Sabtu, 14 Juli 2012

Cerpen Romantis - Menatap (Mata) Matahari

MENATAP (MATA) MATAHARI
Karya Shofyan Amri

Sejenak pikiranku waktu itu melayang jauh menemui seseorang yang jauh diseberang sana dan seseorang yang merupakan penyejuk hati dikala gersang kerap melanda, selalu tersenyum dikala luka merekah menunjukkan garangnya, dan disaatndunia menunjukkan jati dirinya yang kejam, ia selalu saja ada untukku. Ia selalu hadir untukku bersama kebahagiannya.

Segera saja aku beranjak dari tempat tidur untuk menuju kamar mandi, namun baru beberapa langkah berjalan, terdengar dering handphone disudut kamarku, bergegas aku meraih handphone tersebut, dan mengangkatnya penuh rasa tanya, padahal waktu itu jam menunjukkan pukul 5 shubuh, “siapa pula yang menelepon shubuh seperti ini”, ucapku lirih. Dan ternyata Siska, pacar yang sangat aku cintai, sengaja ia meneleponku shubuh-shubuh untuk mengingatkan aku tentang wawancara kerja yang akan aku jalani waktu itu.

Siska adalah sisi lain dari kehidupanku saat ini, setelah 2 tahun lalu cintaku kandas terhempas oleh egoisme serta etnosentrisme yang telah mengakar pada setiap akar pada sebagian kehidupan manusia, Siska datang kepadaku dengan segenap rasa cinta yang indah tanpa pamrih dan apa adanya.
“sayang, semangat ya hari ini, aku yakin kamu pasti bisa dapatin pekerjaan itu”, suaranya dengan lantang memberiku semangat, walau hanya lewat handphone.
“iya sayang, makasi udah beri aku semangat, aku cinta kamu, sayang.” Jawabku penuh kata cinta.
“aku juga cinta kamu, sayang..”katanya kemudian.

Alhamdulillah momen-momen wawancara kerja ini telah aku lewati, dan sekarang aku resmi menjadi seorang karyawan pada perusahaan jasa, ya walaupun dengan gaji yang tak seberapa, tapi aku harus semangat menjalani ini, harus tanpa rasa mengeluh, begitulah pesan yang selalu Siska ucapkan kepadaku.

***
Singkat cerita, 3 tahun sudah aku bekerja pada perusahaan itu, kadang terbersit dihati untuk melepas masa lajangku dan segera melamar Siska, karena aku ingin menghabiskan waktu setiap hari hanya bersamanya, dalam ikatan yang suci bernama pernikahan. Namun, aku sendiri belum yakin dengan rencana ini, karena masih banyak hal yang harus aku lakukan lagi untuk meyakinkan orang tuanya bahwa aku sangat mencintai anak mereka.
“selamat pagi, Jaka..” Andi menyapaku yang sedang duduk dikantor kala itu. Hampir saja aku tak mendengar ucapannya, saking jauhnya aku menghayal tentang rencanaku sebelumnya. Andi adalah sahabat terbaikku saat ini, ia yang selalu mau mendengar keluh kesahku tentang kehidupan, dan ia selalu ada untuk memberikan solusi.
“selamat pagi juga, Andi. Bersemangat sekali tampaknya kau kali ini, baru dapat durian runtuh ya..??” aku menggodanya sambil sedikit tersenyum.
“ada-ada saja kau Jaka, mana mungkin ada durian runtuh ditengah-tengah kota Jakarta yang luas ini..”,balasnya dengan ciri khas leluconnya itu, walau terkadang terdengar konyol.
“ya sudahlah, kau selalu saja begitu,” aku mengalah dengan leluconnya itu.
Senyum pun lepas dari bibir kami di pagi itu, memang sudah rutinitasku untuk selalu tersenyum menyambut pagi, karena pagi hari lah awal dari semangat untuk beberapa jam kemudian menjelang siang, sore hingga malam.
***

“Ndi, aku ingin mempersunting siska, bagaimana menurutmu??”, suatu ketika dikantin perusahaan aku sampaikan rencana ku pada Andi untuk meminta pendapatnya. Sebab, ia sangat mengerti tentang diriku, begitu pula aku terhadap dirinya.
“Alhamdulillah jika kau ingin menikahi Siska, aku sangat mendukungmu Jaka, asal kau serius dengan niatmu ini,,”, ujarnya kepadaku penuh dengan makna yang dalam, sambil sesekali menenggak minuman yang ada dihadapannya.
“aku sangat serius kepadanya, Ndi”, jawabku pula dengan semangat. Tanpa sedikitpun rasa ragu.
“baiklah kalau begitu, lanjutkan saja niatmu itu, kapan rencanamu akan melamar Siska??, tanyanya padaku dengan nada yang sedikit bersemangat.
“aku berencana akan melamarnya seminggu lagi, doakan saja sahabatmu ini mendapatkan yang terbaik..”, jawabku sambil meminta restunya.
“aku akan selalu mendoakanmu sahabat, semoga ini akan menjadi yang terbaik buat dirimu dan Siska tentunya..” Doanya kepadaku.
“amin..”, lanjutku mengamini perkataannya.
***

Hari yang kutunggu untuk melamar Siska datang juga, bergegas aku siapkan segala perlengkapan, tak lupa sepasang cincin bergambar hati kubawa serta, walaupun mungkin tak seberapa bila dibandingkan dengan kekayaan yang dimiliki oleh keluarga Siska, namun aku harus tetap semangat dengan segala keterbatasan ini. Ditemani oleh Andi aku menuju rumah Siska, dan akhirnya tiba jualah aku dirumahnya. Rumah yang sangat besar menurutku, maklum saja Siska adalah seorang anak pengusaha terkenal dikota ini. Segera aku mengetuk pintu rumahnya dengan jantung yang berdebar-debar tak menentu.
“assalamualaikum..”, ucapku memberi salam.
“walaikumsalam..”, sayup-sayup terdengar jawaban dari dalam rumah. Sambil membukakan pintu rumah yang saat itu terkunci rapat. Dan ternyata Siska yyang telah membukakan pintu untuk kami, sejuk sekali hatiku rasanya pada saat itu, melihat kecantikan yang sangat alami terpancar indah dari wajahnya yang putih bersih itu. Hampir saja aku tak dapat berkata-kata, kalau saja Andi tidak mengingatkan aku.
“selamat pagi, sayang..”, suaraku memecah suasana yang sedari tadi hanya sepi.
“selamat pagi juga, sayang..”, jawabnya penuh manja.

Hal ini lah yang selalu aku impikan, ia selalu menyambutku penuh dengan senyum dan kerendahan hati.
“Silahkan masuk, sayang. Eh, ada mas Andi juga..”, sambil mempersilahkan kami duduk, ia sudah sangat kenal dengan sahabatku Andi ini, jadi aku sudah terbiasa jika ia juga menyapa Andi sahabatku dengan panggilan Mas.
“aku panggilin papa dulu ya sayang,,”, ia meminta izin kepada ku sambil tersenyum. Lagi-lagi membuat aku hanyut dengan senyumnya yang indah itu.
“iya sayang..”, jawabku segera.

Tak lama berselang, telah berdiri sosok ayah Siska Om Jack yang bisa dibilang berbadan tegap, dengan tinggi sekitar 180-a Cm, wajar saja berbadan tegap, karena ia adalah seorang bule yang telah menjadi warga Indonesia sejak lama, dibarengi dengan Ibu dan kedua kakak Siska yang berjalan beriringan disamping Om Jack.

Lantas saja aku langsung mengutarakan niatku melamar Siska kepada keluarganya, dengan segala kekuatan hati dan perasaan yang penuh cinta.
“apa yang kau punya, sehingga berani-beraninya kau melamar anakku??”, suara lantang Om Jack seakan menggoncangkan seluruh tubuhku saking gugupnya aku pada waktu itu.
“aku punya cinta yang akan membahagiakan anakmu Om, walaupun aku sadar aku tidaklah kaya seperti keluarga Om,”, jelasku padanya dengan segala kekuatan hati.
“nah,sedangkan kau sendiri sadar bahwa kau tidak kaya seperti keluargaku ini, lantas mengapa dengan beraninya kau datang lalu melamar anakku, mau kau beri makan apa ia nanti??!!”, hardiknya kepadaku penuh dengan kemarahan, lantas saja hal itu membuatku serasa disambar petir dan terpental sangat jauh, tak kusangka aku akan mendapatkan hinaan seperti itu.
“papa…!!, apa yang telah papa katakan pada mas Jaka, aku mencintainya pa, lebih dari apapun, dan aku ingin ia menjadi ayah dari anak-anakku kelak, mengahabiskan sisa-sisa hidupku bersamanya.” Terdengar suara Siska membelaku dengan tetesan air mata yang mulai membasahi kedua pipinya.
“tidak!!, kau tidak akan menikah dengannya, keluarga kita tidak sejajar dengannya, lihatlah dirimu, kau seorang insinyur ternama dikota ini, dan kau cantik anakku, kau tidak sebanding dengannya, ia hanya orang yang tidak tau diri, lancang sekali datang lalu melamar anakku yang jelas-jelas pendidikannya lebih tinggi darinya, kau lebih segalanya dari dia anakku, dan kau tidak akan menikah dengannya,,”, beber Om Jack dengan emosinya yang memuncak kala itu, sembari menyelipkan kata-kata hinaan kepada ku. Sungguh kata-katanya sangat membuatku sakit hati, namun aku hanya bisa diam, karena aku sadar aku bukan siapa-siapa.
“benar kata ayahmu Siska, kau tidak boleh menikah dengannya, karena ia bukanlah berasal dari keluarga yang berada seperti kita, kau tidak akan bahagia dengannya”, Ibu serta kakak-kakak Siska memperjelas ucapan ayahnya.
“kalian jahat, apa salahnya jika aku menikah dengan mas Jaka yang menurut kalian biasa saja, tetapi menurutku mas Jaka adalah orang yang luar biasa, kenapa semuanya harus dinilai dengan materi?? Ha??, apa materi bisa membeli segala kebahagiaan??”, sambil terisak-isak Siska tetap saja membelaku, sungguh miris hatiku kala itu, melihat Siska menangis tak kuasa kubendung air mataku ini, begitu juga denga Andi yang sedari tadi hanya terdiam.
“maafkan aku dan keluargaku mas Jaka, aku akan selalu mencintaimu..”, Begitulah kalimat yang keluar dari bibir Siska sambil berlalu meninggalkan ruangan tamu dan menuju kekamarnya dengan segenap kehancuran hati.

Tanpa basa-basi lagi, aku lantas berpamitan pulang kekeluarga Siska, terlihat jelas ekspresi kebencian diwajah mereka. Sungguh aku telah hancur dengan keadaan ini, ingin sekali rasanya aku mengakhiri hidup saat itu juga dengan menabrakkan tubuhku ke truk-truk yang melintas itu, untung saja niat burukku ini segera dicegah oleh Andi,.
“sudahlah Jaka, tidak usah kau pikirkan lagi tentang hal itu, ini hanya akan membuatmu hancur.”Andi mencoba menenangkan aku yang masih saja bermain dengan air mata setelah 2 hari dari kejadian itu.

Ditempat lain sama halnya denganku yang masih larut dalam kepedihan, Siska tak henti-hentinya menangisiku,hingga mungkin kering sudah air matanya.

Tiba-tiba terbersit niat hati untuk membawa kabur Siska dari kota ini dan menikahinya, dan benar saja setelah aku berhasil mengajak Siska kabur dan menikahinya, kami memulai kehidupan dari nol, memang terasa pahit, namun inilah pilihan hidup yang telah kami ambil, harus menjalaninya dengan senyuman dan semangat. Belum lagi cibiran dari tetangga yang telah mengetahui bahwa kami menikah tanpa restu dari orang tua. Sungguh pedih mendengar itu tapi aku harus tetap kuat dengan segala ini, karena aku yakin Tuhan ada untuk kami.

5 tahun telah berlalu, dan kini aku memiliki 2 anak yang cantik, sama cantiknya dengan ibunya yang berwajah indo itu, kini aku telah berhasil menjadi salah seorang karyawan diperusahaan elektronik, masih dengan keterbatasan materi dan Siska istriku menjadi insinyur pertanian yang hebat di kota ini, dengan penghasilan yang melebihi penghasilanku, terkadang aku malu dengan diriku setelah menjadikannya anak durhaka dengan menikahinya dan sekarang istriku lebih berpenghasilan dariku, namun dengan kebijaksanaan hatinya ia tak pernah mengeluh dengan penghasilanku ini, ia selalu berkata “aku hanya butuh kamu dan anak-anak kita, sayang..”, kalimat itu pula yang selalu menyejukkan hatiku dari segala kegelisahan hati.
“sungguh beruntung aku memiliki kamu sayang, besarnya rasa cintaku saat ini lebih dari apapun”, begitulah kalimat yang terbiasa aku ucapkan kepadanya disetiap pagi dengan satu kecupan hangat di keningnya.
“aku juga beruntung bisa memiliki suami sepertimu sayang, aku ingin habiskan waktu ini denganmu dan hanya bersamamu”, itulah jawaban yang selalu keluar dari dalam mulutnya, tak lupa seuntai senyuman indah masih melekat diwajahnya tanpa ada yang berubah.

Hari-hari kami jalani penuh dengan kebahagiaan, walaupun rasa bersalah tetap saja menyelimuti hatiku.
***

Kini, keluarga Siska telah mengetahui tempat tinggal kami dan sudah memaafkan Siska, namun tidak denganku, mereka tetap saja mereka membenciku. sesekali keluarganya mejenguk Siska dan disaat itu pula aku selalu menahan rasa sedih tak dianggap, mungkin inilah karmaku.

Dengungan cacian dari tetangga masih saja terdengar setelah 7 tahun pernikahan kami, aku mengerti mengapa mereka begitu, tapi inilah jalanku, aku harus kuat.
“hallo, maaf ini siapa ya??”, tanyaku pada seseorang diujung telepon penasaran.
“maaf pak,saya sekretarisnya bu Siska, bu Siska nya sekarang ada dirumah sakit pak, Dia pendarahan.” Jelasnya padaku.
“apa??”, sahutku sambil menitikkan air mata, ya Siska sekarang sedang hamil anak kami yang ketiga, dan usia kandungannya telah memasuki bulan kesembilan. Padahal sudah berkali-kali aku katakan padanya untuk tetap dirumah beristirahat, namun ia selalu bisa merayuku untuk tetap mengizinkannya kekantor untuk berkerja.

Setibanya dirumah sakit….
“maaf mbak, pasien yang bernama Siska ada dikamar nomor berapa ya??”, tanyaku pada bagian administrasi rumah sakit dengan perasaan yang tidak menentu.
“ada dikamar nomor 45 pak,”,jawabnya
“terima kasih, mbak” ucapku kepadanya.
Segera saja aku berlari untuk menemui istriku tercinta, tak kuasa aku tuk menahan tangis melihatnya terbaring pingsan, lemas dengan wajah pucat pasi. Sungguh aku tak sanggup melihat penderitaan istriku ini, namun ada satu hal yang membuat rasa sedihku terobati yaitu kelahiran anak ketigaku dengan selamat, wajah imutnya menenangkan aku.

Hari itu juga dengan memberanikan diri untuk memberitahukan keluarga istriku tentangnya, dan mereka kini ada bersamaku dirumah sakit, namun tetap saja tanpa sapaan atau teguran kepadaku, aroma kebencian masih terasa jelas.

Sebulan telah berlalu, masih saja istriku tercinta terbaring tak sadarkan diri diatas tempat tidur rumah sakit, selama itu pula aku selalu bolak balik dari rumah ke rumah sakit atau sebaliknya untuk membagi perhatian terhadap anak-anakku dan juga istriku ini, selalu aku bacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an didekat telinganya, juga sering kubacakan buku-buku kegemarannya serta tak lupa kukecup selalu keningnya penuh cinta.
“sayang, bangun dong, aku mau lihat kamu senyum lagi, kamu cantik..”, kalimat itulah yang selalu aku bisikkan ditelinganya, berharap ia mendengarnya. Karena, aku yakin ia mendengar itu.

Dan tepat 6 bulan, akhirnya istriku bangun dari tidurnya, sekarang setiap pagi aku yang harus memandikannya, memakaikannya baju, menyuapinya, dan selalu menggendongnya melihat terbitnya mentari diufuk timur, serta kadang-kadang sering kuajak ia jalan-jalan sambil kudorong kursi rodanya, tak pernah ada rasa menyesal dalam diriku, walau kini aku beristrikan wanita yang kakinya telah lumpuh, hal itu tak mengurangi rasa cintaku padanya, bahkan aku semakin cinta kepadanya. Sering ia menangis melihat aku berkorban untuknya, namun aku selalu berkata padanya, bahwa aku akan tetap mencintainya walau apapun yang terjadi.

Kalimat-kalimat dari mulut para tetangga masih saja terus berkicau, walau kini berbeda bunyi, kini mereka terharu dan bangga dengan kesetiaanku pada istriku. Mereka lebih sering memujiku kini, tanpa seorang pun yang mencaci, karena mereka sadar bahwa cinta dan kesetiaan bisa mengalahkan segalanya. Begitu juga dengan keluarga Siska, sekarang mereka sudah bisa menerima keberadaan aku didalam keluarga mereka. Namun bukan semua itu yang sebenarnya aku inginkan, melainkan kebahagiaan aku, istriku, dan anak-anakku, mereka lebih dari sempurna dimataku dan akan selalu kujaga kebahagiaan ini hingga aku tak dapat lagi melihat wajah mereka dan hingga aku tak dapat lagi menatap (mata) matahari.

-TAMAT-

Dumai, 6 Juli 2012

PROFIL PENULIS
Pengarang: Shofyan Amri
TTL: Dumai, 8 september 1992
Hobby: Editing Fhoto dan Menulis serta dengarin lagu-lagunya Owl City
Fb: Shofyan Amri
Mudah-mudahan sih kalian semua suka :)

Baca juga Cerpen Romantis yang lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar