hari ngenungguin anak² kos. Begitu aku sampai sana aku langsung aja masuk gerbang karena aku sudah tahu cara ngebuka gembok yang keliatannya kencang terkunci tapi padahal tidak. Akal²an anak kos nih yang bikin gini. Alas an mereka biar bisa pulang malem aja sih….

Begitu aku parkir motor si Anti udah didepan pintu rumah kosan. “kangen ya, udah nungguin dari tadi “ kataku. “Kepedean, aku denger motor kamu dari atas” sahutnya. ”anak anak pada kemana Ant? Kok sepi gini” tanyaku. “Jam setengah 2 pagi ya sepilah, ha ha ha.. Anak-anak lagi pada nginep dikampus, katanya lagi bikin persiapan untuk ospek anak baru besuk” Antipun menjawab sambil matnya terlihat kosong dan memainkan kunci pintu depan.
“Masuk yuk..” ajak Anti. Kita berduapun langsung masuk dan naik kelantai 2, disana ternyata sudah ada kopi item minuman khas aku yang emang terkena kutukan insomnia ini. “Kok ada kopi item disini” tanyaku. “Aku beli di warung tadi sore, kasian aku liat kamu kalo maen kesini cuman minum air putih doang, nggak mau dikasih teh sih”, “ngobrol dikamar yuk, sambil tiduran siapa tahu kalo kamu tungguin aku bisa tidur” pintanya. “Jadi aku disini cuman jadi babbysitter buat ninaboboin kamu nih?” aku bertanya sambil mencoba bercanda. “emberrr……..!!!!” jawabnya sambil narik aku masuk kamar.

Aku memang sering masuk kamar Anti entah itu cuman sekedar istirahat abis jalan atau numpang molor di siang bolong kalo lagi nggak ada tujuan hidup. Anti memang jadi sahabat aku yang setia sejak kita kenalan dikampus. Anti sebenarnya adik kelasku tapi karena sering ketemu di perpus kita jadi kenal dan sering ngobrol sampai akhirnya kita jadi sohib. Aku sering nganter dia ke kampus atau nganter kemana dia mau pergi dan dia sering nemenin aku karena aku sendiri males jalan ma temen² kampus yang kadang maennya nggak tau aturan, emang kata mereka aku kuper tapi jujur aku lebih suka maen ama cewek tomboy yang manis ini dari pada temen² cowok dikampus, kecuali kalau lagi maen futsal sih.
Bukannya aku nggak punya temen cowok, aku ada beberapa temen cowok yang sering kumpul bareng tapi malahan bukan dari temen kampus. Mereka rata-rata temen SMP, SMU dan temen ketemu dijalan aja yang malahan sering aku ajak kumpul.

Tetapi 1 tahun ini aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan cewek tomboy manis cantik bernama Anti yang sekarang sedang tiduran mendekap boneka timmy. “Masak jadi babby sitter cuman dibayar kopi item Ant?” tanyaku agak merengek “emang minta bayaran apa? Ngomong aja mumpung aku lagi baek nih…” sahutnya.
“Minta sun boleh….?” Belum selesai aku ngomong si Anti tiba² sudah melayangkan hidungnya ke pipi kiri aku. “udah, apa lagi?” katanya dingin. Aku jadi kaget minta ampun dan minta maaf karena takut malah jadi negative thingking. “Sorry, tadi nggak beneran kok Ant” kataku. Si anti malah senyum ke aku, wajah yang tadi kulihat bermata kosong malah sekarang senyum dengan manis sekali… “nggak papa kok Kak… aku yang mau” katanya.
“Mau nggak kamu bobo sini disamping aku sampai ntar pagi, kamu nggak usah pulang ya..” langsung dengan gugup aku jawab “jangan lah, gila apa, bukan masalah takut ketahuan, tapi takut ntar aku malah ngapa-ngapain kamu Ant, aku kan Cowok normal 100% dan belum tentu walau kita sohib tapi aku nggak ngapa²in kamu”, “kita kan Cuma berdua disini”.
“bertiga, sama setan” katanya menimpali. “Ah, ngaco kamu” jawabku. Dan terus terang pikiranku mulai nggak karuan disamping dia tidurana. Eh malahan anti langsung menarik aku untuk tidur sampingnya. Entah kenapa aku juga nurut aja ditarik tidur disebelah dia. “Kak, matiin gih lampunya” pinta Anti. “Beneran nih?” Akupun berdiri dan mematikan lampu kamar.

Begitu lampu mati jantung jadi berdegup kencang melihat remang-remang gadis manis nan cantik yang aku taksir selama 1 tahun ini tidur dikasur. Aku nggak sanggup tidur disampingnya. Aku nggak mau mengulang masa kelamku jaman SMU dulu, apalagi ini cewek aku cinta tulus ke dia. Jadi aku Cuma duduk aja dikasur.
“Kok malah duduk? Tidur sini, aku mau kamu disisi aku Kak, aku lagi nggak bisa tidur nih, kalo dirumah bisananya aku minta dikelonin ama Mama.” Akupun tidur disampingnya sambil isi pikiranku makin berantakan nggak karuan. Aku Cuma diem aja dan melihat jam di HP ku sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Berarti sudah hamper setengah jam aku tiduran disamping Anti tanpa bicara, kulihat anti sudah memejamkan matanya.
“An…” kucoba panggil dia tapi nggak ada jawaban, sepertinya dia sudah tidur. Aku sentuh kelopak matanya yang terpejam dan semerta-merta kelopak matanya berkedut tanda dia belum tidur. “kalo mau pegang jangan pegang mata dong, katanya cowok normal, masak tidur bareng cewek yang dipegang mata” tiba-tiba dia nyeletuk dan itu bikin aku gelagapan. Gila ni cewek baru aja kemaren curhat kalau doi sebenarnya sudah nggak virgin dan sekarang malah ngomong gitu ke aku. Dan aku pun bisa merasakan desakan nafsu setan di pikiranku untuk menjamahnya. Toh dia udah nggak virgin ini nih… pikiranku sempat kotor juga, tapi aku tetap menahannya.

Aku urungkan niatku untuk grepe’in badannya Anti, aku nggak bisa menyentuh tubuh cewek yang aku cintai tanpa ada ikatan apapun. Aku sudah berekad. Tapi tiba-tiba Anti melakukan sesuatu yang bikin aku makin kelojotan disampingnya. Tiba-tiba dia mencium bibirku dan melumatnya. Spontan aku terbawa suasana tapi segera aku memaksanya untuk menghentikannya. “Nggak Ant, aku nggak bisa..” kataku, “kenapa? Kamu jijik ya sama aku setelah kamu tahu kalau aku sudah nggak virgin lagi?” katanya. “Bukan begitu, emang aku sudah pernah cerita ke kamu kalo aku sering ciuman dan grepe-grepe bahkan sampai oral dengan cewek-cewek jaman SMU dulu, tapi ini kamu Ant, bukan mereka”
Anti pun duduk diam, aku melihat bulir air mata menggenang di matanya. “Ant, kamu tahu kalau sebenarnya sudah 1 tahun ini aku naksir kamu dan aku nggak bisa ngelakuin itu ke cewek yang aku sayangi dan aku cintai. Aku Cuma ingin menjaga kamu Ant.” Kataku. Aku melihat Anti terkejut menitikkan air mata yang mulai penuh menggenang dimatanya, aku jadi nggak enak hati sama dia. “Emang aku shock dan sakit ati mendengar pengakuan kamu kemaren, tapi perasaan aku tetep nggak berubah ke kamu kok Ant”

Kami diam beberapa saat dan Antilah yang memulai berbicara lagi. “aku cemburu Ka” katanya. “Cemburu sama siapa” tanyaku jadi bingung. “Cemburu sama kamu bego..!!” sahutnya. “Kok sama aku?” aku makin bingung karena dia ngomong begitu.
“Kamu tahu nggak, sejak kamu cerita tentang kelakuan kamu jaman SMU yang katanya kamu udah nggak mau ulangin lagi itu, sejak saat itu aku cemburu. Kenapa cewek-cewek itu yang bersama kamu bukannya aku?” katanya sambil menitikkan air mata dan menunduk.
“Maksud kamu apa Ant?” aku jadi makin bego dibuatnya “bener aku nggak ngerti yang kamu omongin”.
“Aku suka kamu Dika, dan aku nggak suka kamu pernah ngelakuin sama cewek-cewek itu, walaupun nggak sampai hubungan badan tapi aku tetep nggak rela Ka, aku maunya kamu buat aku seorang, tapi aku nggak berani nyataain dulu ke kamu karena aku nggak mau persahabatan kita jadi renggang” biar aku Cuma jadi sahabat tapi aku seneng jika aku bisa tetep disamping kamu.” Katanya. “Jadi selama ini kita kamu juga sayang aku Ant?” tanyaku “Iya bego.. kamu juga nggak mau nyatain ke aku sih selama 1 tahun ini, aku jadi makin sedih.” “sampai-sampai aku punya ide gila dengan ngebohongin kamu kalo aku sudah tidak virgin dan mempertaruhkan semuanya dengan mengajakmu nemenin aku tidur disini” kata Anti mengakui semuanya.
“Aku Cuma berharap kalau kamu mau menjamah aku mungkin kamu mau menganggap aku lebih dari sekedar teman Kak” katanya

Akupun kaget dan jadi barbahagia bukan kepalang ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan dan ternyata dia Cuma bersandiwara kalau dia sudah nggak virgin agar aku menemaninya tidur disini dan mau menjamahnya. Ya Tuhan… ternyata dia begitu cinta sehingga mau mempertaruhkan semuanya untuk aku. Dan seketika rasa sakit di dadaku sembuh, Anti, kau melukaiku dan menyembuhkannya.
“Anti, aku suka kamu, sepenuh dan setulus hatiku. Jadi mulai sekarang jangan berfikiran macam² ya, aku sebenarnya kemaren mau nyatain ke kamu, tapi nggak jadi.” Kataku
“kenapa?” tanyanya sambil mengusap air mata. “terlanjur kamu bersandiwara pake ngatain nggak virgin pula. Hatiku hancur tau…” kataku sambil mengusap kepalanya.
“Jadi sekarang gimana? kita jadian?” tanyaku. Dan diapun mengangguk manis sambil mencium kedua pipiku. “Tapi ant, aku ada permintaan, aku pengin serius sama kamu, aku nggak mau ngulangin perbuatan masa laluku jadi tolong ingetin aku kalau aku mulai kelewat batas sama kamu, OK?” kataku sambil memandang wajah manisnya yang sumpah tiba-tiba jadi sangat sangat sangat cute abis. “Ok deh Dika sayang, sebenarnya aku juga takut tadi kalau-kalau kamu beneran ngapa-ngapain aku, kan aku nggak bisa nolak soalnya aku yang membuat jadi begitu”.
“Ok deh sayangku yang manis” kataku sambil memeluknya. “Kamu tetep nemenin tidur sini ya, aku pengin ditungguin sama kamu. Aku janji deh kalo kamu berniat nakal aku langsung pukul kepala kamu pake sepatu” kata Anti sambil nyubit pipi aku. “Ok deh, tapi kalau cuman meluk sambil nyium-nyium dikit bolehkan?” kataku sambil memeluknya erat-erat sambil berkata dalam hati.
“Tuhan, jagalah hubungan kami sampai pernikahan nanti. Kuatkan hati hambamu ini untuk tidak terlewat batas. Amin”

Dan akhirnya kamipun malah nggak tidur dan becanda-becanda. Antipun terlihat tenang nyender di dadaku sambil menghadap jendela kamar yang terbuka dari tadi sambil menunggu matahari terbit.
SEKIAN
===***===

Ini mungkin bukan kisah nyata.
Tapi setidaknya terasa nyata bagi seseorang cewek manis yang sedang senyum manis sambil mengaduk secangkir kopi item untuk aku.
Love You Han

PROFIL PENULIS
Nama :Tofik Nuryanto
Email : tofiknuryanto@gmail.com - no spam please
www.facebook.com/tofiknuryanto

##semoga yang baca belum kenal aku
##semoga diterbitkan dan tidak dicopas tangan jahil, hargai karya orang please
##karya pertama nih, semoga dimuat agar aku kirim yang lainnya :)

Minggu, 12 Agustus 2012

Cerpen Romantis - Aurora

AURORA
Karya Devi Khairun Nisa

Kamu baru saja melihatnya, ketika ia sedang tenggelam dalam kesedihannya di sebuah bangku taman bunga senja itu
Kamu pertama kali melihatnya sedang tersedu dengan air mata yang menganak sungai di pipinya. Terisak di sebuah bangku taman tanpa mempedulikan keadaan sekitarnya. Tidak peduli dengan gerimis yang mulai deras. Ia hanya menangis. Menangis menatap nanar bunga yang sedang bermekar indah dihadapannya.

Tapi entah mengapa, walaupun terbesit rasa iba yang mengguyur hatimu saat itu, tidak mampu menggerakkanmu untuk menghampirinya. Dirimu hanya terdiam memerhatikannya dari jauh. Sibuk dalam pikiranmu sendiri. ‘Apa yang menyebabkan Gadis semanis ini menangis?’ atau, ‘Siapa yang dengan tega membuat gadis sepertimu menangis hingga tersedu seperti itu?’

Gadis itu beranjak berdiri dari tempatnya. Menghapus sisa air mata yang masih membasahi pipinya kemudian berjalan perlahan meninggalkan taman.

Ada rasa penasaran yang menggebu dihatimu dan memaksa diri untuk membayar rasa penasaran itu. Sebuah rasa yang jarang sekali kamu rasakan menggerakkan kakimu untuk mengikutinya.

Kamu melihat ditengah jalan ia disapa dan berbincang sebentar dengan seseorang. Tidak. Kamu tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Namun dari bahasa tubuhnya kamu tau, seseorang itu, dengan sikap keibuannya, seperti memberikan kekuatan kepada seorang anak yang disayanginya. Gadis itu hanya tersenyum setengah hati dengan mata yang masih berkaca kaca, lalu mengangguk lemah.
Cerpen Romantis
Ahhh.. Ya Tuhan. Dia, Gadis itu, benar benar menyita perhatian mu saat ini.

Kamu segera menghampiri seseorang yang tadi menyapanya setelah ia menghilang dibalik keramaian. Gadis itu, sungguh menarik. Kamu tidak pernah tau apa yang ada pada dirinya yang membuatmu begitu penasaran.
“ Permisi Bu..” sapa mu dengan sopan. “maaf. Kalau boleh tau, siapa gadis yang tadi ibu sapa? Sepertinya ia sedang berduka..”

Ibu itu menatapmu sesaat sebelum menyebutkan nama gadis itu. “ namanya Rora. Aurora. Gadis itu kehilangan kekasihnya sehari setelah ia dilamar di taman bunga ini. Kepergian kekasihnya akibat kecelakaan telah menghapus keindahan senyum yang selalu mengiasi wajahnya”

Aurora. Gadis itu bernama Aurora. Nama yang indah. Seindah langit malam dikutup yang berpendar dengan warna warni yang dilukis Tuhan di kanvas ciptaannya. Namun sayang, keindahan itu sedang redup ditutupi awan duka yang berkepanjangan.

Terbesit rasa keyakinan dan percaya dirimu untuk menyapa gadis itu suatu saat. Ketika takdir mempertemukanmu dengannya suatu hari nanti. Rasa itu begitu kuat. Tanpa pernah kamu mempertanyakan kenapa.
****-

Kamu mengenalnya tepat saat bunga bunga ditaman itu sedang bermekaran dengan indahnya.

Harapanmu terkabul. Takdir memang mempertemukanmu dengannya lagi di taman itu. Saat itu gerimis belum turun seperti awal kamu melihatnya.

Saat itu, kamu sedang mengambil beberapa objek foto ditaman seribu bunga itu. Memotret segala sisi keindahan taman saat bunga sedang merekah indah. Di saat itulah, kameramu menangkap sosok dirinya duduk termangu dengan tatapan nanar yang begitu menyakitkan. Namun kini, ia tidak menangis. Atau lebih tepatnya belum menangis.

Ahh.. ya. Hasrat itu. Hasrat yang begitu kuat muncul entah dari mana, memaksamu untuk mendekat dan menyapanya.
Langkah kakimu terhenti, saat hembusan angin dingin menerpa. Membuat tubuhnya bergetar saat dirimu memandangnya dari balik punggung. Hanya berkisar 3 langkah lagi kamu akan duduk di bangku yang di duduki gadis itu. Kamu mulai melangkahkan kakimu seraya membuka jaket yang kamu kenakan untuk melindungi gadis itu dari hawa dingin dan tetasan hujan yang mulai turun.

Lagi. Gerakanmu kembali terhenti. Saat dirimu tepat berada disampingnya dan melihat setetes air jatuh ke kepalan tangan di atas pangkuannya. Tetesan air itu kamu sadari bukan berasal dari gerimis dari langit kelabu. Tapi berasal dari matanya yang terlihat sendu. Tubuhnya semakin terguncang hebat dan isak tangisnya keluar setelah kepalanya jatuh tertunduk. Akhirnya, kamu mengetahui bahwa bukan hawa dingin yang mengakibatkan tubuhnya bergetar hebat. Melainkan sebuah isak tangis yang sedari tadi sudah ditahannya.

Kehadiranmu di sadari olehnya. Gadis itu menoleh menatapmu dengan airmata yang terjun bebas dipipi mulusnya. Meskipun matanya tertutupi kabut bening, namun sorot terkejut tak menghalanginya. Ia terkesiap memandangmu dengan tatapan terkejut dan bertanya. Namun kamu tidak mempedulikannya, justru malah melanjutkan gerakan tanganmu menyampirkan jeket ke bahunya yang sempat tertunda.

Gadis itu enggan bergerak. Ia memandang jaket yang kamu sampirkan ke tubuhnya lalu menatap kedepan. Ia tidak beranjak dari tempatnya duduk. Dan kamu. Kamu hanya diam duduk disisinya tanpa sepatah kata.

Entah mengapa, suasana hening diantara kalian sungguh menyenangkan bagimu. Semilir angin membawa kebekuan. Rintik rintik hujan yang membasahi taman menjadikan suasana semakin damai. Kehangatan mulai merayap perlahan menyentuh sudut sudut hati yang beku diantara kalian.

Gerimis senja ditengah tengah bunga yang bermekaran.
****-

Kamu semakin sering bertemu dengannya ditaman ini. Setelah gerimis senja itu memperkenalkan kalian.

Kamu mulai mengenal sosoknya. Mulai mengenal siapa gadis manis yang selama ini membuatmu begitu penasaran.

Perlahan membuka sebuah peluang pertemanan diantara kalian. Perlahan mulai saling memperkenalkan siapa diri masing masing.

Kamu mengenalnya saat gerimis di senja kala itu. Mengenalnya melalui awan kelabu tengah menutupi mentari di hari itu. Mendapatinya dengan tetesan airmata yang tidak pernah terhapuskan selama beberapa bulan dalam hidupnya. Kamu mengenalnya ditengan kepedihan cinta, ditengah keindahan bungan yang merekah indah.

Dalam sebuah perkenalan yang tidak pernah kamu duga kamu mengenalnya. Melihat tatapan sendu dalam setiap cerita yang keluar dari mulut mungilnya. Mendengar kegugupan dalam setiap nada suaranya yang sarat kepedihan.

Lalu kamu tersadar. Ketika tidak ada yang dapat kamu lakukan untuk merubah masa lalunya yang begitu menyakitkan, kamu memutuskan untuk memulai semuanya dari awal.

Kamu dengan bermodalkan sebuah ketulusan, mulai menyeka awan kelabu itu dari pandangan matanya yang indah. Kembali memperkenalkan dunia yang telah tercipta indah sedari kamu menghirup nafas pertama di dunia. Kembali memperkenalkan senyum padanya. Kembali memperkenalkan makna dari kelima huruf yang sempat terabaikan olehnya.
‘Ya.. tersenyumlah Aurora. Aku akan membuatmu kembali bersinar indah seperti dulu.’

****-

Kamu selalu menemuinya mulai saat itu

Walau hatimu tidak pernah mengerti, namun hasrat yang ada di dalam dirimu menuntut untuk terus bisa melihat wajahnya. Menarik dirinya dari keterpurukan yang dalam.

Yang kamu lakukan hanyalah mendengarkan semua cerita pahitnya. Memberikan masukan masukan disaat yang tepat. Membumbuinya dengan sedikit candamu untuk memancing tawanya, atau hanya sekedar senyumnya yang lama tak terlihat.

Kamu mengerti betul besarnya cinta yang ia simpan untuk kekasihnya. Dan terkadang, disaat saat tertentu, ditengah tengah cerita indah gadis itu bersama kekasihnya, terselip rasa iri di hatimu. Rasa iri terhadap sosok laki laki yang dengan segenap hati ia cintai. Dan di saat itu kamu sadar, dirimu hanyalah seorang pengagum yang ditakdirkan Tuhan untuk mengenal dirinya di suatu senja yang kelabu.

Kamu membenci gagasan itu. Kamu membenci kenyataan itu. Kenyataan bahwa suatu saat nanti kamu juga akan merasakan sakitnya cinta. Namun entah mengapa, hal ini tidak membuat tekatmu goyah. Kamu tidak pernah beranjaka dari tempatmu berdiri sekarang. Kamu tidak pernah ingin berhenti melakukan apa yang sedang kamu lakukan sekarang. Dan disaat untuk pertama kalinya kamu melihat senyum gadis itu merekah tanpa ada selaput sendu di matanya, hatimu berkata, ‘ Apapun itu, bahkan kebahagiaanku sendiripun akan ku gadaikan asal kamu tetap tersenyum seperti ini.. kamu hanya perlu mengatakan apa yang harus ku lakukan untuk tetap membuatmu tersenyum seperti ini’.
****-

Kamu, dalam diam menyadari rasa penasaran dihatimu mengantarkanmu pada rasa sayang yang kamu yakini tidak akan terbayar.

Selama berbulan bulan kamu menemaninya ditaman itu, menghabiskan setiap senja untuk kembali mengajarkannya bagaimana rasanya menikmati keindahan yang telah tercipta meski dibalik perih luka cinta, selama itu pula kamu berusaha menutupi kenyataan yang terjadi didalam dirimu sendiri. Kamu membohongi perasaanmu sendiri bahwa kamu tidak pernah jatuh cinta padanya.

Padahal kenyataannya kamu mulai menyayanginya melebihi seorang teman.

Padahal kenyataannya kamu mulai merindukannya dan melewati hari yang begitu menyiksa tanpa melihat wajahnya.

Kamu membohongi dirimu sendiri. Membakar hidup hidup perasaan itu. Mengenyahkan secara paksa sebuah harapan yang mulai tumbuh dan berkembang subur jauh di dalam hatimu.

Kamu tidak pernah mau mengakuinya. Bahkan saat kamu ingin mempercayai perasaan itu, justru semakin gencar kamu melupakannya.

Namun apa yang telah kamu lakukan padanya selama berbulan bulan ini, telah mewujudkan harapan yang pertama kali kamu inginkan saat mengenalnya. Ia kembali tersenyum. Ia kembali tertawa. Ia kembali mekar indah walaupun bunga bunga di taman itu masih dalam kelopaknya. Kuncup bunga. Namun bunga yang satu ini justru mekar lebih dulu dan lebih indah di sisimu. Dan disaat itu, ia mulai menyadari dan menerima takdirnya sebagai manusia yang masih diberikan kesempatan untuk menghirup udara kehidupan, ia berkata padamu, “ terima kasih, Evan”

Kata kata itu, ucapan terima kasih itu, meluruhkan seluruh pertahanan dirimu. Menyadarkan dirimu akan hadirnya perasaan yang selama ini kamu acuhkan. Menghancurkan hatimu hingga berkeping keping tanpa bisa utuh lagi. Usai sudah. Segalanya. Perkenalan ini, pertemuan ini, pertemanan ini, hanyalah sebagai perantara Tuhan untuk membawanya dari jurang kesedihan. Dan tugasmu hanyalah sampai sini. Tanpa mengharapkan imbalan apapun.
“ya.. aku senang kamu tidak sedih lagi. Bukankah itu gunanya teman?” ucapmu lirih.

Dan kata terakhirmu itu menjadikan tamparan keras untuk menyadarkan posisimu selama ini di sisinya.
****-

Rasa itu benar benar terlanjur tumbuh subur ditaman hatimu.. ohh yaa Tuhan..

Sudah sebulan kamu tidak menemuinya sejak untuk pertama kalinya ia kembali tersenyum tanpa ada kesedihan di matanya.

Dan rasa rindu itu tidak lagi bisa kamu tutupi keberadaannya. Bahkan semakin ingin kamu mengenyahkan perasaan itu, semakin besar pula ia menggerogoti hatimu. Begitu menyiksa. Begitu menyakitkan. Hingga senja ini, ketika kamu tidak tahan lagi dengan apa yang kamu rasakan, kamu memutuskan untuk datang ketaman itu. Taman yang menjadikan sarana tempat awal kalian bertemu dan berkenalan.

Kamu tidak menemukannya. Ia tidak disini seperti biasanya. Jadi disinilah kamu sendiri. Disaat senja kembali kelabu dan rintik hujan mulai turun. Dingin. Angin dingin itu pun tidak lagi sama rasanya dengan angin dingin di awal perkenalan kalian yang terasa sejuk. Angin dingin ini justru membawa rasa kebekuan yang mencekam bagi dirimu.

Kamu masih diam di bangku taman ini. Tenggelam dalam fikirmu tentang dirinya ditengah gerimis yang mulai merapat. ‘ apakah ia telah melupakanku? Atau apakah ia telah menemukan kebahagiaannya yang lain diluar sana?’

Ditengah kesibukanmu dengan sejuta Tanya dalam jiwamu,tanpa sadar gerimis yang mulai membasahi seluruh tubuhmu berhenti menyentuh. Padahal kamu tau gerimis tidak reda saat itu. Pikiranmu terlalu beku untuk menyadari seseorang yang dalam diam menghampiri dan duduk tepat disisimu. Hingga ia menyapamu terlebih dulu, “ Evan, sedang apa kamu ditengah gerimis ini?”

Kamu tersadar. Menoleh kearah sumber suara yang begitu lembut dan sangat familiar di telingamu. Matamu dan mata gadis itu beradu. Aurora. Yaa.. gadis itu Aurora. Gadis yang selama ini selalu menangis dipundakmu. Gadis yang selama ini dengan usaha dan ketulusanmu kembali tersenyum meninggalkan pedih luka yang membelenggunya. Dan kini, gadis itu ada disisimu, memegang sebuah payung untuk melindungi kalian dari gerimis senja itu.

Kamu hanya diam menatap matanya. Matanya yang kembali tersiratkan kesedihan seperti awal kalian bertemu. Mata itu sendu. Kenyataan itu menyadarkanmu dan memaksakan lidahmu untuk mengucapkan sesuatu. Namun yang kamu ucapkan hanyalah namanya. Begitu lirih seakan tenagamu telah membeku karena dinginnya cuaca.
“ Aurora..”
“ kemana saja kamu selama ini? Kenapa kamu menghilang..? Evan.. tolong jelaskan apa yang sedang terjadi padamu selama ini..”

Ucapannya begitu menggebu. Namun dibalik itu semua, di matanya yang indah, kini kamu temukan kembali selaput bening kepedihan itu lagi. Kamu terkejut. Berusaha menerka apa yang sedang terjadi dengan gadis yang kamu sayangi.
“ Aurora, ada apa?” tanyamu sambil menyeka tetesan pertama yang keluar dari mata indahnya.
“ kamu masih bertanya da apa, Van?! Setelah semua yang telah kamu lakukan padaku.” Ucapan gadis itu tercekak dengan tangisnya yang tidak sanggup ditahannya lagi.

Langit belum memberikan tanda tanda gerimis akan berhenti. Dan kamu berusaha dengan keras meresapi dan memahami apa yang baru saja dikatakan gadismu. Disaat kamu mulai melihat dan mengerti maksud yang tersembunyi itu, gadis itu melanjutkan ucapannya.
“kamu menghilang Van..!! kamu menghilang dari hadapanku selama ini..!! kamu datang secara tiba tiba ditengah kesedihanku. Dan kini setelah kamu berhasil mengeluarkanku dari keterpurukkan, kamu menghilang tanpa sebab. Tolong katakana Van, apa yang telah aku perbuat hingga kamu meninggalkanku sendiri selama ini..”
Emosinya semakin keluar ditengah tengah gerimis yang kini semakin deras. Kamu tersadar, apa yang selama ini kamu yakini untuk membakar hidup hidup perasaanmu terhadap gadis itu, justru telah kembali melukai hatinya.
“ Aurora, aku…” kata katamu dipotong olehnya.
“ seharusnya kamu tidak perlu membantuku untuk keluar dari masalahku jika pada akhirnya kamu juga akan meninggalkanku, Van. Sungguh kamu tidak perlu melakukannya. Membuatku kembali tersenyum atau tertawa jika pada akhirnya kamu kembali membuatku seperti ini..” akhirnya tangisnya pecah.

Gadis yang selama ini dengan usahamu membuatnya kembali tersenyum, gadis yang dulu pertama kali kamu mengenalnya dan berjanji pada dirimu sendiri untuk menjaga agar tidak lagi merasakan kesedihan, kini justru kamu sendiri yang membuatnya kembali menangis. ‘ Ya Tuhan, apa yang telah ku perbuat..’

Ditengah gerimis senja itu, kamu menyadari kesalahan dan hal bodoh yang telah kamu perbuat. Tindakanmu yang gegabah telah membuat gadis yang kamu sayangi menangis seperti ini.

Perlahan, kamu mendekap tubunya dan membiarkan tangisnya tumpah dalam pelukanmu. Ya.. kamu menyesal. Dan kini kamu kembali berjanji untuk tidak pernah meninggalkan dirinya lagi.
“maafkan aku. Mulai sekarang, aku tidak akan meninggalkanmu lagi..” ujarmu lirih ditelinganya seraya membelai lembut rambutnya yang terurai.
“ berjanjilah padaku, Van..” pintanya
“ aku berjanji..” ucapmu pelan namun tegas dan menariknya lebih erat dalam pelukanmu.
****-

Dan disini, saat ini. Ketika bunga bunga ditaman ini kembali bermekaran indah di tahun keduan kamu mengenalnya.

Dibangku taman ini yang dulu pertama kalinya kamu mengenal gadis manis ini. Kini ia tidak lagi sedang menangis. Justru ia sedang tersenyum manis padamu. Kamu mengatakan sesuatu yang membuatnya tertawa.

Indah. Begitu indah. Ditengah keindahan bunga yang merekah dan menebarkan bau harum, namun tepat disisimu sekarang, sekuntum bunga kembali mekar jauh lebih indah. Jauh lebih harum. Dan bunga itu bernama Aurora.
“ kamu suka taman ini?” tanyamu padanya
“ ya.. aku sangat menyukainya..” jawabnya tanpa menghapus senyum dibibirnya.
“ehmm.. kalau kamu menikah dengan ku di taman ini, kamu bersedia??”

Ia terdiam. Lalu tawanya pecah. “ apa kamu sedang bercanda lagi Van?”
“Tidak. Apakah wajahku terlihat seperti bercanda?” tanyamu dengan menatap kedalam matanya dan menenggelamkan tangannya dalam genggamanmu.

Ia menyadari nada serius dari bicaramu. Ia pun tertunduk menatap tangannya yang hilang di dalam genggaman tanganmu.
“ a.. a..aku..” ucapnya tergagap. Ada semburat merah dipipinya yang mulus. “ apakah ini tidak terlalu terburu buru?”
“ tidak. Aku cukup mengenalmu. Begitu pun kamu. Aku rasa aku tidak terburu buru…”
“ehh.. ta.. tapi..” ucapnya masih tergagap karena gugup.
“ oh Astaga Aurora.. jangan katakan kalau aku terlalu tampan untukmu...” katamu dengan senyum yang merekah berusaha menggodanya.

Ia mengangkat kepalanyanya dan tertawa karena ucapanmu.
“hahaha.. yang benar saja. Apakah aku tidak cukup cantik untuk mu?? “Tantangnya padamu lalu kalian tertawa bersama
Hanya saja, Apakah kamu tidak akan menyesal menikahiku?” Tanya gadismu setelah tawa kalian reda.

Kamu terdiam. Mata topasmu menatap lekat lekat kedalam matanya yang indah. Tatapan itu membuatnya menunduk karena malu. Dengan perlahan kamu menyentuh dagunya dan mengangkatnya hingga kamu bisa melihat mata indah itu, lalu bertanya
“ Apakah aku punya alasan untuk menyesalinya??”

Ia terdiam membalas tatapanmu dan dengan tegas menggelengkan kepala seraya berkata,
“ Tidak.”
“ lalu, maukah kamu menikah dengan ku?” pintamu sekali lagi padanya.

Disaat itu semburat merah diwajahnya kembali lagi. Namun kali ini ia tidak menghindar dari permintaanmu. Justru ia mengangguk dan berkata, “ Ya.. Aku mau..”

Dan kamu langsung memeluknya erat.
“ Terima kasih karena telah bersedia menikah dengan ku. Aku sangat bahagia “
“ begitu pula denganku..”
Sekuntum bunga lagi telah mekar ditaman senja itu. Mekar dengan menebarkan aroma kebahagiaan dari sebuah rasa yang begitu tulus. Sebuah hasrat yang dulu kamu yakini tidak pernah terbalas, sebuah hasrat yang dulu selalu kau hancur setiap ia mulai mekar ditaman hatimu.

Namun tidak seperti pertemuan pertama kalian yang diiringi dengan gerimis dan awan kelabu. Kini justru langit begitu cerah walaupun gerimis baru saja beranjak pergi. Tetesan gerimis masih meninggalkan bekas di rerumputan. Bergentung ditepi tepi daun yang masih basah. Tetesan sisa gerimis itu berpendar diterpa sinar jingga di senja itu. Dan disudut langit sana, pelangi terlukis begitu indah di kanvas Sang kuasa. Dan Aurora pun kembali bersinar menemani langit kutup bersama salju.
“Pelangi itu indah ya..” ujarnya sambil melepas pelukannya.
“ya.. indah. Tapi, taukah kamu apa yang lebih indah saat ini??” tanyamu
“ehmm.. apa itu?”
“ melihat indahnya Aurora dihadapanku yang orang lain hanya bisa melihatnya di kutup yang tertutupi salju abadi..” ujarmu sambil menatap kedalam matanya yang bening.

Ia hanya tersenyum menatapmu dalam diam. Lalu dengan perlahan wajahmu mendekat kewajahnya. Begitu perlahan. Menanti raeksinya terhadap apa yang kamu lakukan. Namun ketika jarak wajah mu semakin mendekat, ia menutup matanya. Disaat itulah kamu melihat keindahan dan kecantikan wajah gadismu dari dekat. Dan dengan hati berdesir, kamu pun menutup matamu. Merasakan setiap hela nafasnya.
Ciuman pertama itu pun terjadi. Begitu indah, begitu lembut, begitu manis. Semanis aroma bunga yang sedang bermekaran di sekitar kalian. Seindah warna warni kelopak bunga yang merayu kumbang. Selembut tetesan gerimis yang membasahi bunga bunga di taman ini. Taman Seribu Bunga.

‘Kamu lihat, bukan?? Aurora tidak hanya ada di langit kutup yang tertutupi salju. Tapi disini, ditempatku sekarang, Aurora itu lebih indah dan bersinar dibawah sinar jingga senja yang menawan. Tanpa salju, tanpa rasa dingin, tanpa kebekuan. Keindahannya berpendar dibawah sinar matahari yang memberikan kehangatan..’
PROFIL PENULIS
Seorang mahasiswi yang suka nulis apapun yang terlintas di pikirannya.semoga yang satu ini suka ya. silahkan beri komentar sbg sarana perbaikan diri dalam menulis.
facebook : Zantedeschia Annisa

Baca juga Cerpen Romantis yang lainnya.

Sabtu, 11 Agustus 2012

Cerpen Cinta Romantis - Mawar Putih

MAWAR PUTIH
Karya Mifta Resti

Entah sejak kapan awal mulanya aku mulai menyukai Deva, namun perasaan itu semakin lama semakin kuat. Tak seorangpun yang mengetahui rahasiaku ini selain diriku sendiri. Tapi sejujurnya, ingin aku menghapus namanya yang tertulis dihatiku, namun semakin berusaha mejauhkan pikiranku darinya semakin sulit pula untuk melupakannya.

Alasan mengapa aku ingin melupakan Deva, yang pertama aku memang belum diijinkan pacaran, selain itu karena ingin berfokus pada pelajaran, aku juga agak minder untuk menyukainya. Aku hanya siswa biasa yang prestasinya nggak menonjol dengan wajah yang pas-pasan, sedangkan Deva adalah salah satu cowok idola di sekolahku, dia juga menjabat sebagai pengurus OSIS. Banyak sekali cewek yang menyukainya bahkan ada yang terang-terangan bilang dia menyukainya. Dan yang jelas mereka lebih cantik dariku.
“Tet…tet……tet……” Suara bel mengagetkanku. 

Aduh……siapa sih, malam-malam bertamu.
Suara bel terdengar lagi. Akupun segera menuju ruang tamu.
“Maaf selamat malam…. Apa benar ini rumahnya Nadia?” Tanya tamu tersebut setelah ku bukakan pintu.
“Ya benar, saya Nadia. Maaf bapak siapa ya?” tanyaku pada bapak-bapak itu.
“Saya petugas pengirim bunga. Saya mau mengantar pesanan ini.”

Bapak itu menyerahkan mawar putih kepadaku.
“Dari siapa ya?” aku bingung.
“Maaf mba, disini tidak tertera pengirimnya.”
Setelah aku menandatangani bukti penerimaan bunga, bapak itupun segera pamit.
Mawar putih? Inikan bunga kesukaanku. Tapi siapa ya yang mengirim ini untukku? Apa mungkin penggemarku? Ah………tapi mana mungkin ada cowok yang menyukaiku.

Aku segera menutup pintu dan kembali ke kamarku.
“Cie…cie…. Dari siapa tuh….?” Tiba-tiba Kak Galan muncul dari dapur ketika aku akan masuk kamar.
“Kak Galan apaan sih… aku sendiri juga nggak tahu ini dari siapa.”
Aku langsung masuk kamar dan menyiapkan buku-buku pelajaran untuk besok.


Keesokan harinya aku berangkat sekolah agak pagi karena aku akan mengumpulkan tugas ke ruang guru.
Sesampai dikelas ternyata baru ada satu siswa yang sudah berangkat.
“Nggak biasanya jam segini udah sampai Dev?” Tanyaku setelah meletakkan tas di atas bangku.
“Iya nih. Aku berangkatnya kepagian.” Jawab Deva.
Aku cuma tersenyum mendengar jawaban Deva.
Setelah mengambil tugas dari dalam tas, aku segera menuju ruang guru untuk mengumpulkannya.
Huh… Kenapa setiap memandang wajah Deva hatiku selalu berdebar? Aku nggak mau memikirkannya lagi.
Oh iya, Deva itu sekelas sama aku. Dia termasuk siswa cerdas di kelasku dan secara kebetulan setiap ada tugas kelompok, aku selalu satu kelompok sama Deva. Itu pula yang membuatku semakin sulit melupakannya karena aku menjadi lebih sering berkomunikasi dengannya.

Sekembalinya dari ruang guru, ternyata sudah banyak siswa yang berangkat.
“Dari mana Nad?” Tanya Liana teman sebangku-ku setelah sampai di kelas.
“Dari ruang guru, mengumpulkan tugas Matematika.” Jawabku singkat.
Liana hanya ber “O…” panjang.

Tidak lama kemudian bel masuk berbunyi para siswapun masuk kelas dan duduk di bangku masing-masing.
“Selamat pagi anak-anak…..” Sapa Bu Dian guru Fisika saat memasuki kelas.
“Pagi Bu………” Jawab para siswa kompak.
“Ada PR kan? Sekarang tulis hasil pekerjaan kalian di papan tulis Siapa yang mau maju?” Tanya Bu Dian.
“Saya Bu…” Deva mengangkat tangan.
“Ya, Deva kamu tulis nomor satu. Dan yang lain nomor berikutnya.” Jelas Bu Dian lagi.
“Nad, Deva memang cowok sempurna ya…..” Bisik Liana di telingaku.
“Maksud kamu?” tanyaku basa-basi.
Sebenarnya aku telah menganggap Deva cowok sempurna dari dulu.
“Udah ganteng, nggak sombong, pintar pula.” Jelas Liana sambil berbisik.
Aku cuma nyengir. Ucapan Liana memang tak ada yang salah tentang Deva.


Setelah bel pulang sekolah berbunyi, aku tidak langsung pulang karena hari ini ada pelajaran tambahan kemudian dilanjutkan ikut ekskul Teater. Hari ini aku begitu lelah dan sampai dirumah sekitar jam empat sore.
“Nad, tunggu……” Panggil Kak Galan ketika aku mau masuk kamar.
“Ada apa kak? Aku capek nih……” tanyaku nggak semangat.
“Nih ada kiriman bunga lagi.” Kak Galan memberikan bunga (Mawar putih lagi). “O iya Nad…. Jangan lupa nasehat mama lho…”Sambungnya.
“Nasehat yang mana?” Aku nggak maksud omongan Kak Galan.
“Nasehat agar kamu……….nggak pacaran dulu……” Kak Galan tertawa.
“Iya…iya…aku ingat kok. Nggak usah meledek gitu dong…..”Gerutuku sebal dengan tingkah Kak Galan.
“Yah……kok gitu aja marah, nanti cepat tua lho….” Ledek Kak Galan.
“Suka-suka….!” Jawabku sambil masuk kamar.
Kira-kira mawar putih ini dari siapa ya?


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, namun aku belum merasa mengantuk, akhirnya aku memutuskan untuk ke kamar kak Galan.
“Kak……udah tidur belum?” Tanyaku sambil mengetuk pintu kamar Kak Galan.
“Belum, masuk aja.” Jawab Kak Galan.
“Cie…cie….lagi smsan sama siapa hayo…..” Ledekku saat melihat Kak Galan sedang sibuk menekan tombol-tombol di Hpnya.
“Ada deh, mau tahu aja…” Ucap Kak Galang sok misterius.
“Masa sama adik sendiri gitu….” Kataku cemberut.
“Iya deh, maaf…. Ngomong-ngomong ada apa malam-malam kesini?”
“Kak… Mama sama papa pulangnya kapan? Kok lama banget?”
“Katanya seminggu lagi. Itupun kalau pekerjaan papa sudah selesai.”

Mama memang sedang menemani papa yang sedang tugas diluar kota.
“Kak…. Aku mau minta saran sama Kakak…mau kan?” tanyaku pelan.
“Saran apa? Cowok ya? Ingat lho…kamu nggak boleh pacaran sampai lulus SMA.” Ledek Kak Galan.
“Kak, nggak ada kata lain apa selain bilang itu? Aku nggak lupa kok.”
“Iya deh, jangan marah dong… kamu mau minta saran apa?”
“Kak, bagaimana ya caranya supaya bisa melupakan orang yang kita sukai?”
“Gampang kok, ceburin aja dia ke laut. Beres kan?” Kak Galan nyengir.
“Ah…….. aku serius kak…..” Kataku sewot.
“Ya maksudnya itu kamu harus punya kesibukan, jadinya kan nggak ada waktu untuk mengingatnya….” Lagi-lagi Kak Galan nyengir.
“Ya udah deh……..” Aku keluar dari kamar Kak Galan.
Mungkin ada gunanya juga pendapat kak Galan.


Enam hari telah berlalu. Perlahan-lahan perasaanku mulai berkurang terhadap Deva, karena selama lima hari ini aku aku selalu melakukan aktivitas yang benar-benar bisa membuatku melupakan Deva termasuk diwaktu luang, kugunakan untuk main game agar tidak memikirkannya.
“Hai Nad…. sedang melamun ya?” seseorang duduk disampingku ketika Liana sedang keluar kelas.
“Nggak kok, ada apa Raf?” Tanyaku heran.
“Nanti siang kamu nggak ada acara kan pulang sekolah?” Rafi balik bertanya.
“Nggak ada, memangnya ada apa ya?”
“Nanti pulang sekolah ada yang mau bicara sama kamu, dia harap kamu tetap dikelas setelah bel pulang sekolah berbunyi.” Jawab Rafi sedikit berbisik.
“Memangnya siapa? Kenapa nggak bilang sekarang aja?” Nggak bosan-bosannya aku bertanya.
“Kamu akan tahu sendiri nanti. Ingat ya, jangan pulang dulu.” Rafi kembali ke bangkunya. Dia memang satu kelas denganku.
KIra-kira siapa ya yang menyuruh Rafi? Kenapa bukan orangnya langsung?

Bel pulang sekolah berbunyi………….
“Nad, pulang bareng yuk………” Ajak Liana.
“Kamu pulang dulu aja aku masih ada urusan.” Tolakku halus.
“Benar nih nggak mau aku tunggu?” Pancing Liana.
“Nggak perlu. Lagian sepertinya lama deh.” Jawabku sok tahu.
“Oke deh kalau begitu aku duluan ya, da…….” Liana melambaikan tangan sembari meninggalkanku.

Beberapa saat kemudian Rafi juga keluar kelas sambil menggendong tasnya.
“Raf, mau kemana?” panggilku.
“Mau pulanglah, masa mau nginep disini.” Jawab Rafi santai.
“Katanya ada yang mau bicara sama aku?” tanyaku.
“Kan bukan aku. Tapi dia….” Rafi menunjuk ke bangku pojok belakang.
“Dia……?” Tanyaku nggak percaya setelah melihat orang yang ditunjuk Rafi.
“Yups…” Rafi mengangguk. “Aku pulang dulu ya… hati-hati kalian berdua.” Rafi pun keluar kelas.
“Nad, sebelumnya aku maaf ya udah ganggu waktu kamu.” Kata orang tersebut sambil berjalan mendekatiku setelah kelas sepi. (tepatnya hanya kami berdua.).
“Nggak apa-apa kok. Tapi kamu mau bilang apa kok harus sekarang?”

Hening sejenak.
“Nad, kamu pernah dapat mawar putih?” Tanya-nya.
“Jadi…………” aku nggak percaya.
“Ya, memang aku yang mengirim bunga itu. Kamu suka mawar putih kan?” tebaknya.
“Terima kasih ya bunganya. Tapi kamu tahu dari mana?”
“Nggak penting kok. Oh ya Nad……… aku mau bilang…………”
“Ya………..?” kataku dengan nada bertanya.
“Kalau aku………aku suka kamu Nad.” Ucapannya berhenti.
“Dev, kamu bercanda kan?” aku merasa Deva sedang bercanda.
“Mungkin kamu sulit mempercayainya, tapi aku serius…. Nadia, apa kamu mau jadi bintangku?” Tanya Deva lirih.

Tuhan,mengapa ini terjadi?Apa aku mimpi? tapi tanganku sakit ketika kucubit. Mengapa Deva bilang ini disaat aku sedang berusaha melupakannya?
“Nadia………..” Deva menyadarkanku.
“E…..kenapa kamu bisa menyukaiku? Padahal masih banyak cewek yang tentunya lebih cantik dariku.” aku penasaran dengan jawabannya.
“Nad…. aku itu tidak pernah melihat seseorang dari luarnya, tapi hatinya. Aku perhatikan selama ini kamu tidak pernah berbuat yang dapat merugikan orang lain kamu juga selalu ramah kepada semua orang, dan kamu selalu membantu siapa saja yang membutuhkan bantuan.” Deva menjelaskan alasannya yang sulit kupercaya.
“Dev, apa kamu yakin kalau kamu menyukaiku?”

Deva mengangguk.” Bagaimana Nad? kamu bisa kan?” Deva sangat berharap
“Dev jujur aja, sebenarnya dari dulu aku juga suka sama kamu……tapi,”
“Tapi apa Nad? kamu mau terima aku kan?” Deva menatapku.

Aku hanya menunduk. Aku harap air mataku tidak menetes.
“Deva, aku minta maaf, tapi apa nggak sebaiknya kita seperti ini saja?” Jawabku hati-hati.
“Maksud kamu?” Deva seperti kehilangan harapan.
“Maaf kalau aku melukaimu, tapi ada beberapa alasan untuk aku tidak menjalin hubungan dulu…..” Aku tak berani memandang Deva.

Aku memang tidak akan menghianati kepercayaan mama supaya aku tidak pacaran dulu.
“Nadia, sebenarnya hanya kamu yang bisa menghapus luka hatiku setelah putus dengan cinta pertamaku, namun ternyata………” Deva tak mampu meneruskan kata-katanya.
“Aku nggak bermaksud menambah kamu terluka, aku cuma….” Kata-kataku terpotong karena jari Deva berada di bibirku.
“Oke….Aku ngerti kok. Aku yakin apa yang kamu lakukan pasti itu yang terbaik untukmu maupun untuk kita berdua, tapi kamu mau kan jadi teman dekatku yang selalu ada di saat suka maupun duka?”

Aku mengangguk pelan. “Aku akan berusaha menjadi teman terbaikmu.”
“Dev…… aku harap kamu merahasiakan kejadian ini ya…….” Pintaku.
“Apapun yang kamu minta, pasti aku turuti. Tenang aja, yang tahu tantang hal ini hanya aku, kamu dan Rafi.”
“Terima kasih ya……” Ucapku.

Deva menebarkan senyuman khasnya, namun aku tahu betul kalau dia sedang menutupi kesedihannya.
“Deva, sekali lagi aku minta maaf ya udah buat kamu kecewa….”

Aku jadi merasa bersalah udah mengecewakan orang yang begitu baik hatinya.
“Udah, jangan terlalu dipikirkan. Sudah siang, kita pulang bareng yuk....”
“Tapi kan kita beda jalur.” Aku berusaha menolak
“Nggak apa-apa, aku bawa motor kok.”
Akhirnya aku mengangguk
Tuhan…… semoga aku bisa melupakan Deva secepatnya. Terima kasih juga Engkau telah membuat aku dan Deva menjadi dekat.
 
The End

PROFIL PENULIS
Nama saya Mifta Resti, orang mahasiswi yang sedang belajar di dunia tulis-menulis. bisa dihubungi melalui http://www.facebook.com/Mifta.Resti

Baca juga Cerpen Romantis, Cerpen Cinta dan Cerpen Remaja yang lainnya.

Minggu, 05 Agustus 2012

Cerpen Persahabatan Romantis - Senyuman Terakhir

SENYUMAN TERAKHIR
Karya Gufran Algifari

Dengan nafas yang terengah-engah setelah mengendarai sepeda. Aku terhenti saat ku melihat dia, aku tak tau siapa dia. Wajahnya cukup cantik dan manis, aku singgah membeli segelas air untuk melepaskan dahaga yang melanda tenggorokanku.

Setelah beristirahat aku langsung menggayuh pedal sepeda untuk pulang ke rumah. Sesampai dirumah, kedua orang tuaku sedang pergi ke sebuah tempat yang aku tidak tau. Aku segera pergi mandi karena badanku sudah bermandi keringat. Setelah mandi aku memakai pakaian dan menuju taman yang tak jauh dari kompleks rumahku. Aku kaget si dia juga sedang berada ditaman. Tanpa pikir panjang aku langsung menghapirinya.
“Hai…..”, kataku

Dengan senyum aku menyapanya.
Tapi dia tidak merespon dan tetap saja membaca sebuah novel. Sekali lagi aku mengulangi sapaanku.

“Hai.. boleh kenalan gak?”.
“Iya ada apa?”, katanya sambil menatap novel yang dibacanya.
“Aku boleh gak kenalan? Namaku Zhaky”, sambil mengulurkan jemariku.

Dia langsung berdiri lalu meletakkan bukunya di atas kursi dan memberi tah u namanya.
“Namaku Tamara”, katanya dengan senyum.
“Kamu tinggal dimana?”, kataku.
“Aku tinggal di sebelah kiri toko buku dekat gerbang kompleks. Aku baru pindah kemarin.”
“Oooo…. Kamu anak baru yah?”.
“Memang kenapa?”.
“Tidak kenapa-kenapa kok”.
“Ayo aku temani jalan-jalan di taman ini. Lagi pula gak enak juga kalau suasananya begini-begini saja”, pintaku.
“Ok.. baiklah”, katanya dengan lembut.

Langkah demi langkah mengawali perkenalanku dengan si dia yaitu Tamara. Kami berjalan mengeliling taman, dari pada hanya terdiam lebih baik aku memulai pembicaran. Aku menanyakan banyak hal kepadanya. Dan kami selalu menyelingi pembicaraan kami dengan candaan yang cukup untuk mengocok perut hingga sakit.
Sekarang sang mentari akan kembali ke peraduannya. Kami berjalan pulang bersama karena arah rumah kami searah. Tamara berada di depan kompleks sedangkan rumahku ada di lorong kedua sebeleh kanan di kompleks tempat tinggalku. Sesampai di depan rumah Tamara kami berhenti dan menyempatkan diri untuk bercanda sebentar.

Suara teriakan Ibunya yang memanggil membuat kami berdua kaget.
“Tamara… Tamara… ayo cepat masuk, udah hampir malam nih!, teriak ibunya.
“Ya bu.. tunggu!, Zhaky aku duluan yah?”, katanya dengan senyum.
“Iya...”, kataku sembari membalas tersenyumnya.
“Kamu juga cepetan pulang, nanti di cariin sama Ibu kamu”.
“Ok… aku pulang yah.. dadah..!, sambil berjalan dan melambaikan tangan.

Di perjalanan, aku hanya bisa berkata “baru kali ini aku bisa cepat berkenalan dengan seorang gadis, apalagi gadis seperti Tamara”. Kini aku berjalan di antara jalan yang sepi dengan sedikit penerangan dari lampu jalan yang mulai redup dan di kerumuni serangga.

Sesampai di rumah aku di marahi oleh Ibuku.
“Kamu ke mana aja”?, bentak Ibu.
“Maaf Bu, aku tadi dari keliling taman”, kataku sambil menunduk.
“Lain kali jangan pulang telat lagi yah?”.
“ Iya Bu”, sembariku meninggalkan ibu di teras rumah.
***

Keesokan paginya aku bertemu dengan Tamara, ternyata aku sama sekolah dengan dia, kemarin aku lupa nanya sih. Aku langsung berlari menghapirinya.
“Tamara… Tamara…. tunggu aku!”, kataku sambil berlari.

Tamara berhenti dan memegang pundakku.
“Masih pagi-pagi kok dah keringatan kayak gini?, ini usap keringatmu!”, katanya sembari menyodorkan sapu tangannya.
“Iya nih, kamunya tuh. Kamu jalannya cepat amat” .
“Iya maaf”, kataya sambil tersenyum.
“Ayo buruan entar pintu gerbang di tutup”.

Sesampai di sekolah aku langsung ke kelas dan ternyata Tamara juga sekelas dengan aku. Dia duduk di sampingku, karena Dino teman aku baru pindah sekolah dua hari yang lalu. Tamara naik dan memperkenalkan dirinya ke teman-teman kelasku.
“Hai perkenalkan namaku Tamara Adelia, panggil aja aku Tamara. Aku baru pindah dari Makassar kemarin, semoga kita semua bisa menjadi teman yang akrab”.
“Ok….”, Teriak semua temanku.

Kini kami semakin dekat. Kami selalu bersama, kami duduk di depan kelas sembari bercerita tentang tugas sekolah.

“Kamu suka pelajaran apa?”, tanyaku.
“Aku paling suka pelajaran matematika”.
“Kenapa kamu suka pelajaran itu?, padahal pelajaran itu agak rumit dan memusingkan”.
“Karena aku suka aja dengan pelajaran itu, kalau kamu sukanya pelajaran apa?”.
“Aku paling suka dengan pelajaran bahasa Indonesia, yah pelajaran sastra”.
“Kenapa kamu suka pelajaran itu?, tanyaku.
“Seperti kamu tadi, aku suka aja dengan pelajaran itu. Aku sudah buat beberapa cerpen, mau baca?”, kataku sambil menyodorkan beberapa cerpen karyaku.
“Ini buatan kamu?, aku gak percaya”.
“Iyalah, ini buatan aku. Kamu baca yah dan berikan saran, ok?”.
“Ok…”, katanya sambil tersenyum.
***

“Tttttttteeettt….”, Bunyi bel menandakan kami akan melanjutkan ke pelajaran berikutnya. Tapi, guru yang mengajar tidak datang. Jadi aku dan Tamara bersama teman-teman yang lain hanya bercerita tentang hal-hal yang dapat mengocok perut.

Tak lama kemudian, kami pun pulang. Aku bersama Tamara dan temanku yang lain berjalan menuju pintu gerbang, menertawai hal yang tak patut ditertawai. Di perjalanan pulang Tamara berteriak, “Auuuuhh sakit, Zhaky bantu aku berdiri!” pintanya sambil meneteskan air matanya. kaki Tamara tersandung batu, dan kelihatannya kaki Tamara Terkilir.
“Sudah jangan nangis donk, pasti kamu akan sembuh kok”, kataku menyemangati.
“Iya Zhaky, tapi kaki aku sakit banget. Bantu aku berdiri donk!”, pintanya
“Auuuuhh…. Sakit!!”, katanya sambil merintih kesakitan.
“Sini biar aku gendong deh, gak apakan?” .
“Betul mau gendong aku, aku berat loh!”, katanya sambil tersenyum.
“sakit-sakit gini sempat aja ngelawak, sini naik cepat”.
“hehehe…. Aku beratkan?”, tanyanya, sambil tertawa.
“Gak kok..”, kataku sambil tersenyum.

Sesampai di depan rumah Tamara, Ibunya yang sedang membaca koran kaget saat melihat kedatanganku yang menggendong Tamara.
“Tamara, kamu gak apa-apakan nak?”.
“Gak apa-apa kok Bu”, kata Tamara.
“Kakinya terkilir tadi waktu jalan pulang tante”, kataku.
“Terima kasih yah nak ….”
“ Zhaky, tante!”, ucapku dengan maksud memperkenalkan diri.
“Iya terima kasih yah nak Zhaky”, katanya sambil tersenyum.
“Tamara, tante, Zhaky pulang dulu yah?”, kataku.
“Iyaa nak Zhaky, kapan-kapan main ke rumah yah?”, kata ibu Tamara.
“Baik tante”, kataku sambil tersenyum.
Sehabis menggendong Tamara punggungku rasanya ingin copot, benar juga kata Tamara badannya berat. Tapi, tidak apalah dari pada sahabat aku Tamara gak pulang ke rumah. Sesampai dirumah aku langsung melepas pakaian dan makan siang. Sesudah itu aku langsung tidur karena aku lelah banget udah gendong Tamara.
***

Keesokan paginya aku menunggu Tamara di depan rumahnya. Saat melihat dia keluar rumah, dia sudah bisa berjalan dengan baik. Aku kaget dan bengong melihatnya.
“Woii kamu kenapa bengong kayak gitu?”, tanyanya sambil mencubit pipiku.
“Akh gak apa kok!, eh kok cepat amat sembuhnya?”.
“Iyaa nih, semalam aku dibawa ke tukang urut, rasanya sakit amat waktu di urut”.
“Baguslah, daripada berjalan dengan pincang”, kataku sambil tersenyum.
Sampai di sekolah teman-teman ku berkumpul membicarakan sesuatu, aku dan Tamara bergegas ke sana dan mendengar apa yang di ceritakan teman-temanku itu.
“Teman-teman, besokkan kita libur bagaimana kalau kita liburan?”, kata Naila.
“Kita mau ke mana ?”, tanyaku memotong pembicaraan.
“Kita akan pergi liburan, baiknya kita ke mana?”, kata Denny.
“Bagaimana kalau kita pergi ke tempat rekreasi terkenal di kota ini!”, kata Tamara.
“Baiklah kita akan ke pantai Bira!”, kataku.

Tak sabar menunggu saat itu, aku menceritakan sedikit tentang pantai Bira kepada Tamara. Kami tidak memerhatikan penjelasan guru, akibat cerita kami yang semakin mengasyikkan. Tak lama kemudian bel istirahat pun berbunyi. Rasanya aku tidak ingin berpisah dengan Tamara walau sekejap saja. Tapi, mungkin itu cuman perasaanku saja. Kami berkeliling sekolah mencari hal-hal yang baru dan melupakan apa yang aku banyangkan tadi.

Tidak lama kemudian, bel kembali berbunyi kami berlari ke kelas. Kami berlari sambil tertawa dengan senangnya. Rasanya hal ini adalah hal yang terindah bagiku. Sesampai di kelas kami duduk dan menunggu guru. Tak lama kemudian, guru yang mengajar pun datang.

Aku merasa agak tidak enak badan. Tamara iseng mencubit pipiku dan Tamara kaget.
“Zhaky kamu gak apa-apa, kan?” tanyanya dengan khawatir.
“Aku gak apa-apa kok”, kataku dengan nada yang pelan.
“Kamu sakit dan aku harus antar kamu pulang!”, katanya sambil berjalan menuju guruku.
“Pak, Zhaky sakit”, katanya.
“Baiklah bawa dia pulang, kamu mau mengantarnya?” tanya pak guru.
“Iya pak aku bisa kok”, katanya.

Berhubung sudah hampir pulang Tamara memasukkan barang-barangku ke dalam tas
lalu dia juga membereskan barang-barangnya.
“Ayo aku antar kamu pulang”, katanya.

Tamara meminta izin mengantar aku pulang. Sambil memegang jemari-jemariku dan sesekali memegang keningku. Tamara selalu bertanya tentang keadaanku. Tapi, aku hanya bisa menjawabnya dengan kalimat, “Aku baik-baik saja kok, gak usah khawatir”.
Sesampai di rumah aku langsung di bawa Tamara ke kamarku sembari ibu mengomel-ngomeliku.
“Ini sebabnya kalau makan gak teratur”, katanya.
“Sudah tante, Zhaky ‘kan lagi sakit”, pinta Tamara ke Ibuku.
“Biarlah nak, biar dia tahu rasa”, kata Ibuku.
“Kalau begitu aku pulang dulu tante”.
“Nak nama kamu siapa?”.
“Nama aku Tamara, tante”.
“Terima kasih yah nak Tamara, udah bawa pulang anak tante ini”.
“Iya, sama-sama tante”, katanya.
Aku melihat senyuman indah dari Tamara saat akan keluar dari kamarku.
***

Keesokan paginya, rasanya badanku udah sehat. Aku bergegas menyiapkan barang yang akan ku bawa. Aku mandi dan sesudah itu berpakaian rapi dan langsung menuju rumah Tamara. Tapi, Tamara sudah berangkat duluan. Aku langsung ke sekolah. Sampai di sekolah aku melihat Tamara dan langsung menghampirinya.
“Zhaky, kamu udah sembuh?”, katanya.
“Iya.. aku udah sembuh kok”.
“Betul aku udah sembuh”, kataku sambil meraih tangannya dan meletakkannya di keningku.

Tak berapa lama kemudian, bus yang akan mengantar kami ke pantai Bira pun datang. Aku duduk di belakang bersama anak lelaki lainnya. Tamara berada di depan bersama teman wanitanya. Di perjalanan rasa gelisahku semakin tak menentu. Aku memiliki pirasat buruk dan naas tak berselang beberapa lama mobil yang aku tumpangi kecelakaan.

Aku merasa kepalaku sakit, saat ku pegang kepalaku mengeluarkan darah yang banyak. Tapi, yang ada di pikiranku sekarang adalah Tamara. Aku langsung berteriak dengan nada yang lemah. “Tamara.. kamu gak apa-apa, kan?”. Aku tak mendengar suaranya. Aku melihat teman-temanku terluka dan mengeluarkan banyak darah. Saat aku ke tempat duduk Tamara, aku melihat kepala Tamara mengeluarkan banyak darah. Rasa sakit yang aku rasa membuat aku pingsan.
“Zhaky, Zhaky, bangun nak, ibu di sini”, kata ibuku sambil menangis.

Mendengar suara itu, aku terbangun. Aku sekarang berada di rumah sakit, aku kaget dan berteriak.
“Dimana Tamara Bu? Tamara baik-baik sajakan Bu?”.

Ibu hanya terdiam sambil menatap ayah.
“Ibu apa yang terjadi?”, aku mulai meneteskan air mata.
“Maaf nak, kini Tamara sudah berada di tempat lain”, dengan nada yang pelan ibu memberitahuku.
“Jadi maksud ibu?”.
“Iya Nak, Tamara telah meninggal akibat kecelakaan itu”, kata ibu sembari memelukku.

Aku terduduk di ranjang dan dipeluk ibu sambil menangis dengan keras dan berkata “ kenapa dia terlalu cepat meninggalkan aku Bu?”. Aku terdiam dan mengingat saat aku sakit, dia memberiku senyuman yang kuanggap indah itu dan menjadi senyuman terakhir darinya. (SELESAI )

PROFIL PENULIS
Nama : Gufran Algifari
Alamat facebook : gufranalgifari@ymail.com
Twitter : @Gupe81
Pin BB ? just ask via twitter

Baca juga Cerpen Persahabatan dan Cerpen Romantis yang lainnya.