Jumat, 20 Mei 2011

Naskah Drama Monumen Karya Indra Tranggono

Berikut ini adalah Naskah Drama Monumen Karya Indra Tranggono.
Dramatic Personae Naskah Drama Monumen
  1. PATUNG 1/ WIBAGSO (ketika mati berusia 30 tahun, seorang laki-laki, dulunya dikenal sebagai laki-laki pengecut, namun pintar berdalih). Bertubuh tegap, atletis, berwajah tampan, teguh dalam pendirian, dan bangga dengan kepahlawanannya.
  2. PATUNG 2/ DURMO  (ketika mati berusia 30 tahun, seorang laki-laki, dulunya dikenal sebagai laki-laki pemberani). Bertubuh tambun, berwajah nyaris bopeng, tipe pahlawan yang selalu gelisah, kritis dan bahkan selalu ragu pada gelar kepahlawanannya.
  3. PATUNG 3/ CEMPLUK  (ketika mati berusia 30 tahun, nama kerennya Nimas Ayu Bujono, seorang perempuan, dulunya bekerja di dapur umum). Bertubuh sedang, berwajah lumayan, humoris, dan kadang-kadang kritis.
  4. PATUNG 4/ SIDIK  (ketika mati berusia 33 tahun, seorang lelaki, dulunya dikenal sebagai pejuang nekat). Bertubuh gempal-kekar, temperamental, jujur, semangatnya selalu meluap-luap tapi kadang-kadang juga naif.
  5. PATUNG 5/ RATRI (ketika mati berusia 25 tahun, cerdas, seorang perempuan cantik, dulunya dikenal sebagai mata-mata). Bertubuh sintal, berperangai genit khas penggoda, narsistis, berkepribadian rapuh.

Di samping tokoh-tokoh di atas, juga muncul tokoh-tokoh lain
  1. KALUR/ PENCOPET (25 tahun, polos, naif, punya cita-cita besar)
  2. YU SEBLAK/ PELACUR SENIOR (35 tahun, bersikap realistis)
  3. AJENG/ PELACUR JUNIOR (20 tahun, lumayan kritis tapi lemah)
  4. KAREP/ GELANDANGAN INTELEK (30 tahun, cerdas, anti kemapanan, idealis)
  5. RM PICIS/ KEPALA KOTA PRAJA LAMA (55 tahun, feodal, sok kuasa)
  6. DRS GINGSIR/ KEPALA KOTA PRAJA BARU (50 tahun, progressif dan pragmatis)
  7. DEN BEI TAIPAN (45 tahun, pedagang, ambisius, militan dalam berburu laba)
  8. ASISTEN (40 tahun,pembantu Drs.Gingsir, loyal, oportunis)
  9. PUGUH (wakil kepala kota praja baru, 35 tahun, kritis, idealis)
  10. PETUGAS 1, PETUGAS 2 (patuh pada perintah, over acting)
  11. ORANG 1, ORANG 2 (gelandangan pemabuk, kasar)
Sinopsis Naskah Drama Monumen
Sebuah monumen pahlawan berdiri di tengah kota banjar sari. Monumen itu didirikan untuk mengenang jasa pahlawan lokal yang pada masa penjajahan belanda, gugur dalam pertempuran  di kota itu. Monumen tiu dalam keadaan terlantar, tak terawat. Sehingga justru menjadi seorang gelandangan. Di situ ’bermukim’ yu seblak(pelacur senior), kalur (pencopet), ajeng (pelacur junior), karep (gelandangan intelek),dll.

Persoalan muncul ketika kepala kota praja lama, rm picismerencanakan memugar monumen tiu, seiring dengan bakal dikabulkannya usulan soal peningkatan status para pahlawan dalam monumen itu, dari pahlawan lokal menjadi pahlawan nasional. Pemugaran itu juga dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan daerah kelak monumen itu akan dijadikan objek wisata unggulan. Yu seblakdkk, gelisah, karena terancam terusir dari kompleks monumen itu.

Namun sebaliknya, para pahlawan yang dipatungkan itu, justru berdebat sengit soal hakekat kepahlawanan. Untuk merealisasikan pemugaran dan usulan perubahan status menjadi pahlawan nasional, rm picis–bersama asistennya, meninjau dan memilih pahlawan mana yang layak mendapat anugerah menjadi pahlawan nasional. Hanya dua pahlawan yang dipilih, yakni wibagso dan ratri. Masalah ini menimbulkan kecemburuan sosial bagi (arwah) pahlawan dalam monumen itu. Mereka –sidik, durmo dan cempluk- tidak bisa menerima keputusan yang dipandang sangat tidak adil itu. Terjadilah apa yang disebut ”disintegrasi pahlawan” dalam monumen itu. Sidik hendak memisahkan diri berdiri sebagai monumen-, namun ditolak oleh wibagso dkk.
Belum terwujud pemugaran monumen itu, terjadi perubahan politik dan perubahan kepemimpinan nasional. Rm picislengser dan digantikan drs.gingsir. Sebagai kepala kota praja baru, drs.gingsir, meninjau kembali dan bahkan membatalkan rencana pemugaran monumen itu. Keputusan ini, menimbulkan kegembiraan bagi yu seblak dkk. Namun di balik itu, ternyata drs.gingsir punya keputusan lain. Yakni, menggusur monumen itu. Dan di lahan bekas monumen itu didirikan mall.

Cuplikan Dialog Naskah Drama Monumen
WIBAGSO
Telah sampai di manakah perjalanan kita, Bung Sidik? Sudah ribuan purnama, ribuan singsing fajar kita mengarungi jagat sonya ruri, jagat awang-uwung. Tanpa terasa butiran-butiran keringat kita mengkristal jadi keheningan. Keheningan yang sangat purba!

SIDIK     
Rasanya baru kemarin kita meninggalkan jasad kita, Bung Wibagso. Sejak pasukan Belanda yang bengis dan licik itu memberondongi kita, sejak peluru-peluru mereka membusuk di jantung kita; kita rasanya tak bergerak kemana-mana.

WIBAGSO     
Aku tadi mendengar orang mendoakan kita. Ya...aku melihat mereka. Mereka memberi kita sesaji. Bunga-bunga, dupa, kemenyan, rokok...

DURMO    
Kurang ajar. Kita dianggap dhemit! Brengsek, malah ada yang  minta nomer segala! Ini apa-apaan Wibagso?

WIBAGSO    
Tenanglah. Tidak ada jeleknya membikin hati mereka gembira. Anggap saja ini sekedar intermezzo.

CEMPLUK     
Intermezzo ya intermezzo. Tapi kalau pahlawan sudah disuruh ngurusi togel, ini sudah kebangeten.
File Naskah Drama Monumen :
 - File Tipe : Ms. Word

Semoga Naskah Drama Monumen Karya Indra Tranggono ini bisa membantu anda dalam menyelesaikan tugas atau garapan dan kami ucapkan selamat berproses semoga dalam Proses kretif tidak ada kendala apapun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar