Jumat, 27 April 2012

Cerpen Cinta "Ku Tunggu Kau Diterminal Ini"

KU TUNGGU KAU DITERMINAL INI
Cerpen Fidri Yuliyana, A.Md ( Fidri Candlelight )

Aku tak pernah menyangka ini semua terjadi pada kehidupan cintaku. Kesetianku dibalas dengan pengkhianatan yang tidak bisa aku terima. Apakah ini balasannya ? Apa arti dari kesetiaanku selama ini, menunggu tanpa pasti. Ini berawal dari dia pergi merantau.
Aku bernama Uli, aku adalah gadis desa yang dibesarkan dikeluarga yang sederhana. Aku mempunyi pacar yang bernama Rama dari keluarga yang sederhana juga, kami menjalin hubungan dari semenjak SMA, kami selalu bersama. Setelah masa SMA berakhir kami dipisahkan oleh keadaan. Rama harus pergi meninggalkanku untuk sementara pergi merantau. Kehidupan ekonomi yang pas-pasan membuat dia harus pergi meninggalkanku disini sendirian dengan rasa sepi menyelimuti.
“ Uli...aku pergi hanya untuk sementara.”
“Aku tidak tau apa aku bisa melepaskanmu pergi.”
“Aku janji aku akan pulang meminangmu, tunggu aku disini.”
“Aku akan menunggumu.”
“Terminal ini saksinya.”
“Kamu mau pergi kemana?”
“Untuk sementara aku pergi ke Jakarata dulu ada sahabatku disana, kemarin aku sudah menulis surat. Aku juga sudah bilang kalau aku mau pergi kesana.”
“Hati-hati, aku menunggumu disini. Diterminal ini. Kalau sudah sampai disana kabari aku dengan surat.”
“Iya...”

Sejak itu Rama pergi meninggalkanku. Berhari- hari aku menunggu kabarnya, suratpun tak ada dikirim. Aku cemas apakah Rama baik-baik saja ataukah, beribu fikiran negatif mengahantui ku. Sebulan sudah aku menanti surat dari Rama. Akhirnya Rama mengirimkan surat padaku.
“Kepada adinda Uli....
 

Aku sudah tiba dijakarta, maafkan aku sudah terlalu lama tidak memberitahukan keberadaanku, aku baru sempat menulis surat untukmu, karena aku masih dalam perjalanan mencari rumah temanku, diterminal aku dicopet sehingga alamat temankupun hilang. Sekarang aku tinggal di sebuah mesjid bersama pengurus mesjid. Alhamdulillah aku ditolong oleh orang baik dan membawaku ke mesjid ini. Maafkan aku telah membuatmu cemas.
Kni aku harus berjuang mencari alamat yang aku cari. Do’a kan aku semoga aku diberi kekuatan dan ketabahan menghadapi cobaan ini. Hanya ini yang bisa aku tulis untukmu.... aku harap kamu bisa mengerti posisiku.
Salam sayang untuk Adinda Uli.....

Aku selalu berdoa untuk Kamu disana, agar cepat menemukan alamat temanmu. Akupun membalas surat dari Rama dan ku kirim ke mesjid tersebut seminggu setelah surat Rama aku baca.
Setahun sudah berlalu, puluhan surat aku kirimkan tak satupun rama balas. Aku ingin menyusul dan mencari Rama di Jakarta, tapi aku tidak mendapatkan izin dari Orangtuaku. Saudarapun disana tak ada, Jakarta itu luas kota metropolitan. Aku Tak kan sanggup untuk mencari disana. Hanya satu yang ku ingat agar aku selalu tenang dan percaya dengan Rama, sebelum dia pergi dia mengatakan bahwa dia akan pulang dan akan meminangku.

Setelah tamat Sma aku mencari pekerjaan, aku mendapatkan pekerjaan di dekat terminal, pekerjaanku adalah penjaga toko bangunan. Aku sengaja mencari lowongan didekat terminal, karena aku tau kalau Rama akan pulang dan akan turun di terminal ini. Setiap Hari aku selalu menunggu Rama di terminal ini, suratpun tak ada. Hingga suatu ketika Ibuku berkata.
“ Uli... kamu sudah besar, dan sudah punya pekerjaan meskipun gajinya hanya bisa menghidupimu sendiri. Ibu senang karena ibu hanya memikirkan adikmu saja yang masih sekolah. Uli apakah tidak ada di fikiranmu untuk segera menikah.”
“ Aku menunggu Rama pulang bu.”
“ Sampai kapan kamu menunggu dia? Dia tidak pernah memberikan kabar kepadamu. aPakah dia disana masih mengingatmu nak. Ibu hanya merasa iba terhadap kamu. Jika kamu Mau, Rofik anak Pak Andi ingin meminangmu sesegera mungkin.”
“Ibu berikan aku waktu untuk semua ini, aku masih menunggu Rama, Rama akan pulang Bu. Dia sudah berjanji kepadaku akan meminangku setelah pulang nanti. Kalau aku menerima pinangan dari Rofik Rama akan kecewa Bu.”
“Semua terserah padamu, Ibu hanya memberikan saran yang terbaik. Jika kamu tidak menerima pinangan Rofik tidak apa-apa, nanti Ibu yang akan bicara kepada Pak Andi.”
“ Terimakasih Ibu telah memahami perasaanku.”
“ Hanya satu pesan Ibu, jangan pernah kamu menyesal dengan keputusanmu. Menunggu yang tak pasti itu menyakitkan.”
“Iya Bu. ..”
Tiga Tahun sudah berlalu kepergian Rama, aku terus menunggunya. Tak henti-hentinya aku memikirkannya. Surat yang aku kirim tidak pernah ada balasannya. Aku merana dibuatnya, di terminal aku selalu melihat Bus yang dari Jakarta, tapi Rama tak pernah ada. Hingga aku hampir lelah untuk menunggunya. Aku kasihan dengan Ibu. Adikku juga sudah besar dan sudah bisa untuk menikah, tapi karena aku adikku tidak bisa menikah.

Pada hari minggu pagi Bus Jakarta masuk Terminal, jantungku berdetak kencang. Tapi aku menepis itu semua Rama tidak mungkin di dalam bus itu. Aku berlalu dari Terminal menuju Rumah aku lupa kalau hari minggu Toko tutup. Angin apa yang membawaku ke terminal ini. Akhirnya aku sampai dirumah. Tidak berapa lama pintu rumah diketuk.
Tok...tok...tok....
“Assalamualaikum...”
“Waalaikumsalam..”
“Ani...ada apa?” Tanyaku setelah membuka pintu.
“ Kak Uli, Kak Rama pulang”
“Benarkah?”
“Iya... sekarang dia sudah menuju kerumah. Mungkin sudah sampai dirumah, aku cepat-cepat beritahu kak Uli.”
“Aku siap-siap dulu.”
“Iya Kak.”

Aku pergi kerumah Rama bersama adiknya Ani. Aku bahagia, aku tak sabar ingin bertemu Rama. Memeluknya dan melihat senyumannya lagi. Ketika aku tiba dirumah Rama, di dalam Rumahnya aku melihat seorang perempuan yang tidak aku kenal bersama anak kecil kira-kira berumur satu tahun duduk disamping Rama. Ketika itu aku mendengar Wanita itu memanggil Rama dengan sebutan Ayah.
“Ayah.... Aila ngompol, pegangin dulu Bunda ambil celananya.”

Aku yang mendengar itu sontak pergi meninggalkan rumah Rama dengan bercucuran air mata tanpa mendapatkan kepastian dari Rama.
“Kak Uli...” Panggil Ani ketika aku berlari pergi.

Rama tersentak mendengar namaku. Aku tak tau lagi apa yang terjadi disana. Aku menangis tak keluar kamar seharian. Sebelum senja menjelang aku pergi ke Terminal sendirian, kebetulan terminal hari itu sepi karena bus-bus baru saja berangkat. Tiba-tiba saja Rama duduk disebelahku.
“ Maafkan aku Uli...”
“.......” Aku hanya diam sambil menangis tersedu-sedu.
“ Aku tidak bermaksud membuatmu kecewa.”
“Sudah terlanjur...”
“Maafkan aku.”
“Kenapa kamu begitu tega terhadapku? Apa salah aku? Aku disini menunggumu, setia pada janji kita. Di terminal ini kita pernah berjanji sebelum kamu pergi tiga tahun lalu.”
“Ceritanya panjang.”
“Kenapa Rama kamu tega kepadaku?? Tak memberi kabar dan penjelasan hubungan kita. Aku disini menunggumu, ternyata kamu disana telah bersama orang lain. Betapa bodohnya aku.”
“Aku minta maaf.... aku menyangka kamu sudah dijodohkan dengan orang lain, waktu itu aku mendengar kalau Rofik melamar kamu. Aku kecewa dan aku hancur. Ketika itu Sinta datang menghiburku, dia selalu ada untukku, dia menemaniku dan memberikanku semangat.”
“Kenapa kamu tidak menanyakan hal itu kepadaku? Kenapa kamu mengambil kesimpulan sendiri....bahkan aku selalu mengirimkan kamu surat, aku selalu bercerita semuanya di dalam surat itu.”
“Surat?? Aku tidak pernah menerima surat dari kamu, aku menyangka kamu sudah tidak meincintaiku.”
“Aku mengirimkan surat ke alamat mesjid, ketika kamu menulis surat pertama dan terakhir kalinya untukku.”
“Seminggu setelah aku mengirim surat kepadamu, aku berjumpa dengan sahabatku itu, dan aku tinggal disana. Jadi suratmu tidak sampai padaku.”
“Kenapa kamu tidak memberitahukan aku???” Pekikku.
“Maafkan aku..”
“Aku benci kamu Rama... kamu tidak tau apa yang terjadi kepadaku, aku sengaja menolak lamaran Rofik, karena aku ingat janjimu untuk meminangku setelah pulang nanti. Aku setia disini, aku korbankan perasaaan keluargaku demi kamu, tapi balasanmu ini hanya kekecewaan yang kau berikan padaku. Kenapa kamu tidak memberitahukan aku tentang pernikahanmu??? Agar aku tidak terlalu sakit untuk menerima kepahitan ini.”
“Maafkan aku.. sekarang apa yang harus aku perbuat??? “
“Luka yang ada dihatiku sulit untuk disembuhkan. Coba kamu bayangkan jika kamu di posisi aku apakah kamu bisa memaafkan orang yang telah mengkhianati kamu??? Sementara kamu setia disini menunggunya?”
“....” Rama terdiam.
“Aku sakit.... aku hancur.. kenapa kamu lebih memilih wanita itu dari pada aku yang menunggumu disini? Kenapa kamu tidak memberi kabar? Kenapa kamu tidak menanyakan lamaran aku dan Rofik? Kenapa kamu memutuskan secepat itu kalau aku menerima lamaran Rofik.”
“A...Ku salah...”
“Biarkan aku sendiri disini menyembuhkan luka dihatiku.”
“A...Ku sayang kamu”
“Pergi........ dan jangan pernah temui aku lagi. Simpan semua rasa sayangmu kepadaku.”

Rama Akhirnya pergi, aku sendirian diterminal. Aku sangat kecewa dengan semua ini. Aku merasa bersalah pada Ibu, karena Ibu sudah mengingatkan aku pada hal ini. Apakah kesetiaan itu selalu dibalas dengan pengkhianatan? Atau kah ini semua salah paham atau sudah kehendak dari Allah.
Tiba-tiba aku dihampiri oleh seorang lelaki yang baru saja turun dari Bus. Pakaiannya Rapi, kulit putih dan tampak gagah sekali. Dia menghampiriku dan sembari bertanya.
“Maaf... aku mencari alamat ini. Apakah anda tau?”

Aku melihat alamat yang ditunjukkan kepadaku.” Ini dekat dengan desa saya. Anda ada perlu apa disana?”
“Saya ada penelitian di sana. Saya mahasiswa S2 di Bandung. Boleh antarkan saya kesana?”
“Mari saya antar. Kita jalan kaki saja, karena tak berapa jauh dari sini” Tiba-tiba kesedihanku hilang begitu saja.
“ Terimakasih, kalau boleh saya tau namanya siapa?”
“Uli.”
“Saya Anton, sedang apa kamu di terminal? Menunggu seseorang?”
“Tidak.... melepas lelah saja.”
“Tidak mungkin...”

Aku berhenti sejenak, menandakan aku tidak suka Anton bertanya terlalu banyak.
“ Maafkan Aku...” Jawab Anton
Sejak pertemuan aku dengan Anton, aku jadi sering bertemu dengan Anton. Rama dan Istrinya sudah kembali ke Jakarta. Tapi luka ku masih belum bisa disembuhkan. Aku masih sakit hati dan kecewa.

Dua bulan Anton menetap di desaku, dia sudah seperti teman bagiku. Ketika itu Anton akan pergi untuk menyelesaikan kuliahnya dan akan diwisuda. Anton mengajakku ke terminal.
“ Uli... disini kita bertemu, disini juga kita akan berpisah, aku tak kan pernah melupakan kamu. Terimakasih atas semua yang telah kamu berikan kepadaku.”
“Iya sama-sama..”
“ Aku ingin bilang satu hal kepadamu.”
“Apa?
“ Aku mencintaimu, dan aku ingin kau menjadi pendamping hidupku.”
“Aku tak tau harus menjawab apa?”
“Apa kamu merasakan hal yang sama dengan apa yang kurasakan selama ini?”
“Aku pernah dikecewakan dan itu sangat sakit, aku tidak mau terulang kembali. Di terminal ini seseorang pernah berjanji, tapi apa janji tinggal janji.. dia lebih memilih orang lain dari pada aku. Disini aku setia menunggu.”
“Aku tidak akan membuatmu kecewa.”
“Aku tidak akan memberikan jawaban apa-apa, kalau memang kamu menginginkanku untuk menjadi pendampingmu, datanglah padaku secepanya. Aku tidak mau lagi menunggu.”
“ Baik aku janji.... setelah aku wisuda aku akan datang menjemputmu.”
Anton pergi meninggalkan desaku, sebulan sudah kepergian Anton aku merasa gelisah apakah Anton benar menginginkanku untuk menjadi pendampingnya.

Suatu pagi hari aku sedang membersihkan rumah, kebetulan hari itu hari minggu. Tiba-tiba ada mobil masuk kepekarangan rumahku. Aku kaget siapakah yang datang kerumahku memakai mobil mewah itu. Aku memanggil Ibu dan Adik ku yang berada di dapur. Aku keluar serambi membuka kan pintu karena ada yang mengucapkan salam. Aku kaget ternyata Anton dan keluarganya datang bertandang kerumahku.
“Anton...”
“Aku datang untuk meminangmu Uli, aku tepati janjiku.”
“Ini Uli yang kamu ceritakan ?” Tanya Ibu Anton yang berpakaian seperti ibu pejabat.
“Iya Bu...”
“Uli kenapa tidak disuruh masuk?” Ibuku Menyadarkan dari lamunanku.
“Maaf... silahkan masuk Pak,buk...”
“Iya...”

Setelah semuanya duduk dan disuguhi minuman dan makanan apa adanya karena tidak mempersiapkan apapun. Aku selalu memperhatikan keluarganya Anton, sepertinya Anton dan keluarganya bukan dari kalangan orang biasa-biasa saja. Ibunya Anton menyadarkan lamunanku dengan memulai percakapannya.
“Sebelumnya kami minta maaf atas kedatangan kami yang mendadak tanpa beritahu terlebih dahulu, karena kalau tidak begini bapak tidak bisa ikut karena tugas sebagai Bupati. Maksud dari kedatangan kami kemari yaitu meminta Uli menjadi pendamping Anton. Acara lamaran.”
“Sebelumnya kami juga minta maaf atas kekurangan pelayanna kami kepada ibu sekeluarga, kami disini sangat terkesan bapak bupati ke sini. Kalau masalah lamaran saya menyerahkan saja pada Uli, karena Uli yang menjalankan kehidupan berumah tangga.” Jawab Ibu.
“Bagaimana nak?” Tanya Ibu Anton.
“Sa..ya.. terserah ibu saja.”
“Loh kok terserah ibu?” Jawab Ibuku.
“Uli.... sekarang aku sudah berada disini, aku datang menjemputmu.” Anton menegaskan keputusanku.
“ Iya... aku menerima lamaran ini. Tapi aku minta satu hal dari kamu.”
“Apa ?” Tanya Anton.
“Kamu tau kalau aku hanyalah orang desa, aku hidup di keluarga yang sederhana. Aku minta kamu bisa memahami keadaanku dan terima kekuranganku. “
“Aku janji... aku akan menerima kekurangan dan kelebihanmu.”
“Ibu tidak memandang siapa kamu, tapi yang ibu pandang adalah kebaikan dan keikhlasan kamu menerima Anton. Dan bisa menerima Anton.” Jawab Ibu Anton.
Acara lamaran sudah selesai, dan menetapkan tanggal pernikahan. Pernikahanku digelar didesaku dengan sederhana, setelah itu acara resepsi pernikahan juga akan di adakan di Bandung. Semua sudah dipersiapkan oleh keluarga Anton. Aku hanya mempersiapkan diri untuk menjadi istrinya Anton, Nyonya Anton anak Bupati sekaligus Direktur Utama di sebuah perusahaan. Aku tidak menyangkan semua akan terjadi seperti ini, ini bagaikan mimpi bagiku. Tak pernah aku bayangkan selama ini akan mendapatkan suami seperti Anton karena selama ini yang ada di dalam fikiranku hanyalah Rama.

Undangan sudah aku sebar, bahkan aku mengirimkan undangan kepada Rama. Dua hari setelah undangan aku berikan Rama mengirimkan surat untukku.
“ untuk Adinda Uli....
Aku senang mendengar kabar kalau kamu akan menikah, dan kamu mengirimkan undangan kepadaku... aku sangat terharu kamu masih menganggapku.
Aku hanya bisa memberikan doa semoga kamu bahagia dengan kehidupanmu yang sekarang... semoga kamu menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah..... jodoh, rezeki dan maut sudah diatur oleh Allah, begitupun kita... mungkin kita tidak berjodoh.... aku berharap kamu bisa memaafkan atas semua kesalahanku yang telah menyakitimu dan mengecewakanmu... hapus semua masa lalu yang pernah ada dan mencoba buka lembaran baru dengan kehidupan kita masing-masing...
Aku percaya kamu akan mendapatkan orang yang tepat dan jauh lebih baik dan lebih bisa membahagiakanmu daripada aku....
Insya Allah aku dan keluarga datang dalam acara pernikahanmu yang di adakan di Bandung.
Salam Sayang dari SahabatMu....
Rama...... “
Aku meneteskan air mata membaca surat Rama. Ini adalah takdir yang harus dijalani. Aku menemukan Anton sedangkan Rama menemukan Sinta. Aku berusaha memaafkan Rama. Sekarang aku sudah menjadi miliknya Anton.

Setelah menggelar pernikahan di desaku, aku mengajak Anton ke Terminal.
“Kenapa kamu membawa aku kesini?”Tanya ANton
“Aku hanya ingin mengingatkanmu dimana kita pertama kali bertemu, dan kamu bertanya padaku sedang apa aku di sini? “ Aku mengenang pertama kali bertemu.
“ Dan aku menggodamu sambil bilang lagi menunggu seseorang ya, kamu marah.”
“ Jujur aku memang menunggu seseorang tapi bukan kamu yang aku tunggu, tapi kenyataannya malah sebaliknya ternyata selama ini aku menunggu seseorang di terminal ini dan orang itu adalah kamu. Ku tunggu kau di terminal ini .”
“ Dan aku pasti datang...” Anton memelukku.
Semua yang terjadi adalah kehendak dari Allah. Semua perkara pasti ada hikmahnya. Jadi bersyukurlah kepada Allah apa yang telah dia berikan pada kita. Karena itu adalah jalan yang terbaik untuk umatnya. Aku sudah memaafkan Rama, mungkin ini adalah pelajaran bagiku. Aku berterimakasih karena bisa bertemu dengan Anton. Percayalah Allah akan menunjukkan kasihnya kepada Kita melalui jalannya.

Jika Allah memberikan apa yang kita ininkan, maka itu lah yang terbaik untuk diri kita. Tapi jika Allah tidak memberikan ingin kita, berarti itu bukan yang terbaik untuk kita, dan Alalh telah mempersiapkan yang terbaik untuk kita. Dan jika Alalh menunda keinginan kita, berarti belum saatnya kita menikmati itu, maka di suruhlah bersabar. Percayalah Alalh mempunyai rencana baik, waktu yang tepat bagi umatnya. Jadi selalulah bersyukur padanya.

The End

PROFIL PENULIS
Nama lengkap : Fidri Yuliyana, A.Md
Tempat dan tgl Lahir : Bisati,6 september 1990
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Status : Single
Pendidikan terakhir : D III Ekonomi ( manajemen perkantoran) Universitas Andalas
Hoby : Selain Menulis cerpen, suka nyanyi di kamar mandi juga...hehe
Alamat : Pariaman
Kode Pos : 25573
No HandPhone : 083181738XXX
E-mail : fyuliyana@yahoo.co.id
Facebook : Fidri Candlelight
Twitter : @fidriyuliyana

Baca Juga Cerpen Cinta yang lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar