Rabu, 22 Februari 2012

Cerpen Sedih - Kasih Sayang Itu

KASIH SAYANG ITU
Cerpen Bebby Yurike Septiani Widi Seno

Aku mempunyai sahabat, ia bernama Lani. Ia anak yang baik, dan pengertian kepada teman. Tapi, ayah dan ibunya, kurang memperhatikan Lani. Setiap hari, Lani hampir tidak pernah bertemu, dengan ibu dan ayahnya. Lani bingung, sesibuk apa ayah dan ibunya, sehingga ia tidak diperhatikan.

Waktu demi waktu pun berlalu. Para guru disekolah ku, mengadakan rapat orangtua. Entah apa yang akan dibicarakan guru-guru, kepada orangtua kami.
"Tia, aku takut orangtuaku tidak bisa datang!" ujarnya, dengan muka sedih.
"Tidak Lan, orangtuamu, pasti akan datang."kataku, berusaha meyakinkan Lani.
"Tidak mungkin Ti, mereka sangat sibuk dengan pekerjaannya. Mana mungkin, rapat nanti, ibu atau ayah ku akan datang."katanya.

Aku hanya bisa diam, karena aku tak tau harus berbuat apalagi. Sebenarnya, aku juga meragukan hal itu. Apakah mungkin, ayah atau ibu Lani bisa datang?
Pertanyaan itu, slalu datang padaku. Huh.. Sudahlah, tak usah difikirkan lagi.
Bel sekolah pun berbunyi, tanda pulang. Klai ini, aku tidak bisa pulang bareng sama Lani. Aku diajak orangtua ku pergi kerumah nenek. Dari kejauhan, ku lihat Lani jalan sendirian. Aku kasihan melihatnya. Mengapa anak baik, cantik seperti dia kurang perhatian orangtua? Dia sangat butuh kasih sayang dari orangtua. Tapi, Lani tetap sayang kepada ibu dan ayah nya. Lani pernah berkata, "seorang anak, tidak boleh menyimpan dendam, kepada orangtuanya. Sejahat apapun orangtua itu, kita tidak boleh membencinya!" Setiap mendengar perkataan itu, aku hampir menangis. Lani adalah teman terbaik yang pernah aku temui, didunia ini.
*****

Pagi ini, aku pergi sekolah dengan orangtua ku. Karena, hari ini rapatnya. Aku pergi bersama ibu ku. Ya, ibu yang datang dalam rapat ini. Selang beberapa menit, aku dan ibu sampai disekolahku. Ibu pun masuk keruang rapat, aku dan temna-teman menuju kelas, belajar seperti biasa. Saat masuk kelas, aku melihat Lani dengan muka sedih.
"Hai Lan! Kenapa wajah mu kusut seperti ini?" tanyaku
"Ti, orangtuaku tidak datang. Aku tidak sempat bicara dengannya. Semalam, mereka tidak pulang kerumah, hingga pagi ini, yang aku temukan hanya pembantuku, bi Tina."katanya, denagn mata berkaca-kaca.
"Assalamualaikum anak-anak!" tiba-tiba bu Via masuk kekelas ku.
"Wa'alaikumsalam buuuu>"jawab anak-anak serempak.
"Buka buku kalian masing-masing ya!" pinta bu Via.

Pelajaran pun berlangsung. Semua murid-murid, mengikuti pelajaran dengan baik.
1 jam, 2jam pun berlalu. Bel berbunyi tanda istirahat. Para orangtua murid pun keluar satu persatu dari ruang rapat.
"Ibu, raapt apa tadi?" tanyaku.
"Nanti saja, ibu akan ceritakan dirumah!" kata ibu.

Ibu pun pulang. Aku dan Lani pun kekantin.
"Tia, enak ya, orangtua mu perhatian!"kata Lani, sambil memandangiku.
"Orangtuamu juga baik kok Lan."kataku, sambil tersenyum.

Lani hanya bisa membalas dengan senyuman. Kami pun makan dikantin.
Tak lama, bel pun berbunyi, tanda jam pelajaran berikutnya akan dimulai. Aku dan Lani, buru-buru masuk kekelas. Pak Sastro pun datang kekelasku, tapi aneh, sekarangkan bukankan pelajaran Pak Satro.
"Anak-anak, karena guru-guru mengadakan rapat. Kalian diperbolehkan pulang." katanya
"Yeeeeeeeee,"teriak teman-temanku.

Seluruh anak murid pun satu persatu keluar dari kelasnya masing-masing, termasuk aku dan Lina. Diperjalanan, Lina hanya diam saja. Tidak seperti biasanya.
"Lin, kamu kenapa?" tanyaku
"Aku nggak kenapa-napa kok Ti."ujarnya, dengan suara pelan
"Tapi, kok kamu diam saja daritadi?" tanyaku lagi
Tiba-tiba, Lani terjatuh dan tak sadarkan diri. Para pejalan kaki pun membantu ku, membawa Lani kerumahnya.
"Lan, bangun Lan!" pintaku

Aku khawatir sekali. Saat sampai dirumahnya, aku langsung menelpon orangtuanya.
"Halo."terdengar suara dari sebrang telpon
"Halo, tante ini Tia. Tan cepat pulang ya, Lani pingsan!"kataku, kepada ibunya
"Pingsan? Baik, tante akan segaera pulang Tia. Tolong jaga Lani sebentar ya!" pinta ibunya, kepadaku
"Iya." kataku sambil menutup telpon

Tak lama kemudian, ibu dan ayah Lani, sampai dirumah.
"Mana Lani, Tia?" tanya ibunya panik.

Saat melihat Lani terbaring lemah, ibu dan ayahnya menangis.
"Maafkan ibu dan ayah Lani, selama ini, kami tidak memperhatikan mu nak!" kata ibunya, sambil menangis.
Tiba-tiba, Lani sadar.
"Tidak apa-apa bu, yah, kalian tidak perlu meminta maaf. Karena, aku sudah memaafkan kalian:"jawabnya.
"Kami berjanji Lani, akan lebih besar memperhatikan mu, dibandingkan pekerjaan kami."kata ayah Lani.
Lani pun tersenyum
"Terimakasih Tia, kamu sudah membantu Lani selama kami tidak ada untuknya!" kata ibunya, hingga mengeluarkan air mata.
"Sama-sama tante, om>" kataku, sambil ter senyum.
*****

Semenjak kejadin itu, Lani, ibu, dan ayahnya. Kembali bersatu seperti dulu lagi.

SELESAI :)

Baca Juga Cerpen Sedih yang lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar