Kamis, 17 Mei 2012

Cerpen Horor - PO. Sinar Pantura

PO. SINAR PANTURA
Oleh Bahri Ahmad

Ketika aku merogo sakuku untuk mengambil buku nadloman alfiyah yang berada disakuku, aku tidak menemukan buku nadloman miniku itu melainkan aku menemukan karcis bus yang sudah lusuh, yang masih berada disaku bajuku yang memang belum pernah aku cuci semenjak aku masuk ke pesantren ini. Baru sebulan aku menginjak pesantren yang besar ini, sebuah pondok pesantren salafi yang bertempat dipesisir pantai utara, dan pengasuhnya sangatlah alim dan masyhur.

Saat aku melihat karcis lusuhku itu, aku jadi teringat dengan rumah dan keluargaku, sehingga aku pun sempat meneteskan air mata yang tak bisa aku bendung. Hal seperti itu sudah sangat lumrah dikalangan santri-santri baru dimana saja, karena rasa haru masih menyelimutiku sebagai orang yang baru pertama kali meninggalkan rumah dan keluarga demi menuntut ilmu agama. Dikarenakan kebiasaanku dirumah yang dimanja, serba ada, dan selalu kumpul dengan keluarga dan teman-teman yang telah aku kenal sejak kecil. Lain halnya dipesantren aku harus bisa betul-betul merawat diri dengan uang saku pas-pasan dari rumah dan di tuntut hidup super mandiri, hidup dipesantren bagaikan mengawali hidup baru, dengan lingkungan yang baru, teman baru dan situasi baru, jadi itu semua itulah yang menjadikanku tidak betah dan ingin kembali kerumah.

Ketika aku membuang karcis lusuh itu ke lantai pojok kamar, yang memang menurutku karcis itu memang sudah tidak berguna lagi, tiba-tiba seorang laki-laki berbadan besar dengan memakai songkok hitam sambil membawa beberapa kitab kuning yang ia rangkul, ia mendekatiku dan menyodorkan tangan kanannya kepadaku,“santri baru ya?” tanyanya.
“iya kang, aku santri baru, baru sebulan yang lalu aku tiba disni.” Jawabku sambil tersenyum dan menjabat tangannya yang ia sodorkan kepada diriku.
“Ooo, ya aku maklumi, besok lagi kalau kamu mau membuang sampah, sekecil apapun itu buanglah pada tempatnya jangan dibuang sembarangan seperti ini, nanti kamu bisa terkena hukuman membuang sampah sembarangan lho.” Tuturnya sambil mengambil karcis lusuh yang telah aku buang kelantai tadi.

Setelah ia mengambil karcis yang aku buang kelantai tadi, ia pun membacanya, dan setelah ia agak lama terpanah melihat karcis yang aku buang tadi, lalu ia memandangku dengan cukup lama, seolah-olah ia memendam banyak pertanyaan dan rasa penasaran. Aku pun mencoba menyapanya tapi ia seakan-akan tidak mendengarkanku dan terus memandangiku dengan histeris, setelah ia sadar lalu ia melipat karcis lusuhku itu dan ia masukan ke kantongnya, tiba-tiba saja ia pergi tanpa ada kata perpisahan atau kata-kata lain, ia seperti halnya orang yang habis melihat sesuatu yang mengerihkan dan ketakutan.

Aku pun cuek aja, mungkin saja ia kaget kalau aku berasal dari daerah yang cukup jauh dari sini, pikirku saat itu, aku pun melanjutkan kegiatanku seperti biasa. Setelah aku tanya keteaman-teman sekamarku tentang siapa orang itu, ternyata dia adalah pengurus kebersihan dipondok ini, dan ia merupakan santri terlama dipesantren ini. Keesokan harinya setelah aku menjemur pakaianku yang telah aku cuci, tiba-tiba orang yang menegurku kemarin mendekatiku dengan membawa dua orang temanya yang sebaya dengan dirinya.
“Waduh, mampus aku kali ini, aku tidak bisa kabur dari takziran kebersihan gara-gara kecerobohanku kemarin.” Pikirku ketakutan ketika orang kemarin dan dua orang temannya itu mengajakku ke tempat teduh, dilokasi penjemuran baju yang berada dilantai lima koplek asramahku.
“Lho, sampean ini dari lamongan ya kang?” Tanya salah satu dari mereka.
“Iya, betul aku berasal dari lamongan.” Jawabku sambil meletakkan ember dilantai.
“Maaf lho kang, aku cuman mau tanya-tanya saja, gak bermaksud yang lain. Sampean pas dari rumah kemaren hari apa? Terus jam berapa? Dan betul sampean naik bus Sinar Pantura sesuai dengan karcis yang aku pegang ini?” tanyanya lagi padaku sambil menunjukkan karcis yang aku buang kemarin. Akhirnya aku pun menceritakan perjalananku ke pesantren sebulan yang lalu.

Aku kemari lalu hari kamis malam, sekitar jam Tujuh malam dari rumah diantar kakaku naik motor dari rumah ke tuban, terus aku ditinggal di terminal lama tuban, dan kakaku pun kembali pulang dengan berpesan supaya aku menunggu bus yang melewati jalur pantura yakni bus jurusan surabaya semarang. Setelah lama aku menunggu ada dua bus yang sangat kencang sekali, ketika aku melambaikan tanganku mereka tak memperdulikanku, mereka tetap saja kencang seakan-akan tak melihatku. Aku pun menunggu cukup lama lagi, hingga aku melihat arah jarum jam tanganku menunjukkan waktu tengah malam yang menunjuk ke arah angka sebelas.

Waktu pun terus berlalu suasana semakin sepi dan sunyi, tak satu pun orang yang berada di jalan raya ini, kecuali truck-truck besar yang mengangkut barang-barang berat, dan rasa dingin mulai mencekam tubuhku yang hanya tertutupi baju koko lengan pendek tanpa adanya jaket tebal yang melindungi tubuhku, angin laut terus berhembus semakin kencang ditambah tetesan air hujan yang mulai berjatuhan, sedikit demi sedikit untuk membasahi jalan raya dihadapanku.

Ketika aku hendak mencari tempat berteduh, dari kejauhan aku melihat sebuah bus yang sedang berjalan dengan amat pelan, aku pun dengan sabar mencoba menunggu bus yang aku lihat tadi dengan berharap semoga saja menghampiriku. Setelah bus itu pas berada dihadapanku tanpa aku melambaikan tangan, bus tersebut berhenti dan membukakan pintunya buat diriku, aku pun masuk dengan membawa dua kardusku yang amat berat itu. Pas aku menginjak kakiku dipintu masuk bus, seorang kernet yang sedang duduk di bangku paling belakang menyapaku dari kegelapan.
“Monggo mas, silahkan duduk didepan sana kebetulan dua bangku didepan sana lagi kosong belum ada orang yang menempatinya.” Tawarnya sambil menunjuk bangku yang memang betul belum ditempati orang.
Aku pun menuju bangku yang telah ditunjukkan oleh pak kernet tadi, sambil berjalan menuju bangku depan dan mengangkat kardus-kardusku aku melihat semua penumpang sudah pada terlelap oleh mimpinya masing-masing, tak satu pun penumpang yang membuka matanya.

Suasana bus kali ini sangatlah ramai, tak satu pun bangku yang tersisa kecuali bangku yang telah diwarkan kepadaku, setelah aku duduk beberapa menit dibangku itu semua lampu yang berada di dalam bus itu langsung mati seketika, dan bus pun berjalan dengan amat kencang, entah mengapa pikiranku terasa amat kacau saat itu, bulu kudukku mulai bangun satu persatu. Ketika aku melihat jalanan melalui cendala bangkuku, tak satupun kendaraan yang sedang berjalan, seolah-olah bus yang aku tumpangi ini berjalan sendirian menguasai jalanan.
Diriku pun termenung sendiri sambil menunggu petugas yang meminta uang jasa untuk ditukarkan dengan karcis bus, tak lama setelah aku duduk dibangkuku itu, tiba-tiba bus berhenti dan lampu menyala kembali, sang kernet pun menyerukan “pondok pondok, ayo mas dah sampai pondok tu, silahkan turun.”

Akhirnya aku pun bergegas mengambil barangku untuk aku bawa turun, aku pun mendekati kondektur yang ada dibelakang dan bertanya padanya, “Pak, aku tadi belum bayar ongkos bus, mang berapa harganya pak?”.
“Dah gak usah dik, gratis saja buat kamu, itung-itung shadaqahlah buat kang santri yang baru akan mondok, sudah salamku saja buat Mbah Yai dan jangan lupa belajar yang sungguh-sungguh disana, selalu ingat akan orang tuamu yang bersusah payah untuk membiayaimu.” Tegas pak kondektur itu.
Aku sangat sangat terheran-heran, “kok orang ini tahu kalau aku ini santri baru ya?” pikirku dalam hati.“Kalau begitu terima kasih banyak ya pak. Oia pak, nanti kalau aku sampaikan salam Bapak ke Mbah Yai, apa yang harus aku haturkan? Dari siapa?” tanyaku.
Dia pun dengan segera langsung menyobek karcis yang ia bawa tadi, “Dah begini saja, kau kasihkan karcis ini ke Mbah Yai, insyaallah nanti dia tau sendiri kok.”
Setelah aku menerima karcis yang diberikannya padaku, aku pun langsung turun, dengan rasa penuh pertanyaan dalam pikiranku tentang bus yang aku tumpangi barusan, “ kok cepet banget ya? Prasaan belum ada setengah jam aku naik bus barusan, padahal kata kakaku perjalanan dari tuban kemari membutuhkan waktu tiga jam, tapi kok kayaknya cuman lima belas menit saja.” Pikirku saat itu.

Ketika aku melihat suasana disekelilingku sangatlah ramai oleh para santri yang sedang berjalan-jalan dan juga ada yang nongkrong diwarung, aku pun tersenyum dengan lega telah sampai pada tujuan dengan selamat, aku pun kagum dengan suasana disini, ini kan sudah jam satu lewat tapi masih saja ramai, padahal dituban tadi jam sebelas sudah tidak ada orang lewat sama sekali.

Akhirnya aku pun berjalan masuk ke pesantren, ketika aku melewati sebuah warung makan aku melirik pada jam dinding yang ada diwarung itu, aku pun di kejutkan dengan arah jarum jam dinding tersebut yang masih menunjukkan angka sembilan, aku pun segera melihat jam tanganku yang baru saja dibelikan ayahku dua hari yang lalu, saat kulihat arah jarum jam pun sama dengan yang ada di jam dinding yang berada diwarung makan itu. Diriku pun semakin kebingungan, dengan apa yang aku lihat barusan. “Prasaan aku menunggu bus sangatlah lama, bahkan saat aku melihat jam tanganku sudah menunjukkan angka dua belas lebih, tapi mengapa sekarang kok masih jam sembilan.” Pikirku yang kebingungan dengan waktu yang menyelimutiku dari tadi. Aku pun mengakhiri ceritaku, dan salah satu dari tiga orang yang menemuiku itu bertanya padaku.
“Yakin sampean kalau ini karcis dari bus yang sampean naiki lalu? Setahuku kang, tidak ada bus yang bernama Sinar Pantura yang melintasi jalur pantura ini, yang ada itu Sinar Mandiri, Restu, PO. Indonesia, Widji atau bus-bus patas lainya. Terus karcis ini sudah sampean haturkan ke Mbah Yai?”
“Sudah kok kang, waktu aku sowan pertama kali itu.” Jawabku.
“Terus apa respon dari Mbah Yai?” Tanyanya lagi.

Saat aku menyampaikan salam Pak Kondektur, terus aku memberikan karcis itu ke Mbah Yai, lalu Mbah Yai sempat terdiam sesaat, kemudian beliau melihat wajahku dan bertanya padaku tentang kejadianku saat naik bus dan bertemu Kondektur itu, setelah aku menceritakan semua, beliau tersenyum dan berpesan padaku. “Tolong kamu ingat pesan Pak Kondektur yang telah berpesan dengan kamu itu, dan Alhamdulillah lah nak kamu selamat, bus yang kamu naiki itu terus orang-orang yang kamu jumpai itu dan kondektur yang berpesan dengan kamu itu bukanlah sama dengan apa yang kamu pikirkan, mereka semua bukanlah golongan dari kita melainkan mereka itu golongan jin yang kebetulan melintas dijalur manusia.”

Rembang, 03 Mei 2012

Baca juga Cerpen Horor yang lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar