Sabtu, 28 Juli 2012

Cerpen Islam - Wajah Sendu dalam Sebuah Foto

WAJAH SENDU DALAM SEBUAH FOTO
Karya Andi Riska Sartina

“Kamu... benar-benar ingin berhenti kerja ?” ucap Tari tampak sedih.
“Ya... mau bagaimana lagi. Aku kan harus lanjut kuliah. Lagi pula disini nggak boleh kerja paruh waktu kan...” jelasku panjang lebar.
Tari hanya mengangguk pasrah, ia tak mungkin melarangku tuk melanjutkan kuliah. Aku kasihan juga melihat Tari yang tampak mulai tak bersemangat, yah... 2 bulan aku bekerja di pengetikan komputer ini tidak butuh waktu yang lama untuk membuatku akrab dengannya. Kami sudah layaknya saudara, berbagi suka dan duka, bercanda dan tertawa bersama. Kesibukan tidak menjadi penghalang bagi kami untuk tetap menjaga ukhuwah itu.

Sebelum meninggalkan tempat itu, terpikir olehku untuk mencetak beberapa foto kenangan bersama para karyawan tempat itu, tak terkecuali foto bersama Tari. Tapi entah dorongan apa, yang membuatku mencetak sebuah foto yang sama sekali bukan karyawan tempat itu.

Hari semakin panas, aku melepas lelah diatas tempat tidurku. Ingin terlelap, tapi mata tak mau menurut. Teringat olehku beberapa foto yang telah aku cetak. Kuraih sebuah benda berwarna coklat, yang tak lain adalah tas ranselku. Kutarik resleting tas itu perlahan, dan dengan lincahnya tanganku mengambil beberapa lembar kertas glossy ukuran 3 R. Kupandang foto tersebut satu per satu sambil senyum-senyum sendiri dan terkadang aku tertawa geli melihat ekspresi teman kerjaku. Mereka sungguh baik terhadapku, tiba-tiba aku begitu rindu dengan tawa mereka, padahal baru satu jam yang lalu aku ditempat itu.

Ekspresi wajahku tiba-tiba berubah 180o saat tanganku menggenggam sebuah foto ukuran dompet. Dalam foto itu tampak seseorang dengan wajah sendunya dan mata yang begitu teduh. Tampak begitu arif dengan seragam hijaunya dan dibagian kiri seragamnya terdapat tulisan “TNI AD”. Yah... dia adalah kak Adit, sosok yang begitu baik terhadapku. Ia selalu turut membantuku dalam melengkapi berkas-berkas beasiswa kuliahku. Aku banyak hutang budi terhadapnya, aku tak pernah dapat menolak ketika ia menawarkan bantuan. Bagaimana tidak, setiap aku menolak ia selalu berkata, “Kakak hanyalah perantara dari Allah untuk membantu adik.” begitu bijak ucapannya. Sosok sendu ini pula telah mengajarkanku beberapa shalawat yang sering dibacanya ba’da maghrib dan subuh. Walaupun ia adalah seorang prajurit negara yang tiap harinya bergelut dengan senjata tapi ia tak pernah lupa akan kewajibannya sebagai hamba Allah. Ia senantiasa selalu menjaga shalat lail-nya, hafalan kitabnya juga tak pernah absen. Saat berbicara denganku ia selalu tundukkan pandangan, ia mengerti syariat islam dengan baik. Sungguh imam yang baik untuk keluarganya kelak, beruntunglah orang yang mendampinginya nanti. InsyaAllah.

Namun satu bulan terakhir ini, kak Adit tak pernah lagi muncul dihadapanku. “Kakak lagi di Maros, ada tugas bersama komandan” kabar terakhir dari kak Adit sebulan lalu. Setelah itu tak ada lagi ia memberi kabar, terlalu sibuk mungkin. Lagi pula kami hanyalah sebatas teman, tak ada kewajiban bagi kak Adit untuk melaporkan setiap kegiatannya padaku. Tapi aku khawatir terhadapnya, kenapa aku khawatir ? Astaghfirullah bukan hak aku untuk khawatir berlebih terhadap seseorang yang tidak halal bagiku.
“Lelaki impian yang ku dambakan adalah seorang yang berakhlak mulia....” Nasyid ini terdengar merdu ditelingaku, sontak membuatku tersadar dari lamunanku. Ternyata ada pesan dari Tari, masih juga ia bersedih dengan kepergianku. Sambil membalas pesan Tari, teringat aku akan sesuatu, “Astaghfirullah... aku belum melaksanakan shalat dhuhur”. Seketika aku beranjak dari tempat tidur, dan bergegas mengambil air wudhu.
⃰ ⃰ ⃰

Sudah dua bulan aku mendapat gelar mahasiswi. Dua bulan pula foto wajah sendu itu menjadi penghuni dompet kecilku, yah sekadar kenangan bahwa aku hutang budi pada wajah sendu itu. Meski setia ia berada diantara uang yang kusut, namun tak pernah aku membuka dan melihat foto itu lagi, aku tak berani, takut tertancap panah iblis walau hanya lewat sebuah foto. Dan masih seperti biasa, kak Adit tak pernah memberi kabar lagi, ia hilang bagai ditelan bumi.
Hari Ahad, kak Putri anak tunggal dari kakak tertua ummi datang berkunjung dirumahku. Kak Putri punya kebiasaan meneliti barang-barang milikku, entahlah apa yang dicarinya tapi itu sudah menjadi kebiasaan yang wajar bagiku.
“Risa, ini dompet kamu yah ? lucu sekali...” kata kak Putri memuji.
“Iya kak... aku udah punya ktp loh... liat aja deh.” ucapku santai. Mendengar ucapanku dengan lihainya kak Putri meneliti seperti seorang detektif.
“Astaghfirullah, aku lupa disana ada foto kak Adit” batinku. Seketika aku menjadi panik, tubuhku kaku, aku hanya melihat kak Putri dengan pasrah. Tapi, tampaknya tangan kak Putri belum menemukannya, aku sedikit lega. Aku mengendalikan diri, tarik nafas dalam-dalam dan berusaha tampil senormal mungkin.
“Belum ketemu ktp nya yah kak ?” kataku mengalihkan.
“Mari kubantu dan . . .” akupun merebut dompet itu dan berlari secepat mungkin tuk menyembunyikan foto sendu itu ditempat yang aman. Kak Putri mengejar, tapi karena tubuhnya yang agak berisi membuatnya tidak bebas bergerak.
“Apa sih yang kamu sembunyikan ? Risa udah punya pacar yah...” kata kak Putri meledek. Aku hanya diam, yah diam seribu bahasa.
“Hampir saja” batinku. Kak Putri masih menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya, aku sedikit risi dibuatnya.
“Aku malu kak... sangat malu. Disana ada foto seseorang yang bukan mukhrim-ku. Tapi dia bukan pacarku kak. Kakak kan tahu prinsipku, ‘menikah tanpa pacaran’. Maaf yah kak, untuk yang satu ini aku main rahasiaan.” gerutuku dalam hati.
“Risa udah punya pacar yah? Kok pertanyaan kakak tidak dijawab...” kak Putri mulai mencolek.
“Tidak, kakak tau prinsip aku kan” ucapku dengan nada datar.
Kak Putri tak menggubris lagi, ia terdiam. Hening. Tiba-tiba kak Putri tertawa dan tertawa lagi, wajahku memerah, aku terpojokkan. Aku marah... bukan sama kak Putri, bukan sama foto itu, tapi sama diriku sendiri. Akulah yang mencetak foto itu, akulah yang menyimpan foto itu, dan karena aku pula foto itu hampir dilihat oleh orang lain. Tak dapat kubayangkan, betapa malunya aku jika kak Putri menemukan foto itu. Aku malu ? Astaghfirullah... selama ini aku malu terhadap kak Putri, tapi aku tidak malu kepada Allah. Menyimpan foto seseorang yang bukan mukhrimnya, tentu merupakan perkara yang salah kulakukan. Dan selama ini aku tidak sadar, mungkin kejadian bersama kak Putri inilah sebagai teguran dari Allah. Wallahu ‘alam.
“Hhm... kakak pulang dulu yah... adik kecilku. Assalamu alaikum” amit kak Putri padaku.
“Wa alaikum salam. Hati-hati dijalan kak...”
“Oh ya . . . lain kali cerita yah... ” kak Putri senyum jahil. Aku hanya tersenyum kecut mendengarnya.
“Tak ada yang perlu diceritakan” ucapku dalam hati.
⃰ ⃰ ⃰
Yah...foto kak Adit hampir membahayakanku, sungguh sangat tak baik jika aku menyimpannya terlalu lama. Aku bergegas mengambil foto itu dari tempat persembunyiannya, tepat dibawah lap kaki ruang makan, tempat yang menurutku aman dari penelitian kak Putri. Dan benar saja kak Putri tak berhasil menemukannya. Aku pun kembali ke kamar, mengunci pintu rapat-rapat. Kini foto itu telah berada ditangan kiriku, dan bersiap-siap gunting kecil ditangan kananku. Aku memperbaiki posisi dudukku, tegap dengan nafas yang sudah terkendali.
Tangan kananku telah bersiap, dan . . .
“Tunggu... kamu yakin akan menggunting foto sendu itu ?” tiba-tiba batinku angkat bicara.
“Tentu” kataku yakin.
“Kan... sayang. Itu foto kak Adit satu-satunya, simpan di album foto saja. Kalau ada yang liat, paling mereka berfikir itu teman sekolah kamu. Aman-aman saja kok. Percaya deh...” batinku masih nyerocos bebas.
“Ingat Risa, kak Adit tidak halal bagimu. Kamu salah besar jika masih menyimpan foto itu.” batin yang lain mulai angkat bicara.
“Risa... itu hanya sebuah foto. Apa bedanya foto kak Adit dengan teman-teman yang lain ? Sudah... simpan saja di album.” batin yang satu masih sibuk meyakinkan.
“Benar juga, lebih baik aku simpan di album, sayang kalau digunting.” Kataku mulai goyah.
“Risa.... sadar. Kamu adalah seorang muslimah. Sangat tidak pantas jika kamu masih menyimpang seperti itu. Kamu tidak takut zina mata ? Ingat... sesungguhnya mendekati zina itu adalah jalan yang buruk. Apa kamu tidak malu pada Allah ?” batin yang lain kembali mengingatkan. Aku sontak kaget dengan pernyataan batinku ini, aku hampir salah lagi dalam bertindak.
“Astaghfirullah... ampuni hamba ya Allah” aku kembali sadar dan memperbanyak istighfar.
Perdebatan batinku hampir membuatku goyah dan mengurungkan niat baikku. Tapi Allah masih sayang padaku, dan memberikanku petunjuk mana yang terbaik yang sebaiknya kulakukan. Dan...
“bismillah...” dengan mengucapkan basmalah aku mulai menggunting foto sendu itu. Terbagi dua, terbagi empat, terbagi delapan, dan semakin kecil lagi...kini tinggal serpihan-serpihan kertas yang tak jelas gambarnya. Aku membersihkan serpihan itu dengan teliti, agar tak ada yang tercecer walaupun sebesar biji sawi. Dengan bangga aku membawa serpihan itu keluar rumah, menuju tempat pembakaran sampah. Dan kini ia bersatu dengan api yang meluap-luap, yang sebentar lagi akan mengubahnya menjadi debu. Aku tersenyum puas, aku masih berada di jalan yang benar.
“Kelak... aku akan dapatkan wajah yang halal untukku. Insya Allah.”

⃰ ⃰ ⃰
Watampone, 26 Juli 2012 22:48 WITA. (6 Ramadhan 1433 H)

PROFIL PENULIS
Bismillah.
Andi Riska Sartina, lahir di Watampone, 11 September 1994. Lulus SMA Negeri 4 Watampone tahun 2012. Melanjutkan pendidikan di Universitas Negeri Makassar dengan prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Alamat fb : andi.sartina.9@facebook.com, twitter : @a_riska30.
Syukron telah membaca... :)
Kritik dan saran ditunggu... _~

Baca juga Cerpen Islam yang lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar