Rabu, 11 Juli 2012

Cerpen Sedih - Surat Terakhir Kakak

SURAT TERAKHIR KAKAK
Karya Feryda Triyana K

Malam yang sungguh indah. Banyak bintang bertaburan di langit, angin yang segar, langit yang indah sungguh melengkapi malam ini. Tapi ada yang terasa hilang, sungguh sangat terasa. Yaitu kedua orang tua ku, mereka tak berada disisi ku. Mereka terlalu sibuk dengan ego mereka, mereka tak pernah memperhatikan aku dan Kakak. Mereka selalu bertengkar setiap hari, entah apa yang mereka pertengkarkan. Kakak selalu melarangku bertanya apa yang selalu di pertengkarkan mereaka. Kakak selalu berkata “Kita jangan ikut campur urusan mereka”, setiap aku ingin bertanya kaka selalu beerkata begitu.

Malam ini aku hanya ditemani Kakak melihat bintang diatap, entah kemana Papa dan Mama. Mereka jarang pulang dan tak pernah memberi kabar. Dirumah hanya ada aku, Kaka, Bibi dan Mang Ujang. Kakak selalu menemaniku dimana pun aku berada, tapi entah bila Kaka nanti tidak ada apa jadinya aku. Tapi itu tidak mungkin terjadi karena Kaka sudah berjanji akan menemaniku setiap saat, dia tak akan meninggalkanku.
Setiap malam aku selalu berdoa supaya Mama dan Papa bisa akur dan keluarga ku utuh kembali seperti dulu, tak ada pertengkaran, dan tak ada perkelahian. Aku selalu ingin kembali sepeti dulu keluarga yang utuh, selalu bersama, tak ada pertengkaran, tak ada perkelahian, selalu tertawa. Tapi apa mungkin bisa seperti dulu. Mungkin itu hanya harapan ku saja.
“Bintang bangun adik ku sayang, ini sudah pagi. Waktunya bangun syang” suara Kaka yang membangunkanku dengan lembut.
“Sudah pagi ya Kakak” jawab ku.
“Iya sayang, sudah pagi” jawab Kaka dengan lembut, sambil merapikan kamar adik tersayangnya.
“Jam berapa sekaranng Kakak” ucap Bintang sambil menguap.
“Jam tuju pagi. Sekarang kamu mandi dan Kakak tunggu sarapan di bawah” ucap Kakak smbil mengelus kepala adiknya.
“Baik Kaka” jawab Bintang dengan semangat.
###

“Kakak” ucap bintang sambil mencium pipi Kakaknya.
“Ini roti coklat mu dan susu” ucap Kakak sambil meletakkan roti coklat dan susu di atas meja makan.
“Terimakasih Kak” ucap Bintang.
“Iya sayang” jawab Kakak.

Seusai sarapan pagi Kaka mengajak Bintang untuk berkebun, karena Bintang suka sekali berkebun dengan Kakaknya.
“Sekarang kamu bantu Kakak untuk merapikan pohon ini ya” ucap Kakak sambil menyerahkan gunting tanaman untuk merapikan daun pohon itu.
“Iya Kak. Kakak kalau pohon ini kita bentuk bintang bagaimana, boleh tidak Kak” tanya Bintang sambil memandangi Kakaknya yang cantik itu.
“Boleh saja” jawab Kaka.
“Lalu pohon yang satunya kita bentuk Bulan Kak. Boleh tidak”
“Boleh. Tapi kenapa kamu mau membentuk pohon ini dengan Bulan dan Bintang” tanyak Kakak dengan penasaran.
“Karena Bintang itu nama aku dan Bulan itu nama Kakak. Jadi Pohon ini akan melambangkan kita Kakak. Supaya Kaka selalu ingat Bintang dan Bintang selalu teringat Kakak” awab bintang dengan semangat. Kakak hanya tersenyum melihat jawaban adiknya itu.

Inilah yang selalu aku lakuna setiap pagi dengan Kakak. Kakak selalu perhatian kepada aku, setiap apa yang aku iginkan Kakak selalu tau dan Kakak selalu mengabulkan semua keinginanku. Tapi hanya satu yang tidak bisa Kakak kabulkan dari keinginan ku. Yaitu kembalinya keluarga ku.
“Kenapa Kakak gak bisa kabulin permintaan ku. Kakak sudah berjanji selalu mengabulkan semua keinginan ku tapi kenapa yang ini tidak bisa” ucap Bintang dengan marah
“Bintang Kakak tidak mungkin bisa melakukan itu, yang bisa melakukan itu hanya Tuhan Bintang. Hanya Tuhan yang bisa mengabulkan satu permintaan mu itu syang” Kakak menjelaskannya sambil memeluk bintang yang menangis.
“Tapi bagaimana caranya Kakak” tanya Bintang sambil menangis didalam pelukan Kakaknya .
“Kamu berdoa pada Tuhan sayang, supaya keluarga kita utuh kembali. Supaya kita bisa bersama kembali” Kakak menjelaskan sambil menghapus airmata Bintang.
“Tuhan kembalikan keluarga Bintang seperti dulu, supaya Bintang tidak sendiri lagi dengan Kakak. Bintang kangen sama Papa Mama, Tuhan Bintang pengen kayak dulu bisa main sama Mama Papa. Bisa sarapab bareng, main bareng Tuhan. Bintang pengen kayak dulu Tuhan. Kabulin permintaan Bintang ya Tuhan. Amin” uacap Bintang sambil menangis tersedu- sedu. Kakak hanya bisa menangis dan memeluk Bintang. Kakak tak bisa melakukan apa-apa. Karna ini semua terjadi karena takdir Tuhan.
***

