Selasa, 31 Juli 2012

Cerpen Cinta - Tak Terungkap

TAK TERUNGKAP
Karya DMC

Suasana riuh dan gaduh membahana di kelas tingkat tertinggi di salah satu Senior High School in New York, Sains of Two. Itulah kelas favorit di sekolah. Saat ini jam pelajaran physic alias fisika. Namun, guru pengajar sedang berhalangan datang. All students lantas melakukan berbagai aktifitas yang disukainya seperti, mengobrol, main gadget, bercanda, lari-larian, menyanyi, dan menelusuri dunia lewat internet.

Namaku Diana, aku salah satu sisiwi di kelas favorit ini. Sekarang ini umurku hampir menginjak 18 years old. Aku sebangku dengan gadis yang bernama Emma. Dia temanku sejak masih di New York Junior High School. Sementara di depanku duduklah dua orang cowo bernama Richard dan Harry. Mereka berdua teman sekelas Emma di kelas dua SMA.

Di Awal tahun ajaran baru, aku, Richard dan Harry tidak akrab. Tapi, boleh di lihat sekarang... bukan hanya akrab... tapi, lebih dari itu. Setiap guru menjelaskan, kami berempat yang selalu membuat suasana hening mencekam menjadi ramai. Apalagi sekarang, jam pelajaran kosong. Deretan bangku paling timur (bangku tempat kami berempat berada) menjadi paling sibuk sekaligus paling ramai. Bagaimana tidak... sedari tadi aku, Emma, Richard dan Harry bersaing untuk mendapatkan foto-foto konyol salah satu dari kami. Dan untuk mendapatkannya yang harus dilakukan adalah take a picture secara sembunyi-sembunyi.

“Yeeesss..... I get it...!”, seru Harry tiba-tiba.
Sontak aku dan kedua temanku yang lain menoleh ke arahnya.
“what??? Foto siapa?”, tanyaku.
Harry langsung memperlihatkan foto siapa yang ia dapat.
“hwaaahahahahahahahaha.....” tawa Richard dan Emma meluncur dari mulut mereka. Sementara aku pasang wajah bad mood.
“Harry... Give me! Aku ingin melihatnya dari dekat.”
“Don’t delete it! It’s so funny,Richard...hahahahaa...”
“Waaauuuww... Diana... look at your picture! Kau tampak sangat oon di foto ini. Hehehehe”, ujar Emma.
“Send to me! Diana, ini seperti bukan kau. Hahaha...”, Richard kembali menertawakanku.
“Heeeiiii..... stop! Jangan tertawa lagi...”, ujarku manyun.
“Heeehh... kau ini sudah jangan gitu... tambah jelek.”,Ask Harry.

Kebiasaan mencuri-curi foto ini dimulai beberapa bulan setelah tahun ajaran baru dan pastinya setelah kami akrab. First people do it is Harry. Si Cool Boy ini memotret aku dan kemudian Emma secara diam-diam. After that, dia menunjukkan hasil buruannya itu pada Richard. Richard yang duduk tepat di depanku itu tertawa terpingkal-pingkal. Sedangkan, aku dan Emma hanya bisa teriak dan berusaha merebut ponsel Harry untuk menghapus foto itu.

Once, twice dan seterusnya...
Banyak sekali foto-foto konyolku dan mereka yang ada di ponsel masing-masing. Dan kami pun saling bertukar hasil buruan. Namun, jika dilihat dan dicermati... I always take Harry’s picture than Richard and Emma. I think... ini karena aku mendapat getaran-getaran yang asing sejak mengenal Harry. Mungkin itu yg orang bilang Falling in Love.
***

One day...Emma mendekatkan kepalanya ke arahku kemudian dia membisikkan kalimat yang membuatku nyaris berteriak...“Oh...God...Hepl me! please don’t make me love him.”, bisik Emma.
“Heeeiiii?? Youuu...???”,Wajahku berubah seperti kepiting rebus.
Emma hanya tersenyum jahil. Then, she says “It is your status in Facebook. Right?”
“Emmaaa... Stop! Ku mohon,,,,Soft of your voice.” Ujarku sambil melirik ke depan, memastikan dua cowo itu tak mendengar.
“I know, who is the boy. Is He?”, Emma melirik ke arah Harry yg sedang mengotak-atik ponselnya.
“Heeeiii.... kau tahu dari mana? Apakah aku pernah menceritakannya padamu?”
“No. But, i’m suspicious with you. Kelakuanmu saat bersamanya berbeda. Tatapanmu padanya juga, emmm... different. Mengakulah!”
“Hmmmm....” aku menghela napas. I’m shock. Aku berusaha tidak menunjukkan perasaanku dari awal padanya, ternyata Emma menyadarinya. Oh God... jeritku dalam hati.
“Yeah... aku menyayanginya... mencintainya, Emma... dari dulu dan tak kan terungkap. Tolong...rahasiakan ini.”, lanjutku sedih.
“Hehehehe,,, akhirnya kau mengaku juga. Sudah, jangan sedih... Rahasiamu aman. Smile, please...!”
“Eh... what are you doing? Main aja yuukkk...”, ajak pangeranku.
“Mau main apa, sih?”, tanya Emma.
“Tuuuh... alfalink-nya Jannie ambilkan!”
Aku meminjamkan alfalink (sejenis kamus elektronik) pada Jannie, cewe yg duduk di belakangku. “Jan... aku pinjam ini ya...” Jannie mengangguk.
“Tebak-tebakkan. Yang salah memasukkan huruf dipukul dan yang menang, memukul semuanya. So, Are you Agree?”
“OK...”,sahut kami bertiga.

The game started from Harry, lalu berjalan ke kanan ke arah Richard (Harry dan Richard menghadap ke belakang, ke bangkuku), lalu ke aku dan ke Emma. Dalam kurang dari 10 putaran, aku dan Emma yang sering mendapatkan rasa nyeri karena dipukul. Sementara, Richard dan Harry kebanyakan benar memasukkan huruf. Memang pada dasarnya kekuatan cowo lebih besar daripada cewe, pukulan yang mendarat membuat kulit memerah. Nassiiiiibbbb menjadi cewe..

_ A _ _ A I
“a, i, u, e, o. Mmmm.... I try ‘T’.”, Richard mengawali permainan karena dia telah menang di putaran sebelumnya. Namun, sayang dia mendapat hadiah pukulan karena jawabannya salah.
“Hahahaha...it’s wrong. Mmmm... ‘P’.”, terlihat huruf P muncul di layar alfalink.
“Twice again. Haduuu... apa yaaa....? mmm,... ‘N’. Aaaaahhhhh....sial! Harry pasti menang.”, tebakan Emma yg benar menjadi jembatan kemenangan Harry.
“I think... ‘D’. PANDAI. yeeessss.... i’m the winner... Ayooo... ayoooo siiinniiii... serahkan lenganmu...”, lagi-lagi Harry menjadi pemenang. Aku, Richard dan Emma hanya bisa menarik napas berat dan dengan rela hati menyerahkan lengan untuk mendapat pukulan.
Prrraaaakkkk... satu pukulan mendarat di lengan Emma.
pppraaaakkk... satu pukulan tidak keras mengenai lengan Richard.
“Diana... c’mon...”, aku segera merelakan lengan kananku memerah lagi.
Ppppprrrrrrrrrraaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkk.......
Suara pukulan Harry terdengar sangat keras, bersamaan dengan itu Emma bergumam “adduuuhhh... that’s so hurt!”
Aku langsung menjerit. “Waaaaauuuuuwwww.... Heiii... Harry... Saaakiiiiiitttt.... isn’t fair! Ke aku aja keras banget... ke Richard and Emma tidak. Kau dendam ya sama aku...”, aku mengomel sambil mengusap-usap lengan yang mendapat pukulan telak dari Harry.
“Hahahahahahahaaaaa.... enak kalau memukulmu, Diana. Sungguh!”, Harry terlihat sangat bahagia.
“Heeh? Maksud loe? Mentang-mentang I’m fat girl, kau bisa memukul seenaknya... awaaasss kau yaaa... ku balas nanti.”
“C’mon Harry.... ayo mulai lg dengan kata baru.”, seru Richard tak sabar.
“yeah... sabar....”, Harry memencet tombol2 dan kemudian terlihat di layar _ _A_A_
“WRONG! Come here.... aku mau balas.... Harry... ayooo.... sekali aja....”
“Eeee... gak tau itu....”, Harry semakin menjauhkan badannya dari aku. Terpaksa hanya memukul sedikit.

Permainan dilanjutkan Richard. Huruf di layar sekarang terlihat GA_A_. Lalu, aku menekan huruf H dan benar. Sekarang giliran Emma. Dengan petunjuk yang sudah jelas, Emma menekan tombol J dan she’s the winner. Emma langsung memukulku, Richard and Harry.

Harry mengambil alfalink, penasaran dengan kata yang dimaksud.
“GAJAH itu apa?”, tanya Richard polos.
“GAJAH?”, ulang Harry sambil melihat ke arahku.
Otomatis, mataku langsung melotot padanya and I say, “What are you doing, Harry? Why are you seeing to me, heeeeehhh?”
“Gajah kan elephant, ya kan?”, Emma menjawab dan melihat ke arahku
“Emmmaaaaa..... kau itu.... you say elephant and you see to me. Jangan melihatku dooonkkk... huuuuaaa.....”
“Huuuuuaaaaaahahahahahahahahahahahahahahahhaha.....”, Harry kembali tertawa bahagia diikuti dengan tawa Richard.
“I’m Sorry, Diana... aku tak bermaksud... huahahahahahahhaa...”, Emma juga tertawa.

Aku dan memasang wajah manyun seperti tadi. Namun, tak berpengaruh. Kami berempatpun tertawa bersama. Aku yg menjadi korban hanya bisa tertawa dan memukul-mukul Harry yang terlihat sangat gembira. Ya seperti itulah...jika aku dan mereka sudah berkumpul. Tak ada kata diam. Pasti ramai, sekalipun itu ulangan atau ujian. Aku yang duduk di diagonal Harry sangat bahagia melihat tawanya. Rasa yang tak terungkap ini membuatnya menjadi orang yang special. Benar-benar pria yang menarik, ujarku dalam hati.
***

Tiiing tooong....jam pelajaran berganti. Mr.George masuk kelas membawa laptopnya. Kemudian, ia menampilkan sebuah Documentary Film. Tayangan yang berdurasi 15 menit itu mengisahkan sepasang kakak-beradik yang tidak dapat melanjutkan sekolah. Namun, pada akhirnya mereka dapat melanjutkan sekolah berkat kebaikan seorang dermawan.

“Ok, ladies and gentleman... kalian telah melihat tayangan tadi. sekarang tugas kalian membentuk kelompok dan buatlah film indie seperti tadi. Tema bebas. Tugas film ini sebagai tugas akhir. ‘Kay? Do it, Now!”, ujar Mr. George.

15 menit mencari-cari kelompok, akhirnya terbentuklah 5 kelompok. Kelompokku adalah kelompok dance-q (Emma, Rebecca, Julie, Nency and Me) ditambah Richard dan Harry.

“well, tema yang akan kita usung apa?”, tanya Rebecca.
“I don’t know. Up to you. I always Agree.”, jawabku.
“Poor and Rich. Bagaimana?”
“Yes... I’m agree. Kisahnya orang miskin yang dihina-hina oleh orang kaya. Namun nannti si miskin itu menjadi pahlawan yang menyelamatkan si kaya.”, Usul Nency si pengagum Harry yang lain.
“ya. Betul. Boleh tuuuhh...”, Emma menyetujui.
Aku dan Julie hanya mengangguk-angguk saja.

Saat ini, badmood menyerangku. Semua ini gara-gara Harry.
Five days ago, Harry mengejekku karena aku tak bisa berenang. Saat itu dia berkata, “I’m not believe. Masa kamu tidak bisa berenang. Kamu kaaaann.......pelampung!”
I was very shock. Aku tidak menyangka dia berkata seperti itu. Jika orang lain yang mengejekku seperti itu, aku tak peduli. Tapi,dia Harry, orang yang ku puja. My Heart is hurt. Sejak saat itulah kami tak saling bertegur sapa. Yang ada saling menyindir. Aku masih ingat ucapan Richard saat Harry meminta maaf padaku, “ dimana-mana yang spontan yang jujur.”
Aku yang masih tak bisa memaafkan Harry hanya diam saja saat dia meminta maaf padaku. Kami hanya mengutarakan apa yang kami rasa lewat sosial network.
‘Aku punya hati yang tidak ingin disakiti’, ujarku pada sebuah status.
Lalu, Harry membalas kata-kataku lewat statusnya, ‘apa yang diucapkan hati dan mulutku berbeda.’
Aku tidak menyapanya bukan karena membencinya, aku hanya mengetest bagaimana usahanya meminta maaf padaku. Ternyata tidak, dia terlalu jaim. Yang ada, dia malah menghindar dan menjauh dari aku. Lagi-lagi, I was cried in my heart.
Kembali pada hari ini. Teman-temanku memasangkan aku dan Harry menjadi orang kaya, si pemeran antagonis. Aku berpura-pura tak menerima keputusan ini. Padahal, dalam hati aku berteriak gembira. \(^_^)/
“Well.. minggu depan mulai syuting. OK?”
“OK...!”
***

Syuting pertama dimulai. Adegan pertama adalah Nency si miskin mencarikan makanan untuk kakaknya yg sedang sakit. Rebecca bertugas sebagai kameramen. Sementara, Harry memayungi Rebecca agar tidak silau karena hari ini adalah musim panas. Aku, Emma dan Richard hanya menonton pengambilan adegan.
Mataku bukan tertuju pada Nency sang aktor. But, I see Harry. Aku sidah baikan dengannya sebelum shooting pertama dilakukan. Jadi, sekarang Aku bisa memandangnya... mengamatinya... Namun, tiba-tiba... Deeeggggg... jantungku serasa berhenti berdetak. Saat kuikuti arah pandangan matanya, ternyata tertuju pada Nency. Dia tak berkedip. Kusentuh dadaku, ada sakit dan sesak di sana. Bagaimana tidak, Harry, my Prince melihat ke arah Nency dengan tatapan seperti itu. Seandainya bukan Nency, I don’t Care. But, she is Nency. Nency has feel to Harry. Walaupun, Nency tidak mengutarakannya,semua jelas terlihat dari tingkah lakunya saat berada dekat Harry. Emma pun setuju dg pendapatku, bahwa Nency menyukai Harry. Karena itu pula, aku tak mau mengatakan apa yg kurasa pada Harry. Ku simpan, Ku jaga dan ku rawat baik-baik rasa itu agar tak terbaca oleh orang lain. Walau pada akhirnya, Emma mengetahuinya.
Kini, Segala macam pertanyaan yang di awali kata “mengapa”berputar-putar di benakku.Mengapa harus Nency lagi? Mengapa harus pada orang yang sama lagi? Aku menyayanginya... aku mencintainya, tapi, mengapa Nency menyimpan rasa itu juga? Dan sebagainya. Tak pernah terpikir olehku akan mengalami hal yang sama dengan 1 tahun yang lalu, saat aku menyukai orang yang Nency sayang. Apakah ini balasan untukku? Oh, God... aku tak kuat jika seperti ini.... aku yang lebih dulu..., bisikku dalam hati.
Hari itu dan shooting selanjutnya ku lewati dengan perasaan campur aduk. Adakalanya, aku yg merasa sedih krena tingkah Harry pd Nency. Namun, tak jarang pula, Nency menahan sakit karena aku dan Harry. Cinta segitiga yang rumit.
***

Setelah shooting pembuatan film dan berbagai macam tugas akhir selesai, kelas XII dihadapkan dengan lima macam ujian. Try Out, Ujian akhir semester, ujian praktek, ujian sekolah, dan ujian nasional. Benar-benar ribet menjadi siswa kelas XII. Banyak tugas yang harus diselesaikan, banyak kegiatan ujian yang harus diikuti, dan banyak tambahan pelajaran yang wajib diikuti agar dapat lulus.
Beragam kegiatan yang begitu banyak kuikuti dengan senang hati. Mengapa demikian? Karena aku dapat lebih lama bersama Harry. Although, tak bisa bercanda seperti sebelum-sebelumnya. Seperti sekarang, aku sedang berada di lab.IPA, aku sedang mengikuti praktek fisika bersama teman yang lain. Aku, Richard, dan Emma masuk di regu pertama, karena absensiku momor kecil. Aku mendapatkan posisi tempat duduk di depan dan mata praktek ‘kuantitas pegas’.
“c’mon, children.... the time is end. You must do the questions in back. Biarkan teman kalian yang lain masuk.”, ujar
Mr.Alvin.
Serentak, segera regu pertama menyingkir ke bag.belakang laboratory. Kemudian regu kedua masuk.Harry termasuk dalam regu tersebut. Aku melihat Harry berjalan ke bangku belakang. Setelah itu, aku memfokuskan diri ke pekerjaanku sendiri. Sungguh menyebalkan memraktekkan sesuatu yang belum pernah dipraktekkan. Walaupun aku termasuk dalam tiga besar, tetap saja aku bingung menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada dan keringat mengucur deras, pertanda aku benar-benar bingung dan gugup. Tiba-tiba, aku dikejutkan seseorang.
“Kau belum selesai, Diana?”
“Astaga, Harry... kau itu... belum. Aku belum selesai. Ada apa?”
“Tolong bantu aku, aku tak mengerti bagaimana prakteknya.”
“What’s your matery?”
“Pembiasan. Please, help me! I’m not understand, Diana....”
“OK...OK... but, I must finishing it.”
“Yeach... aku tunggu.”, sahutnya sambil lalu.
‘OMG.... belum juga selesai, ada lagi yang harus aku pikirkan. Bagaimana ini? Aaakhhh... masa bodo dg pekerjaanku. Yang penting, I want to help him.’, batinku.
Aku segera menyelesaikan pekerjaanku. Hmmm,,, sedikit berantakan. Bagiku, yang penting ada jawaban di kertasku. Dan sekarang di pikiranku hanya Harry, Harry dan Harry. Betapa anehnya diriku, hanya Harry yang ada di pikiranku. Padahal, jauh di tempat lain, aku telah memiliki seorang kekasih, Andrew. Namun, sejak awal berhubungan aku menyukai pria lain (dulu, Alfian, mahasiswa salah satu universitas di New York dan sekarang Harry, teman sekelasku).

Dengan wajah yang masih sedikit berkeringat, aku menghampiri Harry yang sedari tadi mondar-mandir kebingungan.
“Harry, ayo kita mulai... mana petunjuknya? Aku sedikit lupa dg praktek ini.”
“Hhhhmmm... akhirnya kau kemari juga. Read it!”, wajah Harry terlihat sedikit lega dengan kedatanganku.

Aku membaca petunjuk-petunjuknya. Syukurlah aku sedikit mengerti dengan materi ini. Tapi, ada hal buruk yang akan terjadi. Dari sudut mataku, aku melihat Marsha yang juga menjadi fans berat Harry menghampiri bangku Harry. Ternyata, materi dia sama dengan materi Harry. OMG... menyebalkan. Tanpa menghiraukan kedatangannya,ku mulai praktek itu sambil memberi penjelasan pada Harry. Sesekali aku melihat ke arahnya, dia tidak sebingung tadi. Thank’s God...
“Harry... Harry.... Diana what are you doing? Go out!”,Mr.Alvin melihatku membantu Harry.
“Yees,Sir... Few minutes later.”
Aku berhenti melakukan praktek, aku memandang Harry, sepertinya dia tidak terpengaruh dengan teguran Mr.Alvin. Namun, aku takut mendapat hukuman.
“No problem. Jangan pikirkan dia.”, Harry menenangkanku.
“Bagaimana, jika dia tahu? Huuuuufffhhttt... ya sudah. I don’t care. Mmmm... tadi sampai mana?”
“Kau bilang sekarang membuat garis...”
“Ooohh... ok... ok...”

Aku dan Harry melanjutkan praktek yang sempat tertunda sebentar. Aku mulai membuat garis namun, selalu saja tidak lurus. Aku mendesah kesal. Tiba-tiba, Harry meletakkan tangannya di atas tanganku. Dia membantuku menekan penggaris agar hasilnya lurus dan dia juga yang menggantikanku membuat garis. And... you know, what am I doing? Aku langsung menyapu pandanganku ke seluruh ruangan. Ku takut, Nency melihatnya dan dia marah padaku. Namun, dalam hati... aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku bisa mendapatkan apa yang tidak dia dapatkan dari Harry. Kejadian yang langka itu terjadi cukup lama, sampai aku tak sadar bahwa aku telah menahan napas.
“Hmmmpppphhhtttt... Harry, ini tinggal menghitung. Kau bisa kan, menghitungnya?”
“Beri tahu caranya...”
“Bagi ini dengan ini, lalu kali ini. Kau mengerti?”
Harry mengangguk.
“Ya sudah... kau gunakan ponselku untuk menghitungnya. Aku keluar dulu yaa... Good Luck!”

Lebih dari 15 menit berlalu... satu per satu regu kedua keluar Lab. Aku mencari-cari Harry. Mataku menangkap dia keluar bersama Rebecca. Aku memelankan langkahku untuk sejajar dengan Harry.
“Bagaimana? Finish?”
“Yeah... Aku telah menyelesaikannya. Tadi, aku bertanya pada Mr.Fisika dia berkata, yang satunya itu tidak usah dikerjakan. Thank’s a lot, Diana...”
“Hhhhmmmm....syukurlah... iya, sama-sama. Apa sih yang enggak buat kamu.”
“Loooh... where are you, Diana?”, ku mendengar di depan, Emma mencariku.
Emma bersama Nency di depan dan mereka berdua menoleh ke belakang, melihatku berdua dengan Harry. Seketika itu, kulihat perubahan air muka Nency. Emma pun menepuk-nepuk punggung Nency meminta dia bersabar. Nency berjalan ke kelas tanpa semangat. Bagaimana tidak, sekarang dia dan Harry tidak seakrab dulu, sebab Harry sepertinya mengetahui perasaan Nency padanya dan sekarang dia melihat sahabatnya sendiri jalan berdua dengan pujaannya. Pasti membuat dadanya sesak. ‘Kau mau marah? Marahlaaaahhh... aku tak peduli yg penting aku bahagia. Aku yang lebih dulu...’, kataku dalam hati.
“Oh ya, Where is my mobile?”
“ahhh...iyaaa... ini thank’s yaaa...”
“Yo’i...”
Siswa XII IPA2 bergegas kembali masuk kelas, karena masih ada pelajaran tambahan yang harus dilalui. Aku berjalan berdampingan dengan Harry. Rasa bahagia tak terhingga muncul di suatu ruang di hati ini. Aku merasa, hari ini benar-benar berpihak kepadaku. Untuk kesekian kalinya, aku menoleh pada Harry dan aku berbisik, ‘Look at me! aku menyayangimu, Harry...’.
***

