Senin, 20 Agustus 2012

Cerpen Persahabatan - Air Mata Terakhir

AIR MATA TERAKHIR
Karya Martha Friska Sirait

Saat ini tak ada lagi yang harus aku sesali untuk yang telah terjadi kepadaku beberapa bulan terakhir. Semua telah aku simpan dalam bentuk bungkusan merah yang aku tanam dalam dada berbentuk hati. Meski terkadang sulit mengungkapkan dalam hati ketika senyum dan tangis menyatu dalam bibir, namun waktu telah membatuku untuk mengikis semua itu.
“ Marg..marg...” begitulah cara kucingku memanggilku. Tidak banyak yang bisa aku lakukan dirumah sebagai anak tunggal, namun bukan berarti tidak ada pekerjaan yang bisa aku lakukan. Gita Omeangti, itu adalah nama yang kuberikan pada kucingku. Warnanya kuning dan putih, badannya gendut dan suka melamun dipagi hari.

Saat senja tiba, kedatanganku selalu disambut baik olehnya meski sebenarnya dia hanya menginginkan makanan yang selalu aku bawa ke rumah. Sering kali aku menjahilinya. Disaat dia sedang tidur, aku mengoleskan minyak kayu putih dihidungnya dan dalam waktu lima detik dia akan meloncat layaknya spiderman yang mengelak dari serangan tinju delapan tangan squidword.
“ Ha..haha...haha... rasakan !”
“ Jangan ganggui kucingmu itu mar, nanti marah dia”
“ Hah, kalau marah paling mengeong. Tenang saja mak”
Ketika kau memiliki masalah yang tak bisa kau ungkapkan, kau pasti akan mencari seseorang untuk mendengarkan cerita mu. Banyak temanku yang sangat beruntung akan hal itu. Ada kakak, abang serta adik yang dapat mereka ajak untuk bercerita, tapi itu tidak dapat aku lakukan. Yang menjadi tempat pelampiasan hatiku hanyalah Omeng. Terkadang aku berimajinasi bahwa Omeng bisa mengerti apa yang aku ucapkan.

Aku mengangkatnya dan meletakkannya tepat didepan ku. Aku menutup kamarku dan aku mulai bercerita tentang apa yang aku rasa kepadanya. Sesaat aku diam sejenak dan memperhatikan kucingku. Aku ingin marah dan membentaknya. Ingin sekali pada saat itu aku mengatakan
“ Bisakah kau diam sebentar dan berhenti menjilati bulumu yang tidak seberapa itu dan memperhatikan ucapanku ?” tapi untung saja aku masih waras dan tidak mengatakannya.

Saat semua suara tidak dapat lagi aku dengar dan suasana ruangan semakin senyap, tiba-tiba air mataku terjatuh dari sudut mata kananku. Aku menangis... aku menahan rintihan suara tangisku dengan menggigit bibir bawahku. Kenapa aku berbeda dengan mereka? Aku tidak pernah menginginkan menjadi anak tunggal. Semua ini membuatku menjadi sosok wanita yang pendiam dirumah namun saat berada diluar, aku menjadi anak yang bandal dan selalu mencari perhatian dari setiap orang agar mereka memperhatikanku.
Ketika semua ungkapan hati itu muncul dalam hatiku dan keluar melalui air mata, sesuatu memanggilku.
“ Marg..marg...”
“ Apa , tanyaku pelan”

Tiba-tiba Omeng mendekatkan wajahnya dan menghapus air mataku dengan lidahnya. Aku terdiam dan terpaku. Aku menjerit dan berteriak, tangisku semakin tidak bisa aku bendung.
“ Kenapa aku begitu bodoh, aku tidak pernah sendirian. Aku selalu bersamamu dan kau selalu menemaniku.” Saat itu juga aku memeluk Omeng dan bembisikkan sesuatu di kupingnya.
“ Apa kau lapar ?”
“ Marg...”
“ Sudah kuduga, kau memanggilku ternyata karena ingin makan dan bukan ingin menghiburku. Sial ... aku terkecoh. Dasar gendut.” Sambil mencubit pipinya.

Keesokan harinya disaat aku mengajak omengku berjalan-jalan di tepi danau buatan dekat rumahku dengan mengendarai sepeda, tiba-tiba sesuatu terjadi padaku. Bruukkk............. aku terlempar ke samping dan tercebur ke dalam danau. Sesuatu menabrakku dari belakang. Aku menggerak-gerakkan tangan dan kakiku agar bisa mencapai atas danau namun rasa sakit yang aku rasakan akibat kecelakaan itu terlalu sakit aku rasakan. Dan secara perlahan tubuhku menjadi lemas, air yang masuk dalam mulutku telah menghalangi nafasku. Saat itu tidak ada lagi yang dapat kurasakan.
“ Apa kau tidak apa-apa nak ?” suara itu perlahan terdengar ditelingaku.
“ Dia baik-baik saja”. Seru seseorang yang berada di sampingku.

Mataku telah dapat terbuka dan nafasku telah bersamaku kembali saat itu. Orang-orang itu membawaku secara perlahan, namun angin pada saat tidak dapat aku rasakan. Sesuatu membuat hatiku janggal. Namun aku tidak tahu apa itu, secara tiba-tiba aku teringat sesuatu. Omeng.
“ Omeng... omengku.. dimana omengku ?” aku memberontak dari mereka dan kembali ke danau itu.

Aku tidak melihatnya. Ku arahkan mataku kesegala arah, namun tetap saja tidak menemukannya. Lalu aku meminta bentuan kepada orang yang berada disana.
“ Pak, tolong.. kucing saya tenggelam. Tolong selamatkan dia pak !”
“ Sudahlah ! diakan hanya kucing. Yang penting kamu sudah selamat, itu yang terutama”
Aku menatap pria itu dengan tatapan sinis.
“ Raga tidak akan berguna bila tidak ada jiwa yang mendiaminya.”

Aku berlari mendekati danau itu dan memutar otakku serta mencoba melakukan sesuatu. Aku mengambil ranting pohon yang panjang untuk menolong Omengku. Hampir setengah jam aku berusaha mencarinya namun tak ku temukan juga kucingku. Tubuhku gemetar dan air mataku keluar dengan derasnya, aku putus asa.
“ Aarrghhh...............” teriakku pada langit yang tak berawan.
Tanpa fikir panjang aku turun ke dalam danau itu dan berusaha kembali mencari kucingku. Angin tiba-tiba bertiup kencang dan mataku tidak dapat melihat dengan baik. Ku usap mataku dengan tanganku dan secara perlahan aku melihat sesuatu menghampiriku. Kulihat bangkai kucingku terseret oleh air yang dihembus oleh angin.
Aku mendekatinya dan mengangkatnya seperti saat aku mengangkatnya dulu. Aku lihat wajahnya yang telah beku dan basah. Aku memanggil namanya, aku belai kepalanya berharap dia membalas ucapanku, namun tidak ada jawaban darinya. Lalu aku mengangkat kepalaku ke atas dan menutup kedua mataku berharap air mataku tidak dapat keluar dari kedua mataku.

Aku tahu ini percuma, kemudian aku kembali ke atas dan membawa pulang kucingku tanpa ditemani penduduk setempat. Sesampainya di rumah aku melihat kedua orang tuaku belum pulang bekerja. Dan sesampainya aku dikamar, aku mengeringkan tubuhnya diatas kasur kamarku dan menyelimutinya. Sejenak aku tidur disampingnya dan membisikkan sesuatu di telinganya.
“ Bagaimana bisa kau pergi dariku sementara kau berada di hatiku.”
Dengan air mata terakhir, aku kuburkan kucingku di belakang rumahku dan mengabadikannya sebagai sahabat terbaikku.

PROFIL PENULIS
Namaku Martha.F.S tapi dipanggil Conan.
Aku berkuliah di HKBP Nommensen Medan jurs B.Indonesia
Alamat FB saya: conansirait@ymail.com

Baca juga Cerpen Persahabatan yang lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar