Jumat, 02 Maret 2012

Jebakan Cinta - Cerpen Cinta Terbaru

JEBAKAN CINTA
Cerpen Erna Gusnita

Ngomongin cinta memang tidak akan pernah habisnya. Cuma mungkin ada yang membedakan sebarapa besar cinta itu kepada seseorang. Cinta membuat orang-orang lebih nekat, lebih gila, bahkan ada juga lebih baik. Ada yang terpuruk karna ditinggal cinta. Ada juga yang biasa-biasa aja bahkan mempermainkan cinta. Semua bisa aja terjadi karna cinta. Cinta memang membuat kita seperti orang gila. Tapi sebenarnya itu normal sebab jika tidak pernah jatuh cinta berarti orang itu tidak normal. Cinta sudah mengalir didalam diri kita saat kita terlahir kedunia ini.Cinta tidak bisa dipaksakan dan tidak bisa direkayasa oleh seseorang. Siapapun orangnya, mau pejabat, tukang kebun dan sebagainya. Dizaman sekarang ini jarang wanita atau lelaki yang memperjuangkan cinta mereka. Cinta bisa saja dibeli dengan uang. Mereka berpikir dengan uang cinta akan tumbuh sendirinya. Hidup membutuhkan uang bukan cinta. Tapi ada pendapat lain, mungkin ini sepuluh dari seribu wanita atau lelaki yang berpendapat seperti ini. Mereka bisa menerima pasangannya apa adanya tanpa memikirkan harta, jabatan. Mereka menjalani semua ini dengan cinta. Dengan cinta mereka bisa membangun rumah tangga yang utuh dan karna cinta mereka lakukan apapun untuk pasangan mereka masing-masing. Dengan cinta mereka bisa mencari uang. Senang-susah mereka lewatkan bersama. Sungguh luar biasa, ntah mana yang benar kita tidak bisa memberi jawaban. Mungkin hanya hati nurani kita yang bisa menjawab semua ini.Dan tergantung kepada masing-masing kepribadian orang itu sendiri.
   
Ditaman kampus ada seorang cewek yang sedang nungguin seseorang, ntah siapa orang yang ditunggu. Cewek ini biasa saja, tidak cantik. Tak lama menunggu akhirnya seorang cowok datang. Cowok ini lumayan keren, sepertinya tidak kuper. Cowok itu namanya Dean. Sesampai disana ia lansung membuka suara
“ Maaf telat, tadi lagi belajar baru aja keluar”
“ gak pa-pa, ada apa sih?
“ Sebenarnya kamu tinggal sama siapa sih??
“ Mang kenapa? Ada yang aneh”
“ Nggak ada, pengen dekat aja, tuh mamamu apa nggak sih?
“ Sebenarnya itu mama angkatku, aku diambil dipanti asuhan”
“ Jadi apa yang dibilang anak-anak tu benar., jadi selama ini loe bohong ma gue”
“ Gue nggak pernah niat untuk bohong, dia memang mama angkatku pi ku udah menganggapnya seperti mamaku sendiri, dari kecil beliau menyengolahkan aku sampai aku kuliah begini”
“ Tapi setidaknya kamu jujur dong dari dulu”
“ Apa perlu gue jujur tentang itu, apa salah ku menganggap mama adalah mamaku”
“ Nggak taulah, susah ngomong sama kamu, lebih baik kita putus aja ya”
“ Ya udah low memang itu yang lebih baik untuk kita”

Cewek yang bernama Vita lansung pergi dari tempat duduknya. Ia lansung pulang kerumahnya. Antara kampus dan rumahnya berjarak 5 km. Karna jalan macet, jadi 45 menit kemudian baru sampai dirumah. Sesampai dirumah ia lansung masuk kekamar, ia banting pintu kamar. Mamanya yang melihat kejadian itu lansung menghampiri anaknya. Ia mendapati anaknya sedang menangis dikasur. Ia mendekati anaknya dengan perlahan, dan bertanya:
“ Ada apa nak?”
“ Ma apakah salah low aku tu anak angkat mama”
“ Nggak ada yang salah, memangnya ada apa?”
“ Dean tau low aku bukan anak mama, dia marah-marah dan minta putus”
“ Emang tau darimana dia?”
“ Nggak tau darimana ia tau, pi apakah aku salah low nggak bilang masalah itu, aku dah menganggap mama sebagai mama kandungku sendiri”
“ Kamu nggak salah, mama juga nggak pernah bilang keteman-teman mama kamu anak angkat mama, mungkin dia tidak tulus mencintaimu”

Tiba-tiba
“ Dia kenapa ma? Tanya Rendy kakaknya datang
“ Ini masa gara-gara tau Vita anak angkat lansung diputusin sama Dean” Jawab mamanya
“ Berarti dia tidak tulus mencintaimu, selama pacaran ma kamu dia pernah minta- minta bantu berupa uang”
“ Ada, mang kenapa?”
“ Berarti dia cuma mengharapkan hartamu aja, low besok dia baikan ma kamu coba kamu uji dia”
“ Kakakmu benar tu”

Tak lama kemudian Reni anak kedua dari Subroto masuk kekamarnya. Reni tua tiga tahun dari Rendy. Rendy tua satu tahun dari Vita. Anak pertama dari pasangan Subroto dengan Pratiwi subroto bernama Rendra. Sekarang sudah menjadi guru disalah satu sekolah di Batam. Dulu ia kuliah di UNP jurusan Matematika pendidikan. Ia baru berumur 27 Tahun. Anak kedua yang bernama Reni menjadi dokter di Rumah Sakit Embung Fatimah. Sudah 2 Tahun ia dinas.Kuliah di UNIBA. Sedangkan anak ketiga pasangan ini masih kuliah semester akhir Jurusan kedokteran di UI. Anak terakhir mereka angkat waktu berumur 4 Tahun. Dia adalah Vita. Sekarang masih kuliah semester enam di UNRIKA. Subroto dan istrinya tak pernah pilh kasih pada anak-anaknya. Begitu juga anak-anak Subroto. Vita mereka sayangi seperti adik kandungnya sendiri. Apapun keinginan Vita pasti mereka kabulin. Waktu kecil dulu Rendy rela ngasih sandalnya karna sandal Vita putus waktu main-main dikampung mamanya. Padahal aspal sangat panas sekali. Reni juga begitu, ia selalu membawakan makanan kesukaan adeknya kalau dia lagi pergi kemana-mana. Rendra juga begitu, kalau main sama dia, pasti Vita selalu dia gendong. Ia rela kena hujan asalkan adeknya Vita tidak kena air hujan. Begitu sayangnya mereka pada Vita. Begitu juga Vita, Jika kakak-kakaknya lagi pada keluar kota pasti ia kebingungan mau ngapain. Begitu dekatnya mereka.

Diruang tamu Alfi sedang duduk sambil menonton TV. Alfi anak bungsu dari keluarga Siswanto. Siswanto seorang pengusaha. Dimana-mana ada hotelnya dan 10 restauran. Baik diluar dan di dalam Batam. Siswanto punya 2 anak. Dua-duanya laki-laki. Anak pertama mengurus hotelnya di Jogja. Jadi sekarang tinggal Alfi dan pembantunya dirumah.Papa dan mamanya sedang keluar kota. Alfi benar-benar sedang prustasi tampaknya. Gimana tidak, pacar yang ia sayangi, yang ia rawat meninggalkannya. Dari kuliah sampai bekerja dibiayain sama Alfi. Tapi ceweknya rela meninggalkannya demi cowok lain. Memang cowok itu sekarang pekerjaannya sudah mantap dari Alfi. Alfi waktu itu masih guru honor. Baru setahun ia jadi PNS. Ia belom tertarik untuk menjalani bisnis papanya. Hari-hari setelah ditinggal mantannya yang ada keterpurukan. Sedang asik melamun tiba-tiba Rendra datang.
“ Loe bengong kenapa lagi??”
“ Nggak kenapa-napa, bingung aja”
“ Bingung kenapa? Jangan bilang loe teringat mantan loe”
“ Ya gue nggak habis pikir aja Ndra, bunga yang guue rawat, eh diambil orang”
“ Ya namanya aja nggak jodoh, udahlah lupain dia, kerumah ku yok”
“ Yoklah, ku juga bt dirumah terus”

Jarak rumah Alfi kerumah Rendra menempuh waktu 30 menit. Sesampai dirumah Rendra tak ada satu orangpun yang ada dirumah. Rendra menghampiri pembantunya yang sedang nonton TV diruang tengah. Pembantunya seusia dengan Vita. Keluarga mereka juga menguliahkan dia. Karna dulu ibunya pembantu setia mereka. Namun antara Vita dengan Ica tidak begitu akrab dikampus. Paling cuma tegur sapa pi low dirumah mereka tampak akrab juga.
“ Ca, mama mana?”
“ Dikamar den”
“ Yok lansung kekamarku aja ya Fi”
“ OK”

Mereka berjalan menuju kamar Rendra yang terletak di lantai dua. Kamar Rendra dan Reni bersebelahan. Kamar Rendy juga masih dilantai dua tapi agak terpisah dari kamar mereka berdua. Sedangkan kamar Vita berada dibawa yang tidak jauh dari tangga. Setelah sampai dikamar Rendra turun lagi tapi sendirian tanpa Alfi. Ia menuju kamar Vita. Ia dapati mamanya, dan adik-adiknya berkumpul disana.
“ Ada perkumpulan apa ni ma?”
“ Nggak ada apa-apa, adekmu lagi sedih aja”
“ Biasalah kak low remaja key gini” Reni membuka suara
“ Udahlah adekku sayang, nggak baik berlarut dalam kesedihan ntar tambah jelek, tengok tu tambah jelek aja kan”
“ Kakak” teriak Vita lansung duduk dan mengejar Rendra yang lari kekamarnya
“ Mulai deh” Kata Rendy keluar dari kamar Vita

Vita mengejar Rendra kekamarnya, sampai dikamar Rendra lansung Rendra dipukul dan dicubitnya. Rendra berusaha menahan kesakitan demi adeknya.
“ Udah donk, sakit tau”
“ Biarin nggak peduli”
“ Akrab kali dirimu ma pembantumu Ndra” Alfi membuka suara

Mereka berdua terhenti sambil menatap Alfi.Alfi pun melihat dengan heran.
“ Memang kak Rendra pernah cerita ya, and mang mirip pembantu?”
“ Makanya jangan larut dalm masalah terus, kan jadi jelek jadi dianggap pembantu deh” Rendra ketawa
“ Makasih atas pujiannya”

Vita lansung lari dari kamar Rendra, Rendra lansung mengejarnya. Vita lansung masuk kekamar dan mengunci pintunya. Ia menangis kembali.Rendra kembali kekamarnya dan menemukan Alfi yang sedang menonton film horor.
“ Fi, kamu nggak tau dia ya, lom kenal ya?”
“ Mang kenapa?”
“ Dia bukan pembantu aku, dia adekku yang paling bungsu, yang kami jaga selama ini, dari kecil dia paling istemewah sekali bagi kami.”
“ Adekmu yang mana lagi? Setauku adekmu dari sejak awal kenal Reni dan Rendy, dia nggak ada kemiripan denganmu.”
“ Kamu nggak pernah ketemu dia, memang low adek kakak harus mirip, banyak diluar sana orang adek kakak yang nggak mirip kok”
“ Dia ngambek ya, maafin aku ya.”
“ Dia bentar aja ngambeknya, ntar juga baikan”

Memang begitu dengan Vita, dia terlalu sensitif akhir-akhir ini. Tapi low ngambek dengan kakaknya paling nggak akan lama. Karna dia nggak kan tahan jika hari-harinya tidak dilalui dengan kakak-kakaknya. Vita juga orangnya gampang kasihan, ia paling nggak tegaan. Keadaan ini sering dimanfaatin oleh mama dan kakak-kakaknya. Kalau kakaknya sedang bermasalah maka ia adalah orang yang paling pertama yang membantunya karna kasihan sama kakaknya.Malam ini Alfi menginap dirumahnya Rendra. Ia benar-benar suntuk low dirumah sendirian. Malam ini semua orang sudah ngumpul diruang makan tapi Vita tidak muncul-muncul. Kemana ya?. Ternyata dia masih dalam kamar. Inilah kebiasaan buruk Vita. Orang sibuk mau makan malam dia sibuk mau tidur. Tambah lapar  tambah enak tidurnya. Jauh berbedakan jika biasanya orang-orang low udah kenyang baru bisa tidur. Terpaksa mamanya membangunkannya. Tapi kali ini yang membangunkannya Rendy sama Rendra. Mereka masuk kekamar Vita dan mengangkatnya lalu memasukkannya kedalam bak mandi. Vita kaget lansung berteriak.
“ Aahhhhhhhhhhhhhhhhhh”

Semua yang mendengar teriakan itu lansung menuju ke kamar Vita yang nggak terlalu jauh dari ruang makan.
“ Ada apa? Tanya mamanya
“ Kak Rendy jahat baget ma, kan dingin”
“ Siapa suruh tidur jam segini, enak nggak”
“ Ih menyebalkanlah, suka-sukalah mau tidur ato nggak, low lapar makan aja dulu, dah keluar semua ntar lagi ku keluar”

Semua keluar dengan ketawa, tak lama kemudian Vita pun keluar dari kamarnya. Ia menghenyakkan pantatnya dikursi disampingnya Reni dan mamanya. Sedangkan diseberangnya ada Alfi, Rendy dan Rendra. Mereka semua makan tanpa adanya suara yang keluar dari mulut satupun. Selesai makan semua ngumpul didepan TV seperti biasa. Mama dan Papanya duduk diatas sama Vita dan Reni. Sedangkan yang lain duduk dibawah. Seperti biasa semua nonton opera van java. Ini siaran kesukaan semua anggota keluarga ini. Pas lagi iklan, mamanya bertanya pada Rendy;
“ Ndy, kamu kapan ke Jakarta?
“ Mungkin hari Sabtu aja ma, biar minggu bisa istirahat”
“ Ma, Vita ikutlah ma kak Rendy.”
“ Ngapain?? Key nggak ada kerjaan aja” Rendra membantahnya
“ Emang nggak ada kerjaan, bis malas nengok muka orang jelek dirumah ni,low kak Rendy kan lumayanlah”
“ Trus yang paling cakep siapa dong?” Tanya Rendra
“ Yang paling cakep anak mama dan papa adalah Vita, yang kedua Reni, and yang ketiga kak Rendy and yang paling jelek adalah kak Rendra”
“ Yeee keGR-an loe, sejelek apa sih kakakmu ini, padahal banyak yang naksir loh.” Bantah Rendra
“ Kak Ndy antarin ku ke DC mall, ada yang mau dibeli.”
“ Antar sama Kak Rendra ato ma kak Reni aja, kakak mau beres-beres”
“ Duh kakak capek banget sayang” Reni membuka suara
“ Kakak banyak yang mau disiapkan ni, Fi loe sibuk nggak antarin adekku lah.”
“Boleh, kebetulan ku juga ada yang mau dicari.”
“ Makanya belajar bawa mobil, ni penakut banget, masa kemana-mana harus diantar.” Bantah Reni

Vita diam aja sambil berjalan ke kamarnya. Tak lama kemudian dia keluar dari kamarnya membawa sebuah tas kecil. Mereka pergi menggunakan mobilnya Renda. Jarak rumah Vita dengan DC mall tidak terlalu jauh. Diperjalanan mereka hanya diam saja tanpa ada sepatah katapun. Sesampai disana, Vita masuk saja tanpa basa-basi sama Alfi. Alfi mengikuti Vita dari belakang.Ternyata Vita kesana cuma mau beli cosmetik dan farfum ditempat ia biasa beli.Setelah siap membeli farfum,ia mulai membuka suaranya
“ Kak lama dikit nggak apa-apakan?”
“ Nggak masalah, masih jam 9 pun, masih ada yang mau dibeli?
“ Mau liat-liat aja dulu.”
“ Ya udah”

Mereka hanya melihat-lihat saja. Dari tadi tidak ada yang dibelinya. Tanpa disadari Vita ketabrak Dean. Vita tampak kaget, begitu juga dengan Dean.Ketika Dean melihat Alfi, Dean tampak gembira sekali. Ternyata mereka juga kenal satu sama lainnya.
“ Masih langgeng aja ya ma Tita. Kata Alfi membuka suaranya
“ Iya, kemana aja selama ini?” Dean berusaha mengalihkan pembicaraan
“ Kak Vita pergi dulu ya kemobil.” Vita pamitan sama Alfi
“  OK.”

Vita berjalan kearah parkiran dengan kesal. Tak ada sedikitpun senyum diwajahnya. Dimobil ia terpaksa menunggu Alfi dengan sabar. Soalnya sudah 15 menit tapi Alfi lom juga dtang-datang. Tak lama kemudian Alfi muncul berbarengan dengan Dean dan seorang cewek. Wah ternyata mereka berdiri pula didepan mobil untuk ngobrol. Nggak habis-habisnya obrolannya. Tak lama akhirnya Dean menjauh juga dari mobilnya dan Alfi juga masuk ke mobil. Melihat mukanya Vita manyun aja, akhirnya Dean membuka suara;
“ Maaf ya, Kamu kesal ya nunggu kelamaan?”
“ Nggak lah, ku nggak kesal menunggunya pi kesal sama temannya tadi.”
“ Mang kenapa dengan dia? Oya dia kan satu kampus ma loe, nggak kenal ya?
“ Kenal kok, udah lama ya mereka pacaran?”
“ Kenapa mang nya?”
“ Tanya aja sih.”
“ Mereka jadian udah setahun yang lalu.”
“ Tahun lalu?”
“ Iya, kenapa?”
“ Brengsek juga dia ya, padahal dalam waktu itu dia jadian ma gue.”
“ Benaran Loe?”
“ Benar, enam bulan yang lalu gue jadian ma dia, and baru tadi pagi putusnya”
“ Gila juga ya, Rendra tau”
“ Tau, biasa aja dia, udah lupain aja dia, malas bahas dia, makasih ya udah ngantarin gue, met malam.”

Vita pun turun dari mobil dan lansung masuk kedalam kamar.Sesampai dikamar iapun lansung untuk tidur. Lama-kelamaan akhirnya Vita and Alfi mulai dekat. Rendy sudah balik ke Jakarta sedangkan Reni ada urusan ke Surabaya. Papanya sedang pergi ke Padang. Jadi dirumahnya agak sepi. Alfi sering main kerumah Vita. Setiap malam minggu pasti datang kerumahnya untuk menemui Rendra. Kadang mereka berdua pergi and kadang Vita suka ikut karna bingung mau kemana. Jadi dia lebih memilih untuk pergi bersama kakaknya dan Alfi. Dia sama Alfi sudah tidak asing lagi. Mereka sudah seperti adik-kakak. Mereka sudah sering jalan berdua kemana-mana.Tapi Sekarang tampaknya Alfi menghindar dari Vita. Nggak tau apa permasalahannya. Dia nggak pernah lagi muncul dirumahnya Vita. Ditelponpun pasti selalu nggak diangkat. Semenjak Rendra sudah punya pacar malam minggu mereka juga nggak ngumpul lagi. Hari-hari dilewati Vita dengan kesepian, akhirnya bawaannya selalu BT trus.
****

Malam ini Vita dirumah sendirian, tampangnya tampak suntuk banget. Acara di TV nggak ada yang bagus. Diraih HP nya tapi juga nggak ada sms dari siapapun. Dia pun bingung mau sms siapa karna low dia sms sembarang orang ntarnya malah tambah kesal sendiri. Akhirnya ia memutuskan untuk sms Alfi. Tapi sudah 30 menit smsnya juga lom dibalasnya.
“ Sepertinya dia tidak menginginkan kehadiran gue, Ya udahlah lupain aja dia.” Gumamnya dalam hati
“ Tapi kok gue bawaannya kesal aja low dia nggak sms gue, pa gue suka dia, ah nggak lah ngapain juga mikiran orang yang nggak mikiran gue, ngapain gue berharap ma orang yang nggak mengharapkan kehadiran gue, capek berharap terus, mending jalani aja seperti air mengalir.” Gumamnya lagi.

Dia baringkan badannya, dan tak lama kemudian ia ketiduran. Hari ini hari Sabtu, dirumah tak ada satupun orang. Kecuali kakaknya yang sedang tidur. Vita lagi duduk dengan kesal karena tadi tidak sengaja ia melihat pacar kakaknya jalan bermesraan dengan cowok lain. Ia tidurkan badannya disebuah sofa diruang tamu. Tak lama kemudian ada tamu yang datang. Dengan malas Vita membuka pintunya. Betapa kagetnya dia, ternyata yang datang Mey-Mey ceweknya Rendra. Dengan nada tidak suka Mey-Mey bertanya kepada Vita;
“ Mana Rendra?”
“ Tidur, ada perlu apa?” Jawabnya dengan jutek
“ Bukan urusanmu.” Mey-Mey lansung menerobos Vita yang berdiri didepan pintu

Dengan kesal Vita menarik tangan Mey-mey dan Mey-mey mendorongnya kebelakang. Dengan kesal Vita membuka suaranya;
“ Tau sopan santun nggak sih, mau kemana loe?”
“ Eh loe tu disini Cuma anak angkat jadi nggak usah sok deh, kapan aja loe bisa diusir dari sini.”

Vita lansung terhenyak mendengar kata-kata cewek itu.
“ Tega kali kakak ceritain ke dia” gumamnya dalam hati

Vita menarik kembali tangannya dan berkata;
“ Sampai kapanpun aku tak akan pernah meninggalkan rumah ini, karna disini keluargaku, sedangkan kau cewek murahan yang mengincar harta oarang saja, ku tau kamu tidak mencintai kakak saya, pi mencintai propesinya dan hartanya, kalau kamu nekat masuk kekamar kakakku maka ku kan ceritakan kejadian kamu jalan mesra sama cowok tadi.”
“ Jangan coba mengancam gue, low berani loe ngomong key gitu maka nggak segan-segan ku robek-robek mulutmu” ancam Mey-mey
“ Sayang aku tidak takut cewek matre and murahan”

Mey-mey lansung menampar pipi Vita. Vita yang juga emosi tidak terima begitu saja tamparan itu. Iapun membalasnya, pas sedang menampar Mey-mey
“ Vita apa-apaan kamu ni?” bentak Rendra
“ Dia duluan kak” Vita membela diri
“ Bohong yank, dia yang duluan, masa dia bilang aku cewek murahan yang nggak cocok buat kamu, katanya kakaknya hanya untuk dirinya, aku sudah mengingatkan low kalian adik-kakak jadi tidak akan mungkin itu terjadi, dia marah dan menampar aku.” Mey-mey mendekati Rendra
“ Dirumah ini tidak ada kekerasan, jika kamu mau ada kekerasan silakan tinggalkan rumah ini.”
“ Tapi kak dia duluan yang mulai, dia juga udah selingkuhin kakak.”
“ Tega kali dirimu memfitnah aku hanya karna kamu pengen dapatkan cinta kakakmu.”
“ Kamu memang murahan kok”

Dengan amarah Rendra menampar Vita. Vita benar-benar kaget menerima tamparan itu. Baru pertama ini Rendra menamparnya karna ceweknya.
“ Tampar lagi kak, tampar................”
“ Pergi kamu dari rumah ini.”

Dengan kesal Vita lari keluar rumah. Ia tak ada bawa apa-apa, sopirpun tak ada nampak. Terpaksa ia jalan kaki. Tak tau mau kemana yang ia tuju. Air matanya meleleh saja. Benar-benar sudah tak tahan lagi ia menahan air matanya. Ia benar-benar tak menyangka kakaknya berubah dan mengusir dia. Hari sudah larut malam, ia masih duduk dihalte. Tak tau mau kemana ia pergi.Ia duduk aja disana sendirian sambil menangis. Hujan pun turun deras, ada tiga orang cowok berhenti di halte. Ternyata cowok itu Alfi dan teman-temannya.
“ Fi tu kan adeknya Rendra.” Bisik seoarang temannya
“ Iya Fi, dia menangis, apa mungkin mau pulang nggak ada taksi”

Alfipun mendekatinya karna sudah tidak tega melihat mata Vita yang suda bengkak karna menangis.
“ Kamu ngapain disini Vit?” mau diantar pulang?”

Vita hanya diam saja. Melihat Vita diam Alfipun mengeluarkan Hpnya. Ia hendak menelpon Rendra.
“ Nggak usah nelpon Rendra kak, Kak Rendra tlah mengusir aku”

Alfi dan kawan-kawan kaget mendengar hal itu. Hujan telah reda, Alfi tidak mungkin meninggalkan adik temannya disana dalam bahaya. Ditaro tempat teman yang lain tidak memungkinkan karna rata-rata mereka ngekos. Awalnya Vita nggak mau di ajak Alfi. Tapi karna ia takut dihalte sendirian malam-malam terpaksa ia ikut  Alfi kerumahnya. Alfipun mengerti makanya ia tak mengantarkan Vita kerumahnya. Sesampai dirumah Alfi Vita nggak bisa tidur. Ia duduk melamun ditaman rumah Alfi padahal diluar sangat dingin karna tadi. Alfi kaget melihat dia masih duduk diluar. Alfipun menghampiri Vita yang duduk ditaman.
“ Kok lom tidur Vit? Kamu tu ada masalah apa sih ma kakak kamu?”
“ Kak Rendra marah karna aku dianggap merusak hubungan dia dengan pacarnya, padahal pacarnya yang cari gara-gara ma aku, pacarnya marah karna saya tau low pacarnya itu jalan ma cowok bermesraan lagi.”
“ Mey-mey selingkuh?”
“ Iya begitu penglihatan aku, dasar cewek murahan .”
“ Lom tentu apa yang kamu lihat itu sama seperti yang kamu pikirkan.”
“ Oh jadi kakak juga nyalain saya juga, ya udah saya pergi aja dari sini” Vita berdiri dari tempat duduknya.

Alfi menahannya
“ Bukan begitu maksud kakak, jangan pergi ntar low kamu kenapa-napa kakak dimarahin kakak kamu.”
“ Dia udah nggak peduli lagi ma aku kok, buktinya aja nyari ku aja nggak.”
“ Sabar ya, Oya maafin kakak soal yang kemaren ya, kakak lagi banyak masalah.”
“ Semua orang terlahir didunia ini pasti mempunyai masalah, terpuruk dalam masalah tidak akan menyelesaikan permasalahan,pi ku rasa orang punya masalah nggak segitunya,masa balas sms satu aja susah, pi tu haknya kakak.”
“ Kamu marah ma aku ya? Maaf deh Vit,maukan maafin kakak?”
“ Aku dah maafin kok, udah lupain aja kak, tidur yok udah jam 3 pagi nih”
“ Yok,”

Merekapun beranjak dari tempat duduk dan berjalan menuju kamar masing-masing untuk tidur. Biasanya Alfi low tidur jam segini, bangunnya pasti jam 12 siang. Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti demi jam akhirnya matahari muncul di ufuk timur.Belom ada yang bangun dirumah itu kecuali pembantunya. Vita masih tertidur lelap, begitu juga Alfi. Jam sudah menunjuk angka 12 siang. Alfi sudah bangun tapi si Vita belum bangun. Nggak ada tanda-tanda Vita sudah bangun. Alfi terpaksa membangunkan Vita karna ditunggu-tunggu belum juga bangun. Alfi membuka pintu kamar Vita. Vita tidak ada ditempat tidurnya, Alfi mencarinya kekamar mandi.Vita tergeletak dilantai kamar mandi.Alfi benar-benar bingung banget melihat keadaan Vita yang pucat. Ia bawa Vita kerumah sakit terdekat.

Rendra sedang dirumah bersama sang pacar. Tak lama kemudian bel rumah berbunyi. Ternyata papa, mama dan Rendy pulang ke Batam. Sesampai dirumah,
“ Dalam rangka apa kamu pulang Ndy?”
“ Perasaan ku nggak enak, kangen Vita, Vita mana? Rendy lansung kekamar Vita.
“ Eh ada nak Mey-mey, dah lama disini? Tanya mamanya
“ Nggak juga tante.”

Tiba-tiba Rendy keluar lagi
“ Vita nggak ada, mana Vita Kak?”
“ Vita pergi dari rumah.” Rendra menjawabnya  sambil menunduk
“ Ada apa ini? Tanya mamanya
“ Kak low sampai Vita kenapa-napa, kakak orang yang pertama saya tuntut.” Rendy dengan emosi

Rendra menceritakan apa yang terjadi kepada papa, mama dan Rendy. Mey-mey juga ikut-ikutan menceritakan. Tak lama kemudian telpon rumahnya berdering, karna semua lagi sibuk akhirnya Mey-mey yang agkat.
“ Halo, ini siapa?”
“ Mey-mey ya, ini Alfi.”
“ ya ada apa?”
“ Bilang ke Rendra, Vita dirumah sakit”
“ Maaf salah sambung” Mey-mey menutup teleponnya
“ Siapa yang nelpon Mey? Tanya Rendra
“ Salah sambung” jawab Mey-mey

Tak lama kemudian Hp Rendy berdering, setelah diangkat ternyata Alfi. Rendy kaget banget mendengar Vita dirawat dirumah sakit.Rendy ngasih tau semuanya apa yang ia dengar dari Alfi. Semua keluarga panik termasuk Rendra. Bagaimanapun Vita adek kesayangannya dari Vita kecil. Setelah sampai dirumah sakit ternyata Vita sudah sadarkan diri. Kata dokter Vita hanya kedinginan saja karna badannya diguyur air kelamaan. Vita juga sudah boleh dibawa pulang. Dari tadi ketemu Rendra Vita hanya diam saja. Begitu juga dengan Rendra. Hari- hari dilewati hanya diam saja, tak ada lagi kemana-mana berdua. Biasa seperti orang pacaran saja mereka berdua. Selain dekat sama Rendra sama Rendy Vita juga akrab, tapi karna Rendy jarang dirumah makanya Vita lebih sering dilihat berduaan dengan Rendra. Akhir-akhir ini Vita lebih sering mengurung diri dikamar jika tidak kuliah. Apalagi kalau ada Mey-mey dia paling malas. Kadang low Mey-mey dirumah itu berisik dia pasti hidupin musik keras-keras. Kadang ia pindah kekamar Rendy biar nggak kedengar suara Mey-Mey. Hari ini Vita sedang dikamar Rendy, mereka berdua sedang nonton film taiwan. Keduanya suka nonton film-film taiwan. Sambil nonton Vita juga menceritakan kejadian yang sebenarnya ke Rendy. Tak lama kemudian Rendra masuk;
“ Nggak berhenti-hentinya ya kamu jelekin pacarku” bentak Rendra
“ Kak jangan kakak coba untuk bentak adik saya”
“ Ya adik kamu, tolong di ajarin, saya tidak pernah mengajari adek-adek saya seperti itu”
“ Terserahlah, capek berantem” lanjutnya Rendra

Rendra pergi keluar dari kamar Rendy, tak lama kemudian
“ Boleh gabung nonton nggak?” terdengar suara Alfi dipintu
“ Boleh aja, kok nggak bareng kak Rendra kak?”
“ Malas liat muka ceweknya”

Mereka berdua ketawa mendengar jawaban Alfi. Lama sudah Rendra dan Vita tak bersapaan. Rendy sudah balik ke Jakarta tiga bulan yang lalu. Alfi dan Vita semakin dekat saja. Mereka sering bepergian berdua apalagi kalau malam minggu. Belakangan ini Alfi sepertinya tidak mau jauh-jauh dari Vita. Lama akhirnya dekat akhirnya mereka berdua jadian. Yang duluan nembak adalah Alfi. Memang sebelumnya yang dulu menampakkan sayangnya Vita dengan cara-caranya, tapi Alfi saja yang tak merespon. Malam itu bagitu cerah, banyak bintang yang menghiasi langit.Alfi dan Vita sedang jalan kesebuah pantai yang nggak jauh dari rumah Alfi. Mereka pergi pakai motor mio. Sesampai dipinggir pantai mereka duduk ditempat yang berhadapan lansung dengan laut. Vita tampak senang banget, tapi ia coba untuk biasa-biasa saja biar tidak terlalu kenampakan sama Alfi.Alfi senyum-senyum saja melihat Vita yang selalu salting. Lama sudah saling diam akhirnya Alfi membuka suara;    “ Indahkan tempatnya? Aku suka kesini Vit low ada masalah.”
“ Ya, indah.”
“ Vit, ntah kenapa aku selalu kepikiran kamu belakangan ini, dekat kamu bikin nyaman. Jika nggak ketemu kamu sehari rasanya ku merana kali.”
“ Masa sih begitu??”
“ Ya begitulah yang terjadi, kakak sayang sama kamu, kamu mau nggak jadi pacar kakak.”
“ Gimana ya? Sukanya dari segi apa sih, akukan jelek.”
“ Dari sifatmu, bagi kakak cantik itu nggak penting yang penting cantik hatinya.”
“ Ntar kakak berubah pikiran.”
“ Gimana low sambil jadian kita kan bisa masa penjajakan, ntar low jodoh pasti kita ketemu lagi.”

Vita hanya menunduk sambil senyum-senyum malu, Alfi melihat tingkah Vita yang malu-malu gitu.
“ Gimana Vit?”
“ Menurut kakak gimana?”
“ Low senyum malu-malu begitu berarti mau, iya kan?”
“ Gitu ya? Ya sebenarnya Vita juga udah suka kakak sejak lama.”
“ Yang benar ni dek?”
“ Benar  kak, pi waktu itu kakak cuekin Vita begitu saja, seperti nggak mau kenal sama Vita.”
“ Bukan begitu sayank, maaf ya waktu itu, berati ma Rendra panggil kakak ipar dong sekarang.”

Vita hanya tertawa-tawa mendengar apa yang diucapkan Alfi. Sudah 1 jam disana akhirnya mereka pulang. Sesampai dirumah Vita ternyata  ada Mey-mey duduk diteras. Sebelum melangkahkan kakinya Alfi meraih tangannya Vita. Lalu mendekati Vita sambil berbisik ;
“ Ntar low Mey-mey cari masalah jangan dilayani ya yank.”
“ Nggak boleh gitu jugalah, ntar dia merasa menang sendiri.”
“ Nntuk nggak usah dilayani, nggak ada untungnya bahkan rugi untuk hubungan kamu dengan kakakmu.”
“ Ya dehc kak.”
“ Ya udah masuk sana.”

Vita pun masuk, sedangkan Alfi masih diam ditempat. Setelah Vita masuk kedalam rumah barulah Alfi pulang kerumahnya. Sesampai drumahnya, ia kaget ternyata dirumah ada mantan pacarnya Tiwi. Dia sedang menangis diteras rumahnya Alfi. Ntah apa yang terjadi dengan dirinya sampai ia menangis seperti itu. Alfipun mendekatinya dengan perlahan,
“  Kamu kenapa Wi?”

Tiwi lansung memeluk tubuh Alfi,Alfi tambah kaget,
“ Kamu kenapa?”
“ Suamiku selingkuh dengan perempuan lain, trus setelah itu dia sering pukul aku low ku bilang low dia selingkuh.”
“ Trus sekarang suamimu tau kamu kesini?”
“ Nggak, dia mana peduli sama aku, aku takut pulang Fi.”
“ Ya aku harus key mana, ntar oarng bilang aku pengganggu pula.”
“ Nggak lah, aku mohon tolong izinkan aku nginap disini.”
“Oklah, pi tunggu dulu ya, aku minta izin ma ortu dulu soalnya ortu sudah dirumah.”

Alfipun masuk kerumahnya dan lansung menuju kamar ortunya karna jam 10 malam biasanya ortunya udah tidur karna besok ada aktifitas lain. Diketoknya pintu kamar ortunya. Tak lama kemudian keluar mamanya dan disusul papanya.
“ Ada apa lagi Fi?” tanya mamanya
“ Gini ma, pa, didepan ada Tiwi disini, dia ada masalah dengan suaminya,boleh nggak dia nginap disini ma, pa?
“ Gila kamu, dia itu udah menghianati kamu” jawab papanya
“ Bunga yang kamu tanam, yang kamu rawat diambil orang, sudah susah-susah kamu rawat pi dia berpaling dari kamu, sekarang dia datang lagi, nggak boleh.”
“ Ma, pa, untuk sementara aja, kasihan dia ma.”
“ Dia aja nggak kasihan sama kamu.” Bantah mamanya
“ Ma nggak baik dendam, yang lau biarlah berlalu.”
“ Terserah kamu ajalah, toh ntar low kamu sakit hati jangan terpuruk lagi.” Kata papanya

Alfi pun menemui Tiwi dan mengajaknya masuk. Tiwi diantar kekamar tamu. Tiwi belom berhenti menangis dari tadi. Alfi jadi nggak tega ninggalinnya sendiri. Apalagi Alfi masih lom bisa melupakan Tiwi sepenuhnya. Dihatinya masih ada cinta untuk Tiwi meskipun dia sudah jadian sama Vita. Setelah Tiwi udah mendingan Alfi meninggalkannya. Jarum jam selalu berputar, Tiwi sudah sebulan tinggal dirumah Alfi. Kesmpatan berdua sering mereka lewati seperti dulu lagi. Siang yang cerah banget Alfi sudah pulang dari sekolah, ia tidak kemana-mana karna dirumah masih mau nemani Tiwi. Tak disangka-sangka ternyata Vita datang kerumahnya. Ntah dalam rangka apa, Vita datang kerumahnya.
“ Vit ada apa ya?”
“ Emang nggak boleh datang kesini ya?”
“ Boleh donk yank, masa nggak ada tujuan lain kesini sih?”
“ Kangen aja.”
“ Kan baru semalam ketemu.”

Tiba-tiba Tiwi keluar,
“ Saudaranya ya?”
“ Iya, kita pergi yok jalan-jalan kemana gitu.”
“ Nggak bisa kak, ada tugas banyak dari kampus, kesini mampir bentar aja karna dekat dari kampus, ni juga mau pulang.”
“ Ohw gitu, hati-hati aja ya,”

Vita lansung meninggalkan rumahnya Alfi, ia tampaknya buru-buru banget.

Alfi pun duduk di ruang tamu sambil nonton. Tak lama kemudian Tiwi pun menghampinya dan duduk disebelahnya.
“ Fi sepertinya aku lom bisa pulang hari ini, aku masih takut.”
“ Nggak apa-apa, sampai kapanpun nggak apa-apa.”
“ Makasih banget ya, keynya ku mau cerai aja sama suamiku Fi.”
“ Kamu serius, apa nggak ada penyelesaian dengan cara lain.”
“ Aku sudah nggak tahan ma dia, makasih ya kamu masih baik ma aku.”
“ Ya sama-sama, udah makan lom?”
“ Kamu masih perhatian sama aku ya, maafin aku ya.”
“ Ya aku dah maafin kok, ku mang nggak bisa nggak peduli ma kamu.”
“ Makasih ya kamu masih sayang ma aku, trus yang tadi siapa?”
“ Dia pacarku Wi, ku jadian ma dia untuk melupakan kamu.”
“ Setelah ku cerai kamu mau kan kita balikan lagi?”
“ Ku akui mang ku masih sayang sama kamu...................” kata-katanya terputus karna ada suara benda jatuh.

Alfi menengoknya keluar ternyata ada kucing yang tak jauh dari vas bunga. Setelah itu dia masuk lagi kedalam. Pembicaraan mereka Cuma sampai disitu karna mama Alfi minta diantar Alfi ke mall.

Malam yang begitu dingin, diruang tamu ada Rendra and mamanya sedang nonton. Papanya masih lom pulang.Vita masih dikamar nggak keluar-keluar dari tadi siang.”
“ Ndra kamu masih berantem ma adek kamu?”
“ Biarin aja ma, biar dia bisa lebih dewasa.”
“ Sepertinya adikmu lagi ada yang nggak bisa ia selesaikan low ia sudah nggak keluar kamar.”
“ Iya ma, ntar aku samperin.”

Rendrapun melangkah kekamarnya, tiba ada bel yang bunyi. Ia tidak jadi kekamar Vita. Ternyata tamunya Alfi.
“ Hey sob, pa kabarnya?” tanya Rendra
“ Baik aja, kabarmu gimana?”
“ Baik juga, yok masuk.”

Alfipun masuk, diruang TV biasanya ia melihat Vita tapi malam ini ia tak menemukan Vita.
“ Mungkin ia ngerjain tugas “ pikirnya

Alfi dan Rendra memang lom bisa terpisahkan. Mereka berteman dari awal kuliah. Awalnya mereka berteman hanya karna merasa berasal  dari Batam. Tapi tambah lama mereka tambah akrab saja karna adanya kecocokan antara mereka. Sampai sekarangpun mereka masih bersama-sama. Sudah lama Alfi tidak jumpa dengan Vita, dia kerumahnya juga nggak ada. Mampir kerumah Alfi juga nggak ada.Hujan deras sekali siang ini, Alfi dan Tiwi jalan bareng ke mall. Sebenarnya bukan jalan tapi ada keperluan disana.  Tak sengaja ketemu Vita disana yang juga sama kakaknya Reni. Alfi pun senyum ke Vita, tapi Vita cuek aja. Malahan dia lanjut aja jalan tanpa menghiraukan Alfi. Alfi mengejarnya dan meraih tangannya,
“ Kamu kenapa sih?”
“ Nggak ada apa-apa, ku lom siap aja mendengar semuanya,ntar aja pas pesta kakakku.”

Vita pergi begitu saja meninggalkan Alfi. Alfi tambah kebingungan melihat perubahan sikap Vita. Esok malamnya ada pesta pernikahan dirumahnya Vita. Pesta pernikahan Reni  menikah dengan seorang dokter juga.Sebenarnya akad nikahnya kemaren dan pestanya dari pagi sampai malam. Karna juga bertepatan dengan ulta Rendra yang ke 28. Vita Cuma tampak sebantar-bentar aja. Dia lebih lama dikamar daripada diluar. Rendra diluar sedang bersama teman-temannya. Mey-mey datang menghampirinya;
“ Kita kapan menyusul yank”
“ Ntar dulu pikirin tu ya, Vita ma kamu aja lom baikan.”
“ Kok key gitu, apa hubungannya?”
“ Kamu tanya hubungannya, kamu tau nggak dia tu adek bungsuku, adek kesanganku, adek kesayangan semuanya.”
“ Low adek kesayangan kenapa dia nggak bantuin, ni capek tau jadi pagar ayunya”
“ Mang dia kemana?”
“ Dikamar aja dari tadi”

Rendrapun menghampiri kamarnya Vita. Ia melihat Vita tidur dikasurnya masih pake kebaya. Rendra lansung menariknya,
“ Kamu jangan kelewatan ya, ini masih pesta kakakmu, kamu masih enak-enak tidur disini, nggak bantuin sama sekali.”
“ Ya, maaf.” Vita pun keluar

Rendra menahannya
“ Kamu tuh sekarang makin lama makin menjadi-jadi ya, nggak ada sopannya.”

Vita diam aja sambil menunduk, tiba-tiba ia ambruk di lantai. Rendra panik seketika tapi Rendy datang membawa Reni dan mamanya. Karna Reni seorang dokter terpaksa Reni yang menanganinya secara lansung. Rendy dengan emosi berkata;
“ Kakak ni apa-apaan sih, ngomong key gitu ma Vita”
“ Nggak usah kamu belain dia, bukan bantu pi malah tidur.”
“ Aku yang nyuruh dia tidur, low terjadi apa-apa kakak harus tanggung jawab”
“ Apa-apaan kamu nih, udah merasa kegedean”
“ Udah-udah, ngpain kalian bertengkar karna anak angkat itu sih, toh juga bukan adek kandung kalian.” Mey-mey berusaha menenangkan mereka berdua
“ Dengar ya kamu, dia itu adek ku, nggak ada yang bisa menggantikan posisi dia, kakak yang cerita ma dia ya, brengsek juga kakak ya” Rendy dengan emosi.
“ Aku nggak pernah  bilang kamu ya, jadi selama ini Vita benar, kamu yang cari gara-gara sama dia, sekarang juga kita putus.”
“ Kakak aja yang begok masa lebih milih dia daripada adiknya sendiri .”
“ Pergi sekarang kamu Mey-mey.”

Rendrapun masuk kedalam kamar Vita, ia mendekati Vita dan memegang tangannya. Tak lama kemudian Alfipun datang kekamarny    a berdua dengan Tiwi. Rendra nggak ada menaroh rasa curiga apa-apa. Ia tau low Alfi sudah menjadi pacar adiknya dan ia juga tau low Tiwi mantan pacar Alfi.
“ Vit bangun, ni kakak sayang.”

Vita pun membuka matanya. Dengan senang hati Rendra lansung berkata;
“ Sayang maafin kakak ya.”
“ Ya kakak, jangan tinggalin Vita lagi ya kakak.”
“ Kakak tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi sayang.”

Vita memeluk Rendra, lalu tiba-tiba Rendy berkata;
“ Masa Cuma kak Rendra yang dipeluk, kakak juga mau donk.”

Vita dan Rendra senyum lalu mereka memeluk Rendy. Pesta masih berlanjut, diluar masih banyak tamu. Vita hanya dikamar saja karna ia malas bertemu dengan Alfi.Pestapun selesai, semua pada pulang dan tidur karna sudah malam. Hari demi hari dilewati Vita bersama kakak-kakaknya. Meskipun Rendy sudah balik ke Jakarta. Tapi sekarang ia sudah nggak sepi lagi karna Rendra sudah seperti dulu sama dia. Sabtu siang yang cerah, Vita dan Rendra mau jalan berdua kesebuah mall. Sebelumnya Rendra jemput Vita kekampusnya keberulan Vita ada kuliah. Sesampai di depan gerbang kampus Rendra kaget melihat Vita didorong-dorong sama Mey-mey dan temannya. Dengan cepat Rendra menghampiri mereka.
“ Apa-apaan nih, kamu nggak apa-apa sayang?” tanya Rendra pada Vita
“ Sekali lagi kalian ganggu adik saya, saya akan hajar kalian berdua.”
“ Adik loe? Bukannya adik angkat.”
“ Siapa bilang adik angkat, dia adik kandung saya, jadi nggak usah sok tau deh.”
“ Meskipun dia adek kandungmu, masa loe lebih milih adik loe daripada pacarmu.”
“ Ya saya lebih milih adik saya, kenapa?”
“ Ya udah nikahi aja adekmu.” Kata teman Mey-mey sambil ketawa.
“ Nggak ada yang lucu ya, saya memilih adik saya karna cewek yang ku belain tu nggak ada baiknya.”
“ Nggak ada baiknya, maksudnya?”
“ Masa baru jadi pacar aja dia udah berani memecah belahkan keluarga saya, masa dia berani mengadu domba saya sama adik saya, gimana saya memilih dia.”
“ Masa iya?”
“ Ya begitulah.”

Rendra dan Vita meninggalkan mereka dengan senyum-senyum. Mereka melanjutkan perjalanan ke DC mall. Rendra mau beliin Vita baju dan apapun yang Vita mau untuk menebus kesalahannya pada adiknya. Vita kalau bersama Rendra manjanya makin menjadi-jadi karna Rendra adalah orang yang paling memanjakannya bahkan melebihi papa dan mamanya. Papa dan mamanya tidak terlalu memanjakan anak-anaknya. Kalau bersama Rendy, Vita juga akrab karna umurnya tidak jauh beda. Kadang mereka sering juga berantam, tapi paling cuma sebentar karna mereka tidak bisa berantam lama-lama. Meskipun sering berantem Rendy sangat menyayangi Vita melebihi apapun. Intinya semua menyayangi Vita. Reni juga begitu, dia rela memberikan barang ia sayangi ke Vita. Vita sedang menikmati belanjanya bersama Rendra.
“ Kak ini bagus loh buat kakak.” Vita menunjuk sebuah baju cewek yang seksi banget.
“ Eh kurang ajar ya.” Rendra mengejar Vita yang berusaha lari dari Rendra.

Tak disengaja Vita menabrak seseorang, orang itu tak lain adalah Dean.
“ Maaf nggak sengaja.”
“ Ya nggak apa-apa, kamu dah putus ma kak Alfi ya? Cari yang baru dong, masa kalah trus.”

Rendra pun sampai ditempat Vita,
“ Ni pacar baruku.” Vita memeluk Rendra.

Dean dan Rendra ketawa cekikian.
“ Jangan-jangan Dean kenal kak Rendra.” Pikir Vita
“ Kenapa ketawa?” tanya Vita
“ Dia tu udah kenal kakak dari sebelum kamu pacaran ma dia.’ jawab kakaknya tambah ketawa.
“ Kamu tuh gengsinya lom hilang-hilangnya ya.” Dean mengusap kepalanya sambil senyum-senyum.
“ Ya udah bareng kami aja belanjanya Yan” ajak Rendra.

Deanpun setuju dengan ajakan Rendra. Dilantai dua mereka bertemu dengan Alfi dan Tiwi. Sepertinya mereka juga belanja banyak. Rendrapun menegurnya;
“ Disini juga bro?”
“ Iya,” jawab Alfi sambil senyum
“ Yan temani ku kesana donk, kakak ngobrol aja dulu ya.”

Vita pun menarik tangannya Dean. Alfi hanya bisa melihat kejadian itu. Karna ia tau pasti Vita menjauhinya. Setelah 15 menit jalan berdua dengan Dean akhirnya Vita mendekati Kakaknya karna ia melihat Alfi sudah pergi dari kakaknya.
“ Kak pulang yok.”
“ Ye setelah misinya selesai ku ditinggal nih.”

Vita hanya diam dan menarik tangan kakaknya.
“ Sory ya Yan,” Rendra melambaikan tangan kirinya

Mereka berdua pulang kerumahnya. Vita tampak kesal sekali hari ini. Ntah kesal sama Dean ntah sama Alfi. Dimobil mukanya manyun aja. Tak ada satupun senyum yang menghiasi wajahnya. Rendrapun bertanya;
“ Kamu ada masalah apa dengan Alfi?”
“ Nggak ada apa-apa kak.”
“ Kok gitu mukanya? Ato masih kesal ma Dean?”
“ Dean sudah ku maafkan, kami sudah biasa-biasa aja, masa kakak nggak tau sih?”
“ Tau apanya sayang?”
“ Jadi Alfi nggak cerita ma kakak ya, mantannya minta balikan ma dia, dia tu macari Vita karna pengen lupain mantannya, mantannya minta balikan ma dia, dan Alfi bilang dia memang masih mencintai mantannya, otomatis dia ketemu aku pengen minta putus, ku lom siap diputusin dia kak.”
“ Kok Alfi nggak cerita ya, dia memang mencintai mantannya melebihi apapun.”
“ Jadi Vita harus key mana kak?”
“ Ya terima aja semua dengan lapang dada.”
“ Kenapa Vita terjebak cinta key gini  kak?”
“ Udah mendingan kamu temuin dia, nggak baik menggantung hubungan orang lain.”
“ Kak, kak Rendy minggu depan wisudah kan? Vita mau ke Jakarta aja ah.”
“ Kak Rendy kan nggak jadi pulang, mama ma papa kan dari Surabaya lansung aja ke Jakarta, jadi pergi ma siapa?”
“ Sendirian aja, suntuk banget disini.”
“ Mang berani? Jangan menghindar dari masalah ya, low Kakak nggak sibuk kakak akan antar kamu ke Jakarta.”

Pembicaraan mereka terpotong sampai disitu karna keduanya sudah sampai dirumah. Rumah tidak sesepi seperti biasa, ternyata Rendy pulang kerumah bawa teman-teman kuliahnya. Lumayan menghibur Vita, dan Vita tampak senang karna ia nggak kuatir lagi mau ke Jakarta sendirian. Malam ini Rendy main dalam kamar Vita. Ia menyuruh Vita untuk temui Alfi kerumahnya.
“ Vit kakak dirumah Cuma 2 hari, besok kita sibuk semua, jadi sekarang aja, low kamu pulang dari Jakarta sakit hati kan nggak seru banget.   
“ OK, antar kesana kak.”

Merekapun keluar rumah, tapi niat mereka batal ke rumah Alfi karna Alfi sudah nyampai disana bareng Rendra. Vita pun mendekati Alfi. Sedangkan Rendra dan Rendy masuk kedalam rumah.
“ Aku dah siap sekarang, silakan.”
“ Siap ngapain Vit?”
“ Aku tau kakak macari aku karna Cuma sebagai pelampiasan”  air matanya Vita mulai meleleh.
“ Kamu tau dari siapa?”
“ Aku dah dengar semuanya waktu aku terakhir kerumah kakak, cewek itu mantan kakak, and kakak pengen balikan sama dia kan? Silakan aja putusin aku.”
“ Jadi kamu dah tau soal itu?”
“ Ya, maaf udah jadi penghalang cinta kakak, sekarang saya siap kakak putuskan.”
“ Emang kamu iklas melakukan semua ini?”
“ Aku udah iklas meskipun perih, mungkin udah suratan aku key gini trus.”
“ Tapi jangan tinggalkan aku Vit, aku nggak mau kamu kemana-mana.”
“ Udahlah kak.”
“ Aku mencintai kamu, kamu nggak dengar semua kejadian itu sampai habis, kami nggak balikan kok karna aku sayang sama kamu Vit, jangan pergi Vit, aku nggak akan bisa jarak jauh sama kamu.”
“ Aku nggak ngerti ucapan kakak.”
“ Kakak tu sayang kamu, kamu orang yang terakhir kakak sayang, Kamu nggak usah pindah kuliah ke Jakarta ya Vit.”

Vita ketawa cekikian
“ Kamu kenapa ketawa?’
“ Siapa yang mau pindah, aku tu ke Jakarta Cuma menyaksikan wisuda kak Rendy.”
“ Jadi kakak dibohongi kakakmu dong”
“ Iya, berarti kita nggak putus kan kak?”
“ Nggak lah, kan Rendra tau semuanya.”
“ Apa?”

Vita lansung masuk kedalam mencari Rendra.
“ Jadi kalian berdua nipu aku ya kak, kakak tau low Alfi tu nggak balikan ma mantannya, ihhhh nyebelin banget sih.” Sambil mencubit kakaknya Rendra

Rendra menahan sakit, karna cubitan Vita sangat sakit sekali.
“ Kakak nggak ikutan ya?” Rendy lari menjauh
“ Nggak ikut apanya” mengejar Rendy
“ Eh ada pa ni? Tanya mamanya yang keluar dari kamar
“ Jadi mama dirumah?” Tanya Vita.
“ Iya, dari tadi mama dirumah, mama disuruh dikamar sama kakak-kakak kamu, katanya biar dapat menantu baru.”
“ Lamar sekarang aja Kak Alfi” Rendy sambi ketawa
“ Tante saya sayang sama anak tante, mau nggak tante ambil saya sebagai menantu tante.”

Semua pada nyorakin Alfi
“ Setuju saja, kan kami dah lama kenal nak Alfi, berpulang sama yang mau dilamar aja, mau apa nggak?”
“ Mau” jawab Vita menunduk malu

Suasana semakin heboh mendengar jawaban Vita
“ Tapi ada syaratnya, Vita mau nikahnya setelah kak Rendra nikah.”

Semua makin heboh kecuali Rendra dan Alfi. Rendra garuk-garuk kepala.
“ Jangan bawa-bawa kakak dong, low mau duluan nggak apa-apa.” Jawab Rendra.
“ Nggak mau,ditunggu pokoknya”
“ Penuhi aja kak” Rendy dengan ketawa
“ Loe pikir gampang syaratnya” Rendra mengusap kepala Rendy
“ Jadi aku harus menungu Rendra dulu donk” Alfi dengan manyun
“ Kan sahabat sejati” jawab Vita sambil ketawa
“ Ternyata kita benar-benar sohib sejati Ndra, masalah nikah aja harus saling menunggu.”
“ Iya, sorry ya, ni karna syarat adikku yang tolol ini.”

Semua yang ada dirumah ketawa senang mendengar semua itu. Bahkan teman-teman Rendy juga nggak tahan menahan tawa. Hubungan mereka semua membaik malam itu juga.Rendra pun berjanji akan cari jodoh secepatnya supaya Alfi tidak kelamaan menunggunya.
TAMAT

Karya : Erna Gusnita
FKIP MATEMATIKA

NB : Low ada kesamaan nama, cerita dan tempat kejadian tolong dimaafkan. Cerita ini hanya fiktif belaka.

Baca Juga Cerpen Cinta atau Cerpen tentang Cinta yang lainnya.

Kata-kata Hikmah Islam Penyejuk Jiwa

Kata-kata Hikmah - Sebelum saya posting Kata Hikmah Islam terlebih dahulu saya mengenalkan postingan saya sebelumnya yakni  Kata-kata Mutiara.
Dalam kehidupan memang kita butuh yang namanya siraman rohani sebagai penyejuk jiwa kita yang setiap hari penuh dosa yang disengaja atau tidak sengaja dan berawal dari situ saya sadar bahwa Hidup didunia ini hanyalah untuk mencari bekal dikehidupan yang kekal atau alam akherat, maka dari itu saya share kata-kata Hikmah yang mungkin bisa mengingatkan kita dari sang pencipta atau sebagai Obat penenang jiwa, kata-kata hikmah Penyejuk jiwa dibawah ini mungkin kata-kata Hikmah Islami yang sangat dasyat karena kata-kat hikmah sebagian saya ambil dari tulisan sahabat Rasulallah, Okelah langsung saj untuk membaca Kata-kata Hikmah Islam dibawah ini.

KUMPULAN KATA-KATA HIKMAH ISLAM

Selemah-lemah manusia ialah orang yg tak boleh mencari sahabat dan orang yang lebih lemah dari itu ialah orang yg mensia-siakan sahabat yg telah dicari (Khalifah Ali bin Abi Thalib)
Orang yang terlalu memikirkan akibat dari sesuatu keputusan atau tindakan, sampai bila-bilapun dia tidak akan menjadi orang yang berani (Khalifah Ali bin Abi Thalib)
Orang-orang yang suka berkata jujur mendapatkan tiga hal, kepercayaan, cinta, dan rasa hormat. (Khalifah Ali bin Abi Thalib)
Perkataan sahabat yg jujur lebih besar harganya daripada harta benda yg diwarisi darinenek moyang. (Khalifah Ali bin Abi Thalib)
Selemah-lemah manusia ialah orang yg tak mau mencari sahabat dan orang yang lebih lemah dari itu ialah orang yg mensia-siakan sahabat yg telah dicari. (Khalifah Ali bin Abi Thalib)
Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak. (Khalifah Ali bin Abi Thalib)
Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusannya sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan jahat dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya terhadap kehormatan dirinya. (Khalifah Ali bin Abi Thalib)
Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan tapi ilmu bertambah bila dibelanjakan. (Khalifah Ali bin Abi Thalib)
Orang yang tidak menguasai matanya, hatinya tidak ada harganya (Khalifah Ali bin Abi Thalib)
Setiap kamu adalah pemimpin, yaitu : Pemimpin terhadap diri dan keluarganya, pemimpin terhadap masyarakat dan bangsanya.( Mousthafaal-Gholayaini).
Pengkhianatan yang paling besar adalah pengkhianatan umat, sedang pengkhianat yang paling keji yaitu pengkhianatan pemimpin. (Ali bin Abu Thalib).
Jika kamu berhadapan dengan gurumu, sesungguhnya secara hakikat kamu sedang berhadapan dengan rasul. Sadar akan hal itu, maka hormatilah gurumu. (Sebagian Ulama).
Berteman dengan orang yang bodoh yang tidak mengikuti ajakan hawa nafsunya sungguh lebih baik bagi kamu ketimbang berteman dengan orang alim tapi suka terhadap nafsuya. (Ibnu Athaillah as-Sakandari).
Cintai dan sayangilah para fakir miskin, maka Allah akan menyayangimu. (Nabi MUHAMMAD SAW).
Ya Allah! Seandainya Engkau akan mengadili kelak pada hari kiamat, maka jangan Kau adili aku di dekat (Nabi Muhammad SAW)
Tidak ada suatu kebahagiaan bagi ornag-orang muslim setelah mereka memeluk Islam, seperti kebahagiaan mereka ketika itu. (Anas r.a.).
Aku tidak pernah berdialog dengan seseorang dengan tujuan aku lebih senang jika ia berpendapat salah. (Imam Syafií).
Aku suka mendoákan saudara-saudaraku sebanyak 70 orang, dan nama-nama mereka kusebut satu persatu dalam panjatan doáku itu. (Abu Darba).
Siapa yang memenuhi hatinya dengan kewaspadaan dan keikhlasan, maka Allah akan menghiasi badannya sebagai pembela agama dan menjadikan hadits sebagai pedoman hidup.
Pangkal dari seluruh kebaikan di dunia maupun di akhirat adalah taqwa kepada Allah. (Abu Sulaiman Addarani).
Yang disebut dengan teguh hati adalah memegang dengan sungguh-sungguh apa-apa yang dibutuhkan oleh kamu dan membuang yang selain itu. (Aktssam bin Shaifi).
Ada dua hal tidak tertandingi kejelekannya, yaitu: Berbuat syirik dan membuat rugi umat Islam. Begitu pula, terdapat dua perkara yang tidak tertandingi kebaikannya, ialah : Beriman kepada Allah, serta memberi manfaat kepada umat Islam. (Kanjeng Nabi).
Hati-hatilah terhadap senda gurau, karena tidak sedikit bahaya yang terdapat didalamnya. Berapa banyak senda gurau anatara dua sahabat yang berakhir pada perkelahian.
Setiap orang di dunia ini adalah seorang tamu, dan uangnya adalah pinjaman. Tamu itu pastilah akan pergi, cepat atau lambat, dan pinjaman itu haruslah dikembalikan. (Ibnu Mas’ud)
Saya tidak bangga dengan keberhasilan yang tidak saya rencanakan sebagaimana saya tidak akan menyesal atas kegagalan yang terjadi di ujung usaha maksimal. (Harun Al Rasyid)
Allah SWT memerintahkan kita untuk mau berpikir tentang penciptaan-Nya yang begitu menakjubkan, rumit, dan kompleks. Namun semua itu telah Allah SWT tundukan untuk kita. Ini sebagai tanda bahwa manusia memiliki kemampuan (dari Allah) untuk menundukan apa yang ada di langit dan di bumi. (MI)
Memohonlah kepada Allah supaya memperbaiki hati dan niatmu, karena tidak ada sesuatu yang paling berat untuk kau obati selain keduanya. Ketika hatimu sedang menghadap (Allah) maka seketika mungkin untuk berpaling, maka ketika menghadap itulah engkau harus merampasnya supaya tidak berpaling. (Uwais al Qarni/ Bahjatul Majalis, Ibnu Abdil Barr)
Untuk sementara itu saja diatas dan kami akan sesering mungkin Update Kata-kata Hikmah Islam menjadi lebih banyak dan semoga kata-kata Hikmah islam menjadikan anda lebih dekat denga Allah. SWT.  Amin

Kamis, 01 Maret 2012

Padang Bulan - Cerpen Religi Terbaru 2012

PADANG BULAN
Cerpen Qaem

Di pelataran mesjid taqwa
memandang purnama sangatlah indah
kanvas langit malam menghitam
tambahkan tampak terang kuning semakin menguning
tak ada deretan gemintang
hingga kelam langit luar biasa kelam
dan terang bulan menguning jelas benerang memancar kuning

siapa bilang lukisan malam dengan terang bulan dan kerlip bintang itu menakjubkan?
Indah se indah ketika terang hanya tunggal dan nyala benerang bulan diatas altar kelam mlam yg tak berujung semakin hitam
maka biarkan gemintang memiliki latar hitam masing2 di tempat yg tak berdampingan

karena di pelataran mesjid taqwa
q lihat bulan berdiam dengan sunyi
dia bertasbih
terang kuningnya berderai bak rembesan air mata, bulir demi bulir
merembes menerobos hitam dedaunan yg terlelap lalu brjejak titik demi titik diatas coklat tanah berbelang-belang, kuning-kuning, terang-terang

karena di pelataran mesjid taqwa
q resapi tiap nyawa akan memilih sexap jika mengadu pada tuhan
istighfar, tahmid dan tahlil semakin melebur dalam relung bila sunyi jadi bayang
demikian pada purnama, q lihat dia tidak malu merengek sesenggukan mengadu pada tuhan
berzikir di tiap pantulan sinar, memuji asma tuhan

di pelataran mesjid taqwa
padang bulan bertasbih buat sang pemberi ampunan
lama q tertunduk sebab malu menusuk
purnama yg tak pernah berdosa terus saja merendah
sementara tangan berdecak kotor dan darah tak pernah menyadarkan bahwa pemiliknya makhluk hina

dipelataran mesjid taqwa, masih saja bulan bertasbih dengan derai air mata
q tanyakan pada bayangan tubuh yg sedari tadi diam di tekan hitam

"kapan terakhir aku menangis buat Tuhan"

kelam bayang hanya stagnan, seperti tak mau di hakimi atas mata yg tak pernah basah oleh pexesalan
kelam bayang membisu membiru menambah malu
mengapa wajah tidak bisa terbenam dalam tanah?

Di pelataran mesjid taqwa
berarak awan gempal kelam hitam menambal hitam langit yg sedikit terang
menelan bulan, derai tangis kuningx tersapu, bulan menghilang
kini purnama sampai pada Tuhan
penyesalannya terkabul, syafaat jadi karunia angkat kemulian

"bulan.. Sampaikan maaf q pada tuhan
sampaikan tobat buat tiap lengkung dosa yg berlimpahan
sampaikan tangis q atas angkuh yg melenakan dari kesyukuran
sampaikan permintaan hamba hina, yang masih meminta kasih sayang
bulan, sampaikan semuanya, buat makhluk yg terlalu malu bahkan utk meminta belaian"
***

di pelataran mesjid at-taqwa, seorang bapak di hakimi masa karena kedapatan mencuri 3 ayam warga, dia digiring, disalib, di mandikan bensin, di lempar dalam panas kobaran

di pelataran mesjid, 3 anak kecil, yg 3 hari lalu tak punya secuil makanan, berlari, menghambur pada ramainya warga dan kisaran api yg melempar percikannya
3 anak kecil yg di tiap tangan mereka memegang ayam yang baru saja di bakarkan bapaknya, mereka menangis, meraung-raung sejadi-sejadinya sambil menatap tiap liuk api yg terasa sampai hati
"jangan bakar ayah..!
Jangan bakar ayah...!
Q mohon.. Jangan bakar ayah...!"

Baca juga Cerpen Islam yang lainnya.

Takdir Illahi - Cerpen Islam 2012

TAKDIR ILLAHI
Cerpen Rika

Heru adalah pemuda yang taat beragama apalagi kepeda kedua orang tua. Ia sangat menghormati siapapun. Ameskipun ia masih sangat muda, namun Ilmu agama yang ia miliki tidak kalah dengan ustad. Maklum saja, dia adalah pemuda jebolan pesantren. Namun demikian dia sama sekali tidak memperlihatkan ilmu yang ia miliki sedikitpun, apalagi di panggil ustad, dia tidak mau. Dia tetap rendah hati dan tidak sombong sama sekali. Malah dia cenderung menyembunyikan Ilmu yang ia miliki. Kehidupannya pun sederhana. Sehari-hari dia mengais rizki dari bengkel kecil di rumahnya. Tidak seperti orang pada umumnya, dia tidak bingung dengan apa yang akan dimakan besok jika bengkel sedang sepi. Bagi saya cuma satu kalimat ungkapan untuk dia “pemuda idaman setiap wanita”. Bagaimana tidak, sudah pintar, sederhana, soleh lagi. Wah benar-benar perfect.

Meski begitu ia memiliki teman dari berbagai kalangan. Ia juga tidak membeda-bedakan siapapun dalam berteman. Sampai suatu hari salah seorang temannya, sebut saja Udin, akan menikah. Udin meminta dia untuk ikut mempersiapkan segala sesuatunya. Dia dan Udin memang sudah  seperti saudara. Orang tuanya Udan juga sudah menganggap Heri seperti anaknya sendiri. Heri juga diperkenalkan dengan calon istrinya Udin. Dyah namanya. Gadis berjilbab yang cantik dan solihah.

Dan merekapun mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahan Udin. Mulai dari akad nikah, resepsi, persewaan perlengkapan, juga undangan tentunya. Tak seharipun mereka lalui tanpa bersama saat proses persiapan pernikahan ini. Persiapan sudah hampir rampung. Hanya tinggal menyebar undangan saja.

Namun kali ini Udin sendirian tanpa ditemani Heri. Saat perjalanan menuju rumah saudaranya, sesuatu tak terduga terjadi pada Udin.
“Bresss…”, kecelakaan menimpa Udin.
“kring..kring..kring..,  nada dering handphone Heru pun berbunyi.
“Assalamu’alaikum..”, belum sempat Heru bertanya dari siapa telepon ini, sambil serius mendengarkan orang yang menelepon, tiba-tiba terucap oleh mulut Heru, “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un”. Ternyata itu adalah telepon dari rumah sakit yang mengabarkan bahwa sahabat karipnya itu kecelakaan. Tanpa pikir panjang Heru langsung tancap gas menuju rumah sakit.

Di saat pernikahan sudah di depan mata, Udin justru meregang nyawa. Kondisinya kritis karena kehilangan banyak darah. Keluarga berkumpul. Semua usaha telah maksimal dilakukan oleh dokter. Hanya do’a yang tersisa.

Pada saat-saat terakhir Udin ingin mengatakan sesuatu yang mungkin itu adalah permintaan terakhirnya. Dokter pun mempersilakan Heri untuk masuk. Namun hanya Heri dan Dyah yang diminta Udin untuk masuk. Tak lama kemudian Heri dan Dyah keluar. Sementara Dyah tak kuasa menahan tangis, untuk yang kedua kalinya terucap kata dari mulut Heri, “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un”. Tangis Dyah semakin pecah dan seluruh keluarga pun tak dapat menahan sesuatu yang memaksa keluar dari mata mereka. Suasana yang semula penuh kebahagiaan, kini berubah menjadi mendung.

Tujuh hari penuh selepas pemakaman, keluarga beserta para tetangga menggelar tahlilan dan di,a bersama yang ditujukan tentu saja untuk Almarhum Udin. Dyah masih belum bisa mengikhlaskan kepergin calon suaminya itu. Entah apa yang harus Dyah dan keluarganya lakukan. Undangan telah tersebar. Dua minggu lagi akad dan resepsi seharusnya digelar. Namun mereka hanya bisa berdo’a kepada Illahi Robbi, agar diberikan ketegaran atas musibah ini.
Rupanya Alloh menyimpan takdir lain untuk mereka semua…

Setelah usai 7 hari tahlilan, Heru baru berani untuk mengatakan pesan terakhir yang disampaikan oleh Almarhum Udin. Heri pun mengumpulkan keluarganya, keluarga Almarhum Udin, dan keluarga Dyah. “Ada apakah gerangan kau mengumpulkan kami semua, nak?”, Tanya ayah almarhum.
“Sebelumnya saya mohon maaf karena mengumpulkan kalian tidak pada waktu yang tepat. Ada yang harus saya sampaikan. Ini mengenai pesan terakhir yang disampaikan almarhum kepada saya.”, jelas Heru.
“Baiklah, lanjutkan ceritamu!”,ayah Dyah menyambung.
“Sesaat sebelum Alloh memangggilnya, ia berkata padaku ingin menyampikan sebuah amanah untukku. Bahwa aku harus menjaga calon istrinya dan menggantikan posisinya dengan kata laun aku yang harus menikahi Dyah. Dan Dyah pun tahu akan amanah ini.”, jelas Heru dengan lebar.
“Benarkah itu Dyah?”, Tanya ibunya.
“Benar, Bu….”, jawab Dyah sambil menahan air mata.
“Subhanalloh…. Ini adalah amanah yang wajib kau laksanakan, nak. Insya Alloh kami semua ikhlas karena ini adalah permintaan almarhum yang sudah kau anggap saudaramu sendiri. Bukan begitu Pak, Bu?”, jelas Ayah almarhum.
“Iya, kami semua ikhlas dengan amanah ini. Kami yakin ini semua adalah rencana Alloh untuk kalian juga semua yang ada di sini.”, jawaban Ibu Dyah ini didukung oleh anggukan setuju dari semua keluarga. “Alhamdulillah, Alloh telah menunjukkan Kuasa-Nya. Kita sebagai manusia hanya bisa merencanakan, tapi Alloh jualah yang menetukan. Laksanakanlah amanah ini, nak!”, Perintah ayah Heru.
“Subhanalloh, Insya Alloh saya akan melaksanakan amanah ini. Bagaimana denganmu Dyah, maukah kaumenerimaku sebagai pengganti almarhum?”, Tanya Heru.

Tanpa berkata, Dyah hanya mengangguk seraya tersenyum haru.
“Alhamdulillah…..”, seluruh keluaraga memuji Asma Alloh dengan nafas yang lega.
Hari yang ditunggu telah tiba. Heru mengucap ijab qobul dengan lancer. Seluruh keluarga tersenyum haru. Namun banyak raut muka yang menyimpan tanda tanya akan kejadian. Tapi tidak jadi masalah, karena ini sudah menjadi takdir Allah.

Baca juga Cerpen Islam yang lainnya.

Cerpen Islam 2012 - Tuhan yang Sekarat

TUHAN YANG SEKARAT
Cerpen Qaem

Gelas di atas meja itu sepertinya baru di letakkan. setiap masuk ke kamar remang ini, asap susu hangat membumbung tinggi mengganti aroma hambar ruang yang hanya memiliki satu jendela menghadap ke salokan besar tempat ibu-ibu mencuci makanan keluarganya, dan tempat anak-anak melarikan jiwa liarnya di setiap arus kanal yang berwarna hijau.. meski gelas itu tak pernah terjamah oleh satu-satunya penghuni kamar ini, kecupan di bibir gelas tak pernah terjadi, tetap, suster manis itu setia menyediakan susu tiap malam.. lalu paginya di ambil kembali, dan malamnya gelas itu di letakkan di atas meja lagi dengan susu segar yang paginya akan di buang lagi..
"gimana berkembangan ayah ku?"'
"hemm.. dia msih seperti dulu,  saat kau membawanya kesini dengan penuh kebingungan, matanya selalu sayu, bibirnya kian melengkung, namun tak lelah ia mengucapkan kata-kata itu
"aku sudah tua.. aku sudah tua.."

Tiap siang aku sudah terlalu lelah menjalankan tiap aktifitas ganda q.. berkutat dengan desertasi  yang empat tahun telah ku kerjakan, namun terasa selalu ada yang kurang dengan tiap analisis yang kulakukan, data-data yang telah terkumpul seolah  melayang-layang pada batas realitas yang kini aku sendiri tertodong olehnya.. "neurashthenia" dengan gejala yang sama sekali berbeda dan penyebab yang sama sekali tidak bisa di selidiki atau bahkan bisa dibilang tidak ada.. jika seseorang yang selama ini, tak pernah depresi, tak otoriter dalam keluarga, malah selalu membantu anaknya mengerjakan pr matematika dan mengajaknya berlomba lari tiap sore dan menjalin hubungan yang harmonis dengan handai taulan dan rekan kerjanya.. tiba-tiba, saat berlari mengejar putrinya yang telah melesat sangat jauh mendahuluinya, menjerit ketakutan, lalu tersungkur dengan kaki yang seakan patah, menangis dan merasa kematian akan segera menjemput… kejiwaan yang tak seharusnya tertimpa bagi orang yang selalu ceria, lalu dimana salahnya??.. untuk masalah ini, disertasi yang telah tersusun rapi seakan berantakan, pengamatan ku seolah di perhadapkan pada sisi gaib yang hanya Tuhan yang Tahu.. tapi pekerjaan ini tak bisa ku hentikan, karena tidak hanya rasa penasaran dan cinta ilmu pengetahuan yang membuat ku bersikeras menyelesaikannya.. ada hal yang lebih penting. Sesuatu yang selama 23 tahun ini kurindukan dan ku usahakan memunculkannya kembali pada seorang yang telah membuat ku menjadi tangguh seperti sekarang ini. Dan juga, ternyata menjadi dosen terbang untuk jurusan kejiwaan menyedot setengah dari tenaga dan perhatian ku, maka lelah tak pernah lepas dari keseharian, bahkan jika tersedia pesawat jet yang siap membawaku menembus waktu.. tetap lelah selalu meminta salah satu sisi paha ku untuk di pangku.

Tapi lelah tak bisa menahan badan dan menyeret kakiku untuk masuk kedalam kamar lalu berbaring diatas ranjang bergambar hamparan lahan gandum, sehingga seakan merebah badan diantara beribu belaian daun-daun yang menguning berselimut langit senja.. dan dengkuran keras tak lagi malu untuk ditahan.. yah.. lelah akan selalu kalah jika malam sudah Sepertiga menusuk jiwa-jiwa yang hendak mempersembahkan diri mereka di altar mimpi tempat dunia khayal menari dan merobek getir kehidupan nyata yang menyayat jika terngiang. Dan juga buat q, Malam hanya menjadi bayangan di batas kamar, yang di dalamnya  ada gelas  terisi sus segar terletak di atas meja, gelas yang tidak pernah terjamah oleh penghuninya.. penghuni yang sangat suka dengan nyala lampu remang dan takut akan kematian, penghuni yang menghabiskan waktunya dibawah ranjang sambil memegang beberapa butir suplemen di tangan kirinya, dan tasbih di tangan kanannya..
"kemari gadis kecil ku.. tutup segera pintu itu, sudah beberapa bulan ini, kematian duduk di bangku depan kamarku.. jangan.. jangan biarkan masuk..!!!"

Aku ikut merebah di bawah ranjang, menatap lamat-lamat pada wajahnya yang tak pernah lepas dari ekspresi gelisah ketakutan
"sudah kah.. kau makan hari ini ayah..??"
"tentu saja.. makan adalah cara kuno yang ampuh agar kita terhindar dari kematian"
"hemm mari kita jalan-jalan.. pemandangan malam hari akhir-akhir ini lebih indah dari sore hari saat engkau mengajak ku ke taman melihat kupu-kupu yang berpacaran dengan mawar"
"sudah gila kau..!!! kematian masih terus mengintai ayahmu..!! matanya tak pernah terpejam.. aku heran juga padanya.. tak pernah sekalipun ku lihat ia makan, atau minum.. tapi masih kuat betul ia mencoba mengambil jiwa ku..!!
"sudah ku katakan.. kematian telah ku tikam dari dulu saat dia mencoba mengait kakimu di taman sana.. tikaman ku membuat ia tak bisa bernapas barang sejenak ayah..!! karena pisau ku merobek kening hingga tertembus di belakang kepalanya..!!!"
"tidak.. tidak..!! jangan kau bohongi lagi ayah mu ini.., kau masih sangat belia ketika itu.. bahkan menyuapi dirimu sendiri tanganmu masih gemetar..!!"
"Kau yang membohongi dirimu sendiri ayah.."

Setetes air mengalir pelan dari sudut mata.. dan sekejap tersapu oleh lengan baju
"tidak kah kau bosan ayah.. tertengkup di bawah ranjang ini tiap saat..?? kenapa tak kau sentuh susu segar itu..? atau lihatlah keluar jendela sana.. ada banyak wanita yang sedang tertawa melihat anak-anaknya berenang meniru gaya kodok sedang terapung…?"
"aku akan bosan disini, kalo kematian pun telah bosan.."
"dia sudah bosan ayah..!! dia sudah bosan melihatmu menuduhnya sejak 23 tahun yang lalu..!!"

Aku sedikit membentak padanya.. wajahnya ia jauhkan dari pandangan ku.. lalu berpaling disisi yang lebih gelap dari ranjang itu.. dan mulai terisak.. berirama dengan gemuruh dada ku
"maafkan aku.."
"tidak kah kau sayang pada ayahmu yang sudah tua ini nak?"
"aku tidak akan menemanimu tiap malam di bawah ranjang yang pengap ini jika tak menyayangimu yah.."
"aku sudah tua.. aku sudah tua.."
"dan aku rindu pelukanmu yah.. aku rindu tangan mu yang menuntun tangan ku membuat angka delapan.. aku rindu wajah mu saat mengajarkan rumus bangun ruang.. aku rindu saat dimana aku bisa mengalahkanmu berlari.. aku rindu semangatmu.. aku rindu ceriamu.. aku rindu sayangmu… apalagi saat ini.. ibu telah tiada"

Kali ini giliran ku yang menangis tak tertahan. Sambil terus membelai ubannya yang semakin sedikit, memperlihatkan kulit kepalanya yang hampir terkelupas..

Ia lalu membalik kembali wajahnya pada ku..
"itu karena ibu mu tak mau mendengar perkataan ku..!! sudah berulang kali ku katakan padanya bahwa kematian selalu mengintai rumah kita.. tapi ia tak mendengarku malah menganggap ku gila dan menangis, memohon aku untuk berhenti berbicara tentang kematian..!! ia tak mau berkerja sama.. ia tak mau mengikuti ku sembunyi di bawah ranjang,, maka matilah ia di tarik kematian.. itu sebab kesalahannya sendiri..!!

Mukanya menegang, memperlihatkan keseriusan.. sebenarnya, aku tidak suka ayah berkata seperti itu.. sebab jika bukan karena kelakuannya yang aneh saat itu, mungkin saja ibu tak harus murung dan berpikir keras bagaimana agar suaminya bisa kembali normal.. tanaman-tanaman yang tiap mentari menyambut, setia ia temani dengan siraman, tak lagi ia pikirkan hingga layu mati diterbangkan oleh angin bersamaan dengan semangat hidupnya yang sirna, hingga kulitnya keriput melampaui umurnya..dan beliau merasa lebih tenang jika kembali di dalam tanah…
"janganlah seperti itu yah.. ibu sangat sayang pada kita…  lagi pula sekarang aku disini.. aku percaya padamu.. aku akan bekerja sama denganmu.. tapi sampai sekarang kau msih belum memberitaukan ku  seperti apa rencana kita membunuh kematian??"
"ia terlalu kuat.. dan aku sudah tua…"
"biarkan aku yang membunuhnya.. ayah tinggal memberitaukan bagaimana caranya"
"tidak.. kau masih kecil.. bisa-bisa kau yang ditarik olehnya…"
"ayah… gadis kecilmu sekarang sudah tumbuh menjadi gadis yang besar dan kuat.. kau tahu.. tiap pagi aku sendiri yang menyapu pekarangan rumah kita yang luas.. aku sendiri yang mengangkat gallon dari tempat pengisiannya.. dan umur ku saat ini sama dengan umurmu saat kau masih bisa mengalahkanku berlari.. aku sudah siap membunuh kematian untuk mu.."
"tidak.. tidak… kematian tak bisa dibunuh.. dia Cuma bisa diusir"

Pandangannya melihat sisi lain dari sudut ranjang.. pikirannya berputar mengais-ngais data yang tersimpan di memori ingatannya.. tiba-tiba ia mencengkram kedua lenganku.. mata nya menyala bersemangat
"aku harus kembali muda..!! ia sudah ku katakan.. aku harus kembali muda..!! nak.. sudah kau lihat obat yang bisa membuat muda?.. atau suplemen apa saja. Atau terapi agar daya tahan tubuh kembali seperti saat kita memasuki remaja.. tolonglah nak.. terapi dengan magnet yang kau ajarkan kemarin kurang manjur.. lihat… rambut ku tetap berubah putih dan mulai berguguran..!!

Cengkramannya mulai ku lepas dengan pelan.. lagi..lagi.. dia meminta hal mustahil yang sama.. saat seperti ini, aku mulai keluar meninggalkannya, tapi untuk malam ini tidak.. akan ku selesaikan hingga ia sendiri yang mengalah atau tertidur dengan logika-logikanya yang tak masuk akal
"ayah… semua orang akan tua.. setiap benda akan rapuh.. dengan cara apapun mencegahnya tidak ada yang bisa lari dari ke-usang-an.. itu sudah kehendak alam.. itu sudah kehendak tuhan..!!" begitu pula dengan kematian.. aku pun nanti akan mati , ibu mati juga karena sudah saatnya mati.. meski ayah tinggal disini buat selamanya.. tetap  mata ayah akan rabun.. kulit akan keriput, tubuh akan lemas, pembuluh darah akan menyempit, nafas mulai tersengal… dan kematian pasti datang.. meski ayah sedang di bulan… ini sudah kehendak Tuhan..!!"
"jangan sekali-kali kau bicara tuhan..!!! dia itu sesuatu yg tidak ada..!!! tidak ada yang namanya tuhan..!! manusia sudah cukup kuasa untuk mengurus dunia ini tanpa tuhan..!!! hal ini sudah ku ajarkan padamu semenjak kecil..!! dan kau berani menyebut-nyebutnya sekarang…??!!! Apa yang menyebabkan mu bisa percaya dengan tuhan…!!"

Matanya melotot.. air liurnya muncrat menampar-nampar wajahku yang ketakutan.. baru q ingat.. ternyata ayah ku anti tuhan.. dari dulu,, dia tidak percya tuhan.. tapi ku beranikan diri untuk tetap menatapnya.. meski air mata ku kembali meleleh
"karena aku percaya tua itu pasti.. mati itu pasti.. dan manusia lemah terhadapnya.. manusia tidak ada apa-apanya, kepintaran yang ayah banggakan, kekuatan yang ayah andalkan tidak sanggup menghalangi ketuan dan kematian bukan..? lalu siapa yang membuat kematian dan ketuaan? Manusia kah??.. kalo begitu kenapa manusia tidak sanggup menghentikan sesuatu yang ia ciptakan sendiri?.. jikalau ini system.. kenapa tidak ayah pikirkan dengan kepintaran yang ayah miliki, siapa yang membuat system ini..?? karena tentunya ayah yang mengandalkan kepintaran, tidak menerima ada system yang terjadi secara kebetulan, ya..kan.. ?? kenapa pula ayah memegang tasbih itu.. ayah takut mati kan?.. dan pada akhirnya ayah meminta perlindungan pada sesuatu yang ayah sendiri katakan hal itu tidak ada??"

Aku menatap ayah ku dalam-dalam.. mencoba menjejaki tiap pikiran yang sekarang bermunculan dari wajah ayah yang termenung.. sambil menahan tangisku.. kembali aku memohon dengan tatapan yang iba.. agar ia kembali sadar bahwa kematian tidak lah hanya mengintainya.. tapi mengintai semua manusia..  lama ia termenung .. ia kembali membelakangi ku.. dan tangisnya pecah..hingga badannya gemetar hebat meski gelap menyelimutinya

Saat derai tangisnya memecah hening kamar itu.. aku tersentak,, seakan tersadar dari hal yang ternyata begitu dekat.. hal yang telah ku analasis selama ini, dan kini kudapatkan dibawah ranjang bersama seorang ayah yang mengidap kelainan jiwa " neurashthenia" yang tidak di ketahui sebabnya.. tapi kini aku paham.. paham dengan sangat..!! tidak ada yang namanya kebetulan, tidak ada yang datang begitu saja.. seperti penyakit yang menyerang ayahku.. Tuhan..!!! ya.. penyebabnya adalah Tuhan…!!! Ayah ku tidak percaya Tuhan.. bukan..bukan.. tidak seperti itu.. persisnya, Tuhannya adalah akal, sifat kuasa yang disandang Tuhan, ia sandingkan dengan akalnya sehingga akalnya adalah Tuhan..!! namun disaat akalnya jatuh di jurang yang ia tak bisa lewati.. maka jiwanya berontak mempertanyakan legalitas akal sebagai Sang maha kuasa.. sang Tuhan sejati.. saat akalnya berpikir tentang kematian dan segala akibatnya.. akalnya sendiri tidak bisa membuatkan jalan keluar dari masalah kematian.. maka jiwanya gelisah dan mulai menuntut akal yang dijadikan Tuhan.. tapi tetap akal tak bisa memberikan jalan keluar.. pada akhirnya akal secara otomatis memproyeksikan kematian adalah sesuatu yang bisa dihindari.. namun lagi-lagi jiwanya tak bisa menerima karena menghindar bukan menyelesaikan masalah.. maka jiwanya labil.. jiwa ayah ku labil dan dari kesadaran jiwanya sendiri dia mencari zat yang tak dinalar namun selalu ada, yang bisa berkuasa, yang tak bisa diperintah yang dengan sendirinya di sebut Tuhan.. tasbih itu sebagai bukti pencarian jiwanya.. dan ketidaktahuannya menjadi kenyataan bahwa kesadaran Tuhan sejati belum menjadi kesadaran akal tapi masih sebatas kesadaran jiwa yang memang butuh Tuhan dengan sifat kuasanya..
"pergi nak… kurasa kau menemukan sayang yang melebihi sayang ayahmu.."

Dengan suara isaknya ia tetap membelakangiku..
"iya.. aku akan pergi, tapi tidak akan meninggalkanmu.. kau sendri yang mengatakan bukan.. cobalah peduli pada semua, meski sayang mu tak bisa merangkul semuanya.. dan kini akan ku kenalkan kau pada rasa sayang yang bisa merangkul semuanya dan membuat tenang dari segala hal"

Aku lalu melangkah pergi.. mata ku masih sembab, namun hati ku kini merasa tenang.. segera saja ku temui suster yang merawat ayahku
"suster.. trima kasih atas semuanya.. malam ini aku ingin membawa ayah ku pulang"
"dia sudah sembuh?"
"tidak.. dia lebih parah dari yang ku kira.."
"lalu ap yang membuat mu ingin membawanya pulang?, kau putus asa?"
"tidak..tidak.. justru aku makin bersemangat dalam semua hal tentang ayahku.. karena ktika dia sembuh.. maka ayah akan lebih sadar dari diri ku sendiri.."
"aku masih belum mengerti..?? dengan apa kau menyembuhkannya"
"akan ku kenalkan Tuhan padanya.."

Baca juga Cerpen Islam yang lainnya.

Cerpen Ibu Terbaru 2012 - Tak Ber Ayah

TAK BER-AYAH
Cerpen Qaem 

Riuh gemuruh suara teriakan dan tawa anak kelas 4 sd berlarian menembus celah-celah jendela ruangan, riuh itu baru berhenti perlahan tatkala bu guru menghentakkan mistar panjangnya ke papan tulis yang penuh dengan coretan dan gambar naruto. Pagi itu, ruangan kelas 4 seperti audisi solo pelawak, tiap anak akan menceritakan pahlawan hidupnya,.. tiap anak yang bercerita, maka gemuruh akan tercipta, dan mistar kembali menghantam papan tulis untuk merendam riuh agar tak mengaung lagi.
"selanjutnya.. Husain…"
"Hadir bu.."
"Maju…!!"

Suara mulai menelisik dari kolom meja-meja.. kali ini objeknya makin menarik, badan tirus cekung, baju selalu kedodoran, tanpa lupa ujung lengan baju selalu mengkilat dengan sisa ingus yang mengering..

Husain gentar, tak biasanya, dia yang biasa menjadikan dirinya sebagai bahan tertawa'an, kali ini berdiam lama memandangi sepatunya, bergerak pelan dan menatap diam-diam temannya yang sudah tidak sabar melihat aksinya, melihat kembali pada ibu guru dengan tatapan memohon, untuk sekarang ini tak perlu lah dia naik, ibu guru tak merespon, tatapan teman-teman menekannya untuk segera beraksi, dia melangkah dengan penuh beban, kulitnya mengerucut, tapi tak berkeringat.
"Silahkan Husain, perkenalkan pahlawanmu ke teman-teman…"
"Paling cibi maruko chan bu.."

Wuakakakakaka…..
"upin-ipin..! kan tivi dirumahnya Cuma bisa dapat siaran mnc…!!!
Wuakakakakakaka….!!!!!!

Gemuruh kembali menggelepar, disertai hentakan meja yang bersahut-sahutan, bahkan ibu guru harus menyentak mistarnya lebih dari sekali untuk menenangkan, Husain terpaku, jari-jari tangannya kaku menarik ujung baju, entah kenapa kantong ketawanya mengempis, hingga  bibirnya malah mengatup keras layaknya jahitan, saat diam dan tenang barulah ia bersuara dengan nada yang begitu pelan.
"P..p…pahlawan ku… ii..i.bu…
i..ibu ku…
ibuku…."

seketika hening menerpa.. tangan-tangan yang sedari tadi tak lelah-lelah menghantam meja tergelatak mati diatasnya, suara terkunci, semua mata termasuk ibu guru sepenuhnya menatapa tajam dan heran pada husen yang baru berucap ibu, telah meneteskan air mata, husen segera tertunduk,  mencoba menenangkan hatinya yang telah berkecamuk, dan kini di kelas, cerita itu mengalir pelan namun riaknya deras, membuat kontes lawak bubar, berganti putaran nostalgia, mempertontokan salah satu sudut kepahlawanan yang memilukan, serasa husen ingin berkata, "siapa bilang pahlawan itu selalu super?"
***

Satu malam pada beberapa tahun yang lalu, sekelompok pria berpakaian gamis mendatangi rumah yang terletak di tengah-tengah sawah, kedatangannya mendadak, hingga si tuan rumah tak bisa menduga, gerangan apa yang menyebabkan mereka datang di waktu enak-enak bercengkrama dengan keluarga.. tujuan itu tersimpan rapi di wajah-wajah mereka yang senantiasa tersenyum, di ruangan tamu yang remang itu, mereka mencoba berbasa-basi terlebih dahulu, melelehkan suasana, tapi tetap rasa penasaran menusuk-nusuk  sikap yang sedari tadi seolah acuh, dan cicak-cicak pun tau, ini awal kehidupan.. mereka kembali kesarangnya untuk mengurus telur-telur yang hampir menetas
"langsung pada intinya, disini bu.. kami mewakili sodara ahmad, ingin mempersunting lina keponakan ibu.. sebagai perwujudan jihad seorang muslim menyempurnakan imannya dan membentuk keluarga muslim yang mawaddah"

Mendengar pengakuan itu, rasa penasaran lenyap berganti khawatir yang menjerat, bukannya apa, bukannya tak suka, tapi ini betul-betul mendadak.. harusnya tidak langsung seperti ini, karena dia sendiri menyadari tidak punya hak atas keponakannya dalam hal ini, tapi ia tak enak dan takut disalah artikan jika mengatakan penolakan sehalus apapun
"mari kita bicarakan lebih lanjut dalam perpustakaan rumah, anak-anak sedang nonton, saya akan panggilkan suami saya dan lina"
"tolong di ambilkan hijab bu"
"tidak masalah"

Ruangan yang di kelilingi lemari buku itu kini terbagi dua, dibatasi oleh gorden biru yang memanjang, sisi satu di isi mereka, laki-laki bergamis yang kali ini tak tersenyum sedikit pun, sedang di sisi satunya dua pasangan paruh baya dan seorang wanita berjilbab panjang sedang duduk, kepalanya tertunduk, menenangkan hati yang bergejolak
"kau kenal ahmad ini nak.."

Ibu itu memulai percakapan
Lina mengangguk..
"Seberapa kenal kau dengan dia.. keluarganya.. riwayat pendidikan dan kehidupannya"

Lina terdiam.. lama.. seorang pemuda di balik sana mengerutkan dahi, ia sedikit tersinggung, serasa ibu itu ingin menelanjanginya, semua tak sesuai harapan, kiranya akan berjalan mulus dan mudah.. tapi tidak demikian, kali ini suasana berubah mencekam
"dalam islam, dua orang pasangan yang ingin menikah harus mengutarakan perihal hidupnya secara jujur.. agar di kemudian hari tidak ada penyesalan dan rasa tertipu.. "
"Sebagai perempuan.. biar lina yang duluan.."

Pemuda itu memotong..
 ibu itu tertohok dan segera ingin menyanggah.. kenapa tidak dia yang duluan, merasa lebih tinggikah.. harusnya sebelum berani melamar, dia cari tau sendiri wanita yang ingin dijadikan pasangan, agar bisa sesuai keinginannya dan mantap dalam hatinya.. tapi bapak yang duduk di sampingnya memegang tangannya.. ia menenangkan istrinya yang gelisah karena keponakan, yang kali ini dalam pilihan membentuk kehidupan baru, tidak main-main, suaminya tau rasa gelisah yang lahir dari sikap tanggung jawab istrinya, dan untuk kali ini, dia ingin mendamaikan istrinya dengan genggaman positif dan senyum, seraya ingin berkata
"tenang… semua akan baik-baik saja, kita hadapi bersama"
"Nak lina, silahkan.." 

Lina bicara terbata-bata, memilih kata-kata dengan tepat, secara polos dan tentunya jujur,, dia tidak melebih-lebihkan tidak pula mengurang-ngurangi.. dari bibirnya keluarlah pengakuan, terlahir sebagai anak kedua dari keluarga sederhana di sudut kampung palopo yang agak terpencil, diantara sodaranya, pendidikannya yang kali ini paling tinggi, kakak pertamanya meneruskan empang keluarga, adeknya juga belajar di Makassar, tak ia tutup-tutupi, keluarganya miskin, empang tak bisa menghidupi kehidupan anak-anak yang di tinggalkan orang tua, untuk itu dia usaha menjahit kecil-kecilan untuk memenuhi biaya sekolahnya dan adiknya.. dia mengenal ahmad dengan sangat minim informasi, hanya lewat perkataan temannya, di tempat kuliahnnya, al-irsyad sana.. itu pun karena temannya adalah adik ahmad, dan dari situlah lina di beritau bahwa kakaknya akan meminangnya, tapi tak jelas kapan… hanya itu.. tak lebih..

Lina mengeluh pelan, matanya terpejam, dalam hati terbersit lafadzh "Alhamdulillah" berterima kasih kepada Allah atas karunia kekuatan hingga bisa mengungkapkan semua dengan apa adanya dan berharap penuh kepada Allah
"jika ia baik.. dekatkan ya Allah, namun jika buruk.. jauhkan secara baik.."

Kali ini, giliran ahmad yang berbicara, mulanya bicaranya lantang, penuh percaya diri, namun tidak terkesan sombong. dia biasa di sebut ustad, menjadi salah satu aktifis dalam lembaga al-irsyad dimana lina belajar sekarang, keluarganya cukup terpandang, beberapa keluarganya tinggal di Jakarta, di Makassar, orang tuanya meninggalkan sebuah rumah buat dia dan sodara-sodaranya..

Mendung menggelayut pada hamparan langit, saat bias sabit tak mampu menembus celahnya, jangkrik-jangkrik kesal bersahut-sahutan, karena khawatir ular mengendap memakan dirinya yang kini bersembunyi di balik builr padi menunduk dan hampir menguning. Entah kenapa. Ahmad berhenti sejenak.. meski tak terlihat, setiap selipan buku tau, dia kini terpejam, nafas panjang dia tahan, sepertinya dia menahan sesuatu yang tak ingin dia utarakan.
"saya duda.. dan sudah punya satu anak perempuan, dua bulan kemarin kami cerai, tapi belum sah di pengadilan"

Suara itu merambat pelan menulusuri aliran darah ibu paruh baya hingga menciptakan gelombang kedalam jantunnya, detakannya makin terasa kencang, matanya sedikit membelalak menunjukkan ekspresi kekagetan, lina..?? dia masih saja tertunduk… tapi, untuk beberapa saat, matanya tak berkontraksi, ia mencerna dengan baik, mengulangi ketetapan hatinya.
"jika ia baik.. dekatkan ya Allah, namun jika buruk.. jauhkan secara baik.."

Kali ini ibu itu kian tak sabar, ia tak mau mengambil resiko yang lebih dari ini, lina datang ke tempatnya untuk belajar, sebagai tante, dia bertanggung jawab penuh atas kehidupan lina, bertanggung jawab, bukan berarti memiliki hak atasnya, apalagi untuk urusan pernikahan, pintu baru kehidupan. ini harus di rundingkan dengan keluarga yang lebih berhak menjadi wali lina
"sodara ahmad yang baik, sebaiknya persuntingan ini kita tunda dulu, karena masih banyak yang harus di perjelas, saya minta maaf, bukannya kami menolak, tapi biarkan lina memikirkannya dan memberitahu keluarganya di kampung.. apalagi status nak ahmad ini….

Tiba-tiba genggaman suaminya mengeras, ia menoleh pada suaminya yang kali ini terlihat serius, dan menggeleng pelan.. suasana berhenti, bahkan angin tak berhembus, rintik hujan menelusuk di balik jendela yang beruap.. hawa dingin menerobos, tapi dalam perpustakaan itu, semakin panas saja, aura penekanan dan kegelisahan menyeruak membelah terpaan angin malam yang di hempaskan anak rinai hujan..
"kalo gitu kami pamit pulang, assalamu a'laikum"

Ahmad berdiri pertama, tanpa menoleh, langsung membuka pintu dan tak ada semenit telah berdiri mematung di luar pagar rumah.. teman-temannya merasa tak enak, apalagi, suami dari ibu ini merupakan salah satu pengajar di al-irsyad
"haduh.. kami minta maaf atas sikap ahmad ustad"
"Tidak pa-pa… sampaikan minta maaf kami kepada Ahmad, jika jodoh, tidak akan kemana"

Suami itu melepas senyumnya di balik remang ketegangan, tetamunya telah tertelan gelap, ia mengunci pagar dan menutup pintu.. kemudian berdiri diambang pintu perpustakaan, menatap istrinya yang masih saja dalam kegelisahannya, dan pada lina, yang masih saja tertunduk sedari tadi. kemudian bapak itu, berlalu dengan meninggalkan senyum pada istrinya. masih saja menyiratkan ketegaran  "semua akan baik-baik saja"
"kapan kau akan ke kampung nak"
"kalo bisa besok tante.."

Ibu itu ingin berkata panjang lebar, tapi dia sadar, saat ini keponakannya masih terombang-ambing dalam dilema perasaan, apalagi merasakan sikap ahmad yang kurang bersahabat..
"terserah kau.. kamu bukan anak kecil lagi.. sudah tau yang mana baik dan buruk.. Cuma sebagai tante layak untuk memberi mu nasehat, dan perlindungan.. tante mana yang mau melihat keponakannya tidak baik.. maaf jika perlakuan tante tadi kurang menyenangkan hatimu.."

Kali ini lina mendongkak kan kepalanya, menatap tante yang sudah dianggapnya ibu sendiri.. lalu tersenyum penuh ketenangan..
"tidak tante,, saya harusnya berterima kasih.. tante sudah bersikap tegas, yang itu belum tentu bisa saya lakukan"

Mendengar itu, ibu paruh baya membalas senyumnya, lalu membelai pelan keponakannya, dan berlalu menemui anak-anaknya yang tertidur di depan tivi. Lina masih terduduk lemas, pandangannya tiba-tiba kosong.. raut wajahnya renyuh menatap pembatas horden, seakan membayangkan sosok ahmad yang terlihat cemas di balik sana.. sekejap air matanya keluar, entah karena apa..
***

Kelas itu hening seketika.. mata anak-anak kelas 4 tak bergeming menatap temannya Husain yang bercerita begitu serius dan penuh penghayatan.. kali ini tak ada ketawa, tak ada meja yang dihantam keras, tak ada mistar panjang yang memukul papan tulis untuk menenangkan, hanya ada diam dan hening..
"lina itu ibuku.."
***

Dentuman guntur memecah hening yang tercipta oleh gelapnya mendung,  hujan telah turun, lina pun telah memanaskan air, sambil membuat sepanci bubur kacang hijau, buat suaminya yang akan pulang sore ini, dan juga buat sodara-sodara ahmad yang akhir-akhir ini mulai berani menyuruh-nyuruh lina dengan bentakan, seakan dia hadir sebagai pembantu di rumah tersebut, tapi lina tak mempermasalahkannya.
"abi.. hangatkan dulu badanmu, sudah ku siapkan air hangat, sementara kau mandi, ku ambilkan semangkok bubur kacang hijau yang telah ku campuri jahe.."

Lina tersenyum melihat suaminya yang bergerak malas ke kamar, sepatu suaminya ia letakkan di samping pintu masuk, payung yang masih tergerai di lipat dan di kibas-kibaskan, lalu dia menutup pintu dengan pelan, bersama dengan tetes-tetes air hujan yang bergelayut di ujung payung, lalu turun perlahan meniti lantai-lantai rumah saat lina menuju dapur, menyiapkan semangkok bubur kacang hijau, lalu menuju kamar, dengan sabar duduk di tepi ranjang yang tak terlalu besar, tangannya tak lepas dari penutup mangkok, dan matanya tak bergeming dari pintu kamar mandi, menunggu suaminya selesai menyegarkan diri dengan hangat air yang dia panaskan tadi.
"pelan-pelan abi.. buburnya masih sangat panas.. bisa-bisa lidahmu terbakar, sini biar ku suapi"
"tidak perlu"

Lina masih memandang suaminya yang meringis kepanasan, dia bergeser sedikit mendekati suaminya, dan perlahan mengipas-ngipas bubur dengan penutup mangkoknya, khawatirnya tak lepas dari ahmad.. jika bisa, dia pun akan meminta untuk membagi rasa panas yang di rasakan ahmad, meski karena itu, lidahnya pun akan terasa kelu.
"aku ingin berhenti jadi diler motor"

Ahmad memberikan bubur kacang hijau yang belum habis itu pada lina, mendegar itu, lina tersentak, namun disembunyikan kekagetannya, perlahan dia meletakkan mangkok tersebut diatas meja belajar keponakannya.
"ada masalah yah?"
"tidak"
"lalu?"
"aku Cuma ingin mencari pekerjaan yang lebih berarti.. jadi diler motor sama seperti jadi satpam bagiku.."
"tentu beda.. dari pendapatan pun sangat jauh…. Lagi pula sekarang sulit mencari pekerjaan yang memadai buat penghidupan.. kalo abi berhenti, cari pekerjaan susah lagi, mana motor belum lunas kreditannya"
"yang begituan tidak perlu kau pikirkan.. itu jadi tanggung jawabku.. aku juga berencana mencari kontrakan yang memadai, meski kau tak pernah bilang, aku tau, sodara-sodaraku sudah berlaku kurang baik kepadamu"

Lina tersnyum.. sedikit perhatian suaminya, bagi istri seperti lina, bagaikan sebuncah kebahagian yang tak tergantikan oleh momen apapun
"tidak apa-apa, tak bisakah kau tunda dulu?, ada hal yang lebih penting dari itu yang harus kita pikirkan.. persiapan buah hati kita.. tentunya butuh biaya yang tak sedikit.."

Ahmad tak menggubris, ia langsung saja merebahkan badannya diatas kasur.. sekejap matanya terpejam..
"yah.. terserah abilah.. aku ikut suamiku"

Lina pun ikut merebah di sampingnya. memandang punggung suami yang membelakanginya, rambut suaminya ia belai begitu pelan. satu setengan tahun semenjak keluarganya di kampung mempercayakan dirinya di atas pundak ahmad, satu setengah tahun saat lina mendapatkan status cerai sah dari ahmad dengan istri pertamanya, dan memantapkan dirinya untuk siap menjadi pendamping yang setia, menjadi partner hidup hingga ajal menjemput, satu setengah tahun saat dia mulai menapaki kehidupan baru bersama ahmad, lelaki yang berbagi kehidupan dengannya.  kini, meski hidup serba tak kecukupan, dia tak bermuram durja, gaji yang di dapat ahmad tergolong di bawah standar, meski begitu lina tak pernah mengeluh, toh lina juga ikut membantu suaminya dengan melanjutkan usaha jahitannya, asal ada ahmad di sampingnya, semua bisa dilewati, asal ada ahmad yang menggandengnya lelah tak terlalu membebani.. jika mengurus diri sendiri sudah sangat susah, bukan berarti hidup berdua akan lebih susah.. karena ternyata rasa tanggung jawab dan pedulia memberi kekuatan tersendiri, tidak tau dari mana, tapi itulah cinta menurut lina. dan buat anak yang akan lahir, lina bertekad akan menjadi lebih kuat berlipat-lipat, asal dengan ahmad..
***

Husain berhenti sejenak, mengatur dadanya yang bergemuruh dengan tarikan nafas panjang, lalu memandang ke sekeliling kelas, melihat teman-temannya yang sedari tadi telah memusatkan seluruh panca indra mereka pada cerita Husain, entah kenapa ,perhatian itu memberi kekuatan lebih padanya, memberikan dia sebuah keyakinan, bahwa, meski pahlawannya kali ini berbeda dengan yang lain, pahlawannya tidak bisa berubah, tidak punya sinar super dari kedua matanya, tidak memakai stelan yang keren.. tapi tetap.. pahlawannya jauh lebih hebat.. jauh lebih super.. dan lebih nyata dan patut untuk dikenang.
"di ibu kota, aku pun lahir"
***

Lina tergopoh-gopoh ke meja makan, kandungannya sudah mencapai Sembilan bulan, beratnya minta ampun.. serasa dua kelapa besar diikatkan ke perutmu dan mutlak dibawa kemana saja, hingga saat kau mencoba untuk memengeluarkan air seni sekalipun. perhatikan..!! dalam sudut ini, perempuan beribu-ribu kali lipat kuat dan sabarnya dibanding laki-laki, dalam keadaan ini perempuan beribu-ribu kali lipat mulianya dibanding laki-laki, mereka dekat dengan surga, mereka dengan dengan berkah..  dan itu disadari lina.. hingga bukan keluhan yang lahir dari raut wajahnya, tapi kesenangan yang tiada tara, garis-garis kesabaran yang tergores indah di permukaan dahi dan kantong mata yang semakin membuatnya manis.. serta segunung harapan pada jantung hatinya yang akan segera lahir, menemani hari-hari dan mengisi daftar perjuangan berikutnya, tanpa lupa selingan dari senyuman manja si buah hati saat di sentuh perutnya dengan bibir ibu yang membuatnya geli.
"huh.. sia..sia.. mad..mad… datang ke Jakarta.. dah lebih 6 bulan, kerjanya Cuma mondar mandir gak jelas.. habis itu ngabisin beras.. mending pulang dah ke Makassar.."

Kali ini paman ahmad berbicara lebih pedas dari malam-malam biasanya, makan malam itu menjadi momok paling menjijikkan buat ahmad dan lina. sadar bahwa dia menumpang, ahmad hanya bisa terdiam dan menelan makanan yang terasa begitu pahit.
"si jery itu dah mau masuk tk lho.. mana anaknya manja banget, kalo beli apa-apa selalu pilih yang mahal-mahal, mana kakaknya juga selalu iri kalo adeknya beli barang baru, pasti juga kepengen..huh.. jadi om harus hemat-hemat uang.. tapi.. yah gimana mau hemat uang.. kamunya datang…"
"kamu tau kan.. paman mu ini Cuma pensiunan pertamina.. buat beri makan keluarga aja susah.. apalagi harus nanggung dua orang lagi yang gak jelas kehidupannya"

Pyar…!! termometer kesabaran ahmad pecah..! air raksanya meloncat keluar dan menetesi hatinya yang kini meleleh di amuk amarah.. sepontan ia berdiri lalu menarik lina.. berusaha mengimbangi jalan ahmad, lina memegang perutnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya dicengkram keras oleh ahmad, sakit, tapi lina tahu suaminya lagi meradang tegang, mukakanya memerah. Hingga cara ahmad mengeluarkan seluruh pakaian mereka dari lemari seperti perampok mencari setitik berlian dalam tempo tidak kurang dari 10 detik.. lina hanya bisa terdiam, bukannya takut, dia hanya iba melihat suaminya, tapi menangis pun bukan hal yang baik, karena hanya akan menjadi beban buat hati ahmad yang telah terjepit oleh perkataan pedas pamannya. yah.. untuk kali ini diam betul-betul menjadi emas, meski hatinya ikut merintih, tapi lina menyembunyikannya dalam sikap diam, sambil membantu ahmad melipat pakaian dan merapikan segala barang-barang mereka dengan cepat. tak sampai  10 menit, seluruh barang telah siap diangkut. kali ini bertambah beban lina melangkah keluar, tapi ahmad sudah dikuasai amarah, lina tak ia gubris, langkahnya sangat-sangat cepat, tak menoleh atau berhenti sejenak untuk melihat lina yang tertatih-tatih mengikuti langkannya keluar, lina tetap diam dan sabar.
"mau kemana… habisin dulu makanannya"

Ahmad tidak bergeming, matanya malah memerah seperti hendak keluar, urat-uratnya bermunculan, perkataan pamannya tadi bukannya terdengar sebagai ajakan berdamai atau terbersit "jangan diambil hati.. aku tadi Cuma bercanda" atau "ya. . tersinggung sih boleh, tapi gak sampai keluar rumah lah.." malah terdengar seperti klimaks cemo'oh, penyempurna sabetan-sabetan lidah pamannya malam itu.. apalagi ahmad yang dalam kondisi seperti itu, segalanya terdengar salah, segalanya seperti menghakimi, semuanya terdengar menjijikkan. bahkan mendengar kalimat terakhir sudah cukup menjadi alasan buat ahmad untuk mematahkan leher pamannya atau menusuk matanya dengan garpu. bukannya apa, kalimat itu terdengar setajam silet. mengupas hingga tidak mengizinkan darah menetes. bagi ahmad terdengarnya seperti "kalo gak malu ya.. dihabisin dulu makananannya"..

huahh….!!!! Ahmad mempercepat langkahnya, sambil berteriak memanggil lina.. yang saat itu malah semakin melambat, ahmad meradang, ia berbalik kebelakang, ingin memuntahkan kemarahannya pada lina. tapi belum sempat tamparan ahmad bersarang, lina telah tersungkur dan menjerit..
"anakku-anakku"
***

"di saat itu aku lahir.. tapi yang mengantarkan adalah pamanku.. sementara ayahku entah lari kemana.. hingga 10 hari di rumah sakit, barulah ayah datang, dan meminta maaf pada ibu..  ibu tidak bilang apa-apa.. malah menanyakan kabar ayah gimana, tinggalnya dimana, makan apa dan lain sebagainya.. ayah terlihat seperti malaikat, tak pernah salah dan ibu juga terlihat seperti malaikat, tak pernah protes, tak punya marah, kerjanya hanya patuh..patuh..patuh.. terkadang cinta membuat orang menjadi malaikat dan diri sendiri juga menjadi malaikat..
"Tidak cukup seminggu di rumah sakit, ayah mengajak ibu pulang ke Makassar, hemm.. sebenarnya bukan mengajak, Cuma sekedar pemberitahuan, karena mau tidak mau, pasti ibu harus ikut, tapi setidaknya ayah menepati satu janjinya, mencarikan rumah kontarakan sederhana buat ibu dan aku yang baru lahir. Namun, lagi-lagi tidak sebanding, satu janji yang di tepati di bayar beribu perhatian yang hilang, ayah sering tidak pulang,, bahkan sampai berhari-hari. hingga di mataku selalu terisi wajah ibu, ayah jarang sekali, yang ku kenal hanya panggilan dan candaan khas ala ibu, ayah hanya sesekali mencium ku ketika datang lalu lenyap lagi entah kemana. mungkin karena itu ibu mulai sakit-sakitan, badannya kurus, tulangnya hampir sama besar dengan tulangku, kerjanya melamun di balik pintu, Cuma sekali pancaran kebahagian yang terlihat dimata ibu, yah.. ketika ayah muncul di balik pagar, ibu akan tersenyum lalu masuk kamar dan menyisir rambutnya serta memakai wewangian.."
"2 tahun berlalu, barulah ayah memberi tahu pekerjaan barunya.."
"aku sekarang main sulap..!!"
***

Rumah ini hanya seluas kamar di rumah standar.. di sampinya berjejal panjang dengan kamar yang setipe. tidak ada bunga, tidak ada pekarangan, pembuangan sampahnya pun sangat dekat, hingga bau khas pecahan telur, sisa bungkusan mie dan nasi yang tak habis dimakan bergabung menjadi aroma tak sedap yang akan menusuk hidung 24 jam. buat orang baru, sungguh akan menjadi masalah bahkan membuat mual, tapi buat yang telah terbiasa, baunya seperti udara hambar yang senantiasa di hisap untuk menyambung kehidupan, dianggap tak ada dan itu kini dinikmati lina dan anaknya.
"kau terlihat sangat kurus.."

Ibu paruh bayah itu duduk, lalu menaruh buah-buahan yang baru dbelinya, sambil memandangi keponakannya yang semakin memprihatinkan.
Lina hanya membalas dengan senyum sambil meraih tangan kanan tantenya, lalu menjabatnya dan menciumnya sebagai bentuk takzim ataupun menandakan dia merindukannya..
"ruangan ini sangat sumpek, harusnya kau beli satu kipas angin, kasihan anakmu..  bisa-bisa kulitnya penuh dengan bintik-bintik keringat"
" gimana lagi tante,  dasar kamarnya sempit, sumpek, fentilasi kurang, jendela Cuma satu.. yah..gak pa-pa dari pada tidur dikolong jembatan hehe.."

Ibu paruh baya itu renyuh menatap keponakan kesayangannya, mencoba memahami dan mencari sedikit kekecewaan akibat keras kehidupan dari matanya, tapi yang ia dapat hanya ketegaran dan kesabaran.. apakah semua wanita seperti ini?
"suamimu diamana?"
"kerja"
"Kerja apa?"
"Katanya pesulap"
"sudah berapa lama tidak pulang"
"hampir 6 bulan"

Sepintas lina memandang keluar, menerobos celah waktu yang telah lama berlalu, dan mendapati dirinya duduk diambang pintu tanpa ahmad disisinya, berharap ahmad tiba-tiba muncul saat itu, lalu setidaknya ia bisa merebahkan kepala barang sebentar di dadanya, menyandarkan kelelahan yang mau tidak mau telah memenuhi hatinya. Tapi, waktu seakan berkata padanya "jangan harap!".. baru kali ini ia merasa sakit.. sakit sekali,, tepat disana, di segumpal daging yang berwarna merah darah.. kini air matanya merembes keluar dengan pelan, makin lama makin deras, lelah yang harusnya disandarkan pada ahmad, terpaksa jatuh di pangkuan tante lina, ia merebah sambil menahan isak"
"aku rindu suamiku tante.. sangat rindu.. aku tidak perlu dia pulang dengan banyak uang, atau dengan mengendarai mobil, aku hanya ingin dirinya.. perhatiannya.. belaian lembut tangannya.. itu sudah cukup, bahkan jika aku yang harus kerja.. tak apa, asal dia tak lagi pergi.."

Kepala lina di belai pelan, ibu itu menyembunyikan air matanya, gemuruh dada ia tahan sedemikian rupa, tak ingin ikut-ikutan menangis, meski di hatinya, ia juga merasa dikhianati
"tidak perlu terlalu di pikirkan, nanti dirimu malah stress.. kasihan anakmu, dia butuh lebih banyak perhatian.. kalo ibunya sakit, gimana anaknya bisa dirawat.. kau masih punya simpanan kan..? uangnya ahmad gimana? "
"simpanan ku masih ada, dari ahmad hanya terang bulan yang telah basi dan ayam panggang yang dimakan kucing, setiap dia pulang, yang dibawanya hanya bertumpuk-tumpuk makanan, padahal aku tidak perlu itu, yang ku perlukan hanya uang yang bisa ku tabung untuk  keluargaku.."
"coba kau komunikasikan dengan lebih baik.. insya Allah bisa.. kontrakanmu tinggal berapa hari nak?
"tinggal dua hari.."
"habis itu mau kemana? Ahmad tidak pernah bilang soal kontrakan"

Lina hanya menggeleng, lalu mengusap air matanya dan mengangkat kepalanya dari pangkuan, sambil terus terisak pelan
"pokoknya kalo kontrakanmu habis kau pulang ke kampung, disana banyak sodaramu yang bisa membantu, kau lanjutkan kuliahmu dari jauh, jangan terlalu berharap pada ahmad, ingat..!, anakmu butuh perhatian lebih banyak., setelah itu cobalah mendaftar jadi guru.."

lina hanya terpaku.. menimbang-nimbang usulan tantenya.. dari hati kecilnya, ia berharap, ahmad segera pulang..
***

Bel tanda istirahat nyaring terdengar di setiap lorong sekolah.. anak-anak muntah berkeliaran dari kelas-kelasnya. hanya ruangan kelas 4 yang masih tertutup seakan terisolasi. Husain berhenti bercerita, ia memandang teman-temannya yang masih memusatkan perhatian mereka pada tutur husain. Husain lalu menoleh ke pada ibu, ibu pun mengangguk pelan tanda memperbolehkan ia untuk melanjutkan cerita, sejenak Husain menunduk dan terpejam, setetes air mata keluar dari matanya
"di kampung, pahlawan ku meregang"
***

Malam itu masih terasa dingin, bahkan menusuk hingga celah-celah bulu halus di badan, serasa aliran darah hendak berhenti karena membeku, husain masih asik memainkan tangannya dengan sisa rintik hujan, telapaknya ia tengadahkan di bawah ujung genteng yang terus mengalirkan sisa air, tetes demi tetes.
Kakinya makin lama makin bergetar, badannya yang sangat kurus seperti kurang gizi, mulai berontak ingin masuk, akhirnya dia mengalah, berlari kedalam rumah mengambil handuk, membersihkan tangan dan kaki serta wajahnya yang terpercik tetesan hujan yang pecah menerjang permukaan tangan. ia lalu mengambil sarung dan membungkus dirinya, sambil berjalan kearah kamar ibunya, memandang ibu yang telah dua minggu terbaring lemah diatas kasur. bahkan, seakan tubuh ibu jadi semacam cetakan diatas kasur, rambutnya menguning karena keringat, pipinya masuk kedalam mencetak dua benjolan dia samping keduan matanya, husain lalu merebah di samping ibunya yang tersenyum melihat kedatangan anaknya.

Husan tak berkata-kata, ia hanya menatap pelan mata ibu yang terlihat memerah dengan urat-urat kecil tak beraturan. ia telah tau sejak lama, semenjak pulang kekampung, bercengkrama dengan keluarga, menyelesaikan studi, lalu mengajar di sd sebagai guru matematika, jahitannya pun masih saja dilanjutkan dan seabrek kegiatan lainnya, tetap ibunya masih seperti dulu, masih menyisakan ruang rindu yang hampir meledak karena suaminya tak kunjung ada, setiap ada waktu senggang, Husain selalu melihat ibunya  duduk di depan pintu melihat ke ruas jalanan yang besar, tapi pandangannya lebih jauh dari itu, sambil sesekali melihat ke layar hp, menunggu balasan dari suaminya yang tak kunjung datang.. persis saat dikontrakan. senyumnya hanya kamuflase, riang dan semangat kerjanya hanya tipuan, yang ada hanyalah hati yang meraung karena diamuk sunami rindu yang menerjang tak kunjung surut.. ibu.. pintar betul bersandiwara..
"kenapa liat terus..? ibu makin kurus yah..?"

Lina masih terus tersenyum pada husain, dan Husain hanya mengangguk.. memang dia terkenal sebagai anak pendiam namun jenaka luar biasa, kata keluarga, mirip ibunya waktu kecil.
"yah.. kan ikut husainnya.. masa' anaknya kurus ibunya gemuk.. xixixi.."

Husain tersenyum renyah.. ledekan ibunya seperti satu kecupan di pipinya.. ia lalu mendekap erat tubuh ibu, wajahnya dibenamkan dalam dada..
"nak.. kau rindu abi?"

Husain sedikit tersentak.. jika bukan karena pertanyaan itu, mungkin dia tidak pernah ingat kalo dia punya ayah..
"mang abi kemana?"
"Kerja buat kita.."
"Ko' tidak pernah pulang.."

Lina hanya terdiam.. Husain pun tak ingin membahas panjang lebar.. kembali ia benamkan wajahnya.. tapi lina meneruskan pembicaraan..
"kamu sayang abi..?
"ibu sayang abi..?"

Husain balik bertanya.. lina hanya tersenyum semanis yang pernah dilihat Husain..
"ayahmu orang yang baik sekali.. jika tersenyum ketawanya semanis dirimu, di pipi kirinya ada lesung pipi, jika marah dia hanya diam, tidak pernah bentak sama ibu.. kau tau,, dia cari kontrakan buat ibu karena sodara-saodaranya sering nyuruh-nyuruh ibumu.. ayah mu tidak terima.. padahal ibu tidak pernah lapor lho.. hihihi.."
"katanya kontrakan kita dulu sumpek ya.."

Lina hanya tersenyum lebar, mengingat dan memperkirakan Gerangan apa yang membuat mereka tahan tinggal di kontrakan bau itu.. mengenang itu, seakan makan permen asin, namun tetap ada manisnya.. dan suasana pun menjadi hening..
"aku sayang umayya (panggilan Husain pada ibunya..)"

Lina tersenyum.. dia membelai kepala Husain, ruas-ruas jarinya ia selipkan di antara rerimbun rambut anaknya yang lebat..
"jadi anak sholeh yah.. supaya ibu punya amal jariyah.. jadi, biar ibu nanti meninggal, tetap dapat pahala.. jangan pernah berkelahi, apalagi nyusahin tante dan pamanmu disini.. klo sudah besar, jangan mau kerja empang, tapi lanjutkan sekolah di kota sampai professor.. hehe.. cari istri yang solehah.. dan jangan sekali-kali ninggalin istrinya lama-lama.."
"aku mau cari istri seperti umayya"
"hahaha.. kamu ini.."

Dahi lina mengeluarkan keringat yang banyak.. cetakan tulang-tulangnya makin jelas di badannya yang tinggal terbungkus kulit..  tiba-tiba ia mengeluarkan air mata..
"kenapa menangis..?
"tidak..tidak.. umayya Cuma berharap.. abimu bisa lihat kamu yang dah besar, yang dah ganteng dan pintar… "
"Dah..dah.. tidur.. besok kamu sekolah.. ""Aku sayang kamu nak.."

Lina mengecup dahi Husain.. dari ujung bibir lina, terasa suhu yang sangat panas, menembus dahi Husain hingga kekhawatirannya
"umayya panas sekali"

Lina hanya diam dan terpejam.. Husain tak bisa memejamkan matanya.. lama..sangat lama.. dia hanya memendang ibunya beserta bulir-bulir keringat yang semakin deras membanjiri wajah dan badan ibunya. tiba-tiba dari hidung ibunya merembes aliran darah tak henti.. Husain panik, ia menggoyang-goyangkan badan ibunya.. ibunya tak bangun, masih saja terpejam.. Husain berteriak..!! seluruh penghuni rumah terbangun dan kaget, mereka berhamburan ke kamar lina lalu semakin terkejut melihat kilatan darah merah yang sudah mencapai permukaan kasur.. dari telinganya juga keluar darah rupanya.. lina digotong menuju kerumah sakit, Husain dilarang ikut,, ia hanya terpaku di depan pintu, mencerna kejadian yang sangat mendadak ini, mengingat percakapan terakhir dengan ibunya, tentang ayah, anak sholeh dan sedikit jenaka yang tersisa, tapi tidak bisa menguatkan jiwanya yang seketika ambruk melihat darah segar menghitam tak berhenti mengalir..
Sejurus kemudian.. tantenya berlari, menghambur padanya.. memeluknya erat sekali.. Husain merasakan hentakan badan yang naik turun tak terkontrol dari tubuh tantenya..
"ada apa tante…? ibu.. kenapa..?"

Tantenya bergetar, mulutnya terbata-bata, tak seperti air matanya yang merembes keluar layaknya hujan saat mendung menutupi bulan..
"sss…ssbar yah nn..nak.. uumm..aayyaa..mu …mm..menging..ggal.."

Husain terdiam,, tak berkedip.. sejenak badannya mati rasa.. bahkan ia tak menangis..  dengan sepontan ia berkata:
"aku ingin telpon abi…"

Sejurus kemudian.. tantenya telah memberikan hp lina pada Husain.. husain mencari no hp yang ia ingat berinisal "imamy".. akhirnya.. dia menunggu jawaban dari ujung sana
"halo.. assalamu a'laikum.. "
"abi.. umayya meninggal.. ummayya meninggal.."

Tiba-tiba Tangisan Husain pecah dengan sangat keras.. menghantam dinding kayu rumah itu.. orang-orang yang ada disekitarnya tak berani  berbuat apa-apa.. Husain telah tersungkur, terduduk di tempatnya berdiri..
"huhu.. abi.. pulang.. umayya meninggal.. umayya meninggal.. siapa yang temani Husain lagi.. huhu.. sapa yang ajari husen ngaji.. pulang abi.. siapa yang belikan buku buat Husain lagi.. abi pulangg.. umayya.. meninggal.. huhuhuhuuuu.."
"maaf… anda salah sambung.. " tiittt…tiitt…tiitt…
"abi..pulang..pulang.. huhuhuhu.. puuulllllaaaannggggg….."

Tiittt….tiittt…

Husain meronta keras.. tantenya mememeluknya dan menenangkan.. seluruh rumah kini terdiam tak sanggup lagi menangis, menyaksikan sebuah adegan hidup yang begitu memilukan,, dan Husain tak berhenti menangis.. bukan karena penolakan ayahnya.. tapi kepergian ibunya.. ia terus menangis.. hingga tertidur dalam jiwanya yang remuk redam..
***

Isakan pelan tertahan membahana dengan tenang di ruangan kelas 4, seluruh siswa merunduk menyembunyikan air mata mereka, menyesal baru menyadari, bahwa ibulah yang harusnya dianggap pahlawan.. meski tak super,, dialah super sebenarnya.. husain pun begitu, ia masih saja menangis, menahan suara yang harusnya meledak-ledak, tapi ia tak kuasa membendung air matanya yang berhamburan.. melihat itu.. ibu guru yang sedari tadi juga ikut menangis.. menerjang husain lalu memeluknya.. mengelus punggung Husain.. menenangkan.. Husain pun membalas pelukan lebih erat.. membenamkan suaranya dalam pelukan ibu guru, menyebunyikan air matanya yang tak berhenti mengalir, dalam hati ia merintih

"jangan lepaskan bu.. aku ingin dipeluk terus.. ingin di peluk
Jangan lepaskan"