Try Out, ujian akhir semester, ujian praktek, ujian sekolah, dan ujian nasional sudah diikuti seluruh siswa New York Senior High School. Kini saatnya melepas kepenatan, kebosanan dan kejenuhan akibat seabrek soal-soal saat ujian kemarin. Untuk itu, kelasku mengadakan rapat tentang tujuan liburan kami. Banyak tujuan tempat wisata yang diusulkan, tapi kami akhirnya memutuskan berlibur ke Hawaii tentunya bersama wali kelas.
Tanggal 8 Mei, semua warga sains of two telah berkumpul di J.F. Kennedy Air Port. Aku melihat Harry menghidupkan sepuntung rokok dan menghisapnya. Kemudian, terdengar pengumuman bahwa Satu jam lagi pesawat akan lepas landas, kami segera naik ke pesawat.
Di pesawat aku duduk bersama Draco. Dia teman Harry namun, tak sedekat dia dengan Richard. Saat di kelas, dia duduk di bangku seberang bangkuku.. Draco dekat dengan Nency dan Julie, karena dia duduk di depan mereka. Akhir-akhir ini, aku dekat dengannya. Bahkan, setiap malam kami saling berbagi cerita lewat short message service. Karena itu, muncullah rasa asing seperti rada yang pernah kurasa terhadap Richard (Aku menyukai Richard sejak kelas X). Aku memilih duduk dengannya karena semalam dia telah berjanji untuk duduk denganku.
Sesaat sebelum berangkat, Harry memanggilku dan berkata, “Diana, kau duduk dengan siapa?”
“Draco? What’s wrong?”
“Waaahhh.... kau itu, mengapa duduk dengan orang lain?”
Aku tak mau lagi mendengarkan kata-katanya. Aku tahu, perkataannya menjurus ke Richard. Mengapa demikian? Karena yang dia tahu (bukan hanya dia, tapi semua siswa sekelas tahu), aku sangat menyukai Richard dan tiap di kelas aku selalu menunjukkan bahwa aku menyukai Richard dengan segala cara. Padahal, jauh di lubuk hati, I really Love Harry and I just like Richard.
“Diana, kau duduk dengan Draco?”, Richard berbicara padaku.
“Yes.”, aku menoleh ke arahnya dengan pasang wajah jutek, sebab sejak tadi Aku dan Draco menjadi bahan gojlokan anak IPA2.
“Draco....”, kudengar Richard memanggil Draco.
“What?”
“Aku titip Diana, ya...”
Kulirik cowo yang ada di sebelah kananku, Draco hanya tersenyum tak menjawab.

Di perjalanan ini, aku sedikit gerah dengan gojlokan anak-anak. Untung saja ada Draco yang bisa menenangkan hatiku. Candaannya, tawanya, dan semua yang ada pada dirinya membuat aku terhibur. ‘He’s Kind and so amaze’,batinku.
Beberapa jam kemudian, aku, wali kelas, beserta teman-teman sampai di salah satu pantai ternama di Hawaii. Kami segera berpencar dengan kelompok masing-masing. Di pantai ini, aku dan Draco berpisah. Aku berkeliling dengan Emma, Nency, Julie dan Rebecca. Sementara, Draco bergabung dengan Harry, Richard dan kawan-kawannya yang lain. Kami semua bersuka cita. Tak ada yang bersedih, hanya raut wajah gembira yang kutangkap dari teman-temanku.
Aku yang lebih suka berdiam diri untuk menikmati pemandangan, memilih berhenti sejenak untuk menikmati pasir putih dan ombak yang indah. Semua itu, membuatku teringat semua kenanganku bersama Harry. Harry, Harry dan Harry...tak ada topik lain di hati dan benakku selain dia. Selayaknya paku bumi, dia telah tertancap cukup dalam di relung hatiku. Sekeras apapun aku berusaha untuk mengeluarkannya, aku rasa, dia tak akan keluar dengan begitu saja. Butuh waktu bertahun-tahun untuk menghapusnya, seperti saat aku menghapus rasaku kepada Mark, My First Love.
“Diana, C’mon... kita ke sana,yuk...!”, ajak Nency.
“Wait for a while. I’m Tire.”
“Huuuh...kau itu,,, ya sudah, aku ke sana dulu. Kau bersama mereka saja.”
Yang Nency maksud adalah Emma dan Julie. Kulihat mereka tertinggal di belakang. Julie terlihat sudah tidak kuat.
“Heeiii... I’m not strong. Break, please...!”, Julie memohon.
“Iya. Aku juga letih. Biarkan mereka yang berkeliling.”, jawabku.
“Iya, mereka tuuuh... gak capek apa yaaa??”, gerutu Emma.
“Where are them?”
Mataku berkeliling mencari dua sahabatku yang hiperacting itu dan melihat situasi di tempat ini. Ramai (yaiyaaallaaahh...namanya juga tempat liburan). Nency dan Rebecca telah berada jauh di bagian ujung pantai. Sedikit di depan mereka, aku melihat segerombolan anak laki-laki dan si kaos coklat terlihat sangat menonjol di antara mereka. Harry berada di depan, seakan-akan dia adalah leader dan yang lain sebagai pengikutnya. Kuikuti kemanapun dia berjalan, sampai akhirnya dia menghilang dibalik pohon kelapa bersama teman-temannya.
“Forgive me, because I have loved you and... rasa ini tak akan terungkap.”

Setelah kurang lebih dua jam bersenang-senang, Crish menyuruh berkumpul dan mengumumkan sesuatu,“c’mon guys... the time is over. Now, we must go to Resort.”
Few minutes later, semua murid naik bis dan go to the resort.
***

Sejuk dan nyaman. Dua kata itu sangat tepat menggambarkan tempat penginapanku. Para siswi menempati kamar-kamar di lantai dua, sedangkan Para siswa menempati kamar-kamar di bawahnya. Sempat terdengar gerutuan dan nada kesal dari para siswa yang tidak terima jika harus tidur di lantai satu. Namun, pada akhirnya mereka mengalah juga.
Langit mulai berwarna jingga, hari semakin sore, sebentar lagi langit akan dihiasi bintang-bintang. Sebagian besar teman-temanku sudah membersihkan diri dan bersantai. Sedangkan, Siswi-siswi yang bertugas menyiapkan makan malam bergegas ke dapur dan memasak. Emma dan aku kebagian tugas malam itu. Namun, aku bertukar tugas dengan Anne Hermione yang tugas aslinya besok siang.
Aku berada di dalam kamar bersama Nency dan Julie. I’m so tired. Sakit kepala dan kantuk menyerangku, beginilah jika aku terlalu letih. Kuputuskan untuk merebahkan diri. Namun, rasa kantuk itu hilang saat Draco Malfoy masuk ke kamarku. Dia meminta aku mengirimkan lagu Michael Jackson dan kuturuti. Then, Aku, Draco, Julie dan Nency berbincang-bincang. Terlalu banyak topik yang dibicarakan sehingga aku lupa dengan sakit kepalaku.
Samar-samar, dari bawah ku dengar orang melangkah. Beberapa detik kemudian, Harry dan Richard muncul. Lalu mereka duduk di sofa depan kamarku.
“Diana, kemarilaaahh... duduk di sini.”
“Maksud loe? No. No. No. Understand?”, Harry menyuruhku duduk di samping Richard dan... aku tidak mau. No.
“Kau itu... please, Come here... kapan lagi...”, Harry memaksa.
“Right. C’mon... come here, diana?”, Richard angkat bicara.

Entah karena apa aku tiba-tiba saja tidak ingin menghabiskan waktu dengan Richard sejak di pesawat tadi. Jadi, aku merapatkan posisiku ke Draco. Aku harap mereka berdua mengerti bahwa saat ini aku ingin bersama Draco, bukan dengan mereka.
“oooohh.... mentang-mentang ada yang baru, sekarang kau tidak mau bersamaku lagi? Ya ya ya... aku mengerti...”, ujar Richard lagi.
“Ayo, Diana... sini...”
Richard dan Harry sama saja. Hatiku benar-benar merasa terganggu. Kuhela napas panjang dan kubuang perlahan. Lalu, ku berbincang dengan Darco, bahkan saling menyuapi tanpa memperdulikan si pangeran dan temannya itu.

Besok, besok, dan besoknya lagi, Aku banyak menghabiskan waktu-waktuku dengan grup dance-ku dan Draco. Bisa dibilang, aku dan Draco sedang melakukan pendekatan. Makan ice cream, tertawa, nonton bareng, dan sebagainya ku lakukan pasti bersama Draco. Karenanya pula, aku bisa membuang rasa tak terungkap yang telah lama kusimpan itu. Sahabat-sahabatku juga memintaku untuk cepat meresmikan hubungan. Tapi, tidak denganku. Aku masih terikat hubungan dengan orang lain dan hubungan kami sedang berada di ujung tanduk. Nanti, saat aku resmi berpisah, aku pasti berpaling pada Draco, cinta baruku.
Di malam kelima, aku dan warga IPA2 yg lain pergi ke sebuah tempat rekreasi. BNS, Bora-Bora Night Spectacular. Karena jarak dari resort ke tempat tujuan lebih dari sepuluh Mil, kami harus menyewa bis untuk pergi ke sana. Suasana hati teman-temanku sangat baik. Mereka bergembira, begitupun aku.
Beberapa menit kemudian, jemputan datang. Kami segera naik bis. Aku memilih bangku paling belakang bersama Emma. Di bis teman-teman tertawa bersama, bercanda bersama tak jarang saling mengejek satu sama lain. Akan tetapi, pemandangan yang sangat tidak mengenakkan merusak mood-ku malam ini.

Nency dan Harry duduk bersebelahan. ‘Oh My God... apakah ini giliranku sakit hati?’, batinku. Seketika itu juga aku memalingkan wajahku dan bersandar pada Emma. Aku menangis.
“Oh My God...Diana, What’s the matter?”, Emma tampak kaget.
“Harry.... look at Harry, Emma. Mengapa harus seperti itu? Sakit Emmaaa.... Sakiiit...”, jawabku sambil sesenggukan.
“Astaga.... Diana, be patient. Jangan menangis, sabar.....”
“Gak kuat. I’m not strong to look it. Kenapa harus sekarang? Inikah balasan untuku?”, tangisku semakin menjadi-jadi.

Emma hanya menepuk-nepuk pundakku untuk menenangkan aku.
“Where are you Diana?”, kudengar Harry mencariku.
“Diana di belakang, Harry.”, jawab salah seorang temanku.
“Diana...Diana...What are you doing? Kau kenapa?”,Suara Harry membuatku semakin sedih.
“Dia pusing.”, jawab Emma berbohong.

Sepanjang perjalanan, yang kulakukan hanya Crying, Crying and Crying. Tak ada lagi selain itu. Yang seperti ini terlalu menusuk untukku. Mungkin ini yang Nency rasakan saat melihatku bersama Harry. Sekarang, harusnya aku berbahagia karena sahabatku bahagia. Entah mengapa itu tidak bisa.
“Sudahhh... jangan menangis. Kita sudah sampai. Hapus air matamu, nanti yang lain tahu.”
Aku mengangguk dan melakukan apa yang disuruh Emma.
“Emma... masih sakit rasanya... dulu saja dia dekati Richard, sekarang Harry. Masa’ kedua-duanya mau diambil?”, tangisku nyaris meledak lagi.
“Heeehhh.... sudah jangan pikirkan itu lagi. Nanti dia tahu.”
Tiba-tiba, Harry angkat bicara, “Masa’ kedua-duanya mau diambil? Kau kenapa, Diana?”

Aku tersentak kaget, Harry mengulangi kata-kataku. Ternyata dia mendengar apa yang barusan kukatakan.
“No Problem, Harry. Tanyakan saja padanya.”, sahut Emma.
“Aaahh...kau itu. Emmm...Diana, sebenarnya kau kenapa?”
“Aku tidak apa-apa.”, aku langsung berjalan menjauhinya. Masih tak sanggup melihatnya.
Dengan Badmood yang menderaku, aku masuk ke tempat rekreasi yang ramai saat malam ini. Aku putuskan berkeliling bersama grup dance-ku dan Draco. Namun, belum sempat bersenang-senang, ada nyeri lagi di ulu hatiku. Draco meninggalkanku, dia berjalan di depan bersama Nency. ‘Lagi-lagi Nency’, gumamku. Badmoodku semakin menjadi.
Tidak sampai satu jam, Draco berhasil membuatku riang kembali. My Dance group juga membuatku gembira. Malam itu, kami habiskan waktu berkeliling BNS. Sejenak, aku lupa akan masalah hati yang menderaku. Untung saja, aku terpisah dengan Harry. Jika tidak, mungkin aku tak akan pernah tertawa seperti ini lagi.

Pukul 23.00 waktu Hawaii. Semua kembali ke bis, waktunya kembali ke villa.
“Tidak adakah hal yang tidak menyakitkan untuk malam ini? Mengapa seperti itu lagi? Bahkan lebih parah.”, air mataku mulai menetes.
“Diana, kau tak apa?”
“Mereka seperti itu lagi, Emma. Bahkan sekarang mereka tertidur dengan jarak yang cukup dekat. Aku juga ingin berada di dekatnya.”

Emma mengerti dengan apa yang aku ucapkan. Dia menoleh ke tempat duduk Nency dan Harry. Jacob menjadi pembatas mereka. Nency, Jacob dan Harry duduk di kursi yang berisikan tiga orang. Walau begitu, Jacob merelakan punggungnya menjadi tempat mereka terlelap. Tak ayal lagi, pemandangan itu membuat lukaku kembali perih. Seperti ketika berangkat tadi, aku menangis sekuat-kuatnya.
“Inikah kejutan ulang tahunku? Kalian tidak perlu ngerjain aku jika kalian ingin membuatku menangis, karena ini saja sudah cukup.”, Aku teringat bahwa tanggal 7 Mei kemarin adalah ulang tahunku dan aku sempat mengharapkan Harry mengucapkan selamat ulang tahun. Tapi, ternyata itu tak pernah terjadi.
Sesampainya di villa,tanpa memikir apa-apa lagi, Aku masuk kamar dan menangis. Nency dan yang lain ikut menyusul ke kamar. Mereka masih belum sadar bahwa sahabat mereka menangis. Hingga, Nency mendekatiku.
“Kau menangis? What’s Happen, Diana?”

Aku menggeleng.
“Ayo, ceritakan padaku.”, Nency memaksa ingin tahu dan aku tetap tak memberikan jawaban.
“Loooohhh, What’s Happen, Diana?”, ucap Rebecca.
“Diana hanya pusing.”, jawab Emma.
“Ya sudah, Kau istirahat saja. Kami akan ke bawah. Kami tinggal tidak apa-apa, kan?”, ujar Julie.
“Right. Nency, kau temani Diana saja.”
“Yaps...”
Aku tak mau berbicara dan aku tak ingin berbicara. Aku hanya meringkuk di sudut kamar dengan ditemani Nency yang merupakan alasanku untuk jealous.
Tiba-tiba pintu diketuk, Chrish meminta aku dan Nency turun sebab sebentar lagi akan ada renungan malam. Dengan langkah berat aku turun. Saat renungan dimulai, aku menaruh kepalaku di lututku. Walau di sampingku ada Draco dan Nency, Aku tak ingin mengikuti acara ini. Yang kuinginkan kali ini hanyalah berteriak melepaskan semua beban-bebanku.
Saat acara buka-bukaan dimulai, banyak teman-temanku yang ternyata tidak menyukai hadirku. Semua itu jelas digambarkan dari kata-katanya. Aku tak peduli. Semua itu masih kalah sakit dengan apa yang aku rasakan sekarang.
Satu Jam berlalu, setelah renungan selesai, kami semua saling berpelukan. Aku menjadi orang yang paling heboh karena sedari tadi menangis. Lalu, kuputuskan untuk kembali ke kamar. Namun, apa yang terjadi? Terdegar lantunan lagu Happy B’day di belakangku. Aku menoleh. Crish memegang kue tart lengkap dengan lilin di atasnya. Surprise...... kejutan ulang tahun untukku.
“Diana, maaf yaa... yg masalah tadi... itu Cuma bohong belaka... agar kau down.”, Ucap Hermione, temanku yang berkata bahwa dia tak suka denganku.
“Oooohhh... you... aaakkhhh...”, aku terharu dan kembali menangis. Then, Crish memintaku untuk meniup lilin dan memotong kue. And... I give a first piece of cake to my mom in class, Mrs. Minerva.
Although, ada nyeri di awal, namun ada bahagia di penghujung malam ini.
***

Keesokan harinya, kami bersiap untuk pulang dan segera berangkat menuju airport. Aku kembali duduk bersama Draco. Kami tidak secanggung saat perjalanan berangkat lima hari yang lalu. Di pesawat, kami melewati senja bersama. Aku merasa senja ini berbeda dan ku katakan itu pada Nency. Lalu Nency menjawab, bahwa perbedaan itu karena senjaku berada disampingku (yang dimaksud adalah Draco). Aku tersenyum, Nency benar. Senja ini berbeda karena aku menikmati senja ini with my new love. Sekilas, aku menatap Draco dan aku meyakinkan hati ini untuk memilih dia yang mampu mengobatiku dan menghalau rasa tak terungkap ini. Kemudian, aku tenggelam dalam mimpi indahku di pundak Draco.
***

Setelah pulang berlibur, aku dan Draco tetap berhubungan. Aku sempat berharap, Draco menjadi bagian hidupku ‘tuk menghapuskan rasa yang tak terungkap pada Harry. Cukup Nency yang mengaguminya. Aku tak mau bersaing dengannya. Ku ikhlaskan Harry untuk Nency, sahabatku. Sementara aku, aku akan fokuskan hatiku pada Draco yang memberikan signal positif untukku.
15 Mei, seminggu setelah liburan, Draco visits to my house at first time. Dia mengutarakan hal yang benar-benar tak terduga.
“Diana, Aku tak pernah menyangka kita bisa sedekat ini. Kau telah mengisi sesuatu yang ada di sini. Here.”, Draco meletakkan tanganku di dadanya. “I want you to fill my life with new thing, new experience and new love. And... will you be my girlfriend?”
Wau, dia ternyata berani juga. Aku tak langsung menjawab. Aku hanya ber-ehhhmmmmmm-ria.
“Dianaa....Please, Answer!”
“Eeehhhmmm.... What is the answer that you want?”
“Oooohh...Diana, Please.... don’t make me curious! Answer,Diana...Answer...”
I just smile when I see Draco’s curious face. Finally, I answer, “Yeeach... I want.”
“You want? What do you want?”
“Oh, nooo.... Draco... I want. Mmmm... wait, Aku batalkan saja jawabanku.”
“Eeeehhh.... don’t... don’t do it. Yes,.. I...Mmmm... I understand.”
Aku tersenyum.
Detik ini juga, aku resmi menjadi kekasih Draco setelah seminggu putus dengan Andrew. Aku bahagia saat Andrew memutuskanku di perjalanan pulang dari liburan. Karena, aku tak lagi terikat dengan protective boy. Dia keterlaluan. Selalu curiga, selalu cemburu dan selalu marah-marah semenjak dia mengenal Rachel (teman sekelasku saat kelas X). Namun, aku tak bisa memutuskan hubungan secara sepihak dengannya. Jika itu ku lakukan, berarti itu bukanlan diriku. Because, aku cewe yang berprinsip, ‘jika aku mengatakan “Putus” itu berarti aku menyakiti dia yang mencintaiku’. Memang aneh. Mmm,,, yaa, begitulah aku.
‘Tuhan... aku telah memilihnya. Aku telah bersamanya sekarang. Hapuskan rasaku kepada mereka yg bukan tercipta untukku. Aku menyayangi dia yg kini ada di sampingku. Ridhoi perjalanan kami, Tuhan...’, doaku dalam hati.
Ccccuuupppp.... satu ciuman mendarat di pipi kiriku. Aku terkejut.
“Thank’s a lot.”
I just smile to Him. B’coz, I still shock with his kiss.

Mengobrol dan bercanda bersama membuatku tak memperhatikan waktu. Hari sudah semakin sore, waktunya Draco harus pulang.
“Sudah sore, aku pulang yaaa... where is your parents?”
“Wait, aku panggilkan mereka.”
“Diana...”
“Hhmmm....”
Draco memelukku erat. Aku tertegun dengan gerakan mendadak ini. Then, Draco say, “Aku sayang kamu,Diana...”

Kulepaskan pelukannya dan memanggil kedua orangtuaku. Draco berpamitan kepada mereka, kemudian aku mengantarkannya ke depan. Draco-pun memacu kuda besinya meninggalkan rumahku.
“Hati-hati di jalan...”,teriakku.
***

Sekitar 5 jam setelah jadian, Ponselku berdering. Tertera di layar, Harry’s Mom is Calling. Lalu, Cepat-cepat kuangkat.
“Heello...”
“Helloo, Who are you?”
“I’m Richard.”
“Richard? Richaard, Who?”. Aneh, mengapa si penelepon bilang dia Richard?, batinku.
“Yes, Richard.”
“No. You lie. This isn’t Richard’s voice.”
“Hahahahahahaaaaa.......”, aku dengar tawa yang tak asing bagiku. “I’m Harry, Diana... Oh My God... Look at you, kau tampak begitu senang saat aku bilang aku ini Richard.”
“Haaaarrrrrrrryyyyyyyyyyy..............Oh My God... You.... aaakkhhh... Hell!”

± 7 minutes, Aku dan Harry bercakap-cakap di telepon. Harry menanyakan tentang baju untuk digunakan di acara wisuda nanti. Dia juga sedikit mengungkit tentang liburan kemarin. Dan yang pasti dia masih saja sempat mengejekku.
“Diana...Diana... mengapa kau bersama orang lain saat liburan? Mengapa tidak bersama Richard? Kapan lagi seperti itu...”
“Up to me. Aku lebih suka bersama Draco. Hmmm.. sudahlah, jangan ungkit-ungkit dia lagi.”
“Apa yang Draco berikan padamu, sampai-sampai selalu saja dia?”
Aku tak menjawab. Namun, dalam hati ku berkata, ‘Draco memberikan cinta yang belum atau mungkin tidak bisa kau dan Richard berikan.’
“Hhmmm... ya ya ya... well, aku tak akan mengungkit lagi. Yasudah, Bye... See you later!”
“Bye.”

Klik. Telepon ditutup. Seketika itu juga, aku melompat-lompat karena gembira. Sudah lama tidak bercanda dengan Harry. Walau tadi hanya sekejap, namun sangat bermakna. Aku kegirangan sampai-sampai adik-adikku heran melihatku yang bertingkah seperti orang gila, senyum-senyum sendiri.
Akan tetapi, aku lantas teringat status baruku. Aku adalah pacar Draco. Aku duduk di sudut kamar. Aku menangis. Aku tak bisa lepas dari Harry. Sesuatu yang tak terungkap itu telah membuat Harry mendapatkan posisi yang terlalu indah di hatiku. Sementara, Draco baru mengisi hatiku. Aku marah pada diriku sendiri, aku tak ingin menyakiti Draco. Aku menyayanginya, sungguh.
***

June, 30. 21.00 waktu New York.
Tuhan memang Maha Sempurna. Dia telah menciptakan langit malam beserta bintang-bintang yang indah. Dia juga telah menciptakan berbagai tempat yang begitu menakjubkan di Bumi ini. Namun, satu hal yang paling mengagumkan, Dia telah menciptakan orang sepertimu untuk menjadi sahabatku.
SELAMAT MALAM, MY FRIENDS....
I send this SMS to Emma, Harry, Richard, Crish, Rebecca, Julie, Nency, Hermione and other my friends. Beberapa diantara mereka membalas SMS-ku. Namun, entah mengapa aku tak begitu senang. Kuputuskan untuk tidur.
Baru saja terlelap, Kenny G-First love-instrumental piano mengagetkanku. SMS received.
Harry. PRet..
Me. Harry....  itu tulus dari hatiiii,..
Harry. hatix ayam?
Me. Kok gitu? ;( Jaahhhaaaattt 
Harry. jgn marah....
Me. Yaaaa habiiisss kau seperti itu . I miss you, Harry... hehehe
Harry. ah masaak...?
Me. Yeeeaaahhh,... up to you!
Harry. IyYa napa.. g ush ngambek...
Me. Dasaarrrrrrrrrr. :-P. Kau tidak merindukanku,ya? hehehe
Harry. spa yg tidak kangen.... biasax tiap hari ngejek kamu... sekarang malah berhenti dan g pernh ktmu lg.
Me. Iy, kau benar. Beda banget rasanya jika sudah pisah. Yg paling q ingt.. saat kita main alfalink.x Janie dan kau memukulku sangat keras... Hmmm...kpn bs terulang lagi... 
Harry. :-*
Iya,... masih ingt saja kau itu. Don’t forget it, Diana...
Trus, kamu yg bntu aku wktu ujian praktek fisika itu... lau ang lain g mngkin mw bntu. Tpi kamu bantu aku... Aku gak akan melupakan itu, diana,,, kau temnku yg paling baeg, Diana...
JANGAN PERNAH LUPAKAN BAHWA DALAM HIDUP KM, KM PERNAH MENGENAL AKU... :’(
Me. Duuuu’...jangan sedih, Harry-kuuuu...Iya, q jg masih ingt semuanya. Knangan kita b4, km, aku, Emma dan Richard gg pernah kuhapus dari memoriku.Walo singkt, semua itu sangat berarti...Kau sudah lama tercantum sbg org pntg d hdupku..yg g pernah q lupa . Don’t forget me, too, Harry...Aku sayang kamu, sobat..
Harry. Low memorinya pol gmn? Hehe.
Me. Beli lagi... haahahaha...
1 hal yg aku sesalkan sampai sekrg... di mlam renungan di villa, aq gg bjabat tangan m km tuk minta maaf secara langsung.
Harry. salah apa km k aq...? yg ada, aku pux slah k km... yg nangis itu...
Me. Hahahaha... yg mslah pelampung? Wkwkwkwkw. Kamu seehhh... Yaa... bnyk, Harry.... slhku k kmu thuu yg memksamu menyapa Nency dan others. Maafin semua salahku yaaa, Harry...
Harry. Maaf...maaf... memangnya hari raya?
Me. Wkwkwkwkw... tak apa laaahhh... iya, kalau hari raya kita bertemu.
Harry. Sapa taw ktmu. Iya aq juga mnta maap sebesar badanMU.. uft salah.. sebesarnya ya... hehe
Me. Amiiinnn... waaahhh... kauuu ituuu... awas yaaa kalau sampai kita ketemu lagi...
Harry. Hahahaha... udh dlu nduT... aQ ngantuk. daaaa
Me. Ok2. Good night. Have a nice dream.

To : my Sheep
Honey... ayoooo tidur... sudah malam.... Good Night... have a nice dream... I love you... :-*
SMS terakhirku malam itu, kutujukan untuk Draco, My sheep. Aku mengajaknya tidur, karena jam telah menunjukkan pukul 22.oo waktu New York.
Beberapa menit berlalu, aku masih tidak bisa memejamkan mataku. Berulang kali aku membaca pesan singkat dari Harry. Kata-kata ini “:-* Iya,... masih ingt saja kau itu. Don’t forget it, Diana...Trus, kamu yg bntu aku wktu ujian praktek fisika itu... lau ang lain g mngkin mw bntu. Tpi kamu bantu aku... Aku gak akan melupakan itu, diana,,, kau temnku yg paling baeg, Diana...JANGAN PERNAH LUPAKAN BAHWA DALAM HIDUP KM, KM PERNAH MENGENAL AKU... :’(..” Yang membuat otakku berpikir cukup keras. I’m so curious with this simbols “:-*” (Kiss Symbol) and “:’(” (Cry Symbol). Mengapa dia harus memasang simbol itu? Akankah dia mengetahui yang tak terungkap itu? Atau dia juga punyaaaa.....???? Aaaakkhh... aku ni berpikir apa siiih...
Ku ambil ponselku dan mengetik kalimat, ‘Dia membuat hati ini terbang. Mengapa harus sekarang, saat aku telah bersamanya? aku ingin fokuskan hatiku untuk Draco.... sahabat2ku, maaf... aku masih belum bisa lepas darinya... :’(...’. Then, I send it to Hermione (my new closefriend), Julie, and Emma. After that, I go to the bed.
***

Ku kira tanggal 30 Juni itu adalah hari terakhir Harry menerbangkanku ke angkasa. Tapi, ternyata tidak. Pagi ini, 5 Juli ponselku kembali berdering. Kulihat nama Harry di layar. Tanpa diperintah, seulas senyum menghiasi wajahku. Ku menarik napas dalam-dalam, bersiap untuk mendengarkan semua perkataan Harry. ‘Draco, forgive me. Aku tak mengkhianatimu.’,bisikku. Kemudian aku menekan tombol penjawab.
“Hallo...What’s the matter, Harry?”
“Ah..Diana, aku hanya menghabiskan pulsaku. Hehehe...kau sedang apa? Apakah aku menganggumu?”
“No.”
“Ohya, bagaimana hubunganmu dengan Draco? Are you still with him?”
“Ya iyalaaaahhh... kau itu... itu tak perlu ditanyakan.”
“Waaahh....Begitu ya? Lantas aku kapan, diana? I’m wating for you.”

Deeeg... aku tercengang mendengar kata-katanya barusan. Aku bingung mau menjawab apa. Akhirnya, aku berkata, “stop! Jangan bercanda lagi. You must with my friend, bagaimana?”
“Teman yang mana?”
“Ah, kau ini pura-pura tidak tahu. Huuuuhhh...”
“hehehehe... Emm...kau tidak beres2 rumah?”
“Sudah, tadi.”
“Bagus,... baguusss,.. begitu ya,,. Jadilah calon istri yang baik untuk Draco.”
“Heeehh.., jangan bawa-bawa dia.”
“hahahaha...oh iya bgmn rencana ngumpul-ngumpulnya? Jadi di rumahmu?”
“Yes. In my Home at July, 14. Kau datang, kan? Ayooolaaaahhh... datang yaaa...”
“Menunya apa?”
“Heeeiii... kau itu, menu terus yang selalu kau pikirkan...apa aja boleeee...”
“Sushi. Kalau Sushi, I’m coming....”
“OMG, Harry...Harry... ayo sini, jadilah anak ibuku, agar kau setiap hari diberi Sushi.”
“Haaahh...?”, kini giliran Harry yang terdiam. Kurasa, dia mengerti maksudku. Hahahaha.. “Hmmm... ya sudah... sekian saja.”
“OK. Tutup saja teleponnya.” Aku menunggu sampai beberapa detik, dia belum juga memutuskan sambungan teleponnya. “Harry, ayo tutup kok belum diputus?”
“Hhhmmm... gimana, Do you still miss me?”, pertanyaan telak dari Harry membuatku terkejut.
“Waaahh...kau ini. Sudah-sudah...”
Tuuuttt.... tuuuuttt... tuuuuttt.., aku memutuskan telepon.
Untuk kesekian kalinya, Harry menerbangkanku jauh ke langit ketujuh dan saat aku kembali tersadar, ternyata aku telah berada di dasar Bumi. ‘Oh,...Harry... jangan beri harapan kosong padaku. Jangan perlakukan aku seperti ini. Aku telah memilikinya. Tolong... ku mohon, biarkan aku melepaskanmu secara utuh. Jangan lagi seperti ini. Walau kau lebih dulu hadir di hati ini, tapi, aku telah memilihnya dan tolong... tinggalkan aku atau jangan pernah memberikanku hal-hal yang bisa membuatku terbang. Rindu ini dan yang tak terungkap ini harus kuakhiri dan harus kukubur. Kau tetap matahariku, dan aku tetap jinggamu.’
***

“Diana... Diana....”
Aku masih enggan bangun dari tempat tidurku walaupun aku mendengar sahabat-sahabatku datang ke rumahku. Pikiranku masih tak karuan. Ulah Harry membuatku bimbang dan tak bersemangat. Sejak pagi tadi perutku kosong dan perih. Aku juga tak mau menemui sahabat-sahabatku yang jauh-jauh datang untukku. Harry dan Draco, dua orang itu yang sedari tadi memenuhi otakku. Tidak ada yang lain.
Aku baru sadar. Keadaan di luar sudah sepi. Sahabat-sahabatku telah pergi, mungkin mereka capek dengan sikapku dan semua keluh kesahku. Aku kembali menangis... menangisi diriku yang bodoh... diriku yang lemah... Tiba-tiba, aku teringat sesuatu. Draco’s Mother.
Mom... I love your son. Aku janji, sebentar lagi kufokuskan hatiku untuk anakmu. Kau tersenyumlah di sana...

Then, Aku mengirim kalimat itu pada Hermione, Emma dan Julie. Beberapa menit berlalu, tak ada jawaban. Tiba-tiba, pintu kamarku terbuka. Hermione, Emma dan Julie masuk. Aku berlari memeluk mereka. Ketiga sahabatku itu menenangkanku. Namun, aku tetap saja menangis.
“Aku bodoh... aku bodoh... Aku masih tidak bisa memfokuskan hatiku pada Draco. Aku masih tak bisa menghilangkan yang tak terungkap ini.”
“Tidak ada yang bodoh. Don’t Cry, Diana.... tarik napas dalam-dalam... tenangkan dulu hatimu, baru kau cerita pada kami.”, ujar Hermione. Hermione adalah teman sekelasku dan juga sahabat baruku, namun aku merasa nyaman dengannya. Aku bisa melepaskan semua beban hatiku padanya, sama saat aku mengeluarkan keluh kesahku pada Emma. Dia orang kedua yang tahu bahwa aku menyayangi Harry.
“Sudaaahhh... jangan nangis lagi.”, Emma menghapus air mataku.
“Hermione, Emma, Julie... Harry lagi-lagi menerbangkanku. Dia berkata bahwa dia menungguku, dia juga menyisipkan emoticon Kiss and cry saat kami sms-an. Aku harus bagaimana? Aku masih tidak bisa lepas dari Harry. Aku malu... aku malu.... I think, Ibu Draco selalu mengawasiku dari sana. Aku malu pada beliau. Aku maluu,... aku belum bisa memberikan seluruh hatiku untuk anaknya. Aku bodoh... aku bodoh...”
“OMG... apa yang Harry pikirkan? Mengapa dia melakukan itu?”, Julie pun ikut geram dengan tingkah Harry.
“Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Diana... Aku yakin, beliau pasti bahagia di sana, karena Draco bahagia dan bisa memilih yang terbaik untuk hidupnya”, Ujar Hermione.
“Hermione, benar...tidak ada yang salah, Diana... mau bagaimana lagi, dia lebih dulu mendapatkan hatimu, walau dia tak menyadarinya. Dan Draco masih baru untukmu. Jadi, kau butuh proses untuk menghapus yang tak terungkap itu.”, jelas Emma.

Aku hanya sesenggukan.
“Harry susah ditebak. Tapi, biasanya dia tidak seperti itu. Yg ku tahu, dia jarang sms-an dengan temannya. Tapi, dengan kau.... dia berbeda. Andai Nency tahu... hatinya pasti sudah tak berbentuk lagi.”
“Emmaaa.... jangan berkata seperti itu. Aku tak ingin terbang lagi.”
“Aku yakin dia mengetahui yang tak terungkap itu, Diana...”, lanjut Emma. Kulihat Hermione dan Julie mengangguk setuju.
“Jika memang dia tahu, syukurlah...tapi aku tak akan mengungkapkan yang tak terungkap ini padanya. Nency dan Draco... aku tak ingin menyakiti mereka.”

Hening. Semua terdiam.
“Aku ingin bertemu dengan ibu Draco. Sekali saja. Walau, itu hanya di alam mimpi.”, harapku.
“Semoga Tuhan mengabulkan harapanmu, Diana...”, ujar Hermione dan yang lain mengamini.
“Jika itu terwujud, aku akan berterimakasih pada beliau karena telah melahirkan seorang putra yang begitu mengagumkan, yang mampu membawaku ke arah yang lebih baik, dan aku juga akan meminta restu beliau untuk mendampingi Draco.”
“Aku yakin kau bisa melewati semua ini. Draco benar-benar menyayangimu. Kalian saling menyayangi.”, ujar Julie.
“Right. He really loves you. Sekarang adalah waktunya kau menghalau semua yang tak terungkap itu. Biarkan Draco mengisi seluruh ruangan di hatimu.”
“Yang tak terungkap akan selalu tidak terungkap. Perputaran bumi akan menghapus semua itu, perlahan.”ucapanku terhenti. Aku menatap satu per satu sahabat yang ada di depanku, “ Thank’s for all. You’re my best friend. And...Draco, dia telah mengisi semua ruangan di hatiku.” ‘Kecuali ruangan itu’, lanjutku dalam hati. Kemudian,Kami berempat berpelukan.
***

MOVE ON!
Harry is my old album.
Kerutan lembut di sudut mata Draco saat dia tertawa seperti ini membuatnya terlihat sangat sempurna. Aku memandangnya dalam-dalam.. ‘Mengapa bukan dari dulu kita bersama? Kau begitu mengagumkan. Aku benar-benar menyayangimu.’, ujar hatiku.
Sore ini, aku berkencan dengannya. Perpaduan langit jingga, awan putih dan tawa renyah Draco menjadikan sore itu begitu indah. Ini adalah titik awal perubahanku. Tak ingin lagi kulihat ke belakang. Draco, dialah fokus hatiku sekarang. Aku menyayanginya. Aku berjanji, kan ku bahagiakan dia semampu yang aku bisa.
“Sayang? Sayang?”
Aku tersentak dari lamunanku.
“Apa yang kau lihat? Mengapa melihatku seperti itu?”
“Draco, aku sangat menyayangimu...”
“Me Too. Aku juga sangat menyayangimu.”,ujarnya. Kemudian, satu kecupan lembut mendarat di keningku.

Tuhaaann..... Aku bahagia... Sangat bahagia... Berada dalam rangkulan Draco seraya menunggu sang senja yang sebentar lagi datang, membuat hati ini semakin mantap akan pilihan yang telah ku pilih. Terima kasiiih, Tuhan... Kau telah menciptakan keturunan Adam yang sempurna ini, terima kasih kau telah mempertemukanku dengannya. Aku begitu menyayanginya. Dan tolong, sampaikan pada Beliau yang telah melahirkan Draco, bahwa aku sangat mencintai putranya dan aku akan menjaga putranya. Ridhoi perjalanan kami, Tuhan...

Matahari, Jingga, dan Senja*-.
Matahari tetaplah dirinya. Dan aku tetap jingganya, sekalipun dia tak menyadarinya. Sampai kapanpun, sampai zaman berubahpun, dia tetap menjadi matahari tempat jingga berada. Namun, jika jingga tak lagi ‘tuk matahari, biarkan kusimpan dirinya di salah satu ruang di hati ini yang takkan terjamah orang lain. Dan kini, ijinkanlah jingga memiliki senja dan senja merangkul jingga. Serta, biarkanlah matahari yang tersembunyi menjadi bagian dari perjalanan mereka. Karena, matahari ada untuk menciptakan jingga dan senja yang indah.

PROFIL PENULIS
Nama: Dian Mutiara Chairunnisa
Tanggal lahir : 07 Mei 1994
Alamat: Bangkalan, Madura, Jawa Timur
Hobi: membaca, menulis cerpen

Tidak ada komentar:

Posting Komentar