Setelah aku menidurkan Bintang. Tak sengaja aku mendengar suara mobil yang di parkir di depan rumah. Ketika aku melihat dari jendela ternyata Papa dan Mama pulang. Entah sedang terjadi apa sampai mereka ingat bahwa mereka masih mempunyai rumah yang haru mereka datangi.
Ku dengar pintu di buka, dan ada suara orang yang bertengkar. Entah kenapa merek selalu bertengkar setiap kali bertemu. Apa merek atak memikirkan perasaan aku dan Bintang.
“Kamu kenapa si Pa. Selalu saja menyalahkan Mama” ucap Mama sambil berteriak dan masuk kedalam rumah.
“Seharusnya kamu tidak pulang malam Ma. Seharusnya kamu ada dirumah untuk Bintang dan Bulan” ucap Papa sambil berteriak dan emosi.
“Kenapa aku gak boleh pulang malam Pa. Aku juga kerja Pa” jawab Mama.
“Apa kamu bilang, kerja. Kerja apa kamu. O kerja selinngkuh ya” tanya Papa.
“Apa maksut kamu Pa” tanya Mama.
“Apa ini Ma kalau bukan selingkuh” jawab Papa sambil menunjukkan selembar foto yang terdapat foto Mama dengan seorang Lelali yang masih muda.
“Kenapa aku gak boleh ngelakuinnya, kamu juga selingkuhkan. Kenapa aku juga gak boleh selingku” tanya Mama.
“Apa maksut kamu Ma”
“Ini apa Pa, Papa bilang Mama gak boleh selingkuh, tapi malah Papa selingkuh sendiri” ucap Mama sambil Menunjukkan foto Papa dengan wanita lain.
“Dasar kamu” ucap Papa sambil mengangkat sebelah tangannya.
“Udah Ma Pa, kalian gak mikirin perasaan Bulan sama Bintang ya. Setiap kali bertemu kalian selalu berantem, kalian gak kasian sama Bintang. Bintang masih kecil Pa Ma, Bintang baru lima tahun Ma Pa. Kalian selalu berantem tapa melihat keadaan, Bintang selalu bertanya kenapa Papa dan Mama berantem, tapi Bulan hanya bisa meluk Bintang Pa Ma. Apa kalian gak mikirin itu” teriak Bulan sekencangnya sambil mengis.
“Maaf in Mama syang. Mama” ucap Mama.
“Kakak” teriak Bintang yang menangis melihat Papa, Mama, dan Kakaknya yang sedang bertengkar.
“Ayo kita masuk Bintang” ucap Kakak sambil menggandeng adiknya yang menangis.
“Kakak “ ucap Bintang yang menangis.
“Udah sayang kita masuk kamar ya” ucap Kakak yang juga meangis.
***

Bintang terbangun dan melihat Kakaknya yang tertidur di sampingnya. Bintang berjalan keluar kamar dan melihat Papa Mamanya yang sedang bertengkar. Bintang menangis sambil membawa boneka beruang kesayanganya. Kakak terbangun dari tidurnya dan melihat adiknya yanng menangis karena melihat Papa Mamanya bertengkar.
“Bintang” ucap Mama.
“Mama Papa jahat. Mama Papa gak kasia sama Bintang dan Kakak, Mama Papa selalu berantem gak pernah mikirin perasaan Bintang dan Kakak. Mama Papa jahat” teriak Bintang sambil menangis.
“Sayang, maaf in Mama sayang” ucap Mama.
“Bintang benci sama Mama Papa” ucap Bintang.
“Mama Papa seneng kan udah buat Bintang dan Bulan menderita” ucap Bulan. Mama hanya bisa menangis dan Papa hanya diam.
***

Pagi ini Bulan dan Bintang sedang berkebun di taman. Bintang sungguh senang setiap kali Kakaknya mengajaknya berkebun. Kakak selalu bernyanyi setiap kali berkebun dan Bintang selalu menyukai nyanyian Kakaknya itu. Tapi saat Bulan sedang menyiram bunga dia merasa ada cairan yang keluar dari hidungnya, saat dia berusaha menghapusnya dia melihat bajunya sudah banyak darah. Bulan merasa pusing dan dia terjatuh di taman. Bintang berteriak ketika melihat Kakaknya yang pingsan itu.
Bintang memanggil Mang Ujang dan menyuruhnya untuk membawa Kakak ke ruma sakit. Sedangkan Bibi sedang menelfon Mama dan Papa. Sesampainya di ruma sakit, Kakak langsung menerima penanganan dari dokter. Sat itu juga Mama dan Papa datang. Mama memeluk Bintang yang menangis dan Mama pun ikut menangis. Papa hanya terdiam, tak berkata satu patah kata pun. Setelah dokter keluar dari kamar ruma sakit, dokter meminta Papa dan Mama ikut keruangannya. Aku masuk kedalam kamar ruma sakit, terlihat Kakak yang tak sadarkan diri di atas ranjang, ada infus ditanganya, selang oksigen yang berada dihidungnya, dan kabel yang tertempel di tubuh Kakak. Bintang hanya bisa melihat Kakak yang ia syangi sedang lemas tak berdaya dia atas ranjang.

Tak lama Mama dan Papanya masuk kedalam kamar. Mama menangis dan memeluk Bintang. Sedangkan Papanya hanya bisa diam, Bintang bingung apa yang terjai. Kenapa Mamanya menangis.
“Mama kenapa nangis, terus kenapa Kakak kok gak bangun-bangun Ma” tanya Bintang sambil memandangi Kakaknya yang terbaring lemas di atas ranjang ruma sakit.
“Bintang berdoa ya buat Kakak. Semoga Kakak cepet sembuh sayang” jawab Mama.
“Ia Ma. Kakak, Kakak cepet sembuh ya, Kakak udah janji bakal nemenin Bintang terus dan Kakak bakal mengabulkan semua keinginan Bintang. Lihat Kakak sekarang Mama Papa udah akur lagi. Kakak bangun do’ong, nanti kita buat pohon yang bentuknya Papa Mama Kakak. Ayo Kakak bangun” ucap Bintang sambil menggoyang-goyang tubuh Kakak tercintanya. Mama menangis dan memeluk Papa. Dan akihnya Papa pun tak bisa lagi menahan airmatanya.
“Papa Mama kenapa nangis. Kakak pasti bangun kok, nanti kalau Kakak bangun kita buat pohon yang bentuknya Papa Mama. Biar keluarga kita lengkap” ucap Bintang yang heran melihat Mama dan Papanya menangis.
“Bintang berdoa semoga Kakak bisa bertahan ya sayang” ucap Mama.
“Kakak pasti bertahan, Kakak udah janji bakal nemenin Bintang terus. Kakak gak bakal ninggalin Bintang kan Ma” tanya Bintang yang menangis. Papa dan Mama hanya terdiam, mereka memeluk Bintang. Dan menjelaskan apa yang terjadi kepada Kakaknya.

Ternyata Kakak mengidap kangker otak setadium akhir. Ternyata obat-obat yang selalu kakak minum setiap hari adalah obat-obat untuk sakit kangkernya. Dan Kakak pernah berkata nanti kalau terjadi apa-apa sama Kakak, Bintang harus ambil surat yang ada di laci kamar Kakak dan memberikanya pada Papa Mama. Ketika Bintang melihat Kakaknya, Kakak menyemburkan darah dari mulutnya. Mama membawa Bintang pergi dan Papa memanggil dokter.
“Mama, Kakak gak pa-pa kan” tanya Bintang.
“Bintang berdoa ia, semoga Kakak kuat” ucap Mama.
“Ia Ma” Bintang hanya terdiam di dalampelukan Mamanya.
“Ma Pa, Kaka pernah bilang ke Bintang nanti kalau terjadi apa-apa sama Kakak Bintang harus serahin ini ke Mama Papa” ucap Bintang sambil menyerahkan selembar surat yang dimasukkan kedalam amplop berwarna ungu.

Untuk Mama dan Papa

Mama Papa mungkin saat Mama Papa baca surat Bulan, Bulan udah ada di surga. Ma Pa maafin Bulan yang gak bilang soal penyakit Bulan. Bulan hanya takut kalau Bulan ngomong ke Mama Papa bakal bikin Mama Papa sedih. Bulan mohon Ma Pa, Mama dan Papa bersatu kembali ia. Mama Papa jangan berantem lagi. Kasian Bintang Ma Pa. Bintang masih butuhin Mama Papa. Bulan minta Mama Papa jaga Bintang ia. Buat Bintang bahagia Ma Pa, jangan buat Bintang nangis lagi. Tolong kabulin permintaan Bulan yang terakhir Ma Pa. Makasih ya Ma Pa udah mau nemenin Bulan disaat terakhir Bulan, walau itu terlambat.

Dari
Bulan Ausgria


++ TAMAT ++

PROFIL PENULIS
Nama : Feryda Triyana K
Ttl : Madiun, 21 Juli 1998
Sekolah : SMP N 14 Madiun
Email Fb : feryda_triyana@yahoo.co.id / idaidulferyda@yahoo.co.id

Maaf iia kalau cerita.nya jelek. Soal.nya aku baru pemula >>>

Baca juga Cerpen Sedih yang lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar