Kamis, 19 Juli 2012

Cerpen Persahabatan - Perjalanan Sepasang Merpati Cantik

PERJALANAN SEPASANG MERPATI CANTIK
Karya Arieska Dian Saputri

Hari ini langit begitu cerah. Mentaripun seolah tak mau kalah untuk menerangi dunia. Cahayanya menerobos masuk melalui celah-celah kecil kamarku. Perlahan mulai menyapa hangat kulit wajahku. Membuatku harus rela melepas bunga tidurku.

Oya, perkenalkan, namaku Amanda Nur Rahma, biasa dipanggil Manda. Aku adalah anak semata wayang. Ayah dan Ibuku merupakan salah satu pengusaha terkenal di Bandung (Hhe… bukan bermaksud sombong ya…). Aku punya seorang teman bernama Melati Fi Laila. Kami sudah berteman sejak masuk SMP. Bukan hanya teman atau sahabat, Ia sudah kuanggap seperti saudaraku.

Melati itu orangnya gokil, cantik, asyik, baik, pintar lagi… (Eh, tapi aku juga gak kalah cantik dan pintar kok, hhee…). Sifat kami hampir sama, Cuma aku itu lebih ceroboh dan grusa-grusu dalam menghadapi sesuatu. Bahkan sampai SMA-pun, aku selalu merepotkan Melati dengan kecerobohanku. Saat ini aku dan Melati duduk di bangku SMA, tepatnya SMAN 7 Bandung kelas 2 IPA. Di kelas kami duduk sebangku, kerja kelompok bersama, kemana-mana berdua, pokoknya kayak sepasang kekasih deh… (Eits, tapi bukan berarti kami “jeruk makan jeruk” ya… Hhee…).

Sampai suatu ketika, ada murid baru pindahan dari SMA Pelita Jaya yang masuk di kelas kami, namanya Wanda.
“Manda… aku pengen ngomong sama kamu,” Melati menepuk bahuku dari belakang.
“Mau ngomong apa sih, Mel? Biasanya juga langsung bilang,” aku yang sedang membaca novel menghentikan kegiatanku sejenak.
“Manda, kamu ngerasa gak sih, ada yang beda dari kita sekarang,” kata-kata Melati mulai membuatku bingung.
“Uhm… Maksudnya?!” tanyaku dengan ekspresi bingung.
“Aku ngerasa, sekarang kamu lebih deket sama Wanda. Bahkan kerja kelompokpun kamu lebih sering sama Wanda”.
“Mel, kita ini kan sahabat… Jadi sampai kapanpun akan tetap begitu. Kamu percaya kan?” tanyaku dengan wajah serius.
“Iya, aku percaya…,” senyumnya mwembuatku sedikit lebih lega.
“Manda… nanti pulang sekolah anterin aku ke mall ya…,” Wanda menghampiriku dan Melati.
“Aduh, gimana ya?! Hari ini aku mau pergi sama Melati. Lain kali aja ya…,” aku yang memeang ada janji dengan Melati tak ingin membuatnya kecewa.
“Emang mau kemana sih?! Melati kan bisa pergi sendiri. Iya kan, Mel?” Wanda terlihat agak sinis pada Melati. Entah apa yang terjadi diantara mereka, aku tidak begitu mengerti.
“Uhm… Manda, kalau kamu mau pergi sama Wanda, pergi aja!” Melati mennatapku dengan tatapan sayu.
“Enggak lah, Mel… Aku gak mau kamu nanti pergi sendirian”
“Dan Wanda, aku udah ada janji sama Melati. Kamu ngerti’in kita dong… Atau aku mau nganterin kamu tapi ajak Melati juga,” aku menatap mereka berdua bergantian.
“Enggak…..,” Wanda menjawab dengan setengah berteriak.
“Udahlah, Nda... Kamu pergi aja sama Wanda,” Melati tersenyum dan segera berlalu meninggalkan aku dan Wanda.

Akhirnya, mau tak mau aku terpaksa mengantarkan Wanda. Sejak saat itu, Melati sudah jarang main ke rumah. Kami sudah tak seakrab dulu lagi. Setiap kali kudekati, Ia selalu menghindar. Kutelfon pun jarang diangkat. Sampai suatu ketika, aku memberanikan diri berbicara padanya setelah pulang sekolah.
“Melati, tunggu...,” aku berteriak memanggilnya.
“Ada apa sih?! Aku mau pulang, kalau pengen ngomong besok aja,” Ia kembali meneruskan langkahnya.
“Tunggu, Mel...,” aku menarik tangan Melati.
“Udah deh... Mau ngomong masalah apa sih?! Aku gak punya waktu buat dengerin hal-hal yang gak penting,” ucap Melati dengan emosi.
“Kenapa sikap kamu berubah sih?! Ok fine, aku minta maaf kalau selama ini aku lebih sering pergi sama Wanda. Tapi bukan berarti aku gak peduli sama kamu Me...,” aku mulai meneteskan air mata.
“Bukan aku yang berubah, tapi kamu! Selama ini aku berusaha untuk percaya sama kamu. Tapi buktinya apa? Kamu udah benar-benar berubah. Kamu lebih nurutin omongannya Wanda daripada aku!” Melati menangis dan berlari menyeberang jalan. Pikirannya yang sedang kalut membuatnya tak menyadari jika ada mobil yang melintas dengan kecepatan penuh.
“Awas, Mel...,” aku berlari dan mendorongnya ke tepi jalan. Dan...

Braakk...
“Manda...,” Melati menjerit dan menghambur ke arahku.
Orang-orang yang ada di sekitarpun mengerumuni tempat kejadian. Aku yang tak sadarkan diri langsung dilarikan menuju rumah sakit.

Setelah menjalani operasi kecil, akhirnya akupun sadar. Perlahan aku mencoba membuka mata. Semuanya putih dan samr-samar. Aku merasa sebuah cairan masuk ke dalam tubuhku. Beberapa orang di sampingku mulai terlihat jelas. Ternyata aku di rumah sakit. Ayah, ibu, dan... Melati...
“Alhamdulillah... Akhirnya kamu sadar manda. Kami semua mencemaskanmu,” Ibu tersenyummelihat aku sudah sadar.
“Maaf ya... Manda buat kalian semua cemas,” kataku sedikit terbata-bata.
“Enggak, Nda... Kamu gak perlu minta maaf. Aku yang harus minta maaf. Ini semua gara-gara aku, Nda... Maafin aku...,” Melati menggenggam erat tanganku.
“Iya... Aku juga minta maaf... Harusnya aku bisa ngerti’in perasaan kamu. Sekarang kamu udah gak marah sama aku, kan?!” tanyaku pada Melati.
“Ya enggak lah... Dan mulai sekarang, gak ada yang bisa misahin kita lagi. Soalnya, kita ini...”
“Sepasang Merpati Cantik yang akan selalu bersama menjelajahi dunia,” ucapku dengan Melati bersamaan.
“Dan sahabat tetaplah sahabat... Sampai kapanpun akan tetap begitu,” ucapku menambahkan.
Kamipun tertawa bersama. Dinding putih rumah sakit menjadi saksi bisu persahabatan kami. Cahaya yang menerobos masuk melalui jendela seolah ikut menerangi indahnya persahabatan kami. Dan berkas cahaya itu akan selalu menerangi langkah kami. Bukan untuk sementara, tapi selamanya... Bukan sampai disini, tapi sampai mati...

-End-

PROFIL PENULIS
Nama : Arieska Dian Saputri
TTL : 18 Desember 1994
Alamat : Ds. Dumplengan, Ngawi
Hobi : Membaca, menulis, dan menggambar
FB : Ariezka Sa Azkiya
Twitter : @ariezkaazkiya

Baca juga Cerpen Persahabatan yang lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar