Rabu, 25 April 2012

Cerpen Remaja "Anata No Koto Ga Suki (I Like You)"

ANATA NO KOTO GA SUKI (I LIKE YOU)
Cerpen Rini R. F.

Aku hanya dapat memandanginya diam-diam sampai saat ini. Rasanya susah sekali sih keberanian ini muncul untuk sekedar menyapanya “Selamat pagi” atau “Hai” atau apa pun itu. Rasanya lidahku kelu setiap ingin menyapanya. Ingin aku seperti yang lain, bertegur sapa dengan mudah, bercanda dengannya. Sampai kesempatan itu tiba, ya, kesempatan.

Entah kenapa tiba-tiba saja aku terpilih menjadi Sekretaris I di kelas, dan ia menjadi Ketua Kelas, padahal kurang lebih satu bulan lagi Ujian Nasional. Tapi biarlah, ini sungguh kesempatan yang luar biasa bagiku! Tapi, kenapa ya, sepertinya ia tidak ingin menjadi Ketua Kelas. Dan sepertinya ia pun menjalankan tugas dengan angin-anginan.

Dan entah kenapa, sepertinya ia tidak begitu menyukaiku. Atau hanya perasaanku saja?
“Rini, kenapa Jamal kautulis sakit? Dia ‘kan tidak ada surat sakitnya. Kautulis saja alfa.” protes Rico, cowok yang kusuka itu. Ia menatapku jengkel.
“Yah, tak apa-apa ‘kan? Siapa tahu besok surat sakitnya datang.” Aku sedikit melotot padanya. Sumpah, aku tak bermaksud membentaknya, atau melotot padanya. Itu pertama kalinya aku bicara dengannya, dan langsung pembicaraan yang tak enak.

Rico menatapku kesal. “Terserah kau saja. Tapi kau yang harus bertanggung jawab.”
Aku menghela napas.
Entah kenapa, aku baru menyadarinya, sepertinya Rico baik sekali pada Malisha, Wakil Ketua Kelas. Sepertinya perlakuan Rico pada Malisha berbeda. Rico pun tampak seperti selalu memperhatikan Malisha.
Suatu hari, guru yang akan mengajar sudah terlambat 15 menit. Seharusnya sudah menjadi tugas Ketua Kelas untuk menjemput guru yang terlambat masuk kelas. Karena aku kebelet ingin ke toilet, Rico mengira bahwa aku akan menjemput guru tersebut. Sebelum aku ke toilet aku sudah memberitahunya untuk memanggil guru fisika ke kelas, namun ia hanya diam dan mengabaikan omonganku.

Lima belas menit sebelum bel pulang, guru fisika yang seharusnya dipanggil Rico, masuk ke kelasku dan bertanya kepada sang Ketua Kelas mengapa ia tak dipanggil untuk mengajar ke kelasku ini.
“Bukanya tadi Rini sudah memanggil Ibu.” elak Rico.
“Tidak ada yang manggil Ibu tadi.”

Lalu semua hanya mendengarkan ceramah guru tersebut dan aku hanya terdiam gara-gara si Ketua Kelas itu. “Ssst Rin dipanggil Rico.” bisik Ari yang duduk diantara aku dan Rico.
“Hei kenapa kau tidak memanggil Bu Mieke itu, padahal kau kan tadi keluar kelas.”
“Tadi aku kebelet ke toilet, lagipula tadi aku sudah memberitahumu untuk memanggil guru itu.”
“Kenapa kau tak memanggilnya, kan bisa sekalian mampir ke ruang guru.”
“Aku tidak kepikiran, lagipula itu ‘kan tugasmu sebagai Ketua Kelas untuk memanggil guru.”
“Tapi kan…”
“Rico, Rini, sedang apa kalian, sedang dinasihati malah mengobrol.” ujar guruku waktu aku dan Rico sedang berdebat. Mataku meliriknya dan berkata ‘debat kita belum selesai’. Setelah bel aku berlari mengejarnya dan melanjutkan perdebatan tadi.
“Tadi bukan salahku, mengapa kau menyalahkanku.”
“Siapa yang menyalahkanmu, aku hanya bertanya.”
“Tapi nada bicaramu itu lho yang membuatku jengkel.” gerutuku.
“Aku hanya kesal pada sekretaris tak bertanggung jawab sepertimu.”
“Yang tak bertanggung jawab tuh kau, sebagai Ketua Kelas kau hanya diam dan menyalahkan orang lain.” Lava di tubuhku mulai naik ke permukaan gara-gara berdebat dengannya.
“Aku tak menyalahkanmu…”
“Ya sudah lebih baik kita minta maaf ke Bu Guru.”
“Untuk apa? Aku tidak merasa bersalah.”
“Ugghh apa katamu?”
“Bawel kau,” setelah ia mengucapkan dua kata tersebut ia pergi dari hadapanku. Benar-benar deh debat sama Rico membuatku hampir meletus gara-gara dia. Tapi aku senang bisa ngoborol banyak dengannya, walaupun kesan pertamanya jadi jelek gara-gara aku debat dengannya. Ia memang menjengkelkan.
Tapi aku terus berharap suatu saat aku bisa bebicara santai seperti anak-anak lain yang berbicara dengannya. Dan aku terus berharap bahwa aku bisa menyapanya dengan senyumanku. Aku tak akan menyerah sampai titik puncak dimana aku bisa menyatakan perasaanku dan bisa mendengar jawaban darinya.

Sesampai di rumah aku bercerita kepada kakak perempuanku, alhasil aku hanya di ledek, dan yang meledekku adalah si kembar satu. Aku lima bersaudara dan aku paling muda. Semua kakakku perempuan tapi aku punya satu sepupu laki-laki yang mengerti saat aku ajak curhat, hanya satu tahun lebih tua perbedaan umurku dengannya. Tetap saja aku lah anak bawang disini. Setelah makan malam aku berkumpul dan bercerita dengan mereka.
“Bagaimana Rin, di sekolah sudah ada kemajuan belum dengan “Rico” mu itu hahahaha.” ledek kakak tertuaku Permata.
“Ssst nggak boleh gitu, Kak. Kasihan ‘kan adik kita ini.” Kak Mahayu mulai menasihati kak Permata. Padahal Kak Mahayu lebih muda dari Kak Permata tapi kak Mahayu yang selalu menasihati kita. Bakat dari lahir.
“Iya tuh dengarkan kak Mahayu.”
“Anak kecil diam saja.” gertak kak Permata.
“Kak, besok aku mau pergi dengan Ade jadi aku tidak jaga rumah.” Salsa mulai bicara, dia adalah kakak keempatku, hanya beda dua tahun, namun tubuhku lebih besar dan tinggi dibanding dengannya.
“Annisa juga mau pergi sama Setyo.” kak Annisa ikut-ikutan.
“Aku juga mau pergi.” serempak kak Mahayu dan kak Permata. Semuanya langsung melirik kearah diriku dengan maksud aku lah yang tak punya acara jadi minggu ini aku menjaga rumah.
“Baiklah minggu ini aku yang bertugas di rumah.” Memang nasib jomblo seperi ini.
“Anak baik, tapi memang seharusnya kau di rumah, kau kan masih anak kecil.” ledek kak Annisa.
“Ya sudah kalian pergi saja, lagipula aku lebih senang di rumah.”
“Tenang, sebentar lagi lemburan Mama selesai kok.” Kak Mahayu mulai menghiburku.
“Benarkah?”
“Iya sekitar satu sampai dua minggu lagi kok.” jawab kak Mahayu.
“Biarlah kalaupun ada mama aku tidak punya teman jalan-jalan hahaha, lebih baik aku baca komik.”
“Baiklah kami keluar dulu yah, sudah malam, kau tidur saja. Besok kau ekskul pagi kan?” tanya kak Permata.
“iya!”
“Ya sudah tidur saja sana!”
“Iya!”

Esoknya aku terlambat bangun gara-gara memimpikan Rico.
“Kakak, aku berangkat. Sudah telat nih, aku dijemput Meli.” teriakku sambil menyiapkan keperluanku. “Melia sorry tadi keenakan mimpiin Rico hihihi.”
“Dasar, ayo naik.”

Sesampainya di sekolah aku langsung latihan Paskibra, ekskul nomor satu di sekolahku. Setelah selesai latihan hal yang langka terjadi hari ini, yaitu Rico anak yang paling malas datang ke sekolah kalau bukan hari sekolah, datang ke sekolah. Ada sesuatu dibalik sesuatu, kayaknya sih. Dan aku mencoba bertanya padanya.
“Hei kok kau ada disini? Bukannya kau orang paling malas kalau disuruh datang ke sekolah yak?”
“Hei aku kesini karena ada kerja kelompok bersama Malisha.” Setelah kalimat tersebut keluar dari mulutnya, dadaku sesak, leherku seperti tercekik sehingga aku tak dapat berkata apa-apa.
“Malisha, aku disini!” teriaknya kepada Malisha dan langsung pergi meninggalkanku. “Aku duluan ya.”
“Y…” aku tak dapat melanjutkan kata-kataku, suara ini seperti ditahan oleh sesuatu yang membendung.
Sesampainya di rumah aku baru ingat disini aku sendiri, tadi siang rasanya seperti ada yang tertahan di dalam diriku sehingga dadaku terasa sesak dan leherku terasa dicekik. Aku nggak tahu harus bagaimana, Setelah kak Salsa pulang aku langsung masuk kamar karena sudah ada yang menggantikanku menjaga rumah.

Di kamar aku sangat bingung dan tak tahu harus berbuat apa, aku terus memikirkannya. Sudah hampir setahun aku menyukainya tapi aku sama sekali belum bisa mengatakan perasaanku kepada dirinya, setelah memikirkannya sampai aku mengorbankan hari Mingguku buat tidak nonton anime K-ON, telah kuputuskan aku akan mengatakan perasaanku ini kepada si Ketua Kelas setelah Ujian Nasional.

Saat sarapan pagi kak Salsa bertanya kapan aku Ujian Nasional dan aku jawab dua minggu lagi. Hari ini aku berpenampilan rapi karena hari ini aku mejadi pemimpin upacara untuk terakhir kalinya, dan aku ingin dia melihat diriku yang sedang berdiri di tengah lapangan adalah seorang yang berbeda dari yang selalu dilihatnya.
Namun entah kenapa dia tidak masuk sekolah dan tidak ada kabar darinya. Perasaanku aneh, takut, dan khawatir. Esoknya surat dari orang tuanya datang, di surat itu dikatakan bahwa ia sakit dan baru bisa masuk esok hari. Aku senang dan lega setelah membaca surat izin sakit dari pihak keluarganya itu.

Esoknya tetap seperti biasa ia hanya diam dan cuek ditambah lagi ia sedang sakit tapi syukurlah ia sudah sehat, membuatku merasa lega. Tapi seharusnya dia tahu betapa pentingnya kesehatan, apalagi sebentar lagi Ujian Nasional. Ketika aku melihat Rico dan Malisha aku merasa ada yang berbeda diantara mereka, mungkin hanya perasaan saja.

Waktu pulang sekolah aku di panggil guru yang sedang lewat dan meminta bantuan untuk membagikan LKS kepada siswa di kelasku, karena aku punya keperluan sebentar, akhirnya guru itu meminta tolong pada Rico. Setelah keperluanku selesai aku langsung mencari Rico untuk membantunya. Ketika aku melihatnya, aku refleks berlari dan memanggilnya.
“Rico, Rico.” panggilku sambil lari tergesa-gesa.
“Apaan?”
“Sini biar kubantu!” tawarku.
“Kau saja ya yang membagikan, susah kalau mencari anak-anak satu-satu.” Aku baru ingat kalau Rico itu baru sembuh.
“Tidak, aku tidak mau, lagian bukan kau saja yang lagi sakit tapi aku juga lagi sakit. Bantu aku bagikan saja” dengan nada yang agak menggertak aku meminta tolong padanya. Saat ia menemukan LKS-ku, ia langsung memberikannya padaku dan berkata, “ini punyamu” dan aku refleks mengatakan terima kasih. Setelah itu ia memberikan semua LKS yang ada ditangannya padaku.
“Hei di situ ada LKS-ku tidak?” tanya Rico.
“Hmm.. nggak tahu.” Jawabku. Lalu tiba-tiba ia langsung mencari LKS-nya ditumpukan LKS di tanganku. Dan itu baru pertama kalinya aku dekat sekali dengan Rico. Walaupun sebentar lagi aku Ujian Nasional hubunganku dengannya bertambah baik dan aku tetap menaruh hatiku padanya. Kami sering membicarakan anime bersama, bercerita tentang komik apa saja yang sudah pernah kita baca. Tapi aku tetap berfokus kepada Ujian Nasionalku.
Tiga hari sebelum Ujian Nasional aku sempat ngobrol dan membicarakan tentang bahasa jepang dengannya. Ternyata ia juga bisa berbahasa jepang.

Ujian Nasional pun berakhir dengan lancar. Dan waktunya aku mengatakan perasaanku padanya. Tapi aku belum menemukan waktu yang tepat sampai aku menemukan kesempatan yang baik.
“Rico nanti ke kebun belakang sekolah ya.”
“Untuk apa?” tanya Rico, tapi aku tak menjawabnya.

Setelah pulang sekolah Rico sudah menungguku di kebun belakan sekolah.
“Ada apa?”
“Rico san…anata no koto ga suki desu.”
“Maksudnya?”
“Kau bisa bahasa jepang ‘kan? Aku suka padamu, sudah hampir setahun aku menyukaimu. Aku selalu memendam perasaan ini….”
“Rin, a…”
“Aku tahu ini pasti malu-maluin, tapi aku menyayangimu, aku selalu menahan rasa sakit di hatiku ketika melihat kau dengan orang lain, tapi aku senang melihatmu tersenyum bahagia. Aku sangat bahagia.”
“Rin, aku hargai perasaanmu. Tapi hatiku sudah kutempatkan kepada orang lain, dia yang membuatku merasa dialah motivasiku setiap saat, aku selalu ingin bersamanya. Yah, meskipun aku belum nembak cewek yang kusuk itu. Maaf kalau aku sudah berkata yang membuatmu sakit hati, tapi jujur aku tidak bisa membalas perasaanmu, aku minta maaf sekali.”
“Tak apa kok, itu ‘kan hakmu untuk memilih. Makasih ya sudah mau mengizinkanku mengenalmu, mencintaimu, menyayangimu, dan mendengar pernyataan perasaanku. Walaupun sakit, aku sangat bahagia bisa menerima jawaban darimu.”
“Rin?”
“Tidak apa-apa kok, aku sudah kuat menerima jawaban darimu, pergilah. Katakan perasaanmu pada Malisha, sebelum orang lain yang mengatakannya!”
“Rini bagaimana kau ta...”
“Pergilah!” gertakku yang membelakangi Rico. Kemudian Rico pun pergi menemui Malisha.
Aku yakin yang aku lakukan adalah hal yang paling benar, aku tahu rasanya sangat berat menerimanya tapi asal di bahagia aku pun bahagia. Aku akan selalu mengingatnya. Andai aku bertemu dengan dewa waktu aku akan memintanya mengulang waktu, aku ingin melihat, mengingat dan ingin selalu ada disaat-saat aku bersamanya.

Tapi dewa waktu tidak ada. Dan aku harus menempuh waktu yang ada. Aku tak tahu sesaat lagi, esok, lusa, dan hari-hari yang akan datang akan terjadi apa. Tapi aku akan mengikuti dan menerima semua yang akan terjadi di hadapanku walau air mata membasahi pipiku.
Semoga bahagia, Rico.

TAMAT
20 April 2012

Baca juga Cerpen Remaja yang lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar