Rabu, 25 Juli 2012

Cerpen Motivasi - Kejutan Berhantu

KEJUTAN BERHANTU
Karya Shabrina Adzhaningtyas

Tubuhku masih tergeletak lemas di atas kasur berlapiskan kain bermotif flora yang nampak harum dan wangi. Sebuah kain tebal masih menyelimuti seluruh tubuhku. Terlihat sebuah garis lurus memasuki daun jendela kamarku, mengenai tepat di wajahku. Awalnya, terasa dingin karena sebuah benda balok yang mengeluarkan udara bersuhu rendah menerpa kulitku. Namun, lama kelamaan rasanya semakin hangat dan panas. Keringat mulai bercucuran. Rupanya, sang surya memaksaku untuk membuka kelopak mataku yang sedari tadi nakal karena terus menerus menutupi kornea mataku. Kudengar sebuah teriakkan dari luar pintu. Nampaknya memaksaku untuk bangun. Baiklah, aku menyerah.

Kucoba menggerakkan secara perlahan kedua kakiku menuju wastaffel1 untuk membasuh wajahku yang terlihat lusuh dan kusam bagaikan kitab tua. Ibu terus menerus berteriak menyuruhku untuk Shalat Subuh, mandi dan makan, walaupun ini sudah memasuki waktu Shalat Dhuha. Di fikiranku, hari Minggu ini adalah hari yang sangat indah yang ingin ku isi dengan berpuas-puas di pusat perbelanjaan bersama teman sebayaku. Terlihat seseorang menggoyangkan gagang pintuku yang akan segera terbuka.
“Ibu?” tanyaku seperti orang linglung2.
“Ini hari Senin! Kenapa kamu masih menatapi wajahmu di cermin itu? Ibu sampai lelah berteriak membangunkanmu. Bi Nah dan Bi Sum pun sama. Cepat mandi dan sarapan!“ cerocos ibu.

Wajahku pun menganga. Tanpa basa-basi, aku langsung berlari menuju kamar mandi.
“Mana air panasnya?” teriakku dari dalam kamar mandi.
“Mandi air dingin!” balas ibu. Aku berteriak spontan. Badanku masih bergetar untuk menyiramkan satu gayung berisi air dingin itu. Byuurr!
Brrr… Tubuhku masih bergetar, layaknya orang yang memakai kaos oblong di musim dingin. Rasanya seperti antartika sudah di depan mata. Aku pun segera berpakaian dan turun tangga untuk sarapan.
“Kamu kenapa, Flo?“ tanya ibu. Gigiku hanya bergetar menjawabnya.
“ Ana3 apa, non?” tanya Bi Sum.
Aku merespon hal yang sama. Nampaknya, ibu tahu apa yang aku rasakan. Ibu tampak berbisik-bisik dengan Bi Sum.
Aku segera pergi ke meja makan tanpa basa-basi lagi.
“Bi Nah, Bi Sum… Rotinya mana? Terus bikinin susu, gulanya 2 sendok, pakai yogurt sama meises. Susu coklat ya, Bi.“ perintahku cepat- cepat.
“Semua sudah siap di dekat kompor, non.“ kata Bi Nah.
“Kok di deket kompor sih Bi Nah? Di mana- mana, majikan itu makan di meja makan, bukan di deket kompor. Di dapur lagi. Ih, Bi Nah. Cepetan bawa ke meja makan sana!“ aku pun marah.
Namun apa yang terjadi? Bi Nah hanya membuat seribu alasan. Bi Nah malah masih ubek4 dengan mesin cuci dan masakannya itu.

Rupanya ibu mendengar pertengkaran antara aku dan pembantuku. Tanpa basa-basi, ibu langsung menyemprotku dengan cerocosannya.
“Pasti kamu lagi kan Flora?” ibu marah.
“Aku kan lagi buru- buru, bu. Apa ibu tidak lihat?“ balasku.
“Kalau kamu bawa sendiri, tanpa marah–marah sama Bi Nah waktunya udah cukup kan? Kamu buang waktu kamu dengan marah–marah sama Bi Nah. Kamu harus mandiri.“ kata ibu.
“Terserah kalau ibu mau marah. Aku mau makan di sekolah saja. Capek. Tiba–tiba nafsu makan ku hilang. Aku berangkat. Assalamualaikum.“ kataku tanpa bersalaman dengan Ibu.
“Wa’alaikumsalam.“ jawab Ibu dan Bi Nah.
Akhirnya, Bi Nah minta maaf kepada ibu. Ibu hanya diam dan keluar menyusulku. Ibu menyusulku keluar karena tahu aku teriak-teriak tidak jelas di luar.

Benar-benar mengejutkan. Sebuah mobil sedan beroda empat tepat berukuran 360o tidak lagi terparkir rapi di garasi. Supirnya pun menghilang. Mendengar teriakkanku karena shock5 tersebut, ibu langsung tertawa lepas. Aku bingung dengan tingkah laku ibu itu. Ternyata oh ternyata, mobilnya dibawa pak Jupri keluar kota bersama Ayah tadi pagi- pagi sekali. Dan, hari ini aku harus naik benda beroda dua yang diajalankan dengan cara dikayuh, sepeda. Dengan wajah yang tidak mengenakkan hati, aku pun melaju tanpa merespon ibu. Yang sangat amat aku sayangkan, percumanya aku pergi luluran ke salon kemarin bersama tanteku yang cantik jelita. Aduh, hari yang sangat sial.
“Huh, huh, huh. Gayuh terus Flora. Kamu pasti bisa. Huh, huh.“ keluhku dengan nafas terengah-engah.
“Kayaknya kok tidak sampai–sampai sih?“ kataku.
“Mungkin karena naik sepeda, ya ?” aku bergumam sendirian.
***

“Aduh! Gusti6! Non Flora.“ teriak Bi Sum dari kamarku.
“Itu ada apa Bi Nah, kok Bi Sum teriak–teriak?“ tanya ibu kepada Bi Nah.
“Tidak tahu, nyonya. Coba biar saya lihat.“ jawab Bi Nah.
“Iya, Bi. Tolong dilihat ya. Terima kasih, Bi.“ pinta ibu.
“Iya, nyonya. Sama–sama.“ kata Bi Nah.
“Bi Sum. Ada apa? Buka pintu.“ teriak Bi Nah dari luar pintu kamarku.
“Pintunya tidak dikunci, Bi Nah. Cepat masuk. Aku takut sama geli ini.“ kata Bi Sum.
“Iya–iya sebentar.“ jawab Bi Nah.
“Ada apa sih ?“ tanya Bi Nah.
“Ini nih, si Non Flora bener–bener jorok ya. Mau sampai kapan tuh anak kayak begini? Kasur kagak pernah diatur. Terus kamu lihat nih, kolong kasur nya! Penuh sampah. Barusan nih ya, saya nemu tikus mati. Baunya minta ampun, kejepit di kasur gara–gara banyak kue keju berserakan di deket kasur non Flora. Ya ampun, Bi Nah. Kalau kayak gini setiap hari, saya lebih milih mengundurin diri aja jadi pembantunya non Flora. Setiap hari disuruh ini disuruh itu. Ya emang saya pembantu, tapi enggak berlebihan kayak gini juga cara nya memperlakukan saya, Bi.“ cerewet Bi Sum panjang lebar.
“Heh, Bi Sum. Jangan bicara begitu. Tidak apik7. Biar bagaimanapun, mereka itu majikan kita. Kalau dipecat nanti baru tahu rasa lho.”
“Bukannya gitu, Bi Nah. Tapi saya ini merasa tidak dihargai sama sekali sebagai pembantu.”
“Sudah- sudah, sebaiknya kita tunggu saja sampai non Flora berubah, meskipun hal itu Cuma mimpi bagi kita, Bi.”
***

Tidak seperti biasa, di sekolah aku disambut oleh kelima kawan dekatku dengan baik. Namun, hari ini nampaknya sedikit berbeda. Mereka melototi sepedaku. Mungkin mereka berfikir, sepeda baru, atau aku turun pangkat, atau yang lain. Aku membalas mereka dengan senyuman. Aku lagsung pergi ke kelas tanpa mempedulikan mereka. Pandangan mereka tidak aneh kepadaku. Namun, aku yang merasa aneh kepada mereka.
5 jam berlalu. Cindy mengajakku untuk pulang dan pergi ke gerbang sekolah untuk menunggu jemputan.
“Aku naik sepeda, Cin.“ jawabku lesu.

Semua sahabatku langsung mendekati aku. Lalu menanyakan hal mengapa aku naik sepeda hari ini. Aku menjelaskan kepada mereka apa yang sebenarnya terjadi. Semua sahabatku mendukungku. Rasanya, aku sangat beruntung memiliki sahabat seperti mereka saat ini.
Keempat sahabatku memang mempunyai ciri khas sendiri–sendiri. Mulai dari Cindy yang seperti orang blo’on. Terus Marcel yang sedikit badboy. Ada juga Rifki yang bertampang culun. Juga Aisyah yang orangnya taat Agama. Kami berlima memang sudah bersahabat. Aku, Rifki dan Aisyah, sudah bersahabat sejak SD. Namun, aku bersahabat dengan Cindy dan Marcel mulai kelas 7.

Aku pun segera pulang ke rumah menaiki sepeda itu lagi. Meskipun tidak butut, aku tetap saja sedikit malu. Karena biasanya aku diantar dengan naik mobil. Karena lelah, tanpa mengganti seragam dan mengatur buku yang berserakan di meja, aku langsung tertidur pulas sampai lupa untuk makan siang.
Terdengar suara ketokan pintu dari luar kamarku. Rupanya Bi Nah yang mengetuk-ketuk pintu ku sedari tadi sehingga membuatku terbangun. Stelah kubuka pintu kamarku, kulihat Bi Nah membawa nampan warna putih yang cukup lebar berisikan 2 piring makanan dan satu gelas minuman. Karena sudah cukup lapar, langsung kuambil nampan itu dengan mengucapkna terima kasih kepada Bi Nah.
“Sami – sami7, non.“ jawab Bi Nah.
“Eh, Bi. Milkshake8 nya mana?”
“Pangapunten9, non. Saya lupa.”
“Lupa gimana sih, Bi? Bibi kan tahu saya tidak bisa makan tanpa milkshake? Gimana sih? Bikinin sana!”
“Baik, non.“

Aku pun marah kepada Bi Nah karena dia tidak membuatkanku milkshake yang aku pesan. Bi Nah pun segera pergi ke dapur untuk membuatkanku milkshake.
Sudah 30 menit, namun Bi Nah belum juga mengantarkan milkshake pesananku ke kamarku. Karena lama, akhirnya aku menyusul Bi Nah ke dapur. Di tangga, aku mendengar suara orang ngomel-ngomel di dapur. Aku segera pergi ke dapur. Dan ternyata? Yang aku lihat, Bi Nah sedang membuat gosip tentang diriku di hadapan Bi Sum.
“Kamu saya pecat. Kamu ya,Bi. Udah berani, ngejek majikan sendiri. Suruh bikinin milkshake malah bikin gosip. Apaan tuh? Pokoknya Bi Sum saya pecat.“ kataku tiba–tiba di belakang Bi Sum.
“Oke, non. Tanpa non pecat pun saya akan pergi dari sini sekarang juga.“ tegas Bi Sum.
“Enggak ada yang bisa memecat pembantu disini kecuali saya dan tuan Bayu. Mengerti?“ tegas ibu.
“Ibu?“ aku terkejut.
“Iya, kenapa Flora? Kamu tidak bisa seenaknya memecat pembantu. Yang menggaji mereka itu bukan kamu. Tapi Ayah. Mengerti?“ marah ibu.
“Oke, Bu. Kalau Ibu tidak mau Bi Sum yang pergi dari sini, saya yang akan pergi dari rumah. Titik.“emosiku meluap bagaikan gunung api yang mau mengeluarkan isi perutnya.
Aku pun segera berlari ke kamar dan membereskan juga merapikan barang–barang ku semua. Semua nya ku masukkan dalam koper, dan aku segera mengganti baju.
“Non Flora. Tunggu. Non Flora jangan pergi.“ pinta Bi Sum.
“Nyonya Fitria, saya mau pamit. Saya sudah tidak tahan di sini. Saya ingin pulang kampung saja. Atau saya mencari majikan baru yang lebih disiplin. Kamarnya tidak berantakan setiap hari. Saya capek, nyonya. Permisi.“ kata Bi Sum.
“Permisi nyonya. Saya juga mau ikut Bi Sum.“ kata Bi Nah.
“Bagus deh kalau kamu ngalah. Pergi berdua lagi. Yesss. Udah sana pergi.“ kataku senang.
Ibu tak bicara dan langsung masuk ke kamar.
***

Apa ibu kesal padaku? Apa ibu marah padaku. Sejenak, aku masih berpikir, kalau tidak ada pembantu, siapa yang mau mengurusku? Ah, sudahlah, kan ibu juga bisa cari pembantu baru nantinya. Aku langsung merebahkan diri di atas kasur dan, tanpa sadar, aku langsung terlelap.
***

Mataku masih terpenjam. Hening menyelimuti suasana sunyi kamarku. Semakin terlihat sepi dan amat sepi.
Gubraak! Aduh! Diriku yang mulanya terbaring rapi diatas kasur empuk berlapis seprei lembut, kini sudah tergeletak kesakitan di sebuah alas yang sangat amat keras, dingin, dan terlihat berwarna putih. Aku pun terbangun karena mengaduh setelah terjatuh dari kasur. Aku melirik jam dindingku,
“Apa? Jam setengah 7?” teriakku spontan.
Ibu membuka pintu kamarku dan menyuruhku untuk segera siap-siap sekolah. Katanya, ibu dan ayah akan segera pergi ke luar kota selama seminggu, itu artinya aku akan ditinggal?
“ Bi Nah dan Bi Sum tidak ikut kan?” tanyaku.
“Mereka sudah kamu usir. Kamu harus mandiri. Tidak akan ada yang betah jika sifatmu masih seperti ini. Ibu berangkat.”
Tanpa mengucapkan kata lain, ibu langsung keluar dari kamarku.
Aku terdiam. Aku sesaat menyesali perbuatan ku kemarin. Aku menangis. Hari ini, aku memutuskan untuk izin sekolah. Aku meng-sms semua sahabatku.

Sekarang sudah jam 10. Setelah Shalat Subuh tadi, aku belum beranjak dari tempat tidur. Aku masih bingung, apa yang membuat kedua pembantuku tidak betah di rumah. Apa kelakuanku yang tidak menyenangkan hati. Tanpa sadar, sedikit demi sedikit aku mulai merasakan penyesalan itu. Dan ku lirik layar ponselku, keempat sahabat ku telah membalas sms ku, semua nya berkata, ‘ya.’
Sejenak aku masih berpikir tentang apa yang membuat ku dijauhi bahkan ditinggalkan pembantu ku dan orang tua. Aku sudah kelas 3 SMP atau kelas IX, namun sikapku layaknya anak kecil, masih ingin mandi air panas, makan masih disiapkan, baju masih dicucikan, seseorang yang pemarah, apa itu yang mereka benci dari ku ? Apa ini kekuranganku ?
Dret..Dret..Dret.. ponsel ku bergetar dan berbunyi, membangunkan ku dari tidur siang ku. Di layar nya bertuliskan
“Marcel memanggil…” ku tekan tombol bergambar telepon berwarna hijau, dan ku ucapkan,
“Halo, Marcel? Ada apa Cel?“
“Halo, Flora. Kamu beneran sakit ya hari ini?“
“Cerita nya panjang, Cel. Kapan–kapan aku cerita deh.“ jawabku singkat. Tanpa salam dan basa–basi, aku hanya mengucapkan “ Dah!“ kemudian langsung menutup ponsel.

Aku harus berubah. Apapun itu, aku harus berubah. Entah apa yang membuat aku ingin berubah. Bi Nah dan Bi Sum tidak salah apa–apa, tapi mereka akhirnya pergi dari sini. Aku tidak bisa hidup sampai sekarang tanpa mereka. Dari aku lahir, mereka sudah bekerja disini. Tapi, entah apa yang merubah sifatku jadi seperti itu. Aku harus jadi Flora yang rapi, sabar, penyayang, dan yang baik–baik deh. Tapi gimana caranya? Aha! Aku kayaknya punya ide nih.

Seperti apa yang dibilang Ibu, apa–apa serba sendiri. Jadi aku akan mulai dengan mencuci piring dan baju. Sedikit keberatan sih, tapi demi perubahan, apapun akan aku lakukan. Demi sahabatku juga. Syalala… Semua pekerjaan sudah di depan mata. Schedule hari ini: Cuci baju, cuci piring, masak, bersih–bersih rumah, dan lain-lain. Kesannya seperti pembantu, sih. Tapi, enggak apa–apa lah.
***

Lagi dan lagi, aku terbangun dari dunia mimpiku, sejenak aku berpikir, mungkin hari ini aku akan terlambat datang ke sekolah, disidang di ruang BK, atau mungkin membersihkan toilet, atau bahkan hormat di bendera lapangan selama 2 jam. Maka dari itu aku sedikit takut untuk melirik jam weker ataupun jam dindingku. Seingatku, aku tadi malam sudah menyalakan dering alarm benda berbentuk bulat yang mempunyai 3 jarum itu, namun, mengapa ku tak mendengarnya. Perlahan pun aku memberanikan diri untuk melirik benda itu. Jreengg! Apa? Baru jam 4 pagi? Betapa melongonya aku melototi benda itu? Sungguh, tidak wajar sekali aku bangun jam segini. Mungkin aku harus memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin.

Shalat Subuh, menyiapkan sarapan, mandi, berpakaian, dandan, bersih-bersih, dan bla..bla..bla.. Kegiatanku pagi ini cukup padat, dimulai dari pukul 04.00 dan selesai sekitar pukul 06.00
“Apa aku harus berangkat sekolah sepagi ini?” tanyaku sendirian.
Entahlah, mungkin iya. Aku segera mengambil sepeda yang berwarna biru laut itu lalu mengunci pintu rumah. Sudah seperti yang kuduga, sekolah bagaikan rumah hantu. Berangin, gerbang masih tertutup rapat, dan sepi. Dan yang harus aku lakukan sekarang adalah, menunggu sampai satpam datang …
***

Ciitttt.. Suara rem sepeda motor mengagetkanku, sehingga membangunkanku dari tidurku. Tunggu? Aku tertidur di pos satpam!
“Flora, bangun! Kamu kok tidur disini sih?”
“Hehe, maaf pak. Saya tadi datang kepagian. Karena lama menunggu bapak, saya tertidur deh. Suasananya mendukung banget buat tidur, hehe.”
“Hah, kamu itu. Sudah sana masuk!”
“Baik, pak.”
***

“Naik sepeda lagi?” tanya Rifky.
Aku mengangguk, tapi tidak dengan lesu seperti kemarin, kali ini aku sangat amat ceria. Namun, wajahku setelah tidur masih terlihat, mungkin sedikit lusuh seperti kertas di mata teman-teman.

Hari ini aku berjanji untuk menceritkan tentang alasan tidakmasuknya aku kemarin kepada Marcel. Aku mencari Marcel di kantin, dia sedang berkumpul bersama sahabatku. Aku tidak bersama mereka karena tadi aku harus menemui Bu Bunga untuk mengumpulkan tugas menyusul kemarin saat aku tidak masuk.
Akhirya aku duduk satu meja denga mereka lalu bercerita masalahku. Tidak hanya Marcel. Semua sahabatku akan kuceritakan tentang hal ini.
“Jujur, ya, Flo. Kita juga pengen banget dari dulu tuh kamu berubah. Tapi, kita itu kan udah janji untuk menghargai satu sama lain. Jadi kita bisa apa untuk ngomong sama kamu. Saran aku sih, kamu harus belajar mandiri dan lebih dewasa lagi sekarang. Kita kan mau SMA, jadi harus lebih teliti lagi kalau introspeksi diri. Kita semua bakalan bantu kamu kok. Tenang aja lagi. Ya kan temen- temen ? Eh, maksud aku sahabat- sahabat ? Hehehe …“ nasihat Cindy.
Semuanya mengangguk dan tersenyum.
“Terima kasih ya temen–temen, eh sahabat–sahabat?“
“Iya.“ jawab semua nya bersamaan.
“Eh, tumben nih Cindy tokcer. Biasanya…“ canda Marcel.
“Biasanya apa?“ wajah Cindy mulai terlihat kesal.
“Hehehe … Enggak kok, Cin. Kita kan cuma juskid, hanya bercanda.“ kata Marcel.
“Kita? Kan hanya kamu?“ kata Cindy. Semuanya tertawa.

Tak terasa sudah 1 minggu aku sendirian di rumah. Dan tidak ada kejadian- kejadian aneh yang aku alami. Di rumah, aku pun langsung bersih- bersih rumah dan mencuci baju juga piring. Tanpa sadar, ternya sudah pukul 5 sore. Aku pun segera mandi sore dan pergi ke kamar. 2 jam berlalu. Selama 2 jam tadi, di kamar aku hanya mengerjakan tugas di laptop kesayangan ku. Sekarang sudah pukul 7 malam. Perutku terasa lapar. Aku pun pergi ke dapur untuk memasak mie instan. Baru sampai di tangga, kulihat seperti ada seseorang di dapur bawah. Ciri khas nya mayoritas seperti hantu terkenal di Indonesia, kuntilanak. Rambutnya gimbal panjang terurai. Sekilas, kulit nya pucat pasi, baju nya seperti dress atau daster lengan panjang berwarna putih berkilau, juga dengan tawa khas nya. Tapi kali ini, aku tidak mendengar dia berbunyi ‘Hi… Hi… Hi…’. Badanku sekilas menggigil, bulu kuduk ku berdiri semua. Tanpa basa – basi, langsung ku ambil sapu paling panjang dan besar di rumah ku.
“Awas saja kau kuntilanak. Sebentar lagi kau akan rasakan pukulan sapu terdahsyat dari ku. Masuk rumah orang kok enggak bilang – bilang, enggak sopan tau.“
Perlahan, aku mendekati makhluk itu. Baru saja mau ku pukul, dia sudah berbalik badan dan berteriak. Aku pun juga berteriak sekencang – kencang nya. Serasa dunia berhenti sejenak. Semua mendadak menjadi hitam. Tubuh ku tergeletak tak berdaya.

Ada orang yang menggoyang-goyangkan tanganku, memanggil namaku, seolah menyuruhku untuk bangun. Dia menyebut namanya sendiri, ‘Aku, Marcel,’. Di hidung ku terasa dioleskan minyak kayu putih yang baunya menyengat sehingga membuatku terbangun. Lantas apa yang kulihat di depan mata ku? Makhluk mengerikan tadi. Langsung ku berteriak
“Kuntilanak!“ teriakku histeris.
“Sssssssttttt. Ini aku Marcel.“ kata makhluk itu.
“Marcel? Kok bisa? Aku kenapa?“ tanya ku bingung. “Kamu tadi pingsan pas ngeliat aku di dapur. Aku dandan kayak begini sama anak–anak mau ngerjain kamu.“ kata Marcel.
“Ngerjain aku? “ tanya ku semakin bingung.
“Iya. Hari ini kan kamu ulang tahun. Tadi pagi waktu di sekolah kamu pasti lupa, kan? Kita jalan yuk. Anak–anak udah pada nunggu di luar.“ kata Marcel.
“Ya ampun. Iya ya. Aku lupa, beneran deh. Aduh, Marcel. Makasih banget ya.“ kata ku.
“Ya sama-sama.” Jawab Marcel.

Begitu sampai di luar rumah, aku melihat sudah ada Ayah dan Ibu juga disana. Tak lupa juga ada Bi Nah dan Bi Sum yang kembali bekerja di rumahku. Mereka mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Aku berterima kasih kepada mereka. Sungguh, aku seneng banget. Aku memeluk mereka. Mereka ternyata juga ikut mengerjai aku, hehehe. Akhirnya kami menuju restoran seafood. Disana sudah tersedia langsung makanan khusus untuk keluarga ku, aku, dan teman – teman ku.
“Tante, tante tahu tidak? Waktu aku tadi nyamar jadi kuntilanak, Flora, anak tante tersayang ini sampek pingsan hlo tante gara–gara shock, hehehe.” ejek Marcel.
“Yee, siapa suruh tadi dandannya nyeremin banget. Hehehe…“ kataku. Semua anak tertawa lepas, begitu pula Ayah dan Ibu.
“Selamat Ulang Tahun, anak Ibu dan Ayah tersayang. Semoga tambah yang baik–baik saja ya.” Kata Ibu dan Ayah.
“Iya, Bu. Iya, Yah. Terima kasih.“ kata ku. Mereka berdua mencium kedua pipi ku.

Seorang pelayan tiba-tiba mengantarkan sebuah kardus berukuran sedang, dan menyuruh ku untuk membukanya. Setelah ku buka, ternyata isinya sebuah kue ulang tahun besar.
“Waaah? Makasih temen–temen. Ibu, Ayah. Aku sayang kalian semua.”
Akhirnya kami semua meniup lilin kue bersama, dan di fotokan oleh salah seorang pelayan. Kam makan, dan berfoto ria. Keesokan harinya, aku merayakan ulang tahun ku di sekolah. Setiap teman ku, kuberikan 1 bingkisan berupa boneka dan snack.

Sejak kami masuk SMA, geng sahabatku beranggotakan menjadi 6 orang. Nama anggota baru nya Angel. Dia anak yang baik. Kami semua hidup bahagia dan semoga masih bersahabat sampai tua nanti. Bagusnya, kami semua lulus UN SMP dengan masuk peringkat 5 besar yang semua ya diraih oleh anggota Friendship.itu yang membuat kami semua bisa diterima di SMA yang sama, SMA terfavorit di kota ku, SMA 271 bertaraf Internasional, juga kelas yang sama. Aku sebangku dengan Angel, Aisyah dengan Cindy, Rifky dengan Marcel.

_ S E L E S A I _

Baca juga Cerpen Motivasi yang lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar