Jumat, 13 Juli 2012

Cerpen Cinta - For a Thousands Years

FOR A THOUSAND YEARS
Karya Shinta Aprilia

For a Thousands Years
How can I love
When I’m afraid to fall
A Thousands Years -Christina Perri

Gaun putih yang kini aku kenakan, dan bucket bunga mawar putih yang kini ada digenggamanku, membawa kegembiraan mendalam. Aku tersenyum, membayangkan aku akan berjalan di jalan setapak panjang, di kelilingi bunga-bunga mawar cantik dan di sekitarnya terdapat sepasang merpati putih yang memadu kasih. Lalu, aku berjalan diiringi oleh ayah tercinta, aku berjalan dengan rasa gugup yang luar biasa, aku terus berjalan ketika aku melihat seorang pria di ujung sana tersenyum kepadaku, dan menunggu kedatanganku.

Aku membayangkan, tanganku akan diraihnya, digandeng dengan lembut. Lalu kami akan mengucapkan sumpah sehidup semati kami berdua.
“Christ, sudah selesai.” Aku tersadar dari imajinasiku, ketika seorang tata rias telah memberi tahuku bahwa aku telah selesai dimake over.
“Cobalah gaun putih ini. Mungkin yang ini lebih cocok untukmu.” Kata tukang tata rias itu lagi. Aku memandangi gaun indah itu. Gaunnya lebih menonjolkan bagian pundak yang terbuka, namun sederhana.

Aku beranjak ke kamar ganti untuk mengenakan gaun itu, dibantu oleh beberapa orang tata rias tentunya. Aku memandang diriku sendiri di sebuah cermin. Aku terlihat sangat cantik dengan gaun ini. Aku merasa lebih feminim dan anggun.
“Gaun itu cocok untukmu. Kau terlihat sangat cantik.” Ayah tiba-tiba masuk ke kamar ganti. Aku tersenyum ke arahnya. Dia memelukku. Pelukkan seorang Ayah yang hangat. Mungkin ia menyadari bahwa sebentar lagi aku sudah menjadi tanggung jawab pria lain.

Pintu kamar ganti terbuka lagi, ku lihat sosok ibuku yang paling baik sedunia itu. Aku melempar senyum termanisku ke arahnya. Ia menangis, mungkin karena terharu.
“Christ, kemari sayang. Duduklah, ku harap kau tidak kecewa.” Desis Ibu pelan. Aku terheran-heran. Di hari pernikahanku ini, apa yang membuatku kecewa?

Ibu menarik nafas panjang. Seperti sulit mengatakan sesuatu. “Oxcel.. Oxcel..”
“Ada apa dengan Oxcel Ibu? Cepat katakan!” Aku memekik tajam. Aku mulai panik.
“Sewaktu perjalanan kemari, paru-parunya kumat, ia sesak nafas di dalam mobil, mereka sudah membawa Oxcel ke rumah sakit, tapi terlambat Oxcel.. Oxcel..” Ibu terisak menahan tangisnya yang membuncah.
Air mataku menetes. Aku tercengang. Aku mengerti maksud Ibuku itu. Aku beranjak dan meninggalkan Ibu serta Ayahku di kamar ganti. Aku berlari sekencang yang aku bisa, dengan menggunakan gaun pengantin ini , aku ingin bertemu Oxcel untuk yang terakhir kali dihari pernikahan kami.
***

I have died everyday
Waiting for you
A Thousands Years –Christina Perri

Arletha masih termangu di kursi panjang itu. Aku melihatnya dari balik pohon ini. Andai aku bisa menghampirinya dan membuat ia bahagia. Andai saja aku bisa menjadi sosok pria yang menghapus air matanya dikala ia sedang tersakiti. Namun, aku bukanlah apa-apa baginya. Aku hanya sosok sahabat yang ia butuhkan ketika ia sedang tersakiti oleh kekasihnya. Aku hanya bisa menjadi bayangannya yang selalu mengawasinya dari belakang.
Ku lihat Carl sudah muncul dan membawa sekuntum bunga mawar putih yang sangat Arletha sukai. Arletha melempar senyum manis ke arahnya. Sedangkan aku masih bersembunyi di balik pohon ini. Carl meraih tangan Arletha, dan menciumnya dengan lembut. Arletha terlihat sangat bahagia dan menikmatinya, aku bisa lihat itu.
Aku menghela nafas panjang. Berusaha berperang dengan cemburu buta yang kini melandaku. Aku tetap berusaha bertahan melihat kemesraan mereka. Walaupun hatiku telah panas membuncah, dan mataku tak tahan melihat mereka berdua. Ditambah lagi, Carl mencium kening Arletha. Aku membuang muka.
***

“Kau jangan menangis lagi.” Kataku seraya membelai rambutnya dengan lembut.
Ia masih terisak. Air matanya yang deras menetes lagi. “Carl tega melakukan ini padaku. Ia tega berselingkuh dengan sahabatku sendiri!” Pekik Arletha melengking. Aku tahu hatinya hancur berkeping-keping. Aku tahu rasanya.
Aku memeluknya dengan penuh kasih sayang. Ku kerahkan seluruh yang aku punya untuk membuatnya tersenyum kembali. Aku tak tega melihat wanita yang begitu ku cintai harus tersakiti seperti ini. Andai saja aku bisa mendapatkan tempat yang khusus di hatimu Arletha, aku akan terus menjagamu dan membuatmu tersenyum.

Hari ini entah mengapa, perasaanku tidak enak. Aku harap, Arletha akan baik-baik saja, dan ia tak akan menangis lagi. Kemarin, aku memang sudah bisa melihat senyumnya yang membuncah kembali, semangatnya yang hidup kembali, tapi aku tahu itu hanyalah kepura-puraan yang tengah dibuatnya.
“Rudolf! Cepat kau harus kemari! Ke rumah Arletha!” Jeritan Gricell terdengar jelas dari ponselku.

Aku langsung panik. “Ada apa dengan Arletha! Katakan!” Aku menggentak Gricell cepat.
“Dia.. dia.. ditemukan gantung diri di kamarnya.”
Sekejap, tubuhku mendadak lemas dan tak bertenaga. Ponsel yang tadi ku genggam kini terjatuh. Aku bingung dan masih terhenyak. Tangan dan kakiku gemetar. Apa maksud Gricell tadi? Arletha, sosok manis yang ku kenal, ia sosok yang cengeng namun tegar. Mengapa Arletha begitu bodoh menghabisi nyawanya sendiri hanya karena cintanya yang telah mati? Aku berlari, tak peduli apa pun yang menghalangiku, sekarang yang ada dipikiranku hanyalah Arletha.
***

I will be brave
I will not let anything
A Thousands Years –Christina Perri

“Maafkan aku Stell.” Katanya pelan. Aku memandang wajahnya yang original itu. Ia sepertinya sangat berada di dalam kesulitan. Aku bisa melihatnya dari lekuk wajahnya.
“Maaf tak bisa menyelesaikan semuanya Ben.” Aku menjawab permintaan maafnya dengan datar. Aku berusaha tetap tenang dan tegar. Aku tak mau terlihat cengeng di hadapannya.
Ia terdiam, tertunduk. Aku mendengus kesal.
“Lalu, bagaimana dengan kita?” Aku sengaja menekankan kata ‘kita’ untuk memperjelas semua keadaan ini. Keadaan pahit yang membuatku menangis sepanjang malam.

Ia masih terdiam. Tak menggubris perkataanku.
“Jawab Ben!” Pekikku tajam. Aku menerobos matanya yang sendu. Aku memandang wajahnya lekat.
“Tapi, aku juga mencintainya, sama seperti aku mencintaimu.” Akhirnya Ben membuka mulutnya juga.

Kini giliran aku yang mati kaku terdiam. Perkataannya tadi serasa peluru yang menembus jantungku. Aku meneteskan air mata. Aku benci dengan ini, aku akan terlihat lemah di hadapannya. Ben mendekat, ia menghapus air mata yang terjun di pipiku.
“Jika kau ingin menangis dan berteriak, lakukanlah.” Ujar Ben lembut. Suaranya yang khas, membuat telingaku selalu rindu dengan suaranya.
“Kau itu bodoh Ben! Harusnya kau memilihku! Bukan dia! Dia tak bisa memberikanmu masa depan Ben! Lagi pula kau juga akan ditentang orang tuamu!” Aku mematuhi perkataannya, aku berteriak keras di hadapannya. Air mataku makin menjadi-jadi mengucur deras.
Ia meraih kedua tanganku. Pandangannya menerobos masuk ke dalam pandanganku. “Aku juga tak mau seperti ini Stell! Aku merasa jijik pada diriku sendiri, bukan aku yang sengaja untuk mencintai dia Stell! Aku berusaha keras untuk melawan, tapi .. tapi..” Ia tak melanjutkan kata-katanya.

Aku tersenyum sinis. “Kau tak bisa? Kau mencintainya? Lalu, siapa yang lebih kau cintai? Dia atau aku!” Nada suaraku makin meninggi. Sebenarnya Ben terlihat sangat terbelit dalam masalah ini, namun aku harus mempertahankan harga diriku.
“Maaf, aku tak bisa menjawab pertanyaanmu Stell.” Katanya pelan. Wajahnya yang sendu dan original itu, masih saja membuat hatiku bergetar. Aku menahan air mataku untuk keluar.
“Baik, lebih baik kita pisah saja.” Celetukku tiba-tiba. Ben ternganga dan berusaha memberontak dengan keputusan yang kubuat.
“Tapi Stell, aku masih menyayangimu Stell!” Pekiknya tajam, ia memegang tanganku lebih kuat.
Aku menepis tangannya.”Menyayangiku? Hey, harusnya kau memikirkan perasaanku. Aku tidak mau dibanding-bandingkan dengan kekasihmu yang laki-laki itu. Aku ini wanita Ben! Pokoknya, kita pisah.” Aku mengucapkan kalimat itu dengan tegas. Aku membalikan tubuhku dan berjalan pergi menjauh darinya.
Aku harus merelakan Ben jatuh dipelukkan pria lain. Aku sendiri bergidik jijik. Namun, aku masih menyayangi Ben dengan dalam, masih dengan sepenuh hatiku. Tapi, aku juga tak mau terus-terusan harus bersaing dengan seseorang yang tak pantas untuk menjadi sainganku.
***

Untukmu Oxcel, Arletha, dan Ben
Aku tak tahu harus bagaimana, semakin cinta itu ku kejar dan ku perjuangkan, cinta itu akhirnya mati dan menghitam.
Aku masih menunggumu di kehidupan lain, atau di suatu tempat yang abadi. Aku masih menunggumu dengan segenap hatiku, walaupun aku hampir mati menunggumu, namun aku berusaha untuk tidak mati dengan itu.
Dari : Christ, Rudolf, dan Stell

Darlin’ don’t be afraid
I have loved you for a thousand years
I’ll love you for a thousand more
A Thousand Years –Christina Perri

PROFIL PENULIS
shinta aprilia, lahir di jakarta, 07 april 1997. seorang pelajar SMA kelas 10. jika ingin kontak hub e-mail shintaaprilia8h@gmail.com atau fb : http://www.facebook.com/shinta.aprilia.332

Baca juga Cerpen Cinta yang lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar