Minggu, 01 Mei 2011

Naskah Monolog Marsinah Menggugat Karya Ratna Sarumpaet

Berikut ini adalah Naskah Monolog Marsinah Menggugat, Karya. Ratna Sarumpaet.

MARSINAH SEPERTI MENDENGAR SUARA-SUARA DARI MASA LALUNYA, SUARA-SUARA DERAP SEPATU, YANG MEMBUATNYA GUSAR.

Suara-suara itu.... Dia datang lagi.... Seperti derap kaki seribu serigala menggetar bumi....
Mereka datang menghadang kedamaiku.....  mereka mengikuti terus..... Bahkan sampai ke liang kubur ini mereka mengikutiku terus....

Kalau betul maut adalah tempat menemu kedamaian..... Kenapa aku masih seperti ini?
Terhimpit ditengah pertarungan-pertarrungan lama....   Kenapa pedih dari luka lamaku masih terasa menggerogoti hati dan   perasaanku...... Kenapa amarah dan kecewaku masih seperti kobaran api  membakarku ?

TERDENGAR SUARA SESEORANG NEMBANG, LIRIH..... TEMBANG ITU SESAAT SEOLAH MENGENDURKAN KETEGANGAN MARSINAH. DIA BICARA, LIRIH.

Dengan berbagai cara nek Poeirah, nenekku,   mengajarkan kepadaku tentang  kepasrahan.....  Dia mengajarkan kepadaku bagaimana menjadi anak yang menerima dan pasrah......  Pasrah itu yang kemudian menjadi kekuatanku.....  Yang membuatku selalu tersenyum menghadapi kepahitan  yang bagaimanapun.  Kemiskinan keluargaku yang melilit...... Pendidikanku yang harus terputus ditengah jalan.....

Perempuan ini jugalah yang mengajarkan kepadaku betapa hidup membutuhkan kegigihan......   Tapi kegigihan seperti apa yang bisa kuberikan sekarang......   Pada saat mana aku sudah menjadi arwah seperti ini, dan mereka masih mengikutiku terus ?

Sulit mungkin membayangkan bagaimana dulu kemiskinan melilit keluargaku...... Bagaimana setiap pagi dan sore hari aku harus berkeliling  menjajakan kue bikinan Nenekku, demi seratus duaratus perak. Aku nyaris tak pernah bermain dengan  anak-anak sebayaku. Kebahagiaan masa kecilku hilang...... Tapi aku ikhlas...... Karena dengan uang itu aku bisa menyewa sebuah buku  dan membacanya sepuas- puasnya.

Berupaya meningkatkan pendidikanku yang pas-pasan..... Merindukan kehidupan yang lebih layak.... Berlebihankah itu ? Memiliki cita-cita..... Memiliki harapan-harapan..... Berlebihankah itu ?

Lalu kenapa cita-citalah yang akhirnya memperkenalkanku pada arti kemiskinan   yang sesungguhnya. Kenapa harapan-harapanku justru menyeretku berhadapan dengan ketidak berdayaan yang tak terelakan ?


Download Naskah Monolog Marsinah Menggugat :Disini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar