Jumat, 20 Juli 2012

Cerpen Ibu Sedih - Perjuangan Arletta

PERJUANGAN ARLETTA
Karya Arletta

“kue-kue! Masih baru!” teriak Arletta sambil mengemudi sepeda sederhananya. Arletta menghentikan sepedanya karena lampu lalu lintas menyala berwarna merah. Tiba-tiba mobil di sebelah Arletta membuka kaca belakang mobilnya.
“Adek jualan kue ya?” tanya Ibu yang terdapat di dalam mobilnya.
“iya Bu, mau kuenya Bu” tawar Arletta tersenyum.
“hmmm ini semuanya masih baru, Nak?” tanya ibu itu.
“masih, Bu. Masih sangat baru” ucap Arletta tersenyum.
“yaudah nanti sorekan Ibu ada acara arisan. Ibu beli semuanya deh” ucap Ibu mengejutkan Arletta.
“apa? Semuanya, Bu?” tanya Arletta.

Ibu itu hanya mengangguk.
“oh yaudah saya bungkus dulu ya” ucap Arletta tersenyum lebar. “ini, Bu” lanjut Arletta sambil memberikan 30 bungkus kue yang sudah di plastikan.
“semuanya berapa, Nak?” tanya ibu itu.
“semuanya jadi 30.000, Bu. Karena 1 nya 1000, Bu” ucap Arletta senang. Ibu itu mengeluarkan uang lembaran 50.000.
“ini” ucap ibu itu.
Arletta bingung.
“Bu, gak ada kembaliannya” ucap Arletta bingung.
“untuk kamu semua” ucap Ibu itu “makasih ya, Dek” ucap Ibu itu lanjut. Lampu hijau menyala, mobil itu melaju.
“Bu! IBU!” teriak Arletta. Arletta memperhatikan uang yang ada di tangannya, tersenyum, lama-lama melebar. “terima kasih tuhan” ucap Arletta.

Arletta menuntun sepedanya, menyenderkan sepedanya di pagar rumah, lalu menggemboknya.
“Bu, Arletta pulang!” ucap Arletta membuka pintunya. Arletta terkaget melihat Ayahnya ada di rumah. Matanya merah, rambutnya berantakan dan menyeramkan.
“Letta, mana uangnya!” ucap Ayah Arletta Serak.
“ehh... uang apa, Pak?” tanya Arletta melangkah mundur.
“uang kue! Mana cepet!” kata Bapa menarik Arletta masuk, lalu menarik tas Arletta.
“jangan, Pak. Nanti aku sama Ibu dan Andin makan apa kalo ga ada uang” ucap Arletta merintih tetap mempertahankan tasnya.
“lepas!” ucap Bapa mendorong Arletta.
“emang gua peduli ama lu. Mau makan apa, kek. Ga peduli gua” ucap Bapanya mengeluarkan uangnya dari tas Arletta. Lalu melempar tas Arletta ke muka Arletta dan pergi begitu saja. Arletta menangis mencari ibunya.
“bu...” panggil Arletta. Arletta masuk kedalam kamarnya. Tenyata Ibu nya sedang menangis, tergeletak di lantai, badannya gemeteran. Dan Adiknya, Andin ada di samping lemari ketakutan juga menangis.
“Ibu! Andin!” teriak Arletta. Arletta memeluk ibunya dan menarik Andin dalam pelukannya.
“maafin Arletta, Bu” ucap Arletta.

Sorenya, Arletta mengemudikan sepedanya ke warung Bu Syadah.
“untung aku masih ada 20 bungkus di warung Bu Syadah” ucap Arletta senang. Sesampainya di warung Syadah yang cukup jauh dari rumah Arletta, Arletta menyandarkan sepedanya di meja warung.
“Bu Syadah” panggil Arletta.
“eh elu, Ta. Nih uangnya. 20.000 kan?” tanya Bu Syadah.
Arletta tersenyum, mengangguk mengambil uangnya “makasih, Bu” ucap Arletta. “iya” balas ucap Bu Syadah. Lalu Arletta segera pulang dari warung Bu Syadah.

Arletta berlari senang menuju rumahnya, setelah menyandarikan sepedanya.
“Bu, Arletta pulang!” ucap Arletta senang. Arletta membuka pintunya.
“Bu..” ucap Arletta pelan. Ibu bangkit dari tempatnya, tatapan yang penuh kekecewaan.
“letta, dari mana saja kamu?” tanya Ibu marah.

Arletta takut.
“Letta cuman ngambil penghasilan kue yang Letta titipin di warung Bu Syadah, Bu” ucap Arletta sambil memberi uang kepada Ibu dengan rasa takut. Ibu langsung mengambil uang itu, menahan haru. Ibu segera berlari kearah kamar.
Arletta bingung.

Arletta mengejar Ibu, tapi pintunya terkunci. Arletta menyandarkan tubuhnya ke pintu kamar Ibu.
“Bu, Ibu marah ya sama Letta?” tanya Arletta sedih.
Tak ada jawaban. “tadi Arletta cuman ngambil uang kue di warung Bu Syadah, Bu. Itu doang. Jangan marah, Bu. Arletta minta maaf, Bu” ucap Arletta sambil menangis.
Tak ada jawaban.
Arletta pasrah. Ia berjalan menuju kamarnya dan adiknya.

Ibu juga kini sedang menangis, menahan haru.
“maafkan Ibu, Nak. Karena Ibu, kalian jadi hidup susah seperti ini” ucap Ibu sambil menangis tersedu-sedu. Ibu menyesali akan kehidupannya ini. Arletta terpaksa berhenti sekolah di saat kelas SMA 1 karena tak ada biaya. Dan adiknya masih kelas 4 SD. Sedangkan Bapanya... entah apa yang sudah merasuki tubuhnya hingga menjadi kejam seperti ini, Bapanya hanya berjudi dan berjudi, mabuk dan mencuri. Hingga akhirnya Arletta lah yang harus membanting tulang untuk Ibu dan Adiknya. Ibunya juga bekerja sebagai tukang cuci tetangga.


Arletta mencuci piring di sebuah warung makan sederhana. Selain berjualan kue di pagi hari, siang harinya Arletta bekerja sebagai tukang cuci, lumayan untuk tambah-tambah uang makan. Arletta mengusab keringatnya dengan punggung tangan.
“Neng Arlet” panggil Teh Elis, pemilik warung sederhana ini.
“oh iya, Teh” ucap Arletta mencuci tangannya dengan air bersih, lalu menghampiri Teh Elis.
“ada apa?” tanya Arletta.
“oh iya, Let. Warungnya Teteh kan mau tutup, soalnya Teteh ada perlu. jadi kamu besok lagi, ga bisa ampe malem. Ga apa kan? Nih uangnya” ucap Teh Elis sambil memberi uang 10.500.
“oh iya ga apa, Teh. Arlet permisi dulu ya, Teh. Makasih” ucap Arletta tersenyum mengambil uangnya, lumayan untuk tambah uang makan.
“iya, Mangga atuh, Arlet”

Arletta mengemudikan sepeda sederhananya, setelah ini dia ingin mengambil uang kue di warung Bu Syadah. Walau lelah tapi Arletta tak pernah mengeluh, didalam hati dan pikirannya adalah hanya membahagiakan keluarganya. Tiba-tiba sebuah mobil menyerempet sepedah Arletta.
“AHHHHHH!!!” teriak Arletta. Kaki Arletta terluka. “aduhh” rintih Arletta. 1 orang pria turun dari mobil.
“ga bisa naik sepeda ya?” tanya laki-laki itu sinis. Arletta berdiri.
“mestinya disini yang harus marah tuh bukan kamu tapi aku” ucap Arletta kesal.

Rio terpaku. Tatapan matanya teringat oleh gadis yang ia cintai.
“kenapa kamu liatin aku kaya gitu?” tanya Arletta kesal.
Rio hanya diam. “Anjani?” sebuah nama terlontarkan oleh Rio.
Arletta bingung. “nama aku bukan Anjani, jangan sok tau deh kamu” ucap Arletta kesal. Arletta menuntun sepedanya, menuju kerumahnya.
Rio masih terpaku. “Anjani? Apa benar kamu Anjani?” ucap Rio.

Arletta berjalan menuju kedalam rumah, setelah menyenderkan sepedahnya. Tiba-tiba terdengar suara jeritan, Arletta menajamkan pendengarannya.
Itu suara Ibu!. Arletta berlari kedalam rumah. Dan di situ memang ada Ibu, terduduk dilantai dan menunduk. Tapi disitu juga ada Bapa, sedang memukuli Ibu.
“jangan sakiti Ibu lagi, Pak!” ucap Arletta berlari menuju ibunya dan memeluk Ibunya.
“Rossa mana uangnya! Dan kamu Arletta awas!” teriak Bapa sambil menarik Arletta lalu mendorongnya.

Andin terpaku di dekat meja. Ibu hanya menangis sekeras-kerasnya.
“mana uangnya?!” teriak Bapa sambil menjambak rambut Ibu. Arletta sungguh tak tega.
“aku.. aku..” ucap Ibu tergagap
“ini, Pak. Tapi.. jangan sakiti kami lagi” ucap Arletta. Setelah menerima uang tersebut, Bapa segera pergi dari rumah. Ibu memeluk Arletta erat.
“Letta...makasih” ucap Ibu menangis. “ga apa, Bu” ucap Arletta.

Arletta tak bisa tidur malam itu, memikirkan kejadian tadi sore.
Kenapa nasib ku seperti ini? Tanya Arletta kepada diri sendiri. Tiba-tiba terdengar suara pintu, walau pelan tapi terdengar. Arletta segera bangun dari kasurnya secara pelan, takut Andin bangun. Arletta mengintip di pintu. Ternyata Ibu, tapi kenapa membawa tas? Mengendap-endap pula, dan malam-malam begini?. Jangan-jangan Ibu ingin meniggalkan kita?. Arletta segera keluar.
“Ibu? Mau kemana?” tanya Arletta. Ibu kaget, dan tampak gugup.
“e.. Ibu...” ucap Ibu gugup.
“Ibu ingin meninggalkan kami? Kenapa Ibu tega?” tanya Arletta. Matanya terasa hangat. Ibu tak kuasa menahan tangis, 2 butir mengalir begitu saja di pipinya. Ibu meraih tubuh Arletta.
“Ibu ga kuat menerima cobaan ini, Ibu ingin ke jakarta. Disana ada Budhe kamu, ini alamatnya, makanya Ibu mau kesana” ucap Ibu.
“bagaimana dengan kita? Letta? Dan Andin? Bagaimana, Bu? Aku juga ga mau di siksa trus sama Bapa” ucap Letta menangis. Ibu melepas pelukannya. Menghapus air air matanya lalu Letta.
“nanti pagi kita berangkat, tanpa sepengetahuan Bapa, kamu siap-siap ya” ucap Ibu.
“tapi Ibu ga akan kaya tadi kan? ninggalin kami gitu aja?” tanya Arletta.
“janji” ucap Ibu.

Setelah pagi, sekitar subuh. Arletta menyiapkan tasnya dan tas Adiknya, Andin. Andin masih tertidur pulas. Arletta mengambil wudhu, lalu sholat. Setelah selesai solat Arletta berjalan menuju kamar, ternyata ibu sedang solat. Arletta menunggu, menunggu. Tapi kenapa Ibu terus berposisi sujud ya? Tanya Arletta dalam hati. Arletta semakin takut akhirnya Arletta menepuk bahu Ibu.
]“Bu...” panggil Arletta.
Tak ada jawaban.
Tiba-tiba Ibu tergeletak dilantai.
“Ibu? Ibu! IBU...!!!. Andin!!” teriak Arletta tetap menompang badan Ibu.
Andin datang. “apa kak...” Andin terkaget melihat Ibu. “Ibu kenapa, Ka?” tanya Andin.
“Ibu...!!!!” teriak Arletta.

Arletta kehilangan ibu yang selama ini dia jaga. Arletta memperjuangkan semuanya untuk keluarganya. sampai ia harus kehilangan ibunya

PROFIL PENULIS
Nama ; Arletta Glesca

Panggil saja namaku Arca
Selamat membaca.
Maaf kalau ada salah kata., baru pemula

Baca juga Cerpen Sedih yang lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar