Minggu, 24 Juni 2012

Cerpen Cinta - Sandiwara Chika

SANDIWARA CHIKA
Karya Mila Wulandari

“Ini bukan masalah sepele seperti yang kamu katakan Sar. Masalah ini sangat berarti bagi aku karena semua ini ada kaitannya dengan hubungan kita. Benar begitu kan Chik?”. Kata Raka suatu hari pada Chika yang duduk tak jauh darinya. Chika bengong, bingung tak bisa menjawab karena kehabisan kata-kata. Entah mengapa Raka tiba-tiba bertanya demikian padanya. Suasana pun menjadi menegangkan saat itu. Namun Chika berhasil merubah suasana itu kesela-sela hati Raka dan Sarah yang sempat renggang.

Pertanyaan Raka tadi sudah membuat suasana hati Chika dan Sarah menjadi tertekan. Namun mereka berhasil menahannya sampai diakhir pertemuan itu. Sudah cukup lama mereka berbincang tapi dalam hati Chika berkata mungkin dengan kepergiannya keadaannya akan lebih baik lagi. Karena dia, Raka dan Sarah masih terlihat canggung. Chika sudah mulai terlihat bergegas ingin beranjak pergi, namun gerak-gerik itu sudah dimengerti oleh Raka.
“Mau kemana kok buru-buru?”
“Sorry, aku harus cabut. Tiba-tiba ada pertemuan mendadak yang harus aku temui.” Kata Chika beberapa saat kemudian.

Raka mengizinkan. Namun setelah Chika berada didepan pintu itu, dia lalau berhenti karena tak bisa membukanya, seperti terkunci. Terpaksa Chika kembali ke Raka dan mengadu kepadanya. Raka tersentak kaget setelah Chika mengabarkan demikian. Akhirnya Raka dan Chika kepintu itu untuk memastikan. Dan benar apa kata Chika tadi.
“Kamu kayak gak tau rumah aku aja. Bentar ya kamu tunggu disi dulu aku ambil kuncinya didalam.” Pinta Raka pada Chkia. Tapi Chika menolak.
“Nggak usah aku lewat pintu belakang aja, aku terburu-buru niih…”
“Jangan… kamu tungguin aja dulu disini, aku bentar kok, lagi pula pintu belakang juga rusak. Bentar ya aku ambil dulu.”

Terpaksa Chika mengabulkan permintaan Raka itu. Sampai lewat lima menit Raka tak juga muncul-muncul. Chika mulai termakan emosi dan jengkel karenanya. Akhirnya dia memutuskan untuk mencari Raka sampai kedalam rumah. Namun tak disengajanya Chika melihat Raka dan Sarah berciuman seperti orang baru bertemu sebelumnya. Chika kembali marah dia langsung lari ke ruang tamu lagi menyembunyikan rasa sakitnya.
“Kak Rakaaaa cepeeeet bukaiiiiiiin pintunyaaaaaaa!!!”. Teriak Chika tiba-tiba suaranya sampai terdengar jelas dari luar ruamah.

Raka dan Sarah terkejut mendengar teriakan itu. Raka pun baru ingat kalau Chika sedang menunggunya. Raka segera menghampiri Chika dan meningalkan Sarah. Disisi lain Sarah sebenarnya juga ingin pulang dan dia pamit sebentar pada Raka.
“Iya… iya… gak sabaran amat sih?!”. Kata Raka sambil berjalan menuju kearah pintu dengan membawa kuncinya.
“Lo sengaja kan ngerjain gue?! Bilang aja kalo lo Cuma memperlihatkan kemesraan kalian aja ke gue!.” Sentak Chika tiba-tiba tanpa sebab.
“Kemesraan apa? Kamu kenapa sih tiba-tiba marah-marah sama aku? Aku sama Sarah gak ada apa-apa Chik.” Kata Raka mencoba untuk mempercayai Chika.
“Aku sama Sarah gak ada apa-apa… Munafik!.” Bentak Chika masih tak percaya sambil memperlihatkan muka sinisnya pada Raka.

