Kamis, 26 April 2012

Perjalanan Sebungkus Plastik

PENGALAMAN SEBUNGKUS PLASTIK
Cerpen Nadia Almira Sagitta
 
Hmm, aroma sate sedap menggiurkan tercium sampai ke tempatku. Aku adalah sebungkus plastik merah yang dipakai untuk membungkus daging sate ini. Penjualnya adalah Pak Prioto. Dia seorang yang tua namun baik, ramah kepada siapapun termasuk kepada para pembelinya. Katanya selalu, PEMBELI ADALAH RAJA. Walau satenya hanya dijual 800 rupiah per tusuknya dia selalu melayani pembeli semaksimal mungkin. Teman-teman seperjuanganku sudah meninggalkanku. 
 
Mereka telah dipakai oleh Pak Prioto. Betapa senangnya hati mereka. Aku juga mau, Pak! Derap langkah manusia mondar-mandir melewati gerobak Pak Prioto. Ada kudengar satu yang menuju ke sini. “Mas, 20 tusuk ya, dibungkus!” Waah, dibungkus?? Semoga Pak Prioto memilihku, aku sudah tak sabar. Tek..! Kreatt! Pak Prioto telah membungkus satenya dan diikat dengan karet, kini saatnya menaruh dalam plastik! Kurasakan tangan tua kerut Pak Prioto menyentuhku, duh geli! Akhirnya, aku dipakai untuk membungkus juga! “Makasih, Mas, berapa?” “Cukup 16.000, Pak.” Setelah terjadi arus barang dan arus uang kepada yang bersangkutan, aku segera digantungkan ke stang motor si pembeli. Ia membawa motornya dengan kecepatan sedang. Aku bisa merasakan angin menerpa wajahku. 
 
Ternyata begini ya, rasanya berada di luar, sejuk rasanya! Selama ini kan aku hanya berada di dalam gerobak. Beberapa saat, aku sudah sampai ke rumah Bapak ini. Belakangan baru kutahu namanya Bram, terpampang di pintu rumahnya tulisan ‘Bram's Home’. Ia mengetuk pintu, dan disambut oleh anak semata wayangnya. “Nik, ini Bapak bawa sate. Tolong ditata di piring, ya!” ucapnya kepada sang anak. Dengan manis, anak kecil itu mengambil piring, mengeluarkan sate dariku, dan menatanya di piring. Lalu bapak dan ibu sang anak datang menghampiri.
“Hmm, sedap sangat aromanya, uda!” ujar Shinta si istri. Orang Padang rupanya.
“Makan sama-sama yuk, ayah-bunda!” kata si anak.
“Tunggu, rapikan dulu, Ninik. Plastiknya ditaruh di dalam lemari dapur saja.”
“Iya, bunda!” Dengan segera, Ninik meletakkanku bersama dengan plastik-plastik lain. 
 
Mereka selalu menyimpan plastik belanjaan supaya dapat digunakan di lain waktu. Mereka menolak ketika ada toko menawarkan barang belanjaan untuk dibungkus (kecuaIi di Mall tentunya). Kata mereka, “Tidak usah, saya bawa plastik sendiri.” Nah, kegiatan menolak plastik dapat mengurangi global warming, pemanasan itu lho. Udah ah, back to the topic. Ada plastik hitam, bening, bahkan kantung dari toko ternama. Tapi, ufp~ di sini agak pengap! Tapi, tak apalah, aku mendapatkan banyak teman baru disini.

Esoknya, aku diambil lagi, dan kali ini aku dipakai membungkus penganan sederhana yang akan diberikan kepada fakir miskin. Duh, kuenya berat sekali, hampir saja aku robek. Namun hal itu tak boleh terjadi! Dan, jadilah aku tetap kuat sampai akhirnya aku berpindahtangan lagi. Kue-kue diletakkan di piring bening dan aku? Dibuang begitu saja ke jalanan. Belum pernah aku dihina seperti ini. Bahkan, oleh pak Prioto pun tidak! Tapi, aku tahu, aku tidak ada apa-apanya. Maka, aku pasrah saja walau aku dicampakkan begitu saja. Aku memulai petualangan baru lagi. Mulanya, aku sangat ketakutan. Bagaimana tidak? Tidak ada yang mengacuhkanmu, kamu di sini sendirian. Bisa kuulang? SENDIRIAN... 
 
Tak ada teman yang serupa denganmu, apalagi yang mengenalmu! Tiba-tiba… BREEEM! Derum motor mengagetkanku. Motor melaju gila-gilaan. Ah, asap knalpotnya, mencemari lingkungan. Pencemaran udara! Menimbulkan global warming, membuat bumi makin panas. Dan, matahari bersinar tak henti-henti. Akibatnya ya, panas terik yang sangat kurasakan sekarang. Lama-kelamaan badanku bisa mengerut ini! Lalu, aku terbang dihembus angin. Mengikuti arah angin yang entah ke mana. Mungkin akan menuju ke negeri antah-berantah. Haha, aku juga tak tau. Tiba-tiba, SREEET! Aku terserempet roda motor! Bukan hanya itu, aku terseret olehnya! Aku berguling-guling di bawah roda, terkadang berada di atas, terkadang dilindas lagi. Dan, SRAK! Aku terbebas! Bukan main sakitnya! Masih cantikkah aku? Masih muluskah diriku? Oh, tidak! Tubuhku terkoyak! Pantas saja, aku merasakan sakit yang tak tertahankan. 
 
Aku harus mencari ilalang dan menetap di sana. Aku tak sanggup berjalan lagi apalagi berpetualang kemudian. Apa daya, ketika ku ingin menuju ke seberang ku terlindas lagi. Kali ini sebuah truk gandeng. Lagi-lagi ku harus menderita lagi. Bukan main, betapa beratnya perjuangan hidup di luar sana. Beruntung, ada seorang anak SMA melihatku terkapar di jalan. Ia menoleh kiri-kanan memastikan pengendara motor berkurang, lalu dengan cepat ia berlari ke arahku dan menaruhku di tempat sampah. Mungkin ini yang terbaik. Tidak di rumah, tidak di jalanan, tidak di ilalang, namun di tempat sampah. Ya, tempat penampungan barang yang tidak berguna lagi. Aku? Tidak berguna? Jelas. 
 
Dengan tubuhku yang seperti ini, aku bahkan tidak bisa menampung barang seringan apapun. Aku sudah rusak, bolong tepatnya. Baiknya, hidupku memang di tempat sampah. Sungguh, hatiku sakit menerima kenyataan ini. Tapi, tak apalah. Yang jelas hidupku kini lebih tenang daripada aku harus hidup di jalanan penuh siksaan itu. Sebuah gerobak sampah menghampiri tempatku. Memasukkan seluruh sampah yang ada di dalamnya dan memasukkannya ke gerobak kayunya. Ia berjalan menarik gerobak bersama aku yang kini akan hidup bersama kumpulan sampah bau nan kotor.
 
PROFIL PENULIS
Assalamualaikum dan salam sastra, saya Nadia Almira Sagitta. Seorang penulis amatir yang sangat menyukai warna biru dan bercita-cita menjadi seorang sastrawati.
Alamat facebook: www.facebook.com/nadiaalmirasagitta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar