Sabtu, 28 April 2012

Cerpen Cinta " Aku dan Teman Manusiaku"

AKU DAN TEMAN MANUSIAKU
Cerpen Saraswati

Harusnya aq bahagia , betapapun tidak hidupqu sempurna aq memiliki segalanya sekarang dikehidupan keduaku… tapi apa yg membuatku tidak pernah puas ??

Yaa aq sudah mati dan terjebak didunia yang menyebalkan ini…
“ ayolah Daniel… kau harus jadi penerusku mulai sekarang kau harus giat berlatih..” ucap ayah yang melihatku melambatkan gerakan-gerakan yang seharusnya kulakukan.
“ lagipula untuk apa aq memepelajari ini semua aq sudah mati dan tak ada yang harus kulindungi bukan ? “ jawabku ketus.

Ayah kemudian berbalik dan memegang bahuku “ suatu saat nanti kau akan membutuhkannya untuk melindungi orang yg kau sayangi “ katanya sambil berlalu


Hari-hariku berlalu membosankan aq hanya mengatur jadwal dan mengatur semua orang" khayalan ini… kalau dipikir-pikir seharusnya aq sudah gila saja.
“ sepertinya kau senang sekali 477 “ sebuah suara asing yg kukenal berkata, aq segera membalikan tubuh menatapnya.. ya menatap adik kandungku
“ sudah kubilang jangan panggil aku begitu… “ jawabku kesal
“ kenapa itu kan kata sandimu sebagai pemimpin baru disini sepertinya kau hebat sekali dapat merebut perhatian ayah “ protesnya panjang lebar. Aq berjalan menjauhinya beberapa langkah dan membelakanginya sambil menatap langit pagi
” dengar ya adik kecilku david atau kau mau kupanggil 486 aq tidak pernah mengharapkan ini semua , bahkan aq berharap mati daripada harus terjebak didunia bodoh ini… kau ingin perhatian ayah dan menjadi pemimpin ambil saja jika kau mau “ ucapku sambil berlalu meninggalkannya.

Iya mulai sekarang aq tinggal di dunia khayalan atau bisa kalian sebut sebuah dongeng bodoh dan aq tinggal disebuah kereta biru dimana aq menjadi ruh yang menempati kereta tersebut.. yaa kereta bernomor 477

Aku tidak pernah tau bahwa orang yang sudah mati sepertiku masih bisa jatuh CINTA

Suatu hari ditempat peristirahatan dibogor
" heii kau 477 kan ? " panggil sebuah suara asing yang mengusik sendirianku disiang hari yang tenang, aq menoleh dan mendapati 3 orang bertubuh besar yang bergaya cukup aneh menurutku. postur mereka cukup unik seperti tangga yang tingginya tidak sepadan.
" ya mau apa memangnya ? " jawabku agak acuh.
" yang benar saja masa ketua memilih bocah ingusan ini untuk menjadi pemimpin kita " ucap salah satu dari mereka yang paling tinggi dan besar. dua orang teman-temannya tertawa keras, ya sebuah tawa ejekan yang membuat kerongkonganku hampir terbakar karena kesal.
" lalu mau apa kalian ?" jawabku berusaha tenang
" heiii rupanya kau sombong juga ya " dengan seketika orang yang paling tinggi menarik kerah bajuku tinggi" dan yang lainnya bersiap siaga seakan ingin memangsaku.

Dan ketika yang paling pendek meluncurkan pukulannya kearah wajahku seseorang menahan tangannya. seseorang yang lagi" tak kukenal kali ini postur tubuhnya lebih tinggi dan besar daripada orang yang menarik lengan bajuku.
" dia dibawah kuasaku jangan macam" kalian dengannya " ucapnya tajam, seketika 3 orang itu panik dan segera meminta maaf dan pergi begitu saja. dan orang itu menaptaku dengan seksama, sepertinya sedang menilaiku.
" berapa umurmu ? " tanyanya yang menurutku itu pertanyaan aneh.
" 11 tahun " jawabku asal. ya bagaimana orang yang sudah mati dapat mengingat umurnya dengan baik.
" ok 477 aq pelatihmu mulai sekarang.. panggil aq ka andre " ucapnya tiba" sambil mendorong tubuhku dan menyuruhku berjalan.
" pelatih apanya? " tanyaku bingung.
" pelatihmu untuk bertarung " jawabnya dengan nada semangat.

Berhari-hari bahkan berbulan aq sudah mulai terbiasa dilatih oleh dirinya , ya dia orang yang baik dan cukup menyenangkan dan mungkin juga menjadi orang yang kusegani. namun aq tetap saja merasa bosan dengan kehidupanku yang sekarang.

Lalu kuputuskan untuk melihat sekolah-sekolah disekitar stasiun yang kusuka stasiun yang pertama adalah tanah abang ya dengan kemampuanku memakai pikiran untuk pergi ketempat manapun yang aq suka, sekolah disana cukup menyenangkan, anak-anaknya layaknya anak-anak seusiaku yang masih suka bermain. aq melihat mereka belajar setiap hari sambil ikut menyimak pelajaran.
 
Setelah itu aq mengunjungi stasiun palmerah yaitu sekolah yang tak jauh dari stasiun itu sendiri.

Aku lagi-lagi melihat anak-anak yang masih suka bermain namun ada seorang anak perempuan yang menarik perhatianku

Anak perempuan yang tergolong egois dan senang marah-marah , terkadang lucu juga melihat wajah cemberutnya dan melihatnya jengkel ataupun menangis. bukan hanya disekolah aq mempunyai hobby baru dengan mengikutinya pulang kerumahnya yang tidak jauh dari letak sekolah tersebut.

Dia anak yang lebih ceria dirumah dan tergolong nakal untuk anak perpempuan sepertinya. terkadang ada rasa aq ingin bermain dengannya. namun dia tidak dapat melihatku, bagai angin yang berhembus aq selalu mengikuti hari-harinya. yaa anak kecil bernama saras yang mungkin kucintai

Berita bodoh yang menyenangkan
Aku duduk terdiam ditempat peristirahatan dimanggarai dan menatap langit malam yang begitu indah dan sunyi.
" 477 " sseorang lagi" mengusik ketenanganku.
" mau apa kau ? " tanyaku yang menyadari bahwa itu adalah adikku
" aq punya berita bagus untukmu " ucapnya yang sepertinya agak menggoda
" apa ? " tanyaku yang tak terlalu perduli
" anak perempuan yang kau sukai pindah rumah disekitar stasiun sudimara... dan kau tau tidak ??
dia dapat berkomunikasi denganku " ucapnya yang membuatku melompat dan tekejut setengah mati

Pertemuan singkat
Aku mulai suka bertugas aq ingin sekali bertemu dengan dia ya dengan anak yang kusukai itu. kebetulan dia sekolah siang hari aq bertugas sekitar jam 10 pagi ketika keberangkatannya kesekolah
" haiii " sapaku ketika ia mulai melangkahkan kakinya ke arahku ya kearah kereta yang kutinggali
" haii " jawabnya tanpa senyum aq mengerti dia lebih dahulu bertemu dengan adiku daripada diriku.
" kau kenal dengan 486 kereta berwarna orens ?" tanyaku agak kaku
" yaa tentu saja aq kenal dengan kereta yang baru saja kunaiki semalam " jawabanya, aq melihat sedikit senyum diwajahnya entah apa yang kurasakan aq merasa paru-paruku menjadi hangat dan sekelebat rasa senang yang tak bisa kujelaskan.
" kau ingin berteman denganku ? " tanyaku memberanikan diri.
" tentu saja dengan senang hati " jawabnya sambil tersenyum.

Hari-hariku mulai berwarna setidaknya berwarna karena ada dirirnya, sampai suatu hari aq mulai memberanikan diri menyatakan perasaanku
" saras..." panggilku ragu ditengah perjalanan
" yaa ? " jawabnya
" kau mau menjadi pacarku ? " tanyaku lagi dengan suara agak pelan. tidak ada jawaban hening sepertinya dia sedang berpikir
" tentu " jawabnya akhirnya . jika saja aq dapat mengatakan bahwa ini adalah keberuntungan maka aq akan lebih senag mengatakan ini adalah takdirku, hubungan kami berjalan baik walaupun aq sering sekali bertengkar dengannya namun aq terlalu takut kehilangannya, bahkan aq sangat amat takut.

Sampai suatu hari aq mendenagar kabar bahwa PT PJKA akan memindakan kereta biru yang kutinggali ke daerah bogor, hatiku remuk aq merasa kosong karena aq tak dapat bertemu lagi dengannya. namun aq masih sering mengunjunginya dengan pikiranku dan walaupun ia tak dapat melihatku aq dapat melihat tangisannya dan rasa kesepiannya setiap ia meranjakan kaki kestasiun.

5 tahun berlalu suatu hari kulihat ia mendaftarkan sekolah di smk di daerah jakarta barat letaknya di sekolah ibu pertiwi melihatnya meranjak dewasa adalah suatu hal yang membahagiakaan untukku.

Aku bahkan tau ia masih mencintaiku, ya aq tau dari sikap dinginnya ke lawan jenisnya.
Namun suatu malam aq tertarik masuk kedalam dirinya sehingga aq sekarang dapat berkomunikasi dengan dirinya betapa bahagianya aq... aq meninggalkan kehidupan keretaku aq memilih tinggal dalam dirinya dan terus menjaganya sampai kapanpun... ya karena aq sangat mencintai teman manusiaku ini...

Suatu hari kulihat ia berteman dekat dengan seorang teman lelakinya ia kelihatan begitu dekat sehingga aq menjadi sangat marah bahkan terkadang sedih .sedih rasanya mengetahui bahwa posisiku sekarng terancam namun aq tak dapat berbuat apa"

Suatu hari aq mengatakan suatu hal yang mungkin belum pernah kukatakan sebelumnya
" ras berjanjilah suatu hari padaku bahwa kau akan menikah suatu hari nanti " ucapku pelan

Lalu wajahnya kelihatan panik ia kemudian menangis tersedu menolak dan mengatakan takan pernah menepati janjinya.
" kau manusia aq bukan... kau harus tau bahwa itu dosa bukan... kau wajib menikah" kataku lagi

Lalu kemudian ia mengangguk dan menangis lagi
" berjanjilah padaku kau akan trus bersamaku sampai tiba waktunya aq menikah " ucapnya sedih

Aku tersenyum setuju.
firasatku benar ia berpacaran dengan seorang lelaki yang menjadi kaka-kakaanya sebelumnya dan tetap berjalan sampai sekarang.

Terakhir aq tersenyum sebelum kepergianku
" ketahuilah ras aq sangat mencintaimu sampai kapanpun bahkan jika kau membenciku sekalipun, aq adalah yang pertama marah jika kau terluka, aq yang paling merasa tidak berguna jika kau dalam bahaya lalu aq tak dapat berbuat apa" , aq iri sekali dengan kekasihmu, aq ingin sekali menyentuhmu walau sekali dalam seumur hidupku, aq ingin disampingmu selalu walau hanya sebagai hembusan angin... hal yang paling kusukai adalah ketika kau memanggilku 477 dan kau mengatakan (aq ingin melihatmu 477 melihat sosok sejatimu walau hanya sedetik saja) "

Aku selalu mencintaimu walau kau tak pernah tau
( diangkat dari kisah sesungguhnya)

Terimakasih untuk adan bondan yang telah menjaganya , dan sahabat-sahabat saras yang selalu ada disampingnya
Asmi sari murni
Fitri andrianingsih
Nurlita sari
Shahnaz reflian
Debby chalista
Terimakasih pula untuk adik kesayanganku 486

PROFIL PENULIS
Nama : Saraswati
Tentang : aku menulis cerpen ini berdasarkan kisah nyata yang kualami sendiri dan cerpen membuatku merasa hidup

Baca juga Cerpen Cinta yang lainnya.

Cerpen Ibu "NISAN"

NISAN
Cerpen Mila Minhatul Maula

Aku tahu, kini aku sering memikirkannya. Bayangan-bayangan kesalahan masalalu terus menghantuiku. Memenuhi seluruh kapasitas memory otakku tanpa sedikit celahpun yang tersisa. Meski aku telah mencoba menghapus semua rasa bersalah dengan deraian air mata tanpa henti, itu percuma!!. Karena yang aku lihat kini hanyalah sebongkah batu nisan putih diatas gundukan tanah yang bertuliskan nama ibuku.
“harusnya, aku dulu mendengarkan semua ucapmu bunda.?!!”. penyesalanku kini harus terwakili oleh rangkaian kata yang tak berarti lagi.

Perlahan-lahan, otakku memutar memory masalaluku yang kelam, bayangan wajah ibu yang tersenyum tulus terpampang jelas di depan indera penglihatanku, memberikan senyum merekah tulus dan kasih sucinya, tapi hanya kubalas dengan nada kasar yang terlampau tinggi, lalu aku meninggalkannya bersama butiran-butiran bening yang menghiasi kedua sudut matanya. Aku berlalu membawa seluruh barang-barangku tanpa bekal do’a dan izin darinya. Menuruti semua ego yang mudah terbakar, mencari kebebasan di dunia luar bersama teman-teman, tanpa tersadar kalau itu hari terakhir aku bisa menatap lekat wajah sosok ibu tua yang sudah mulai kusut karena perjuangannya membesarkanku selama ini, tapi aku tak menghiraukan isak tangisnya, bahkan aku hempaskan genggaman tangannya yang lemah.

Bayangan itu masih terekam jelas, menyakitkan!!. Wajah tuanya begitu tulus, menggambarkan semua pengorbanan yang tak pernah kusadari saat itu, hanya tuntutan, remehan dan semua hal buruk yang aku berikan padanya, tanpa membuktikan dan membuatnya bangga dengan keberadaanku.
“menangis lagi, eh?” aku tersentak kaget, terbangun dari semua bayangan-bayagan masalalu yang terus meghujam batinku, ketika seseorang menepuk pundakku pelan. “lupakan saja semuanya, ibumu pasti sudah memaafkanmu”. Lanjutnya.

Aku menghela nafas dan menatap sosok laki-laki yang mebuatku kaget dengan sesekali mengusap air mataku. Kacamata setebal piring kini menghilang, berganti dengan lensa berwarna biru menyala yang menyilaukan. Dia tampak lebih dewasa dari yang dulu aku kenal. “rasyid” ucapku dalam hati. Perlahan-lahan dia duduk di sampingku dengan menaburkan bunga di atas makam ibuku.
“semua sudah terjadi tha” ucapnya. Kali ini dengan menuangkan air ke atas makam ibuku.
“tapi ini nggak adil?!!”nada bicaraku kelewat keras, dan ekspresiku nyaris seperti anak kecil yang merengek berebut mainan. Air mata terus menggenangi pipiku.

Dia menatapku dalam, hatiku seperti luluh dan bulir-bulir air mata kembali memenuhi mataku yang sudah bengkak dan memerah karena kesedihan. Sesegera mungkin tanganya yang legam meraih tubuhku dan menyandarkan kepalaku ke atas bahunya.
“mytha, dengerin aku, semua sudah terjadi!! Penyesalanmu nggak akan mengulang waktu” ucapnya menenangkanku yang seakan-akan, kini sedang terdampar di pulau penyesalan yang berkabut hitam. “yang harus kamu lakukan hanyalah, buat Ibumu disana bangga”.tambahnya. aku semakin terisak-isak menyesali semua salahku.” Buat dia bangga, dan buktikan kalau kamu sudah berubah” ucapnya lagi.

Perlahan-lahan, kuangkat kepalaku, ketika kulihat sosok berjubah putih berdiri menatapku dari sudut area pemakaman, wajahnya yang keriput kini berubah mencerah, secerah kasih sayangnya yang tanpa henti untukku selama ini. Senyum manis yang kurindukan, kini terlihat menghiasi wajahnya, mungkin dia ibuku.

Dia tersenyum bangga, karena baru saja melihat drama penyesalan yang sangat. Tapi lambat laun, sosok itu kabur, menjauh dan terus menjauh. Dibiaskan oleh cahaya mentari yang semakin terik dan bayangan itu hilang.

Ada sedikit rasa lega yang menghampiriku, menumbuhkan tekad dan janjiku untuk berubah menjadi lebih baik. Hari ini, besok dan selamanya.” Aku janji bu, selamat hari ibu bunda..”ucapku lirih tak terasa tetesan terakhir air mataku jatuh. Meski ibuku kini sudah tiada, tapi aku percaya kau mendengarku bunda. Sebuah kata penutup yang mengiringi hilangnya bayangan sosok yang ku kasihi.

Aku memang nggak bisa mengulang waktu yang telah berlalu, tapi aku masih punya kesempatan untuk memperbaiki hari esok dan kedepan. nggak ada kata terlambat untuk berubah.

Rasyid kembali meraih tanganku dan mengajakku pulang. Tanpa banyak kata, ku ikuti langkah kakinya kakiku terus melangkah menjauhi tempat peristirahatan terahir ibuku, tapi hatiku sedikit lega karena bisa melihatnya tersenyum, meski hanya sebuah bayangan, tapi aku percaya itu.

PROFIL PENULIS
Aku Mila MInhatul Maula,
Aku lahir di Nganjuk 15 Mei 1994.dan tinggal di Nganjuk pastinya.
Aku masih sekolah di MAN Nganjuk kelas XII.menulis adalah salah satu hobbyku.
FB:Meyla Fasya
@mail:azzuraimoet@ymail.com

Baca juga Cerpen Pendidikan, Cerpen Sedih dan Cerpen Ibu yang lainnya.

Cerpen Sedih "Merindukanmu"

MERINDUKANMU
Cerpen Revalia
Hujan deras mengguyur daerahku waktu itu. Bersama kakak sepupuku yang menemani. Sementara kedua orang tuaku sedang bekerja. Aku mempunyai banyak saudara sepupu. Tapi diantara mereka, hanya Mas Rangga lah yang paling aku sayang. Aku sudah menganggapnya sebagai kakak kandungku sendiri. Setiap aku sendirian di rumah, mas Ranggalah yang menemaniku. Dengan gurauan-gurauan ciptaannya selalu membuatku tertawa meskipun sama sekali tak ada yang lucu dari gurauan-gurauannya. Mungkin aku tertawa karena melihat usahanya membuatku tertawa.
“Gak lucu aah.. masak gitu ngelawaknya. Coba bikinn aku ketawa.” Kataku. “cara bikin kamu ketawa cuman satu.” Kata mas Rangga. “Apa?” “Gini caranya.” Jawabnya lalu menggelitikku. “Aaa.. curang nih, ya gak boleh pake cara itu.” protesku dengan menahan tawa. “terserah aku dong. Yang penting kan bisa ketawa.” Jawabnya mengelak.


Tiba-tiba, “AAAARGH… Sakit… sakit banget dek… tolongin mas..” mas Rangga kesakitan. Entah apa yang terjadi padanya. Mas Rangga kesakitan, sangat kesakitan. Mas Rangga terus memegangi kepalanya yang sakit. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan waktu itu. aku masih terlalu kecil. Aku pun mengambil HP yang ada di saku mas Rangga dan mencoba menghubungi budhe. “Assalamualaikum. Budhe, tolongin mas Rangga, mas Rangga kesakitan. Kepalanya mas Rangga sakit. Cepet ke sini budhe.” “Ada apa sih nduk?? Tenang dulu. Pelan-pelan ngomongnya. Ada apa?? Mas Rangga kenapa??” Tanya budhe mencoba menenangkan. “Mas Rangga kesakitan budhe. Budhe cepet ke sini. Di sini nggak ada orang.” “Iya, iya. Budhe ke sana sama pakdhe.” Saat itu aku sangat takut, sangat cemas dan ketakutan. aku tidak tahu mengapa aku bisa setakut itu. Seolah-olah aku mengrti apa yang sedang terjadi. Padahal aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi dengan mas Rangga.


Ketika di rumah sakit, aku hanya menunggu dengan cemas di pangkuan Pakdhe. Selang beberapa saat, dokter datang. Tapi saat aku sudah tertidur pulas di pangkuan Pakdhe.

Keesokan harinya, ketika kubuka mataku, ternyata aku sudah berada di kamarku yang nyaman. Saat itu pula aku melihat sosok yang sangat kukenal berada di sampingku sedang tersenyum padaku. “Hei, sudah bangun kamu dek? Gimana tidurnya? Nyenyak?” tanya Mas Rangga ketika aku menyadari kehadirannya. Aku segera bangun dan segera memeluk mas Rangga dengan erat seolah tak mau melepasnya. Tak terasa air mataku pun menetes. “Loh, kok nangis sih?” tanya mas Rangga. “Mas Rangga kemarin kenapa? Aku takut.” Jawabku terisak. “Mas nggak apa-apa kok. Adek nggak usah khawatir.” Kata mas Rangga menenangkan. “Aku sayang mas Rangga. Aku nggak mau ngeliat mas Rangga kayak gitu lagi. Aku nggak mau melihat mas Rangga kesakitan kayak kemarin.” Aku masih menangis, semakin keras. “Udah dong jangan nangis yah, mas janji nggak bakal kayak gitu lagi. Tapi kamu harus berhenti nangis dulu. Kalau kamu masiih nangis mas nanti sakit lagi loh. Jangan nangis yah.” Kata mas Rangga. “Iya mas, adek janji nggak nangis lagi.” Kataku sambil menghapus air mataku. “Iya, kamu mandi dulu gih. Bau tau.” Goda mas Rangga.

Setelah selesai mandi, aku segera pergi ke rumah mas Rangga yang hanya berjarak kurang dari sepuluh langkah dari rumahku. Setibanya di sana, aku segera masuk ke kamar mas Rangga di lantai atas, tapi tak seorangpun kutemui. Sementara itu di kamar Budhe, “Kenapa harus kamu? Kenapa bukan mama saja yang terkena penyakit itu. Mama rela kalau mama yang memiliki penyakit itu. Mama sudah tua, sementara kamu, masih sangat muda, masa depanmu masih sangat panjang.” Kata Budhe dengan menangis, kemudian memeluk mas Rangga. “Udah dong ma. Semua yang hidup pasti akan meninggal. Termasuk Rangga ma.” Kata mas Rangga menenangkan. “Tapi nggak secepat ini Rangga. Mama masih ingin sama kamu, mama ingin melihat kamu sukses dan bahagia.” Kata Budhe, saat itu Pakdhe tak bisa berkata apa-apa. 

Mas Rangga adalah anak satu-satunya, sekaligus anak kesayangan Pakdhe. “Jangan beritahu ke adek tentang ini ya, aku nggak mau melihat adek sedih.” Kata mas Rangga, di saat itu aku datang. “Assalamualaikum, tadi adek cariin dimana-mana nggak ada ternyata pada di sini.” Kataku mengagetkan mereka, segera mungkin mereka menghapus air mata yang ada di pipi mereka. “Waalaikumsalam. eh, ada adek. Sini dek.” Kata mas Rangga. Aku menghampiri mas Rangga, kemudian ia memelukku dengan menangis. “Loh, mas Rangga kok nangis? Kenapa?” tanyaku dengan polos. “Nggak apa-apa kok dek. Mas Rangga Cuma seneng adek ada di sini.” Jawab mas Rangga. Mas Rannga melepas pelukannya. “Mas, maen yuk.” Ajakku. “Iya. Ayo, mau main apa?” tanya mas Rangga.

Minggu demi minggu kulewati bersama mas Rangga, aku tak ingin berpisah dengannya walaupun hanya beberapa jam saja. Aku ingin selalu bersamanya seolah merasa waktu itu adalah saat-saat terakhirku bersama mas Rangga.

Suatu hari, aku melihat pakdhe sangat panik dan tergesa-gesa menuju garasi mobil. Sesaat kemudian mobil pakdhe malaju di tengah derasnya hujan. Terlihat samar-samar dua penumpang di kursi belakang. Mungkin itu budhe dan mas Rangga. Mereka pergi tanpaku. Aku sendirian di rumah. Hatiku resah, aku merasa seolah sesuatu yang buruk akan terjadi pada mas Rangga. Aku mulai menangis. Suara mobil ayah menghentikan tangisku, aku berlari menuju teras rumah, kemudian memeluk ayah. “Ayah mas Rangga tadi kemana? Ayo kita susul. Aku takut.” Kataku sambil menangis di pelukan ayah. Kami pun pergi menyusul mas Rangga.

Ternyata tempat yang kami tuju adalah rumah sakit. “Yah, ini kan rumah sakit. Kita kok ke sini?” tanyaku heran. “Mas Rangga ada di dalam kok dek.” Jawab ayah. Sesampainya di dalam. Aku melihat pakdhe dan budhe panik. Budhe sedang menangis. Aku semakin resah aku takut sesuatu yang buruk terjadi pada mas Rangga. Kami hanya bisa berdoa, berdoa dan menunggu. Empat puluh menit berlalu, tak seorangpun keluar dari ruangan tempat mas Rangga berbaring lemah. Kami sangat khawatir. Saking lamanya aku tertidur di pangkuan ayah.

Ketika aku terbangun, aku sudah berada di kamar ku. Seperti biasa, mas Rangga sudah berada di sampingku. “Selamat pagi adek. Gimana tidurnya? Nyenyak?” Tanya mas Rangga. Aku hanya terdiam. “Dek, dengerin mas ya, mas mau pergi, mas perginya lama banget, dan nggak bisa ketemu adek lagi. Adek jaga diri yah. Mas nitip pakdhe sama budhe.” Kata mas Rangga. “Loh, emang mas Rangga mau kemana? Aku ikut mas. Aku nggak mau ditinggalin mas Rangga. Aku mau sama mas Rangga.” Aku mulai menangis, aku menghampiri mas Rangga dan ingin memeluknya. Tapi mas Rangga tidak membiarkanku memeluknya. “Kamu harus ingat dek, mas Rangga sayang sama adek. Selamat tinggal.” Mas Rangga menjauh. “Mas Rangga. Jangan pergi, jangan tinggalin adek. Mas Rangga berhenti. Mas Rangga.” Aku berteriak semakin keras. Akupun terbangun, aku lega aku hanya bermimpi. “Alhamdulillah, itu cuma mimpi. Nggak mungkin mas Rangga ninggalin aku. Mas Rangga, aku harus nemuin mas Rangga.” Aku berlari menuju rumah mas Rangga. Di depan rumah, banyak orang di sana ada para tetangga, saudara jauh, saudara dekat, teman-teman mas Rangga dan masih banyak lagi. 

Ibu melihatku lalu kemudian menghampiriku, kemudian memelukku. “Ada apa Bu? Kok ada rame banget di rumah mas Rangga. Mas Rangga ada di rumah kan Bu?” tanyaku. “Yang sabar ya dek” aku tak mengerti maksud dari kalimat yang diucapkan ibu. Aku berlari mesuk ke rumah. Menghampiri budhe yang sedang menangis. “Budhe, mas Rangga mana?” tanyaku. budhe tidak menjawab, dan masih menangis. Kuulang pertanyaan yang sama. “Budhe, mas Rangga mana?” kemudian budhe memelukku. “Mana mas Rangga, aku mau ketemu sama mas Rangga. Bawa sini mas Rangganya.” Aku mulai menangis, semakin lama semakin keras. Aku histeris beteriak-teriak memanggil nama mas Rangga.

Di hari itu aku hanya bisa menangis, menangis dan menangis. aku terpukul, meskipun aku masih sangat kecil, aku mengerti. Aku mengerti semua yang terjadi waktu itu. Tentang sakit itu, rahasia itu, dan mimpi itu. Hari ini, tepat tanggal 23 April 2011. Di hari yang seharusnya menjadi hari bahagiamu. Di sertai gerimis hujan, kami lantunkan doa-doa untukmu. Semoga mas Rangga bahagia di sana. Aku sangat merindukanmu mas. Mas Rangga juga masih menjadi kakak kesayanganku. Aku sayang mas Rangga.

PROFIL PENULIS
Nama : Ravelia
Alamat : Mojokerto
Sekolah : SMAN 1 Sooko
Add FB : kakaa rizkie nimiclanisme

Baca juga Cerpen Sedih yang lainnya

Cerpen Cinta "Perjalanan Cinta Jesicca"

PERJALAN CINTA JESICCA
Cerpen Desy Permata Sari

Suatu hari jesicca harus pindah ke jakarta karena ayah nya bekerja di jakarta.Asal tempat tinggal jesicca adalah di Medan.Saat jesicca mau pindah ke jakarta itu sanagt berat karena dia harus meninggalkan teman" nya yang d Medan itu.Tetapi,jesicca tetap harus pergi.

Setelah jesicca tinggal 1 bulan di jakarta dia sudah mulai betah karena dia melanjutkan sekolahnya di sekolah W.R.Supratman.Di sekolah tersebut dia mepunyai banyak teman yang baik.Itulah yang membuat jesicca betah di jakarta.Setelah setahun di jakarta jesicca sudah bisa enjoy hidup di jakarta.Dan dia sangat banyak aktivitas di sekolah nya itu.Salah satu nya adalah basket.Di basket jesicca juga punya teman lagi.Karena basket jesicca bisa dekat dengan adik kelas maupun kakak kelas sehingga dia bisa mendapatkan pacar.Karena pacar nya itu juga anak basket.

Pada awal mulanya jesicca tidak kenal dengan cowok tersebut.Nama cowok itu adalah David.Jesicca mulai dekat dengan dia dan tau namanya semenjak david sering isengin jesicca.Awalnya jesicca sangat kesal karena di isengin david terus menerus.Sampai suatu hari saat jesicca sedang peljaran olahraga David di hukum guru karena melakukan kesalahan.David pun di suruh lari lapangan.Sedangkan jesicca yang tidak peduli sedang asyik ngobrol sama teman nya yang bernama Dian.
"Jes,David liatin loe terus tuh."lede Dian
"akh,bodaoh amet,gak peduli"jawab jesicca dengan cuek.
"yakin bodoh??jangan" dia suka ama loe."ledek DIan lagi.
"gak mungkin lha.Kenal aja gak"langsungg di jawab jesicca dengan cepat. setelah sebulan David tiba" mulai deketin jesicca dan mulai saat itu dia juga tidak pernah isengin Jesicca lagi.Lalu saat malam David tiba" sms jesicca dan mulai itu jesicca juga mulai dekat dengan David.Dan pas tanggal 3 april David menembak jesicca dan tanpa di pikir jesicca langsung menerima karena jesicca juga udah mulai suka dengan David karena David orang nya asyik.

Hubungan mereka pun berjalan sudah setengah tahun.Hubungan mereka pun baik'' saja.David juga berjanji akan selalu setia dengan jesicca.Dan itu di buktikan David sehingga mereka pun pacaran hingga 1 tahun.Dan saat itu adalah saat naik kelas.Jesicaa sangat sedih karena dia harus pisah sekolah dengan David karena di sekolah W.R Supratman tidak ada SMA.Tetapi,hubungan mereka baik" saja.Tetapi suatu hari hubungan mereka benar" sudah tidak dapat di tolong lagi.Akhirnya mereka pun putus.Jesicca da David sangat nyesal.kenapa mereka hars egois hingga membuat hubungan mereka hancur.Jadi,hubungan mereka hanya bertahan 1 tahun 2 bulan.

Sejak itu Jesicca pun tidak berpacaran lagi. Tetapi,jesicca sangat sedih saat mendengar kalau David sudah mempunyai pacar.
"apa semudah itu kamu melupakan aku???.Sampai secepat itu kamu pacaran lagi???"Kata jesicca dalam hati(sambil menangis).

Setelah 3 bulan mereka putus jesicca sudah mulai bisa melupakan David.Tetapi,tiba" suatu hari David datang mengunjungi jesicca.Meskipun jesicca masih sakit hati tetapi jesicca tetap berhungan baik" saja dengan David sebagai teman.
"apa kabar??"tanya David.
"baik.Loe??"jawab jesicca dengan singkat.
"bagus lha.."jawab David.
"kok loe bisa kesini ntar cewek loe marah loh."tanya jesicca dengan berat.
"qw udah putus kok"jawab David singkat.
"ow.."jawab jesicca.

Mereka pun ngobrol hingga jam 8 dan David pun harus pulang.Saat itu juga jesicca mulai mengingat David lagi yang hingga saat ini jesicca belum bisa melupakan David.Meskipun sudah setengah tahun mereka putus rasa sayang jesicca kepada David masih ada.Sejak saat itu pun mereka mulai berteman lagi.Tanpa memikirkan masa lalu lagi.

TAMAT

Baca juga Cerpen Cinta yang lainnya.

Cerpen Remaja "Galih dan Ratna Versi 2012"

GALIH DAN RATNA VERSI 2012
Cerpen Dian Putri Ramadhani

Sejak awal Dhea duduk dibangku SMA, sejak itu pulalah ia mengalami masa pubertasnya. Hari-harinya seolah mendung, ia mengalami perkembangan hormon yang pesat. Ya, wajahnya ditumbuhi jerawat. “Eh, Dhea emangnya lo jarang cuci muka ya? Muka lo jerawatan gitu. Hahahaha” Ledek Sinta diikuti tertawaan teman-teman sekelasnya yang lain. Dhea hanya bisa terdiam merunduk ia merasa sangat malu. “Eh pada ngapain lagi kalian, mau ngeledek jerawat Dhea lagi? Ga kapok ya kalian, pergi sana” Sembur Gia mengusir teman-temannya. “Lo, gak apa-apa kan Dhe?”Ujar Gia khawatir. “Huftt gak kenapa-kenapa kok Gi, thx ya” Jawab Dhea lesu. “Tuh kan , kenapa sih mereka, gak ada kapok-kapoknya ngeledek jerawat lo terus. Kesel banget gue Dhe”Ucap Gia kesal. 

Dhea hanya bisa terdiam ia sebenarnya sudah tidak tahan lagi diolok-olok terus soal wajahnya yang berjerawat itu. Ia bahkan sering dipanggil “Monster” oleh cewek yang paling jutek dikelasnya, Dhea bahkan hanya punya Gia, sahabatnya satu-satunya. Hanya Gia yang mengerti dirinya, hanya Gia jugalah yang selalu memberinya semangat disaat-saat terberatnya. Ditengah ledekan anak-anak lain yang tidak memikirkan perasaannya. “Dhe, pulang sekolah nanti kita ke apotek yu kita cari obat jerawat yang cocok buat lo”Saran Gia bersemangat. Dheapun membalasnya dengan senyuman penuh harapan. Setelah sampai dirumah Dhea segera meminum obat jerawat yang dibelinya bersama Gia tadi. “Ya tuhan semoga obat ini manjur, jerawatku hilang dan teman-temanku berhenti menghina diriku, amin”Harapnya yakin. Setelah sebulan kemudian Dhea kembali lesu, karena ia tidak menemukan hasilnya. Ditatapnya cermin kecil ditangannya Ia melihat wajahnya masih sama, jumlahnya pun tak berkurang sedikitpun. Malah dibeberapa jerawatnya justru bertambah merah. 
 
Dhea langsung menaruh cerminya disakunya kembali, ia tak berani menatap wajahnya lagi. Ia makin merasa down, ia putus asa dan merasa serba salah.”Ya tuhan, kenapa jerawatnya belum pergi juga? Hiks-hiks”Bisiknya dalam hati. “Wey , Dhea ngelamun aja? Kenapa lagi sayoong?”Suara Gia memecah lamunannya. “Eh Gia, nggak kok nggak ngelamun. Oia lo abis dari mana?”Tanya Dhea membuka obrolan. “Gak dari mana-mana kok, eh kantin yuk lapeerr nih ogut”Jawab Gia sambil mengelus perutnya yang kurus. Disambarnya tangan Dhea menuju kantin. “Ta..tappi disana gak rame kan Gi? Gue malu”Ujar Dhea terbata-bata. Benar dugaannya, kantin ramai sekali. Penuh sesak dengan teman-teman sekelasnya yang membuatnya hampir mati karena malu. “Dhe, mau pesen apa? Gue juga mau pesen nih, sekalian”Tanya Gia cepat. “Orange Juice aja deh Gi”Jawab Dhea pelan. Selama Gia pergi memesan makanan Dhea duduk sendiri dan ia tidak berani menatap kearah teman-temannya yang berada tak jauh dari mejanya. Namun, kehadiran Dhea ternyata sudah diketahui oleh teman-temannya yang iseng mulai meledek Dhea lagi. 

Dhea lagi-lagi hanya terdiam, ia kembali malu. Didepan banyak orang, Sinta meledeknya dengan lantang membuat Dhea tidak tahan menahan malunya yang sudah memuncak. Ia ingin menangis, namun ia tidak mau terlihat cengeng dihadapan orang banyak. Dhea memutuskan untuk meninggalkan kantin, dengan wajahnya yang memerah. “Eh, Si monster pergi tuh, hahahhahhahaha”Sembur Sinta terbahak-bahak. Teman-temannya pun ikut menertawakan kepergian Dhea. Langkah kakinya cepat, ia ingin segera ketoilet untuk memecahkan tangisnya. Dhea berjalan cepat hingga ia tidak memerhatikan sekitarnya, sampai ia menabrak seseorang dan terjatuh. “Aww.. ”Rintihnya kesakitan. Ia menatap orang yang ia tabraknya , ternyata dia menabrak Gusti kapten basket yang ia idolakan sejak dulu. Wajah Dhea makin memerah karena malu “Ma.. aaf ya”Ucapnya terbata sambil merunduk. “Oke, ga apa-apa kok hati-hati ya lain kali”Balas Gusti ramah, lalu berlalu dari hadapannya. “Gusti, ”Bisiknya pelan. Langkahnya kini pelan menuju toilet. Ia masih terbayang-bayang kejadian tadi, ia tergetar karena untuk pertama kalinya ia bisa menatap wajah Gusti dengan jarak sedekat itu. Senyum simpulpun merekah dari bibirnya yang merah, ia pulang dengan hati gembira. Dhea masih membayangkan wajah Gusti, seusai mengerjakan PR bahasa inggrisnya Dhea meraih laptopnya dan membuka facebook. Dhea menulis nama “Gusti Adriansyah” dikolom pencarian lalu membuka profilnya. Ditatapnya foto profil Gusti. 

Lamunannya pun melayang-layang, ia kembali memikirkan Gusti, panggeran dalam istana cintanya. Gusti sangat indah, bukan hanya karena ia tampan atau karena dia kapten tim basket, namun ia menyukai gusti karena sifatnya yang baik, ramah dan jauh dari kesan angkuh. Buatnya Gusti adalah cowok yang pantas untuk dicintai, mungkin rasa suka terhadap Gusti bukan hanya milik Dhea seorang. Disekolahnya banyak sekali yang jatuh cinta padanya, bahkan ada yang sampai membuat fans club di facebook dan twitter. 

Namun Gusti tak terdengar memiliki pacar disekolahnya. Ia anak yang kalem, temannya banyak namun hanya satu teman yang selalu bersama dirinya. Yaitu Renny, dari kabar yang Dhea dengar mereka sudah bersahabat sejak SMP dulu. Keakraban mereka membuat banyak fans Gusti iri bukan main. Termasuk Dhea, namun ia segera sadar akan posisinya yang hanya penggemar si idola yang tidak memiliki hak apapun untuk merasa cemburu pada Gusti. 

Keesokan harinya Gia menepuk pundaknya, “Woy kemarin kemana Dhe? Masa gue ditinggalin gitu aja sih. Tega banget deh lo”Ujar Gia cemberut. “Sorry Gi kemarin gue sakit perut , gue langsung lari ke toilet”Jawab Dhea berbohong. “Yakin? Bukan karena si Sinta yang ngeledek lo lagi kan? Dhe, gue mau lo gak usah dengerin mereka lagi. Mereka itu Cuma haters yang mau bikin lo ngedown. Mereka iri sama prestasi lo yang gemilang. Lo cantik Dhe, lo juga anak cerdas lo gak perlu malu hanya karena jerawat diwajah lo Dhe”Ujar Gia panjang lebar. “ah bisa aja deh lo Gi, hehehe iya mulai hari ini gue mau jadi orang yang kuat dan gak mau minder lagi”Sahut Dhea tersenyum lebar. Perasaan Dhea sedikit plong, ia bahagia karena selalu ada Gia yang menguatkan dirinya. 

Entah apa jadinya ia tanpa dukungan Gia yang begitu kuat pada dirinya. Saat bell istirahat tiba Dhea membuka rapat tim madingnya, Dhea sebagai ketua eskul mading yang aktif sangat menyukai dunia tulis menulis. Bahkan cerpen yang ia tulis sempat beberapa kali dimuat dimajalah. Kemampuannya itu tak hanya ia gunakan sendiri. Dhea selalu membantu teman-temannya yang ingin belajar menulis padanya. Dhea dikenal ramah dan pintar oleh semua guru-guru disekolahnya. Atas prestasinya yang banyak membawa nama sekolahnya guru-gurupun komapk mengusulkannya sebagai pemeran utama dalam pementasan perpisahan kelas 3 nanti. Ia dicalonkan sebagai “Ratna” dalam pementasan yang diadaptasi dari film lama berjudul “Gita Cinta Dari SMA”. Mendengar kabar itu Dhea kaget bukan kepalang, ia sama sekali tidak menyangka akan terpilih menjadi peran utama dalam pementasan yang paling bergengsi disekolahnya itu. Menyadari akan hal itu, Dhea merasa minder dan tidak percaya diri bisa berperan dengan baik. 

Apalagi jerawat diwajahnya yang seperti menghalangi langkahnya. Namun, Gia kembali mendorongnya untuk maju. “Udah lah Dhe ngapain lo pusingin masalah jerawat lagi. Gue mau lo maju dan terima peran ini, gue yakin lo pasti bisa”Ujar Gia bersemangat. “Tapi.. Gi”Potongnya gemetaran. “Ssstttttt”Bentak Gia keras. Dhea jadi galau, perasaannya bercampur aduk akankah bisa melakukannya, terlebih tidak ada teman-temannya yang mendukungnya. Sudah terbayang bagaimana cercaan teman-temannya yang meledeknya kejam. Dhea binggung, saat dikelas pun ia tidak bisa melakukan apa-apa ia terus menerus memikirkan pementasan itu. Sampai Gia datang terburu-buru “Dheeaaa”Jerit Gia lantang. “Ada kabar gembira Dhe, haha pasti lo bakal seneng banget deh”Ujar Gia sumringah. “Kabar apa Gi?”Sahut Dhea penasaran. “Yuk, kita kemading sekarang ada info penting”Sembur Gia sambil menarik lengan Dhea dengan cepat. ‘Pemeran Galih dalam pementasan “Gita Cinta Dari SMA” : Gusti Adriansyah’. Baca Dhea terkejut. “Gu.. gusti Gi?”Tanyanya heran “Iyaa, Dhe, cieee selamat yaa hahaha”Jawabnnya tersenyum. Setelah hari itu Dhea da Gusti jadi sering bersama untuk latihan drama berdua. Dhea pun sudah mulai melupakan rasa mindernya dulu, juga rasa malu akan jerawatnya yang dulu menyurutkan langkahnya. 

Namun kini , ia sudah jadi orang yang lebih optimis berkat Gia sahabatnya juga Gusti panggeran impiannya yang kini menjadi panggeran nyatanya dalam drama. Setelah berminggu-minggu disibukan dalam latihan yang rutin. Akhirnya esok hari itu akan segera tiba. Kenyataan indah itu ternyata terbawa sampai mimpi oleh Dhea. Dalam mimpinya Gusti dan dirinya sedang memerankan Galih dan Ratna dengan baik, mereka kelihatan serasi dengan akting mereka yang keren, membuat semua mata terhanyut dalam pementasan mereka. Gusti tersenyum manis pada Dhea, Dhea merasa seperti melayang dalam mimpinya sendiri. 

Tiba-tiba suara alaram mengejutkan mimpinya. Dhea terjaga dari tidurnya, ia mematikan alaramnya dan tersenyum lebar. Memulai harinya dengan berjanji akan selalu bersikap optimis dan percaya diri terhadap apapun yang akan ia kerjakan. Dheapun beranjak dari kasur dan bersiap menghadapi pementasan itu untuk membuktikan kata hatinya.

PROFIL PENULIS
Nama : Dian Putri Ramadhani
TTL : Lampung, 14 Januari 1995
Umur : 17 Tahun
Status : Pelajar
Alamat : Jl.Nilam 02 rt/04 rw/10 kranggan permai, bekasi 17434
Sekolah : SMK Hutama Bekasi

Baca juga Cerpen Remaja yang lainnya.

Jumat, 27 April 2012

Kumpulan Naskah Drama Komedi Lucu Pilihan

Naskah Drama Komedi Lucu - Setelah Kita Kemaren Posting Kumpulan Naskah Drama, Sekarang Kita akan Posting Kumpulan Naskah Drama Komedi Lucu, dan Mungkin mungkin anda sedang mencari tugas untuk Sekolahan dengan tema Drama Lucu untuk dipentaskan atau mungkin anda Bosan dengan mementaskan Naskah Drama yang alurnya biasa saja dan tidak membuat anda terhibur atau bisa melepas lelah dalam proses, Berikut Blog Loker Seni akan Share Naskah Drama Komedi Lucu Indonesia. 



NASKAH DRAMA KOMEDI LUCU

1. Orang Kasar Karya Anton Chekov
2. Pagi Bening Karya Serafin dan Joaquin Alvarez Quintero Terjemahan Sapardi Joko Damono
3. Piramus dan Tisbi Karya W. Shakespeare Diterjemahkan oleh Suyatna Anirun
4. Pinangan Karya Anton Chekov
5. Wek - Wek Karya Teater Anonimus 
6. Jeng Menul 
    Semoga Naskah Drama Komedi ini bisa membantu anda dalam menyelesaikan tugas atau garapan dan kami ucapkan selamat berproses semoga dalam Proses kretif tidak ada kendala apapun.

    Kumpulan Naskah Drama Komedi Lucu


    10 out of
    10

    based on
    1371298 ratings.

    Cerpen CInta Islami "Tetesan Embun Cinta"

    TETESAN EMBUN CINTA
    Cerpen Abdul Rahman Malik 

    Tahun 2008 dimana aku masih duduk di bangku SD, dan masih meraskan jiwa kekanak-kanakan dan kegemaran bermain, aku tumbuh sebagai anak lelaki yang suatu saat kan jadi harapan keluarga. Karena aku adalah anak laki-laki kedua, dan kakakku kini telah berkeluarga. Maka akupun kelak yang akan diandalkan.

    Sebetulnya aku yang pendiam, lugu, dan tak punya keberania besar. Tapi keterikatanku dengan dunia masa kecil masih melekat, akupun tetap menyempatkan waktu untuk bermain bersama teman-teman yang akrab. Hanya saja terkadang aku memilih teman yang enak dan bersahabat untuk aku ajak bermain.
    “Pak, Ilman berangkat sekolah dulu ya, sekalian minta uang jajan buat hari ini….”. Ilman adalah nama panggilanku sehari-hari, nama yang diberikan bapak tujuh tahun yang lalu setelah ibu melahirkanku yang lengkapnya, Maulana izdadna Ilman.
    “ iya, Man ni uang jajannya, ingat pulang sekolah jangan ngelayab kemana-mana, pulang langsung kerumah!”… jawab bapakku dengan mengulurkan tangan berisi uang seribu lima ratus rupiah.
    Biasanya yang selalu member uang jajan tiap hari ialah ibu, namun hari ini ibu sudah berangkat ke pasar duluan, jadilah bapak yang jadi gantinya. Karena bapak sendiri selalu ada dirumah jikalau tidak berangkat merantau ke seberang pulau.


    Sekolahku tak jauh dari rumah, dengan jalan kakipun bisa aku tempuh, cukup lima menit sampai. SD yang dikatakan Negri kedua di desaku. Karena tepat disampingnya ada SD Negeri I yang menghadap kej raya. Walaupun demikian, Dua SD yang berdampingan itu tetap berhubungan baik , baik itu guru-gurunya ataupun murid-muridnya. Sementara, aku kini duduk di kelas 2 SD Negeri 2, Setiap hari aku selalu berangkat gasik walaupun sebenarnya aku masuk kelas dimulai jam setengah sepuluh setelah kelas 1 pulang. Aku merasa dengan demikian aku bisa belajar dahulu di pinggir kantin sekolah bersama Bu endah, sang penjaga kantin. Atau sering juga ketika tidak ada PR, aku malah bermain dengan teman akrabku yang sama selalu berangkat gasik, Rayhan namanya.
    “ Han, hari ini ada PR gak? Kalau gak ada, yuk kita main kelereng saja! “ ajak aku. Kebetulan murid kelas dua SD Negeri 2 yang baru berangkat hanya aku dan Rayhan.
    “ Kayanya gak ada man, soalnya kemarin Ibu Tini gak ngasih PR” jawab Reyhan dengan menambahi Ibu Tini yang juga mengajar kelas 2.
    “ Ya sudah, kita bermain kelereng. Nih, aku punya sepuluh butir, nanti kita bagi dua” Tutur aku sambil meyakinkan.

    Kita berdua bermain kelereng di halaman tepat di depan kelas satu yang tempatnya di ujung, berdampingan dengan sebelahnya SD Negeri 1. Ditengah asyiknya bermain, terdengar suara obrolan anak-anak perempuan di samping. Ketika aku menengok kearah suara itu, ternyata ada siswi-siswi SD negri 1 sedang asyik ngobrol, sambil tertawa-tawa di kursi panjang depan kelas.

    Namun, tampak seorang siswi yang berkerudung putih, dengan memakai seragam merah putihnya seolah-olah berbeda dengan teman lainya yang tidak mengenakan kerudung. Akupun sedikit keheranan melihatnya. Pesona kecantikan Siswi SD itu membuat aku bertanya-tanya, siapa dia? Mengapa dia memakai kerudung putih, tidak seperti umumnya anak SD negeri? Tambah dengan merasa kagum akan sikap pendiamnya sambil memegang sebuah buku sedang dibacanya. Sungguh membuat aku ini terpana, seakan melihat putri permaisuri kecil bercanangkan kerudung putih indah dipandang.

    Setelah berhari-hari aku menyimpan memori bayangan siswi SD Negeri 1 itu, akhirnya akupun tahu sedikit tentang dia. hanya sebatas kenal. Maklum aku akui, karena SD aku masih kecil tentang hal-hal percintaan dan belum pantas. Tapi rasa kagumku padanya akan senantiasa membekas, karena sosoknyalah yang pertama kali mengucurkan teteskan embun kekaguman di hatiku.

    Nayla namanya, Nayla Muna Awwalina. Aku tau dia dari Reyhan, teman terdekatku. Nayla sebetulnya bukan asli anak desa dimana SD Negeri 1 dan 2 berada, dia berasal dari desa sebelah, dia pergi sekolah tiap hari dengan jalan kaki. Selalu berangkat awal dibanding yang lain. Ternyata, dia juga sama duduk di kelas dua. Karenanya, aku sering menjumpai dia menyempatkan belajar di kursi kecil depan kelasnya sebelum bel berbunyi. Karena berbeda sekolah, akupun tidak bisa bermain dekat dengan dia. Apalagi aku sendiri anak yang pemalu dan jarang bermain dengan anak perempuan.

    Selama aku masih duduk di bangku SD, perasaan itu hanya tersimpan di benak, tak pernah terletupkan ucapan tentang kekagumanku pada Nayla kepada siapapun, kecuali Reyhan sendiri. Karena ia satu-satunya teman yang selalu mengertikanku. Sampai ia pun sering memberi tahu kabar tentang Nayla yang belum pernah aku ketahui. Reyhan memberitahuku bahwa nayla setiap malam selalu mengaji al qur’an di pondok kecil dekat rumahnya, dan itu berjalan sampai Nayla sekarang kelas 5 SD begitu juga aku.
    *****

    Di awal aku menduduki bangku kelas 5 SD, aku bulatkan tekad untuk ikut mengaji al qur’an ditempat Nayla setiap malam mengaji. Walaupun jauh, tapi ini adalah pengorbananku untuk bisa melihat Nayla setiap hari, pagi hari di Sekolah tapi itu jarang karena sekolah yang berbeda, atau malam harinya di pondok walau tidak dalam satu kelas. Yang penting bisa melihat Nayla walau dari jauh.
    Aku merasa mondok disana banyak hal baru yang aku jumpai. Pertama, aku harus berangkat setelah shalat maghrib dari rumah dengan mengendarai sepeda, setelah sampai aku dipertemukan dengan asatidz yang galak-galak, Ust. Furqon salah satunya. Setiap kali ada santri yang masih berkeliaran belum masuk ke kelas, Ia siap siaga dengan memegang pentungannya untuk menakut-nakuti. Pada saat-saat itulah, muncul rombongan santriwati yang melenggangkan badan berjalan menuju pondok dari sebelah utara pondok, dengan menenteng tas di bahunya dan kitab-kitab di dekap di dadanya. Tersenyum aku melihatnya, karena dari kerumunan santriwati itu, satu diantaranya ada Nayla. Ya Nayla yang selama ini aku kejar agar bisa selalu memandang wajah sholihahnya, kelembutan sikap kesehariannya dan kealimannya.
    *****

    Setahun kemudian…
    Aku sudah terbiasa dengan kegiatan dan kebiasaan di Pondok itu dan banyak mendapat pelajaran, walau hanya menghabiskan waktu dari habis maghrib sampai habis sekitar jam setengah sembilan malaman. Aku merasa gembira, aku bisa ikut mengaji disini, walau tujuan awalnya yang salah. Mengaji hanya untuk melihat Nayla.

    Suatu malam setelah pulang dari pesantren, aku mampir dahulu di pedagang siomay dekat pesantren. Tak ku kira ternyata tepat di sampingku ada Nayla yang juga sedang membeli siomay. Tiba-tiba dia memandangku dengan senyuman manisnya sambil mengucapkan,
    “assalamu ‘alaikum…. kamu anak desa sebelah kan?” Tanya Nayla sambil memancarkan aura ketulusannya.
    “wa wa wa ‘alaikum salam….” Aku jawab dengan sedikit kaget dan terbata-bata.
    “IIIyya,,, neng ” jawaban dari pertanyaannya tadi dengan ucapan neng sebagai tradisi penghormatan kepada gadis perempuan, teman atau yang lebih muda.
    “Neng namanya Nayla ya…??? Giliranku bertanya.

    Dia tersenyum sambil manjawab,
    “ Iya… kok tahu? “, Ujar Nayla dengan suara lirih dan pancaran senyum dari raut wajahnya.
    “ hhhmm… yang Cuma tau aja”, jawab aku.
    “ eh iyya… saya pulang duluan ya, sudah di tunggu bapak dan ibu di rumah”.
    Nayla pun pergi, dan aku perhatikan dia dengan perasaan sangat-sangat bahagia. Seketika aku pandangi ia berjalan. setelah agak jauh, aku terkejut, ternyata Nayla masuk ke rumah Ust. Furqon. Deg.. rasa bahagiaku pun bercampur dengan rasa khawatir dan takut, ternyata aku baru tahu, Nayla Muna Awwalina itu Putri dari Ust. Furqon yang terkenal super galak dan sangar di pondok. Hhhmm,,,Siap aku harus menghadapi singa padang pasir itu untuk bisa bertahan sampai suatu saat aku bisa mendapatkan anaknya.
    Satu tahun itu merupakan tahun pertama aku mengaji di Pondok secara kalong, bertepatan juga dengan masuknya aku di kelas 6 SD. Aku menikmati jalannya mengaji dan semua suasana di pondok.

    Sampai tiba akhir tahun. Dimana aku memilih untuk melanjutkan sekolah ke SMP atau MTs. Aku sendiri sudah bulat, ingin masuk SMP agar bisa menguasai pelajaran-pelajaran umum, dan tetap melanjutkan mengaji malam di pondok untuk tambahan pelajaran agama. Rencanaku diterima dan didukung penuh oleh bapak dan ibu, karena menyadari ilmu umum juga perlu, tapi dengan tetap mengutamakan ilmu agama dengan tetap pesantren walau kalong.
    *****
    Setelah aku menjadi siswa SMP, Akhir-akhir ini aku merasa ada yang kurang. Setiap malam aku berangkat mengaji, entah kenapa aku tidak pernah lagi melihat pancaran wajah indah Nayla. Perasaanku tidak enak dan gelisah. Akupun tanya seorang temannya yang dulu selalu bersama Nayla di Pondok. Kaget sungguh kepalang. Sedih hati ini rasanya. Belumlah aku bisa akrab dengannya tapi dia sudah pergi dahulu. Pergi menjauh dariku. Bapaknyalah yang membuatnya pergi, Ust. Furqon. Dia melanjutkan SDnya tidak ke SMP atau MTs terdekat, tapi dia disuruh untuk melanjutkan pesantrennya di Bandung. Dengan keta’dzimannya terhadap bapaknya, diapun mengikuti apa kata bapaknya.

    Bertahun-tahun aku jauh dari Nayla. Tapi aku tetap berusaha untuk tegar. Seperti biasa aku berangkat pesantren, sepintas aku sering memandangi rumahnya, namun tak juga Nayla ada. Semenjak Nayla pergi ke Bandung, Tak pernah aku jumpai dia walau satu kalipun. Aku hanya bisa berharap, suatu saat jika Allah mentaqdirkan aku bertemu Nayla, aku yakin pasti akan bertemu kembali. Karena aku percaya taqdir Allah seperti yang diajarkan Ustadz Rahmat dalam pengajian tauhid di pondok.

    Sampai akhirnya akupun selesai Ujian Akhir Nasional, kelas 3 SMP sebentar lagi berakhir. Tinggal aku siapkan rencana berikutnya. Beberapa hari setelah UAN, Malam harinnya akupun berangkat pesantren dengan menggunakan sepeda BMXku ditemani beberapa teman. Malam pertama setelah satu minggu libur untuk persiapan UAN. Malam itu, aku bertemu dan bersalaman dengan Ust. Furqon yang sedang duduk di kursi depan Kantor Pondok. Di kelas, aku bertemu Ust. Rahmat yang biasa mengajariku setiap malam, Dialah wali kelasku.

    Setelah bubar dari pengajian, rasanya aku ingin membeli somay kesukaanku. Akupun mendatangi pedagang somay tak jauh dari pondok sebelum aku mengambil sepeda ditempat penitipan. Terkejut aku ketika mendengar suara perempuan dari samping kuping kananku.
    “ Mang, masih ada somaynya? Nayla mau beli lima bungkus....”
    “masih ada neng,,, ya mang buatin buat tong Ilman dulu ya neng….”

    Ya Allah,,, akupun terkejut ketika menengok kea rah kanan, begitu juga Nayla menengok ke arah kiri ketika ia mendengar nama ILMAN dari mulut mang somay.
    “Assalamu ‘alaikum Neng Nayla…? Bagaimana kabarnya? Alhamdulillah bisa bertemu kembali ya neng….” Tanya aku dengan perasaan berbinar-binar dan mata berkaca-kaca ketika memandang Nayla setelah bertahun-tahun tak bertemu, ia tumbuh sungguh lebih cantik dan sangat indah dari dahulu SD.
    “Wa’alaikum salam…. Alhamdulillah baik kang Ilman….” Jawab Nayla sambil tersenyum manis.

    Akupun balas senyumannya, apalagi setelah ia jawab dengan kata “kang Ilman”, Panggilan Khas dari Bandung. Dengan berusaha percaya diri, akupun coba keluarkan pertanyaan,
    “Neng Nayla lagi liburan ya?...kemarin ketika UAN bagaimana? Lancar?...” lidahku mulai bebicara.
    “Iya kang,,, kemarin Nayla UAN di Bandung Alhamdulillah lancar…” Naylapun menjawab lirih.
    “Kalau boleh tahu… rencana Nayla setelah lulus mau melanjutkan kemana?...”
    “hehhhmmm,,, kata bapak sih Nayla suruh melanjutkan pesantren lagi ke Jawa Tengah, ya Nayla ikut apa kata bapak saja”... jawaban simpel Nayla sambil mengambil bungkusan siomay yang sudah jadi sekaligus memberikan uangnya ke mang somay.
    “eehhh,,, kang Ilman Nayla pulang duluan ya, tidak enak sama bapak dan ibu kalau siomaynya keburu dingin”, sambung Nayla sambil pamit mengucapkan salam,
    “ Assalamu ‘alaikum… kang”
    “ iya neng…wa ‘alaikum salam” aku jawab dengan senyum tersampul rasa kegembiraan.

    Perjalan pulangkupun diliputi taburan rasa bahagia, sampai aku tersenyum-senyum sendiri. layaknya perasaan orang yang sudah lama ditinggal perempuan yang ia cintai, kemudian ia datang bagaikan bidadari turun dari kayangan berkerudungkan sutra putih, kulit yang putih halus bagai susu, senyuman manis lebih manis dari gula serasa, tutur bicaranya seolah butiran-butiran mutiara pelan berjatuhan, sungguh suara jawaban-jawaban dari lisannya seperti tetesan embun pagi menyejukan hati dan jiwa. Tak terbayang begitu bahagianya aku, sampai larut malampun aku tetap membayangkannya. Aku pandangi dia dari tembok kamarku seperti tayangan dalam surga. Terus dan terus bayangannya menari-nari depan kedua bola mataku. Sampai tak terasa akupun tertidur dan jatuh dalam larutan mimpi indah bersamanya.
    “ Kang Ilman…. Kang…. “ Nayla membangunkanku dalam dunia tidurku.
    “ aduwh… Nayla, kok bisa ada disini???”
    “ Iya Kang, Nayla datang buat Kang Ilman…” ujar Nayla dengan menyimpulkan senyum manisnya.
    “ Hah… Masa? Nayla datang jauh-jauh buat akang” tanyaku dengan penasaran.
    “ Iya, Kang… Nayla disuruh bapak untuk bertemu akang, dia ridho seandainya suatu saat Nayla jadi pendamping hidup akang…” ucapan Nayla seolah tetesan embun pagi, akupun disejukan olehnya.
    “ Ya Allah, apa ini benar… sungguh aku bersyukur padamu Ya Allah…”
    “ kalau begitu akang siap… akang akan berusaha menjadi Imam yang terbaik dalam Hidupmu Nayla,,, kelak dalam rumah tangga kita”
    Dug..dug…dug…(suara dari pintu kamarku) Man… Man… Baanguunn… siap-siap ambil air wudhu, sholat sama ibu,,, kamu jadi Imam ya Man…..

    Akupun terperajat, sambil mengusapkan muka dengan kedua tanganku. Wuuuhhhh… ternyata Cuma mimpi. Akupun tersenyum sendiri sambil tetap mengingat-ingat bayangan Nayla.
    “ Iya Bu… tunggu sebentar…” saut aku dari dalam kamar, dengan berharap ,“Ya Allah semoga apa yang aku tadi impikan bisa menjadi kenyataan”. Lalu akupun bersiap-siap untuk melakukan shalat shubuh. Salama satu minggu ini memang aku selalu jadi Imam shalat bersama Ibuku, karena bapakku dan kakak laki-lakiku sedang melakukan kewajibannya sebagai tulang punggung keluarga. Merantau ke seberang pulau.

    Ibuku sudah siap di mushola. Setelah akupun siap, Aku berkata kepada ibu,
    “ Mari Bu, kita shalat berjama’ah, lebih cepat lebih afdhol agar mendapat waktu fadhilahnya shalat”
    “ ayu nak, baca qur’annya yang tartil dan merdu ya, biar ibu shalatnya bisa lebih khusyuk” tambahi ibu. Begitulah ibu, karena beliau selalu senang ketika dibacakan al qur’an dengan gaya suara merdu seperti di kaset-kaset.
    Setelah aku dan ibu menjalankan shalat shubuh berjama’ah dengan khidmat, seperti biasa aku dan ibu saling deres al qur’an. Ketika ibu baca aku mendengarkan dan membetulkan bacaan ketika ada yang salah. Begitu juga ibu mendengarkan ketika aku membaca. Ibu sendiri karena sudah usia lanjut, beliau membaca harus dengan kaca matanya. Berbeda dengan aku. Karenanya, ibu terkadang ada bacaan yang salah lihat, akupun langsung membetulkannya.

    Setelah selesai deres al qur’an bersama, aku sidikit buka bicara. Menanyakan akan mimpiku tadi.
    “Bu… kalau mimpi itu benar bisa jadi kenyataan nggak sih”, aku mulai bertanya dengan gaya bahasa akrabku kepada ibu.
    “Man… mimpi itu tidak semua jadi kenyataan, yang jelas mimpi itu hanya bunga tidur, kalau mimpi baik dan benar berarti datang sebagai anugrah dari Allah SWT. Kalau mimpi buruk itu berarti datang dari Syaitan. Ilman sendiri sebelum tidur baca do'a dulu tidak? “ jawab ibu dengan penjelasannya.
    “Ilman baca do’a Bu… masa sudah lama ngaji di pondok lupa baca do’a sebelum tidur”, ujarku.
    “ ya memangnya Ilman mimpi apa?” tanya ibu kembali.
    “hhmm… gimana ya? Sebetulnya ini ada hubungannya dengan perasaan Ilman Bu”, jawabanku simpel.
    Akhirnya aku ceritakan semua tentang perasaanku kepada Ibu, dari mulai aku SD kelas 2, kemudian tau dengan yang namanya Nayla, lalu akupun ikut mengaji kalongdi pondok hanya agar bisa melihat Nayla. Aku juga ceritakan karakteristik Nayla, segalanya. Sampai pada mimpiku tadi malam.

    Kemudian Ibu menyimpulkan.
    “Ya Sudah… Ibu sih mendukung saja, tapi Ilmankan masih kelas 3 SMP, baru saja UAN, pengumuman kelulusan juga belum. Masih lama Man mikirin yang kaya gituan. Nah… Alangkah baiknya, Ilman sekarang jadikan perasaan itu sebagi motivator yang mendorong Ilman untuk terus jadi yang terbaik, baik buat keluarga, agama, bangsa, dan Nayla juga senang kalau seandainya tahu Ilman seperti itu. Sekarang yang Ilman pikirkan, ingin kemana melanjutkan sekolah SMP?”, ibuku memberikan pencerahan diakhiri dengan pertanyaan. Akupun seketika mengiyakan ibu. Dan terpintas kemana aku akan melanjutkan sekolah.
    “hhhmm… iya ya bu…” Sambil aku memanggut kepala dan berpikir, teringat bayangan Nayla ketika bertemu kemarin malam.
    “ Bu, bagaimana kalau Ilman ingin mondok ke Jawa Tengah? Ilman ingin memperdalam ilmu agama sambil sekolah disana?”, Inisiatif ini, aku terinspirasi dari Nayla karena dia juga akan melanjutkan ke Jawa Tengah. Walaupun sebenarnya aku tidak tahu apa dan dimana pondok pesantren di Jawa Tengah itu.
    ******

    Santri, Asatidz, dan Kyai, nama-nama itu sudah terbiasa terdengar di telingaku. Kehidupan yang awam kini berubah dengan nuansa islami. Statusku yang dulu dirumah berubah menjadi istilah "santri". Keseharian yang dulupun berubah dengan banyak kegiatan mengaji kepada kyai dan asatidz. Suara adzanpun tak lepas dari kupingku berkumandang setiap lima waktu. Tanda akupun harus mendatangi masjid, untuk shalat berjama’ah sebagai kewajiban santri pesantren. Pesantren yang terletak di Jawa Tengah itu bernuansakan kesejukan. Lokasi yang dekat dengan Gunung Slamet membawa kedinginan setiap malam sampai shubuh tiba.

    Waktu dua puluh empat jam tiap harinya dihabiskan dengan kegiatan dilingkup pesantren. Sekolah keagamaan yang masyhur dengan MAK (Madrasah Aliyah Keagamaan) mengisi acara pagi sampai soreku, ditambah pengajian tambahan dari setelah asyar hingga larut malam. Ku rasakan semuanya begitu jauh berbeda dengan apa yang pernah ku jalani sebelumnya ketika di rumah. Namun, semua itu berjalan dengan senyuman. Karena di pesantren itulah, aku dipertemukan dengan sosok penyejuk hatiku, Nayla Muna Awwalina. Akhirnya, aku bisa bersama Nayla dalam satu pondok pesantren. Sungguh kebahagiaan tersendiri bagiku. Hanya saja, kami tidak bisa bertemu dan bertatap muka layaknya pergaulan bebas di rumah, kami terikat oleh pesantren, penjara suci yang dikelilingi pagar yang berduri peraturan. Siapa orangnya berani menerobos pagar duri itu, dia akan terkena akibatnya. Duri itu akan melukai dirinya tanpa pandang bulu siapa orangnya. Tata tertib pesantren membuatku hanya bisa menyaksikan Nayla dari arah yang berjauhan, karena dilarang bagi kaum ajnabi berdekatan dengan bukan mahromnya.

    Beberapa tahun lamanya di pesantren, semua benak perasaanku aku tanam dalam hatiku, tak berani aku berbuat yang bisa berakibat fatal bagi masa depanku. Sekali berbuat kesalahan ta'ziranpun akan datang menghantam. Entah dalam bentuk apa, aku tak mau terkena ta'ziran sekecil apapun. Aku hanya ingat pesan ibuku, “ jadikan perasaan cinta kepada seseorang itu sebagi motivator yang mendorong untuk terus jadi yang terbaik”. Dari situlah, aku bertekad, walaupun perasaanku kepada Nayla ini tersimpan dalam bathinku, aku akan buktikan, aku harus jadi yang terbaik. Setidaknya dengan demikian Nayla akan merasa kagum padaku. Dengan modal kemampuan pas-pasan, hanya lulusan SMP, akupun bejuang mati-matian agar dapatkan apa yang aku inginkan. Porsi belajarku aku tambahkan full sampai larut malam. Setiap setelah pelajaran aku rutinkan muroja’ah. Materi agama dan umum aku kuasai semua. Bahasa Arab dan Bahasa Inggris aku pelajari dan selalu aku praktekan. Semua jerih payah aku kerahkan, dengan niat aku ingin bisa jadi yang terbaik, orang tuaku kan senang. Dan yang utama Naylapun akan mengetahui siapa aku.
    *****

    Setelah lima semester kulalui, namaku selalu terpampang di barisan rangking kesatu, kedua atau ketiga. Karena sulitnya pesaingan di kelas, aku tidak bisa konsisten di peringkat kesatu, tapi aku bersyukur karena rangking satuku tetap mendominasi. Setiap akhir semester pengumuman peringkat kelas selalu diumumkan dan dipampangkan. Akupun yakin Nayla pasti melihat hasil dari jerih payahku.

    Suatu pagi, bertepatan dengan setelah pengumuman semester pertama kelas 3, ketika berangkat sekolah, aku tak sengaja bertemu papasan dengan Nayla di tangga lantai dua sebelum masuk ke kelas. Tak ku sangka, Nayla tersenyum sambil mengucapkan beberapa patah kata,
    “Selamat ya Kang Ilman, atas prestasi yang diraih selama di MAK….!!!” Suara itu layaknya butiran-butiran mutiara berjatuhan dari lisan Nayla membuatku terlena kepayang.
    Dengan senyum pula akupun menjawab,
    ”terima kasih neng, mungkin itu juga berkat do’a dan dukungan neng dari belakang, ”…. aku balas dengan sedikit kata-kata so-PD, yang aku yakin itu ada benarnya.
    “Nayla ke kelas duluan kang… tidak enak kalau kelihatan orang lain”, ujar Nayla dengan mata malu.
    “ Iya Neng, sekali lagi makasih”, saut aku membalas sebelum Nayla pergi.
    “ Iya Kang”… Ia pergi dengan agak dicepat-cepatkan jalanya sambil tersenyum-senyum.
    Akupun bergoyang-goyang bahagia, apa yang aku upayakan ternyata terbukti Naylapun menaruh rasa kagum padaku, aku terlena dengan keceriaan pagi hari itu.

    Setelah semester satu kelas 3 berakhir, tinggal tancap gas terakhir untuk menuntaskan jenjang sekolah di MAK. Ujian Nasional SLTA diambang mata sekitar tiga bulan kedepan. Aku tidak bisa tinggal diam. Tidak bisa aku terlena dengan hasil baik prestasiku sebelumnya. Semua harus aku selesaikan dengan baik, dan di akhir akupun harus bisa khusnul khotimah, baik di sekolah atau juga di pesantren. Apalagi aku merasa iri kepada kakak kelas yang dahulu telah lulus, lalu bisa melanjutkan ke Universitas Negeri bahkan ke Universitas di Timur Tengah. Dari situ, aku juga berharap mudah-mudahan UAN nanti bisa berhasil dan bisa mengantarkanku ke Universitas di Timur Tengah. Walau belum terbayang dari dahulu untuk kuliah di Timur Tengah, tapi setelah aku mendapat banyak pelajaran dan kajian agama, aku mulai mengerti. Ilmu agama berasal itu dari Negri-negri Timur Tengah, khususnya Jazirah Arab, sudah pasti ketika aku belajar disana berarti aku seolah meminum air dari sumber mata airnya.
    ******

    Beberapa bulan kemudian,
    Aku dinyatakan lulus UAN dengan predikat Amat Baik. Disamping itu pula, aku mendapat pengumuman kelulusan beasiswa timur tengah. Sesuai dengan target, apa yang aku rencanakan berhasil. Kedua pengumuman itu aku terima dengan rasa bahagia, bangga dan puas. Karena jerih payahku selama di pesantren terbalaskan dengan prestasi baik. Kedua orang tuakupun takjub. Tidak percaya aku bisa seperti itu, padahal aku lulusan SMP, tapi bisa bersaing dengan teman-teman lain yang latar belakang keagamaannya lebih baik. Aku tersenyum saja,,, karena dibalik itu semua, aku termotivasi oleh sosok Nayla yang senantiasa menjadi penyemangat hidupku, gelora wajahnya selalu terpancar dalam bayanganku layaknya tetesan embun yang membasahi dedaunan di setiap pagi. Akulah si dedaunan yang beruntung itu, karena setiap aku ingat kepadanya, aku bangkit untuk berusaha menjadi yang terbaik walaupun banyak yang lebih baik dariku. Setidaknya, aku bisa dilihat baik di mata Nayla. Entah tetesan embun cinta apa yang telah merasuki tubuh ini, sehingga aku selalu merasa sejuk ketika ia hadir dalam bayanganku.
    *****

    Suatu ketika dimana aku di hadapkan dengan masa depanku. Aku merasa kebahagiaan ini terkikis oleh masa. Aku terpikir sejenak, akhirnya aku sadar. Aku telah salah dalam melangkah. Semua yang aku lakukan untuk agama aku lakukan dengan niatan yang salah. Bermula dari aku pesantren kalong di kampung hingga kini aku berhasil mencapai yang aku citakan. Semuanya karena Nayla, seorang perempuan biasa, yang hanya diberi kelebihan oleh Allah SWT hingga bisa menghipnotis hatiku sehingga terpedaya. Aku berjuang pesantren malam hanya untuk melihat Nayla. Aku tekadkan pesantren di Jawa Tengah hanya untuk bisa hidup lebih dekat dengan Nayla. Aku berusaha meraih prestasi terbaik hanya agar mendapat perhatian Nayla. Semua itu salah… aku tidak niatkan semua itu untuk kebaikan semata-mata karena Allah. Tapi malah karena seorang perempuan. Karena itulah aku merasa rasa bahagiaku tidak seperti hakikat kebahagiaan.

    Dalam shalat istikharahku, Aku merasa bersalah Allah SWT, menggantikan kedudukan-Nya dalam niat baikku. Setelah aku bertafakkur, rasanya hati ini menuntunku tuk coba melupakan Nayla, aku tidak ingin selamanya berada dalam jalan yang salah. Karena semata-mata untuk Nayla. Walau aku yakini bahwa memang melalui Nayla lah Allah memberiku jalan kebaikan. Berkat tetesan embun cinta Nayla membuatku terangkat untuk mengikuti jalan baiknya.

    Sebelum aku meninggalkan tanah air, aku bulatkan membuka lembaran hidup baru kehidupan baru, dengan tidak menggantungkan diri pada Nayla, tapi hanya pada Allah SWT semata. Dan aku yaqin, kalau seandainya memang Nayla adalah jodohku, Allah SWT tak kan menjauhkannya dariku, aku pasti dipertemukan kembali. Keikhlasanku terpancar karena aku yaqini Taqdi Allah SWT yang senantiasa bersama orang-orang yang sabar. Memasrahkan segala urusannya kepada-Nya. Dan hakikat cinta sebenarnya hanyalah kepada Allah SWT. Kini Bersama alamku yang baru, di negri yang baru, tempat cita-citaku tercapai. Negri Timur Tengah. Yaman. Aku tutupkan lembaran hidupku bersama Nayla, yang suatu saat akan ku buka seandainya Allah SWT mengizinkanku untuk membukanya kembali.

    PROFIL PENULIS
    Assalamu 'alaikum. wr. wb.
    Saya bernama Abdul Rahman Malik (21 th), sekarang sedang menjalani kuliah di Al Ahgaff University of Yemen. dilahirkan disebuah kabupaten di kawasan Pasundan pada hari rabu, 12 Februari 1991. Riwayat Pendidikan berawal dari SD Negeri 1 Leuwimunding - Majalengka, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Leuwimunding, lalu berhijrah ke dunia pesantren di PP. Al Hikmah 2, Bumiayu - Jawa Tengan, sambil sekolah di MAK Al Hikmah 2. dan kini Allah swt memberikan taufiq-Nya sehingga saya bisa menimba ilmu di Negeri Saba, Yaman.

    Baca juga Cerpen Cinta dan Cerpen Islam yang lainnya.