Minggu, 05 Agustus 2012

Cerpen Persahabatan - Best Friend Forever

BEST FRIEND FOREVER
Karya Kristia Apriyani
 
Pagi yang cerah, mentari menyapa dengan senyuman. Kay berjalan menyelusuri perkebunan ubi, wajah yang biasa tanpa rona bahagia. Setiap hari Kay berangkat sekolah sendiri, sedih senang hanya ia dan Tuhan yang mengetahui. Namun berbeda pada saat itu, seorang cowok menyapanya dengan ramah. Mereka satu sekolah dan satu angkatan, hanya di bedakan kelas, kebetulan ruang kelas mereka sampingan sehingga membuat komunikasi mereka semakin lancar.

Sejak kejadian itu, Kay tidak lagi sendiri. Bintang (nama itu cowok) telah menjadi teman dekat Kay. Pulang pergi mereka selalu bersama. Banyak cerita antara mereka, perbedaan menjadi penyatu bagi mereka. Kay tak pernah menyangka akan mendapat teman seperti Bintang.
“Kay, entar kapan-kapan gue kenalin lo sama cewek gue mau kan?” kata Bintang ketika mereka sedang berjalan menuju sekolah.
Sesaat Kay diam tak percaya, semua hal Bintang berani ceritakan padanya, seolah tak ada ruang batas antara mereka, kini Bintang mau mengenalkan diri Kay pada pujaan hatinya. “Boleh Bin! Dengan senang hati” jawab Kay lalu tersenyum.
 
Mereka terus berjalan, banyak hal yang mereka perbincangkan. Perkebunan dan perkampungan yang mereka lewati seolah menjadi saksi persahabatan mereka.
Terima kasih Tuhan,
Engkau telah kirimkan dia,
Engkau beri aku teman sebaik dia
Dia yang tersenyum tulus padaku,
Dia yang senang berbagi padaku,
Dia yang bersedia menjadi tempat keluhku
Kay tak mampu menahan haru bahagianya, kesepian yang selama ini ia rasa, sirna dengan hadirnya Bintang. Bintang seperti bintang di langit, mewarnai, mempercantik, menemani bulan yang sendiri dalam kelam malamnya.
*****

Satu bulan lebih berlalu, cerita persahabat terangkai begitu indah oleh mereka. Suka dan duka, tangis dan tawa, panas dan hujan mejadi saksi ketulusan.
“Kay kalo gue mati, jangan lupain gue ya!” kata Bintang memecahkan keheningan.
“Kok lo ngomong gitu sih? Gue tu gak akan ngelupain lo sampe geu mati malah. Lo kan temen baik gue.” Jawab Kay santai tanpa mengartikan makna ucapan Bintang.
“Hhehe (Bintang tetawa kecil), sama Kay gue juga gak akan ngelupain bahkan ninggalin lo” sambung Bintang meyakini Kay.
“Kalo lo mati, kubur aja deket rumah gue, jadikan gampang buat ketemu lo! (hhehe..)”
“Dan sebaliknya Kay, kalo lo yang mati, lo dikuburin deket rumah gue”
Mereka kompak tertawa. Cerita seolah tak ada habisnya bagi mereka, sepanjang perjalanan pulang dan pergi sekolah bahkan di telfon ada aja yang mereka obrolin.
Tiba waktunya semua terasa berbeda bagi Kay. Bintang jarang sekolah dan jarang menelfonnya. Ketika Kay menghubungi lewat telpon pasti berbagai alasan terdengar, entah itu Bintang main bola, keluar, main gak tau kemana, tidur dan sebagainya. Kay merasa kehilangan sosok Bintang yang dulu selalu bersamanya.
Mungkin aku tiada arti bagimu,
Kesempurnaan jauh dariku
Tapi taukah? begitu berartinya kau dimataku
Engkau sang penyejuk jiwa,
Bintang yang indah memberi kedamaian dalam suka cita
Kay meneteskan air mata, betapa ingin ia menatap kemabli mata tajam sang Bintang, senyum tawa yang tulus.

Kay bertemu Bintang di kantin, Kay tersenyum mengisaratkan betapa ia merindukan sosok Bintang. Namun bukan seyum kembali yang ia dapat melainkan tatapan sinis penuh benci. Kay tak mengerti kenapa bisa terjadi semua ini, karena rasa ketidak adilan Kay menarik tangan Bintang.
“Apa-apaan lo?” tanya Bintang sambil menghempaskan genggaman Kay. “lo gak malu dilihat orang tadi”. Kata Bintang ketika mereka sudah cukup jauh dari keramaian.
Kay mencoba menguatkan diri untuk barkata meski sebenarnya ia tak mampu. Rasanya ingin menagis sekuat mungkin dihadapan Bintang, agar Bintang sadar betapa ia kehilangan. Kay menarik nafas kemudian, “Kalo gue punya salah gue minta maaf. Gue pengen nanya kenapa lo kayak gini, tapi kayaknya itu sia-sia. Gue lebih memilih untuk mengintroveksi diri dari pada gua harus bertanya alasan. Maaf kalo lo ngersa risih dengan kejadian tadi.” Kay pergi meninggalkan Bintang sendiri.
Kay kembali menghabiskan waktunya sendiri, ia kembali seperti dulu lagi. Tetap semangat sekalipun ia merasa lemah.
Gue bakal anggep lo Cuma angin yang kebetulan mengahmpiri gue cukup lama, sehingga kesejukan terasa dan kini sudah berlalu.
*****

Jam instirahat datang, Kay sangaja memilih tidak kekantin dan duduk di bawa pohon sendiri.
“Maafin gue Kay” terdengar suara dari belakang Kay. Kay melihat dan kemudian sosok itu sudah mengabil posisi duduk di sampingnya. Mereka diam sejenak menatap lurus apa yang ada di depan. “gue yang salah Kay, gak seharusnya gue diemin lo kayak gini” sambung Bintang.
Kay hanya diam, seoalah tak ada sesuatu yang didengarnya. Bintang kembali mengajaknya berbicara namun satu katapun tak keluar dari mulut Kay sampai bel masuk berbunyi. “Jaga diri lo baik-baik Kay, gue yakin lo cewek yang hebat dan kuat” kata terakhir Bintang kemudian pergi kembali ke kelas.
Kata terakhir Bintang terus menggelinang di pikiran Kay “JAGA DIRI LO BAIK-BAIK KAY, GUE YAKIN LO CEWEK YANG HEBAT DAN KUAT”. Dalam hati Kay bertanya apa maksud ucapan Bintang tadi. “Besok gue bakal temui Bintang dan tanya apa maksudnya ngomong gitu? Atau mungkin dia emang gak mau lagi jadi temen deket gue” bisik hati Kay.

Bel istirahat berbunyi, Kay sengaja langsung menuju kelas Bintang. Tapi dilihatnya Bintang gak ada. “Bintang mana ya?” tanya Kay pada salah satu anak kelas Bintang.
“Bintang gak masuk Kay, bukannya kalian temen deket masa gak tau sih? Sekarang Bitang udah jarang masuk sekolah. Katanya sih sakit tapi gak tau sakit apa.” jelasnya
“Bukannya kemarin dia sehat-sehat aja, dia sempet ngobrol sama gue” kata Kay tak percaya.
“Kalo soal itu gue juga bingung, tapi kata Febri misalnya besok Bintang masih gak masuk, kita bakal jenguk kerumah”
“Owh.., thanks ya” jawab Kay kemudian kembali ke kelas. Kay semakin penasaran, pikirannya kacau.
Kay memutuskan pulang sekolah langsung kerumah Bintang sekalipun ini hal pertama. Kay sama Bintang memang dekat sekali, tapi bukan berarti mereka sering main kerumah satu sama lain.
*****

Setiba Kay di rumah Bintang, seorang cewek berparas anggun menyapanya dengan ramah. Mungkin ini kakak perempuan Bintang, yang pernah ia ceritakan pada Kay.
“Temen Bintang ya dek?” tanyanya.
“Ia kak, Bintangnya ada?” Kay tidak sabar ingin bertemu Bintang.
“Emang gak tau dek, Bintang masuk rumah sakit semalem. Kalo mau jenguk sekarang bareng aja sama kakak sekalian” tawarnya.
Tanpa malu-malu, Kay menganggukan kepala.

Sampai di rumah sakit, tepatnya di ruangan dimana Bintang tebaring lemah Kay melihat mata sang ibu sembab, sepertinya habis menangis. Namun di balik kesedihannya ia menerima salam Kay dengan ramah bahkan menyuruh Kay duduk di sampingnya.
“Ini Kay bun” kata kakak Bintang ketika Kay duduk. Kay terkejut kok bisa kakaknya Bintang tau padahal ini pertama kalinya bertemu.
“Bintang pernah cerita soal pacar dan temen deketnya. Kalo pacarnya dulu sering main kerumah, tapi kok Kay gak pernah?” tanya sang Bunda pada Kay.

Kay tersenyum lalu, “Iya tante, maaf ya” jawab Kay. Di mata Kay terselip kesedihan begitu dalam, ingin rasanya ia menangis, namun ini bukan waktu yang tepat justru akan menambah kesdihan keluarga Bintang khususnya bunda. Kay mengetahui penyakit Bintang baru hari ini, kak Vivin memberi tau saat menuju rumah sakit. “Bintang mengidap paru-paru basah sejak kecil” kata kak Vivin ketika Kay bertanya sakit apa Bintang. “sekarang kodisinya semakin parah” sambungnya lagi.
“Kakak nemenin bunda ke apotik dulu ya, gak papa di tinggal bentar?” tanya kak Vivin ketika bunda berjalan ke luar.
“Iya gak papa koq kak” jawab Kay. Langkah itu semakin terdengar jauh. air mata Kay berlahan jatuh hingga tak mampu ia tahan lagi. Kay menangis sekaligus mengajak Bintang berbicara.
“Sadar Bin! Lo gak boleh lemah. Lo pernah janji sama gue lo gak akan ninggalin gue. Gue bukan cewek yang kuat tanpa lo, gue bukan cewek yang hebat tanpa lo. Sadar Bin! Sadar” Kay terus menjerit dan menangis. Tanpa Kay sadari kak Vivin dan bunda sudah berada di ambang pintu. Mungkin bunda dan kak Vivin mendengar tangis keluh Kay. Bunda berjalan ke arah Kay dan merangkulnya dengan penuh kasih.
“Bunda juga merasakan hal yang sama Kay, kita harus sabar” kata bunda kemudian menangis.
*****

Tuhan
Baru aku merasakan indahnya persahabatan
Tulusnya kasih dan sayangnya
Dan kenapa kini engkau biarkan dia terbaring lemah

Tuhan
Karenanya aku bahagia
Karenanya aku mengerti arti persahabatan,
Kesetiaan, kepercayaan

Di tengah lingkaran noda dosaku
Aku lantukan doa tulus permohonan padamu
Sembuhkanlah dia!
Kembalikanlah dia seprti engkau kemarin memberikannya padaku Tuhan
Air mata Kay seolah tak pernah habis, setiap hari ada waktu dimana air matanya tak mampu ditahan untuk seorang Bintang.
Tiba-tiba terdengar pengumuman dari ruang informasi sekolah bahwa “BINTANG ANANDA FIRMANSYA MENINGGAL DUNIA”. Bintang telah meninggal, bintang telah pergi untuk selamanya. Kay manangis terus menangis, ia tak peduli apa yang akan orang katakan. Tapi semua tau Kay begitu dekat dengan Bintang sehingga mengerti perasaan Kay.
“Sabar Kay” kata Anita teman sebangku Kay yang kemudian memeluknya. Kay dapat izin pulang menemui Bintang di temani Anita dan teman satu kelas Bintang. Di sepanjang perjalanan air mata Kay terus mengalir, Anita merasa iba, Kay yang ia tau selama ini tak pernah menangis dan kuat kini tampak lemah.
Setiba di rumah duka Kay langsung memeluk Riszha yang sekarang mantan pacar Bintang, kemudian kak Vivin dan bunda. Mereka bertiga lah yang paling terlihat terpukul elain Kay. Sore hari setelah Bintang di makamkan, Riszha memberikan sepucuk surat dari Bintang. “Bintang nitip ini buat lo Kay”.
Kay menerimanya kemudian kembali menangis dipelukan Riszha. “Bintang sayang banget sama lo Kay, bahkan dia lebih milih lo ketimbang gue pacarnya” air mata Riszha kembali menetes. Riszha sempet kecewa pada Bintang saat mereka memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka yang hampir setahun, bahkan ia sempet bilang sangat membenci Kay. Karena Kay hubungan mereka hancur, tapi Riszha sadar tak seharusnya ia cemburu dan benci pada Kay. Benar kata Bintang, Kay cewek yang lugu, tulus, baik, perhatian, dan setia kawan.
*****
Satu minggu telah berlalu sepeninggalan Bintang. Kay masih dalam keadaan duka, rasa kehilangannya begitu dalam mengiris batinnya. Saat pulang sekolah ditengah perjalanan Kay kembali meneteskan Air mata. Ia tak percaya terlalu singkat semua yang ia lalui besama Bintang.
Kenapa lo dateng? kalo pada akhirnya lo bakal ninggalin gue untuk selamanya
Apa masih bisa gue berharap waktu bisa diputar dan lo masih disini bersama gue
Sampai saat ini gue gak bisa terima lo pergi Bin
Gue masih pengen habisin waktu sama lo
Satu bulan kita kenal, lo udah buat warna baru dalam kehidupan gue

Selama ini gue gak punya temen berbagi
Tapi sama lo, gue bisa berbagi dengan mudah
Lo yang selalu ada buat gue
Apakah bisa gue menerima semua ini dengan mudahnya Bin?
Bin kalo lo denger gue, gue pengen lo tau kalo gue juga sayang sama lo
Lo jahat udah ninggalin gue sendiri padahal lo janji gak akan ninggalin gue
Di rumah Kay langsung berlari masuk kamar, Kay membuka laci dan mengambil sepucuk surat yang Riszha kasih di pemakaman Bintang. Sebelum Kay membukanya, ia mengabil binder yang ada biodata Bintang beserta photonya, di liahatnya mata tajam sang Bintang dengan senyum manisnya yang menggoda kau wanita. “Lo emang keren Bin” ucap Kay.

Gak yangka gue bisa kenal sama cewek kayak lo Kay
Udah lugu, bawel, keras kepala lagi
Tapi buat gue lo temen terbaik yang pernah gue miliki
Karena lo, gue tau arti persahabatan, kesetiaan, ketulusan tanpa melihat perbedaan.

Kay, gue sayang banget sama lo
Mungkin pada saat lo baca surat ini, Riszha udah ngomong duluan kalo gue lebih milih lo ketimbang dia.
Gue sempet heran, koq Riszha bisa cemburu sama lo
Hhehehe.. (tau sendiri lo gimana) hhehehe.. peace
Kay kembali menangis .

Kay lo tu jadi orang jangan minder dong!
Lo tu gak kalah lagi dari mereka
Contohnya cowok seganteng gue mau tu deket ama lo bahkan sayang banget sama lo 
Jadi lo mesti percaya diri

Panjang ni surat gue,
Habis kalo gue ngomong langsung gue takut lo marah
Lo kan suka marah-marah sama gue
Tapi gak papa, gue tetep sayang koq 

Kay, sekarang gue udah gak bisa lo lihat
Tapi percayalah disini gue masih melihat lo
Gue masih mendoakan lo
Jadi lo harus Semangat
OK!!!
Inget pesen gue, jaga diri lo baik-baik dan gue yakin lo cewek yang hebat dan kuat.
I Will Always to become your friends forever.
Kisah bersama Bintang telah menjadi kenangan buat Kay, namun selamanya Bintang adalah bintang di hati Kay.
Gue kangen tawa lo
Gue kangen marah lo
Gue kangen ejekkan lo
Gue kangen semua tentang lo Bin
Tapi gue janji, bakal berusaha ikhlas ngelepas kepergian lo,
Dan gue yakin Tuhan bakal kasih tempat terindah untuk orang sebaik lo
Gue bakal inget terus pesan lo, karena lo MY BEST FRIEND FOREVER.

TAMAT
 
PROFIL PENULIS
Aku adalah “Kristia Apriyani”, seorang gadis kedua dari tiga bersaudara. Lahir di Palembang, 02 April 1993. Panggilan akrabku banyak, whatever kalian mau panggil aku apa. Aku menyukai bintang, bahkan sangat menyukai bintang. Kenapa aku menyukai bintang? Karena bintang teman malam yang selalu bercahaya untukku. Sekalipun ia tak muncul tapi aku merasa dia tetap hadir pada malamku (lebay). Aku juga suka mickey mouse, koleksi pernak pernik udah lumanyan, kalau mau nambahin dengan senang hati mau (ngarep.com) . Hobbyku menulis, menulis apa yang ada dalam pikiranku. Aku tidak peduli apa yang aku tulis itu bagus atau tidak, tapi aku tetap saja ingin menulis. Selain itu aku juga suka membaca, baik itu novel, biografi, filsafat, pokoknya buku yang menarik untuk dibaca. Aku juga ngefans sama Taufik Hidayat, Handika Pratama, Jang Geon Suk (oppa sukkie), Kim Hyun Joong, Lee Min Hoo, Park shi Hoo, Agnes Monika, Rain, Hyun Bin (banyak banget ya), tapi emang kenyataannya aku suka sama mereka. Bahkan mereka termasuk inspirasi aku.
FB: kayrayummechi@yahoo.co.id

Baca juga Cerpen Persahabatan yang lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar