Tampilkan postingan dengan label Cerpen Ayah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Ayah. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 September 2012

Cerpen Ayah - Ayah Bacakan Aku Cinta

AYAH BACAKAN AKU CINTA
Karya Azahra

“Ayah, bacakan aku cinta !”

Ini adalah sebuah cerita tentang kekuatan cinta yang mengalir dalam deburan ombak yang tak mengerti tentang nadanya.
Raut wajah ayah terlihat tak berdaya, pucat dan lemah terbaring di atas tempat tidur. Penyakit darah tinggi yang di deritanya kambuh lagi. Satu jam sebelum dia terbaring lemah di tempat tidur. Ayah bagai orang gila, kata kasar terucap tak henti menghujamku tanpa sebab yang pasti.semua barang di bantingnya. Ibu hanya bisa menangis melihat semua kenyataan yang ada di hadapannya.
“ Ayah”
Tak ada sahutan.

Aku berdiri di dekat pintu dengan wajah penuh dengan air mata. Ayah hanya diam, seluruh tubuhnya gemetar, suhu badannya tinggi.
“ Ayah”
“ Anak keparat, pergi sana, aku tak ingin mendengar suaramu”

Aku segera berlari menuju ke kamar, tak tahan dengan sikap Ayah yang selalu membenciku, seakan aku bukanlah anak kandungnya. Anak keparat? , kata itu terniang di kepalaku. Sepertinya lidah Ayah ingin memenggal diriku. Aku anaknya. Tak pernah ada yang benar di mata Ayah, aku selalu sebagai tersangka ketika segala keributan terjadi. Aku mencoba bersabar.
“ Nak, tenanglah”
“ Bu, aku lelah bu..aku lelah dengan sikap Ayah. Sampai kapan aku harus tetap seperti ini?”

Belaian hangat ibu menenangkan hatiku, aku menangis dalam pelukan ibu. Helaan napas panjang terhembus dari dada perempuan tua berwajah sayu itu. Hatinya penuh dengan kesabaran.
“ Semuanya pasti kan cepat berakhir, kita harus mengerti. Sekarang Ayah sedang sakit, ia tak bermaksud memarahimu”, ucap lembut ibu.

Ibu menghapus air mataku.
“ Seberapa lamakah aku harus mengeti tentang semua ini bu, aku selalu mengerti, tapi ayah tak mengerti tentang perasaanku, apakah aku bukan anak kandungnya ?”

Pertanyaan itu tiba-tiba terlontar begitu saja, sebaris kalimat tanya yang membuat wajah ibu seketika berubah. Elusan tangan ibu terhenti di bahuku.
“ Kau anak ibu, kau juga anak ayah nak. Kau adalah bidadari kecil ibu, di dalam darahmu mengalir cinta ayah dan ibu. Kau adalah anak kandung kita berdua”. ucap pilu ibu, air matanya jatuh membasahi pipinya.
***

Suasana di rumah mencair. Ayah tertidur pulas di kamarnya. Kak Roni, kakak tertuaku duduk di ruang tamu dengan wajah setengah marah. Kak Roni baru pulang kerja.
“Ayah memarahimu lagi ?”
Aku hanya bisa menganggukan kepalaku.
Ia terdiam, tak berucap sepatah katapun dari mulutnya.
“ Huufss….”. helaian nafas panjang keluar dari bibirnya.
***

Malam membawa deretan tanya. Ketegangan terlihat dari wajah Ibu, Adek Nisa, Kak Roni, dan Kak Hanny. Tak ada yang berucap setelah kejadian tadi sore. Aku duduk di samping ayah yang terbaring lemah. Menatap wajah seorang lelaki tua dengan semburat keriput di wajahnya, rambutnya sudah hampir memutih semua. Tangannya penuh dengan luka pecahan kaca, goresan kecil bagai sebuah karya seni yang menyedihkan. Aku segera mengambil obat merah dan perban. Ketika ku memegang tangan ayah yang masih tertidur, ayah merintih pelan. Matanya terbuka perlahan membidik kearah wajahku, bagai anak panah yang siap berlari menuju ke tempat sasaran. Tatapan ayah tajam dan seketika membidik tepat sasaran.
“ Apa yang kau lakukan di sini, pergi sana”,
“ A-a-aku..ingin mengobati luka di tangan ayah”,
“ Pergi…..pergi kau dari sampingku”,

Teriaknya memecah keheningan, hatiku terluka mendegar ucapan ayah. Ibu terdiam di pintu, ia tak bisa berucap apapun. Derai air mata melelah di pipiku. Aku segera berlari menuju ke kamar, hanya itu yang bisa ku lakukan. Aku ingin berlari sekencang-kencangnya. Aku ingin menerobos ruang waktu, kembali ke masa lalu. Mencari di manakah letak kesalahanku sehingga membuat ayah sangat membenciku. Ku kunci kamarku, biarlah aku sendiri, karna aku tak pantas bersama siapapun di luar sana.
“ Ayah, apakah salah Azza ?”,
“ Azza ingin bersama ayah, aku rindu belai hangat tangan ayah”,
“ Ayah, apakah suara Azza ssangatlah jelek, sehingga membuat telinga ayah sakit, dan tak mau mendengar suara Azza berbicara ataupun sekedar berbisik saja?”,
“ Ayah, apakah tangan Azza terlalu kotor untuk membersihkan luka di tanganmu, sehingga tak pantas jari-jariku bersentuhan dengan tanganmu?”,
“ Ayah, apakah wajah Aza sangatlah buruk di mata ayah, sehingga ayah takut dan tak ingin melihat wajah Azza ?”,
“ Ayah, Azza sayang ayah, Azza sangat sayang ayah, tapi kenapa ayah tak pernah sayang sama Azza ?”

Deretan tanya keluar dai mulutku, ku benamkan wajahku ke bantal, terisak-isak suara tangis yang keluar tertahan, luka di hati makin mengangga. Malam ini deretan tanya bersarang di kepalaku.
Aku berdiri di samping ibu yang sedang menyiapkan makanan untuk sarapan. Kak Roni sudah berangkat bekerja. Kak Hanny sibuk membersihkan kamarnya. Bapak masih tertidur di kamarnya.

Pisau di tanganku begitu tajam, kalau kau tergores di tanganku, kulitku kan bersedia mengeluarkan darah segar sedikit dari tangan ini. Itu tak kan sakit sesakit hatiku selama ini. luka di tangan yang kau buat bisa ku obati dan lukanya nanti akan cepat sembuh, sedangkan luka di hati ini susah untuk ku obati, lama menunggunya sembuh. Sampai sekarang aku tak menemukan obat penghilang luka di hati ini. Ku tatap pisau itu. Pikiranku sibuk bermain dengan hatiku.
“ Nak, apa yang sedang kau pikirkan ?”

Lamuananku berhamburan, aku yang terdiam seketika tersentak kaget.
“ A-apa bu ?”
“ Mmm..kamu kenapa, dari tadi ibu bicara kok nggak di dengerin”,
“ Nggak ada bu”,
“ Lebih baik kamu istirahat saja, kalo kamu lagi nggak enak badan’.
“ Nggak kok bu, Azza baik-baik saja”.
***

Ayah duduk di teras rumah bersama Hj. Hasan, teman baik ayah dari desa sebelah. Beliau datang menjenguk ayah yang sedang sakit. Aku duduk di ruang tamu sambil menonton televisi bersama Nisa, adikku yang masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Bosan dengan tayangan televisi yang itu-itu saja. Pikiranku tak focus pada layar di hadapanku. Aku tak sengaja mendengar pembicaraan ayah dan Hj. Hasan di luar. Terdengar jelas di telingaku.
“ Gimana dengan anak-anakmu sekarang Abi ?”
“ Sekarang mereka sudah tumbuh besar. Kamu tau kan anak kecil yang sering aku bawa ke rumahmu dulu, sekarang dia telah kuliah dan bukan itu saja, Roni sekarang sudah bisa bekerja, kemarin dia sempat ke Sumbawa karna ada kontrak kerja di sana untuk beberapa bulan”, terdengar suara ayah keras membanggakan Kak Roni.
“ Anakmu sudah bisa kuliah dan kerja, aku tak menyangka semua itu. Waktu ini begitu cepat berjalan, baru kemarin rasanya aku melihat bocah kecil itu. Ow iya..gimana dengan anak-anak gadismu..?”
“ Semuanya masih sekolah, Nisa masih kelas 3 SMP. Kau tau kan anak gadis ku yang satu itu, dia sangat cantik, mirip ibunya”, ucap ayah membanggakan Nisa pada Hj. Hasan.

Nisa yang serius menonton televisi tak mendegarakan apa yang di bicarakan oleh ayah dan Hj. Hasan. Nisa nggak tau kalo dia sedang di puji oleh ayah. Dia hanya sibuk memperhatikan layar televisi. Aku terdiam, telingaku sibuk mencuri suara pembicaraan ayah dan Hj. Hasan di teras rumah.
“ Hanny, dia masih kelas 3 SMA. Besok beberapa bulan lagi dia akan menyusul Roni untuk kuliah atau bekerja, entah aku tak tau besok ada biaya atau tidak untuk bisa melanjutakannya ke jenjang yang lebih tinggi. Dia anak gadis ku yang paling besar dan hanny sering membantu ibunya, esok kalo dia sudah besar aku yakin dia bakal menjadi istri yang baik. Hahaha”, tawa ayah mengakhiri kalimat yang membanggakan untuk Kak Hanny.
“ Aku menunggu, aku masih menunggu. Kapan giliran namaku di sebut oleh ayah. Kenapa urutan namaku di loncat oleh ayah. Seharusnya nama Azza setelah nama Nisa, dan sekarang kenapa namaku belum di sebut oleh ayah ?.”, batinku bergejolak tak menentu.
“ Ayo silahkan minum tehnya”, ucap ayah pada Hj. Hasan.
“ Nanti namaku pasti di sebut. Mungkin ayah lupa. Nanti ayah pasti menyebut namaku, ayah sedang minum teh bersama Hj. Hasan, dan nanti setelah mereka minum teh, ayah bakal cerita tentang anak gadisnya yang satu ini, aku akan menunggu namaku di sebut oleh ayah”, ucap batinku menguatkan.

Aku masih menunggu, tapi yang keluar dari mulut ayah bukan namaku, mereka berdua membahas hal lain. Beberapa menit kemudian, bumi seakan berhenti berputar, angin seakan berhenti berhembus, waktu seakan terhenti. Aku terdiam membisu, satu yang ku lakukan ketika semua terasa mencengram hatiku. Seperti biasa, aku menuju ke kamar, badanku terasa ringan, lemah ragaku, air mataku meleleh seketika.
“ Aku masih menunggu ayah, Azza masih menunggu. Kapan ayah menyebut nama Azza”, ucapku pelan.
“ Apakah nama Azza sangatlah susah di ucapkan..?”,
“ Apakah nama Azza tidak terdaftar di hati ayah sebagai anakmu?”,
“ Ayah, aku juga ingin namaku di sebut ayah, tapi kapan…?”
“ Ayah, Azza sayang ayah”.
“ Ayah, bacakan aku cinta…!”.

Aku tak pernah mengerti cinta yang ada di dalam hatimu ayah, ku mohon bacakan aku tentang cintamu, agar aku bisa menghafalnya. Agar aku bisa tau seberapa besarkah cinta ayah ke Azza. Agar aku tak lupa bahwa ada secuil cinta untukku dari ayah. Aku ingin tau apakah ayah cinta Azza. Ayah bacakanlah aku cinta itu, agar aku bisa mengerti bahwa Azza juga anak kandung ayah seperti kak Roni, kak Hanny dan adek Nisa.
“ Ayah, bacakan aku cinta yang ada di dalam hatimu untuk Azza..!”.

Sabtu, 21 Juli 2012

Cerpen Ayah - Jangan Bunuh Nyawaku

JANGAN BUNUH NYAWAKU
Karya Rahma M.M

Hari ini begitu sepi,dengan sejuta manusia yang sedang berkumpul di terminal,bisa-bisanya aku bilang hari ini sepi,jika terminal bus saja sudah di penuni dengan penumpang bus yang tengah menunggu kedatangan bus, maksud aku,dari sekian banyak manusia di bumi ini apa tak ada satupun dari mereka yang mau menengok orang-orang susah sepertiku,setiap pagi berjalan menyusuri lorong-lorong jembatan untuk memungut barang bekas dan di jual untuk sesuap nasi,apa mereka tak sedikit pun berpikir jika kota yang mereka bangga-banggakan ini bersih juga gara-gara kami...huffft....
‘’Tari....’’.panggi seseorang dari seberang jalan
‘’apa’’,jawabku memunguti botol-botol plastik
‘’kamu kenapa sih,jutek amat’’,kata raka menghampiriku
‘’udah deh kalau kamu kesini Cuma mau gangguin aku,mendingan kamu pergi aja’’,kataku memunggunginya
‘’aku punya salah ya sama kamu’’,
‘’nggak’’.
‘’lantas....’’.
‘’aku benci sama orang-orang itu’’,aku mengarahkan jari telunjukku pada segerombolan orang kaya yang sedang makan di restauran,,,
‘’kenapa????’’,raka tak mengerti
‘’mereka enak-enakkan makan makanan mahal,ketawa-ketawa, seenaknya, mereka itu menari-nari di atas penderitaan kita’’,ujarku tak terima

‘’sudahlah ri,mungkin memang ini nasib kita,kita hanya seorang pemulung, mendingan kita pulang aja yuk’’,ajak raka,aku hanya mengiyakan saja,langkah kita terhenti ketika para warga sedang mengejar pencuri yang di teriakinya maling,,,jangan jangan laki-laki itu, ku percepat langkahku meskipun aku berjalan dengan pincang karena cacat sejak lahir,hal itu lah yang menyebabkan orang tua kandungku membuangku, mereka tak mau nama baik keluarga tercoreng karena kehadiranku....
‘’ayah....’’,aku pun sampai digubuk tempatku tinggal bersama ayah angkatku‘’ini minum dulu yah...’’,aku menuangkan segelas air dari teko ke gelas
‘’makasih nak’’,
‘’ayah ini apa-apaan sih,apa ayah yang menjadi kejar-kejaran warga tadi’’, tanyaku,tapi ayah tak menjawab pertanyaanku,nafasnya masih ngos-ngosan
‘’tari...biarkan ayahmu tenang dulu’’,kata raka
‘’maafkan ayah ri,ayah terpaksa nglakuin ini,Cuma ini pekerjaan yang bisa ayah lakuin untuk memberi makan adik-adikmu itu,ayah terpaksa ri,memang hanya ini pekerjaan ayah’’,aku ayah, dengan napas yang tersenggal-senggal dengan gelas digenggamannya
‘’tapi ini membahayakan nyawa ayah,coba kalau ayah tadi tertangkap dan di keroyok satu kampung’’,kataku, ya...slama ini ayah mencari uang dengan cara yang tidak halal,mencuri atau mencopet,tapi uang itu di gunakan ayah untuk menghidupiku dan memberi makan anak-anak jalanan ataupun di sumbangkan ke panti asuhan,meskipun jumlahnya tak seberapa,,,
‘’sudahlah nak,yakinlah,ayah melakukan ini juga bukan untuk ayah sendiri kan’’,ayah beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke bilik kamarnya, rumah yang kami tempati sangat sederhana,hanya terbuat dari kardus, mentari tlah mengistirahatkan sinarnya, kini bukan matahari lagi yang menjadi penerang bumi,melainkan cahaya rembulan,ku intip ayah dari celah-celah kardus rumah kami,ayah sedang melaksanaka shalat maghrib,ku langkahkan kakiku menuju luar rumah...
‘’sudah shalat ri’’,ayah menghampiriku
‘’sudah yah,’’jawabku duduk di antara tumpukan koran-koran
‘’kamu ini kenapa,kok kelihatannya lagi ada masalah gitu’’,tanya ayah meneguk kopi dan duduk di kursi yang sudah reot
‘’tari...tari,hmmmm....siapa sebenarnya orang tua kandung tari yah, mengapa mereka tega membuang tari di tempat seperti ini sendirian,apa mereka tak punya hati’’,kataku dengan derai air mata
‘’kamu ini ngomong apa,tari itu anak ayah, nggak ada yang membuang tari ataupun menyia-nyiakan kamu,nak’’,kata yah dengan santai,meneguk lagi kopinya
‘’ayah....’’.
‘’tari....’’,
‘’aku hanya ingin tau saja apa alasan mereka membuangku yah,karna aku cacat????’’,
‘’mereka bodoh,sangat-sangat bodoh, mereka ,meninggalkan anak sebaik dan secantik kamu di tempat kotor seperti ini’’,
‘’itu tak menjawab pertanyaanku’’, aku memalingkan muka,ayah menghela napas panjang, masuk ke dalam rumah dan mengambil sesuatu...
‘’ini....’’,ayah mengulurkan kartu nama kepadaku
‘’andika...siapa ini yah?’’,tanyaku menatap ayah dengan tatapan tajam
‘’ayah menemukan itu ketika ayah mengambilmu di tempat kamu di tinggal orang tua kandungmu nak,ayah yakin jika itu kartu nama orang tuamu’’,jelas ayah,ku lihat kartu nama itu,jln mawar n0 5,ini bukannya perumahan tempat orang-orang elit,jadi aku anak....nggak aku bukan anak orang kaya itu,aku anak ayah
‘’jika kamu benar-beanar ingin menemui orang tua kandungmu,temuilah’’,ujar ayah dengan raut muka sedih
‘’nggak yah,buat apa,mereka terlalu asing di mataku,aku ini anak ayah bukan’’,aku mendekati ayah
‘’tapi kamu berhak ikut merasakan kebahagiaan yang mereka rasakan,nak’’,kata ayah
‘’kebahagiaan tari adalah melihat ayah tersenyum’’,ujarku memeluk ayah
‘’cuma kamu harta ayah satu-satunya tari’’,ayah menyambut pelukanku...
‘’aih aih...ini anak sama bapak kok lagi tangis tangisan gini kenapa’’,raka datang membawa singkong rebus
‘’raka..’’,segera ku hapus air mataku
‘’ini aku bawain singkong rebus,yah, walaupun hanya singkong rebus tapi rasanya nggak kalah kok sama pizza’’, raka promosi
‘’kebetulan,sini sini,pakde sangat laper ini’’,kata ayah
‘’tari juga mau’’,
‘’eh eh...senyum dulu dong’’,kata raka, akupun tersenyum,kita pun memakan singkong rebus dan menghabiskan malam itu di bawah cahaya rembulan yang kurasa tengah tersenyum pada kami...
‘’tari...sudah siap,berangkat yukkk’’,raka sudah siap dengan perlengkapan memulung
‘’sudah kok,yuk’’,
‘’yukk,,’’,
‘’eh ayah’’,langkahku terhenti ketika ku dapati ayah tengah bersiap-siap untuk pergi
‘’ayah mau kemana’’,tanyaku melihat penampilan ayah dari ujung kaki hingga kepala
‘’ayah mau pergi sebentar’’.jawab ayah mengancingkan bajunya
‘’pergi kemana yah?jangan bilang ayah mau....’’,kataku teputus
‘’nggak tari,ayah udah mutusin untuk tidak mencopet atau sebagainya,ayah janji nggak akan begitu lagi,ayah Cuma mau pergi sebentar,ayah ada urusan, ayah pergi dulu ya,jaga dirimu baik-baik,raka jaga dia’’,ayah menepuk pundakku dan berlalu dari hadapanku,mau kemana ayah,tak biasanya ayah rapi seperrti itu
‘’tari....ri’’,raka membuyarkan lamunanku‘’ayo,,,’’
‘’oh...iya-iya’’,ku pakai topi untuk mengurangi panas yang begitu menyengat kepalaku,hari ini begitu panas,mulai kita berjalan menyusuri jalan-jalan memunguti sampah
‘’panas banget ya,ka’’,kataku menyeka keringatku
‘’iya nih,ni minum dulu’’,raka memberiku sebotol minuman
‘’ayah tadi pergi kemana ya’’,
‘’mungkin benar kata ayahmu jika ayahmu masih ada urusan yang harus di selesaikan’’,raka menenangkan aku
‘’tapi,tak biasanya ayah berpakaian rapi seperti itu’’,ujarku
‘’kamu juga tak biasanya begitu menyemaskan ayahmu’’,raka menatapku
‘’aku juga nggak tau,perasaanku hari ni nggak menentu,kacau,aku takut terjadi sesuatu dengan ayah,aku takut kehilangan ayah,Cuma dia orang yang aku punya di dunia ini,ayah adalah nyawaku’’akuku
‘’kamu ini ngomong apa sih,aku???’’,
‘’dan kau ragaku’’,
‘’oiya????kau masih punya aku ri,kita udah sahabatan dari kecil,bahkan aku udah nganggap kamu itu adikku sendiri, kamu masih beruntung memiliki ayah yang sangat menyayangimu,sedangkan aku,bahkan aku saja tak tau siapa yang melahirkan aku’’,raka menunduk
‘’kau masih punya aku raka’’,
‘’benarkah???’’.
‘’iya,nasib kita sama,kita harus jalani ini semua bersama-sama ka,dengan berjuta beban yang ada di pundak kita,kita diharuskan untuk selalu berjalan dengan tegaknya tanpa membungkuk,berjalan lurus tanpa berbelok,berharap dunia yang begitu kejam dapat kita genggam,hanya orang berdasi yang berkuasa,jangan harap jika kita nanti akan sukses tanpa adanya setetes keringat pun yang mengucur dari tubuh kita,dan aku yakin jika suatu hari nanti kita akan mendapatkan tempat sesuai dengan perbuatan dan tindakan yang telah kita lakukan’’,aku berkata seperti guru yang tengah menjelaskan kepada muridnya
‘’aku tak pernah mendengar kata-kata bijak itu dari mulutmu ri’’,raka terbelanga,raka kagum dengan kata-kataku
‘’kita memang nggak sekolah,tapi otak kita nggak kalah’’,aku beranjak
‘’hahahaahahah...kamu bisa bisa aja, kerja lagi yuk’’,raka tertawa terbahak-bahak
‘’yukk’’,kita pun bekerja lagi,memunguti sampah dan nanti di jual
‘’selamat siang,bisa saya bertemu dengan pak andika’’,kata ayah
‘’anda siapa,sebelumnya sudah bikin janji?’’,tanya satpam kantor pak andika
‘’belum,bisa saya menemuinya’’,harap ayah
‘’sebentar anda tunggu saja di sini’’,kata satpam itu pergi ke ruang pak andika,beberapa menit kemudian satpam itu keluar dari ruangan pak andika dan menemui ayah
‘’silahkan anda masuk,ruangan pak andika ada di sebelah sana’’,satpam menunjukan ruangan pak andika, ayah pun menuju ruangan itu
‘’permisi’’,ayah mengetok pintu
‘’iya silahkan masuk’’.kata pak andika‘’silahkan duduk’’,
‘’terimakasih’’.ayah duduk memposisikan dirinya
‘’anda ada keperluan apa ya datang kesini menacari saya,apa saya mengenal anda’’,tanya pak andika memberondong
‘’saya...saya,saya orang yang telah membesarkan anak anda’’,aku ayah
‘’anak saya?’’,apa maksud anda?’’,
‘’anda ingat dengan bayi cacat yang anda buang 18 tahun yang lalu di tempat yang sangat kumuh,dimana hati anda membuang anak kandung anda sendiri,apa anda ini tak memiliki perasaan, dia sangat membutuhkan anda?’’,jelas ayah,pak andika tak segera menjawab,pak andika masih menimbang-nimbang kata-kata ayah, ruangan pun menjadi hening
‘’dimana dia sekarang’’,tanya pak andika menghentikan keheningan
‘’apa anda akan menemuinya?’’,ayah bertanya dengan antusias
‘’iya,maafkan saya,waktu itu ibu saya tidak bisa menerima jika cucu pertamanya cacat,ibu saya berpikir jika kedatangan anak kami hanya akan mencoreng nama baik keluarga,maka dari itu ibu saya menyuruh sopir pribadinya untuk membuang anak saya,saya tidak mengetahui apa-apa karna waktu itu saya berada di luarkota,dan ibu saya mengatakan jika anak kami telah meninggal,istri saya sangat syok,namun,beberapa tahun kemudian ibu saya meninggal,dan ibu saya berkata jika anak kami belum meninggal,ibu saya menceritakan semuanya,ibu saya bilang kami harus mencari anak kami,berhari-hari kami mencari anak kami,namun hasilnya nol,’’,aku pak andika
‘’alhamduliih...saya akan mengantar anda ketempat anak anda selama ini tinggal bersama saya,’’
‘’baik saya akan menghubungi istri saya’’,kata pak andika
‘’baiklah,,,pak,tapi...’’,ayah berkata
‘’iya...ada apa?’’,
‘’jaga tari baik-baik ya pak,bagaimana pun juga dia telah saya anggap seperti anak saya sendiri’’,aku ayah
‘’pasti....trimakasih banyak ya pak, anda telah membesarkan anak saya,sebagai gantinya...’’,kata pak andika terputus
‘’tidak,,,saya tidak perlu apa-apa,saya... saya permisi dulu’’,
‘’baiklah,saya mengucapkan beribu trimakasih kepada anda’’, ucap pak andika,ayah pamit pulang,dan ketika ayah berada di depan kantor pak andika,ada jambret yag sedang di kejar-kejar warga,dan penjambret itu memberikan tas yang di jambretnya kepada ayah,dan warga mengira jika ayah berkomplot dengan penjambret itu, ayah pun di keroyok dan di hakimi orang-orang...
‘’tari...itu ada apa ya,ribut-ribut’’,raka memberitahuku
‘’nggak tau tuh,kita kihat yuk’’,aku dan raka pun segera mendekati orang yang di kroyok itu
‘’ayah...ayah,berhenti-berhenti, berhenti’’,aku mencoba menghentikan amukan warga
‘’berhenti apa yang kalian lakukan terhadap ayahku,kalian nggak punya hak buat memukuli ayahku,apa salah ayahku,’’aku tak terima
‘’dia telah menjambret’’,teriak seorang warga
‘’apa menjambret,berapa ratus juta uang yang ada di dalam tas yang ayah jambret, berapa milyar,ha,berapa banyak,kalian menghakimi ayahku samapi ayahku hampir mati padahal uang ini tidak ada apa-apanya,kenapa kalian melakukan ini kepada ayahku,dan kenapa kalian membiyarkan para koruptor yang yang mengambil uang rakyat dengan jumlah yang begitu banyak hanya untuk kepentingannya sendiri,ha,jawab,’’ aku memangku ayah yang sudah tak berdaya berlumuran darah
‘’hentikan,bukan dia yang bersalah, bukan dia yang menjambret tas saya,’’jelas korban pencopetan,kulihat dia,mengapa aku merasa begitu berbeda menatap perempuan itu,aku merasakan adanya ikatan batin seorang anak kepada ibunya
‘’mama...ada apa ini,pak joko’’,pak andika menghampiri kami,ternyata perempuan itu istri dari pak andika
‘’tari...’’,panggil ayah
‘’ayah,,,iya ayah’’,jawabku
‘’dengarkan ayah,pak andika itu...dia,dia orang tuamu nak’’,kata ayah tebata-bata
‘’apa...’’,ku pandangi pak andika
‘’kamu sekarang udah ketemu dengan orang tua kandungmu nak,kamu jangan sedih lagi ya,ayah sangat sayang sama kamu,pak andika...’’,
‘’iy,,,iya pak’’,
‘’ini tari anak bapak,tolong jaga dia pak’’,
‘’iya pak pasti’’,pak andika memelukku
‘’ayah...ayah jangan ngomong gitu,jangan tinggalin tari yah,’’ aku menangis
‘’tari...mereka orang tuamu,maafin ayah ya nak,ayah nggak bisa jaga kamu lagi,,, lailahaillah’’,ayah menghembuskan napas terakhirnya di pangkuanku
‘’ayah..ayah...ayahhhhhh’’,teriakku
‘’tari....’’,raka mendekatiku
‘’mereka jahat raka,mereka membunuh nyawaku,’’aku menangis tersedu-sedu
‘’tari.....’’,pak andika memelukku
‘’ma...dia,dia putri kita ma,dia putri kita yang slama ini kita cari-cari’’,kata pak andika kepada istrinya
‘’jadi kamu....’’,mama memelukku
‘’mama...papa’’,aku memeluk mama dan papa,keesokan harinya jenazah ayah di makamkan di pemakaman umum, kutaburkan bunga-bunga nan harum dan cantik dimakam ayah
‘’ayah....karnamu aku bisa hidup hingga sekarang,karnamu aku bisa tetap semangat menjalani hidup,kau adalah napasku,kau adalah nyawaku,tapi dunia kita telah berbeda ayah,tapi ingatlah aku tetap putri kesayanganmu’’,aku mencium nisan ayah
‘’sayang...kita pulang yuk,biarkan pak joko tenang disana’’,mama memelukku, kita pun pulang kerumah,mama dan papa mendirikan panti asuhan untuk anak-anak jalanan yang selama ini di rawat ayah dan raka...dia di beri tanggung jawab juga untuk mengurus anak-anak....

Ayah....kau memang bukan orang yang melahirkanku,kau memang bukan orang yang membuatku berada didunia ini,tapi karnamu...aku bisa tetap bertahan hidup hingga sekarang,kau merawatku dan membesarkan aku dengan kasih sayangmu,kau begitu tegar, aku masih ingat dengan kata-kata ayah, ayah berharap jika ayah dapat menggenggam dunia yang kejam ini dan merubahnya menjadi sayur bayam...aku berhasil ayah,kebahagiaan ada di depan mata,masa depanku tlah berada di genggamanku...selamat jalan ayah, namamu akan selalu terukir di hatiku, doa kami selalu menyertaimu....

THE END.........................

Kamis, 19 Juli 2012

Cerpen Ayah - Ayah, Aku Sangat Merindukanmu

AYAH, AKU SANGAT MERINDUKANMU.
Karya Sindi E.

Sedih rasanya jika mengingat masa sedih ku, ketika Ayahku harus di bawa kerumah sakit. menahan rasa sakit yang ada dikepalanya. sekarang aku sudah naik kekelas 1 SMP. aku tidah menyangka, sudah 1 tahun lebih Ayah berada disana, terlebih jelasnya berada di sisi tuhan YME. aku sedikit menyesal tidak bisa menunjukkan yang terbaik untuknya. suka membantah printahnya, suka membohonginya, dan membentaknya jika dia tak menuruti permintaanku. jika diingat sekarang, aku sangat sedih sekali. aku juga belum berkata maaf padanya di masa terakhirnya.

- Febuari 22 2011
Aku terbangun dari tidurku. aku melihat ke jendela, lagit masih gelap. tiba-tiba terdengar suara dari luar. aku keluar dari kamarku ternyata Ayah, Ibu, Om dan budeh Supri sedang beres2. aku baru ingat kalau hari ini Ayah akan di bawa kerumah sakit. ayah ku mengidap penyakit kanker otak setadium 4 dan ingin segera di operasi. sebelum Ayah pergi menuju RS Polri, Ayah mencium pipi kanan, kiri dan dahi ku, lalu berpesan
"jangan nakal ya, dek" ucap ayah ku tersenyum. aku membalas senyumannya.
lalu Ayah, Ibu, Om dan budeh supri pergi menuju RS polri. dengan terpaksa aku harus dititipkan di rumah budhe Nani karena aku harus bersekolah.

- Maret 1 2011
Setelah seminggu aku dititipkan dirumah Budhe Nani. rencananya makam ini aku bersama Budhe Nani akan menjenguknya, diantar oleh Om ku. aku tidak sabar ingin melihat bagaimana keadaan ayahku kini. Aku segera mandi dan bersiap-siap bersama Budhe Nani. Om ku telah tiba di depan rumah Budhe Nani. Aku dan Budhe Nani segera naik ke mobil menuju RS polri. dan di dalam mobil ternyata ada Rani, saudaraku. dia anak Om ku. ternyata dia juga ikut.
"kamu ikut, Ni?" tanyaku.
"iya. soalnya dirumah aku sendirian,Mbak" ucapnya. dia memanggil ku dengan sebutan "mbak" karena aku lebih tua darinya 4 tahun.
"lah? Ibu mu memang dimana?" tanya ku.
"Ibu kan udah ada di rumah sakit bareng Ibu mbak Sindi" ucapnya.
"ohh. yaudah kamu di rumah aja bareng hantu hahahaha" ledek ku membuat Rani mencubit pinggangku.
"ihh nakutin aja nihh" ucapnya kesal. aku hanya tertawa.

Sesampainya aku di RS Polri. aku, Rani dan Budhe Nani segera menuju ruang rawat Ayahku. sedangkan Om ku. ia menuju warung untuk merokok sejenak. aku berjalan menuju lift bersama Rani dan Budhe Nani, karena ruang rawat Ayahku ada di lantai 2. setelah di lantai 2, aku segera berjalan menuju kamar rawat Ayahku. aku membuka pintu kamar rawat Ayahku. ternyata Ayah ku sedang tertidur. Aku masuk kedalam kamarnya. aku berpelukan dengan Ibuku, aku sangat rindu padanya.
"Ibu, aku kangen banget ama Ibu. kapan Ibu pulang?" tanya ku menangis.
"iyah. nanti Ibu juga gatau kapan" ucap Ibuku sambil membelai rambut ku.
kata ibu. Ayah tidah mau makan, setiap makan Ayahku akan memuntahkannya, walau sesuap saja. kata suster Ayah ku harus makan karena besok Ayahku harus dioperasi. aku mencium keningnya. aku harus pulang.
"cepat sembuh ya, Yah. aku menyayangi mu" ucap ku. lalu segera pulang ke rumah Budhe Nani. bersama Rani, Budhe Nani dan Ibu Rani yang bisa aku panggil Mbak Rita. sebenarnya aku tidak mau pulang. aku mau disana, menunggu Ayah ku sampai besok, sampai hari dia akan di operasi. tapi aku harus sekolah besok, besok juga aku ada ulangan Matematika di sekolah. aku dan saudaraku bergegas pulang menuju rumah.

- Maret 3 2011.
1 hari setelah operasi. aku menjenguk ayahku bersama Budhe Nani yang diantar oleh Kakakku yang ke2, Afan. aku bergegas ke RS Polri bersama Budhe. sebenarnya Mbak putri (anak dari Budhe Nani) ingin ikut. tapi dia harus belajar karena ia harus menghadapi UAS, dia sudah kelas 3 SMA. walau berbeda 6 tahun dengan ku, tapi dia sangat akrab dengan ku. aku menanti sampainya menuju RS Polri.
"semoga saja Ayah baikan, Amin ya Allah" ucap ku dalam hati.

Sesampainya aku di RS Polri. aku menuju ke ruang ICU. karena setelah kemarin di operasi Ayah ku dirawat disana. Ibu berada di ruang tunggu ICU. aku bertanya pada ibu ku.
"Bu, aku mau liat dong. dimana Ayah di rawat sekalian ngobrol" ucap ku.
"jam besuknya udah abis dek. liat di jendela samping aja sana" suruh Ibu.
"yaudah" aku bersama Mas Afan, kakakku melihat lewat jendela.
"jendelanya tinggi, Mas" ucapku.
"yaudah lu naik ke pundak gua aja" ucap Mas Afan sambil merendahkan tubuhnya. aku agak takut, tapi aku sangat ingin melihat gimana Ayah. lalu aku menaiki pundaknya. Mas Afan mengangkat tubuhnya keatas.
"eh cepetan, Sin. udah ga kuat. badan lo berat amat si" ucap Mas Afan mengeluh.
"tunggu dong. bentar lagi ya" ucap ku sambil berpegangan di jendela. karena Mas Afan tidak kuat lagi, ia menjatuhkan tubuhnya.

BRUKKK!
"aduhh gimana sih lu, Mas?" tanya ku kesal sambil memegangi pergelangan kaki ku.
"gua ga kuat tau! badan lo berat banget!" ucap Mas Afan juga kesal sambil memegangi pantatnya. akhirnya aku hanya bisa menunggu esok untuk menjenguk lagi di ICU. karena hari ini aku menginap semalam.

- Maret 4 2011
Aku terbangun dari tidurku. aku segera mandi di kamar mandi umum bersama Rani. tiba-tiba suster datang membawa kan kabar kalau Ayahku drop. aku kaget, sangat kaget. lalu aku segera berjalan menuju ruang ICU bersama Budhe, Rani dan Mbak rita. dan benar! Ayah ku drop. mungkin karena semalam ada suara berteriak karena seorang pasien meninggal. aku menangis memeluk Mbak Rita.
"ayahh..." ucap ku menangis tersedu-sedu. baru saja aku ingin mengobrol, ternyata! aku mendengar kalau Ayahku drop.
"udah-udah. mendingan kamu doain Ayah Sindi. semoga cepat sembuh" ucap Mbak RIta menghiburku. Aku hanya mengangguk, lalu menghapus air mataku. kata dokter Ayah ku harus dioperasi lagi. keluarga ku setuju.

Ayah ku segera dibawa keruang Operasi. Ibuku menelpon saudara-saudaraku, untuk memberi tahukan kabar buruk ini. aku berjalan menuju Ayahku. disana ada Mas afan, berada di samping Ayah dan pade sartono (suami Budhe Nani) di sebelah Ayah juga. aku segera mendekat. berulang kali ayah ingin melepas selang oksigen yang di hidungnya dan infus yang berda di tangannya. tapi di jegah oleh ku, Mas Afan dan Pade Sartono.
"jangan, Yah" ucap ku mencegah. aku hanya bisa menangis. "Ayah, kenapa nasib seperti ini?" ucap ku dalam hati.

Operasi segera di mulai aku menunggu diluar. disana ada saudaraku, Yudha, Arin, dan Tegar. mereka mengajakku berkeliling, mungkin agar aku melupakan kesedihanku. setelah 6 jam berlalu. Ayahku segera keluar dari ruang operasi. aku mengiringnya bersama keluarga besarku dan beberapa perawat dan 1 dokter. Ayah ku dibawa ke ruang ICU lagi. aku hanya berdoa agar Ayahku baik-baik saja.
"ya Allah. jika engkau ingin mengambilnya. aku ikhlas. jika engkau ingin menyembuhkannya, sembuhkanlah ya Allah, Amin" doa ku untuk Tuhan YME. ketika malam aku bergegas pulang. karena besok aku harus masuk. semenjak Ayah sakit, aku jadi banyak membolos karena menjenguk Ayah.

- Maret 10 2011
Aku sering menghubungi ibu, menanyakan hal yang sama "apakah Ayah sudah sadar?" jawabannya tetap sama "belum, Dek".

Pagi ini budhe membangunkan ku untuk bergegas mandi dan sekolah.
"Sin, cepet bangun udah siang" ucap budhe.
"iya. itukan Mbak putri masih mandi" ucap ku mengeles.

Tiba-tiba HP budhe berdering.
"innalillahi" ucap budhe lalu mematikan HPnya. awalnya aku santai saja mungkin orang lain. tapi..
"Sin, Ayah meninggal" ucap budhe sambil menangis. aku terlonjak kaget, aku langsung terduduk di kasur. Mbak putri yang kaget tidak jadi mandi, dia segera memakai baju nya lagi. dan segera keluar.
"Apa?!?" ucap ku dan mbak putri berbarengan. Mbak putri menangis memelukku. awalnya aku belum mengeluarkan air mata. tapi tiba-tiba air mataku mengalir begitu saja, semakin lama semakin menderas.
"AYAHHH!!!! huhuhu!! jangan tinggalin aku, Yah" ucap ku memeluk erat tubuh mbak putri. aku segera mandi dan bergegas ke sana. tapi mbak putri tidak ikut karena hari ini ia UAS. aku berjalan memasuki taksi bersama Budhe dan mbak Rina (anak kedua budhe sekaligus kakak mbak putri)

Sesampainya aku di sana aku menunggu Ambulance yang membawa Ayah ku datang. aku masuk menuju kamar ku. mengganti baju, menjadi baju muslim coklat. aku menghampiri kakakku, Faris (kakak pertama ku) aku makan bersamanya di lantai atas. lalu Mas Faris berpesan.
"nanti lo jangan nangis ya, Sin. kasian Ayah" ucap Mas Faris lirih. aku hanya mengangguk.

Mobil Ambulance Ayahku pun datang aku menghampirinya. masih dengan rasa tak menyangka. "apakah aku bermimpi? apakah aku bermimpi buruk hari ini? jika mimpi, sadarkan aku" ucap ku dalam hati lirih. Ibu menghampiriku, matanya tergenangi air, dia memeluk ku. Mas Afan juga memeluk ku. aku menangis, padahal aku tak memintanya. air mataku begitu saja mengalir. aku masuk kedalam ruang tamu. di sana berbaring Ayah ku di atas karpet. seperti tidur. tapi tidak seperti biasa, ia sudah di baluti oleh kain batik. aku dan saudara, warga dan lainnya membacakan surat Yasin untuk Ayahku. aku membaca sambil menangis, sampai-sampai buku Yasin yang kupegang basah perhalaman. tiba-tiba pundak ku tersentuh seseorang. ohhh dia adalah saudara ku juga Mbak budi (ibu dari yudha, Arin, Tegar dan Indi)
"Sindi yang sabar ya" ucapnya mengusap-usap pundak ku. aku hanya mengangguk. Ayahku segera dimandikan. lalu dibalut kain kafan dan segera di makamkan. hujan membasahi perjalanan ku dan keluarga besarku juga tetangga-tetangga ku. aku mengangkat jemariku, menatap langit. hujan jatuh di tanganku, perlahan makin banyak. wajah ku juga terbasahi air hujan. "Tuhan, semoga air hujan ini akan menghilangkan sedikit beban dalam hati ku. setelah memakamkan dan mendoakan Ayah ku. kami segera pulang kerumah. aku segera masuk kedalam, ternyata ada Mbak putri dan Yales (pacar Mbak Putri) dia mengucapkan bela sungkawa pada ku dan keluarga ku. aku berjalan mendekati Yudha.
"Yud, main benteng yuk" canda ku.
"yee" ucapnya pada ku. aku hanya tertawa, tawa yang ku paksakan.

- Juli 12 2012
Kini aku menerimanya apa adanya, ikhlas. apalagi aku di kelilingi keluarga, saudara dan sahabat yang siap menemaniku. yang pasti aku ingin membahagiakan Ibuku, harta terakhir yang kumiliki sekarang ini. aku juga sudah memasuki smp yang ku inginkan, tapi tak 1 sekolah dengan Yudha. semoga saja Ayah tersenyum melihatku disini :)

PROFIL PENULIS
Nama ; Sindi Evinaditi
TTL ; 23 November 1999
Email ; Sevinaditi@yahoo.co.id

Ini kisah ku sendiri. maaf kalau ada salah kata.

Baca juga Cerpen Sedih  yang lainnya.

Selasa, 12 Juni 2012

Cerpen Ayah - Goresan Luka Di hati Ayah

GORESAN LUKA DI HATI AYAH
Karya Edy Purwanto

Mentari di ufuk timur mulai memancarkan sinarnya, menyilaukan sepasang mata yang kelelahan, kutengok jam pada Hp ku, waktu menunjukan pkl 06:30 WIB.
 
Tak terasa sudah satu malam aku berada di sebuah makam dan tertidur disamping nisan kayu yg di situ tertera sebuah nama...ya sebuah nama yang tak lain adalah nama ayahku...
Semalaman aku menangis dan berdoa, meratapi dan menyesali semua yang telah aku perbuat, semasa ayahku masih hidup....
Penyesalan yang sebenarnya sudah terlambat......

Aku adalah anak sulung dari empat bersaudara, dimana aku satu-satunya anak laki-laki dalam keluargaku, karena ke tiga adiku semuanya perempuan, tak heran jika ayahku sangat menyayangi aku, karena dalam silsilah keluarga kami, anak laki-lakilah yang menjadi generasi penerus keluarga. .Ayahku bekerja sebagai sopir , dan ibuku sebagai ibu rumah tangga biasa, tapi walau begitu keluarga kami hidup bahagia meskipun dari segi ekonomi tergolong pas-pasan.

Beranjak dewasa, setelah lulus SMA tahun 96" aku minta di sekolahkan di perguruan tinggi swasta terbaik di kota Semarang, kedua orang tuaku pun menyanggupinya, walaupun harus bersusah payah mencari uang kesana kemari. Akhirnya aku di terima juga di perguruan tinggi tersebut. Sebenarnya aku tergolong anak yang cerdas, itu terbukti dalam test
masuk perguruan tinggi aku menduduki peringkat ke dua, dan mendapat potongan biaya uang gedung yang lumayan besar.

Di kota Semarang aku tinggal di rumah kost, mungkin karena jauh dari pengawasan orang tua, aku mulai terjerumus dalam pergaulan bebas. Setiap pulang kuliah pasti ada saja teman yg datang ke tempat kost lalu mengajak pergi untuk hura-hura, biasanya ke Bandungan atau ketempat lokalisasi Sunan Kuning. Di tambah lagi setiap hari anak-anak kost berkumpul dan berjudi, tujuanku semula untuk kuliah hancur sudah. Selama dua semester nilaiku tak pernah lebih dari satu koma, Kegiatanku hanya berjudi tiap hari di tempat kost.

Sampai suatu ketika ayahku memergoki aku sedang berjudi sambil minum-minuman keras di kamar kost.Ayahku nampak sangat kecewa sekali, itu terlihat dari raut wajahnya yang pucat karena terkejut melihat kelakuanku.
Di panggilnya aku, dengan penuh kesabaran dia bertanya, "sampai kapan kamu akan mengecewakan kedua orang tuamu?"
Aku diam tak menjawab, rasa bersalah bercampur dengan penyesalan menyelimuti perasaanku.

Akhirnya aku putuskan untuk berhenti kuliah, ketika hal itu kusampaikan kepada kedua orang tuaku, kembali kulihat raut wajah ayah menujukan rasa kecewa yang sangat dalam, ibuku hanya bisa menangis mendengar keputusanku. Tapi apa mau di kata, rasanya otaku memang sudah tidak mampu untuk mengikuti mata kuliah.

Aku kembali ke kota asalku, tinggal bersama kedua orang tua dan adik-adiku, menjadi pengangguran yang hanya membuat beban kedua orang tuaku,
Mungkin karena risih atau kasihan kepadaku, akhirnya aku ditawari untuk buka usaha jualan pakan ternak.Tanpa pikir panjang kuterima tawaran kedua orang tuaku, walaupun aku tahu uang yang di gunakan untuk modal itu adalah pinjaman dari Bank.

Satu bulan berlalu, aku mulai bosan menunggu toko pakan ternak yang aku kelola. Aku mulai malas buka toko, karena kupikir hasilnya cuma sedikit.Aku mulai kembali memasuki dunia perjudian, akhirnya modal tokoku habis...etalase dan perlengkapanya aku obral murah, saat itu aku benar-benar
lupa diri, kedua orang tuaku hanya bisa mengelus dada.

Kini cap pengangguran kembali menempel pada diriku, aku hanya bisa keluyuran kesana-kemari. Tak tahan melihat tingkah lakuku, akhirnya orang tuaku mendesak agar aku cepat-cepat mencari jodoh, mungkin mereka berharap dengan berkeluarga bisa merubah sifat buruku.

Pada akhirnya aku menemukan wanita pilihanku, lalu atas restu dari orang tua, kami menikah di tahun 2001.
Selang setahun menikah kami di karuniai seorang putra, Nampak begitu bahagia kedua orang tuaku sewaktu menimang cucu pertamanya.

Tapi itu tak berlangsung lama, karena sewaktu anaku berumur dua tahun, aku mulai jarang pulang kerumah, kebiasaan buruku kambuh kembali, berjudi. Malah kini semakin parah, karena aku mulai mengenal narkoba.
Lagi-lagi kedua orang tuaku yang menanggung biaya hidup anak dan istriku, sedang aku tak pernah memikirkan mereka.

Beruntung aku mempunyai seorang istri yang sabar, mau menerima kapanpun aku pulang, tanpa berani marah kepadaku.
Kedua orang tuaku sangat sayang kepada isteri dan anaku, hampir setiap hari anaku di ajak bersepeda oleh kakek nya, Sementara aku masih bergumul dengan kebahagiaan semu.Kedua orang tuaku seakan sudah jenuh memperingatkan aku.

Suatu ketika, setelah aku mengkonsumsi narkoba...aku merasakan ketakutan yang luar biasa, rasanya seperti ada serombongan orang yang mengicar mau membunuh aku dan keluarga ku.Aku pulang kerumah, meminta tolong kepada ayahku untuk menyelamatkan aku dan keluargaku, aku menangis, memohon kepada ayahku agar segera melarikan aku beserta anak dan istriku.

Ayah, ibu, istri dan adik-adiku terlihat panik menghadapi situasi seperti itu. Akhirnya aku segera di larikan oleh ayahku ke tempat pemberhentian bus, istri, ibu,dan adik-adiku terlihat menangis melihat kepergianku yang diliputi ketakutan. Tujuanku ke Jakarta berlindung di rumah paman ku. Dalam perjalanan hatiku terasa was-was, seolah-olah ada beberapa orang yang membuntuti aku. Keringat dingin mengucur deras selama dalam perjalanan, jantung ku berdetak sangat kencang, seolah ajal sedang menjemputku....

Sampai di Jakarta langit masih gelap, suara kumandang Adzan subuh baru terdengar....buru-buru aku mencari tukang ojeg, untuk mengantarkan ke rumah pamanku. Setengah jam perjalanan sampailah aku di rumah pamanku, ku ketuk-ketuk pintunya beberapa kali, lalu terdengar suara langkah dari dalam rumah, pertanda paman atau bibiku sudah terbamgun. Agak sedikit tenang rasanya hati ini bisa sampai rumah paman dengan selamat.

Ketika pintu terbuka, terlihat lelaki usia empat puluh tahunan berdiri di hadapanku, sambil tersenyum, wajahnya nampak kaget melihat kedatanganku yang seperti orang ketakutan. "ada apa To,,, kok kamu datang secara tiba-tiba, dan wajahmu nampak sangat pucat?""
Ada masalah besar paman, jawabku ketus.
Masalah besar apa To??? tanya paman lagi.
Pokoknya menyangkut keselamatan nyawa saya Paman,,,,,,,,
Paman tambah kebingungan mendengar jawabanku....
"Ya sudah, sekarang kamu masuk dan istirahatlah dulu...agar fikiranmu tenang kembali", kata paman sambil memegang bahuku.
Aku pun mengikuti kata-kata paman, dan segera melangkahkan kaki, menuju kamar yang di tunjuk oleh paman.Kubaringkan tubuh ini untuk mengurangi rasa penat, dan kutenangkan hati untuk mengurangi rasa takut yang terus menyelimuti perasanku.Mata ini tidak bisa di pejamkan walau sudah terasa sangat lelah.

Waktu menunjukan pukul dua belas lebih seperemapat, ketika hendphone di saku jaketku berbunyi...dengan ragu-ragu kuambil Hp di saku jaketku kulihat sebuah nama tertera pertanda dialah yang telephon aku,,,ya adiku yang nomer tiga menelepon aku...segera kuangkat Hp ku,,,,dan.....
"Hallo" kataku.....
tapi tak terdengar suara jawaban dari adiku....malah sayup-sayup terdengar suara tangis dari adiku...aku heran tak biasanya adiku telephon dalam keadaan menngis....
Sekali lagi aku tanya "hallo, ada apa Wi?" tanyaku lagi....
baru setelah itu adiku menjawab, "Pulang Kak, Ayah telah tiada"
bagaikan di sambar petir aku mendengar berita itu,
"Kenapa?" tanyaku mendesak....
" Terkena serangan jantung Kak" jawab adiku seraya sesenggukan....
Kulemparkan Hp yang aku pegang ke lantai, ku teriak sejadi-jadinya,,,,
pamanku terkejut melihat tingkahku,,,"Ada apa To" tanya paman ku.
"Ayah..ayah...paman" jawabku.
"Ayahmu kenapa?" tanya paman semakin penasaran.
"Ayah meninggal, paman" jawabku dengan suara sesenggukan.
"Apa??? ayahmu meninggal???? "tanya paman.
"Iya paman" jawabku lagi.
"Kenapa???" paman terus bertanya seolah tidak percaya.
"Ayah terkena serangan jantung "
"Innallilahi wa innallilahi roji'un" sahut paman sambil menenangkan aku.

Hari itu juga aku bersama Paman, Bibi, dan sepupuku pulang ke desa untuk menghadiri pemakaman Ayah. Di jalan aku sering terasa mau pingsan, tubuhku lemas tak berdaya, pikiranku kacau, hatiku terasa sangat kecewa....

Sesampai dikota asalku, aku bergegas naik ojeg, agar cepat sampai di rumah.
Sesampai di rumah sudah tak kulihat lagi jenasah Ayah...
kulihat ibu,adik-adiku, isteriku dan anaku masih menangis sedih...karena baru saja di tinggalkan orang yang paling mereka sayangi....
 
Senua yang ada di rumah, menatap aku....seakan memfonis kematian ayah disebabkan karena aku.
Aku hanya bisa tertunduk dan menangis sesenggukan....lalu ku bergegas melangkah menju makam ayahku, walaupun waktu telah menujukan hampir pukul 22:00, tidak ada seorangpun yang bisa mencegahku untuk melangkah menuju ke pusara Ayah. Sesampai di makam ayah aku menangis sejadi-jadinya,,, penyesalan tak henti-hentinya singgah di benaku, Kupanjatkan doa
dan memohon ampun atas segala kesalahanku, dan bersumpah di atas pusara Ayah untuk tidak mengulangi lagi segala perbuatan buruk yang selama ini telah aku lakukan....

Maafkan aku Ayah....
yang semasa hidupmu aku belum pernah bisa membahagiakanmu.....
kini kubersumpah....tuk menjadi manusia seperti yang engkau harapkan.
kan kujaga Ibu, Adik-adiku, Isteri dan anak-anaku.
semoga engkau di terima di kerajaan Surga, bahagia selalu sampai akhir jaman.........

PROFIL PENULIS
Nama: Edy Purwanto
Nama FB : Sandut Azza
Email : sandutpurwanto@yahoo.co.id

Minggu, 06 Mei 2012

Cerpen Motivasi - Goresan Hati

GORESAN HATI
Cerpen Chici Pratiwi

Mengembara hidup memang tak semudah yang ada di benak kita. Hidup memang penuh dengan liku-liku cobaan. Bahkan hidup dapat mempertaruhkan nyawa kita sendiri. Terkadang kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di kehidupan kita. Kita hanya dapat bersabar, berusaha serta berdoa jika hidup kita sedang diuji. Hembusan angin yang mencoba masuk ke cela ventilasi kamarku membuat aku menarik kembali selimut yang terlepas dari tubuhku. Malam itu terasa sangat sejuk dan menyenangkan. Tak pernah ku merasakan apa yang akan terjadi ketika hari esok tiba. Malam itu membuatku semakin terlelap tidur hingga pagi datang kembali. Hari itu tak berniatku untuk pergi sekolah karena aku baru saja menyesaikan ujian akhir sekolah saatku duduk di bangku SMP. Namun setelahku memikirkan hal itu, aku lebih memilih untuk pergi ke sekolah. Tak ada rasa curiga sedikitpun aku berangkat ke sekolah. Seperti biasa aku berpamitan kepada kedua orang tuaku.

Tibanya di sekolah, aku mencari teman-temanku yang tengah duduk di kantin sekolah. Seperti biasa kami selalu tertawa canda bersama. Hari itu tampak bahagianya menikmati bermain canda tawa di kantin sekolah. Tak biasanya aku sebahagia itu. Teman-temanku pun banyak yang bilang kalau hari ini aku terlihat bahagia sekali. Aku tak menghiraukan mereka berkata seperti itu. Aku kira mereka hanya sekedar bercanda tapi hari itu memang banyak sekali yang berkata seperti itu.

Sepulang dari sekolah, aku lebih memilih untuk bermain kerumah teman di bandingkan untuk pulang kerumahku. Entah mengapa hari itu aku seperti itu. Aku tak tahu apa yang akan terjadi. Aku pergi bermain kerumah teman bersama Putri. Putri adalah salah satu teman dekatku yang ada di sekolah ku. Menurutku Putri anaknya baik. Tak lama kemudian aku dan Putri tiba dirumah temanku yang bernama Olin. Olin adalah teman dekatku yang kedua. Kami mulai dekat ketika naik ke kelas IX. Hari itu juga saat dirumah Olin aku merasakan mataku terasa berat sekali seakan mengundang mataku untuk tertidur di terik yang sangat panas itu. Terasa sejuknya angin yang menghembuskan tubuhku, aku pun memilih untuk tidur-tiduran di sebuah kursi rotan Olin. Kepalaku telah menempel di atas tas sekolahku yang saat itu aku jadikan sebuah bantal, tiba-tiba getaran Hp ku saat itu menganggu istirahatku disebuah rotan itu. Ternyata seseorang yang menelponku. Aku lalu mengangkat telpon itu, hanya bunyi tangisan yang tak jelas ku mendengarkannya. 

Aku pun tersentak untuk bangun dari kursi rotan itu. Hatiku berdetak semakin kencang, mukaku berubah menjadi merah, hatiku menjadi sakit dan pikiranku galau setelah mendengar seorang wanita yang menghubungi aku. Tetesan air mata yang seolah menjelaskan suasana yang tengahku alami membuat teman-temanku merasa heran. Aku terdiam sambil meneteskan air mata. Tak ada yang dapat ku lakukan kecuali menangisi informasi itu. Entah itu benar atau hanya isu belaka. Tapi yang jelas jika itu benar aku takkan pernah membiarkan orang itu hidup tenang.

Aku mencoba menghubungi keluargaku yang ada dirumah dan ternyata kabar itu adalah kabar yang paling menyakitkan yang pernah ku alami. Tak pernah ku membayangkan kalau masih ada juga orang yang sekejam itu. Tetesan air mataku semakin deras mengalir sehingga membasahi wajahku. Keringat dingin pun merasuk di ujung jemariku. Kekesalan yang ku rasakan saat itu hanya membuatku menjadi gelisah.

Aku pun dengan cepat untuk pergi ke rumah sakit. Aku sangat mengkhawatirkan kondisi ayahku. Pikiranku kacau, tak mengerti akan cobaan yang menimpah ayahku. Sepanjang jalan air mataku tak berhenti mengalir deras. Sesampainya di rumah sakit bersama 2 orang temanku, aku langsung menuju sumber informasi pasien. Aku menanyakan tentang ciri-ciri ayahku. Ternyata ayahku masih berada di ruang IGD. Hatiku gelisah karena memikirkan keadaan ayahku. Saat memasuki ruang IGD dengan spontan aku teriak dengan menyebut nama” ayah “. Tak ku hiraukan semua orang yang ada diruangan itu. Tiba-tiba seseorang memberitahukan posisi ayahku. Aku langsung berlari dan membuka tirai tempat ayahku terbaring lemah dengan beralaskan selimut yang menutupi dari ujung kakinya sampai lehernya. 

Kekecewaan yang ku rasakan dan kebencian yang menghampiriku. Sungguh bukan perbuatan manusia jika melihat kondisi ayahku seperti ini. Tak pernah ku bayangkan ayahku tersiksa dan tersakiti ketika ingin berjuang memberantas seorang korupsi. Mereka memang tak mempunyai hati. Mereka telah dibutakan oleh kekayaan dan keegoisan. Sampai kapanpun aku tak akan pernah bisa melupakan kejadian yang sangat menyakitkan dalam hidupku. Walaupun aku tak bisa membalas semua perbuatan keji itu tapi sesungguhnya Allah Tuhanku takkan pernah tidur ketika melihat hambanya tersakiti. Saat itu ku hanya bisa pasrah menerima karena suatu saat mereka pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuatan mereka sendiri.

Semenjak kejadian itu aku lebih termotivasi untuk menjadi sesorang yang berjiwa besar seperti ayahku. Meski resiko pekerjaan ayahku sangat besar tetapi tak pernah membuat ayahku mengeluh dan mundur. Bahkan ayahku rela mempertaruhkan nyawanya hanya untuk membela kebenaran bukan untuk mencari sensasi belaka.

PROFIL PENULIS
Heii..
Namaku Chici Pratiwi. Biasa di panggil cece. Aku lahir di Bengkulu tanggal 16 Januari 1996. Sekarang aku masih menjadi seorang pelajar SMA. Kalo mw kenal lebih deket lagi sama aku bisa liat di fb aku aja https://www.facebook.com/chici.pratiwi

Baca juga Cerpen Sedih dan Cerpen Motivasi yang lainnya.

Sabtu, 05 Mei 2012

Cerpen "Secuil Kisah Tentang Ayah"

SECUIL KISAH TENTANG AYAH
Cerpen Kartika Dewi 

Kami, khususnya ibu sangat berpengharapan lebih saat itu. bahagia sekaligus haru ku lihat dari paras ayunya yang kian termakan oleh usia,

Ya...kami sempat lega sesaat, sebelum panggilan dari sound system pojok ruangan tunggu mengalun memanggil-manggil nama ayahku. Aku tersentak kala itu, aku baru saja tertidur beberapa menit yang lalu. Ya..panggilan itu dari suster jaga di ruangan sebelah, memanggil kami untuk segera ke ruangan ICU. Mulanya kami lega, ini adalah awal yang baik karena ayah tak lagi harus berjibaku dengan kabel-kabel kecil yang melilit tubuhnya, menganggu nafasnya, membuatnya susah untuk menggapai tanganku kala aku menjenguk, juga monitor yang berting-tong ria, aku rasa ayah sangat risih dan tak tahan dengan bunyi-bunyioan aneh itu, bau obat juga tak kalah menjengkelkannya, belum lagi pasien sebelah yang tak terduga bisa saja merengek-remngek atau teriak-teriak. Ah,,,rasanya pasti bosan berada dalam ruangan itu.

Aku segera beranjak dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka, disusul abangku yang tadi tidur di sebelahku.
" Alhamdulillah, akhirnya bapak dipindah juga ", batinku ketika melewati lorong kecil menuju ruang ICU. Benar-benar tak ada firasat apa pun sebelumnya. Ya...ternyata Sang Kuasa memiliki rencana lain.

Suster jaga, " Keluarga bapak ? ", ia menyapa kami dengan masker setengah dipakai . Ia tersenyum, aku tau itu.
" Iya ", sahutku.
" Begini ya...bapak sudah membaik, sekarang saja beliau tidur pulas" (aku menatap abangku sekilas,saenyum), lanjut suster. "tapi maaf, bapak belum bisa dipindah kamar, jantung bapak sedikit melemah dan belum sepenuhnya stabil.jadi tadi Dokter Arif menyampaikan kalao bapak belum bisa dipindah kamar malam ini, jngan khawatir, bapak baik-baik saja kok. Mau lihat bapak?"
Aku rasa ada sesuatu telah menyambar jantungku, semacam kilat yang tak biasa, menusuk cukup dalam ke jantungku.
Aku mengangguk dan memasuki ruangan yang sangat tak ku sukai itu. Aku melihat ayah dari balik pintu kaca yang berkorden Ijo itu. Ia tertidur pulas..ditemani ting-tongan monitor dengan garis-garis yang tak ku tau maksudnya. aku ingin mengecup pipinya, aku ingin ia segera kembali tertawa seperti biasanya, dengan gurauan-gurauan kuno nan jadulnya. Aku ingin menitih air mata, tapi AC disekitarku telah membekukan air mataku dan berkata, " Jangan kau menangis! Ayahmu tak butuh sedihmu! Ia butuh kehangatan dan kehadiran keluarganya, itu saja! berdoalah kepada Yang Khaliq, sahabatku!" (AC saja bisa berkata seperti itu, aku harus kuat!!!)
Aku menahan nafasku dalam dan menghempaskannya dengan memejamkan sepasang mataku, " Lindungi ia, Ya Robb"
Aku berjalan keluar ruangan digandeng abangku.. "Allah pasti menyembuhkanmu, pak"
Baiklah...sekarang masalahnya adalah ibu. Bagaimana kami menjelaskan padanya? Sungguh, aku tak tega menyakitinya, merobek bahagianya dengan kabar ini. Abangku menepuk pundakku tanpa mengucap satu patah kata pun, tapi aku tau maksudnya.ia berusaha menenangkanku. kami pun berjalan sendiri-sendiri menuju ruang tunggu keluarga pasien.

Dari jauh aku sudah melihat kerudung ibu meski agak samar karena gelapnya ruangan. Ya..itu ibu,ia memaksakan senyumnya pada kami, meski terlihat benar ia sangat lelah batin dan fisik. Ia sudah membereskan semua barang kami dan sudah siap pindak ke kamar baru ayah.
‘Tuhan...aku tak tega mengatakannya’
“mboten sios pindah buk, nunggu doktere ngantos mangke enjing”, hanya itu yang mampu terucap dari mulut abangku, seketika raut wajah ibu menciut, ia tak mengatakan apa-apa. Lalu ia berjalan mewnuju kamar mandi di sebelah ruangan kami dan kembali dengan wajah yang suda terbasuh air. Aku malu karena mngetahui bahwa ibuku berwudlu. Aku malu pada diriku sendiri.
*** **

Dari balik kaca ku lihat ia menengadahkan kedua tangannya, ia menunduk dengan mukena putih motif kembang.
** ***

Ya Allah, semua rizqy ada di tanganMU, berikan keikhlasan bagi kami menerima garis indahMU. ( Doa di hati kecilku: beri kesembuhan kepada ayah dan hati yang besar pada ibu . Aminn )
*** **
 
Sesekali kilat memecahkan keheningan malam ini, juga gerimis yang turun pelans seakan tak mau mengganggu tidur ayah dan ibuku, juga orang-orang yang berpengharapan sama denganku, di rumah sakit ini.
Selamat tidur ibu, selamat tidur ayah

PROFIL PENULIS
Aku adalah mahasiswa psikologi pendidikan Bimbingan Universitas Negeri Yogyakarta. iya..aku lahir di Jepara, lebih tepatnya di kawasan paling timur kabupaten jepara (sebut saja aku anak "pinggiran"). Sudah lama aku suka menulis apa pun, baik yang akhirnya berbentuk (ya..misalnya cerpen ini)atau pun yang berakhir hanya dengan judul, coretan satu dua kalimat atau bahkan benang ruwet yang (aku yakin hanya aku yang dapat membaca,hehee). selamat menikmati coretan otak saya. salam kenal teman-teman loker seni (terkhusus untuk yang suka cerpen). :D

Cerpen Ayah - Bahagiaku Surga Mereka dan Dukaku Pilu Mereka

BAHAGIAKU SURGA MEREKA DAN DUKA KU PILU MEREKA
Cerpen Vicky Rizki Ananda
 
Saat fajar membangunkan ku,yang aku fikirkan hanya satu.yaitu kebahagiaan dalam hidupku,aku berharap semuanya akan kembali seperti yang dulu.aku ingin kan ayahku selalu ada di sampingku.

Waktu sudah menunjukan pukul 07.14,aku harus bersiap-siap berangkat sekolah.sekarang aku duduk di kelas VIII SMP,dan sebentar lagi aku akan menghadapi ujian kenaikan kelas.ibu yang selalu ada di sampingku,memberikan motivasi agar aku terus semangat belajar untuk menggapai cita-cita.berbeda dengan ayah ku yang tidak pernah ada disampingku.

Sejak aku kelas 2 SD,beliau meninggal kan aku dan ibu.aku sangat kasihan dengan ibu,selain jadi ibu beliau juga harus menjadi ayah bagi ku.ibu adalah wanita yang sabar yang pernah aku kenal,dan ayah adalah lelaki terkasar yang pernah aku kenal.aku masih ingat persis perkataan ayah yang dilontarkan ke ibu,”dasar wanita tidak tahu diuntung,wanita tidak punya otak”.itu lah kata-kata kasar ayah yang di ucapkan nya kepada ibu,aku sedih mendengarkan itu semua.Cuma karena masalah sepele saja,ayah sampai berkata seperti itu.waktu itu senja telah tiba,ibu pergi kerumah nenek untuk menjenguk nenek yang sedang sakit.tiba-tiba ayah memanggil ku,”putri....putri”.panggil nya,’ia yah?,ada apa?”
“mana ibu mu?”tanya ayah pada ku.
‘ibu pergi kerumah nenek yah”jawab ku,
tapi jawaban ku itu tidak di percaya oleh ayah,ayah mengira ibu tidak ke rumah nenek.dia memaksa ku untuk berkata jujur,rambut ku di tariknya,lalu beliau melontarkan kata-kata kasar padaku.”putri harus berkata apalagi yah?ibu memang pergi ke rumah nenek,kalau tidak percaya ayah lihat saja kesana”.aku bingung dengan tindakan ayah,seolah-olah beliau mencari-cari kesalahan aku dan ibu.yang tadinya ayah selalu lembut pada ku,kini ayah tidak seperti yang aku kenal dulu,ayah berubah menjadi kasar ketika beliau baru pulang tugas dari luar daerah.semenjak saat itu,ayah menjadi kasar,beliau sering memukuli aku dan ibu.
 
Ayah seperti menyembunyikan sesuatu dari aku dan ibu,ayah sering keluar malam dengan alasan yang tidak jelas.ketika aku sedang tidur,aku tidak sengaja mendengar prmbicaraan ayah dan ibu.”aku akan secepatnya mencerai kan mu”.aku terkejut dengan apa yang dibilang ayah pada ibu,aku tidak percaya ayah seperti itu.hari-hari telah berlalu,akhirnya ayah dan ibu berpisah,mereka bercerai.ternyata apa yang selama ini aku dambakan dan yang aku harap kan,tidak akan pernah tercapai.

Ketika rembulan berganti tugas dengan mentari,tiba-tiba aku mendapat kabar bahwa ayah sudah mendapatkan pengganti ibu,ayah sudah mendapatkan pendamping hidupnya yang baru.dan sampai saat ini aku dan ibu tidak tahu bagaimana kabar dan dimana ayah berada.
“maafkan ibu ya nak?ibu tidak bisa membahagiakan kamu,karena ibu ayah jadi pergi meninggalkan kamu”
Kata-kata ibu semakin membuat ku tegar untuk menjalani hidup ini.

Tidak terasa sudah hampir 1 tahun ayah meninggal kan aku dan ibu,sekarang aku sudah kelas III SMP.aku masih merindukan sosok ayah dalam hidupku,aku sering melihat ibu menangis karena ingat dengan ayah.waktu aku sedang berbicara dengan ibu,tiba-tiba hand phone aku berbunyi.
“aku menunggu kehadiran mu,di taman bunga dekat sekolah kamu.sekarang!”

Aku bingung,siapa yang mengirim sms itu pada ku,dengan rasa penasaran aku langsung bergegas ke taman bunga dekat sekolah ku.setelah beberapa lama aku menunggu,datang lah seseorang yang tidak asing bagi ku dan menghampiri ku,beliau adalah ayah ku.
“kenapa ayah tega meninggal kan aku dan ibu?”tanyaku langsung padanya.
“maaf kan ayah nak,ayah tahu ayah sudah banyak kesalahan padamu dan ibumu”
“tapi kenapa ayah seperti itu?”apakah ayah sudah tidak sayang lagi dengan aku dan ibu?”
“ayah meninggalkan kalian karena ayah buta akan kebenara yang ada,teman satu tempat kerja ayah telah menutup kebenaran itu”

Aku ingung dengan kata-kata yang di lontarkan ayah pada ku?dan aku tidak tahu apa maksud dari kata-kata ayah itu.lalu ayah menjelaskan padaku.
“teman kerja ayah bilang pada ayah,bahwa ibu mu semenjak ayah tinggal kerja ke luar daerah ibu mu sering keluar malam bersama lelaki lain,dan itu terjadi hampir setiap malam.mendengar itu semua ayah langsung menjadi benci dengan ibu dan kamu”jelas ayah padaku!
“ya tapi mengapa ayah juga membenci ku?apa salah ku?”
“ayah berfikir pasti kamu tahu semua apa yang terjadi selama ayah berada diluar daerah”
“tapi itu semua tidak benar yah?,ibu tidak pernah keluar malam apalagi dengan lelaki lain kecuali ayah”
“ya putri,ayah sudah tahu kebenarannya,teman kerja ayah hanya ingin merusak hubungan keluarga kita,dan beliaulah yang selama ini menjadi pengganti ibu mu,tapi sekarang ayah dan istri ayah sudah bercerai karena beliau hanya ingin memanfaatkan ayah saja”
Aku sempat tidak percaya dengan pengakuan ayah,tapi mau bagaimana lagi,itulah kenyataan yang sesungguhnya.di satu sisi aku bahagia karena aku telah mengetahui kejadian yang sebenarnnya dan aku bisa memaafkan ayah,tapi di sisi lain apakah bisa ibu memaafkan dan menerima ayah kembali?

Ayah memberanikan diri untuk meminta maaf dan meminta rujuk kembali bersama ibu.tetapi ayah sempat tidak yakin kalau ibu mau menerima ayah kembali dengan apa yang selama ini telah di lakukan ayah pada ibu.awalnya ibu sempat menolak ajakan ayah.
“kenapa ibu menolak untuk kita bersatu kembali?,aku malu bu dengan teman-temanku mereka sering mengeledekku,apalagi sebentar lagi aku akan menjalani ujian akhir sekolah”
“ia ibu tahu dengan perasaan putri,tapi ibu takut ayah mengulangi kesalan yang sama.ibu sudah cukup takut putri.”

Tiba-tiba ayah menyambung pembicaraan ku dengan ibu.
“ayah berjanji dan bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang pernah ayah lakukan,pegang janji ayah ini”
Dengan meneteskan air mata ibu menerima ayah kembali ke dalam keluarga.akhirnya aku bisa bernafas dengan legah,aku seperti hidup kembali di dunia ini,aku telah mendapatkan kebahagianku yang telah hilang.
Jadi?seburuk apa pun kelakuan orang tua kita,mereka tetap orang tua kita yang telah membesarkan kita.bagaimana pun didunia ini tidak ada bekas ayah maupun ibu.

PROFIL PENULIS
Hay....... nama ku vicky,aku hoby bgt kalau yang namanya buat cerpen.ya walau pun hasilnya nggak bagus,tapi aku yakin bagi siapa yang membacanya akan bisa termotivasi.
dan jangan lupa add aku ya??:)
virizandasanjaya14@yahoo.com

Rabu, 02 Mei 2012

Cerpen Motivasi Pendidikan "Pertanyaan Misterius Ayah"

PERTANYAAN MISTERIUS AYAH
Cerpen Angga Mardian

Hari ini ayah tidak pergi kerja, aku pun sedang libur sekolah. Kulihat ayah sedang sibuk membetulkan sepeda motornya. Lantas kudekati ayah, “butuh bantuan, Yah?”, tanyaku polos. Saat itu aku masih kecil dan duduk di bangku SD. “eh, ada dede’ kecil. Boleh-boleh”, jawab ayah. Kami banyak berbincang selama membetulkan sepeda motor ayah. Ayah banyak bercerita tentang sepeda motor padaku, aku menikmatinya. “kalo dede’ sudah besar nanti mau jadi apa?’, tanya ayah padaku. “dede’ ingin jadi pembalap yah, seperti Valentino Rossi”, jawabku secara spontan. “oh ya?, wah hebat. Tapi pembalap harus tahu bagian yang terpenting dari motor, dede’ tahu?”, tanya ayah padaku. Aku pun berfikir, apa ya yang paling penting?.

Keesokan harinya saat sarapan, aku menjawab pertanyan ayah kemarin. Bagian terpenting dari sepeda motor adalah roda, karena tanpa roda motor tidak bisa berjalan. Mendengar jawabanku ayah berkata: “wah pintarnya, tapi sayangnya bukan itu sayang”, jawab ayah. Aku pun tidak menyerah, setiap hari aku selalu mencoba menjawabnya. Mungkin jawabannya adalah kunci, karena tanpa kunci motor tidak akan bisa menyala dan diamankan. Tapi ayah selalu berkata: “smakin hari dede’ smakin pintar ya, tapi jawabannya masih belum tepat”.


Aku belum menyerah. Sampai aku duduk SMP pun, Sesekali ayah menanyakan pertanyaan masa kecilku itu, dan setiap ku jawab pasti ayah berkata: “kamu sangat cerdas, tapi bukan itu jawaban yang tepat, terus mencoba ya”. Karena terus seperti itu, lama-kelamaan aku mulai bosan. Karena jawabanku selalu belum tepat. Sejak kecil sampai sekarang, ayah tak pernah mau memberikanku jawaban yang sebenarnya. “jangan kamu bosan mencoba menjawabnya, karena ini pertanyaan yang sangat mudah, teruslah berusaha”, kata ayah setiap kali aku mengeluh.

Sesudah lulus SMP, aku melanjutkan ke SMK dan aku mengambil jurusan otomotif. Kutanyakan pada guruku, bagian terpenting dari sepeda motor itu apa. Jawaban guruku adalah Accu, karena motor takkan bisa menyala tanpa Accu. Aku yakin jawaban kali ini pasti benar. Sepulang sekolah sambil menunggu ayah menjemputku. Ku tanyakan pada teman-temanku, apa yang paling penting dari sepeda motor. Bermacam-macam jawaban kudapatkan dari mereka, mulai dari mesin, busi, rem, lampu, sampai bensin dan oli.

Saat diperjalanan aku menjawab pertanyaan ayah, satu persatu jawaban yang ku dapat, kuceritakan pada ayah, dan hasilnya tetap saja “coba lagi”. Aku mulai berpikir ayah pasti mempermainkan aku. Selama perjalanan aku tak berbicara sepatah katapun padanya. Sampai disebuah lampu merah, kami melihat seorang nenek tua bersama cucunya sedang mengemis ditepi jalan. Ayah merogoh kantongnya, memberikan sejumlah uang dan berkata: “tolong berikan ini pada mereka, senyampang kita masih diberi rezeki, kita harus saling menolong dan berbagi”. Kuberikan uang itu pada nenek yang sedang memelas dan mengemis itu. Hatiku tersentuh melihatnya.

Malam harinya diruang tamu, ayah menyuruhku duduk disampingnya. Beliau menasehatiku supaya aku jadi anak yang baik dan ramah sepertinya. Akupun mendengarkan dengan cermat. “jadi kau benar-benar ingin tahu jawaban dari pertanyaan ayah?”, kata Ayah secara tiba-tiba. Aku yang sedikit bingung mengangguk, karena aku sudah menyerah dan bosan dihatui pertanyaan misterius ayah. “kau tahu, diantara semua jawaban yang kau berikan pada ayah, memang tidak ada satupun yang salah. tapi ayah ingin kau belajar sesuatu dari pertanyaan ini. Kau tahu, bagian yang paling penting dari sepeda motor adalah ‘Sadel’ “, jawab ayah. Aku sedikit terkejut. “apa alasannya yah?”, tanyaku penasaran. Ayah tersenyum kearahku dan berkata: “kau tahu kenapa?, karena dengan sadel, kita bisa membonceng dan kita bisa berbagi kebahagiaan dengan siapa saja diatas sepeda motor kita. Seperti itu pula harusnya kita hidup, selalu berbagi dan memberi selama kita masih diberi waktu dan rezeki untuk hidup diatas bumi ini “.

PROFIL PENULIS
Hangga Mardian (Nama lengkap)
Tulungagung, Maret 1994
FB : hm_i@ymail.com
Takkan Berhenti Menulis Imajinasi

Baca Juga Cerpen Motivasi dan Cerpen Pendidikan yang lainnya.

Jumat, 13 April 2012

Siapa Ayahku??? - Cerpen Ayah Terbaru

SIAPA AYAHKU??
Cerpen Ony

Kletek …
Aku mengalihkan perhatianku dari Komik Detektif Conan yang sedang kubaca. Kulirik jam dinding di kamarku. Jarum jam menunjukan pukul 22.00 wib. Aku menghela nafas. Terdengar suara deru mobil
“Selalu aja, kemana sich Ayah ?” gumamku sambil menyibak tirai kamarku. Aku mengintip dari balik jendela kamarku. Terlihat mobil Ayah keluar dari garasi, lalu perlahan menuju ke jalan raya, lalu hilang di kegelapan malam. Aku menghela nafas. Apa sich yang selalu dikerjakan malam-malam begini ? Ini juga bukan yang pertama kalinya. Tapi sejak sebulan terakhir ini Ayah selalu keluar rumah tengah malam, malah kadang pulangnya 2 hari kemudian. Memang sich selama ini Ayah sering berpergian malam-malam tapi pulangnya tidak sampai berhari-hari. Ayahku juga sangat misterius & tertutup. Setiap hari wajah Ayah terlihat pucat & matanya merah . Pasti gak akan ada yang percaya bahwa sampai saat ini aku gak tau apa pekerjaan Ayahku. Yup, selama 15 tahun aku hidup di dunia ini, aku sama sekali gak tau. Sumpah. Kadang Ayah bersantai di rumah. Tapi, kadang Ayah tiba-tiba pergi tanpa memberi tahu. Kadang aku suka iri pada teman-temanku, mereka sering membanggakan pekerjaan Ayah mereka. Ada yang Dokter, anggota DPR, pengusaha. Sementara aku ? Sering aku bertanya kepada Ibu apa pekerjaan Ayah tapi Ibu hanya tersenyum menanggapinya. Aku juga gak dekat dengan Ayah. Ayah di mataku seperti orang asing. Ya, aku jarang berbicara dengan Ayah, malah hampir gak pernah. Kadang cuma pas Lebaran, itupun kalau Ayah gak tiba-tiba pergi.
Aku menguap dengan lebar. Kulirik lagi jam di dinding. Menunjukkan pukul 23.00 wib. Waktunya tidur. Aku segera menarik selimut dan tertidup lelap.

Di sekolah aku gak dapat menahan kantukku. Saat jam istirahat aku menelungkupkan kepalaku di meja berusaha untuk tidur. Tapi tiba-tiba saat aku mulai terlelap , terdengar suara berisik teman-temanku.
“Iya dy hilang secara misterius, sampe sekarang belom ketemu.” terdengar suara seorang cewek. Aku mengangkat kepalaku. Ternyata itu suara Tere.
“Siapa yang hilang ?” tanyaku sambil menghampiri mereka.
“Masa kamu gak tau cha, itu tuh si Reina.” jawab Tere. Tere memang selalu update info-info terbaru, gak heran dia ratu gossip di SMA Velacity ini. Walaupun baru kelas 10, dia udah terkenal dengan gosipnya.
“Reina anak 10_A ya, emang kapan hilangnya ?” tanyaku lagi sambil duduk di samping Tere, seketika ngantukku hilang.
“Kemaren siang sekitar jam 3, kayaknya diculik dech.” Tere mulai melancarkan gossip- gosipnya.
“Kayaknya yang nyulik orang yang sama, kan akhir-akhir ini sering terjadi penculikan misterius, yang penculiknya gak minta uang tebusan.” jelas Lia sahabat Tere. Aku hanya menganggukkan kepala. Memang akhir-akhir ini di media masaa sedang marak-maraknya berita tentang penculikan misterius. Yang jadi korbannya para ABG. Ibu sering mengingatkanku agar selalu waspada bisa-bisa aku diculik. Tapi aku gak perlu khawatir, jika ada yang berani macam-macam denganku, aku akan langsung menggunakan teknik nage waza* dalam judo, yaitu tenik membanting. Begini-begini aku seorang judoka dan terlebih lagi aku sudah dan* lima.
“Makanya, kalian tuh jangan main ke tempat yang sepi bisa-bisa kalian diculik.” Aku mencoba menasihati mereka. Mereka hanya menatapku.
“Kamu tau gak, pas Reina diculik dia tuh sama keluarganya,lagi makan di restoran, itu kan ditempat ramai.” Lia memasang wajah serius. Aku sedikit terkejut, bagaimana bisa seseorang di culik di tempat yang ramai. Bisa jadi penculiknya seseorang yang professional.
“Aku jadi penasaran.” kataku sambil menerawang. Tiba-tiba bel tanda istirahat berbunyi. Aku segera kembali ke tempat dudukku.


Hari ini aku pulang dengan lunglai. Pelajaran terakhir tadi diadakan ulangan mendadak, aku yang memang hanya belajar jika hanya ada ulangan aja jelas kelimpungan. Bisa-bisa ulangan kali ini aku remedial. Aku mengayuh sepeda ku dengan enggan, dari SMP sampai kelas 1 SMA ini aku selalu pulang pergi ke sekolah menggunakan sepeda. Walaupun teman-temanku hampir seluruhnya pergi ke sekolah menggunakan motor, malahan ada yang menggunakan mobil, tapi aku lebih menyukai naik sepeda. Bagiku naik sepeda lebih menantang daripada naik motor ataupun mobil. Lagian, bukan aku sendiri yang naik sepeda, ada Dicky sahabatku yang sekaligus tetanggaku dari kecil.
“Kok muka kamu murung banget,” Dicky mengayuh sepedanya mendekatiku. Aku hanya menatapmya dengan wajah yang memelas. Jangan bilang dia gak tau kenapa aku begini.

Dicky hanya tertawa melihat tampangku yang semakin kecut. Dia memang hobi menggodaku. Aku membelokkan sepedaku ke dalam pekarangan rumahku. Dicky melambai ke arahku dan masuk, rumahnya di depan rumahku.
Dengan lesu aku memasuki rumahku. Pada jam-jam segini rumahku memang sepi, Ibu pasti lagi mengurus salonnya, Kakakku sedang kuliah dan kalau pulang sore, sementara Ayahku ? Kadang-kadang dia ada, kadang-kadang menghilang. Saat melewati ruang kerja Ayah, kulihat pintunya sedikit terbuka. Dengan penasaran aku mengintip. Gak ada siapa-siapa didalam. Rasa penasaranku terhadap Ayah membuatku ingin masuk ke dalam, siapa tahu Ayah menyimpan rahasianya di ruang kerjanya. Seketika naluri detektif ku muncul. Dengan perlahan-lahan aku memasuki ruang kerja Ayah.
Sebenarnya ruang kerja Ayah gak ada yang aneh. Terdapat meja kerja & juga lemari. Tapi di atas meja berhamburan kertas-kertas. Bak Shinichi Kudo dalam Komik Detektif Conan aku segera mencari tahu apa itu. Selain kertas-kertas yang tak kumengerti isinya berhamburan juga foto-foto orang. Aku mengamati foto-foto itu. Foto itu kebanyakan foto cewek yang umurnya kira-kira sama denganku. Seketika aku terkejut, diantara foto-foto itu aku mengenali salah satunya. Ya, itu foto Reina temanku yang hilang kemarin malam. Aku membalik foto tsb, ternyata ada tulisannya.

24 maret 15.00. Begitu yang tertulis.
“24 maret kan kemarin ? Tere juga bilang Reina hilang jam 3 sore, jangan-jangan ini ada hubungannya dengan Ayah.” Aku kembali melihat-lihat foto tsb. Aku kembali terkejut menemukan foto Tere di antara foto-foto itu. Aku membaliknya.
25 maret 15.00
Hari ini tanggal 25 martet. Berarti Tere akan diculik jam 3 sore ini, aku melihat jam di tanganku. Jam 14.59 cepat-cepat kuambil ponsel di saku bajuku. Segera aku menelfon Tere. Nomornya gak aktif. Seketika aku memucat. Tiba-tiba kulihat laptop Ayah diatas meja. Ternyata Laptop itu sedang menyala. Terdapat fitur e-mail. Ternyata Ayah mendapat sebuah e-mail.

Kubaca e-mail misterius itu.
“malam ini datanglah ke tempat yang tak terlihat rembulan, tapi kaya akan suara”
Kuambil secarik kertas dan pena di dalam tasku. Segera kucatat kata-kata itu. Dengan tergesa-gesa aku mencatatnya. Setelah semua selesai segera aku mengendap-endap keluar dari ruang kerja ayah.

“Apa? Kamu serius Cha ?” teriak Dicky saat aku mencerikan kejadian di dalam ruang kerja Ayah. Saat ini kami sedang nongkrong di teras rumah Dicky. Aku segera menutup mulutnya.
“Jangan kenceng-kenceng ntar kedengaran orang tua kamu,” Aku melepaskan tanganku.
“Kamu udah telfon ke rumah Tere ?” kali ini Dicky berbicara dengan suara pelan.

Aku mengangguk,”Kata mamanya dia pergi berenang, kayaknya dia udah diculik,”
“Kenapa kamu gak tanya langsung sama Ayahmu?” tanya Dicky sambil duduk bersila di lantai.
“Aku gak berani, aku takut Ayah curiga, aku pengen menyelidiki semua ini, semua ini ada hubungannya dengan Ayah & pekerjaannya selama ini, kamu tau sendiri kan Ayahku sangat misterius,” jelasku.
“Jadi kita harus gimana ?” Dicky menopang dagunya di meja.
“Hanya ini satu-satunya petunjuk.” Aku mengeluarkan secarik kertas & memberikannya kepada Dicky.
“tempat yang tak terlihat rembulan tapi kaya akan suara ?” Dicky berfikir sejenak.”Tempat apa itu ? yang pasti ini tempat yang berisik , kayaknya ini di Mall dech, kan ga terlihat rembulan & juga di sana berisik,”

Aku menggeleng,”Gak mungkin,Ayah sering keluar diatas jam 10. Mall jam 10 udah tutup & yang jelas pasti sepi gak ada suaranya.”
Dicky kembali berfikir, alisnya bertaut, keningnya mengkerut. Itu tandanya dia sedang bingung. Kami berdua memang hobi dengan hal-hal yang berbau misterius & susah dipecahkan. Karena kami sama-sama menyukai Komik Detektif Conan, jadi gak heran kami ketularan gila teka-teki.
“Pokoknya male mini aku harus kesana, kemungkinan Ayah terlibat dalam kasus penculikan misterius ini, bisa-bisa nyawa Reina, Tere & remaja yang diculik lainnya terancam.” Kataku dengan yakin.
“Kamu yakin? Ini bukan masalah kecil, ini bahaya.” mata Dicky melotot ke arahku.
“Kalau kamu gak mau, aku bisa sendiri kok,” Aku berangkat dari dudukku & berjalan menuju rumahku.
“OCHAAAA..!!!
Aku gak memperdulikan teriakan Dicky. Aku harus menyelidiki semua ini.

Malamnya aku membongkar semua koleksi komik Detektif Conan milikku. Siapa tau aku bisa mendapatkan petunjuk. Tapi percuma saja, aku tetap gak bisa memecahkannya. Aku berbaring, sambil menatap langit-langit kamarku aku berfikir. Tiba-tiba ponselku bordering, kulihat nama ‘Dicky’ di layar ponselku. Aku mengangkatnya.
“Kenapa ? Mau mencegah aku lagi ?” tanyaku dengan nada ketus.
“Yeee, jangan jutek gitu donk, aku punya kabar gembira , aku udah tau tempat yang dimaksud ?” suara dicky terdengar riang. Seketika aku menjadi membuang segala kejutekanku.
“Beneran ? Dimana dick ?” tanyaku antusias. Aku segera berangkat.
“Kamu tenang aja, malem ini kita ke sana,”
“Kamu beneran mau ikut ? Kata kamu ini bahaya,” aku bener-bener gak percaya Dicky mau ikut.
“Kamu lupa ya ? Aku tuh si gila teka teki, gak mungkin aku melewatkan kasus yang misterius begini, kamu sekarang siap-siap jam, kita pergi setelah Ayah kamu pergi,” jelas Dicky.
“Siiiap Boos !” Aku berteriak kegirangan. Bisa jadi mala mini kami akan berpetualang mencasri tahu kebenaran tentang Ayahku. Siapa sebenarnya Ayahku ?

Aku mengintip keluar dari jendela. Kulihat Ayah sedang mengeluarkan mobil dari pekarangan rumahku. Setelah kupastikan mobil Ayah benar-benar sudah pergi. Aku memulai aksiku. Aku mengambil jaket & topiku.
“Tepat jam sepuluh.” Pelan pelan aku membuka pintu kamarku tanpa menimbulkan suara. Aku menuju kamar ibuku, kulihat Ibu sudah tertidur lelap. Lalu aku menuju ke kamar Kakakku, terdengar bunyi dengkurannya. Ternyata Kak Reno sudah tidur. Jadi semuanya aman. Aku menghela nafas lega. Segera aku menuju pintu belakang. Pelan-pelan kubuka pintu yang menyambungkanku ke garasi itu. Aku segera sepatu ketsku. Perlahan kubuka pintu garasi hingga menyisakan celah kecil untuk aku & sepeda ku lewat. Saat berada diluar aku merasakan hembusan angin yang kencang. Aku merapatkan jaket yang kupai. Kukayuhkan sepedaku menuju rumah Dicky. Terlihat sosok Dicky yang memakai topi sedang bersandar di sepedanya.
“Udah lama ya ?” Aku merapatkan sepedaku.
“Gak juga, kita berangkat sekarang,” ucapnya setengah berbisik. Aku mengangguk. Kami lalu mengayuh sepeda kami menuju jalan raya. Suasana jalan masih terlihat ramai oleh lalu lalang kendaraan.
“Kita mau kemana Dick ?” tanyaku sambil menyesuaikan sepedaku di samping Dicky.
“Kita mau ke Victory Mall .” Dicky menjawab tanpa melihat ke arahku. Seketika aku memberhentikan laju sepedaku. Dicky melakukan hal yang sama.
“Dicky, kan udah aku bilang, jam segini Mall udah tutup, gak mungkin disana.” tiba-tiba aku merasa kesal, bisa-bisanya Dicky membohongiku, berlagak udah tau tempatnya.
“Ocha dengerin aku dulu.” Dicky mencoba membujukku. Aku membuang muka. Dicky menghela nafas lalu mengeluarkan kertas dari dalam kantong jaketnya.
“Coba kamu liat ini dulu.” Dicky menyerahkan kertas itu kepadaku. Aku menerimanya masih dengan wajah yang jutek. Rupanya kertas itu adalah sebuah brosur.
“Raccing ? Maksudnya?” Aku bingung dengan brosur yang diberikan Dicky.

Dicky mengangguk mantap,”Di bassemant Victory Mall diadakin balap motor, di tempat itu kan gak terlihat sama bulan terus disana pasti berisik,” jelas Dicky mantap.
Dikotaku memang sering diadakan balap motor. Bassemant yang siangnya di jadikan tempat parkir, setelah Mall tutup dijadikan tempat untuk balap motor. Mall Victory salah satunya. Mall itu adalah Mall yang paling besar dikotaku. Seketika kekesalanku memudar & aku merasa bersalah terhadap Dicky.
“Maafin aku Dick, udah ngebentak kamu,” Aku meminta maaf dengan tulus.
“Iya gak apa-apa kok,” Dicky mengacak-acak rambutku. “Sekarang kita lanjutin lagi perjalanan kita.”
Aku mengangguk. Kukayuhkan sepedaku dengan cepat.

Aku menatap gedung bertingkat di depanku. Kulihat Dicky juga melakukan hal yang sama.
“Gimana kita bisa masuk ?Kita kan gak punya KTP.” Tanyaku kepada Dicky.

Peraturan menonton balapan di bassemant ini adalah orang yang berusia di atas 17 tahun. Yang jelas kami berdua yang belum mempunyai KTP gak bisa masuk.
“Tenang udah aku pikirin caranya, aku tau dimana pintu rahasia sehingga kita bisa masuk, sekarang kita sembunyiin sepeda kita di tempat yang aman.” Dicky turun dari sepedanya & menuntun sepedanya menuju semak-semak. Aku mengikutinya. Kami menyembunyikan sepeda kami di balik semak-semak itu.
Kami berjalan mengendap-endap, menuju samping gedung.
“Ini jalan pintasnya.” tunjuk Dicky pada sebuah celah antara dua ruko yang menyambung ke dalam basement. Aku mengintip dari celah yang ukurannya sangat sempit itu. Tapi gak terlihat apa-apa di dalam gelap. Tapi terdengar suara knalpot motor yang memekkan telinga.
“Emang muat masuk sini ?” tanyaku dengan pesimis.
“Pasti muat kita coba dulu aja, kamu duluan.” perintah Dicky. Aku menurut. Aku mencoba masuk ke dalam celah itu dengan posisi badan menyamping. Yup, muat walaupun agak sempit dan aku harus jalan pelan-pelan. Setelah aku masuk Dicky mengikutiku. Untung saja badan Dicky gak besar, bisa-bisa dia gak bisa masuk. Di dalam sini sangat gelap. Aku mempecepat langkahku, tapi sangat susah. Saat di ujung aku keluar dengan hati-hati, takut orang-orang mencurigaiku. Dicky pun melakukan hal yang sama. Tapi orang-orang gak memperhatikan kami. Mereka sibuk menonton balapan yang sedang berlangsung. Kami berjalan dengan santai. Tiba-tiba langkahku terhenti.
“Dick…ituu..” tunjukku. Dicky mengikuti arah yang kutunjuk. Dia juga sama terkejutnya.
“Berarti dugaan aku bener, ini tempatnya.”

Terlihat Ayahku sedang berbicara dengan seseorang. Ayah memakai jaket kulit hitam. Dan yang membuat aku heran Ayah merokok. Sungguh, aku gak percaya Ayah seperti ini. Ayah pernah memarahi habis-habisan Kak Reno karena ketahuan merokok. Dia bilang rokok itu gak baik , bla bla bla.. Tapi dia sendiri merokok.
“Dick, pakai jumper jaketnya, ntar kita ketahuan,” Aku segera memakai jumper jaketku & menurunkan topiku hingga menutupi sebagian wajahku bisa gawat kalau sampai ketahuan Ayah. Dicky mengikuti kata-kataku.
Kami memperhatikan gerak-gerik Ayah. Dengan gaya seorang detektif kami mengikuti Ayah yang berjalan menuju ke arah salah satu bekas ruko yang terdapat jauh dari keramaian. Ayah masuk ke dalam ruko itu. Kami bersembunyi di balik jendela untuk menguping percakapan itu. Aku mengintip dari balik jendela itu. Suasana dalam ruko itu remang-remang. Terlihat Ayah menghampiri laki-laki berjubah hitam yang berdiri didalam ruko itu. Laki-laki itu mengingatkanku kepada Gin & Vodka salah satu pimpinan anggota hitam dalam komik Detektif Conan. Pria itu sangat menyeramkan.
“Bagaimana ?” terdengar suara Ayahku. Aku memasang telingaku untuk mendengar percakapan mereka.
“Tenang, mereka semua disekap dalam gudang penyimpanan, “ terdengar suara berat, pasti suara pria berjubah hitam itu. Deg ! jantungku berdetak. Ternyata Ayah terlibat dibalik kasus penculikan misterius yang akhir-akhir ini terjadi. Ayahku ternyata orang yang jahat. Ternyata selama 15 tahun ini aku hidup dengan seorang penjahat. Mengetahui semua ini dadaku terasa sesak. Aku benar-benar malu mempunyai Ayah seorang penjahat. Aku kecewa dengan semua ini. Begitu hebatnya Ayah menyembunyikan semua ini dari Aku, Ibu & juga Kak Reno. Seketika amarahku memuncak. Tanganku mengepal.
“Dick, kamu tunggu disini aku mau ke gudang penyimpanan,” aku berangkat dari dudukku. Tapi Dicky menahan tanganku.
“Aku ikut cha,” Dicky hendak berdiri tapi aku menahannya.
“Kamu tunggu disini, kamu awasi mereka.” kataku sambil menatap mata Dicky. Dicky sepertinya khawatir terhadapku. Tapi aku menatapnya dengan pandangan-aku akan baik-baik saja-. Dicky lalu mengangguk. Dengan hati-hati aku berjalan menuju gudang penyimpanan yang letaknya gak jauh dari situ. Ternyata di depan gudang penyimpanan berdiri dua penjaga. Itu tak masalah bagiku dengan mendendap- endap ke belakang salah satu penjaga lalu memukul tengkuknya. Penjaga itu pingsan. Penjaga yang lain melihat temannya pingsan segera melakukan tindakan. Dia memegang bahuku, segera aku membantingnya dengan teknik nage waza, lalu menguncinya dengan teknik katame waza*. Saat dia gak bisa melawan lagi,aku memukul kepalanya, sehingga dia pingsan. Aku segera berangkat sambil mengibas-ngibaskan kedua telapak tanganku. Aku membuka pintu gudang tsb. Terlihat pemandangan yang mengejutkan bagiku. Terdapat kira-kira 10 orang cewek yang di ikat diantaranya ada Reina & Tere. Tere berteriak melihat kedatanganku. Aku segera menghampirinya & membuka lakban di mulutnya.
“Kok kamu bisa tahu aku diculik Cha, aku gak nyangka kamu nyelamatin kami semua,” aku gak memperdulikan ocehan Tere, aku membuka ikatan di tangannya.
“Ternyata benar dugaanku, masih ada tikus nakal lagi.” terdengar suara berat dari arah belakangku, aku menoleh. Seketika aku terkejut, aku melihat pria berjubah hitam itu. Kulihat di sampingnya pengawal yang memegangi Dicky yang babak belur.
“Dicky … kalian apakan temanku !” Aku gak percaya kami ketahuan. Tapi dia antara mereka gak ada Ayahku.
“Sudah kubilang, kalau kau mau mengaku kau tidak akan babak belur begini,” Pria itu menendang Dicky & melemparkannya ke arahku. Aku menangkap Dicky.
“Ocha …” suara Dicky melemah.
“Kurang ajar !” teriakku sambil berangkat & hendak menghajar pria itu. Tapi para pengawalnya siap menghadapiku. Dengan amarahku aku menghajar penjaga-penjaga itu. Dengan sekejap para pengawal itu habis kuhajar. Tinggallah pria berjubah hitam itu. Dia tersenyum sinis.
“Ternyata kau wanita yang kuat juga, tapi sayangnya kau tak akan bisa melawankku,” Pria itu mengeluarkan sesuatu dari dalam jubahnya. Sesuatu itu membuat aku terkejut. Dia mengeluarkan pistol. Dan mengacungkannya kepadaku. Terdengar teriakan Tere.
“Sebenarnya aku malas berurusan dengan wanita apalagi membunuhnya, tapi kau sudah mengetahui kejahatanku & kau pantas mati,” pria itu menarik pelatuk pistolnya. Aku memejamkan mataku. Mungkin ini memang akhir hidupku. Selamat tinggal dunia !

DOOORRR !!!
Terdengar suara tembakan, aku semakin kuat memejamkan mataku agar mengurangi rasa sakitnya nyawaku dicabut. Tapi, kenapa aku tidak merasakan apa-apa? Aku tidak merasakan sakit. Apa ini yang dinamakan kematian? Saat kita akan mati kita gak akan merasaka apa-apa? Aku mulai membuka mataku, barangkali aku sudah di surga atau mungkin di neraka. Tapi yang aku dapatkan melihat pria berjubah hitam itu ambruk di depanku dengan memegangi kakinya yang bersimbah darah. Dan yang lebih mengejutkan lagi, aku melihat Ayahku mengacungkan pistol ke pria itu.
“Kau ditangkap Jack, semua sudah tau perbuatanmu.” Ucap Ayah lantang. Di sekeliling ayah terdapat orang-orang yang memegang pistol. Aku semakin bingung dengan semua ini.
“Kauu..kauu..” Pria berjubah hitam yang bernama Jack itu menunjuk Ayah.
“Tangkap dia !” perintah Ayah, orang-orang yang berada di sekeliling Ayah itu segera menangkap Jack & juga pengawal-pengawalnya. Sementara yang lain membuka ikatan orang-orang yang disekap. Ayah menghampiriku.
“Ocha, kamu tidak apa-apa ? sudah Ayah duga, pasti kamu yang masuk ke ruang kerja Ayah.”
Aku beringsut, aku takut. “Siapa Ayah sebenarnya ?” tanyaku. Aku melirik pistol ditangan Ayah.

Ayah sepertinya tau aku sangat ketakutan. Dia menyimpan pistolnya.
“Ocha,,jangan salah paham, dengarkan Ayah dulu,” Ayah menatapku dengan tatapan kasih saying. Tatapan yang pertama kali kulihat dari Ayah. Karena selama ini Ayah gak pernah menatapku.
“Apa hubungan Ayah dengan semua ini ?” aku mengalihkan pandanganku.

Ayah menghela nafas,”Mungkin sekarang saatnya kamu tahu,” Ayah mendekatiku & duduk disampingku.”Ayah adalah seorang Intel. Tugas Ayah menyelidiki sebuah kasus. Pekerjaan ini memaksakan Ayah untuk menyamar. Dan sekarang Ayah menyelidiki kasus pembunuhan misterius ini. Mereka menculik gadis remaja untuk dijual ke luar negri.”
“Trafficking ?” tanyaku sambil menatap Ayah. Aku mulai tertarik dengan ceritanya.

Ayah mengangguk.”Ya, Ayah menyamar menjadi salah satu penyalur. Dan mereka percaya.” Jelas Ayah
“Jadi Ayah bukan penjahat ?”

Ayah tertawa mendengar ocehan ku. “Ya bukanlah ocha sayang, ini menyebabkan Ayah & Ibu merahasiakan pekerjaan Ayah kepada kamu & Reno, karna pekerjaan ini berbahaya & gak sembarang orang yang tahu.”
Aku hanya mengangguk. Ternyata Ayah merupakan seseorang yang hangat, aku sangat menyesal telah menyangka yang gak-gak tentang Ayah. Ternyata Ayah seorang yang baik. Pekerjaan Ayah malah patut dibanggakan karena bisa-bisa membahayakan Ayah. Aku ingin menangis.
“Sekarang kamu ikut pulang ya.” Ayah menarikku untuk berdiri.
“Tapii yah,” Aku melirik Dicky yang sedang diobati oleh salah satu tim medis. Dia sudah sadar & keadaannya mendingan, dia tersenyum kepadaku.
“Aku juga bakal ikut pulang bareng kamu kok,” Dicky bangkit & meraih tanganku. Walaupun wajahnya bonyok dia tetap manis. Ah beruntung aku mempunyai sahabat seperti dia. Aku mengangguk & mengikuti Ayah.

Ah, akhirnya sekarang aku tahu siapa Ayahku. Dia memang bukan Dokter, dia memang bukan seorang pejabat ataupun anggota DPR. Dia juga bukan pengusaha terkenal.
Tapi dia .. AYAHKU ☺
THE END

NB :
*Nage Waza : gerakan dalam judo yang dengan membantingnya dg tenaga & kecepatan dg punggung membentur lantai terlebih dahulu
*Katame Waza : teknik dalam judo dengan mengunci lawan.
*Dan : tingkatan pada judo

mav ya kalau jelek .. kalau ada kesalahan harap dimaklumi, krna kesempuraan hanya milik tuhan :Dthank yg udah baca, jangan lupa jangan jadi readers misterius, tinggalkan jejak ...

dilarang copas !!

PROFIL PENULIS
0wh iy ,, Q dah bnyk cerpen n cerbung yg mw Saya Publish truz Cerpen/Cerbung ,, Comment yg banyak ya :)

Minggu, 08 April 2012

Cerpen Pendidikan - Nasi Bungkus Presiden

CERPEN (lebih tepatnya CERPENGET: cerita pendek banget) ini merupakan cerpen pertama saya di Twitter (http://twitter.com/#!/search/%23cerpenget). Saya sharing-kan di sini agar bisa dibaca oleh teman-teman Facebook. Mohon apresiasi (kritik dan saran) dari para pembaca sekalian. Terima kasih sebelumnya.

NASI BUNGKUS PRESIDEN
Cerpen Abank Juki
(Cikarang, Minggu, 8 April 2012, 05.00 WIB)

Sore itu ku berjalan susuri barisan gerbong kereta tua yang sudah pensiun. Ketika aku berada di samping salah satu gerbong kereta tua dengan jendela yang sudah retak, tiba-tiba terdengar sebuah suara menyayat hati.
“Bu... lapar....”

Kupertajam indera dengarku.
“Bu, pengen makan....”
“Iya nak, ibu tahu kau lapar. Tapi, ibu tak punya apa-apa. Tunggu bapak ya....”
“Bu... aku lapar.”
“Iya nak, ibu tahu. Tunggu bapakmu.”

Aku tak berdaya mendengarnya. Kuingin membantu, tapi... nasibku serupa. Sudah sejak pagi tadi perutku hampa. Hanya air mineral yang bisa kuteguk. Itupun hanya setengah botol yang tersisa. Beruntung kutemukan botol air itu di kursi gerbong paling ujung. Tak biasanya aku kehabisan barang penumpang yang tertinggal.
“Bu, lapar....”
“Iyaaaa... nak... tunggu bapakmu.”


Tiba-tiba kulihat di kejauhan tampak seorang tua berjalan agak gontai. Dia menghampiri sumber suara yang kudengar tadi.
“Nak, Tuhan mendengarmu. Bapakmu sudah datang. Semoga ia membawa makanan.”
“Bu, bapak pulang.”
“Bapak... Ara lapar, mau makan.”
“Iya, nak, bapak juga dengar suaramu. Beruntung kita hari ini karena presiden kita mau menaikkan harga BBM. Semoga terus setiap hari berita itu muncul.”
“Pak, Ara lapar. Ara gak ngerti BBM. Ara mau makan.”
“Iya, nak. Bapak tahu. Bapak bawa makanan. Tapi, kamu harus bilang makasih.”
“Iya pak, makasih.”
“Bukan ke bapak nak, tapi ke presiden kita.”
“Emang makanan ini dari presiden ya pak?”
“Iya nak, karena presiden mau menaikkan BBM, hari ini bapak dapat makanan.”
“Pak presiden yang ngasih nasi bungkus ini pak? Bapak tadi ketemu presiden ya? Bapak hebat. Ara mau ketemu presiden pak. Ara mau bilang makasih ke presiden. Bapak antarkan Ara Ya....”
“Sudah, kamu makan dulu sana.... Habiskan ya nak.”

Sesaat ku terdiam. Kurenungkan dialog bpk dan anak itu. Presiden mmberi nasi bungkus? Kpd bapak tua yang tinggal di gerbong? Telingaku terganggukah? Bermimpikah aku? Atau memang benar sang presiden sebaik itu??

Alangkah baiknya sang presiden. Sungguh seorang pemimpin yang peduli pada rakyatnya. Aku terharu.

Namun tiba-tiba secuil otakku berontak. Tidak, presiden tidak sebaik itu. Kudengar tadi ada isu BBM akan dinaikkan. BBM naik. Bukankah hal itu berat untuk rakyat?? Termasuk aku dan bapak itu sekeluarga akan terkena dampaknya.

BBM naik. Presiden memberi nasi bungkus. Apa hubungannya???

Otakku yang kerdil ini tak sanggup temukan jawabannya. Aku linglung. Di tengah kelinglunganku aku limbung. Aku tertidur dgn perut yang hanya terisi air mineral setengah botol, yang tadi tertinggal.

Keesokan paginya ku terbangun. Seperti biasanya kususuri gerbong demi gerbong brharap ada makanan/barang penumpang tertinggal. Hari ini aku lebih beruntung. Kutemukan di salah satu gerbong, setengah roti sobek ukuran sedang dn seperapat botol air mineral. Tuhan berbaik hati padaku. Walau bukan presiden yang memberiku makan, aku bersyukur Tuhan masih sayang padaku.

Hari ini perutku lebih terisi. Sepertinya utangku pada perutku kemarin telah kulunasi. Kunikmati kebaikan Tuhan hari ini. Puas mengisi perut, ku berjalan susuri barisan gerbong-gerbong tua yang sudah pensiun. Aku di salah satu gerbong, sedang bapak tua yang mendapat nasi bungkus dari presiden itu dan keluarganya di gerbong selanjutnya.

Masih penasaran dengan kisah mereka kemarin. Aku pun lalu kembali mendekati mereka. Kucoba menguping untuk mendapatkan jawaban. Benarkah sang presiden memberikan nasi bungkus kepada bapak tua itu? Lalu apa hubungannya dengan BBM akan naik??

Dengan sabar kutunggu si bapak tua itu pulang. Lalu seperti hari-hari sebelumnya. Kudengar dialog dengan urutan yg sdh kuhapal.
“Bu, lapar... mau makan.”
“Iya nak, tunggu bapak pulang.”

Seperti sebelumnya pula, beberapa lama kemudian sang bapak tua pulang. Tentu saja membawa makanan untuk anaknya.
“Pak, lapar....”
“Iya nak, nih bapak bawa nasi bungkus lagi buat kamu. Ini dari presiden juga, nak.”
“Bapak ketemu pak presiden lagi?”

Sang bapak tua tak menjawab. Ia malah menjawab seperti tadi.
“Nasi ini dari presiden kita, nak.”

Lalu meminta anaknya makan.
“Sudah, makan dulu sana. Habiskan nasi dari pak presiden.”

Beberapa saat kemudian, sang ibu menarik bapak tua itu menjauh dari anaknya. Kemudian ia berbisik. Sayup kudengar dialog mereka, sementara si anak asik dengan makanannya.
“Bapak benar bertemu pak presiden? Benar bapak diberi nasi bungkus oleh presiden? Benar bapak.... Benar bapak....”

Rentetan pertanyaan berbisik itu meluncur deras dari mulut sang ibu. Seolah menumpahkan segudang rasa penasaran.

Hahahaha, ternyata rasa penasaranku tak kalah dengan sang ibu. Dalam hati kumerasa sebentar lagi penasaran itu 'kan terjawab.

Dengan tenang sang bapak memegang kedua pundak sang ibu.
“Bu, kita ini siapa? Presiden kita siapa? Kita tinggal di gerbong tua, beliau di istana. Dia tak mengenal kita bu, dia tak kenal bapak. Lagipula ibu percaya bahwa presiden memberi nasi bungkus kepada rakyat hina seperti kita??”
“Tapi pak.... Beberapa hari ini bapak bilang dapat nasi bungkus dari presiden.”
“Bu..., bapak sendiri takkan percaya seandainya hal itu benar.”
“Lalu pak.... Dari mana nasi bungkus itu?”

Rasa penasaranku semakin menjadi. Otakku mendidih, badanku bergetar menanti jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu.
“Bu, bapak beberapa hari ini mendekati lokasi demonstrasi. Mereka katanya menolak kenaikan BBM. Bapak tidak tahu masalah BBM. Bapak juga tak peduli. Siang-malam kita tidak berhubungan dengan BBM. Yang bapak tahu, menurut teman-teman pemulung lainnya, di sana ada demonstrasi. Mereka menolak BBM naik.

Kata mereka, setiap siang sekitar jam 12-an pendemo itu istirahat. Mereka makan siang. Mereka bilang setiap siang itu ada beberapa orang yang datang membawa makanan, nasi bungkus. Nasi bungkus itu dibagikan kepada para pendemo. Tukang becak, pengemis, dan pemulung yang ada di sana dikasih juga, bu.

Beberapa hari ini bapak mendekati demonstrasi dan ketika pembagian nasi, bapak juga dapat bagian. Bapak tidak tahu siapa yang mengirim nasi bungkus itu. Bapak cuma tahu pak presiden ingin menaikkan harga BBM. Bagi bapak, nasi bungkus ini karena niat presiden, nasi ini dari presiden.

Seketika aku tergagap. Aku terdiam berjuta bahasa. Presiden memang baik hati. Presiden memang memberi nasi bungkus kepada bapak tua itu.

===TAMAT===

Demikianlah cerpenget pertama saya di twitter ini.
http://twitter.com/#!/search/%23cerpenget
Twitter Hashtag: #cerpenget
Share Facebook : http://www.facebook.com/notes/abank-juki/nasi-bungkus-presiden/10150659099512401

PROFIL PENULIS
Nama : Abank Juki
Tentang : Seseorang yang masih berusaha untuk menjadi manusia yang baik dan ikhlas bagai matahari yang selalu menyinari dunia sepanjang waktu tanpa pamrih.
Facebook : http://www.facebook.com/abank.juki
Twitter : http://twitter.com/#!/AbankJuki

Baca juga Cerpen Pendidikan yang lainnya.