Kamis, 19 Juli 2012

Cerpen Persahabatan - Arti Kasih Sayangmu Bagiku

ARTI KASIH SAYANGMU BAGIKU
Karya Arieska Dian Saputri

Hai sobat…
Perkenalkan, namaku Mawar Rizqi Imanda. Ibuku adalah pemilik butik ternama di Bandung dan ayahku juga merupakan salah satu pengusaha terkenal di Bandung. Aku mempunyai saudara kembar yang bernama Melati Rizqi Amanda. Kami sekarang duduk di bangku SMA Tunas Bangsa kelas 3. Aku masuk kelas 3 IPS sedangkan Melati duduk di kelas 3 IPA. Perlu kalian ketahui sobat, biarpun kami kembar tapi kami punya karakter dan sifat yang berbeda 180o. Aku yang cenderung tomboy, cerewet, nakal, manja, kasar, dan pemalas berbeda sekali dengan Melati yang lebih dewasa, baik, sopan, ramah, rajin, mandiri, dan tentunya cantik dan pintar. (Eh, tapi aku juga gak kalah cantik dan pintar kok,, hhe). Tapi aku akui, Melati itu lebih pintar dariku. Makanya Ia bisa masuk kelas IPA. Melati itu orangnya pendiam dan gak banyak bicara. Dan itu membuat cowok-cowok satu sekolah mati penasaran karnanya. Sudah banyak cowok yang ngedeketin Melati, tapi setahuku selalu ditolak dengan alas an pengen fokus sekolah. Padahal cowok yang ngedeketin Melati tuh gak cuma ganteng n keren tapi juga juara kelas. Bahkan salah satu cowok paling popular dan udah berkali-kali mewakili sekolahpun bernasib malang kayak yang lain, alias ditolak juga. 

Huft……… bener-bener deh…
Tapi aku sangat bangga punya saudara kayak Melati. Amat sangat bangga sekali… Hhe,, lebay...
Sampai suatu ketika, ada anak baru pindahan dari SMU Tunas Mulia Surabaya, namanya Reza. Wajahnya yang ala-ala Korea itu bikin murid-murid cewek satu sekolah klepek-klepek, termasuk aku. Tapi pengecualian buat si Melati. Postur tubuh yang tinggi dengan kulitnya yang putih persis kayak orang Korea itu menambah pesona bagi murid cewek. Wow…
Tapi sayangnya Reza tidak sau kelas denganku. Ia satu kelas dengan Melati. Awalnya aku sedikit putus asa karena Reza tidak satu kelas denganku, tapi mulai muncul secercah harapan di benakku. Aku pikir, Melati bisa membantuku mendekati Reza. Ya… aku mulai lega akan hal itu.

Awalnya Melati setuju akan rencanaku dan bersedia membantuku. Akupun sering pergi jalan dengan Reza atas bantuan Melati. Ia juga mendukungku. Tapi lama-kelamaan aku merasa Reza lebih dekat dengan Melati daripada aku. Walaupun selama ini Melati tidak pernah tertarik dengan urusan cowok, tapi aku mulai merasa takut jika Melati juga menyukai Reza. Karena sepertinya Melati lebih terbuka jika dengan Reza. Bahkan Ia sempat berkata padaku,
“Mawar, ternyata Reza itu beda ya…,” tiba-tiba Melati mengatakan hal yang tak pernah kuduga sebelumnya. Tapi aku berusaha menanggapinya dengan sewajarnya.
“Iya… Tapi kenapa tiba-tiba kamu ngomong gitu sih? Bukannya selama ini kamu paling ogah sama urusan cowok ya?!”tanyaku menyelidik.
“Uhm,,, emangnya aku salah ya, kalau aku juga pengen punya temen cowok. Selama ini kan, aku selalu menutup diri”.
“Gak salah sih… Cuma aneh aja. Tapi ya udah lah, gak usah dipikirin. Aku ngantuk nih, tidur duluan ya…,”ucapku seraya membalikkan tubuhku memunggungi melati.
“Hm…”.

Setelah itu percakapan berakhir. Aku sempat melihat Melati tersenyum sendiri membayangkan sesuatu yang entah apa itu. Aku berpikir positif saja. Aku rasa hal itu wajar-wajar saja bagi remaja SMA. Tapi semakin lama, aku melihat Melati sering jalan berdua dengan Reza. Mereka juga kelihatan enjoy satu sama lain. Aku mulai merasa iri dengan Melati. Tapi aku selalu mencoba menghilangkan rasa iri itu. Karena bagaimanapun juga Melati adalah saudaraku. Tidak mungkin Ia tega menyakitiku, terlebih dia tahu kalau aku menyukai Reza. Dan puncaknya adalah pada malam itu…
“Melati, aku pengen ngomong jujur sama kamu,”ucap Reza tampak serius.
“Mau ngomong apa, Za? Serius banget…,” tanya Melati dengan senyum khasnya itu.

Perlahan Reza memegang tangan Melati,,,
“Mel, sebenarnya aku sudah lama suka sama kamu. Aku pengen hubungan kita lebih dari sekedar teman atau sahabat.”

Deg...
Aku yang saat itu sedang mencari udara segardi luar tidak sengaja mendengar percakapan itu. Aku tertegun... Kakiku serasa lemas dan sulit digerakkan. Air mataku jatuh tak terbendung. Namun, aku berusaha tenang karena Melati belum memberikan jawaban.
“Kamu bercanda kan, Za? Aku tau Mawar itu suka sama kamu... Mana mungkin aku bisa melakukan itu?!” Melati mulai terisak menahan tangis.
“Aku tau Mel... Tapi kamu gak bisa paksa aku buat suka sama Mawar. Aku yakin Mawar bisa dapetin yang lebih dari aku. Aku juga yakin dia gak akan marah kalau kamu terima aku,” kata-kata Reza mulai membuatku teriris. Orang yang kusukai ternyata menyukai saudaraku sendiri.
“Tapi, gimana kalau Mawar marah dan jadi benci sama aku?! Aku sayang sama dia. Aku gak mau buat dia sedih. Mawar sangat berarti buat aku, Za...,” ucap Melati semakin terisak.
Reza langsung memeluk Melati. Aku yang saat itu sedang terpukul dan gundah tidak begitu mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Melati. Perasaanku yang bercampur-aduk ini membawaku melangkah mendekati mereka.

Aku yang terbawa emosi langsung menarik Melati dari Reza hingga membuatnya terjatuh. Melati yang menyadari keadaanku saat itu tersentak kaget.
“Mawar?! Kenapa kamu dorong aku? Kamu harus denger penjelasan aku dulu...,” Melati mencoba bangkit untuk berdiri.
“Penjelasan apa lagi, Mel?! Kamu tau kan kalau aku suka sama Reza! Kenapa kamu lakuin ini ke aku?! Diam-diam kamu juga suka kan sama Reza?!” emosiku meledak-ledak.
“Enggak Mawar... Kamu denger dulu...”
“Halah... Harusnya kamu bilang dari dulu, Mel. Jadi aku gak akan ngerasain sakit ini,” aku mmotong ucapan Melati.
Setelah aku berdebat hebat dengan Melati, aku berlari tanpa menyadari ada mobil yang sedang melaju dengan kecepatan penuh, dan...

Braakkk....
“Melatiii......,” suara Reza terngiang di telingaku.
Aku baru sadar jika Melati mendorongku ke pinggir jalan sehingga Ialah yang tertabrak mobil itu. Tubuhku gemetaran... Aku berusaha mendekat ke arah Melati.

Dengan terbata-bata, Melati sempat berkata sesuatu padaku,
“Mawar,, maafin aku ya... Aku gak bermaksud menyakiti kamu...,” aku menangis sambil memegang tangan Melati.
“Iya Mawar,, sebenarnya tadi Melati nolak aku dan itu demi kamu...,” Reza juga ikut menjelaskan dengan suara parau.
“Jadi... kalian gak jadian?” tanyaku kaget.
“Enggak Mawar...,” kata Melati terbata-bata.

Setelah semuanya jelas, aku sangat menyesal telah menuduh Melati yang bukan-bukan. Aku menangis sejadi-jadinya dan minta maaf padanya. Tak lama kemudian ayah dan ibu datang bersamaan dengan ambulance. Pada saat yang bersamaan Melati mengucapkan kata-kat terakhirnya,
“Ayah, ibu, Mawar, Reza... Makasih buat semuanya ya... Kalian sangat berarti di hidupku...”

Melati menghembuskan nafas terakhirnya. Walaupun berat, kami semua berusaha mengikhlaskan kepergian Melati.
“Melati... Biarpun raga kita jauh, tapi hati kita tetap satu... Aku janji akan menjadi orang yang lebih baik dari ini. Kami disini menyayangi Melati... Selamat jalan... Semoga kau tenang dan bahagia disana...”.
Itulah kata-kata terakhir yang sempat kuucapkan. Sejak saat itu, aku mulai mengerti dan menyadari bahwa Melati sangat menyayangiku. Kasih sayangnya begitu besar untukku. Seorang saudara yang mengasihiku lebih dari apapun. Saudara yang akan selalu kukenang sampai akhir hayatku. Dan karnanya, aku bisa menjadi orang yang lebih baik dan mengerti akan arti kasih seorang saudara itu... Thanks Mel...

-End-

PROFIL PENULIS
Nama : Arieska Dian Saputri
TTL : 18 Desember 1994
Alamat : Ds. Dumplengan, Ngawi
Hobi : Membaca, menulis, dan menggambar
Sekolah : SMKN 1 Ngawi
FB : Ariezka Sa Azkiya

Baca juga Cerpen Persahabatan yang lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar