Kamis, 05 Juli 2012

Cerpen Cinta - Senja di Bukit Asoka

SENJA DI BUKIT ASOKA
Karya Susianadjati

"Do, coba deh lihat langit itu! indah ya...merah seperti semburat merah pipiku saat tersipu malu" kataku pada Rido. Rido yang duduk disebelahku hanya tertawa mendengar perkataanku tadi." Kok ketawa si Do ".
"Ya iyalah...emang kamu pernah punya malu ?ha..ha..ha.."
"Ridoooo!!!" teriakku manja. Dan Rido hanya tertawa sambil mengacak rambutku. "Kamu tau nggak Do kenapa aku suka sekali menatap langit saat senja dan saat dimana matahari mulai terbit ?"tanyaku.
"Hehem.."kata Rido sambil menggelengkan kepala. "Bagiku semua itu adalah lukisan yang paling indah dari yang Maha Kuasa. Senja, lanngit yang semula biru berubah menjadi merah pertanda malam akan tiba.

Dan dia akan selalu datang lagi tepat pada waktunya memberikan tanda yang sama.Seolah2 dia selalu mengingatkan pada kita akan kegelapan di malam hari. Dan saat matahari mulai terbit memberikan tanda akan muncul cahaya terang setelah adanya kegelapan. Begitu pula kehidupan, ada kesedihan ada pula kebahagiaan, ada kesulitan pasti akan muncul kemudahan. Mereka selalu berdampingan seakan nggak pernah mau terpisahkan" kataku padanya sambil duduk diatas bukit

Asoka belakang rumahku.Di atas bukit kecil ini aku sering bermain bersama Rido. Karena memang keindahan tanah kelahiranku bisa terlihat jelas dari atas bukit kecil ini.

Rido adalah seorang perwira. Aku mengenal dia saat kami masih sama2 duduk dibangku SMA. karena kami sama - sama menyukai kegiatan yang berbau petualang dari Pramuka, arung jeram, sampaipanjat tebing, akhirnya hubunganku dengan Rido menjadi dekat.
"Nanti kamu mau melanjutkan kemana Nad" tanya Rido padaku sambil berjalan menyusuri rerumputan belakang rumahku. "Aku ingin masuk sekolah Psikologi Do, kamu ?" tanyaku balik. "What? Psikologi ? nggak salah ?" tanya Rido keheranan. "Emang kenapa ada yang salah ?" aku balik bertanya. "Ya...heran aja seorang gadis petualang kayak kamu pengen masuk psikologi, jauh banget gitu loh. paling nggak ya..polwan atau apa gitu" kata Rido. Aku hanya tersenyum mendengar ledekan Rido.
"emang nggak boleh gadis petualang masuk jurusan psikologi ?
"kamu sendiri mau ke mana ?" tanyaku. "Aku pengen masuk AAU" jawabnya.
"Gimana keren kan ?" lanjutnya. "AAU ? ya..boleh2.....suatu saat kamu akan dipanggil Komandan Rido Artha

Yuda..ha..ha...."candaku. Tak terasa langkah kaki kami sudah sampai di atas bukit asoka. Sambil duduk diatas rerumputan, memandangi hamparan sawah yang menghijau, ditemani kicauan burung dan semilirnya hembusan sang bayu, tiba2 aku merasakan ada sesuatu dalam hatiku. Aku nggak ingin semua ini pergi dari kehidupanku.
"Hey...kenapa malah melamun ?" tanya Rido mengagetkanku. "hey...aku nggak kenapa2 kok" jawabku. "Do, sebentar lagi kita nggak akan bersama lagi menikmati keindahan bukit ini. kamu pasti akan sibuk dengan kuliah kamu begitupun aku. Kita akan jarang bertemu atau mungkin tidak pernah ketemu. Nggak tau kenapa rasanya ada yang hilang dari hatiku. Dan yang pasti bukit ini akan menjadi tempat kenangan persahabatan kita Do, nggak tau dengan kamu"lanjutku. "Iya bukit ini tempat kenangan persahabatan kita Nad, dan aku akan selalu mengingatnya" kata Rido. "Aku akan kangen sama kamu Do" kataku.

Nggak tau kenapa tiba tiba saja aku berubah menjadi melo begini.
"Kalau aku pasti nggak akan kangen sama kamu" canda Rido.
"Ridoooo...kamu jahaaaat" teriakku sambil memukuli punggung Rido.

Rido berlari dan akupun mengejarnya.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Aku sibuk dengan kuliah, penelitian, PKL, skripsi, dan sekarang aku disibukkan dengan pasien2ku karena aku sekarang menjadi seorang psikiater.

Begitu pula Rido dia disibukkan dengan kemiliterannya. ketatnya peraturan pendidikan kemileteran membuat hubungan kami sempat terputus sekian lama.Aku merasa nggak akan pernah bisa ketemu Rido lagi. Dan di atas bukit Asoka ini aku menikmati senja sendirian tanpa adanya Rido. "Aku jadi kangen kamu Do, kangen banget. Kalau boleh aku memilih aku akan memilih tinggal di atas cakrawala itu agar aku bisa melihat keberadaanmu Do. Dan apabila aku boleh meminta, aku ingin menikmati senja ini kembali bersama kamu seperti waktu itu. Apa mungkin Rido masih mengingat tempat ini ?" gumamku seorang diri.

Tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang menepuk pundakku perlahan. "Nadia...aku masih mengingat tempat ini". Aku menoleh ke belakang, tampak seorang laki-laki memakai seragam biru tersenyum padaku. Aku kaget, apakah ini nyata ? Aku hanya bisa bengong memandangi laki-laki itu dihadapannku. "Hey...kok bengong" teriak laki2  itu. "Rido ?? kamu Rido ?" tanyaku nggak percaya dengan apa yang ada dihadapanku. "Bukan " candanya..Ya iyalah aku Rido...masak lupa sama aku sih" lanjutnya. "Benar kamu Rido ya...aku nggak mimpi bisa ketemu kamu lagi Do... Ya Allah Do...gagah banget kamu pakai seragam ini, pangling aku melihatnya" kataku. "Dulu kamu culun banget

Do....cungkring item. sekarang masih item tapi udah nggak cungkring lagi...ha..ha..ha.."candaku. "aduuhhh...kamu dari dulu nggak berubah ya...cerewet..."katanya sambil menyentil ujung hidungku. "kamu juga gak berubah dari dulu suka menyentil hidungku"kataku sambil menepis tangan Rido. Tiba2 Rido menangkap tanganku dan menggenggam erat jari jemariku.Aku merasakan getaran yang dashat didadaku. Apa yang akan Rido lakukan padaku ? nggak biasanya dia seperti ini. Dan tatapan matanya itu membuat aku jatuh dalam alunan kidung cinta yang selama ini ada dalam mimpiku. Jantungku serasa berhenti berdetak tatkala dia berkata "Nadia, aku sayang kamu. Mungkin bagi kamu persahabatan kita selama ini hanyalah persahabatan biasa. tapi tidak bagiku Nad, persahabatan kita berubah menjadi rasa cinta. Aku baru menyadari semua ini ketika kita berpisah sekian lama. Aku merasa kehilangan kamu. Dan dibukit ini aku berharap bisa kembali bertemu kamu menikmati cakrawala dikaki langit itu. "Iya Do..aku juga merasakan hal yang sama" air  ataku jatuh dipipi. Air mata kebahagiaan tentunya. Rido menyematkan cincin bermata biru ke jari manisku. Rasanya kebahagiaan ituhanya milik aku dan Rido. Kebahagiaan sesaat sebelum peristiwa tragis itu terjadi. Dalam berita di televisi dikabarkan jatuhnya pesawat tempur milik AAU saat berlatih menghancurkan 8 rumah penduduk. Satu orang mahasiswa AAU dan dosen pendampingnya bernama Rido Artha yuda dinyatakan meninggal dunia dalam kecelakaan tersebut. Jantungku serasa berhenti berdetak mendengar semua kejadian itu. Dunia seisinya serasa runtuh. Semula aku merasakan kehidupan yang penuh dengan warna kebahagiaan kini hilang seketika berubah menjadi hitam dan kelam. Upacara kemiliteran dan letusan suara senapan mengiringi kepergian Jenazah Rido. Akupun nggak bisa berbuat apa2...aku hanya bisa menangis di atas pusaranya

Rido. "Kalau boleh aku meminta, aku nggak ingin kehilangan kamu yang kedua kalinya Do, aku ingin selalu berada disisimu, tapi semua ini adalah rahasia Ilahi. Aku yakin Tuhan memberi tempat yang paling indah buat kamu, dan aku yakin Tuhan pasti akan memberikanku kekuatan dan kemudahan untuk mengatasi semua ini. Selamat jalan Rido semoga Tuhan memberikan tempat yang lapang untukmu. Aku didunia ini akan berusaha melewati hari-hariku tanpa adanya engkau. Semua akan indah pada waktunya. [ terinspirasi dari perwira TNI AU K S ]

PROFIL PENULIS
Nama : Susianadjati
TTL : Rembang, 20 Mei
Facebook : djatikom@yahoo.com

Baca juga Cerpen Cinta yang lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar