Jumat, 20 Juli 2012

Cerpen Kehidupan - Balada Rakijo

BALADA RAKIJO
Karya Fitrah Anugerah

Bagaimana Rakijo tak kuatir, sedang langit telah mendung tebal sedang dia masih terjebak kemacetan jalanan kota besar. Jelas terdengar umpatan-umpatan liarnya. Entah ditujukan pada siapa ? Sedang tangannya yang kekar hitam masih setia mempermainkan setir Estilo kiri-kanan mencari sela agar dia bisa terhindar jebakan kemacetan. Tapi tahu sendiri telapak tangan tak hentinya menepuk-nepuk klakson.

Sebetulnya tak ada seorang pun yang mau melakukan tugas pengiriman ini. Bagaimana tidak saat orang-orang banyak pulang ke rumah buat mempersiapkan acara tahun baru bersama keluarga. Rakijo mempersilahkan diri mengerjakan tugas ini. Mobil harus segera dikirim sebab sang pembeli telah menunggu mobil baru untuk dibuat jalan-jalan pada liburan tahun baru. Tahu sendiri bagaimana kesal, jengkel, dan marahnya seorang pembeli bila kiriman barang belum sampai di rumahnya dengan tepat waktu.

Ah Rakijo kenapa engkau mau menerima tugas ini ? sedang tahu sendiri anak-istrimu menunggu datang ke rumah. Tapi dengar-dengar kemarin seorang debt collector datang buat menagih utangnya. Rakijo hanya tersenyum-senyum sambil menjanjikan bila besok mau melunasi hutangnya.
"Awas bila besok tidak dilunasi motormu akan kami sita!" ancam seorang debtcollector dengan berwajah sangar dengan logat suku tertentu. Tahu sendiri bila motornya disita, dia tak bisa keliling kota bersama keluarganya dengan motor itu.

Mengirim mobil ke daerah pinggiran selatan kota. Betapa sulitnya di samping jalanan macet, tak ada yang tahu alamat tujuan itu. Pernah suatu kali mengirim ke alamat itu ternyata alamat palsu. Tahu sendiri bila salah kirim barang maka apalagi sebuah mobil dan tiba-tiba mobil itu terbawa oleh orang yang salah. Bisa dibayangkan mobil itu akan raib, entah kemana. Sebuah kerugian atau keteledorankah ? Tentu setiap karyawan saling salah menyalahkan bila terjadi demikian.

Tapi Rakijo harus menerima tugas dari Bosnya. Harus menerima karena dia dijanjikan ongkos lebih buat pengiriman itu. Rakijo ingat dia harus mendapatkan uang lebih untuk membayar cicilan motornya. Begitulah dia menerimanya meski beberapa teman mencibir dan meledeknya.
"Kerja. Ya kerja. Tapi ingat mau liburan Brow. emang gak persiapa buat liburan" seru temannya yang sudah bersiap-siap mau pulang.

Begitulah Rakijo dia hanya tersenyum-tersenyum dan membayangkan dia akan membayar cicilan motor lalu pergi keliling kota bersama anak-istrinya.

Macet tak kunjung mereda. Hujan lebat menderas menghalangi pandang jalanan. Inilah yang dikuatirkan Rakijo. Sebab sebentar lagi jalanan akan tergenang air bahkan yang paling terburuk adalah banjir. Rakijo pun menutup seluruh kaca jendela dan menyetel wiper serta lampu kabut. Dia harus teruskan perjalanan atau berhenti dulu ?

Rakijo bimbang, kalut. Dia melihat jam tangannya. Waktu mau menginjak sore. Tahu sendiri bila semakin sore jalanan akan semakin macet karena orang-orang pasti tumpah ke jalanan untuk bertahun baru.
"Duh....."keluhnya disertai umpatan yang menyertakan nama-nama binatang dan organ-organ manusia.

Rakijo dikagetkan dering hape esia-nya. Segera dia mengangkat hape dan memncet tombol jawab. Keringat dingin Rakijo mengalir saat menjawab suara-suara dari hape itu. Terdengar kata "Siap Boss' keluar dari mulutnya. Barangkali bosnya sedang memarahi Rakijo, tapi mungkin benar. Sebab sehabis itu Rakijo terdiam ketakutan. Tanpa pikir panjang sambil menyebut kata-kata kurang pantas yang ditujukan ke Bos-nya, Rakijo menginjak pedal gas kencang-kencang.

Rakijo mengebut di antara lebat hujan dan genangan banjir yang mulai meninggi. Dengan kecepatan tinggi dia meliuk-liuk lincah tak menghiraukan beberapa pengemudi motor yang mendamprat dan menyumpahinya karena kecipratan genangan air hujan. Dia terus melaju. Melaju.
"Cuiiittt..........Braakkkkk" hantaman keras terjadi. Berhamburan puing-puing kaca memenuhi becek jalanan. Tanpa dikomando orang-orang segera berlarian menuju tempat kejadian. Menggeleng-gelengkan kepala, saling berkomentar, dan ada yang mengangkat sebuah tubuh yang berceceran darah ke tepi jalan. Tak lama raung sirine ambulan dan polisi datang ke tempat kejadian.
**

Menjelang maghrib di depan sebuah rumah petakan, seorang lelaki berseragam sebuah perusahaan yang dipenuhi percikan lumpur dan ceceran darah menghadang debt collector yang akan menghidupkan motor. Lelaki itu memegang erat motornya, dan memegang tubuh sang debt collectorTapi motor tetaplah melaju dengan kencang.

Lelaki itu akan berlari mengejarnya. Tapi langkahnya tertahan oleh tangis dan sesengukan seorang wanita berumur dan seorang anak perempuan. Yang berada di depan pintu rumah petakan. Tangis yang menyebut-nyebut sebuah nama. Nama dia : Rakijo.

Alamat Fb : https://www.facebook.com/fitrah.anugerah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar