Kamis, 19 Mei 2011

Naskah Monolog Koruptor yang Budiman

SEORANG
koruptor kakap mendadak muncul di kantor peradilan. Ia menyerahkan diri minta ditangkap. Beberapa petugas jaga – yang sebagian lagi ngobrol sambil nonton telenovela di televisi, dan sebagian lagi asyik main domino – langsung tergeragap kaget.

‘’Tolong tangkap saya,’’ koruptor ternama itu kembali bicara sambil mengulurkan kedua tangannya seolah-olah minta diborgol. Para petugas jadi langsung gemeteran. Apa tidak salah? ‘’Saya ingin jadi koruptor yang baik dan benar,’’ kata koruptor itu, sambil memandangi para petugas yang terheran-heran juga agak ketakutan.

Tentu saja peristiwa itu langsung jadi berita besar. Puluhan wartawan segera mengerubungi sang koruptor. Dan koruptor itu pun langsung memberikan pernyataan-pernyataannya.

‘’Saya ingin memberi contoh kepada rekan-rekan koruptor lain, tak baik melarikan diri. Lebih baik duduk tenang di pengadilan. Kalau pingin sembunyi, bukankah persembunyian paling aman bagi koruptor justru ada di pengadilan. Kita nggak bakalan diperlakukan macam maling ayam. Paling ditanyai sedikit-sedikit basa-basi minta bagian hasil korupsi. Tak ada ruginya kalau kita berbagai rezeki sama hakim jaksa polisi. Anggap saja zakat buat mereka. Toh itu juga bukan uang kita.’’

Sejenak ia tersenyum, ketika kamera meng-close up wajahnya. ‘’Makanya saya di sini, minta diadili. Saya tak hendak membantah. Itu urusan para pengacara saya, karena untuk itulah mereka dibayar: membuat saya kelihatan tak bersalah.’’

‘’Jadi bapak tidak akan membantah kalau Bapak koruptor kakap?’’ cecar wartawan. “Saya hanya ingin meluruskan anggapan keliru, yang menyatakan koruptor macam saya tak lebih benalu bangsa tak berguna. Koruptor macam saya jelas aset bangsa. Kamilah yang menggerakkan roda perekonomian. Dengan korupsi uang jadi terdistribusi. Terjadi pemerataan. Seperti pembangunan, korupsi juga terjadi di segala bidang. Kami tak pernah menikmati buat sendiri. Kami ikut nyumbang pembangunan rumah ibadah, menyantuni anak yatim, membantu korban bencana, menyokong olahraga, iuran tujuhbelasan. Banyak. Karena sebagai koruptor yang baik, kami tahu cara mengelabui. Dengan berbuat baik, kami menjadi dihormati. Duduk di depan bila ada hajatan, dan diminta bicara di pengajian.’’

‘’Bagaimana dengan para mahasiswa yang terus berdemonstrasi menuntut semua koruptor dipenjarakan, Pak?’’

‘’Naif, bila para mahasiswa terus menuntut koruptor di penjara. Nanti malah repot mesti bikin buuanyak penjara. Karena 70% warga republik ini pasti akan masuk penjara. Tidaklah itu hanya akan menghabiskan Anggaran Belanja Negara? Percayalah, biaya memenjarakan koruptor jauh lebih tinggi ketimbang dana subsidi BBM yang dialokasikan buat mengatasi kemiskinan. Jadi, memenjarakan koruptor itu justru kontraproduktif bagi keuangan negara. Daripada uang dihambur-hamburkan membangun penjara, lebih baik uang itu kami korupsi lalu kami bagi-bagikan secara adil dan merata.”

Footnote :
Tulisan ini pernah muncul di Kompas, 27 Januari 2006. Sebuah teks awal, yang seyogyanya akan saya kembangkan menjadi monolog, tetapi lumayan terbengkalai. Rasanya, saya akan menjadikannya sebagai “proyek kreatif” saya di tahun depan (2009). Akan menyenangkan bila saya mendapat masukan-masukan – mungkin data, mungkin contoh kasus dan pola korupsi, mungkin pertukaran pikiran atau apa saja yang bisa memperkaya ide dan waswasan saya untuk menulis monolog bertema korupsi itu. Mungkin ada lembaga atau institusi anti korupsi yang ingin menaja saya untuk mewujudkan monolog ini? Mungkin itu bisa menjadi bagian dari gerakan kita memerangi korupsi. Ini ajakan, sekaligus pengakuan: betapa seorang penulis selalu membutuhkan aspirasi dari lingkungannya.
Download Naskah Monolog Koruptor yang Budiman : Disini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar