Senin, 16 Juli 2012

Cerpen Persahabatan - Gue Harus Pergi

GUE HARUS PERGI
Karya Nirmala

Mentari pagi menyambut hari baru.Menyinari bumi tempat manusia berpijak.Sekarang sudah pukul 6 lebih 15 menit.Orang-orang terlihat memulai aktifitasnya. Termasuk Brenda. Ia sedang mematut diri di cermin. Tiba-tiba mama Brenda masuk ke kamar.
“sayang, Billy udah dateng tuh” ujar Mama Brenda. “oh, iya ma. Bentar lagi Brenda turun” ujar Brenda.Mama Brenda tersenyum lalu keluar. Brenda segera mengambil tas ranselnya dan keluar.
“Kak Dylan ke mana, Ma?” ujar Brenda sambil bergegas memakai sepatunya. “udah berangkat dari jam 6 tadi” jawab Mama Brenda. “oohh. Rajin amat deh. Yaudah aku berangkat ya, Ma! God bless” ujar Brenda sambil mencium tangan mamanya. “iya, Nak! Hati-hati” jawab Mama Brenda.

Brenda segera menuju pintu pagar. Ternyata Billy sudah ada di depan pagar. Begitu melihat Mama Brenda, Billy langsung menganggukkan kepala dan memberi senyum pada Mama Brenda.Mama Brenda membalasnya dengan senyuman juga.Sebelum berangkat Brenda melambaikan tangan pada mamanya.Mamanya pun membalas lambaian itu.Kemudian Brenda menarik tangan Billy dan mereka berangkat.
“pa, anakmu sudah besar semua” ujar Mama Brenda lirih lalu masuk ke rumah. Papa Brenda sudah meninggal 2tahun lalu.Tepatnya saat Brenda kelas 3 SMP dan kakaknya-Dylan-kuliah jurusan arsitek semester 3.Semenjak itu, Mama Brenda kerja keras untuk menghidupi keluarganya.Alhasil, kini Mama Brenda memiliki satu butik yang terkenal dan satu restoran.Sangat cukup untuk biaya hidup mereka bertiga.

Sedangkan Billy adalah sahabat Brenda semenjak ia masuk SMA. Sewaktu MOS, Billy melihat Brenda menangis dipojokan kelas. Billy menghampirinya dan berusaha menenangkannya.Ia bertanya ada apa dengan Brenda. Namun Brenda tetap diam. Semenjak Papa nya meninggal, Brenda sudah kehilangan senyumnya. Dan ia tidak mau bercerita kepada siapapun.

Namun entah kenapa, kehadiran Billy membuat Brenda merasa tenang.Ia merasa Billy adalah orang yang baik dan bisa dipercaya. Setelah lama membujuk, akhirnya Brenda menceritakan semua masalah dan latar belakang keluarganya.Semenjak itu mereka menjadi sahabat sampai hari ini.Mama Brenda pun senang dengan kehadiran Billy.Karena kehadirannya, putrinya kini bisa mendapatkan senyumnya lagi.
“udah siap ulangan, Bill?” Tanya Brenda. “kalo nggak siap, bisa end gue sama Pak Hadi” ujar Billy. Brenda hanya nyengir.Billy dan Brenda memang terbiasa berangkat sekolah bersama.Selain karena bersahabat, jarak rumah mereka juga tidak terlalu jauh.Dan mereka terbiasa jalan kaki karena jarak sekolah mereka juga tidak jauh.

Billy dan Brenda bersama.Sudah bukan hal baru bagi teman-teman mereka.Meski Billy dan Brenda pernah berkata bahwa mereka nggak pacaran.Tetap saja teman-temannya mnganggap mereka berpacaran dan terus menggoda mereka.Seperti pagi ini saat mereka tiba di sekolah.
“yaakk. Pasangan BilBrend-sebutan untuk Billy dan Brenda-sudah datang.Jengjengjeng” ujar salah seorang siswa.Billy dan Brenda tetap cuek.Mereka lalu duduk di bangku-kebetulan mereka juga sebangku.Tak lama, bel masuk pun berbunyi.Semua siap menghadapi ulangan Kimia dari Pak Hadi.
**

Bel istirahat berbunyi.Semua siswa-siswi berhamburan keluar kelas.Mendadak Brenda merasakan nyeri di kepalanya.Ia merebahkan kepalanya di meja. Billy yang hendak keluar kelas jadi mengurungkan niatnya.
“lo kenapa?” Tanya Billy. Brenda segera menegakkan kepalanya dan menggeleng pelan. “boong! Muka lo pucet gitu nggak mungkin nggak kenapa-kenapa.Pasti belom makan. Ke kantin yuk. Makan dulu” ujar Billy sambil mengulurkan tangannya.Brenda tersenyum tipis lalu menerima uluran tangan itu.

Baru selangkah ia berjalan. Nyeri di kepalanya semakin menjadi-jadi.Terasa sakit dan menyiksa.Matanya mulai berkunang-kunang.Ia roboh. Pandangannya semakin kabur. Sebelum semuanya menjadi gelap, ia mendengar suara seseorang memanggil namanya. Suara yang sangat ia rindukan. “papa” ujarnya lirih. Siut.Brenda tak sadarkan diri.
**

“Nda” Brenda tersentak.Ia segera bangun. Anehnya, ia tidak tau ia berada di mana. “halo? Ada orang?” ujarnya. Tapi ia tak mendengar suara siapapun kecuali pantulan suaranya sendiri.
“Nda” terdengar suara dari belakang Brenda.Ia segera menoleh. Seketika air matanya jatuh. “papa” ujar Brenda lirih. Papa Brenda hanya tersenyum.Air mata Brenda semakin deras. “papa apa kabar? Pa, aku kangen” ujar Brenda lagi.
“papa sangat baik, Nak!” ujar Papa Brenda. “Nda, sudah waktunya kamu kasih tau ke orang-orang tentang keadaanmu.Supaya kamu tidak menderita sendirian” lanjut Papa Brenda.Brenda menggeleng.“Enda nggak mau mama khawatir, Pa. enda nggak mau bikin mama sedih” jawab Brenda.
“sayang, cepat atau lambat mereka pasti tau. Waktumu tidak banyak, Nak! Lakukan yang terbaik. Papa juga kangen sama kalian. Titip salam buat mama sama Kak Dylan ya, Nak! Papa harus kembali.Jaga diri ya sayang ya!” ujar Papa Brenda. “papaaaa!!! Jangan tinggalin Endaa! Enda takut, Pa!” ujar Brenda sambil terus mengejar papanya yang semakin menjauh.Tiba-tiba Brenda terjatuh.
**

Perlahan Brenda membuka matanya.Yang pertama kali dilihatnya adalah, Billy.Ya, Billy.Ia berdiri di samping, Brenda. Brenda segera duduk sambil memegangi kepalanya yang terasa berat dan sakit.
“Bren, jangan banyak gerak dulu!Lo masih lemes” ujar Billy sambil menahan tubuh Brenda.Brenda mengangkat wajahnya.Ia menatap Billy. Tiba-tiba setetes air mata jatuh dari matanya. Ia langsung memeluk Billy. “Bil.. papa...” Brenda tidak melanjutkan kata-katanya.Ia merasa tidak kuat. Namun ia yakin, Billy pasti mengerti maksudnya.

Dan benar.Meski kaget, Billy membalas pelukan Brenda.Ia mengusap lembut rambut Brenda. “udah, Bren. Yang kuat, oke? Gue yakin papa lo jagain lo dari sana. Udah jangan nangis lagi.Gue di sini” ujar Billy lembut. Brenda menhentikan tangisnya dan melepaskan pelukannya lalu ia mengangguk. Billy pun tersenyum.

Sorry, Bill! Gue masih nggak bisa kasih tau ke lo rahasia terbesar gue.Rahasia yang semua orang nggak tau termasuk mama. Kecuali..hanya papa yang tau. Ya, hanya dia yang tau keadaanku sekarang.
**

“Widiiii..gue Cuma dapet 65 coyy!” “gue menang doonnggg. 75 euy” suasana kelas sedang riuh.Bu Emi guru Biologi sedang berhalangan masuk. Tanpa komando, anak-anak di kelas rebut semau mereka. Ditambah lagi hasil ulangan kimia baru saja dibagi.Tambah ributlah mereka. Tanya sana dan Tanya sini.

Brenda mendengus kesal melihat nilai yang tertera di kertas ulangannya. 90. Bukan nilai yang jelek. Namun ia yakin ia pasti kalah dengan nilai Billy. Billy kan Raja Kimia. Sedangkan dirinya jago Biologi. Lagi-lagi ia mendengus kesal.
“berapa?” Tanya Billy tiba-tiba.Spontan Brenda melipat kertasnya dan menggeleng.Billy menyentakkan tangan untuk mengambil kertasnya.Dengan cepat Brenda menarik kertasnya lagi.Billy tak mau kalah.Ia mengulurkan tangannya dan menggelitik pinggang Brenda. Brenda berusaha menghindar. Saat ia lengah, dengan cepat Billy mengambil kertas itu.

Brenda yang menyadari kertasnya sudah berpindah tangan segera berusaha mengambil kertasnya lagi.Billy berlari menghindari Brenda.Dan Brenda segera mengejarnya.Dan terjadilah aksi kejar-kejaran.

Ketika sedang asik kejar-kejaran.Tiba-tiba kaki Brenda seperti tersandung sesautu.Sontak Brenda jatuh.Seluruh isi kelas spontan menoleh kea rah Brenda.Teman-teman ceweknya segera menhampiri dan menolongnya. Ketika kepalanya diangkat darah segar mengalir keluar dari hidungnya. Melihat itu, teman-temannya langsung memberikan pertolongan pertama.

Billy yang kaget dengan keadaan Brenda segera menghampiri biang kerok.Ya, dia mendatangi Dion.Ia yakin Dion yang menyebabkan Brenda jatuh. Karena ia melihat kaki Dion terjulur keluar dari bangku. Tepat di mana posisi Brenda jatuh.Ia sangat yakin ialah penyebab Brenda jatuh.
“mau lo apa?” Tanya Billy. Dion menoleh dengan tampang polos yang ingin ditonjok.Dion mengernyitkan dahi. “nggak usah sok polos deh! Lo kan yang bikin Brenda jatoh?!” ujar Billy yang mulai berapi-api. “buktinya apa?” ujar Dion tenang.
“liat kaki lo! Lo pikir buat apa kaki lo ada di luar bangku begitu? Dan kaki lo tepat ada di posisi Brenda jatoh” ujar Billy.Dion pun berdiri. Seluruh kelas mendapatkan tontonan gratis! “uppss~ gue lupa. Iya, gue yang nyebabin dia jatoh. Mau apa lo? Tonjok?Ayo tonjok” ujar Dion.Billy mengepalkan tangannya.

Ia sudah bersiap memberi tonjokan gratis pada Dion. Namun seseorang menahan tangannya. Brenda. Ia berdiri di sebelah Billy dengan tissue menyumbat lubang hidungnya, dan memegang tangannya yang siap memukul Dion. Brenda menggeleng pelan.Tak ada yang mengerti arti gelengan kepala itu.Hanya Billy yang tau.
“Tapi, Bren!” ujar Billy.Brenda menggeleng lagi. “udahlah, Bil! Nggak ada gunanya main kekerasan.Biar gue yang selesaiin” ujar Brenda.Ia lalu berbalik dan menatap Dion. Dion kaget dengan tindakan Brenda.Brenda tersenyum. Sangat manis.
“makasih ya” ujar Brenda. “hahaha. Sama-sama.Lagian lo bocah banget pake lari-larian di kelas.Ya gue hentikan aja” jawab Dion.Billy geram.Ia sudah siap memukul Dion. Tapi Brenda menahannya.Billy terpaksa diam. Memang, kalau Brenda sudah bicara.Billy hanya bisa diam. Hanya Brenda yang bisa meredam emosi Billy.
“iya gue tau. Makanya gue bilang makasih” ujar Brenda sembari tersenyum lagi. “tapi, Di! Kalo ngingetin lain kali caranya yang lembut ya. Jangan begini.Liat tuh.Lantainya kotorkan kena darah gue.Kasian nanti yang piket.Bersiinnya susah” lanjut Brenda. Untuk kesekian kalinya ia tersenyum lagi. Ia lalu berbalik dan menarik tangan Billy. Billy yang masih geram enggan untuk pergi.Brenda yang menyadari hal itu menarik lagi tangan Billy.Akhirnya mau tak mau Billy mengikuti Brenda pergi.
**

Bel pulang sudah berbunyi.Semua siswa-siswi sudah berhamburan keluar.Brenda masih berada di tempatnya.Membereskan buku-buku ternyata memerlukan waktu lama.Sedangkan Billy hanya duduk dan melirik kesal kea rah Brenda.

Brenda yang rupanya sadar bahwa Billy meliriknya dengan kesal segera membuka percakapan. “lo jangan ngelirik gue kayak begitu. Gue tau lo kesel gara-gara kejadian tadi siang.Udahlah. Toh gue juga nggak apa-apa” ujarnya seraya memakai tas ranselnya.
“lagian lo! Udah dibikin mimisan begitu masih aja baik! Hati lo terbuat dari apa sih?” ujar Billy. “nggak tau” jawab Brenda. “Tanya aja sama Tuhan” ujar Brenda lantas nyengir. Mau tak mau Billy tertawa juga. Brenda memang tau bagaimana cara menyenangkan hatinya.
“oh ya. Nanti sore main ke rumah kan, ya?” ujar Brenda sambil berdiri. “he’em” jawab Billy singkat dan menyusul Brenda yang sudah ada di depan kelas. Seperti biasa.Kali ini mereka pulang bersama lagi.
**

Sore itu, Billy menepati janjinya.Ia datang ke rumah Brenda hanya membawa tas ransel. Rupanya mereka mau belajar bersama. Sebuah kebiasaan lain dari pasangan BilBrend. Cukup keren.
“Bil, ada kertas kan?” Tanya Brenda. “bawa lah. Kenapa?” jawab Billy. “minta” ujar Brenda singkat. Tanpa ba-bi-bu Billy menyerahkan selembar kertas pada Brenda.Brenda mengambil bolpen dan menyerahkannya pada Billy.Billy terheran-heran. “gue mau lo nulis sesuatu buat gue” ujar Brenda lalu tersenyum.

Billy hanya mengangkat bahu. Kira-kira setengah jam mereka menulis sesuatu di atas kertas itu. “udah nih” ujar Billy. “itu buat lo” jawab Brenda. “hah? Buat gue?Untuk apa?” jawab Billy terheran-heran.Brenda hanya tersenyum.Mau tak mau Billy memasukkan kertas itu ke dalam dompetnya.Dan merekapun kembali belajar. “sebentar lagi, lo pasti tau maksud gue kok” ujar Brenda tiba-tiba. Billy hanya diam.
**

Malam harinya-sekitar pukul9 malam-Billy menelpon Brenda.Brenda yang saat itu sudah setengah tertidur mengangkat ponselnya dengan ogah-ogahan. “halo?” ujarya lemah. “hai, Bren! Tidur ya?” ujar Billy. “hampir” jawab Brenda singkat.
“sorry.. gue...” kata-kata Billy menggantung. “iya gue tau. Lagi badmood kan? Ada apa?” rupanya Brenda sudah tau kebiasaan Billy. Jika sahabatnya itu bosan-badmood-pasti ia akan menelpon. Diseberang, Billy hanya nyengir. “tau aja lo” jawabnya. Lantas, Billy menceritakan rentetan kejadian yang membuatnya kesal.

Billy menelpon lumayan lama.Sekarang sudah pukul 10 malam.Tapi Billy belum juga berhenti bercerita.Meski sudah sangat mengantuk, Brenda berusaha menjadi pendengar yang baik bagi Billy.Hingga akhirnya pukul setengah 11 malam barulah Brenda bisa tidur.
**

Hari ini saat berangkat ke sekolah, Brenda merasa ada yang aneh pada Billy.Mungkin Billy bersikap biasa-biasa saja. Tapi tetap saja, ia merasa ada yang aneh. Terlihat dari sorot mata Billy.Seperti ingin meninggalkan sesuatu, namun berat.

Keanehan tidak berhenti di situ saja.Sampai pulangpun Brenda tetap merasa aneh dengan Billy.Namun Brenda menutupinya dari Billy.“Ya Tuhan.Apakah semua sudah dimulai?” ujar Brenda lirih.

Semakin hari keanehan Billy semakin menjadi-jadi. Bahkan ia terkesan, menjauh dari Brenda. Brenda benar-benar menyadarinya. Kini ia sendirian. Benar-benar sendiri.Ia kembali kehilangan senyumnya yang dulu sempat ia dapatkan kembali.

Billy sudah tidak pernah menelponnya lagi.SMS saja tidak pernah.Telpon dan SMS Brenda tak pernah digubrisnya.Brenda bingung.Ia merasa tidak pernah melakukan kesalahan pada Billy. Apa mungkin dia kesal gara-gara insiden Dion? Tapi masa hanya gara-gara itu ia sampai seperti ini? Lagian malamnya ia menlponku selama satu jam setengah. Pikir Brenda dalam hati.

Hingga akhirnya suat hari ia mendapat berita yang cukup mencengangkan. Ternyata tanpa sepengetahuannya, Billy dan Lucy-salah satu cewek popular di sekolah-sudah jadian selama 2minggu.Dan selama itu pula Billy meninggalkan Brenda.Tuhan, beri aku kekuatan. Ujar Brenda.

Suatu hari ia ingin menguji kejujuran Billy. Ia menelpon Billy. Ia akan berpura-pura minta ditemani ke toko buku untuk cari buku Kimia. Itu juga kalau Billy mengangkat telponnya. Hah, semoga diangkat. Pikir Brenda.

Tuutt-tuuutt.Terdengar nada sambung. “ayo angkat ayo angkat” ujar Brenda. “halo?” suara itu! Ya Tuhan, sudah lama aku tidak mendengar suara itu. “halo, Bil? Besok bisa temenin gue ke Gramed nggak?Gue pengen cari buku Kimia nih” ujar Brenda memulai aksinya.
“gue ga bisa” jawab Billy singkat. “kenapa? Lo udah ada cewe ya? Pantes lo berubah” ujar Brenda tetap tenang. “iya” jawab Billy. “dan gue gak mau bikin cewe gue cemburu karena gue deket sama lo” ujar Billy sedikit membentak.
“lho? Emang si Cindy pernah bilang gitu?” ujar Brenda.Billy tersentak. Bagaimana Brenda tau kalau Cindy yang..ahh sudahlah. “yaudah yang penting gue gak bisa. Gue udah ada janji. Kalo lo nggak bisa Kimia, les aja! Susah amat.Dah lah gue sibuk. Bye” Billy tidak memberikan kesempatan pada Brenda untuk berbicara dan langsung mematikan telpon.

Brenda hanya termenung sendiri.Apa yang ditakutkannya kini terjadi. Ya, ia memang bukan siapa-siapa Billy. Jadi jika sewaktu-waktu Billy punya jalan sendiri, ia harus siap melepasnya. Lagi pula kalau Billy senang ia juga senang. Brenda pun menangis.
**

Suatu hari saat istirahat tidak sengaja Brenda melihat Billy duduk di kelas dan menggambar di sebuah kertas. Brenda pun berlari kea rah kantin. Bersamaan dengan perginya Brenda, Billy juga keluar kelas.

Tak lama Brenda kembali.Untung saat itu Billy masih di luar kelas.Ia segera meletakkan sebungkus kantong plastik di meja Billy. Lalu ia bergegas keluar kelas. Tak lama Billy masuk.Ia kaget melihat ada makanan di mejanya. Pasti Cindy, pikir Billy. “tau saja dia kalau aku laper” ujarnya lalu memakannya. Brenda yang melihatnya merasa senang. Walau ia tau kalau Billy pasti mengira itu dari Cindy.

Ketika malam tiba, Brenda menuliskan sesuatu di buku hariannya.Buku yang penuh dengan kisah hidupnya.Di dalam buku ini lah semua cerita hidup Brenda ada.Tidak ada rahasia.Semuanya ada. Setelah selesai, ia meletakkan buku itu di laci mejanya. Kemudian ia kembali menuliskan sebuah surat.
**

“Billy!!” Brenda berusaha mengejar Billy.Dengan berat hati, Billy akhirnya membalikkan badan. “apa sih? Brisik banget deh.Malu tau!” ujar Billy ketus.Tiba-tiba kepala Brenda merasakan nyeri itu lagi.Tapi Brenda tetap berusaha kuat.Ia menarik nafas panjang sebelum berbicara.
“Bil, gue pengen lo simpen ini” ujar Brenda sambil menyodorkan buku diary nya. “apaan nih?” ujar Billy. “udah terima aja. Lo bakal tau nanti” ujar Brenda lagi. “gue nggak butuh” ujar Billy seraya meninggalkan Brenda.

Brenda tetap tersenyum.Sebelum Billy pergi jauh.Ia berteriak. “makasih ya Bill” untung saat itu di sekitar mereka masih agak sepi. Jadi tidak ada yang mendengar.Billy hanya berhenti sebentar lalu melanjutkan berjalan. “apa-apaan sih tuh anak?! Hish” Billy mendengus kesal.

Pulang sekolah, Brenda bergegas pulang. Sesampainya di rumah ia segera berganti baju dan turun lagi. Pertama ia membantu mamanya membersihkan rumah dan memasak. Kedua ia pergi membantu kakaknya mengerjakan tugas skripsi. Cukup melelahkan.Dan yang terakhir, Brenda membagikan kue kukus ke tetangga sekitar.Semua orang bingung melihat sikap Brenda yang aneh itu.
“mama, sini deh” ujar Brenda. “apa?” jawab mama nya. “ma, besok kalo aku pergi. Tolong kasih buku sama surat yang ada di meja ku ke Billy ya ma” ujar Brenda. “lho? Kenapa?Kamu kasih aja sendiri” ujar mama Brenda.Brenda tersenyum lalu menggeleng halus.
“aku nggak bisa ma. Nanti malem aku harus pergi.Jadi tolong mama kasih ya” ujar Brenda. “lho? Lho? Mau pergi ke mana kamu?” Tanya mama Brenda heran. “udahlah. Kasih aja ma” jawab Brenda.

Brenda lalu menghampiri Kak Dylan. “kakaaakk!!! Aku minta maaf ya ka kalo aku ada salah sama kakak.Kakak tau nggak? Brenda sayaaaannngggg banget sama kakak” ujar Brenda sambil memeluk kakaknya.Kakaknya hanya tersenyum. “aku bahagia punya kakak kayak kak Dylan” ujarnya lagi.

Kemudian Brenda berlari memeluk mamanya. “ma, Brenda minta maaf ya kalo Brenda ada salaah. Mama adalah mama paaliiiinnnggggg baaiiiiikkk. Brenda sayang banget sama mama. Brenda bangga punya mama kayak mama Brenda” ujar Brenda.

Setelah itu, ia berlari menuju kamarnya yang ada di atas. Sebelum benar-benar sampai di atas, ia menoleh lagi. “oiya, mama sama kakak dapet salam dari papa. Kak, titip mama ya” ujar Brenda. Ia lalu pergi ke kamar tanpa menunggu jawaban mama dan kakaknya. Sedangkan di bawah, mama dan kakak Brenda bingung.

Begitu sampai di kamar, tangis Brenda pecah.Ia menangis deras tanpa suara. Setelah suasana hatinya cukup tenang, ia berdiri lalu melangkah menuju mejanya. Ia mengambil buku hariannya dan menulis sesuatu lagi di atasnya. Setelah ia menulis, ia tersenyum puas. Ia letakkan buku itu di atas mejanya dengan amplop berisi surat di atas buku itu.
Ia menuju tempat tidur, lalu berdoa. Belum sempat ia berbaring. Nyeri di kepalanya datang lagi.Dan nyeri kali ini sangat amat sakit. Ia merasakan seusatu keluar dari hidungnya. Ia memegang hidungnya. Darah segar menempel di tangannya. Nafasnya sesak. Brenda roboh. Nafasnya memburu. Perlahan namun pasti pandangannya kabur. Tak lama kemudian semuanya terlihat gelap.
**

Brenda terbangun.Ia kaget begitu melihat di mana ia berada sekarang. Tempat ini lagi?Ujarnya.Tiba-tiba seseorang memegang pundaknya dari belakang.Spontan Brenda meloncat kaget. Namun betapa senangnya dia begitu ia melihat sosok papa nya.
“papaaa!!!” ujar Brenda lalu memeluk papanya. “halo, Nak!” ujar papanya. Brenda melepaskan pelukannya.Ia memandang papanya. Papanya mengangguk.Ia lalu memegang tangan Brenda. Mereka berjalan dan terus berjalan kea rah sinar putih menyilaukan. Lama kelamaan sosok mereka mengecil. Dan akhirnya menghilang di ujung pusat sinar.
**
Sementara itu..

Tok tok tok. “Brenda, ayo bangun sayang! Udah siang” Mama Brenda berusaha membangunkan Brenda. “sayang?” ujarnya lagi. Karen tidak kunjung mendapat jawaban, akhirnya Mama Brenda memutuskan untuk masuk ke kamar Brenda.

Mama Brenda terhenyak. Ia kaget mendapati anaknya tergeletak di lantai dengan posisi miring. Ia segera menghampiri Brenda. “Nak bangun nak! Kamu kenapa?” Tak ada jawaban. Dengan gemetar ia membalik tubuh Brenda.

Betapa kagetnya mama Brenda begitu melihat darah keluar dari hidung Brenda. Segera ia memeriksa nafas Brenda. Seketika itu juga Mama Brenda menutup mulut dengan tangan. “Brendaaaaaaa!!! Bangun sayaaangggg jangan tinggalin mamaaaaaa” Mama Brenda histeris begitu mengetahui anaknya sudah tak bernyawa.
**

Billy menatap kosong rumah Brenda. Rumah yang dulu penuh canda tawa nya bersama Brenda, kini penuh duka dan tangis. Terdengar isakan-isakan dari dalam rumah. Termasuk isakan Mama Brenda. Perlahan, ia memasuki rumah Brenda.

Billy membeku. Perasaannya campur aduk. Ia tak mampu berjalan tak mampu bicara. Kini di hadapannya terbujur kaku tubuh Brenda. Tubuh itu kini dibalut gaun putih yang indah. Semakin memperlihatkan wajah manis pemiliknya.

Billy memberanikan menatap wajah Brenda. Wajah yang dulu selalu ceria dan penuh tawa, kini pucat pasi. Namun satu yang tidak berubah. Seulas senyum manis menghiasi wajah Brenda yang kaku dan dingin itu.

Tak lama kemudian Mama Brenda keluar. Ia mengenakan baju berkerah warna hitam dan celana bahan hitam. Matanya terlihat sembab. Menunjukkan kalau ia benar-benar tidak berhenti menangis.

Di belakangnya ada Kak Dylan. Ia mengenakan kos hitam polos dan celana jeans. Ia memegang tangan mama Brenda. Sepertinya ia menjaga Mama Brenda agar tidak roboh. Memang, Mama Brenda terlihat begitu lemas.
“pagi, tante” ujar Billy seraya menyambut tangan Mama Brenda. “oh, Nak Billy. Tunggu ya, Nak!” setelah berkata, Mama Brenda pergi naik ke lantai atas. Tak lama kemudian ia kembali dengan sebuah buku dan amplop yang tertempel di atasnya. Bily ingat. Itu adalah buku yang ingin diserahkan Brenda padanya kemarin. Ada apa ini? Pikirnya dalam hati.
“ini..apa tante?” ujar Billy seraya menerima buku itu. Mama Brenda menggeleng halus. “Brenda meminta tante untuk menyerahkan buku dan amplop itu ke kamu. Tante nggak membacanya kok. Karena tante yakin, ada sesuatu yang ingin disampaikan Brenda ke kamu” ujar Mama Brenda. Billy hanya diam. Ia menatap buku itu dengan perasaan risau.
**

Pemakaman Brenda sudah selesai. Billy tetap berada di tempatnya. Duduk bersila di dekat peristirahatan terakhir Brenda. Perlahan Billy mengusap batu nisan yang bertuliskan nama Brenda. Setetes air mata jatuh dari mata Billy.
“Bren, kok lo tega sih sama gue? Kenapa lo tinggalin gue duluan?” ujar Billy lirih. Ia menunduk. Berusaha menelan kesedihannya. Namun gagal. Kepergian Brenda begitu memukul perasaan Billy. Tiba-tiba ia teringat barang-barang peninggalan Brenda. Ia mengambil buku milik Brenda beserta amplop dan secarik kertas dari dompetnya. Pertama ia ingin membaca surat dari Brenda.

Dear, Billy.
Apa kabar, Billy? Gue harap lo baik-baik aja. Bill, gue pengen minta maaf kalo gue ada salah sama lo. Gue juga mau bilang makasih. Makasih karena lo udah mau jadi sahabat gue selama 1taon. Lo udah mau nemenin gue di saat gue butuh temen. Pertemuan kita di waktu MOS gak akan pernah gue lupain. Lo sahabat terbaik gue, Bill! Oiya, gue juga mau minta maaf karena gue udah nyembunyiin rahasia besar dari lo. Lo akan tau setelah lo baca buku harian gue. Gue juga mau lo nepatin janji lo di kertas yang wktu itu. Bill, gue yakin waktu lo baca ini gue udah tidur. Tidur yang panjang. Dan meski kita sudah ada di dunia yang berbeda, gue tetep anggep lo sahabat gue. Slamat tinggal, Billy. Jaga diri baik-baik ya. Gue titip Mama, Kak Dylan, sama Cindy :) Gue sayang sama lo. God bless.

Billy melipat kembali surat itu dan memasukkan kembali ke dalam amplop. Ia diam sejenak. Memandangi tempat Brenda tertidur sekarang. Ia menarik nafas panjang lalu mulai membaca buku harian Brenda.

7 Agustus 2009
Dear Diary. Hari ini adalah hari yang kurang menyenangkan. Pertama, gue ketabrak mobil. Setelah kejadian itu gue pingsan. Setelah itu gue Cuma denger suara bokap gue ngobrol sama dokter. Gue sengaja nggak buka mata biar gue bisa denger kelanjutannya. Dan lo tau apa, Ry? Kata dokter otak gue mengalami pergeseran. Sebagian besar syarafnya rusak dan nggak bisa dipakai. Mungkin aku akan sering sakit kepala. Bahkan hidupku nggak lama lagi. Setelah percakapan mereka aku baru membuka mata. Dan meski dokter belum mengijinkanku pulang, aku tetap memaksa papa untuk pulang. Dan jadilah aku pulang hari itu juga. Tak ku sangka tak ku kira. Aku dan papa mengalami kecelakaan yang menyebabkan papa meninggal. Setelah kejadian itu, aku berjanji tidak akan menceritakan keadaanku kepada siapapun. Cukup papa saja yang tau. Tuhan, beri aku kekuatan.

14 Oktober 2011
Diarryyyy, nyebelin banget deh hari ini. Masa penyakitku kambuh di depan Billy? Kan malu jadinya. Harus ngomong apa coba aku ke dia?? Huh! Oh iya, tadi waktu pisang aku bermimpi bertemu papa. Papa menyuruhku menceritakan keadaanku. Dan ia bilang waktuku tidak lama lagi. Apa maksudnya? Huh! Tapi mungkin benar, belakangan ini aku begitu merindukan semuanya. Aku rindu Billy, Mama, Kak Dylan, dan semuanya. Aku ingin bangun lebih pagi. Dan tidur lebih larut. Bahkan aku ingin tidak tidur untuk menikmati keindahan karya Tuhan. Ah, ada apa denganku? Tuhan, aku takut.

15 Oktober 2011
Ry, hari ini Billy aneh. Gak bisa dijelasin sih. Pokoknya ada yang aneh aja. Keliatan dari matanya. Huh, kayaknya apa yang aku takutin bakal kejadian deh. God, give me strength.

29 Oktober 2011
Ry, aku dapet kabar. Ternyata Billy udah pacaran sama Cindy 2minggu. Dan selama itu juga dia ngejauh dari aku. Aku maklum kok. Mungkin dia hanya ingin menghormati ceweknya. Yah, dari dulu aku takut kalau Billy punya jalan sendiri dan ninggalin aku. Tapi toh aku bukan siapa-siapanya. Jadi aku harus siap jika sewaktu-waktu hal itu terjadi. Billy, gue gak marah kok sama lo. Gue tau lo tertekan deket sama gue terus. Gue bahagia kalo lo nemuin cinta lo. Gue tetep anggep lo sahabat terbaik gue.

30 Oktober 2011
Ry, gue udah tau kabarnya dari mulut Billy sendiri. Gue gak marah kok meski Billy bentak gue. Gue tetep bahagia.

31 Oktober 2011
Ry, tadi Billy kelaperan. Gue beliin makanan deh. Gue seneng dia mau makan. Yah meski gue tau kalo dia ngira itu pasti dari Cindy. Tapi gue udah cukup seneng bisa melakukan sesuatu buat dia.

2 November 2011
Semuanya sudah selesai :)

Billy menatap nanar buku harian Brenda. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Kini ia ingin membaca kertas yang ia tulis bersama Brenda.
Beberapa peraturan yang harus gue turuti :
• Gue bakal selalu mengucap syukur pada Tuhan
• Menikmati segala berkatNya
• Tidak mudah emosional
• Taat pada orang tua
• Tetap semangat belajar untuk mencapai apa yang gue mau
• Menjaga Cindy, Kak Dylan, dan Mama Brenda
• Selalu mengingat Brenda sebagai sahabat gue
• Selalu tau bahwa Brenda sayang gue
• Tidak terus larut dalam kesedihan saat Brenda pergi
• Mengingat dirinya yang pergi dalam damai

Air mata Brenda sudah tak terbendung lagi. Ia menangis sejadi-jadinya. Kini ia mengerti arti isi surat itu. Ternyata Brenda sudah tau bahwa ia akan pergi. Dan ia tetap ingin yang terbaik bagi dirinya. Tiba-tiba beberapa lembar foto terjatuh dari buku harian Brenda. Billy memungutnya.
Ia kaget begitu melihat lembaran-lembaran foto itu. Itu adalah foto-foto mereka bersama. Ada saat mereka bermain ke dufan dulu. Saat wisata ke Jogja. Saat belajar di rumah. Semuanya terasa begitu indah saat itu. Sangat indah.
Billy tersenyum. Pandangannya beralih ke batu nisan Brenda. Ia mengusapnya lagi. “lo tidur yang tenang ya, Bren! Gue bakal jaga orang-orang yang lo titipin ke gue. Jangan lupain gue ya di sono” ujar Billy. “gue juga sayang lo, Bren!” ujar Billy disertai air matanya.

Billy bangkit berdiri. Ia beranjak pergi. Baru 3 langkah, ia berbalik. “lo pasti denger gue kan, Bren?” ujar Billy sambil tersenyum. Seketika itu ada angin. Angin yang begitu sejuk dan menenangkan. Dari situ Billy yakin, bahwa Brenda mendengar semua ucapannya. Dengan hati lebih ringan ia berjalan pulang.

Slamat tinggal, Brenda! Sampai kapanpun lo tetep jadi sahabat gue da nada di hati gue
~

PROFIL PENULIS
Halo kawan. Aku kirim karya lagi nih. hehe. tapi yang ini panjang. aku harap kalian tetep mau baca ya ^^ thanks. God bless
Nama : Nirmala
TTL : Jombang, 28 Februari 1997
Sekolah : SMAN 7 Tangsel
Facebook --> Nirmala F-GaLz
Twitter --> @nirmalafgc

Baca juga Cerpen Persahabatan yang lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar