Sabtu, 03 Maret 2012

Cerpen Remaja Lucu - Mistery Rumah Tua

MISTERY RUMAH TUA
Cerpen Adi Saputra
Matahari sudah mulai menampakan sinarnya,menyinari bumi dengan cahaya hangatnya.seperti pagi pagi sebelumnya,bangun tidur,mandi,memakai seragam merah putih,memakai ransel hitam di puggung,menghabiskan sarapan secepat aku bisa sebelum ibuku mengomel.
”julie!,cepat berangkat sebelum terlambat!”
“oke mom!” jawabku kesal,memang ibuku termasuk ibu yang bawel.

setelah perutku kenyang,aku langsung berlari menuju rak sepatu yang terletak di dekat pintu.memakainya secepat aku bisa,kenapa aku selalu terlambat?ini takdir atau karena aku malas bangun pagi? Hmmmmm kurasa dua duanya.

setelah sepatu dan kakiku menyatu,aku bergegas berlari kearah garasi mengambil sepeda pink kebanggaanku. mengayuhnya secepat aku bisa,dan seperti biasa di depan pintu gerbang rumahku sudah menunggu sahabatku,sasa.
”cepat julie,kita hampir terlambat nih” mengatakanya dengan sedikit kesal.

sasa anak yang baik,pintar,cantik pula.kulitnya seputih bulan dan rambutnya selembut kain sutra. berbeda sekali denganku yang pemalas dan terkenal tomboy,walaupun begitu aku memiliki mata yang lebih cantik di banding miliknya. paling tidak menurutku.

aku dan sasa mulai beradu cepat menyusuri jalan berlomba menuju sekolah.tapi pada saat melewati perempatan yang kedua,sasa mendadak berhenti.
”rumah nenek sihir….” katanya lirih. di kejauhan memang terlihat rumah yang tak terawat,halamanya di penuhi dedaunan yang layu dan pohon pohon yang kering kerontang ditambah tanaman liar yang merajalela membuat suasana bertambah horror.
”lebih baik kita ambil jalan lain supaya lebih aman” memandangiku dengan serius.
“oke” jawabku pelan.

Sesampainya di sekolah,kami berlari kencang menuju kelas menghindari kemarahan guru matek kami. tapi sesampai di kelas murid murid masih bermain bebas,ternyata pak budi lebih malas dibandingku!. meletakkan tas dan duduk seperti biasa di lini belakang,disamping kiri ada sasa dan di sebelah kanan ada dua saudara kembar yang tengil. jemmy dan jerry.
”hey tomboy,mau lihat otot otot ku yang sexy gak?” kata jemmy di iringi tawa cekikikan saudara kembarnya.
”kemarin aku berhasil mengangkat beban seberat 20 kg!,cadas gak tu?” aku memang sengaja tidak melihat dan pura pura tidak dengar.mendengar omong kosong mereka membuatku ingin muntah!,mereka hanya dua anak tolol yang suka cari masalah dan bahaya.membesarkan otot mereka tapi otak mereka tetap kecil.

Terjebak kebengongan sesaat karena menuggu guru yang pemalas itu,berpikir kalau pak budi sakit dan tidak bisa mengajar sehingga kelas di liburkan. itu merupakan mimpiku setiap malam. mendadak keluar anak dengan tergopoh gopoh dari pintu masuk kelas membawa tas yang lebih besar dari ukuran badanya,itu eunice,anak aneh yang tergila gila dengan dongeng atau cerita fiksi.

berjalan cepat menyusuri bangku bangku kelas,lalu duduk tepat di depanku.nafasnya masih terengah engah, punggungnya masih berkeringat dan rambutnya masih acak acakan.aku memerhatikanya sesaat,kenapa tuhan menciptakan manusia seaneh dia? Pikirku bercanda.mendadak dia berbalik dan memandangku dengan serius!pandangannya sangat tajam ke arahku! Aku mendadak gugup,dia bisa membaca pikiranku!?.aku mencoba tenang saat dia Memandangiku cukup lama dengan pandangan mata yang tajam seperti sedang membaca pikiranku.
“kau sudah dengar tentang rony si gendut?” dia mulai bicara.
“maksudmu rony si rakus?” anak sebelah meja menyahut,itu jemmy. melirikan matanya dengan pelan kearah dua bersaudara itu. memandangi mereka sesaat,lalu bergeser memandangi sasa lalu kembali lagi memfokuskan matanya kearahku.sadar kami berempat sedang memandanginya,dia mulai bicara,
”kau tahu apa yang terjadi dengannya?” aku menggeleng pelan. ”dia terkena sihir…” mengatakanya dengan sedikit mendesis menguatkan arti kata sihir.
“sihir?” jemmy dan jerry bertanya serentak.eunice megganguk.
”wakakakak…”tawa kedua anak itu pecah mendengar omongan gadis aneh itu. ceritanya memang agak konyol,tapi aku tidak tega untuk menertawainya.
”itu benar,bodoh!” sambil mengerasakan genggaman tangannya.
”dua hari yang lalu,rony bermain bola di dekat rumah penyihir itu,secara tidak sengaja dia menendang bola memasuki halaman rumah,karena rony lebih sayang bolanya dari pada nyawanya,dia memberanikan diri memasuki rumah penyihir itu,dia masuk dengan selamat dan keluar dengan selamat,tapi keesokan harinya dia jatuh sakit.” Berhenti sesaat,bersamaan dengan berhentinya tawa dua bersaudara tolol itu.
”dia terkena demam,suhu badanya tidak turun sampai dua hari ini,sudah di bawa ke dokter tapi dia belum sembuh sampai sekarang.” Suasana jadi hening ,jemmy dan jerry yang biasa cerewet hanya terdiam membisu,apalagi sasa.
“julie,rumahmu tidak jauh dari penyihir itu,berhati hatilah”. walaupun aku tidak percaya hal hal yang begituan, tapi kata kata eunice membuatku sedikit merinding.
“hei,anak anak,rindu denganku?” kata pak budi yang berjalan cepat memasuki kelas,merasa bersalah karena datang terlambat.
“maaf ya saya datang terlambat,soalnya banyak kerjaan di rumah” katanya meminta maaf.
“oke pak….” jawab kelas serentak. dan hal yang membosankan pun di mulai,mendengar ocehan guru yang gak jelas,duduk di kursi kayu yang keras belum lagi kalau terserang rasa ngantuk!harus ijin ke UKS untuk tidur nih.

Ting tong! Bel yang kutunggu tunggu berbunyi.akhirnya aku bisa melepaskan lelah dengan tidur di rumah.mengemasi barang ku secepat aku bisa,lalu berjalan bersama sasa menyusuri sekolah mengambil sepeda kebanggaanku dan bergegas pulang kerumah.makan sekenyang kenyangnya lalu tidur. yup! itu rencanaku.

tapi saat kami baru keluar dari tempat parkir sepeda,seseorang ngebut dengan sepedanya dari arah kiri lalu mendadak berhenti tepat di depanku,membuat debu di tanah melayang ke wajahku.ni orang ngajak ribut!.
“hey cantik, hey tomboy” sapa jemmy dengan sepeda barunya. sialan ni anak! Sudah bikin aku batuk batuk manggil tomboy lagi,kalau aku laki laki sudah ku hajar dia!.
“aku dan jerry akan melakukan petualangan ya ng mengasikkan” katanya percaya diri. tapi aku dan sasa hanya diam mengalihkan pandangan ke arah lain,pura pura tidak mendengar.
“kami berdua akan menangkap nenek sihir,mau ikut?” dia tersenyum.
“sorry,aku dan sasa punya pekerjaan lain yang lebih penting jadi..” dari kiri terlihat seseoarang ngebut dengan sepedanya dan berhenti tepat di depanku,menerbangkan kembali debu debu tanah ke wajahku.ini pasti jerry!.
“kalau kalian mau ikut,datanglah ke rumah penyihir itu jam 2 tepat,dan saksikan aksi heroic kami” mengedipkan sebelah mata ke arah sasa,tapi sasa membalasnya dengan ekpresi jijik.
“ayo jer, kita hajar penyihir itu!!” mereka mengegas sepeda kayuhnya,lalu berlomba meniggalkan sekolah. aku memandangi dua anak bodoh itu yang sedang adu cepat.menangkap nenek sihir? kurang kerjaan!.
“oke,sampai nanti ya julie..” sasa melambai dan membelokan sepedanya ke arah yang berlainan dari arah rumahku.
“oke bye…” aku membalas lambaiannya. rumahku tidak jauh lagi,tidak sabar ingin tidur siang.bersepeda menyusuri jalan sendirian dengan tempo yang pelan,menikmati suasana jalan yang rindang dan sejuk.menghirup udara sedalam dalamnya lalu menghembuskan kembali, ”wiuuuuhh….,aku suka tempat ini!” mengekpresikan kecintaanku dengan daerah tempat ku tinggal yang terkenal sejuk dan nyaman.

saat sampai di perempatan yang kedua,aku menghentikan sepedaku.teringat kata kata eunice,rumah horror itu Cuma berjarak 20 meter dariku.rumah itu kosong tanpa penghuni selama bertahun tahun,tapi akhir akhir ini banyak anak yang melihat nenek sihir berkeliaran di sekitar rumah tersebut.

rasa penasaran merasuki pikiranku,mengayuh sepedaku pelan menghampiri rumah itu.tapi kakiku tetap siaga kalau kalau ada sosok yang tidak ku iginkan muncul dari tempat itu,aku bisa mengayuh sepedaku secepat mungkin.

berhenti tepat di depan gerbang,rumah itu lebih besar dari yang ku kira,hanya ada hawa kematian dari rumah tersebut,dedaunan yang layu,pohon tua yang kering kerontang,cat tembok yang mulai mengelupas. aku memandangi rumah itu sesaat,tidak ada tanda kehidupan. ternyata rumah itu masih kosong seperti dulu,tidak ada yang namanya nenek sihir.hanya khayalan anak kecil saja.

kembali mengayuh sepeda pink ku menuju rumah kesayanganku,tapi baru beberapa meter kedepan aku merasa ada seseorang atau sesuatu memerhatiaknku dari belakang!. aku mendadak berhenti,melihat jalan di belakangku,tapi sepi tak ada seoarangpun, lalu mengalihkan pandangan mataku kearah rumah horror itu,pemandanganya masih sama,tidak ada yang barubah,menegakkan sedikit kepalaku keatas memandang lantai 2 rumah itu.mataku melotot tak berkedip,jantungku berdetak kencang.ada bayangan hitam di jendela lantai dua rumah itu.nenek sihir!!.eunice benar! Nenek sihir itu benar benar ada! Bayangan hitam itu membuat jantungku berlari kencang,tapi aku tidak percaya! Ku gosokan tanganku untuk menjernihkan mata,tapi saat ku lihat lagi,bayangan itu sudah pergi,hanya jendela kosong setengah terbuka yang berdering karena tiupan angin.
“huuuuuuft…. ternyata hanya imajinasiku saja..” kataku lega.
“momi.. aku pulang..” teriakku sambil membuka pintu rumah.

Berjalan ke dapur mencari makan untuk mengisi perut yang bernyanyi ini.saat akan membuka pintu kulkas,aku melihat kertas yang bertuliskan “ julie,ibu dan ayah pergi ke rumah nenek sebentar,ku sediakan spageti untuk makan malam”
“spagetti!?” teriak ku spontan.
”awesome….” kulihat mangkuk berisi mie bercampur saus yang menggoda itu di atas meja.
”cukup 3 menit untuk menghabiskan spagetti itu!” mengambil sumpit,lalu berlomba dengan waktu untuk mengisi perut ini.3 menit kemudian….
“wiuuuuuhhh….” perutku sudah kenyang,saatnya tidur. menaiki tangga,memasuki kamar,lalu merobohkan diri mengahantam kasur yang empuk. “hari ini aku kan memimpikan tom cruise”. Mencari posisi yang enak lalu memejamkan mata,dan berpetualang di dunia mimpiku.

2 Jam berlalu….,tubuh ini sudah tidak enak lagi untuk tidur,spontan membuka mata,bediri dari tidurku “woooaaahhh….” dan mengolet. berjalan pelan dan terguyung guyung ke arah jendela karena masih terasa sedikit ngantuk.membuka jendela dan melihat pemandangan luar.itu merupakan kebiasaanku sehabis bagun tidur.sudah jam 5 sore,matahari mulai bersembunyi membuat langit berwarna orange.ku geserkan sedikit kepalaku kesamping,terlihat rumah horror yang di ceritakan eunice.walaupun di lihat dari jauh,rumah itu masih terlihat seram.

Kriiiinggg!!! kriiiinggg!! Telpon di lantai bawah berbunyi,mungkin momi yang khawatir,karena meniggalkan anaknya yang berumur 14 tahun ini sendirian di rumah.berjalan menyusuri tangga dan menempelkan ganggang telpon di telinga.
”hai mom”
“hei jul,ini sasa!”
“oh,hei sasa ada pa?”
“aku punya berita buruk!” katanya resah.
“berita buruk apa?”
“jemmy dan jerry belum pulang dari tadi siang!” teriaknya binggung. jemmy dan jerry hilang? Apa urusanku?.
”mereka belum pulang sejak ingin menangkap nenek sihir!”
“maksudmu mereka di tangkap nenek sihir?”
“yup!,gimana nih!?” buseeet,,, pikiran konyol eunice merasuki sasa,virus itu benar benar mematikan.harus ku selamatkan sasa sebelum terlambat.
“jangan diam aja! Gimana nih aku binggung!”
“sasa..,nenek sihir itu tidak ada,hanya imajinasi saja,nanti kusuruh ayahku tuk ngecek rumah itu,smuanya pasti baik baik aja,tenang…” kucoba menenangkan sasa.
“bener nih?”
“iyaa,nenek sihir itu hanya dongeng,tidak ada di kehidupan nyata.”
“oh.. gitu ya… “katanya lebih santai dan pelan.
“maaf ya jul,terbawa suasana nih,jadi malu..hehe..”
“gak masalah… denganku smuanya pasti beres”
“haha.. oke, sampai nanti ya” “oke,bye” menutup ganggang telpon,huuuf.., pikiran eunice sudah merasuki semua orang,jerry,jemmy dan sekarang sasa.dunia ini memang hampir kiamat!.menaiki tangga dan kembali ke kamar mengerjakan tugas dari pak budi.

aaaaarggh!! tugas ini susah sekali! Satu nomerpun aku gak bisa. ”huuuuftt…..” terjebak kebenggongan sesaat,mau diapain nih soal?.

jam sudah menunjukan pukul 6,saatnya mengunci pintu dan jendela. Daripada binggung,mending besok nyontek aja di sekolah. menutup buku,bergegas ke lantai bawah mengunci pintu dan jendela ruang makan,dapur dan ruang tamu lalu kembali lagi ke atas mengunci jendela kamarku.

berdiri di depan jendela,langit mulai berubah warna menjadi biru gelap semakin lama semakin menghitam.rumah rumah sudah mulai bercahaya karena sinar lampu. Tapi ada satu rumah yang tak pernah lepas dari perhatianku,yup,rumah “nenek sihir” yang di ceritakan eunice.rumah tua itu terkesan…..
“!!!!!!!!” rumah itu bercahaya! Ada penghuni di rumah itu! jangan jangan…… jantungku berdetak kencang!memerhatikan rumah itu dengan teliti,ada seseorang di rumah itu,dia melmbai ke arahku,dia minta tolong! Jantungku berdetak lebih kencang,“itu jemmy!!” jemmy di tangkap nenek sihir! Kakiku gemetaran,bulu kudukku berdiri tegak,Eunice benar! Sasa benar! Aku salah!

Aku berlari kencang ke lantai bawah lebih kencang dari detak jantungku. Menggenggam ganggang telpon dan memencet nomer sasa secepat aku bisa.
“sasa!, sasa!”
“da pa julie?”
“jemmy..je…jemmy di tangkap nenek sihir!”
“hah?” “jemmy di tangkap nenek sihir! Aku melihatnya!”
“oh my…. g mana donk?” sasa menjadi binggung sama sepertiku. ku coba menenangkan diri menghirup udara sedalam dalamnya.
“jul, gimana donk?” sasa mendesak.
“oke,.. lebih baik kamu ke sini bawa senjata paling mematikan yang kau punya,kita akan menyelamatkan jemmy!!!”
“oh… o..oke..” jawabnya ragu. setelah menutup ganggang telpon,ku beranikan diri kembali ke atas,melihat kembali rumah itu,apakah yang kulihat tadi nyata atau imajinasi saja.

kakiku kembali bergetar,ternyata itu nyata! Bahkan lebih parah,sekarang ada dua orang di rumah tua itu yang melambai minta tolong,Jemmy dan yang satu lagi pasti jerry!. tanpa mepedulikan rasa takut,ku bergegas ke arah gudang mengambil barang yang cocok untuk di jadikan senjata.tongkat bisbol rasanya cukup untuk membuat kepala nenek itu benjol.

Tingtong!! Bel pintu depan berbunyi,itu pasti sasa.bergegas ke pintu depan dan membukanya,ternyata sasa tidak sendirian.
“eunice?”
“hei.. julie.” Dengan nada seram seperti biasa.
“aku yang mengajak eunice ke sini,ku pikir eunice akan banyak membantu” sahut sasa.

Pikiranku semakin gila saat melihat eunice berpenampilan aneh. dia memakai baju berlapis seng di dada,panci di kepala,sapu di tangan kanan,tas super besar seperti tas militer di punggung dan speaker di tangan kiri.
“kenapa kau berpakaian seperti itu?”
“ini pakaian anti sihir..” aku hanya diam dan pura pura percaya,tak ada gunanya berdebat dengan anak itu.
“oke.. kalian siap?” eunice mengganguk yakin sedang sasa hanya terdiam gelisah.
”ayo!!” dengan segala keberanian yang kami punya,kami berjalan yakin menuju rumah tua itu.

Saat sampai di depan gerbang,keberanian itu hilang di sapu angin hanya menyisakan kaki yang gemetar dan jantung yang berdetak kencang.rumah itu lebih seram dari sebelumnya.

mendadak gerbang itu terbuka dengan sendirinya! membuat kakiku semakin gemetaran. nenek sihir itu tau kedatangan ku! Perasaan gelisah menyerangku. ditengah rasa takut dan gelisah,eunice berjalan memasuki rumah itu,seolah olah dia tidak peduli dengan gerbang yang terbuka sendiri atau nenek sihir yang menuggunya. aku dan sasa mengikutinya dari belakang. ternyata eunice lebih gila dari yang ku kira,dia tak punya rasa takut.

tiba tiba langkah eunice berhenti,bersamaan dengan langkahku dan sasa. terjadi keheningan sesaat,lalu terdengar langkah kaki dari rumah itu,langkah kaki itu mengarah ke pintu depan tepat dimana kami berdiri!.
“sembunyii!” teriak eunice pelan.

eunice berlari ke arah semak semak di ikuti langkahku dan sasa yang tergopoh gopoh. kami bersembunyi di semak semak,saat langkah itu semakin lama semakin mendekati pintu dan terdengar suara pintu terbuka. aku dan sasa memejamkan mata tak berani melihat sosok yang keluar dari pintu itu,hanya eunice yang berani mengintip.

keheningan kembali terjadi,tapi tak ada tanda tanda dari nenek itu.ku beranikan diri untuk mengintip,pintu depan masih tertuup! Lalu bunyi apa itu tadi?.
“pintu samping terbuka..” kata eunice pelan.
“lebih baik kita masuk sekarang sebelum terlambat..” sebelum aku sempat menjawab,eunice sudah berlari ke arah pintu samping,aku dan sasa tidak punya pilihan lain selain mengikutinya.

kita sampai di pintu itu dengan selamat,walaupun kaki ini sudah seperti batu.
“lebih baik kita menyebar…supaya lebih cepat” saran eunice.
”lebih baik kita sama sama aja supaya lebih aman” sasa menyanggah.
“aku kan mencari di lantai bawah kalian berdua di lantai atas” kata eunice penuh percaya diri.

sebelum sempat menjawab,eunice sudah berjalan memasuki rumah yang gelap itu.tak mau kalah dari anak aneh itu,aku dan sasa memberanikan diri memasuki rumah itu.

berjalan menaiki tangga,memasuki ruangan yang penuh tumpukan buku usang. cahaya lampu yang remang remang tidak cukup untuk menerangi ruangan itu. sasa berjalan di depanku,memeriksa setiap sudut rak buku itu,mencari dua teman kami yang hilang.sedang aku hanya melihat lihat buku usang itu,banyak buku novel bertema fantay di sini,eunice pasti senang,itu kalau kita bisa keluar dengan selamat.

tiba tiba sasa mencolek ku dari belakang,sebelum menoleh jantungku berdetak kencang!sasa berada tepat di depanku!,lalu siapa yang mencolek ku,, saat ku menoleh…
“aaaghhhhh!!!!” nenek bermuka seram dengan topi buncit dan jubah hitam berada tepat di depanku!! Nenek sihir!! Jantungku seperti berhenti berdetak,kepalaku terasa berat dan pemandangan berubah jadi hitam.bruuk!!! aku pingsan.atau aku terkena sihir?. …………………………………………………………………………………………………………………………………..

beberapa lama kemudian,aku kembali bisa merasakan tangan dan kakiku.aku tidur di tempat yang empuk,kurasa ini kasur kesayangan di kamar tidurku. ku buka mataku,lalu bangun dari tidurku,pikiranku kembali normal walaupun kepala ini masih terasa berat.

benar,aku tidur di atas kasur,tapi…ini bukan kamarku!!.lantainya yang kotor,cat dinding yang mulai mengelupas,lampu yang remang remang… ini rumah nenek sihir itu!!.aku kembali panik! Aku berlari keluar ruangan mencari pertolongan.berlari sekuat tenaga menyelamatkan hidupku! ketika aku sampai di ruang utama,ruangan yang paling luas,aku melihat pintu di ujung ruangan, itu pintu keluarnya! Aku berlari kencang ke arah pintu tersebut,tapi sebelum aku sampai di depan pintu,pintu itu terbuka dan keluar seorang nenek berjubah hitam,
“nenek sihir!!” teriakku spontan.

nenek itu berjalan dengan baki yang di penuhi sesuatu misterius di atasnya,pikiranku semakin gila saat melihat seorang gadis berjalan di sampingnya.
“sasa!?” teriaku kaget.
“oh,hei julie kau sudah sadar rupanya” sasa menjawab.

aku terdiam kaku,sebuah hipotesis merasuki pikiranku,sasa di hipnotis!.
“sasa! Apa yang terjadi dengan mu!? Menjauh dari nenek sihir itu atau kau nanti celaka!” teriakku binggung.
“hey! Relax… jangan kasar pada nyonya simpson..” seseorang menyahut teriakanku dari samping. itu jemmy! Dan di sampingnya jerry! Mereka sedang asik bermain video game,pikiranku semakin meledak!kenapa mereka tidak lari,malah asyik main video game!.
“ho ho.. tenang nak.. duduk dulu dan makan eskrim ini,biar temanmu ini yang menjelaskannya” kata nenek itu sambil meletakan sesuatu di atas meja,ternyata baki itu penuh dengan eskrim.
”perkenalkan,nenek ini namanya nyonya simpson,dia datang ke rumah ini seminggu yang lalu” sasa mulai bicara. Nenek sihir itu bernama simpson!gumamku.
”karena dia tidak mempunyai kerabat di daerah ini,dia tinggal di sini sendirian,karena itu dia belum sempat membersihkan rumah ini,jadi rumah ini masih kotor dan berantakan seperti rumah nenek sihir”. Kata kata sasa mencairkan prasangka burukku,tapi belum membuatku yakin.
“lalu bagaimana dengan jimmy dan jerry? Katanya mereka ditangkap nenek sihir?”.
“bwahahahaha…” tawa kedua bersaudara itu meledak.
”kau benar benar imajinatif jul!” tambah jerry,ditertawain kedua orang bodoh itu adalah hal paling memalukan yang pernah ku alami!.
“begini ceritanya,saat mendengar cerita eunice tentang nenek sihir,kami sebagai pahlawan kota ini langsung mendatangi rumah ini berniat membasmi hal yang meresahkan warga.”
“yang kami temukan bukan nenek sihir tapi nyonya simpson yang baik hati yang memberikan kami eskrim super lezat dan memperbolehkan kami main game terbaik sepanjang masa,need for speed!!!” tambah jemmy.
“jadi,kalian tidak pulang seharian hanya untuk main game?” tanyaku tidak percaya.
“yup” mereka menjawab serentak.
“tapi aku melihat kalian se-” pertanyaanku berhenti saat melihat dua boneka berdiri melambai di jendela atas.ternyata yang kulihat tadi itu boneka!.sial,aku benar benar malu,berteriak nenek sihir kesana kemari,padahal nenek sihir itu tidak ada.

tunggu,,,,,ada satu hal yang belum tuntas.
“lalu bagaimana dengan rony? Katanya dia sakit karena terkena sihir”.
“hohoho.. anak gendut itu?,beberapa hari yang lalu dia kemari mengambil bolanya yang masuk ke halaman rumah ini,karena aku punya banyak eskrim dan tidak kuat menghabiskannya sendirian,aku tawarin dia eskrim,eh dia sangat suka eskrim ini dan habis 5 mangkok!” kata nenek itu dengan penuh senyum di bibirnya.
“jadi dia sakit demam karena kebanyakan makan eskrim?” tanyaku pada diri sendiri.

huuuuf….. perasaanku lega… tidak ada yang namanya nenek sihir,hanya imajinasi eunice saja.sial,anak itu sudah menipu kita semua.
“eh,eunice kemana?” tanyaku penasaran. sasa mengelangkan kepalanya ke samping,terlihat eunice sedang asik membaca buku di sebelah rak buku yang penuh dengan novel fantasy. anak aneh itu memang benar benar aneh!,tapi tak apalah. kalau bukan karena dia aku tidak bisa melewati hari yang mendebarkan ini. melepas lelah dengan makan eskrim buatan nenek simpson. wow! eskrim ini lezat sekali,tak heran rony habis 5 mangkok.

perasaanku kembali khawatir saat melihat jam dinding yang menunjukan pukul 9 malam.bakalan kena marah nih.tapi tak apa,ada pelajaran yang kudapat hari ini.jangan berprasangka buruk dulu sebelum kau tahu persis apa yang terjadi.jika kau tidak mau berakhir seperti aku. (-_-).

Baca juga Cerpen Remaja dan Cerpen Lucu yang lainnya.

Jumat, 02 Maret 2012

Cerpen Persahabatan Terbaru - Pohon yang Hilang

POHON YANG HILANG
Cerpen Rachmat H. Cahyono

Lelaki bertubuh kecil bernama Marzuki itu terkejut melihat sosok yang berdiri di hadapannya. Ia serasa mengenali garis-garis wajah itu.

"Man, Lukman, masya Allah. Bener ini kamu, Man?"
Lelaki yang disapa Marzuki itu tersenyum. Benar, itu memang Lukman, kawan masa kecilnya.

"Apa kabar, Ki?"
Mereka saling berangkulan. Lebih tepat, Marzuki merangkulnya lebih dulu.

"Nggak saya sangka, Man. Keren banget kamu sekarang. Cakep. Berapa tahun ya kita enggak ketemu?"
Sebaliknya, ia justru melihat kehidupan mandek begitu saja di suatu tempat. Berubah menjadi hantu tumpukan persoalan yang membuat kenalan lamanya itu terlihat lebih tua daripada usia sebenarnya. Uban di rambut, kantong mata kendor, letih menatap hidup. Tubuh kecil ringkih.

Ia sengaja menyulap dirinya menjadi peziarah yang singgah sebentar ke tempat lama yang dikenalnya. Perkampungan itu. Perkampungan di tengah ibu kota. Hampir 20 tahun berlalu, semenjak keluarganya membawanya merantau ke kota lain. Ke pulau lain. Lalu menghilang dalam kelebat hidup bergegas di negeri empat musim.

Sekolah. Bekerja. Berkeluarga. Perkelaminan. Hidup ternyata cuma deretan angka-angka.
Berapa umurmu? Apakah nilai sekolahmu selalu bagus? Hei, kau sudah bekerja ya, berapa gaji pertamamu? Sudah berapa lama ya kita tidak ketemu? Nomor teleponmu yang sekarang dong? Umur berapa kau menikah? Berapa anakmu sekarang?

Hah. Angka. Angka. Angka.
Sekarang angin membawanya kembali ke sana. Ke tempat ia melewati masa kanak-kanak dan tahun-tahun awal masa remajanya. Dua puluh tahun lalu. Bukan waktu sebentar. Cukup untuk mengaburkan segala kenangan masa silam menjadi serpihan-serpihan samar yang tak lagi jelas warna dan bentuknya. Ah, kenangan. Bisakah manusia hidup dari kenangan?

Betapa pun ia menyukai kunjungan itu. Apa pun alasannya. Apa pun maknanya. Ia bisa kembali menginderai perkampungan yang begitu "kampungan" itu ("kampungan". Ia selalu mengucapkan kata itu dengan nada rindu yang berbekas di ujung lidahnya). Bertemu bau khas memualkan meruap dari selokan mampet berwarna keruh kehitaman. Terkadang ada bangkai tikus bengkak dengan perut membesar keputihan, mengambang di selokan. Orang-orang berlalu dengan sorot mata jijik dan tangan menutup hidung.

Tak ada kata lain yang lebih tepat selain mengakui perkampungan di tengah kota itu memang jorok betul dan kampungan betul. Padahal, letaknya bersisian dengan salah satu jalan penting di pusat Jakarta. Sebuah perkampungan tua. Konon riwayatnya bisa dirunut sejak Sultan Agung dari Mataram memutuskan menyerbu VOC di Batavia. Prajurit Sultan Agung yang tercecer kemudian menetap di perkampungan itu, kawin mawin dengan penduduk asli, beranak pinak. Jangan-jangan mereka desersi karena gagal menaklukkan birahi mereka sendiri.
Bagaimanapun, perkampungan itu pernah ikut mengasuh dan membesarkannya.
***
Marzuki mengajak mampir ke rumahnya. Ia penuhi ajakan itu. Masih rumah lama, rumah warisan orang tua. Letaknya berdekatan dengan lapangan bulu tangkis tempat dia bermain di masa kanak-kanak dulu. Sekarang lapangan itu sudah disemen, rapi, dengan garis-garis permainan dari ubin keramik putih, bukan lagi irisan bambu.

Hanya rumah Marzuki kelihatannya tidak banyak berubah. Letaknya masih lebih rendah daripada selokan di depan rumah. Rumah kecil yang catnya mengelupas dan selalu ramai celoteh kelima anaknya yang masih kecil-kecil. Yang selalu kebanjiran ketika musim hujan tiba. Marzuki memperkenalkannya pada perempuan berpenampilan seadanya. Istrinya.

Ia memaksa diri minum teh manis yang dibuatkan perempuan itu. Terlalu manis. Gelasnya tidak terlalu bersih; masih tersisa aroma sabun. Agaknya dicuci tergesa-gesa. Gelas murahan, dapat gratis jika membeli barang-barang tertentu di pasar.

Ia tak membiarkan Marzuki bertanya lebih jauh perihal kehidupannya sekarang. Buat apa. Ia tahu dunia mereka sudah terlalu jauh berbeda. Justru ia yang sibuk bertanya-tanya pada kawannya itu mengenai kehidupannya sekarang. Kehidupan kawan-kawan lama mereka. Orang-orang yang pernah dikenalnya, yang ikut mewarnai kehidupannya di masa lalu. Begitu banyak perubahan. Bukan untuk mengorek, tapi sekadar memenuhi rasa ingin tahunya saja.

"Si Jimi?"
"Jadi Bandar putaw. Mati. Ditembak polisi."

"Astaga. Kalo Syafri?"
"Di Arab. Jadi TKI."

"Rima?"
"Di Surabaya. Bini kedua. Anaknya udah tiga."

"Syamsul?"
"Alhamdulillah, dia yang paling bener hidupnya. Sekarang punya pesantren kecil. Di Bogor."

"Masduki?"
"Kerja di pabrik gelas di Tangerang."

"Ustad Bibi?"
"Meninggal, Man. Tahun lalu. Darah tinggi."

"Innalillaahi…"
Ah, kenangan manis. Masa kanak-kanak. Percakapan mengalir begitu saja. Wajah-wajah berlintasan. Samar-samar. Sayup-sayup. Ada orang mengaji Quran. Ingatan mengalir kembali. Ustad Bibi, Habibi, dengan rotan yang tidak pernah ketinggalan dihantamkan di rehal. Sakitnya cubitan ustad itu. Ia pandai mencubit seperti perempuan. Kecil, pedih, berbekas di paha.

Terbayang kembali masjid kecil dengan dinding setengah tembok setengah kayu, di tengah perkampungan, tempat dia belajar mengaji. Suara anak-anak membaca juz Amma. Ada suaranya di sana. Kecil. Nyaring. Cerita tentang sorga dan neraka. Nanti di alam kubur akan ditanyai malaikat. Ah, kenangan.

Untuk sesaat, ia juga bisa melihat kemuraman terhapus dari wajah Marzuki. Mereka tertawa, semakin larut dalam kenangan masa kanak-kanak.
"Tapi sekarang perkampungan ini tambah gersang ya, Ki? Pohon gede semakin jarang kelihatan."

Marzuki mengangguk, masih ingat betapa mereka dulu begitu gemar memanjat pohon. Sekarang perkampungan itu semakin kehilangan pohon besar yang bisa dipanjat anak-anak. Mungkin karena rumah-rumah semakin tumbuh merapat. Tak ada lagi lahan tersisa untuk tumbuh sebatang pohon besar yang bisa dipanjat anak-anak.

Padahal, begitu cintanya mereka waktu itu pada pohon tinggi. Pohon apa saja. Makin tinggi makin menantang. Ya, ia tetap mengingatnya dengan baik. Pohon mangga, pohon jambu air, pohon seri, pohon cereme. Bahkan pohon buni di dekat rumah kosong yang angker dan konon ada penghuninya, dengan buah kecil-kecil yang masam dan segar buat kelengkapan rujak tumbuk. Jenis buah yang tak lagi dikenali anaknya yang terbiasa dengan buah-buahan impor yang berderet di super market. Ah, Jakarta, ibu kota ini terlalu pelit dalam memberikan pohon di lingkungan pemukiman. Khususnya di perkampungan macam ini.

Mendadak Marzuki mengajaknya ke luar rumah. Ia mengikuti dengan pandangan bertanya. Masih di dekat lapangan bulu tangkis itu, Marzuki berhenti. Ada sebuah tempat anak-anak muda kampung itu biasa berkumpul.

"Masih ingat tadinya di sini ada apa?"
Ia tersenyum. Mengangguk.

"Pohon jaran. Kak Ila," bisiknya.
"Hehehe… ingetan kamu masih bagus, Man."

Ia tersenyum. Samar. Dulu di tempat itu memang ada sebatang pohon jaran. Entah apa nama latinnya. Pohonnya tinggi, besar, kokoh, sekitar 30 meter menjulang ke langit. Daunnya kecil-kecil, rimbun. Pohon kesayangannya. Hampir setiap ada kesempatan ia selalu menaikinya. Bahkan pernah bersama Marzuki ia membuat rumah-rumahan kecil dari kayu, di pohon itu. Ia senang berada di atas. Seolah tangannya bisa menjangkau langit biru. Gedung tinggi Jakarta terlihat di kejauhan. Mosaik pemukiman sekitarnya. Jika beruntung, pagi-pagi sekali, ia bahkan masih bisa melihat Gunung Salak dan Gunung Gede di kejauhan. Ia bisa menuntaskan khayalannya menjadi petualang perkasa yang menaiki tiang-tiang tinggi kapal layar yang berlayar di tengah samudera. Bahkan ia betah berjam-jam berada di atas pohon itu.

Dan sebuah kamar mandi umum tanpa atap, radius sekitar 30 meter dari pohon itu. Ingatan yang tak pernah lekang dari benaknya. Ketika dari atas pohon itu, tanpa sengaja, ia dan Marzuki memergoki tubuh perempuan dewasa yang sedang mandi. Utuh. Penuh. Sempurna. Dengan paha bak pualam, payudara indah seperti keramik Cina. Tanpa sehelai benang pun. Ia melihat semuanya. Tubuh bu**l Kak Ila, istri Mas Agus, tetangganya. Basah berlumur busa sabun.

Pemandangan itu, meskipun hanya satu kali, begitu mengesankan dan sempat bersemayam lama di hatinya. Membuat dada kanak-kanaknya yang tengah memasuki masa peralihan ke usia remaja, selalu berdesir. Untuk pertama kalinya ia merasakan desakan gairah begitu kuat di sekitar celananya.

"Kamu tahu Man, aku onani pertama kalinya ya setelah ngeliat Kak Ila itu. Malamnya ketakutan setengah mati. Mikir, kemakan omongan orang, kalau onani bisa jadi buta dan gila. Bego ya, dasar anak-anak," bisik Marzuki sambil nyengir dan mengedipkan matanya.

Ia tersenyum simpul. Hal yang sama juga terjadi pada dirinya.
Sekarang pohon itu sudah tidak ada. Ditebang beberapa tahun lalu. Di bawahnya dibangun pos ronda. Namun, ia masih bisa melihat sisa pohon itu. Bonggol akar dan pangkal batangnya dibuat semacam meja oleh anak-anak muda kampung itu. Meja kayu yang tampak tua, hitam mengkilat karena dipernis berulang kali.

Meskipun hanya sebentar, ia tahu perjalanannya ke perkampungan yang pernah ditinggalinya itu memuaskan rasa ingin tahunya. Ada janji lain yang harus dipenuhinya kepada seorang relasi. Waktu untuk berpisah sudah tiba. Ia segera berpamitan pada Marzuki, masih sempat menyumpalkan lembaran uang ke tangan kurus itu

"Apaan nih, Man. Masya Allah, banyak bener. Enggak salah nih. Lima ratus ribu. Makasih ya, Man."
"Kalau ada tawaran harga cukup bagus untuk ngelepas rumah dan tanahmu, terima aja ya, Ki," katanya sambil bergerak menjauh dan melambaikan tangannya.
"Apa, Man?" Marzuki tak begitu mendengar perkataannya, karena masih terperangah pada rezeki nomplok yang hinggap di tangannya.
***
Dalam mobil yang membawanya ke salah satu hotel bintang lima di pusat kota, ia tahu ia tidak terganggu dengan kenangan sesaat dari perkampungan itu. Keputusannya tidak berubah.

Ia menelepon sekretarisnya. "Halo, Katrin, bagaimana dengan persetujuan gubernur? Sudah turun hari ini? Bagus! Saya sudah melihat lokasi itu. Sampaikan pada semua staf, saya minta mulai bergerak hari ini juga," pesannya dengan nada tegas.

Persetujuan dari gubernur sudah turun untuk studi kelayakan yang dibuat timnya terhadap wilayah itu. Cepat atau lambat warga perkampungan yang pernah menjadi tetangganya akan tergusur dari lahan itu. Dengan cara apa pun. Ia mengeraskan hatinya. Wajah-wajah mereka yang pernah dikenalnya di perkampungan itu berlarian di benaknya.

Sekarang ia siap kehilangan tempat itu. Perkampungan yang mandek dan tersesat dalam waktu. Mungkin terasa pahit pada awalnya. Tapi, obat pahit dibutuhkan untuk menyembuhkan sakit dan melanjutkan hidup. Pohon kokoh bisa ditebang jika tak dibutuhkan lagi. Marzuki dan keluarganya? Teman-temannya yang lain? Tetangganya di masa lalu? Terima kasih. Mereka akan selalu menjadi bagian kenangan hidupnya. Namun biarlah sang nasib yang akan mengatur hidup mereka selanjutnya. Ia pun hanya menjalani nasib dan kehidupannya sendiri. Ia tahu itu. Sejak lama.

Ia juga tahu berapa harga pantas untuk sebuah kenangan. Tolol kalau membiarkan perkampungan itu tetap ada dalam peta Jakarta. Lokasinya terlalu strategis untuk diabaikan dari sudut pandang ekonomi. Ia tahu ia bisa menyulapnya.

Ah, pesulap. Tiba-tiba saja ia ingat nama-nama itu.
"Rustam, kamu tahu pesulap yang namanya Houdini atau David Copperfield?" Ia bertanya pada sopirnya.

"Yang David itu pernah dengar, Tuan. Yang satu lagi, belum. Kenapa, Tuan?"
"Tidak apa-apa."

Ia tersenyum. Dengan koneksi, modal, dan kekuasaan yang dimilikinya, ia tahu ia bisa menjadi "pesulap" yang lebih baik daripada Houdini atau David Copperfield! ***
Jakarta, akhir Januari-awal Mei 2004
Untuk Ulfi Faizah di Malang

Baca juga Cerpen Persahabatan yang lainnya.

Dendang Sepanjang Pematang - Cerpen Persahabatan Terbaru

DENDANG SEPANJANG PEMATANG
Cerpen M. Arman AZ

Adalah kenangan yang menghimbauku untuk menengok pohon randu itu. Letaknya menjorok sekitar sepuluh meter di sebelah kiri jalan masuk kampung. Dahan-dahannya seperti masa lalu yang merentangkan tangan. Aku tergoda untuk membelokkan langkah ke sana. Bersijingkat menyibak rimbun ilalang setinggi pinggang.

Ohoi, pohon randu, inilah dia si anak hilang. Lama sudah dia tak pulang. Sambut dan peluklah dia sepenuh kenang.

Kutelisik sisi belakang batang randu itu. Sekian tahun silam, menggunakan sebilah belati milik kakek yang kupinjam tanpa izin beliau, aku dan beberapa teman bergiliran memahat nama kami di sana. Tak ada lagi ukiran nama kami. Aku tersenyum kecut menyadari kebodohanku barusan. Bukankah pohon randu terus tumbuh seiring guliran waktu? Kuletakkan pantat di tanah yang lembab. Menyandarkan punggung di kekar batang randu. Kuhela napas haru. Aroma humus dan ilalang mengepung dari segenap penjuru.

Dari pohon yang jadi tapal batas kampung ini dengan kampung seberang, kusaksikan pagi menggeliat lagi. Ufuk timur perlahan benderang. Aku teringat selembar kartu pos bergambar sunrise yang mengintip dari balik punggung gedung-gedung pencakar langit. Seorang teman mengirimnya dari negeri yang jauh. Konon dia sekarang jadi kelasi kapal pesiar. Entah di belahan dunia mana dia kini berada. Masih ingatkah dia pada pohon randu ini? Masih ingatkah dia pada Pak Narto, guru kami dulu? Andai dia tahu beliau telah mangkat, sanggupkah dia lipat jarak dan waktu agar bisa ikut mengantar kepergiannya?

Kemarin siang, di tengah raung mesin pabrik, ponsel tuaku bergetar. Sebuah nomor asing berkedip-kedip gelisah. Aku kaget mendengar suara Ayub. Dia salah seorang sahabatku di kampung. "Pak Narto wafat!" jeritnya dari seberang sana. Sebelum mengakhiri percakapan yang tergesa-gesa, Ayub minta tolong agar kabar duka itu kusampaikan secara berantai ke teman-teman lain.
Kutimang ponsel dengan gamang. Kenangan kampung halaman begitu menyentak.
***

Aku tertegun menatap rumah Ayub. Dindingnya dari papan. Di samping kiri ada tumpukan kayu bakar. Tanaman hias memagari rumahnya. Ada kuntum kembang sepatu dan melati baru mekar. Sedap dipandang mata. Di depan rumah ada bale-bale bambu. Ruas-ruasnya sudah renggang. Kuucap salam di depan pintu yang separuh terbuka. Terdengar sahutan, langkah tergopoh, dan derit pintu yang dikuak.

"Man?!" Dia terperangah. Aku tersenyum. Sudah lama kami tak bersua. Detik itu juga, waktu seolah berhenti ketika kami saling berpelukan.
"Baru datang? Wah, pangling aku. Gemuk kau sekarang. Sudah jadi orang rupanya. Ah, sampai lupa aku. Ayo masuk." Runtun kalimatnya. Dia tepuk-tepuk dan rangkul bahuku. Aku duduk di kursi rotan ruang tamu. Tas kecil kuletakkan di lantai semen. Ayub memanggil istrinya. Dikenalkan padaku seraya minta dibuatkan dua gelas kopi.

Wajah Ayub yang sesegar pagi cepat menghapus letihku. Diam-diam kucermati sosoknya. Ia memakai kaos putih lusuh dan celana panjang hitam. Tubuhnya kekar. Kulitnya legam. Urat-urat lengannya menyembul keluar. Ketika senyum atau bicara, gigi putihnya berderet rapi. Dengan penuh keluguan ia dedahkan hidupnya kini.

Dari semua nama yang terpahat di batang randu, cuma Ayub yang masih setia pada kampung ini. Yang lainnya telah pergi menyabung nasib ke kota, ke pulau seberang, bahkan ke negeri orang. Ayub hidup dari mengurus sawah dan ladang warisan orang tua. Katanya, meski sempat diserang hama wereng, panen dua bulan lalu cukup lumayan. Hasilnya digunakan untuk menyulap tanah kosong di belakang rumah jadi empang. Dia pelihara ikan mas dan gurami untuk menambah penghasilan.

Aku ngilu waktu Ayub menyuruhku menginap di rumahnya. Tawaran itu menohok batinku. Aku tak punya apa-apa lagi di sini. Setengah windu setelah Emak menyusul Abah ke liang lahat, aku dan tiga saudaraku sepakat menjual sawah dan rumah. Kami ingin merantau. Mencari nasib yang lebih baik. Setelah hasil penjualan dibagi rata, kami pun berpencar ke penjuru mata angin.

Bagaimana menguraikan keadaanku pada Ayub? Aku cuma buruh pabrik tekstil di pulau seberang yang gaji tiap bulan ludes untuk menghidupi istri dan empat anak yang masih kecil. Bedeng kontrakan kami tak jauh dari kawasan pabrik. Berhimpitan dengan bedeng-bedeng lainnya. Lingkungannya kumuh, dikepung bacin selokan dan tempat pembuangan sampah. Kami sudah biasa antre mandi, buang hajat, atau cuci pakaian di WC umum yang ada di tiap pojok bedeng.

Ayub terpana mendengar ceritaku. Sambil terkekeh-kekeh dia menyela, "Jangankan mengalaminya, membayangkannya saja aku tak sanggup."

Menepis risau, kuraih gagang gelas. Kuseruput kopi yang dihidangkan istri Ayub. Ah, kopi yang digoreng sendiri lebih nikmat rasanya. Sambil menyulut rokok, Ayub berkata, "Kenapa tak pulang saja, Man? Beli sawah. Bertani. Meneruskan tradisi keluarga kita dulu."
Aku tercekat. Sekian lama di rantau, sekian jauh berjarak dengan kampung halaman, tak pernah terbersit di benakku untuk pulang.
***

Sepanjang jalan menuju rumah duka, kami kenang kawan-kawan lama. Maryamah, gadis lugu yang dulu pernah aku kesengsem padanya, kini jadi biduan orkes dangdut. Namanya diubah jadi Marta. Kata Ayub, jangan harap dia menengok jika dipanggil dengan nama asli. Darto, yang paling pintar di kelas kami, jadi tukang becak di kota. Sebulan sekali dia pulang menjenguk ibunya yang sakit tua. Aku kaget mendengar nasib Sumarno. Dia jadi bencong. Ngamen di gerbong-gerbong kereta. Lantas kuingat Abas. Ayub bilang, dia ketiban bulan. Hidupnya kini makmur. Mertua Abas orang kaya di kota kecamatan. Abas ditugasi mengurus koperasi. Kesempatan itu tak disia-siakan Abas. Dia pinjamkan uang pada orang-orang dengan bunga tinggi. Masih kuingat guyonan tentang Abas dulu. Jika ketemu Abas dan ular sawah dalam waktu bersamaan, lebih baik bunuh Abas duluan, sebab culasnya melebihi ular. Dan si Ahmad, anak pendiam dan alim itu, sekarang nyantri di sebuah pesantren di Madura.

Ah, waktu telah mengubah segalanya. Kisah teman-teman lama membuatku takjub, heran, campur sedih. Hingga tak terasa tempat yang kami tuju sudah di depan mata. Usai berdoa di sisi almarhum Pak Narto, kami beringsut keluar dari ruang tamu. Duduk di seberang jalan dekat batang bambu yang dihiasi kain kuning. Makin tinggi matahari, makin banyak pelayat datang. Aku termangu menatap rumah duka itu. Ada tarup besar memayungi halaman. Kursi-kursi plastik penuh terisi. Dari bisik-bisik yang kudengar, Marta yang membayar sewa tarup dan kursi itu. Dia tak bisa datang melayat.

Dulu warga kampung ini hidup penuh harmoni dan bersahaja. Meski tak ada hubungan darah, kami merasa selayaknya saudara. Kehidupan yang lambat laun sekeras batulah yang memaksa kami untuk memilih. Merantau jadi pilihan kami, anak-anak muda kala itu.

Sejauh-jauh terbang, warga kampung ini pasti mudik setiap lebaran. Cuma aku yang jarang pulang semenjak tak ada lagi yang tersisa di sini. Begitu juga jika ada yang meninggal, Kami yang di rantau pasti dikabari. Tapi, entah kenapa, sampai jenazah Pak Narto berkalang tanah di pemakaman umum di pojok kampung, hanya segelintir teman yang kutemui. Apakah sosok lelaki kurus jangkung dan ramah itu telah lesap dari ingatan mereka? Apakah rutinitas membuat mereka tak sempat lagi untuk sekedar menengok masa silam?
***

Hari kedua di kampung. Ayub mengajakku ke sawah. Pematang-pematang itu sudah tak sabar menunggu jejakmu, guraunya. Di jalan, kami berpapasan dengan warga yang hendak ke sawah atau ladang. Ada yang jalan kaki sambil menenteng pacul di bahu. Ada yang menggoes sepeda. Aku terharu. Mereka masih mengingatku dan meluangkan waktu sejenak untuk mengobrol.

Justru generasi muda kampung ini yang membuatku jengah. Beberapa kali kulihat mereka memacu sepeda motor sesuka hati. Ngebut di jalan tanah berbatu. Meninggalkan debu panjang di depan mataku.

Sawah Ayub beberapa puluh meter di depan sana, dekat rimbunan pohon pisang. Ketika masih ngungun menatap hamparan permadani hijau itu, Ayub mengajakku turun. Kapan terakhir kali aku meniti pematang? Alangkah jauh masa itu kutinggalkan.

Ayub melenggang tanpa kuatir tergelincir ke lumpur sawah. Aku jauh tertinggal di belakangnya. Melangkah tersendat-sendat sambil merentangkan tangan untuk menjaga keseimbangan.
Lir ilir, lir ilir. Tandure wis semilir. Tak ijo royo-royo. Tak sengguh temanten anyar...

Hawa dingin meniup tengkukku ketika mendengar tembang gubahan Sunan Bonang itu. Sempat terbersit untuk mengikuti Ayub berdendang sepanjang pematang. Namun, entah kenapa, bibirku terasa kelu.

Dari huma beratap rumbia, kusaksikan Ayub berkubang di tengah sawah. Batang-batang padi meliuk. Menimbulkan suara gemerisik ketika saling bergesekan. Sepasang kepodang terbang melayang di keluasan langit. Suara serunai terdengar sayu-sayup sampai. Entah siapa peniupnya. Mendengarnya, aku seakan terhisap dan sesat dalam masa lalu.

Kami pulang menjelang petang. Memutari jalan kampung. Meski lebih jauh jaraknya, tapi aku tak keberatan. Kami mau ke sungai tempat dulu biasa berenang. Sesampainya di sana, hati-hati kami turuni tebing penuh lumut. Aku rindu membasuh muka dengan air sungai. Kutangkupkan kedua telapak tangan lalu kucelupkan ke dalam air. Ayub terkekeh-kekeh melihat kelakuanku yang mirip anak kecil. Setelah segar kami pulang. Baru beberapa puluh langkah menyusuri jalan sunyi, tiba-tiba Ayub mencekal bahuku. Tangannya menuding rimbun ilalang yang bergerak-gerak mencurigakan. Aku ingat, Ayub pernah membidik burung dengan ketapel. Bidikannya paling jitu di antara kami. Burung itu jatuh dari dahan pohon. Menggelepar di semak-semak. Kami mengendap-endap. Alangkah kaget kami memergoki pemandangan itu. Ada sepasang remaja tanggung sedang asyik bercumbu.

Ayub menghardik mereka. Aku terpana. Merasa tertangkap basah, wajah keduanya pucat dan merah padam. Mereka buru-buru membenahi pakaian lalu setengah berlari menuju tempat motor diparkir. Kami kembali melanjutkan langkah. Wajah Ayub kaku. Sepanjang jalan dia bersungut-sungut memaki kelakuan dua anak tadi.
***

Harum bunga kopi merayap dibawa angin. Bintang bertaburan di langit lama. Suara jangkerik dan kodok jadi musik alam. Aku serasa sedang berada di sorga.
"Kampung kita sudah berubah, Man," kata Ayub sambil menatap cahaya kunang-kunang yang timbul tenggelam di rimbun ilalang.
"Ya, aku seperti orang asing di sini," suaraku gamang.
"Semua teman kita pergi merantau. Jadi TKI, babu, atau buruh sepertimu. Tetua kampung meninggal satu-satu. Apalagi sejak teknologi modern menyerbu. Kampung kita makin kehilangan jati dirinya. Asal kau tahu, apa yang kau lihat di tepi sungai tadi belum seberapa..."

Kalimat Ayub terakhir membuatku risau. Aku enggan bertutur lebih banyak. Aku harus tahu diri. Setelah memilih jadi manusia urban, aku tak punya kuasa apa-apa lagi di sini.
***

Izin cuti empat hari telah usai. Takziah tiga malam berturut-turut di rumah almarhum Pak Narto telah kuikuti. Aku harus pulang pagi ini. Rindu kampung halaman telah kutebus dengan hal-hal menyakitkan. Tapi biarlah kutelan dalam hati saja.

Dengan motor tuanya, Ayub mengantarku ke pasar di kampung sebelah. Di sana ada angkutan pedesaan yang trayeknya sampai ke terminal kota. Dari terminal itu aku akan menyambung perjalanan ke pulau seberang.

Persis ketika kami lewati pohon randu itu, lagi-lagi Ayub mengimbauku agar pulang saja. Sebenarnya tak ada lagi yang ingin kukatakan. Namun sekedar menghibur diri, kukatakan pada Ayub bahwa aku punya mimpi yang sederhana. Satu saat nanti, jika ada uang, aku mau pulang. Membeli sawah. Bertani sambil beternak puyuh dan itik. Makan dari hasil keringat sendiri. Hidup tenteram bersama anak istri.

Ayub berjanji kelak akan menagih mimpiku. Sementara aku membayangkan omong kosong yang baru saja kuucapkan, cuma bisa tersenyum giris...***

Baca juga Cerpen Persahabatan yang lainnya.

Cerpen Cinta Terbaru - Sang Pengembara

SANG PENGEMBARA
Cerpen: Antoni

CINTA membuatku bodoh. Sebetulnya aku membenci keadaan ini. Sudah lama aku tidak jatuh cinta. Dan tiba-tiba makhluk gaib itu datang, menyergapku dari belakang, membantingku dengan kasar, jatuhlah aku ke pelaminan.

Aku seorang pengembara, tapi kini aku terjerat tali pernikahan. Bayangkan. Seorang pengembara terjerat tali pernikahan! Pernikahan tanpa janur kuning melengkung, tanpa kelapa gading menggelantung, tanpa setandan pisang raja, melati dironce-ronce, apalagi gending Kodok Ngorek, tidak ada sama sekali. Semua berlangsung tawar, tidak semerbak, abu-abu, persis mendung menggantung.
"Ini pernikahan resmi kan, Ma?" tanyaku kepada ibu mertuaku, setelah semua tamu pulang.
"Resmi…!" Alis matanya agak menaik. "Ada naib dan petugas KUA. Sah
menurut hukum dan agama. Emangnya kenapa?"
"Ya alhamdulillah, merasa bahagia saja…," jawabku. Aku memang seorang muallaf sejak Agustus 2003. Jadi maklum belum begitu paham.

Kami pun kembali terdiam. Ibu mertuaku asyik memisah-misahkan jepitan rambut yang tadi dipakai istriku. Ada yang besar ada yang kecil, dipisahkan satu dengan lainnya. Lalu disimpan di kotak kecil-kecil. Sambil menyulut rokok, aku sandarkan punggung ke tiang kayu penyangga rumah limasan ini. Tidak ada penutup atap. Gentingnya terlihat dari bawah. Lonjoran-lonjoran bambu tampak jelas.

Aku tercenung sejenak. Teringat mendiang ibuku yang meninggal November tahun lalu. Seandainya masih hidup, tentu ia bahagia sekali menyaksikan pernikahanku. Wasiat terakhir untukku hanya satu: ia ingin melihatku bahagia.

Rambutku terasa sedikit naik. Angin bukit batu yang kering, bersirobok masuk dari pintu depan. "Aku mengalami kebahagiaan hanya pada saat berdoa saja, Bu…," gumamku dalam batin.

Pernikahan, terus terang, memang membuatku bahagia. Meski perhelatannya berlangsung sangat sederhana. Pernikahan memaksaku berhenti mengembara. Puluhan tahun aku melintasi jalanan sepi dan gelap, berteman rindu dan harapan. Kakiku melangkah tanpa kepastian. Akhirnya aku dihentikan oleh kekuatan yang tidak pernah aku pahami. Jodoh membuatku berhenti melangkah.

Sebagai pengembara, sungguh tak pernah aku mempelajari apa itu hakikat perkawinan, rumah tangga bahagia, keluarga sakinah dan sebangsanya. Jadilah aku manusia paling bodoh. Mengalami ketergagapan budaya dalam berumah tangga. Sebuah ritual tradisional yang dijalankan turun temurun oleh seluruh umat manusia di dunia ini. Dan aku tidak mengenalinya sama sekali.

Dulu, aku merasa takut menghadapi pernikahan. Dalam bayanganku, semua keperluan rumah tangga harus dipersiapkan terlebih dahulu, seperti rumah, penghasilan tetap dan kendaraan. Sejak usia 18 tahun, sudah tiga kali aku membangun rumah, hanya untuk memahami elemen-elemen pernikahan itu. Rumah pertama, mungil tapi permanen, terpaksa aku jual karena pindah ke Surabaya. Dan calon istriku pergi jadi pramugari. Terbang, selamanya.

Rumah kedua, sebetulnya aku tidak begitu berminat membangunnya untuk tujuan berumah tangga, meski pacarku cintanya tak terbatas untukku. Kubangun di pinggir jalan besar, di sebuah desa yang tenang. Aku tinggal di situ setahun lamanya, sambil menyelesaikan buku keduaku tentang meditasi. Aku jual lagi. Pacarku ke Singapura bekerja di sana.

Setelah itu, aku tidak membangun rumah lagi. Tapi membelinya. Di daerah sentra pariwisata di Jogja. Sebuah rumah joglo tua dan angker. Kubuat galeri

kecil, lumayan juga. Lukisan-lukisan karyaku sempat dibeli turis Belanda dan Belgia. Akhirnya, karena jenuh dan ada peristiwa bom Bali, aku memutuskan

mengembara lagi. Rumah itu kujual secara tergesa-gesa.

Kini, aku punya istri yang setia tapi tidak punya rumah. Dulu aku punya rumah tapi hidup sendiri tanpa istri. He..he…he, ironis kan? Sementara ini istriku tinggal bersama mamanya. Ia memang anak yatim yang didera penderitaan hidup berkepanjangan.

Aku letakkan puntung rokok terakhirku ke asbak. Ibu mertuaku ternyata sudah sejak tadi beranjak dari duduknya. Lamunanku tentang peristiwa pernikahan ini, membuatku tidak memahami lingkungan sekitarku. Aku pun beranjak, mencari istriku di bilik sebelah, bersekat tripleks.

Istriku cantik sekali. Tercantik di dunia. Ia tampak sedang sibuk memberesi pakaian pengantinnya, bedaknya dan segala tetek bengek perlengkapan gaun pengantin. Bau parfum Drakkar Noir dari Calvin Klein masih tertinggal, di ujung hidungku. Tadi, seusai resepsi, kucium dia di tengkuknya. Jadi aroma parfumnya ikut juga. Memang, itu parfum cowok. Tapi mau bagaimana lagi? Adanya cuma itu. Aku membelinya di drugstore Bandara Juanda, Surabaya dua tahun lalu, sepulang dari Makassar.

Aku cium lagi tengkuknya. Ia tersenyum manja. Kebahagiaan terpancar di wajahnya. "Mau ngopi lagi, Mas?" tanyanya. Aku menggeleng, kudekap dia dari belakang, kemudian kita saling menempelkan pipi dan mematut-matut di depan cermin. Sepasang pengantin baru yang menikah diam-diam. Aku lihat matanya berbinar-binar. Ia bahagia.

Makna kebahagiaan bagiku hanyalah setetes warna yang lebih bersinar di antara warna-warna lain yang kusam. Setiap orang yang mampu meraih segala sesuatu yang diidam-idamkan, tentu merasa bahagia. Begitu pula aku. Seringkali aku merasa lelah mengembara dan ingin hidup layak seperti pada umumnya orang dengan menikah, berkeluarga, dan beranak pinak seperti yang disampaikan Allah kepada Nabi Ibrahim.

Dua minggu menjelang pernikahan, secara khusus memang aku memohon kepada kekuatan Yang Maha Dahsyat. Kekuatan paling purba, sebelum bumi dan tata surya ini tercipta. Di bawah pohon tua berumur ratusan tahun, di atas bukit kecil yang lembab, tepat tengah malam dan purnama penuh di angkasa, aku sampaikan permohonan keramatku itu. "Aku tidak butuh kekayaan, aku butuh istri dan sebuah keluarga," begitu doaku. Kun fayakun, terjadilah segala sesuatunya secepat kilat.

Pernikahanku juga berlangsung kilat. Memang, ketemunya sudah lama, dua tahun silam di acara pernikahan seorang artis dangdut top ibu kota. Belum ada getar-getar cinta kala itu. Pertemuan kedua terjadi di Jogja, di pinggir lapangan golf Hyatt Regency, Bogeys Teras. Biasa saja, semuanya berlangsung biasa. Cuma di tengah dentuman musik classic rock yang mengalun, dia mengatakan kepadaku setengah berbisik: "Kalau mau sama aku, harus serius…," katanya.

Langsung saja aku melamarnya malam itu juga. Ia pun mencium punggung tangan kananku. Resmilah kita mengikat janji. Sepuluh hari setelah malam "bertabur bintang" itu, terjadilah pernikahanku ini. Tanpa surat undangan dan wedding taart.

Perjalanan pernikahanku memang terkesan begitu indah. Tak ada cacat,
semua berjalan baik dan tenang. Ombaknya kecil, landai, dan bisa pasang layar sesuka hati. Langit biru tampak bersahabat di ujung cakrawala dan matahari bersinar ramah.

Kunikmati pernikahanku. Sedikit unik. Biasanya jok sebelah kemudiku selalu kosong. Paling, terisi dokumen pribadi dan beberapa bungkus rokok. Kini ada wanita cantik dengan rambut tergerai, tawa yang renyah dan sangat suka memakai aksen…gitu loh. "Liya gitu loh….," katanya menegaskan bahwa Liya beda dengan Lia.

Aku jadi mudah tertawa dibuatnya. Segala kata jadi berbunga-bunga, dan kita selalu mengurung diri di kamar berdua. Bercanda, berantem kecil-kecilan, saling merajuk dan tentu saja, bercinta.
"Aku pengin punya anak 9," kataku.
"Dua saja….Capek," jawabnya sambil menepuki perutnya.

Lalu kita berpelukan lagi. Seolah tidak ada cakrawala untuk luapan kegembiraan dan kebahagiaanku. Tidak ada yang membatasi. Tidak ada garis lurus yang memisahkan. Tidak seperti langit dan bumi yang dibelah di cakrawala. Segalanya serba los, bebas dan tak terbatas. Luar biasa. Aku selalu merindukan setiap menitnya.

Tawa ceria dan segala canda itu ternyata tidak berumur lama. Begitu cepat perginya. Sama cepatnya dengan proses pernikahanku. Kebahagiaan, agaknya, tidak pernah berpihak kepadaku. Segala sesuatunya berbalik 180 derajat. Sirna seketika. Berubah serba hitam. Galau. Gelap. Bergemuruh. Menghentak-hentak dan menyambar-nyambar. Setiap kata jadi bersayap-sayap. Salah paham muncul silih berganti. Kecemburuan, kecurigaan, dan pembicaraan-pembicaraan yang penuh teka-teki pun berebut mengganggu.

Salah ucap sedikit, menjelma jadi bara api. Berkilat-kilat. Aku sampai tidak sempat berdoa karena pikiranku tersita sepenuhnya untuk istriku. Kelakuannya berubah-ubah, sulit dipahami.
"Aku ingin sendiri," katanya pelan, tapi kurasakan seperti halilintar.

Menggelegar.
"Kita ini menikah, bukan pacaran. Ini Suro…harus serba hati-hati," kataku
mengingatkan.
"Hasyaahhhh….." Mukanya jadi cemberut dan bibirnya jadi tambah lancip.

Rambutnya yang dikucir bergoyang-goyang. Meski marah, kuakui, dia tetap saja menggemaskan.

Sambil menjentikkan abu rokok ke asbak, ia pun berargumentasi tentang pernak-pernik kegalauan perasaannya. Dari soal sepele sampai besar. "Aku tuh sukanya mobil-mobilan dan korek api, bukan bunga…Sabunku juga bukan yang itu, shamponya yang ini….." Mimik mukanya agak berkerut-kerut, ketika aku bawakan setangkai red rose yang dikemas plastik cantik.

Aku berusaha menyelami segala sesuatunya dengan hati-hati. Termasuk soal rumah, yang berkali-kali dilihat masih kurang cocok di hati. Kadang jengkel juga. Namun pernikahan tidak boleh terganggu dengan perasaan-perasaan yang tidak berguna seperti itu. Pernah aku berpikir kenapa harus begitu tergesa-gesa menikah?
"Aku sudah lelah dan jenuh dengan kehidupanku selama ini. Jadi aku
memutuskan untuk cepat menikah," katanya ketika itu.

Argumentasinya itu membuatku merasa menemukan wanita yang sudah matang. Masa lalu yang carut marut memang harus diakhiri ketika pernikahan terjadi. Ketika baju pengantin dikenakan dan akad nikah ditandatangani, maka masa lalu berakhirlah di situ. Pernikahan adalah sebuah lembaran baru yang serba bersih, sehingga kita bisa menuliskan apa pun di sana sesuka hati, tanpa harus dihantui lembaran-lembaran hitam masa lalu. Kisahnya harus dibuat sesuai tata nilai yang berlaku di masyarakat. Ditata seperti mengatur sebuah taman bunga. Agar segalanya serba semerbak dan mewangi. Sampai akhirnya lembaran pamungkasnya ditutup sendiri oleh Sang Khaliq. Pemilik hak atas seluruh hukum kehidupan. Ah, lumayan juga teoriku ini.
"Hanya kematian yang bisa memisahkan sepasang pengantin," kataku kepadanya. Ia tercenung beberapa jurus. Matanya yang indah terdiam beberapa saat. Lalu bola matanya berubah jadi abu-abu. Ia pun meledak-ledak lagi. Ada bau parfum yang berbeda dari tubuhnya, ketika ia berdiri sambil bersungut-sungut. Aku terhenyak. Berangkat kantor tadi pagi, memang ia sudah terlihat kusut. Tapi aku tidak memikirkannya terlalu dalam. Sewaktu turun mobil, ia hampir lupa mencium tanganku.
"Aku suamimu bukan?" tanyaku pelan, sambil kusodorkan tangan kananku.

Ia pun menciumnya. "Nanti dijemput jam berapa?" tanyaku lagi.
"Jam empat sore. Mundur satu jam," jawabnya, sambil bergegas turun.

Prahara itu pun dimulai. Bau parfum yang berbeda sepulang kantor, menjadi puncak dari seluruh masalah yang bertumpuk. Padahal sepulang kantor tadi kami sempat melihat sekali lagi rumah yang akan kami tempati.
"Besok aku mau naik bis kota saja. Nggak usah diantar jemput lagi," ujarnya sambil membanting tubuhnya ke kasur. Ia memunggungiku. Tampak jengkel.

Aku berharap keadaan itu hanya sementara saja. Seperti permasalahan-permasalahan kecil yang terjadi di hari-hari kemarin. Ternyata tidak. Besok-besoknya lagi, tetap sama. Terus-menerus begitu. Sehari dua hari. Seminggu dua minggu. Seluruh saluran komunikasi ditutup. Ia pun ganti nomor hand phone. Aku takut membayangkan kenyataan yang bisa membuatku bersedih.
"Ini hanya sementara…," katanya ketika aku nekat menemuinya, di siang yang terik. "Sementara…," itulah kata-kata yang aku jadikan pegangan. Meski berat dan dipenuhi ribuan teka-teki, aku berusaha meyakini janjinya itu.

Kehidupanku pun limbung. Aku kembali melangkah tanpa kepastian, tak ada teman selain rindu dan harapan. Keinginanku untuk menjalani kehidupan masa lalu kembali menggelegak lagi. Mengembara. Ya, mengembara. Akulah, pengembara itu!

Aku harus kembali berteman dengan alam, dengan orang-orang yang hidup
sederhana di ujung-ujung desa, di pegunungan dan di pinggir-pinggir pantai. Bertemu orang-orang yang tulus mencintaiku, menerimaku dengan tangan terbuka, tanpa rasa curiga, saling pengertian dan tidak mengkhianati. Aku merasa bahagia. Apalagi kalau mereka berduyun-duyun di belakangku, mengikutiku berdoa.
"Tapi ya Allah, apakah Engkau tidak mengizinkan aku memiliki sebuah keluarga, keturunan, dan generasi pewaris?" gumamku ketika aku datang lagi ke pohon besar di atas bukit yang lembab itu.

Selang beberapa saat, tiba-tiba melodi Songete mengalun dari hand phoneku. Debur ombak Laut Selatan hampir membuatku tidak mendengarnya. Ada SMS masuk, dadaku berdebar.
"Jeleeeeeeeeeeeeeek…where are u? Aku kangen tho sama Jelek. Ke sini tak buatin kopi…..!" begitu bunyi SMS-nya. Dari istriku.
Ah, ternyata itu SMS yang pending sejak empat minggu lalu. ***

Baca Juga Cerpen Cinta yang lainnya.

Cerpen Putu Wijaya - Laki-laki Sejati

LAKI-LAKI SEJATI
Cerpen Putu Wijaya

Seorang perempuan muda bertanya kepada ibunya.
Ibu, lelaki sejati itu seperti apa?

Ibunya terkejut. Ia memandang takjub pada anak yang di luar pengamatannya sudah menjadi gadis jelita itu. Terpesona, karena waktu tak mau menunggu. Rasanya baru kemarin anak itu masih ngompol di sampingnya sehingga kasur berbau pesing. Tiba-tiba saja kini ia sudah menjadi perempuan yang punya banyak pertanyaan.

Sepasang matanya yang dulu sering belekan itu, sekarang bagai sorot lampu mobil pada malam gelap. Sinarnya begitu tajam. Sekelilingnya jadi ikut memantulkan cahaya. Namun jalan yang ada di depan hidungnya sendiri, yang sedang ia tempuh, nampak masih berkabut. Hidup memang sebuah rahasia besar yang tak hanya dialami dalam cerita di dalam pengalaman orang lain, karena harus ditempuh sendiri.

Kenapa kamu menanyakan itu, anakku?
Sebab aku ingin tahu.
Dan sesudah tahu?
Aku tak tahu.

Wajah gadis itu menjadi merah. Ibunya paham, karena ia pun pernah muda dan ingin menanyakan hal yang sama kepada ibunya, tetapi tidak berani. Waktu itu perasaan tidak pernah dibicarakan, apalagi yang menyangkut cinta. Kalaupun dicoba, jawaban yang muncul sering menyesatkan. Karena orang tua cenderung menyembunyikan rahasia kehidupan dari anak-anaknya yang dianggapnya belum cukup siap untuk mengalami. Kini segalanya sudah berubah. Anak-anak ingin tahu tak hanya yang harus mereka ketahui, tetapi semuanya. Termasuk yang dulu tabu. Mereka senang pada bahaya.
Setelah menarik napas, ibu itu mengusap kepala putrinya dan berbisik.

Jangan malu, anakku. Sebuah rahasia tak akan menguraikan dirinya, kalau kau sendiri tak penasaran untuk membukanya. Sebuah rahasia dimulai dengan rasa ingin tahu, meskipun sebenarnya kamu sudah tahu. Hanya karena kamu tidak pernah mengalami sendiri, pengetahuanmu hanya menjadi potret asing yang kamu baca dari buku. Banyak orang tua menyembunyikannya, karena pengetahuan yang tidak perlu akan membuat hidupmu berat dan mungkin sekali patah lalu berbelok sehingga kamu tidak akan pernah sampai ke tujuan. Tapi ibu tidak seperti itu. Ibu percaya zaman memberikan kamu kemampuan lain untuk menghadapi bahaya-bahaya yang juga sudah berbeda. Jadi ibu akan bercerita. Tetapi apa kamu siap menerima kebenaran walaupun itu tidak menyenangkan?
Maksud Ibu?
Lelaki sejati anakku, mungkin tidak seperti yang kamu bayangkan.
Kenapa tidak?

Sebab di dalam mimpi, kamu sudah dikacaukan oleh bermacam-macam harapan yang meluap dari berbagai kekecewaan terhadap laki-laki yang tak pernah memenuhi harapan perempuan. Di situ yang ada hanya perasaan keki.
Apakah itu salah?

Ibu tidak akan bicara tentang salah atau benar. Ibu hanya ingin kamu memisahkan antara perasaan dan pikiran. Antara harapan dan kenyataan.

Aku selalu memisahkan itu. Harapan adalah sesuatu yang kita inginkan terjadi yang seringkali bertentangan dengan apa yang kemudian ada di depan mata. Harapan menjadi ilusi, ia hanya bayang-bayang dari hati. Itu aku mengerti sekali. Tetapi apa salahnya bayang-bayang? Karena dengan bayang-bayang itulah kita tahu ada sinar matahari yang menyorot, sehingga berkat kegelapan, kita bisa melihat bagian-bagian yang diterangi cahaya, hal-hal yang nyata yang harus kita terima, meskipun itu bertentangan dengan harapan.
Ibunya tersenyum.
Jadi kamu masih ingat semua yang ibu katakan?
Kenapa tidak?
Berarti kamu sudah siap untuk melihat kenyataan?
Aku siap. Aku tak sabar lagi untuk mendengar. Tunjukkan padaku bagaimana laki-laki sejati itu.

Ibu memejamkan matanya. Ia seakan-akan mengumpulkan seluruh unsur yang berserakan di mana-mana, untuk membangun sebuah sosok yang jelas dan nyata.

Laki-laki yang sejati, anakku katanya kemudian, adalah… tetapi ia tak melanjutkan.
Adalah?
Adalah seorang laki-laki yang sejati.
Ah, Ibu jangan ngeledek begitu, aku serius, aku tak sabar.

Bagus, Ibu hanya berusaha agar kamu benar-benar mendengar setiap kata yang akan ibu sampaikan. Jadi perhatikan dengan sungguh-sungguh dan jangan memotong, karena laki-laki sejati tak bisa diucapkan hanya dengan satu kalimat. Laki-laki sejati anakku, lanjut ibu sambil memandang ke depan, seakan-akan ia melihat laki-laki sejati itu sedang melangkah di udara menghampiri penjelmaannya dalam kata-kata.
Laki-laki sejati adalah…
Laki-laki yang perkasa?!

Salah! Kan barusan Ibu bilang, jangan menyela! Laki-laki disebut laki-laki sejati, bukan hanya karena dia perkasa! Tembok beton juga perkasa, tetapi bukan laki-laki sejati hanya karena dia tidak tembus oleh peluru tidak goyah oleh gempa tidak tembus oleh garukan tsunami, tetapi dia harus lentur dan berjiwa. Tumbuh, berkembang bahkan berubah, seperti juga kamu.
O ya?

Bukan karena ampuh, bukan juga karena tampan laki-laki menjadi sejati. Seorang lelaki tidak menjadi laki-laki sejati hanya karena tubuhnya tahan banting, karena bentuknya indah dan proporsinya ideal. Seorang laki-laki tidak dengan sendirinya menjadi laki-laki sejati karena dia hebat, unggul, selalu menjadi pemenang, berani dan rela berkorban. Seorang laki-laki belum menjadi laki-laki sejati hanya karena dia kaya-raya, baik, bijaksana, pintar bicara, beriman, menarik, rajin sembahyang, ramah, tidak sombong, tidak suka memfitnah, rendah hati, penuh pengertian, berwibawa, jago bercinta, pintar mengalah, penuh dengan toleransi, selalu menghargai orang lain, punya kedudukan, tinggi pangkat atau punya karisma serta banyak akal. Seorang laki-laki tidak menjadi laki-laki sejati hanya karena dia berjasa, berguna, bermanfaat, jujur, lihai, pintar atau jenius. Seorang laki-laki meskipun dia seorang idola yang kamu kagumi, seorang pemimpin, seorang pahlawan, seorang perintis, pemberontak dan pembaru, bahkan seorang yang arif-bijaksana, tidak membuat dia otomatis menjadi laki-laki sejati!
Kalau begitu apa dong?

Seorang laki-laki sejati adalah seorang yang melihat yang pantas dilihat, mendengar yang pantas didengar, merasa yang pantas dirasa, berpikir yang pantas dipikir, membaca yang pantas dibaca, dan berbuat yang pantas dibuat, karena itu dia berpikir yang pantas dipikir, berkelakuan yang pantas dilakukan dan hidup yang sepantasnya dijadikan kehidupan.
Perempuan muda itu tercengang.
Hanya itu?
Seorang laki-laki sejati adalah seorang laki-laki yang satu kata dengan perbuatan!
Orang yang konsekuen?
Lebih dari itu!
Seorang yang bisa dipercaya?
Semuanya!
Perempuan muda itu terpesona.

Apa yang lebih dari yang satu kata dan perbuatan? Tulus dan semuanya? Ahhhhh! Perempuan muda itu memejamkan matanya, seakan-akan mencoba membayangkan seluruh sifat itu mengkristal menjadi sosok manusia dan kemudian memeluknya. Ia menikmati lamunannya sampai tak sanggup melanjutkan lagi ngomong. Dari mulutnya terdengar erangan kecil, kagum, memuja dan rindu. Ia mengalami orgasme batin.

Ahhhhhhh, gumannya terus seperti mendapat tusukan nikmat. Aku jatuh cinta kepadanya dalam penggambaran yang pertama. Aku ingin berjumpa dengan laki-laki seperti itu. Katakan di mana aku bisa menjumpai laki-laki sejati seperti itu, Ibu?

Ibu tidak menjawab. Dia hanya memandang anak gadisnya seperti kasihan. Perempuan muda itu jadi bertambah penasaran.
Di mana aku bisa berkenalan dengan dia?
Untuk apa?

Karena aku akan berkata terus-terang, bahwa aku mencintainya. Aku tidak akan malu-malu untuk menyatakan, aku ingin dia menjadi pacarku, mempelaiku, menjadi bapak dari anak-anakku, cucu-cucu Ibu. Biar dia menjadi teman hidupku, menjadi tongkatku kalau nanti aku sudah tua. Menjadi orang yang akan memijit kakiku kalau semutan, menjadi orang yang membesarkan hatiku kalau sedang remuk dan ciut. Membangunkan aku pagi-pagi kalau aku malas dan tak mampu lagi bergerak. Aku akan meminangnya untuk menjadi suamiku, ya aku tak akan ragu-ragu untuk merayunya menjadi menantu Ibu, penerus generasi kita, kenapa tidak, aku akan merebutnya, aku akan berjuang untuk memilikinya.
Dada perempuan muda itu turun naik.

Apa salahnya sekarang wanita memilih laki-laki untuk jadi suami, setelah selama berabad-abad kami perempuan hanya menjadi orang yang menunggu giliran dipilih?
Perempuan muda itu membuka matanya. Bola mata itu berkilat-kilat. Ia memegang tangan ibunya.
Katakan cepat Ibu, di mana aku bisa menjumpai laki-laki itu?
Bunda menarik nafas panjang. Gadis itu terkejut.
Kenapa Ibu menghela nafas sepanjang itu?
Karena kamu menanyakan sesuatu yang sudah tidak mungkin, sayang.
Apa? Tidak mungkin?
Ya.
Kenapa?
Karena laki-laki sejati seperti itu sudah tidak ada lagi di atas dunia.
Oh, perempuan muda itu terkejut.
Sudah tidak ada lagi?
Sudah habis.
Ya Tuhan, habis? Kenapa?
Laki-laki sejati seperti itu semuanya sudah amblas, sejak ayahmu meninggal dunia.
Perempuan muda itu menutup mulutnya yang terpekik karena kecewa.
Sudah amblas?

Ya. Sekarang yang ada hanya laki-laki yang tak bisa lagi dipegang mulutnya. Semuanya hanya pembual. Aktor-aktor kelas tiga. Cap tempe semua. Banyak laki-laki yang kuat, pintar, kaya, punya kekuasaan dan bisa berbuat apa saja, tapi semuanya tidak bisa dipercaya. Tidak ada lagi laki-laki sejati anakku. Mereka tukang kawin, tukang ngibul, semuanya bakul jamu, tidak mau mengurus anak, apalagi mencuci celana dalammu, mereka buas dan jadi macan kalau sudah dapat apa yang diinginkan. Kalau kamu sudah tua dan tidak rajin lagi meladeni, mereka tidak segan-segan menyiksa menggebuki kaum perempuan yang pernah menjadi ibunya. Tidak ada lagi laki-laki sejati lagi, anakku. Jadi kalau kamu masih merindukan laki-laki sejati, kamu akan menjadi perawan tua. Lebih baik hentikan mimpi yang tak berguna itu.
Gadis itu termenung. Mukanya nampak sangat murung.
Jadi tak ada harapan lagi, gumamnya dengan suara tercekik putus asa. Tak ada harapan lagi. Kalau begitu aku patah hati.
Patah hati?
Ya. Aku putus asa.
Kenapa mesti putus asa?
Karena apa gunanya lagi aku hidup, kalau tidak ada laki-laki sejati?
Ibunya kembali mengusap kepala anak perempuan itu, lalu tersenyum.

Kamu terlalu muda, terlalu banyak membaca buku dan duduk di belakang meja. Tutup buku itu sekarang dan berdiri dari kursi yang sudah memenjarakan kamu itu. Keluar, hirup udara segar, pandang lagit biru dan daun-daun hijau. Ada bunga bakung putih sedang mekar beramai-ramai di pagar, dunia tidak seburuk seperti yang kamu bayangkan di dalam kamarmu. Hidup tidak sekotor yang diceritakan oleh buku-buku dalam perpustakaanmu meskipun memang tidak seindah mimpi-mimpimu. Keluarlah anakku, cari seseorang di sana, lalu tegur dan bicara! Jangan ngumpet di sini!
Aku tidak ngumpet!
Jangan lari!
Siapa yang lari?
Mengurung diri itu lari atau ngumpet. Ayo keluar!
Keluar ke mana?
Ke jalan! Ibu menunjuk ke arah pintu yang terbuka. Bergaul dengan masyarakat banyak.
Gadis itu termangu.
Untuk apa? Dalam rumah kan lebih nyaman?
Kalau begitu kamu mau jadi kodok kuper!
Tapi aku kan banyak membaca? Aku hapal di luar kepala sajak-sajak Kahlil Gibran!

Tidak cukup! Kamu harus pasang omong dengan mereka, berdialog akan membuat hatimu terbuka, matamu melihat lebih banyak dan mengerti pada kelebihan-kelebihan orang lain.
Perempuan muda itu menggeleng.
Tidak ada gunanya, karena mereka bukan laki-laki sejati.
Makanya keluar. Keluar sekarang juga!
Keluar?
Ya.

Perempuan muda itu tercengang, suara ibunya menjadi keras dan memerintah. Ia terpaksa meletakkan buku, membuka earphone yang sejak tadi menyemprotkan musik R & B ke dalam kedua telinganya, lalu keluar kamar.

Matahari sore terhalang oleh awan tipis yang berasal dari polusi udara. Tetapi itu justru menolong matahari tropis yang garang itu untuk menjadi bola api yang indah. Dalam bulatan yang hampir sempurna, merahnya menyala namun lembut menggelincir ke kaki langit. Silhuet seekor burung elang nampak jauh tinggi melayang-layang mengincer sasaran. Wajah perempuan muda itu tetap kosong.
Aku tidak memerlukan matahari, aku memerlukan seorang laki-laki sejati, bisiknya.
Makanya keluar dari rumah dan lihat ke jalanan!
Untuk apa?

Banyak laki-laki di jalanan. Tangkap salah satu. Ambil yang mana saja, sembarangan dengan mata terpejam juga tidak apa-apa. Tak peduli siapa namanya, bagaimana tampangnya, apa pendidikannya, bagaimana otaknya dan tak peduli seperti apa perasaannya. Gaet sembarang laki-laki yang mana saja yang tergapai oleh tanganmu dan jadikan ia teman hidupmu!

Perempuan muda itu tecengang. Hampir saja ia mau memprotes. Tapi ibunya keburu memotong. Asal, lanjut ibunya dengan suara lirih namun tegas, asal, ini yang terpenting anakku, asal dia benar-benar mencintaimu dan kamu sendiri juga sungguh-sungguh mencintainya. Karena cinta, anakku, karena cinta dapat mengubah segala-galanya.
Perempuan muda itu tercengang.

Dan lebih dari itu, lanjut ibu sebelum anaknya sempat membantah, lebih dari itu anakku, katanya dengan suara yang lebih lembut lagi namun semakin tegas, karena seorang perempuan, anakku, siapa pun dia, dari mana pun dia, bagaimana pun dia, setiap perempuan, setiap perempuan anakku, dapat membuat seorang lelaki, siapa pun dia, bagaimana pun dia, apa pun pekerjaannya bahkan bagaimana pun kalibernya, seorang perempuan dapat membuat setiap lelaki menjadi seorang laki-laki yang sejati! ***

Denpasar, akhir 2004

Baca juga Cerpen Cinta yang lainnya.

Cahaya Bulan (Cerpen Cinta)

CAHAYA BULAN
Cerpen Guy de Maupassant

Madame Julie Roubere tengah menanti kedatangan kakak perempuannya, Madame Henriette Letore, yang baru saja kembali dari perjalanan ke Negeri Swiss.

Seluruh keluarga Lotere melancong semenjak lima minggu lalu. Madame Henriette mengizinkan suaminya pulang sendirian ke kampung halamannya di Calvados, karena ada beberapa urusan bisnis yang harus diselesaikan, dan menghabiskan beberapa malam di Paris bersama kakaknya. Malam berlalu. Dalam keheningan yang senyap, Madame Roubere asyik membaca dengan pikiran kosong, sesekali menaikkan alis matanya setiap kali mendengar suara.

Akhirnya, pintu rumahnya diketuk, dan kakaknya muncul dalam balutan jaket tebal. Dan tanpa salam formal, mereka berpelukan penuh kasih dalam waktu yang cukup lama, melepaskan pelukan sebentar lalu saling memeluk lagi. Kemudian, mereka saling menanyakan kabar, keluarga dan ribuan hal lain, menggosip dan saling menyela, sementara Madame Henriette sibuk melepas jaket dan topinya.

Malam cukup gelap. Madame Roubere menyalakan lampu kecil, dan tak lama kemudian, dia acungkan lampu itu ke atas untuk menatap wajah kakaknya, lalu memeluknya sekali lagi. Namun, betapa terkejutnya dia saat menatap wajah kakak tercintanya itu. Dia mundur dan tampak ketakutan.

Di kepala Madame Letore tampak dua gepok besar rambut putih. Sisanya, rambut itu tampak hitam pekat berkilauan dan di setiap sisi kepalanya terdapat dua sisiran keperakan yang menyusur ke tengah gumpalan rambut hitam yang mengitarinya. Dia baru berumur 24 tahun, dan tentu saja perubahan ini benar-benar mengejutkan dia semenjak kepergiannya ke Swiss.

Tanpa bergerak sedikit pun, Madame Roubere menatap penuh keheranan, titik-titik air mata menetes ke kedua pipinya. Pikirannya berkecamuk, bencana apa yang telah terjadi pada kakaknya.

Dia bertanya, "Apa yang terjadi padamu, Henriette?"
Dengan menyunggingkan senyuman di wajahnya yang sedih, senyum seseorang yang patah hati, Henriette menjawab, "Tidak ada apa-apa. Sumpah. Apakah kamu sedang memperhatikan rambut putihku ini?"

Tetapi Madame Roubere keburu merampas pundaknya, menatapnya tajam, dan mengulangi pertanyaannya lagi.
"Apa yang terjadi padamu? Ayo katakan, apa yang telah terjadi. Dan jika kamu berbohong, aku pasti akan mengetahuinya."

Mereka masih saling pandang, dan Madame Henriette, yang terlihat seolah-olah hendak pingsan, meneteskan air mata dari kedua sudut matanya.
Adiknya bertanya lagi, "Apa yang terjadi padamu? Apa yang terjadi? Ayo jawab aku!"

Dengan suara patah-patah sambil tersedu, Henriette menjawab, "Aku … aku punya seorang kekasih."
Ketika sedikit lebih tenang, ketika degup jantungnya yang keras mulai mereda, dia memasrahkan kepalanya ke dada adiknya seolah-olah hendak melepaskan semua beban hatinya, untuk menguras seluruh derita yang telah menyesakkan dadanya.

Dengan tangan saling bergenggaman, dua kakak beradik ini berjalan menuju sofa di sudut ruangan yang gelap. Mereka tenggelam dalam keharuan, sang adik memeluk kakaknya erat-erat untuk mendekatkan diri, lalu mendengarkan.
"Oh! Aku tahu kalimatku ini tidak masuk akal; aku bahkan tidak dapat memahami diriku sendiri, dan semenjak itu aku merasa telah menjadi orang gila. Berhati-hatilah, adikku, berhati-hatilah dengan dirimu sendiri! Jika saja kamu tahu betapa lemahnya kita, betapa cepatnya kita menyerah dan jatuh. Cukup satu momen kelembutan saja, satu masa melankolis yang menerpamu di antara ribuan kerinduan untuk membuka tanganmu, untuk mencintai, menyukai sesuatu, maka kamu pun akan dengan mudah jatuh.

Kamu mengenal suamiku, dan kamu tahu betapa aku mencintainya; tetapi dia pria yang matang dan rasional, dan tak mampu memahami getaran lembut hati seorang wanita. Dia selalu sama, selalu baik, selalu tersenyum, selalu ramah, selalu sempurna. Oh! Betapa kadang-kadang aku berharap agar dia memelukku dalam kedua tangannya lalu memberiku ciuman lembut yang manis dan pelan-pelan. Betapa aku berharap agar dia menjadi pria yang bodoh, bahkan lemah, sehingga dia merasa membutuhkanku, membutuhkan belaianku dan air mataku.

Semua ini kelihatannya culun; tetapi kita, para wanita, memang ditakdirkan seperti itu. Apa daya kita? Tapi, tidak pernah terpikir olehku untuk meninggalkan suamiku. Sekarang terjadi, tanpa cinta, tanpa alasan, tanpa apa pun, hanya karena bulan telah menyinariku suatu malam di pinggir Danau Lucerne itu.

Selama satu bulan itu, ketika kami melakukan perjalanan bersama, suamiku, dengan sikapnya yang masih acuh tak acuh, telah melumpuhkan semangatku, memadamkan rasa puitisku. Ketika kami menuruni jalan-jalan di pegunungan saat matahari terbit, ketika dua ekor kuda saling bersenda-gurau, dalam keremangan kabut, kami memandang lembah, hutan, sungai dan pedesaan, aku bertepuk tangan keras-keras dan berkata kepadanya: ’Betapa indahnya, wahai suamiku! Beri aku ciuman! Cium aku!’ Dia hanya menjawab, dengan senyum dinginnya: ’Tidak ada alasan bagi kita untuk saling berciuman hanya karena kamu menyukai pemandangan ini.’

Dan kalimatnya itu telah membekukan hatiku. Menurutku, ketika dua orang saling mencintai, mereka harusnya semakin tersentuh oleh pemandangan-pemandangan yang indah. Aku membeku bersama puisi hatiku. Aku seperti tungku yang tersiram atau botol yang tersegel rapat.

Suatu malam (kami menginap empat malam di sebuah hotel di Fluelen), karena sakit kepala, Robert langsung tidur setelah makan malam, dan aku berjalan sendirian menyusuri jalan di pinggir danau itu.

Malam itu berlalu seperti dongeng-dongeng sebelum tidur. Bulan purnama mendadak muncul di atas langit; pegunungan tinggi, dengan semburat putih salju, seperti mengenakan mahkota warna perak; air danau gemericik dengan riak-riak kecil yang berkilauan. Udara begitu lembut, dengan kehangatan yang merasukiku sampai seperti mau pingsan. Aku begitu kepayang tanpa sebab apa pun. Tetapi, betapa peka, betapa bergolaknya hati saat itu! Jantungku berdegup keras dan emosiku semakin kuat.

Aku duduk di atas rumput, menatap danau yang luas, melankolis dan menakjubkan itu, seolah-olah ada perasaan aneh merasukiku; aku terangkum dalam rasa haus akan cinta yang tak terlegakan, sebuah pemberontakan terhadap kebodohanku sepanjang hidupku. Apa! Tidakkah menjadi takdir bagiku untuk dapat berjalan dengan seorang pria yang kucintai, dengan tangan saling berpelukan dan mulut saling berciuman, di pinggir danau seperti ini? Tidak bolehkah bibirku mengecap dalamnya ciuman yang lezat dan memabukkan di malam yang telah diciptakan Tuhan untuk dinikmati? Apakah ini nasibku untuk tidak meresapi indahnya cinta dalam bayang-bayang cahaya bulan di malam musim panas ini?

Lalu tangisku meledak seperti wanita gila. Kudengar sesuatu bergerak di belakangku. Dan seorang pria berdiri di sana, menatapku tajam. Ketika kupalingkan kepalaku, dia mengenaliku dan berkata, ’Kamu menangis, nyonya?’

Dialah pemuda yang tengah melancong bersama ibunya, dan kami sering bertemu. Matanya seringkali menguntitku. Aku begitu bingung dan tidak tahu harus menjawab apa. Kujawab saja bahwa aku sedang sakit.

Dia berjalan di dekatku dengan cara yang santun dan lembut, lalu mulai berbicara kepadaku tentang perjalanan kami. Segala yang kurasakan telah dia terjemahkan ke dalam kata-kata. Segala hal yang membuatku bergairah dapat dia pahami dengan sempurna, lebih baik dari diriku sendiri. Dan tiba-tiba dia mengutip larik-larik puisi Alfred de Musset. Tenggorokanku tersekat, aku terpesona dengan emosi yang meluap-luap. Terlihat di sekelilingku, pegunungan, danau dan cahaya bulan tengah bernyanyi untukku.

Lalu terjadilah. Entahlah. Aku tak tahu kenapa, semacam sebuah halusinasi.

Aku tidak bertemu lagi dengannya, sampai suatu pagi dia harus melanjutkan perjalanannya lagi. Dia memberiku sebuah kartu!"

Lalu, sambil jatuh ke dalam pelukan adik perempuannya itu, Madame Lotere menangis sesenggukan, nyaris seperti anak kecil. Madame Roubere, dengan wajah serius, berkata dengan lembut, "Dengarlah, kakakku, seringkali bukanlah seorang pria yang sesungguhnya kita cintai, tetapi cinta itu sendiri. Dan cahaya bulanlah yang menjadi kekasih sejatimu malam itu." ***

Catatan: Judul asli Moonlight karya Guy de Maupassant. Cerpen ini diterjemahkan oleh Ribut Wahyudi, penulis dan pengelola penerbitan di Jogja. Guy de Maupassant adalah cerpenis kelahiran Chateau de Miromesniel, Dieppe pada 5 Agustus 1850. Selama hidupnya, dia telah menulis lebih dari 300 cerita pendek, enam novel, tiga buku perjalanan, dan sebuah kumpulan puisi. Maupassant sudah menderita sifilis semenjak usia 20 tahun. Pada 2 Januari 1892, dia berusaha bunuh diri dengan menusuk tenggorokannya sendiri. Dia meninggal pada 6 Juli 1893.

Baca juga Cerpen Cinta yang lainnya.

Cerpen Romantis Sedih - IstanaMu Hanya Untuknya

ISTANA-MU HANYA UNTUKNYA
Cerpen Dea Ayuningtyas

Tetes demi tetes masih tersisa dari hujan sore itu. Hiruk pikuk para pekerja kantoran dan beberapa anak berseragam putih abu-abu terdengar sayup-sayup dari kejauhan dibawah sebuah halte bus yang menyelamatkan mereka dari tetes-tetes menyejukkan dan cipratan lumpur di sekitar tempat itu. Aku berlari menuju sebuah halte bus  untuk menyelamatkan diri dari tetesan itu seperti orang-orang kebanyakan, dan berdiri sejajar dengan mereka. Tepat pukul 16.00 bus Kopaja berhenti di hadapanku, bus yang penuh sesak itu tetap memaksaku untuk tetap ku masuki. Saat ku coba memegang salah satu tiang dari bus untuk membantuku naik, aku terjatuh karena secara tiba-tiba bus itu menyalakan mesinnya dan melaju. “arrghh sial”. Saat ku paksa diriku untuk bangkit, hampir saja aku terhuyung jatuh karena kakiku terlalu sakit untuk menyangga tubuhku.

Ada genggaman lembut yang datang untukku, aku terkejut. Kulihatnya pria tampan berperawakan tinggi berkacamata itu. Pria itu menatapku, dan genggaman itu semakin erat kurasakan. Wangi tubuhnya, sorot matanya, membuatku mati kaku dengan perlakuan lembutnya. “kamu nggak kenapa-napa kan?”. Dia memulai percakapan itu dengan nada khawatir yang sangat kentara. “hmmm nggak kenapa-napa kok, cuman lecet sedikit”. “biar aku bantu, hati-hati ya, mending kamu duduk dulu aja”. Kemudian dia memapahku bangun dan membantuku untuk duduk di salah satu bangku halte. “tunggu disini ya, jangan pergi sebelum aku kembali”. Pria itu berlalu menjauhiku. Kurasa  kakiku sudah tidak terasa sakit. Setengah jam berlalu, aku tetap menanti sosok itu muncul dari kejauhan, aku mulai bosan. Bus pun tak kunjung datang. Hujan lebat kembali membasahi tanah ini, suara gemercik hujan menemani kesendirianku.

Tak begitu jauh dari tempatku duduk, ku lihat sebuah tas hitam bodypack tak bertuan. Aku mencoba untuk meraihnya, dan tas itupun jatuh memuntahkan apa yang ada didalamnya, aku bingung dan heran, namun tak tahu harus bertanya kepada siapa, karena hanya diriku dan percikan air hujan ini yang menemani. Sesaat kemudian, ku putuskan untuk mengambil satu persatu isi dari tas tersebut. Ku lihat ada beberapa buku-buku kosong serta foto-foto yang berserakan, sosok itu, aku mengenalnya, bahkan sangat kupahami.

Ada foto diriku terpampang jelas di foto-foto itu, sangat jelas. Dilihat dari latar yang ada, foto ini diambil saat aku sedang menanti bus, disini, di tempat ini. Hanya sosok diriku dalam foto-foto itu. siapa pemilik tas ini? Apakah aku mengenalnya? Kemudian, aku segera mencari identitas dari pemilik tas ini. Kenapa semua isinya hanya ada fotoku? Dan beberapa buku kosong tak bernama? Tanpa pikir panjang aku membawa tas itu dan berlari mengejar sebuah taksi yang melaju melewati halte. Aku harus tau siapa pemilik tas ini. Hanya pikiran itu yang memenuhi otakku saat ini. Aku tak bisa berlama-lama menanti sosok pria tadi dengan kebingunganku dengan tas yang ku bawa ini.

Aku menatap jendela kamarku yang terbuka, semilir angin malam masuk melalui cela itu, dingin yang begitu terasa memaksaku untuk segera menutup jendela kamarku. Pikiranku langsung tertuju pada kejadian sore tadi, sontak aku langsung meraih tas yang kutemukan tidak jauh dari halte. Aku membuka lembar demi lembar kertas di salah satu buku, berharap menemukan titik terang. Apa maksud dari semua ini? Sejauh ini aku masih berusaha untuk mengetahuinya. Aku terkesima, lembar terakhir dalam buku ini adalah sebuah puisi yang ditujukan untuk diriku. Aku membacanya dengan hati yang tak bisa ku ungkapkan.

Ganesya
Aku adalah pecundang
Melihatmu hanya mampu ku menjauh
Kau bukan yang ku tahu
Namun kau adalah yang ku tuju
Hati ini sakit melihatmu
Karena tak berani ku mencintaimu
Ganesya Putri Pratami,
Aku, sungguh mencintaimu
M.S

Ganesya, itu namaku! Siapa orang ini? Tuhan. Aku semakin tak mengerti..
Hari demi hari, aku selalu menanti kedatangan sosok itu, dia yang menolongku di tempat ini, sebuah halte kusam dekat sekolahku. Panas yang menghiasi beberapa hari ini tak mengurungkan niatku untuk menanti sosok berkacamata tiu. Setiap kali aku beranjak untuk pulang, sesak rasanya hati ini. Belum juga kutemukan titik terang dari sebuah rahasia tak kentara. Hingga hari ke-16 aku tetap menanti. Seperti biasa, aku duduk termenung menanti bus Kopaja di halte mungil sore itu. hujan kembali menemaniku dengan suara cerianya yang memecak kesunyian hatiku. Aku galau, melamun seperti patung kematian.

Beberapa kali aku mencoba menempati tetesan air hujan kedalam genggamanku. Hanya sekedar menghibur diri. Di saat itu pula, mata ini kupaksakan untuk melihat sosok di antara banyaknya kendaraan yang lalu lalang di seberang jalan. Ya! Aku mengenalnya. Namun ia terlihat begitu berbeda dengan baju putih dan celana abu-abu yang ia kenakan. Sorot mata yang tajam namun lembut itu tertuju padaku. Kurasakan bibir ini tersenyum lebar dengan sendirinya, hati ini semakin tak menentu. Inilah akhir dari penantian dari semua rasa penasaranku. Kulambaikan tanganku kepadanya, dia ia membalas dengan senyum khasnya. “hay kamu! Kemarilah, aku belum tahu siapa kamu?”. Aku berteriak memanggilnya dari seberang jalan. Ku liat dia mengganggukan kepalanya tanda mengerti.

Saat ia melangkah, sebuah mobil Everest melaju tanpa henti menghantam dirinya, tubuh itu jatuh tak terkira dibawah tetesan hujan dan teriakkan beberapa orang yang melihatnya. Wajah ini pucat pasi tak berkutik, entah shock atau terkejut. ku hampiri tubuh itu dengan langkah seakan terseok-seok. Beberapa orang terlihat mengerubungi tubuh itu. aku melihatnya, sosok yang ku cari selama ini, kini aku melihatnya lebih jelas dengan tubuh yang terbujur kaku dengan tetesan air hujan yang menyambut kepergiannya.  Satu langkah itu telah mengantarnya ke sisi Tuhan. Aku memeluk erat tubuh itu, ku kecup keningnya tanpa sadar dengan apa yang sedang aku lakukan. Sebuah panggilan hati. Kupaksakan diriku untuk tidak menangis, agar dia tenang dialam yang berbeda. Aku harap dia tersenyum melihatku disana.

Tuhan, mengapa disaat aku mulai mencintainya kau pertenukan aku dengan cara yang seperti ini?. Aku menangis dalam hati. Aku mencintai seseorang yang namanya pun aku tak tahu. Oh Tuhan! Aku teringat sesuatu, mataku mencari identitas dari orang ini, dia yang aku cintai. Pada badge namanya tertulis jelas “Mahardika Syahreza” yang tak tertutup oleh lumuran darah yang menutupi sebagian baju putihnya. Aku tersenyum lemah, kini aku telah mengerti sebuah nama itu, setelah ia meninggalkanku.

Beberapa hari setelah kepergian Dika, aku masih merasa sepi. Aku menangis. Ku coba mengusir kesedihan ini dengan menulis. Iya, mungkin diaryku bisa sedikit membantu. Buku Diary yang biasa ku taruh dibawah bantal tak kutemukan adanya. Aku terus mencari di beberapa tumpukkan buku pelajaran sekolah milikku. Satu buku terjatuh menimpa kakiku dan segera ku ambil. Di pertengahan buku itu aku menemukan sebuah puisi yang langsung kubaca,

Sedih bukan ciri dirimu,
Termenung tak pernah kutemukan darimu
Ketika aku telah pergi,
Bukan tangis yang ingin ku lihat
Tetapi senyum hangatmu
Yang selalu melengkapiku
Maaf,
Aku memang harus pergi
Ganesya,
Kau selalu memberiku keabadian
Jika kau merelakanku pergi,
Namun ingatlah,
Cinta ini tetap ada
Meski di alam yang berbeda.
M.S

M.S? Apa mungkin penulis ini adalah kau yang kusayang? Mahardika Syahreza!. Apa kau yang selama ini selalu melihatku dari kejauhan? Apakah kau yang mengirimkan puisi-puisi untukku? Benarkah kau pemilik tas ini? Tuhan, jika benar dia. Titipkan kasih sayang ini kedalam surga cinta-Mu yang abadi. Jaga dia, lindungi dia sampai saat nanti kan kususul dia ke dalam istana-Mu Tuhan.

Baca juga Cerpen Romantis dan Cerpen Sedih yang lainnya.