Chika tak mungkin percaya begitu saja pada Raka. Dia memilih mengakhiri masalah ini dengan pergi. Namun Raka berhasil menerkam tangan Chika sampai Chika berhenti melangkah.
“Apaan sih, lepasin gak!.” Bentak Chika. Namun Raka mengelak, ia tak mau melepaskannya sebelum Chika akan mengerti maksudnya.
“Sejak kapan kamu percaya sama orang lain, bukannya kamu pernah bilang kalau kita harus saling percaya dan saling jujur?! Dan sekarang kamu mengingkarinya sendiri, kamu sudah gak jujur sama aku, Chik??!”
“Soal apa?”
“Jangan pura-pura. Aku sudah tau maksud kedatangan kamu kerumah aku. Sebenarnya kamu kesini mau ngungkapin perasaan kamu kan ke aku kalo kamu suka sama aku?”.Kata Raka tak mau kalah. Dengan modal kepercayaan Raka berani berkata langsung seperti itu pada Chika.
“Jangan ngarang deh lo!.” Kata Chika membantah kebenaran itu. “Jangan sok tau deh kak?! Aku kesini mau ngambil laptop aku. Laptop aku ada di kakak kan?, sudah selesai kakak Instal kan, sekarang mana laptopnya aku sekarang butuh barang itu?”. Mungkin dengan alasan itu Chika mampu keluar dari pertanyaan Raka yang berat dijawabnya. Sangat kebetulan memang laptopnya ada di Raka beberapa hari yang lalu.

Raka mendiam seketika. Memalingkan pandangannya karena saat Raka serius kepadanya Chika tak mempedulikan pertanyaannya. Atas permintaan Chika. Raka akhirnya mengambil laptop Chika didalam. Chika pun menunggunya. Tak lama kemudian Raka akhirnya muncul dan berkata pada Chika sebelum memberikan laptop itu kepadanya.
“Kamu pinter juga ya membuat alasan supaya bisa keluar dari pertanyaan aku. Pintar bersandiwara dan juga pandai menyimpan perasaan.”
“Maksud kakak?!”. Chika sangat tak mengerti maksud kata-kata Raka itu. Raka tersenyum kecut mendengar pertanyaan Chika itu. Chika meneruskan.” udah ya kak jangan perpanjang masalah lagi. Habisnya kakak tuh yah aku tunggu dipintu lama banget ya aku langsung kedalem nyari kakak, eeh lo malah asik-asikan sama Sarah, emang gue penjaga pintu apa?.”
“Oke. Soal itu aku minta maaf. Aku memang salah. puas. Tapi soal… “
“Soal apa lagi siih kaaak, udah jelas kaaan lo sama Sarah pacaraaan. Ya udah jalanin ajah.”
“Chikaa sudah aku bilang Sarah itu bukan siapa-siapa aku, harus berapa kali sih aku jelasin?!.”
“Kak. Asal tau saja aku kesini cuma ngambil laptop aku, udah itu ajah, asal kakak tau saja jangan asal nebak maksud kedatangan aku kesini. Dan juga soal perasaan aku ke kakak tetep Chika pertahanin, Chika masih pingin jadi sahabat kakak, bukan sebagai pacar lo kak.”

Meski mencoba untuk memahami maksud kata hati Chika. Raka tetap tak percaya dengan yang dikatakannya. Cowok ganteng dan tinggi itu mendiam karena tak sehati dengan Chika maksud jalan pemikirannya. Kecewa kini merenggut hatinya.
“O..o..oke kalo itu mau kamu.” Jawab Raka berat mengatakannya.
“Sudah kan, aku boleh pulang kan sekarang?.”

Raka mengizinkan walau berat melakukannya. Sampai jauh Chika melangkah Raka tak memalingkan pandangannya dari balik wajah Chika. Dia membiarkan hatinya bergeming.
“Sampaikapan gue terus mengalah dan terus bertahan. Kenapa dia gak pernah sadar akan isi hati gue.”

Cerita ini tak berakhir sampai disini. Raka merasa lelah atas kedangkalan cinta Chika yang susah digapainya dan susah dimengertinya. Dia juga sempat tak sanggup mencari tau akan isi hati Chika yang sesungguhnya kepadanya. Tapi jika Raka membiarkan perasaan yang terpendam sejak bertahun-tahun itu dia pasti merasa bersalah atas janjinya dulu saat ia pergi meninggalkan Chika yang tanpa pamit itu. Waktu terus bergulir. Kata-kata Raka tadi tak menghilang dari pikiran Chika yang saat Raka bilang dia pintar membuat alasan supaya bisa keluar dari pertanyaannya, pandai bersandiwara dan pandai menyimpan perasaan. Chika terus memikirkannya. Sebenernya benar apa yang dikatakan Raka tadi Chika datang kerumahnya untuk mengungkapkan perasaannya yang tertunda waktu itu. Dia sangat kecewa karena tak sempat mengungkapkannya. Kini untuk yang kedua kalinya perasaan itu terhenti.
“Iiiiiiihhh…. Ngapain sih gue mikirin lo terus. Gue gak suka sama lo!.”
Teriak Chika didalam kamarnya sambil memandang foto albumya bersama Raka beberapa bulan yang lalu saat liburan. Chika sangat malu dengan apa yang dilakukannya tadi. Sampai dia merasa tak pantas mengungkapkan perasaannya pada Raka. Tau-tau Raka sudah termiliki. Kini Chika sudah merasa lelah hatinya. Lelah mencari cinta yang nyata dari Tuhan untuknya. Dan sekarang Chika menunggu mukjizat itu.

Entah ada angin apa? ketika Chika keluar rumah menenangkan hatinya yang gelisah karena Raka. Sendiri malam itu. Berjalan sambil melamun sampai dia menabrak seseorang.
“M..mma’af , mas nggak sengaja sumpah.” Gerutu Chika merasa bersalah atas tindakannya.
“Chika?”

Sontak Chika langsung mengarahkan pandangannya pada seseorang yang ditabraknya itu. Chika bengong karena suara cowok yang memanggilnya itu sangat dikenalinya.
“Kak Raka?!. Ngapain kakak disini?!”.
“Seharusnya aku yang nanya, aku nyari angin. Terus, kamu ngapain malam-malam jalan sendirian disini?!” Tanya Raka menanyakan pertanyaan yang sama.
“Didalam rumah panas, sama aku juga nyari angin?”.

Raka hanya bisa mendiam mendengar alasan chika itu. Seolah tak bertemu bertahun-tahun meraka masih terlihat canggung meski status mereka adalah sahabat. Namun perasaan merekalah yang mampu menguatkan keadaan seakan tak ingin pergi dari tempat itu.
“Hebat yah kita bertemu disini lagi?!”. Kata Chika membuka pembicaraan sembari mengingat awal bertemunya dengan Raka dulu waktu kecil.
“Kamu bener, setelah aku amat-amati, tempat ini masih sama seperti dulu tak berubah sama sekali, ayunan itu dan tempat duduk ini.”Jawab Raka menambahkan seraya menunjukkan tempat yang dikatakannya itu.
“Aku jadi pingin mengulang kembali masa kecil yang menyenangkan itu. Sebenarnya dulu aku pingin ngajak kakak kesuatu tempat yang indaaaah banget. Sayang kakak keburu pergi. Akhirnya aku sendirian deh kesitu. Menghabiskan waktuku ditempat itu.”
“Sekarang kamu masih sering ketempat itu?”.
“Ya nggak sering-sering amat siih, kalau hati aku galau saja kesitu”.
“Galau? Ko’ kamu gak ngajak-ngajak kakak?”
“Sebenarnya sih aku pernah ngajak kakak pergi ke tempat itu, tapi aku lihat kakak sepertinya masih sangat sibuk”.
“Masak sih, kapan?”.
“Masak kakak gak inget, minggu kemaren pas sore-sore habis hujan, malah kakak yang nanyain aku mau kemana?”.

Akhirnya Raka ingat akan hari itu. Dia langsung tersenyum lebar mengingatnya. Mereka kemudian mendiam. Tak tau mau ngomong apa lagi. Tapi lagi-lagi Chika memulai duluan awal perbincangan itu.
“Emmm…. Kak soal tadi sore aku minta maaf. Demi Tuhan kak aku gak bermaksud menyinggung perasaan kak Raka. Aku …”
“Ssshhuut… chika udah. Aku tau, aku sudah memeaafkan kok. Emmm… Aku juga minta maaf soal pintu itu. Sebenarnya aku sengaja menguncinya.”

Sudah diduganya Raka sengaja melakukan itu. Tapi Chika berpura-pura tak menahu soal masalah pintu itu.
“Kenapa begitu?”.
“Kamu masih gak ngerti juga?!”.

Chika menggeleng tak mengerti. Raka mendesah.
“Aku sengaja ngelakuin itu karena aku gak mau kamu pergi dari sisi aku, Chik. Habisnya kamu siih pergi disaat keadaan aku terjepit. Apalagi Sarah ngaku-ngaku pacar aku lagi. Malah kamu nggak percaya sama aku.”
`“Emang begitu kenyataannya, jahat banget sih lo kak jadi orang. Pacar sendiri gak dianggep?!”.
“Emang siapa yang pacaran Chika, kamu salah paham, aku sama Sarah memang gak ada apa-apa cuma sebatas teman saja…” Kata Raka menerangkannya lagi. “iya dulu aku sama dia memang satu kampus dan satu kelas juga, tapi aku gak menyimpan perasaan sama dia, Chika”.
“Lantas dia ngapain ngikutin kakak kesini jauh-jauh dari Jakarta kalu bukan dia suka sama kakak”.
“Aku juga nggak nyangka sebelumnya dia nekat ngikutin aku kemana aku pergi.”
“Terus sudah kakak jelasin kedia kalo kakak Cuma nganggepnya sebagai teman saja?”.
“Sudah. Berkali-kali malah. Kakak juga pernah jelasin kedia kalo kakak sudah suka sama cewek lain”.
“Lo selingkuh kak?!!’’. Celetus Chika tiba-tiba nyerocos tepat ditelinga Raka. Raka kaget mendengarnya.
“Ya nggak lah ngapain kakak selingkuh, secara aku kan cowok setia, kakak cintanya cuma sama satu cewek saja, Chik, kamu tau sendiri kaaan aku orangnya gimana”.
“Percaya nggak yaaa…????”. Gurau Chika dengan gurauan alay nya. Chika pun tertawa lalu diikuti oleh Raka. “terus cewek mana lagi yang lo pingin digebetin, kak?”.
“Kasih tau nggak yaaa….???”. Raka jadi ikut-ikutan alay. Serempak mereka langung tertawa terbahak-bahak.
“Chika seriuuuuuss…………..????!!”.
“Yakin kamu mau tahu”.

Chika lekas menganggukan kepalanya segera ingin mau tahu cewek mana yang ingin dipacari Raka lagi.
“Tapi janji dulu kamu jangan cemburu”.
“Iya nggak bakalan. Ayo cepet jawab kaaaak...”

Sungguh Raka sudah membuat Chika menunggu. Raka pun akhirnya menjawabnya dan Chika siap mendengarnya.
“Sebenarnya aku pernah sempet ngungkapin, ya gak ngungkapin siih… gimana yah jelasinnya, aku sudah beri isyarat kedia tapi dia lama juga gak ngerti-ngerti”.
“Ya iyalah kakak mana mempan kalo Cuma pake isyarat doang, cinta itu perlu bukti. Bukan puitis, cie elah bahasa gue. hahahaha.”
“Iya siih,,, aduh aku jadi gak enak nih sama dia.”
“Emang dia itu siapa siiih kaaaak, anak orang angkatan??”. Chika tambah semakin bingung karena Raka menjelaskannya kemana-mana.
“Bukan.” Kata Raka membenarkan.
“Lalu siapa???”.
“Iya deh aku jawab, aku….. suka…. Sama….. seorang…. Cewek… tomboy yang sekarang duduk disebelah kakak.” Jawab Raka sambil melirik kearah Chika.

Jelas Chika kaget mendengar jawaban dari Raka itu. Chika pun sadar kalau cewek yang dimaksud Raka itu adalah dirinya. Namun Chika masih tak percaya bahwa dugaannya benar apa salah. Dia lalu mengamat-amati keadaan posisinya yang jelas-jelas duduk disebelah Raka.
“C..cc..chika maksud kakak?”. Jawab Chika gagap. Dia tetap masih tak percaya. Namun disisi lain Chika mulai merasakan jantungnya bergetar hebat. Dan Chika jadi salah tingkah saat Raka membenarkan maksud kata-katanya. Sambil menggenggam penuh harap tangan Chika dibawah rembulan yang utuh bersinar menerangi gelapnya malam itu. Raka bergeming.
“Aku tau kamu pasti gak menyangkanya kan kalo aku cinta sama kamu Chik? aku ngerti, kamu gak mau jadi pacar kakak? Tapi seenggaknya aku sudah berkata jujur dan hati kakak sekarang tenang. Hati aku sudah merasa nggak tersiksa lagi kayak dulu.”
“Emangnya kak Raka anak angkat apa, yang suka disiksa sama ibu tirinya?”. Gurau Chika lagi.
“Ha… ha… ha… ya nggak lah. Enak aja. Batin aku tuh tersiksa karena kamu lama gak negerti-ngerti juga maksud perasaan aku.” Jelas Raka panjang lebar
“Kakak siih… mana mungkin Chika ngerti perasaan kakak kalo caranya seperti itu, kecuali kalo kakak ungkapin sendiri. Kak Raka tuh seharusnya juga sadar Chika itu cewek gak mungkin Chika dulu yang ngungkapinnya.”
“Aku lagi yang disalahin”. Raka sewot. “ terus ngapain tadi Chika kerumah?! Mau ngungkapin perasaan tapi tertunda karena Sarah datang?”.
“Kakak kalo ngomong suka nyleneh yah. Udah ah aku gak mau denger masalah itu lagi. Kakak gak mau kan kita bertengkar lagi Cuma gara-gara soal itu?”.
“Kita bertengkar bukan masalah tadi, Chik. Tapi ada orang ketiga yang tiba-tiba datang ditengah-tengah kita dan perasaan kita yang egois tak mau jujur”. Kata Raka membenarkan hal itu pada Chika yang masih membantah tentang dirinya dan perasaannya.

Tak sadar mereka saling menatap. Hati Chika pun bergetar saat merasakannya. Namun sikap keangkuhannya berhasil ia lakukan agar pandangannya bubar.
“Emmm… bintangnya banyak banget yah”. Kata Chika tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke langit yang terang benderang. Namun setelah kedua mata Raka ikut menerawang tinggi kelangit. Bibirnya tiba-tiba menari diudara.
“Gak ada bintang malam ini sayang, lihat ajah tuh langit terang benderang itu karena bulan yang meneranginya”.
Chika menengok ke langit sekali lagi untuk memastikan. Kepala gadis berumur 18 tahun dan selisih 7 tahun dari Raka yang sudah berumur 25 tahun ini tiba-tiba langsung tertunduk menyembunyikan rasa malunya dibalik jaket topinya. Meski gadis ini penampilannya tomboy. Tapi dia berbeda dari gadis yang lain. Sikap keluguannya yang membuat Raka semakin hati ingin memiliki selamanya. Walau yang Raka ketahui waktu kecil dulu Chika adalah gadis kecil yang cantik jelita memakai gaun bewarna pink saat dia diajak oleh Raka pergi bersama kesebuah tempat yang romantis. Dan pada saat itu Chika yang berumur 10 tahun yang Raka anggap dia masih belum mengerti akan sebuah makna kata cinta.

Namun ternyata. Dugaan Raka salah, Chika sangat paham betul saat itu sikap Raka kepadanya yang berbeda dari hari sebelumnya. Maka dari itu Chika nekat akhirnya mengungkapkan perasaannya duluan yang seharusnya cowok dulu yang mengatakannya. Sehari setelah Cika mengerti Ia langsung kerumah Raka. Namun tak sempat Chika ungkapkan karena terlihat Raka terburu-buru pergi keluar kota dan menetap disana. Lalu setelah sekian tahun Raka kembali dan selang beberapa minggu kemudia seorang cewek dekat dengan Raka yang mengaku-ngaku sebagai pacarnya. Dan cewek itu tak lain adalah Sarah. Alasan Sarah mengikuti Raka adalah karena dia cinta mati betul sama Raka. Awal pertemuan mereka adalah dikampus. Sedangkan Sarah adalah seorang cewek yang supel namun agresif masalah cinta.

Suasana kembali hening. Dan dalam keheningan itu. Angin malam mulai terasa datang perlahan berhembus kesela-sela napas yang menungu datangnya mukjizat-Nya itu. Tak mau Chika mengakhiri pertemuan yang telah direncanakan oleh Sang Perencana ini. Chika berusaha menyapa Raka sekali lagi yang diam duduk disebelahnya.
“Kok diem mulu dari tadi. Gak asyik ah. Kakak, kamu kenapa kayak sedang memikirkan sesuatu gitu?”. Tanya Chika sambil mengamati wajah Raka yang memanag terlihat sedang berfikir dan tertunduk.
“Aku kepikiran soal tadi.” Jawab Raka singkat.
“Kan udah Chika bilang jangan terlalu….”
“Bukan masalah itu. Aku masih belum mengerti kata-kata kamu tadi kalo kamu Cuma mau jadi sahabat aku. Jujur perasaan aku masih gak tenang, Chika. kamu bercanda kan apa yang kamu bilang itu?”.
“Ooh, soal itu? Iya memang bener kok, Chika gak bohong, Chika memang mau jadi sahabat kakak. Chika mau jadi best friend kak Raka. Gak lebih. Tapi tenang saja. Chika gak bakalan pergi dari sisi kakak kok. Selamanya. Sebagai sahabat seharusnya menjadi pendukung yang setia dong.”
“Janji, kalo kamu gak akan ninggalin kakak?”.
“Iya, Chika janji”.

Kedua jari kelingking itu pun melingkar saling mengikat bertanda sebuah perjanjian telah disepakati. Raka tersenyum melihat Chika tersenyum manis, namun senyuman Raka itu hanyalah pelengkap kehangatan suasana hati Chika saja.
“Meski kau sering melihat aku tersenyum, tapi kamu tak pernah tau kalau aku juga sering mengis karena terluka, Chika”. Kata hati Raka suatu ketika. “tapi, seenggaknya aku merasa legah mengungkapkan sebagian perasaanku padamu.”
Disisi lain dihati yang berbeda hati Chika mulai bersuara. “maafin gue kak, gue sering nyakitin hati lo, gue sering mengulur cinta lo, gue memang egois, tak pernah ingin tahu maksud perasaan lo. Asal lo tau saja gue juga cinta banget sama lo kak. Gue sayang benget sama lo kak.”

Firasat mulai dirasa Raka pada ungkapan hati Chika yang berbisik dihatinya. Getaran cinta itu semakin kuat dirasanya. Dalam kehangatan pelukan dan dalam sandaran kepala Chika yang terdampar di pundak Raka telah membuat cerita baru lagi ditempat itu. Seiring dengan berjalannya waktu yang menghabiskan malam itu. Suatu ketika di pagi hari Sarah menelphone Chika. Disamping itu Raka datang mampir kerumah Chika. Namun Raka terlambat saat itu. Dia rencananya juga ingin mengajak Chika pergi namun tertunda karena Chika juga punya janji dengan Sarah terlebih dulu. Raka tak tau kalau Chika ingin menemui Sarah disuatu tempat. Dengan diam-diam Raka mengikuti Chika kemana ia pergi dengan mengerndarai mobil kunonya. Tak lama kemudian Raka berhenti karena Chika berhenti di persimpangan jalan. Dari belakang Raka mengikutinya. Raka bersembunyi tak jauh dari Chika dan Raka juga melihat Chika bersama seseorang.
“Sarah? Ngapain dia ada disini juga?”. Tanya Raka penasaran di persembunyiannya yaitu dibalik pohon tak jauh dari Chika dan Sarah.
“Cepat katakana apa tujuan lo nyari gue?!”. Tanya Chika kemudian pada Sarah memulai perbinjangan itu. Sarah memulai berbicara pada Chika yang tujuannya ingin menceritakan tentang perasaannya pada Raka ke Chika. Chikapun mengrti maksud Sarah sekarang.
“Gimana?”. Tanya Sarah tiba-tiba.
“Gimana apanya?”. Tanya Chika balik pura-pura tak mengerti.
“Lo harus merelakan Raka ke gue”.

Chika diam. Dia berpikir sejenak mencari jalan keluar dari pertanyaan Sarah itu. Tak lama kemudian dia menjawabnya.
“Gak gue gak rela kalo kak Raka jadi milik lo.”

Tak jauh dari mereka Raka mendengar apa yang dikatakan Chika itu. Dia sempat kaget mendengarnya.
“Apa?! Lo masih gak percaya juga sama gue?! Gue ini pacarnya Raka gue berhak dong merebut pacar gue dari lo. Chika plis gue cinta banget sama Raka gue mohon sama lo gue sangat butuh dia.”
“Gue tau lo juga cinta banget sama kak Raka. Tapi gue gak sebodoh yang lo kira Sar. Gue tau, lo penipu kan? Lo ngaku-ngaku sebagai pacarnya kak Raka kan? Dia mana mungkin mau pacaran sama cewek penipu kayak lo?! Gue aja ogah pacaran sama orang penipu.”
“Lo percaya gitu aja sama dia?!. Dia tuh pinter banget menyembunyikan sesuatu tentang hubungan kita. Tapi setelah gue pikir-pikir kenapa lo tiba-tiba ngomong gak rela kalo Raka jadi pacar gue? Lo cemburu sama gue kalo gue lebih bisa bahagiain Raka?”.
“Gue sahabat dia, gue berhak menolak wanita yang gak pantes buat dia?!”.

Raka masih menunggu mukjizat itu.
“Oke! Gue ngerti maksud lo! Tapi umpamanya gue bukan orang penipu seperti yang lo bilang tadi. Apa lo masih gak rela ngerelain Raka ke gue?”.
“Lama-lama lo bikin gue emosi ya, sebenarnya lo ketemu sama gue mau apa sih?! Mau cari gara-gara sama gue, hah?!”. Bentak Chika mulai terlihat sangat emosi dia sampai-sampai kedua keranya dia sing-singkan siap mau hajar Sarah sepertinya dia. Namun Chika tahan emosi itu.

Dia mencoba untuk bersabar. Disisi lain Raka yang menyaksikan Chika mulai memanas itu sangat khawatir kalau-kalau mereka jadi bertengkar. Tapi dia tak keluar dari persembunyannya dulu sebelum keadaannya tambah parah. Melihat tingkah Chika, Sarah sepertinya biasa-biasa saja. Tak ada takutnya. Malah dia tersenyum kecut melihat tingkah cewek brutal itu.
“Gue sudah menebaknya. Lo memang cewek penakut. Bisanya main kekerasan doang.” Celetus Sarah tak mau kalah.
“Oke! oke!. Gue jujur. Gue memang gak rela kalo lo jadi pacar kak Raka. Gue memang gak suka melihat kalian bermesra-mesraan didepan gue. Hati gue terluka melihat lo bersandiwara sama kak Raka.”
“Jadi bener lo suka sama Raka, lo kan sahabatnya dia, Cik?”
“Sahabat bukan penghalang perasaan gue sama kak Raka, iya gue suka sama dia, gue cinta sama dia, gue takut kehilangan dia. Gue gak rela kalo lo ngerebut sahabat gue. Puas lo!!”.

Mukjizat itu akhirnya terdengar juga di telinga Raka. Hati Raka langsung bergetar hebat. Tanpa dipungkiri lagi Raka kemudain keluar dari persembunyannya. Setelah Chika mengakhiri pertemuan itu dengan Sarah lalu pergi sambil menangis. Namun Chika tiba-tiba berhenti setelah sadar ternyata Raka sudah berada didepannya. Chika tak mau melihat Raka lagi karena malu. Dia langsung nyelonong pergi berbalik arah sambil berlari sekencang-kencangnya sampai dia berhenti ketempat yang diinginkannya. Namun, sayang. Raka tak bisa menghentikannya, karena Chika sudah cukup jauh darinya. Disela itu Sarah mampu menghalangi Raka agar dia tak juga ikut pergi menyusul Chika. Terpaksa Raka juga ikut berhenti.
“Raka. Raka. Aku mohon. Pliss jangan pergi.” Lirih Sarah segera memeluk Raka lekas. Sikap Raka jadi dingin kepadanya. Raka berusaha melepas pelukan itu dari tubuhnya.
“Sarah aku minta maaf banget aku harus menyusul Chika. Aku ngerti perasaan kamu. Cinta itu tidak bisa dipaksakan biarkan dia mengalir apa adanya. Hati kita tak sama Sarah. Aku doain suatu saat nanti mudah-mudahan kamu dapet cowok yang lebih baik dari aku, sorry yah, aku harus pergi.” Gerutu Raka menjelaskan panjang lebar tentang perasaannya pada Chika ke Sarah. Raka langsung melepas pelukan itu dan segera pergi menyusul Chika yang tak tau keberadaannya dimana.

Dengan berat hati Sarah merelakan Raka pergi. Sarah menangis terseduh-seduh karena takdir tak sepihak dengannya.
“Tapi aku maunya kamu Raka cowok itu.” Lirih Sarah sambil memandang jauh Raka yang berlari menjauhinya. Sedangkan Raka tak lelahnya dia terus berlari dan tiap tempat yang biasa bersama Chika ia cari namun tidak ada bayang Chika disana.

Tak kenal lelah Raka tetap mencari. Mencari keberadaan cinta pertamanya. Sampai Raka teringat tentang masa kecilnya lagi yang dimana tempat itu juga sempat menjadi saksi bisu perasaannya pada Chika. Tuhan benar-benar mengabulkan doanya yang terselimut dalam hati Raka yang paling dalam. Chika baru dia temukan saat diselimuti rasa gunda dalam hatinya. Linangan air mata itupun kerapkali membasahi pipinya. Perlahan Raka menghampiri gadis remaja itu. Chika kemudian segera mengusap kedua pipinya yang basah karena linangan air matanya setelah ia sadar atas kehadiran Raka. Chika langsung memperlihatkan sikap dinginnya pada Raka.
“ Kamu tau dari mana kalo aku ada disini?”.
“Aku juga nggak ngerti, firasat aku mengatakan kalo kamu ada ditempat ini.” Jawab Raka kemudian mengatakan apa yang dia rasa saat itu. Keheningan alam itu telah membawa kedua mata Raka menerawang jauh ke sela-sela bentangan keindahan alam disana.
“Kamu sering ketempat ini?”.
“Ya gak terlalu sih, kalau hati aku sedang galau saja kesini.” Jawab Chika.
“Jadi tempat ini yang kamu maksud semalam?.” Chika mengangguk sambil tersenyum.
“Ngapain kamu nyari ku, seharusnya kamu sekarang kan sama…”
“Ssshhuuut….” Desis Raka kemudian. Chika berhenti berucap setelah jari telunjik Raka menyentuh bibir Chika. Hati Chika langsung bergetar mengguncang dan merangsang menyakiti jiwanya. Raka kembali berucap.
“Aku mohon jangan ada alasan lagi untuk lari dari takdir Tuhan ini. aku sudah tau. aku sudah denger semua apa yang kamu katakana tadi sama Sarah.”
“Tadi aku keceplosan ngomongnya, aku sebenarnya gak….”
“Chika. Chika. Dengerin. Apa salahnya sih berkata jujur sama aku?”.
“Itu berat banget bagi ku.”
“Kamu inget gak semalem saat aku ngungkapin perasaan aku ke kamu. Itu juga sebenarnya aku gak berani, tapi aku sadar, keyakinan aku dan cinta aku yang besar sama kamu menguatkan hati aku. Kamu juga pernah bilang kan tadi, kalo sahabat bukan penghalang bagi perasaan kamu untuk tetap selalu bersama-sama?”.
“Iya siih, aku memang berucap demikian tadi sama Sarah, tapi masak aku mengatakannya lagi, kan lo tadi udah denger kalo suka sama lo.” Chika tiba-tiba berhenti berbicara, dia sadar akan kata-katanya itu. Dia langsung menutup bibirnya dan jadi salah tingkah karenanya. Raka tersenyum lebar mendengar ungkapan itu langsung dari mulut Chika. Bahagia dan juga sedih campur menjadi satu. Raka langsung memeluk Chika lekas.

Kebahagiaan itu kini telah membawa kesebuah cerita bagi hubungan Raka dan Chika sampai menjelang pernikahan, sampai di karuniai dua anak yang cantik dan tampan dan sampai kakek nenek, cinta mereka selalu tumbuh dan tak mungkin berkurang setiap detik, setiap menit dan sampai napas berhenti. Cinta itu selalu ada ditengah-tengah mereka.

PROFIL PENULIS
Nama : Mila Wulandari
Tanggal Lahir : 17 October 1993
Alamat : Bangil, Ds. Banyu Legi, Kec. Beji. Kab. Pasuruan. RT/RW 003/011
Sekolah di PT Universitas Muhammadiyah Malang
Hobbi: Menulis dan dengerin musik

Baca juga Cerpen Cinta yang lainnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar